• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan scientific pada operasi hitung bilangan pecahan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Wewewa Timur Sumba Barat Daya.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pendekatan scientific pada operasi hitung bilangan pecahan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Wewewa Timur Sumba Barat Daya."

Copied!
270
0
0

Teks penuh

(1)

Gollu, Yublina. (2015). Peningkatan Minat dan Hasil Belajar Menggunakan Pendekatan Scientific pada Operasi Hitung Bilangan Pecahan Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Wewewa Timur Sumba Barat Daya. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian bertujuan meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas VIIB semester 2 SMP Negeri 2 Wewewa Timur tahun ajaran 2014/2015 dalam pelajaran Matematika materi operasi hitung bilangan pecahan

Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2 Wewewa Timur dengan subyek siswa kelas VIIB yang berjumlah 30 siswa, yang terdiri dari dua siklus dengan tahapan kegiatan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi, kuesioner dan tes hasil belajar yang dianalisis secara deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase minat belajar siswa mengalami peningkatan. Hasil penelitian siklus I sebesar 96,67% dan meningkat pada siklus II menjadi 100%. Siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus I adalah 66.67% dengan rata-rata 68,67 dan meningkat pada siklus II menjadi 96,67% atau 29 siswa sudah mencapai KKM dengan rata-rata kelas 80,83. Berdasarkan hasil penelitian, pendekatan saintifik dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.

Kata Kunci: Pendekatan saintifik, minat belajar, hasil belajar, operasi hitung bilangan

(2)

approach in arithmetic operations fractions from 7 grade students of SMP Negeri 2 Wewewa Timur Sumba Barat Daya. Undergraduated Thesis. Yogyakarta: Mathematics education study program. Department of mathematics education and science education, faculty of teacher training and education, Sanata Dharma Unibersity.

The research has purpose to increase the interest and student learning outcomes from VIIB of the 2nd semester grade students of SMP Negeri 2 Wewewa Timur in the 2014/2015 school year in the math on the material fractions arithmetic operations.

The study was conducted in SMP Negeri 2 Wewewa Timur with 30 student from VIIB grade as the subjects from VIIB grade, which consists of two cycles and the stages of each cycles are planning, action, observation and reflection. Data were collected by interview, observation, questionnaires and achievement test, which was analyzed by descriptive qualitative.

The results showed that the percentage of student interest in learning has increased. The results of the study on the first cycle was 96.67% and increased in the second cycle into 100%. Students who achieve the KKM in the first cycle were 66.67% with average was 68.67 and increased in the second cycle into 96.67% or 29 students have reached KKM with the class average was 80.83. Basedon this research, the scientific approach can increase student interest and learning outcomes.

Keywords: scientific approach, interest in learning, learning outcomes, arithmetic operations

(3)

i

PENINGKATAN MINAT DAN HASIL BELAJAR MENGGUNAKAN PENDEKATAN SCIENTIFIC PADA OPERASI HITUNG BILANGAN PECAHAN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 WEWEWA TIMUR

SUMBA BARAT DAYA

Skripsi :

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika

Disusun Oleh :

Yublina Gollu

NIM : 101414001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(4)

ii

(5)

iii

(6)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Syukurilah Semua Yang Kita Punya

Tanpa Rasa Iri Dan

Dengki Pada Sesama

Kupersembahkan karya kecil ini untuk cahaya hidupku, mereka yang mempunyai tempat di hatiku…

Teruntuk :

Tuhan Yesusku yang luar biasa

Bapa, Mama di Surga yang sangat saya sayangi

Kak Nim, Kak Alex dan seluruh keluarga yang tiada henti-hentinya

mendoakan dan mendukungku

Sahabat-sahabat yang telah mengajarkanku arti berjuang

Almamaterku Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan banyak

(7)
(8)

vi ABSTRAK

Gollu, Yublina. (2015). Peningkatan Minat dan Hasil Belajar Menggunakan

Pendekatan Scientific pada Operasi Hitung Bilangan Pecahan Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Wewewa Timur Sumba Barat Daya. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian bertujuan meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas VIIB semester 2 SMP Negeri 2 Wewewa Timur tahun ajaran 2014/2015 dalam pelajaran Matematika materi operasi hitung bilangan pecahan

Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2 Wewewa Timur dengan subyek siswa kelas VIIB yang berjumlah 30 siswa, yang terdiri dari dua siklus dengan tahapan kegiatan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi, kuesioner dan tes hasil belajar yang dianalisis secara deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase minat belajar siswa mengalami peningkatan. Hasil penelitian siklus I sebesar 96,67% dan meningkat pada siklus II menjadi 100%. Siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus I adalah 66.67% dengan rata-rata 68,67 dan meningkat pada siklus II menjadi 96,67% atau 29 siswa sudah mencapai KKM dengan rata-rata kelas 80,83. Berdasarkan hasil penelitian, pendekatan saintifik dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.

Kata Kunci: Pendekatan saintifik, minat belajar, hasil belajar, operasi hitung

(9)

vii ABSTRACT

Gollu, Yublina. (2015). An Increased of interest and Learning outcomes using a scientific approach in arithmetic operations fractions from 7th grade students of SMP Negeri 2 Wewewa Timur Sumba Barat Daya. Undergraduated Thesis. Yogyakarta: Mathematics education study program. Department of mathematics education and science education, faculty of teacher training and education, Sanata Dharma Unibersity.

The research has purpose to increase the interest and student learning outcomes from VIIB of the 2nd semester grade students of SMP Negeri 2 Wewewa Timur in the 2014/2015 school year in the math on the material fractions arithmetic operations.

The study was conducted in SMP Negeri 2 Wewewa Timur with 30 student from VIIB grade as the subjects from VIIB grade, which consists of two cycles and the stages of each cycles are planning, action, observation and reflection. Data were collected by interview, observation, questionnaires and achievement test, which was analyzed by descriptive qualitative.

The results showed that the percentage of student interest in learning has increased. The results of the study on the first cycle was 96.67% and increased in the second cycle into 100%. Students who achieve the KKM in the first cycle were 66.67% with average was 68.67 and increased in the second cycle into 96.67% or 29 students have reached KKM with the class average was 80.83. Basedon this research, the scientific approach can increase student interest and learning outcomes.

Keywords: scientific approach, interest in learning, learning outcomes, arithmetic

(10)
(11)

ix

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat, campur tangan, pertolongan, penghiburan dan cinta kasih-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika.

Dalam proses penyusunan skripsi ini penulis mendapat banyak pengalaman, hambatan dan rintangan akan tetapi berkat bantuan, dukungan dan motivasi dari berbagai pihak penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada bergbagai pihak yang membantu, diantaranya:

1. Bapak Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd, selaku Kepala Program Studi Pendidikan Matematika;

2. Ibu Ch. Enny Murwaningtyas, M.Si, selaku dosen pembimbing akademik; 3. Ibu Veronika Fitri Rianasari, M.Sc., selaku dosen pembimbing yang telah

meluangkan waktu untuk membimbing penulis selama penyusunan skrispi ini; 4. Ibu Dra. Theresia Gaina., selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Wewewa Timur tahun ajaran 2014/2015 yang telah memberikan kesempatan serta ijin untuk melakukan penelitian;

5. Segenap Dosen Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.

6. Segenap Karyawan Sekretariat JPMIPA yang telah memberikan bantuan dalam memperlancar perijinan surat ke sekolah.

(12)

x

8. Siswa kelas VIIB tahun ajaran 2014/2015 SMP Negeri 2 Wewewa Timur, yang telah membantu penulis selama melakukan penelitian;

9. Kedua orangtuaku tersayang, Bapak Alhm. Dominggus Ng. Dapa dan Ibu Alhm. Roslina Gollu atas kerja kerasnya dukungan materi dan dukungan doanya

10.Bapak Nimrot Jawu Lero, Bapak Alexander Bulu, dan seluruh keluarga atas dukungan doa, semangat dan cinta kasih yang telah diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini;

11.Sahabat-sahabatku dan teman-teman Pendidikan Matematika angkatan 2010 atas bantuan, motivasi, dukungan, dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini;

12.Semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan dapat digunakan sebagai acuan penelitian selanjutnya.

(13)

xi

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

ASTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang………. 1

B. Identifikasi Masalah………. 3

C. Batasan Masalah………... 4

D. Rumusan Masalah………... 4

E. Tujuan Penelitian………... 5

F. Manfaat Penelitian………. 5

(14)

xii

BAB II LANDASAN TEORI……….…… 8

A. Kajian Pustaka……….. 8

B. Kerangka Berpikir………. 32

C. Hipotesis Tindakan………... 34

BAB III METODE PENELITIAN……….. 35

A. Jenis Penelitian……….. 35

B. Tempat dan Waktu Penelitian………... 36

C. Subjek dan Objek Penelitian………... 36

D. Teknik Pengumpulan Data……… 36

E. Instrumen Penelitian……….. 38

F. Rancangan Penelitian………. 47

G. Validitas dan Reliabilitas……… 56

H. Teknik Analisis Data……….. 58

I. Kriteria Keberhasilan……….. 65

BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISIS DAN PEMBAHASAN………….. 68

A. Deskripsi Penelitian………. 68

B. Tabulasi Data………... 86

C. Analisis Data………... 104

D. Pembahasan Data Penelitian………... 126

(15)

xiii

BAB V PENUTUP……….. 133

A. Kesimpulan………... 133

B. Saran………. 134

(16)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Materi Yang Dibahas Masing-Masing Kelompok... 39

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Kuesioner Penelitian Instrumen Minat……… 40

Tabel 3.3 Pedoman Observasi Minat Belajar………... 41

Tabel 3.4 Kisi-Kisi Soal Tes Kemampuan Awal………. 42

Tabel 3.5 Kisi-Kisi Soal Tes Hasil Belajar Siklus I………. 43

Tabel 3.6 Kisi-Kisi Soal Tes Hasil Belajar Siklus II………... 43

Tabel 3.7 Tabel Pengamatan Keterlaksanaan Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik……….. 44

Tabel 3.8 Tabel Interpretasi Besarnya Koefisien Korelasi(rxy)……… 57

Tabel 3.9 Panduan Pemberian Skor Kuesioner……… 59

Tabel 3.10 Kriteria Minat Siswa……….. 60

Tabel 3.11 Kriteria Minat Seluruh Siswa………. 60

Tabel 3.12 Sistem Penilaian Tes Kemampuan Awal………... 61

Tabel 3.13 Sistem Penilaian Tes Hasil Belajar………. 61

Tabel 3.14 Kriteria Keberhasilan……….. 66

(17)

xv

Tabel 4.2 Data Interpretasi Validitas Masing-Masing Butir Soal

Post-Test Siklus II……… 71

Tabel 4.3 Data Keterlaksanaan Rencana Pelaksaan Pembelajaran………… 86

Tabel 4.4 Hasil Pre-Test Kelas VIIB……… 87

Tabel 4.5 Hasil Post-Test Siklus I Kelas VIIB………. 88

Tabel 4.6 Hasil Post-Test Siklus II Kelas VIIB……… 89

Tabel 4.7 Data Minat Siswa Kelas VIIB Siklus I………. 90

Tabel 4.8 Data Minat Siswa Kelas VIIB Siklus II……… 92

Tabel 4.9 Hasil Observasi Pertemuan I Siklus I……… 94

Tabel 4.10 Hasil Observasi Pertemuan II Siklus I……… 97

Tabel 4.11 Hasil Observasi Pertemuan I Siklus II……… 99

Tabel 4.12 Hasil Wawancara Siswa……….. 102

Tabel 4.13 Hasil Wawancara Guru………... 103

Tabel 4.14 Perhitungan Skor Minat Siswa Setiap Indikator Siklus I……... 113

Tabel 4.15 Perhitungan Skor Minat Siswa Setiap Indikator Siklus II... 118

Tabel 4.16 Kriteria Minat Siswa Secara Keseluruhan………... 122

Tabel 4.17 Kriteria Minat Seluruh Siswa……….. 123

(18)

xvi

DAFTAR GAMBAR

(19)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... L.1 Kuesioner Minat Belajar Siswa Siklus I ... L.19 Kuesioner Minat Belajar Siswa Siklus II ... L.22 Lembar Kerja Siswa ... L.25 Instrumen Observasi/pengamatan ... L.35 Tes Kemampuan Awal ... L.41 Kunci Jawaban Tes Kemampuan Awal ... L.43 Soal Evaluasi Siklus I ... L.44 Kunci Jawaban Soal Evaluasi Siklus I ... L.45 Soal Evaluasi Siklus II ... L.47 Kunci Jawaban Soal Evaluasi Siklus II ... L.48 Validasi Soal Evaluasi Siklus I ... L.50 Validasi Sola Evaluasi Siklus II ... L.55 Reliabilitas Soal Evaluasi Siklus I ... L.60 Reliabilitas Soal Evaluasi Siklus II ... L.62 Hasil Kuesioner Minat Belajar Siswa Siklus I ... L.64 Hasil Kuesioner Minat Belajar Siswa Siklus II ... L.66 Daftar Nilai Tes Kemampuan Awal... L.68 Daftar Nilai Tes Hasil Belajar Siklus I ... L.69 Daftar Nilai Tes Hasil Belajar Siklus II ... L.70 Daftar Nilai Matematika Kelas VII Semester 1 Tahun Ajaran 2013/2014

(20)

xviii

(21)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

(22)

Mata pelajaran matematika merupakan pelajaran yang sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari, karena itulah matematika diajarkan sejak dini yaitu disetiap jenjang pendidikan. Kegunaan matematika bukan hanya memberikan kemampuan dalam perhitungan-perhitungan kuantitatif, tetapi juga dalam penataan cara berpikir, terutama dalam pembentukan kemampuan menganalisis, membuat sintesis, melakukan evaluasi hingga kemampuan memecahkan masalah. Kenyataannya matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sering menjadi masalah bagi siswa. Karena dari awal siswa sudah mempunyai pikiran buruk tentang mata pelajaran tersebut. Mereka berpendapat bahwa belajar matematika itu susah, banyak rumus dan sulit dipahami. Di sisi lain matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan. Hal ini menyebabkan minat dan hasil belajar matematika menjadi rendah.

(23)

kesulitan. Terlihat dari hasil dokumentasi yang didapatkan peneliti berupa nilai ulangan yang masih dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).

Untuk mengatasi akar permasalahan tersebut, peneliti memilih model pembelajaran dengan Pendekatan Scientific (Saintifik). Pendekatan ini dipilih karena dimuat di kurikulum 2013, selain itu pendekatan ini memberikan kesempatan seutuhnya kepada siswa untuk menemukan solusi dari masalah yang ada, sedangkan tugas guru hanya sebagai fasilitator. Sebelumnya guru belum pernah menggunakan Pendekatan Saintifik dalam pembelajaran matematika. Dalam pembelajaran selanjutnya, diharapkan dapat melakukan pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Saintifik, karena dengan menggabungkan pembelajaran yang lebih bervariasi dan ilmiah dapat meningkatkan peran serta siswa dalam pembelajaran matematika di kelas.

Pendekatan saintifik pada kurikulum 2013 yang diterapkan di Indonesia menjabarkan langkah-langkah pembelajaran tersebut menjadi lima, yaitu: mengamati, menanya, menalar, mencoba dan mengkomunikasikan (Kemendikbud, 2013). Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “Peningkatan Minat dan Hasil Belajar Menggunakan Pendekatan Scientific pada Operasi Hitung Bilangan

Pecahan Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Wewewa Timur Sumba Barat

(24)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat diidentifikasi kemungkinan masalah sebagai berikut:

1. Kurangnya konsentrasi siswa saat dilaksanakan proses pembelajaran matematika di kelas.

2. Pembelajaran masih dilakukan secara satu arah yaitu berpusat pada aktivitas guru pada proses pembelajaran di kelas.

3. Minat belajar siswa yang rendah.

4. Hasil belajar siswa yang belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)

5. Guru dituntut untuk menggunakan kurikulum 2013

6. Guru belum menerapkan model pembelajaran yang tepat untuk membantu siswa dalam memahami pembelajaran matematika.

C. Batasan Masalah

(25)

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti memaparkan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah penerapan Pendekatan Saintifik dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas VII semester 1 SMP Negeri 2 Wewewa Timur tahun ajaran 2014/2015 dalam pembelajaran matematika pada operasi hitung bilangan pecahan?

2. Bagaimana penerapan Pendekatan Saintifik dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas VII semester 1 SMP Negeri 2 Wewewa Timur tahun ajaran 2014/2015 dalam pembelajaran matematika pada operasi hitung bilangan pecahan?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas VII semester

1 SMP Negeri 2 Wewewa Timur tahun ajaran 2014/2015 dalam pembelajaran matematika pada operasi hitung bilangan pecahan dengan pendekatan saintifik.

(26)

F. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

a. Menambah wawasan baru bagi peneliti tentang pendekatan saintifik yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika.

b. Merupakan pengalaman yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran untuk materi lain atau studi yang lain bila memungkinkan.

2. Bagi Siswa

a. Dapat mengembangkan potensinya dengan terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

b. Dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam mencapai hasil belajar yang optimal.

3. Bagi guru

Pendekatan saintifik merupakan salah satu pendekatan yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.

4. Bagi sekolah

(27)

G. Batasan Istilah

1. Minat adalah dorongan dalam diri seseorang atau faktor yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian secara efektif, yang menyebabkan dipilihnya suatu objek atau kegiatan yang menguntungkan, menyenangkan, dan lama-kelamaan akan mendatangkan kepuasan dalam dirinya.

2. Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan terjadinya perubahan perilaku yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam bertindak. 3. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui

kegiatan belajar yang dinyatakan dalam skor.

4. Pendekatan Saintifik (Scientific) adalah konsep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah.

(28)

8

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

1. Minat

a. Pengertian Minat

(29)

memiliki kaitan dengan peluang atau hambatan siswa dalam mengekspresikan potensi atau kreativitas dirinya sebagai perwujudan dari minat spesifik yang dia miliki. Adapun faktor keturunan dan pengaruh eksternal atau lingkungan lebih berkaitan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dari minat siswa akibat dari pengaruh situasi kelas, sistem, dan dorongan keluarga.

Dari beberapa defenisi di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa minat merupakan dorongan dalam diri seseorang atau faktor yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian secara efektif, yang menyebabkan dipilihnya suatu objek atau kegiatan yang menguntungkan, menyenangkan, dan lama-kelamaan akan mendatangkan kepuasan dalam dirinya.

(30)

keputusan oleh seseorang atau institusi. Secara konseptual, minat dapat dikatakan memegang peranan penting dalam menentukan arah, pola dan dimensi berpikir seseorang dalam segala aktivitasnya, termasuk dalam belajar.

b. Macam-Macam dan Ciri-Ciri Minat

Menurut Rosyidah (1988: 1), timbulnya minat pada diri seseorang pada prinsipnya dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: minat yang berasal dari pembawaan dan minat yang timbul karena adanya pengaruh dari luar. Pertama, minat yang berasal dari pembawaan, timbul dengan sendirinya dari setiap individu, hal ini biasanya dipengaruhi oleh faktor keturunan atau bakat alamiah. Kedua, minat yang timbul karena adanya pengaruh dari luar individu, timbul seiring dengan proses perkembangan individu bersangkutan. Minat ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan, dorongan orang tua, dan kebiasaan atau adat.

Adapun mengenai jenis atau macam-macam minat, Kuder (dalam Purwaningrum, 1996: 14) mengelompokkan jenis-jenis minat ini menjadi sepuluh macam, yaitu:

(31)

2) Minat mekanis, yaitu minat terhadap pekerjaan yang bertalian dengan mesin-mesin atau alat mekanik.

3) Minat hitung menghitung, yaitu minat terhadap pekerjaan yang membutuhkan perhitungan.

4) Minat terhadap ilmu pengetahuan, yaitu minat untuk menemukan fakta-fakta baru dalam pemecahan problem.

5) Minat persuasif, yaitu minat terhadap pekerjaan yang berhubungan untuk memengaruhi orang lain.

6) Minat seni, yaitu minat terhadap pekerjaan yang berhubungan dengan kesenian, kerajinan dan kreasi tangan.

7) Minat leterer, yaitu minat yang berhubungan dengan masalah-masalah membaca menulis berbagai karangan.

8) Minat musik, yaitu minat terhadap masalah-masalah musik, seperti menonton konser dan memainkan alat-alat musik.

9) Minat layanan sosial, yaitu minat yang berhubungan dengan pekerjaan untuk membantu orang lain.

10)Minat klerikal, yaitu minat yang berhubungan dengan pekerjaan administratif.

(32)

1) Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental. Minat di semua bidang berubah selama terjadi perubahan fisik dan mental, misalnya perubahan minat dalam hubungannya dengan perubahan usia.

2) Minat bergantung pada kegiatan belajar. Kesiapan belajar merupakan salah satu penyebab meningkatnya minat seseorang. 3) Minat tergantung pada kesempatan belajar. Kesempatan belajar

merupakan faktor yang sangat berharga, sebab tidak semua orang dapat menikmatinya.

4) Perkembangan minat mungkin terbatas. Keterbatasan ini mungkin dikarenakan keadaan fisik yang tidak memungkinkan.

5) Minat dipengaruhi budaya. Budaya sangat memengaruhi, sebab jika budaya sudah mulai luntur mungkin minat juga ikut luntur. 6) Minat berbobot emosional. Minat berhubungan dengan perasaan,

maksudnya bila suatu objek dihayati sebagai sesuatu yang sangat berharga, maka akan timbul perasaan senang yang akhirnya dapat diminatinya.

(33)

2. Belajar

a. Pengertian Belajar

Kata atau istilah belajar bukanlah sesuatu yang baru, sudah sangat dikenal secara luas, namun dalam pembahasan belajar itu masing-masing memiliki pemahaman dan defenisi yang berbeda-beda. Menurut Burton (dalam Usman dan Setiawati, 1993: 4), belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu lain, dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Sementara menurut Hilgard (1962), belajar adalah suatu perubahan kegiatan reaksi terhadap lingkungan. Perubahan kegiatan yang dimaksud mencakup pengetahuan, kecakapan, tingkah laku, dan ini diperoleh melalui latihan (pengalaman). Hilgard menegaskan bahwa belajar merupakan proses mencari ilmu yang terjadi dalam diri seseorang melalui latihan, pembiasaan, pengalaman dan sebagainya.

(34)

tujuan. Dengan demikian, belajar itu bukan sekedar mengingat atau menghafal saja, namun lebih luas dari ini merupakan mengalami. Hamalik juga menegaskan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu atau seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya. Perubahan tingkah laku ini mencakup perubahan dalam kebiasaan (habit), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik). Perubahan tingkah laku dalam kegiatan belajar disebabkan oleh pengalaman atau latihan.

Dari beberapa pengertian belajar di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilaku yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam bertindak.

b. Tahap-Tahap Dalam Proses Belajar

(35)

proses belajar siswa, yaitu tahap perhatian, tahap penyimpanan dalam ingatan, tahap reproduksi, dan tahap motivasi.

Berdasarkan tahap-tahap di atas, peneliti dapat menyimpulkan beberapa tahap yang dapat digunakan dalam proses belajar siswa yang diterapkan dalam pendekatan saintifik, yaitu tahap mengamati, menalar, menanya, mencoba dan mengkomunikasikan.

3. Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

Menurut Nawawi (dalam Susanto, 2013) yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperolehn dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu. Sedangkan menurut Sudjana (2009: 22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.

(36)

guru menetapkan tujuan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.

Untuk mengetahui apakah hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Sunal (dalam Susanto, 2013), bahwa evaluasi merupakan proses penggunaan informasi untuk membuat pertimbangan seberapa efektif suatu program telah memenuhi kebutuhan siswa. Selain itu, dengan dilakukannya evaluasi atau penilaian ini dapat dijadikan feedback atau tindak lanjut, atau bahkan cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa. Kemajuan prestasi belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan. Dengan demikian, penilaian hasil belajar siswa mencakup segalah hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sika dan keterampilan, yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan kepada siswa.

b. Macam-macam hasil belajar

Hasil belajar sebagaimana telah dijelaskan di atas meliputi: a) Pemahaman konsep (aspek kognitif)

(37)

yang dipelajari. Pemahaman menurut Bloom ini adalah seberapa besar siswa mampu menerima, menyerap dan memahami, pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa, atau sejauh mana siswa dapat memahami serta mengerti apa yang ia baca, yang dilihat, yang dialami, atau yang ia rasakan berupa hasil penelitian atau observasi langsung yang ia lakukan.

Untuk mengukur hasil belajar siswa yang berupa pemahaman konsep, guru dapat melakukan evaluasi produk. Sehubungan dengan evaluasi produk ini, Winkel (1983: 14) menyebutkan bahwa hasil belajar tidak selalu tampak pada perilaku anak karena ada hasil belajar yang masih tersembunyi atau berupa potensi yang tidak diketahui orang lain. Selain itu hasil belajar juga tidak selalu berupa hal yang baru, sebab suatu hasil belajar berupa penyempurnaan terhadap hasil yang diperoleh sebelumnya.

b) Keterampilan proses (aspek psikomotorik)

(38)

efisien untuk mencapai suatu hasil tertentu, termasuk kreativitasnya.

Indrawati (dalam Susanto, 2013) merumuskan bahwa keterampilan proses merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah yang terarah (baik kognitif maupun psikomotorik) yang dapat digunakan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip atau teori, untuk mengembangkan konsep yang telah ada sebelumnya, atau untuk melakukan penyangkalan terhadap suatu penemuan (falsifikasi). Dengan kata lain, keterampilan ini digunakan sebagai wahana penemuan dan pengembangan konsep, prinsip dan teori. Selanjutnya Indrawati menyebutkan ada enam aspek keterampilan proses, yang meliputi: observasi, klasifikasi, pengukuran, mengomunikasikan, memberikan penjelasan atau interpretasi terhadap suatu pengamatan, dan melakukan eksperimen.

c) Sikap siswa (aspek afektif)

(39)

struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang, yaitu: komponen kognitif, afektif, dan konatif. Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap; komponen afektif, yaitu perasaan yang menyangkut emosional; dan komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki seseorang.

4. Pendekatan Saintifik (Scientific)

a. Pengertian Pendekatan Saintifik

(40)

b. Kriteria Pendekatan Saintifik

Menurut Kemendikbud (2013), kriteria pendekatan saintifik adalah: a) Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang

dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata; b) Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif

guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis;

c) Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran;

d) Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran;

e) Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran;

(41)

g) Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.

c. Langkah-Langkah Pembelajaran Pendekatan Saintifik

Dalam Kemendikbud (2013), proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif, melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Dalam pembelajaran, pendekatan ini meliputi 5 hal yaitu:

a) Mengamati

(a) Kegiatan Belajar:

Membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat).

(42)

Melatih kesungguhan, ketelitian, mencari informasi. b) Menanya

(a) Kegiatan Belajar:

Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untun mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik).

(b) Kompetensi yang dikembangkan:

Mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan yang merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.

c) Mengumpulkan Informasi (a) Kegiatan Belajar:

(1) Melakukan eksperimen

(43)

(b) Kompetensi yang dikembangkan:

Mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.

d) Mengasosiasi/menalar (a) Kegiatan Belajar:

(1) Mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik

terbatas dari hasil kegiatan

mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.

(44)

(b) Kompetensi yang dikembangkan:

Mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir dalam menyimpulkan.

e) Mengkomunikasikan (a) Kegiatan Belajar:

Menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis atau media lainnya.

(b) Kompetensi yang dikembangkan:

Mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

Langkah Pembelajaran: a) Kegiatan Pendahuluan

(a) Apersepsi dan motivasi

(45)

b) Kegiatan Inti

(a) Kegiatan inti dalam pembelajaran adalah suatu proses pembentukan pengalaman dan kemampuan siswa secara terprogram yang dilaksanakan dalam durasi waktu tertentu.

(b) Kegiatan inti dalam metode scientific ditujukan untuk terkonstruksinya konsep, pengetahuan atau keterampilan oleh peserta didik dengan bantuan dari guru melalui langkah-langkah kegiatan yang baku yaitu: mengamati, menanya, menalar, mencoba dan membentuk jejaring.

c) Kegiatan Penutup

(a) Validasi/refleksi/simpulan bersama. (b) Penilaian proses bisa lisan atau tertulis.

(c) Memberi umpan balik dan mengumpulkan hasil kerja siswa sebagai bahan portofolio.

(46)

Teknik penilaian dalam pembelajaran dengan pendekatan scientific:

a) Penilaian proses

Penilaian proses atau keterampilan, dilakukan melalui: (a) Obsevasi saat siswa bekerja kelompok, (b) Bekerja individu,

(c) Berdiskusi,

(d) Presentasi dengan menggunakan lembar observasi kinerja.

b) Penilaian produk

Pemahaman konsep, prisip, dan pengetahuan dilakukan dengan tes tertulis.

c) Penilaian sikap

Penilaian sikap, melalui:

(a) Observasi saat siswa bekerja kelompok, (b) Bekerja individu,

(c) Berdiskusi,

(47)

d. Tujuan Pembelajaran dalam Pendekatan Saintifik

Dalam Kemendikbud (2013) disebutkan beberapa tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik, yaitu:

a) Untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.

b) Untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik.

c) Terciptanya kondisi pembelajaran di mana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan.

d) Diperolehnya hasil belajar yang tinggi.

e) Untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah.

f) Untuk mengembangkan karakter siswa.

e. Prinsip-prinsip Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik

a) Pembelajaran berpusat pada siswa.

b) Pembelajaran membentuk student’s self concept

c) Pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk mempelajari, menganalisis, menyimpulkan konsep, pengetahuan dan prinsip.

(48)

e) Pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru

f) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan dalam komunikasi.

f. Keunggulan Dan Kelemahan Pendekatan Saintifik

a) Keunggulan

(a) Dari segi kemudahan mendapatkan data, data sekunder yang tersedia dapat digunakan.

(b) Eksternal validiti lebih tinggi karena dapat melibatkan permasalahan yang lebih luas menggunakan waktu yang lebih panjang dan jumlah obsevasi yang lebih banyak sebagai objek penelitian karena tersedia di data sekunder.

b) Kelemahan

(a) Setting tidak natural (artificial), dapat menurunkan validitas penelitian.

(b) Penelitian kurang terfokus tetapi lebih luas, sehingga kurang mendalam.

(49)

5. Bilangan Pecahan

a. Pengertian Pecahan

Menurut Sardjana (2013: 2), bilangan pecahan adalah bilangan yang lambangnya dapat dinyatakan dengan , a dan b bilangan bulat, b 0 dan a bukan kelipatan b.

Contonya:

Apabila daerah lingkaran A dibagi dalam 3 bagian yang sama, maka setiap bagian adalah seperdelapan dari seluruh daerah. Nama yang diberikan untuk bilangan seperdelapan adalah . Dapat juga dikatakan, bahwa bila membagi suatu bilangan cacah dengan suatu bilangan asli, maka pembagian itu disebut suatu pecahan.

b. Operasi Hitung Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Pecahan

(50)

Nilai pecahan tak berubah bila pembilang dan penyebut dikalikan dengan bilangan yang sama atau dibagi dengan bilangan yang sama.

1. ini berguna untuk menyamakan penyebut dua

pecahan atau lebih.

2. ini berguna untuk menyederhakan pecahan.

a) Pecahan Murni

Aturan penjumlahan dan pengurangan pecahan murni. (1) Bila penyebutnya sama, yang dijumlahkan atau

dikurangkan hanya pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap.

(2) Bila penyebutnya tidak sama, penyebutnya harus disamakan lebih dulu. Penyebut baru harus merupakan

kelipatan persekutuan dari masing-masing penyebut.

Setelah penyebutnya sama, barulah penjumlahan dan pengurangan dapat dilakukan, yaitu menjumlahkan atau mengurangkan pembilangnya saja.

(51)

disederhanakan, dan tidak dihitung dengan kalkulator sehingga hasilnya berupa pecahan desimal. Bila pembilang atau penyebut berupa penjumlahan atau pengurangan, tidak boleh melakukan pembagian hanya pada salah satu suku dari pembilangnya, atau salah satu suku dari penyebutnya.

b) Pecahan Tak Murni

Cara melakukan penjumlahan dan pengurangan pecahan tak murni.

Cara pertama:

(1) Bila pecahan mengandung bilangan bulat, ubahlah dulu menjadi bentuk pecahan seluruhnya.

(2) Samakan penyebutnya

(3) Selanjutnya lanjutkan penjumlahan atau pengurangan pada pembilangnya saja.

Cara kedua:

Digunakan aturan: (1)

(52)

6. Teori Tanggapan

Kesan-kesan yang dialami jika perangsang sudah tidak ada, jika proses pengamatan sudah berhenti, dan hanya tinggal kesan-kesan saja, peristiwa sedemikian ini disebut tanggapan (Kartono, dalam Nainggolan, 2013). Respon pada prosesnya didahului sikap seseorang, karena sikap merupakan kecenderungan atau kesediaan seseorang untuk bertingkah laku kalau ia menghadapi suatu ransangan tertentu.

Ada dua jenis variabel yang dapat mempengaruhi respon, yaitu:

1. Variabel struktural, yaitu faktor-faktor yang terkandung dalam rangsangan fisik

2. Variabel fungsional, yaitu faktor-faktor yang terdapat pada diri si pengamat, misalnya kebutuhan suasana hati, dan pengalaman masa lalu.

(53)

Dari beberapa pengertian tanggapan di atas, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa tanggapan adalah respon yang diberikan seseorang berupa pendapat setelah menghadapi suatu ransangan tertentu.

B. Kerangka Berpikir

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik, dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Tujuan dari pembelajaran matematika adalah membentuk kemampuan berpikir siswa yang tercermin melalui berfikir secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien. Dalam pembelajaran matematika ini, siswa diharapkan untuk lebih beminat dan terlibat aktif sehingga mampu untuk memaksimalkan hasil belajar. Minat belajar siswa dapat terlihat dari kemauannya dalam bertanya, memberikan tanggapan ataupun menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru.

(54)

siswa merasa tidak semangat dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Hal lain yang menyebabkan rendahnya minat siswa dalam pelajaran matematika adalah dengan banyaknya rumus-rumus sehingga mereka cenderung menghafalkan rumus itu satu persatu tanpa mencoba melakukan dengan berlatih soal.

Cara yang mampu membuat pelajaran matematika menjadi bermakna dan diminati oleh siswa adalah dengan menerapkan pendekatan scientific (saintifik). Dengan menerapkan pendekatan saintifik akan memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk memahami materi yang disampaikan oleh guru. Ketika guru menyampaikan suatu materi, peserta didik diberi kesempatann untuk mengamati, kemudian menanyakan suatu hal yang tidak dipahami terkait materi tersebut, selanjutnya siswa diberi kesempatan untuk bernalar mencari ide pemecahan masalah tersebut dan mencoba untuk mempresentasikan idenya di ruang kelas. Dengan pembelajaran seperti itu, siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengekspresikan kemampuannya, mereka mendapat kesempatan untuk bertanya apa saja dan menyumbangkan ide yang mereka miliki, sehingga dari sini perlahan-lahan tumbuh minat dalam dirinya untuk terus mempelajari materi tersebut.

(55)

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan latar belakang permasalahn serta landasan teori peneliti merumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut.

1. Penerapan Pendekatan Saintifik dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas VII semester 1 SMP Negeri 2 Wewewa Timur Sumba Barat Daya pada operasi hitung bilangan pecahan. 2. Penerapan Pendekatan Saintifik dalam pembelajaran matematika

(56)

36

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Peneliti ingin meningkatkan minat dan hasil belajar siswa, oleh karena itu jenis penelitian yang dipilih adalah Penelitian Tindakan Kelas. Dengan penelitian ini, peneliti berharap dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. PTK adalah penelitian tindakan kelas atau sering disebut dengan classroom action research dalam bahasa Inggris. Yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat mengajar, dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam pembelajaran. (Susilo, 2007: 16).

Perencanaan

Aksi Refleksi

Observasi

Perencanaan Ulang

Aksi Refleksi Observasi

(57)

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model penelitian dari Kurt Lewin (dalam Aqib, 2006: 31) menggambarkan penelitian tindakan kelas sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral. Setiap langkah memiliki 4 tahap, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Wewewa Timur, Nusa Tenggara Timur, sejak bulan februari 2014-Agustus 2014.

C. Subjek dan Objek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Wewewa Timur, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur yang berjumlah 30 siswa. Di mana hampir sebagian siswanya ke sekolah dengan berjalan kaki, karena rumah mereka yang tidak jauh dari sekolah. Sedangkan yang menjadi objek penelitiannya adalah minat dan hasil belajar menggunakan Pendekatan Saintifik pada operasi hitung bilangan pecahan..

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Tes

(58)

saintifik dan Tes Hasil Belajar (THB) setelah menerapkan pembelajaran dengan pendekatan saintifik.

2. Kuesioner

Dalam penelitian ini, peneliti membuat kuesioner yang diberikan kepada siswa untuk memperoleh data tentang minat belajar siswa setelah mengalami proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Penelitian ini juga menggunakan observasi yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap subjek penelitian untuk mengetahui minat belajar siswa dalam proses pembelajaran.

3. Observasi

Dalam penelitian ini, observasi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap subjek penelitian untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran matematika.

4. Wawancara

(59)

Peneliti akan memilih 3 orang siswa yang memiliki pencapaian prestasi rendah (1 orang), sedang (1 orang) dan tinggi (1 orang) dilihat dari hasil Tes Kemampuan Awal (TKA) sebelum menerapkan pembelajaran pendekatan saintifik.

5. Dokumentasi

Dokumentasi bertujuan untuk merekam segala aktivitas yang terjadi selama proses pembelajaran di kelas. Dokumentasi ini dilakukan dengan maksud untuk membantu peneliti dalam memperoleh informasi dan mendukung/melengkapi data penelitian. Dokumentasi berupa pengambilan gambar foto.

E. Instrumen Penelitian

1. Instrumen Pembelajaran

a) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(60)

yaitu Bilangan Pecahan dengan kompetensi dasar 1.1 melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan.

b) Lembar Kerja Siswa (LKS)

Lembar Kerja Siswa (LKS) susun oleh peneliti dan dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. LKS ini digunakan pada saat siswa mengikuti proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik, serta digunakan siswa sebagai petunjuk saat melakukan diskusi kelompok maupun diskusi antar kelompok.

Tabel 3.1 Materi Yang Dibahas Masing-Masing Kelompok Pada

Tiap Pertemuan

Pertemuan Kelompok LKS yang

digunakan Materi yang dibahas

(61)

2. Instrumen Pengumpulan Data

1) Minat Belajar

a) Instrumen Kuesioner

Instrumen minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat siswa terhadap mata pelajaran matematika yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran matematika, dan untuk mengetahui bahwa siswa berminat terhadap model pembelajaran dengan pendekatan saintifik.

Hurlock, (1990:155) menyebutkan tujuh ciri-ciri minat, namun peneliti memilih lima diantaranya sebagai indikator ketercapaian minat belajar siswa, karena kelima itu dianggap sudah bisa menggambarkan minat belajar siswa pada pembelajaran matematika.

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Kuisioner Penelitian Instrumen Minat

No Indikator Pertanyaan

Positif

Pertaanyaan Negatif

1.

Minat berbobot egosentris, artinya jika seseorang senang terhadap sesuatu, maka akan timbul hasrat untuk memilikinya.

(62)

2.

Minat berbobot emosional. Minat berhubungan dengan perasaan, maksudnya bila suatu objek dihayati sebagai sesuatu yang sangat berharga, maka akan timbul perasaan senang yang akhirnya dapat diminatinya.

5, 7 6,

3.

Minat bergantung pada kegiatan belajar. Kesiapan belajar merupakan salah satu penyebab meningkatnya minat seseorang.

8, 9, 10, 11

4.

Minat tergantung pada kesempatan belajar. Kesempatan belajar merupakan faktor yang sangat berharga, sebab tidak semua

Keterbatasan ini mungkin dikarenakan keadaan fisik yang tidak memungkinkan.

16, 17

6.

Respon dan rasa suka terhadap model pembelajaran yang digunakan

18, 20 19

b) Pedoman Observasi Minat Belajar

(63)

Tabel 3.3 Pedoman Observasi Minat Belajar

No Indikator No Item

1. Minat dan perhatian siswa selama proses

pembelajaran 1, 2, 3

2. Tanggung jawab siswa dalam mempelajari

matematika

4, 5, 6, 7, 8, 9

3. Reaksi yang ditunjukkan terhadap stimulus

yang diberikan guru

10, 11, 12, 13

2) Hasil Belajar

a) Tes Kemampuan Awal

Tes Kemampuan Awal (TKA) dilaksanakan sebelum menerapkan pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Tes Kemampuan Awal (TKA) berupa soal-soal uraian tentang operasi hitung pada bilangan pecahan.

Tabel 3.4 Kisi-Kisi Soal Tes Kemampuan Awal

No Indikator Banyak Soal 1. Menyatakan suatu bagian dengan pecahan 3

2. Menyatakan suatu pecahan senilai 1

3. Menyatakan suatu pecahan dalam bentuk paling sederhana

1

4. Menyatakan bilangan bulat sebagai bilangan pecahan campuran

2

b) Tes Hasil Belajar (THB)

(64)

pembeajaran dengan pendekatan saintifik. Tes Hasil Belajar (THB) berupa soal-soal uraian tentang operasi hitung pada bilangan pecahan.

Tabel 3.5 Kisi-Kisi Soal Tes Hasil Belajar Siklus 1

No Indikator Banyak

Soal 1 Menyelesaikan operasi hitung penjumlahan pada

bilangan pecahan

2

2 Menyelesaikan operasi hitung pengurangan pada bilangan pecahan

2

Tabel 3.6 Kisi-Kisi Soal Tes Hasil Belajar Siklus 2

No Indikator Banyak

Soal 1 Menyelesaikan operasi hitung penjumlahan pada

bilangan pecahan

2

2 Menyelesaikan operasi hitung pengurangan pada bilangan pecahan

2

3) Keterlaksanaan Pembelajaran Pendekatan Saintifik

(65)

Tabel 3.7 Instrumen Pengamatan keterlaksanaan Pembelajaran

dengan Pendekatan Saintifik

No Kegiatan Ya Tidak

1. Kegiatan Pendahuluan

a. Guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran b. Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan

tentang materi yang sudah dipelajari dan terkait dengan materi yang akan dipelajari

c. Guru mengantarkan peserta didik kepada suatu permasalahan atau tugas yang akan dilakukan untuk mempelajari suatu materi dan menjelaskan tujuan pembelajaran atau Kompetensi Dasar yang akan dicapai

d. Guru menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan perserta didik untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas.

2. Kegiatan Inti a. Mengamati

a) Guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: menyimak, melihat, mendengar, dan membaca.

b) Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.

b. Menanya

a) Guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat.

(66)

c. Menalar

Guru memberikan kesempatakan kepada peserta didik untuk menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber.

d. Mencoba

Guru meminta peserta didik untuk menuangkan pendapatnya dengan memproses informasi yang sudah didapatkan.

e. Mengkomunikasikan

a) Guru meminta peserta didik untuk menyampaikan hasil yang didapat dari kegiatan mencari informasi di kelas.

b) Guru menilai hasil belajar peserta didik atau kelompok perserta didik tersebut.

3. Kegiatan Penutup

a. Guru membimbing peserta didik untuk membuat rangkuman/simpulan pelajaran.

b. Guru melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.

c. Guru memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.

d. Guru merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk program pengayaan, dan/atau memberikan tugas baik individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik.

e. Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

(Kemdikbud, 2013: 15-19)

4) Tanggapan

(67)

(1) Untuk siswa

Lembar wawancara ini bertujuan untuk meyakinkan peneliti bahwa siswa benar-benar berminat terhadap pembelajaran matematika dengan menerapkan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik. Wawancara dilakukan pada beberapa siswa yang dipilih menurut tingkat nilainya, dari siswa yang nilainya tinggi, sedang dan kurang. Pertanyaan yang akan diajukan kepada siswa adalah sebagai berikut:

(a) Bagaimana pendapatmu dengan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik?

(b) Apakah kamu senang dengan pembelajaran seperti ini dan kamu dapat menikmati? Mengapa?

(c) Apa kelebihan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik?

(d) Apa kesulitan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik?

(2) Untuk Guru

(68)

(a) Bagaimana peran serta siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran pendekatan saintifik?

(b) Bagaimana tingkat pemahaman siswa terhadap materi dengan menggunakan pembelajaran pendekatan saintifik?

(c) Apa kelebihan pembelajaran dengan pendekatan saintifik?

(d) Apa kesulitan yang dihadapi dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan saintifik?

(e) Manakah yang lebih efektif antara pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik dengan pembelajaran seperti biasa?

F. Rancangan Penelitian

1. Rancangan Penelitian Siklus I

a. Perencanaan (Planning)

1) Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 2) Menyusun pedoman observasi yang digunakan untuk mencatat

(69)

3) Memberikan Tes Kemampuan Awal (TKA)

b. Tindakan (acting)

Setelah membuat perencanaan kemudian dilanjutkan dengan penerapan pembelajaran dengan pendekatan scientific. Pada tahap tindakan ini, guru melaksanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang sudah disusun oleh peneliti.

1) Kegiatan awal

Dalam kegiatan awal, guru:

a) Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;

b) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sudah dipelajari dan terkait materi yang akan dipelajari;

c) Mengantarkan peserta didik ke suatu permasalahan atau tugas yang akan dilakukan untuk mempelajari suatu materi dan menjelaskan tujuan pembelajaran atau KD yang akan dicapai; d) Menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan

(70)

2) Kegiatan inti a) Mengamati

Dalam kegiatan mengamati, guru membukan secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.

b) Menanya

Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau didengar. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak.

c) Menalar

(71)

melalui berbagai cara. Untuk itu peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi.

d) Mencoba

Informasi tersebut menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya yaitu siswa mencoba untuk memproses informasi tersebut untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya.

e) Mengkomunikasikan

Kegiatan berikutnya adalah menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari dan memproses informasi. Hasil tersebut disampaikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut.

f) Siswa diminta untuk mengerjakan kuis individu. Skor dari hasil kuis individual ini digunakan sebagai skor kuis I.

3) Kegiatan penutup

(72)

melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan.

c. Pengamatan (observing)

Pengamatan dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Peneliti bersama guru dan observer lain mengamati kegiatan yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

d. Refleksi (reflecting)

Setelah siswa benar-benar menguasai materi yang telah disampaikan, guru memberikan tes akhir di akhir siklus. Dalam tahap ini peneliti dan guru menganalisis hasil pengamatan dan proses pembelajaran yang dilakukan, untuk memperoleh gambaran tindakan yang dilakukan, serta sebagai acuan perencanaan siklus II.

e. Tindak lanjut

(73)

2. Rancangan penelitian siklus II

a. Perencanaan (Planning)

1) Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 2) Menyusun pedoman observasi yang digunakan untuk mencatat

hasil pengamatan pelaksanaan proses belajar mengajar, seperti aktivitas siswa di kelas, dan bagaimana pembelajaran dengan pendekatan saintifik berlangsung.

3) Memberikan apersepsi dengan menanyakan soal evaluasi siklus I

b. Tindakan (acting)

Setelah membuat perencanaan kemudian dilanjutkan dengan penerapan pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Pada tahap tindakan ini, guru melaksanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang sudah disusun oleh peneliti.

1) Kegiatan awal

Dalam kegiatan awal, guru:

a) Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;

(74)

c) Mengantarkan peserta didik ke suatu permasalahan atau tugas yang akan dilakukan untuk mempelajari suatu materi dan menjelaskan tujuan pembelajaran atau KD yang akan dicapai; d) Menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan

tentang kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk menyelesaikan permasalahn atau tugas.

2) Kegiatan inti a) Mengamati

Dalam kegiatan mengamati, guru membukan secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.

b) Menanya

(75)

objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak.

c) Menalar

Tindak lanjut dari bertanya adalah mencoba bernalar, menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi.

d) Mencoba

Informasi tersebut menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya yaitu siswa mencoba untuk memproses informasi tersebut untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya.

e) Mengkomunikasikan

(76)

f) Siswa diminta untuk mengerjakan kuis individu. Skor dari hasil kuis individual ini digunakan sebagai skor kuis II.

3) Kegiatan penutup

Dalam kegiatan penutup, guru bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran, melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan.

c. Pengamatan (observing)

Pengamatan dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Peneliti bersama guru dan observer lain mengamati kegiatan yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

d. Refleksi (reflecting)

(77)

mendapat tanggapan positif dari siswa dan guru maka pembelajaran dengan pendekatan saintifik berhasil meningkatkan minat belajar siswa pada pelajaran matematika.

Apabila hasil belajar sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan pada tabel 3.14 maka penelitian berakhir di siklus II, namun jika belum mencapai, maka dilajutkan siklus berikutnya.

G. Validitas dan Reliabilitas

Instrumen penelitian dapat dikatakan baik apabila instrumen tersebut valid dan reliabel. Maka dari itu instrumen yang digunakan untuk penelitian dilakukan uji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu.

a. Validitas Tes Hasil belajar

Uji validitas soal dilakukan untuk membuktikan valid atau tidaknya, soal harus sama dengan penuyusunan kisi-kisi soal. Peneliti sebelumnya telah mengujicobakan kevalidan dari soal-soal yang akan digunakan kepada siswa kelas VIII. Dari hasil ujicoba tersebut, peneliti memilih 4 soal cerita yang benar-benar valid untuk tiap siklusnya.

(78)

Keterangan:

rxy = korelasi product moment X = tes formatif I

Y = tes formatif II N = jumlah responden

Dalam hal ini, suatu tes dikatakan valid jika rxy > r tabel, tidak valid jika rxy < r tabel . r tabel adalah nilai terkecil dari koefisien korelasi pada tabel statistika agar koefisien korelasi tersebut signifikan. Interpretasi dari koefisien korelasi (rxy) dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel 3.8 Tabel Interpretasi Besarnya Koefisien Korelasi (rxy)

Koefisien Korelasi Interpretasi

0,800 < rxy 1,00 Sangat tinggi 0,600 < rxy 0,800 Tinggi 0,400 < rxy 0,600 Cukup 0,200 < rxy 0,400 Rendah 0,000 < rxy 0,200 Sangat Rendah

(Suharsimi Arikunto, 1988: 71)

b. Reliabilitas

(79)

reliabilitas yaitu r11. Dalam penelitian ini, reliabilitas instrumen dihitung dengan menggunakan rumus Alpha sebagai berikut:

Di mana:

reliabilitas yang dicari jumlah soal yang dipakai

jumlah varians skor tiap-tiap item varians total

Harga yang diperoleh kemudian diinterpretasikan sesuai dengan interpretasi reliabilitas sebagai berikut:

0,00 < 0,20 koefisien reliabiltas Sangat Rendah 0,20 0,40 koefisien reliabilitas Rendah 0,40 0,60 koefisien reliabilitas Sedang 0,60 0,80 koefisien reliabilitas Tinggi

0,80 1,00 koefisien reliabilitas Sangat Tinggi

H. Teknik Analisis Data

1. Analisis Data Keterlaksanaan Pembelajaran Dengan Pendekatan

Saintifik

(80)

Dimana, skor 1 apabila tanda cek (√) diberikan pada kolom “ya” dan skor 0 apabila tanda cek (√) diberikan pada kolom „tidak‟. Pembelajaran

dengan Pendekatan Saintifik dikatan dapat terlaksana dengan baik apabila keterlaksanaan lebih dari sama dengan ( ) 80%.

2. Analisis Data Minat Belajar

1) Analisis Hasil Observasi

Hasil observasi dianalisis secara deskriptif. Observasi digunakan sebagai salah satu alat untuk melihat minat siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan saintifik.

2) Kuesioner

Skor diberikan berdasarkan alternatif jawaban yang diperoleh siswa. Dalam pemberian skor digunakan panduan berikut:

Tabel 3.9 Panduan Pemberian Skor Kuesioner

(81)

3) Menghitung Persentase Minat Siswa

Kuisioner yang telah diisi oleh siswa kemudian dicari skor keseluruhannya sehingga diperoleh data skor setia siswa. Kemudian dari skor tersebut, dicari prosentase minat siswa dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut:

Persentase minat =

Persentase kelas yang diperoleh dari lembar observasi kemudian digunakan sebagai data pendukung untuk mengetahui tingkat minat belajar siswa dari setiap pertemuan. Kemudian data dari hasil observasi pada setiap pertemuan dibandingkan untuk mengetahui adanya peningkatan minat belajar siswa yang tergambar dalam aktivitasnya dalam proses pembelajaran.

4) Mengkategorikan Minat Siswa

Untuk mengetahui tingkat minat siswa, hasil prosentase masing-masing siswa kemudian dikategorikan menggunakan analisis sikap siswa menurut Kartika Budi (2005: 53) sebagai berikut:

Tabel 3.10 Kriteria Minat Siswa

Skor (%) Kriteria

20 Tidak Berminat (TM)

21-40 Kurang Berminat (KM)

41-60 Cukup Berminat (CM)

61-80 Berminat (M)

(82)

Tabel 3.11 Kriteria Minat Siswa Seluruh Siswa

Jumlah Persentase Minat Siswa

Kriteria

3. Analisis Data Hasil Belajar

1) Tes Kemampuan Awal (TKA)

Tabel 3.12 Sistem Penilaian Tes Kemampuan Awal

No Keterangan Skor

1-7

Siswa tidak menuliskan apapun pada lembar

jawaban 0

Siswa mencoba menjawab walaupun hasilnya salah 1 Siswa menjawab dengan tepat dan hasilnya benar 5

(83)

2) Tes Hasil Belajar (THB)

Tabel 3.13 Sistem Penilaian Tes Hasil Belajar

Nomor soal

Keterangan Skor Skor maksimal tiap nomor Siswa hanya menjawab

sampai yang ditanya tanpa penyelesaian dan hasil jawaban

2 Siswa hanya menjawab

sampai penyelesaian tanpa hasil jawaban

3 Siswa menjawab sampai

penyelesaian dan hasilnya salah

4 Siswa menjawab lengkap

dan benar mencakup: diketahui, ditanya, dan langkah penyelesaian serta hasil jawaban yang tepat

Gambar

Gambar 3.1 Spiral Tindakan Kelas………………………………………. 35
Gambar 3.1 Spiral Tindakan Kelas (Aqib, Zaenal, 2006 : 31)
Tabel 3.1 Materi Yang Dibahas Masing-Masing Kelompok Pada
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Kuisioner Penelitian Instrumen Minat
+7

Referensi

Dokumen terkait

untuk menunjukan asli dokumen yang sah dan masih berlaku ( beserta copynya ), sebagaimana yang terlampir dalam daftar isian kualifikasi pada dokumen penawaran

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). [7] Mengungkapkan Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan

9.4.3 Mengenal pasti alat pengubah tenaga yang lain dengan menyatakan perubahan bentuk tenaga yang berlaku menggunakan persembahan multimedia melalui aktiviti dalam

Perancangan rangka yang baik dan kuat pada alat PENTOOL ini memungkinkan untuk menahan beban dari alat yang terpasang.,kerangaka dibagi menjadi dua yaitu kerangka

Sebaliknya, penurunan imbal hasil terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika, dimana pada perdagangan kemarin sebagian besar

Contoh karakteristik yang sesuai dengan teori yang ada adalah teori yang didapatkan dari penelitian yang dilakukan oleh Sonia Hernandez Diaz et al menunjukkan bahwa ibu multipara

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pemberian stimulan dapat meningkatkan produksi lateks, dan benjolan, hanya saja DRC menurun dikolakan larutan stimulan yang

Meningkatkan kinerja karyawan tidak mudah karena kinerja karyawan yang lebih baik dapat tercipta jika gaya kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi dapat