• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agama dan Perubahan Sosial dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Agama dan Perubahan Sosial dan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PAPER

“AGAMA DAN PERUBAHAN SOSIAL”

MATA KULIAH SOSIOLOGI AGAMA

Dosen pembimbing :

Irawan Budi Lukmono, S.Sos., M.Th.

Disusun oleh : Yunus Adi Nugroho

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI GAMALIEL

SURAKARTA

2015

(2)

A. Latar Belakang

Agama saat ini dipandang sebagai suatu hal yang menyebabkan konflik. Orang-orang cenderung melihat agama sebagai perusak sistem sosial kemasyarakatan yang telah terbentuk. Sehingga dewasa ini kecenderungan orang lebih banyak menghindari agama atau tidak beragama.

Pandangan ini tampaknya perlu dikritisi apakah benar demikian. Agama menurut Sosiologi Agama aliran Fungsionalisme, agama dipandang sebagai

a. Merupakan bentuk tindak langkah manusia yang dilembagakan yang berada diantara lembaga-lembaga sosial lainnya.

b. Penyebab sosial yang dominan dalam terbentuknya lapisan sosial dalam tubuh masyarakat

c. Agama sebagai suatu bentuk kebudayaan yang isteimewa, yang

pengaruhnya meresapi tingkah laku manusia penganutnya, sehingga sistem sosialnya untuk sebagian terdiri dari kaidah-kaidah yang dibentuk oleh agama1.

Pendukung sosiologi agama aliran Fungsionalis bertolak dari pendirian dasar bahwa masyarakat itu suatu sistem perimbangan, dimana setiap kelompok memberikan sumbangannya yang khas melalui peranannya masing-masing yang telah ditentukan demi lestarinya sistem perimbangan sebagai keseluruhan. Konflik sosial digunakan sebagai fungsi korektif2. Dari pandangan

ini jelas bahwa agama adalah bagian dari masyarakat sehingga peran agama dalam sistem sosial memiliki peran sendiri. Oleh karena itu perubahan sosial akibat agama tidak dapat dihindarkan. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui pengaruh dari agama terhadap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

B. Perumusan Masalah

1. Apa pengaruh agama terhadap perubahan sosial?

(3)

BAB II PEMBAHASAN

Masyarakat tinggal dalam sistem sosial. Perubahan sistem sosial ini disebut dengan perubahan sosial. Perubahan ini mencakup aspek perilaku dan pola pikir Individu (sempit). Selain itu perubahan ini juga berupa tingkat struktur masyarakat yang nantinya mempengaruhi perkembangan masyarakat (luas)3. Aspek perilaku dan pola pikir Individu

Agama berfungsi bagi manusia dan masyarakat adalah sebagai berikut 1. Fungsi Edukatif

Agama memberikan pengajaran dan didikan otoratif, bahkan dalam hal-hal yang “sakral” tidak pernah salah. Hal yang diberikan adalah seperti tujuan hidup, hati nurani dan rasa tanggungjawab, Tuhan, hidup, kekal, dan ganjaran.

2. Fungsi Penyelamatan

Agama mengajarkan dan memberikan jaminan dengan cara yang khas (persembahan, penyucian, liturgi) untuk mencapai kebahagiaan yang “terakhir”, yang pencapaianya mengatasi kemampuan manusia secara mutlak, karena kebahagiaan itu berada diluar batas kekuatan manusia.

3. Fungsi Pengawasan Sosial

Agama menyeleksi kaidah-kaidah susila yang ada dan mengukuhkan yang baik sebagai kaidah yang baik dan menolak kaidah yang buruk untuk ditinggalkan sebagai larangan atau tabu. Agama memberi juga sangsi-sangsi yang harus dijatuhkan kepada orang yang melanggarnya dan mengadakan pengawasan yang ketat atas pelaksanaannya. Agama juga melakukan pengawasan terhadap masyarakat (fungsi profetis)

4. Fungsi Memupuk Persaudaraan

Umat beragama dapat menahan diri untuk menciptakan situasi damai. Agama memupuk dan membina persaudaraan antar umat manusia yang tercerai-berai.

5. Fungsi Transformatif

Agama mengubah bentuk kehidupan masyarakat lama dalam bentuk kehidupan baru. Agama juga mengganti nilai-nilai lama dengan menanamkan nilai-nilai baru. Agama menetapkan nilai-nilai yang tertinggi4.

3 Martono, Nanang. Sosiologi Perubahan Sosial. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Dilihat dalam book.google.com

(4)

Reformasi mempengaruhi secara langsung tipe-tipe kegiatan ekonomi, politik, atau ilmiah yang baru serta strukturisasi kembali masyarakat Eropa. Unsur paling penting dalam hal ini adalah kombinasi yang kuat “keduniawian” dan transendentalisme, dimana ketahanan individu untuk tidak terpengaruh oleh kegiatan-kegiatan duniawi, tetapi pada saat yang sama tidak sepenuhnya menjalankan ritual. Kedua sangat mementingkan kegiatan dan tanggung jawab individu. Ketiga hubungan langsung individu dengan yang sakral dan tradisi sakral5.

Agama dan Stratifikasi Sosial

Agama menghasilkan Stratifikasi Sosial. Stratifikasi sosial yang dihasilkan pada awal adalah keimaman. Pada sejarah asal mula agama, agama awal tidak memiliki imam dan setiap orang berhak untuk melakukan praktek keagamaan yaitu pengorbanan. Semakin lama praktek pengorbanan membutuhkan orang yang berhak memberikan korban terkait dengan orang yang mulai berkumpul dan membentuk suku. Sehingga setelah suku tersebut menetap, maka keimaman juga akan ditetapkan.

Stratifikasi agama juga muncul dari pengajaran dari agama tersebut. Salah satunya adalah dalam agama Hindu yang membagi masyarakat dalam kasta-kasta. Gita karangan dari agama Hindu menekankan untuk setiap orang untuk melaksanakan peran pribadi dalam kastanya.

Peran pembentukkan kasta dalam agama juga terkait dengan proses masuk agama. Masuk agama adalah dalam artian berpindah agama atau masuk ketingkat yang lebih tinggi.Faktor pendorong proses masuk agama adalah

1. Pengaruh ilahi

2. Pembebasan dari tekanan batin 3. Suasana pendidikan / sosiaisasi

4. Aneka pengaruh sosial (pergaulan) yang persuasif dan atau memaksa

Proses ini terkait dengan krisis dan keputusan. Menurut H. Carrier kerangka masuk agama diantaranya adalah

1. Akibat krisis terjadilah desintegrasi sintesis kognitif dan motivasi seseorang 2. Reintegrasi kepribadian atas landasan religius baru yang melahirkan

kepribadian baru

3. Penerimaan peran sosial dari agama baru

(5)

4. Kesadaran atas panggilan baru itu sebagai karya ilahi

Proses masuk agama tentu tidak lepas dari peranan kohesi agama. Kohesi agama yaitu loyalitas atau kesetiaan terhadap agama. Allport menerangkan semakin tinggi tingkat keterlibatan seseorang dalam kegiatan dan tingkah laku agama semakin dalam pula kohesinya. H. Carrier juga menambahkan empat unsur prinsip dari psikologi kohesi yang diterapkannya dalam kohesi keagamaan: 1. Pemahaman atau presepsi anggota-anggota mengenai keadaan mereka yang

saling tergantung

2. Motivasi yang sesungguhnya dari keanggotaannya 3. Prestise kelompok

4. Kedudukan kelompok dalam masyarakat

(6)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa agama memiliki pengaruh dalam perubahan sosial. Pengaruhnya berupa perubahan dalam aspek perilaku dan pola pikir Individu. Perubahan juga diberikan agama dalam stratifikasi sosial. Kehilangan peran agama karena penghilangan agama merupakan suatu kerugian karena masyarakat akan kehilangan 2 peran penting dalam perkembangan agama.

DAFTAR PUSTAKA

Brow, Robert. Asal Mula Agama (Religion, Original, Ideas). Diterjemahkan oleh Stanley Heath, Ruth Rahmat, Iskandri K. Iskandar. Tonis. Bandung.

Hendropuspito, D. 1991. Sosiologi Agama. Kanisius. Yogyakarta.

Martono, Nanang. Sosiologi Perubahan Sosial. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Nottingham, Elizabeth K. 1990. Agama dan Masyarakat. Rajawali Pers. Jakarta. O’Dea, Thomas F. 1992. Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal. Rajawali Pers.

Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan mahasiswa praktikan yang bermaksud sebagai pelatihan dalam menerapkan teori

Berdasarkan analisis SWOT yang sudah dilakukan, UNS memiliki dua kekuatan yaitu teknologi, strategi dan jaringan organisasi yang besar. Selain itu, UNS juga memiliki peluang

Adalah rumah tangga atau keluarga yang menggunakan jamban/ WC dengan tangki septic atau lubang penampung kotoran sebagai pembuangan akhir. Misalnya buang air besar di jamban

19 Antara yang berikut yang manakah cara menghindari masalah 'menghidu gam' dalam kalangan remaja. A Mengelakkan diri daripada terlibat dengan

Dengan demikian “teknologi proses” merupakan aplikasi dari ilmu pengetahuan untuk merubah bahan baku menjadi produk atau bahan yang mempunyai nilai lebih ( added value ),

Catatan : “Kesepakatan” makan sayur dan buah setiap hari adalah suatu perilaku yang cukup sulit, bila anggota RT sadar dan membiasakan diri makan sayur dan buah serta tahu betul

3 Bagi peserta yang dinyatakan LULUS SELEKSI dan tidak melaksanakan kegiatan Daftar Ulang PANITIA PELAKSANA SIPENCATAR (membayar biaya diklat dan melengkapi berkas-berkas

Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2013-Oktober 2013 bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap gizi ibu status gizi balita pada rumah tangga miskin