MAKALAH ANALISIS POLITIK LUAR NEGERI
“ANALISIS KEBIJAKAN POLITIK LUAR NEGERI KOREA SELATAN (TRUST POLITIK POLICY) DALAM UPAYA MEMERANGI ANCAMAN NUKLIR KOREA
UTARA PADA MASA KEPEMIMPINAN PARK GEUN HYE DITINJAU DARI PANDANGAN KONSTRUKTIVISME”
DOSEN PENGAMPU : Ahmad Mubarak Munir, S.IP., MA.
Disusun oleh :
ERDIATULHA (L1A016027)
HILALIA (L1A016035)
IMAM TRIYADI (L1A016037)
CINDY QORINA (L1A016021)
CHINDY RINJANI PUTRI (L1A016020)
BAIQ WIRANINGSIH OKTAVIANA (L1A016019)
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MATARAM
KATA PENGANTAR
Banyak nikmat Allah yang diberikan kepada kita sebagai mahkluk ciptaan-Nya, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji bagi Allah SWT atas segala berkat, rahmat, taufik, dan hidayat-Nya yang tiada terkira besarnya. Sehingga kami bisa menyeselaikan tugas makalah mata kuliah Analisis Politik Luar Negeri ini tentang “ ANALISIS KEBIJAKAN POLITIK LUAR NEGERI KOREA SELATAN (TRUST POLITIC POLICY) DALAM UPAYA MEMERANGI ANCAMAN NUKLIR KOREA UTARA PADA MASA KEPEMIMPINAN PARK GEUN HYE”.
Dalam penyusunan makalah ini, kami mengucapkan banyak terima kasih kapada semua pihak yang telah memberikan kami bantuan, dukungan, partisipasi, dan kepercayaan yang begitu besar terutama kepada bapak dosen yang telah bersedia mengajarkan kami dalam mata kuliah APLN ini sehinga kami dapat menyeleaikan tugas ini dengan tepat waktu. Meskipun kami berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan apapun, namun kekurangan itu pasti ada. Oleh karena itu kelompok kami berharap adanya kritikan dan saran dari bapak dosen dan pembaca untuk dapat membangun makalah ini menjadi lebih baik lagi. Terima kasih.
Mataram, 24 Desember 2017
COVER……….………...…1
KATA PENGANTAR………2
DAFTAR ISI………..…3
BAB I PENDAHULUAN………...4
A. LATAR BELAKANG...4
B. RUMUSAN MASALAH...6
C. KONSTRUKTIVISME...6
1. Teori Konstruktivisme...6
2. Ontologi Konstruktvisme...7
3. Kerangka Berpikir Konstruktivis...8
BAB II PEMBAHASAN………..10
A. ANCAMAN NUKLR KOREA UTARA TERHADAP KOREA SELATAN...10
B. BENTUK-BENTUK KEBIJAKAN LUAR NEGERI KOREA SELATAN DALAM MEMERANGI ANCAMAN NUKLIR KOREA UTARA...14
C. ANALISIS KEBIJAKAN TRUST POLITIC POLICY OLEH PARK GEUN HYE UNTUK MEMERANGI ANCAMAN NUKLIR KOREA UTARA DALAM PANDANGAN KONSTRUKTIVISME...17
BAB III PENUTUP………..21
A. KESIMPULAN...21
DAFTAR PUSTAKA………...23
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Berakhirnya Perang Dunia II antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet secara geopolitik membagi Korea ke dalam dua kekuatan besar yaitu Republik Korea atau Korea Selatan dan Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara) yang mana dua sisi Korea yang kini terbelah berada di 38 derajat lintang utara dan inilah penyebab mengapa perbatasan antara kedua negara sering disebut sebagai ‘38th parallel’. Dalam dua tahun berikutnya, ketegangan antara kedua Korea ini terus meningkat. Pada tanggal 25 Juni 1950, militer Korea Utara menyeberangi perbatasan dan melakukan invasi atas Korea Selatan. Tindakan ini memulai Perang Korea yang berlangsung selama tiga tahun dan memakan korban sekitar dua juta nyawa sehingga gencatan senjata pun terjadi pada tahun 1953.1 Dikarenakan perang antar korea ini tidak berakhir dengan perjanjian perdamaian melainkan melalui gencatan senjata, maka secara teknis Korea Utara dan Korea Selatan masih berada dalam kondisi perang meskipun perang antar korea telah berakhir.
Sejak 1948, hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan telah didominasi oleh pertanyaan tentang reunifikasi atau penyatuan kembali. Namun hal tersebut sampai sekarang masih menunjukkan sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Hal ini dikarenakan Korea Utara dibawah ideologi komunisme bersaing dengan Korea Selatan di bawah ideologi kapitalisme-demokrasi ala Amerika Serikat yang dimana Korea Utara merupakan negara yang sejak dahulu terkenal sangat realis. Hal ini dapat ditunjukkan dengan hanya pergerakan yang dilakukan oleh Korea Selatan bersama sekutunya Amerika Serikat membuat Korea Utara menganggapnya sebagai gertakan untuk bersiap menghadapi serangan dari mereka sehingga hal ini yang menjadi alat untuk membenarkan upaya Korea Utara memiliki senjata nuklir dengan tujuan mempertahankan keamanan negaranya.
Namun, lama kelamaan Korea Utara berambisi menjadi negara nuklir untuk meningkatkan
prestise dan bargaining powerdengan diluncurkannya uji coba senjata nuklir untuk pertama
kalinya pada tahun 2006 dan 2009 sehingga nuklir yang dimiliki oleh Korea Utara yang pada awalnya sebagai pertahanan keamanan dalam negeri kini meluas dan memprovokasi negara tetangganya yaitu Korea Selatan.2 Aksi provokasi oleh Korea Utara terhadap Korea Selatan mengalami dinamika yang sewaktu-waktu dapat memicu terjadinya perang kedua antar kedua Negara tersebut sehingga aksi tersebut dianggap sebagai ancaman oleh Korea Selatan. Untuk mengurangi aksi provokasi dalam rangka memerangi ancaman nuklir Korea Utara tersebut, maka, penting bagi Korea Selatan untuk memperkuat kebijakan luar negerinya terhadap Korea Utara.
Beberapa kebijakan yang sudah diterapkan oleh pemerintah Korea Selatan untuk mengurangi invasi tersebut di antaranya adalah kebijakan luar negeri “Sunshine Policy” dan kebijakan “Garis Keras”. Namun kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Korea Selatan ini tidak selamanya mendapat respon positif dari Korea Utara justru semakin memperkeruh hubungan kedua Korea ini. Maka muncullah kebijakan baru dengan haluan yang berbeda, yakni kebijakan
“Trust Politic Policy” yang dicanangkan oleh Presiden ke-11 Korea Selatan yakni Park Geun Hye. Ia melihat bahwa untuk memperbaiki hubungan kedua Korea ini, tidak hanya dilakukan dengan pendekatan-pendekatan Liberalis yang mengharuskan kedua negara untuk bekerja sama dan melahirkan satu kesepakatan antar keduanya yang harus ditaati. Melainkan Park Geun Hye sendiri mencoba untuk melihat kondisi dari kedua negara ini dengan menggunakan kacamata konstruktivisme. Dimana mekanisme pemberlakuan kebijakan “Trust Politic policy” yang dirancangnya ini bertujuan untuk merubah persepsi Korea Utara terhadap Korea Selatan dengan adanya kebijakan saling mempercayai sehingga untuk menganalisis kasus ini dapat digunakan perspektif konstruktivisme dikarenakan konstruktivisme dapat menjelaskan bagaimana aktor pembuat kebijakan berakhir pada satu persepsi dalam memahami lingkungannya.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah yaitu “Bagaimana analisis kebijakan Trust Politic Policy oleh Park Geun Hye untuk memerangi ancaman nuklir Korea Utara menurut pandangan Konstruktivisme?”
C. KONSTRUKTIVISME 1. Teori Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan salah satu tradisi pemikiran yang sangat berpengaruh dalam studi hubungan internasional saat ini. Tradisi ini berkembang di Amerika sejak berakhirnya Perang Dingin sebagai reaksi terhadap kegagalan tradisi-tradisi dominan dalam studi hubungan internasional ¾ realisme dan liberalisme ¾ untuk memprediksi ataupun memahami transformasi sistemik yang mengubah tatanan dunia secara drastis. Secara ontologis, konstruktivisme dibangun atas tiga proposisi utama. Pertama, struktur sebagai pembentuk perilaku aktor sosial dan politik, baik individual maupun negara, tidak hanya terdiri memiliki aspek material, tetapi juga normatif dan ideasional. Berbeda dengan neorealis dan marxis, misalnya, yang menekankan pada struktur material hanya dalam bentuk kekuatan militer dan ekonomi dunia yang kapitalis, konstruktivis berargumen bahwa sistem nilai, keyakinan dan gagasan bersama sebenarnya juga memiliki karakteristik struktural dan menentukan tindakan sosial maupun politik.
Sumber-sumber material sebenarnya hanya bermakna bagi tindakan atau perilaku melalui struktur nilai atau pengetahuan bersama. Disamping itu, struktur normatif dan ideasionallah yang sebenarnya membentuk identitas sosial aktor-aktor politik. Kedua, kepentingan (sebagai dasar bagi tindakan atau perilaku politik) bukan menggambarkan rangkaian preferensi yang baku, yang telah dimiliki oleh aktor-aktor politik, melainkan sebagai produk dari identitas aktor-aktor tersebut. Berbeda para teoretisi neorealis, neoliberal ataupun marxist, yang hanya memberi perhatian pada aspek-aspek strategis dalam arti bagaimana akator-aktor politik bertindak mencapai kepentingan mereka, teoretisi konstruktivis lebih menekankan pada sumber-sumber munculnya kepentingan, yakni bagaimana aktor-aktor politik mengembangkan kepentingan-kepentingan mereka. Dalam artian ini, terkait dengan proposisi ontologis yang pertama, Alexander Wendt secara jelas mengatakan bahwa, ‘Identities are the basis of interests’ (1992).3
Ketiga, struktur dan agen saling menentukan satu sama lain. Konstruktivis pada dasarnya adalah strukturasionis yakni menekankan peran struktur non-material terhadap identitas dan kepentingan serta, pada saat yang bersamaan, menekankan peran praktek dalam membentuk struktur-struktur tersebut. Artinya, meskipun sangat menentukan identitas (dan oleh karenanya juga kepentingan) aktor-aktor politik, struktur ideasional atau normatif tidak akan muncul tanpa adanya tindakan-tindakan aktor-aktor politik. Dalam definisi Emanuel Adler, konstruktivisme merujuk pandangan yang melihat bahwa terdapat suatu pola di mana dunia materi pada dasarnya terbentuk dan dibentuk oleh tindakan dan interaksi manusia yang tergantung pada interpretasi-interpretasi terhadap dunia materi yang tentunya berbeda (antara manusia satu dengan manusia lainnya) karena adanya perbedaan latar belakang secara normatif dan epistemik. Jika kita akan memakan roti, bukan roti itu yang menentukan pisau apa yang akan kita pakai untuk mengirisnya, sebaliknya konstruksi pikiran kitalah yang menentukan pisau jenis apa yang tepat menurut kita, atau sangat terbuka kemungkinan kita untuk menggunakan sesuatu yang bukan disebut pisau asalkan menurut pikiran kita alat tersebut bisa digunakan untuk mengiris roti. Tulisan ini dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama membahas tentang ontologi dan posisi ontologis konstruktivisme di antara teori-teori hubungan internasional. Bagian kedua menjelaskan tentang bagaimana konstruktivisme melihat realitas hubungan internasional.
2. Ontologi Konstruktvisme
laku, aksi ataupun kebijakan dari aktor. Pada tahap berikutnya identitas juga akan mempengaruhi bentuk dari lingkungan sosial.
3. Kerangka Berpikir Konstruktivis.
Secara sederhana proses itu bisa dijelaskan dengan identitas seseorang di dalam masyarkat. Identitas seseorang ada bermacam-macam terkait dengan institutional role yang diperankannya. Misalnya seseorang bisa saja berperan sebagai Saudara, Anak, Guru, dan Warga negara. Komitmen dan kepentingan yang terdapat di dalam berbagai identitas itu berbeda-beda, namun masing-masing identitas tersebut semuanya merupakan definisi sosial terhadap aktor di mana aktor-aktor mengikatkan diri mereka sendiri antara satu dengan lainnya. Identitas-identitas itu kemudian membentuk struktur sosial (social world). Selanjutnya identitas aktor akan menentukan kepentingannya, karena identitas merupakan dasar dari kepentingan. Aktor tidak memiliki kepentingan yang tidak didasarkan pada identitas yaitu yang secara independen dimilikinya di dalam konteks sosial. Aktor mendefinisikan kepentingannya di dalam proses mendefinisikan situasi. Seorang politisi memiliki kepentingan untuk dipilih kembali karena Ia merasa dirinya sebagai politisi; Profesor memiliki kepentingan untuk mendapatkan jabatan karena Ia melihat dirinya adalah seorang profesor. Proses terbentuknya identitas dan kepentingan disebut sebagai “socialization”. Sosialisasi merupakan suatu proses pembelajaran (learning)
untuk penyesuaian diri -tingkah laku (behavioral) seseorang- dengan ekspektasi sosialnya. Selain digolongkan ke dalam kelompok teori idealis, konstruktivis juga dapat dimasukkan ke dalam kategori teori sistem.
BAB II PEMBAHASAN
A. ANCAMAN NUKLR KOREA UTARA TERHADAP KOREA SELATAN
Berakhirnya Perang Dunia II antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet secara geopolitik membagi Korea ke dalam dua kekuatan besar yaitu Republik Korea atau Korea Selatan dan Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara) yang mana Korea Utara dikelola Uni Soviet sedangkan Korea Selatan dipengaruhi oleh Amerika Serikat dan pada masa itu Kim Il Sung menjadi Presiden pertama Korea Utara didukung Uni Soviet di tahun 1948. Dalam dua tahun berikutnya, ketegangan antara kedua Korea ini terus meningkat. Pada tanggal 25 Juni 1950, militer Korea Utara menyeberangi perbatasan dan melakukan invasi atas Korea Selatan sehingga pecah perang Korea yang dimulai dengan serangan Korea Utara didukung oleh Uni Soviet dan China ke Korea Selatan dengan tujuan untuk menyatukan Korea di bawah kekuasaan komunis utara pimpinan Kim Il Sung. Korea Utara pada saat itu akan dengan mudah mengambil daerah selatan jika tidak ada campur tangan dari Amerika Serikat untuk membantu langsung Korea Selatan dalam perang. Perang Korea tersebut berlangsung selama tiga tahun dan memakan korban sekitar dua juta nyawa sehingga gencatan senjata pun terjadi pada tahun 1953.4
Pada tahun 1974, Kim Il Sung menyatakan anaknya Kim Jong Il sebagai calon penerusnya sehingga posisi dan peran Kim Jong Il pun dalam partai dan pemerintahan makin kuat berkembang seiring berjalannya waktu, dan telah terlihat menganut paham yang sama dengan ayahnya, Kim Il Sung.5 Korea Utara yang dijalankan oleh Kim Il Sung menganut prinsip berdikari, berusaha hidup tanpa bantuan negara lain walaupun kenyataannya lebih pahit karena pertumbuhan ekonomi yang lemah, sementara lahan pertanian sangat terbatas. Akibatnya Korea Utara waktu itu banyak menerima bantuan dari Uni Soviet. Akan tetapi, ketika Uni Soviet runtuh di awal tahun 1990-an, membuat Korea Utara harus bekerja ekstra keras, di antaranya dengan memberikan perlindungan kepada rakyatnya dengan mencari alternatif untuk mempertahankan dirinya seperti melirik teknologi rudal dan senjata nuklir.
4 ABC Radio Australia, “Sejarah di balik ketegangan Korea Utara dan Korea Selatan: kilas balik”
http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-04-05/sejarah-di-balik-ketegangan-korea-utara-dan-korea-selatan-kilas-balik/1112046, diakses pada 18 Desember 2017 pukul 12:47 WITA.
Kim Jong Il mengambil alih kepemimpinan Korea Utara di tahun 1994, setelah Kim Il Sung meninggal dunia karena serangan jantung. Ia melanjutkan gaya kepemimpinan ayahnya dengan mengutamakan kekuatan militer negara di atas segala-galanya, meletakkan prinsip berdikari tak tergantung negara lain, keras dan tak segan-segan bersikap represif. Kekuatan militer Korea Utara pun menjadi yang terbesar kelima di dunia pada masa itu dan pada tahun 2003 Korea Utara menarik diri dari Perjanjian Anti Penyebaran Nuklir (NPT) dan selanjutnya di tahun 2005 pyongyang mengumumkan bahwa mereka telah memiliki senjata nuklir kepada seluruh dunia.6 Hubungan Korea Utara dengan dunia internasional, khususnya Amerika Serikat memburuk setelah George W. Bush menjadi presiden Amerika Serikat yang bersikap tak mau kompromi dengan Korea Utara, menjelek-jelekkan Kim Jong Il, dan menyatakan Korea Utara termasuk dalam 3 negara iblis di dunia. Makanya Korea Utara membatalkan perjanjian dan melanjutkan program nuklirnya. Tes senjata nuklir pun telah dua kali dilakukan Korea Utara selama masa pemerintahan Kim Jong Il yakni tahun 2006 dan 2009, dan rudal-rudal jarak menengah beberapa kali ditembakkan Korea Utara ke udara perairan Jepang.7
Program penguatan militer Korea Utara dianggap banyak pihak mengorbankan kepentingan peningkatan kesejahteraan rakyatnya sehingga banyak yang hidup susah dikarenakan sumber daya yang terbatas dan Korea Utara juga terkena embargo dunia internasional di berbagai bidang menyangkut kebijakan program senjata nuklirnya. Pemerintah Korea Utara menuduh Amerika Serikat yang mengakibatkan permasalahan yang dialami negaranya. Beberapa program bantuan makanan terbentuk antara Korea Utara dan dunia internasional dengan syarat penghentian program nuklirnya, akan tetapi seringkali pula perjanjian tersebut dibatalkan diantaranya sebagai reaksi terhadap sikap Amerika Serikat dalam memperlakukan negaranya.
Namun pada bulan Desember 2011, Kim Jong Il meninggal dunia sehingga digantikan oleh anak bungsunya Kim Jong Un.8 Kekhawatiran melanda dunia internasional tentang masa 6 Kontributor Singapura, Ericssen,“Sejarah Pengembangan dan Uji Coba Senjata Nuklir Korea Utara” http://internasional.kompas.com/read/2017/09/04/22032581/sejarah-pengembangan-dan-uji-coba-senjata-nuklir-korea-utara diakses pada tanggal 19 Desember 2017 pukul 10:21 WITA.
7 Horizon Watcher, “Sejarah KoreaUtara, Kepemimpinan Kim Il Sung, Kim Jong Il, dan Penerusnya Kim Jong Un” http://horizonwatcher.blogdetik.com/2011/12/20/sejarah-koreautara-kepemimpinan-kim-il-sung-kim-jong-il-dan-penerusnya-kim-jong-un, diakses pada tanggal 19 Desember 2017 pukul 11:32 WITA.
8 Indah Mutiara Kami – detikNews, “Peluncuran Rudal Korut dari Masa ke Masa, Makin
Mengkhawatirkan”,https://news.detik.com/berita/d-3627422/peluncuran-rudal-korut-dari-masa-ke-masa-makin-depan Korea Utara di bawah pemimpin yang baru, terutama kemungkinan pertunjukan kekuatan militer yang akan dilakukan pemimpin baru ini untuk meningkatkan pamornya di dalam negeri sehingga yang terjadi pada tahun 2013 dibawah rezim Kim Jong Un, Korea Utara telah berhasil meluncurkan uji coba senjata nuklir ketiga dan memicu sanksi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).9 Namun, Korea Utara nampaknya menolak dan tidak menghiraukan sanksi PBB tersebut karena sanksi ini dianggap sebagai tindakan kriminal yang menggambarkan sikap memihak dan tidak bermoral karena hanya menguntungkan satu pihak saja yaitu Amerika Serikat sehingga sanksi ini tidak memberikan pengaruh terhadap pembangunan ekonomi negaranya.
Selanjutnya, di awal tahun 2016, Kim Jong Un menginstruksikan bahwa tahun 2016 merupakan saat yang tepat untuk menjalankan program strategi ekonomi lima tahun yang mana di tahun ini, semua upaya harus konsentrasi pada pembangunan ekonomi nasional.10 Untuk pembangunan ekonomi ini, Korea Utara harus menciptakan lingkungan yang damai. Namun, Korea Utara masih menghadapi sejumlah tantangan dan bahaya dunia, yang menurut Korea Utara disebabkan oleh Amerika Serikat. Jadi, sesungguhnya alasan Korea Utara dari kepemilikan senjata nuklir hingga aksi peluncuran rudal nuklir yang ingin dicapai hingga ke daratan Amerika Serikat dikarenakan Amerika Serikat sendiri yang selalu sengaja ingin memperburuk masalah bahkan sebelum Korea Utara mengembangkan senjata nuklirnya pun Amerika Serikat melakukan tudingan kepemilikan nuklir. Lalu, jika Amerika Serikat meminta Korea Utara untuk menghentikan program senjata nuklir itu layaknya sama saja meminta Korea Utara untuk berdiri sendiri tanpa alat pertahanan apa pun di depan musuhnya yaitu Amerika Serikat.
Bahaya pun semakin dekat dirasakan oleh Korea Utara ketika Amerika Serikat yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump mengajak Korea Selatan untuk latihan militer gabungan di ambang pintu wilayah Korea Utara sehingga sebagai negara yang realis tentunya Korea Utara mengecam hal tersebut sebagai upaya atau strategi untuk melakukan penyerangan terhadap negaranya. Bahkan ketika Amerika Serikat dan Korea Selatan yang hanya sebatas berlalu-lalang didepan negaranya Korea Utara langsung menanggapi hal tersebut sebagai gertakan apalagi mengkhawatirkan, diakses pada tanggal 19 Desember 2017 pukul 2:26 WITA.
9 Kontributor Singapura, Ericssen, “Sejarah Pengembangan dan Uji Coba Senjata Nuklir Korea Utara” http://internasional.kompas.com/read/2017/09/04/22032581/sejarah-pengembangan-dan-uji-coba-senjata-nuklir-korea-utara diakses pada tanggal 19 Desember 2017 pukul 10:21 WITA.
sekarang diketahui bahwa Korea Selatan dan Amerika Serikat sedang melakukan latihan militer. Alasan-alasan demikianlah yang membuat Korea Utara semakin menguatkan senjata nuklirnya. Lalu, pada tahun 2016 Korea Utara telah meluncurkan uji coba nuklir sebanyak dua kali yaitu di bulan Januari 2016 sebesar 4-6 kiloton ledakan yang mampu dihasilkan dari uji coba nuklir tersebut sedangkan di bulan September 2016 sebesar 10 kiloton dan selanjutnya pada bulan September 2017 kembali uji coba nuklir diluncurkan dengan ledakan yang dihasilkan sebesar 100 kiloton.11
Hal ini menimbulkan keresahan oleh dunia internasional karena Korea Utara sekarang telah menunjukkan dirinya sebagai negara nuklir untuk meningkatkan prestise dan bargaining power negaranya sehingga dapat mengancam kedaulatan negara-negara di dunia khususnya negara tetangganya Korea Selatan. Korea Selatan melihat nuklir yang dimilki oleh Korea Utara ini adalah sebuah ancaman ketika Korea Utara terus menerus melakukan aksi provokasi yang mana Korea Utara ingin membuktikan perkataanya untuk menghancurkan Korea Selatan menggunakan hulu ledak nuklir yang dicanangkan hanya mampu meledakkan Korea Selatan dengan mudahnya. Pernyataan ini dimuat di website CNN Indonesia dan lebih lanjut berdasarkan data dari CNN Indonesia ketika mewawancarai Duta Besar Korea Utara untuk Indonesia, An Kwan Il yang mencoba untuk mengungkapkan jawaban dari beberapa keraguan dunia kepada CNN Indonesia.com. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami) yaitu mengenai perkataan Trump dan para ahli bahwa uji coba rudal balistik antar benua (ICBM) yang diklaim oleh rezim Kim Jong Un dapat mencapai wilayah Amerika Serikat serta menghancurkan Korea Selatan dengan mudah, Duta Besar Korea Utara mengatakan bahwa “Kami benar-benar mengembangkan berbagai jenis nuklir untuk melindungi kedaulatan dan hak negara kami. Kami telah melakukan simulasi, standardisasi, dan semua langkah lain, jadi kami merasa optimistis ICBM beserta rudal dan hulu ledak nuklir kami bisa mejangkau wilayah mana saja di dunia..”12
Hal ini mencuat dikarenakan Pyongyang marah lantaran Seoul melakukan latihan rudal bersama Amerika Serikat hingga mengolok-olok Seoul sebagai "boneka gangster militer" milik
11 Kontributor Singapura, Ericssen, “Sejarah Pengembangan dan Uji Coba Senjata Nuklir Korea Utara” http://internasional.kompas.com/read/2017/09/04/22032581/sejarah-pengembangan-dan-uji-coba-senjata-nuklir-korea-utara diakses pada tanggal 19 Desember 2017 pukul 10:21 WITA.
Amerika Serikat karena Korea Utara memiliki persepsi bahwa Korea Selatan bersama sekutunya Amerika Serikat memiliki rencana operasi yang lebih serius. Hal ini yang mendorong bertambah kuatnya keinginan Korea Utara untuk terus mengembangkan senjata nuklirnya sehingga meluas dan memprovokasi negara tetangganya yaitu Korea Selatan. Jadi, aksi provokasi yang dilakukan oleh Korea Utara dengan menggunakan nuklir sebagai senjata terbesar dalam rangka menghancurkan kedaulatan negara tetangganya. Hal ini membuat Korea Selatan berada dalam zona bahaya dan akan memicu terjadinya konflik bahkan perang kembali antar dua negara. Untuk mengurangi aksi provokasi tersebut dalam rangka memerangi ancaman nuklir Korea Utara. Maka, penting bagi Korea Selatan untuk memperkuat kebijakan luar negerinya.
B. BENTUK-BENTUK KEBIJAKAN LUAR NEGERI KOREA SELATAN DALAM MEMERANGI ANCAMAN NUKLIR KOREA UTARA
Kebijakan sebuah negara tentu akan mengalami beberapa fase perubahan, hal itu diakibatkan karena setiap kebijakan yang diambil oleh negara dilandaskan atas kepentingan nasional negara dari waktu ke waktu serta dinamika perkembangan Internasional. Seperti halnya Korea Selatan, penerapan kebijakan luar negeri Korea Selatan terus mengalami perubahan, dimana perubahan dari kebijakan negara ini terus menyesuaikan diri dengan dinamika perubahan tatanan Internasional yang sifanya masih sebatas upaya untuk memerangi ancaman nuklir yangdilakukan oleh Korea Utara . Ancaman terbesar dari Korea Utara saat ini dalam bentuk aksi provokasi menggunakan senjata nuklir. Namun, Korea Selatan telah menerapkan beberapa kebijakan sebelumnya.
inilah yang kemudian menjadikan Korea Selatan lemah sehingga Korea Utara bersikeras untuk tetap melakukan pengembangan nuklir. Dengan begitu keamanan Korea Selatan akan terus merasa terancam dengan keberadaan nuklir tersebut. Karena kebijakan yang dikeluarkan ini dianggap tidak seimbang atau menguntungkan satu pihak saja. Maka, Presiden Korea Selatan memutuskan untuk tidak lagi menggunakan kebijakan ini dan menggantikannya dengan kebijakan “Garis Keras”.
Kebijakan “Garis Keras” ini berupa pengurangan bantuan ekonomi yang diberikan oleh pemerintah Korea Selatan sebagai instrumen sarana diplomasi terhadap Korea Utara. Lahirnya kebijakan ini diakibatkan karena pemerintah Korea Selatan menganggap bahwa upaya diplomasi yang dilakukan tidak ada gunanya, sebab Korea Utara masih melakukan ancaman-ancaman yang dapat membahayakan keamanan Korea Selatan. Hal ini ditandai dengan diluncurkannya uji coba senjata nuklir untuk pertama kalinya oleh Korea Utara pada tahun 2006 dan 2009, serta Korea Utara juga masih melakukan serangan militer terhadap Korea Selatan.14
Kebijakan “Garis Keras” yang dikeluarkan oleh Presiden Lee Myung Bak, menimbulkan reaksi yang sangat menentang dari Korea Utara. Diawali dengan serangan-serangan verbal dari media buruh Korea Utara yang mengecam sikap Lee Myung Bak, hingga Korea Utara memutuskan untuk memperketat perbatasan dan melakukan peluncuran rudal jarak jauh, serta berbagai protes keras lainnya sebagai bentuk menentang kebijakan Korea Selatan. Berbagai protes keras ini merupakan Propaganda dari Korea Utara terhadap kebijakan Lee Myung Bak. Reaksi keras dari Korea Utara merupakan Propaganda yang bertujuan untuk meruntuhkan kebijakan Korea Selatan yaitu mengaitkan bantuan ekonomi dengan nuklir Korea Utara. Menurut Korea Utara, Lee Myung Bak hanya memperkeruh suasana dengan kebijakannya.
Melihat dampak yang ditimbulkan dengan adanya kebijakan ini, yakni dengan semakin keruhnya hubungan dari kedua Korea ini maka muncullah kebijakan baru dengan haluan yang berbeda, yakni munculnya kebijakan “ Trust Politic Policy” yang dicanangkan oleh Presiden ke-11 Korea Selatan yakni Park Geun Hye. Ia melihat bahwa untuk memperbaiki hubungan kedua Korea ini, tidak hanya dilakukan dengan pendekatan-pendekatan Liberalis yang mengharuskan kedua negara untuk bekerja sama dan melahirkan satu kesepakatan antar keduanya yang harus
ditaati. Melainkan Park Geun Hye sendiri mencoba untuk melihat kondisi dari kedua negara ini dengan menggunakan kacamata konstruktivisme. Dimana mekanisme pemberlakuan kebijakan
“Trust Politic Policy” yang dirancangnya ini bertujuan untuk merubah persepsi Korea Utara terhadap Korea Selatan dengan adanya kebijakan saling mempercayai.
Trust menurut Park sebagai sebuah inti nilai terhadap keseluruhan filosofi politik yang menjadi aset yang dibutuhkan dalam membantu pengembangan kerja sama tidak hanya antar individu tapi juga antar bangsa. Selain itu, trust didefinisikan sebagai aset dan sarana umum untuk kerja sama internasional serta sebagai unsur yang sangat diperlukan dalam menciptakan perdamaian yang nyata. Perdamaian tanpa konsep trust merupakan suatu hal yang mustahil untuk diwujudkan, karena kesungguhan dalam proses trust membutuhkan waktu dan pendekatan secara bertahap dan konsisten.
Kebijakan luar negeri “Trust-Politik policy” Korea Selatan tediri atas tiga kerangka besar yaitu Trust-building Process on the Korean Peninsula, Northeast Asia Peace and Cooperation Initiative dan Eurasia Initiative.15 Pertama, Trustbuilding Process on the Korean Peninsula
adalah suatu cara untuk membangun kepercayaan antara Korea Selatan dengan Korea Utara dan pergerakan hubungan antar Korea yang didasari keamanan yang kuat dalam tatanan internasional. untuk mencapai perdamaian akhir di Semenanjung Korea dan harapan unifikasi kedepannya. Kerangka yang kedua yaitu, Northeast Asia Peace and CooperationInitiative
(NAPCI) merupakan proses dialog yang bertujuan untuk membangun kepercayan antar bangsa di Asia Timur Laut dengan memperkuat kebiasaan untuk dialog dan kerja sama dengan mengedepankan isu-isu non tradional kemudian secara bertahap pada pengembangan lingkup kerja sama. Kebijakan ini coba diusung oleh Korea Selatan karena ketiadaanya tindakan-tindakan yang efektif dalam mencari sumber konflik yang ada di regional seperti isu teritori serta munculnya ancaman baru bersama tentang isu lingkungan dan pemanfaatan energi seperti halnya energi nuklir. Di mana hal tersebut mengahalangi upaya-upaya untuk memaksimalkan penuh potensi untuk pengembangunan regional. Kerangka kebijakan Korea Selatan Ketiga, Eurasia Initiative merupakan inisiatif kerjasama dan strategi nasional yang besar yang diajukan oleh 15K.Ihsan (2017), “ Latar Belakang Trust Politic Policy”, diakses dalam https://www.google.co.id/url? sa=t&source=web&rct=j&url=http://scholar.unand.ac.id/22701/2/BAB
Korea Selatan guna bisa mencapai kemakmuran berkelanjutan dan perdamaian di Eurasia (Eropa dan Asia).
Berdasarkan tiga kerangka kebijakan Trust-Politik dapat dilihat bahwa permasalahan keamanan di Semenanjung Korea yang diakibatkan oleh aktivitas pengembangan nuklir dan tindakan provokatif oleh Korea Utara merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan. Oleh karena itu perlunya ada antisipasi untuk bisa meredam ataupun menghentikan tindakan Korea Utara, khususnya bagi Korea Selatan sebagai negara terdekat. Hal ini sejalan dengan kebijakan
Trust-Politik yang muncul berdasarkan pengalaman sejarah Semenanjung Korea serta kesulitan dalam menebak realitas keamanan di mana terdapat penurunan tingkat kepercayaan yang jelas antar negara di Semenanjung Korea dan di Asia Timur Laut. Dengan adanya kebijakan kepercayaan ini pemerintah Korea Selatan berharap agar hubungannya dengan Korea Utara dan negara lainnya menjadi lebih membaik
C. ANALISIS KEBIJAKAN TRUST POLITIC POLICY OLEH PARK GEUN HYE UNTUK MEMERANGI ANCAMAN NUKLIR KOREA UTARA DALAM PANDANGAN KONSTRUKTIVISME
Terkait kebijakan luar negeri Korea Selatan dalam memerangi ancaman nuklir dari Korea Utara, maka dapat dilihat bagaimana kebijakan luar negeri Korea Selatan dapat mempengaruhi tatanan dunia internasional melalui konstruksi sosial dengan mekanisme pemberlakuan kebijakan
“Trust Politic Policy” yang dicanangkan oleh Park Geun Hye sebagai agen atau aktor yang berperan karena dinilai relevan untuk memerangi ancaman nuklir dari Korea Utara dalam bentuk aksi provokasi secara terus-menerus. Hal ini yang membuat Korea Selatan harus mengubah zona konflik menjadi zona kepercayaan dengan cara merubah persepsi Korea Utara terhadap Korea Selatan dengan adanya kebijakan saling mempercayai ini. Sehingga, kelompok kami memilih perspektif konstruktivisme sebagai pisau analisis dikarenakan konstruktivisme dapat menjelaskan bagaimana aktor pembuat kebijakan berakhir pada satu persepsi dalam memahami lingkungannya, mempunyai sikap dan memiliki identitas tertentu dalam kaitannya dengan satu isu.
struktur normatif dan ideasional inilah yang sebenarnya membentuk identitas sosial aktor-aktor politik.Hal ini dapat dilihat melalui kebijakan “Trust Politik Policy” yang mana Park Geun Hye sebagai actor yang berperan dalam pembuat kebijakan menempatkan nilai trust sebagai sebuah inti nilai terhadap keseluruhan filosofi politik.
Kedua, kepentingan (sebagai dasar bagi tindakan atau perilaku politik) bukan menggambarkan rangkaian preferensi yang baku, yang telah dimiliki oleh aktor-aktor politik, melainkan sebagai produk dari identitas aktor-aktor tersebut. Namun, sebelum mengarah kepada kepentingan-kepentingan tersebut ada identitas awal sebelum terbentunya identitas baru yang dapat mempengaruhi lingkungan domestik maupun lingkungan internasional. Identitas Korea Selatan saat ini adalah diyakini sebagai sebuah negara yang mengancam kedaulatan negara lain (Korea Utara) karena dilihat dari lingkungan sosialnya yang memiliki hubungan bilateral yang erat dengan Amerika Serikat.
Hal ini dikarenakan bagi Korea Utara, Amerika Serikat adalah ancaman yang paling berbahaya bagi negaranya sehingga semakin menguatkan Korea Utara untuk mengembangkan senjata nuklir yang dimilikinya hingga sekarang telah menjadi negara nuklir yang paling ditakuti oleh dunia internasional terutama Korea Selatan. Yang mana mengganggap nuklir sebagai bentuk ancaman karena seringnya tindakan provokatif dilakukan Korea Utara untuk menghancurkan negaranya. Dari sebuah identitas, dapat menentukan kepentingan dari Park Geun Hye yaitu aktor yang berperan dalam perubahan identitas tersebut dengan menentukan kepentingan yang mana kepentingan tersebut dirumuskan ke dalam sebuah kebijakan yang diberi nama Trust Politik Policy. Park Geun Hye mengembangan kepentingan itu dengan tiga kerangka besar dari Kebijakan Trust Politik Policy-nya yaitu Trust-building Process on the Korean Peninsula, Northeast Asia Peace and Cooperation Initiative dan Eurasia Initiative.Contohnya, pada konsep
trust-building process yaitu alat untuk mencapai “Three Stage Unification” yaitu menjamin keamanan, melaju melalui integrasi ekonomi, dan mencapai integrase politik.
permusuhan dan curiga terhadap Korea Utara dan menyelesaikan dua tantangan isu keamanan tentang rivalitas antar duo-korea dan rivalitas di Asia Timur Laut. Korea Selatan juga dapat sekaligus memenuhi kepentingan nasional lainnya seperti diakui eksistensinya oleh dunia internasional sebagai negara yang mampu untuk meredam konflik di Semenanjung Korea dan di Asia Timur Laut. Jadi, teoretisi konstruktivis lebih menekankan pada sumber-sumber munculnya kepentingan, yakni bagaimana aktor-aktor politik mengembangkan kepentingan-kepentingan mereka. Dalam artian ini, terkait dengan proposisi ontologis yang pertama, Alexander Wendt secara jelas mengatakan bahwa, ‘Identities are the basis of interests’ (1992).16
Ketiga, struktur dan agen saling mempengaruhi satu sama lain. Konstruktivis pada dasarnya adalah strukturasionis yakni menekankan peran struktur non-material terhadap identitas dan kepentingan serta, pada saat yang bersamaan, menekankan peran praktek dalam membentuk struktur-struktur tersebut. Artinya, meskipun sangat menentukan identitas (dan oleh karenanya juga kepentingan) aktor-aktor politik, struktur ideasional atau normatif tidak akan muncul tanpa adanya tindakan-tindakan aktor-aktor politik. Sehingga pada tahap berikutnya tindakan negara akan memberikan pengaruh terhadap bentuk sistem internasional, sebaliknya sistem tersebut juga memberikan pengaruh pada perilaku negara-negara. Dalam proses saling mempengaruhi itu terbentuklah apa yang disebut dengan collective meanings. Collective meanings itulah yang menjadi dasar terbentuknya intersubyektifitas dan kemudian membentuk struktur atau identitas baru dalam rangka perubahan persepsi yang mana dari sesuatu yang bersifat ancaman dapat berubah menjadi hubungan pertemanan.
Kebijakan ini digunakan oleh Park Geun Hye untuk menyatukan kesepahaman masyarakat internasional bahwa Semenanjung Korea dapat mengalami pergeseran dari zona konflik menjadi zona kepercayaan, artinya bahwa akan terbentuk sebuah identitas baru dari Korea Selatan untuk mengubah persepsi dengan menempatkan nilai Trust sebagai kunci di dalam kebijakan Trust Politik Policy yang berarti kepercayaan (mempercayai satu sama lain) yang muncul berdasarkan pengalaman buruk sejarah Semenanjung Korea dan kesulitan dalam menebak realitas keamanan yang mana terdapat penurunan tingkat kepercayaan yang jelas di
Semenanjung Korea bahkan di Asia Timur Laut. Hal ini menjadikan kedua negara berusaha memaksimalkan pertahanan dan keamanan negara agar terhindar dari dominansi satu sama lainnya serta tidak ada lagi yang namanya konflik di Semenanjung Korea yang diakibatkan oleh aktivitas pengembangan nuklir dan tindakan provokatif oleh Korea Utara meskipun proses trust
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Korea Utara mengumumkan tanda bahaya ketika Amerika Serikat yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump mengajak Korea Selatan untuk latihan militer gabungan di ambang pintu wilayah Korea Utara sehingga sebagai negara yang realis tentunya Korea Utara mengecam hal tersebut sebagai upaya atau strategi untuk melakukan penyerangan terhadap negaranya. Bahkan ketika Amerika Serikat dan Korea Selatan yang hanya sebatas berlalu-lalang didepan negaranya Korea Utara langsung menanggapi hal tersebut sebagai gertakan apalagi sekarang diketahui bahwa Korea Selatan dan Amerika Serikat sedang melakukan latihan militer. Alasan-alasan inilah yang membuat Korea Utara terus mengembangkan nuklirnya hingga saat ini pada bulan September 2017 Korea Utara telah meluncurkan nuklirnya dengan ledakan mencapai 1000 kiloton yang mana sebelumnya untuk menunjukkan negaranya sebagai negara nuklir, Korea Utara telah meluncurkann nuklir pada tahun 2006, 2009 dan 2016 sebanyak dua kali percobaan.. Hal ini membuat keresahan dunia internasional khususnya negara tetangga, Korea Selatan. Selain itu, bentuk aksi provokasi lain yang dilakukan kepada Korea Selatan adalah pernyataan Korea Utara yang dapat menghancurkan Korea Selatan dengan mudahnya sehingga aksi provokatif tersebut dianggap sebagai ancaman yang serius oleh Korea Selatan.
mengharuskan kedua negara untuk bekerja sama dan melahirkan satu kesepakatan antar keduanya yang harus ditaati. Melainkan Park Geun Hye sendiri mencoba untuk melihat kondisi dari kedua negara ini dengan menggunakan kacamata konstruktivisme. Dimana mekanisme pemberlakuan kebijakan “Trust Politic policy” yang dirancangnya ini bertujuan untuk merubah persepsi Korea Utara terhadap Korea Selatan dengan adanya kebijakan saling mempercayai sehingga untuk menganalisis kasus ini dapat digunakan perspektif konstruktivisme.
Kebijakan ini digunakan oleh Park Geun Hye untuk menyatukan kesepahaman masyarakat internasional bahwa Semenanjung Korea dapat mengalami pergeseran dari zona konflik menjadi zona kepercayaan, artinya bahwa akan terbentuk sebuah identitas baru dari Korea Selatan untuk mengubah persepsi dengan menempatkan nilai Trust sebagai kunci di dalam kebijakan Trust Politik Policy yang berarti kepercayaan (mempercayai satu sama lain) yang muncul berdasarkan pengalaman buruk sejarah Semenanjung Korea dan kesulitan dalam menebak realitas keamanan yang mana terdapat penurunan tingkat kepercayaan yang jelas di Semenanjung Korea bahkan di Asia Timur Laut. Hal ini menjadikan kedua negara berusaha memaksimalkan pertahanan dan keamanan negara agar terhindar dari dominansi satu sama lainnya serta tidak ada lagi yang namanya konflik di Semenanjung Korea yang diakibatkan oleh aktivitas pengembangan nuklir dan tindakan provokatif oleh Korea Utara meskipun proses trust
ini membutuhkan waktu dan pendekatan secara bertahap namun diharapkan konsisten untuk menyelesaikan segala konflik di Semenanjung Korea sekaligus di Asia Timur Laut.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA BUKU
Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani. 2005.Pengantar Ilmu HubunganInternasional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Ambarwati dan Subarno Wijatmadja. 2016. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Malang : Intrans Publishing.
Hara, Abubakar Eby. 2010. Pengantar Analisis Politik Luar Negeri: Dari Realisme sampai Konstruktivisme. Jakarta: Nuansa Cendekia.
Robert Jackson, Georg Serensen. 2013. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional Teori dan Pendekatan Edisi Kelima.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
WEBSITE
http://ekaprasdika.blogspot.co.id/2013/07/konstruktivisme-dari-sudut-politik-luar_7392.html.
http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-04-05/sejarah-di-balik-ketegangan-korea-utara-dan-korea-selatan-kilas-balik/1112046
http://eprints.upnyk.ac.id/6845
http://horizonwatcher.blogdetik.com/2011/12/20/sejarah-koreautara-kepemimpinan-kim-il-sung kim-jong-il-dan-penerusnya-kim-jong-un
http://internasional.kompas.com/read/2017/09/04/22032581/sejarah-pengembangan-dan-uji-coba-senjata-nuklir-korea-utara
https://news.detik.com/berita/d-3627422/peluncuran-rudal-korut-dari-masa-ke-masa-makin-mengkhawatirkan
http://internasional.kompas.com/read/2017/09/04/22032581/sejarah-pengembangan-dan-uji-coba-senjata-nuklir-korea-utara
http://internasional.kompas.com/read/2017/09/04/22032581/sejarah-pengembangan-dan-uji-coba-senjata-nuklir-korea-utara
https://www.neliti.com/publications/31292/reaksi-korea-utara-terhadap-kebijakan-korea-selatan-memberhentikan-bantuan-ekono
https://www.google.co.id/url?
sa=t&source=web&rct=j&url=http://scholar.unand.ac.id/22701/2/BAB
%25201.pdf&ved=2ahUKEwjJpsPw517YAhVGjpQKHamQBGgQFJAAegQIBBAB&usg=AOv