• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jl. Selamanik No. 16 A Banjarnegara 53415 [email protected]

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Jl. Selamanik No. 16 A Banjarnegara 53415 [email protected]"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BALABA

ARTIKEL

Faktor Perilaku yang Berhubungan dengan Hasil Pemeriksaan Jentik Pasca Keberadaan Surveilans Angka Bebas Jentik di Kecamatan Tembalang Kota Semarang Diana Andriyani Pratamawati, Widiarti, Wiwik / Trapsilowati, Riyani Setiyaningsih

Susceptibility Status of Aedes aegypti Mosquito (Diptera: Culicidae) to Organophosphate and Pyrethroid Insecticides in Tanjung Priok Port Health Quarantine/Yahiddin Seliandro, Sitti Rahmah Umniyati Tri , Baskoro T. Satoto, Nur Alvira Pascawati

Evaluasi Penularan Filariasis Limfatik di Provinsi Riau dan Bangka Belitung: Parasit pada Manusia dan Reservoir/Santoso, Yahya, Lasbudi Pertama Ambarita, Anif Budiyanto, Nungki Hapsari Suryaningtyas, I Gede Wempi DSP, Yanelza Supranelfy, Tanwirotun Ni'mah, Anorital, Rita Marleta

Seroprevalence of Japanese nchephalitis Infection Pigs in Tulungagung, East Javae in /Dyah Widiastuti, Tri Wijayanti, Tri Isnani, Nova Pramestuti, Siwi Mars Pramatama Wijayanti

Maya Index dan Kepadatan Larva Aedes aegypti di Kota Ternate, Maluku Utara/Amalan Tomia, Upik Kesumawati Hadi, Susi Soviana, Elok Budi Retnani

Pengaruh Lama Penyimpanan Telur erhadap t Transovarial Infection Rate Virus DEN-3 ada Nyamuk p Aedes aegypti/Tri Wahono, Sitti Rahmah Umniyati, Tri Baskoro Tunggul Satoto

Pemberantasan Rabies di Indonesia sebagai Upaya Mewujudkan Right to Life, Right to Health/Risqa Novita Proporsi Larva Aedes aegypti dan Aedes albopictus , Hubungannya dengan Kejadian Demam erdarah B Dengue di Daerah Endemik Suburban Kabupaten Sleman, Yogyakarta Bobby Fahmi Muldan Pahlevi, Tri / Wulandari Kesetyaningsih

Hubungan Kondisi Lingkungan dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti di Daerah Endemis DBD di Kota Banjarbaru Norsita Agustina, Abdullah, Edy Arianto/

Pengetahuan dan Karakteristik Individu: Studi Cakupan Kepatuhan Minum Obat Paska Pemberian Obat Massal Pencegahan Filariasis di Kabupaten Tangerang Heni Prasetyowati, Dewi Nur Hodijah, Mara Ipa, Joni / Hendri

JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA

VOLUME 15 NOMOR 2 DESEMBER 2019

ISSN 1858-0882 E-ISSN 2338-9982

BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN (BALAI LITBANG KES ) - BANJARNEGARA

Jl. Selamanik No. 16 A Banjarnegara 53415 [email protected]

Terakreditasi Peringkat 2 Kemenristek Dikti Nomor 30/E/KPT/2018

(2)

Pemimpin Redaksi (Editor In Chief):

Dwi Priyanto, S.Si, M.Sc

Anggota Dewan Redaksi (Editors):

Sunaryo, SKM, M.Sc (Geografi Kesehatan, Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara, Indonesia)

Asyhar Tunissea, SKM, M.Kes (Kesehatan Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara, Indonesia) Bina Ikawati, SKM, M.Kes (Kesehatan Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara, Indonesia) Tri Isnani, S.Sos (Perilaku Kesehatan, Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara, Indonesia)

Dyah Widiastuti, S.Si, M.Sc (Biologi Molekuler, Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara, Indonesia) Dewi Marbawati, S.Si, M.Sc (Biologi Molekuler, Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara, Indonesia) Zumrotus Sholichah, SKM, M.Sc (Epidemiologi, Ba Litbang Kesehatanlai Banjarnegara, Indonesia) Santoso, SKM, M.Sc (Epidemiologi dan Biostatistik Balai Litbang Kesehatan Baturaja, Indonesia)

Endang Pujiastuti, SKM, M.Si (Epidemiologi dan Biostatistik Loka Litbang Kesehatan Pangandaran, Indonesia) Hayani Anastasia, SKM, MPH (Epidemiologi dan Biostatistik Balai Litbang Kesehatan Donggala, Indonesia) Tri Wijayanti, SKM, M.Sc (Parasitologi, Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara, Indonesia)

Redaksi Pelaksana (Management Board):

Nova Pramestuti, SKM, M.Sc Puji Astuti, A.Md

Somsiah, A.Md Novia Tri Astuti, SKM

Mitra Bestari (Scientific Editorial Board):

Prof (Riset) dr. Emiliana Tjitra, DTM&H, M.Sc, Ph.D (Biomedik, Badan Litbang Kesehatan, Indonesia) Prof. Dr. Rosichon Ubaidillah, M.Phill (Entomologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)

Prof. drh. Setyawan Budiharta, MPH, Ph.D (Epizoologi)

Dr. dr. Bagoes Widjanarko, MPH, MA (Promosi Kesehatan, Universitas Diponegoro, Indonesia)

Dr. M. Sakundarno Adi, M.Sc, Ph.D (Epidemiologi Penyakit Menular, Universitas Diponegoro, Indonesia) Prof. Upik Kesumawati Hadi, MS., Ph.D (Epidemiologi Kesehatan, Institut Pertanian Bogor, Indonesia) dr. Tri Baskoro Tunggul Satoto, M.Sc., Ph.D (Epidemiologi Kesehatan, Universitas Gadjah Mada, Indonesia) Siwi Pramatama Mars Wijayanti, S.Si., M.Kes., Ph.D (Epidemiologi Molekuler, Unsoed, Indonesia)

Dr. Tri Ramadani, M.Sc (Entomologi, Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara, Indonesia) Perwajahan (Layout):

Nur Sholihatin, S.Sos Ratih Sulistiyanti, A.Md Sekretariat (Secretariat):

Bondan Fajar Wahyudi, SKM Endang Setiyani, A.Md Rahmawati, S.Si, MPH Vina Yuliana, A.Md, KL

Diterbitkan oleh (Published by):

Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara Alamat Redaksi:

Jl. Selamanik No 16 A Banjarnegara 53415, Telp/Fax (0286) 594972 Website: https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/blb Email: [email protected]

BALABA

JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA

VOLUME 15 NOMOR 2 DESEMBER 2019

ISSN 1858-0882 E-ISSN 2338-9982

(3)

JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBERBINATANGBANJARNEGARA VOLUME 15 NOMOR 2 DESEMBER 2019

DAFTAR ISI

Faktor Perilaku yang Berhubungan dengan Hasil Pemeriksaan Jentik Pasca Keberadaan Surveilans Angka Bebas Jentik di Kecamatan Tembalang Kota Semarang

Diana Andriyani Pratamawati, Widiarti, Wiwik Trapsilowati, Riyani Setiyaningsih ……… 91-104 Susceptibility Status of Aedes aegypti Mosquito (Diptera: Culicidae) to Organophosphate and

Pyrethroid Insecticides in Tanjung Priok Port Health Quarantine

Yahiddin Seliandro, Sitti Rahmah Umniyati, Tri Baskoro T. Satoto, Nur Alvira

Pascawati……… 105-114

Evaluasi Penularan Filariasis Limfatik di Provinsi Riau dan Bangka Belitung: Parasit pada Manusia dan Reservoir

Santoso, Yahya, Lasbudi Pertama Ambarita, Anif Budiyanto, Nungki Hapsari Suryaningtyas, I Gede Wempi DSP, Yanelza Supranelfy, Tanwirotun Ni’mah, Anorital, Rita Marleta………….. 115-124 Seroprevalence of Japanese enchephalitis Infection in Pigs in Tulungagung, East Java

Dyah Widiastuti, Tri Wijayanti, Tri Isnani, Nova Pramestuti, Siwi Mars Pramatama

Wijayanti... 125-132 Maya Index dan Kepadatan Larva Aedes aegypti di Kota Ternate, Maluku Utara Amalan Tomia, Upik Kesumawati Hadi, Susi Soviana, Elok Budi Retnani... 133-142 Pengaruh Lama Penyimpanan Telur terhadap Transovarial Infection Rate Virus DEN-3 pada

Nyamuk Aedes aegypti

Tri Wahono, Sitti Rahmah Umniyati, Tri Baskoro Tunggul Satoto... 143-150 Pemberantasan Rabies di Indonesia sebagai Upaya Mewujudkan Right to Life, Right to Health

Risqa Novita... 151-162 Proporsi Larva Aedes aegypti dan Aedes albopictus, Hubungannya dengan Kejadian Demam

Berdarah Dengue di Daerah Endemik Suburban Kabupaten Sleman, Yogyakarta

Bobby Fahmi Muldan Pahlevi, Tri Wulandari Kesetyaningsih………...

Hubungan Kondisi Lingkungan dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti di Daerah Endemis DBD di Kota Banjarbaru

163-170

Norsita Agustina, Abdullah, Edy Arianto…... 171-178 Pengetahuan dan Karakteristik Individu: Studi Cakupan Kepatuhan Minum Obat Paska

Pemberian Obat Massal Pencegahan Filariasis di Kabupaten Tangerang

Heni Prasetyowati, Dewi Nur Hodijah, Mara Ipa, Joni Hendri……… 179-190

(4)

PENGANTAR REDAKSI

BALABA Volume 15 Nomor 2, Desember 2019 memuat 10 artikel. Edisi ini mengulas beberapa topik yaitu pengaruh pemeriksaan larva Aedes, status kerentanan insektisida, filariasis, Japanese encephalitis, transmisi transovarial virus Dengue, rabies, proporsi larva Aedes terhadap kejadian DBD, kondisi lingkungan hubungannya dengan keberadaan larva. Artikel pertama yang berjudul “Faktor Perilaku yang Berhubungan dengan Hasil Pemeriksaan Jentik Pasca Keberadaan Surveilans Angka Bebas Jentik di Kecamatan Tembalang Kota Semarang” membahas pelaksanaan pemantauan jentik secara rutin hubungannya dengan angka bebas jentik.

Artikel kedua dengan judul “Susceptibility Status of Aedes aegypti Mosquito (Diptera:

Culicidae) to Organophosphate and Pyrethroid Insecticides in Tanjung Priok Port Health Quarantine”

mengevaluasi status kerentanan insektisida golongan organofosfat dan piretroid, peningkatan aktifitas enzim esterase non spesifik dan mutasi gen voltage-gated sodium channel (VGSC) pada nyamuk Ae.

aegypti. Artikel ketiga berjudul “Evaluasi Penularan Filariasis Limfatik di Provinsi Riau dan Bangka Belitung: Parasit pada Manusia dan Reservoir” membahas tentang status eliminasi filariasis di daerah yang telah melakukan pengobatan massal selama 5 tahun.

Artikel keempat berjudul “Seroprevalence of Japanese enchephalitis Infection in Pigs in Tulungagung, East Java” melaporkan tentang tingkat infeksi JE pada babi sebagai penilaian risiko JE pada manusia. Artikel kelima dengan judul “Maya Index dan Kepadatan Larva Aedes aegypti di Kota Ternate, Maluku Utara” membahas kepadatan larva Ae. aegypti dan maya indeks di Kota Ternate untuk memprediksi potensi penularan DBD.

Artikel keenam dengan judul “Pengaruh Lama Penyimpanan Telur Terhadap Transovarial Infection Rate Virus DEN-3 pada Nyamuk Aedes aegypti” membahas tentang lama penyimpanan telur berpengaruh terhadap transovarial infection rate virus DEN-3. Artikel ketujuh dengan judul

“Pemberantasan Rabies di Indonesia sebagai Upaya Mewujudkan Right to Life, Right to Health”

Artikel literature review ini membahas tentang pengaruh hukum kesehatan masyarakat di Indonesia terhadap pelaksanaan pemberantasan rabies di Indonesia dan menyatukan berbagai aspek yang berpengaruh terhadap pemberantasan rabies di Indonesia.

Artikel kedelapan yang berjudul “Proporsi Larva Aedes aegypti dan Aedes albopictus, Hubungannya dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Daerah Endemik Suburban Kabupaten Sleman, Yogyakarta.” menganalisis hubungan keberadaan larva Ae. albopictus dengan kejadian DBD di daerah suburban. Artikel kesembilan berjudul “Hubungan Kondisi Lingkungan dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti di Daerah Endemis DBD di Kota Banjarbaru” menganalisis hubungan kondisi lingkungan (suhu air, pH, dan jenis kontainer) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Artikel terakhir yang menutup edisi ini berjudul “Pengetahuan dan Karakteristik Individu: Studi Cakupan Kepatuhan Minum Obat Paska Pemberian Obat Massal Pencegahan Filariasis di Kabupaten Tangerang” menganalisis hubungan pengetahuan dan karakteristik individu dengan keikutsertaan dan kepatuhan minum obat pencegah filariasis.

Semoga tulisan-tulisan ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Akhir kata, redaksi Jurnal BALABA mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim, penulis, reviewer dan mitra bestari, serta seluruh pihak yang mendukung dan membantu penerbitan BALABA Volume 15 No. 2 Desember 2019.

Salam,

Redaksi

(5)

LEMBAR ABSTRAK

Lembar abstrak ini boleh diperbanyak/dicopy tanpa izin

Diana Andriyani Pratamawati, Widiarti, Wiwik Trapsilowati, Riyani Setiyaningsih

(Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga)

Faktor Perilaku yang Berhubungan dengan Hasil Pemeriksaan Jentik Pasca Keberadaan Surveilans Angka Bebas Jentik di Kecamatan Tembalang Kota Semarang BALABA

Vol. 15 No. 2, Desember 2019, Hal. 91-104 Kecamatan Tembalang menjadi wilayah dengan Incidence Rate (IR) DBD tertinggi di Kota Semarang tahun 2014-2016. Incidence rate DBD di Kecamatan Tembalang pada tahun 2016 sebesar 166,89/100.000 penduduk dengan Case Fatality Rate (CFR) 1,02%.

Pemerintah Kota Semarang telah menjalankan Perda No.5 tahun 2010 tentang pengendalian DBD dengan dibentuknya petugas khusus pemantauan jentik yaitu Kader Semantik (Semarang Bebas Jentik) dan Gasurkes (Petugas Surveilans Kesehatan) untuk melakukan pemantauan jentik rutin serta mensosialisasikan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)-3M Plus. Namun, kasus DBD di Kecamatan Tembalang masih terus ada.

Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor perilaku yang berhubungan dengan hasil pemeriksaan jentik di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Jenis penelitian ini adalah cross sectional. Sampel diambil secara kuota dengan jumlah 100 responden. Kriteria sampel yang diambil adalah kasus DBD terbaru yang tercatat di Data Dinas Kesehatan Kota Semarang (Januari s.d September 2017) serta satu tetangganya yang seumur namun tidak sakit DBD pada periode yang sama. Data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan faktor perilaku melakukan pemantauan jentik secara rutin berhubungan dengan hasil pemeriksaan jentik (p <0,05) dengan faktor risiko OR = 5,02 serta dari hasil observasi diperoleh ABJ di Kecamatan Tembalang sebesar 89% pada tahun 2017. Hal ini perlu menjadi perhatian tambahan dalam prosedur pemantauan jentik oleh Semantik dan Gasurkes. Karena semakin

lengkap kualitas pemeriksaan jentiknya, maka kejadian DBD dapat dicegah.

Kata kunci: jentik, PSN, DBD, Tembalang --- Yahiddin Seliandro, Sitti Rahmah Umniyati, Tri Baskoro T. Satoto, Nur Alvira Pascawati (Sub-Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kementerian Kesehatan)

Status Kerentanan Nyamuk Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) terhadap Insektisida Organofosfat dan Piretroid di Kantor Kesehatan Pelabuhan Tanjung Priok

BALABA

Vol. 15 No. 2, Desember 2019, Hal. 105-114 Penanggulangan penyakit tular hewan dan vektor di wilayah kesehatan pelabuhan harus dilakukan secara cepat dan tepat. Salah satu tindakan yang dilakukan adalah pengendalian nyamuk Ae. aegypti menggunakan insektisida.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mengevaluasi status kerentanan insektisida golongan organofosfat dan piretroid, peningkatan aktifitas enzim esterase non spesifik dan mutasi gen voltage-gated sodium channel (VGSC) pada nyamuk Ae. aegypti di area kerja Karantina Kantor Kesehatan Pelabuhan Tanjung Priok tahun 2016. Status kerentanan insektisida golongan organofosfat dan piretroid ditentukan oleh tiga metode uji yang berbeda: metode bioassay (kertas impregnasi yang mengandung 0,8% malathion, sipermetrin 0,05% dan temephos 0,02 ppm).

Metode biokimia dan uji biomolekuler (PCR dan sequencing) untuk mengetahui mutasi gen VGSC. Pengujian bioassay menggunakan insektisida malathion, sipermetrin dan temephos menunjukan bahwa Ae. aegypti yang berasal dari pelabuhan Tanjung Priok, Sunda Kelapa, dan Muara Angke telah resisten terhadap malathion dan sipermetrin, sedangkan larva Ae. aegypti masih rentan terhadap temephos. Hasil pengujian biokimia pada nyamuk Ae. aegypti terhadap organofosfat menunjukkan tingkat resistensi sedang dan sensitif. Mutasi gen VGSC terjadi pada site

(6)

S989P dan V1016G, sedangkan pada site F1534 belum menunjukkan adanya mutasi.

Kata kunci: Ae. aegypti, malathion, temephos, cypermethrin, voltage-gated sodium channel --- Santoso, Yahya, Lasbudi Pertama Ambarita, Anif Budiyanto, Nungki Hapsari Suryaningtyas, I Gede Wempi DSP, Yanelza Supranelfy, Tanwirotun Ni’mah, Anorital, Rita Marleta

(Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja)

Evaluasi Penularan Filariasis Limfatik di Provinsi Riau dan Bangka Belitung: Parasit pada Manusia dan Reservoir

BALABA

Vol. 15 No. 2, Desember 2019, Hal. 115-124 Pengobatan massal dan survei evaluasi penularan filariasis merupakan strategi dalam pengendalian limfatik filariasis. Surveilans periode stop Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) perlu dilakukan setahun sekali selama 5 tahun sebelum mendapatkan sertifikat eliminasi filariasis. Tujuan penelitian ini untuk menentukan status eliminasi filariasis di daerah yang telah melakukan pengobatan massal selama 5 tahun selama bulan Juli-November 2017, telah dilakukan pengambilan darah jari penduduk berusia 5 tahun ke atas dan pemeriksaan terhadap hewan reservoir di Provinsi Riau dan Bangka Belitung. Hasil studi mendapatkan bahwa Mf rate di Kabupaten Kuatan Singingi dan Pelalawan di Provinsi Riau adalah <1%, sedangkan Mf rate di Kabupaten Bangka Barat dan Belitung adalah

>1% dengan spesies Brugia malayi. Prevalensi kecacingan hasil pemeriksaan feses di Kabupaten Kuantan Singingi sebesar 13,6%;

Pelalawan 2,4%; Bangka Barat 5,3%; dan Belitung 11,5%. Hewan reservoir positif B.

malayi yaitu 2 ekor kucing (Felis cattus); 1 ekor anjing (Canis familiaris), dan 1 ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Provinsi Riau sudah tidak menjadi daerah endemis filariasis (Mf rate <1%), sedangkan Provinsi Bangka Belitung Mf rate masih >1%.

Risiko penularan di Kabupaten Kuantan Singingi sudah rendah, sedangkan di Kabupaten Pelalawan, Bangka Barat, dan Belitung masih tinggi.

Kata kunci: Riau, Bangka Belitung, limfatik filariasis, reservoir, evaluasi

--- Dyah Widiastuti, Tri Wijayanti, Tri Isnani, Nova Pramestuti, Siwi Mars Pramatama Wijayanti

(Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara)

Seroprevalensi Infeksi Japanese Enchephalitis pada Babi di Tulungagung, Jawa Timur

BALABA

Vol. 15 No. 2, Desember 2019, Hal. 125-132 Babi memainkan peran sebagai amplifying host untuk Japanese enchephalitis (JE), sehingga surveilans infeksi JEV pada babi sangat penting dilakukan untuk mencegah tranmisi virus ini ke manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat infeksi JE pada babi sebagai penilaian risiko JE pada manusia. Daerah penelitian terletak di Kabupaten Tulungagung, salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur dengan jumlah peternakan babi terbanyak. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional, dilakukan di 5 peternakan babi di Kabupaten Tulungagung pada bulan April-November 2016, dengan total 63 ekor babi yang diperiksa. Darah vena diambil dari masing- masing babi dan diperiksa menggunakan IgG- Enzyme Link Immuno-Sorbent Assay (IgG- ELISA) spesifik JEV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat infeksi JE pada sampel babi secara keseluruhan adalah 19,05%

(12/63). Prevalensi Ab JE pada babi usia 4-6 bulan lebih tinggi (22,7%) dibandingkan dengan babi usia 2-3 bulan. Infeksi JE pada babi cenderung lebih tinggi (23,1%) pada peternakan yang ditemukan positif jentik Culex. Jenis kelamin, umur babi dan keberadaan jentik Culex di sekitar peternakan babi tidak berhubungan secara signifikan dengan besarnya angka infeksi JE pada babi.

Keberadaan antibodi virus JE pada populasi babi di Tulungagung menunjukkan ada potensi transmisi virus JE pada manusia

Kata kunci: Japanese encephalitis, Babi, seroprevalensi

---

(7)

Amalan Tomia, Upik Kesumawati Hadi, Susi Soviana, Elok Budi Retnani

(Universitas Muhammadiyah Maluku Utara) Maya Index dan Kepadatan Larva Aedes aegypti di Kota Ternate, Maluku Utara BALABA

Vol. 15 No. 2, Desember 2019, Hal. 133-142 Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Pengetahuan terkait habitat larva sangat penting untuk pengendalian Ae.

aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kepadatan larva Ae. aegypti dan maya indeks di Kota Ternate. Koleksi larva Aedes spp. menggunakan metode single larva.

Pengamatan karakteristik habitat dilakukan secara visual dengan mengamati kontainer yang menjadi habitat larva Ae. aegypti.

Penelitian dilakukan pada 20 kelurahan di Kota Ternate selama 5 bulan. Parameter yang dihitung adalah Container Index (CI), Breteau Index (BI), House Index (HI), Density Figure (DF), dan maya index. Berdasarkan maya index, sebanyak 1.990 rumah pada 20 kelurahan di Kota Ternate termasuk dalam kategori risiko sedang (78,64%) dengan nilai CI (43,95%), HI (84,99%), BI (228,91), dan DF pada kategori tinggi (DF=8,7). Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar rumah penderita masih memiliki potensi penularan infeksi virus Dengue.

Kata kunci: maya index, Aedes aegypti, Kota Ternate

--- Tri Wahono, Sitti Rahmah Umniyati, Tri Baskoro Tunggul Satoto

(Loka Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Pangandaran)

Pengaruh Lama Penyimpanan Telur terhadap Transovarial Infection Rate Virus DEN-3 pada Nyamuk Aedes aegypti

BALABA

Vol. 15 No. 2, Desember 2019, Hal. 143-150 Transmisi transovarial virus dengue merupakan fenomena penting yang menjadi penyebab bertahannya virus dengue selama

periode inter-epidemic di alam. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh lama penyimpanan telur terhadap Transovarial Infection Rate (TIR) virus DEN-3 pada nyamuk Aedes aegypti. Jenis penelitian laboratoris dengan rancangan penelitian eksperimental. Nyamuk Ae. aegypti diinfeksi virus DEN-3 secara per-oral dan dibiarkan untuk menjalani siklus gonotrofiknya. Telur kemudian disimpan pada suhu kamar (25±3oC) dan kelembapan relatif 70±5% dengan variabel 0, 1, 2 dan 3 bulan. Telur ditetaskan kemudian dilakukan rearing sampai menjadi nyamuk dewasa. Sampel nyamuk dewasa betina diambil dari koloni dengan variabel 4, 8, 16 hari. Sampel dibuat preparat head squash dengan metode imunositokimia Streptavidin Biotin Peroxidase Complex (SBPC) menggunakan antibodi monoklonal DSSE 10 dan dilakukan deteksi keberadaan antigen virus. Transovarial infection rate diperoleh dengan menghitung prosentase jumlah sampel positif. Data dianalisis dengan uji regresi linear. Hasil TIR pada sampel 4, 8, 16 hari diperoleh nilai terendah pada penyimpanan 0 bulan (33,33%; 33,33%; 40,00%) dan tertinggi pada penyimpanan 2 bulan (76,67%; 66,67%;

76,67%). Uji menunjukkan hasil yang berbeda nyata (p = 0,013) dengan nilai α = 0,05 dan nilai R2 = 0,476. Lama penyimpanan telur berpengaruh terhadap TIR virus DEN-3 dengan kontribusi sebesar 47,6%.

Kata kunci: transovarial infection rate, lama penyimpanan telur, infeksi per-oral, virus DEN-3, Aedes aegypti

--- Risqa Novita

(Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan Kemenkes RI)

Pemberantasan Rabies di Indonesia sebagai Upaya Mewujudkan Right to Life, Right to Health

BALABA

Vol. 15 No. 2, Desember 2019, Hal. 151-162 Rabies termasuk salah satu penyakit menular dari hewan ke manusia yang mendapat perhatian serius oleh Pemerintah berkaitan dengan angka kematian yang cukup tinggi pada manusia. Sebanyak 26 provinsi di

(8)

Indonesia belum bebas dari rabies hingga tahun 2017. Tujuan penulisan sistematik review ini untuk mengetahui pengaruh hukum kesehatan masyarakat di Indonesia terhadap pelaksanaan pemberantasan rabies di Indonesia, dan untuk mewujudkan right to life and right to health dalam menyatukan berbagai aspek yang berpengaruh terhadap pemberantasan rabies di Indonesia agar tujuan Indonesia untuk bebas dari rabies pada tahun 2030 dapat tercapai. Perundang-undangan di Indonesia yang ada saat ini sudah cukup lengkap sebagai aspek legal, payung hukum terhadap pelaksanaan pemberantasan rabies.

Namun, implementasi peraturan-peraturan tersebut belum dilakukan sepenuhnya karena peraturan tersebut pada umumnya dibuat oleh Pemerintah Pusat, sedangkan pelaksanaan berada di Pemerintah Daerah yang belum semua daerah memiliki Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur pelaksanaan pemberantasan rabies, sehingga perlu adanya Perda sebagai payung pelaksanaan pemberantasan rabies di daerah. Hukum kesehatan masyarakat berpengaruh terhadap pelaksanaan pemberantasan rabies di Indonesia, dan untuk mewujudkan right to life and right to health dalam menyatukan berbagai aspek yang berpengaruh terhadap pemberantasan rabies di Indonesia agar tujuan Indonesia untuk bebas dari rabies pada tahun 2030 dapat tercapai.

Kata kunci: rabies, Indonesia, hak untuk hidup, hak untuk sehat, zoonosis

--- Bobby Fahmi Muldan Pahlevi, Tri Wulandari Kesetyaningsih

(Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) Proporsi Larva Aedes aegypti dan Aedes albopictus, Hubungannya dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Daerah Endemik Suburban Kabupaten Sleman, Yogyakarta

BALABA

Vol. 15 No. 2, Desember 2019, Hal. 163-170 Demam Berdarah Dengue (DBD) ditularkan oleh Aedes aegypti dan Ae. albopictus. Aedes aegypti memilih hidup di dalam rumah, Ae.

albopictus di kebun. Aedes aegypti terbukti

berperan pada penularan DBD di perkotaan.

Diasumsikan bahwa suburban lebih banyak kebun, sehingga dimungkinkan Ae. albopictus berperan sebagai vektor. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan keberadaan larva Ae.

albopictus dengan kejadian DBD di daerah suburban. Penelitian dilakukan di Kecamatan Godean, termasuk daerah endemik suburban di Kabupaten Sleman. Sejumlah 280 ovitrap ditempatkan di dalam rumah dan di kebun yang tersebar pada 7 kelurahan. Tiap kelurahan diwakili satu dusun, setiap dusun dipasangi 40 ovitrap di dalam rumah dan di kebun kemudian dihitung proporsi ovitrap yang mengandung larva Ae. aegypti dan Ae. albopictus. Hasil menunjukkan proporsi larva Ae. aegypti lebih banyak di dalam rumah (78,50%) daripada di kebun (21,45%) di semua kelurahan.

Keberadaan larva Ae. aegypti di dalam rumah berkorelasi negatif dengan DBD (p=0.036; r=- 0,786). Larva Ae. albopictus lebih banyak ditemukan di kebun (80,64%) daripada di dalam rumah (19,36%) dan keberadaannya tidak berkorelasi dengan DBD (p=0,702).

Disimpulkan bahwa di daerah endemik suburban Kabupaten Sleman, larva Ae. aegypti lebih banyak di dalam rumah dan berkorelasi negatif dengan DBD, larva Ae. albopictus lebih banyak di kebun dan tidak berkorelasi dengan kejadian DBD.

Kata kunci: DBD, vektor, Aedes aegypti, Aedes albopictus, suburban

--- Norsita Agustina, Abdullah, Edy Arianto (Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al- Banjary Banjarmasin)

Hubungan Kondisi Lingkungan dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti di Daerah Endemis DBD di Kota Banjarbaru

BALABA

Vol. 15 No. 2, Desember 2019, Hal. 171-178 Kota Banjarbaru merupakan daerah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD), khususnya Kelurahan Guntung Manggis. Jumlah kasus DBD tahun 2018 sebanyak 10 orang dengan kematian 2 orang. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan kondisi lingkungan dengan keberadaan jentik Aedes aegypti.

Penelitian menggunakan studi analitik dengan

(9)

pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan Januari 2019. Populasi adalah semua rumah yang ada di RT 46 RW III Kota Banjarbaru sebanyak 168 rumah, sampel sebanyak 63 rumah dengan menggunakan teknik random sampling. Pengumpulan data jentik Ae. aegypti dengan metode single larva.

Data kondisi lingkungan didapatkan dengan pengukuran derajat keasaman (pH) dan pengukuran suhu air. Analisis data menggunakan uji chi-square dan uji fisher exact dengan nilai kemaknaan (α) 0,05. Hasil penelitian menunjukkan suhu air dan jenis kontainer berhubungan dengan keberadaan jentik Ae. aegypti (p-value 0,000). Sedangkan derajat keasaman (pH) tidak berhubungan dengan keberadaan jentik Ae. aegypti (p-value 0,144).

Kata kunci: Ae. aegypti, jentik, kondisi lingkungan, endemis, demam berdarah Dengue

--- Heni Prasetyowati, Dewi Nur Hodijah, Mara Ipa, Joni Hendri

(Loka Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Pangandaran)

Pengetahuan dan Karakteristik Individu:

Studi Cakupan Kepatuhan Minum Obat Paska Pemberian Obat Massal Pencegahan Filariasis di Kabupaten Tangerang

BALABA

Vol. 15 No. 2, Desember 2019, Hal. 179-190 Kabupaten Tangerang sebagai salah satu kabupaten endemis filariasis telah menyelesaikan Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) sebanyak lima putaran mulai tahun 2008 sampai dengan 2012. Kemunculan kembali kasus baru paska pemberian obat massal perlu diwaspadai dan diperlukan evaluasi terkait kepatuhan masyarakat dalam minum obat massal pencegahan serta pengetahuan dan karakteristik individu yang mempengaruhi. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan karakteristik individu dengan keikutsertaan dan kepatuhan minum obat pencegah filariasis.

Variabel yang dianalisis adalah karakteristik individu yang meliputi jenis kelamin, umur,

status perkawinan, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan serta variabel pengetahuan. Variabel tersebut dianalisa menggunakan uji regresi.

Berdasarkan hasil wawancara 660 responden, hanya 54% responden yang mengaku ikut serta dalam program POPM. Hasil analisis statistik menunjukkan jenis kelamin, umur responden serta pengetahuan memiliki hubungan yang signifikan terhadap keikutsertaan responden dalam program pengobatan filariasis. Dari 54%

responden yang ikut serta dalam POPM filariasis hanya 70% yang meminum semua obat yang diberikan. Semua variabel yang diuji tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan responden dalam meminum obat filariasis yang diterima.

Keikutsertaan masyarakat dalam POPM masih dibawah target yang ditentukan, demikian pula kepatuhan masyarakat dalam meminum obat.

Kata kunci: pengetahuan, POPM, filariasis limfatik, kepatuhan

---

(10)

ABSTRACT SHEET

This abstract sheet may reproduced/copied without permission Diana Andriyani Pratamawati, Widiarti, Wiwik

Trapsilowati, Riyani Setiyaningsih

(Center for Research and Development of Disease Vectors and Reservoir Salatiga) Behavior Factors Associated with Results of Post Larvae Examination of Surveilans in Tembalang District, Semarang City

BALABA

Vol. 15 No. 2, 2019 December, p. 91-104 Tembalang Subdistrict is still ranked as the first highest IR Dengue in Semarang City in 2014-2016. Incidence rate of dengue in Tembalang Sub District in 2016 was Dengue hemorrhagic fever (DHF) IR 166.89/100,000 population with Case Fatality Rate (CFR) 1.02%. The Semarang City Government has implemented PERDA No.5 of 2010 concerning DHF control with the establishment of special larvae monitoring officers namely Semantik (Semarang Bebas Jentik) and Gasurkes (Health Surveillance Officer) to conduct routine larval monitoring and socialize PSN- 3M Plus. However, dengue cases in Tembalang District continue to exist.The purpose of the study was to identify behavioral factors related to monitoring larva presence in Tembalang District, Semarang City. This study is based on the cross sectional method, with quota sampling was used to recruit 100 respondents. The criteria for the case were the latest DHF cases recorded in the Semarang City Health Office Data (January to September 2017). Samples were taken in quota with 100 respondents. Data were analyzed by analytic descriptive using chi-square analysis and odds ratio. The results showed behavioral factors to monitor larvae routinely related to the results of larvae examination (p <0,05) with risk factors OR = 5,02 and form observations obtained ABJ in Tembalang District by 89% in 2017. This needs additional attention in the larva monitoring procedure by Semantics and Gasurkes. The more complete the quality of the larvae examination, the existence of larvae can be eradicated, so that the incidence of DHF can be prevented.

Keywords: larvae, PSN, DHF, Tembalang

Yahiddin Seliandro, Sitti Rahmah Umniyati, Tri Baskoro T. Satoto, Nur Alvira Pascawati (Sub-Directorate for the Prevention and Control of Vector and Zoonotic Infectious Diseases, Ministry of Health)

Susceptibility Status of Aedes aegypti Mosquito (Diptera: Culicidae) to Organophosphate and Pyrethroid Insecticides in Tanjung Priok Port Health Quarantine BALABA

Vol. 15 No. 2, 2019 December, p. 105-114 Animal-borne diseases and vectors in seaport health areas is designated to be done in a rapid and precise manner. One of the Ae.

aegypti control is using insecticides. The aims of this study are to find out and evaluate the susceptibility status of Ae. aegypti to organophosphate and pyrethroid insecticides, and also to observe the increase of non- specific esterase enzyme activities and voltage- gated sodium channel (VGSC) gene mutation in Ae. aegypti mosquitoes in Tanjung Priok Port Health Quarantine working area in 2016.

Susceptibility status is determined by three distinct test methods: bioassay method (Impregnated paper containing 0.8%

malathion, 0.05% cypermethrin and 0.02 ppm temephos). Biochemistry method and biomolecular assay (PCR and sequencing) to identify VGSC gene mutation. Based on bioassay test using malathion, cypermethrin and temephos showed that Ae. aegypti mosquitoes from Tanjung Priok, Sunda Kelapa, and Muara Angke ports has been resistance to malathion and cypermethrin, and were still susceptible to temephos. The results of biochemical tests on Ae aegypti to organophosphates showed moderate levels of resistance and sensitivity. VGSC gene mutation was observed on sites S989P and V1016G, while site F1534 did not showed any mutation.

Keywords: Ae. aegypti, malathion, temephos, cypermethrin, voltage-gated sodium channel ---

(11)

Santoso, Yahya, Lasbudi Pertama Ambarita, Anif Budiyanto, Nungki Hapsari Suryaningtyas, I Gede Wempi DSP, Yanelza Supranelfy, Tanwirotun Ni’mah, Anorital, Rita Marleta

(Health Research and Development Unit of Baturaja)

Evaluation of Lymphatic Filariasis Transmission in Riau and Bangka Belitung Province: Parasite Infection on Human and Vector

BALABA

Vol. 15 No. 2, 2019 December, p. 115-124 Mass treatment and evaluation surveys of filariasis transmission were strategies in the control of lymphatic filariasis. Mass Drug Administration (MDA) stop period surveillance is required for five years before obtaining a lymphatic filariasis elimination certificate. The aim of conducting the study was to evaluate the activities of lymphatic filariasis elimination in areas that have been doing MDA for five years. During July-November 2017, fingertip blood samples of people aged five years and examination of reservoir animals was done in Riau and Bangka Belitung Province. The results of the study found that in Kuatan Singingi and Pelalawan district Mf rate was

<1%, in West Bangka and Belitung districts Mf rate> 1% with all specied identified as Brugia malayi. Survey of animal reservoir obtained positive of B. malayi on two cats (Felis cattus), one dog (Canis familiaris), and one monkey (Macaca fascicularis). Riau Province was not a filariasis endemic area (Mf rate <1%), while Bangka Belitung Province Mf rate was still >1%. The risk of transmission in Kuantan Singingi District was already low, while in Pelalawan regency, West Bangka and Belitung were still high.

Keywords: Riau, Bangka Belitung, lymphatic filariasis, reservoir, evaluation

--- Dyah Widiastuti, Tri Wijayanti, Tri Isnani, Nova Pramestuti, Siwi Mars Pramatama Wijayanti

(Health Research and Development Unit of Banjarnegara)

Seroprevalence of Japanese enchephalitis Infection in Pigs in Tulungagung, East Java BALABA

Vol. 15 No. 2, 2019 December, p. 125-132 Pigs play a role as amplifier hosts for Japanese enchephalitis (JE). Surveillance of JEV infection on pigs, is, therefore undoubtedly important to prevent its transmission to humans. This study aims to investigate the infection rates of JE in pigs as a risk of JE in human. The study area was located in Tulungagung regency, one of the regencies in East Java with the largest number of pig farms. This was a cross sectional study, involving five pig farms in Tulungagung Regency during April-November 2016, with a total of 63 pigs examined. Venous blood was examined by JEV specific IgG-Enzyme Link Immuno-Sorbent Assay (ELISA). The results showed that the JE infection rates in overall pig samples was 19.05% (12/63). The prevalence of Ab JE in 4-6 month pigs is higher (22.7%) than in 2-3 month pigs. The infections in pigs tend to be higher (23.1%) in farms found to be positive for Culex larvae.

Sex and age of the pig and the presence of Culex larvae surround pig farms were not significantly associated with JE infection rates in pigs. In conclusion, the presence of JE virus antibodies in pigs population in Tulungagung indicates that there is a potency of JE virus transmission to humans.

Keywords: Japanese encephalitis, pig, seroprevalence

--- Amalan Tomia, Upik Kesumawati Hadi, Susi Soviana, Elok Budi Retnani

(Muhammadiyah University, North Maluku) Maya Index and Density of Aedes aegypti Larvae in Ternate City, North Maluku

BALABA

Vol. 15 No. 2, 2019 December, p. 133-142 Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a contagious disease caused by the dengue virus and transmitted through the bite of Aedes aegypti. Information regarding larval habitat is very important for the control of Ae. aegypti.

The studied aims to determine the density of

(12)

Ae. aegypti larvae and maya index in Ternate City. The research conducted in 20 urban villages in Ternate City for 5 months. Survey method used was single larva and any water reservoirs were found larvae of Aedes spp.

will be taken as a sample. The purpose of this study to measure the density of Ae. aegypti larvae and maya index in Ternate City. The parameters calculated were Container Index (CI), Breteau Index (BI), House Index (HI), Density Figure (DF), and Maya Index. Based on maya index, 1.990 houses in 20 urban villages in Ternate City included in the medium risk category (78.64%) with CI (43.95%), HI (84.99%) and BI (228.91).

Density figure in the high category (DF = 8.7).

The study concluded that most of households in the area of study still have the potential for transmission of dengue virus infection.

Keywords: maya index, Aedes aegypti, Ternate City

--- Tri Wahono, Sitti Rahmah Umniyati, Tri Baskoro Tunggul Satoto

(Health Research and Development Unit of Pangandaran)

The Effect of Egg Storage Duration on Transovarial Infection Rate of DEN-3 Virus in Aedes aegypti

BALABA

Vol. 15 No. 2, 2019 December, p. 143-150 Transovarial transmission of dengue virus is important phenomenon causes dengue virus survival during inter-epidemic period. The purpose of this study was to analyze effect of egg storage duration on DEN-3 virus Transovarial Infection Rate (TIR) in Aedes aegypti mosquitoes. This was laboratory research with experimental design. Ae. aegypti was infected with the DEN-3 virus per-orally and allowed to undergo its gonotrophic cycle.

Eggs stored at room temperature (25±3oC) and relative humidity (70±5%) for 0, 1, 2 and 3 months. Hatched eggs then colonized until become adult mosquito. Sample was taken from colonies at 4, 8, 16 days old. Headsquash of mosquitoes was preparedwith Streptavidin Biotin Peroxidase Complex (SBPC) immunocytochemical method using DSSE 10 monoclonal antibody and detected the

presence virus antigen. Transovarial infection rate was determined by counting percentage of positive samples. Data were analyzed by linear regression test. Result of this study showed that in 4, 8, 16 samples showed lowest TIR on 0 month storage (33,33%, 33,33%; 40,00%) and highest TIR observed on 2 month storage (76,67%; 66,67%, 76,67%). Statistical test showed significantly different result (p = 0,013) with α = 0,05 and R2 = 0,476. The duration of egg storage effect on DEN-3 virus TIR in Ae. aegypti mosquito with 47.6%

contribution.

Keywords: transovarial infection rate, egg storage duration, per-oral infection, DEN-3 virus, Aedes aegypti

--- Risqa Novita

(Center for Biomedical Research and Basic Health Technology, Ministry of Health Republic of Indonesia Ministry of Health) The Eradication of Rabies in Indonesia as Achieving the Right to Life and the Right to Health

BALABA

Vol. 15 No. 2, 2019 December, p. 151-162 Rabies is one of infectious diseases from animals to man which gets serious attention from the government due to its high mortality in human.Until 2017, as many as 26 provinces in Indonesia has not been free from Rabies yet. The purposes of this writing are to uncover the influence of health law of the people in Indonesia on the implementation of rabies eradication in Indonesia. Beside, this could be used by the policy makers to unity programs to realize people’s right to life, right to health toward Indonesia being free from rabies in 2030. The current legislations are considered sufficient ,but not their implementations. The regulations are mostly made by the central government , while the local government are the implementor. Local regultaions, therefore, are needed as umbrella for the eradication program in the areas. To conclude, public health and other laws have influenced the eradication efforts of the disease. Public health law influences the implementation of eradication of rabies in Indonesia, and to realize right to life and

(13)

right to health in bringing together various aspects that influence the eradication of rabies in Indonesia so that the goal of Indonesia tobe free from rabies in 2030 can be achieved.

Keywords: rabies, Indonesia, right to life, right to health, zoonoses

--- Bobby Fahmi Muldan Pahlevi, Tri Wulandari Kesetyaningsih

(Faculty of Medicine and Health Sciences, Muhammadiyah University, Yogyakarta) The Proportion of Aedes aegypti and Aedes albopictus and Their Relationship with Dengue Hemorrhagic Fever Incidence in Suburban Endemic Area in Sleman Regency of Yogyakarta

BALABA

Vol. 15 No. 2, 2019 December, p. 163-170 Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is

transmitted by Aedes aegypti and Ae. albopictus. Aedes aegypti chooses to live

indoors and Ae. albopictus in outdoors. Aedes aegypti has been proven to play a role in dengue transmission in urban areas. It is assumed that suburbs dominated by gardens, so it is possible that Ae. albopictus acts as a vector. The study aimed to analyze the relationship between Ae. albopictus and DHF incidence in suburban area. The study was conducted in Godean, Sleman Regency. 280 ovitrap were placed indoors and outdoors at across seven villages. Each village was represented by one hamlet, so there were 40 ovitrap of each hamlet. The proportion of

ovitrap containing Ae. aegypti and Ae. albopictus larvae was calculated. The

results showed that Ae. aegypti larvae was more indoors (78.50%) than outdoors (21.45%) in all villages and negatively correlates with DHF (p=0.036; r=-0.776).

Aedes albopictus larvae is more commonly found in gardens (80.64%) than in homes (19.36%) and does not correlate with DHF (p

= 0.702). It was concluded that in suburban endemic area of Sleman Regency, Ae. aegypti larvae was more indoors and negatively correlated with DHF. Aedes albopictus larva

was more in the garden and did not correlate with DHF incidence.

Keywords: DHF, vector, Aedes aegypti, Aedes albopictus, suburban

--- Norsita Agustina, Abdullah, Edy Arianto (Faculty of Public Health Kalimantan Islamic University Muhammad Arsyad Al-Banjary, Banjarmasin)

The Correlation between Environmental Conditions and the Existence of larvae Ae.

aegypti in the DHF Endemic Area in Banjarbaru City

BALABA

Vol. 15 No. 2, 2019 December, p. 171-178 Banjarbaru City is one of dengue endemic area, perticularly Guntung Manggis Village.

In 2018, as many as 10 people affected by DHF with the death of 2 people. The purpose of the study was to analyze the environmental conditions related to the existence of Ae.

aegypti larvae. The study uses analytic studies with cross-sectional approach conducted in January 2019. The population is all houses in RT 46 RW III Banjarbaru City as many as 168 sample houses, and 63 houses using random sampling techniques. Larva data collection was carried out with the single larva method.

Data on environmental conditions were obtained by measuring the degree of acidity (pH) and measurement of water temperature.

Data analysis used chi-square test and fisher exact test with significance value (α) 0.05. The results showed that water temperature and type of containers were related to the presence of Ae . aegypti larvae (p-value 0.000). While the degree of acidity (pH) is not related to the presence of Ae. aegypti larvae. (p-value 0.144).

Keywords: Ae. aegypti, larvae, environmental conditions, endemic, Dengue Hemorrhagic Fever

---

(14)

Heni Prasetyowati, Dewi Nur Hodijah, Mara Ipa, Joni Hendri

(Health Research and Development Unit of Pangandaran)

Individual Knowledge and Characteristics:

Study of Compliance Scope in Taking Medicines After Provision of Mass Drug Administration of Filariasis in Tangerang Regency

BALABA

Vol. 15 No. 2, 2019 December, p. 179-190 Tangerang Regency as one of the endemic filariasis districts has completed provision of Mass Drug Administration (MDA) in five rounds from 2008 to 2012. The re-emergence of new cases after MDA needs to be monitored and evaluated, related to community compliance in taking preventive mass drugs as well as the knowledge and characteristics of influencing individuals. The aims of this study is to analyze the correlation of knowledge and characteristics of individuals with the participation and compliance of taking preventive filariasis drugs. The variables analyzed were individual characteristics which included gender, age, marital status, education level, type of work as well as knowledge variables. These variables were analyzed using a regression test. Based on the interview results of 660 respondents, only 54% of respondents claimed to have participated in the POPM program. Statistical analysis showed that gender, age of respondents and knowledge had a significant correlation to the participation of respondents in the filariasis treatment program. Of the 54% of respondents who participated in POPM filariasis, only 70%

took all the drugs given. All variables tested did not have a significant relationship to the respondents' compliance in taking the received filariasis medication. Community participation in MDA is still below the specified target, as well as community compliance in taking drugs.

Keywords: knowledge, mass drug administration, lymphatic filariasis, compliance

---

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan rumusan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan aktivitas siswa terhadap pembelajaran IPA melalui penerapan pembelajaran quantum

Langkah terakhir adalah melakukan regresi untuk memenuhi tujuan penelitian keempat, yaitu menganalisis pengaruh pergerakan suku bunga sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan

rata-rata tenaga pendidik tidak mempersiap akan diri dengan baik dalam kegiatan.. belajar mengajar, contoh kongkritnya banyak diantara tenaga pendidik

Hal ini dapat terjadikarena apabila IRR meningkat berarti telah terjadi kenaikan IRSA (interest rate sensitivity asset) lebih besar daripada IRSL (interest rate

Upaya untuk mewujudkan kemandirian desa melalui beberapa kegiatan dan program tersebut dilakukan dalam rangka implementasi Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014

Penelitian tentang environmental performance terhadap corporate social responsibility disclosure dilakukan oleh Rakhiemah dan Agustia (2009) dan Asrianggraeni (2012),

Terdapat empat buah tiang berukir Naga yang terletak di serambi Kelenteng empat pilar Naga tersebut adalah melambangkan empat mata angin yaitu timur, barat, utara, selatan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua jenis vektor tersebut tidak hanya aktif menghisap darah di siang hari tetapi juga di malam hari. UCAPAN