1
2
3
KONSERVASI JALAK BALI
Sudaryanto dan MW. Proborini Prodi Biologi FMIPA
Universitas Udayana
Seminar Nasional Sains & Teknologi IV Tahun 2017
4
5
DAFTAR ISI
Halaman TIM PROSIDING... ... i KATA PENGANTAR... ... ii DAFTAR ISI ... ... iii DAFTAR ARTIKEL
ANALISIS KESTABILAN PADA MODEL PENYEBARAN PENYAKIT DEMAM DENGUE DENGAN MASA INKUBASI VIRUS DAN LAJU INSIDENSI NONLINEAR
I Putu W Gautama, Widodo, I Putu Eka N Kencana... 1-14 KAUSALITAS ANTARA MOTIVASI, PERSEPSI, DAN TINGKAT
KEPUASAN WISATAWAN MANCANEGARA
Eka N. Kencana, Ketut Jayanegara, Trisna Darmayanti.. ...
15-24 PENERAPAN ANALISIS BIPLOT DALAM PERCOBAAN LOKASI
GANDA (MULTI ENVIRONMENT TRIAL)
Brian Yonathan Suryantho, I Komang Gde Sukarsa, I Gusti Ayu Made Srinadi.. ...
25-31 PENDUGAAN DATA HILANG PADA RANCANGAN BUJUR SANGKAR
LATIN DENGAN ANALISIS KOVARIAN
Farida Ayu Rahmawati, Made Susilawati, Kartika Sari.. ...
32-37 ANALISIS PELAYANAN TELLER BRI CANGGU MENGGUNAKAN
TEORI ANTERAN
Made Citra Puspita Dewi, I Wayan Sumarjaya, Tjokorda Bagus Oka.. ...
38-42 PEMODELAN KASUS GIZI BURUK DI PROVINSI BALI
DENGAN REGRESI BINOMIAL NEGATIF
Diah Arini, I Gusti Ayu Made Srinadi, I Wayan Sumarjaya.. ...
43-48 REGRESI POISSON DALAM MEMODELKAN JUMLAH PENDERITA
KUSTA DI PROVINSI BALI
Kharisma Innaka Arfidina, Made Susilawati, I Gusti Ayu Made Srinadi.. ...
49-54
6 PENERAPAN MODEL REGRESI PROBIT UNTUK MENDUGA FAKTOR-
FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENGELOMPOKAN UKT
Mitta Gargita, Made Susilawati, I.G.A. Made Srinadi .. ... 55-60 PEMODELAN PENYEBARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DENGAN PENDEKATAN REGRESI LINEAR BERGANDA
Ni Nyoman Rustiani, Made Susilawati, I Gusti Ayu Made Srinadi.. ... 61-66
PENDEKATAN PERSAMAAN SIMULTAN DALAM ANALISIS PERMINTAAN DAN PENAWARAN KOPI INDONESIA
Putu Andri Ayuni Noveria, Eka N. Kencana, Komang Gde Sukarsa.. ... 67-72 ANALISIS PERBANDINGAN KARAKTERISTIK WISATAWAN
MANCANEGARA YANG BERKUNJUNG KE OBYEK WISATA UBUD DAN KUTA
Novita Triani Hamma, Selfia Putri Bukhori, Siti Rahayu Ningsih,
Sherly Eren Saragi, Juita H. Sidadolog, Desak Putu Eka Nilakusumawati.. ... 73-79 EFEKTIVITAS METODE TAI (TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION)
PADA PEMBELAJARAN SIFAT OPERASI BILANGAN BULAT Moh Ghista Kusuma Shafarda, Ni Made Asih, Muhammad Irfan,
Paulus Lazarus.. ... 80-85 KEBERHASILAN BELAJAR BERDASARKAN GENDER PADA
MATA KULIAH GEOMETRI ANALITIK
Ni Made Asih, Ni Luh Putu Suciptawati, I Nyoman Widana.. ... 86-91 ANALISIS KARAKTERISTIK PENGGUNA DAN KUALITAS
LAYANAN JASA PENGIRIMAN BARANG (Studi Kasus: JNE Cabang Denpasar Selatan)
Ni Wayan Ayu Jusiani, Ni Putu Ria Fitriani, Putri Bella Sagita,
Ni Putu Intan Puspa Dewi, Ni Ketut Tari Tastrawati.. ... 92-98 ANALISIS PENGARUH TRANSPORTASI ONLINE TERHADAP MINAT
MASYARAKAT MEMILIH LAYANAN TRANSPORTASI UMUM Ni Luh Putu Ratna Dewi, Ni Putu Trisna Dewi, Fitri Ananda Dita Saraswita, Ni Putu Ayu Dewi Cahyantari, I Gusti Ayu Meigayoni Lestari,
Desak Putu Eka Nilakusmawati.. ... 99-104 OPTIMALISASI PENJUALAN SEPATU MENGGUNAKAN METODE
LAGRANGE MULTIPLIER DI SHOES SHOP ID BALI
Ni Wayan Uchi Yushi Ari Sudina, Ni Komang Ayu Sedana Dewi, Ni Made Asih.. ... 105-110
PENGGUNAAN TRANSFORMASI BOX-COX PADA PRODUKSI JAGUNG DI BALI Ni Luh Karina Prilyandari, I Gusti Ayu Made Srinadi, G.K. Gandhiadi .. ... 111-116
7 ANALISA INTERAKSI MANUSIA DAN KOMPUTER TERHADAP KINERJA
PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE PENELITIAN KUALITATIF PADA PERUSAHAAN PENGIRIMAN DAN LOGISTIK JL. GUNUNG SANGHYANG
I Gede Angga Surya Diva, I Ketut Gede Suhartana.. ... 117-123 PROTOTIPE SISTEM PAKAR BERBASIS WEB UNTUK PENYAKIT DAN
ASANA PENYEMBUHAN DALAM YOGA Luh Gede Astuti, I Dewa Made Bayu Atmaja Darmawan,
Kadek Aryana Dwi Putra, Kadek Dwi Sukri Yanthi. ... 124-130 RANCANG BANGUN CASE BASE SISTEM REKOMENDASI MUSIK
BERDASARKAN DATA KONTEKS DAN EEG
Gst. Ayu Vida Mastrika Giri, A.A. Istri Ngurah Eka Karyawati . ... 131-136 PENGARUH ALGORITMA DIJKSTRA DALAM MENGURANGI BEBAN
KERJA PENGEMUDI OJEK DENGAN METODE ANALISA KUALITATIF
Isa Rizkie Cahyo, I Ketut Gede Suhartana ... 137-143 ANALISIS IMPLEMENTASI KOMPUTASI PARALEL PADA KRIPTOGRAFI
ASIMETRIS DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA RSA
Putu Adi Prasetya, I Gede Arta Wibawa . ... 144-152 KONSERVASI JALAK BALI (Leucopsar rothschildi)
Sudaryanto, Meitini Wahyuni Proborini . ... 153-162 JENIS-JENIS KUPU-KUPU YANG DITEMUKAN DI KAWASAN
PARIWISATA UBUD, BALI
Anak Agung Gde Raka Dalem, Martin Joni .. ... 163-177 IDENTIFIKASI INTRUSI AIR LAUT PADA AKUIFER DEKAT PANTAI DENGAN
METODE GEOLISTRIK (STUDI KASUS DI CANDIDASA KARANGASEM BALI)
I Nengah Simpen, I Wayan Redana, Ni Nyoman Pujianiki.. ... 178-184 KLASIFIKASI KETERBELITAN MULTIPARTIT MENGGUNAKAN NILAI
TUNGGAL TENSOR INTI MATRIK UNFOLDING DALAM SISTEM TELEPORTASI KUANTUM
I N. Artawan, N.L.P. Trisnawati.. ... 185-192 IMPLEMENTASI PIEZOELEKTRIK SEBAGAI SENSOR PADA
KARAKTERISASI MATERIAL BARIUM TITANAT DENGAN SUBSTITUSI CALSIUM (Ba1- xCaxTiO3)
Windaryoto, Poniman, S. .. ... 193-197
8 DETEKSI OTOMATIS HISTOPATOLOGI TYPE INVASIVE DUKTAL
CARCINOMA (IDC) DAN INVASIVE LOBULER CARCINOMA (ILC) PADA MAMMOGRAM
A.A.N. Gunawan, I.W. Supardi, S. Poniman.. ... 198-205
9
KONSERVASI JALAK BALI (Leucopsar rothschildi)
Sudaryanto1§, Meitini Wahyuni Proborini2
1,2 Prodi/Jurusan Biologi FMIPA Universitas Udayana Email: 1 [email protected]; 2 [email protected] §Penulis Korespondensi
ABSTRACT
Bali starling (Leucopsar rothschildi) are endemic birds of Bali, the birds in the IUCN Red List of Threatened Species are categorized as critically endangered. While CITES into Appendix I, and also the Government Regulation of the Republic of Indonesia, as the number decreases with the number of poaching in the habitat of Bali Barat National Park (BBNP). Bali starling conservation that has been done in BBNP has not been successful. Starting from 2006 Bali starling conservation efforts are also conducted by Friends of Natural Park Foundation (FNPF) in cooperation with PEMDA Bali Province and Udayana University located at Nusa Penida island Klungkung regency.
Bali starling census in Nusa Penida Island, with the method of concentration at Bali starling location foraging. Research on the success of Bali starling conservation in Nusa Penida Island, with indepth inteview. The conservation of Bali Starling on the island of Nusa Penida succeeds.
The Nusa Penida island community has awig-awig (traditional Balinese law) that protects birds, especially Bali starling. Keywords: awig-awig, Bali starling, conservation, Nusa Penida Island, Ped Village.
1. PENDAHULUAN
Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) adalah burung endemik Pulau Bali, dan pertama kali ditemukan oleh Erwin Stresemann pada tahun 1911 di Desa Bubunan Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng, dan distribusinya sampai di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) [1, 2]. Sementara itu, kehadiran burung tersebut pada tahun 1950an sudah tidak terlihat lagi di Bubunan Buleleng. Namun pada tahun 1960an Jalak Bali masih terdapat di Selemadeg Tabanan, pada tahun 1980an di Melaya Jembrana, dan pada tahun 1990an burung tersebut masih ditemukan di Pupuan Tabanan [2]. Selain itu, Schmidt mengatakan bahwa Jalak Bali pernah hidup di Pulau Nusa Penida [3].
Burung Jalak Bali dalam IUCN Red List of Threatened Species dimasukkan ke dalam kategori kritis (Critically endangered). Sedangkan CITES memasukan burung tersebut ke dalam Appendix I, dan juga PP RI No 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, karena jumlahnya semakin berkurang dengan banyaknya pencurian di Taman Nasional Bali Barat (TNBB)[4, 5, 6, 7, 8, 9].
Di TNBB, pencurian Jalak Bali sudah terjadi sejak tahun 1960an [1, 10, 11]. Jalak Bali merupakan burung peliharaan yang terkenal dan harganya mahal, pada saat ini harganya sekitar Rp 10.000.000 per ekor. Akibatnya populasi Jalak Bali di TNBB semakin berkurang [12].
10 Populasi Jalak Bali yang hidup liar di TNBB pada tahun 2012 hanya empat ekor. Sedangkan usaha konservasi burung tersebut telah dilakukan oleh Kementrian Kehutanan, BirdLife Indonesia Programme dan Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB) di TNBB. Bahkan, sampai tahun 2009 telah dilepasliarkan kira-kira 100 ekor Jalak Bali [13, 14, 15].
Konservasi Jalak Bali yang telah dilakukan di TNBB ternyata belum berhasil. Oleh sebab itu, mulai tahun 2006 usaha konservasi Jalak Bali juga dilakukan oleh Friends of National Park Foundation (FNPF) bekerjasama dengan PEMDA Propinsi Bali dan Universitas Udayana bertempat di Pulau Nusa Penida Kabupaten Klungkung. FNPF adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Bali dan kantor pusatnya di Ubud. Usaha tersebut dengan melepas liarkan 57 ekor Jalak Bali di Pura Penataran Ped Pulau Nusa Penida, dan pertama kali dilepaskan pada tanggal 13 Juni 2006 sebanyak satu pasang. Jalak Bali dilepaskan di Pura Penataran Ped Pulau Nusa Penida, sehingga burung tersebut oleh masyarakat dianggap sebagai burung Pura (Duwe Pura). Maka masyarakat akan menjaga kehadiran burung tersebut. Konservasi suatu spesies di habitatnya akan berhasil bila masyarakat sekitarnya juga ikut menjaga [11].
Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stressemann, 1912), juga disebut Rothschild Mynah atau Bali Mynah atau Bali Starling adalah burung anggota Familia Sturnidae Ordo Passeriformes, berukuran sedang 25 cm, bulu seluruhnya berwarna putih, kecuali ujung sayap dan ujung ekor berwarna hitam, kulit terbuka di sekitar mata berwarna biru terang, jambul sangat panjang terutama pada Jalak Bali jantan. Perbedaannya dengan Jalak putih (Sturnus melanopterus) adalah warna hitam pada sayap jauh lebih sempit, warna kulit disekitar mata dan adanya jambul [17]. Jalak Bali pertama kali dideskripsi, ditempatkan dalam genus monotipik dan dipublikasikan oleh Stresemann pada tahun 1912, setahun setelah menemukannya di hutan dataran rendah di sepanjang pantai barat laut Pulau Bali [16, 17, 18].
Jalak Bali merupakan burung endemik hutan musim di TNBB yang keadaannya kritis, karena ukuran populasi sangat kecil dan berkurang habitatnya [1, 19]. Sudaryanto mengatakan pada tahun 2001 populasi Jalak Bali di TNBB ada 6 ekor [19], bahkan Sutito dkk pada tahun 2012 melaporkan di TNBB hanya ada 4 ekor Jalak Bali yang hidup bebas (Gambar 1) [20].
Penyebab ukuran populasi Jalak Bali yang sangat kecil di TNBB antara lain adalah adanya pencurian burung tersebut [1, 13, 14, 19]. Contohnya pencurian yang terjadidi Pusat Penangkaran Jalak Bali di Tegal Bunder TNBB pada 22 November 1999 sebanyak 39 ekor Jalak Bali [19],
11 bahkan di Pos Kotal TNBB pada tanggal 27 Juni 2011 juga terjadi pencurian 8 ekor Jalak Bali dari kandangnya [15].
Pelestari Curik Bali (APCB) dari tahun 2007-2009 telah melepaskan 85 ekor Jalak Bali di TNBB, yaitu di Pos Teluk Brumbun, Pos Kotal dan di Tanjung Gelap [15].
Disamping itu, penyebab penurunan populasi Jalak Bali di TNBB lainnya adalah berkurang habitatnya. Bahkan, luas TNBB semula 19.000 ha sekarang tinggal 5.000-10.000 ha. Sebagian besar habitat Jalak Bali di TNBB telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa, kapuk randu, pemukiman orang dan fasilitas wisata seluas lebih kurang 9.000 ha. Kemudian, di luar kawasan berbatasan dengan TNBB sudah berkembang menjadi pemukiman yang sangat padat [2, 21, 22].
Oleh karena usaha konservasi Jalak Bali di TNBB belum berhasil, bahkan populasinya pada tahun 2012 hanya 4 ekor. Maka sejak tahun 2006 usaha konservasi Jalak Bali juga telah dilakukan oleh Frends of Natural Park Foundation, Pemda Propinsi Bali dan Universitas Udayana di Pulau Nusa Penida Kabupaten Klungkung Propinsi Bali. Usaha tersebut dengan melepas liarkan 57 ekor Jalak Bali dari Pura Penataran Ped di Pulau Nusa Penida (Tabel 2) [12, 23].
2. METODE PENELITIAN
Penelitian yang akan dilaksanakan berupa penelitian lapangan yaitu menghitung populasi Jalak Bali dan interview dengan masyarakat tentang keberhasilan konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida.
Penelitian dilakukan di Pulau Nusa Penida Kabupaten Klungkung Propinsi Bali yang terletak 20 km ke arah tenggara dari Pulau Bali pada koordinat 8°38’58,04”-8°49’30,03” LS; 115°25’14,01”- 115°38’22,32” BT., dan secara administratif termasuk Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Luas Pulau Nusa Penida 20.000 ha, yaitu hutan 1.000 ha, dan sisanya wanatani. Wanatani (agroforestry) adalah perkebunan yang memadukan kegiatan pengelolaan pohon kayu-kayuan dengan penanaman tanaman komoditas. Tanaman komoditas atau tanaman jangka pendek yang ditanam seperti: jagung, rosela, dan sayuran. Kepulauan Nusa Penida terdiri dari 46 Desa Adat, 18 Desa Dinas, dan 79 Banjar. Jumlah penduduk Pulau Nusa Penida 59.598 orang. Di Desa Ped Pulau Nusa Penida terdapat sebuah Pura Kahyangan Jagat yaitu Pura Penataran Ped, yang disakralkan oleh seluruh penduduk Pulau Bali [24].
Pengamatan burung menggunakan teropong binokular Pegasus 8 x 42 dan kamera Nikon Cool Pix L310. Identifikasi suara burung menggunakan Action Ear. Lokasi perjumpaan dengan Jalak Bali
12 ditentukan dengan Global Positioning System (GPS) merk Garmin 60 CSx, cat pilox, Peta Rupabumi Digital Indonesia skala 1:25.000 terbitan Badan Informasi Geospasial (d/h Bakosurtanal),
Untuk menghitung populasi Jalak Bali digunakan penghitungan total dengan metode terkonsentrasi. Penghitungan total dengan metode terkonsentrasi adalah menghitung secara langsung semua cacah individu Jalak Bali pada lokasi burung tersebut mencari makan (feeding site) dilakukan dari jam 08.00-17.00 WITA [2, 25, 26, 27, 28].
Penelitian faktor-faktor keberhasilan konservasi Jalak Bali di Pulau Nusa Penida diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan indept interview. Di Pulau Nusa Penida terdapat 700 orang kepala keluarga, kemudian ditentukan jumlah responden sebanyak 50 orang, terdiri atas 30 orang kepala keluarga dan 20 orang pelajar SMP dan SMA. Dipilihnya kepala keluarga dan pelajar sebagai nara sumber, karena orang-orang tersebut dianggap mengerti masalah faktor-faktor keberhasilan konservasi Jalak Bali di Pulau Nusa Penida. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Proses Hirarki Analitik (PHA) (Analitic Hirarchy Process) [29, 30, 31, 32]. Analisis tersebut melalui beberapa tahap yaitu Decomposition (dekomposisi), Comparative Judgement (perbandingan persepsi), Synthesis of Priority (sintesis prioritas), dan Logical Consistency (konsistensi penilaian). Responden diambil dari Desa Pakraman (Adat) Ped.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Populasi Jalak Bali Populasi Jalak Bali dari bulan Juli-November 2017 adalah sebagai berikut:
Dari bulan Juli-November 2017 populasi Jalak Bali di Pulau Nusa Penida bertambah. Hal ini terjadi karena keamanan Jalak Bali terjamin, dan keberhasilan reproduksi pada bulan Februari dan Juni. Keberhasilan ini juga didukung adanya awig-awig yang melindungi Jalak Bali, dan ketersediaan makanan sehingga burung tersebut dapat berkembang biak tiga kali dalam satu tahun.
Populasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida memenuhi batas minimal MVP dari Shaffer, dan Ne dari Franklin, yaitu 30 ekor [18]. Namun sayang, keberadaan burung-burung tersebut tersebar di lima lokasi, dan masing-masing lokasi tidak ada yang memenuhi batas minimal MVP dan Ne.
Akibatnya, pada masing-masing lokasi dapat terjadi perkawinan sedarah (inbreeding). Perkawinan sedarah menyebabkan terjadinya pertukaran gen antara induk dengan keturunannya, atau persilangan antar kerabat dekat. Hal ini cenderung memunculkan tekanan silang-dalam, ditandai oleh tingginya angka kematian, sedikitnya jumlah keturunan, dan munculnya keturunan yang
13 lemah, steril, serta memiliki keberhasilan reproduksi yang rendah [11]. Dengan demikian, konservasi Jalak Bali di Pulau Nusa Penida tersebut masih kurang sempurna.
Populasi Jalak Bali di Pulau Nusa Penida menunjukkan pola metapopulasi yang rumit. Satu populasi inti yang besar di Semeton inn, dan empat populasi satelit yaitu Pura Penataran Ped, Sental Kawan, Kulkul inn dan Pura Puseh. Populasi inti yang besar di Semeton inn dan Kulkul inn, tetap berhubungan dengan populasi satelitnya, sehingga bisa terjadi migrasi Jalak Bali diantara populasi inti dengan satelitnya.
Jadi di Pulau Nusa Penida populasi Jalak Bali bertambah banyak. Masyarakatnya taat pada awig- awig, sehingga keamanan burung terjamin. Sampai saat ini, tidak ada kasus pencurian ataupun gangguan terhadap Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida. Buah dan serangga makanan Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida juga tersedia sepanjang tahun sehingga burung tersebut mudah berkembang-biak.
B. Wawancara Masalah Awig-awig
Data awig-awig mendukung konservasi Jalak Bali diperoleh melalui observasi, wawancara, pengisian kuesioner dengan indept interview. Di Pulau Nusa Penida terdapat 700 orang kepala keluarga, rencananya yang diambil sebagai responden adalah 40 orang. Jumlah responden adalah sebagai berikut:
Kriteria yang paling penting bagi Konservasi Jalak Bali di Kepulauan Nusa Penida adalah kriteria awig-awig dengan nilai bobot 47,32%, kriteria Kesra dengan nilai bobot 23,43%, kriteria Kehati dengan nilai bobot 13,74%, kriteria Ekowisatadengan nilai bobot 11,89%, dan kriteria Hukum Formal dengan nilai bobot 3,62% (Gambar 2). Harapan masyarakat dengan adanya Jalak Bali, dapat menjadi daya tarik wisatawan ke Pulau Nusa Penida.
Hal tersebut di atas sesuai dengan beberapa pertanyaan yang diajukan kepada responden. Antara lain: bahwa seluruh warga sudah mengetahui bahwa Jalak Bali dilindungi awig-awig. Oleh karena itu, maka seluruh warga melindungi Jalak Bali. Contohnya, bila ada orang asing yang mengamati Jalak Bali, maka warga akan bertanya tujuan orang tersebut. Masyarakat lebih percaya dengan awig-awig daripada hukum formal, karena awig-awig dapat segera dilaksanakan tidak perlu menunggu proses yang lama. Sampai saat ini tahun 2017, belum ada warga ataupun pendatang
14 yang berani melanggar awig-awig tersebut. Sehingga hal-hal tersebut di atas sesuai dengan hasil wawancara dengan para responden. Masyarakat mendukung pelepasliaran Jalak Bali di Pulau Nusa Penida. Persepsi masyarakat terhadap awig-awig dalam melindungi Jalak Bali sangat positif sehingga sampai sekarang belum ada masyarakat yang melanggar awig-awig. Sebaliknya, di desa adat sekitar TNBB karena dalam awig-awig-nya tidak ada perlindungan terhadap Jalak Bali, sehingga terjadi pencurian Jalak Bali di TNBB.
4. SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan: Konservasi Jalak Bali di Pulau Nusa Penida berhasil karena melibatkan masyarakat, dan masyarakat mempunyai awig-awig yang salah satunya berisi perlidungan terhadap burung khususnya Jalak Bali.
Dari hasil penelitian ini dapat disarankan: 1. Setiap tahun dilakukan sensus Jalak Bali. 2.
Keberadaan awig-awig yang berisi larangan mengganggu Jalak Bali terus dijaga dan dilestarikan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] van Balen, B., Dirgayusa, I W. A., Putra, I M. W. A., Prins, H. H. T. 2000. Status and distribution of the endemic Bali starling (Leucopsar rothschildi). Oryx. 34(3): 188- 197.
[2] Sudaryanto, Djohan, T. S. Pudyatmoko, S. Subagja, J. 2015. Behaviour Bali starling at Bali Barat National Park and Nusa Penida Island. Journal Veteriner 16(3): 364-370. [3]
Schmidt, C. R. 1983. Jalak Bali (Leucopsar rothschildi).
(http://www.cites.org/eng/resources/ID/fauna/Volume2/A227.051.013.001%20Leuco psar%20rothschildi_E.pdf). Diakses tanggal 20 Agustus 2010.
[4] Anonymous. 1999. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999.
Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa. Presiden Republik Indonesia
(http://www.dephut.go.id/INFORMASI/pp/7_99.htm).Diakses tanggal 1 Juni 2009. [5]
Anonymous. 2012a. Leucopsar rotschildi. The IUCN Red List of Threated Species.
(http://www.iucnredlist.org/details/106006822/0). Diakses tanggal 1 Desember 2012.
[6] Anonymous. 2012b. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora. Appendices I, II and III. (http://www.cites.org). Diakses tanggal 1 Desember 2012.
[7] Sodhi, N. S., Koh, L. P., Brook, B. W., Ng, P. K. L. 2004. Southeast Asian
biodiversity: an impending disaster. TRENDS in Ecology and Evolution.19(12): 654- 660.
[8] Jepson, P., Prana, M., Amama, F. 2008. Developing a certification system for captive- bred birds in Indonesia. TRAFFIC Bulletin. 22(1): 7-9.
[9] Jepson, P., Ladle, R.J. 2008.Developing new policy instruments to regulate
consumption of wild birds: socio-demographic characteristics of bird-keeping in Java and Bali. Oryx in press.
[10] Butchart, S. H. M., Stattersfield, A. J. and Collar, N. J. 2006. How many bird extinctions have we prevented? Oryx. 40(3):266-278.
[11] Indrawan, M., Primack R. B., Supriatna, J. 2007. Biologi Konservasi. Yayasan Obor.
Jakarta.
[12] Sudaryanto. 2010. Populasi Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) Stresemann, 1912) di Pulau Nusa Penida Propinsi Bali. Prosiding Seminar Nasional Biologi. UIN-Malang. [13]
Dirgayusa, I W. 1995. Jalak Bali Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912: Tinjauan Status, Pengetahuan dan Konservasi. Workshop Important Bird Area. BirdLife International Indonesia Programme. Bogor.
[14] Sudaryanto, Imansyah, M. J., Suryakusumah, A. 2010. Perilaku Jalak Bali (Leucopsar
15 rothschildi Stresemann, 1912) di Taman Nasional Bali Barat. Prosiding Seminar
Nasional Biologi. UIN-Malang.
[15] Sutito, A. D., Sumampau, T., Prana, M. S. ,Susilo, H. D., Sudarwati, R., Atmaja, I K., Wirayuda, IG. N. B., Kasmono, A., Sultan, K., Febrian, M.,Candra, I., Bayu, V., Siran. 2012. Laporan Hasil Monitoring dan Evaluasi Program Konservasi Curik Bali/
Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) Di Taman Nasional Bali Barat dan Desa Sumber Klampok. Asosiasi Pelestari Curik Bali. Bogor.
[16] Collar, N.J., (Editor-in-chief), Andreev, A.V., Chan, S. Crosby, M.J., Subramanya, S.and Tobias, J. A. Maps by Rudyanto and Crosby, M. J. 2001. Threatened Birds of Asia: The BirdLife International Red Data Book. BirdLife International, Cambridge.
[17] MacKinnon, J., Phillipps, K., Van Balen, B. 2010. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Burung Indonesia. Bogor.
[18] van Balen, S., Gepak, V. H. 1994. Captive breeding and the conservation programme of the Bali Starling Leucopsar rothschildi. In Creative Conservation (eds G. Mace, P.
Olney and A. Feistner). Chapman and Hall, London.
[19] Sudaryanto. 2001. Populasi, Sebaran dan Habitat Burung Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat Serta Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Seminar Nasional Jalak Bali. Kantor Meneg LH. Denpasar 19-20 Juli 2001. 2010 Fakultas Biologi UGM.
Yogyakarta 24-25 September 2010.
[20] Sutito, A. D., Sumampau, T., Prana, M. S. ,Susilo, H. D., Sudarwati, R., Atmaja, I K., Wirayuda, IG. N. B., Kasmono, A., Sultan, K., Febrian, M., Candra, I., Bayu, V., Siran. 2012. Laporan Hasil Monitoring Dan Evaluasi Program Konservasi Curik Bali/
Jalak Bali(Leucopsar rothschildi) di Taman Nasional Bali Barat dan Desa Sumber Klampok. Asosiasi Pelestari Curik Bali. Bogor.
[21] Cahyadin, Y. 1993. Study Beberapa Aspek Ekologi Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) Pada Musim Berkembang Biak Di Teluk Kelor Taman Nasional Bali Barat. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Padjadjaran. Bandung. Skripsi.
[22] Suramenggala, I. 2013. Pengembangan desain pengelolaan kawasan konservasi dengan menggunakan analisis sistem dinamis di Taman Nasional Bali Barat.
Desertasi. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.
[23] Wirayudha, N. B. 2007. Pelepasliaran Dan Perlindungan Burung Jalak Bali di Nusa Penida. Frends of Natural Park Foundation. Nusa Penida. [24] Anonymous. 2013.
Klungkung Dalam Angka 2012 Keadaan Geografis.
(http://www.klungkungkab.go.id/asset/file_bank/Klungkung%20Dalam%20Angka%2 02012_K ondisi%20Geografis.pdf). Diakses tanggal 16 Maret
[25] van Balen, S. 1995. Metodologi sensus populasi Jalak Bali Leucopsar rothschildi di Taman Nasional Bali Barat. PHPA/BirdLife-Indonesia Programme. Bogor.
[26] Ralph, C. J. R., Droege, S., Sauer, J. R. 1997. Managing and Monitoring Birds UsingPoint Counts: Standards and Applications. USDA Forest Service Gen. Tech.
Rep.PSW-GTR.149: 161181.
[27] Bibby, C., Jones, M., Marsden, S. 2000. Teknik-teknik Ekspedisi Lapangan. Survei Burung. BirdLife International Indonesia Programme. Bogor.
[28] Per, E. and Aktaş, M. 2008. Breeding birds of the Inozu Valley in central Turkey.
Bird Census News 21(2): 44-53.
[29] Atmanti, H. D. 2008. Analytical hierarchy process sebagai model yang luwes.
Prosiding INSAHPS. Semarang.
[30] Saaty, T. L. 1993. Pengambilan keputusan bagi para pemimpin. Proses Hirarki
Analitik untuk pangambilan keputusan dalam situasi yang kompleks. Penterjemah: L.
Setiono. PT. Gramedia. Jakarta.
[31] Saaty, T.L. 1999. The seven pillars of the analytic hierarchy process. ISAHP
Procedings. Kobe [32] Saaty, T.L. 2008. Decision making with the analytic hierarchy process. Int. J. Services Sciences. 1(1): 83-98.
16
SUDARYANTO
17