• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekonomi Moneter Islam Analisis Jurnal 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ekonomi Moneter Islam Analisis Jurnal 2"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

DISTRIBUSI DALAM KERANGKA EKONOMI MAKRO; SEBUAH PERSPEKTIF ISLAM

Dianalisa dari:

DISTRIBUTION IN MACROECONOMIC FRAMEWORK: AN ISLAMIC PERSPECTIVE

M. Fahim KHAN (ed.)

Oleh:

Fitrotin Nurrohmania (E20151008) Nurul Awaliyah (E20151013) Nur Afifah (E20151015) Raudatul Jannah (E20151026) Windi Wahyuni Yati (E20151027) Zulvaniyah (E20151032) Arisandi Ferdiansyah (E20151041)

A. Paradigma Interpretif

(2)

tipe penjelasan apa yang dapat diterimanya (Kuhn, 1970). Paradigma penelitian adalah suatu hal yang mendasar karena berimplikasi terhadap pemilihan metodologi dan metode pengumpulan dan analisis data nantinya.

Sedangkan paradigma interpresif adalah Paradigma yang menitik beratkan pada interpretasi dan pemahaman ilmu sosial. Pendekatan ini memfokuskan pada sifat subjektif dari terhadap kejadian sosial dan berusaha memahaminya dari keranga berpikir objektif yang sedang dipelajarinya. Tujuan paradigma interpretif adalah untuk menganalisis realita sosial semacam ini dan bagaimana realita sosial itu terbentuk (Ghozali dan Chariri, 2007). Penelitian interpretif tidak menempatkan objektivitas sebagai hal terpenting, tetapi mengakui bahwa untuk memperoleh pemahaman mendalam, maka subjektivitas para pelaku harus digali sedalam mungkin. Misalnya dalam kasus pelaksanaan pembelajaran, peneliti menggali tentang bagaimana pelaksana pembelajaran dan bagaimana memandang pembelajaran tersebut.

Paradigma interpretif disepadankan dengan pendekatan kualitatif (qualitative approach), Paradigma ini bercita-cita memahami dan menafsirkan makna suatu kenyataan. Paradigma interpretif berkeyakinan bahwa kenyataan bersifat cair dan mengalir, karena merupakan hasil kesepakatan dan interaksi manusia. Serta paradigma interpretif beranggapan bahwa manusia berkemampuan membentuk makna dan niscaya memberi makna terhadap dunia mereka. Selain itu paradigma interpretif berpendapat bahwa akal sehat tidak lain merupakan seperangkat teori keseharian yang digunakan dan bermanfaat bagi orang-orang tertentu, mengartikan teori sebagai suatu paparan tentang bagaimana seperangkat sistem pemaknaan dihasilkan dan dipertahankan, berpendapat bahwa suatu penjelasan benar apabila menyuarakan kembali atau memang dipandang benar oleh para pelaku sendiri, berpendapat bahwa bukti kebenaran harus terpancang atau terkait konteks interaksi manusia yang cair dan mengalir dan berpendapat bahwa nilai-nilai merupakan bagian tak terpisahkan dari kenyataan manusia (value bound). Tidak ada nilai yang salah atau benar, yang ada hanya berbeda.

(3)

yang dipilih memiliki keterkaitan erat dengan tantangan atau masalah kemanusiaan. Koherensi membuktikan bahwa seluruh bangunan saling bertentangan. Kekritisan membuktikan bahwa penelaahan berhasil membongkar suatu wacana hingga akarnya. Kebernalaran membuktikan bahwa penafsiran tandingan yang diajukan memiliki landasan penalaran yang kokoh.

Dari paradigma yang digunakan oleh M. Fahim Khan (ed.), yaitu paradigma interpresif, penulis menemukan bahwa M. Fahim Khan (ed.) dalam tulisannya menyertakan emosi spiritual yang kurang baik, karena ia kadang melihat atau memperhatikan ajaran yang ada dalam al-qur’an kadang juga tidak. M. Fahim Khan (ed.) berusaha membantu masyarakat agar mengetahui dan memahami berbagai macam perilaku konsumen dalam dunia Ekonomi Islam. Dalam hal ini, M. Fahim Khan (ed.) menjelaskan dengan cara berpikirnya tentang fungsi konsumsi yang tertera dalam Al-Qur’an. Dia memaparkan fungsi konsumsi dalam ruang lingkup makro.

Fungsi ekonomi dalam Ekonomi makro adalah konsumsi rumah tangga. Rumah tangga merupakan konsumen atau pemakai barang dan jasa sekaligus juga pemilik faktor-faktor produksi tenaga kerja, lahan, modal dan kewirausahaan. Rumah tangga menjual atau mengelola faktor-faktor produksi tersebut untuk memperoleh balas jasa. Balas jasa atau imbalan tersebut adalah upah, sewa, bunga dividen, dan laba yang merupakan komponen penerimaan atau pendapatan rumah tangga.

Penerimaan lain yang mungkin diperoleh rumah tangga adalah transfer (pemberian cuma-cuma), perkiraan pendapatan (imputasi) dari rumah milik rumah tangga tersebut yang ditempati sendiri atau ditempati pihak lain dengan bebas sewa, dan hasil produksi barang/jasa dari kegiatan yang tidak digolongkan sebagai kegiatan usaha rumah tangga. Transfer yang diterima berasal dari pemerintah, badan usaha, lembaga nirlaba, rumah tangga lain, maupun dari luar negeri.

Ada dua cara penggunaan pendapatan. Pertama, membelanjakannya untuk barang-barang konsumsi. Kedua, tidak membelanjakannya seperti ditabung.

(4)

Keanekaragamannya tergantung pada tingkat pendapatan rumah tangga. Tingkat pendapatan yang berbeda-beda mengakibatkan perbedaan taraf konsumsi.

Apabila penerimaan rumah tangga dikurangi dengan pengeluaran untuk konsumsi dan untuk transfer, maka diperoleh nilai tabungan rumah tangga. Kalau perilaku konsumsi memperlihatkan dasar pendapatan yang dibelanjakan, maka tabungan adalah merupakan unsur penting dalam proses pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Tabungan memungkinkan terciptanya modal yang dapat memperbesar kapasitas produksi perekonomian. Untuk dapat melihat apa yang dilakukan rumah tangga responden atas tabungannya dibutuhkan data tabungan seperti yang disimpan di bank atau koperasi, jumlah investasi, serta transaksi keuangan lainnya.

Kenyataannya, selisih penerimaan dengan pengeluaran rumah tangga responden ada yang negatif (defisit), sehingga dalam membiayai pengeluaran dan investasinya diperlukan pinjaman (hutang), maka rumah tanggapun ada yang berhutang, dan ada yang meminjamkan uang (piutang). Jadi selain dari tabungan, sumber dana investasi dapat berasal dari pinjaman. Disamping itu, ada pula rumah tangga yang melakukan kegiatan di pasar uang atau di pasar modal sehingga terjadi transaksi finansial (keuangan) antar rumah tangga maupun dengan sektor ekonomi lain. Investasi finansial dapat berupa uang tunai, simpanan di bank, dan pemilikan surat berharga.

Rumah tangga terdiri dari sekelompok orang yang mempunyai karakteristik berbeda, baik dalam hal penerimaan maupun pengeluarannya. Dalam hal pengeluaran konsumsi ada yang dilakukan secara bersama, tetapi ada pula yang dilakukan oleh masing-masing. Sedangkan dalam hal pendapatan, ada rumah tangga yang pendapatannya dari upah/gaji saja, dari usaha saja, atau dari gabungan keduanya. Bahkan ada yang dari selain keduanya, misalnya dari pensiun, bagi hasil, dan sebagainya. Hal ini tergantung dari keaktifan mereka dalam kegiatan ekonomi.

Fungsi konsumsi menunjukkan hubungan antara konsumsi dengan berbagai variabel yang mempengaruhinya. Pada teori yang paling sederhana, konsumsi ditentukan oleh disposable income sekarang.

Disposable income adalah pendapatan perorangan bersih, setelah dikurangi pajak, yang merupakan bagian pendapatan rumah tangga yang tersedia untuk untuk konsumsi dan tabungan.

(5)

Jenis riset yang dikembangkan M. Fahim KHAN dalam tulisan artikel Distribution in Macroeconomic Framework: An Islamic Perspective menurut hemat penulis penelitian ini adalah jenis penelitian Fenomenologi. Littlejohn mengatakan bahwa fenomenologi adalah suatu tradisi untuk mengeksplorasi pengalaman manusia. Dalam konteks ini ada asumsi bahwa manusia aktif memahami dunia disekelilingnya sebagai sebuah pengalaman hidupnya dan aktif menginterpretasikan pengalaman tersebut. Menurut Prof. Dr. Buchari Lapau dr. MPH fenomenologi adalah suatu hal yang bisa disaksikan dengan panca indera serta dapat dinilai dan diterangkan secara ilmiah. Asumsi pokok fenomenologi adalah manusia secara aktif menginterpretasikan pengalamannya dengan memberikan makna atas sesuatu yang dialaminya. Oleh karena itu interpretasi merupakan proses aktif untuk memberikan makna atas sesuatu yang dialami manusia. Dengan kata lain pemahaman adalah suatu tindakan kreatif, yakni tindakan menuju pemaknaan. Dalam pendekatan ini peneliti melakukan penelitian berdasarkan kriteria fenomenologi, yaitu :

1. Terdapat kesenjangan antara teori dan fakta

2. Terdapat kesenjangan dari satu alternatif jawaban atas permasalahan tersebut 3. Sedang terjadi di masyarakat dan dibutuhkan jawaban atas permasalahan tersebut 4. Memiliki nilai penemuan/manfaat yang tinggi

5. Bukan merupakan replikasi atau pengulangan dari penelitian yang sudah pernah dilakukan

6. Memiliki relevans atau justifikasi teori yang jelas 7. Berdasarkan fakta

(6)

Al-Qur’an memberikan pandangan kepada kita tentang pengetahuan yang telah kita ketahui dan yang kita eksplorasi.

Seperti yang telah diulas dalam pembahasan pertama, bahwa analis ini berangkat dari pemahamannya dalam aspek spiritual yang cukup dalam. Dia selain menaungkan pikirannya secara subjektif, tapi dia tidak lupa melihat, memahami, dan menelaah tentang bagaimana Al-Qur’an mengajarkan manusia dalam berperilaku, termasuk dalam perilaku konsumsi.

Analisis ini juga melihat dari jurnal-jurnal lain yang memiliki tema sama. Dalam jurnalnya yang berjudul Distributive Justice and Need Fulfillment in an Islamic Economy, M. Ali Khan mengungkapkan bahwa dalam melakukan kegiatan atau transaksi ekonomi seperti konsumsi, harus memperhatikan sebuah keadilan dan menghindari adanya riba. Dia juga memiliki emosi spiritual yang baik, sehingga dia tidak melupakan ajaran yang tertera dalam hukum agama. Selain hal tersebut, juga diperlukan adanya rasa puas dan sistem distribusi yang baik haruslah dapat dicapai dalam dunia ekonomi. M. Ali Khan lebih serius dalam membahas tentang hal ini. Dia menjelaskan tentang poin-poin dalam alokasi transaksi ekonomi untuk mencapai sebuah keuntungan dan pendapatan yang tinggi bukan hanya pada zakat saja, tapi seperti saham, waqaf, dan lain-lain. M. Ali Khan mengatakan bahwa dalam transaksi waqaf kita tidak akan kehilangan sebuah aset dan tidak akan pernah mengalami kerugian. Husserl (dalam Moleong, 2009) mengartikan fenomenologi sebagai: 1) pengalaman subyektif atau pengalaman fenomenologikal; 2) suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang.

(7)

sebagaimana mestinya. Islam hadir untuk menjiwai Ekonomi dan semua ruang lingkupnya agar fungsi ataupun tujuan dalam ekonomi itu terwujud secara nyata dan mengandung keberkahan didalamnya. Oleh karena itu, pengalaman subjektif ini penting tetapi juga perlu memperhatikan nilai yang dihasilkan dari pengalaman tersebut tidak bertentangan dengan Islam.

Kedua; Dalam analisa ini dan masih berkaitan dengan pendapat Husserl, kesadaran diri sangat diperlukan ketika pandangan diri terhadap suatu hal kurang tepat. Dalam tulisan M. Fahim KHAN tentang Distribution in Macroeconomic Framework: An Islamic Perspective, menurut hemat penulis..., para ekonom membandingkan konsep Al-Quran dan konstruksi dengan orang-orang ekonomi saat ini, berpikir kritis pada signifikansi mereka dan bahkan mungkin superioritas mereka. Namun dalam antusiasme mereka untuk memberitahu penemuan mereka, banyak dari hal ini tetap kurang atau kadang-kadang keliru menjelaskan. Maka dari itu diperlukan kesadaran yang tinggi terhadap teori mana yang lebih baik.

C. Metode Penelitian Qualitatif

Berangkat dari jenis paradigma dan jenis riset yang digunakan dalam artikel Distribution in Macroeconomic Framework: An Islamic Perspective, maka menurut hemat penulis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Bogdan dan taylor (dalam Moleong, 2009) mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dari individu tersebut secara holistik (utuh). Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller (dalam Moleong,2009) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga, dan seterusnya. Di pihak lain

(8)

keperluan. salah satunya yaitu untuk memahami isu-isu rinci tentang situasi dan kenyataan yang dihadapi seseorang.

Penelitian kuantitatif berusaha mengukur fakta yang objektif atau dengan kata lain mendeskripsikan suatu fenomena atau realitas, maka penelitian kualitatif ingin mendapatkan pemahaman yang mendalam. Untuk itu harus mencari nomenon atau makna di balik fenomena. Atau dapat dikatakan penelitian kuantitatif berusaha mendeskripsikan fenomena secara akurat (erklaren), sedangkan penelitian kualitatif ingin mendapatkan makna di balik fenomena, untuk itu perlu mendapatkan pemahaman yang mendalam dari suatu fenomena (verstehen).

Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam (verstehen), tidak cukup apabila hanya mengetahui tentang apa dari suatu fenomena tetapi juga mengapa dan bagaimana dari suatu fenomena. Mengapa suatu fenomena ada atau terjadi, bagaimana suatu fenomena terjadi atau bagaimana proses terjadinya suatu fenomena. Dan hal ini, yaitu pengetahuan tentang apa, mengapa, dan bagaimana, dapat dikuasai manusia, karena manusia mempunyai metakognisi yang mampu menghasilkan pengetahuan deklaratif (pengetahuan tentang apa), pengetahuan prosedural (pengetahuan tentang bagaimana), dan pengetahuan kondisional (pengetahuan tentang mengapa dan kapan). Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam (verstehen) tidak cukup hanya mengetahui tentang apa dari suatu fenomena tetapi juga mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Pendapat penulis ini mengacu pendapat Suparlan sebagai berikut: “Dalam pendekatan kualitatif, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebagai pertanyaan-pertanyaan penelitian bukan hanya mencakup: apa, siapa, dimana, kapan, bagaimana, tetapi yang terpenting yang harus tercakup dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian tersebut adalah mengapa. Pertanyaan mengapa menuntut jawaban mengenai hakikat yang ada dalam hubungan diantara gejala-gejala atau konsep-konsep, sedangkan pertanyaan-pertanyaan apa, siapa, dimana, dan kapan menuntut jawaban mengenai identitas, dan pertanyaan bagaimana menuntut jawaban mengenai proses-prosesnya.

(9)

Penelitian kualitatif dinyatakan mengonstruksi realitas sosial, karena penelitian kualitatif berlandaskan paradigma Konstruktivisme yang berpandangan bahwa pengetahuan itu bukan hanya merupakan pengalaman terhadap fakta, tetapi juga merupakan hasil konstruksi rasio subjek yang diteliti. Pengenalan manusia terhadap realitas sosial berpusat pada subjek dan bukan pada objek, ini berarti ilmu pengetahuan bukan hasil pengalaman semata, tetapi merupakan juga hasil konstruksi oleh rasio.

Metode analisis data kualitatif ini termasuk dalam kriteria analisis sistem yaitu metode analisis yang digunakan untuk melakukan pengkajian terhadap elemen-elemen dan faktor-faktor yang berpengaruh dalam sistem yang diamati. Oleh karena itu, metoda analsis ini akan lebih difokuskan kepada analisis faktor-faktor penyebab dalam proses pemanfaatan ruang kawasan perkotaan dan suburban, analisis identifikasi permasalahan suburbanisasi, dan analisis permasalahan dalam kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan dan sub-urban beserta faktor-faktor penyebabnya. Metode analisis data kualitatif ini bukan hanya merupakan pengalaman terhadap fakta, tetapi juga merupakan hasil konstruksi rasio subjek yang diteliti. Berangkat dari sini, hemat peneliti terhadap artikel spirituality and organizational transformation implications for the new management paradigm telah memuat sifat konstruktivisme teoritik.

(10)

substansial diabaikan dalam menganalisis perilaku konsumen. Oleh karena itu, analisis perilaku amal cukup menantang ekonom Islam. Sayangnya, tidak banyak bantuan tersedia dari literatur ekonomi. Hanya sedikit yang ada, ia berkonsentrasi pada belas kasih dan altruisme, dan bukan sebagai tindakan ibadah. Khan telah memberikan pengenalan yang sangat menarik dengan mengembangkan konsep "Allah-kesadaran". Juga, bimbingan Quran pada proses pengambilan keputusan dalam praktek amal eksplisit; lihat, misalnya dalam Surah 2: 219; 2: 261-74. Oleh karena itu upaya lebih lanjut harus memasukkan bimbingan ini lebih teliti dalam analisis.

Konsep utilitas tidak diperpanjang oleh Khan ke tingkat makro, di mana konsep itu datang seperti fungsi konsumsi Keynesian biasa, tetapi dengan perbedaan yang signifikan. Dalam pengakuan transfer pendapatan, khususnya melalui zakat, dari kelompok yang berpenghasilan lebih tinggi untuk kelompok berpenghasilan rendah. Khan membagi fungsi konsumsi menjadi dua jenis agar mampu menunjukkan dampak konsumsi, tabungan dan pertumbuhan.

Ahmed Tabakoglu menganalisis faktor-faktor produksi. Dia berpendapat dari "fiqh" (Keputusan dari para ahli hukum), tidak langsung dari Quran dan Hadist, bahwa faktor-faktor harus diklasifikasikan ke dalam dua kelompok saja yaitu manusia dan fisik, Dalam Islam Allah telah menciptakan alam semesta dan dengan demikian apa yang disebut faktor "alami" produksi tanah, mineral, hutan, awan, matahari, sapi (Teknologi), biji (teknologi), dll (lihat, misalnya, Surah 27:60, 36:71, 56:63). seorang manusia dapat berpartisipasi dalam memelihara ternak atau tanaman, tetapi ia tidak dapat melakukannya tanpa bantuan Tuhan, ia juga telah menciptakan sapi atau biji. Ini artinya, teori nilai kerja, misalnya, dalam konteks Islam: manusia (tenaga kerja) tidak mungkin menjadi satu-satunya perdana atau faktor eksogen. Oleh karena itu, klasifikasi faktor Tabakoglu ini antara fisik dan manusia hanya harus dianggap oleh argumen tertentu berdasarkan sejarah.

Al-Quran juga menyiratkan perbedaan dalam pendekatan untuk membangun model, atau jika ingin mempertimbangkan masalah ekonomi. Ini mempertimbangkan tiga aspek keadilan sosial; efisiensi dan kesejahteraan sebagai salah satu perspektif sehingga masing-masing tidak hanya menyeimbangkan dengan yang lain, tetapi juga mendukung. Dengan demikian tidak akan ada ketidakseimbangan atau mengorbankan tujuan.

(11)

yang diberikan adalah positif, terarah dan lengkap. Mengambil lagi bimbingannya Zakat. Memberikan fungsi yang adil, dll.

D. Analisa

1. Alur pikir dari artikel jurnal ini a. Reasoning

Setelah menganalisa artikel jurnal yang berjudul Distribution In Macroeconomic Framework: An Islamic Perspective yang ditulis oleh M. Fahim Khan. Penulis berpendapat bahwa artikel ini menggunakan empat alur. Pertama: fungsi konsumsi makro dalam kerangka Islam. Kedua; Buruh dan Konsep Modal Ekonomi Islam.Ketiga;Macromodel Distribusi dalam ekonomi Islam. Keempat;Menuju Macromodel Islam Distribusi: Pendekatan Perbandingan.

(12)

sangat menarik denganmengembangkan konsep "Allah-kesadaran".Konsep utilitas tidak diperpanjang oleh Khan ke tingkat makro, di mana konsep itudatang seperti fungsi konsumsi biasa, tetapi dengan perbedaan yang signifikan. Dalam pengakuan transfer pendapatan, khususnya melalui zakat, dari kelompok yangberpenghasilan lebih tinggiuntuk kelompok berpenghasilan rendah. Khan membagi fungsi konsumsi menjadi dua jenis agar mampu menunjukkan dampak konsumsi, tabungandan pertumbuhan.

(13)

Ketiga: Ausaf Ahmad mencoba untuk mengadopsi Kaldor makro, model pendapatandistribusi ke dunia Islam. Ini difokuskan pada bagaimana memperkenalkan zakat pada mereka. Pernyataannya adalah apakah itu prosedur yang sah dan benar. Ada dua proposisi mendasar dari dunia Keynesian dalam setelan daristruktur kelembagaan kompetitifdasar: (1) adanya penimbunan (likuiditaspreferensi) dan (2) pilihan antara konsumsi dan menyimpan menjadi satu yang “menyeimbangkan”. Quran juga membentuk struktur kompetitif dasardan secara eksplisit mengakui perilaku penimbunan.Kita mempunyai pengaamatan terhadap bimbingan Alquran pada konsumsi dan tabungan: keseimbangan antaradua ekstrem. Jika bimbingan adalah sebaliknya semakin banyak yang diselamatkan,semakin banyak yang akan berhasil, dunia Islam akan menjadi berbeda dari duniaKeynesian. Sejauh ini cukup baik: kedua dunia konsisten.Tapi kemudian Quran melakukan perubahan terhadap kondisi di dunia Islam. Pertama, melarangbunga.Kedua, lebih memperkuat praktek amaldimana tidak hanya kaya membantu yang miskin, tetapi juga bantuan orang miskin terhadap miskin lainnya dengan rutinitas. Ahmad tidak menganggap ini sama sekali.Selanjutnya, dalam Al-Quran perilaku penimbunan menjadi "rasional". Apakah ini tidakmenerapkan zakat. Pertama, pungutan zakat 2,5% pada aset menimbun.

Keempat: M. Fahim Khan, seperti dikatakan di atas, telah berusaha menjelaskan dengan menunjukkan bagaimana dalam bukunyadibangun model kelompok berpenghasilan rendah akan bergerak lebih dan lebih untuk kelompok pendapatan yang lebih tinggi. Ketiga, ia mengatakan bahwa sadaqah yang akan membawa sebuah eksponensialPertumbuhan (QS 2: 261-2).Pertumbuhan eksponensial dalammodel Kaldor-Pasinetti disebabkan oleh pertumbuhan penduduk dan kemajuan teknis. Satubertanya-tanya apa yang akan terjadi dengan model Kaldor-Pasinetti jika kondisi mapan jugadisebabkan oleh pengeluaran sedekah.Ada juga kesulitan teknis yang timbul dari konsep yang berbeda. zakat adalahpajak khusus atas aset.

(14)

memperkirakan sebagai (hal.36): Z = 0,025 (A + S) dimana Z =pendapatan zakat, A = Aset pada akhir tahun lalu, dan S = Tabungan pada tahun berjalan.Ini mungkin lebih akurat dan stabil daripada rasio aset-laba, karena merupakan elemen yang lebih besar, aset lebih stabil daripada pendapatan. Mengamati bahwa Khan menggunakan tabungan, bukandari investasi, sebagai tambahan aset. Tapi karena tabungan dan investasi selalu sama expost - istilah yang relevan untuk pengadaan tidak mungkin pernah sangat akurat karena pembebasan sektor dannilai berharga dari aset yang diperlukan. Konsep saham-aliran revolusioner modaldikandung oleh von Neumann dan sekarang juga digunakan dalam model Generalized Dinamis InputOutput akan idealnya cocok untuk tujuan ini. Tapi kemudian salah satu bergerak menjauh dari model makro untuk model ekuilibrium umum. Untungnya, keseimbangan umum model (terutama input-ouput) dapat menggabungkan persamaan mendasardari model makro. Dan jika ada yang benar-benar tertarik, seperti keseimbangan, ada jalan tol.Model umum-ekuilibrium telah cukup maju karena model ini dibahas Kaldor dan Pasinetti.Oleh karena itu, meskipun kondisi Keynesian dasar juga ditemukan dalam Islamdunia, perubahan kepada mereka dan solusi yang ditetapkan oleh Quran cukupberbeda. Kami dapat menggunakan model Keynesian untuk menjelajahi beberapa kemungkinan analisis sebagailangkah menuju pemahaman yang lebih lengkap tentang dunia Islam atau menggunakan hanya beberapakonsep seperti aliran melingkar pendapatan dalam membangun model untuk dunia Islam.

b. Dasar teoritik

Setidaknya landasan teoritik yang dibangun dalam penelitian ini terdapat enam teori yaitu, Pertama: dua jenis terkait fungsi konsumsi makro, yaitu: (1) pada sistem nilai individu dan karakter, dan (2) pada pembentukan kerangka kerja untuk suatu sistem ekonomi dan analisis.Tidak seperti apa yang ekonom lakukan, Al;Quran tidak meninggalkan perilaku yang diinginkan ke dalam sistem kompetitif saja.

(15)

dinamika, konsumen akan bergerak lebih dan lebih dari kelompok berpenghasilan rendah kekelompok berpenghasilan yang lebih tinggi.

Ketiga: faktor-faktor harus diklasifikasikan dalam dua kelompok saja orang-orang yang dapat dimiliki (faktor fisik) dan orang-orang yang tidak dapat dimiliki (faktor manusia).

Keempat: teori nilai kerja, misalnya,dalam konteks Islam: manusia (tenaga kerja) tidak mungkin menjadi satu-satunya perdana atau faktor eksogen.

Kelima: agregasi atau pemilahan faktor tidak hanya tergantung pada konsep (primer dan sekunder) tetapi juga pada kebutuhan model (Umum -keseimbangan, makro dan mikro).

Keenam: dua proposisi mendasar dari dunia Keynesian dalam setelan dari struktur kelembagaan kompetitif dasar: (1) adanya penimbunan (likuiditas preferensi) dan (2) pilihan antara konsumsi dan menyimpan menjadi satu yang “menyeimbangkan”.

Ketujuh: M. Fahim KHAN (ed.)menggunakan pemrakiraan untuk menghitunng pendapatan zakat yaitu Z = 0,025 (A + S) dimana Z = pendapatan zakat, A = Aset pada akhir tahun lalu, dan S = Tabungan pada tahun berjalan.Ini mungkin lebih akurat dan stabil daripada rasio aset-laba, karena merupakan elemen yang lebih besar, aset lebih stabil daripada pendapatan.

c. Penelitian terdahulu

(16)

Dengan adanya karakteristik yang baik, pastinya perekonomian yang baik juga akan terbaik karena telah dikelola oleh pekerja yang tepat. Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang ekonomi. Salah satu tujuannya adalah untuk mewujudkan keadilan dalam pendistribusian harta, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun individu. Keadilan dan kesejahteraan masyarakat tergantung pada sistem ekonomi yang dianut. Pembahasan mengenai pengertian distribusi pendapatan, tidak terlepas dari pembahasan mengenai konsep moral ekonomi yang dianut juga model instrumen yang diterapkan individu maupun negara dalam menentukan sumber-sumber maupun cara-cara pendistribusian pendapatannya.

Dasar karakteristik pendistribusian adalah adil dan jujur, karena dalam Islam sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan, semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Pelaksanaan distribusi bertujuan untuk saling memberi manfaat dan menguntungkan satu sama lain. Secara umum, Islam mengarahkan mekanisme muamalah antara produsen dan konsumen agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Apabila terjadi ketidakseimbangan distribusi kekayaan, maka hal ini akan memicu timbulnya konflik individu maupun sosial.

Oleh karena itu, salah satu upaya untuk mengakhiri kesengsaraan dimuka bumi ini adalah dengan menerapkan keadilan ekonomi. Kebahagiaan akan mudah dicapai dengan penerapan perekonomian yang mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan individu. Islam menegaskan untuk para penguasa, agar meminimalkan kesenjangan dan ketidakseimbangan distribusi. Pajak yang diterapkan atas kekayaan seseorang bertujuan untuk membantu yang miskin. Sementara dalam Islam Allah mensyari’atkan zakat. Jika hal ini dijadikan konsep distribusi pendapatan, InsyaAllah sistem perekonomianpun akan berjalan lancar dan masyarakat akan sejahtera.

(17)

Kedua: Prof. Khurshid Ahmad melakukan upaya serius tentang kerangka kerja konseptual Islam yang berkaitan dengan masalah distribusi pendapatan dan untuk mengeksploitasi beton dan jalan kebijakan yang relevan untuk membangun ekonomi yang hanya ada dalam konteks dunia kontemporer.

Ketiga: Dr. Rushdi dan Dr. Zarqa merangkan efek dari penghapusan riba dan terdapat berbagai macam keuntungan dari pungutan zakat dalam pendapatan.

Keempat: Ausaf Ahmad mencoba untuk mengadopsi Kaldor makro, model pendapatandistribusi ke dunia Islam. Ini difokuskan pada bagaimana memperkenalkan zakat pada mereka. Pernyataannya adalah apakah itu prosedur yang sah dan benar.

d. Sesuatu yang Ingin Dikembangkan

Dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh oara ahli terdahulu yang sudah disebutkan diatas, maka dapat dianalisis bahwa terdapat empat hal yang ingin dikembangkan oleh penulis. Pertama: Khan menjelaskan bahwa perilaku dalam melakukan transaksi ekonomi sudah terdapat dalam Al-Qur’an terkait dengan fungsi konsumsi, yaitu (1) pada sistem nilai individu dan karakter, dan (2) pada pembentukan kerangka kerja untuk suatu sistem ekonomi dan analisis.

Kedua: Ahmed Tabakoglu menganalisis faktor-faktor produksi. Dia berpendapat dari "fiqh"(Keputusan dari para ahli hukum), tidak langsung dari Quran dan Hadist, bahwa faktor-faktorharus diklasifikasikan ke dalam dua kelompok saja, yaitu manusia dan fisik, atau Khan menjelaskan itu(Hal.8), orang-orang yang dapat dimiliki (faktor fisik) dan orang-orang yang tidak dapat dimiliki (faktor manusia). Dia kemudian memberikan rincian pandangan para fuqaha (ahli hukum), menyiapkan sejumlah kesimpulan dan perbedaan dari mereka dalam literatur ekonomi.

Ketiga: Al-Jahri menjelaskan bahwa zakat dikenakan pada upah dan gaji dan seorang buruh hanya menerima nilai hasilnya. Ia juga berpendapat bahwa zakat yang demikian ini melanggar keadilan sosial.

(18)

Van Neumann yang ia gunakan dalam model Generalization dinamis input output.

2. Variabel Penelitian

Penulis membagi variabel dalam Distribution in Macroeconomic Fremawork: An Islamic Perspective menjadi dua variabel, yaitu pertama: variabel judul dan kedua: variabel ulasan. Dalam variabel judul terdiri dari tiga variabel, yaitu pertama Distribution, kedua , dan ketiga Framework. Sedangkan dalam variabel ulasan Distribution in Macroeconomic Fremawork: An Islamic Perspectiveterdiri dari empat variabel, yaitu yang Pertama: fungsi konsumsi. Kedua: Buruh dan konsep model Islam. Ketiga: distribusi pendapatan. Keempat: cara menuju distribusi pendapatan.

3. Hipotesis

Dari berbagai penjelasan dan analisa yang telah tertera di atas dari artikel jurnal Distribution in Macroeconomic Fremawork: An Islamic Perspective yang ditulis oleh M. Fahin Khan. Menurut penulis terdapat hipotesis, yaitu, pertama: terdapat dua jenis fungsi ekonomi yaitu terdiri dari karakter dan nilai individu serta pembentukan kerangka kerja yang baik.

Kedua: faktor-faktor produksi yang terdiri dari dua hal, yaitu faktor fisik dan faktor manusia. Faktor fisik merupakan faktor primer dan faktor yang utama dalam membentuk kerangka kerja manusia.

Ketiga: pungutan zakat adalah sebagai penambah aset dan cara untuk menghitung pandapatan zakat adalah Z = 0,025 (A + S) dimana Z = pendapatan zakat, A = Aset pada akhir tahun lalu, dan S = Tabungan pada tahun berjalan.

Keempat: penimbunan harta atau asset adalah perbuatan yang dilarang oleh Islam, maka harta atau asset tersebut yang didapatkan dari hasil pendapatan harus didistribusikan.

4. Hasil temuannya, apakah teori didukung atau terbantahkan

(19)

penelitian ini, yaitu yang Pertama: tentang fungsi konsumsi dalam Islam. Fungsi konsumsi makro, M. Fahim Khan menunjukkan bahwa bimbingan Quran adalah dari dua jenis terkait: (1) pada sistem nilai individu dan karakter, dan (2) pada pembentukan kerangka kerja untuk suatu sistem ekonomi dan analisis. Tidak seperti apa yang ekonom lakukan, Al;Quran tidak meninggalkan perilaku yang diinginkan ke dalam sistem kompetitif saja. Misalnya, bimbingan kepada konsumen untuk belanja adalah(Quran 17:29; 25:67): "Membuat tidak tanganmu terikat (seperti kikir) untuk leher Mu, atau meregangkan balik ke jangkauan maksimalnya; sehingga Anda menjadi tercela dan miskin ... tapi mengadakan hanya (keseimbangan) antara (ekstrem). "Ada sejumlah pedoman mendalam dan berkualitas tentang perilaku individu. Khan telah mencoba untuk menggabungkan beberapa dari mereka dalam kontruksi "Utilitas" yang kemudian dia gunakan untuk membahas keputusan konsumen mengenaipengeluaran konsumsi dan amal. Fungsi konsumsi ini hampir sama dengan fungsi konsumsi biasa tapi terdapat berbagai macam perbedaan yang signifikan. Khan membagi fungsi konsumsi pada dua macam dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Kedua: Khan menjelaskan bahwa pendapatan haruslah disitribusikan dan bukan malah ditimbun karena penimbunan harta bukanlah cara yang tepat untuk menambah aset.

(20)

input menengah saat ini, yangdihasilkan. Faktor primer dan faktor sekunder jarang bersama-sama, jika hal itu pernah, maka akan berarti. Ketiga, faktor fisik yang diciptakan Tuhan dalam waktu lama, bukan untuk setiap individuatau pemerintah.Yang dimaksud faktor produksi diatas masih belum semuanya, yang termasuk faktor produksi juga yaitu kerangka bimbingan konsepkeadilan sosialmeliputi: faktor harus menerima nilai yang mereka hasilkan dalam produksi dan proses tidak lebih dan tidak kurang sebagai hak asasi mereka. Lembaga ekonomi Islam dan praktek yang dirancang untuk memastikan pencapaian keadilan sosial.

(21)

Jika mereka tidak berinvestasi dan menimbun atau meningkatkan konsumsi, mereka akan memperlambat penurunan, atau tidak menyebabkannya.Artinya, di dunia Islam, jika keuntungan yang positif ada, perilaku penimbunan adalahdibatalkan, sehingga penyimpanan yang dimaksudkan akan menjadi kurang atau sama dengan yang dimaksudkaninvestasi; yaitu ekonomi akan memperluas atau keseimbangan; dan tidak akan ada kontraktor. Jika tidak ada keuntungan positif, penimbunan tabungan akan rasional.

Dari hasil temuan M. Fahim Khan, dapat ditarik sebuah keputusan bahwa temuannya ini didukung. Karena dalam jurnal ini dan penelitian terdahulu banyak hal yang sama dalam pembahasannya dan hasilnya pun juga sama. Selain itu, sudah tertera dengan jelas bahwa jurnal ini terdapat 115 sarjana yang menyumbangkan pikirannya.

5. Keterbatasan penelitian

Dari pemahaman yang didapat dari Distribution in Macroeconomic Fremawork: An Islamic Perspective yang ditulis oleh M. Fahim Khan, penulis menyatakan bahwa artikel jurnal ini memiliki tiga keterbatasan. Pertama: peneliti kurang membahas secara mendalam dan fokus tentang hal-hal yang seharusnya ia bahas. Kedua: emosi atau aspek spiritual dalam diri peneliti kurang sehingga ia kurang memperhatikan beberapa ajaran dalam Islam seperti halnya tentang pungutan zakat. Ketiga: dalam menjelaskan bahsannya, menggunakan asumsi atau kata yang sulit untuk dipahami oleh pembaca yang baru sehingga tidak sedikit para pembaca yang ambigu tentang isi artikel jurnal ini.

6. Rekomendasi

a. Theoritical recommendations

Penulis menyadari terhadap kekurangan penelitian ini. Maka dari itu, untuk menambah tingkat kemudahan pemahaman pembaca setidaknya terdapat dua rekomendasi teoritik yang dibutuhkan untuk masa mendatang. Pertama; perlunyameneliti lebih mendalam dengan metode dan paradigma yang sama sehingga menemukan titik focus paradigmatic yang lebih mudah untuk dicerna masyarakat umum dan informasi yang menjadi tujuan penulis dapat tersampaikan kepada pembaca.

(22)

b. Practical recommendations

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat tiga teori yang dikemukakan para ahli sejarah terkait dengan masuknya agama Islam ke Indonesia, yaitu: Pertama, teori Gujarat yang menyatakan bahwa agama Islam masuk

Dari hasil penelitian di lapangan, dapat ditemukan beberapa permasalahan terkait pelaksanaan pembelajaran daring di era pandemic covid-19 yaitu: Pertama, penguasaan

Data primer yang dihasilkan di antaranya adalah terkait kebijakan makro ekonomi pemerintah terhadap peningkatan market share bank syariah, keputusan nasabah dalam

Bab ini berisi tentang landasan teori relevan yang mendukung masalah yang sedang dikaji, anatara lain pengertian dan teori terkait pokok bahasan yang akan

Dalam teori ekonomi konvensional, uang memiliki beberapa fungsi utama, yaitu, (1) sebagai alat tukar, uang dapat mempermudah terjadinya pertukaran (medium of exchange), (2) sebagai

Adapun fungsi agama ada enam hal, yaitu: pertama, agama mendasarkan perhatiannya pada sesuatu yang diluar jangkauan manusia yang melibatkan takdir dan

Sesuai dengan teori yang dipaparkan oleh David (2011) terkait enam pedoman pengembangan pasar dapat menjadi sebuah strategi yang efektif yaitu PT Bintang

Kemudian dilanjutkan dengan bab II yang membahas mengenai landasan teori terkait kajian penelitian yang dilakukan, yaitu: manajemen pemasaran pendidikan inklusif