1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia, pendidikan sangatlah penting. Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha yang disengaja untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hasil belajar siswa dapat digunakan untuk menggambarkan efektifitas proses pendidikan di sekolah. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua jenis faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor yang berasal dari luar atau dari lingkungan. Unsur internal siswa, seperti kemampuan, keinginan belajar, kebiasaan belajar, serta karakteristik psikologis dan fisik.
Faktor eksternal berdampak pada hasil belajar siswa di sekolah yaitu kualitas pembelajaran (Prihartini, 2011). Pendidikan adalah proses yang terus menerus dan tidak pernah berakhir yang bertujuan untuk menghasilkan kualitas yang berkelanjutan, berlabuh pada nilai-nilai budaya bangsa, dan ditujukan untuk terwujudnya sosok manusia masa depan (Sujana, 2019).
Setiap siswa mengharapkan untuk mencapai hasil belajar yang positif selama proses pendidikan. Ini terkait erat dengan kemampuan instruktur untuk merancang pembelajaran, yang merupakan elemen kunci dalam pencapaian siswa.
Pembelajaran memperhatikan beberapa faktor, antara lain tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, dan media pembelajaran. Faktor- faktor ini terkait erat. Di sisi lain, banyak guru yang belum mengintegrasikan proses perencanaan pembelajaran dengan baik sesuai dengan perkembangan zaman. Selanjutnya, siswa kurang mampu berkomunikasi dan lebih aktif atau berpartisipasi dalam proses pembelajaran, sehingga terjadi lingkungan belajar
yang berpusat pada guru. Akibatnya, guru dan siswa harus menyesuaikan metode pengajaran dan pembelajaran mereka untuk menggabungkan fitur-fitur ini. Prinsip-prinsip ini berlaku untuk semua mata pelajaran pendidikan, termasuk Ilmu Pengetahuan Alam dalam pelajaran Fisika. Fisika adalah cabang ilmu pengetahuan yang lahir dan berkembang melalui tahapan pengamatan, perumusan masalah, pembentukan hipotesis, pengujian hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan, serta penemuan teori dan konsep.
Penerapan pembelajaran fisika dihadapkan pada permasalahan yang menghambat keberhasilan proses pembelajaran. Masalahnya adalah siswa tidak berpartisipasi penuh dalam proses belajar mengajar. Masalah tersebut muncul karena pembelajaran dilakukan satu arah: guru lebih banyak berbicara di depan siswa sedangkan siswa mendengarkan; guru beranggapan bahwa tugasnya sebatas mentransfer pengetahuan guru kepada siswa dengan tujuan menyampaikan topik- topik yang tercantum dalam dokumen kurikulum kepada siswa, dan kadang- kadang, praktikum dilakukan. Lesson study merupakan upaya yang dianggap bermanfaat dalam meningkatkan proses kegiatan belajar mengajar guna mengatasi pembelajaran yang tidak memberikan tekanan pada proses pembelajaran (Novalina, 2012).
Mengajar adalah salah satu tanggung jawab seorang guru. Tentu saja, agar dapat beroperasi dengan benar, kegiatan pembelajaran ini tidak dapat dilakukan secara acak, tetapi harus mengikuti prinsip-prinsip pembelajaran dan pembelajaran tertentu. Akibatnya, sebagai seorang guru, kita harus memahami konsep belajar dan belajar sehingga Anda dapat mengembangkan dan melakukan kegiatan belajar mengajar. Siswa harus terlibat setiap saat, dimulai dengan
aktivitas fisik yang mudah diamati dan berlanjut ke aktivitas psikologis yang lebih sulit diamati. Karena dimotivasi oleh keinginan, sendiri dan dapat menjadi aktif.
Akibatnya, dalam pembelajaran yang mengolah dan mencerna siswa sesuai dengan kesukaannya, Guru cukup merangsang aktivitas siswa dengan memberikan materi pelajaran, sesuai dengan kemampuan, bakat, dan latar belakangnya (Muis et al., 2013).
Lesson Study adalah kegiatan mengajar yang meliputi tindakan seperti merancang pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengamati pembelajaran, dan merefleksi temuan pengamatan pembelajaran. Kegiatan Lesson Study adalah kegiatan guru yang disusun dan dilaksanakan secara berkala dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran bekerja sama dengan guru lain. Frekuensi dan lamanya pertemuan kegiatan Lesson Study ditentukan berdasarkan kesepakatan komunitas pengajar Lesson Study (Supriatna, 2018). Instruktur pendidikan dasar di Jepang merancang konsep pertama dan menerapkan lesson study pertama dimana. Makoto Yoshida dipuji karena telah memberikan bantuan yang tak ternilai dalam pengembangan Lesson Study ini. Keberhasilan Jepang dalam memproduksi Lesson Study tampaknya juga diikuti oleh negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat, berkat kerja tak kenal lelah Catherine Lewis, yang telah meneliti Lesson Study di Jepang sejak 1993 (Sumani, 2020).
Ada dua Jenis Konsepsi “Pengetahuan” dalam Lesson Study yaitu
(1) Lesson study adalah proses yang selaras dari perencanaan, pengajaran dan pemeriksaan rencana.Fokus Utama Lesson Study: Mengajar
(2) Lesson study adalah proses desain, praktik, dan refleksi yang melingkar untuk menyelidiki fungsi dan hubungan kolaborasi, keaslian, dan desain tugas.Fokus utama Lesson Study: pembelajaran kolaboratif (Sato, 2015).
Pada tahun 1990-an, Lesson Study for Learning Community (LSLC) merupakan salah satu kemajuan dalam praktik Lesson Study. LSLC menganggap sekolah dan ruang kelas sebagai lingkungan sosial. Ini menyiratkan bahwa setiap peserta (guru-orang tua, guru-pakar pendidikan, guru-siswa, siswa-siswa) peduli, belajar satu sama lain, dan terlibat. Analisis Pelajaran Berbasis Transkrip merupakan salah satu model yang dapat digunakan untuk LSLC (TBLA). Model TBLA menggunakan transkrip percakapan pembelajaran untuk menganalisis input pembelajaran. Dalam pendekatan TBLA, kamera diperlukan untuk semua interaksi guru-siswa (dan sebaliknya). Akibatnya, selama transkripsi diskusi, akan lebih mudah untuk mengumpulkan kejadian. Pendekatan TBLA dianggap dapat membuka kesulitan yang muncul selama pembelajaran sehingga guru dapat menerima umpan balik yang lebih detail berdasarkan diskusi yang berlangsung (Winarti et al., 2020).
TBLA merupakan teknik penilaian hasil belajar yang melibatkan penggunaan transkrip hasil dialog siswa-guru dalam kegiatan pembelajaran yang telah diidentifikasi melalui observasi mendalam. TBLA dibuat dalam layanan ini dengan melihat atau mendokumentasikan proses pembelajaran. Guru harus mampu mengembangkan proses pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Mendeteksi masalah belajar pada siswa merupakan salah satu metode. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan pendekatan Analisis Pelajaran Dasar Transkrip (TBLA), yang merupakan cara analitis untuk mempelajari
transkrip. TBLA bermanfaat untuk merefleksikan dan meningkatkan perjalanan belajar seseorang. TBLA sangat baik bagi guru untuk merenungkan dan meningkatkan pengajaran mereka dengan menilai pertanyaan guru, umpan balik yang baik, dan reaksi siswa di kelas (Sudarsana & Suarni, 2020).
Penilaian memiliki peran besar dalam menentukan kesuksesan pendidikan.
Penilaian yang baik memberikan dampak pada proses pembelajaran (Popham, 2009) dalam jurnal Nurjanah (2019). Penilaian merupakan istilah umum yang mencakup semua metode yang biasa digunakan untuk menilai kinerja peserta didik dalam pembelajaran. Salah satu tahap penting dalam proses penilaian adalah pengumpulan informasi. Pengumpulan informasi ini akan dijadikan guru sebagai pengukuran dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik. Dalam penilaian pendidikan, informasi yang dikumpulkan merupakan hasil belajar peserta didik baik yang sifatnya sikap, pengetahuan maupun keterampilan.
Penerapan PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) di sekolah memang sudah dirancang sedemikian rupa agar dapat sampai dengan baik kepada peserta didik. PPK harus dapat terintegrasi dengan semua mata pelajaran yang ada termasuk juga IPA Terpadu. Tidak hanya membahas mengenai pembelajaran IPA Terpadu saja, tetapi guru juga harus mampu mengintegrasikan penanaman karakter ke dalam pembelajaran IPA Terpadu tersebut. Pembelajaran langsung dengan tatap muka memungkinkan pendidik atau guru dapat berinteraksi langsung kepada peserta didik saat PPK berlangsung. Guru dapat menegur atau lebih menekankan PPK ini kepada peserta didik yang dikira kurang dalam aspek tertentu. Banyaknya peserta didik dalam satu kelas ditambah lagi jam pelajaran
yang tidak mencukupi kadang membuat penanaman karakter tidak sampai sepenuhnya kepada peserta didik.
Karakter merupakan kulminasi dari perilaku yang berulang dan menimbulkan kebiasaan yang diperoleh dari pilihan etik, perilaku, dan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Karakter sendiri mencakup keinginan seseorang untuk melakukan suatu hal yang terbaik, memberikan kepedulian dan kesejahteraan terhadap orang lain. Karakter adalah moralitas, kebaikan, kebenaran, dan sikap seseorang yang ditunjukkan dengan suatu tindakan kepada orang lain. Pendidikan karakter merupakan suatu istilah yang secara luas digunakan untuk menggambarkan kurikulum dan program sekolah yang mendorong kepada pengembangan dari nilai-nilai fundamental peserta didik di sekolah. Frye, dkk (2002) menyatakan bahwa konsep pendidikan karakter adalah upaya yang secara sengaja dilakukan untuk membantu orang agar mengerti, peduli, dan berbuat sesuatu berdasarkan nilai etik Nurjanah (2019).
Partisipasi aktif siswa berpengaruh signifikan terhadap perkembangan kognitif, emosional, dan sosialnya. Guru dapat melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran dengan cara membangkitkan minat siswa, memotivasi siswa, dan memasukkan media ke dalam proses pembelajaran. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran melibatkan anak-anak dalam proses pembelajaran pada tingkat yang lebih aktif. Pengalaman peneliti dengan proses Penilaian Kinerja Guru (PKG) mengungkapkan bahwa pembelajaran saat ini masih menggunakan teknik pembelajaran yang membuat siswa pasif, seperti memberikan tugas, dan guru mendidik dengan gaya ceramah, yang mungkin membosankan dan menghambat pertumbuhan aktivitas siswa.
keberhasilan aktivitas belajar siswa dianggap sebagai salah satu ciri pengajaran yang baik. Semakin banyak kegiatan belajar siswa, semakin besar kemungkinan seorang guru akan berhasil (Wibowo, 2016)
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di SMAN 11 Muaro Jambi, didapat dalam proses pembelajarannya guru masih menggunakan metode ceramah. Dengan demikian proses belajar siswa hanya mengandalkan penjelasan dari guru untuk memproleh pengtahuan, sehingga kurangnya PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) dan keaktifan belajar siswa sehingga bersifat teacher centered. Sedangkan zaman kini atau pembelajaran abad ke-21 berfokus pada student center dimana siswa harus berfikir kritis, dapat memecahkan sebuah permasalahan, berkolaborasi, inovasi dan kreatif. Dengan demikian permasalahan tersebut mendapatkan perhatian lebih supaya dapat diperbaiki kedepannya.
Menurut Fathoni et al (2020) Tujuan pembelajaran STEM adalah untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam empat disiplin ilmu yaitu keterampilan sains, keterampilan mengoperasikan teknologi, keterampilan rekayasa penyelesaian masalah dan keterampilan matematika yang sangat cocok diterapkan untuk menghadapi tantangan abad ke 21. Keempat komponen tersebut harus saling melengkapi agar dalam proses pembelajaran siswa dapat merasakan pendekatan STEM dalam pembelajaran memecahkan masalah yang diberikan.
Penerapan pendekatan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) dalam Pembelajaran Berbasis Proyek bukannya tanpa hambatan. Ada beberapa kendala dalam menggunakan PjBL dalam lingkungan belajar: 1) kegagalan untuk menyadari eksperimen karena keterbatasan spasial dan temporal kapasitas, 2) kapasitas untuk menggunakan sumber daya yang tersedia dengan resiko cedera
pada peserta, 3) mahal peralatan atau bahan yang menyebabkan ketidakmampuan untuk menyelesaikan beberapa kegiatan, dan 4) pengulangan beberapa percobaan yang signifikan dan terkait tinggi beban keuangan (Pellas et al., 2017) dalam junal (Widarti et al., 2020). Kita dapat memanfaatkan kemajuan teknologi digital untuk mengatasinya hambatan sehingga dapat mengkonfigurasi kegiatan dengan tujuan yang diharapkan. Salah satu alat yang bias digunakan adalah video pembelajaran atau pun mengguna kan aplikasi pendukung lainnya seperti penggunaan simulasi PHET.
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dijelaskan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul berjudul “Pembelajaran Lesson Study Pada Materi Elastisitas Dan Hukum Hooke Dengan
Pendekatan STEM di SMA N 11 Muaro Jambi’’
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan oleh peneliti, maka rumusan masalah yang akan ditindaklanjuti dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan pembelajaran lesson study pada materi elastisitas dan hukum hooke dengan pendekatan STEM di SMA N 11 Muaro Jambi?
2. Bagaimana mengidentifikasi sikap PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) dan keaktifan belajar siswa dengan pembelajaran lesson study pada materi elastisitas dan hukum hooke dengan pendekatan STEM di SMA N 11 Muaro Jambi?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran lesson study pada materi elastisitas dan hukum hooke dengan pendekatan STEM di SMA N 11 Muaro Jambi.
2. Untuk mengidentifikasi sikap PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) dan keaktifan belajar siswa dengan pembelajaran lesson study pada materi elastisitas dan hukum hooke dengan pendekatan STEM di SMA N 11 Muaro Jambi.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan peneliti dari penelitian ini adalah:
1. Bagi siswa
a. Memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan memotivasi siswa untuk belajar IPA khususnya fisika.
b. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplor dirinya, saling bekerja sama, dan menumbuhkan hubungan sosial terhadap siswa lainnya.
2. Bagi guru
a. Dengan dilaksanakan penelitian ini guru dapat mengetahui penerapan lesson study.
b. Meningkatkan kesadaran guru akan pentingnya permasalahan yang dihadapi siswa dan memperbaiki serta menerapkan metode atau model pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi siswa.
3. Bagi sekolah
Memberikan informasi mengenai pentingnya perbaikan pembelajaran melalui penerapan pembelajaran lesson study pada materi Elastisitas dan Hukum
Hooke dengan pendekatan STEM berbasis TBLA (Transcript Based Lesson Analysis )
4. Bagi peneliti
a. Mendapatkan gambaran yang jelas mengenai penerapan lesson study.
b. Mendapatkan pengalaman langsung dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas mengenai lesson study.
c. Dapat memperbaiki proses pembelajaran dengan menggunakan TBLA (Transcript Based Lesson Analysis).
d. Sebagai informasi yang bermanfaat untuk pengembangan penelitian selanjutnya, khususnya pengembangan pembelajaran di bidang Fisika.