• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PEMBERDAYAAN KELUARGA DHUAFA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAKALAH PEMBERDAYAAN KELUARGA DHUAFA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

“MAKALAH PEMBERDAYAAN KELUARGA DHUAFA”

Oleh :

APRILIA PRATIWI (2002015153) LATHIFATUZZAHRA (2002015081)

WANDA HAMIDAH (2002015058)

DOSEN PENGAMPU : TOTO TOHARI S.TH.I., M.AG.

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA 2021

(2)

1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul “Pemberdayaan Keluarga Dhuafa” dengan tepat waktu.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Kemuhammadiyahan.

Selain itu, makalah ini bertujuan untuk membuka hati dan pikiran kita untuk saling membantu terhadap sesama, dan dapat memberikan inspirasi terhadap orang-orang yang membaca makalah ini untuk menyalurkan sebagian dananya untuk kaum dhuafa. Agar kaum dhuafa tersebut memdapatkan kehidupan yang lebih baik dan lebih layak.

Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut memberikan kontribusi dalam penyusunan makalah ini, terutama kepada Toto Tohari S.Th.I., M.Ag. selaku dosen Kemuhammadiyahan yang senantiasa membimbing penulis sehingga makalah ini bisa diselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, penulis dengan kerendahan hati menerima kritik dan saran dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki penulisan makalah yang akan datang.

Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan juga menambah wawasan untuk para pembaca.

Jakarta, Oktober 2021

Penulis

(3)

2 DAFTAR ISI

COVER ... 0

KATA PENGANTAR ... 1

DAFTAR ISI ... 2

BAB I ... 3

PENDAHULUAN ... 3

A. Latar Belakang ... 3

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penulisan ... 4

PEMBAHASAN ... 5

A. Pengertian Kaum Dhuafa ... 5

B. Yang Termasuk Golongan Kaum Dhuafa ... 6

C. Keutamaan Menyantuni Kaum Dhuafa ... 8

D. Langkah-Langkah Pencarian Keluarga Dhuafa... 9

E. Teknik Menyusun Proposal Dakwah Lapangan Pemberdayaan Keluarga Dhuafa 12 BAB III... 14

PENUTUP ... 14

Kesimpulan ... 14

(4)

3 BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Ahmad Dahlan dengan menafsirkan Al-Ma’un kedalam tiga kegiatan utama: pendidikan, kesehatan dan penyantunan orang miskin juga melakukan transformasi pemahaman keagamaan dari sekadar doktrin- doktrin sakral dan “kurang berbunyi” secara sosial menjadi kerjasama atau koperasi untuk pembebasan manusia. Dalam konteks inilah teologi kerja Islam doktrin suci yang melampaui absolutisme teologis yang lebih bercorak standar ganda dan kurang respek dengan masalah kemiskinan menjadi teologi kerjasama atau (ta`awun `ala al-birri wa at-taqwa).

Pedoman utamanya adalah konsep tauhid yang menuntut ditegakkannya keadilan sosial, karena dilihat dari kacamata tauhid, setiap gejala eksploitasi manusia atas manusia merupakan pengingkaran terhadap persamaan derajat manusia di depan Allah. Dengan demikian, jurang yang menganga lebar antara lapisan kaya dan lapisan miskin yang selalu disertai kehidupan yang eksploitatif merupakan fenomena yang tidak tauhid, bahkan anti-tauhid. Untuk mengatasi ketidakadilan sosial yang terjadi saat ini, maka Muhammadiyah sebagai persyarikatan perlu menghidupkan lagi spirit al-Ma’un, guna kemajuan hidup berbangsa dan bernegara, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kyai Dahlan di awal-awal pendirian Muhammadiyah.

B. Rumusan Masalah

1. Siapakah kaum dhuafa itu?

2. Keutamaan menyantuni kaum dhuafa

3. Bagaimana langkah-langkah untuk mencari keluarga dhuafa atau keluarga miskin?

4. Bagaimana teknik menyusun proposal dakwah lapangan pemberdayaan keluarga Dhuafa?

(5)

4 C. Tujuan Penulisan

1. Menjalin silahturahmi dan mempererat tali persaudaraan.

2. Bersosialisasi dengan para kaum dhuafa.

3. Memelihara dan memperkuat aqidah islam.

4. Membantu terhadap sesama kaum muslimin.

(6)

5 BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kaum Dhuafa

Dalam Al-Quran, kata dhuafa juga berasal dari dh’afa atau dhi’afan. Makna kata lemah ini menyangkut lemah dalam aspek kesejahteraan atau finansial. Kata ini seperti yang terdapat dalam ayat berikut, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah (dhi’afan) , yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”(QS An-Nisaa’: 9)

Dalam ayat lainnya, kata dhuafa juga terdapat dalam QS Al-Qasas ayat 4. “Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak lakilaki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Dalam ayat tersebut, dapat kita pahami bahwa dhuafa juga bisa berarti sebagai kaum yang lemah karena terlahir akibat penindasan atau kesewenang-wenangan adanya pemerintah atau sistem yang zalim.

Akibatnya, masyarakat yang lemah tersebut menjadi miskin secara struktural. Muncul banyaknya anak yatim, kaum miskin, gelandangan, atau pengemis di jalanan.

Terdapat dalam Surah Al-Isra Ayat 26-27

ت َبْذِيْرًا ْبَيًر ا ًلًا ِسْبِرْل ت ًاْْتًا ًاْبِِْلِِْ تًا َقْب اْ قُرْاًٰى تًا ِاَتًا

Artinya : “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”

(7)

6 (QS.Al-Isra’:26)

ك َف ُوْرًا لْر َبُّه ٖالش َّيْطًنيش لًكَ ًنًَل لي ُل يبَّه ٖالشك نِ لًكَكًوُنيك كاُوْ ًن لًرُُيفيًُِِّْْْشك لٖكَيك

Artinya : “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada tuhannya.”

(QS. Al-Isra’: 27)

B. Yang Termasuk Golongan Kaum Dhuafa

Di dalam Al-Quran terdapat beberapa orang yang disebutkan dan termasuk ke dalam golongan kaum dhuafa. Golongan ini perlu umat Islam ketahui agar tidak salah memahami tentang siapa sebenarnya yang dimaksud dengan dhuafa. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Orang-orang miskin

Orang-orang miskin adalah mereka yang jelas-jelas kekurangan secara harta atau finansial untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam hidupnya. Mereka lemah karena ketidakmampuan mereka mendapatkan harta. Orang-orang ini berhak dibantu dan mendapatkan zakat atau sedekah. Orang miskin juga termasuk ke dalam 8 golongan yang berhak untuk menerima zakat dan orang-orang yang berhak menerima fidyah.

2. Hamba sahaya atau orang dalam tahanan atau tawanan

Di masa kini, hamba sahaya memang sudah jarang terdengar. Namun hamba sahaya ini bisa berarti sebagai budak yang tidak memiliki kebebasan, orang yang dalam tahanan atau tawanan bukan karena kesalahan namun karena kezaliman orang lain. Mereka ini bisa tergolong sebagai dhuafa, yang lemah dan tidak berdaya secara fisik, finansial atau psikisnya.

3. Kaum difabel atau cacat fisik

Kaum difabel atau yang mengalami cacat fisik, biasanya mengalami kendala atau keterbatasan untuk mendapatkan penghasilan, apalagi jika

(8)

7

tidak didukung oleh keluarganya juga. Untuk itu, mereka yang lemah dalam aspek fisik ini termasuk ke dalam golongan dhuafa yang wajib dibantu.

4. Orang lanjut usia

Orang lanjut usia, biasanya sudah mengalami kelemahaan secara fisik dan psikis. Mereka sudah tidak mampu lagi bekerja dan wajib dibantu secara finansial dan kebutuhan pokoknya. Untuk itu, sedekah untuk dhuafa lanjut usia juga sangat baik, terlebih kita memperlakukan memereka selayaknya orang tua sendiri.

5. Janda miskin

Janda adalah perempuan yang sudah ditinggal wafat oleh suaminya.

Dalam kondisi tertentu, janda yang lemah biasanya tidak memiliki sumber penghasilan, memiliki tanggungan anak-anak, sedangkan pemberi nafkah sudah tidak ada lagi untuk membantu kehidupannya.

Perempuan seperti ini masuk ke dalam golongan dhuafa yang bisa dibantu melalui sedekah.

6. Orang dengan penyakit tertentu

Orang yang memiliki penyakit tertentu termasuk dalam dhuafa yang lemah secara fisik dan tentu membutuhkan bantuan untuk bisa sembuh dari penyakitnya. Apalagi jika termasuk ke dalam golongan keluarga miskin yang kesulitan dari aspek ekonomi.

7. Buruh atau pekerja kasar

Buruh atau pekerja kasar biasanya adalah mereka yang bekerja dengan kekuatan fisik dan dalam waktu yang lama, namun secara penghasilan masih kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Mereka yang seperti ini bisa tergolong kaum dhuafa dan membutuhkan bantuan agar lebih berdaya.

8. Rakyat kecil yang tertindas

Rakyat kecil yang tertindas ini misalnya seperti saudara-saudara kita yang ada di Palestina. Mereka sebagai masyarakat yang negaranya terjajah, tidak memiliki kemerdekaan, dan membutuhkan bantuan

(9)

8

untuk bisa terbebas. Untuk itu, rakyat kecil yang tertindas bisa termasuk pada kaum dhuafa.

9. Korban Bencana

Korban bencana bisa masuk dalam kaum dhuafa. Mereka adalah orang-orang yang kehilangan banyak harta benda, kehilangan tempat tinggal bahkan segala hal yang dimiliki. Untuk itu, para korban bencana bisa termasuk ke dalam kaum dhuafa karena lemah secara finansial. Bahkan ada juga korban bencana yang terancam nyama dan memiliki trauma, sehingga mereka lemah dalam aspek fisik dan psikis juga.

C. Keutamaan Menyantuni Kaum Dhuafa

Arti dari menyantuni kaum dhuafa ialah memberikan harta atau barang yang bermanfaat, kaum dhuafa sendiri ialah orang yang lemah dari Bahasa Arab (duafa) atau orang yang tidak punya apa-apa dan mereka harus disantuni bagi kewajiban muslim untuk saling memberi, itu sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt perlu digaris bawahi, bahwa “memberi” tidak harus uang malah kita berikan makanan bisa tapi nanti ibadahnya akan mengalir terus seperti halnya infak dan kalau sudah diberi akan jadi tanggung jawab orang miskin itu, misalnya saja barang yang diberikan digunakan untuk beribadah kepada Allah atau hal positif lainnya akan terkena pahala yang sama, sebaliknya dengan digunakan mencopet atau judi kita tidak akan mendapat pahala buruk dari orang miskin itu insya Allah pahalanya tidak akan berkurang setelah memberi kepada orang miskin itu gunakan.

Dan menurut para ulama menyantuni kaum dhuafa akan menyelamatkan diri kita dari apineraka, tapi sekarang banyak manusia yang segan megeluarkan hartanya untuk berinfak pada kaum dhuafa, tapi ada juga yang selalu membantu kaum dhuafa itu, bukan saja yang berarti duafa pada orang miskin juga bisa pada misalnya ; panti asuahan, membangun masjid, kepada diri sendiri, anak yang putus sekolah di biayai

(10)

9

pendidikannya sampai tingkat SMA dan keluarga dekat serta orang yang sedang perjalanan, ini sama dijelaskan pada surat Al-isra‟ ayat 26-27.

Keutamaan menyantuni kaum dhuafa

1. Pengurus anak yatim akan Bersama Rasulullah SAW tinggal dalam surga

2. Allah SWT akan menyelamatkan dia dari berbagai kesusahaan dihari kiamat serta diberikan kegembiraan dikala manusia yang lain mengalami kesulitan

3. Melembutkan hati yang keras

D. Langkah-Langkah Pencarian Keluarga Dhuafa 1. Menyepakati Indikator Keluarga Dhuafa

Dari sekian banyak indikator keluarga dhuafa yang dijelaskan di atas dan dari beberapa referensi lainnya, setiap kelompok harus memutuskan dan menyepakati minimal 5 indikator keluarga dhuafa.

Hal ini penting dilakukan, karena indikator yang disepakati inilah yang akan dipergunakan sebagai instrumen untuk menemukan keluarga duafa di lapangan.

2. Pencarian dan Penelusuran lokasi

Berdasarkan indikator keluarga dhuafa yang sudah disepakati (minimal 5 indikator), maka masing-masing kelompok mencari keluarga dhuafa disekitar lingkungan terdekatnya. Hal ini dimaksudkan untuk alasan keamanan dan keselamatan, juga untuk mengembangkan nilai kemanfaatan mahasiwa bagi lingkungan masyarakat di mana ia tinggal. Dalam pencarian ini, perlu mempertimbangkan diversifikasi keluarga dhuafa; misalnya ada keluarga dhuafa yang masih lengkap suami dan istri, keluarga dhuafa dengan istri sebagai keluarga dhuafa, atau keluarga tanpa ada ayah/ibu sebagai penanggung jawab dan sebagainya.

(11)

10

Setelah itu kelompok melakukan pengamatan terhadap lingkungan keluarga dhuafa, bertujuan untuk mengetahui keseharian keluarga dhuafa tersebut.

3. Observasi untuk Pengenalan Kebutuhan

Wawancara dan pengamatan terhadap keluarga dhuafa dilakukan semi struktur. Artinya, sebelum wawancara dilakukan, mahasiswa terlebih dahulu merencanakan outline pertanyaan, lalu dikembangkan pada saat wawancara. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk mengkaji sejumlah topik informasi mengenai aspek- aspek kehidupan keluarga dhuafa.

Pengamatan kelompok terhadap keluarga dilakukan dengan memperhatikan lingkungan tempat tinggal, kondisi rumah, kondisi ruangan dalam rumah atau sesala sesuatu yang tekait dengan keluarga tersebut.

4. Pelaksanaan wawancara dan pengamatan

a. Pada awal wawancara, mahasiswa menjelaskan maksud kedatangannya dengan jelas dan sederhana

b. Mengamati keadaan sekitar seperti kondisi rumah untuk membantu kita memahami taraf kesejahteraannya

c. Melakukan obrolan tentang berbagai kegiatan keluarga d. Lanjutkan wawancara dari satu topik kepada topik lain

dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah disiapkan, sehingga pembahasan atau penggalian informasi tidak begitu terasa menonjol dan keluarga yang diwawancarai tidak merasa sedang diselidiki

e. Pergunakan jawaban keluarga dhuafa untuk mengembangkan topik pembicaraan selanjutnya. Biarkan keluarga dhuafa melanjutkan penjelasan mengenai hal-hal yang dianggapnya penting mengenai kehidupan sehari- harinya

(12)

11

f. Gunakanlah pertanyaan-pertanyaan yang terbuka (bukan pertanyaan yang jawabannya hanya berupa iya atau tidak), sehingga memancing pendapat mereka tentang berbagai hal.

Dari sini kita bisa mendapatkan gambaran tentang pandangan mereka apakah memiliki keinginan berubah, seberapa besar optimismenya terhadap masa depan dan sebagainya

g. Untuk pengamatan, lihat dan catat seluruh detail tempat kediaman keluarga dan lingkungannya.

5. Menyusun Profile keluarga Dhuafa Observasi yang dilakukan melalui wawancara dan pengamatan di atas menjadi sangat penting agar kelompok mampu menyusun profile keluarga dhuafa, sesuai dengan form yang telah disediakan.

6. Identifikasi dan Pembatasan Masalah Hasil observasi, di samping dipergunakan untuk menyusun profile keluarga dhuafa, juga sangat penting untuk mengidentifikasi masalah yang dialami serta kemudian membatasi permasalahan yang akan diberdayakan.

Identifikasi masalah dan pembatasan masalah ini meruapakan salah satu bahan penting dalam menyusun proposal pemberdayaan keluarga dhuafa.

7. Persiapan Perencanaan Kegiatan

Adalah lanjutan dari kegiatan wawancara dan pengamatan di atas.

Dalam rencana ini, yang diformulasikan dalam bentuk proposal, dicantumkan dengan jelas kegiatan atau program apa yang akan dilakukan, siapa yang akan melakukannya, serta kapan pelaksanaannya. Semakin konkret dan jelas rencana yang dihasilkan, makin besar peluang bahwa kegiatan itu akan sungguh- sungguh dilakukan. Termasuk dalam tahap perencanaan ini adalah fund rising atau pengumpulan dana. Dalam masalah pengumpulan dana ini tidak boleh dilakukan dengan cara meminta-minta di jalan (mengamen).

(13)

12

E. Teknik Menyusun Proposal Dakwah Lapangan Pemberdayaan Keluarga Dhuafa

Pelaksanaan mata kuliah ini mengantarkan mahasiswa mengalami proses penyusunan Proposal Pemberdayaan untuk Keluarga Dhuafa, sehingga ini bisa menjadi pengalaman terstruktur. Pengalaman terstruktur ini didasarkan pada pembuatan proposal dari awal sampai dengan akhir supaya pemberdayaan yang dilakukan oleh mahasiswa berjalan dengan maksimal dan memicu rasa antusias saat melakukan pemberdayaan keluarga dhuafa. Pokok bahasan dalam mata kuliah ini terdiri dari:

penghimpunan dana secara konvensional dan filantropi Muhammadiyah, urgensi proposal dalam pemberdayaan keluarga duafa, kaidah penyusunan proposal pemberdayaan keluarga dhuafa, program pemberdayaan keluarga dhuafa dan budget anggaran pemberdayaan, dan sistematika laporan pemberdayaan keluarga dhuafa.

Capaian pembelajaran dalam materi ini ditujukan agar mahasiswa dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Melakukan analisis kasus: menghimpun dana Panitian Hari Besar Islam (PHBI) konvensional dan institusionalisasi filantropi Muhammadiyah.

2. Melakukan penyusunan proposal pemberdayaan keluarga dhuafa.

3. Menjelaskan urgensi komponen proposal pemberdayaan keluarga dhuafa.

4. Mendeskripsikan pendekatan pemberdayaan keluarga dhuafa.

5. Mampu menyusun kegiatan pemberdayaan.

6. Pengorganisasian anggota kelompok.

7. Menyusun anggaran kegiatan pemberdayaan.

Muhammadiyah sebagai bagian dari organisasi sosial kemasyarakatan memiliki peran dalam mengurangi kemiskinan dengan mewujudkan kesejahteraan dengan menyantuni fakir miskin dan mendidiknya sehingga menjadi mandiri dengan mendirikan amal usaha Muhammadiyah (AUM)

(14)

13

sosial seperti panti asuhan dan Lembaga kesejahteraan sosial yang lain.

Gerakan yang dilakukan oleh Muhammadiyah ini merupakan cerminan dari pemahaman teologi yang dimilikinya sehingga menjadi ideologi dalam organisasi tersebut. Ideologi Muhammad diambil dari penerjemahan terhadap Al-Qur’an dan as Sunnah yang termanifestasikan dalam Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, dan Kepribadian Muhammadiyah.

Muhammadiyah bukan hanya meyakini bahwa Allah SWT. adalah esa, tetapi juga memberikan implikasi pengesaan terhadap Allah SWT. Maka dari itu, manusia harus berbuat baik dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya. Mengesakan Allah SWT. saja tanpa adanya amal saleh berdampak pada pemahaman tauhid yang kurang sempurna dan begitu pula sebaliknya. Tauhid sebagaimana dijelaskan dalam Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah tersebut dinamakan Tauhid Sosial.

Mengelola kegiatan pemberdayaan hampir sama dengan mengelola lembaga-lembaga modern lainnya, meski motifnya berbeda.

Pemberdayaan masyarakat atau keluarga harus dilakukan dengan manajemen modern di mana siklus perencanaan, persiapan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi merupakan cara yang sangat efektif untuk memastikan terlaksananya kegiatan tersebut, dan mengembangkan kegiatan setelah belajar dari pelaksanaan kegiatan melalui evaluasi.

Kegiatan pemberdayaan keluarga dhuafa juga dikelola dengan pendekatan yang modern dan terukur seperti ini.

Satu di antara langkah yang paling penting, bahkan sangat menentukan sukses atau tidaknya sebuah kegiatan adalah aspek perencanaan. Dalam proses ini, setiap kelompok akan melakukan refleksi mendalam tentang alasan mereka harus melakukan kegiatan ini, apa manfaat, tujuan dan targetnya, bagaimana cara melakukannya, pembagian tugas di antara anggota kelompok, sampai pada berapa biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan ini. Seluruh komponen itu kemudian dirangkai dalam satu dokumen perencanaan yang disebut “proposal”.

(15)

14 BAB III

PENUTUP Kesimpulan

Seperti yang terdapat dalam ayat berikut, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah (dhi’afan) , yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”(QS An-Nisaa’: 9) Dalam ayat lainnya, kata dhuafa juga terdapat dalam QS Al-Qasas ayat 4. Dalam ayat tersebut, dapat kita pahami bahwa dhuafa juga bisa berarti sebagai kaum yang lemah karena terlahir akibat penindasan atau kesewenang-wenangan adanya pemerintah atau sistem yang zalim. Artinya : “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur- hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS.Al-Isra’:26)

Yang termasuk golongan kaum dhuafa Di dalam Al-Quran terdapat beberapa orang yang disebutkan dan termasuk ke dalam golongan kaum dhuafa. Namun hamba sahaya ini bisa berarti sebagai budak yang tidak memiliki kebebasan, orang yang dalam tahanan atau tawanan bukan karena kesalahan namun karena kezaliman orang lain. Untuk itu, mereka yang lemah dalam aspek fisik ini termasuk ke dalam golongan dhuafa yang wajib dibantu. Orang dengan penyakit tertentu Orang yang memiliki penyakit tertentu termasuk dalam dhuafa yang lemah secara fisik dan tentu membutuhkan bantuan untuk bisa sembuh dari penyakitnya. Buruh atau pekerja kasar Buruh atau pekerja kasar biasanya adalah mereka yang bekerja dengan kekuatan fisik dan dalam waktu yang lama, namun secara penghasilan masih kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari- harinya.

(16)

15

Keutamaan menyantuni kaum dhuafa Arti dari menyantuni kaum dhuafa ialah memberikan harta atau barang yang bermanfaat, kaum dhuafa sendiri ialah orang yang lemah dari Bahasa Arab (duafa) atau orang yang tidak punya apa-apa dan mereka harus disantuni bagi kewajiban muslim untuk saling memberi, itu sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt perlu digaris bawahi, bahwa “memberi” tidak harus uang malah kita berikan makanan bisa tapi nanti ibadahnya akan mengalir terus seperti halnya infak dan kalua sudah diberii akan jadi tanggung jawab orang miskin itu, missal saja barang yang diberikan digunakan untuk beribadah kepada Allah atau hal positif lainnya akan terkena pahala yang sama, sebaliknya dengan digunakan mencopet atau judi kita tidak akan mendapat pahala buruk dari orang miskin itu insya Allah pahalanya tidak akan berkurang setelah memberi kepada orang miskin itu. Dan menurut para ulama menyantuni kaum duafa akan menyelamatkan diri kita dari apineraka, tapi sekarang banyak manusia yang segan megeluarkan hartanya untuk berinfak padakaum duafa, tapi ada juga yang selalu membantu kaum dhuafa itu, bukan saja yang berartiduafa pada orang miskin juga bisa pada misalnya ; panti asuahan, membangun masjid,kepada diri sendiri, anak yang putus sekolah biayai pendidikannya sampai tingkat SMA , dan keluarga dekat serta orang yang sedang perjalanan, ini sama dijelaskanpada surat Al-isra‟ ayat 26-27.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Malikiyah memberikan definisi bahwa zakat yaitu mengeluarkan sebagian tertentu dari harta tertentu yang telah sampai nishab kepada orang yang berhak menerima, jika

Barangsiapa diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang yang membutuhkannya maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari

Maksudnya adalah barang yang tidsak bermanfaat tidak sah untuk diperjual belikan. Menggunakan uang dari penjualan barang yang tidak bermanfaat berarti memakai harta orang

Dari kondisi inilah mendorong adanya pembuatan kaidah-kaidah yang disimpulkan dari ucapan orang Arab yang fasih yang bisa dijadikan rujukan dalam mengharakati bahasa Arab,

Kata mawaris berasal dari kata waris (bahasa arab) yang berarti mempusakai harta orang yang sudah meninggal, atau membagi-bagikan harta peninggalan orng yang sudah meniggal

Perempuan bagi sebagian orang dianggap kaum lemah // Sebut saja Tini // Ibu muda yang tinggal dibantul / sudah 17 tahun menekuni usaha dibidang jasa ketik manual // Bakat

Dengan penggunaan bahasa Jawa dan huruf Arab Pegon, tafsir ini menjadi eksklusif, dalam arti dibaca dan hanya dipahami oleh orang-orang yang akrab dengan bahasa Jawa dan

Dalam bahasa Arab, arti produksi adalah Al-intaj yang berasal dari akar kata najasa, yang memiliki arti mewujudkan sesuatu, atau pelayanan jasa yang