3.1. Program Ruang
Penerapan mixed-use development dalam kawasan, akan memberikan warna, ketertarikan tersendiri, peningkatan keamanan; serta aktivitas hunian, bekerja, dan hiburan selama 24 jam yang memungkinkan penggunaan dalam kawasan dengan waktu yang berbeda-beda. Perpaduan antar fungsi-fungsi dalam kawasan perencanaan ini dapat berupa :
• Mixed-use vertical : dengan perbedaan fungsi dan zoning tiap lantai,contohnya lantai dasar dengan fungsi retail, lantai atas fungsi hunian dan perkantoran.
• Mixed-use horizontal : perbedaan fungsi dan kegunaan di sisi dan area lain dalam kawasan.
Tabel 3.1. Jam Penggunaan Fasilitas Dalam Bangunan Multifungsi
Fasilitas – fasilitas yang ada pada bangunan yang direncanakan yaitu sebagai berikut. Untuk Fasilitas Umum :
• Tourist Information Center, dikhususkan untuk memberikan kemudahan bagi wisatawan yang berkunjung dalam menikmati kawasan perencanaan khususnya, dan kawasan Pusat Kota Surabaya pada umumnya.
• Galeri, digunakan sebagai pendukung pengembalian citra kawasan cagar budaya di Surabaya, dengan menghadirkan bangunan bersejarah dan disain konsep pada bangunan komersial dalam tapak terbangun.
• Resto dan cafe
• Retail Shop
• Mini market
• Poliklinik
• Kios UKM (Usaha Kecil dan Menengah), dengan menghadirkan area barang- barang kerajinan tradisional dan lokal.
• Lahan parkir
Keberadaan bangunan multifungsi ini, membutuhkan adanya Fasilitas Hunian sebagai penunjang fungsi utama kawasan sebagai pusat perkantoran di Surabaya Pusat. Fasilitas yang direncanakan adalah :
• Apartemen, ditekankan pada pemanfaatan perumahan warga dalam kawasan, selain untuk meningkatkan peran serta warga dalam memajukan pariwisata.
• Hotel berskala lokal, dengan fungsi sebagai sarana penginapan wisatawan.
Fasilitas Penunjang yang melengkapi bangunan multifungsi agar benar- benar menjadi bangunan yang member
• Ruang ATM.
• Wartel dan warnet.
• Ruang serbaguna, sebagai bagian dari fasilitas hotel, yang difungsikan sebagai sarana kegiatan anggota club.
Fasilitas Pengelola dan servis yang direncanakan dalam unit ini, terdapat berbagai aktivitas yang berhubungan dengan administrasi dan pelayanan seluruh komplek bangunan, antara lain :
• Kantor pengelola kawasan
• Kantor pengelola club Pecinta Cagar Budaya
• Pelayanan Service
• Workshop, sebagai sarana dalam tetap menjaga kondisi bangunan konservasi.
Ruang Terbuka sebagai tempat penarik pengunjung dan penghubung antar massa bangunan ini dimaksimalkan dengan adanya fasilitas sebagai berikut :
• Plaza, sebagai pusat aktivitas dan berkumpulnya pedestrian dalam kawasan bangunan infill, dengan menghadirkan pertunjukan seni budaya, jajanan tradisional dan cenderamata, dll, sebagai penarik massa.
• Panggung Terbuka dan fleksibel plaza, untuk memfasilitasi aktivitas-aktivitas social yang berpotensi meningkatkan vitalitas kawasan.
• Jalur Pejalan kaki (Pedestrian way), dihadirkan dengan memaksimalkan sirkulasi pedestrian dalam bangunan, yaitu menghadirkan kesan city walk di kawasan padat bangunan dan kendaraan, selain sebagai sarana hiburan dengan beraktivitas di luar bangunan.
Dalam perencanaan bangunan ini terjadi beberapa perubahan dalam besaran ruang. Perubahan luasan bangunan, dikarenakan adanya penyesuaian dengan modul struktural dan bentuk masa bangunan, serta kebutuhan akan besar dan banyaknya fungsi yang dibutuhkan.
Area parkir juga mengalami perubahan yang cukup berarti mengingat keterbatasan lahan yang tersedia, maka kebutuhan akan lahan parkir untuk bangunan multifungsi ini mencapai 2 level lantai basement. Berikut adalah daftar tabel perubahan besaran ruang yang terjadi pada desain :
Tabel 3.2. Tabel Fasilitas, Besaran Dan Kebutuhan Ruang
Tabel 3.2. Tabel Fasilitas, Besaran dan Kebutuhan Ruang (sambungan)
Tabel 3.2. Tabel Fasilitas, Besaran dan Kebutuhan Ruang (sambungan)
Tabel 3.2. Tabel Fasilitas, Besaran dan Kebutuhan Ruang (sambungan)
3.2. Konsep Perancangan
Ditinjau dari latar belakang kawasan bersejarah di Pusat Kota Lama Surabaya ini, dibutuhkan solusi untuk mengatasi degradasi nilai dan karakter kawasan. Konsep Bangunan Komersial di Kawasan Bersejarah, Surabaya ini adalah penciptaan bangunan infill yang tanggap menjawab revitalisasi kawasan bersejarah, yaitu bangunan yang dapat memberikan kontribusi positif bagi kehidupan pusat kota, dengan fasilitas bangunan multifungsi.
3.2.1. Konsep Pengembangan Kawasan
Dalam upaya pelestarian dan revitalisasi kawasan kota lama Surabaya di daerah jl. Pahlawan ini, dibutuhkan suatu acuan dalam mendisain bangunan baru (infill), dimana prinsip-prinsip Smart Growth digunakan sebagai pemecahan pengembangan kota berkembang, terhadap isu-isu lingkungan, seperti polusi, kemacetan, efisiensi waktu, dll. Maka mengacu pada prinsip-prinsip tersebut, bentuk dan olah massa bangunan multi fungsi pada lahan yang terencana ini mempunyai batasan-batasan penerapan pada bangunan terdisain :
a. Memberikan fasilitas hunian yang beragam.
Prinsip ini diterapkan dengan pemberian fasilitas hunian berupa hotel dan apartemen dengan beberapa tipe unit.
b. Menciptakan lingkungan yang saling berhubungan dengan sirkulasi pedestriannya.
Poin ini diaplikasikan dengan penerapan sirkulasi yang diutamakan bagi pejalan kaki (pedestrian oriented) dalam tapak.
c. Dapat mendukung komunitas sesuai district yang ada.
Hal ini ditunjang dengan adanya fungsi ruang-ruang rapat dan meeting (serbaguna) sebagai sarana penunjang kebutuhan komunitas bisnis di kawasan kota lama (dimana lokasi berada pada kawasan district perdagangan dan perkantoran)
d. Penerapan fungsi lahan yang multifungsi dan kompak
Perencanaan fasilitas penunjang berupa fasilitas komersial dan hunian yang dirancang secara vertikal (high rise) pada dasarnya yaitu sebagai solusi pemanfaatkan lahan tersedia secara maksimal, sehingga bangunan yang terencana nantinya dapat memberi kontribusi positif dan basar bagi kawasan tempat berdiri..
e. Penyediaan sarana transportasi yang bervariasi.
Pemilihan lokasi tapak tidak lepas dari potensi yang strategis dari tapak yang direncanakan (hasil analisis urban tapak bab II), yaitu koridor jl.
Pahlawan yang digunakan sebagai jalur transportasi umum utama dari daerah Surabaya utara ke selatan. Maka, disediakannya ruang plaza penerima bagi komuter dan pengguna jalan untuk dapat menikmati fasilitas bangunan komersial dalam tapak.
Kemungkinan penambahan sarana transportasi lain, telah menjadi pertimbangan pemilihan tapak, dimana menurut masterplan Surabaya kedepan, akan adanya jalur monorail di jl. Pahlawan yang terletak dekat dengan bangunan terdisain.
Tujuan kedepan, direncanakan bahwa bangunan terdisain ini dapat menjadi pusat aktivitas masyarakat yang menyediakan berbagai fasilitas kehidupan perkotaan, yaitu hunian, komersial, perkantoran dan sarana hiburan.
f. Menciptakan dan memperkuat kesan kawasan, dalam hal ini kesan kawasan kota Lama Surabaya
Dalam Poin 6 (enam) prinsip Smart Growth ini, lebih ditekankan pada olah tampilan dan fasade bangunan yang tanggap terhadap lingkungan sekitar.
3.2.2. Konsep Pembagian Zoning
Pendisainan bangunan dalam kawasan lama ini, mendapat kendala dalam bentuk dan luasan lahan yang tersedia, maka dituntut solusi pemaksimalan lahan terpakai untuk memfasilitasi bangunan multifungsi yang direncankan dengan penerapan disain bangunan vertikal (high rise building)
Pembagian zoning dan sirkulasi dirancang sesuai dengan tingkat privasi dan kemudahan akses pemakai.
Keterangan :
Zona Komersial Retail dan Mall
Zona Lahan Parkir
Zona Galeri dan Tempat Pameran
Zona Hunian Hotel
Zona Hunian Apartemen
Gambar 3.1. Pembagian Zoning Secara Vertikal
Sirkulasi vertikal didukung sarana Lift terpisah yang melayani tiap-tiap fungsi, yaitu :
• Area komersial - lt. 1-3 dengan 2 lift + 1 lift servis
• Area Hotel - lt. 6-10 dengan 3 lift
• Area apartemen - lt. 12-23 dengan 3 lift + 1 lift servis
Ke-3 area terhubung dengan lahan parkir basement sedalam 5 lt., pembagian lahan parkir ini yaitu dengan memisahkan lantai parkir apartemen yang membutuhkan privasi layaknya rumah tinggal, dengan lantai parkir komersial hotel. Akses pencapaian hanya melalui 1 akses masuk dan keluar.
Bangunan ini akan berdiri pada kawasan jl. Pahlawan Surabaya dengan luas lahan tersedia ± 1.200 m², pembagian luas lantai bangunan:
Komersial ± 11.000 m² Hotel ± 10.000 m² Apartemen ± 13.750 m² Lahan Parkir ± 2.750 m² TOTAL ± 37.500 m²
3.3. Bentuk Dan Pola Penataan Massa Bangunan
Pengolahan massa bangunan dalam kaitannya dengan bangunan eksisiting disekitarnya, tidak lepas dari upaya konservasi kawasan dan bangunan eksisting di sekitar tapak. Upaya ini nampak dari adanya ruang-ruang terbuka antara bangunan baru (infill) dengan bangunan eksisting.
Keterangan :
Elemen menara (tower) sebagai cirikhas bangunan kolonial Elemen menara yang direncanakan
Gambar 3.2. Tampilan Fasade Dan Bentuk Bangunan
Grha Pelni Gedung Pelni
Bank Mandiri
Gedung Rakyat
Lahan yang Direncanakan Jalan Pahlawan arah timur
Keterangan :
Bentuk massa bangunan sekitar
Contoh bentuk massa yang direncanakan Tapak
Gambar 3.3. Bentuk Massa Bangunan
Jika dilihat dari site kawasan di atas, terdapat kesamaan bentuk massa dari bangunan-bangunan sekitar, yaitu dominansi bentuk geometri persegi.
Perencanaan bentuk massa untuk bangunan baru ini, disesuaikan dengan tipologi massa sekitar, agar terjadi kesatuan antara bangunan baru dan bangunan eksisting disekitarnya.
Penataan massa berkaitan dengan zoning pada tapak secara horizontal dan juga dari bentuk tapak yang tersedia. Perencanaan massa bangunan ini, secara maksimal memanfaatkan lahan tersedia untuk memfasilitasi kebutuhan akan pejalan kaki, yang tidak terganggu dengan adanya jalur kendaraan di dalam tapak.
Hal ini memunculkan penataan massa-massa bangunan yang berdekatan dan saling bersinggungan, walaupun terdiri dari beberapa fasilitas pendukung.
Gambar 3.4. Pola Penataan Massa Bangunan MASSA PENGHUBUNG
Menyesuaikan bentuk tapak, serta hubungannya dengan bangunan sekitar.
Tanggapan massa, diaplikasikan dengan memaksimalkan bentuk tapak yang ada sebagai penghubung bangunan infill dan bangunan eksisting (Link).
MASSA PENANGKAP
Kesesuaikan proporsi dan bentuk massa bangunan sekitar, yaitu bentuk geometris dan simetris.
MASSA UTAMA
Penataan massa diatur untuk menciptakan ruang terbuka (Open Space) di tengah tapak.
Massa Penghubung memfasilitasi jalan pedestrian, diupayakan penataan massa yang saling terhubung dan menerus.
Massa Penangkap Massa Penghubung Massa Utama Batas Tapak
Ruang Terbuka (Open Space) Sebagai pengikat antar massa bangunan.
3.4. Bentuk Dan Penampilan Bangunan
Bentuk dan penampilan bangunan sebagai landmark baru dalam kawasan, harus disesuaikan dengan landmark yang sudah dikenal masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Dengan tidak berusaha mengalahkan atau menggantikan landmark yang sudah ada, maka bangunan yang direncanakan ini menggunakan tanggapan Infill Design (bangunan baru).
Tampilan bangunan-bangunan bersejarah di area depan tapak, mempunyai pengaruh dan kenangan kuat dari masyarakat sekitar yang melewati kawasan ini.
Dalam upaya meningkatkan mutu dan nilai kawasan yang ada dalam hadirnya bangunan multifungsi baru yang direncanakan, maka diterapkan olah disain bangunan yang kontras dan harmonis.
Gambar 3.5. Bangunan Depan Dan Koridor Jalan Pahlawan
3.4.1. Harmonis
Disain harmonis ditekankan pada olah bangunan penerima, yang berada di jalur pintu utama tapak, yaitu di jl. Pahlawan. Adapun pengaplikasian harmonis dalam disain bangunan terhadap lingkungan sekitar, diterapkan beberapa solusi disain, yaitu :
a. Penerapan sistem foreground – background, yang memungkinkan tidak terganggunya vista dari lingkungan bangunan yang telah ada. Posisi bangunan penerima lebih menjorok ke dalam jika ditarik garis lurus dari tampilan montage jl. Pahlawan, area terbuka di depan ini, difungsikan sebagai area penangkap massa dan tempat berkumpulnya para komuter dan pejalan kaki di kawasa ini.
b. Proporsi dan skala disesuaikan dengan sekitar, dalam hal ketinggian bangunan, ketinggian lantai, dan juga pemilihan sistem penutup atap. Jika diamati pada bangunan eksisting yang ada, digunakannya system atap perisai dan pelana, yang tentunya tanggap dan menyesuaikan dengan iklim tropis di Surabaya. Sebagai penyelaras dan kesatuan dengan bangunan sekitar, system penutup atap yang digunakan untuk bagian bangunan penerima ini menggunakan system atap perisai.
c. Pemilihan warna dan material yang serupa dengan yang digunakan pada bangunan sekitar, dapat menimbulkan kesan bangunan colonial yang selaras dengan sekitarnya. Hal ini diupayakan untuk tetap mempertahankan nilai kawasan kota lama ini.
d. Tanggapan terhadap bangunan sekitar, diaplikasikan pada perencanaan bangunan baru dengan menjadikan bangunan lama, bernilai dan bersejarah tersebut sebagai point of interest kawasan. Penerapan dilakukan pada dinding- dinding bangunan infill sebagai bingkai untuk melihat bangunan sekitar, yaitu dengan penggunaan material penutup dinding luar dengan cladding kaca.
Gambar 3.6. Suasana Kawasan Landmark Baru Dan Eksisting
3.4.2. Kontras
Perencanaan bangunan multifungsi dengan pengembangan secara vertikal (high rise) memberi arahan terhadap bangunan baru untuk potensi sebagai landmark baru untuk kawasan. Tampilan bangunan utama yang menjulang hingga mencapai 100m ini, dapat memberi kontribusi terhadap penanda kawasan dalam konteks yang lebih luas, yaitu untuk skala kota.
Penciptaan disain baru diupayakan dapat memberi nuansa baru pula bagi kawasan dan lingkungan yang ada, dengan cara pemilihan disain bangunan yang bercirikas tersendiri. Potensi landmark ini, diharapkan tidak mengalahkan landmark yang sudah ada, cara yang dapat dilakukan adalah dengan menghadirkan landmark baru yang mempunyai konteks berbeda dengan yang sudah ada. Maka dilihat dari fungsi yang ada pada bangunan baru high rise ini yaitu apartemen dan hotel, bangunan ini dapat dikategorikan sebagai landmark komersial. Landmark ini tidak bertentangan dengan landmark utama pada kawasan, yaitu landmark budaya dan sejarah dengan hadirnya bangunan- bangunan kuno bersejarah.
3.5. Penataan Ruang Dalam Bangunan
Disain bangunan tinggi (high rise) dengan fungsi yang bervariasi, memiliki permasalahan utama mengenai kejelasan sirkulasi, khususnya sirkulasi vertical, dan juga hubungan antar fungsi-fungsi yang ada. Jika dilihat dari fungsi yang ada dalam bangunan ini, yaitu fungsi komersial berupa mall, hotel, hunian apartemen dan juga fungsi are parkir di bagian basemen.
Penataan ruang dalam ini, ditentukan dengan area zoning yang direncanakan, yaitu penekanan area komersial pada level pedestrian, dan area privat berupa hotel dan apartemen pada level atas. Sebagai penghidup kawasan, dibutuhkan fungsi komersial di dalamnya, hal ini diterapkan pada area lantai dasar hingga lantai 3 untuk dimaksimalkan sebagai area komersial. Perilaku area komersial dibedakan untuk area komersial retail atau arcade di bagian pintu masuk tapak, sedang nuansa berbeda pada bangunan utama di dalam tapak, yaitu dengan menghadirkan suasana komersial mall dalam ruangan tertutup.
Pada fungsi komersial ini, terdapat area galeri pada bangunan bagian depan, yang diperuntukkan sebagai fasilitas pameran dan museum kecil, yang berisi mengenai sejarah perkembangan kawasan jl. Pahlawan ini. Area komersial ini, dalam kaitannya dengan lingkungan sekitarnya, lebih diprioritaskan untuk fasilitas komersial yang menyediakan area tempat makan, barang-barang kesenian dan sovenir, dan supermarket, dimana fungsi utama tersebut menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat sekitar, ditinjau dari kurangnya sarana tempat makan dan ruang santai di pusat kota Surabaya ini.
Pada bangunan tinggi ini, terdapat fungsi hotel mulai lantai 6-10 dan apartemen lantai 12-23. Perbedaan kebutuhan dan sifat tiap fungsi ini, mengharuskan pengaturan dan perbedaan sirkulasi dan ruang penerima atau lobi.
Namun, dengan kedua fasilitas sebagai fasilitas hunian, tidak menutup kemungkinan dalam penggabungan fasilitas pendukung hunian, sebagai contoh, area tempat makan, perpustakaan, ruang kebugaran, kolam renang, taman gantung, dsb. Fasilitas ini terdapat di lantai 4-5 dengan akses dapat dicapai hanya melalui lift hotel dan apartemen.
Terdapat ruang terbuka hijau pada atap lantai 5 dan lantai 11. Fasilitas kolam renang dan kafe terbuka untuk penghuni terdapat di lantai 5, yaitu dengan
menghadirkan keindahan dan kenyaman dengan hadirnya vegetasi-vegetasi di lantai ini. Sebagai pemisah antara fasilitas hotel an apartemen, pada lantai 11, terdapat taman gantung seluas 1 lantai, yang mempunyai jogging track, kafe terbuka dan juga gazebo untuk tempat refreshing dan bersantai, tempat ini juga dikhususkan bagi pengunjung hunian hotel dan apartemen.
Maka secara garis besar, terdapat pembagian secara jelas dalam penataan ruang pada bangunan, yaitu terpisahnya area komersial publik dengan area hunian privat, dengan tiap-tiap mempunyai akses yang jelas dalam hal pencapaian dan sirkulasi vertikal.
3.6. Sistem Struktur
3.6.1. Pemilihan Sistem Struktur
Pemilihan system struktur pendukung bangunan dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain fungsi bangunan yang menampung berbagai aktivitas yang berbeda, efisiensi dan estetika, dan terpenting adalah karakteristik tersendiri dari bangunan tinggi (high rise).
Oleh karena itu digunakannya sistem struktur rangka (kolom balok beton bertulang) dan core. Bangunan fungsi hunian high rise ini memerlukan kekakuan dan kestabilan struktur untuk menopang lantai dan menghindari terjadinya lendutan yang berlebihan, sehingga digunakan struktur rangka dan core.
Sedangkan bangunan dengan fungsi yang lain menggunakan system struktur rangka, sedangkan untuk rangka atap digunakan system rangka baja.
Karakteristik khusus pada bangunan utama, yaitu terdapat basement 2 lantai sebagai pondasi dari bangunan tower dan bangunan 5 lt di atasnya. Dengan perilaku struktur yang menjaga kekakuan dari sistem struktur yang digunakan, maka pada bangunan utama ini, struktur dari pondasi hingga lantai dasar berupa core turap setebal 1m dengan siar pemisah dari lantai dasar hingga lantai 5 untuk mencegah terjadinya pergeseran horizontal tower dan bangunan 5 lt.
Gambar 3.7. Potongan Bangunan
Gambar 3.8. Aksonometri Struktur 3.6.2. Modul Dan Ukuran Kolom
Modul untuk tiap-tiap fungsi bangunan yaitu modul 8 dan 6m, tergantung pada letak, dimensi bangunan dan letak core.
Siar Pemisah dengan sistem balok tumpu Bangunan tinggi dengan system
struktur core + rangka
• Untuk bangunan tower yang berbentang lebar digunakan modul 8m x 8m, dan core berukuran 10m x 8m, sedangkan ukuran kolom yang digunakan adalah 80cm x 80cm.
• Untuk bangunan berlantai 5, digunakan modul yang sama dengan bangunan tower yaitu 8m x 8m, sedangkan ukuran kolom yang digunakan adalah 80cm x 80cm.
• Untuk bangunan-bangunan disekitar yang berlantai 2-3, digunakan modul 4m,6m dan 8m, dengan menggunakan kolom dan balok beton.
3.7. Pemilihan Warna Dan Bahan Bangunan
Warna yang digunakan pada bangunan adalah warna coklat dan gradasinya, untuk menonjolkan kesan keterkaitan bangunan baru (infill) dengan bangunan sekitarnya. Pada bangunan bagian dalam tapak, warna didominasi warna kaca dan dinding mall komersial, yaitu aksentuasi kaca warna merah biru pada dinding hotel dan coklat. Hal ini sebagai pendukung penciptaan bangunan berciri khas dan bergaya kontemporer.
Bahan bangunan yang dipilih adalah sebagai berikut :
• Penyelesaian untuk lantai interior bangunan menggunakan marmer untuk lantai bagian dalam bangunan. Pemilihan granite untuk fasilitas hotel dan apartemen dengan pertimbangan estetika. Selain material batu, bagian interior terutama pada fasilitas penunjang hunian juga digunakan penutup lantai dari bahan karpet halus.
• Batu palimanan berwarna kecoklatan untuk footing pada eksterior bangunan.
• Dinding eksterior bangunan menggunakan dinding batu bata dan kaca.
Penggunaan cladding kaca banyak digunakan untuk memaksimalkan view kawasan dan hubungan dengan bangunan sekitarnya Dinding batu bata banyak digunakan pada dinding bagian eksterior bangunan. Pada beberapa bagian bangunan, dinding batu bata kembali ditutup dengan penggunaan cladding kaca sebagai pembentuk fasade.
• Dinding interior bangunan menggunakan dinding partisi dan material kaca.
• Beberapa bagian bangunan menggunakan kayu sebagai finishing.
Tandon bawah
Didistribusikan ke tiap lantai Shaft menerus
Tandon atas Pompa
Pompa
PDAM Meteran
• Atap bangunan menggunakan penutup dari seng aluminium, dengan pertimbangan bahan yang fleksibel terhadap bentukan atap yang berbeda- beda.
3.8. Perlengkapan Pelayanan Dan Utilitas Bangunan
3.8.1. Sistem Distribusi Air Bersih
Pengadaan air bersih langsung dari PDAM yang menggunakan sistem down-feed. Dipilih sistem ini dengan pertimbangan efisiensi, karena bangunan multi fungsi ini merupakan bangunan tinggi dengan banyak lantai, pendistribusian air akan lebih cepat dan efektif tanpa memerlukan tenaga dan biaya yang besar.
Pada sistem ini air dari PDAM ditampung di tandon bawah yang diletakkan di area servis belakang, dekat dengan parkir loading dock, kemudian disalurkan ke tendon atas dan didistribusikan ke tiap tiap lantai pada bangunan melalui shaft.
Distribusi air bersih diperuntukkan untuk area toilet, restoran, kafe, pujasera dan tiap-tiap unit kamar hotel dan hunian.
Gambar 3.9. Skema Distribusi Air Bersih Bangunan
Tandon bawah memiliki 2 bilik dengan tujuan mengantisipasi kerusakan ataupun pembersihan tandon, sehingga pendistribusian air dalam bangunan tetap
dapat berjalan dengan lancar. Kapasitas tandon tersebut diperhitungkan juga untuk cadangan kebakaran (hidran halaman, hidran bangunan, sprinkler)
3.8.2. Sistem Pembuangan Air Kotor Dan Kotoran
Pembuangan air kotor dan kotoran pada tiap-tiap lantai melalui shaft menerus pada tiap lantai kemudian ditampung di STP lantai dasar. Untuk limbah yang berasal dari restoran dapur restoran dan pantry disediakan perangkap lemak (grease trap) terlebih dahulu, yang kemudian disalurkan ke STP.
Gambar 3.10. Skema Distribusi Air Bersih, Air Kotor, Listrik Dan Tata Udara
Unit Komersial
Unit Pengelola dan Service
Unit Hunian
Trash &
Garbage
container Truk sampah
Sumber (WC) STP
Sumber (WC) STP
Perangkap lemak Sumber (Pantry, dapur)
Skema buangan padat :
Skema buangan cair :
Gambar 3.11. Skema Pembuangan STP Dan Perangkap Lemak 3.8.3. Sistem Pembuangan Sampah
Gambar 3.12. Skema Pembuangan Sampah
3.8.5. Sistem Kelistrikan
Ruang PLN harus dekat dengan gardu listrik dan bisa dicapai dengan mobil. Syarat yang lain adalah ruangan ini harus dekat dengan ruang panel. Pada ruang PLN ini juga terdapat Trafo untuk membagi tegangan dari gardu listrik yang sangat besar, ke tegangan yang lebih kecil sesuai kebutuhan bangunan.
Ruang Genset harus ada karena merupakan tempat penyimpanan genset yang akan mensuplai listrik jika listrik dari PLN padam. Besar ruangan ini tergantung dari besar Genset yang dipakai, dan letaknya harus deekat dengan ruang panel. Karena bangunan ini sangat memerlukan listrik untuk pengkondisian udara, maka genset haruslah untuk cadangan penuh.
Genset
Gardu PLN
Ruang trafo
Ruang PLN
MDP Panel
distribusi
Ruang Ruang panel utama berisi panel PLN, panel Genset, panel Utama dan panel distribusi, dan letaknya dekat dengan ruang Genset dan ruang PLN, letak berada di lantai dasar. Sedangkan panel cabang letaknya per lantai.
Gambar 3.13. Skema Distribusi Listrik
Sistem listrik bangunan ini mengambil langsung listrik dari gardu listrik dari jl. Sulung, kemudian disalurkan ke lantai dasar bangunan utama, dimana terdapat ruang trafo, ruang PLN, ruang genset, Master Distribution Panel, yang kemudian akan didistribusikan ke ruang panel di tiap zona dan lantai bangunan pada tiap lantai menuju ruang.
3.8.6. Sistem Pengkondisian Udara
Sistem penghawaan yang dipakai adalah system udara buatan atau AC (Air Conditioner) dan sistem udara alami (untuk beberapa fungsi bangunan, misal kafe terbuka, koridor antar massa bangunan).
Dengan memanfaatkan arus angin dan ketinggian bangunan, penghawaan dan aliran udara pada bangunan dapat terjadi secara alami. Terdapat 2 (dua) area terbuka di lantai 5 dan 11, dengan adanya air dan vegetasi, yang selain sebagai tempat rekreasi dan bersantai para penghuni, juga dapat mengurangi beban pendinginan pada bangunan, terutama di lantai-lantai sekitar yang terfungsikan, misalnya atrium komersial mall, kafe semi outdoor.
Terdapat 2 sistem penghawaan buatan yang akan digunakan dalam perencanaan bangunan ini, yaitu sistem AC untuk melayani fasilitas hunian apartemen dan fasilitas komersial hotel. Untuk fasilitas hunian apartemen, digunakan sistem AC single atau split, dikarenakan kebutuhan tiap unit kamar
Mesin AC (chiller) Pipa AHU Ducting Ruang-ruang
Cooling tower
apartemen yang berbeda dan penggunaan system pembayaran individu, maka persyaratan sebuah pengkondisian udara secara manul mutlak digunakan.
Sistem AC yang dipakai untuk fasilitas komersial dan hotel adalah sistem AC central atau terpusat dengan sistem campuran, yaitu gabungan sistem air dan sistem udara. Adapun alasan pemilihannya:
• Aktifitas dalam bangunan yang memiliki durasi yang sama sehingga memungkinkan penggunaan system AC Central atau terpusat.
• Luas lantai yang dilayani cukup besar, karena 90% luas bangunan menggunakan system penghawaan buatan.
• Bangunan yang bersebelahan dengan jarak yang cukup jauh, sehingga tidak memungkinkan menggunakan system udara penuh.
Penggunaan system ini memerlukan:
• Ruang AC pusat dimana di ruang ini diletakkan mesin AC.
• Air Handling Unit (AHU) Pada setiap lantai yang berfungsi untuk mengelola udara serta menghembuskan udara segar serta udara dingin ke masing-masing ruang yang dikondisikan melalui ducting.
• Cooling tower untuk proses pendinginan air.
Gambar 3.14. Skema Distribusi AC
3.8.7 Sistem Pencahayaan
Sistem pencahayaan yang digunakan pada bangunan ini lebih pada upaya pemaksimalan cahaya matahari untuk menerangi bangunan dan ruangan di dalamnya sebagai pencahayaan alami. Hal ini direncanakan dengan permainan pembukaan dinding dari kaca dan kedalaman ruangan yang terbatas, sehingga cahaya dapat menerangi ruangan secara maksimal. Pada bangunan utama dengan
ketebalan massa 40m, direncanakan sebuah atrium di bagian tengah massa selain untuk penghawaan alami, juga sebagai tempat masuknya cahaya.
Dalam upaya terpenuhinya standar kenyaman manusia dalam ruangan, permasalahan radiasi matahari diatasi dengan pendisainan pencahayaan alami hasil pemantulan (diffuse) dan sistem pengkondisian udara yang tepat.