i Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK
Manusia diciptakan memiliki 3 elemen utama dalam hidup yaitu, fisik, emosi dan jiwa. Saat
mengalami tekanan pada salah satu elemen tersebut menyebabkan ketidakseimbangan pada
elemen yang lain karena ketiga elemen tersebut saling mendukung satu sama lain. Sehingga
manusia memasuki sebuah tahap dimana terdapat kejenuhan dengan kondisi yang dialami
yang dinamakan dunia medis dengan stress. Setiap elemen dapat mengalami stres, bila stres
berkelanjutan dan tidak terobati dapat menyebabkan gangguan pada kejiwaan yang berakhir
pada fase kegilaan bahkan dapat menyebabkan kematian. Dengan semakin padatnya aktifitas
yang dimiliki tiap-tiap pribadi saat ini, dapat dicermati betapa mudahnya kita untuk
mengalami stress tersebut. Mengambil hikmah dari apa yang terjadi saat ini baiklah bila
terdapat sebuah fasilitas untuk menyalurkan kegelisahan dan mendapatkan terapi lanjutan.
ii Universitas Kristen Maranatha
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah pencipta langit dan bumi atas hikmah, berkat dan
bimbingan-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan sebaik-baiknya. Adapun
judul perancangan tugas akhir ini adalah "PERANCANGAN STRESS CARE CENTER".
Tugas ini dapat terlaksana berkat dukungan dan kerjasama yang baik dari dosen pembimbing
tugas akhir, teman-teman serta pihak lain sehingga dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Tuhan Yesus Kristus yang telah menuntun dan memberikan hikmah kepada penulis
untuk mengetahui apa yang harus penulis buat.
2. Bapak Gai Suharja, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas
Kristen Maranatha
3. Bapak Krismanto K, ST.,MT., selaku Ketua Jurusan Desain Interior dan dosen mata
kuliah studi mandiri.
4. Ibu Yunita Setyoningrum M.Ds., selaku Sekretaris Jurusan Desain Interior.
5. Bapak Yuma Candrahera, S.sn., selaku Koordinator Tugas Akhir Desain Interior atas
konsultasi dan sarannya.
6. Bapak Drs. Rahman Yuda, MBA., selaku dosen pembimbing I yang telah banyak
membantu dan membimbing selama pengerjaan tugas akhir ini.
7. Ibu Ryanty Derwentyana, S. ds, selaku dosen pembimbing II yang telah banyak
membantu dan membinbing selama pengerjaan tugas akhir ini.
8. Dosen-dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha lainnya
yang telah mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan selama penulis menuntut ilmu
iii Universitas Kristen Maranatha
9. Keluarga dan orang tua yang selalu mengasihi, mendampingi dan mendukung secara
jasmani dan rohani.
10.Teman-teman dan pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat memberikan informasi yang
diperlukan. Segala kritik dan saran sangat diharapkan sebagai masukan yang berharga
Bandung, 18 Juni 2011
iv Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR ISI
Halaman Judul... i
Abstrak... ii
Kata Pengantar... iii
Daftar Isi... v
Daftar Gambar... viii
Daftar Tabel dan Diagram... x
Bab I PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang Masalah... 1
1.2 Ide Gagasan... 3
1.3 Identifikasi Masalah... 4
1.4 Tujuan Perancangan... 5
1.5 Sistematika Penulisan... 6
Bab II PEMAHAMAN DAN KEBUTUHAN FASILITAS STRESS CARE CENTER.. 7
2.1 Stress... 7
2.1.1 Stres Kerja... 11
2.1.2 Dampak Stres Kerja... 15
2.1.3 Gejala- Gejala Stress... 15
2.2 Terapi... 18
2.2.1 Meditasi... 18
2.2.2 Destructotherapy... 19
2.2.3 Reflexology... 20
2.2.4 Konseling... 21
2.2.5 Hypnotherapy... 22
2.2.6 Zen Therapy... 23
2.3 Standar Perancangan... 25
2.3.1 Elemen Desain Interior... 25
v Universitas Kristen Maranatha
2.3.2 Kenyamanan Manusia... 44
2.3.3 Ergonomi... 51
Bab III STRESS CARE CENTER... 55
3.1 Deskripsi Objek Studi... 55
3.1.1 Analisa Fungsi... 56
3.1.2 Analisa User... 57
3.1.3 Tabel Kebutuhan Ruang... 60
3.2 Tema dan Konsep... 61
3.2.1 Tema Peaceful... 61
3.2.2 Konsep Releasing... 62
3.2.2.1 Konsep Material... 63
3.2.2.2 Konsep Bentuk... 64
3.2.2.3 Konsep Warna... 65
3.2.2.4 Konsep Pola... 66
3.2.2.5 Konsep Skala... 67
3.2.2.6 Konsep Penghawaan... 69
3.2.2.7 Konsep Pencahayaan... 69
3.3 Analisa Bangunan dan Site... 74
3.3.1 Analisa Bangunan... 74
3.3.2 Analisa Site... 76
3.4 Survey Fungsi Sejenis... 80
3.4.1 Canyon View Office... 80
3.4.2 Yelo Reflexology Napping, New York... 83
3.5 Programming Ruang... 85
3.5.1 Bubble Diagram... 86
3.5.2 Matrix Diagram... 87
3.5.3 User Activity... 87
3.5.4 Mind Map Therapy... 91
vi Universitas Kristen Maranatha
3.5.6 Zoning dan Blocking... 98
Bab IV PERANCANGAN STRESS CARE CENTER... 99
4.1 Penerapan Tema dan Konsep Dalam Desain... 99
4.2 Perancangan General... 100
4.3 Perancangan Area Khusus... 102
4.3.1 Entrance... 102
4.3.2 Lobby dan Receptionist... 103
4.3.3 Smoking Room... 104
4.3.4 Cafe... 106
4.3.5 Waiting Room... 108
4.3.6 Reading Room... 109
4.3.7 Reflexology Area... 110
4.3.8 Ruang Meditasi... 112
4.3.9 Ruang Konseling dan Hypnotherap... 113
4.3.10 Ruang Destructotherapy... 114
4.3.11 Office Area... 115
Bab V SIMPULAN DAN SARAN... 117
5.1 Simpulan... 117
5.2 Saran... 120
vii Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.2.2.1 Destruction Therapy... 20
Gambar 2.2.6.1 Zen Interior... 24
Gambar 2.3.1.1.1 Bentuk dua dimensi dan tiga dimensi... 26
Gambar 2.3.1.1.2 Sebuah pola dapat diubah menjadi bentuk bulat atau elips... 27
Gambar 2.3.1.1.3 Plaza yang berbentuk oval pada arsitektur Barok... 27
Gambar 2.3.1.2.1 Skala berdasarkan objek... 29
Gambar 2.3.1.2.2 Ruang skala kecil dan skala besar berdasarkan skala hubungan 29 Gambar 2.3.1.2.3 Potongan dan denah pada ruang dengan skala yang berbeda.... 30
Gambar 2.3.1.5.1 Ruang yang didesain dengan material tekstur... 41
Gambar 2.3.1.6.1 Pola lantai... 44
Gambar 2.3.2.1 Gambar Kebutuhan Manusia akan Lighting... 45
Gambar 2.3.2.2 Reflection, Absoption and Transmission... 46
Gambar 2.3.2.3 Glare... 47
Gambar 2.3.2.4 Reflected Glare... 47
Gambar 2.3.1.5 Panas dari Pelingkup Bangunan... 48
Gambar 2.3.3.1 Personal Space... 53
Gambar 3.2.2.3.1 Elemen manusia... 65
Gambar 3.2.2.4.1 Pola memusat... 67
Gambar 3.2.2.5.1 Ekspos Rangka Atap... 68
Gambar 3.2.2.5.2 Ruangan Luas... 68
Gambar 3.2.2.7.1 Pencahayaan Alami... 70
Gambar 3.2.2.7.2 Pencahayaan Buatan... 70
Gambar 3.3.1.1 Pemetaan Site SMAK DAGO... 75
Gambar 3.3.1.2 Fasad Bangunan SMAK DAGO... 76
Gambar 3.4.1.1 Canyon View Office Site Plan... 80
Gambar 3.4.1.2 Canyon View Office Section Plan... 81
viii Universitas Kristen Maranatha
Gambar 3.4.1.5 Canyon View Office Interior... 82
Gambar 3.4.2.1 Exterior Yelo Reflexology Napping... 83
Gambar 3.4.2.2 Lobby Yelo Reflexology Napping... 84
Gambar 3.4.2.3 Reflexology Room... 85
Gambar 3.5.6.1 Zoning dan Blocking... 98
Gambar 4.2.1 General plan... 101
Gambar 4.2.2 Specific plan... 101
Gmabar 4.3.1.1 Entrance Area... 102
Gambar 4.3.2.1 Lobby and Receptionist... 104
Gambar 4.3.3.1 Smoking Room... 105
Gambar 4.3.4.1 Bar dan Cashier... 106
Gambar 4.3.4.2 Cafe View 1... 107
Gambar 4.3.4.3 Cage View 2... 107
Gambar 4.3.5.1 Waiting Room... 109
Gambar 4.3.6.1 Reading Room... 110
Gambar 4.3.7.1 Reflexology Area View 1... 110
Gambar 4.3.7.2 Reflexology Area View 2... 111
Gambar 4.3.8.1 Top View Meditation Room... 113
Gambar 4.3.8.2 Elevation Meditation Room... 113
Gambar 4.3.9.1 Topview Counseling Room and Hypnotherapy... 114
Gambar 4.3.10.1 Topview Destructotherapy... 115
ix Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR TABEL DAN DIAGRAM
Tabel 2.1.1.1 Sumber Stress... 14
Tabel 2.3.1.1.1 Pengaruh bentuk terhadap kondisi psikologi manusia... 28
Tabel 2.3.1.3.1 Tabel faktor refleksi warna bahan permukaan bangunan... 34
Tabel 2.3.1.4.1 Tabel efek psikologis manusia terhadap warna... 37
Tabel 3.1.3.1 Kebutuhan Ruang... 61
Tabel 3.2.2.7.1 Tabel Konsep... 40
Tabel 3.3.2.1 Analisis Site... 79
Diagram 3.5.1.1 Bubble Diagram Kantor... 86
Diagram 3.5.1.2 Bubble Diagram General... 86
Diagram 3.5.2.1 Hubungan kedekatan Ruang... 87
Diagram 3.5.4.1 Mind Set R. Konseling... 92
Diagram 3.5.4.2 Mind Set R. Hypnotherapy... 92
Diagram 3.5.4.3 Mind Set R. Meditasi... 93
Diagram 3.5.4.4 Mind Set R. Destructotherapy... 93
Diagram 3.5.4.5 Mind Set R. Reflexology... 94
Diagram 3.5.4.6 Mind Set Zen Therapy... 94
1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan kota-kota besar di Indonesia, mengalami kemajuan yang cukup pesat
dalam berbagai bidang, seperti dalam bidang ekonomi, sosial, budaya dan pariwisata.
Berbagai pola aktivitas dan kebutuhan hidup masyarakat yang semakin ramai
menyebabkan kepadatan di berbagai sektor, misalnya lahan perumahan yang
semakin sempit, akses transportasi yang semakin sulit dan waktu yang terbuang di
jalan dikarenakan kemacetan lalu lintas yang tidak dapat dihindarkan. Maka wajar
bila orang-orang yang bekerja akan berangkat pada pagi hari dan pulang di malam
hari. Dari pola hidup yang berulang-ulang dan cenderung membosankan,
menimbulkan terjadinya kepenatan dan jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan
2 Universitas Kristen Maranatha Stress adalah suatu kondisi tekanan dari luar memberikan pengaruh pada tubuh kita.
Tubuh dibagi menjadi 3 bagian penting yaitu fisik, emosi dan mental.
Masing-masing bagian memiliki tipe stress sendiri, stress fisik didapati karena tenaga yang
digunakan tanpa istirahat biasanya gejala dari stress fisik adalah sakit kepala, sakit
leher dan otot tegang. Bila sudah melebihi batas akan menimbulkan kelelahan yang
amat sangat, kegugupan, insomnia 1
Saat ini tidak ada orang yang tidak mengalami stress dan proses pemenuhan
kebutuhan akan stress sangat tipis di Indonesia. Setiap proses pekerjaan dan
kebutuhan pasti memiliki jenis pemenuhan tersendiri seperti saat seseorang lapar, ia
akan makan, saat seseorang ingin pergi, ia butuh transportasi. Fasilitas dan
pemenuhan tersebut yang dibutuhkan untuk masyarakat modern dewasa ini. Dengan
adanya institusi khusus untuk memenuhi kebutuhan seseorang saat dilanda berbagai
macam stress baik fisik, emosi maupun mental maka angka kematian dan gangguan darah tinggi, stroke, sakit jantung dan
kerontokan rambut. Biasanya dampak dari stress fisik yang tidak ditanggulangi
menyebabkan gangguan pada emosi. Emosi terganggu, marah, frustasi, depresi
merupakan gejala yang dapat dicermati bila seseorang sedang mengalami gangguan
emosional. Dan bila kedua tingkat stress tersebut masih terus berlanjut kondisi
selanjutnya adalah gangguan pada mental atau kejiwaan, efeknya adalah menarik diri
dari pergaulan, fobia, gangguan dalam nafsu makan dan perasaan diteror. Jika ketiga
hal tersebut tidak segera ditanggulangi maka pengidap stress akan kelebihan beban
dan berakhir pada gangguan jiwa.
1
3 Universitas Kristen Maranatha kejiwaan yang disebabkan oleh tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi dapat
diminimalkan.
Semua jenis pekerjaan tentu mempunyai titik jenuhnya, didasarkan juga pada kondisi
psikologis pekerjanya. Bahkan pekerjaan yang terdengar mudahpun misalnya,
sebagai ibu rumah tangga juga menyebabkan stress karena pengulangan aktivitas
yang monoton. Juga sebagai seorang profesional, pegawai, buruh dan
pekerjaan-pekerjaan lain menyebabkan berbagai macam stress. Hanya pemenuhan kebutuhan
akan stress antara tiap-tiap pekerjaan bisa saja berbeda. Sebagai contoh, ibu rumah
tangga yang kesehariannya berada di rumah dan mengurus rumah, akan merasakan
kebosanan akan rumah itu sendiri berbeda dengan orang kantoran yang sepertiga
hidupnya dihabiskan untuk bekerja di kantor, mereka akan lebih nyaman dengan
kondisi yang homy.
Maka dapat dilihat pada umumnya sarana untuk melepas kepenatan berbeda. Ibu
rumah tangga lebih senang untuk pergi ke mall, belanja, mencari kesibukan diluar
berkumpul bersama teman dan berbagi cerita. Sedangkan untuk orang kantoran yang
lelah dengan pekerjaan yang padat biasanya lebih menyukai tempat-tempat relaksasi
yang cenderung tenang dan melepaskan ketegangan pada otot-otot saat bekerja.
1.2 Ide Gagasan
Dalam pertumbuhan penduduk yang semakin cepat dan padat ini, dibutuhkan sebuah
lembaga atau institusi khusus untuk mengelola dan menyalurkan stress yang didapat
4 Universitas Kristen Maranatha tetapi juga mendapatkan timbal balik dengan adanya terapi-terapi psikologis untuk
mencegah terjadinya stress berkelanjutan.
Institusi ini diharapkan dapat memfasilitasi para pengunjung terutama para
profesional dan karyawan dengan pemenuhan kebutuhan akan stress mereka
misalnya untuk stress fisik disediakan ruangan untuk relaksasi, untuk stress
emosional dapat dipenuhi dengan menyediakan ruangan untuk melampiaskan
kemarahan dan diakhiri dengan konseling pribadi. Dengan konseling pribadi ini,
pengidap stress dapat meluapkan kegelisahan dan memperoleh pendapat psikolog
tentang masalah yang sedang dihadapi. Dengan cara tersebut diharapkan pengidap
stress dapat menanggulangi masa-masa stressnya dan untuk kedepannya dapat
mengatur tingkat stress yang didapat.
Lokasi bangunan sendiri berada di pusat kota yaitu di jalan Dago yang relatif mudah
dijangkau oleh masyarakat. Penulis menganggap lokasi tersebut cocok sebagai
tempat pelepas stress karena terdapat banyak bukaan dan ruang-ruang luar yang
dapat digunakan sebagai sarana terapi. Penulis akan merancang sebuah bangunan
yaitu Stress Care Center.
1.3 Identifikasi Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam perancangan Stress Care Center adalah
sebagai berikut:
a. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pengidap stress untuk dapat
5 Universitas Kristen Maranatha b. Bagaimana mendesain sebuah fasilitas untuk orang-orang yang sedang
mengalami stress?
c. Bagaimana mengolah ruang yang bersifat tenang yang memberikan efek
kelegaan pada pengunjung?
d. Bagaimana mengelola elemen desain dan furniture agar memberikan
kenyamanan dan efek yang positif bagi kejiwaan pada pengidap stress?
e. Bagaimana mengolah unsur modern kontemporer pada bangunan kolonial
yang terkesan tua?
1.4 Tujuan Perancangan
Perancangan Stress Care Center ini diharapkan dapat memberikan dampak positif
baik bagi pembaca maupun bagi penulis sendiri. Maka, dalam pengolahan Stress
Care Center ini ada beberapa tujuan yang ingin penulis capai, yaitu:
a. Menciptakan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang sedang
mengalami stress.
b. Mengolah ruang yang bersifat tenang, bertujuan agar pengunjung yang
menggunakan ruang tersebut dapat melepaskan stress.
c. Mengelola elemen desain dan furniture serta mempelajari material yang tepat
untuk memberikan kenyamanan pada penunjung dan menimbulkan energi
positif yang memacu kondisi psikologis pengidap stress untuk merespon
lingkungannya.
d. Mengolah unsur-unsur dan material-material modern kontemporer dengan
6 Universitas Kristen Maranatha 1.5 Sistematika Penulisan
Dalam penulisan laporan perancangan Stress Care Center ini terdapat
sistematika penulisan yang terdiri dari 5 bab.
Bab I merupakan bab Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang
pemilihan topik perancangan, identifikasi maslaah yang membahas permasalahan
dalam perancangan, serta sistematika penulisan yang terdapat pada laporan
perancangan ini.
Bab II adalah bab Landasan Teori. Pada bab 2 dipaparkan teori-teori
pendukung yang didapat dari berbagai sumber sebagai landasan perancangan obyek
Tugas Akhir yang dipilih. Teori pendukung ini didapat melalui studi literatur, yaitu
melalui buku dan juga internet.
Bab III yaitu bab Deskripsi Obyek Studi. Bab ini berisi penjelasan mengenai
proyek yang akan dibuat, analisa-analisa terhadap obyek studi (baik berupa analisis
fisik maupun fungsional), serta analisis pengguna dan program (programming).
Bab IV adalah bab Perancangan yang memaparkan tema yang dipilih,
penjelasan konsep, dan aplikasi konsep pada perancangan.
Bab V sebagai bab terakhir adalah bab Simpulan dan Saran yang berisi
kesimpulan dari perancangan yang telah dibuat dan saran yang ditujukan bagi
117 Universitas Kristen Maranatha
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
Setelah melalui proses perancangan maka penulis pada bab ini akan menyimpulkan
hasil perancangan yang telah penulis buat dan memberikan saran yang penulis
harapkan dapat berguna bagi pembaca maupun bagi penulis sendiri.
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil dari perancangan dan studi yang penulis lakukan, dapat
disimpulkan beberapa hal sebagai berikut, yaitu:
a. Manusia merupakan makhluk yang sensitif dengan berbagai masalah yang
kompleks yang dapat memicu terjadinya kelabilan emosi sehingga
menimbulkan stres ringan, dan bila tidak segera diatasi stres yang bertumpuk
118 Universitas Kristen Maranatha
b. Ada berbagai cara penyaluran stres, misalnya dengan reflexology yang dapat
mengendurkan urat-urat syaraf yang tegang. Untuk pribadi yang
membutuhkan saran dan perawatan lebih lanjut, bisa melakukan konseling
dengan para psikolog.
c. Cara penyaluran stres manusia ada bermacam-macam, mulai dari cara yang
halus contohnya berkumpul bersama teman atau keluarga, menonton film
yang disenangi, atau sekedar mendengarkan lagu. Tetapi ada juga pribadi
yang emosinya meledak-ledak hingga susah dikendalikan dan dapat memicu
pengrusakan. Maka perlu adanya tempat terapi khusus bagi pribadi ini
sehingga dapat melampiaskan dan mengontrol emosinya.
d. Desain dibuat untuk menghindarkan user dari kehidupan sehari-hari yang
monoton. Maka dalam perancangan tempat-tempat pelepas stres, dibutuhkan
ruang-ruang perantara yang dapat mengantarkan user memasuki kondisi
relaks sebelum masuk ke ruang terapi utama.
e. Untuk mendapatkan kesan rileks dalam ruangan dapat dilakukan berbagai
cara pendekatan interior:
• Bentuk
Bentuk-bentuk yang dipakai dalam pengolahan desain interior dapat
mempengaruhi kondisi psikologis user yang menggunakan ruangan tersebut.
lengkung-119 Universitas Kristen Maranatha
lengkung halus, dan garis-garis horizontal dapat membawa efek psikologis
perlindungan, kehangatan, lembut, ketenangan, kedamaian dan
persahabatan.
• Warna
Sudah sejak dulu warna dipakai untuk melakukan terapi pada kejiwaan
manusia. Warna-warna yang memberikan efek psikologis tenang dan damai
adalah biru, hijau dan putih. Tapi saat penggunaan warna tersebut terlalu
dominan maka user akan sulit membedakan hal yang rileks dan tidak, maka
penulis menggunakan warna-warna pembanding minor agar user merasakan
suasana rileks dengan cara membandingkan antara suasana yang rileks dan
yang tidak. Warna kontras yang dimaksud penulis adalah warna merah dan
coklat.
• Material
Bahan-bahan yang dipakai dalam konsep perancangan interior juga dapat
mempengaruhi kondisi psikologis penggunanya. Bentuk kasar dapat memicu
penolakan pada jiwa seseorang, sedangkan bentuk-bentuk lembut lebih
mudah diterima oleh kebanyakan orang. Maka penulis menggunakan
material-material dengan finishing halus agar tidak menyerang kondisi user.
Tetapi untuk mengantarkan user pada kondisi yang diinginkan, penulis
memberikan adaptasi penggunaan material mulai dari material paling kasar,
120 Universitas Kristen Maranatha
5.2 Saran
Setelah penulis menarik kesimpulan dari data-data studi literatur dan perancangan
Stress Care Center, maka penulis bermaksud untuk memberikan saran yang
bermanfaat bagi pembaca maupun peneliti dan perancang berikutnya .
Terdapat beberapa saran yang dapat menjadi masukan bagi pembaca, yaitu:
a. Kita hendaknya peka dengan kondisi sosial dan lingkungan yang ada
disekitar kita. Maka dengan kepekaan yang kita miliki, dapat merancang
sebuah karya yang berdasarkan kebutuhan masyarakat saat ini sehingga dapat
mengurangi permasalahan yang berada didalam maupun diluar lingkungan
sosial ataupun komersial.
b. Karena isu pemanasan global bukanlah hal-hal yang baru saat ini, hendaknya
kita sebagai desainer juga ikut menjaga kelestarian alam dengan
menggunakan bahan-bahan yang sehat dan hemat energi. Salah satu cara
yang paling mudah yaitu mengganti penggunaan lampu fluorescent dan
incandescent dengan lampu LED yang hemat energi.
c. Dalam perancangan tempat-tempat terapi kejiwaan, perlu diperhatikan
penggunaan bentuk, material dan bahan. Maka sebelum merancang sebuah
gedung, diharapkan desainer meneliti dan merencanakan terlebih dahulu
material, bahan dan bentuk-bentuk apa yang dapat digunakan sehingga
121 Universitas Kristen Maranatha
d. Bagi pembaca, kondisi kejiwaan memang patut dijaga dalam jangka panjang
maka saat mengalami stres ringan hendaknya disalurkan pada
hiburan-hiburan disekitar sehingga tekanan dapat disalurkan. Bila sudah merasa tidak
mampu dalam menyelesaikan masalah dan membutuhkan pertolongan orang
yang lebih berpengalaman ada baiknya bila melakukan konseling dengan
Universitas Kristen Maranatha
DAFTAR PUSTAKA
Beehr, T. A. (1978). Psychologycal Stress In The Workplace. London: Rotledge.
Copper, Cory L. (1981), Executive Families Under Stress,California: Prentice Hall Inc.
Cooper, C. L., Dewe, P. J., & O’Driscoll, M. P. (1991). Organizational Stress: A Review and
Critique of Theory, Research, and Applications. California : Sage Publications, Inc.
Greenberg, J., & Baron, R. A. (1993). Behavior In Organizations: Understanding And
Managing The Human Side Of Work. USA: Allyn & Bacon.
Luthans, F. (1992). Organizational Behavior (6th ed.). Singapore: McGraw-Hill, Inc.
Flammer & Bongartz, "On the efficacy of hypnosis: a meta-analytic study", Contemporary
Hypnosis, 2003
Hardjana, Agus M. (1999), Komunikasi Interpersonal Dan Intrapersonal, Jakarta: Gramedia
Lazarus, Richard S. (1984), Stress, Appraisal, and Coping, USA: Springer Verlag
Melani, Be Optimal: Reach Real Success In.(2003), Jakarta: Grasindo
Mitchell, T. R., & Larson, J. R. (1987). People in Organizations: An Introduction to
Organizational Behavior (3rd ed.). USA: McGraw-Hill, Inc.
Morgan, Clifford T. (1986), Introduction to Psychology, New York : Mc. Graw-Hill Boook Co
Quick, J. C., & Quick, J. D. (1984). Organizational Stress And Preventive Management. USA: McGraw-Hill, Inc.
Rice, P. L. (1999). Stress and Health (3rd ed.). California : Brooks Cole Publishing Company
Selye, H. (1956). The Stress of Life. New York : McGraw Hill.
Universitas Kristen Maranatha
BIODATA PENULIS
Nama : Fajar Agung Pemana
Tempat / Tanggal Lahir : Semarang, 06 Agustus 1988
Alamat : Selo Mas 6/265, Tanah Mas, Semarang
Jenis Kelamin : Pria
Golongan Darah : O
Email : [email protected]
Agama : Kristen
Kewarganegaraan : Indonesia
Pendidikan : SMP Theresiana Tanah Mas, Semarang (2000-2003)
SMTIK-PIKA, Semarang (2003-2007)
Universitas Kristen Maranatha, Fakultas Seni Rupa