Kajian Tentang Penyebaran Mangrove Dalam Penetapan Jalur Hujau (Green belt) Di Wilayah Pesisir Desa Nangahale Kecamatan Talibura dan Desa Reroroja Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka Privinsi Nusa Tenggara Timur
1Maria Yohanista, 2Maryany Dewi Mantari
1 Dosen Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan
2 Mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Email : [email protected]
ABSTRAK
Hutan mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan penting di wilayah pesisir dimana berfungsi sebagai penyedia nutrisi bagi biota perairan, tempat pemijahan, daerah asuhan (nursey ground) berbagai macam biota, penahan abrasi pantai, amukan angina taufan dan tsunami. Wilayah pesisir Kabupaten Sikka dengan panjang pantai 444,5 km adalah wilayah rawan bencana seperti abrasi dan gempa sehingga memerlukan perhatian khusus dalam pengelolaan wilayah tersebut. Salah satu bentuk upaya/kebijakan adalah menetapkan lebar jalur hijau di pesisir guna menjaga kelestarian dan pengelolaan ekosistem mangrove di wilayah pesisir dimana akan melindungi kawasan pantai dari abrasi, gelombang pasang dan tsunami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak negatif dari kerusakan hutan mangrove dan untuk mengetahui strategi yang di gunakan untuk pengembangan partisipasi masyarakat pesisir dalam pengolahan ekosistem hutan Mangrove yang ada di dua desa. Metode penelitian yang di gunakan adalah metode uji statistik, deskriptif kulitatif, dan analisis SWOT dengan mengunakan data primer dan data sekunder. Data primer di kumpulkan melalui kusioner (Quesioner), wawancara ( Interviuw) dan pengamatan (Observasi). Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari buku – buku, kantor desa dan dokumen – dokumen yang berkaitan dengan judul penelitian.
Hasil penelitian diperoleh bahwa berdasarkan analisis SWOT (1) kekuatannya adalah potensi pantai yang cocok menjadi habitat mangorove, terdapat keanekaragaman jenis mangrove yang tumbu di Desa Nangahale dan Desa Reroroja, adanya progam khusus dari lembaga atau instasi tertentu dalm pengolahan hutan mangrove; (2) kelemahannya adalah masi adanya lahan kosong, adanya organisasi atau kelompok yang menyediakan bibit, adanya upaya untuk reboisasi pantai;
(3) kelemahannya adalah sikap dan perilaku masyarakat yang acu taka cu terhadap matigasi bencana, rendanya kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan hutan mangrove, tidak adanya pengawasan kusus terhadap ekosistem mangrove dari masyarakat maupun lembaga atau instasi
terkait; (4) ancamannya adalah penumpukan sampah di areal hutan mangrove,bencana alam seperti banjir dan tsunami, dan perubahan iklim.
Kata Kunci : Mangrove, Masyarakat Pesisir dan Jalur Hijau.
PENDAHULUAN Latar Belakang
Hutan mangrove merupakan ekosistim utama pendukung kehidupan penting diwilayah pesisir. Hutan mangrove berfungsi sebagai penyedia nutrient bagi biota perairan , tempat pemijahan, daerah asuhan (nursery ground) beragai macam biota, penahan abrasi, amukan angina tofan dan tsunami. Di beberapa daerah pesisir di Indonesia sudah terliat adanya degradasi pantai akibat penebangan hutan mangrove yang melampoi batas kelestariannya. Hutan mangrove telah di ubah menjadi berbagai kegiatan pembangunan seperti perluasan area pertanian, pembangunan budidaya pertambakan, pembangunan dermaga dan lain sebagainya. Pemanfaatan wilaya pesisir tidak merusak ekosistim pesisir jika dilakukan penataan yang rasional, yaitu dengan memperhatikan segi-segi fungsi ekosistem pesisir dan lautan, serta konvrensi jalur hijau hutan mangrove untuk perlindugan pantai, pelestarian siklus hidup biota perairan pantai (ikan dan udang, kerang,penyu), terumbu karang rumput laut, serta mencegah industri air laut. Salah satu metode pendekatan pengolahan sumberdaya alam termasuk sumberdaya hutan mangrove adalah pendekatan pengolahan yang berbasis masyarakat. Pembangunan jalur hijau hutan pantai merupakan hal yang penting dan strategis untuk dilaksanakan dalam rangka perlindungan kawasan pantai dari abasi , glombang pasang dan tsunami. Dalam mend kung program pembangunan jalur hijau hutan pantai, dapat dilakukan juga sumberdaya pembenian untuk menghasilkan benih unggul yang berkualitas untuk tanaman pantai serta untuk meningkatkan kepadatan masyrakat melalui berbagai potensi manfaat yang terus di kembangkan (Mile, 2007).
Rumusan Masalah
1. Apa dan bagaimana dampak negatif tingkat kerusakan dari hutan mengrove ?
2. Apa saja alternatif atau strategi yang digunakan untuk pengembangan partisipasi masyarakat pesisir dalam pengelolaan ekosistem hutan mangrove ?
Tujuan Penelitian
1. Mengetahuhi dampak negatif dari kerusakan hutan mangrove.
2. Mengetahuhi alternatif atau strategi yang digunakan untuk pengembanagan partisipasi masyrakat pesisir dalam pengelolaan ekosistem hutan mangrove.
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Oktober 2011 di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura dan Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dengan deskritif, peneliti menggambarkan situasi atau kejadian untuk mencapai akumulasi data-data dasar. Lebi dari itu, melalui penelitian ini memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena, menerangkan hubungan, membuat prediksi serta mendapatkan makna dan implikasi suatu masalah yang ingin dipecakan. Untuk menerangkan metode ini, peneliti menggunakan teknik wawancara, schedule questionair ataupun interview guide (Nazir, 2005). Untuk mengetahui presepsi masyarakat tentang jalur hijau digunakan kuesoner dan menggunakan analisis SWOT kemudian peneliti juga menggunakan citra satelit untuk mengetahui luas kawasan hutan mangrove Desa Nangahale, Kecamatan Talibura dan Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda.
Prosedur Penelitian a. Wawancara
Metode wawancara adalah proses memperoleh keterangan dengan cara bertanya jawab (Bengen, 2001). Wawancara dilakukan untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam yang berhubungan dengan judul penelitian.
b. Observasi
Observasi langsung untuk mendapatkan invormasi dengan cara menggunakan pengamatan langsung di lokasi penelitian yaitu Desa Nangahale, Kecamatan Talibura dan Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda.
Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Menurut Ruslan (2013) Data primer merupakan data yang di peroleh secara langsung dari objek penelitian yaitu jalur hijau di
wilayah pesisir dan masyarakat pesisir khususnya Desa Nangahale, Kecamatan Talibura dan Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Data sekunder merupakan data yang sudah jadi melalui publikasi dan informasiyang dikeluarkan dari berbagi organisasi atau perusahaan (Ruslan, 2009). Pengumpulan data sekunder dapat diperoleh dari Wetlans Internasional, Internet serta Kantor Desa Nangahale dan Desa Reroroja.
Metode Pengambilan Sampel
Penelitian ini menggunakan metode deskripstif kualitatif dimana menggambarkan situasi atau kejadian untuk mencapai akumulasi data-data dasar. Untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang jalur hijau digunakan kuesioner dan menggunakan analisis SWOT kemudian peneliti juga menggunakan citra satelit untuk mengetahui luas kawasan hutan mangrove di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura dan Desa Reroroja Kecamatan Magepanda.
Analisis Data
Analisis yang digunakan pada penelitian ini ada beberapa, yaitu :
1. Tes Uji Validitas berguna mengetahui apakah ada pernyataan-pernyataan pada kuesioner yang harus dibuang atau diganti karena dianggap tidak relevan.
𝑟𝑥𝑦 = n. ∑x. y − (∑𝑥)(∑𝑦)
√(𝑛. ∑𝑥2) − (∑𝑥2) (𝑛. ∑𝑦2) − (∑𝑦2)
2. Tes Uji Realibilitas dipergunakan untuk memastikan apakah kuesioner penelitian yang akan dipergunakan untuk mengumpulkan data variable penelitian yang akan dipergunakan untuk mengumpulkan data variable penelitian reliable atau tidak. Pada penelitian ini menggunakan realibilitas interval yaitu diperoleh dengan cara menganalsis data dari satu kali hal pengetesan dengan rumurs alpa yaitu :
𝐴 = [ 𝐾
𝐾 − 1] [1 − ∑𝑎𝑏2 𝑎𝑡2 ]
3. Uji Normalitas untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak dimana model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang terdistribusi normal.
𝐴 =(𝑓0 − 𝑓ℎ)2 𝑓ℎ
4. Analisis Regresi Linear yang digunakan adalah regresi linear sederhana yaitu dengan satu buah variabel bebas dan satu buah variable terikat, dimana menggunakan program computer SPSS (Statistical Package For Service Solution).
5. Analisis Koefisien Korelasi Pearson
𝑟𝑥𝑦 = n. ∑x. y − (∑𝑥)(∑𝑦)
√(𝑛. ∑𝑥2) − (∑𝑥2) (𝑛. ∑𝑦2) − (∑𝑦2) 6. Analisis Determinasi
𝐶𝐷 = 𝑟2𝑋 100 %
7. Analisis SWOT digunakan untuk dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan Peluang (Opportunites) namun secara bersamaan dapat menimbulkan kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threats). Analisis SWOT dalam penelitian ini adalah analisis SWOT yang berkaitan dengan masyarakat pesisir, factor-faktor yang menyebapkan kerusakan ekosistim mangrove dan upaya penyelamatan di Desa Nangahale dan Desa Reroroja, Kabupaten Sikka.
8. Analisis Terhadap Citra Satelit digunakan untuk mendukung berbagai bidang dalam aplikasi seperti : geografi, pemetaan, hidrologi, dan oseanografi. Citra satelit mampu menyediakan informasi kenampakan objek dan kegiatan manusia di permukaan bumi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Desa Nangahale
Luas wilayah Desa Nangahale adalah 17,81 km². Batas-batas wilayah Desa Nangahale sebagai berikut :
➢ Utara : Laut Flores
➢ Selatan : berbatan dengan Desa Tuabao
➢ Timur : berbatasan dengan Desa Talibura
➢ Barat : berbatasan dengan Desa Runut Gambaran Umum Desa Reroja
Desa Reroja merupakan salah satu dari lima desa di Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka terletak di ujung barat, yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Ended an sebagai gerbang masuk wilayah kabupaten jalur pantura. Desa Reroja awalnya merupakan pemekaran dari Desa Magepanda Kecamatan Nita pada tahun 1999 dan batas-batas :
➢ Utara : Laut Flores
➢ Selatan : Desa Parabubu
➢ Timur : Desa Magepanda dan Desa Done
➢ Barat : Desa Tou Timur Kabupaten Ende
Bentuk topografi Desa Reroja terdiri dari daratan rendah, bukit, lembah dan gunung, sebagian dari hamparan daratan rendah dijadikan daerah persawahan sebagai andalan sektor pertanian desa. Keadaan tanah cukup subur dan cocok untuk tanaman komoditi, palawija dan sayur-sayuran. Luas wilayah secara keseluruhan adalah 4.197 km². profil pantai 45% terlindung dari hamparan hutan mangrove dengan luas hamparan 45% sedangkan 55% lainnya merupakan hamparan yang gundul dan rusak disebabkan oleh bencana alam (gempa tektonik 1992), penebangna liara untuk bahan bakar, bahan bangunan rumah srta makan ternak. Hamparan terumbukarang diperairan Desa Reroja menyebar hampir seluruh tetapi ada kerusakan yang cukup besar yang disebabkan oleh pemboman, potassium sianida dan gempa bumi.
Penentuan Sampel
Untuk Desa Nangahale yang menjadi responden adalah 38 KK yang tepat tinggalnya berada pada titlk rawan bencana sehingga peneliti tidak menggunakan rumus sampel untuk menentukan responden. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan sampel sebanyak 73 KK untuk mengetahui variabel X dan Y.
Uji Kualitas Data
Uji kualitas data digunakan untuk mengetahui pengaruh jalur hijau terhadap mitigasi bencana dengan pemberian kuisoner terhadap masyarakat di Desa Reroja dana Desa Nangahale maka dilakukan beberapa pengujian:
Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur sehingga sebuah insrumen dapat dikataka valid. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa koefisien korelasi product moment untuk setiap butir pertanyaan dengan melihat pada corrected item-total correlation (terlampir) sebagai r hitung dan membandingakan r tabel pada taraf kesalahan 5% n
= 38 yaitu 0,320 maka diperoleh untuk variabel x hasil butir angket 1,2,5-9 adalah valid.
Sedangkan utnuk variabel y hasil butir angket 1,2,4,7 dan 10 adalah valid.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa koefisien korelasi product moment untuk setiap butir pertanyaan dengan melihat pada corrected item-total correlation (terlampir) sebagai r hitung an menbandingkan r tabel pada rataf kesalahan 5% n= 73 yaitu 0,235 maka diperoleh utnuk
variabel x hasil butir angket 1,3,5-9 adalah valid. Sedangkan untuk variabel y hasil butur angket 1-8 dan 10 adalah valid.
Responden adalah nelayan yang hidup di wilayah pesisir dimana mereka sngat bergantung pada hasil laut. Responden yang menjadi sampel memahami tentang pentingnya kawasan jalur hijau karena mereka sering diberiikan penyuluhan dan mengikuti penyuluhan yang berkaitan dengan mangrove
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut : Masyarakat di di Desa Nangahale dan Desa Reroroja, Kabupaten Sikka cukup baik dalam memahami pentingnya kawasan jalur hijau dan manfaat jalur hijau bagi mitigasi bencana dimana berdasarkan responden di Desa Nangahale diterminasi kontribusi jalur hijau terhadap mitigasi bencana adadlah 27,7% dan 72,3% dipengaruhi oleh faktor lain misalnya perilaku dan sikap masyarakat terhadap mitigasi bencana. Sedangkan untuk Desa Reroroja kontribusi jalur hijau terhadap mitigasi bencana adalah 43,3% dan 56,7% dipengaruhi oleh factor lainnya misalnya perilaku dan sikap masyarakat terhadap mitigasi bencana. Sedangkan Berdasarkan analisis data menggunakan Analisis SWOT untuk meliat kekuatan, peluang, kelemahan, dan ancaman yang terjadi pada masyarakat pesisir di Desa Nangahale dan Desa Reroroja terhadap jalur hijau dan mitigasi bencana.
DAFTAR PUSTAKA
Bengen, Dietriech G. 2004. Sinopsis Ekosistim dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Lautan Serta Perinsip Pengelolaannya. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lutan, Institup Pertanian Bogor.
Bungin. B. 2009. Metedologi Penelitian Kuantitatif, Karena Prenada Media Groop. Jakarta.
Mile, M. Yamin. 2007. Pengembangan spesies tanaman pantai untuk Rehabilitasi dan Perlindungan Kawasan Pantai Pasca Tsunami (The Development of Coastal Species for Rehabilitation and Protction Coastra Regions After Ttsunami) . Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemulian Tanaman Hutan. Ciamis.
Nasir, M. 2005. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Bogor