PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING
KELAS II SDN 3 NGERDANI KECAMATAN DONGKO KABUPATEN TRENGGALEK SEMESTER II TAHUN 2012/2013
Oleh:
Dyah Suparmiasih
SDN 3 Ngerdani, Dongko, Trenggalek
Abstrak. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) Mengetahui langkah- langkah untuk meningkatkan prestasi belajar bidang studi Matematika menggunakan metode Student Facilitator and Explaining pada siswa dan; (2) Mengetahui efektifitas pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode Student Facilitator and Explaining pada siswa.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SDN 3 Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek. Obyek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas II Semester II SDN 3 Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek Tahun Pelajaran 2012/2013 yang kelasnya berjumlah 14 siswa. Kegiatan penelitian ini dilakukan pada bidang studi matematika materi Melakukan Operasi Hitung Bilangan Perkalian dan Pembagian. Kesimpulan yang didapat dari penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut: (1) Metode Student Facilitator and Explaining dalam pembelajaran Matematika materi ajar operasi hitung bilangan perkalian dan pembagian dapat meningkatkan prestasi belajar jika dilakukan tindakan dengan urut-urutan: (a) Melakukan Student Facilitator and Explaining dalam menyampaikan materi pokok (pembelajaran) mata pelajaran Matematika, (b) Mengerjakan latihan soal yang ada kaitannya dengan materi pokok yang baru dipelajari. Keberhasilan tindakan dalam penelitian ini ditunjukkan oleh ketuntasan belajar. Kondisi ini dapat terwujud dengan langkah-langkah: (i) Menggunakan alat peraga yang berbeda dalam kegiatan ini agar menarik perhatian siswa, (ii) mengkaitkan pokok bahasan materi baru dengan pokok bahasan materi lama yang telah diberikan, (iii) memberikan soal-soal latihan sesuai dengan materi pokok yang baru diperoleh dan (iv) setiap siswa dituntut untuk mengerjakan soal dipapan tulis; (2) Dari tindakan-tindakan yang diterapkan dengan metode Student Facilitator and Explaining tampak dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam belajar bidang studi Matematika.
Kata kunci: Student Facilitator and Explaining, prestasi belajar, matematika
Matematika muncul karena fikiran-fikiran manusia yang berkaitan dengan dengan ide, proses dan penalaran. Matematika terdiri dari empat wawasan yang luas ialah aritmatika, aljabar, geometri dan analisis (analysiss) dimana arti dari aritmatika mencakup antara lain teori bilangan dan statistik, selain itu Matematika adalah ratunya i1mu (matematic is the queen science) maksudnya antara lain ialah bahwa Matematika itu tidak tergantung pada bidang studi lain, misalnya bahasa, dan agar dapat dipahami orang dengan tepatkita harus menggunakan simbul dan istilah yang cermat yang disepakati secara bersama.
Disini penulis ambil contoh pada giometri bidang, pada giometri bidang itu terdapat unsur-unsur terutama antara lain ialah titik, garis, lengkungan dan bidang, sekarang kita tinjau pengertian titik. Titik itu dianggap ada tetapi tidak dapat dinyatakan dalam suatu kalimat dengan tepat, sebab titik itu adalah unsur yang tidak didefinisikan.
Dengan kata lain hanya mampu memberikan penjelasan misalnya "titik itu adalah suatu, yang mempunyai ukuran panjang, luas, isi atau berat, “yang juga belum jelas” Meskipun demikian kita sepakat bahwa titik itu ada.
Dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan dan rumusan unsur-unsur lainnya yang kita difinisikan itu di buat suatu asumsi-asumsi dasar atau aksioma- aksioma atau postulat-postulat, dalam hal ini aksioma dan postulat penulis samakan yaitu pernyataan dasar dalam Matematika tidak disangsikan kebenarannya karena kebenarannya tidak di sangsikan lagi.
Dari unsur-unsur yang tidak didefini- sikan, unsur-unsur yang didefinisikan aksioma atau postulat disusunlah teori-teori atau dalil-dalil yang benar (dapat di buktikan) yang berlaku umum. Dalil-dalil yang dirumuskan itu banyak sekali, jadi Matematika itu terorganisasikan dari unsur unsur yang tak didefinisikan keunsur-unsur yang didefinisikan, aksioma aksioma dan dalil-dalil dimana dalil-dalil itu setelah dibuktikan kebenarannya, berlaku secara umum.Karena itu Matematika sering disebut ilmu deduktif.
Obyek langsung dalam Matematika ialah fakta, keterampilan proses dan aturan (principal) untuk mempelajari obyek-obyek langsung ataupun untuk mempelajari topik- topik dalam Matematika tidak dapat sembarangan.
Topik-topik dalam Matematika itu tersusun secara hirarki mulai dari yang mendasar atau sudah sampai kepada yang paling sukar. Setiap orang yang ingin belajar Matematika dengan baik harus melalui jalur-jalur pasti telah tersusun secara logis.
Disamping itu setelah anak memahami fakta, keterampilan konsep dan aturan obyek-obyek langsung itu harus di fahamkannya juga.
Ia harus hafal simbul, notasi, definisi, aturan, prosedurrumus, dalil dan senitia yang lain-lainnya agar penerapannya pada situasi yang baru lancar mengenai pemahaman suatu konsep atau dalil yang merupakan prasarat itu dapat secara intensif dan dapat pula secara deduktif. Menurut Winarno Surahmad dalam bukunya Metodologi Pengajaran Nasional dituliskan:
“Perbuatan belajar mengandung semacam perubahan diri seseorang yang melakukan perbuatan belajar. Perubahan ini dapat di- nyatakan sebagai suatu kecakapan, suatu kebiasaan, suatu sikap, suatu pengertian atau penelitian”.(Surakhmad, 1989: 8).
Menurut ilmu Jiwa, daya belajar adalah usaha melatih daya-daya ituagar berkembang, sehingga orang dapat berfikir, mengingat dan sebagainya. Menurut ilmu jiwa: asosiasi Belajar adalah membentuk hubunganstimulasi agar berkaitan”. (Oemar, 1980:30).
Dari pernyataan para ahli di atas dapat disimpulkan, dengan belajar dapatterjadi perubahan dalam diri seseorang, perubahan ini dapat dinyatakan sebagaisuatu kecakapan, kebiasaan, sikap pengertian dan keterampilan berfikir cepat mcnganalisa situasi, tekun menghadapi situasi yang sulit dan dapat mengambilkeputusan dengan tepat.
Menurut Arends, sebagaimana dikutip oleh Suryana (2002: 46), model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
Soekamto et.al., sebagaimana dikutip oleh Triyatno (2007:5), mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah: Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.
Menurut Joyce & Weil, sebagaimana dikutip oleh Rusman (2013:133), berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.
Model pembelajaran merupakan suatu pola yang dipakai oleh guru untuk membentuk kurikulum, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Dengan demikian model pembelajaran tersebut merupakan pola umum perilaku untuk mencapai tujuan pembelajaran. Peserta didik akan lebih mudah mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide melalui model pembelajaran yang digunakan oleh guru.
Model pembelajaran dapat digunakan guru sebagai pedoman dalam merencanakan proses belajar mengajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan model pembelajaran, sebagai berikut: (1) Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar-mengajar.
Karakteristik tujuan yang akan dicapai sangat mempengaruhi penentuan model; (2) Materi pelajaran ialah sejumlah materi yang hendak disampaikan oleh guru untuk bisa dipelajari dan dikuasai oleh peserta didik;
(3) Peserta didik sebagai subjek belajar memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik minat, bakat, kebiasaan, motivasi, situasi sosial, lingkungan keluarga dan harapan terhadap masa depannya. Semua perbedaan itu akan berpengaruh terhadap penentuan model pembelajaran; (4) Fasilitas dapat mempengaruhi pemilihan dan penentuan model pembelajaran. Ketiadaan fasilitas akan sangat mengganggu pemilihan model yang tepat; (5) Situasi kegiatan belajar merupakan setting lingkungan pembelajaran yang dinamis. Guru harus teliti dalam melihat situasi; (6) Setiap orang memiliki kepribadian, perfomance style, kebiasaan dan pengalaman mengajar berbeda-beda. Kompetensi mengajar biasanya dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan. Guru yang latar belakang pendidikan keguruan biasanya lebih terampil dalam memilih model dan tepat dalam menerapkannya. (http://surantoro.
staff.fkip.uns.ac.id) (7 Mei 2013).
Model pembelajaran Student Facilitator and Explaining merupakan salah satu dari tipe model pembelajaran kooperatif. Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu. Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar mengajar (Triyatno, 2007:41).
M.Khafid (2004) Model Student Facilitator and Explaining merupakan suatu model yang memberikan kesempatan kepada siswa atau peserta untuk mempresentasikan ide atau pendapat pada rekan peserta lainnya. Model Student Facilitator and Explaining mempunyai kelebihan yaitu siswa diajak untuk dapat menjelaskan kepada siswa lain, siswa dapat mengeluarkan ide-ide yang ada dipikirannya sehingga dapat lebih memahami materi tersebut. Model pembelajaran Student Facilitator and Explaining adalah model pembelajaran yang digunakan oleh pendidik dengan maksud meminta peserta didik untuk berperan menjadi narasumber terhadap temannya di kelas. Rachmad (1997) model pembelajaran Student Facilitator and Explaining merupakan model pembelajaran dimana siswa/ peserta didik belajar mempresentasikan ide/ pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan ide/gagasan atau pendapatnya sendiri. Model ini merupakan model yang mudah, guna memperoleh keaktifan kelas secara keseluruhan dan tanggungjawab secara individu. Model ini memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang “pengajar/penjelas materi dan seorang yang memfasilitasi proses pembelajaran” terhadap peserta didik lain.
Dengan model ini, peserta didik yang
selama ini tidak mau terlibat akan ikut serta dalam pembelajaran secara aktif.
Menurut Suryana (2002: 128) terdapat enam langkah dalam pelaksanaan model pembelajarn Student Facilitator and Explaining, yaitu sebagai berikut: (a) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai; (b) Guru menjelaskan tujuan belajarnya, menyampaikan ringkasan dari isi dan mengaitkan dengan gambaran yang lebih besar mengenai silabus atau skema kerja; (c) Guru mendemonstrasikan atau menyajikan materi; (d) Guru menyajikan materi yang dipelajari pada saat itu dan siswa memperhatikan. Setelah selesai menjelaskan guru membagi siswa menjadi berkelompok secara heterogenitas. Guru menjelaskan dan mencontohkan kepada siswa bagaimana membuat bagan/peta konsep. Kemudian guru bisa meminta siswa untuk mencatat apa yang telah mereka ketahui atau yang bisa dilakukan, berkaitan dengan aspek apapun yang berhubungan dengan materi tersebut.
Guru juga bisa meminta siswa saling bertukar pikiran sehingga mereka lebih percaya diri. Memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya misalnya melalui bagan/peta konsep. Dalam tahap ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya misalnya melalui bagan/peta konsep. Meminta seorang sukarelawan untuk maju dan menjelaskan di depan kelas apa yang dia ketahui. Siswa lain boleh bertanya, dan sang sukarelawan berhak berkata “lewat” jika dia tidak yakin dengan jawabannya dan guru dapat menambahkan komentar pada tahap berikutnya. (a) Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa; (b) Ketika sang sukarelawan menjelaskan apa yang mereka ketahui di depan kelas, guru mencatat poin-poin penting untuk diulas kembali. Informasi yang tidak akurat, ide yang kurang tepat atau yang hanya dijelaskan separuh, miskonsepsi, bagian yang hilang, hal ini bisa ditangani langsung sehingga siswa tidak membentuk kesan
yang salah, atau mereka dapat membuat dasar dari rencana pembelajaran yang telah diperbaiki untuk beberapa pelajaran berikutnya; (c) Guru menerangkan semua materiyang disajikan saat itu; (d) Guru menjelaskan keseluruhan dari materi agar siswa lebih memahami materi yang sudah dibahas pada saat itu; (e) Penutup.
Setiap model yang sudah ada selama ini memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan model Student Facilitator and Explaining memiliki kedua hal tersebut. Menurut Prayitno (1989) adapun kelebihan dan kekurangan dari model ini yaitu: (1) Kelebihan: Dapat mendorong tumbuh dan berkembangya potensi berpikir kritis siswa secara optimal, melatih siswa aktif, kreatif dalam menghadapi setiap permasalahan, mendorong tumbuhnya tenggang rasa, mau mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain, mendorong tumbuhnya sikap demonstrasi, melatih siswa untuk meningkatkan kemampuan saling bertukar pendapat secara obyektif, rasional guna menemukan suatu kebenaran dalam kerjasama anggota kelompok, mendorong tumbuhnya keberanian mengutarakan pendapat siswa secara terbuka, melatih siswa untuk selalu dapat mandiri dalam menghadapi setiap masalah, melatih kepemimpinan siswa, memperluas wawasan siswa melalui kegiatan saling bertukar informasi, pendapat dan pengalaman antar mereka; (2) Kekurangan: timbul rasa yang kurang sehat antar siswa satu dengan yang lainnya, peserta didik yang malas mungkin akan menyerahkan bagian pekerjaannya kepada siswa yang pintar, penilaian individu sulit karena tersembunyi dibalik kelompoknya, model Student Facilitator and Explaining memerlukan persiapan yang rumit dibanding dengan model lain, misalnya model ceramah, apabila terjadi persaingan yang negatif hasil pekerjaan akan memburuk.
Peserta didik yang malas memiliki kesempatan untuk tetap pasif dalam
kelompoknya, dan memungkinkan akan mempengaruhi kelompoknya sehingga usaha kelompok tersebut gagal.
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) Mengetahui langkah-langkah untuk meningkatkan prestasi belajar bidang studi Matematika menggunakan metode Student Facilitator And Explaining pada siswa kelas II semester II tahun 2012/2013 SDN 3 Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek.
(2) Mengetahui efektifitas pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode Student Facilitator and Explaining pada siswa kelas II semester II tahun 2012/2013 SDN 3 Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek.
METODE PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini dilaksa- nakan di SDN 3 Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek. Obyek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas II Semester II SDN 3 Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek Tahun Pelajaran 2012/2013 yang kelasnya berjum- lah 14 siswa. Kegiatan penelitian ini dilakukan pada bidang studi matematika materi Melakukan Operasi Hitung Bilangan Perkalian dan Pembagian. Kegiatan pene- litian dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan pada semester genap.
Langkah-langkah yang harus diper- siapkan dalam pelaksanaan penelitian tinda- kan kelas adalah sebagai berikut: (a) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dica- pai/ KD; (b) Guru mendemonstrasikan/ me- nyajikan garis-garis besar materi pembela- jaran; (c) Memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya misalnya melalui bagan/peta konsep. Hal ini bisa dilakukan secara bergiliran; (d) Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa; (e) Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu; (f) Penutup.
Pelaksanaan penelitian ini berbentuk siklus yang terdiri dari 2 siklus yang ma- sing-masing meliputi: planning (perencana-
an), action (pelaksanaan), observation (pe- ngamatan) dan reflection (refleksi). Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Permasalahan yang belum dapat dipecahkan dalam siklus pertama direfleksikan bersama tim peneliti dalam suatu pertemuan kolaborasi, untuk mencari penyebabnya, selanjutnya peneliti merencanakan berbagai langkah perbaikan untuk diterapkan dalam siklus II.
Hal itu dilaksanakan terus dari satu siklus ke siklus berikutnya sampai masalah yang dihadapi dapat dipecahkan secara tuntas, pada siklus dalam penelitian ini tindakan yang diberikan berupa penggunaan Metode Student Facilitator and Explaining dalam proses pembelajaran.
Sumber data yang dimaksudkan adalah manusia dan non manusia. Sumber data manusia dalam penelitian tindakan ini adalah guru kelas II Semester II SDN 3 Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek tahun 2012/2013 dan siswa Kelas II Semester II SDN 3 Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek tahun 2012/2013.
Sedangkan sumber data non manusia berupa dokumentasi hasil pengamatan dan catatan observasi peneliti, hasil evaluasi belajar, dan dokumen lain yang relevan dengan ruang lingkup penelitian.
Untuk mengumpulkan data hasil penelitian, maka peneliti menggunakan beberapa instrument penelitian antara lain:
(1) Lembar observasi yang digunakan adalah observasi terstruktur dan supervisi.
Lembar observasi terstruktur digunakan untuk meningkatkan aktifitas siswa selama proses pembelajaran. Sedangkan lembar supervisi digunakan untuk mengungkapkan aktifitas guru.Butir-butir observasi supervisi dan observasi terstruktur terlebih dahulu didiskusikan oleh tim peneliti; (2) Lembar tes tertulis berupa tes hasil belajar berbentuk pilihan ganda dan isian.Tes digunakan untuk memperoleh gambaran hasil belajar setelah ada perubahan aktifitas saat proses pembelajaran,tes dilakukan tiap akhir siklus;
(3) Dokumen siswa berupa catatan siswa saat proses pembelajaran Dokumen ini diperlukan dengan asumsi bahwa dokumen siswa yang baik menunjukkan minat siswa yang tinggi terhadap bidang studi Matematika; (4) Lembar angket untuk mengukur minat belajar siswa, yang berisi beberapa pernyataan yang diharapkan dapat mengukur besarnya minat belajar siswa.Siswa diberikan memilih beberapa alternatif jawaban yang meliputi selalu, kadang-kadang, dan tidak pernah; (5) Daftar nilai berisi kesimpulan angka yang menggambarkan perolehan hasil belajar pada pokok bahasan atau sub pokok bahasan tertentu sebagai tolok ukur keberhasilan pembelajaran. Kriteria penilaian tingkat keberhasilan pembelajaran, peneliti tentukan sebagai berikut.
Tabel 1 Kriteria penilaian tingkat keberhasilan pembelajaran
Nilai Kriteria
86-100 A (baik sekali)
76 - 85 B (baik)
60-75 C (cukup)
50-59 D (kurang)
0-49 E (kurang sekali) Dalam penelitian ini memfokuskan kriteria tingkat keberhasilan atau ketuntasan secara klasikal, seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 70% atau nilai 70, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap nilainya ≥ 70,00.
HASIL DAN PEMBAHASAN Siklus Pertama
Refleksi Awal
Kegiatan refleksi ini dilakukan setelah peneliti bersama mitra guru melakukan obervasi awal pada aktivitas pembelajaran dan identifikasi terhadap permasalahan yang ada dikelas II semester II SDN 3 Ngerdani, yaitu tentang rendahnya nilai hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika. Dari hasil temuan yang terekam pada format catatan lapangan observer diketahui bahwa rendahnya pretsasi belajar siswa disebabkan
oleh penggunaan metode yang tidak relevans dalam pembelajaran sehingga para siswa cenderung pasif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Perencanaan (Planning)
Pada tahap perencanaan, hal-hal yang dilakukan adalah: (a) Guru mempersiapkan perangkat pembelajaran, yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran dengan metode Student Facilitator and Explaining, materi pembelajaran, dan soal evaluasi; (b) Guru mempersiapkan instrumen penelitian, yaitu lembar observasi guru dan siswa, lembar angket minat siswa dan catatan lapangan; (c) Guru mempersiapkan alat tes; (d) Guru membuat perangkat sistem penilaian.
Pelaksanaan (Action)
Urutan langkah-langkah pembelajaran secara garis besar sesuai dengan yang terdapat pada rencana pelaksanaan pembelajaran berikut: (a) Kegiatan awal, siswa menjawab pertanyaan: Berapa jumlah kaki seekor kambing? Berapa jumlahnya, apabila ada dua ekor kambing? Berapa pula jumlahnya, apabila ada 3 ekor kambing?; (b) Kegiatan Inti: Penjelasan klasikal tentang cara menyelesaikan operasi hitung perkalian dan pembagian, secara kelompok siswa menyelesaikan perkalian dan pembagian.
6 x 4 = … + … + … + … + … + … = … X 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 2 3 4 5
5 x 4 = … 2 x 7 = …
4 x 5 = … 7 x 2 = …
10 x 5 = … 10 x 6 = …
10 x 7 = … 10 x 10 = …
7 x 1 = … 1 x 0 = …
8 x 1 = … 2 x 0 = …
10 x 1 = … 8 x 0 = …
16 = 16 x 1 10 = 10 x 1
… x 2 … X 2
… X 4 … X 5
… X 8 … X 10
... X 16
Satu anak memegang 4 kelereng. Berapa kelereng yang dipegang 3 anak?
jawab: … + … + … = …
… X … = …
Melaporkan hasil kerja kelompok, bersama guru menyimpulkan hasil kelompok, siswa mengerjakan soal tes individu; (c) Kegiatan Akhir: Pemajangan hasil tes, penegasan catatan siswa.
Pengamatan (Observation)
Guru kolaborator mengamati hal-hal berikut dalam pembelajaran. (a) Guru selalu memusatkan perhatian, memperjelas penda- pat siswa, memberi waktu yang cukup bagi siswa untuk berfikir tentang materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru, menjawab per- tanyaan yang diajukan oleh siswa; (b) Siswa selalu memperhatikan: (1) guru sedang memberi penjelasan mengenai konsep pem- belajaran, (2) guru yang melakukan kegiatan pembelajaran dengan metode Student Facil- itator and Explaining yang membahas mate- ri operasi hitung bilangan tentang perkalian dan pembagian, (3)Penjelasan tentang hasil pembelajaran dengan metode Student Fa- cilitator and Explaining, berupa kesimpulan akhir; (c) Sedangkan kegiatan yang sering dilakukan oleh guru adalah: (1) Mengurai- kan permasalahan bila ada pendapat yang kurang jelas, (2) Meminta pendapat be- berapa siswa untuk memberi penegasan, dan (3) memberi kesempatan siswa untuk ber- tanya; (d) Aktifitas siswa yang sering dilakukan: (1) Memperhatikan dengan sek- sama kegiatan pembelajaran dengan metode Student Facilitator and Explaining, dan (2) Memperhatikan temannya ketika ada yang bertanya dan kurang paham terhadap materi ajar maupun langkah-langkah pembelajaran dengan metode Student Facilitator and Explaining tersebut; (e) Hasil Tes Akhir; (f) Berdasarkan indikator yang telah ditetapkan maka pada siklus I komponen-komponen minat yang masih memenuhi kriteria kurang
yaitu mempersiapkan buku Matematika, berusaha menyelesaikan tugas rumah yang diberikan guru, aktif dalam mengikuti keg- iatan pembelajaran, memperhatikan arahan guru, berusaha mencari jawaban bila men- dapat tugas dan belajar lebih intensif bila diberi tahu akan ada ulangan. Skor aktivitas kegiatan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar Matematika melalui metode Student Facilitator and Explaining pada siklus I adalah sebesar 62,50%. Artinya siswa dapat mengikuti dan melaksanakan pembelajaran matematika dengan baik sesuai dengan yang direncakan oleh guru, sedangkan aktivitas guru pada siklus I sebesar 66,25%. Artinya guru sudah baik dalam melaksanakan rencana pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan. Akan tetapi dalam pelaksaan pembelaajran matematika dengan meng- gunakan metode Student Facilitator and Explaining masih ditemui kendala, yaitu guru masih kurang komunikatif dalam ke- giatan pembelajaran, sehingga masoh sering ditemui siswa yang bertanya atau menjawab pertanyaan guru dengan mengulang kembali pertanyaan yang diberikan.
Tabel 2 Nilai Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I No Nama Siswa Hasil
Nilai
Ketuntasan Tuntas Tidak
Tuntas
1 Tria Agus Priyanto 70 T
2 Ahmad Baharudin 70 T
3 Ana Nurngaini 90 T
4 Atika Rahmania 70 T
5 Aziz Kurniawan 60 TT
6 Andreyan Zahroni 70 T
7 Ahmad Rizal W. 80 T
8 Binti Zahroin 70 T
9 Maya Indri Astuti 80 T
10 Moh. Khoirul 70 T
11 Nizar Tamami 80 T
12 Ryzky 60 TT
13 Rizal Ahmad Muda’i 70 T 14 Sintia Puspitasari 60 TT
Jumlah Total 1000 11 3
Rata – rata 71.43 78.57 21.43
Refleksi
Berdasarkan hasil pantauan guru pene- liti dan guru pengamat maka pelaksanaan tindakan pada siklus I dapat direfleksikan
sebagai berikut: (a) Semua tindakan efektif yang direncanakan dapat terlaksana meski- pun belum maksimal; (b) Guru peneliti menyadari adanya kekurangan-kekurangan yang timbul saat proses pembelajaran ber- langsung; (c) Guru masih belum mengguna- kan alat peraga yang menarik bagi siswa; (d) Guru belum memotivasi belajar siswa secara optimal; (e) Pemberian reward, masih sebatas pada kata-kata “pintar, hebat”; (f) Siswa lebih memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan sesuatu permasalahan, hal ini disebabkan pandangan siswa dengan guru tidak terhalang siswa lain.
Rencana perbaikan: Guru akan meng- gunakan beberapa alat Student Facilitator and Explaining yang dapat menarik perhati- an siswa, memberi kesempatan bertanya pada siswa supaya lebih aktif, guru memper- baiki teknik berkomunikasi dengan siswa, sehingga mudah dipahami, guru akan meng- gunakan bentuk reward yang lain, yang tidak biasa dari pembelajaran sebelumnya, mendiskusikan langkah-langkah yang sudah mapan yang telah dilakukan di siklus I untuk diterapkan pada siklus berikutnya.
Siklus Kedua
Perencanaan (planning)
Berdasarkan hasil tindakan yang di- lakukan pada siklus I yang dipaparkan di atas maka guru peneliti dan guru pengamat saat diskusimerumuskan rencana tindakan untuk siklus II, dengan beberapa perubahan diantaranya: (a) Menggunakan alat peraga yang menarik, pada siklus pertama hanya menggunakan alat peraga seadanya, maka diusahakan menggunakan alat peraga untuk pembelajaran Student Facilitator and Exp- laining yang bisa diperoleh di lingkungan sekitar yang bisa membuat perhatian siswa meningkat; (b) Meningkatkan teknik berko- munikasi dengan siswa; (c) Menggunakan reward dalam bentuk lain yang berbeda dari sebelumnya; (d) Melibatkan seluruh siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan meto- de Student Facilitator and Explaining yang dilakukan oleh guru, agar siswa lebih paham
tentang materi ajar yang disampaikan oleh guru tersebut.
Pelaksanaan (Action)
Kegiatan pelaksanaan pada siklus II masih sama dengan yang ada pada siklus I, yaitu sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Hanya menambah beberapa hal yaitu kekurangan yang telah dirumuskan pada siklus I diantaranya: (a) Penjelasan guru dan bimbingan dalam proses belajar semakin sedikit; (b) Siswa sudah terampil mengerjakan materi perkalian dan pembagi- an; (c) Siswa sudah dapat mengikuti pem- belajaran dengan metode Student Facilitator and Explaining.
Untuk pelaksanaannya sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran siklus II penulis sajikan sebagai berikut: (a) Kegiatan Awal, siswa menjawab pertanyaan: (1) Jika Ibu guru memiliki 5 buah permen, dan memberikannya kepada 5 orang anak berapa permen yang diterima oleh masing-masing anak? (2) Apakah pembagian dapat diubah ke dalam perkalian? (Contohnya 4 : 2 = 2 sama artinya dengan 2 x 2 = 4); (b) Kegiatan Inti: (1) Penjelasan klasikal tentang perkali- an dan pembagian, (2) Setelah guru mem- berikan contoh soal melalui cerita, guru memberikan tugas kepada siswa yang harus dikerjakan berkelompok dengan teman se- bangkunya (Satu anak memegang 2 pulpen dan diberikan 1 pulpen kepada teman di sebelahnya. Berapa banyak pulpen yang diterima masing-masing anak? Jawab: 2 : 1
= 1, artinya 2 : 1 = 2 – 1 = 1), (2) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk saling bekerjasama dengan teman sebang- kunya, (3) Siswa bersama guru menyimpul- kan hasil kelompok, (4) Siswa mengerjakan soal tes individu; (c) Kegiatan Akhir:
Pemajangan hasil tes, penegasan catatan siswa.
Pengamatan (Observation)
Hasil pengamatan dari guru pengamat pada siklus II terhadap siswa kelas II SDN 3 Ngerdani menunjukkan: (a) Guru
melaksanakan seluruh rencana tindakan dengan efektif; (b) Ketika melaksanakan Student Facilitator and Explaining banyak siswa yang memperhatikan jalannya kegiatan; (c) Guru telah melakukan perbaikan teknik komunikasi dalam pembelajaran; (d) Guru menggunakan medali dari kertas emas sebagai reward untuk siswa yang aktif dalam pembelajaran;
(e) Hasil Tes Akhir; (f) Hasil Pengukuran minat pada siklus II yang memenuhi kriteria baik yaitu: mempersiapkan buku Matematika, berusaha menyelesaikan tugas rumah yang diberikan guru, aktif dalam kegiatan Student Facilitator and Explaining dan memperhatikan arahan guru, berusaha menjawab bila mendapat pertanyaan, dan lebih intensif jika diberitahukan akan ada ulangan. Hasil aktivitas kegiatan belajar siswa kelas II SDN 3 Ngerdani pada siklus II adalah sebesar 77,50%. Artiya siswa sudah sangat baik dalam menjalankan kegiatan pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan oleh guru. Untuk aktivitas guru sebesar 81,25%. Artinya guru telah sangat baik dalam mengatasi kendala pembelajaran yang muncul pada siklus I.
Dari kedua aktivitas tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran yang disampaikan oleh guru dengan menggunakan metode Student Facilitator and Explaining sudah optimal dengan meningkatkan aktivitas siswa dan prestasi belajar yang diperoleh setiap siklusnya.
Tabel 3 Nilai Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II No. Nama Siswa Hasil
Nilai
Ketuntasan Tuntas Tidak
Tuntas
1 Tria Agus Priyanto 80 T
2 Ahmad Baharudin 90 T
3 Ana Nurngaini 100 T
4 Atika Rahmania 90 T
5 Aziz Kurniawan 90 T
6 Andreyan Zahroni 100 T
7 Ahmad Rizal W. 90 T
No. Nama Siswa Hasil Nilai
Ketuntasan Tuntas Tidak
Tuntas
8 Binti Zahroin 80 T
9 Maya Indri Astuti 90 T
10 Moh. Khoirul 80 T
11 Nizar Tamami 100 T
12 Ryzky 90 T
13 Rizal Ahmad Muda’i 70 T 14 Sintia Puspitasari 100 T
Jumlah Total 1250 14 0
Rata-rata 89.29 100.00 0.00
Refleksi
Dari hasil pengamatan guru peneliti dan guru pengamat pada siklus II dapat diilustrasikan sebagai berikut: (a) Semua tindakan yang direncanakan dapat terlaksana dengan baik, (b) kekurangan yang terjadi pada proses pembelajaran dapat diatasi oleh guru peneliti, (c) alur berfikir lebih menyeluruh dalam memahami suatu konsep, terlihat dari kemampuan siswa untuk mengkaitkan suatu pokok bahasan dengan materi matematika termasuk di Kelas II.
Dari hasil data di atas prestasi belajar siswa (hasil tes belajar) dengan mengguna- kan metode Student Facilitator and Ex- plaining menunjukkan prestasi belajar yang meningkat dari setiap siklusnya dapat dike- tahui bahwa nilai rata-rata pada siswa Kelas II SDN 3 Ngerdani Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek sebelum siklus:
62,86 dengan ketuntasan belajar hanya sebe- sar 42,86%, pada siklus I: 71,43 dengan ketuntasan belajar naik menjadi 78,57% dan siklus II: 89,29 dengan ketuntasan belajar mencapai 100%. Hal ini menandakan keber- hasilan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa Kelas II SDN 3 Ngerdani Kecamatan Dongko Trenggalek tahun 2012/2013 semester II, dengan hasil penelitian yang selalu meningkat setiap siklusnya berarti bahwa penelitian yang berhasil. Untuk lebih jelasnya, peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Setiap Siklus
PENUTUP Kesimpulan
Metode Student Facilitator and Ex- plaining dalam pembelajaran Matematika materi ajar operasi hitung bilangan dapat meningkatkan prestasi belajar jika dilakukan tindakan dengan urut-urutan: (1) Melakukan Student Facilitator and Explaining dalam menyampaikan materi pokok (pembelajar- an) mata pelajaran Matematika, (2) Menger- jakan latihan soal yang ada kaitannya dengan materi pokok yang baru dipelajari.
Keberhasilan tindakan dalam penelitian ini ditunjukkan oleh ketuntasan belajar. Kondisi ini dapat terwujud dengan langkah-langkah (a) Menggunakan alat peraga yang berbeda dalam kegiatan ini agar menarik perhatian siswa, (b) mengkaitkan pokok bahasan materi baru dengan pokok bahasan materi lama yang telah diberikan, (c) memberikan
soal-soal latihan sesuai dengan materi pokok yang baru diperoleh dan (d) Setiap siswa dituntut untuk mengerjakan soal dipapan tulis.
Saran
Penerapan metode Student Facilita- tor and Explaining dalam pembelajaran Matematika yang telah diuraikan di atas, hendaknya guru dalam melaksanakan tugas menyiapkan alat peraga yang dapat menarik perhatian siswa. Perpustakaan sekolah agar mengusahakan keberadaan buku-buku bacaan populer yang ada kaitannya dengan Matematika. Metode Student Facilitator and Explaining dapat diterapkan pada mata pelajaran yang lain. Hendaknya guru dalam memberikan materi pelajaran menggunakan metode yang bervariasi agar siswa menyukai pelajaran tersebut.
DAFTAR RUJUKAN
Joice, B dan Weil, M. 1980. Models of Teaching. Englewood, New Jesey:
Prentice-Hall Inc.
M.Khafid; Suyati. 2004. Pelajaran Matematika. Dirjen Pendidikan dasar dan menengah. Jakarta: Erlangga
Oemar, Hamalik. 1980. Ilmu Jiwa. Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta
Prayitno, Elida. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: P2LPIK, Debdikbud.
Rachman, Maman. 1997. Manajemen Kelas.
Semarang: Depdiknas
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 100,00
SEB. SIKLUS SIKLUS I SIKLUS II 62,86
71,43
89,29
42,86
78,57
100,00
NILAI RATA-RATA
%KETUNTASAN
Surakhmad, W. 1989. Metodologi Pengajaran. Bandung: Tarsito.
Suryana, D, 2002, Belajar Aktif Matematika, Jakarta : Pusat Perbukuan, Depdiknas.
Triyatno, P. 2007. Gema Pendidikan Edisi Desember II.