UNIVERSITAS INDONESIA
MODEL HUBUNGAN
TACIT KNOWLEDGE
DAN KINERJA
INDIVIDU PADA BALAI RISET DAN STANDARDISASI
INDUSTRI
SKRIPSI
NIKITA KURNIA 0806367355
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI DEPOK
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT. Hanya kepada-Nya saya
menyembah dan hanya kepada-Nya saya memohon pertolongan. Atas berkat
rahmat, kemudahan, dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat dan salam saya haturkan kepada junjungan saya, Nabi Muhammad
SAW. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu satu
syarat untuk mencapai gelar Sarjana Teknik Departemen Teknik Industri pada
Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Saya ingin menyampaikan ucapan terima
kasih yang sebesar-besarnya atas jasa-jasa mereka hingga penulis dapat
menyelesaikan laporan ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
(1) Bapak Prof. Dr. Ir. T. Yuri M. Zagloel, MEngSc terima kasih atas segala
bimbingan yang telah bapak berikan kepada penulis selama menyelesaikan
skripsi.
(2) Bapak Ir. Yadrifil, M.Sc, selaku dosen pembimbing akademis.
(3) Keluarga penulis Ayah dan Mama (orang tua terhebat yang pernah penulis
sayangi) yang senantiasa memberikan kasih sayang, doa perhatian tanpa
mengharapkan imbalan, serta dukungan materil yang diberikan kepada
penulis selama menyelesaikan skripsi;
(4) Firdaus Jamsan, ST, MT yang telah banyak membantu dalam memulai
skripsi ini, semoga bantuan dan ketulusan yang diberikan mendapatkan
balasan yang baik. Amien
(5) Pimpinan serta karyawan Baristand Industri Padang yang telah banyak
memberikan dukungan moril kepada penulis;
(6) Dosen-dosen Teknik Industri, atas semua masukan dan kritiknya selama
masa seminar dan sidang;
(7) Mira, Arif, Andi yang telah banyak memberikan semangat dan inspirasi
untuk menyelesaikan skripsi ini;
(8) Teman-teman TI ekstensi Depok angkatan 2008 yang selalu memberikan
Universitas Indonesia (9) Semua pihak yang tidak bisa disebut satu persatu yang sedikit banyak telah
memberi pengaruh terhadap penulis selama kuliah dan penyusunan skripsi.
Akhir kata, penulis berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan
semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi
pengembangan ilmu ke depannya.
Depok, Juni 2011
Universitas Indonesia ABSTRAK
Nama : Nikita Kurnia
Program Studi : Teknik Industri
Judul Skripsi : Model Hubungan Tacit Knowledge dan Kinerja Individu pada Balai Riset dan Standardisasi Industri
Balai Riset dan Standardisasi Industri merupakan salah satu Unit Pelayanan Teknis (UPT) yang memiliki tugas dan fungsi melakukan riset terapan yang dapat diimplementasikan dalam dunia usaha. Untuk dapat menghasilkan riset yang berkualitas dibutuhkan pengelolaan sumber daya manusia yang baik. Pengelolaan tersebut dilakukan dengan mengelola tacit knowledge sehingga menghasilkan kinerja yang baik. Penelitian ini bertujuan mendapatkan model hubungan dari tacit knowledge terhadap kinerja individu dengan studi kasus pada peneliti Baristand Padang. Variabel yang akan di digunakan adalah tacit knowledge dan kinerja individu. Penelitian ini menggunakan metode statistik Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Square (PLS) dan perangkat lunak SMARTPLS untuk membuktikan hubungan antar variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman, interaksi personal dan kondisi lingkungan kerja dalam tacit knowledge yang berpengaruh terhadap kinerja individu. Dengan memahami variabel yang berpengaruh pada individu, organisasi bisa menggunakan hasil tersebut untuk meningkatkan kinerja yang ada.
Kata kunci :
ABSTRACT
Nama : Nikita Kurnia
Program Studi : Industrial Engineering
Judul Skripsi : Interrelated Model Between Tacit Knowledge
And Individual Performance In Institute For Industrial Research And Standardization
Institute for Industrial Research and Standardization is one of the Technical Service Unit (UPT), which has duties and function of applied research that can be implemented. To produce high quality research have to managed human resources in older to produce good performance. One of them in tacit knowledge. This research aims to develop interrelated model between tacit knowledge and performance of individuals with a case study on researchers BARISTAND Padang. Variables that have been used was tacit knowledge and individual performance. The processing data used Structural Equation Modeling (SEM) methods are based on Partial Least Square (PLS) and software Smart PLS edition 2 to prove the relationship between variables of the study. The results reveal that the tacit knowledge factor was effected to experience, personal interaction, community, and working conditions on individual performance.
Keywords:
Universitas Indonesia
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
HALAMAN PRNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vi
ABSTRAK ... vii
1.2 Diagram Keterkaitan Masalah ... 3
1.3 Rumusan Permasalahan ... 3
1.4 Tujuan Penelitian ... 4
1.5 Batasan Masalah ... 4
1.6 Metodologi Penelitian ... 4
1.7 Sistematika Penulisan ... 7
2. LANDASAN TEORI... 8
2.3 Hubungan Antara Knowledge Management dan Kinerja Karyawan ... 12
2.4 Structural Equation Modeling (Model Persamaan Struktural) ... 13
2.4.1 Sejarah Model Persamaan Struktural... 13
3. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ... 22
3.1 Kajian penelitian Terdahulu ... 22
3.2 Identifikasi Variabel ... 23
3.3 Model penelitian ... 24
3.4 Pembuatan Alat Ukur Kuesioner ... 31
3.5 Penyusunan kuesioner dan Penyebaran Kuesioner ... 34
3.5.2 Penyebaran Kuesioner ... 34
3.5.2.1 Uji Reliabilitas Kuesioner ... 34
3.5.2.2 Uji Validitass Kuesioner ... 35
3.6 Pengolahan Data Kuesioner ... 37
3.6.1 Stratifikasi Responden ... 37
3.6.2 Statistik Deskriptif Tacit Knowledge dan Kinerja Karyawan ... 40
3.6.2.1 Statistik Deskriptif Tacit Knowledge ... 40
3.6.2.2 Statistik Deskriptif Kinerja Karyawan ... 41
3.6.3 Normalitas Data ... 41
3.6.4 Pengolahan Data Dengan SEM ... 42
3.6.4.1 Spesifikasi Model ... 43
3.6.4.2 Evaluasi Model Pengukuran ... 44
3.6.4.2.1 Validitas outer Model ... 44
3.6.4.2.2 Reliabilitas Outer Model ... 49
3.6.2.2.3 Signifikansi Outer Model ... 49
3.6.4.3 Evaluasi Model Struktural ... 51
3.6.4.3.1 Hubungan Konstruk Endogen dengan Konstruk ... endogen.………... .51
3.6.4.3.2 Hubungan Antar Konstruk Endogen ... 52
4. ANALISA ... 53
4.1 Analisa Outer Model ... 53
4.2 Analisa Inner Model ... 55
4.2.1 Pengertian Knowledge ... 55
4.2.2 Tacit Knowledge ... 57
4.3 Hubungan Kedekatan Model ... 58
4.4 Model Akhir Penelitian ... 58
5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 60
5.1 Kesimpulan ... 60
5.2 Saran ... 60
DAFTAR REFERENSI ... 61
Universitas Indonesia
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Diagram Keterkaitan Masalah ... 3
Gambar 1.2 Diagram Alir Metodologi Penelitian ... 5
Gambar 2.1 Langkah-langkah Metode PLS ... 8
Gambar 3.1 Metode Awal Penelitian ... 17
Gambar 3.2 Diagram Lingkaran Data Jenis Kelamin ... 27
Gambar 3.3 Diagram Lingkaran Data Usia ... 38
Gambar 3.4 Diagram Lingkaran Data Tingkat Pendidikan ... 38
Gambar 3.5 Diagram Lingkaran Data Masa Kerja ... 39
Gambar 3.6 Diagram Jalur Model Penelitian dengan PLS ... 40
Gambar 3.7 Nilai Loading Faktor menggunakan Diagram Jalur PLS ... 40
Gambar 3.8 Nilai Loading Faktor menggunakan Diagram Jalur PLS setelah re- estimasi ... 43
Gambar 3.9 Path Diagram T-Value pada model penelitian ... 44
Tabel 3.2 Kriteria Penlaian Kinerja Bernadin ... 23
Tabel 3.3 Spesifikasi Konstruk Endogen dan Konstruk EksogenTacit knowledge ... 26
Tabel3.4 Spesifikasi Indikator Penelitian untuk Konstruk Endogen Tacit knowledge ... 27
Tabel 3.5 Spesifikasi Konstruk Endogen dan Eksogen Kinerja ... 28
Tabel 3.6 Spesifikasi Indikator Penelitian untuk Konstruk Endogen Kinerja ... 30
Tabel 3.7 Skala Pengukuran dalam Penilaian Responden ... 31
Tabel 3.8 Operasionalisasi Konstruk Endogen Tacit knowledge ... 32
Tabel 3.9 Operasionalisasi Konstruk Endogen Kinerja ... 33
Tabel 3.10 Hasil Uji Realiabilitas Keseluruhan Kuesioner ... 34
Tabel 3.11 Hasil Uji Validitas untuk variabel tacit knowledge ... 35
Tabel 3.12 Rata-rata dan standar deviasi tacit knowledge ... 40
Tabel 3.13 Rata-rata dan standar deviasi kinerja ... 41
Tabel 3.14 Hasil uji normalitas data tacit knowledge ... 42
Tabel 3.15 Nilai Factor Loading Konstruk tacit knowledge ... 46
Tabel 3.16 Nilai Factor Loading Konstruk Kinerja Individu ... 46
Tabel 3.17 Nilai Factor Loading tacit knowledge setelah re-estimate ... 47
Tabel 3.18 Nilai Factor Loading Konstruk Kinerja Individu setelah re-estimate . 47 Tabel 3.19 Uji Validitas Berdasarkan Cross Loading ... 48
Tabel 3.20 Nilai Realiabilitas Konstruk Eksogen terhadap Konstruk Endogen ... 49
Tabel 3.21 Signifikansi Outer Model ... 50
Tabel 3.22 Signifikansi Inner Model ... 52
Universitas Indonesia
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner Penelitian ... 63
Lampiran 2 Print out uji reliabilitas kuesioner ... 67
Lampiran 3 Print out uji validitas kuesioner ... 66
Lampiran 4 Print out Uji normalitas data ... 71
Lampiran 5 Print Out Uji validitas outer model ... 73
Lampiran 6 Print out validitas outer model seetelah re-estimasi ... 74
Lampiran 7 Print out validitas cross loading ... 75
Lampiran 8 Print out nilai reliabilitas konstruk eksogen ... 76
Lampiran 9 Print out signifikansi outer model ... 77
Lampiran 10 Print out signifikansi innerr model ... 78
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di Indonesia, hampir semua lembaga non-profit berada di bawah
pengelolaan pemerintah. Salah satu organisasi tersebut adalah Balai Riset dan
Standardisasi Industri (selanjutnya disebut Baristand). Baristand secara struktural
merupakan Unit Pelayanan Teknis (UPT) pusat di bawah Badan Pengkajian,
Kebijakan, Iklim dan Mutu Industri, Kementerian Perindustrian. Tugas dan fungsi
utama Baristand adalah melakukan riset terapan yang hasilnya dapat
diimplementasikan oleh para dunia industri. Secara normatif, Baristand
bertanggung jawab dalam menyediakan inovasi teknologi sehingga industri dapat
bertahan dan berkembang secara berkelanjutan dalam menghadapi persaingan.
Oleh karena itu, untuk dapat menjadi organisasi yang inovatif, Baristand sebagai
unit pelayanan teknis, harus mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas.
Dalam upaya memenuhi sumber daya manusia yang berkualitas, organisasi
perlu melakukan perbaikan kedalam yaitu dengan melakukan pengukuran kinerja
karyawan (Kosasih & Budhiani, 2007). Selain itu, suatu organisasi akan
menghasilkan output yang optimal apabila memiliki tangible dan intangible asset (David, 2002). Tangible asset dapat berupa infrastruktur fisik, mesin dan material, sedangkan intangible asset dapat berupa sumber daya manusia dan pengetahuan. Menurut Nonaka dan Tekeuchi (1995), organisasi tidak akan dapat meningkatkan
kinerja dalam jangka panjang dan memperoleh keunggulan bersaing yang
berkelanjutan, jika hanya fokus pada tangible asset.
Namun demikian, kondisi saat ini menunjukkan bahwa peneliti Baristand
tidak menghasilkan kinerja yang relatif baik. Rendahnya kinerja tersebut
diindikasikan dengan rendahnya jumlah hasil penelitian yang dapat diterapkan di
industri, bahkan nyaris tidak ada. Kondisi ini disebabkan banyak hal, diantaranya
adalah perumusan indikator kinerja peneliti yang kurang tepat, seperti lebih
melihat pada tingkat penyerapan anggaran, tingkat absensi pegawai, dan
sebagainya yang tidak mempunyai dampak terhadap peningkatan kemampuan
Universitas Indonesia Selain itu, rendahnya tingkat kemampuan inovasi hasil penelitian juga
dipengaruhi oleh perilaku dan karakter organisasi. Secara akumulatif, perilaku
organisasi merupakan gambaran umum perilaku dan karakter personil. Karakter
individu tersebut memberi pengaruh negatif yang mengakibatkan tidak sinkronnya
antara orientasi target individu dengan organisasi. Selanjutnya kondisi tersebut
akan menghambat komunikasi yang efektif antar personil, sehingga dalam
organisasi tidak terjadi proses community practice. Permasalahan ini mengakibatkan knowledge transfer yang bersifat implisit (selanjutnya disebut
tacit knowledge) antara peneliti, baik senior dan junior, mengalami hambatan. Hambatan ini pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja peneliti.
Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995), kesuksessan alih pengetahuan antar
individu juga dipengaruhi oleh kemampuan untuk melakukan knowledge sharing dan kemampuan knowledge absorpsi setiap individu. Jika hal ini bisa terjadi
dengan optimal, setiap penelitian yang dilakukan oleh para peneliti akan dapat
menghasilkan penelitian yang inovatif.
Uraian di atas menunjukkan bahwa untuk dapat meningkatkan kinerja
peneliti, Baristand harus dapat mengoptimalkan pemanfaatan tacit knowledge. Untuk itu, perlu ada suatu analisis hubungan dan pemetaan sumber tacit
knowledge dan kinerja peneliti. Dengan dapat dirumuskannya keterkaitan tersebut, organisasi dapat merumuskan strategi peningkatan kemampuan para peneliti, agar
dapat menghasilkan penelitian yang inovatif dan memberi dampak terhadap
1.2 Diagram Keterkaitan Masalah
Untuk dapat melihat permasalahan dalam penelitian ini secara utuh,
termasuk bagaimana setiap sub-permasalahan saling berinteraksi dan
berhubungan satu sama lain, maka dibuatlah diagram keterkaitan masalah.
Berdasarkan latar belakang di atas dibuat diagram keterkaitan masalah seperti
gambar 1.1 Kemampuan sharing dan
absorpsi knowledge Belum ada model yang menjelaskan
keterkaitan antara kinerja dan tacit knowledge dalam lembaga riset Terbentuknya model yang menjelaskan
keterkaitan kinerja dengan tacit knowledge di lembaga riset Terjadinya komunikasi
yang efektif antar individu Terjadinya transfer tacit knowledge antar peneliti
Strategi yang dirumuskan sesuai dengan skala prioritas yang tepat
Gambar 1.1 Diagram Keterkaitan Masalah
1.3 Perumusan Masalah
Dari uraian di atas, terlihat bahwa pengembangan suatu organisasi
Universitas Indonesia menjadi pertanyaan penelitian adalah bagaimana hubungan tacit knowledge dan kinerja individu.
1.4 Tujuan Penelitian
Dari perumusan permasalah di atas, maka penelitian ini bertujuan
mendapatkan model hubungan antara tacit knowledge dan kinerja individu.
1.5 Batasan Permasalahan
Dalam melakukan penelitian ini, dilakukan pembatasan masalah agar
penelitian lebih terfokus dan hasil yang didapatkan sesuai dengan tujuan awal
yang telah dirumuskan. Adapun penelitian ini akan dilakukan dengan batasan
sebagai berikut:
1. Unit analisis dalam penelitian ini adalah peneliti Baristand Industri
Padang.
2. Objek penelitian ini adalah peneliti Baristand Industri Padang.
3. Peneliti yang dijadikan subjek dari penelitian ini adalah minimal
peneliti yang telah mengikuti diklat peneliti.
4. Hasil dari penelitian ini adalah model hubungan tacit knowledge dan
kinerja individu pada Baristand Industri Padang.
1.6 Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat 4 tahap yang harus dilakukan, yaitu tahap
penyusunan masalah, tahap pengumpulan data, tahap pengolahan dan analisis,
serta tahap identifikasi kesimpulan.
1. Tahap penyusunan masalah meliputi identifikasi area masalah dari
latar belakang, perumusan masalah, tujuan, dan batasan penelitian
yang akan dilakukan. Selain itu, dalam tahap ini dilakukan studi
literatur tentang teori yang akan dijadikan landasan dalam penelitian,
diantaranya tentang tacit knowledge, kinerja, Structural Equation
Model (SEM), dan Partial Least Squre (PLS).
2. Tahap Pengumpulan Data. Dalam penelitian ini data dikumpulkan
melalui melalui survey terhadap peneliti Baristand Industri Padang
3. Tahap Pengolahan Data dan Analisis. Setelah semua data terkumpul
dari penyebaran kuesioner, langkah selanjutnya adlah mengolah dan
menganalisis data yang ada dengan metode Structural Equation Model (SEM). Adapun Prosedur SEM terdiri dari:
Membuat spesifikasi model penelitian yang akan diestimasi
Melakukan identifikasi terhadap persamaan simultan yang
mewakili model yang dispesifikasikan
Melakukan estimasi untuk memperoleh nilai dari parameter
yang ada dalam model.
Melakukan uji kecocokan anatar data dengan model. Pengujian
kecocokan data dengan model ini dilakukan melalui beberapa
tahapan, yaitu: Kecocockan keseseluruh model, kecocokan
model pengukuran, kecocokan model structural
Respesifikasi model. Merupakan tahapan yang dilakukan jika
model yang dihipotesiskan belum mencapai model yang fit.
4. Tahap identifikasi Kesimpulan. Tahapan ini berisi kesimpulan dari
keseluruhan penelitian.
Berikut inimerupakan diagram alir metodologi penelitian yang
Universitas Indonesia
Spesifikasi model Identifikasi model Estimasi Model
Uji Kecocokan
1.7 Sistematika Penulisan
Dalam penelitian ini sistematika penulisan terbagi menjadi 6 bab yang
terdiri dari:
BAB I Pendahuluan
Menguraikan secara singkat mengenai latar belakang permasalahan, diagram
keterkaitan, rumusan permasalahan, tujuan penelitian, ruang lingkup penelitian,
metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II Landasan Teori
Bab ini berisi tentang landasan teori yang digunakan dalam pengukuran
kinerja individu, knowledge management, tacit knowledge, dan metode penelitian yang digunakan.
BAB III Pengumpulan dan Pengolahan Data
Dalam bab ini membahas tentang pengumpulan data primer yang
dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada para
peneliti serta pengolahan data yang dilakukan.
Bab IV Analisis dan Pembahasan
Pada bab ini dilakukan analisis terhadap hasil pengolahan data yang ada,
untuk memenuhi tujuan penelitian.
Bab V Kesimpulan dan Saran
Pada bab ini penulis memberikan kesimpulan yang merupakan jawaban
permasalahan yang dikemukan pada bab pendahuluan serta saran-saran dari
Universitas Indonesia BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Knowledge
2.1.1 Pengertian Knowledge
Knowledge adalah informasi yang mengubah sesuatu atau seseorang hal itu terjadi ketika informasi tersebut menjadi dasar untuk bertindak, atau ketika
informasi tersebut memampukan seseorang atau institusi untuk mengambil
tindakan yang berbeda atau tidakan yang lebih efektif. (Tobing, 2007). Menurut
Li, Wang, Cao, 2006) kategori knowledge dari segi transmisi efektif sebagai tolak ukurnya, terdiri dari: eksplisit knowledge dan tacit knowledge. Tacitknowledge adalah knowledge yang terletak di dalam otak atau melekat di dalam diri seseorang yang diperolehnya melalui pengalaman dan pekerjaannya. Sedangkan
explisit knowledge adalah segala bentuk knowledge yang sudah direkam, di dokumentasikan, sehingga lebih mudah didistribusikan dan dikelola.
2.1.2 Tacit Knowledge
Konsep tacit knowledge pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf
bernama Polanyi pada tahun 1998. Dia menjelaskan tacit knowledge sebagai berikut: " knowledge manusia dimulai dari fakta bahwa kita bisa tahu lebih banyak dari yang kita tahu, atau kita memiliki kekuatan untuk mengetahui lebih dari kita
bisa dikatakan”. Tacit Knowledge dari segi kepemilikan terdiri dari tacit
knowledge individu dan tacit knowledge organisasi (Li, Wang, Cao, 2006). Tacit Knowledge individu adalah jenis knowledge individu yang berkaitan dengan prestasi, dan keterampilan tetapi sulit untuk dijeleskan secara jelas oleh bahasa
dalam situasi yang tepat. Sedangkan tacit knowledge organisasi adalah kombinasi kognitif individu atau pola yang diperoleh melalui pengalaman bersama dan
diekspresikan melalui tindakan sinkroniasi yang tidak disadari ketika kelompok
dihadapkan pada tugas kelompok yang harus dilakukan dalam konteks
21
2.1.3 Proses Penciptaan Knowledge
Profesor Nonaka menyatakan bahwa proses penciptaan knowledge dalam suatu organisasi terjadi karena adanya interaksi (konversi) antara tacitknowledge dan eksplisit knowledge, melalui proses sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan
internalisasi.
Untuk mendukung proses aktivitas dan pengembangan sumber daya
manusia di suatu organisasi yang merupakan perwujudan model SECI
(Socialization, Externalization, Combination, Internalization) Nonaka, digunakan
perangkat teknologi informasi yang ada di organisasi.
Sosialisasi
Proses sosialisasi antar SDM di organisasi salah satunya dilakukan melalui
pertemuan tatap muka (rapat, diskusi, dan pertemuan bulanan). Melalui
pertemuan tatap muka ini, SDM dapat saling berbagi knowledge dan
pengalaman yang dimilikinya sehingga tercipta knowledge baru bagi mereka. Rapat dan diskusi yang dilakukan secara berkala harus memiliki
notulen rapat. Notulen rapat ini kemudian menjadi bentuk dari eksplisit
knowledge (dokumentasi).
Proses sosialisasi juga dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan
(training) dengan mengubah tacit knowledge para trainer menjadi tacit knowledge para karyawan.
Eksternalisasi
Eksternalisasi adalah proses untuk mengartikulasikan tacit knowledge
menjadi suatu konsep yang jelas. Proses eksternalisasi ini dapat
diwujudkan melalui dokumentasi notulen rapat (bentuk eksplisit dari
knowledge yang tercipta saat diadakannya pertemuan) ke dalam bentuk
elektronik untuk kemudian dapat dipublikasikan kepada mereka yang
berkepantingan.
Kombinasi
Proses konversi knowledge melalui kombinasi adalah mengkombinasikan
22
Universitas Indonesia dokumen-dokumen yang disampaikan (biasanya) pada
pertemuan-pertemuan formal atau dapat pula disebut dengan data sharing.
Internalisasi
Transfer atau sharing knowledge dari eksplisit to tacit. Pada proses internalisai data atau dokumen yang telah diterima oleh individu kemudian
dapat dipahami secara mendalam, dan diharapkan dapat memunculkan
new knowledge.
2.2 Kinerja Individu 2.2.1 Konsep Kinerja
Kinerja merupakan hasil kerja atau karya yang dihasilkan oleh
masing-masing karyawan untuk membantu suatu organisasi dalam mencapai dan
mewujudkan tujuan organisasi (Rivai, 2008). Pada dasarnya kinerja dari
seseorang merupakan hal yang bersifat individu karena masing-masing dari
karyawan memiliki tingkat kemampuan berbeda. Menurut Bernadin dan Russel
(1993) terdapat 6 kriteria untuk menilai kinerja karyawan, yaitu:
1. Kualitas
Tingkatan dimana proses atau penyesuaian pada cara ideal di dalam
melakukan aktifitas atau memenuhi aktifitas yang sesuai harapan
2. Kuantitas
Jumlah yang dihasilkan diwujudkan melalui nilai mata uang, jumlah
unit, atau jumlah dari siklus aktifitas yang diselesaikan.
3. Produktivitas Waktu
Tingkatan dimana aktifitas telah diselesaikan dengan waktu yang lebih
cepat dari yang ditentukan dan memaksimalkan waktu yang ada untuk
aktifitas lain.
4. Efesiensi Biaya
Tingkatan dimana penggunaan sumber daya perusahaan berupa
manusia, keuangan, dan teknologi dimaksimalkan untuk mendapatkan
23
5. Kemandirian
Tingkatan dimana seseorang karyawan dapat melaksanakan
pekerjaannya tanpa perlu meminta pertolongan atau bimbingan dari
atasannya.
6. Kemampuan Interpersonal
Tingkatan dimana seseorang karyawan merasa percaya diri, punya
keinginan yang baik, dan bekerja sama diantara rekan kerja.
2.2.2 Tujuan Penilaian Kinerja
Tujuan penilaian kinerja adalah untuk meningkatkan kinerja, mentapkan
tujuan organisai, dan mengidetifikasi pelatihan dan kebutuan pengembangan
(Rivai, 2008). Namun secara umum penilaian kinerja banyak digunkan untuk
kriteria validasi, menentukan kebutuhan-kebutuhan pelatihan organisasi,
menekankan kembali struktur kekuasaan, perencanaan sumber daya manusia.
Dalam melakukan penilaian kinerja sangat penting untuk membedakan manfaat
penilaian kinerja antara karyawan, penilai, dan organisasi.
1. Manfaat bagi karyawan yang dinilai
Bagi karyawan yang dinilai, keuntungan pelaksaan kinerja adalah
antara lain:
a. Meningkatkan motivasi
b. Meningkatkan kepuasan kerja
c. Adanya kejelasan standar hasilyang diharapkan mereka
d. Umpan balik dari kinerja lalu yang akurat dan konstruktif
e. Pengembangan perencanaan untuk meningkatkan kinerja dengan
membangun kekuatan dan mengurangi kelemahan semaksimal
mungkin.
2. Manfaat bagi penilai
Bagi penilai, manfaat pelaksaaan penilaian kinerja adalah antara laian:
a. Kesempatan untuk mengukur dan mengidentifikasi kecenderungan
24
Universitas Indonesia b. Meningkatkan kepuasan kerja baik manajer maupun karyawan.
c. Kesempatan bagi manajer untuk menjelaskan kepada karyawan apa
yang sebenarnya diinginkan oleh perusahaan dari para karyawan
sehingga para karyawan dapat mengukur dirinya, menempatkan
dirinya dan berjaya sesuai harapan manajer.
d. Merupakan kesempatan berharga bagi manajer agar dapat menilai
kembali apa yang telah dilakukan sehingga ada kemungkinan
merevisi target atau menyusun prioritas baru.
3. Manfaat bagi perusahaan/organisasi
Bagi perusahaan atau organisasi, manfaat penilaian kinerja adalah
antara lain:
a. Perbaikan seluruh simpul unit-unit yang ada dalam perusahaan,
seperti: komunikasi yang lebih efektif mengenai tujuan perusahaan
dan nilai budaya, peningkatan rasa kebersamaan dan loyalitas,
peningkatan kemampuan dan kemauan manajer untuk
menggunakan keterampilan atau keahlian memimpinnya untuk
memotivasi karyawan dan mengembangkan keterampilan
karyawan.
b. Meningkatkan keharmonisan hubungan dalam pencapaian tujuan.
c. Meningkatkan motivasi karyawan secara keseluruhan.
d. Untuk mengenali lebih jelas pelatihan dan pengembangan yang
dibutuhkan.
2.3. Hubungan Antara Knowledge Management dan Kinerja Karyawan
Untuk menghasilkan kinerja yang baik, maka suatu organisasi
membutuhkan sistem yang baik pula. Sistem ini bukan hanya peraturan atau
standar yang ada melainkan juga melibatkan pihak-pihak yang terkait langsung
yaitu sumber daya manusianya (Kosasih & Budiani, 2007). Salah satu sistem
manajemen yang menawarkan suatu disiplin yang memperlakukan intelektual
25
2002). Personal knowledge yang diukur dalam penelitian ini lebih
mengkhususkan pada tacit knowledge. Dalam prakteknya Knowledge
management dapat menjadi guidance tentang pengelolaan intangible asset yang menjadi pilar perusahaan (dalam hal ini organisasi) dalam menciptakan nilai.
Organisasi perlu mengetahui sejauh mana knowledge management berperan dalam meningkatkan kinerja karyawan khususnya dalam suatu lembaga penelitian.
Hubungan knowledge management dan kinerja karyawan juga di bahas dalam teori zack. Teori zack tersebut menganalisis knowledge gap dalam organisasi dengan mengukur antara tingkat kepentingan knowledge karyawan dengan tingkat penguasaan knowledge karyawan. Tingkat kepentingan
menyatakan seberapa penting knowledge yang dibutuhkan karyawan untuk menjalankan tugas dan fungsinya. Sedangkan tingkat penguasaan menyatakan
seberapa jauh penguasaaan karyawan yang terdapat dalam suatu bidang terhadap
knowledge yang dibutuhkan. Pengukuran knowledge gap dilakukan untuk meningkatkan kondisi yang ada, sehingga knowledge gap tidak ada lagi. Dengan meningkatnya knowledge dari karyawan yang dimiliki, diharapkan kinerjanya akan meningkat sehingga akan meningkatkan kinerja organisasi (Bambang dkk,
2008).
2.4 Structural Equation Modeling (Model Persamaan Struktural) 2.4.1 Sejarah Model Persamaan Struktural
Structural Equation Modeling (SEM) merupakan gabungan dari dua metode statistik yang terpisah yaitu analisis faktor (factor analysis) yang dikembangkan di ilmu psikologi dan psikometri serta model persamaan simultan
(simultaneous equation modeling) yang dikembangkan di ekonometrika
(Wijayanto, 2008).
Analisis faktor pertama kali diperkenalkan oleh Galton (1869) dan Pearson
(Pearson dan Lee, 1904). Penelitian Spearman (1904) merupakan pengembangan
model analisis faktor umum. Dalam penelitiannya berkaitan dengan struktur
kemampuan mental, Spearman menyatakan bahwa uji interkorelasi antar
kemampuan mental dapat menentukan faktor kemampuan umum dan faktor-faktor
26
Universitas Indonesia umum kemampuan yang diikuti dengan faktor khusus seperti dipostulatkan oleh
Spearman, tetapi ada beberapa kelompok faktor umum yang disebut primary
mental abilities.
2.4.2 Konsep Dasar SEM
Structural Equation Modeling (SEM) adalah suatu teknik statistik yang digunakan untuk melakukan pengujian terhadap suatu model sebab-akibat dengan
menggunakan kombinasi dari teori yang ada dan data kuantitatif yang telah
dikumpulkan (Wijayanto, 2008). SEM mengakomodasi kemampuan dari berbagai
teknik statistik yang telah dikenal sebelumnya yaitu menggabungkan antara
kemampuan teknik path analysis dengan factor analysis. Secara umum, jika pada suatu model SEM terdapat beberapa variabel laten yang saling berpengaruh dan
variabel-variabel laten tersebut hanya diukur dengan satu indikator, maka model
tersebut termasuk ke dalam kasus path analysis. Di lain pihak, suatu model SEM
dengan variabel laten yang diukur dengan beberapa indikator tetapi tidak memiliki
hubungan sebab-akibat dengan variabel laten lain merupakan kasus confirmatory factor analysis.
Kline dan Klamer (2001) dalam Wijayanto (2008), mengungkapkan alasan
penggunaan SEM dibandingkan regresi berganda diantaranya:
1. SEM memeriksa hubungan di antara variable-variabel sebagai sebuah unit,
tidak seperti pada regresi berganda yang pendekatannya sedikit demi
sedikit (piecemeal).
2. Asumsi pengukuran yang andal dan sempurna pada regresi berganda tidak
dapat dipertahankan, dan pengukuran dengan kesalahan dapat ditangani
dengan mudah oleh SEM.
3. Modification index yang dihasilkan oleh SEM menyediakan lebih banyak
isyarat tentang arah penelitian dan model yang perlu ditindaklanjuti
dibandingkan pada regresi.
4. Interaksi juga dapat ditangani oleh SEM
5. Kemampuan SEM dalam menangani non rescursive path.
SEM memiliki karakteristik khas yang meliputi:
1. Adanya 2 jenis variable yaitu variable laten dan variable teramati
27
2. Adanya 2 model yaitu model struktural dan model pengukuran
3. Adanya 2 jenis kesalahan yaitu kesalahan structural dan kesalahan
pengukuran.
Dalam prosedur pengerjaannya, digunakan diagram lintasan (path
diagram) yang dapat menggambarkan atau menspesifikasikan model SEM dengan
lebih mudah dan jelas. Penggunaan diagram lintasan diharapkan mempermudah
konversi model ke dalam perintah dari perangkat lunak SEM.
Variabel dalam SEM yaitu:
1. Variabel Laten
Dalam SEM variabel kunci yang menjadi perhatian adalah variabel
laten, dimana variabel laten merupakan konsep abstrak, seperti perilaku
orang, sikap, perasaan, dan motivasi. Variabel laten dapat diamati secara
tidak langsung dan tidak sempurna melalui efeknya pada variabel teramati.
SEM mempunyai 2 jenis variabel laten, yaitu eksogen dan endogen. SEM
membedakan kedua jenis variabel ini berdasarkan keikutsertaan variabel
sebagai variabel terkait pada persamaaan-persamaan dalam model.
Variabel laten eksogen sebagai variabel bebas pada persamaan yang ada
dalam model. Sedangkan variabel endogen merupakan variabel terikat
pada persamaan yang ada dalam model.
2. Variabel Teramati
Variabel teramati adalah variabel yang dapat diamati atau dapat
diukur secara empiris dan sering disebut inndikator atau variabel manifest.
Variabel teramati merupakan efek atau ukuran variabel laten. Pada metode
survey dengan menggunakan kuesioner, setiap pernyataan pada kuesioner
mewakili sebuah variabel teramati.
Model dalam SEM meliputi:
1. Model Sruktural
Model structural menggambarkan hubungan-hubungan yang ada
diantara variabel-variabel laten. Hubungan-hubungan ini umumnya linear
meskipun perluasan SEM memungkinkan untuk mengikutsertakan
28
Universitas Indonesia 2. Model Pengukuran
Model pengukuran memodelkan hubungan antara variabel laten dan
variabel teramati. Hubungan tersebut bersifat refleksi dari variabel laten
terkait. Penetapan variabel teramati yang merefleksikan sebuah variabel
laten dilakukan berdasarkan substansi dari studi yang bersangkutan. Ada
dua bentuk pendekatan model pengukuran, yaitu:
a. Exploratory Factor Analysis(EFA)
Pada EFA, model rinci menunjukkan hubungan anatara variabel
laten dan variabel teramati tidak dispesifikasikan terlebih dahulu. Selain
itu, pada bentuk ini jumlah variabel laten tidak ditentukan sebelum
analisis dilakukan, semua variabel laten diasumsikan mempengaruhi
semua variabel teramati dan kesalahan pengukuran tidak boleh
berkolerasi.
b. Confirmatory Factor Analysis (CFA)
CFA didasarkan pada alasan bahwa variabel-variabel teramati
adalah indicator-indikator tidak sempurna dari variabel laten atau
konstruk tertentu yang mendasarinya. Pada CFA, model dibentuk lebih
dahulu, jumlah variabel laten ditentukan oleh analis, pengaruh suatu
variabel laten terhadap variabel teramati ditentukan terlebih dahulu,
beberapa efek langsung variabel laten terhadap variabel teramati dapat
ditetapkan sama dengan nol atau suatu konstanta, kesalahan
pengukuran boleh berkolerasi, kovarian variabel-variabel laten dapat
diestimasi atau ditetapkan pada nilai tertentu dan identifikasi parameter
akan diperlukan.
2.5 Partial Least Squares (PLS) 2.5.1 Sejarah Perkembangan PLS
Partial Least Square (PLS) dikembangkan pertama kali oleh Wold sebagai
metode umum untuk mengestimasi path model yang menggunakan konstruk laten
dengan multiple indikator. Pada tahun 1966 Herman Wold mempresentasikan dua
prosedur iterative menggunakan metode estimasi least square untuk single dan
29
untuk menguji teori yang lemah dan masalah pada asumsi normalitas distribusi
data (Jogiyanto, 2009).
Tujuan PLS adalah memprediksi pengaruh variabel X terhadap Y dan
menjelaskan hubungan teoritikal di antara kedua variabel. PLS adalah metode
regresi yang dapat digunakan untuk identifikasi factor yang merupakan kombinasi
variabel X sebagai penjelas dan variabel Y sebagai respon (Talbot, 1997 dalam
Jogiyanto, 2009).
2.5.2 Konsep Dasar PLS
Analisis Partial Least Square (PLS) adalah teknik statistika multivariate
yang melakukan pembandingan antara variabel dependen berganda dan variabel
independen berganda. PLS adalah salah satu metode statistika SEM berbasis
varian yang secara simultan dapat melakukan pengujian model pengukuran
sekaligus pengujian model struktural (Jogiyanto, 2009). Model pengukuran
digunakan untuk uji validitas dan reliabilitas, sedangkan model structural
digunakan untuk uji kasualitas (pengujian hipotesis dengan model prediksi).
Perbedaan mendasar PLS yang merupakan SEM berbasis varian dengan
LISREL atau AMOS yang berbasis kovarian adalah tujuan penggunaanya. SEM
berbasis kovarian bertujuan untuk mengestimasi model untuk pengujian atau
konfirmasi teori, sedangkan SEM berbasis varian bertujuan untuk memprediksi
model untuk pengembangan teori (Jogiyanto, 2009). Sebagai alat untuk model
prediksi, untuk menghindari masalah intedeminancy, (yaitu skor faktor yang
berbeda dihitung dari model faktor tunggal yang dihasilkan), PLS mengasumsikan
bahwa semua ukuran varian adalah varian yang dijelaskan sehingga pendekatan
estimasi variabel laten dianggap sebagai kombinasi linear dari indikator.
Dalam menggunakan metode PLS ini, ada beberapa langkah-langkah yang
30
Universitas Indonesia
Merancang model struktural (innner model)
Merancang model pengukuran (outer model)
Mengkonstruksi diagram jalur
Mengkonstruksi diagram jalur ke sistem persamaan
Estimasi: Koefefien jalur, loading, dan weight
Evaluasi Goodness of fit
Pengujian Hipotesis (Resampling Bootstrapping)
Gambar 2.1 Langkah-langkah metode PLS
1. Merancang Model Struktural (inner model)
Pada SEM perancangan model adalah berbasis teori, akan tetapi
pada PLS dapat berupa:
Teori
Hasil penelitian empiris
Analogi, hubungan antar variabel pada bidang ilmu lain
Normatif, missal peraturan pemerintah, undang-undang, dan lain
sebagainya
Rasional (PLS: bisa ekplorasi hubungan antar variabel)
2. Merancang Model Pengukuran (outer model)
Pada SEM semua bersifat refleksif, model pengukuran tidak
31
Pada PLS perancangan outer model sangat penting: reflektif atau
formatif
Dasar: teori, penelitian empiris sebelumnya, atau rasional
3. Konstruksi Diagram Jalur
4. Konversi Diagram Jalur ke Persammaan
5. Estimasi Parameter
Weight estimate yang digunakan untuk menghitung data variabel laten
Estimasi jalur (path estimate) yang menghubungkan antar variabel
laten (koefesien jalur) dan antara variabel laten dengan
indikatornya (loading)
Berkaitan dengan means dan lokasi parameter (nilai konstanta
regresi) untuk indicator dan variabel laten
Interaction variable
Pengukuran untuk variabel moderator, dengan teknik:
menstandarkan skor indikator dari variabel laten yang dimoderasi
dan yang memoderasi, kemudian membuat variabel laten interaksi
dengan cara mengalikan nilai standar indikator yang dimoderasi
dengan yang memoderasi.
6. Evaluasi Goodness of fit
Outer model refleksif:
Untuk model penelitian yang menggunakan outer model refleksif dievaluasi berdasarkan convergent, discriminant validity, composite realiability.
Nilai convergent dilihat dari nilai loading, nilai tersebut dianggap
cukup antara 0.5 sampai 0.6 untuk jumlah variabel laten antara 3
sampai 7. Nilai discriminant validity dilihat berdasarkan nilai AVE, nilai AVE tersebut > 0.5. Nilai composite reliability yang
masih dapat diterima adalah ≥ 0.7
32
Universitas Indonesia Sedangkan untuk model penelitian yang menggunakan outer model formatif dievaluasi berdasarkan pada substantive content-nya yaitu dengan melihat signifikansi dan weight.
Goodness of fit inner model
Diukur menggunakan Q-square predictive relevance. Rumus Q-Square:
Q2=1-(1-R12)(1-R22)….(1-Rp2)
Dimana R12, R22…Rp2 adalah R square variabel endogen dalam
model. Interpretasi Q2 sama dengan koefesienn deerminasi total
dalam analisis jalur (mirip dengan R2 pada regresi)
7. Pengujian Hipotesis
Hipotesis statistik untuk outer model:
H0: i = 0, lawan
H1: i ≠ 0
Hipotesis statistik untuk inner model: Variabel eksogen terhadap endogen:
H0 : i = 0, lawan
H1 : i ≠ 0
Hipotesis statistik untuk inner model: Variabel endogen terhadap endogen:
H0 : i = 0, lawan H1 : i≠ 0
Statistik uji: t-test; p-value ≤ 0,05 (alpha 5%); signifikan
Outer model signifikan: indicator bersifat valid
Inner model signifikan: terdapat pengaruh signifikan
PLS tidak mengasumsikan data berdistribusi normal: menggunakan
teknik resampling dengan metode bootstrap
2.5.3 Evaluasi Model PLS
PLS sebagai model prediksi tidak mengasumsikan distribusi tertentu untuk
mengestimasi parameter dan memprediksi hubungan kasualitas. Oleh karena itu,
teknik parametrik untuk menguji signifikansi parameter tidak diperlukan dan
33
model evaluasi untuk prediksi bersifat non-parametrik. Evaluasi model PLS
dilakukan dengan mengevaluasi outer model dan inner model.
Outer model merupakan model pengukuran untuk menilai validitas dan reliabilitas model. Melalui proses iterasi alogaritma, parameter model pengukuran
(validitas konvergen, validitas diskriminan, composite realiability dan crombach’s alpha) diperoleh, termasuk nilai R2 sebagai parameter ketepatan model prediksi.
Inner model merupakan model structural untuk memprediksi hubungan kasualitas antar variabel laten. Melalui proses bootstrapping, parameter uji
T-statistic diperoleh untuk memprediksi adanya hubungan kasualitas.
2.6 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan dugaan sementara atau jawaban sementara atas
permasalahan penelitian yang memerlukan data untuk menguji kebenaran dugaan
tersebut. Suatu hipotesis merupakan pernyataan tentang adanya suatu hubungan
tertentu antara variabel-variabel yang digunakan (Koentjaraningrat, 1994: 24).
Berdasarkan pada rumusan masalah, tujuan penelitian dan kerangka konseptual
yang telah dijelaskan, hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
Universitas Indonesia BAB III
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
3.1. Kajian Penelitian Terdahulu
Menurut Nonaka & Takeuchi (1995), knowledge terbagi menjadi 2(dua)
tipe yaitu:
1. Tacit knowledge
Pengatahuan berdasarkan pengalaman, berlangsung secara simultan
dan bersifat praktis.
2. Knowledge Eksplisit
Knowledge yang didasarkan pada rasionalitas, berlangsung secara
sequential dan bersifat teoritis.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan tentang tacit knowledge dan
Kinerja, antara lain:
1. Menurut Nonaka (1994), tacit knowledge merupakan knowledge yang
menunjukkan kualitas personal individu, yang sulit untuk
dikomunikasikan. Tacit knowledge mengakar secara kuat pada individu,
yang memberikan pengaruh terhadap aktivitasnya serta komitmen pada
suatu konteks yang spesifik.
2. Menurut Hourlay (2004), sumber tacit knowledge meliputi: pengalaman,
proses interaksi, situasi, lingkungan dan komunitas.
3. Menurut Li, Wang, Cao(2006), model dasar pengukuran dan evaluasi tacit
knowledge individu, yaitu meliputi: input informasi (sumber tacit
knowledge), tacit knowledge, output informasi (atribut individual tacit
knowledge), standar pengukuran, analisis dan assesmen (pengukuran
atribut tacit knowledge individu), hasil pengukuran.
4. Menurut Kosasih dan Budiarti (2005), menyatakan bahwa proses-proses
yang terlibat dalam manajemen knowledge berpengaruh terhadap kinerja
karyawan yang terdiri dari peningkatan kualitas dan kuantitas pekerjaan,
35
5. Menurut Bernadin dkk (1995), kriteria yang digunakan untuk penilaian
kinerja meliputi kualitas, kuantitas, produktivitas waktu, efesiensi biaya,
kemandirian, dan kemampuan interpersonal.
3.2. Identifikasi Variabel
Setelah melakukan observasi pendahuluan dan studi literatur, maka
langkah selanjutnya adalah melakukan3d perancangan sebuah model penelitian.
Model penelitian merupakan sebuah model konseptual (a theoritical framework)
yang menggambarkan hubungan logis antara beberapa faktor penting di dalam
permasalahan.
Penelitian ini didasari oleh 2 (dua) hal pokok, yaitu tacit knowledge dan
kinerja individu. Sumber tacit knowledge yang digunakan berdasarkan penelitian
Hourlay (2004), yaitu pengalaman, interaksi personal, komunitas, dan kondisi
lingkungan kerja seperti yang di tampilkan pada Tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1 Sumber Tacit knowledge Hourlay (2004)
No. Konstruk Endogen Konstruk Eksogen
1. Tacit knowledge a. Pengalaman
b. Interaksi Personal c. Komunitas
d. Kondisi Lingkungan Kerja
Sedangkan penliaian kinerja individu didasarkan pada penelitian Bernadin
(1995) yaitu: kualitas, kuantitas, produktivitas waktu, dan efesiensi biaya. Sumber
tacit knowledge yang diungkapkan oleh Hourlay (2004) dan kriteria penilaian
kinerja individu menurut Bernadin (1995) akan ditampilkan pada Tabel 3.2
Tabel 3.2 Kriteria Penilaian Kinerja Bernadin (1995)
No. Konstruk Endogen Konstruk Eksogen
1. Kinerja a. Kualitas
b. Kuantitas
c. Produktivitas Waktu d. Efesiensi Biaya
Secara umum, sumber tacit knowledge yang dikemukakan Hourlay (2004)
36
Universitas Indonesia Dikarenakan ruang lingkup penelitian adalah balai riset, maka sumber tacit
knowledge yang dikemukakan Hourlay (2004) harus dimodifikasi dan
disesuaikan dengan tujuan dan ruang lingkup analisis penelitian, yaitu lembaga
riset.
3.3. Model Penelitian
Berdasarkan konstruk endogen dan konstruk eksogen yang telah
ditetapkan maka disusunlah model penelitian. Pada penelitian ini penulis
mendapatkan model hubungan antara pengetahuan tacit individu dan kinerja
karyawan seperti terlihat pada gambar 3.1. Pengetahuan tacit individu dipengaruhi
oleh pengalaman, interaksi personal, komunitas, dan kondisi lingkungan kerja.
Ketiga komponen tersebut mempengaruhi pengetahuan tacit individu menurut
Hourlay (2004) dan komponen-komponen tersebut memiliki keterkaitan satu sama
lain. Sedangkan kinerja individu dipengaruhi oleh kualitas, kuantitas,
produktivitas waktu dan efesiensi biaya menurut Bernaddin (1995). Model
penelitian dalam penelitian ini seperti terlihat pada gambar 3.1 di bawah ini.
Pengalaman
Gambar 3.1 Model Penelitian
Berdasarkan model penelitian, tahapan selanjutnya adalah menetapkan
spesifikasi atau definisi dari konstruk penelitian. Spesifikasi konstruk penelitian
merupakan landasan berfikir yang membantu mengarahkan penelitian pada tujuan
yang akan dicapai. Definisi konstruk diperoleh dari berbagai sumber, dan dipilih
37
konstruk penelitian diperlukan kerangka pikir yang logis, yang meliputi konstruk
endogen, konstruk eksogen, dan indikator yang digunakan. Kerangka berfikir
pemilihan spesifikasi konstruk endogen tacit knowledge dan kinerja individu
38
Tabel 3.3 Spesifikasi Konstruk Endogen dan Konstruk EksogenTacit knowledge
Konstruk Endogen Konstruk Eksogen Penjelasan Konstruk Eksogen Definisi Konstruk Eksogen yang Digunakan
Tacit knowledge Individu
Adalah knowledge yang melekat pada individu/seseorang atau kelompok yang berlangsung secara simultan (Hourlay, 2004)
Pengalaman 1.Knowledge atau kemampuan yang dimiliki oleh individu karena kurun waktu bekerja tertentu dan atau karena intensitas yang intensif terhadap suatu bidang atau pekerjaan tertentu.
(Hourlay, 2004)
Kemampuan yang dimiliki oleh individu yang dipengaruhi oleh intensitas yang intensif dalam suatu bidang, melakukan pekerjaan yang berulang-ulang.
2.Wawasan yang dimiliki individu/kelompok
berdasarkan kemampuannya dalam
mengadopsi pengaruh-pengaruh eksternal
(Starzynska, 2006)
3.Kemampuan yang dimiliki oleh personal maupun kelompok karena melakukan pekerjaan secara berulang-ulang (Haron, 2005)
Interaksi Personal 1.Hubungan antar individu dalam suatu tempat dan waktu
(Hourlay, 2004)
Hubungan dan aktivitas antar individu dalam suatu tempat dan waktu yang berkaitan dengan hal tertentu.
2.Hubungan dan aktivitas yang dilakukan antara satu individu dengan individu lainnya, yang berkaitan dengan hal tertentu
39
Konstruk Endogen Konstruk Eksogen Penjelasan Konstruk Eksogen Definisi Konstruk Eksogen yang Digunakan
Komunitas 1.Sekumpulan individu dengan beberapa
kesamaan, baik ideologi, kepentingan, hobi, dan sebagainya
(Hourlay, 2004)
Sekumpulan individu dengan beberapa kesamaan, baik ideologi, kepentingan, hobi, dan sebagainya
(Hourlay, 2004)
Kondisi Lingkungan Kerja
Kondisi suatu tempat dimana terjadi interaksi antar individu, individu dengan kelompok, antar kelompok dengan pola tertentu (Haron, 2005)
Kondisi suatu tempat dimana terjadi interaksi antar individu, individu dengan kelompok, antar kelompok dalam melakukan aktivitasnya
Tabel 3.4 Spesifikasi Indikator Penelitian untuk Konstruk Endogen Tacit knowledge
Konstruk Endogen
Konstruk
Eksogen Indikator Penjelasan Indikator Definisi Indikator Yang Digunakan
Tacit knowledge Pengalaman
Knowledge 1. Kemampuan atau kecakapan individu yang dipengaruhi oleh intensitas melakukan pekerjaan
tertentu
Wawasan 1. Kemampuan individu dalam mengadopsi pengaruh eksternal
40
Konstruk Endogen
Konstruk
Eksogen Indikator Penjelasan Indikator Definisi Indikator Yang Digunakan
orang lain (wikipedia)
Komunitas Kesamaan
ideology 1.Kesamaan ide atau gagasan dalam melakukan penelitian
Kesamaan tujuan 1.Kesamaan suatu tuntutan perorangan atau kelompok yang diharapkan untuk dipenuhi
Kondisi Lingkungan Kerja
Interaksi antar
individu 1.Hubungan timbal balik antar individu dengan individu lain dalam suatu kegiatan tertentu Interaksi antar
individu dengan kelompok
1.Hubungan timbal balik antar individu dengan kelompok dalam suatu kegiatan tertentu
Tabel 3.5 Spesifikasi Konstruk Endogen dan Eksogen Kinerja
Konstruk Endogen Konstruk Eksogen Penjelasan Konstruk Eksogen Definisi Konstruk Eksogen yang Digunakan
Kinerja
Adalah hasil sesorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati
Kualitas 1.Tingkatan dimana proses atau penyesuaian pada cara yang ideal di dalam melakukann aktifitas atau memenuhi aktifitas yang sesuai harapan.
(Bernardin, 1995)
Tingkatan dimana proses atau penyesuaian pada cara yang ideal di dalam melakukan aktifitas atau memenuhi aktifitas yang sesuai standar.
(Bernardin, 1995)
Kuantitas 1.Jumlah yang dihasilkan, diwujudkan melalui nilai mata uang, jumlah unit, atau jumlah dari siklus aktifitas yang telah diselesaikan. (Bernardin,1995)
41
Konstruk Endogen Konstruk Eksogen Penjelasan Konstruk Eksogen Definisi Konstruk Eksogen yang Digunakan
bersama.
(Rivai & Basri, 2004).
(Bernardin,1995)
Produktivitas Waktu
1.Tingkatan dimana aktivitas telah diselesaikan dengan waktu yang lebih cepat dari yang ditentukan dan memaksimalkan waktu yang ada untuk aktifitas lain.
(Bernardin,1995)
Tingkatan dimana aktivitas telah diselesaikan dengan waktu yang lebih cepat dari yang ditentukan dan memaksimalkan waktu yang ada untuk aktifitas lain.
(Bernardin,1995)
Efektifitas biaya 1.Tingkatan dimana sumberdaya perusahaan berupa manusia, keuangan, dan teknologi dimaksimalkan untuk mendapatkan hasil yang tertinggi atau pengurangan kerugian tiap unit. (Bernardin,1995)
Tingkatan dimana sumberdaya perusahaan berupa manusia, keuangan, dan teknologi dimaksimalkan untuk mendapatkan hasil yang tertinggi atau pengurangan kerugian tiap unit.
(Bernardin,1995)
42
Tabel 3.6 Spesifikasi Indikator Penelitian untuk Konstruk Endogen Kinerja
Konstruk Endogen
Konstruk
Eksogen Indikator Penjelasan Indikator Definisi Indikator Yang Digunakan
Kinerja Kualitas Proses 1. Urutan atau tahapan yang dilakukan selama proses penelitian
Standar 1. Ukuran minimal dari suatu kegiatan penelitian
Kuantitas Jumlah
1.Banyaknya penelitian yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu
Aktifitas
1.Kegiatan penelitian yang dilakukan selama kurun waktu tertentu
Produktivitas Waktu
Target waktu
penelitian 1.Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu penelitian dari prapenelitian sam pai dengan laporan penelitian
Efektifitas waktu
1.Waktu yang dimaksimalkan dalam menghasilkan suatu penelitian tertentu
Efektifitas Biaya Keuangan
1.Anggaran yang digunakan dalam melaksanakan penelitian
Teknologi
43
3.4. Pembuatann Alat Ukur (Kuesioner)
Tahap selanjutnya adalah merancang kuesioner yang memuat item-item pernyataan berdasarkan tabel spesifikasi variabel. Skala yang digunakan dalam kuesioner adalah interval numerical scales. Interval numerical scales merupakan skala interval dengan skala pengukuran numerikal (Sekaran, 2003). Penggunaan interval numerical scales memudahkan pengolahan data kuesioner secara statistik, dengan cara memberi jarak buatan antara kriteria performasi pada skala interval. Skala numerikal merupakan sebuah skala pengukuran yang dirancang untuk menganalisa seberapa kuat tingkat performasi responden terhadap pernyataan kuesioner pada kondisi ekstrem (bipolar) dengan menggunakan jarak semantik. Jarak semantik yang digunakan adalah pada skala 5 (lima) titik.
Dalam penelitian ini skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert 1 samapi 5. Adapun penjelasan mengenai skala tersebut bisa dilihat pada Tabel 3.3 di bawah ini.
Tabel 3.7 Skala Pengukuran dalam Penilaian Responden
No Dimensi Pengukuran Bobot Pengertian
1 Tingkat Keseringan
1 Tidak Pernah
2 Jarang (pernah)
3 Kadang-kadang
4 Hampir Selalu
5 Selalu
Berdasarkan model penelitian dan tabel spesifikasi yang telah dirancang, maka data-data penelitian yang dibutuhkan adalah:
Persepsi responden terhadap tacit knowledge individu.
Persepsi responden terhadap kinerja individu.
44
Tabel 3.8 Operasionalisasi Konstruk Endogen Tacit knowledge
Konstruk Endogen Konstruk Eksogen Kode Item Pertanyaan
Tacit Knowledge
(A)
Pengalaman
(A1)
A11 Seberapa sering anda melaksanakan kegiatan penelitian secara intensif
A12 Seberapa sering anda meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan formal atau
pendidikan non formal
A13 Seberapa sering anda melakukan tema penelitian yang sama secara berulang-ulang
Interaksi Personal
(A2)
A21 Seberapa sering anda berhubungan dengan peneliti lainnya membahas tentang
penelitian
A22 Seberapa sering anda melakukan pertukaran informasi dengan peneliti lainnya
Komunitas
(A3)
A31 Seberapa sering anda bergabung dengan peneliti yang memiliki kesamaan kepakaran
A32 Seberapa sering anda berinteraksi dengan peneliti lainnya dalam mencapai tujuan
bersama
Kondisi Lingkungan Kerja
(A4)
A41 Seberapa sering anda berinteraksi dengan peneliti lainnya secara personal dalam satu
organisasi
A42 Seberapa sering anda berinteraksi dengan kelompok peneliti lainnya dalam satu
organisasi maupun di luar organisasi
A43 Seberapa sering tim penelitian anda berinteraksi dengan tim peneliti lainnya baik
45
Tabel 3.9 Operasionalisasi Konstruk Endogen Kinerja
Konstruk
Endogen Konstruk Eksogen Kode Item Pernyataan
Kinerja (B)
Kualitas (B1)
B11 Seberapa sering penelitian anda berjalan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan
B12 Seberapa sering penelitian anda menghasilkan penelitian yang aplikatif
B13 Seberapa sering penelitian yang dilakukan sesuai dengan hipotesa awal penelitian
Kuantitas (B2)
B21 Seberapa sering penelitian yang dilakukan dipublikasikan
B22 Seberapa sering anda diminta menjadi instruktur / pembicara melalui penelitian yang anda lakukan
Produktivitas waktu (B3)
B31 Seberapa sering anda menyelesaikan penelitian sesuai target waktu yang ditetapkan
B32 Seberapa sering anda memaksimalkan waktu penelitian yang ada Efesiensi Biaya
(B4)
B41 Seberapa sering anda memaksimalkan anggaran penelitian
46
Universitas Indonesia 3.5 Penyusunan Kuesioner dan Penyebaran Kuesioner
3.5.1. Penentuan Responden
Dalam penelitian ini objek penelitiannya adalah para peneliti Baristand
Industri Padang. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh peneliti, paling
tidak peneliti muda yang telah mengikuti diklat peneliti.
3.5.2 Penyebaran Kuesioner
Kuesioner disebarkan kepada para peneliti Baristand Industri Padang.
Dalam penelitian ini, ada persyaratan responden yaitu minimal telah mengikuti
diklat peneliti. Penelitian ini tidak mengambil sampel, melainkan mengambil
populasi para peneliti, dikarenakan jumlah peneliti Baristand Industri Padang
tidak banyak.
3.5.2.1Uji Reliabilitas Kuesioner
Dalam uji reliabilitas ini, menggunakan metode Cronbach’s Alpha yang
digunakan untuk mengukur hubungan atau korelasi antara jawaban responden
yang satu dengan yang lain dalam setiap pertanyaan. Suatu penelitian dianggap
reliable jika memiliki Cronbach’s Alpha lebih dari 0,7.
Untuk menghitung nilai Cronbach’s Alpha, dilakukan dengan
menggunakan software SPSS 16. Untuk print out program SPSS dapat dilihat
pada lampiran 2. Berikut ini adalah hasil uji reliabilitas dari keseluruhan
pernyataan kuesioner yang telah disebarkan.
Tabel 3.10 Hasil Uji Reliabilitas Keseluruhan Kuesioner
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
Cronbach's
Alpha Based on
Standardized
Items N of Items
47
Berdasarkan hasil perhitungan nilai Cronbach’s Alpha diatas, didapatkan
nilai Standardized Cronbach’s Alpha untuk keseluruhan pernyataan dalam kuesioner sebesar 0,952. Dari hasil tersebut terlihat bahwa nilai tersebut
menunjukkan angka lebih besar dari 0,7. Artinya media pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini, yaitu kuesioner, dianggap sudah cukup reliable, karena menunjukkan tingkat konsistensi dan keakuratan yang baik.
3.5.2.2Uji Validitas Kuesioner
Setelah melakukan uji reliabilitas terhadap kuesioner, kemudian dilakukan
uji validitas. Uji validitas ini digunakan untuk melihat ketepatan kuesioner dalam
mengukur tingkat keseringan terhadap pengetahuan tacit individu dan kinerja
karyawan.
Uji validitas dilakukan dengan menggunakan validitas konstruk yang
mengukur sejauh mana alat ukur yang digunakan, dalam hal ini kuesioner, dapat
mengukur pengertian dari konsep yang diukur. Dalam uji validitas ini, melibatkan
validitas isi dan validitas kriteria. Validitas isi digunakan untuk melihat sejauh
mana kuesioner dapat megukur isi suatu variable yang akan diukur. Karena
variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari
jurnal-jurnal internasional yang sudah diakui, sehingga cukup valid untuk digunakan.
Validitas kriteria digunakan untuk memperkuatnya, dilakukan dengan
melihat korelasi antara variabel satu dengan yang lainnya. Metode yang
digunakan adalah Pearson Correlation menggunakan SPSS 16. Untuk Hasil Print Out dapat dilihat pada lampiran 3.
Tabel 3.11 Hasil Uji Validitas untuk Variabel “Tacit Knowledge”
48
Correlation is significant at the 0.005 level (2-tailed)
Untuk hasil uji validitas variable yang lain dapat dilihat pada lampiran 2.
Berdasarkan hasil uji validitas dengan menggunakan pearson correlation
yang telah dilakukan, terlihat bahwa seluruh variable teramati dalam kuesioner
memiliki nilai signifikansi 2 arah yang lebih kecil dari 0,05. Artinya seleuruh
variable teramati, yang dituangkan melalui setiap pertanyaan dalam kuesioner,
dapat dengan tepat mengukur variable latennya. Berdasarkan hasil perhitungan
ini, maka dianggap seluruh variable yang ada dalam kuesioner dianggap valid dan
49
3.6. Pengolahan Data Kuesioner
Setelah semua kuesioner terkumpul sesuai, dan sudah teruji realiabilitas
dan validitasnya, maka selanjutnya data identitas responden, tacit knowledge serta
kinerja karyawan diolah menggunakan statistic deskriptif untuk melihat
karakteristik persebaran data dan responden penelitian.
3.6.1. Stratifikasi Responden
Sampel penelitian ini terstratifikasi berdasarkan beberapa kriteria tertentu
seperti jenis kelamin, jenis kelamin, usia dan tingkat pengalaman kerja. Penentuan
kriteria ini didasarkan pada kondisi Baristand Industri Padang. Berikut merupakan
penjelasan lebih lanjut mengenai strtifikasi responden berdasarkan kriteria yang
disebutkan diatas.
1. Berdasarkan Jenis Kelamin
Para responden yang membantu dalam penelitian ini, peneliti berjenis
kelamin wanita sebanyak 18 responden atau sebesar 72%. Sedangkan untuk
responden pria sebanyak 7 responden atau sebesar 28%. Hal ini membuktikan
bahwa di Baristand Industri Padang lebih banyak wanita yang berminat untuk
menjadi peneliti, dan diperkuat bahwa populasi wanita lebih besar dibandingkan
dengan populasi pria di Baristand Industri Padang. Hasil stratifikasi jenis kelamin
50
Universitas Indonesia Gambar 3.2 Diagram Lingkaran Data Jenis Kelamin
2. Berdasarkan Usia
Karakteristik responden yang ke dua yakni usia responden seperti terlihat
pada gambar 3.3. Karakteristik responden berdasarkan usia disertakan guna
mengetahui secara lebih dalam berapa rata-rata usia responden dalam penelitian
ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden penelitian yang berusia sekitar
≤γ5 tahun yakni sebanyak β responden (8%), sedangkan yang berusia 36 – 45
tahun berjumlah 16 responden (64%), yang berusia 46 – 50 tahun berjumlah
5responden (20%) dan sebanyak 2 responden penelitian (8%) berusia diatas 50
tahun.
Gambar 3.3 Diagram Lingkaran Data Usia
3. Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir
Tingkat pendidikan merupakan salah satu hal yang penting bagi
seseorang yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan dan wawasan yang
dimiliki. Untuk menjadi seorang peneliti tingkat penddikan minimal adalah Strata
satu. Dari keseluruhan responden yang berjumlah 25 orang, sebagian besar
merupakan lulusan strata satu (S1), yakni sebanyak 15 responden (60%), lulusan
strata dua (S2) sebanyak 10 responden (40 %). Peneliti yang berpendidikan
Strata1 (S1) lebih dominan, dikarenakan untuk menjadi peneliti minimal
51
mempengaruhi seperti kemampuan dari individu yang bersangkutan, maupun
faktor dari luar seperti kurangnya infomasi beasiswa melanjutkan pendidikan dan
ijin dari atasan. Adapun stratifikasi dari tingkat pendidikan dapat dilihat pada
gambar3.4
Gambar 3.4 Diagram Lingkaran Data Tingkat Pendidikan
4. Berdasarkan Lama Bekerja
Masa kerja peneliti berkaitan erat dengan tingkat pengalaman yang
dimilikinya, 5 responden (20%) memiliki masa kerja antara 5-10 tahun, 8
responden (32%) memiliki masa kerja antara 11-15 tahun, 10 responden telah
bekerja antara rentang waktu 16-20 tahun, dan sisanya sebanyak 2 orang (8%)
telah bekerja diperusahaan selama lebih dari 21 tahun. Banyaknya responden
dengan memiliki masa kerja yang cukup lama yaitu sekitar 16-20 tahun,
dikarenakan Balai riset ini telah berdiri cukup lama yaitu pada awal tahun
1990-an.