• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONFLIK INTRAPERSONAL DALAM MEMELUK AGAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KONFLIK INTRAPERSONAL DALAM MEMELUK AGAM"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

1

KONFLIK INTRAPERSONAL DALAM MEMELUK AGAMA PADA REMAJA DENGAN ORANG TUA YANG BERBEDA AGAMA

Oleh Dessya Natascha Y

Fb_scha@yahoo.com

Lusy Asa Akhrani Yoyon Supriyono

ABSTRACT

The aim of this research is to describe intrapersonal conflict of embracing religion in adolescent with inter-religion parents. This research tries to explain factors that caused religious doubt which forced emergence of the intrapersonal conflict among their religion, type of intrapersonal conflict they were faced, and the effects of intrapersonal conflict through their life. The data collection method in this phenomenological-qualitative research was done by performing interviews, observations and documentations towards four subjects. The subjects are four adolescents with interfaith marriage parents, the age is about 19 – 23 years old, and currently having study for Bachelor Degree. The results has shown that three of four subjects are having intrapersonal conflicts embraces to their religion that were caused by factors such as religion conversion, the religion education in family, and the role of same sex parents. Subjects are having intrapersonal conflict type in different issue. Type of intrapersonal conflicts on this research consists of approach-approach conflict and approach-avoidance conflict.

Keywords : Conflict, Religion, Adolescent, Intrapersonal Conflict, Inter-religion marriage

ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai konflik intrapersonal dalam memeluk agama pada remaja dengan orang tua yang berbeda agama. Penelitian ini berusaha menjelaskan mengenai faktor apa saja yang mempengaruhi munculnya keraguan dalam memeluk agama yang akhirnya menimbulkan konflik intrapersonal, tipe konflik intrapersonal seperti apa yang mereka alami, serta bagaimana dampak konflik terhadap kehidupan mereka. Teknik pengambilan data dalam penelitian kualitatif-fenomenologis ini menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi dengan melibatkan empat subyek penelitian. Subyek pada penelitian ini adalah remaja dengan orang tua yang berbeda agama, berusia antara 19-23 tahun, berada dalam masa remaja akhir, serta sedang menempuh pendidikan Strata 1. Hasil penelitian menujukkan bahwa tiga diantara empat subyek mengalami konflik intrapersonal dalam memeluk agama karena dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti adanya konversi agama, pendidikan agama yang diberikan oleh orang tua, serta peran orang tua yang berjenis kelamin sama. Konflik intrapersonal yang dialami para subyek penelitian berada dalam wilayah kehidupan yang berbeda-beda. Tipe-tipe konflik intrapersonal yang dialami ketiga subyek mencakup konflik mendekat-menjauh dan konflik mendekat-mendekat.

(2)

2

LATAR BELAKANG

Seiring berkembangnya zaman dan kemajuan di bidang teknologi modern telah mendatangkan kemajuan pada berbagai bidang kehidupan, salah satunya kemajuan dalam bidang komunikasi. Majunya komunikasi berarti pula telah membuka kesempatan yang lebih besar kepada anggota-anggota dari golongan masyarakat, baik yang namanya suku, ras, maupun agama untuk berinteraksi dari anggota-anggota masyarakat dari luar golongannya. Interaksi tersebut bukanlah hal yang mustahil bila terlahir perkawinan antar suku, ras, bahkan antar agama (Surbakti, 2009).

Sebuah pernikahan tidaklah lepas dari kehadiran seorang anak di dalamnya, maka persoalan lain yang akan timbul di dalam sebuah pernikahan beda agama adalah setelah anak-anak mereka lahir. Menerapkan pendidikan agama pada anak-anak diantara dua keyakinan yang berbeda juga dapat memicu timbulnya konflik dalam keluarga, dimana mungkin masing-masing menginginkan sang anak mengikuti agama dari satu pihak saja dan semuanya itu tergantung kepada kesepakatan masing-masing pasangan sebelum atau setelah memutuskan menikah beda agama.

Ketika anak masih kecil, mereka hanya mengalami kebingungan-kebingungan dalam kebiasaan ataupun tata cara ibadah kedua orang tuanya yang berbeda. Karena anak dalam usia yang lebih muda belum memikirkan mengenai perbedaan agama yang ayah dan ibunya anut. Tapi ketika mereka semakin tumbuh menjadi seorang remaja, pola pikirnya juga akan semakin berkembang, maka akan banyak muncul pertanyaan yang diajukan seorang remaja mengenai kondisi keagamaan di dalam keluarganya. Mengapa agama kedua orang tuanya berbeda, mengapa agamanya tidak sama dengan salah satu agama orang tuanya, apakah agama yang ia peluk ini sudah benar, mengapa ada berbagai macam perbedaan nilai dan aturan dari kedua agama yang ada di dalam keluarga yang membingungkan, hingga pertanyaan mengapa ada perbedaan tata cara dalam meyakini keEsaan Tuhan (Jalaluddin, 2010).

Hasil penelitian Starbuck (Jalaluddin, 2010) terhadap mahasiswa Middleburg College, disimpulkan bahwa dari remaja berusia 11-26 tahun terdapat 53% dari 142 mahasiswa yang mengalami konflik dan keraguan tentang ajaran agama yang mereka terima, cara penerapan, keadaaan lembaga keagamaan, dan para pemuka agama. Hal yang serupa ditemukan ketika ia meneliti hal yang sama terhadap 95 mahasiswa, dimana 75% diantaranya mengalami konflik dan keraguan tentang ajaran agama yang mereka terima.

(3)

3

dan kurang aman apabila agama atau keyakinannya berlainan dari agama atau keyakinan orang tuanya. Keyakinan dan keteguhannya menjalankan ibadah serta memelihara nilai-nilai agama dalam hidupnya sehari-hari menolong remaja dari kebimbangan (Daradjat, 2003). Akan menjadi lebih mudah ketika remaja tersebut hidup dalam keluarga dengan satu agama, karena prinsip-prinsip dan berbagai ajaran agama yang diajarkan oleh orang tuanya akan berada dalam satu atap sehingga mampu meminimalisir kebingungan tentang agama mereka.

Sedangkan pada remaja dengan orang tua yang berbeda agama akan muncul apa yang disebut dengan konflik intrapersonal, dimana seorang remaja dihadapkan pada dua pilihan yang sama kuatnya. Konflik intrapersonal akan terjadi ketika individu harus memilih diantara beberapa pilihan kemudian merasa bimbang mana yang harus dipilih untuk dilakukan, namun juga tetap harus menerima konsekuensi dari pilihannya tersebut. Dalam hal ini adalah, konflik intrapersonal dalam memeluk agama pada remaja dengan orang tua yang berbeda agama. Pada masa ini akan terjadi berbagai macam kebingungan, pertimbangan, keraguan hingga konflik diri yang bisa terjadi dan berpengaruh kepada bagaimana ia menjalani hidupnya ke depan nanti. Perlu banyak pertimbangan-pertimbangan matang, keyakinan diri mengenai agama dirasa paling cocok dengan seorang individu tanpa ada pengaruh ataupun paksaan dari pihak lain.

Hal ini yang menjadi alasan mengapa sebenarnya remaja yang tengah berada dalam konflik intrapersonal dalam memeluk agama dengan orang tua yang berbeda agama perlu mendapat perhatian lebih untuk menghindari munculnya berbagai macam kebingungan yang berakhir pada stress ataupun perilaku negatif lainnya. Karena jika ada suatu peristiwa yang bisa mengganggu tahap perkembangan seseorang di masa remaja, nantinya juga akan menghambat tahap perkembangan yang selanjutnya. Menurut Hunt & Metcalf (Novelita, 2011) konflik intrapersonal bersifat psikologis, yang jika tidak mampu diatasi dengan baik dapat menggangu bagi kesehatan psikologis atau kesehatan mental (mental hygiene) individu yang bersangkutan.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimanakah gambaran konflik intrapersonal dalam memeluk agama pada remaja dengan orang tua yang berbeda agama?

C. Tujuan

(4)

4

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konflik Intrapersonal

Menurut Lewin (Collone dan Eliana, 2005) situasi konflik dapat dijelaskan sebagai suatu keadaan dimana ada daya-daya yang saling bertentangan arah dan dalam kekuatan yang kira-kira sama. Ada beberapa jenis kekuatan menurut Lewin (Sarwono, 2002) yang bertindak seperti vektor, yakni:

1. Kekuatan pendorong (driving force): menggerakkan, memicu terjadinya lokomosi / tingkah laku ke arah yang ditunjuk oleh kekuatan itu.

2. Kekuatan penghambat (restraining force): halangan fisik atau sosial menahan terjadinya lokomosi / tingkah laku, mempengaruhi dampak dari kekuatan pendorong 3. Kekuatan kebutuhan pribadi (forces corresponding to a persons needs):

menggambarkan keinginan pribadi untuk mengerjakan sesuatu.

4. Kekuatan pengaruh (induced force): menggambarkan keinginan dari orang lain (misalnya orang tua atau teman) yang masuk menjadi region lingkungan psikologis. 5. Kekuatan non manusia (impersonal force): bukan keinginan pribadi tetapi juga

bukan keinginan orang lain. Ini adalah kekuatan atau tuntutan dan fakta atau objek. Lewin (Sarwono, 2002) mendefinisikan konflik sebagai situasi di mana seseorang menerima kekuatan-kekuatan yang sama besar tetapi arahnya berlawanan. Konflik intrapersonal terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus dan bimbang mana yang harus dipilih. Kedua pilihan yang ada sama-sama memiliki akibat yang seimbang. Sebagaimana diketahui bahwa dalam diri seseorang itu biasanya terdapat hal-hal sebagai berikut:

1. Sejumlah kebutuhan-kebutuhan dan peranan-peranan yang bersaing

2. Beraneka macam cara yang berbeda yang mendorong peranan-peranan dan kebutuhan-kebutuhan itu terlahirkan.

3. Banyaknya bentuk halangan-halangan yang bila terjadi di antara dorongan dan tujuan

4. Terdapatnya aspek yang positif maupun negatif yang menghalangi tujuan-tujuan yang diinginkan.

(5)

5

dengan baik dapat menggangu bagi kesehatan psikologis atau kesehatan mental (mental hygiene) individu yang bersangkutan.

Bentuk dari konflik intrapersonal menurut Lewin (Sarwono, 2002) antara lain sebagai berikut:

1. Konflik mendekat-mendekat (approach to approach conflict). Merupakan konflik yang terjadi karena harus memilih dua alternatif yang berbeda tapi sama-sama menarik atau sama baik kualitasnya. Dalam tipe konflik ini, yaitu apabila dua kebutuhan (atau lebih) yang muncul bersamaan, keduanya mempunyai nilai positif bagi seseorang (P). Konflik terjadi jika daya menuju ke G1+ sama kuatnya dengan daya menuju ke G2+. Kekuatan salah satu daya akan meningkat jika valensi wilayah yang dituju menguat dan jarak psikologis menuju wilayah itu berkurang. Jika hal tersebut terjadi, maka konflik ini terselesaikan.

Gambar 1.

Konflik intrapersonal mendekat-mendekat (approach to approach conflict)

2. Konflik mendekat-menghindar (approach to avoidance conflict).

Dalam konflik ini jika P menghadapi nilai positif dan nilai negatif pada kebutuhan yang muncul secara bersamaan. Sebagian daya mengarahkan P pada G1+, namun sebagian daya lain menghambat P sehingga mengarah G2-. Adanya keadaan keseimbangan (equlibrium), dan menyebabakan konflik mendekat-menjauh menjadi konflik yang stabil.

Gambar 2.

Konflik intrapersonal mendekat-menghindar (approach to avoidance conflict)

3. Konflik menghindar-menghindar (avoidance to avoidance conflict). Konflik yang terjadi karena sesorang mempunyai perasaan dan kebutuhan di antara dua valensi negative yang sama-sama dihindari. Dalam tipe konflik ini, kedua kebutuhan P berada di antara dua valensi negatif yang sama kuat dan muncul dalam kondisi yang bersamaan. Konflik terjadi bila daya menjauh dari GI- sama kuatnya dengan daya menjauh dari G2-.

G1 +

P

G2 +

(6)

6

Gambar 3.

Konflik intrapersonal menghindar-menghindar(avoidance to avoidance conflict)

B. Agama

Secara terminologi definisi agama menurut Departemen Agama (Khotimah, 2006) adalah jalan hidup dengan kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa berpedoman kitab suci dan dipimpin oleh seorang nabi. Sedangkan menurut Mukti Ali (Khotimah, 2006) mengatakan bahwa agama adalah kepercayaan akan adanya Tuhan yang Maha Esa dan hukum yang diwahyukan kepada utusan-utusanNya untuk kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Menurutnya ciri-ciri agama itu adalah:

a. Mempercayai adanya Tuhan yang Maha Esa b. Mempunyai kitab suci dari Tuhan yang Maha Esa c. Mempunyai rasul/utusan dari Tuhan yang Maha Esa

d. Mempunyai hukum sendiri bagi kehidupan penganutnya berupa perintah dan petunjuk

Berdasarkan Penjelasan Atas Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1, pemerintah Indonesia saat ini secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Khong Hu Cu atau Confusius (Hosen, 2005).

C. Remaja

Masa remaja adalah masa transisi / peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan dalam aspek fisik, kognitif, dan psikososial (Papalia, Olds & Feldman, 2001). Hall mengemukakan bahwa usia masa remaja berkisar antara 12 sampai dengan 23 tahun (Santrock, 2007). Sedangkan definisi masa remaja menurut Sri Rumini & Siti Sundari (Rahmantyo, 2012) mengatakan bahwa masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Desmita (Rahmantyo, 2012) juga menyampaikan gagasannya mengenai batasan usia remaja yaitu, batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanyadibedakan atas tiga, yaitu: 12-15 tahun = masa remaja awal, 16-18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 19-21 tahun = masa remaja akhir.

(7)

7

Pada masa ini, ciri perubahan perkembangan remaja ditandai dengan :

1. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.

2. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi Pikunas (Yusuf, 2001) menyebutkan bahwa munculnya tugas-tugas perkembangan pada remaja bersumber pada faktor-faktor berikut :

1. Kematangan fisik

2. Tuntutan masyarakat secara kultural

3. Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri 4. Tuntutan norma / agama

D. Perkembangan Jiwa Keagamaan Remaja

James Fowler (Santrock, 2007) mengatakan bahwa perkembangan religius berfokus pada motivasi untuk menemukan makna hidup, baik di dalam maupun di luar konteks agama. Fowler (Santrock, 2007) mengajukan enam tahap perkembangan religius yang berkaitan dengan teori perkembangan Erikson, Piaget dan Kohlber :

1. Tahap 1. Iman Intuitif-proyektif atau intuitive-projective faith (masa kanak-kanak awal). Usia 3-7 tahun. Setelah bayi belajar mempercayai pengasuhnya (perumusan Erikson) mereka menemukan gambaran intuitifnya sendiri mengenai apa yang baik dan jahat. Ketika anak-anak mulai memasuki tahap praoperasional seperti dalam teori Piaget, dunia kognitif mereka mulai terbuka terhadap berbagai kemungkinan baru. Benar dan salah dilihat menurut konsekuensi bagi dirinya sendiri. Anak-anak mulai percaya akan adanya malaikat dan hal-hal gaib.

2. Tahap 2. Iman mistis-literal atau mythical-literal faith (masa kanan-kanak pertengahan dan akhir). Usia 7-12 tahun. Ketika anak-anak mulai memasuki tahap praoperasional konkret menurut Piaget, mereka mulai bernalar secara lebih logis, konkret namun tidak abstrak. Mereka memandang dunia secara lebih teratur. Anak-anak usia sekolah mengintepretasikan kisah-kisah religius secara literalis, dan pandangan mereka mengenai orang tua yang memberikan hadiah untuk kebaikan yang dilakukan dan memberikan hukuman untuk keburukan yang dilakukan.

(8)

8

dibandingkan dua tahap sebelumnya, remaja muda masih cenderung patuh terhadap keyakinan religius orang lain (sebagaimana dinyatakan dalam tahap moralitas konvensional menurut Kohlber) dan belum mampu menganalisis ideologi alternatif secara memadai. Benar salahnya perilaku seseorang ditinjau menurut apakah perilaku itu membahayakan relasi atau mengenai apa yang akan dikatakan orang lain.

4. Tahap 4. Iman individuatif-reflektif atau individuative-reflective faith (transisi masa remaja dan masa dewasa, dewasa awal). Usia 20-35 tahun. Menurut Fowler ditahap ini untuk pertama kalinya individu mampu sepenuhnya bertanggung jawab terhadap kondisi religiusnya. Tahap ini seringkali didahului oleh pengalaman dimana orang muda mulai bertanggung jawab akan kehidupannya sendiri dan mereka harus memperluas usahanya untuk mengikuti rangkaian kehidupan tertentu. Individu mulai dihadapkan pada keputusan-keputusan seperti: “Apakah saya sebaiknya mendahulukan kepentingan saya sendiri atau mempertimbangkan kesejahteraan orang lain terlebih

dahulu?” atau “Apakah doktrin agama yang diajarkan kepada saya itu bersifat mutlak atau

relatif sesuai dengan keyakinan saya?”

Menurut Fowler, pemikiran dan intelektual operasional formal yang menantang nilai-nilai dan ideologi religius individu yang sering kali muncul di lingkungan sekolah atau kampus merupakan hal yang penting untuk mengembangkan iman individuatif-reflektif.

5. Tahap 5. Iman konjungtif atau conjunctive faith (masa dewasa pertengahan). Usia 35-45 tahun. Menurut Fowler, jumlah orang dewasa yang memasuki tahap ini hanya sedikit. Tahap ini lebih terbuka terhadap paradoks dan mengandung berbagai sudut pandang yang saling bertolak belakang. Keterbukaan ini beranjak dari kesadaran seseorang mengenai keterbatasan mereka.

6. Tahap 6. Iman universal atau universal faith (masa dewasa pertengahan atau dewasa akhir). Usia > 45 tahun. Menurut Fowler, tahap tertinggi dari perkembangan religius yang melibatkan transendensi dari system keyakinan tertentu untuk mencapai penghayatan kesatuan dengan semua keberadaan dan komitmen untuk mengatasi berbagai rintangan yang memecah belah kesatuan dengan orang lain. Fowler menganggap hanya sangat sedikit orang yang bisa mencapai tahap perkembangan religius yang tertinggi ini. Tiga orang yang menurut Fowler bisa mencapai tahap ini adalah Mahatma Gandhi, Bunda Theresa dan Martin Luther King, Jr.

(9)

9

menduduki masa progresif. Perkembangan agama pada masa remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut Starbuck (Jalaluddin, 2010) adalah:

1. Pertumbuhan pikiran dan mental

Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama pada masa ini mulai timbul, selain masalah kebudayaan, social, ekonomi dan norma kehidupan lainnya. Hasil penelitian Allport, Gillesphy dan Young menujukkan 85% remaja Katolik Romawi tetap taat menganut ajaran agamanya sedangkan 40% remaja Protestan tetap taat pada ajaran agamanya.

Dari hasil ini dinyatakan bahwa agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para remaja untuk tetap taat pada ajaran agamanya. Sebaliknya agama yang ajarannya kurang koservatif, dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pengembangan pikiran dan mental para remaja, sehingga mereka banyak menginggalkan ajaran agamanya. Hal ini menunjukkan bahwa perkambangan pikiran dan mental remaja mempengaruhi sikap keagamaan mereka. 2. Perkembangan perasaan

Perasaan sosial, etis dan estetis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke arah hidup yang religius pula. Sebaliknya remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual yang mana pada masa ini merupakan masa kematangan seksual. s 3. Pertimbangan sosial

Corak keagamaan pada remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka akan timbul konflik antara pertimbangan moral dan material, dimana remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi dipengaruhi oleh kepentingan akan materi, maka para remaja jiwanya cenderung bersifat materialistis.

4. Perkembangan Moral

Perkembangan moral pada remaja berititik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang terlihat pada remaja biasanya meliputi :

1. Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi

(10)

10

3. Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama 4. Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral

5. Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat 5. Sikap & minat

Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagmaaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka.

6. Ibadah

Berdasarkan kesimpulan Ross dan Oskar Kupky (Jalaluddin, 2010) didapatkan bahwa hanya sekitar 17% remaja yang mengatakan bahwa ibadah bermanfaat untuk berkomunikasi dengan Tuhan, sedangkan 26% diantaranya menganggap bahwa ibadah hanyalah media untuk bermeditasi.

E. Faktor Peneyebab Keraguan Beragama pada Remaja

Hasil penelitian Starbuck (Jalaluddin, 2010) terhadap mahasiswa Middleburg College, disimpulkan bahwa dari remaja berusia 11-26 tahun terdapat 53% dari 142 mahasiswa yang mengalami konflik dan keraguan tentang ajaran agama yang mereka terima, cara penerapan, keadaaan lembaga keagamaan, dan para pemuka agama. Hal yang serupa ditemukan ketika ia meneliti hal yang sama terhadap 95 mahasiswa, dimana 75% diantaranya mengalami konflik dan keraguan tentang ajaran agama yang mereka terima.

Analisis penelitian Starbuck (Jalaluddin, 2010) menjelaskan bahwa penyebab timbulnya konflik dan keraguan itu antara lain adalah faktor :

1. Kepribadian yang menyangkut salah tafsir dan jenis kelamin

a. Kepribadian mempengaruhi penafsiran seseorang mengenai kondisi keagamaannya akan sifat Tuhan dan agamanya itu sendiri.

b. Perbedaan jenis kelamin dan kematangan merupakan faktor yang menentukan dalam keraguan agama. Wanita yang lebih cepat matang dalam perkembangannya lebih cepat menunjukkan keraguan daripada remaja pria. Tapi sebaliknya, dalam kualitas dan kuatintas keraguan remaja putri lebih kecil jumlahnya. Disamping itu, keraguan wanita lebih bersifat alami, sedangkan pria bersifat intelek.

2. Kesalahan organisasi keagamaan dan pemuka agama

(11)

11 3. Pernyataan kebutuhan manusia

Manusia memiliki sifat senang dengan yang sudah ada, namun memiliki dorongan rasa keingintahuan. Berdasarkan faktor bawaan ini maka keraguan memang harus ada pada diri manusia, karena hal itu merupakan pernyataan dari kebutuhan manusia normal. Ia terdorong untuk mempelajari ajaran agama dan kalau ada perbedaan-perbedaan yang kurang sejalan dengan apa yangtelah dimilikinya akan timbul keraguan.

4. Kebiasaan

Seseorang yang terbiasa akan suatu tradisi keagamaan yang dianutnya akan ragu menerima kebenaran ajaran yang baru diterimanya atau dilihatnya.

5. Pendidikan

Dasar pengetahuan yang dimiliki seseorang serta tingkat pendidikan yang dimilikinya akan mempengaruhi sikapnya terhadap ajaran agama. Remaja yang terpelajar akan lebih kritis terhadap agamanya, terutama yang banyak mengandung ajaran yang berisfat dogamatis.

6. Percampuran antara agama dan mistis

Para remaja merasa ragu untuk menentukan antara unsur agama dengan mistik. Sejalan dengan perkembangan masyarakat kadang-kadang secara tak disadari tindak keagamaan yang mereka lakukan ditopang oleh praktik kebatinan dan mistik. Penyatuan unsur ini merupakan suatu dilemma yang kabur bagi para remaja.

Selanjutnya, menurut Jalaluddin (2010) secara individu sering pula terjadi keraguan yang disebabkan beberapa hal antara lain mengenai : (1) Kepercayaan, menyangkut masalah ke-Tuhanan dan implikasinya terutama (dalam agama Kristen) status ke-Tuhanan sebagai Trinitas. (2) Tempat suci, menyangkut masalah pemuliaan dan pengagungan tempat-tempat suci agama. (3) Alat perlengkapan keagaamaan, seperti fungsi salib dan rosario dalam Kristen. (4) Fungsi dan tugas staf dalam lembaga keagamaan. (5) Pemuka agama, biarawan & biarawati. (6) Perbedaab aliran dalam keagamaan, sekte (dalam agama Kristen) atau mazhab (Islam)

(12)

12

antara ketaatan beragama atau sekularisme. (4) Konflik keagamaan yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalau dengan kehidupan keagamaan yang didasarkan atas petunjuk Ilahi

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Model pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi.

Adapun subjek penelitian yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak empat orang. Yaitu remaja dengan orang tua yang berbeda agama, berusia antara 19-23 tahun, berada dalam masa remaja akhir, serta sedang menempuh pendidikan Strata 1. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada peneliti, seperti data hasil wawancara yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan dijadikan subyek dalam penelitian dan dengan melakukan observasi langsung. Sedangkan sumber data sekunder di sini bisa diperoleh dari wawancara dengan narasumber pendukung yang dapat berasal dari orang terdekat subjek penelitian seperti orang tua, saudara atau teman dekat. Selain itu sumber data sekunder juga bisa berupa dokumentasi yang diperoleh ketika melakukan penelitian.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif menurut Moustakas yang terdiri dari beberapa tahapan. Tahapan dalam anlisis data penelitian ini adalah : (1) Transkrip, (2) Horisonalisasi, (3) Thematic Portrayal, (4) Mentranskripkan data secara individual, yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu Individual textural description dan individual structural description. (5) Composite, penggabungan deskripsi dari masing-masing subjek menjadi satu, yang terdiri dari dua bagian composite textural description dan composite structural description. (6) Sintesis, menganalisis data hasil deskripsi dikaitkan dengan teori.

ANALISIS & HASIL

Tabel 1. Perbandingan hasil penelitian keempat subyek

Dimensi Hasil

MG IG IE RA

Agama orang tua (A/I)

Islam / Katolik Kristen / Islam Islam / Katolik Katolik / Islam

Agama subyek (dulu / saat ini)

(13)

13 Keluarga demokratis, modern,

orang tua memiliki kaku & agak kolot karena pendidikan

Ibu (Katolik), tapi dulu saat memeluk Katolik.

Sekarang setelah memeluk islam Ayah

tetap pasif

Ibu (Islam) Tidak pernah Ibu, baik Katolik / Islam, Ibu selalu berperan lebih besar

Intensitas ibadah Jarang Kadang-kadang Jarang Sering

Toleransi Tinggi Tinggi Tinggi Biasa

Kepribadian Terbuka, keras kepala

Rendah Sedang Rendah Tinggi

Kenyamanan dengan agama

Katolik Islam Tidak yakin Islam

Faktor yang agama baru & lama

Konversi agama Ya Tidak Ya Ya

Tipe perk moral Submissive Adaptive Submissive Submissive Self directive

Berdasarkan teori Fowler mengenai enam tahap perkembangan religius yang berkaitan dengan teori perkembangan Erikson, Piaget dan Kohlber, disimpulkan bahwa keempat subyek saat ini tengah berada pada tahap Iman individuatif-reflektif atau individuative-reflective faith (transisi masa remaja dan masa dewasa, dewasa awal). Menurut Fowler ditahap ini untuk pertama kalinya individu mampu sepenuhnya bertanggung jawab terhadap kondisi religiusnya.

(14)

14

dahulu?” atau “Apakah doktrin agama yang diajarkan kepada saya itu bersifat mutlak atau relatif

sesuai dengan keyakinan saya?”. Hal ini terlihat pada keempat subyek yang mulai bertanggung jawab pada kehidupan religiusnya. Mereka juga mulai mempertanyakan ajaran dan doktrin agamanya apakah sudah sesuai dengan keyakinannya. Tetapi hal ini paling jelas ditemukan pada MG dan RA yang sangat kritis terhadap ajaran agamanya. Dalam memeluk agamanya saat ini, ia biasanya tidak mau menerima mentah-mentah entah itu doktrin ataupun fatwa yang dihadapkan padanya. Hal ini membuat MG terkadang dianggap keras kepala oleh orang-orang sekitarnya.

Perkembangan agama pada masa remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut Starbuck (Jalaluddin, 2010) adalah:

1. Pertumbuhan pikiran dan mental.

Hal ini terlihat di dalam perbandingan antara keluarga MG dengan keluarga RA. Di dalam keluarga MG yang lebih liberal dan mengedepankan keterbukaan dan toleransi yang tinggi dengan agama lain pada akhirnya justru mendorong MG untuk semakin kritis terhadap ajaran agamanya. Sedangkan di dalam keluarga RA peran ibu sangat dominan dalam menularkan agamanya yang lebih konservatif membuat ia lebih taat dalam menjalankan agamanya. Suasana keagamaan yang diterapkan di dalam keluarga RA pada dasarnya sudah konservatif & dengan ayah yang otoriter. Baik itu dulu, saat semua anggota keluarga masih memeluk Katolik, atapun saat ini.

2. Perkembangan perasaan

Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke arah hidup yang religius pula. Perkembangan perasaan ini sangat terlihat pada subyek RA, dimana ia mengaku sebagai individu yang religius yang akhirnya mendorong kehidupan RA ke arah yang religius pula, seperti menggunakan hijab, mengikuti pengajian, senang melakukan dialog agama dan berkonsultasi dengan pemuka agama. Sedangkan MG, IG, dan IE mengaku tidak religius dan belum taat dalam menjalankan agamanya.

3. Pertimbangan sosial

(15)

15 4. Perkembangan Moral

Perkembangan moral pada remaja berititik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang terlihat pada keempat subyek ialah :

a. Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi. Tiper perkembangan ini terlihat pada kondisi keagamaan RA saat ini. RA memutuskan untuk semakin taat dalam menjalankan ibadah dan agamanya karena pertimbangan pribadi.

b. Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik. Tipe perkembangan moral ini terlihat pada subyek IG dimana ia lebih suka mengikuti alur kehidupan beragama di lingkungan sekitarnya, cenderung menjauhi konflik dan jarang mengadakan kritik.

c. Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama. RA meski berusaha taat dalam menjalankan agamanya, masih sering menemukan beberapa hal keraguan di dalam agamanya yang kemudian muncul menjadi pertanyaan-pertanyaan baru terhadap suatu ajaran agama di dalam Islam. IE juga berada pada tipe perkembangan moral ini karena ia mengakui adanya keraguan terhadap ajaran moral & agamnya, apakah sudah benar atau belum.Tipe moral ini juga paling terlihat pada subyek MG yang seringkali tampak terang-terangan menujukkan ketidakyakinan bahkan ketidaksetujuannya pada beberapa ajaran agama Islam yang ia anggap tidak cocok dengan pola pikirnya. Beberapa kebiasaan atau budaya dalam lingkup agamanya saat ini di dalam masyarakat juga tidak sedikit yang dinilai MG tidak masuk akal karena terlalu banyak melarang dan dianggap kurang bertoleransi terhadap agama lain.

5. Sikap & minat

Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang memperngaruhi mereka. MG, IE, dan RA adalah tiga subyek yang dari kecil dibesarkan dengan agama yang berbeda dengan yang ia peluk saat ini. Mereka bertiga dididik oleh ibunya dengan agama yang berbeda dengan yang mereka peluk saat ini. Mereka mengakui merasakan kondisi yang cukup memberatkan terlebih lagi ketika baru saja melakukan konversi agama.

(16)

16

terbiasa dan merasakan kococokan terhadap ajaran yang ada di dalam Katolik.. RA sama seperti MG, pada awalnya terbiasa dan nyaman dengan kehidupan Katolik mengikuti ibunya. Hal ini membuat RA cukup kesulitan dalam beradaptasi dengan budaya dan kehidupannya yang baru sebagai seorang Muslim. Namun dengan lingkungan agama Islamnya yang lebih kuat, serta ketertarikannya pada ajaran Islam, menyebabkann RA sudah mulai menggeser keyakinan dan kenyamanannya menuju pada Islam.

Sedangkan untuk IG, satu-satunya subyek yang memeluk agama yang sama sejak ia lahir sikap dan minatnya dalam memeluk agama hanya ia tujukan kepada agamanya saat ini yaitu Islam, tanpa ada pertimbangan untuk memeluk agama lain sama sekali. 6. Ibadah

Berdasarkan kesimpulan Ross dan Oskar Kupky, didapatkan bahwa hanya sekitar 17% remaja yang mengatakan bahwa ibadah bermanfaat untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Perkembangan ibadah ini paling terlihat pada RA, dimana ia menjadi satu-satunya subyek yang sungguh-sungguh berpendapat bahwa ibadah adalah salah satu sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya konflik dan keraguan itu antara lain adalah:

1. Kepribadian yang menyangkut salah tafsir dan jenis kelamin

Kepribadian mempengaruhi penafsiran seseorang mengenai kondisi keagamaannya akan sifat Tuhan dan agamanya itu sendiri. MG merupakan pribadi yang keras kepala dalam mempertahankan pendapatnya, ia juga sering terlibat perdebatan dengan orang lain mengenai pandangan terhadap aturan atau ajaran di dalam agamanya. Ia juga memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan agama orang-orang disekitarnya.

2. Kesalahan organisasi keagamaan dan pemuka agama

Keraguan yang dialami MG dan RA salah satunya disebabkan oleh kesalahan pemuka agama dalam menerangkan ataupun memberi jalan dalam menjelaskan aturan, ajaran di dalam agama mereka.

(17)

17

yang bisa ia terima atas pertanyaan-pertanyaannya selama ini yang menyebabkan keraguan RA dalam memeluk agamma mulai berkurang.

Sedangkan MG yang juga memiliki banyak pertanyaan mengenai agamanya, tidak memiliki panutan dalam melakukan dialog agama untuk menjawab pertanyaanya, sehingga keraguan yang tidak terjawab ini, justru semakin memperbesar konflik yang MG alami dalam memeluk agama.

3. Pernyataan kebutuhan manusia

Keraguan memang harus ada pada diri manusia, karena hal itu merupakan pernyataan dari kebutuhan manusia normal. Ia terdorong untuk mempelajari ajaran agama dan kalau ada perbedaan-perbedaan yang kurang sejalan dengan apa yang telah dimilikinya akan timbul keraguan.

MG menemukan banyak hal yang tidak sejalan dengan pikirannya pada ajaran Islam, ia juga mengakui lebih nyaman dalam memeluk Katolik. Sedangkan IE pernah terbesit untuk mencari tahu mana agama yang paling baik untuk dirinya agar ia memiliki pegangan hidup. Lalu RA juga berusaha mencari tahu mana agama yang terbaik untuknya dengan cara membandingkan agama yang ia peluk sebelumnya dan saat ini untuk menemukan kenyamanan dan terjawabnya semua pertanyaan yang ia miliki dalam memeluk agama.

4. Kebiasaan

Seseorang yang terbiasa akan suatu tradisi keagamaan yang dianutnya akan ragu menerima kebenaran ajaran yang baru diterimanya atau dilihatnya. MG, IE dan RA memiliki kesamaan yaitu sama-sama pernah memeluk agama Katolik sejak kecil, lalu melakukan konversi agama hingga akhirnya memeluk agama Islam seperti sekarang. Mereka bertiga merasakan perubahan kebiasaan dan ritual ibadah yang dirasa memberatka, terutama untuk MG dan RA. RA juga menceritakan bahwa ia memiliki begitu banyak pertanyaan mengenai agama barunya ketika melakukan konversi agama. 5. Pendidikan

(18)

18

aturan serta fatwa-fatwa yang MG anggap tidak masuk akal dan mengganggu kehidupan beragama antar manusia.

Konflik intrapersonal adalah konflik personal atau konflik diri yang terjadi dalam diri seseorang individu karena harus memilih dari sejumlah alternatif pilihan yang ada (Wirawan, 2010). Konflik intrapersonal terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus dan bimbang mana yang harus dipilih. edua pilihan yang ada sama-sama memiliki akibat yang seimbang.

Sedangkan konflik keagamaan yang dialami subyek, diantaranya:

a. Konflik yang terjadi antara percaya dan ragu yang dialami subyek IE.

b. Konflik yang terjadi antara pemilihan satu di antara dua macam agama atau ide keagamaan serta lembaga keagamaan yang dialami subyek MG.

c. Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan kehidupan keagamaan yang didasarkan atas petunjuk Ilahi. Konflik yang dialami oleh RA dan MG, dimana ia harus beradaptasi dengan agama dan kebiasaan barunya setelah ia melakukan konversi agama dari Katolik menjadi Islam. Mereka berusaha untuk melepaskan masa lalunya dan menerima kehidupan keagamaan yang baru.

Bentuk konflik intrapersonal dalam memeluk agama yang dialami subyek berdasarkan bentuk konflik menurut Lewin (Sarwono, 2002) adalah :

a. MG.

Konflik mendekat-mendekat (approach to approach conflict). Konflik yang terjadi karena dua kebutuhan bervalensi positif yang muncul bersamaan. Konflik intrapersonal mendekat-mendekat yang dialami MG berada pada ranah konflik keagamaan diantara pemilihan satu di antara dua macam agama atau ide keagaman. Baik itu agamannya yang lama, yaitu agama Katolik, maupun agamanya saat ini yaitu Islam, keduanya masing-masing memiliki valensi positif.

(19)

19

Pada konflik yang dialami MG, banyaknya ajaran dalam Islam yang tidak cocok untuknya menjadi kekuatan pendorong untuk memunculkan keraguan dalam memeluk agama yang ia alami. Namun, rasa bersalah dan “tidak enak” kepada orang tuanya menjadi vector penghambat MG untuk melakukan konversi agama (lagi) menjadi Katolik. Dimana kekuatan kebutuhan pribadi MG akan rasa nyaman dengan agama Katolik mendorongnya untuk melakukan sesuatu, tapi pada akhirnya ditekan oleh adanya kekuatan pengaruh dari orang tuanya, dalam hal ini Ibunya, agar MG memeluk agama Islam. Selain itu rasa yakin MG bahwa agama Islam sebenarnya adalah agama yang paling benar dalam cara yang tidak bisa ia jelaskan meski banyak hal di dalam Islam yang tidak ia setujui, menunjukkan adanya Impersonal force (kekuatan non manusia) yang ikut di dalam konflik intrapersonal yang MG alami. Sehingga pada saat yang sama MG dihadapkan pada dua valensi berbeda yang menimbulkan ketegangan karena terjadi saling tarik menarik antara kedua hal tersebut.

b. IE

Konflik mendekat-menghindar (approach to avoidance conflict). Konflik yang terjadi karena seseorang berada dimana ia tertarik dan menolak tujuan yang sama arena mengalami valensi positif dan negative pada saat yang sama.

IE mengalami konflik intrapersonal mendekat-menghindar, sehubungan diantara perasaan ingin memeluk agama Islam dan menjalani sepenuhnya namun juga berusaha menjaga perasaan ibunya yang berbeda agama. Ingin mempelajari agama Islam dengan lebih baik adalah valensi positif di tengah konflik yang tengah IE alami. Sedangkan keengganannya terhadap reaksi ibunya yang berbeda agama adalah valensi negatif.

Sehingga pada saat yang sama IG dihadapkan pada dua valensi berbeda yang menimbulkan ketegangan karena terjadi saling tarik menarik antara kedua hal tersebut. Kondisi ini menyebabkan IE menjadi enggan untuk mendalami Islam dengan lebih baik, hanya mengikuti arus kehidupannya tanpa melakukan upaya terhadap kondisinya saat. ini.

Kasus IE, yang menjadi kekuatan pendorong yang paling utama adalah ketidakharmonisan kedua orangtuanya mengenai toleransi kehidupan beragama di dalam keluarga. Sedangkan kekuatan kebutuhan pribadi IE kepada ajaran dan keinginan memeluk agama yang benar untuk dirinya membuat ia ingin melakukan sesuatu terhadap kondisi agamanya yang tidak jelas.

(20)

20

menggunakan jilbab. Namun hal ini harus terhambat disebabkan kekuatan penghambat berkenaan dengan perasaan bersalah IE kepada ibunya jika ia nantinya berusaha memahami atau memeluk Islam secara seutuhnya. Ditambah lagi adanya kekuatan pengaruh dari ibunya yang menujukkan ketidaksetujuan pada IE untuk menggunakan jilbab yang akhirnya menyebabkan IE merasa mengalami konflik antara ingin menjadi Muslim dengan benar dan menuruti serta menjaga perasaan ibunya.

Konflik intrapersonal lain yang ia alami adalah konflik antara percaya dan ragu terhadap ajaran agamanya. Pada konflik ini, IE juga mengalami konflik mendekat-menghindar. Valensi positif di sini adalah rasa percaya terhadap ajaran agama, sedangkan keraguan bertindak sebagai valensi negative.

IE sering bertanya pada dirinya sendiri apakah agama yang ia peluk sudah benar. Apakah yang ia lakukan sudah benar. Namun tidak berusaha mencari tahu dan mendalami agamanya dengan lebih baik lagi karena takut menyakiti hati ibunya. Hal ini menyebabkan IE cukup terganggu dengan konflik yang ia alami. IE juga sering merasa gamblang dan tidak memiliki pegangan hidup, hingga merasa cemas dengan masa depannya.

Keinginan IE yang ingin memahami agamanya dengan sungguh-sungguh dalam memeluk agama di sini sebagai kekuatan pendorong IE untuk memahami ajaran agamanya dengan baik dan benar. Namun minimnya pendidikan agama yang diberikan oleh orang tuanya sejak kecil, terutama ayahnya yang seagama dengan IE namun dirasa tidak pernah memberikan pendidikan agama sama sekali kepada IE menjadi kekuatan peghambat dan kekuatan pengaruh, sehingga IE tidak bisa belajar untuk mendalami agama yang ia peluk dengan lebih baik lagi. Yang akhirnya mendorong munculnya konflik intrapersonal antara percaya dan ragu terhadap ajaran agama yang ia peluk. c. RA

(21)

21

Kekuatan pendorong pada konflik intrapersonal yang dialami RA adalah adanya konversi agama yang dilakukan ibunya setelah melakukan perceraian, untuk kembali memeluk agama Islam. Namun ketaatannya pada agamanya yang lama, juga menjadi kekuatan penghambat karena membuat RA merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan ajaran dan aturan agama yang baru di dalam Islam, terlebih lagi mengenai pelaksanaan ibadah. Kekuatan kebutuhan pada RA adalah keinginan untuk memeluk agama dengan baik dan sempurna, karena pada dasarnya dia adalah remaja yang taat. Lalu ketaatan dan kereligiusan sosok ibu dalam memeluk agama Islam, serta adanya tokoh agama Islam yang dianggap sebagai guru spiritual di dalam keluarga, menjadi kekuatan pengaruh pada konflik RA yang akhirnya semakin mendorong RA untuk terus beradaptasi dan lebih mendalami ajaran agamanya yang baru sebagai muslim yang taat.

KESIMPULAN

Hasil penelitian menujukkan bahwa tiga diantara empat subyek mengalami konflik intrapersonal dalam memeluk agama karena dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti adanya konversi agama, pendidikan agama yang diberikan oleh orang tua, serta peran orang tua yang berjenis kelamin sama. Konflik intrapersonal yang dialami para subyek penelitian berada dalam wilayah kehidupan yang berbeda-beda. Tipe-tipe konflik intrapersonal yang dialami ketiga subyek mencakup konflik mendekat-menjauh dan konflik mendekat-mendekat.

Remaja yang memiliki salah satu orang tua yang cenderung lebih konservatif dalam menjalankan dan mengajarkan agamanya, berpengaruh pada mereka untuk lebih tetap taat pada ajaran agamanya serta meminimalisir munculnya konflik intrapersonal dalam memeluk agama. Kondisi perkembangan jiwa keagamaan remaja juga sangat dipengaruhi oleh peran orang tua yang berjenis kelamin sama di dalam hidup mereka. Remaja yang pernah melakukan konversi agama mengalami konflik intrapersonal yang lebih besar daripada subyek yang hanya memeluk satu agama sejak kecil tanpa pernah melakukan konversi agama. Keempat subyek yang dibesarkan dengan dua lingkungan beragama yang berbeda membentuk mereka menjadi individu yang sangat bertoleransi terhadap agama lain di dalam kehidupan sehari-hari.

SARAN

(22)

22

baik itu untuk ritual, kebiasaan, dan ajaran-ajaran yang diberikan orang tua tentang agama mereka agar tidak semakin menimbulkan keraguan dan konflik dalam memeluk agama.

Jika di tengah jalan anak dari pasangan berbeda agama akhirnya melakukan konversi agama mengikuti agama orang tuanya yang lain atau agama yang sama sekali baru. Sebaiknya dalam memeluk agamanya yang baru, para remaja ini mendapat pengetahuan yang baik dan jelas yang bisa menjawab keraguan dan pertanyaan-pertanyaan mereka tentang agama yang baru dengan didampingi oleh guru / panutan / tokoh agama hingga mendapat perhatian penuh dari salah satu orang tua untuk mengurangi keraguan dan konflik dalam memeluk agama.

DAFTAR PUSTAKA

Alatas, Z. (2007). Pelaksanaan Perkawinan Beda Agama Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Di Kabupaten Semarang. Thesis. Universitas Diponegoro Semarang.

Belina, L. S.(2007). Konflik Moral pada Anak Pasangan Beda Agama, Studi Kasus pada Anak Pasangan Islam-Nasrani. Skripsi. Universitas Indonesia.

Chariri, A. (2009). Landasan Filsafat Dan Metode Penelitian Kualitatif. Paper. Universitas Diponegoro.

Collone, S., Rika E. (2005). Gambaran Tipe-Tipe Konflik Intrapersonal ditinjau dari Identitas Gender. Jurnal Psikologia Universitas Sumatera Utara, 1, 2, 96-104.

Daradjat, Z. (2003). Ilmu Jiwa Agama, Cetakan ke-16. Jakarta : Bulan Bintang.

Dewi, S. (2006). Konflik dan Resolusi Konflik dalam Memilih Agama pada Anak dari Pasangan Berbeda Agama. Skripsi. Universitas Gunadarma.

Herdiansyah, H. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta : Salemba Humanika.

Hurlock, E.B. (2000). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Gelora Aksara Pratama Erlangga.

Iskandar. (2009). Metodologi Peneltiian Kualitatif: Aplikasi untuk Penelitian Pendidikan, Hukum, Ekonomi & Manajemen, Sosial, Humakiora, Polotik, Agama dan Filsafat. Jakarta: GP Press

Jalaluddin, R. (2010). Psikologi Agama (Edisi Revisi). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Khotimah, K. (2006). Makna Agama Hingga Munculnya Agama Baru. Skripsi. Universitas

(23)

23

Leeman, A. (2009). Interfaith Marriage in Islam: An Examination of the Legal Theory Behind the Traditional and Reformist Positions. Indiana University Journal, 84, 2, 742-771.

Ningsih, N. (2008). Pengambilan Keputusan Beragama Pada Anak Dari Pasangan Beda Agama. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Novelita, M. (2011). Gambaran Konflik pada Individu yang Menikah Semarga Suku Batak Toba. Skripsi. Universitas Sumatera Utara.

Nurcholis, A. ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) Online : Dilema Nikah Agama dalam http://icrp-online.org/042012/post-1775.html, diakses tanggal 11 April 2012.

Papalia, D.E. & Olds, S.W. (2001). Human Development. 3rd Edition. New York.

Prastiwi, N.I. (2007). Pola Asuh Anak pada Pernikahan Beda Agama. Skripsi. Universitas Gunadarma.

Rinasti, F. (2006) Hubungan antara Tingkat Religiusitas dengan Subjective Well-Being (SWB) pada Remaja Awal. Skripsi. Universitas Gunadarma.

Santrock, J.W. (2007). Remaja. Jakarta : Erlangga.

Sarwono, S. (2002). Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta : Rajawali Press.

Surbakti, M. (2009). Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama: Studi Kasus Proses Pengambilan Keputusan Memilih Agama Di Kel.Lau Cimba Dan Padang Mas Kec.Kabanjahe Kab.Karo. Skripsi. Universitas Sumatera Utara.

Satori, D. & Komariah, A. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Syamhudi, H. (2009). Rumah Tangga Beda Agama, Konstruksi, Struktur Dan Relasi Antar

Penganut Agama Dalam Keluarga Muslim Tionghoa Probolinggo Jawa Timur. Disertasi. PPs-IAIN Sunan Ampel.

Tim Penulis Goethe-Institut Indonesien. Tata Nilai, Impian, Cita-Cita Pemuda Muslim di Asia Tenggara. www.goethe.de/indonesien/youthsurvey, di akses pada tanggal 22 Mei 2012.

Waruwu, F.E. (2003). Perkembangan kepribadian dan religiusitas remaja. Jurnal Ilmiah Psikologi ARKHE, 8, 1, 23-30.

Wirawan. (2010). Konflik dan Manajemen Konflik: Teori, Aplikasi dan Penelitian. Jakarta : Salemba Humanika.

Yohan, Y. Strategi Penyelesaian Konflik pada Keluarga Inti Beda Agama dalam Pemilihan Agama anak di Usia Remaja. Skripsi. Universitas Airlangga.

Gambar

Gambar 1.  Konflik intrapersonal mendekat-mendekat (approach to approach conflict)
Gambar 3. Konflik intrapersonal menghindar-menghindar(avoidance to avoidance conflict)
Tabel 1. Perbandingan hasil penelitian keempat subyek

Referensi

Dokumen terkait

Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Barat Pada tahun 1976, Kantor Pelayanan Pajak masih disebut Kantor

1) Berdasarkan hasil analisis bahwa variabel Return on Investment, Return on Equity dan Debt to Equity Ratio secara simultan berpengaruh tidak signifikan return

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan peneliti tentang pemahaman perawat tentang penerapanRJPdipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu umur, pendidikan,

Terbitnya Sertifikasi Lembaga Diklat Provinsi Sumatera Barat sesuai Standar I Padang Besi, Padang Terkendalinya Standar Mutu ISO Badan Diklat Rp80.000.000 Terkendalinya Standar

Pertumbuhan fase generatif ditandai dengan munculnya bunga tanaman jagung maka terjadi perpindahan fase pertumbuhan tanaman jagung dari fase fegetatif ke fase

Pemahaman memadahi tentang dampak teknologi informasi terhadap pekerjaan, tipe pekerja, organisasi, dan system manajemen akan memberikan wawasan luas bagi auditor dalam

Grafik 4.1 Rata-Rata Kamampuh Nepikeun Laporan Lalampahan Siswa Kelas VIII-B SMP Negeri 10 Bandung Taun Ajaran 2016/2017 Unggal Aspék Saméméh Ngagunakeun Métodeu.

If the areas of AGE, DEHF and CIF are 2, 3 and 1, respectively, find the area of the grey region BGHI... Find the value