BISNIS LINGKUNGAN HIDUP DAN ETIKA

18 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BISNIS, LINGKUNGAN HIDUP, DAN ETIKA

MATA KULIAH ETIKA

Kelas: N

Dosen: Cosmas Lili Alika, S.Pd, M.Hum., Lic.Th Anggota Kelompok:

1. 2014120017 Rizky Dewi Affandi 2. 2014120192 Kurniawan

3. 2014130157 Metta Kusumah Wardhana 4. 2014620053 Georgeous Fabrian A.B. 5. 2014620057 Nancy Vania Hendrawan 6. 2014620081 Juan Christoper

7. 2014620091 Joshua Jacob

8. 2014620101 Ferris Ewaldo Mulyadi

LEMBAGA PENGEMBANGAN HUMANIORA

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN

(2)

DAFTAR ISI

2.4 Pembangunan Berkelanjutan Dapat Mendamaikan Pandangan Ekonomi dan Lingkungan Hidup...5

2.5 Hubungan Manusia Dengan Alam...6

2.6 Dasar Etika Untuk Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan Hidup...6

2.7 Implementasi Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan Hidup...6

BAB III PENYAJIAN KASUS...7

Daftar hadir dan penilaian setiap anggota kelompok...17

Daftar Pustaka...17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

(3)

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang merupakan sebagai bahasa nasional, sehingga negara Indonesia menjadi negara kesatuan.

Begitu pula dengan bervariasinya budaya, sumber daya alam yang ada pada negara Indonesia pun bervariasi yang dapat dimanfaatkan sebagai pusat atau sumber energi. Sumber energi yang untuk memenuhi segala kebutuhan pasar global (untuk kebutuhan negara lain (ekspor) maupun kebutuhan lokal atau dalam negeri). Kepulauan-kepulauan di Indonesia sendiri banyak mengandung sumber daya alam (SDA) yang meliputi gas, minyak bumi, logam, batubara, dan lain-lain.

Sumber daya alam ini dapat bersifat menguntungkan dan merugikan. Jika sumber daya alam ini disalahgunakan, maka sumber daya alam akan berakibat fatal dan merugikan segala pihak, dan sebaliknya. Dan ini terjadi pada bencana Lumpur Lapindo Brantas Sidoarjo-Jawa Timur. Sumber daya alam (minyak bumi dan gas) yang terjadi pada kasus lumpur Lapindo Brantas Sidoarjo ini bersifat merugikan yang dikarenakan adanya kesalahan prosedur saat pengeboran gas dan minyak bumi. Lumpur Lapindo ini mengakibatkan pengaruh yang berakibat fatal pada lingkungan dan masyarakat sekitar. Dampak terjadinya lumpur Lapindo Brantas Sidoarjo, Jawa Timur ini mengakibatkan segala aktivitas baik industri, pabrik, fasilitas-fasilitas umum dan sosial, dan lain-lain pada daerah lingkupan lumpur lapindo tersendat atau terhenti.

Dalam hal ini pemerintah tidak dapat bertindak kecuali melakukan suatu tinjauan untuk dapat memberikan instruksi atau perintah kepada pihak yang bertanggung jawab agar lumpur lapindobrantas dapat diberhentikan. Jaminan atau janji pemerintah dan pihak penanggung jawab dengan korban lumpur lapindo mengenai ganti rugi di mana lahan yang telah terlewati dengan lumpur lapindobrantas masih kurang memadai dalam segi kesejahteraan baik tempat tinggal, tempat ibadah, gedung-gedung, sekolah atau pendidikan, pabrik-pabrik atau fasilitas-fasilitas umum dan sosial lainnya yang masihbelum terlihat kesejahteraan korban lumpur Lapindo Brantas Sidoarjo sampai sekarang.

1.2 Rumusan Masalah

(4)

3. Apa saja dampak yang ditimbulkan dari peristiwa ledakan lumpur tersebut? 4. Bagaimana cara yang dilakukan untuk mengatasi ledakan tersebut?

1.3 Batasan Masalah

Pada makalah ini terdapat pembatasan masalah yang ditujukan agar ruang lingkup penguraian mengenai penulisan makalah dapat lebih jelas dan terarah. Batasan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Munculnya bencana Lumpur Lapindo Brantas Sidoarjo – JawaTimur.

2. Membahas mengenai atensi pemerintah mengenai kesejahteraan korban bencana Lumpur Lapindo Branstas Sidoarjo - JawaTimur, jika dilihat dalam segi kesejahteraan umum.

3. Mengetahui bagaimana kinerja pemerintah dalam penanganan kasus bencana yang terjadi di Indonesia, khususnya pada Lumpur Lapindo.

1.4 Tujuan Pembahasan Masalah

1. Mengetahui kronologi terjadinya peristiwa ledakan lumpur lapindo.

2. Apa saja dampak-dampak yang ditimbulkan dari peristiwa ledakan lumpur. 3. Mengetahui tindakan kasus lumpur yang dilakukan oleh pemerintah untuk

mengatasi peristiwa ledakan lumpur lapindo yang dikhususkan pada kesejahteraan umum bagi korban Lumpur Sidoarjo, Jawa Timur.

BAB II

KERANGKA TEORITIS

2.1 Krisis Lingkungan Hidup

Masalah lingkungan hidup baru mulai disadari sepenuhnya dalam tahun 1960-an. Akibat dari bisnis modern :

a. Mengandaikan bahwa komponen-komponen lingkungan, seperti air dan udara merupakan barang umum, sehingga boleh dipakai seenaknya

(5)

2.2 Permasalahan Lingkungan Hidup

1. Akumulasi bahan beracun

a. Pembuangan limbah industri pabrik kimia ke sungai atau laut b. Penggunaan pestisida

c. Penggunaan herbisida

d. Penggunaan fosfat untuk deterjen

e. Banyak jenis platik, misalnya polystyrene 2. Efek rumah kaca

a. Naiknya suhu permukaan bumi disebabkan oleh efek rumah kaca/greenhouse effect.

b. Panas yang diterima bumi karena penyinaran matahari terhalang oleh partikel-partikel gas CO2 yang terlepas dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batubara yang diproduksi oleh pabrik dan kendaraan bermotor. 3. Perusakan lapisan ozon

a. Adanya pelepasan bahan CFC ke udara. b. Kaleng penyemprotan aerosol

c. Lemari es

d. Alat penyejuk ruangan e. Karet busa

Dengan berlubangnya lapisan ozon radiasi ultraviolet dari matahari mencapai permukaan bumi mengakibatkan penyakit kanker kulit, penyekit mata katarak, penurunan kekebalan tubuh, kerusakan bentuk-bentuk kehidupan dalam laut dan tanaman di darat.

4. Hujan asam

5. Deforestasi dan penggurunan

a. Penebangan hutan dan pembakaran hutan b. Erosi

c. Pendangkalan laut dan sungai

d. Kualtias tanah menurun, menjadi tidak subur e. Kesediaan air tanah menjadi berkurang

f. Terjadinya perembesan air laut ke dalam darat, akibat dari penghisap air tanah 6. Kematian bentuk-bentuk kehidupan

2.3 Lingkungan Hidup dan Ekonomi

1. Lingkungan hidup sebagai the commons:

a. Lingkungan hidup sebagai ranah umum, dianggapnya tidak ada pemilik dan tidak ada kepentingan pribadi (dulu).

(6)

c. Dengan adanya pertumbuhan penduduk lingkungan hidup diperuntukkan

2. Kelompok yang menomorsatukan lingkungan hidup dan menomorsatukan ekonomi yang berdasarkan teknologi maju

a. Adanya konsensus untuk bersama-sama melestarikan lingkungan hidup demi massa depan bumi kita.

b. Kelompok satu tidak perlu mengorban kelompok yang lainnya.

2.5 Hubungan Manusia Dengan Alam

1. Ciri khas dari sikap manusia modern adalah usahanya untuk menguasai dan menaklukkan alam

 Alam dipandang bagaikan binatas buas yang perlu dijinakan oleh manusia 2. Dengan metode ilmu pengetahuan baru (Descrates 1596-1650), kita dapat menjadi

penguasa dan pemilik alam

 Manusia di satu pihak dan alam di pihak lain, yang kemudian diolah, dikerjakan dan dimanfaatkan sesuai dengan tujuan manusia

3. Pendekatan teknokratis, yaitu cara mendekatkan kita dengan, kita akan mendapt manfaat dari alam

 Alam dilihat sebagai sarana

 Alam didekati dengan kekerasan, destruktif, digali, dan dibongkar untuk mendapatkan sumberdaya alam

2.6 Dasar Etika Untuk Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan Hidup

1. Hak dan Deontologi 2. Utilitarisme

(7)

2.7 Implemtasi Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan Hidup

1. Siapa yang harus membayar? 2. Bagaimana beban dibagi?

(8)

BAB III

PENYAJIAN KASUS

Lumpur Lapindo

Banjir lumpur panas Sidoarjo, juga dikenal dengan sebutan Lumpur Lapindo atau Lumpur Sidoarjo (Lusi), adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc. di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, sejak tanggal 29 Mei 2006.

3.1 Lokasi

 Lokasi semburan lumpur ini berada di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo.

 Lokasi pusat semburan hanya berjarak 150 meter dari sumur Banjar Panji-1 (BJP-1), yang merupakan sumur eksplorasi gas milik Lapindo Brantas Inc sebagai operator blok Brantas.

 Tak jauh dari lokasi semburan terdapat jalan tol Surabaya-Gempol, jalan raya Surabaya-Malang dan Surabaya-Pasuruan-Banyuwangi (jalur pantura timur), serta jalur kereta api lintas timur Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi.

(9)

3.2 Penyebab

Bencana Lumpur Lapindo disebabkan oleh prognosis pengeboran yang salah saat merencanakan kegiatan pengeboran sumur Banjar Panji-1 oleh Perusahaan Lapindo Brantas, Inc yang merupakan anak perusahaan PT Energi Mega Persada. Kegiatan ini berlangsung pada awal Maret 2006. Pada awalnya pengeboran sumur tersebut direncanakan hingga kedalaman 8.500 kaki (2.590 meter) untuk mencapai formasi Kujung (batu gamping). Padahal mereka membor di zona Kendeng yang tidak ada formasi Kujung-nya. Selama mengebor mereka tidak meng-casing (memasangkan selubung bor) lubang karena kegiatan pemboran masih berlangsung. Selama pemboran, lumpur overpressure (bertekanan tinggi) dari formasi Pucangan sudah berusaha menerobos tetapi dapat diatasi dengan pompa lumpur Lapindo (Medici).

Setelah kedalaman 9.297 kaki, mata bor menyentuh formasi Klitik. Batu gamping formasi Klitik sangat porous (berlubang-lubang). Akibatnya lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur formasi Pucangan hilang (masuk ke lubang di batu gamping formasi Klitik) atau circulation loss sehingga Lapindo kehilangan/kehabisan lumpur di permukaan.

Akibat dari habisnya lumpur Lapindo, maka lumpur formasi Pucangan berusaha menerobos ke luar (terjadi kick). Mata bor berusaha ditarik tetapi terjepit sehingga dipotong. Sesuai prosedur standar, operasi pengeboran dihentikan, perangkap Blow Out Preventer (BOP) di rig segera ditutup dan segera dipompakan lumpur pengeboran berdensitas berat ke dalam sumur dengan tujuan mematikan kick. Namun, yang terjadi adalah fluida formasi bertekanan tinggi sudah telanjur naik ke atas sampai ke batas antara open-hole dengan selubung di permukaan (surface casing) 13 3/8 inci. Di kedalaman tersebut, diperkirakan kondisi geologis tanah tidak stabil dan kemungkinan banyak terdapat rekahan alami (natural fissures) yang bisa sampai ke permukaan.

(10)

3.3 Dampak

 Lumpur menggenangi 16 desa di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Porong, Jabon dan Tanggulangin.

 lahan tebu seluas 25,61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan Kedungcangkring; lahan padi seluas 172,39 ha di Siring, Renokenongo, Jatirejo, Kedungbendo, Sentul, Besuki Jabon dan Pejarakan Jabon; serta 1.605 ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi dan 7 ekor kijang terendam lumpur

 Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1.873 orang tenaga kerja yang terkena dampak lumpur ini.

 Empat kantor pemerintah juga tak berfungsi dan para pegawai juga terancam tak bekerja.

 Tidak berfungsinya sarana pendidikan (SD, SMP), Markas Koramil Porong, serta rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon)

 Rumah/tempat tinggal yang rusak akibat diterjang lumpur dan rusak sebanyak 1.683 unit. Rinciannya: Tempat tinggal 1.810 (Siring 142, Jatirejo 480, Renokenongo 428, Kedungbendo 590, Besuki 170), sekolah 18 (7 sekolah negeri), kantor 2 (Kantor Koramil dan Kelurahan Jatirejo), pabrik 15, masjid dan musala 15 unit.

 Kerusakan lingkungan terhadap wilayah yang tergenangi, termasuk areal persawahan

 Meledaknya pipa gas milik Pertamina akibat penurunan tanah karena tekanan lumpur dan sekitar 2,5 kilometer pipa gas terendam .

 Ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol hingga waktu yang tidak ditentukan, dan mengakibatkan kemacetan di jalur-jalur alternatif, yaitu melalui Sidoarjo-Mojosari-Porong dan jalur Waru-tol-Porong.

(11)

 Sebuah SUTET (saluran udara tegangan ekstra tinggi) milik PT PLN dan seluruh jaringan telepon dan listrik di empat desa serta satu jembatan di Jalan Raya Porong tak dapat difungsikan.

 Penutupan ruas jalan.

3.4 Upaya Penanggulangan

 Membuat tanggul untuk membendung area genangan lumpur. Namun, lumpur terus menyembur setiap harinya, sehingga sewaktu-waktu tanggul dapat jebol, yang mengancam tergenanginya lumpur pada permukiman di dekat tanggul.

 Membuat waduk dengan beton pada lahan seluas 342 hektare, dengan mengungsikan 12.000 warga. Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan, untuk menampung lumpur sampai Desember 2006, mereka menyiapkan 150 hektare waduk baru. Juga ada cadangan 342 hektare lagi yang sanggup memenuhi kebutuhan hingga Juni 2007. Akhir Oktober, diperkirakan volume lumpur sudah mencapai 7 juta m3.Namun rencana itu batal tanpa sebab yang jelas.

 Sudah ada tiga tim ahli yang dibentuk untuk memadamkan lumpur berikut menanggulangi dampaknya. Mereka bekerja secara paralel. Tiap tim terdiri dari perwakilan Lapindo, pemerintah, dan sejumlah ahli dari beberapa universitas terkemuka. Di antaranya, para pakar dari ITS, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada. Tim Satu, yang menangani penanggulangan lumpur. Tujuan jangka pendeknya adalah memadamkan lumpur dan mencari penyelesaian cepat untuk jutaan kubik lumpur yang telah terhampar di atas tanah.

3.5 Profil Perusahaan

PT Energi Mega Persada Tbk (EMP)

(12)

Industri/jasa : Minyak dan Gas Bumi

Didirikan : 16 Oktober 2001

Kantor pusat : Bakrie Tower Lantai 32, Rasuna Epicentrum, Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta

Tokoh penting : Suyitno Patmosukismo, Presiden Komisaris Christopher Basil Newton, Presdir & CEO

Visi Perusahaan : Menjadi pemimpin dalam produsen minyak dan gas independen terkemuka di Asia yang menjunjung tinggi keselamatan, kesehatan dan kelestarian lingkungan guna memberikan kontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Anak Perusahaan : RHI Corporation (RHI), Kondur Petroleum S.A., PT. Imbang Tata Alam, Kalila Energy Ltd. (KEL), Pan Asia Enterprise Ltd., Lapindo Brantas Inc., Energi Mega Pratama Inc. (EMP Inc.), EMP Kangean Limited, EMP Exploration (Kangean) Limited, Malacca Brantas Finance B.V. (MBF).

Hasil Akuisisi : PT. Tunas Harapan Perkasa (THP), Semberani Persada Oil (Semco), Semberah Group Shallow Rights TAC (SemberahTAC), PT. Insani Mitrasani Gelam (IMG), Sungai gelam A, B dan D TAC (Sungai Gelam TAC), Costa International Group Ltd. (Costa), Gerbang PSC Block, Kalila (Bentu) Ltd. (Bentu).

Situs web : http://www.energi-mp.com/

(13)

yang merupakan pemilik dari Kondur Petroleum S.A. (Kondur). Selanjutnya pada Februari 2004, perusahaan kembali mengakuisisi PT Imbang Tata Alam (ITA). Sebulan kemudian pada Maret 2004, EMP kembali mengakuisisi Kalila Energy Ltd. (KEL) sekaligus Pan Asia Enterprise Ltd. (PAN) yang menjadi pemilik 100% dari Lapindo Brantas Inc (Lapindo). Lapindo sendiri merupakan operator dari Brantas PSC.

Perkembangan perusahaan ini semakin pesat seiring dengan penawaran umum perdana yang dilakukan. Puncaknya terjadi saat perusahaan berhasil mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta (BEJ) sejak Juni 2004 dengan kode ENRG. Usaha perusahaan untuk terus menjadi salah satu perusahaan migas terpadu di Indonesia dilakukan dengan terus mengakuisisi beberapa perusahaan serta menjalin kerjasama dengan mitra bisnis lainnya. Bulan Agustus 2004, EMP kembali mengambil alih Energi Mega Pratama Inc. yang merupakan pemegang kepemilikan akan Kangean PSC melalui EMP Exploration (Kangean) Ltd. dan EMP Kangean Ltd.

Mengawali tahun 2006, perusahaan ikut serta dalam pembelian aset PT Tunas Harapan Perkasa (THP) dengan mendukung kebutuhan modal kerja sebesar Rp 832 miliar. Pada waktu yang itu, perusahaan mengakuisisi THP dengan total sebesar 308,6 miliar dollar AS. Perusahaan kemudian menutup transaksi dengan Mitsubishi corporation dan Japan Petroleum Exploration Co. Ltd. untuk memperkenalkan mereka sebagai mitra strategis melalui anak perusahaannya yakni Energi Mega Pratama Inc pada Mei 2007. Kemudian sejak April 2008, perusahaan kembali melakukan akuisisi terhadap Tonga PSC. Tonga PSC sendiri merupakan produsen minyak dengan kapasitas mencapai 90 juta barel yang ada di Sumatera Utara.

(14)

kebutuhan energi dengan wilayah operasional mencakup kepulauan Indonesia dari Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Jawa, serta Indonesia bagian Timur.

Lapindo Brantas, Inc

Logo :

Jenis : Anak perusahaan dari PT Energi Mega Persada

Industri/jasa : Minyak dan gas bumi

Genre : Perusahaan pertambangan

Nasib : Diteruskan oleh anak perusahaannya, Minarak Lapindo Jaya, untuk menyelesaikan ganti rugi akibat banjir lumpur panas Sidoarjo

Kantor pusat : Sidoarjo, Indonesia

Tokoh penting : Nirwan Bakrie, CEO

Pemilik : Bakrie & Brothers

Visi Perusahaan : 1. Turut berkontribusi dalam pembangunan Indonesia melalui pemenuhan energi minyak dan gas bumi.

2. Meningkatkan nilai tambah perusahaan kepada seluruh pemangku kepentingan.

3. Menjadi perusahaan minyak dan gas bertaraf internasional dan sebagai produsen minyak dan gas terbesar di Jawa Timur.

(15)

2. Menahan laju penurunan produksi dari lapangan yang ada.

3. Explore, discover & develop prospek.

4. Melakukan kembali kegiatan eksplorasi dan pengembangan.

5. Membangun reputasi sebagai perusahaan yang peduli lingkungan dengan menerapkan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan secara terpadu dan berkesinambungan.

Induk : Energi Mega Persada

Situs web : lapindo-brantas.co.id

Lapindo Brantas Inc. adalah salah satu perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang ditunjuk BPMIGAS untuk melakukan proses pengeboran minyak dan gas bumi di Indonesia. Saham Lapindo Brantas dimiliki 100% oleh PT Energi Mega Persada melalui anak perusahaannya yaitu PT Kalila Energy Ltd (84,24 persen) dan Pan Asia Enterprise (15,76 persen).

Saat ini Lapindo memiliki 50% participating interest di wilayah Blok Brantas, Jawa Timur, Indonesia. Selain Lapindo, participating interest Blok Brantas juga dimiliki oleh PT Medco E&P Brantas (anak perusahaan dari MedcoEnergi) sebesar 32 persen dan Santos sebesar 18 persen. Dikarenakan memiliki nilai saham terbesar, maka Lapindo Brantas bertindak sebagai operator.

(16)

BAB IV

ANALISIS KASUS

Kasus lumpur lapindo yang sempat ramai menjadi topik pembicaraan orang-orang di Indonesia adalah salah satu contoh kasus kelalaian dalam etika profesi. Kasus lumpur lapindo disebabkan oleh adanya kelalaian dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas. Adanya kelalaian tersebut disebabkan oleh kurangnya sikap profesionalitas dalam melakukan kinerja perusahaan saat pengeboran. Akibatnya dapat dilihat dari profil kasus yang telah disajikan bahwa kejadian lumpur lapindo tersebut menyebabkan sangat banyak kerugian bagi masyarakat.

Kejadian khususnya di Indonesia tentang adanya pelanggaran etika profesi seperti contohnya kasus lumpur lapindo ini disebabkan oleh masih kurangnya para pendiri-pendiri perusahaan besar yang mengerti tentang arti dari etika profesi itu sendiri. Salah satu tujuan para pengusaha-pengusaha di masa kini adalah semata-mata untuk mencari nafkah/ memperkaya diri tanpa mempedulikan pembangunan Indonesia. Kurangnya sikap pengertian etika dan kepedulian terhadap perkembangan infrastruktur inilah yang menyebabkan banyak perusahaan kurang mempersiapkan program kerjanya dengan sebaik-baiknya. Yang dipedulikan mereka adalah bahwa jika program kerja selesai, mereka akan mendapatkan banyak profit atau keuntungan.

(17)

BAB V

KESIMPULAN DAN PENUTUP

Setiap profesi pasti memiliki etika dengan peraturan yang berbeda. Dalam kasus ini untuk orang-orang yang mengambil profesi sebagai pengebor, tidak bisa sembarangan dan tidak boleh ada sedikit pun kesalahan. Maka dari itu perusahaan harus bertindak profesional dalam melakukan pekerjaannya sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan oleh perusahaan pengeboran umumnya. Setiap profesi memiliki kode etik mereka masing-masing dan memiliki hukum untuk para profesi memproteksi privasi mereka masing-masing.

(18)

BAB VI

LAMPIRAN

 Daftar hadir dan penilaian setiap anggota kelompok

No Nama NPM

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...