BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fundasi primer bagi perkembangan anak, juga memberikan pengaruh yang menentukan bagi pembentukan watak dan kepribadian anak, yaitu memberikan stempel yang tidak bisa dihapuskan bagi kepribadian anak. Maka baik-buruknya keluarga ini memberikan dampak yang positif atau negatif pada pertumbuhan anak menuju kepada kedewasaannya.
Pola tingkah laku, fikiran, dan sugesti ayah ibu dapat mencetak pola yang hampir sama pada anggota-anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu tradisi, kebiasaan sehari-hari, sikap hidup, cara berfikir, dan filsafat hidup keluarga itu sangat besar sekali pengaruhnya dalam proses membentuk tingkah laku dan sikap anggota keluarga, terutama anak-anak. Sebab tingkah laku orang tua itu mudah sekali menular kepada anak-anak puber dan adolesens yang jiwanya belum stabil, dan tengah mengalami banyak gejolak batin.
Kualitas rumah tangga atau kehidupan keluarga, jelas memainkan peranan penting sekali dalam membentuk kepribadian anak menuju pada keseimbangan batin dan kesehatan mental atau justru membuat mental anak-anak yang masih muda in jadi tidak waras.
Sebabnya ialah antara lain sebagai berikut:
1) Karena ayah dan ibu masing-masinng terlalu pusing mengurusi permasalahan dan konflik-konflik sendiri yang berlarut-larut, maka anak-anak kurang terurus, tidak mendapatkan perhatian (pengabaian edukatif).
3) Anak-anak tidak pernah mendapatkan latihan fisik dan mental yang sangat diperlukan bagi hidup susila/etis, tidak mengenal tanggung jawab dan disiplin (pengabaian moril).
Sebagai akibat dari ketiga jenis pengabaian tersebut diatas, anak sering menjadi risau, bingung, merasa tersudut atau ditinggalkan. Di kemudian hari anak-anak ini mencari kompensasi bagi kerisauan hatinya itu di luar lingkungan keluarga. Lalu masuk satu gang immoril atau kumpulan anak-anak kriminil, dan menderita macam-macam gangguan mental.
Anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih-sayang dari orang tua itu selalu merasa tidak aman, dan merasa kehilangan tempat berpijak atau tempat berlindung. Di kemudian hari mereka akan mengembangkan reaksi kompensatoris berbentuk dendam dan sikap bermusuh terhadap dunia luar. Anak-anak ini mulai “menghilang” dari rumah, lebih suka bergentayangan di luar lingkungan keluarga sendiri.
Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sedikit sekali atau tanpa mendapatkan supervisi/pengawasan dan latihan disiplin yang teratur, jelas tidak akan sanggup menginternalisasikan dalam pribadi sendiri norma-norma hidup moral dan susila. Bahkan banyak dari mereka menjadi kebal terhadap nilai kesusilaan (jadi a-susila atau immoril), sebaliknya mereka menjadi lebih peka terhadap pengaruh-pengaruh jahat dari luar. Sehingga untuk selama-lamanya anak-anak muda dan orang dewasa macam itu tidak akan pernah mampu mengembangkan disiplin diri dan pengendalian diri.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga?
2. Ada berapa macam Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga?
3. Mengapa diperlukan Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga?
4. Bagaimana Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga? 5. Bagaimana pengembangan Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental
dalam Keluarga?
6. Bagaimana peranan dalam Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga?
7. Bagaimana integrasi islam mengenai Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga?
1.3 Manfaat dan Tujuan Penulisan
1. Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Kesehatan Mental
2. Untuk memenuhi Apa pengertian dari Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga.
3. Untuk memenuhi Ada berapa macam Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga.
4. Untuk memenuhi Bagaimana Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga.
5. Untuk memenuhi Bagaimana Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga.
7. Untuk memenuhi Bagaimana peranan dalam Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga 2.1.1 Pengertian Strategi Pengelolahan Kesehatan Mental
Dalam mendefinisikan kesehatan mental, sangat dipengaruhi oleh kultur dimana seseorang tersebut tinggal. Apa yang boleh dilakukan dalam suatu budaya tertentu, bisa saja menjadi hal yang aneh dan tidak normal dalam budaya lain, dan demikian pula sebaliknya (Sias, 2006). Menurut Pieper dan Uden (2006), kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya. Notosoedirjo dan Latipun (2005), mengatakan bahwa terdapat banyak cara dalam mendefenisikan kesehatan mental (mental hygene) yaitu: (1) karena tidak mengalami gangguan mental, (2) tidak jatuh sakit akibat stessor, (3) sesuai dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya, dan (4) tumbuh dan berkembang secara positif.
2.1.2 Pengertian Keluarga
emosional cukup kaya, ketika dewasa akan menjadi individu yang peduli (Brazelton dan Greenspan, 2000).
Ada empat fungsi keluarga sebagai agen pembelajaran kepedulian menurut Swick (2006) :
1. Keluarga merupakan ekologi yang dapat dipercaya, didalamnya dibutuhkan tempat yang aman, nyaman, penuh cinta, dan menganggap anak-anak bermakna agar mereka dapat mengembangkan relasi positif.
2. Keluarga merupakan tempat dimana anggota keluarga saling melayani dan membantu, sehingga anak-anak mendapati dirinya dipedulikan dan mendapat kesempatan untuk mempedulikan orang lain.
3. Keluarga mengajari anak untuk membantu orang lain, dengan begitu anak-anak belajar mengenai: identitas kepedulian, menyadari pentingnya memberikan bantuan kepada orang lain, serta mengembangkan pemahaman baru mengenai orang lain dan bakat kepedulian yang mereka miliki.
4. Keluarga merupakan alat untuk memecahkan permasalahan dengan penuh kedamaian.
KELUARGA SEBAGAI DASAR KETAHANAN. Keluarga menjadi sumber utama bagi: anak untuk menyediakan dasar ketahanan anak dalam masyarakat, suami istri saling bergantung dalam hal companionship, serta anak-anak karena membutuhkan kasih sayang dan pengasuhan dari orangtua. Fungsi dasar keluarga adalah reproduksi, sosialisasi, pendidikan, penugasan peran-peran sosial, dukungan ekonomi, serta dukungan emosi.
MEMBANTU ANAK DAN REMAJA. Ada beberapa langkah dalam membantu anak dan remaja mengatasi permasalahannya, yaitu:
1. Jalin hubungan yang dekat & terbuka dengan anak atau remaja 2. Identifikasi, perjelas, dan fokuskan pada kebutuhan / masalah 3. Memahami perasaan anak-anak / remaja
BERBICARA PADA ANAK MENGENAI BENCANA. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penanganan anak-anak yang mengalami bencana, antara lain:
a. Jangan beranggapan bahwa anak tidak mengetahui tentang bencana yang terjadi.
b. Dengarkan apa yang ingin dikatakan anak tentang bencana, karena ini adalah kesempatan untuk mengetahui apakah ada kesalahpahaman sehingga dapat segera diberikan penjelasan serta dukungan yang tepat.
2.2 Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga
Keluarga mempunyai peranan penting, karena dipandang sebagai sumber pertama dalam proses sosialisasi (Uichol Kim & John W. Berry). Keluarga juga berfungsi sebagai transmitter budaya, atau mediator sosial budaya anak (Hurlock, 1956; dan Pervin, 1970).
Keluarga juga dipandang sebagai instansi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya, dan pengembangan ras manusia. Jika mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui perawatan, dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-bilogis, maupun sosiopsikologisnya.
Keluarga yang hubungan antar anggotanya tidak harmonis, penuh konflik, atau gap communication, dapat mengembangkan masalah-masalah kesehatan mental (mental illness) bagi anak.
Mengkaji lebih jauh tentang fungsi keluarga ini, dapat dikemukakan bahwa secara sosiopsikologis, keluarga berfungsi sebagai :
a. Pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya b. Sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis c. Sumber kasih sayang dan penerimaan
d. Model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang baik
e. Pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial di anggap tepat
f. Pembantu anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan
g. Pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan, motor, verbal, dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri
h. Stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat
i. Pembimbing dalam mengembangkan aspirasi
j. Sumber persahabatan (teman bermain) anak, sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah, atau apabila persahabatan di luar rumah tidak memungkinkan.
Sedangkan dari sudut pandang sosiologis, fungsi keluarga itu dapat diklasifikasikan ke dalam fungsi-fungsi biologis, ekonomis, edukasi, sosialisasi, proteksi, rekreasi, dan religius (M.I. Soelaeman, 1978; Sudardja Adiwikarta, 1988; dan Melly SS Rifai, dalam Jalaluddin Rahmat dan Muhtar G., 1994).
2.2.1 Strategi Pendekatan Kesehatan Keluarga sebagai Kontek (Family as Context)
Berikut ini merupakan relasional yang menunjang terhadap kesinambungan pelayanan kesehatan dengan keluarga sebagai kontek, yakni :
- Fokus pelayanan keperawatan: individu.
- Individu atau anggota keluarga akan dikaji dan diintervensi. - Keluarga akan dilibatkan dalam berbagai kesempatan.
2.2.2 Strategi Pendekatan Kesehatan Keluarga sebagai Klien (Family as Client)
Berikut ini merupakan relasional yang menunjang terhadap kesinambungan pelayanan kesehatan dengan keluarga sebagai klien, yakni:
- Perhatian utama pada keluarga sedangkan individu kedua
- Keluarga dilihat sebagai penjumlahan dari individu-individu anggota keluarga
- Perhatian dikonsentrasikan bagaimana kesehatan individu berdampak pada keluarga secara keseluruhan
2.2.3 Strategi Pendekatan Kesehatan Keluarga sebagai Sistem (Family as System)
Berikut ini merupakan relasional yang menunjang terhadap kesinambungan pelayanan kesehatan dengan keluarga sebagai sistem, yakni:
- Fokus pada keluarga sebagai klien dan keluarga adalah sistem yang berinteraksi
- Pendekatan pada individu sebagai anggota keluarga dan keluarga secara bersamaan
- Interaksi antara anggota keluarga menjadi target intervensi keperawatan (seperti: hubungan orang tua dan anak, antara hirarki orang tua)
2.2.4 Strategi Pendekatan Kesehatan Keluarga sebagai Komponen Sosial (Family as Component of Society)
Berikut ini merupakan relasional yang menunjang terhadap kesinambungan pelayanan kesehatan dengan keluarga sebagai komponen sosial, yakni:
spiritual, ekonomi, dan kesehatan.
- Kelurga adalah unit utama dan kumpulan keluarga akan membentuk sistem yang lebih besar yaitu masyarakat
- Keluarga berinteraksi dengan institusi lain untuk menerima, bertukar dan saling memberi layanan.
2.2.5 Lima Pendekatan Promkes (Similarly, Ewles dan Simnett (1999)): 1. Pendekatan medis (preventif)
Pendekatan ini dikonsepkan pada keberadaan penyakit. Hal ini digunakan untuk mencegah penyakit dan kematian imunisasi. Kegiatan : melalui kampanye media dan edukasi
Fokus : individu membuat keputusan untuk tetap sehat dengan mencegah penyakit
2. Pendekatan Perilaku
Pendekatan ini bertujuan untuk mendorong masyarakat agar mengadopsi perilaku kesehatan yang yang digunakan dalam pemeliharaan kesehatan. Pendekatan ini membuat masyarakat bebas membuat pilihan tentang perubahan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan.
Kegiatan : komunikasi dan konseling 3. Pendekatan edukasi
Pendekatan ini memfasilitasi proses belajar melalui dialog dan diskusi dengan mengintegrasikan kehidupan dengan model pendidikan
Taktik yang digunakan ialah : Health Education Authority (HEA), seperti meningkatkan kepedulian resiko merokok pada ibu hamil. 4. Pendekatan perubahan sosial
Pendekatan ini harus menjamin bahwa sehat lebih mudah dicapai dan mendukung perhatian kesehatan untuk semua.
Fokus : tidak merubah perilaku individu tetapi pada pengaruh positif kesehatan masyarakat.
Pendekatan ini berdasar pada hubungan seimbang antara profesi kesehatan dengan klien. Profesi kesehatan memberi bimbingan, dukungan dan dorongan agar klien dapat membuat pilihan
2.3 Pengembangan Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya untuk mengembangkan kepribadian anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang, dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.
Adanya perbedaan kebiasaan, keinginan, dan sikap-sikap antara suami dan istri. Apabila suami dan istri kurang memiliki sikap saling memahami dan menerima, maka hal tersebut dapat menjadi faktor pemicu pertengkaran atau perselisihan, sehingga iklim kehidupan keluarga dirasakan tidak harmonis (sunda : awet rajet).
a. Penghasilan suami yang kurang mencukupi kebutuhan keluarga. b. Minimnya biaya pendidikan dan kesehatan bagi anak.
c. Penyakit salah seorang anggota keluarga yang tidak sembuh-sembuh dan memerlukan perawatan yang cukup mahal.
d. Anak berperilaku nakal.
e. Terjadinya perceraian yang dapat menyebabkan dampak yang kurang baik terhadap kehidupan keluarga, terutama terhadap nasib masa depan anak.
f. Suami atau istri berselingkuh.
g. Adanya sikap saling mendominasi antara suami dan istri.
h. Salah seorang anggota keluarga mengalami gangguan/sakit jiwa.
Pada uraian berikut akan dibahas tentang pengaruh keluarga terhadap perkembangan kepribadian atau kesehatan mental anak (remaja), yaitu menyangkut keberfungsian, dan perlakuan keluarga.
mengalami perubahan yang beragam. Ada keluarga yang semakin kokoh dalam menerapkan fungsinya (fungsional-normal), namun ada juga keluarga yang mengalami keretakan atau ketidakharmonisan (disfungsional-tidak normal).
Pada uraian berikut akan dibahas tentang pengaruh keluarga terhadap perkembangan kepribadian atau kesehatan mental anak (remaja), yaitu menyangkut keberfungsian, dan perlakuan keluarga.
1. Keberfungsian Keluarga
Seiring dengan perjalanan hidupnya yang diwarnai oleh faktor internal (kondisi fisik, psikis, dan moralitas para anggota keluarga), dan faktor eksternal (perubahan sosial budaya), maka maisng-masing keluarga mengalami perubahan yang beragam. Ada keluarga yang semakin kokoh dalam menerapkan fungsinya (fungsional-normal), namun ada juga keluarga yang mengalami keretakan atau ketidakharmonisan (disfungsional-tidak normal).
Stinnet dan John de Frain (Didin Hafidhuddin, dalam Iqbal S., dan M.Solihat, 1996) mengemukan tentang upaya untuk menciptakan keluarga yang sehat dan bahagia (happy and healthy family), yaitu sebagai berikut. a. Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga
b. Tersedianya waktu bersama dalam keluarga
c. Terciptanya komunikasi yang baik antar anggota keluarga d. Saling menghargai antar sesama anggota keluarga
e. Keluarga sebagai ikatan sosial terkecil dalam masyarakat hendaknya kuat, erat, dan tidak longgar
f. Apabila dalam keluarga terjadi krisis, utamakan keutuhan rumah tangga di atas kepentingan pribadi (egoisme) masing-masing, dan selesaikan secara konstruktif-positif, bahkan kalau perlu dengan bantuan seorang profesional (marriage counselor).
kesempatan untuk menyatakan keinginan, (c) penuh kasih sayang, (d) penerapan disiplin yang tidak keras, (e) ada kesempatan untuk bersikap mandiri dalam berpikir, merasa, dan berperilaku, (f) saling menghormati, menghargai (mutual respect) di antara orang tua dan anak, (g) ada konferensi (musyawarah) keluarga dalam memecahkan masalah atau kesulitan, (h) menjalin kebersamaan (kerjasama) antara orang tua dan anak, (I) orang tua memiliki emosi yang stabil, (j) berkecukupan dalam bidang ekonomi, dan (k) mengamalkan nilai-nilai moral dan agama.
Apabila suatu keluarga tidak mampu menerapkan atau melaksanakan fungsi-fungsi seperti telah dipaparkan di atas, maka keluarga tersebut berarti telah mengalami stagnasi (kemandegan) atau disfungsi, yang pada gilirannya akan merusak kekokohan konstelasi keluarga tersebut (khususnya terhadap perkembangan kepribadian anak).
Organisasi Wanita se-Asia Pasifik (Pan Pacific South East Asia Women’s Association, PPSEAWA) dalam konferensinya yang ke 20 di Kuala Lumpur Malaysia menyimpulkan bahwa “Kerusakan-kerusakan yang terjadi dalam keluarga di abad ke 20, semakin memburuk. Percraian dan perpisahan, nyata-nyata menempati posisi tinggi. Malah diperkirakan sekitar 40-50 % generasi mendatang akan menjadi keluarga yang broken home, akibat perceraian orang tuanya. Atau mereka yang hanya mempunyai orang tua tunggal (single parent). Oleh karena itu, tidak perlu kaget apabila kenakalan remaja, kekerasan dan tindak kriminal yang dilakukan anak-anak muda akan semakin mewabah. Disamping itu, ketergantungan para pemuda pada obat-obat terlarang, tidak akan dapat dikontrol lagi, di sebagian besar negara di dunia ini (Suara Pembaharuan : 27 November 1997).
dan utuh (keluarga sakinah). Adapun ciri-ciri keluarga yang mengalami disfungsi itu adalah (1) kematian salah satu atau kedua orang tua, (2) kedua orang tua berpisah atau bercerai (divorce), (3) hubungan kedua orang tua tidak baik (poor marriage), (4) hubungan orang tua dengan anak tidak baik (poor parent-child realtionship),(5) suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan (heigh tension and low warmth), (6) orang tua sibuk dan jarang di rumah (parent’s absence), (7) salah satu atau kedua orang tua mempunyai kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan (personality or psychological disorder).
Salah satu ciri disfungsi keluarga di atas, adalah perceraian orang tua. Perceraian ini ternyata memberikan dampak yang kurang baik kepada perkembangan kepribadian anak. Remaja yang orang tuanya bercerai, dia akan mengalami kebingungan dalam mengambil keputusan, apakah akan mengikuti ibu atau ayah; dia cenderung mengalami kefrustrasian, karena kebutuhan dasarnya seperti : persaan ingin disayangi, dilindungi rasa amannya, dan dihargai telah tereduksi bersamaan dengan peristiwa perceraian orang tuanya.
Keadaan keluarga yang tidak harmonis, tidak stabil, atau berantakan (broken home), merupakan faktor penentu bagi berkembangnya kepribadian anak yang tidak sehat.
Berkaitan dengan masalah disfungsional keluarga di atas, Stephen R. Covey (1997 : 17, 20-21, dan 390) mengemukakan bahwa sekitar 30 tahun yang lalu telah terjadi perubahan situasi keluarga yang sangat kuat dan dramatis, yaitu dengan terjadinya peristiwa berikut :
a. Angka kelahiran anak yang tidak sah meningkat menjadi lebih dari 400 persen;
b. Persentase kepala keluarga oleh “orang tua tunggal” (single parent) telah terjadi berlipat ganda;
c. Angka perceraian telah terjadi berlipat ganda, banyak pernikahan yang terjadi berakhir dengan perceraian;
e. Skor tes bakat skolastik para siswa turun sekitar 73 butir;
f. Masalah nomor satu para wanita Amerika pada saat ini adalah tindakan kekerasan (pemerkosaan). Sekitar empat juta wanita telah mendapat perlakuan kasar dari partnernya;
g. Seperempat remaja yang melakukan hubungan seksual telah terkena penyakit kelamin, sebelum menamtkan sekolahnya di SLTA.
Untuk merespon tentang berbagai masalah yang mengganggu keharmonisan keluarga, Covey telah mengajukan suatu “resep” yang dia namakan “The 7 Habits of Highly Effective Families”.
Yang dimaksud dengan “effective family” adalah “a beautiful family culture” (budaya keluarga yang indah), yaitu sebagai :
1. Semangat keluarga, perasaan, kimia, iklim, atau atmosfir keluarga; 2. Karakter keluarga, kedalaman kualitas, dan kematangan hubungan, 3. Cara para anggota keluarga dalam berhubungan antara satu sama
lainnya, dan bagaimana mereka dapat merasakan satu sama lainnya, 4. Spirit atau perasaan yang mengembangkan pola tingkah laku kolektif
yang menandai interaksi keluarga.
“Culture” keluarga dapat diartikan sebagai peralihan orientasi dari “me” ke “we”. Keluarga sendiri merupakan suatu pengalaman “we”, yaitu mentalitas “we”. Peralihan “me” ke “we” berarti peralihan dari independensi ke interdependensi (yang dipandang sebagai salah satu tantangan dan aspek yang sulit dalam kehidupan keluarga). Covey mengatakan “Jika kebahagiaan anda muncul berasal dari kebahagiaan orang lain, anda tahu bahwa anda telah beralih dari “me” ke “we”.
Keindahan budaya keluarga merupakan (1) budaya “we”, sebagai suatu jenis kebudayaan yang memungkinkan anda bekerja bersama untuk mereaksi dan bergerak ke arah nasib orang lain, dan memberikan kontribusi; (2) juga memungkinkan anda memiliki kekuatan untuk menolak cuaca yang bergelora di luar kapal keluarga.
Adapun ke 7 kebiasaan keluarga yang efektif itu adalah :
1. Kebiasaan Pertama : “Be Proactive” (menjadi agen pembaharu dalam keluarga).
Keluarga dan para anggotanya bertanggungjawab terhadap pilihannya sendiri, dan mempunyai kebebasan untuk memilih berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai daripada berdasarkan kondisi atau suasana hati. Mereka mengembangkan dan menggunakan empat anugrah kemanusiaan yang unik (kesadaran diri, kata hati, imajinasi, dan independensi), dan mengambil pendekatan untuk menciptakan perubahan. Mereka memilih, bukan untuk menjadi korban, bersifat reaktif, atau mencela yang lain.
2. Kebiasaan Kedua : “Begin with The End in Mind”
Keluarga membangun masa depannya sendiri melalui upaya menciptakan visi mental dan tujuan untuk berbagai persoalan, besar atau kecil. Mereka tidak hanya hidup dari hari ke hari tanpa tujuan yang jelas dalam pikirannya. Bentuk kreasi mental yang paling tinggi adalah pernyataan misi pernikahan atau keluarga.
3. Kebiasaan Ketiga : “Put First Tings First “ (menjadikan keluarga sebagai prioritas)
Keluarga mengorganisasikan dan melaksanakan prioritas-prioritasnya yang sangat penting, seperti yang diekspresikan dalam pernyataan misi pribadi, pernikahan, dan keluarganya. Mereka mempunyai waktu untuk setiap minggunya, dan secara reguler satu sama lainnya sudah mengontrak (menjanjikan) waktu tersebut.
yaitu dengan budaya “we”, bukan “me’, dan mengembangkan kesempatan “win-win”. Mereka tidak berpikir secara “selfishly” (“win-lose” = menang-kalah), atau seperti martyr (“lose-win” = kalah-menang).
5. Kebiasaan Kelima : “Seek first to Understand... Then to be Understood” (Memecahkan masalah keluarga melalui komunikasi yang empatik) Para anggota keluarga pertama kali mendengarkan secara intensif untuk memahami pikiran dan perasaan anggota lainnya, sehingga mampu berkomunikasi secara efektif terhadap pikiran dan perasaannya sendiri. Melalui pemahaman, mereka membangun hubungan kepercayaan dan kasih sayang yangmendalam.
6. Kebiasaan Ke enam : “Syner Gize”
Para anggota keluarga mengembangkan kekuatan-kekuatan keluarga dan para anggotanya, melalui : sikap menghormati dan penilaian terhadap perbedaan masing-masing, dalam hal ini keutuhan menjadi lebih penting dari sejumlah bagian-bagian. Mereka membangun saling memecahkan masalah dan kesempatan untuk memahami budaya keluarga. Mereka memelihara spirit keluarga dalam kasih sayang, belajar, dan saling memberi kontribusi.
7. Kebiasaan Ketujuh : “Sharpen the saw “ (Memperuncing gergaji : Memperbaharui spirit Keluarga melalui Tradisi)
Keluarga mengembangkan efektivitasnya melalui pembaharuan pribadi dan keluarga secara reguler dalam empat bidang dasar kehidupan, yaitu : (1) Fisik, (olah raga, memelihara gizi, dan mengelola stresss), (2) Sosial/Emosional (menjalin persahabatan, memberikan bantuan, mendengarkan orang lain secara empatik, dan menciptakan sinerji), (3) Spiritual (berdo’a, shalat, membaca kitab suci), dan (4) Mental (membaca, menulis, mengembangkan bakat, dan belajar keterampilan).
Untuk mengembangkan atau menanamkan ke 7 kebiasaan tersebut, Covey mengajukan empat prinsip peranan keluarga, yaitu :
tua mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak. Ketika Abert Schweitzer ditanya tentang bagaimana mengembangkan anak, dia menjawab : “ada tiga prinsip, yaitu : pertama contoh, kedua contoh, dan ketiga contoh”. Orang tua merupakan model yang pertama dan terdepan bagi anak (baik positif atau negatif), dan merupakan pola bagi “way of life” anak. Cara berpikir dan berbuat anak dibentuk oleh cara berpikir dan berbuat orang tuanya. Melalui “modeling” ini orang tua telah mewariskan cara berpikirnya kepada anak, yang kadang-kadang sampai kepada generasi ketiga atau keempat.
b. Mentoring, yaitu kemampuan untuk menjalin atau membangun hubungan, investasi emosional (kasih sayang kepada orang lain) atau pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur, dan tidak bersyarat.
c. Organizing, yaitu keluarga seperti perusahaan yang memerlukan tim kerja dan kerjasama antar anggota dalam menyelesaikan tugas-tugas atau memenuhi kebutuhan keluarga.
d. Teaching, yaitu terkait dengan peran orang tua sebagai guru atau pengajar bagi anak-anaknya mengenai hukum-hukum dasar kehidupan. Disini orang tua menciptakan conscious competence pada diri anak, yaitu anak mengalami tentang apa yang mereka kerjakan dan alasan tentang mengapa mereka mengerjakan itu.
2. Pola Hubungan Orang Tua-Anak (Sikap atau Perlakuan Orang tua terhadap Anak)
Terdapat beberapa pola sikap atau perlakuan orang tua terhadap anak, yang masing-masing mempunyai pengaruh tersendiri terhadap kepribadian (kesehatan mental) anak (Hurlock, 1956 : 504-512; Schneiders, 1964 : 150-156; Loree, 1970 : 145).
TABEL
SIKAP ATAU PERLAKUAN ORANG TUA DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN MENTAL ANAK
AN ORANG TUA ORANG TUA LAKU ANAK bantuan kepada anak yang terus menerus, meskipun anak sudah 12. Mudah terpengaruh 13. Peka terhadap kritik
14. Bersikap “yes men” 15. Egois/selfish
(pembuat onar) permusuhan atau dominasi terhadap anak dapat menger-jakan tugas, pemalu, suka mengasingkan diri, mudah tersing-gung, dan penakut)
3. Tidak bisa bekerjasama
6. Submission 1. Senantiasa memberikan sesuatu yang diminta anak
2. Membiarkan anak berperilaku semaunya di rumah
1. Tidak patuh
2. Tidak bertanggung Jawab
3. Agresif dan teledor 4. Bersikap otoriter 5. Terlalu percaya diri 7. Punitiveness/
Overdiscipline
1. Mudah memberikan hukuman 2. Menanamkan kedisiplinan secara keras
1. Impulsif
2. Tidak dapat mengambil keputusan
3. Nakal
4. Sikap bermusuhan atau agresif
2.4 Peranan Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga
Dapat kita pahami sekarang, bahwa faktor sosial paling utama yang memberikan pengaruh predisposisional baik atau buruk ialah keluarga. Selanjutnya, keluarga yang memberikan pengaruh predisposisional psikotis (bisa berkembang menjadi gila) kepada anak-anak, para remaja dan orang-orang muda, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
anak-anak tadi tidak bisa menjadi dewasa secara psikis, dan tidak bisa mandiri dalam kedewasaannya.
Tidak berfungsinya keluarga sebagai lembaga psikososial. Orang tua tidak sanggup mengintegrasikan anak-anak dalam kebutuhan keluarga. Masing-masing bercerai berai. Anak-anak tidak bisa menyalurkan implus-implus kekanakannya lewat kenal-penyalur yang wajar, atau menurut jalan-jalan formal yang susila serta penuh kasih-sayang. Keluarga juga tidak mampu memberikan peranan sosial dan status sosial kepada anak-anak, sehingga hal ini memusnahkan martabat dan harga-diri anak, mereka merasa sangat kecewa atau putus asa.
Karena itu defisiensi/kerusakan dalam struktur keluarga selalu akan memprodusir banyak gangguan psikis pada anak-anak yaitu berupa tidak adanya integrasi dari fungsi-fungsi psikis dan kemunculan disintegrasi paa ego-fungsi anak/orang muda, yang pada akhirnya menjadi neorotik dan psikotik.
Di bawah ini dituliskan pula bentuk keluarga yang biasanya memprodusir anak-anak yang mentalnya sakit atau neurotik (terganggu syarafnya) yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Keluarga yang menuntut kepatuhan total anak
Keluarga mau menerima dan menyayang anak, asal anak tunduk mutlak pada perintah-perintah orang tua, dan menjauhi larangan-larangan tertentu. Karena ada larangan dan tekanan-tekanan orang tua, anak mengembangkan mekanisme pelarian diri guna mengalahkan implus-implus dan keinginan sendiri. Oleh kondisi tersebut di atas, lama-kelamaan jiwa anak menjadi terganggu dan sakit atau anak menjadi neurotik.
2. Dominasi dan ke kuasaan mutlak serta otoriter orang tua menimbulkan agresi pada diri anak.
gangguan-gangguan psikis, ilusi-ilusi, delusi-delusian simptom patalogis orang tuanya. Maka pengaruh-pengaruh orang tua yang psikotis sifatnya, akan membuat anak-anaknya menjadi gila. Dan pengaruh orang tua yang neurotis akan membuat anak-anak menjadi neurotis pula.
3. Pengaruh ayah yang bertentangan dengan pengaruh ibu
Khususnya bila mereka berbeda pendirian, prinsip, dan pandangan hidup, juga berbeda jalan hidup yang ditempuh. Bagi anak, menganut prinsip salah seorang dari kedua orang tuanya, berarti menentang pihak lainnya. Dia merasa tidak pasti dan tidak aman dalam lingkungan keluarganya, di samping tidak mampu mengembangkan reality-testingnya (karena berfikir tidak logis dan selalu memalsukan realitas lingkungan). Karena itu anak menjadi semakin neurotic
4. Pola hidup orang tua yang berantakan
Jika orang tua tidak konstan dan tidak stabil dalam emosi, fikiran, kemauan dan tingkah lakunya apabila ayah dan ibu berbeda ideal, simpati dan antipatinya, maka pada diri anak-anak pasti akan berlangsung proses identifikasi yang menjurus pada keterbelahan. Munculah pribadi-pribadi terbelah (splitted personality, multiple personality) yang neurotik sifatnya.
Ringkasannya, keluarga yang memberikan pengaruh-pengaruh buruk dan membuat anak-anaknya menjadi “gila” (memberi pengaruh psikotik) itu jelas tidak melatih anak-anak belajar melakukan adaptasi di tengah masyarakat, dan tidak mengajar anak mengembangkan fungsi-egonya. Ini bukan berarti bahwa orang tua atau keluarga yang bersangkutan memang dengan segaja melakukan semua perbuatan itu. Sebab sebenarnyalah, bahwa mereka itu sendiri adalah neurotik atau psikotik diluar pengetahuan atau diluar kesadaran mereka. Maka perkembangan jiwa yang sehat itu hanya bisa berlansung apabila keluarga bisa menyajikan kondisi sebagai berikut:
1. Keluarga bisa menuntun anak untuk bertanggungjawab dan belajar menemukan jalan hidupnya sendiri.
3. Adanya identifikasi anak yang sehat terhadap orang tua, guna memperkuat kepribadian anak.
4. Orang tua mampu membimbing anak menentukan sikap sendiri, membuat rencana hidup yang realitas, dan memilih tujuan finalnya sendiri.
5. Orang tua memberikan contoh sikap hidup dan perilaku yang baik. Berani menghadapi semua kesulitan dan tantangan dengan tekad yang besar, dan menyingkiru mekanisme pelarian diri sert pembelaan diri yang negatif (yang tidak sehat
2.5 Integrasi Islam mengenai Strategi Pengelolaan Kesehatan Mental dalam Keluarga
Agama memberikan petunjuk tentang tugas dan fungsi orang tua dalam merawat dan mendidik anak, agar dalam hidupnya berada dalam jalan yang benar, sehingga terhindar dari malapetaka kehidupan, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak (kandungan Al-Quran, S.Attahrim : 6). Rasulullah Saw dalam salah satu haditsnya bersabda “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tauhiidulllah), karena orang tuanyalah anak itu menjadi yahudi, nashrani, atau majusi” (H.R. Bukhori & Muslim, dalam Panitia Mudzakarah Ulama, 1988).
Berkenaan dengan peran keluarga (orang tua) dalam mendidik anak, Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ikhtisar Ihyau Ulumuddin terjemahan Mochtar Rasjidi dan Mochtar Jahja (1966 : 189) mengemukakan bahwa anak merupakan amanat bagi orang tuanya, dia masih suci laksana permata, baik atau buruknya perkembangan anak, amat tergantung kepada baik atau buruknya pembiasaan yang diberikan kepadanya.
Keluarga mempunyai peranan penting, karena dipandang sebagai sumber pertama dalam proses sosialisasi (Uichol Kim & John W. Berry). Keluarga juga berfungsi sebagaitransmitter budaya, atau mediator sosial budaya anak (Hurlock, 1956; dan Pervin, 1970).
Keluarga juga dipandang sebagai instansi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya, dan pengembangan ras manusia. Jika mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui perawatan, dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-bilogis, maupun sosiopsikologisnya.
Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perkembangan emosi para anggotanya (terutama anak). Kebahagiaan itu diperoleh, apabila keluarga dapat memerankan fungsinya secara baik. Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang; dan mengembangkan hubungan yang baik di antara anggota keluarga. Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaan, akan tetapi juga menyangkut pemeliharaan, rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman, respek, dan keinginan untuk menumbuhkembangkan anak yang dicintainya.
yang secara sosial di anggap tepat, (6) pembantu anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan, (7) pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan, motor, verbal, dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri, (8) stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat, (9) pembimbing dalam mengembangkan aspirasi, dan (10) sumber persahabatan (teman bermain) anak, sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah, atau apabila persahabatan di luar rumah tidak memungkinkan.
Sedangkan dari sudut pandang sosiologis, fungsi keluarga itu dapat diklasifikasikan ke dalam fungsi-fungsi biologis, ekonomis, edukasi, sosialisasi, proteksi, rekreasi, dan religius (M.I. Soelaeman, 1978; Sudardja Adiwikarta, 1988; dan Melly SS Rifai, dalam Jalaluddin Rahmat dan Muhtar G., 1994).
barang konsumsi di sementara bagian belahan dunia utara” (Suara Pembaharuan : 27 November 1997).
Untuk menciptakan keluarga sebagai lingkungan yang kondusif bagi perkembangan mental yang sehat, suasana sosiopsikologis keluarga yang bahagia, khususnya perkembangan karakteristik pribadi anak yang shaleh, agama Islam telah memberikan petunjuk atau rambu-rambu, yang diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Bangunlah keluarga itu dengan melalui pernikahan yang syah berdasarkan syariat atau ketentuan agama.
2. Pernikahan itu hendaknya didasarkan kepada niat beribadah kepada Allah, karena menikah adalah sunnah Rasulullaah SAW (Annikaahu sunnatii famanlamyargobu ‘an sunnatii palaisa minnii = nikah adalah sunnahku, barangsiapa yang membenci nikah berarti dia bukan ummatku). Dengan demikian suami dan istri, atau orang tua dan anak adalah mitra dalam beribadah kepada Allah.
3. Pada saat berhubungan suami-istri (jima’ atau bersenggama), berdo’alah kepada Allah agar diberi anak yang terhindar dari godaan syetan. 4. Perbanyaklah doa’ Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa
dzurriyyatinaa qurrota ‘ayun waj’alnaa lilmuttaqiina imaamaa (Ya Allah Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami dari pasangan-pasangan kami (suami/istri) dan keturunan kami yang membahagiakan mata hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa). Do’a lain yang sebaiknya didawamkan dalam rangka memohon anak yang shaleh adalah Rabbii wablii minashshaalihiin (Ya Tuhanku anugrahkanlah kepadaku anak-anak yang shaleh).
membaca kalimatuttoyyibah, seperti : tasbih (subhaanallaah), tahmid (alhamdulillaah), takbir (Allaahu akbar), dan tahlil (laa ilaaha illallaah). Yang melakukan ‘amalan ini bukan hanya istri, tetapi juga suami.
6. Menciptakan pola pergaulan yang ma’ruf (baik atau harmonis) antara suami - sitri, atau orang tua - anak.
7. Pada saat anak lahir, ucapkanlah kalimah toyyibah (minimal membaca tahmid); ada juga yang menyarankan untuk mengumandangkan (dengan suara yang lembut) adzan pada telinga kanan anak dan qomat pada telinga kirinya.
8. Pada saat anak sudah berusia tujuh hari, lakukan aqiqah bagi anak, yaitu menyembelih kambing/domba jantan (bagi anak laki-laki dua ekor, dan bagi anak perempuan satu ekor), mencukur rambut anak (rambut ini ditimbang seperti menimbang emas, hasilnya dihargai dengan harga emas, kemudian uangnya dibagikan kepada fakir miskin atau yatim piatu); dan memberi nama yang baik kepada anak. Pada acara ini undanglah keluarga, kerabat, atau tetangga dekat untuk bersama-sama mensyukuri ni’mat dari Allah.
9. Pada saat anak sudah masuk usia taman kanak-kanak, didiklah mereka (melalui pengajaran, ketauladanan, dan pembiasaan) tentang berbagai aspek kehidupan yang penting bagi perkembangan kepribadiannya yang mantap, seperti (a) mengajar rukun iman dan rukun islam, mengajar dan membiasakan ibadah shalat, memberikan contoh dalam membayar zakat atau infaq, mengajar membaca Al-Quran, dan do’a-do’a; (b) melatih dan memberi contoh tentang cara merawat kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungan : mandi, gosok gigi, makan dan minum yang teratur, membuang sampah pada tempatnya, memelihara kebersihan dan kerapihan rumah; (c) memberi contoh tentang bertutur kata yang sopan (sesuai dengan bahasa ibunya); dan (d) mengajar dan memberi contoh tentang tata krama (etika) bergaul dengan orang lain.
atau tidak lepas dari masalah tersebut. Masalah-masalah yang mungkin dihadapi itu diantaranya sebagai berikut.
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Dapat kita pahami sekarang, bahwa faktor sosial paling utama yang memberikan pengaruh predisposisional baik atau buruk ialah KELUARGA. Selanjutnya, keluarga yang memberikan pengaruh predisposisional psikotis (bisa berkembang menjadi gila) kepada anak-anak, para remaja dan orang-orang muda, memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Keluarga dengan ayah-ibu yang tidak mampu berfungsi sebagai pendidik, yang defisien sebagai pendidik. Anak-anak akan terganggu kondisi kejiwaannya dan tidak hygienis mentalnya, disebabkan oleh banyaknya kekisruhan dan krisis-krisis yang dialami oleh orang tua. Karena itu anak-anak tadi tidak bisa menjadi dewasa secara psikis, dan tidak bisa mandiri dalam kedewasaannya. Tidak berfungsinya keluarga sebagai lembaga psikososial. Orang tua tidak sanggup mengintegrasikan anak-anak dalam kebutuhan keluarga. Masing-masing bercerai berai. Anak-anak tidak bisa menyalurkan implus-implus kekanakannya lewat kenal-penyalur yang wajar, atau menurut jalan-jalan formal yang susila serta penuh kasih-sayang. Keluarga juga tidak mampu memberikan peranan sosial dan status sosial kepada anak-anak, sehingga hal ini memusnahkan martabat dan harga-diri anak, mereka merasa sangat kecewa atau putus asa.
Karena itu defisiensi/kerusakan dalam struktur keluarga selalu akan memprodusir banyak gangguan psikis pada anak-anak yaitu berupa tidak adanya integrasi dari fungsi-fungsi psikis dan kemunculan disintegrasi paa ego-fungsi anak/orang muda, yang pada akhirnya menjadi neorotik dan psikotik.
orang tua atau keluarga yang bersangkutan memang dengan sengaja melakukan semua perbuatan itu. Sebab sebenarnyalah, bahwa mereka itu sendiri adalah neurotik atau psikotik diluar pengetahuan atau diluar kesadaran mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin M. (1976). Psikologi dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniah Manusia. Jakarta : Bulan Bintang.
Covey, Stephen, R. (1997). The 7 Habits of Highly Effective Families. New York : Golden Books.
Dadang Hawari. (1997). Al-Quran, Ilmu Kedokteran Jiwa, dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Prima Yasa.
Effendy, Nasrul. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.
Ekasari, Mia Fatma, dkk. 2008. Keperawatan Komunitas Upaya Memandirikan Masyarakat untuk Hidup Sehat. Jakarta: Trans Info Media.
Friedman, M. M. (1998). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek.(Family nursing teori and practice). Edisi 3. Alih bahasa Ina debora R. L. Jakarta: EGC
Iqbal Setyarso dan M. Solihat (Penyunting). (1996). Sakit Menguatkan Iman. Jakarta : Gema Insani Press.
Jalaluddin Rahmat & Muhtar (Ed). Keluarga Muslim dalam Masyarakat Modern. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.
Panitia Mudzakarah Ulama. (1988). Memelihara Kelangsungan Hidup Anak Menurut Ajaran Islam. Jakarta : Depag-MUI-Unicep.
Schneiders, A.A. (1964). Personal Adjustment and Marital Health. New York. Sikun Pribadi (Ed). (1981). Menuju Kelarga Bijaksana. Bandung : Yayasan
Sekolah Istri Bijaksana.
Slamet, Juli Soemirat. 2002. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Syamsu Yusuf L.N. (2004). Mental Hygiene : Pengembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan Agama. Bandung : Pustaka Bani Quraisy. ---. (2003). Psikologi Belajar Agama. Bandung : Pustaka Bani Quraisy.