TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL SERTIFIKAT HAK TANGGUNGAN
DALAM MENGATASI KREDIT MACET (Studi Pada Bank Danamon Cab. Pembantu Sukaramai)
S K R I P S I
Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Oleh
NIM : 090200402 DERI FACHRIZAL
DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN
PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA DAGANG
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2013
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL SERTIFIKAT HAK TANGGUNGAN
DALAM MENGATASI KREDIT MACET (Studi Pada Bank Danamon Cab. Pembantu Sukaramai)
Oleh
NIM : 090200402 DERI FACHRIZAL
DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN
PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA DAGANG Disetujui Oleh :
NIP. 196603031985081001 Dr. H. Hasim Purba, SH., M.Hum
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Rabiatul Syahriah, SH., M.Hum
NIP. 195902051986012001 NIP. 196603031985081001 Puspa Melati Hasibuan, SH., M.Hum
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2013
ABSTRAK Deri Fachrizal * Rabiatul Syahriah**
Puspa Melati Hasibuan ***
Meningkatnya kegiatan pembangunan mengakibatkan meningkatnya keperluan akan tersedianya dana yang sebagian besar di peroleh melalui kegiatan perkreditan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kredit merupakan salah satu sumber pembiayaan pembangunan yang sangat penting. Kredit dalam kegiatan perbankan merupakan kegiatan usaha yang paling utama, karena pendapatan terbesar dari usaha bank berasal dari pendapatan kegiatan usaha kredit yang berupa bunga dan provisi. Permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Prosedur Pengikatan Sertifikat Hak Tanggungan Sebagai Jaminan Perjanjian Kredit pada PT. Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai Medan. Apa sajakah kendala- kendala Hak Tanggungan dalam Pemenuhan Hak-Hak Para Pihak Dalam Proses Eksekusi Hak Tanggungan pada PT. Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai Medan dan Bagaimana Kekuatan Eksekutorial Sertifikat Hak Tanggungan pada PT. Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai Medan?
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis empiris, yaitu pendekatan dari sudut kaidah-kaidah dan pelaksanaan peraturan yang berlaku di dalam masyarakat, yang dilakukan dengan cara meneliti data sekunder terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan mengadakan penelitian terhadap data primer yang ada di lapangan.
Prosedur yang harus dipenuhi oleh nasabah sejak diajukannya permohonan kredit sampai dengan Iunasnya suatu kredit yang diberikan oleh Bank adalah : Permohonan Kredit, Penyelidikan dan Analisis Kredit, Jenis-jenis Kredit.
Pentingnya pengikatan jaminan hutang adalah agar kita dapat berantisipasi dengan persis apakah nantinya jaminan tersebut dapat atau gampang dieksekusi. Sebab, perbedaan prosedur pengikatan jaminan mempunuyai korelasi Iangsung dengan cara mengeksekusinya. Hambatan-hambatan dalam Eksekusi Hak Tanggungan sebagai jaminan kredit untuk perlindungan hukum bagi kepentingan Kreditur.
Adapun beberapa faktor yang menjadi kendala sering terjadi yaitu adanya perlawanan oleh pemegang Hak Tanggungan itu sendiri terhadap eksekusi atas permohonan pemegang Hak Tanggungan pertama. Tentang masalah ini tidak diatur dalam UUHT tetapi ada dalam Materi Hukum Acara Perdata. Undang- Undang Hak Tanggungan telah memberikan kekuatan eksekutorial yang besar kepada sertifikat Hak Tanggungan, yaitu dengan dicantumkannya irah-irah yang berbunyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, sehingga kedudukan dari sertifikat Hak Tanggungan sama dengan Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Kata Kunci : kekuatan eksekutorial sertifikat hak tanggungan, Kredit macet
* Mahasiswa
**Dosen Pembimbing I, Dosen Fakultas Hukum USU
*** Dosen Pembimbing II, Dosen Fakultas Hukum USU
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirrahim.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan. Adapun judul dari skripsi ini adalah
“TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL SERTIFIKAT HAK TANGGUNGAN DALAM MENGATASI KREDIT MACET (Studi Pada Bank Danamon Cab. Pembantu Sukaramai)”.
Untuk penulisan skripsi ini penulis berusaha agar hasil penulisan skripsi ini mendekati kesempurnaan yang diharapkan, tetapi walaupun demikian penulisan ini belumlah dapat dicapai dengan maksimal, karena ilmu pengetahuan penulis masih terbatas. Oleh karena itu, segala saran dan kritik akan penulis terima dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan penulisan skripsi ini.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak sehingga pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kapada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Budiman Ginting, SH, MHum selaku Pembantu Dekan I Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Safruddin Hasibuan, SH, MHum selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Muhammad Husni, SH, MHum, selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Rabiatul Syahriah, SH, M.Hum sebagai Pembimbing I yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan petunjuk dan bimbingan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Ibu Puspa Melati Hasibuan, SH, M.Hum sebagai Pembimbing II yang turut memberikan petunjuk serta bimbingan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Seluruh staf dan pengajar Fakultas Hukum USU yang dengan penuh dedikasi menuntun dan membimbing penulis selama mengikuti perkuliahan sampai dengan menyelesaikan skripsi ini.
8. Terima kasih yang sebesar-besarnya dari penulis kepada orang tua tercinta Ayahanda Basri MN dan ibunda Chairani yang telah memberikan sangat banyak dukungan moril, materil, dan kasih sayang mereka yang tidak pernah putus sampai sekarang dan selamanya.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga apa yang telah kita
lakukan mendapat Rahmat dan Ridho Allah SWT. Penulis memohon maaf kepada
Bapak atau Ibu dosen pembimbing, dan dosen penguji atas sikap dan kata yang
tidak berkenan selama penulisan skripsi ini.
Semoga ilmu yang penulis telah peroleh selama ini dapat bermanfaat dan berkah dalam hal penulis ingin menggapai cita-cita
Medan, Juni 2013 Penulis,
Deri Fachrizal
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Permasalahan ... 8
C. Tujuan Penulisan ... 9
D. Manfaat Penulisan ... 9
E. Metode Penelitian ... 10
F. Keaslian Penulisan ... 14
G. Sistematika Penulisan ... 14
BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG KREDIT PERBANKAN ... 17
A. Pengertian Kredit ... 17
B. Ketentuan Pemberian Kredit ... 18
C. Perjanjian Kredit ... 19
D. Kredit Macet ... 24
BAB III TINJAUAN UMUM TERHADAP HAK JAMINAN ... 27
A. Hak Jaminan Pada Umumnya ... 27
1. Hak Jaminan Perorangan ... 27
2. Hak Jaminan Kebendaan ... 27
B. Hak Tanggungan sebagai Jaminan ... 29
1. Dasar Hukum Hak Tanggungan ... 29
2. Pengertian Hak Tanggungan ... 30
3. Unsur-unsur Hak Tanggungan ... 31
4. Ciri-ciri dan Sifat Hak Tanggungan ... 31
5. Objek Hak Tanggungan ... 33
6. Subjek Hak Tanggungan ... 35
7. Tahap-Tahap Pembebanan Hak Tanggungan ... 36
BAB IV TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL SERTIFIKAT HAK TANGGUNGAN DALAM MENGATASI KREDIT MACET PADA BANK DANAMON CABANG PEMBANTU SUKARAMAI ... 40
A. Prosedur Pengikatan Sertifikat Hak Tanggungan Sebagai Jaminan Perjanjian Kredit pada Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai ... 40
B. Kendala-kendala Hak Tanggungan dalam Pemenuhan Hak- Hak Para Pihak Dalam Proses Eksekusi Hak Tanggungan pada Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai ... 53
C. Kekuatan Eksekutorial Sertifikat Hak Tanggungan pada Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai ... 58
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 73
A.
Kesimpulan ... 73
B.
Saran ... 74
DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan ekonomi sebagai bagian dari pembangunan nasional merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Dalam rangka memelihara kesinambungan pembangunan tersebut sangat dibutuhkan dana yang sangat besar.
Dana yang dibutuhkan ada kalanya dapat dipenuhi sendiri, tetapi ada kalanya juga tidak dapat dipenuhi sendiri sehingga membutuhkan bantuan pihak lain. Secara konvensional kebutuhan dana antara lain disediakan oleh lembaga keuangan. Lembaga ini mempunyai kegiatan di bidang keuangan yang secara langsung atau tidak langsung menghimpun dana dan menyalurkan kembali kepada masyarakat, dalam rangka pembiayaan/investasi tertentu.
1Meningkatnya kegiatan pembangunan mengakibatkan meningkatnya keperluan akan tersedianya dana yang sebagian besar diperoleh melalui kegiatan perkreditan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kredit merupakan salah satu sumber pembiayaan pembangunan yang sangat penting. Kredit dalam kegiatan perbankan merupakan kegiatan usaha yang paling utama, karena pendapatan terbesar dari usaha bank berasal dari pendapatan kegiatan usaha kredit yang berupa bunga dan provisi.
1 Sri Rejeki Hartono, Kapita Selekta Hukum Perusahaan, Mandar Maju, (Bandung, 2000), hal. 119.
Suatu kredit baru diluncurkan setelah ada suatu kesepakatan tertulis, walaupun mungkin dalam bentuk yang sangat sederhana antara pihak kreditur sebagai pemberi kredit dengan pihak debitur sebagai penerima kredit.
Kesepakatan tertulis ini sering disebut dengan “perjanjian kredit” (credit agreement, loan, agreement).
2Pemberian kredit yang merupakan kegiatan utama bank sering menjadi penyebab suatu bank menghadapi masalah. Oleh sebab itu, maka upaya untuk memperkecil risiko kerugian karena tidak dilunasinya kredit oleh debitur perlu
Undang-undang No. 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang- undang No. 7 tahun 1992 Tentang Perbankan, dalam Pasal 1 angka (11) yang dimaksud dengan kredit adalah:
“Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.”
Unsur yang penting dalam suatu perjanjian kredit adalah adanya kepercayaan. Selain itu, faktor lain yang dipertimbangkan dalam perjanjian kredit adalah apa yang menjadi jaminan dari permohonan kredit tersebut. Sebab, kredit yang tidak mempunyai jaminan yang cukup akan mengandung risiko yang besar.
Untuk itu di dalam kegiatan penyaluran kredit oleh perbankan perlu adanya jaminan dari debitur. Hal ini sangat urgen sebab jaminan tersebut akan diperlukan jika sewaktu-waktu debitur wanprestasi.
2 Munir Fuady, Hukum Perkreditan Kontemporer, PT. Citra Aditya Bakti, (Bandung, 2002), hal. 31.
mendapat perhatian yang khusus.
3Unsur yang terlibat dalam kredit yang dapat menyebabkan timbulnya kredit macet yaitu :
Beberapa pengalaman pahit lembaga perbankan
membuat para petugas bank perlu meningkatkan kehati-hatian dalam mengantisipasi masalah yang dapat menimbulkan terjadinya kredit bermasalah (macet).
4
1. Bank selaku pemberi kredit (kreditur) :
a. Kreditur melakukan analisis kredit tidak lengkap;
b. Kreditur kurang mempunyai kemampuan teknis;
c. Kreditur lemah dalam melakukan penolakan;
d. Kreditur lemah dalam melakukan pengawasan;
e. Kreditur terlalu mengandalkan jaminan/agunan;
f. Kreditur menaikkan nilai agunan;
g. Informasi yang diperoleh kreditur kurang lengkap;
h. Kreditur berkolusi dengan nasabah/debitur;
i. Kreditur terpaksa memberikan kredit karena ada surat sakti;
j. Kreditur terlambat memberi kredit.
2. Nasabah selaku penerima kredit (debitur) : a. Debitur memalsukan catatan dan pembukuan;
b. Debitur memalsukan agunan (agunan fiktif);
3 Direksi Bank Indonesia, Sambutan Pada Pembukaan Seminar Penyelesaian Kredit Bank-bank Pemerintah, 15 September 2012.
4Abdul Rahman, Rontoknya Perbankan Indonesia, Majalah SWA Sembada No.
15/XIV/23 Juli-5 Agustus 1998 1998, hal. 30.
c. Debitur melarikan diri;
d. Debitur memalsukan surat resmi;
e. Debitur menjual barang jaminan;
f. Debitur memperoleh surat sakti;
g. Kreditur gagal dalam menagih piutangnya;
h. Debitur memiliki perencanaan yang lemah;
i. Debitur kacau dalam pengurusan keuangan pribadi/perusahaan;
j. Debitur mengalami gagal usaha;
k. Debitur memiliki kapasitas produksi yang rendah;
l. Debitur melakukan usaha pembelian yang tidak relevan dengan utang pokok;
m. Debitur melakukan kolusi dengan kreditur dan lain-lain.
3. Pemerintah selaku penguasa moneter dan pembuat kebijaksanaan : a. Pemogokan dilakukan pekerja;
b. Devaluasi/perubahan kurs;
c. Perubahan peraturan/kebijaksanaan pemerintah;
d. Laju inflasi yang terlalu tinggi;
e. Pemerintah melakukan kenaikan harga BBM/energi lainnya;
f. Kondisi umum perekonomian dunia yang mengalami resesi yang berkepanjangan.
4. Pihak ketiga yang sebetulnya tidak perlu diperhitungkan, namun
kenyataannya sering menjadi unsur penentu karena posisi dan wewenang
yang dimilikinya sebagai pejabat yang memiliki “kekuatan” untuk
menekan para petugas bank untuk mengambil keputusan. Misalnya pejabat yang mengeluarkan surat sakti.
Untuk mengurangi risiko tersebut menurut penjelasan atas Undang-undang No. 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan dijelaskan, jaminan pemberian kredit dalam artian keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank. Oleh karena itu, untuk memperoleh keyakinan tersebut maka sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha debitur. Pentingnya untuk melakukan analisis ini adalah untuk menghindari risiko kemungkinan terjadinya kredit macet. Selain itu juga untuk melindungi dan mengamankan dana-dana masyarakat yang dikelola oleh bank dan disalurkan dalam bentuk kredit.
Mengingat bahwa jaminan merupakan salah satu unsur dalam pemberian kredit, maka apabila berdasarkan unsur-unsur lain telah dapat diperoleh keyakinan atas kemampuan debitur untuk mengembalikan hutangnya, maka jaminan dapat berupa barang, proyek atau hak tagih.
Adapun langkah-langkah yang diambil oleh bank dalam mengamankan kreditnya pada pokoknya dapat digolongkan menjadi dua. Pertama yaitu pengamanan preventif dan kedua pengamanan represif. Pengamanan preventif adalah pengamanan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kemacetan kredit.
Sedangkan pengamanan represif adalah pengamanan yang dilakukan untuk
menyelesaikan kredit-kredit yang telah mengalami ketidaklancaran atau kemacetan (kredit macet).
Mengingat pentingnya peran dana perkreditan dalam proses pembangunan, sudah selayaknya pemberi dan penerima kredit serta pihak lain yang terkait dalam perjanjian kredit memperoleh perlindungan melalui suatu lembaga hak jaminan yang kuat dan dapat memberikan kepastian hukum bagi semua pihak yang berkepentingan. Dalam Pasal 51 Undang-undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA), telah disediakan suatu lembaga hak jaminan yang kuat yang dapat dibebankan pada hak atas tanah yang disebut dengan hak tanggungan. Untuk memenuhi ketentuan Pasal 51 UUPA tersebut, maka pada tanggal 9 April 1996 diundangkan Undang-undang No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan atas tanah serta benda-benda yang berkaitan dengan tanah. Dengan diundangkannya Undang-undang No. 4 Tahun 1996 Tentang hak Tanggungan, maka ketentuan-ketentuan mengenai credietverband dan hipotik dalam Buku II Kitab Undang-undang Hukum Perdata sepanjang mengenai tanah dan yang untuk sementara waktu masih diberlakukan berdasarkan Pasal 57 UUPA dinyatakan tidak berlaku lagi.
Dalam perjanjian kredit, debitur tidak mempunyai kebebasan untuk mempergunakan kreditnya menurut keinginannya sendiri, karena seperti yang telah diketahui bersama, tujuan pemberian kredit adalah untuk meningkatkan taraf hidup rakyat, sehingga penggunaan kredit terikat pada program pemerintah.
Sering terjadi bahwa penggunaan kredit oleh debitur ternyata tidak sesuai lagi
dengan tujuan pemberian kredit yaitu seperti yang tercantum dalam perjanjian
kredit. Dengan kata lain, debitur telah menyalahgunakan kredit yang diterimanya.
Dengan adanya penyalahgunaan kredit tersebut, maka bank dapat menetapkan bahwa debitur telah cidera janji/wanprestasi.
Salah satu ciri hak tanggungan adalah mudah dan pasti dalam pelaksanaan eksekusinya jika debitur wanprestasi. Yang dimaksud dengan eksekusi dalam hal ini adalah upaya kreditur untuk merealisasikan haknya secara paksa jika debitur tidak secara sukarela memenuhi kewajibannya yang tidak hanya melalui pelaksanaan putusan hakim, tetapi juga melalui pelaksanaan Grosse Akta serta pelaksanaan putusan dari institusi yang berwenang atau bahkan kreditur secara langsung. Dalam Pasal 6 Undang-undang Hak Tanggungan disebutkan : “Apabila debitur cidera janji, pemegang hak tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual obyek hak tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut.”
Maksudnya adalah bahwa hak untuk menjual obyek hak tanggungan atas
kekuasaan sendiri merupakan salah satu perwujudan dari kedudukan diutamakan
yang dipunyai oleh pemegang hak tanggungan atau pemegang hak tanggungan
pertama dalam hal terdapat lebih dari satu pemegang hak tanggungan. Hak
tersebut didasarkan pada janji yang diberikan oleh pemberi hak tanggungan
bahwa apabila debitur cidera janji, maka pemegang hak tanggungan berhak untuk
menjual obyek hak tanggungan melalui pelelangan umum tanpa memerlukan
persetujuan lagi dari pemberi hak tanggungan dan selanjutnya mengambil
pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut lebih dahulu daripada kreditur-
kreditur yang lain. Apabila terdapat sisa dari hasil penjualan maka tetap menjadi
hak pemberi hak tanggungan. Selanjutnya dalam Pasal 20 Undang-undang Hak Tanggungan terdapat tiga macam eksekusi, yaitu :
1. Parate Eksekusi Hak Tanggungan;
2. Eksekusi Titel Eksekutorial Hak Tanggungan;
3. Penjualan sukarela di bawah tangan.
Menjadi suatu hal yang penting untuk mengetahui upaya bank/kreditur dalam menangani suatu kredit macet serta perlindungan yang diberikan kepada kreditur apabila debitur cidera janji. Maka berdasarkan dari uraian di atas, Penulis ingin mengetahui lebih luas mengenai penyelesaian kredit macet dengan jaminan hak tanggungan.
B. Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka perlu adanya perumusan masalah guna mempermudah pembahasan selanjutnya. Adapun permasalahan yang akan dikemukakan adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Prosedur Pengikatan Sertifikat Hak Tanggungan Sebagai Jaminan Perjanjian Kredit pada PT. Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai Medan?
2. Bagaimana kendala-kendala Hak Tanggungan dalam Pemenuhan Hak- Hak Para Pihak Dalam Proses Eksekusi Hak Tanggungan pada PT. Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai Medan?
3. Bagaimana Kekuatan Eksekutorial Sertifikat Hak Tanggungan pada PT.
Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai Medan?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penelitian penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui prosedur pengikatan sertifikat hak tanggungan sebagai jaminan perjanjian kredit pada PT. Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai Medan
2. Untuk mengetahui kendala-kendala hak tanggungan dalam pemenuhan hak-hak para pihak dalam proses eksekusi hak tanggungan pada PT. Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai Medan
3. Untuk mengetahui kekuatan eksekutorial sertifikat hak tanggungan pada PT. Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai Medan
D. Manfaat Penulisan
Penelitian ini mempunyai manfaat teoritis dan praktis yaitu sebagai berikut:
1. Secara Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang Hukum Perdata khususnya Hukum Perbankan mengenai penyelesaian kredit macet dalam perjanjian kredit yang dijamin dengan Hak Tanggungan.
2. Secara Praktis
Bagi pihak bank dapat memberikan gambaran yang jelas dalam
menyelamatkan kredit macet dan juga sebagai bahan masukan bagi bank
dalam mengatasi hambatan-hambatan yang terjadi dalam menyelesaikan kredit macet.
E. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang dilakukan untuk mendapatkan data dan tujuan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan yang dilandasi dengan metode keilmuan. Metode keilmuan itu merupakan gabungan antara pendekatan rasional dan empiris. Pendekatan rasional memberikan kerangka berpikir yang koheren dan logis, sedangkan pendekatan empiris memberikan kerangka pengujian dalam memastikan suatu kebenaran.
55 Ery Agus Priyono, Bahan Kuliah Metodologi Penelitian (Semarang: UNDIP 2003/2004), hal 47
Dengan cara yang ilmiah itu, diharapkan data yang akan didapatkan adalah data obyektif, valid, dan reliable. Obyektif berarti semua orang akan memberikan penafsiran yang sama. Valid berarti adanya ketepatan antara data yang terkumpul dengan data pada obyek yang sesungguhnya terjadi. Reliable berarti adanya ketepatan/keajegan/konsistensi data yang didapat dari waktu ke waktu. Kegiatan penelitian dilakukan dengan tujuan tertentu, dan pada umumnya tujuan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga hal utama, yaitu untuk menemukan, membuktikan, dan mengembangkan pengetahuan tertentu. Dengan ketiga hal tersebut, maka implikasi dari hasil penelitian akan dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah.
Beberapa hal yang berkaitan dengan metode penelitian, secara berturut-
turut akan dibicarakan sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dipergunakan adalah yuridis normatif, yaitu pendekatan dari sudut kaidah-kaidah dan pelaksanaan peraturan yang berlaku di dalam masyarakat, yang dilakukan dengan cara meneliti data sekunder terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan mengadakan penelitian terhadap data primer yang ada di lapangan. Yuridis empiris adalah penelitian yang berusaha menghubungkan antara norma hukum yang berlaku dengan kenyataan yang ada di masyarakat. Penelitian berupa studi yuridis normatif berusaha menemukan proses bekerjanya hukum
62. Spesifikasi Penelitian
Yuridis empiris ini bertujuan untuk memahami bahwa hukum itu tidak semata-mata sebagai satu perangkat aturan perundang-undangan yang bersifat normatif belaka, akan tetapi hukum dipahami sebagai perilaku masyarakat yang menggejala dan membentuk pola dalam kehidupan masyarakat, selalu berinteraksi dan berhubungan dengan aspek kemasyarakatan seperti aspek ekonomi, sosial, dan budaya.
Spesifikasi dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis karena penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara jelas dan rinci, sistematis dan menyeluruh mengenai segala hal yang berkaitan dengan proses pemberian kredit, faktor-faktor penyebab terjadinya kredit bermasalah, dan proses penyelesaian kredit bermasalah, juga berbagai hal yang berkaitan dengan hak dan kewajiban yang timbul bagi debitur dan kreditur setelah terjadinya pelaksanaan
6 Soerjono Soekanto, Penganntar Penelitian Hukum (Jakarta: UI-Press 1984), hal 52
penyelesaian kredit bermasalah tersebut untuk kemudian dianalisis untuk memecahkan masalah yang timbul.
3. Sumber dan Jenis Data
Dalam penelitian ini digunakan data sekunder dan data primer sebagai data pendukung. Data sekunder dibedakan menjadi :
1) Bahan hukum primer. Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, dan terdiri dari :
(a) Undang-undang Dasar 1945
(b) Peraturan Perundang-undangan yang berkaitan dengan Perbankan : Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998, Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992, Tentang Perbankan. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Bank Indonesia.
(c) Kitab Undang-undang Hukum Perdata
(d) Ketentuan Umum PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Mengenai Perkreditan
2) Bahan Hukum Sekunder adalah bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, yaitu :
(a) Buku-buku hasil karya para sarjana.
(b) Hasil penelitian hukum yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.
(c) Makalah/bahan penataran maupun artikel-artikel yang berkaitan
dengan materi penelitian.
3) Bahan hukum tersier. Bahan hukum tersier yaitu kamus, ensiklopedia, dan bahan-bahan lain yang dapat memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan-bahan hukum primer dan sekunder yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji.
Data sekunder kemudian didukung oleh data primer yang diperoleh langsung melalui Pejabat AO NPL (Account Officer Non Performing Loan), Pejabat Account Officer Kredit Retail dan Pejabat Account Officer Kredit Penghasilan Tetap pada PT. Bank Danomon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Pembantu Sukaramai.
4. Teknik pengumpulan data
Dalam penelitian ini data sekunder dikumpulkan dengan cara mengadakan penelusuran terhadap bahan literatur yang merupakan penelitian kepustakaan yang dilakukan dengan cara mencari dan mengumpulkan bahan pustaka yang berhubungan dengan judul dan pokok permasalahannya.
Kemudian dilanjutkan dengan melakukan wawancara secara terstruktur, yaitu melakukan wawancara secara mendalam dan terstruktur kepada pejabat PT.
Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Pembantu Sukaramai Medan yang mempunyai kompetensi di bidang perkreditan. Hal ini bertujuan untuk menggali informasi dan mendapatkan data yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang diteliti.
5. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian di analisa dengan
menggunakan metode deskriptif kualitatif, berdasarkan disiplin ilmu hukum
dengan memperhatikan fakta-fakta yang ada di lapangan. Kemudian dikelompokkan, dihubungkan dan dibandingkan dengan ketentuan hukum yang berkaitan dengan kredit. Baik mengenai prosedur pemberian kredit yang dilaksanakan maupun kebijakan-kebijakan yang diambil dalam rangka penyelesaian kredit bermasalah oleh PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Pembantu Sukaramai Medan.
Dari hasil analisis tersebut dapat diketahui permasalahan yuridis yang menyebabkan terjadinya kredit bermasalah pada PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Pembantu Sukaramai Medan.
F. Keaslian Penulisan
Berdasarkan hasil penelitian di perpustakaan di Universitas Sumatera Utara bahwa judul Tinjauan Yuridis Terhadap Kekuatan Eksekutorial Sertifikat Hak Tanggungan Dalam Mengatasi Kredit Macet (Studi Pada Bank Danamon Cab. Pembantu Sukaramai), belum pernah ada, sehingga penulis tertarik untuk meneliti tentang Kekuatan Eksekutorial Sertifikat Hak Tanggungan Dalam Mengatasi Kredit.
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam kegiatan penelitian tentang Tinjauan Yuridis
Terhadap Kekuatan Eksekutorial Sertifikat Hak Tanggungan Dalam Mengatasi
Kredit Macet (Studi Pada Bank Danamon Cab. Pembantu Sukaramai) adalah,
sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bagian ini akan membahas Latar Belakang, Permasalahan, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Metode Penelitian, Keaslian Penulisan, Sistematika Penulisan
BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG KREDIT PERBANKAN
Bab ini akan membahas Pengertian Kredit, ketentuan Pemberian kredit, Perjanjian Kredit dan Kredit Macet
BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP HAK JAMINAN
Bab ini akan membahas Hak Jaminan Pada Umumnya, Hak Jaminan Perorangan, Hak Jaminan Kebendaan, Hak Tanggungan sebagai Jaminan, Dasar Hukum Hak Tanggungan, Pengertian Hak Tanggungan, Unsur-unsur Hak Tanggungan, Ciri-ciri dan Sifat Hak Tanggungan, Subjek Hak Tanggungan, Objek Hak Tanggungan, Tahap-Tahap Pembebanan Hak Tanggungan
BAB IV TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL SERTIFIKAT HAK TANGGUNGAN DALAM MENGATASI KREDIT MACET PADA BANK DANAMON CABANG PEMBANTU SUKARAMAI
Bab ini akan membahas tentang Prosedur Pengikatan Sertifikat
Hak Tanggungan Sebagai Jaminan Perjanjian Kredit pada Bank
Danamon Cabang Pembantu Sukaramai, Kendala-kendala Hak
Tanggungan dalam Pemenuhan Hak-Hak Para Pihak Dalam Proses
Eksekusi Hak Tanggungan pada Bank Danamon Cabang Pembantu
Sukaramai dan Kekuatan Eksekutorial Sertifikat Hak Tanggungan pada Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bagian ini akan membahas mengenai Kesimpulan dan Saran
dari hasil penelitian
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG KREDIT PERBANKAN
E. Pengertian Kredit
Proses pemberian kredit akan menyangkut suatu jumlah uang dari nilai yang relatif kecil sampai jumlah yang cukup besar, sehingga ada berbagai kemungkinan pula yang dapat terjadi yang akan membawa kerugian financial bagi pemberi kredit apabila kredit-kredit tersebut tidak dikelola dengan baik.
Kata “kredit” berasal dari bahasa Latin “creditus” yang merupakan bentuk past participle dari kata ”credee” yang berarti to trust. Kata tersebut sendiri
berarti kepercayaan.
7Dengan kata lain kepercayaan akan kebenaran. Bahasa Belanda menyebut kredit dengan Ventrouwen dan bahasa inggris dengan believe, trust confident.
8Dalam arti yang lebih luas kredit diartikan sebagai kepercayaan. Begitu pula dalam makna latin berarti “credere” artinya percaya. Maksudnya percaya bagi si pemberi kredit adalah ia percaya kepada si penerima kredit bahwa kredit yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai dengan perjanjian. Sedangkan Sedangkan dalam bahasa Indonesia kata kredit mempuyai arti
kepercayaan, jadi seorang memperoleh kredit berarti memperoleh kepercayaan.
Walaupun sebenarnya kredit itu tidak hanya sekedar kepercayaan.
7 Munir Fuady, Hukum Perkreditan Komporer, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,2002), hal 5.
8 Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Kredit Bank, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1991), hal 23.
bagi si penerima kredit menyatakan kepercayaan sehingga mempunyai kewajiban untuk membayarnya sesuai jangka waktu.
9F. Ketentuan Pemberian Kredit
Di dalam prosedur ini diatur hal-hal yang berkaitan dengan jenis pinjaman dan cara pembayaran, syarat-syarat permohonan kredit, proses pengajuan usulan dan persetujuan kredit, pencatatan atau pembukuan kredit (pencairan, angsuran, bunga) file kredit serta laporan-laporan perkreditan.
Ketentuan perbankan ada terdapat suatu prinsip yang senantiasa dipegang teguh, yaitu bahwa kredit yang dikeluarkan harus dapat diterirna kembali sesuai dengan perjanjian, lebih-lebih jika diingat bahwa uang tersebut adalah uang yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank.
Unsur-unsur kredit yang harus diperhatikan menurut Thomas Suyatno terdiri dari 4 (empat), yaitu :
10a. Kepercayaan (faith atau truth).
Kepercayaan, yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa prestasi yang diberikannya, baik dalam bentuk uang, barang atau jasa, akan benar-benar diterimanya kembali dalam jangka waktu tertentu dimasa yang akan datang.
b. Tenggang waktu.
Tenggang waktu, yaitu suatu masa yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan kontraprestasi yang akan diterima pada masa yang akan
9 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan lainnya, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal 104-105.
10 Thomas Suyatno, dkk., Dasar-Dasar Perkreditan. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1992. hal. 14.
datang. Dalam unsur waktu itu, terkandung pengertian nilal harga dan uang, yaitu uang yang ada sekarang lebih tinggi nilainya dan uang yang akan di terima pada masa yang akan datang.
c. Degree of Risk.
Yaitu suatu tingkat risiko yang akan dihadapi sebagai akibat dan adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan kontraprestasi yang akan diterima kemudian dan semakin lama kredit diberikan semakin tinggi pula tingkat risikonya, karena sejauh-jauh kemampuan manusia untuk menerobos masa depan itu, maka masih selalu terdapat unsur ketidaktentuan yang tidak dapat diperhitungkan. Inilah yang menyebabkan timbulnya unsur risiko. Dengan adanya unsur risiko inilah, maka timbul jaminan dalam pemberian kredit.
d. Prestasi
Prestasi atau objek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang, tetapi juga dapat berbentuk barang, atau jasa. Namun, karena kehidupan ekonomi modern sekarang mi didasarkan kepada uang, maka transaksi- transaksi kredit yang menyangkut uanglah yang setiap kali kita jumpai dalam praktek perkreditan. Dengan mengingat hal tersebut, maka bank harus selektif dalam mempertimbangkan permohonan kredit.
G. Perjanjian Kredit
Pengertian ataupun rumusan perjanjian kredit tidak diatur secara khusus
dalam Undang-undang Perbankan No.10 Tahun 1998, maupun dalam KUH
Perdata. Oleh karena itu untuk memahami pengertian perjanjian kredit perlu dikemukakan pendapat para sarjana.
Beberapa sarjana hukum, seperti Subekti berpendapat bahwa “dalam bentuk apapun juga pemberian kredit itu diadakan, dalam semuanya itu pada hakekatnya yang terjadi adalah suatu perjanjian pinjam-meminjam sebagaimana diatur dalam Pasal 1754 sampai dengan Pasal 1769 KUH Perdata.”
11Marhainis Abdul Hay bahwa, “perjanjian kredit adalah identik dengan perjanjian pinjam meminjam dan tunduk kepada ketentuan Bab XIII dari Buku III KUH Hal yang sama dikemukakan pula oleh Mariam Darus B bahwa: “dari rumusan yang terdapat di dalam Undang-undang perbankan mengenai perjanjian kredit, dapat disimpulkan bahwa dasar perjanjian kredit adalah perjanjian pinjam- meminjam di dalam KUH Perdata Pasal 1754.”
12Hasan berpendapat lain, bahwa perjanjian kredit tidak tepat dikuasai oleh ketentuan Bab XIII Buku III KUH Perdata, sebab antara perjanjian pinjam-
Rumusan perjanjian pinjam-meminjam menurut Pasal 1754 KUH Perdata, adalah “Perjanjian dengan mana pihakyang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang menghabis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah uang yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula.”
11 Subekti, Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, (Bandung: PT. Cipta Aditya Bakti, 1991), hal 3.
12 Mariam Darus Badrullzaman, Perjanjian Kredit Bank, (Bandung: Alumni, 1994), hal 110.
meminjam dengan perjanjian kredit terdapat beberapa perbedaan. Perbedaannya, menurut Hasan terdapat pada hal-hal :
13a. Perjanjian kredit selalu bertujuan dan tujuan tersebut biasanya berkaitan dengan program pembangunan; biasanya dalam perjanjian kredit sudah ditentukan tujuan penggunaan uang yang akan diterima, sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam tidak ada ketentuan tersebut dan debitur dapat menggunakan uang secara bebas.
b. Dalam perjanjian kredit sudah ditentukan bahwa pemberi kredit adalah bank atau lembaga pembiayaan, dan tidak dimungkinkan diberikan oleh individu, sedangkan dalam perjanjian pinjam meminjam, pemberi pinjaman dapat dilakukan oleh individu.
c. Pengaturan yang berlaku bagi perjanjian kredit berbeda dengan perjanjian pinjam-meminjam. Pada perjanjian kredit berlaku ketentuan UUD 1945, ketentuan bidang ekonomi dalam GBHN, ketentuan-ketentuan umum KUH Perdata, UU Perbankan, Paket Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Ekonomi terutama bidang perbankan, Surat-Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) dan sebagaimnya, sedangkan pada perjanjian pinjam-meminjam tunduk semata-mata pada KUH Perdata Bab XIII Buku III.
d. Pada perjanjian kredit dan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah telah ditentukan bahwa pengembalian uang pinjaman itu harus disertai bunga, imbalan, atau pembagian hasil, sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam hanya berupa bunga saja, dan bunga inipun baru ada
13 Djuhaendah Hasan, Lembaga Jaminan Kebendaan BagiTanah dan Benda Lainnya yang Melekat Pada Tanah Dalam Konsepsi Dalam Pemisahan Asas Horisontal, (Bandung; PT.
Citra Aditya Bakti, 1996), hal 176.
apabila diperjanjikan. Pada perjanjian kredit, bank harus mempunyai keyakinan akan kemampuan debitur akan pengembalian kredit yang diformulasikan dalam bentuk jaminan baik materiil maupun immateriil, sedangkan pada perjanjian pinjam meminjam, jaminan merupakan pengaman bagi kepastian pelunasan hutang dan ini pun baru ada apabila diperjanjikan, dan jaminan itu hanya merupakan jaminan secara fisik atau materiil saja.
Senada dengan pendapat dari Hasan di atas, Ibrahim juga berpendapat bahwa perjanjian kredit berbeda dengan penjanjian pinjam meminjam yang diatur dalam Bab XIII Buku III KUH Perdata, baik dari pengertian, subjek pemberi kredit, pengaturan, tujuan dan jaminannya.
14Halle mengemukakan, terjadinya perjanjian kredit harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
Akan tetapi dengan perbedaan tersebut tidaklah berarti dapat dilepaskan sama sekali dari akarnya yaitu perjanjian pinjam-meminjam, karena perjanjian kredit merupakan modifikasi sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dunia bisnis saat ini.
Perjanjian kredit bank dilaksanakan berdasarkan atas kesepakatan diantara kedua belah pihak yaitu pihak bank sebagai kreditur dan pihak nasabah sebagai debitur, yang dilandasi dengan kepercayaan, terutama kepercayaan dari pihak bank sebagai pemberi kredit kepada debiturnya.
15
14 Ibrahim, Cross Default Dan Cross Collateral Sebagai Upaya Penyelesaian Kredit Bermasalah,( Bandung: PT. Refika Aditama, 2004), hal 28.
15 Halle, Credit Analisys A Complete Guide, (New York : Jhon Wiley and Sons Inc 2003), hal 53.
1) Terdapat kedua belah pihak serta ada persetujuan pinjam meminjam antar kreditur dan debitur.
2) Mempunyai jangka waktu tertentu.
3) Hak kreditur untuk menuntut dan memperoleh pembayaran serta kewajiban debitur untuk membayar prestasi yang diterima.
Perjanjian kredit adalah suatu perjanjian pokok yang bersifat riil artinya terjadinya perjanjian kredit ditentukan oleh penyerahan uang oleh bank kepada nasabah debitur. Perjanjian kredit harus diikuti dengan penyerahan uang secara riil kepada debitur. Dalam praktek, ada kemungkinan pinjaman yang diperjanjikan dalam perjanjian kredit tidak jadi dicairkan. Ini terjadi jika bank mendapat informasi baru yang tidak menguntungkan tentang debitur. Ada juga kemungkinan bahwa besarnya jumlah yang diserahkan berlainan dengan jumlah yang semula disetujui di dalam perjanjian kredit.
Penyerahan uang kepada penerima kredit bergantung pula pada sifat atau jenis kredit yang diperjanjikan. Jika kredit itu dalam bentuk investasi, maka pencairannya dilakukan berdasarkan progress fisik proyek yang dibiayai. Jika pinjaman dalam bentuk rekening koran, maka pencairannya dilakukan dalam bentuk plafond ke dalam rekening koran, penarikan oleh debitur tergantung kebutuhannya tetapi dalam limit plafond yang disediakan.
Dilihat dari bentuknya, perjanjian kredit perbankan pada umumnya
menggunakan bentuk perjanjian baku (standard contract). Artinya, perjanjiannya
telah disediakan oleh bank dalam bentuk blanko, sedangkan debiturnya tinggal
mempelajari dan memahaminya dengan baik. Kelemahan dari perjanjian ini, jika
dilihat dari sudut debitur, adalah debitur tinggal memiliki salah satu pilihan dari dua pilihan yakni menerima atau menolak, tanpa adanya kemungkinan melakukan negosiasi atau tawar menawar dengan bank. Dalam hal ini debitur tidak dapat berbuat banyak dalam menghadapi kreditur karena perjanjian baku telah ditentukan oleh bank.
Keberadaan perjanjian kredit sangat penting karena berfungsi sebagai dasar hubungan kontraktual antara para pihak. Dalam perjanjian kredit dapat ditelusuri berbagai hal tentang pemberian, pengelolaan ataupun penatalaksanaan kredit itu sendiri. Untuk itu sangat perlu diperhatikan bersama. Wardoyo dalam Hermansyah mengemukakan bahwa perjanjian kredit itu memiliki tiga fungsi, yaitu :
16a. Berfungsi sebagai perjanjian pokok, artinya perjanjian kredit merupakan sesuatu yang menentukan batal atau tidak batalnya perjanjian lain yang mengikutinya, misalnya perjanjian pengikatan jaminan;
b. Berfungsi sebagai alat bukti mengenai batasan-batasan hak dan kewajiban diantara kreditur dan debitur;
c. Berfungsi sebagai alat untuk melakukan monitoring kredit
H. Kredit Macet
Ekonomi suatu negara seharusnya merupakan suatu paduan yang efisien dan suportif diantara kegiatan-kegiatan sektor riil. Saat ini dapat dikatakan bahwa penyediaan berbagai jasa keuangan (perbankan) merupakan sektor yang strictly
16Wardoyo dan Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta: PT.
Kencana Prenada Media Group, 2006), hal 72.
well regulated. Hal ini terjadi karena perbankan menyangkut kepentingan jumlah
orang banyak. Situasi di Indonesia adalah suatu hal yang cukup memberi gambaran bahwa perbankan merupakan sektor yang sangat diatur. Lebih lanjut H.
Budi Untung menyebutkan bahwa meskipun perbankan merupakan sektor yang strictly well regulated, tetapi kredit macet masih saja terjadi diantaranya dapat
disebabkan karena :
171) Kesalahan appraisal
2) Membiayai proyek dari pemilik/ terafiliasi
3) Membiayai proyek yang direkomendasi oleh kekuatan tertentu 4) Dampak makro ekonomi/ unforecasted variable
5) Kenakalan nasabah
Siswanto Sutojo mengatakan bahwa kredit bermasalah dapat timbul selain karena sebab-sebab dari pihak kreditur, sebagian besar kredit bermasalah timbul karena hal-hal yang terjadi pada pihak debitur, antara lain :
181) Menurunnya kondisi usaha bisnis perusahaan yang disebabkan merosotnya kondisi ekonomi umum dan/ atau bidang usaha dimana mereka beroperasi.
2) Adanya salah urus dalam pengelolaan usaha bisnis perusahaan, atau karena kurang berpengalaman dalam bidang usaha yang mereka tangani.
3) Problem keluarga, misalnya perceraian, kematian, sakit yang berkepanjangan, atau pemborosan dana oleh salah satu atau beberapa orang anggota keluarga debitur.
17 H. Budi Untung, Kredit Perbankan di Indonesia (Yogyakarta: Andi Offset, 2000), hal 121
18 Siswanto Sutojo, The Management of Commercial Bank, (Jakarta: Damar Mulia Pustaka 2007), hal. 171-172
4) Kegagalan debitur pada bidang usaha atau perusahaan mereka yang lain.
5) Kesulitan likuiditas keuangan yang serius.
6) Munculnya kejadian di luar kekuasaan debitur, misalnya perang dan bencana alam.
7) Watak buruk debitur (yang dari semula memang telah merencanakan untuk tidak akan mengembalikan kredit).
Sebagian besar kredit bermasalah tidak muncul secara tiba-tiba. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kasus kredit bermasalah merupakan satu proses, yang diibaratkan api dalam sekam. Banyak gejala tidak menguntungkan yang menjurus kepada kasus kredit bermasalah, sebenarnya telah bermunculan jauh sebelum kasus itu sendiri timbul dipermukaan. Bilamana gejala tersebut dapat dideteksi dengan tepat dan ditangani secara professional sedini mungkin, ada harapan kredit yang bersangkutan dapat ditolong. Sebaliknya bilamana api yang membara dalam sekam itu tidak dideteksi atau dibiarkan saja, transaksi kredit akan berakhir dengan bencana, terutama bagi pihak kreditur. Gejala-gejala yang muncul sebagai tanda akan terjadinya kredit bermasalah adalah :
191) Penyimpangan dari berbagai ketentuan dalam perjanjian kredit, 2) Penurunan kondisi keuangan perusahaan,
3) Frekuensi pergantian pimpinan dan tenaga inti, 4) Penyajian bahan masukan secara tidak benar, 5) Menurunnya sikap kooperatif debitur,
6) Penurunan nilai jaminan yang disediakan, 7) Problem keuangan atau pribadi.
19 Ibid. hal. 173
BAB III
TINJAUAN UMUM TERHADAP HAK JAMINAN
C. Hak Jaminan Pada Umumnya 1. Jaminan Perorangan.
Jaminan perorangan adalah jaminan berupa pernyataan kesanggupan yang diberikan oleh seorang pihak ketiga, guna menjamin pemenuhan kewajiban- kewajiban debitur kepada kreditur apabila debitur yang bersangkutan cidera janji atau wanprestasi.
20R.Subekti, jaminan perorangan adalah suatu perjanjian antara seorang berpiutang dengan seorang ketiga, yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berhutang (debitur). Ia bahkan dapat diadakan di luar sepengetahuan si berhutang.
21
2. Jaminan Kebendaan.
Menurut, KUHPerdata jaminan perorangan merupakan penanggungan, sesuai dengan Pasal 1820 KUHPerdata, penanggungan adalah suatu persetujuan dengan mana seorang pihak ketiga, guna kepentingan si berpiutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatannya si berutang, manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya.
Jaminan kebendaan adalah jaminan berupa harta kekayaan, baik benda maupun hak kebendaan, yang diberikan dengan cara pemisahan bagian dari harta
20 Hasanuddin Rahman, Aspek-aspek Hukum Perikatan Kredit Perbankan, (Bandung :Citra Aditya bakti, Bandung, 1996), hal.164
21 R.Subekti, Op. Cit, hal.25
baik dari si debitur maupun dari pihak ketiga guna menjamin pemenuhan kewajiban-kewajiban debitur kepada pihak kreditur apabila debitur yang bersangkutan cidera janji atau wanprestasi.
22Menurut, R.Subekti pemberian jaminan kebendaan berupa menyendirikan suatu bagian dari kekayaan seseorang, si pemberi jaminan dan menyediakannya guna pemenuhan (pembayaran) kewajiban (utang) seorang debitur.
2322 Hasanuddin Rahman, Op Cit, hal. 167
23 R. Subekti, Op Cit, hal. 27
Selanjutnya dikatakan pula, bahwa kekayaan tersebut dapat berupa kekayaan debitur sendiri atau kekayaan pihak ketiga. Penyendirian atau penyediaan secara khusus itu diperuntukkan bagi keuntungan seorang kreditur tertentu yang telah memintanya, karena bila tidak ada penyendirian atau penyediaan secara khusus itu, bagian dari kekayaan tadi seperti halnya seluruh kekayaan debitur dijadikan jaminan untuk pembayaran semua utang si debitur. Pemberian jaminan kebendaan kepada seorang kreditur tersebut, suatu hak privilege atau kedudukan istimewa terhadap para kreditur lain. Jika terjadi tubrukan antara hak-hak yang bersifat kebendaan dan hak yang bersifat perorangan, maka hak kebendaan lebih dimenangkan daripada hak perorangan.
Lembaga jaminan kebendaan adalah Gadai, Hak Tanggungan, Jaminan
Fidusia, Hipotik (bukan tanah), sedangkan lembaga jaminan perorangan adalah
Borg Tocht/ Penanggungan.
D. Hak Tanggungan sebagai Jaminan 1. Dasar Hukum Hak Tanggungan
Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah, peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pembebanan hak atas tanah adalah Bab 21 Buku II Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang berkaitan dengan hipotek dan credietverband dalam Staatsblad 1908-542 sebagaimana telah diubah dengan Staatsblad 1937-190.
Lahirnya Undang-Undang tentang Hak Tanggungan merupakan perintah dari Pasal 51 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (selanjutnya disebut UUPA). Pasal 51 UUPA berbunyi
“Hak Tanggungan yang dapat dibebankan pada hak milik, guna usaha, dan hak guna bangunan tersebut dalam Pasal 25, Pasal 33, dan Pasal 39 diatur dalam undang-undang. Tetapi dalam Pasal 57 UUPA disebutkan bahwa selama undang- undang Hak Tanggungan belum terbentuk, maka digunakan ketentuan tentang hipotek sebagaimana yang diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan credietverband.
Perintah Pasal 51 UUPA baru terwujud setelah menunggu selama 36 tahun
yaitu dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak
Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah
pada tanggal 9 April 1996.
2. Pengertian Hak Tanggungan
Di dalam Pasal 51 Undang - Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA) sudah disediakan lembaga hak jaminan yang kuat yang dapat dibebankan kepada hak atas tanah yaitu hak tanggungan.
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT) pengertian Hak Tanggungan adalah :
Hak atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan, adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah yang sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- pokok Agraria berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah-tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan diutamakan kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lainnya.
Dari pengertian tersebut maka dapat diuraikan elemen atau unsur-unsur pokok Hak Tanggungan yaitu :
241) Hak Tanggungan adalah hak jaminan untuk pelunasan hutang 2) Utang yang dijamin jumlahnya tertentu.
3) Obyek Hak Tanggungan adalah hak- hak atas tanah sesuai Undang-undang pokok agraria yaitu Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha dan Hak Pakai.
4) Hak Tanggungan dapat dibebankan terhadap tanah berikut benda yang berkaitan dengan tanah atau hanya tanahnya saja.
24 H. Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, (Jakarta : PT. Raja Grafido Persada, 2004), hal.153
5) Hak Tanggungan memberikan hak preferen atau hak diutamakan kepada Kreditur tertentu terhadap Kreditur lain.
3. Unsur-Unsur Hak Tanggungan
Ada beberapa unsur pokok dari Hak Tanggungan yang termuat di dalam definisi tersebut di atas. Unsur-unsur pokok itu adalah:
25a. Hak Tanggungan adalah hak jaminan untuk pelunasan hutang.
b. Objek Hak Tanggungan adalah hak atas tanah sesuai UUPA.
c. Hak Tanggungan dapat dibebankan atas tanahnya (hak atas tanah) saja, tetapi dapat pula dibebankan berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu.
d. Hutang yang dijamin harus suatu hutang tertentu.
e. Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain.
4. Ciri-ciri dan Sifat Hak Tanggungan
Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan disebutkan bahwa Hak Tanggungan sebagai lembaga jaminan atas tanah yang kuat harus mengandung ciri-ciri.
2625 Sutan Remy Sjahdeini, Hak Tanggungan Asaz-Asaz, Ketentuan-Ketentuan Pokok Dan Masalah Yang Dihadapi Oleh Perbankan (Suatu Kajian Mengenai Undang-Undang Hak Tanggungan), (Bandung: Alumni, 1999), hal. 11.
26 Purwahid Patrik, Kashadi, Hukum Jaminan, (Semarang : Badan Penerbit PT. Fakultas Hukum UNDIP,2007), hal. 53
1. Memberikan kedudukan yang diutamakan atau mendahului kepada pemegangnya (droit de preference), hal ini ditegaskan dalam Pasal 1 angka 1 dan Pasal 20 ayat (1) ;
2. Selalu mengikuti obyek yang dijaminkan dalam tangan siapapun obyek itu berada (droit de suite), hal ini ditegaskan dalam Pasal 7;
3. Mudah dan pasti pelaksanaan eksekusinya.
Apabila debitur cidera janji (wanprestasi), maka kreditur tidak perlu menempuh acara gugatan perdata biasa yang memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Kreditur pemagang Hak Tanggungan dapat menggunakan haknya untuk menjual obyek hak tanggungan melalui pelelangan umum.
Selain melalui pelelangan umum berdasarkan Pasal 6, eksekusi obyek hak tanggungan juga dapat dilakukan dengan cara “parate executie” sebagaimana diatur Pasal 224 HIR dan Pasal 158 RBg bahkan dalam hal tertentu penjualan dapat dilakukan di bawah tangan.
27Hak Tanggungan membebani secara utuh obyek Hak Tanggungan dan setiap bagian darinya. Dengan telah dilunasinya sebagian dari hutang yang dijamin hak tanggungan tidak berarti terbebasnya sebagian obyek hak tanggungan, melainkan hak tanggungan tersebut tetap membebani seluruh obyek hak tanggungan untuk sisa hutang yang belum terlunasi. Dengan demikian, pelunasan sebagian hutang debitur tidak menyebabkan terbebasnya sebagian obyek hak tanggungan. Menurut Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Hak Tanggungan dijelaskan bahwa hak tanggungan memiliki sifat tidak dapat dibagi-
27 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang- undang PokokAgraria Isi dan Pelaksanaannya (Jakarta : Djambatan, 2000) hal 420
bagi (ondeelbaarheid). Sifat tidak dapat dibagi-bagi ini dapat disimpangi asalkan hal tersebut telah diperjanjikan terlebih dahulu dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT).
Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Hak Tanggungan menyatakan bahwa hal yang telah diperjanjikan terlebih dahulu dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) adalah pelunasan hutang yang dijamin dapat dilakukan dengan cara angsuran yang besarnya sama dengan nilai masing-masing hak atas tanah yang merupakan bagian dari obyek hak tanggungan. Sehingga hak tanggungan hanya membebani sisa dari obyek hak tanggungan tersebut dibebankan kepada beberapa hak atas tanah yang terdiri dari beberapa bagian yang masing-masing merupakan suatu kesatuan yang berdiri sendiri dan dapat dinilai secara tersendiri.
5. Obyek dan Subyek Hak Tanggungan 1) Obyek Hak Tanggungan
Obyek hak tanggungan dalam Pasal 4 ayat (1) UUHT disebutkan bahwa
“Hak atas tanah yang dapat dibebani hak tanggungan adalah hak milik, hak guna usaha dan hak guna bangunan. Untuk dapat dibebani hak jaminan atas tanah, maka obyek hak tanggungan harus memenuhi empat (4) syarat, yaitu :
28a) Dapat dinilai dengan uang
b) Termasuk hak yang didaftarkan dalam daftar umum c) Mempunyai sifat dapat dipindahtangankan
d) Memerlukan penunjukkan khusus oleh Undang-Undang
28 Purwahid Patrik, Kashadi, Op. Cit, hal 57
Pasal 4 Undang-Undang Hak Tanggungan disebutkan bahwa yang dapat dibebani dnegan hak tanggungan adalah :
291) Hak Milik (Pasal 25 UUPA);
2) Hak Guna Usaha (Pasal 33 UUPA);
3) Hak Guna Bangunan (Pasal 39 UUPA);
4) Hak Pakai Atas Tanah Negara (Pasal 4 ayat (D), yang menurut ketentuan yang berlaku wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan. Maksud dari hak pakai atas tanah negara di atas adalah Hak Pakai yang diberikan oleh Negara kepada orang perseorangan dan badan-badan hukum perdata dengan jangka waktu terbatas, untuk keperluan pribadi atau usaha. Sedangkan Hak Pakai yang diberikan kepada Instansi-instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan-badan Keagamaan dan Sosial serta Perwakilan Negara Asing yang peruntukannya tertentu dan telah didaftar bukan merupakan hak pakai yang dapat dibebani dengan hak tanggungan karena sifatnya tidak dapat dipindahtangankan. Selain itu, Hak Pakai yang diberikan oleh pemilik tanah juga bukan merupakan obyek hak tanggungan;
5) Bangunan Rumah susun dan Hak Milik Atas satuan Rumah susun yang berdiri di atas tanah Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai yang diberikan oleh Negara (Pasal 27 jo UU No. 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun.
29 Boedi Harsono, Op. cit, hal, 426
2) Subyek Hak Tanggungan
Subyek hak tanggungan adalah pemberi hak tanggungan dan pemegang hak tanggungan.
a) Pemberi Hak Tanggungan
Pasal 8 Undang-Undang Hak Tanggungan disebutkan bahwa pemberi hak tanggungan adalah orang/badan hukum yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap obyek hak tanggungan yang bersangkutan.
Berdasarkan Pasal 8 tersebut, maka pemberi hak tanggungan disini adalah pihak yang berutang atau debitur. Namun, subyek hukum lain dapat pula dimungkinkan untuk menjamin pelunasan utang debitur dengan syarat pemberi hak tanggungan mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap obyek hak tanggungan. Kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap obyek hak tanggungan tersebut harus ada pada pemberi hak tanggungan pada saat pendaftaran hak tanggungan dilakukan, karena lahirnya hak tanggungan pada saat didaftarkannya hak tanggungan, maka kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap obyek hak tanggungan diharuskan ada pada pemberi hak tanggungan pada saat pembuatan buku tanah hak tanggungan.
30Dengan demikian pemberi hak tanggungan tidak harus orang yang berutang atau debitur, akan tetapi bisa subyek hukum lain yang
30 Purwahid Patrik, Kashadi, Op, Cit, hal. 62
mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap obyek hak tanggungannya. Misalnya pemegang hak atas tanah yang dijadikan jaminan, pemilik bangunan, tanaman dan/hasil karya yang ikut dibebani hak tanggungan.
b) Penerima hak tanggungan
Pasal 9 Undang-undang Hak Tanggungan disebutkan bahwa “Pemegang Hak Tanggungan adalah orang perseorangan atau badan hukum, yang berkedudukan sebagai pihak yang berpiutang. “
316. Tahap-Tahap Pembeban Hak Tanggungan
Sebagai pihak berpiutang disini dapat berupa lembaga keuangan berupa bank, lembaga keuangan bukan bank, badan hukum lainnya atau perseorangan.
Oleh karena hak tanggungan sebagai lembaga jaminan hak atas tanah tidak mengandung kewenangan untuk menguasai secara fisik dan menggunakan tanah yang dijadikan jaminan, maka tanah tetap berada dalam penguasaan pemberi hak tanggungan. Kecuali dalam keadaan yang disebut dalam Pasal 11 ayat (2) huruf (c) Undang-Undang Hak Tanggungan. Maka pemegang hak tanggungan dilakukan oleh Warga Negara Indonesia atau badan hukum Indonesia dan juga oleh Warga Negara Asing atau badan hukum asing.
Proses Hak tanggungan dilaksanakan dalam dua tahap kegiatan, yaitu : 1) Tahap pemberian hak tanggungan
31 Ibid. hal 63
Sesuai dengan sifat Accesoir dari hak tanggungan, maka pembeban Hak Tanggungan didahului dengan perjanjian yang menimbulkan hubungan hukum utang piutang yang dijamin pelunasannya, yang merupakan perjanjian pokoknya.
Hal ini adalah sebagaimana tersebut dalam Pasal 10 ayat (1) Undang- Undang Hak Tanggungan yang menyatakan bahwa pemberian Hak Tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan Hak Tanggungan sebagai jaminan pelunasan hutang tertentu, yang dituangkan di dalam dan merupakan bagian tak terpisahkan dari perjanjian utang piutang yang bersangkutan.
Menurut ketentuan Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Hak Tanggungan pemberian hak tanggungan, pemegang hak tanggungan yang wajib dihadiri oleh pemberi hak tanggungan dan dua orang saksi, dilakukan dengan pembuatan akta pemberi hak tanggungan yang dibuat oleh pejabat pembuat akta tanah sesuai peraturan perundang-undang yang berlaku. akta pemberi hak tanggungan yang dibuat oleh pejabat pembuat akta tanah tersebut di atas merupakan akta autentik.
2) Tahap pendaftaran hak tanggungan
Setelah dilakukan pengikat jaminan hak tanggungan dan pejabat pembuat
akta tanah telah memberikan keterangan bahwa calon debitur dinyatakan telah
memenuhi persyaratan, baru kemudian bank merealisasi kredit kepada calon
debitur. Pengikat jaminan hak tanggungan yang dilakukan dalam perjanjian kredit
yang dimaksud disini adalah melalui proses hak tanggungan sebagaimana telah
ditentukan dalam Undang-Undang Hak Tanggungan yaitu dengan melalui dua
tahap berupa :
a) Tahap pemberian hak tanggungan yang dilakukan di hadapan pejabat pembutan akta tanah.
b) Tahap pendaftaran hak tanggungan yang dilakukan di Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat, yang merupakan saat lahir Hak Tanggungan.
Pasal 13 Undang-Undang Hak Tanggungan, pemberian hak tanggungan wajib didaftarkan pada Kantor Pertanahan selambat-lambatnya tujuh (7) hari kerja setelah penandatanganan APHT, Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) wajib mengirimkan APHT yang bersangkutan dan warkah lain yang diperlukan kepada Kantor Pertanahan. Warkah yang dimaksud meliputi surat-surat bukti yang berkaitan dengan obyek hak tanggungan dan identitas pihak-pihak yang bersangkutan, termasuk di dalamnya sertifikat hak atas tanah dan/ atau surat-surat keterangan mengenai obyek hak tanggungan. Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) wajib melaksanakan hal tersebut karena jabatannya dan sanksi atas pelanggaran hal tersebut akan ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).
32Pendaftaran hak tanggungan dilakukan oleh kantor pertanahan dengan membuat buku tanah hak tanggungan dan mencatatnya dalam buku tanah hak atas tanah yang menjadi obyek hak tanggungan serta menjadi catatan tersebut pada sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan. Dalam Pasal 14 ayat (1) Undang- Undang Hak Tanggungan disebutkan bahwa sebagai tanda bukti adanya Hak Tanggungan, Kantor Pertanahan menerbitkan sertifikat hak tanggungan. Sertifikat tersebut memuat irah-irah dengan kata-kata “Demi Keadilan Berdasarkan
32 Sutardja Sudrajat, Pendaftaran Hak Tanggungan dan Penerbitan Serfitikatnya, (Bandung : Mandar Maju, 1997), hal 54.
Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dengan demikian mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan berlaku sebagai pengganti grosse akte hypotheek sepanjang mengenai hak atas tanah. Jadi irah-irah yang dicantumkan pada sertifikat hak tanggungan dimaksudkan untuk menegaskan adanya kekuatan eksekutorial pada sertifikat hak tanggungan, sehingga apabila debitur cidera janji (wanprestasi), siap untuk dieksekusi seperti halnya suatu putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, melalui tata cara dan dengan menggunakan lembaga parate executie sesuai dengan peraturan hukum acara perdata.
Jika tidak diperjanjikan lain, maka sertifikat hak atas tanah yang telah dibubuhi catatan hak tanggungan dikembalikan kepada pemegang hak atas tanah yang bersangkutan dan untuk sertifikat hak tanggungan diserahkan kepada pemegang hak tanggungan.
BAB IV
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL SERTIFIKAT HAK TANGGUNGAN DALAM MENGATASI
KREDIT MACET PADA BANK DANAMON CABANG PEMBANTU SUKARAMAI
D. Prosedur Pengikatan Sertifikat Hak Tanggungan Sebagai Jaminan Perjanjian Kredit pada Bank Danamon Cabang Pembantu Sukaramai 1. Prosedur Umum Pemberian Kredit
Prosedur yang harus dipenuhi oleh nasabah sejak diajukannya permohonan kredit sampai dengan lunasnya suatu kredit yang diberikan oleh bank adalah :
a. Permohonan kredit.
Pada prinsipnya permohonan kredit harus dilakukan dengan surat yang ditujukan kepada Kepala Bank.
b. Penyelidikan dan analisis kredit.
Salah satu unsur dan kredit adalah degree of risk. Oleh karena itu, sebelum permohonan kredit dikabulkan, bank harus memperhatikan hal-hal yang menyangkut keadaan intern bank dan keadaan calon nasabah (peminjam).
c. Jenis-jenis kredit.
Penyalurkan kredit menurut jenisnya dapat dibagi 4 (empat) yaitu : 1) Kredit perbankan untuk masyarakat.
2) Kredit dilihat dan sudut jaminannya.
3) Kredit dilihat dari sudut penggunaannya.
4) Kredit menurut cara pemakaiannya.
d. Perjanjian kredit dan jaminan kredit.
e. Prosedur pengikatan jaminan.
Pentingnya pengikatan jaminan hutang adalah agar kita dapat mengantisipasi dengan persis apakah nantinya jaminan tersebut dapat atau gampang dieksekusi. Sebab, perbedaan prosedur pengikatan jaminan mempunyai korelasi langsung dengan cara mengeksekusinya. Misalnya jika diperlukan eksekusi cepat lewat fiat eksekusi, maka perlu adanya ikatan pengakuan hutang oleh notaris, atau pembuatan akta hak tanggungan.
331) Kredit modal kerja (KMK)
Proses pemberian kredit Pada PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Cabang Pembantu Sukaramai Medan yang didirikan dengan tujuan membantu kesejahteraan masyarakat salah satunya melalui pemberian pinjaman bagi masyarakat guna mengembangkan usahanya. Fasilitas kredit yang ada dalam PT.
Bank Danamon Indonesia, Tbk Cabang Pembantu Sukaramai Medan :
2) Kredit konsumer
Pemberian kredit bagi masyarakat ini dilakukan oleh PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Cabang Pembantu Sukaramai Medan melalui beberapa tahapan.
Tahapan tersebut dilakukan guna tercipta kualitas kredit yang baik dan mampu menopang kegiatan BPR secara menyeluruh. Adapun tahap yang dilalui dapat dirinci dalam empat tahap yaitu:
a. Tahap pra pencairan kredit
Pada tahap pencairan kredit ini yang dilakukan oleh PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Cabang Pembantu Sukaramai Medan adalah menganalisa
33 Munir Fuady, Hukum Bisnis Dalam Teori dan Praktek Buku Ketiga (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1996), hal. 106.