IMPLIKASI PENGATURAN PENATAAN RUANG TERHADAP ALIH FUNGSI LAHAN DI PROVINSI JAWA BARAT DALAM PEMBANGUNAN
BERKELANJUTAN1
SPATIAL PLANNING REGULATION IMPLICATION ON LAND USE IN WEST JAVA
PROVENCE BASED ON SUSTAINABLE DEVELOPMENT.
Nadia Astriani, Maret Priyanta, Amiruddin A. Dajaan Imami2
ABSTRAK
Pertumbuhan penduduk di Jawa Barat ternyata telah memicu perubahan tata guna lahan dikarenakan adanya peningkatan kebutuhan akan pangan, sandang dan papan. Hampir semua lahan yang cocok untuk pertanian di Jawa Barat sudah diolah secara intensif. Hutan yang terbatas di dataran tinggi telah diperuntukkan bagi areal perlindungan daerah tangkapan air meskipun juga telah banyak berubah menjadi wilayah pertanian dan permukiman. Di wilayah pantai, sebagai akibat tekanan penduduk, hutan bakau yang demikian luas sudah terpakai habis atau diubah untuk kepentingan-kepentingan lain, berubah menjadi persawahan, pertambakan ikan dan udang. Masalah aktual yang terjadi di dataran tinggi di Jawa Barat sekarang adalah perambahan hutan, termasuk ke dalam hutan lindung, perubahan besar atau konversi lahan sawah beririgasi untuk permukiman dan industri, yang sebagian besar terkonsentrasi di dan sekitar perkotaan telah menimbulkan berbagai masalah terhadap lingkungan perkotaan.
Kebijakan penataan ruang wilayah Jawa Barat tidak terlepas dari kebijakan visi dan misi Jawa Barat dalam kerangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat. Untuk itu penataan ruang ke depan harus mampu secara optimal mensinergikan faktor ekonomi, faktor ekologis, faktor alokasi ruang secara proporsional, faktor pendekatan keterpaduan, dan faktor dinamika pendapatan penduduk. Asas penataan ruang adalah pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang dan berkelanjutan. Asas lainnya adalah keterbukaan, persamaan, keadilan dan perlindungan hukum.
Proses pembangunan berkelanjutan bertumpu pada kondisi sumberdaya alam, kualitas lingkungan dan faktor kependudukan.
Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan bersifat deskriptif analitis. Penelitian yuridis normatif merupakan penelitian untuk menemukan Hukum In Concreto, merupakan usaha untuk menemukan apakah hukum yang sesuai untuk diterapkan in cocreto dalam pelaksanaannya.
Hasil penelitian di beberapa kota di Jawa Barat menunjukkan bahwa walaupun aturan dalam UUPR bisa mencegah terjadinya alih fungsi lahan di luar perencanaan, tetapi praktek di lapangan sangat tergantung pada kondisi dan permasalahan daerah tersebut serta aturan-aturan yang ada. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah daerah perlu membuat peraturan daerah yang berkaitan dengan alih fungsi lahan. Selain itu pelibatan masyarakat merupakan strategi yang sangat penting dalam pengendalian alih fungsi lahan, karena perubahan fungsi lahan paling banyak terjadi pada lahan yang dikuasai perorangan.
Kata Kunci : Alih Fungsi Lahan, Penataan Ruang, Pembangunan Berkelanjutan.
ABSTRACT
Population growth in West Java turned out to have triggered a change in land use due to
the increased need for food, clothing and shelter. Almost all the land suitable for agriculture in
West Java has been intensively cultivated. Limited forest in the highlands has been earmarked
for the protection of water catchment areas though also has a lot turned into agricultural areas
and settlements. In coastal areas, as a result of population pressure, such extensive mangrove
forests are used up or converted to other interests, turned into rice fields, fish and shrimp
aquaculture. Actual problems that occurred in the highlands of West Java is now the
encroachment of forests, including in protected forests, a major change or conversion of
irrigated rice land for settlement and industry, largely concentrated in and around urban areas
has given rise to various problems of the urban environment.
Spatial planning policy in West Java is inseparable from the policy vision and mission of
West Java in terms of improving the welfare of the people of West Java. For this arrangement to
factor space allocation proportionately, integration approach factor, and factor income
population dynamics. The principle of spatial planning is the utilization of space for all interests
in an integrated efficient and effective, harmonious, balanced and sustainable. Another principle
is openness, equality, justice and legal protection. The process of sustainable development rests
on the condition of natural resources, environmental quality and population factors.
Methods used in this study is normative juridicaland the approach is descriptive and
analytical. Juridical normative research is research to find Concreto In Law, an attempt to
discover whether the appropriate law to be applied in cocreto in its implementation.
The results of studies in several cities in West Java showed that although the rule in
UUPR can prevent the occurrence of land use planning outside, but the practice in the field is
highly dependent on the conditions and problems of the area and the existing rules.To overcome
these local governments need to make local regulations related to land use. In addition a
community engagement strategy is very important in the control of land use, because most
land-use changes occur on lands controlled by individuals.
Keywords: Land Use, Spatial Planning, Sustainable Development.
PENDAHULUAN
Upaya pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam air, udara, tanah dan kebutuhan dasar bagi kehidupan (sandang, pangan, papan dan obat-obatan) secara berkelanjutan mutlak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan menjaga kelangsungan hidup manusia, makhluk hidup serta kualitas lingkungannya.
Keberhasilan pelestarian dan pengelolaan sumberdaya alam akan menjadi kunci terpenuhinya harkat hidup seluruh masyarakat. Pelestarian kualitas lingkungan alam akan sangat ditentukan oleh terselenggaranya kualitas tata ruang antara lain termasuk pelestarian kualitas tata air, tata udara serta keberlanjutan keanekaragaman hayati di suatu ruang wilayah bagi ketersediaan kebutuhan dasar secara berlanjut serta kegiatan pembangunan di lingkungan sosial dan lingkungan buatan.
Beberapa pertimbangan yang diperlukan dalam penataan ruang, antara lain3:
3 Sugandhy.A. Peran Penataan Ruang bagi Keterpaduan P embangunan Berkelanjutan di era Otonomi dan
1. Pelestarian kawasan fungsi lindung dalam rangka tata udara, tata air, dan konservasi flora dan fauna.
2. Pelestarian hutan tropis atau keberadaan tegakan pohon dalam rangka kestabilan iklim, tata udara dan tata air negara kepulauan.
3. Pelestarian hutan bakau, terumbu karang dalam rangka keseimbangan ekosistem pesisir lautan dan daratan serta keberlanjutan keanekaragaman hayati pesisir dan lautan.
4. Pelestarian swasembada pangan terutama bagi lahan-lahan pertanian beririgasi teknis. 5. Peningkatan nilai tambah bagi sumber kehidupan ekonomi dalam rangka
keberlanjutan pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan taraf hidup dan kesempatan kerja di suatu wilayah.
6. Penataan ruang kawasan pertahanan keamanan sebagai bagian integral termasuk kawasan-kawasan perbatasan.
7. Struktur pengembangan kawasan pedesaan dan perkotaan yang saling terkait dan menguntungkan bagi keberlanjutan kehidupan.
8. Perwilayahan pembangunan yang mengatur hubungan internal dan eksternal antara pusat pembangunan yang lebih tinggi dan rendah tingkatannya dan menjadi hubungan fungsional secara hierarkis.
9. Sarana dan prasarana wilayah untuk mendukung fungsi-fungsi kawasan dan terbangunnya kawasan secara terpadu.
Alokasi ruang dalam kegiatan penataan ruang tidak hanya menata berbagai kegiatan pembangunan secara spasial yang dikaitkan dengan kesesuaian lahan saja, tapi juga memperhitungkan dan mempertimbangkan dampak yang terjadi akibat pembangunan terhadap lingkungan agar dampak negatif dapat dihindari dalam rangka tercapainya tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Internalisasi aspek lingkungan ke dalam penataan ruang diharapkan dapat menjadi acuan terwujudnya esensi dasar pembangunan berkelanjutan.
Peran pengendalian pemanfaatan ruang sesungguhnya menjadi amat penting dan menjadi ujung tombak dalam upaya penataan ruang ke depan. Tugas penataan ruang bersifat strategis dan kegiatannya melibatkan berbagai stakeholder sehingga penanganannya di daerah perlu dilakukan secara koordinatif dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan pemerintah dan masyarakat. Berdasarkan gambaran tersebut permasalahan dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah Implikasi Pengaturan Penataan Ruang terhadap alih fungsi lahan di provinsi Jawa Barat?
2. Bagaimanakah alih fungsi lahan dikaitkan dengan pembangunan berkelanjutan di provinsi Jawa Barat?
PENATAAN RUANG DAN ALIH FUNGSI LAHAN
Dalam upaya mencapai tujuan nasional, dilakukanlah kegiatan pembangunan nasional sebagai rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.4 Kegiatan tersebut memungkinkan terjadinya pemanfaatan lingkungan secara berlebihan sehingga mengakibatkan pencemaran dan perusakan lingkungan secara global. Untuk mengurangi dampak negative yang mungkin terjadi maka diperlukan perencanaan pembangunan yang baik.
Substansi perencanaan bermula dari dualisme antara pengetahuan (sains) dengan tindakan (desain). Batty cenderung menyimpulkan bahwa sains dan desain sebagai Problem-Solving process yang kemudian diterapkan di dalam perencanaan sebagai proses teknik. Produk perencanaan formal berdasarkan UU no. 24 tahun 1992 dalam bentuk RUTRW yang dirinci lebih detail lagi dalam bentuk RDTR dan RRTR.
4 Lihat Ketentuan Umum, Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Penataan Ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Penataan ruang wilayah/kawasan pada era otonomi daerah memiliki konsep dan karakteristik sebagai berikut :
1. Lebih menitikberatkan kepada pendekatan bottom-up 2. Melibatkan semua pelaku pembangunan (stakeholder)
3. Transparan dalam perencanaan, implementasi dan pengendalian 4. Memberi perhatian besar pada tuntutan jangka pendek
5. Realistis terhadap tuntutan dunia usaha dan masyarakat
6. Berwawasan luas, dengan perhatian terhadap kawasan yang lebih detail 7. Rencana dapat dijadikan pedoman investasi
8. Menjaga dan meningkatkan mutu lingkungan sambil mendorong dan memfasilitasi pembangunan
9. Mempunyai visi pembangunan dan manajemen pembangunan (applicable)
Dalam kerangka Hukum Lingkungan Nasional permasalahan penataan ruang dilaksanakan berdasarkan asas-asas/ prinsip-prinsip yang sejalan dengan asas yang disepakati dalam berbagai konferensi internasional di bidang lingkungan hidup antara lain : 5
a. Asas tanggung jawab negara menyatakan bahwa negara menjamin hak warga negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat dan negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;
b. Asas kelestarian dan keberlanjutan adalah bahwa setiap orang memikul kewajiban dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang dan terhadap sesamanya dalam satu generasi dengan melakukan upaya pelestarian daya dukung ekosistem dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup;
c. Asas kehati-hatian adalah bahwa ketidakpastian mengenai dampak suatu usaha dan/atau kegiatan karena keterbatasan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan merupakan alasan untuk menunda langkah-langkah meminimalisasi atau menghindari ancaman terhadap pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;
5 Lihat Penjelasan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
d. Asas partisipatif adalah bahwa setiap anggota masyarakat didorong untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung. Asas ini mengedepankan peran serta masyarakat dalam pertimbangan terhadap Lingkungan hidup;
e. Asas tata kelola pemerintahan yang baik adalah bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dijiwai oleh prinsip partisipasi, transparansi, akuntabilitas, efisiensi, dan keadilan; dan
f. Asas otonomi daerah adalah bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN
Maksud pembangunan berkelanjutan adalah untuk memastikan bahwa dengan upaya pembangunan, kesejahteraan generasi mendatang paling tidak akan mempunya potensi dan peluang ekonomi dan stok capital baik sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan sama dengan peluang yang diperoleh generasi sekarang.
Tantangan utama dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di Indonesia adalah belum sepenuhnya tercipta tata pemerintahan bersih, transparan, dapat dipertanggungjawabkan (accountable), representative dan demokratis.
Ciri/kriteria perencanaan pembangunan berkelanjutan berlandaskan kepada6: 1. Perencanaan yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang.
2. Etika perencanaan pembangunan yang memikirkan pemenuhan kebutuhan generasi mendatang.
3. Pembatasan pendayagunaan sumberdaya yang tidak efisien, dan perubahan pola konsumsi.
4. Pemanfaatan alternatif sumberdaya energi yang dapat diperbaharui. 5. Pendistribusian kesempatan ekonomi secara merata.
6 Ida Nurlinda, Prinsip-Prinsip Pembaruan Agraria “Perspektif Hukum”, Rajawali Press 2009,,
Perencanaan pembangunan berkelanjutan memerlukan pendekatan yang bersifat simultan antara tiga dimensi pokok dari pembangunan berkelanjutan, yaitu:
1. Keberlanjutan lingkungan dapat terjadi jika dalam segala aktivitasnya, manusia menjaga agar pemanfaatan sumberdaya alam masih di bawah daya dukung lingkungannya serta limbah yang dihasilkan dari pemanfaatan sumberdaya alam tersebut juga masih di bawah ambang batas.
2. Keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan mempertahankan kapital (sumberdaya alam) atau menjaga agar kapital tidak mengalami kemerosotan ketika kapital tersebut dimanfaatkan.
3. Keberlanjutan sistem social yang menekankan pada segi kualitas daripada aspek pertumbuhan yang bersifat kuantitas. Keberlanjutan sistem sosial dapat dicapai apabila partisipasi masyarakat cukup tinggi serta dijalankan secara sistematis.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini mendekati berbagai permasalahan yang berkenaan dengan Kebijaksanaan Pemerintah di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan secara Yuridis Normatif. Penelitian ini bersifat Deskriptif Analitis. Penelitian ini merupakan Library Research atau penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan bertujuan untuk mengkaji, meneliti dan menelusuri data sekunder yang berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Disahkannya Undang-Undang No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebabkan perlu diperbaharui Rencana Tata Ruang Nasional maupun Rencana Tata Ruang Wilayah, karena terdapat beberapa perbedaan tahapan perencanaan yang harus dilakukan. Klasifikasi penataan ruang berdasarkan pasal 4 UUPR diklasifikasikan berdasarkan sistem, fungsi utama kawasan, wilayah administratif, kegiatan kawasan dan nilai strategis kawasan. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi kawasan menjadi poin utama dalam merencanakan peruntukan lahan.
prioritas pertama bagi Pemerintah dan pemerintah daerah untuk menerima pengalihan hak atas tanah dari pemegang hak atas tanah jika yang bersangkutan akan melepaskan haknya.
Hasil penelitian di beberapa kota di Jawa Barat menunjukkan bahwa walaupun aturan dalam UUPR bisa mencegah terjadinya alih fungsi lahan di luar perencanaan, tetapi praktek di lapangan sangat tergantung pada kondisi dan permasalahan daerah tersebut serta aturan-aturan yang ada.
Tanah (land) adalah sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Indonesia adalah negara pertanian, sehingga tanah merupakan sumber daya utama bagi seluruh penduduk. Prinsip pemilikan atau penguasaan tanah oleh rakyat di suatu negara, terdiri dari dua prinsip yang berbeda :
1. Di suatu negara agraris, dimana sebagian besar rakyat adalah pertanian sehingga mereka bergantung kepada tanah, untuk keadilan maka prinsipnya: tanah itu oleh negara dibagikan kepada sebanyak mungkin penduduk (dengan hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha), sehingga pemilikan/penguasaan tanah bagi tiap keluarga/pengusaha adalah terbatas/kecil.
2. Di suatu negara industri, dimana nafkah sebagian besar penduduk adalah industri maka hanya sedikit saja rakyat yang bertani atau yang bergantung kepada tanah, sehingga untuk memudahkan pengelolaan, prinsipnya: tanah itu oleh negara dibagikan kepada sebagian kecil dari penduduk, sehingga pemilikan/penguasaan tanah per keluarga/perusahaan dapat luas, ribuan atau puluhan ribu hektar bahkan ratusan ribu hektar7.
Dalam Strategi Nasional untuk Pembangunan Berkelanjutan yang dirumuskan Agenda 21 Nasional, Pengelolaan sumberdaya tanah, yang terdiri dari 4 sub-agenda yaitu penatagunaan sumberdaya tanah, pengelolaan hutan, pengembangan pertanian dan pedesaan serta pengelolaan sumberdaya air. Pengaturan mengenai alih fungsi lahan masuk dalam sub agenda ini.
Berdasarkan hasil penelitian lapangan, alasan utama terjadinya alih fungsi lahan adalah laju pertumbuhan ekonomi dan pertambahan jumlah penduduk. Peralihan fungsi lahan dapat dilakukan oleh dua pihak yaitu pemerintah dan pemilik lahan. Alasan pemerintah melakukan alih fungsi lahan adalah perubahan RTRW dan kebutuhan akan infrastruktur, sedangkan alasan alih fungsi lahan yang dilakukan pemilik lahan adalah :
7
1. Melihat kondisi lahan yang tidak bisa diharapkan untuk berproduksi optimal 2. Harga tanah di sekitar lokasi meningkat pesat
3. Kebutuhan ekonomi yang tidak bisa dihindari
Alih fungsi lahan merubah fungsi lahan yang ada. Perubahan fungsi lahan merupakan suatu keniscayaan, karena kebutuhan manusia akan lahan semakin lama semakin tinggi seiring dengan tingginya pertumbuhan manusia di Indonesia. Pengendalian alih fungsi lahan diperlukan agar generasi mendatang paling tidak mempunya potensi dan peluang ekonomi dan stok capital baik sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan sama dengan peluang yang diperoleh generasi sekarang sebagaimana maksud dari pembangunan berkelanjutan. Strategi pengendalian ini harus memperhatikan alasan-alasan terjadinya alih fungsi lahan. Strategi tersebut mencakup peraturan kebijakan dan pelibatan masyarakat. Dalam peraturan kebijakan, strategi yang bisa dilakukan adalah :
1. Pengetatan Izin
2. Pewilayahan (zooning) kawasan
3. Penyempurnaan sistem dan aturan jual beli lahan
4. Penyempurnaan pola penguasaan lahan (land tenure system) 5. Pemberian Subsidi
6. Pengurangan Pajak
Sedangkan strategi pelibatan masyarakat dilakukan dengan melakukan penyamaan persepsi, jalinan komitmen, keputusan kolektif, sinergi aktivitas penatagunaan tanah dengan pemerintah.
KESIMPULAN DAN SARAN
lain memasukkan alih fungsi lahan dalam peraturan daerah mengenai RTRW seperti yang terjadi di Kota Sukabumi. Daerah lain belum memiliki aturan khusus mengenai alih fungsi lahan seperti yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat.
Pengendalian alih fungsi lahan diperlukan agar generasi mendatang paling tidak mempunya potensi dan peluang ekonomi dan stok capital baik sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan sama dengan peluang yang diperoleh generasi sekarang sebagaimana maksud dari pembangunan berkelanjutan. Strategi pengendalian ini harus memperhatikan alasan-alasan terjadinya alih fungsi lahan. Strategi tersebut mencakup peraturan kebijakan dan pelibatan masyarakat.
Pemerintah daerah perlu membuat peraturan-peraturan mengenai alih fungsi lahan yang dapat menjadi acuan bagi pelaksana di lapangan. Pemerintah juga harus konsisten dalam melaksanakan RTRW yang telah direncanakan dan konsisten dalam menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan. Selain itu pelibatan masyarakat merupakan strategi yang sangat penting dalam pengendalian alih fungsi lahan, karena perubahan fungsi lahan paling banyak terjadi pada lahan yang dikuasai perorangan.
DAFTAR PUSTAKA
Ida Nurlinda, Prinsip-Prinsip Pembaruan Agraria “Perspektif Hukum”, Rajawali Press 2009.
Mitchell, Setiawan dan Dwita Hadi Rahmi., Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2003.
Johara T.Jayadinata, Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan dan Wilayah,
penerbit ITB, 1986
Sumardja, Effendy A., Pembangunan Berkelanjutan : Tantangan dan Peluang. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan. 2004.
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025.
Agenda 21 Indonesia : Strategi Nasional untuk Pembangunan Berkelanjutan. KLH. 1996. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Cirebon 2009-2029
Rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Sukabumi 2011-2031