• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I SISTEM KRISTAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB I SISTEM KRISTAL"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

KEKRISTALAN ZAT PADAT

Bahan padat dapat diklasifikasikan berdasarkan keteraturan susunan atom-atom atau ion-ion penyusunnya. Bahan yang tersusun oleh deretan atom-atom yang teratur letaknya dan berulang (periodik) disebut bahan kristal. Dikatakan bahwa bahan kristal mempunyai keteraturan atom berjangkauan panjang. Sebaliknya, zat padat yang tidak memiliki keteraturan demikian disebut bahan amorf atau bukan-kristal.

Bahan kristal, untuk yang selanjutnya cukup disebut kristal (saja), dapat dibentuk dari larutan, lelehan, uap, atau gabungan dari ketiganya. Bila proses pertumbuhannya lambat, atom-atom atau pertikel penyusun zat padat dapat menata diri selama proses tersebut untuk mrenempati posisi yang sedemikian sehingga energi potensialnya minimum. Keadaan ini cenderung membentuk susunan yang teratur dan juga berulang pada arah tiga dimensi, sehingga terbentuklah keteraturan susunan atom dalam jangkauan yang jauh, inilah yang mencirikan keadaan kristal.

Sebaliknya, dalam proses pembentukan yang berlangsung cepat, atom-atom tidak mempunyai cukup waktu untuk menata diri dengan teratur. Hasilnya terbentuklah susunan yang memiliki tingkat energi yang lebih tinggi. Susunan atom ini umumnya hanya mempunyai keteraturan yang berjangkauan terbatas, dan keadaan inilah yang mencerminkan keadaan amorf. Dalam bahan amorf, jangkauan keteraturan atom biasanya sampai tetangga kedua.

(2)

Fisika zat padat secara umum dihubungkan dengan kristal dan elektron dalam kristal. Pengkajian tentang zat padat dimulai pada tahun-tahun awal abad ini sesudah berhasil dipelajarinya difraksi sinar-x oleh kristal. Dari gejala ini dapat ditemukan baukti bahwa kristal terdiri dari atom-atom yang susunannya teratur. Melalui keberhasilan memodelkan susunan atom-atom dalam kristal, para fisikawan dapat mempelajari lebih banyak dan lebih lanjut tentang zat padat. Dalam perkembangan selanjutnya, pengkajian zat padat telah meluas pada bahan bukan kristal (amorf), bahan gelas, dan bahkan bahan cair. Bidang yang lebih meluas ini dikenal sebagai fisika materi terkondensasi (condensed matter physics), dan kini telah menjadi bidang pengkajian yang paling luas dalam ilmu fisika.

1.1 IKATAN ATOM

Gaya apakah yang mempertahankan atom-atom dalam kristal agar tetap bersatu ? Gaya elektrostatik tarik-menarik antara muatan negatif elektron dan muatan positif inti atom adalah yang menjadi penyebab timbulnya gaya pemersatu (kohesi) dalam zat padat. Sementara itu gaya magnet sangat kecil pengaruhnya pada kohesi, dan gaya gravitasi bahkan dapat diabaikan efeknya. Di pihak lain, adanya interaksi pertukaran, sepeti gaya van der waals dan lkatan kovalen memberikan sumbangan yang berarti pada kohesi kristal.

Energi kohesi kristal didefinisikan sebagai energi yang diperlukan untuk memecah/ memisahkan kristal menjadi komponen-komponennya yang berupa atom netral yang bebas. Apabila komponen-komponen kristal berupa ion positif dan ion negatif, maka energi ohesi lebih tepat disebut energi kisi. Hal ini banyak dijumpai pada ikatan ionik.

(3)

1.1.1 Ikatan Ionik

Ikatan ionik terbentuk karena adanya gaya tarik-menarik elektrostatik (Coulomb) antara ion positif dan ion negatif. Terbentuknya ion-ion tersebut disebabkan oleh terjadinya transfer elektron antar atom-atom yang membentuk ikatan. Beberapa contoh kristal ionik antara lian : NaCl, CsCl, KBr, NaI, dst. Untuk NaCl, elektron pada atom Na ditransfer kepada atom Cl :

Na + 5,14 eV Na+ + e

Cl + e Cl + 3,61 eV

+

Na + Cl Na+ + Cl

Selanjutnya, ion Na+ dan ion Cl yang dalam keadaan gas berikatan satu sama lain dan membentuk kristal dengan melepaskan energi kisi (kohesi) sebesar 7,9 eV :

Na+ + Cl Na+ - Cl + 7,9 eV (1.1.) (gas) (gas) (kristal) (energi kristal)

Apabila ion Na+ dan ion Cl berdekatan pada jarak r, besarnya energi (potensial) tarik-menarik Coulomb adalah :

ε

Εcoul = −e2 /4π

or (1.2.)

dengan e muatan listrik ion dan εo permitivitas hampa. Gaya tarik-menarik ini tidak

mengakibatkan kedua ion terus mendekat, sampai jarak yang sedekat-dekatnya, karena orbital-tertutup yang terisi penuh elektron pada masing-masing atom juga saling berdekatan. Sebagai akibatnya, timbul gaya tolak antar elektron pada orbital atom, sebagai konsekuensi larangan Pauli. Besarnya energi tolak-menolak (repulsif) dapat diungkapkan sebagai berikut :

Erop = A/rn

(4)

Erop = B exp (-r/ρ) (1.3.)

A, B dan ρ adalah tetapan, sedangkan n = 12. Dalam persamaan (1.3) terlihat bahwa energi tolak-menolak menurun dengan cepat dengan bertambahnya jarak antar ion. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi tolak-menolak tersebut adalah berjangkauan pendek, terutama bila dibandingkan dengan interaksi elektrostatik Coulomb. Dengan demikian, setiap ion hanya “merasakan” interaksi tolak-menolak dengan ion tetangga terdekatnya saja.

Di pihak lain, dalam interaksi elektrostatik setiap ion akan berinteraksi baik dengan ion tetangga terdekatnya maupun dengan ion tetangga berikutnya, karena interaksi ini berjangkauan lebih jauh. Dengan ini kita perlu memperhitungkan pengaruh tetangga yang lebih jauh tersebut dalam perhitungan energi interaksinya. Perhatikan kembali gambar 1.1a. Anggap bahwa ion di pusat kisi (di pusat ruang kubus) adalah ion Na+ , sebagai ion acuan

yang ditinjau. Ion-ion yang mengelilingi ion Na+ tersebut adalah seperti ditunjukkan pada tabel 1.1.

Tabel 1.1 Jenis dan jarak ion-ion tetangga dari ion tinjauan Na+ dalam sel satuan kristal NaCl.

Tetangga ke Jenis Ion Jumlah Jarak dari ion tinjauan

1 Cl 6 r

2 Na 12 r√2

3 Cl 8 r√3

(5)

α disebut tetapan Madelung. Untuk selanjutnya, α merupakan karakteristik kisi terutama

untuk kristal ionik, karena nilainya bergantung pada struktur kristal yang bersangkutan.

Berikut ini dapat dibandingkan nilai α untuk beberapa kristal ionik :

NaCl : α = 1,748

ZnS : α = 1,638

CsCl : α = 1,736

(6)

Gambar 1.2.

Berdasarkan persamaan (1.2) dan (1.3) di atas selanjutnya dapat dibahas lebih lanjut perumusan energi kisi. Untuk itu diambil contoh kristal NaCl, lihat gambar 1.1. Ion-ion Na+ dan Cl berada pada keadaan seimbang pada jarak keseimbangan ro, yaitu jarak terdekat antara

ion Na+ dan Cl pada gambar 1.1 a dan d. Besarnya energi total sebagai fungsi jarak antar ion :

E(r) = Ecoul + Erep = -αe2/4πεor + B exp (-r/ρ) (1.4.)

Energi kisi adalah energi total pada r = ro. Dalam grafik pada gambar 1.2, E (ro ) adalah nilai

(7)

dE(r)/dr r=r 0= (αe

2

/4πεoro2) -B/ρ) exp (-r0/ρ)

menghasilkan :

B = (αρe2/4πεoro2) exp (ro /ρ) (1.5.)

Masukkan nilai ini ke pers. (1.4), diperoleh :

E = -(αe2/4πεor2) [1 - (rρ/ro2) exp {(ro-r)/ρ}] (1.6.)

pada keadaan seimbang, r = ro, didapatkan ungkapan bagi energi kisi :

Ekisi = -(αe2/4πεoro) [1 - (ρ/ro)] (1.7.)

Terlihat pada persamaan terakhir ini bahwa nilai energi kisi bergantung pada tetapan Madelung, sementara itu nilai tetapan ρ biasanya hanya beberapa persen dari nilai ro. Mott

(8)
(9)

Gambar 1.4. Energi molekul hidrogen (H2) sebagai fungsi jarak antar atom.

SOAL. Ulangilah perumusan di atas untuk menentukan ungkapan energi kisi dengan menggunakan bentuk energi tolak-menolak : Erep = A/rn.

1.1.2. Ikatan Kovalen

Ikatan kovalen, sering disebut ikatan valensi atau homopolar, dibangun oleh sepasang elektron dari dua atom yang berikatan. Setiap atom menyumbang sebuah elektron untuk membentuk sebuah ikatan kovalen. Elektron-elektron yang membentuk ikatan tersebut bersifat

lokal (hanya terdapat) di daerah antara dua atom, menempati orbital ikatan (σ) dengan spin

(10)

Molekul hidrogen (H2) merupakan contoh molekul dengan ikatan kovalen yang paling

sederhana, perhatikan gambar 1.4. Keadaan ikatan paling kuat terjadi bilamana spin kedua elektron saling anti-paralel (state S). Sewdangkan apabila keadaan spinnya parelel (state A), kedua atom hidrogen berada pada keadaan anti-ikatan; atom-atom saling menolak, karena elektron-elektronnya saling menjauhi (ingat prinsip larangan Pauli).

Gambar 1.5 Distribusi konsentrasi elektron valensi di sekitar atom Ge dalam kristal germanium

Ikatan kovalen termasuk ikatan yang kuat. Ikatan pada dua atom karbon dalam kristal inti membentuk struktur tetrahedral, artinya setiap atom karbon dikelilingi oleh 4 buah atom karbon tetangga terdekat. Kristal lain yang temasuk dalam struktur intan adalah kristal silikon dan germanium. Arah ikatan kovalen nampak jelas dalam ruang tetrahedral, misalnya untuk kristal germanium, lihat gambar 1.5. Dalam gambar ini, distribusi elektron pada daerah di skitar atom-atom yang berikatan kovalen diwakili oleh angka-angka pada kontur yang bersangkutan.

1.1.3. Ikatan logam

Logam dicirikan oleh tingginya konduktivitas listrik dan termal, banyak mengandung

(11)

logam. Sebagai contoh, perhatikan atom natrium (11Na) dengan konfigurasi elektron dalam

orbital atom sebagai berikut :

11Na : 1s2-2s2-2p6-3s1

Gambar 1.6 Struktur ikatan logam. Ikatan antar teras atom yang dikelilingi oleh elektron-elektron bebas

Orbital atom yang terisi penuh elektron bersama-sama inti atom membentuk teras atom (core). Dalam kristal logam, teras-teras atom saling berkaitan, dan elektron valensi menjadi elektron bebas (satu elektron untuk setiap teras Na). Dalam gambar ini, ikatan logam

dapat dipandang sebagai kumpulan teras atom dalam “lautan” elektron bebas. Lihat gambar 1.6.

1.1.4. Ikatan Van der Waals

(12)

ikatan. Lalu, gaya apakah yang membuat atom-atom tersebut dapat bertahan dalam menyusun kristal ?

Atom-atom gas inert dapat mengalami distorsi yang sangat kecil pada distribusi elektronnya dalam orbital kulit penuh yang berbentuk simetri bola. Meskipun kecil, penyimpangan ini cukup mengubah atom-atom menjadi dipol-dipol listrik. Interaksi antar dipol inilah yang menghasilkan gaya tarik-menarik yang disebut gaya Van der Waals. Gaya ini sangat lemah, dan energi interaksinya memiliki bentuk :

EVDW = -A/r6 (1.8.)

A tetapan dan r jarak antar atom. Untuk menjaga agar atom-atom berada dalam keseimbangan, pada jarak yang sangat dekat akan terjadi gaya tolak-menolak sebagai akibat berlakunya prinsip larangan pauli (lihat gambar ikatan ionik) yang menghasilkan energi tolak-menolak :

Erep = B/r12 (1.9.)

Dengan demikian bentuk lengkap energi interaksi dalam ikatan Van der Waals adalah :

E(r) = -A/r6 + B/r12 (1.10.)

Persamaan (1.10) dirumuskan lebih lanjut oleh Lennard-Jones dalam bentuk :

E(r) = 4ε[(σ/r)12 - (σ/r6] (1.11.)

dan disebut energi potensial Lennard-Jones. Besaran ε dan σ adalah parameter yang dapat ditentukan dari eksperimen. Selain pada gas-gas inert/mulia, ikatan Van der Waals juga ditentukan pada kristal molekul-molekul organik.

SOAL. Dapatkan bentuk ungkapan energi kohesi dari kristal Van der Waals dengan menggunakan potensial Lennard-Jones.

(13)

Karena hanya memiliki sebuah elektron, atom hidrogen hanya dapat berikatan dengan sebuah atom lain. Akan tetapi, keadaan tertentu, sering dijumpai bahwa atom hidrogen dapat pula berikatan cukup kuat dengan dua buah atom lain. Pada keadaan demikian terbentuklah ikatan hidrogen di antara atom-atom tersebut dan atom H dengan energi ikat 0,1 eV. Dalam ikatan hidrogen, atom H bersifat sebagai ion positif terutama bila berikatan dengan atom-atom yang elektronegatif, seperti F, O dan N.

Gambar 1.7. Susunan kristal es (H2O padat), setiap atom oksigen dikelilingi oleh 4 atom H.

Jarak antar atom 0-0 terdekat 2,76 angstrom dan antara atom-atom H-O 1,75 angstrom dan H-H 1,01 angstrom. Bandingkan dengan jarak antar atom H-O dalam molekul air 0,96 angstrom.

Ikatan hidrogen berperanan penting dalam interaksi antar molekul H2O, dan bersama-sama

interaksi elektrostatik dari dipol-dipol listrik (H2O molekul polar) berperanan dalam

pembentukan molekul air dan kristal es; perhatikan gambar 1.7.

1.1.6. Ikatan Campuran a. Ionik-kovalen

(14)

Bagi atom-atom yang kurang keelektropositifan dan keelektronegatifannya, transfer elektron kation ke anion kurang dari 100%. Sebagai contoh, logam-logam transisi (golongan B) memiliki energi ionisasi yang lebih besar daripada logam alkali, sehingga perak-halida (AgX) kurang ionik dibandingkan alkali-halida. Dapat didefinisikan :

% keionikan = 100

λ adalah parameter derajad keionikan yang di ungkapkan menurut persamaan :

ψ ψ= kov +λψion (1.13.)

ψ ψ, kov,danψion berturut-turut menyatakan fungsi gelombang elektron terikat, fungsi

gelombang ikatan kovalen dan fungsi gelombang ikatan ionik.

Tabel 1.2. Persentase keionikan beberapa kristal biner (mempunyai dua jenis atom).

(15)

ZnSe 63

ZnTe 61 MgO 84

MgS 79

InP 42 MgSe 79

InAS 36

InSb 32 NaCl 94

RbF 96

b. Kovalen - Van der Waals

(16)

Gambar 1.8. Kristal dengan ikatan campur kovalen-Van der Waals; a. Krsital telurium, ikatan antar atom di sepanjang rantai kovalen dan ikatan antar rantai Van der Waals, b. Kristal grafik c. Ikatan antar atom di setiap lapisan adalah kovalen, sedangkan

ikatan antar lapisan adalah Van der Waals.

1.2 SIMETRI DAN KISI

1.2.1 Simetri Translasi dan Basis.

Suatu kristal yang ideal terdiri dari satuan susunan yang identik dan berulang dalam ruang tiga dimensi yang tak terbatas. Satuan susunan tersebut, yang disebut basis, atau kumpulan molekul. Basis mengisi “wadah” (volume atau ruang) dengan ukuran tertentu, yang dapat ditranslasikan sepanjang jarak yang diskrit sehingga dapat mengisi seluruh ruang. Wadah yang bersangkutan disebut sel satuan (unit cell).

(17)

T = n1a + n2b + n3c (1.14.)

n1, n2 dan n3 adalah bilangan bulat, sedangkan a, b, dan c adalah vektor satuan dalam arah tiga

dimensi (sejajar dengan rusuk-rusuk persegi-empat dari sel satuan) sebagai ilustrasi, bila pada posisi r dan r1 dapat ditentukan atom-atom yang identik, ini berarti r1 memenuhi :

r1 = r + T (1.15.)

Dikatakan bahwa seperangkat vektor T mendefinisikan kisi ruang atau kisi Bravais. Kisi Bravais sebenarnya hanyalah merupakan konsep geometri belaka. Sedangkan kisi kristal yang sesungguhnya adalah gabungan antara kisi Bravais dan Basis.

1.2.2 Sel Satuan

Sel satuan dibangun oleh vektor basis a, b, dan c. Dalam ungkapan vektor-vektor ini, volume sel satuan dapat dituliskan sebagai perkalian vektor :

V = a x b . c (1.16.)

(18)

Gambar 1.10. Contoh operasi simetri : a. rotasi, b. rotasi dan refleksi, c. luncuran, dan d. ulir

Bentuk dan ukuran sel satuan serta distribusi atom di dalamnya menggambarkan karakteristik kristal. Pilihan bentuk dan ukuran sel satuan dalam dua-dimensi disajikan pada gambar 1.9. Setiap sel satuan memiliki vektor-vektor basis a dan b yang unik.

Titik-titik sebagai tempat kedudukan atom dalam kristal disebut titik kisi. Berdasarkan jumlah titik kisi dalam setiap sel satuan dapat dibedakan sel satuan primitif dan non-primitif. Sel satuan disebut promitif bilamana dalam sel tersebut hanya terdapat satu titik kisi, dan bila terdapat lebih dari satu titik kisi disebut sel satuan non.prmitif. Pada gambar 1.9., sel satuan E adalah non-primitif.

1.2.3. Simetri Kisi dan Sistem Kristal

(19)

a. Refleksi : Pencerminan pada bidang (simbul : m)

b. Rotasi : Perputaran pada sumbu tertentu dengan sudut sebesar (2π/n) (simbul n = 1, 2, 3, 4, dan 6)

c. Inversi : Pencerminan pada suatu titik tertentu (simbul : i) d. Luncuran/Glide : Operasi gabungan antara refleksi dan translasi e. Ulir/Screw : Operasi gabungan antara rotasi dan translasi.

Beberapa contoh operasi yang bersangkutan dapat dilihat pada gambar 1.10.

Bila kristal memiliki simetri rotasi, artinya kisi kristal tersebut dapat diputar terhadap

sumbu tertentu dengan sudut (2π/n) dan n = 1, 2, 3, 4 ... Akan tetapi, tidak semua operasi rotasi dapat dilakukan terutama bila dikaitkan dengan sifat simetri translasinya. Dengan syarat ini maka untuk kisi dua-dimensi rotasi yang mungkin hanyalah untuk n = 3, 4 dan 6 saja; perhatiakn gambar 1.11.

Dalam ruang tiga-dimensi, persyaratan simetri nampak lebih ketat, yang variasi panjang vektor a, b dan c serta besarnya

Gambar 1.11. Dalam dua-dimensi bentuk kisi yang memenuhi syarat periodik terbatas jumlahnya. Hanya segi 3, 4 dan 6 yang dapat digunakan, untuk segi 5 dan 8 tersisa bidang

(20)
(21)

Gambar 1.12.1. Sel satuan dengan kisi non-Bravais : 1. Intan, 2. Sengblende, 3. Wurtzit, 4.

(22)

Tabel 1.3. Sistem kristal, parameter kisi dan kisi Bravais

SISTEM KRISTAL PARAMETER KISI KISI BRAVAIS

Triklinik a ≠ b ≠ c

sudut (α, β, γ) yang dibentuk oleh vektor-vektor itu. Persyaratan panjang vektor dan besarnya sudut tersebut menghasilkan 14 kisi Bravais dalam ruang tiga-dimensi, baik primitif maupun non-promitif yang tertuang ke dalam 7 sistem kristal, seperti pada gambar 1.12. parameter kisi dan sistem kristal ditunjukkan pada tabel 1.3.

1.3 STRUKTUR KRISTAL 1.3.1. Struktur Kristal Sederhana

(23)

Satu jenis lagi struktur kristal yang paling sederhana, meskipun cukup jarang detemukan ialah

kubus sederhana (simple cubic = SC). Selain untuk HCP, jumlah atom pada setiap sel satuan bagi struktur kristal tersebut adalah :

- FCC memiliki 4 atom/sel satuan - BCC memiliki 2 atom/sel satuan - SC memiliki 1 atom/sel satuan

Koordinat atom-atom dalam setiap sel satuan dapat dinyatakan relatif terhadap panjang parameter kisinya (kubus : a = b = c = ao). Dengan cara ini koordinat atom-atom tersebut

adalah :

- FCC : (000), (1/2 1/2 0), (1/1 0 1/2), (0 1/2 1/2) - BCC : (000), (1/2 1/2 1/2)

- SC : (000)

Daftar kristal logam dan struktur kristal serta parameter kisinya disajikan pada tabel 1.4. Sedangkan beberapa jenis kristal non-logam lainnya diberikan pada gambar 1.12.

(24)
(25)

Gambar 1.13. Susunan mampat sel satuan heksagonal : a. heksagonal mampat (hcp), b. kubus mampat (ccp), c. tampak atas struktur hcp, perhatikan posisi lapisan A dan B.

Gambar 1.14. Faktor pemampatan atom untuk kubus bersusunan mampat : kubus pusat sisi (FCC), kubus pusat ruang (BBCC). Kubus sederhana (SC), dan struktur intan (diamond).

(26)

1.3.2. Susunan Mampat

Pada pembahasan yang lalu, atom-atom yang menempati titik kisi digambarkan sebagai sebuah titik. Bila atom-atom itu digambarkan sebagai sebuah bola yang saling bersinggungan dengan atom tetangga terdekatnya, akan didapat susunan mampat (packing structure). Khusus untuk satuan sel heksagonal terdapat dua jenis susunan mampat, yaitu

heksagonal mampat (HCP) dan kubus mampat (cubic close-packed = CCP), lihat gambar 1.13.

Untuk mengetahui besarnya penggunaan ruang sel oleh atom-atom didefinisikan faktor pemampatan atom (atomic packing factor = APF), yang menyatakan perbandingan antara volume ruang yang ditempati atom dan volume total sel satuan. Sebagai contoh, perhatikan gambar 1.14. Akan kita hitung APF untuk struktur SC (Bg. 1.14). Dari gambar tersebut, andaikan jejari atom R dan tetapan kisi (panjang rusuk) ao, jelaskan bahwa :

R = ao/2

Dalam setiap sel satuan SC terdapat sebuah atom, sehingga volume yang ditempati atom :

Vatom

(

)

Sedangkan volume sel satuan adalah :

Vsel = a0 3

Jadi faktor pemampatan atom :

APF = (Vatom/Vsel) x 100% = (π/6) x 100% = 52%

Hasil ini menunjukkan bahwa atom-atom dalam kristal SC menempati 52% dari volume kristal keseluruhan.

(27)

Gambar 1.15. Bidang kristal dapat digambarkan pada sel satuan.

(28)

1.3.3. Bidang dan Arah Kristal

Dalam setiap sel satuan dapat dibentuk bidang kristal. Bidang-bidang (khayal) tersebut akan memiliki arti bilamana bidang-bidang itu memuatatom-atom. Pada gambar 1.15, sebuah bidang digambarkan memotong sumbu koordinat sel satuan di x1 pada sumbu x, di y1 paeda

sumbu y dan di z1 pada sumbu z. Dengan cara serupa, ada banyak bidang yang dapat dibuat

pada sel satuan tersebut. Untuk membedakan antara bidang yang satu dengan yang lainnya, digunakan indeks bidang. Langkah-langkah penentuan indeks bidang :

„ Tentukan titik potong bidang dengan sumbu koordinat sel satuan, misalnya (x1, y1,

z1).

„ Bandingkan titik potong dengan tetapan kisi pada masing-masing sumbu, yaitu :

x1/a, y1/b, z1/c.

„ Ambil kebalikannya : a/x1, b/y1, c/z1. „ Definisikan : h = a/x1, k = b/y1, l = c/z1. „ Sederhanakan perbandingan h, k, l.

„ Indeks bidang tersebut ditulis : (hkl).

„ Bila nilai h, k, atau l ada yang negatif, maka indeks tersebut dituliskan dengan garis

di atasnya, misalnya : h k atau l, .

Indeks bidang (hkl) tersebut disebut indeks Miller. Beberapa bidang dan indeks diberikan pada gambar 1.16.

Khusus untuk sel satuan heksagonal digunakan empat buah indeks yaitu (hkil), dengan :

i = - (h + k)

Hal ini berhubungan erat dengan adanya empat buah tetapan kisi untuk sel satuan heksagonal,

yaitu :

(29)

Beberapa contoh bidang untuk kisi heksagonal diberikan pada gambar 1.17.

Gambar 1.17. Beberapa bidang pada sel satuan heksagonal dan indeknya.

Dalam sel satuan yang berbeda dapat dibuat bidang sejenis yang berindeks sama. Jika digambarkan, kedua bidang tersebut adalah sejajar. Dalam keadaan ini, kita dapat menentukan jarak antar bidang (yang indeks hkl-nya sama), dhkl. Dapat diturunkan secara geometri

sederhana bahwa untuk sel satuan kubus, jarak antar bidang (hkl) adalah :

dhkl =

{

}

a

h k l

0 2 2 2 12

+ + (1.17.)

Contoh, d100 = d001 = d010 = a0, dan d123 = 14a0 14 .

(30)

umumnya anisotropis (bergantung arah). Arah kristal dinyatakan dengan notasi : (uvw). Arah kristal (uvw) adalah arah yang tegak lurus terhadap bidang (hkl) bilamana u = h, v = k, dan w = l, misalnya, arah (001) tegak lurus terhadap bidang (001), dst.

1.4. DIFRAKSI KRISTAL

Pengkajian difraksi pada bagian ini bertujuan untuk menentukan/mempelajari struktur kristal secara eksperimen. Syarat agar terjadi difraksi pada kristal adalah penggunaan gelombang radiasi dengan panjang gelombang yang seorde dengan jarak antar atom dalam

kristal (dalam angstrom). Dengan mengetahui puncak-puncak difraksi dari gelombang yang dipantulkan oleh bidang kristal (lebih tepat atom-atom pada bidang), maka struktur kristal dari cuplikan yang bersangkutan dapat dipelajari atau mungkin dapat di-rekonstruksi.

Sumber radiasi yang dapat digunakan untuk keperluan difraksi kristal meliputi : sinar-x, berkas neutron termal, dan berkas elektron. Difraksi dapat terjadi bilamana panjang gelombang berkas radiasinya sekitar 1 angstrom.

1.4.1. Sumber Radiasi a. Sinar-x

Radiasi sinar-x dibangkitkan oleh tabung sinar-x. Spektrum keseluruhan dari sinar-x bersifat polikhromatis (spektrum malar dan karakteristik). Untuk keperluan difraksi digunakan

spektrum karakteristik dengan intensitas yang terkuat, biasanya spektrum Kα. Selanjutnya,

untuk menjamin agar berkas sinar-x benar-benar monokhromatis diperlukan filter. Bahan filter

(31)

Tabel 1.5. Jenis-jenis bahan filter sesuai dengan spektrum Kα

Berkas neutron dihasilkan dari reaksi inti, yang dapat berlangsung di dalam reaktor atom (melalui reaksi fisi) dan dalam generator neutron. Dalam reaktor atom, reaksi fisi diawali dengan penembakan neutron termal yang diarahkan pada inti berat, misal uranium (92U235), sehingga terjadi pembelahan inti (fisi) yang disertai dengan pemancaran neutron

(dalam jumlah yang banyak) dan pembebasan energi sampai 200 MeV; menurut reaksi :

n + 92U235 X + Y + an + 200 MeV

neutron termal

inti hasil sejumlah neutron fisi (tak setabil)

Dalam generator neutron, berkas neutron dapat dihasilkan melalui penembakan partikel cepat ke arah inti atom, dan memberikan hasil reaksi berupa neutron dan inti hasil reaksi. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut :

a + A B + n

partikel inti semula inti hasil neutron

atau dapat dituliskan dengan notasi : a(A, B)n. Salah satu contoh reaksi tersebut misalnya :

2He4 (4Be9, 6C12)0n1.

(32)

{

}

dengan λ panjang gelombang neutron (de Broglie), h tetapan planck dan p momentum neutron, serta E enrgi neutron dalam eV. Agar panjang gelombang neutron sekitar 1 angstrom, maka menurut persamaan di atas energi neutron haruslah sekitar 0,025 eV (termasuk neutron termal). Adapun klasifikasi neutron menurut besarnya energi adalah :

- neutron termal : berenergi 0,025 eV

- neutron lambat : berenergi 0-1 keV

- neutron menengah : berenergi 1-500 keV

- neutron cepat : berenergi 0,5-10 MeV

- neutron ultra-cepat : berenergi >10 MeV

Untuk menurunkan energi neutron perlu langkah termalisasi, dengan cara melewatkan berkas

neutron pada moderator (air, grafit, air berat : D2O). Selanjutnya, neutron termal (λ sekitar 1

angstrom) masih memerlukan upaya penyelesaian agar berkas neutron bersifat monokhromatis

(tepatnya monoergis), dan sebagai monokhomator umumnya dipakai kristal grafit.

C. Elektron

Berkas elektron dihasilkan dari bedil elektron (elektron gun).. Pemilihan panjang gelombang elektron dilakukan dengan mengatur tegangan pemercepatnya (energi elektron), menurut persamaan :

(33)

diserap oleh bahan, sehingga daya tembusnya kurang. Dengan demikian, difraksi elektron hanya memberikan informasi tentang permukaan bahan saja.

1.4.2. Difraksi Sinar-X

Di antara sumber-sumber radiasi yang dapat dipergunakan untuk difraksi kristal, berkas sinar-x adalah yang paling layak ditinjau dari kesederhanaan teknik pembangkitnya serta maksimalnya hasil difraksi dalam memberikan informasi tentang struktur kristal. Tinjau dua berkas sinar-x yang mengena atom-atom pada bidang kristal (hkl) pada gambar 1.18. Berkas sinar pertama dan kedua memiliki beda lintasan sebesar (2d sin θ) untuk sampai pada titik pengamatan. Agar terjadi interferensi yang konstruktif (saling menguatkan), maka beda lintasan yang bersangkutan haruslah merupakan kelipatan bulat dari panjang gelombang sinar-x tersebut. Ini berarti :

2d sin θ = nλ ; n = 1, 2, 3, ... (1.20.)

yang disebut syarat Bragg. d jarak antar bidang (hkl) yang sama, θ sudut difraksi, dan λ panjang gelombang sinar-x yang digunakan.

(34)

Gambar 1.18. Difraksi sinar-x : a. berkas sinar-x dipantulkan oleh bidang (hkl) yang berjarak d

(35)

Dengan demikian, pengukuran yang bersangkutan menghasilkan data intesitas berkas sinar

hambur (I) dan sudut difraksi (2θ). Perhatikan gambar 1.18b dan 1.18c. Dari data yang dihasilkan, dapat dihitung jarak antar bidang dari bidang-bidang yang mendifraksikan berkas sinar-x. Dengan demikian, melalui difraksi sinar-x dapat diketahui beberapa parameter kisi dan struktur kristal dari cuplikan yang diamati.

1.4.3. Difraksi dan Kisi Balik

Sel satuan kristal dibagun oleh vektor-vektor basis a, b dan c. Untuk selanjutnya, kisi dalam ruang (real) tiga dimensi tersebut disebut kisi langsung (direct-lattice). Sebaliknya, dapat didefinisikan kisi balik (reciprocol-lattice) yang dibangun oleh vektor-vektor basis dalam ruang balik a*, b*, dan c*, menurut hubungan :

a* = (2π/V) (b x c)

b* = (2π/V) (c x a) (1.21.) c* = (2π/V) (a x b)

dengan :

V = a.(b x c)

yaitu volume sel satuan. Sifat-sifat selanjutnya dari vektor basis yang bersangkutan :

a*.a = 2π a*.b = a*.c = 0

b*.b = 2π b*.a = b*.c = 0 (1.22.) c*.c = 2π c*.a = c*.b = 0

Vektor dalam kisi balik Ghkl (semacam vektor translasi T dalam kisi langsung) dinyatakan

sebagai berikut :

(36)
(37)

Berhubungan dengan bidang (hkl) dalam kisi langsung dengan sifat sebagai berikut :

(i) Ghkl tegak lurus bidang (hkl)

(ii) dhkl =

Ghkl (1.24.)

Kembali pada difraksi kristal, pada gambar 1.19a dapat diperhatikan bahwa vektor hamburan s adalah :

s = k - k0 (1.25.)

dengan k dan ko berturut-turut adalah vektor gelombang hambur dan vektor gelombang

datang. Besarnya s (Gg. 1.19b) adalah :

s = s = 2k sin θ = 2 k sin θ (1.26.)

karena hamburan dianggap elastik : k = ko. Bila dinyatakan dalam ungkapan vektor normal

(tegak lurus) bidang (hkl), Ghkl, maka vektor hamburan memiliki bentuk :

s = 2k sin θ Ghkl (1.27.)

dan dengan memanfaatkan sifat (ii) pada persamaan (1.24), maka vektor hamburan s selanjutnya dapat ditulis :

Dengan mengingat kembali syarat Bragg : 2d sin θ = λ, akibatnya didapatkan :

s = Ghkl

(1.30)

(38)

1.5. CACAT KRISTAL

Sejauh yang telah diuraikan pada bagian-bagian terdahulu, kristal terdiri dari susunan atom yang teratur dan periodik. Tetapi, ternyata tidak ada kristal yang sempurna. Setiap kristal mengandung cacat (defect). Cacat kristal ini besar kemungkinannya untuk terjadi selama proses pertumbuhan kristal, proses pemurnian atau proses laku (treatment), dan bahkan seringkali cacat kristal sengaja diciptakan untuk menghasilkan sifat-sifat tertentu. Cacat kristal dapat dibedakan menjadi : cacat titik, cacat garis, cacat bidang dan cacat ruang.

1.5.1. Cacat Titik

Cacat titik adalah ketaksempurnaan kristal yang terjadi pada suatu titik kisi tertentu. Cacat tersebut dapat berupa :

- kekosongan (vacancy)

- sisipan (interstitial)

- takmurnian (impurity)

- cacat Schottky

- cacat Frenkel

Struktur cacat yang bersangkutan diberikan pada gambar 1.20.

Kekosongan adalah hilangnya sebuah atom yang seharusnya menempati suatu titik kisi. Sisipan adalah “salah posisi” dari sebuah atom yang menempati bukan titik kisi. Sedangkan takmurnian adalah hadirnya atom “asing” (yang berbeda dari atom mayoritas) dan menempati suatu titik kisi.

(39)

Gambar 1.20. Formasi cacat titik : a. kosongan, dan b. sisipan

Gambar 1.21. Formasi cacat garis : a. dislokasi tepi, dan b. dislokasi ulir.

1.5.2. cacat Garis

(40)

1.5.3. Cacat Bidang

Pada bahan polikristal, zat padat tersusun oleh kristal-kristal kecil yang disebut butir (grain). Setiap butir dapat berukuran mulai dari nanometer hingga mikrometer. Pada setiap butir atom-atom tersusun pada arah tertentu, dan arah keteraturan atom ini bervariasi dari satu butir ke butir lain. Pada daerah antar butir, terjadi transisi arah keteraturan atom, dan ini menimbulkan cacat pada daerah batas butir, sehingga disebut cacat batas butir. Lihat gambar 1.22.

1.5.4. cacat Ruang

Cacat ruang dapat berupa pori-pori (voids) atau salah susun (stacking fault). Pada kristal kubus mampat (CCP), atom-atom membentuk susunan berlapis ... A-B-C-A-B-C-A-B-C-... Apabila salah satu lapisan hilang (A, B atau C) terbentuklah cacat salah susun, lihat gambar 1.23.

Gambar

Tabel 1.1 Jenis dan jarak ion-ion tetangga dari ion tinjauan Na+ dalam sel satuan kristal
Gambar 1.1  Empat tampilan kisi sel satuan garam meja (NaCl) : a. Sel satuan secara umum,
Gambar 1.2.
Gambar 1.3. Distribusi rapat elektron pada bidang dasar kristal NaCl. Konsentrasi relatif
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Sehingga apabila atom atau sekumpulan atom tersebut menempati titik&titik kisi maka akan membentuk suatu struktur Kristal#Kisi ruang merupakan suatu susunan %ang

Dari hasil karakterisasi atau analisis kualitatif pola difraksi sinar-X menunjukkan bahwa pendopingan 0,2 wt.% Ti tidak mengubah struktur kristal CaMnO

Sistem kristal ini memiliki pusat simetri yang merupakan titik pertemuanantara bidang dan sumbu simetri yang ada pada sistem kristal tersebut.Sistem kristal ini juga mempunyai 3

parameter yang perlu dilakukan dalam proses interpretasi model struktur kristal dari difraktogram hasil sintesis, terutama untuk difraktogram dengan puncak difraksi

Penghalusan pola difraksi dilakukan pertama sekali dengan menggunakan prosedur Lebail (1988), dengan memperkirakan struktur kristal dari fase yang mungkin ada dan memberi

2.Hitung kecepatan kelompok untuk sebuah gelombang pada kristal monoatomik dan gelombang pada kristal monoatomik dan diatomik. 3.Tentukan frekuensi/energi untuk

Penghalusan pola difraksi dilakukan pertama sekali dengan menggunakan prosedur Lebail (1988), dengan memperkirakan struktur kristal dari fase yang mungkin ada dan memberi

Disebut pendekatan gelombang pendek apabila gelombang yang digunakan memiliki panjang gelombang yang lebih kecil dari pada jarak antar atom.. Dalam keadaan ini, gelombang