INTERVENSI MILITER ARAB SAUDI DALAM KONF

13 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

INTERVENSI MILITER ARAB SAUDI DALAM KONFLIK SIPIL DI

YAMAN

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Individu Dalam

Mata Kuliah Metodologi Penelitian Hubungan Internasional

oleh

Muhammad Darmawan Ardiansyah

NIM: 1112113000007

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah.

Arab Spring merupakan awal dari banyaknya kejatuhan rezim diktator di wilayah Timur Tengah.1 Hal ini berawal dari ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan

pemerintah yang cenderung otoriter. Peristiwa ini berawal dari demonstrasi massa yang terjadi di Tunisia. Keberhasilan revolusi Tunisia memberikan motivasi besar bagi rakyat Arab untuk menggulingkan pemerintah yang otoriter dan tidak demokratis.

Arab Spring memberikan dampak yang sangat besar bagi kawasan Timur Tengah. Akan tetapi, ada beberapa negara yang selamat dari arus revolusi ini, salah satunya adalah Arab Saudi. Keberhasilan Arab Saudi mempertahankan sistem pemerintahan monarki di tengah arus revolusi Timur Tengah menunjukkan keefektifan kebijakan serta strategi yang dibuat oleh pemerintahannya.

Keefektifan strategi serta kebijakan dalam negeri pemerintah Arab Saudi diuji lagi ketika terjadi perang sipil di Yaman.2 Perang sipil yang terjadi antara kelompok oposisi yang

dipimpin oleh Houthi dan pemerintah Yaman telah mengguncang stabilitas politik dan keamanan di negara tersebut. Puncak dari perang sipil ini adalah mengungsinya presiden Yaman, Rabbuh Mansur Hadi ke Arab Saudi untuk mendapatkan perlindungan.

Kedatangan Hadi ke Arab Saudi juga ditujukan untuk meminta bala bantuan pemerintah Arab Saudi agar membantu pemerintah Yaman meredam konflik di negaranya. Permintaan bantuan ini disetujui oleh Arab Saudi dengan melancarkan operasi militer melalui serangan udara ke wilayah Yaman.3 Operasi militer yang dilakukan oleh Arab Saudi bertujuan untuk

mengembalikan pemerintahan Yaman yang sah.

Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan wilayah Yaman, tentunya Arab Saudi memiliki kepentingan untuk mengamankan wilayahnya agar pemberontakan di Yaman tidak mempengaruhi stabilitas politik dan keamanan di negara tersebut. Maka dari itu, pemerintah Arab Saudi langsung merespon cepat permintaan bantuan pemerintah Yaman untuk segera memadamkan pemberontakan itu.

1 Primoz Manfreda, ”Definition of the Arab Spring,”http://middleeast.about.com/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 18:44.

2 Kareem Shaheen, ”Yemen edges towards all out civil war as rebels advance on city of Aden,”

http://www.theguardian.com/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 19:10.

(3)

Pengangguran, infasi yang tinggi, serta pemerintahan yang korup dijadikan alasan oleh kelompok Houthi dan sekutunya untuk melancarkan pemberontakan terhadap pemerintah.4

Pernyataan ini mungkin juga bisa dikonfirmasi melalui media Barat, The Heritage yang menyebutkan bahwa terjadi penurunan dalam pertumbuhan ekonomi secara signifikan di tahun 2015. Pengangguran, inflasi, korupsi, serta ketidakstabilan politik merupakan faktor utama yang menyebabkan hal tersebut.5 World Bank juga menyatakan bahwa Yaman

merupakan salah satu negara termiskin di kawasan Timur Tengah.6 Pernyataan ini semakin

menguatkan alasan kelompok Houthi untuk melakukan revolusi terhadap pemerintah Yaman yang sah.

Intervensi militer yang dilakukan oleh Arab Saudi ke wilayah Yaman menimbulkan pro dan kontra dalam sistem internasional. Salah satunya adalah tanggapan pemerintah Iran terhadap intervensi Arab Saudi ke Yaman. Kebijakan luar negeri Arab Saudi untuk menyerang Yaman menyebabkan eskalasi konflik di wilayah tersebut. Secara garis besar konflik ini meluas menjadi pertarungan antara negara-negara muslim Sunni yang dipimpin oleh Arab Saudi dan negara-negara muslim Syiah yang dipimpin oleh Iran.7

Perang Yaman ini juga diindikasikan sebagai ajang unjuk kekuatan antara Arab Saudi dan Iran yang memiliki ambisi untuk menjadi hegemon di kawasan Timur Tengah.8 Rivalitas

dua kekuatan ini telah berlangsung sejak lama. Kapabilitas militer dan politik yang kuat di antara negara-negara kawasan lainnya mendorong kedua negara ini untuk menjadikan negara mereka sebagai pemimpin bagi bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi ini ditunjukkan dengan pengiriman kapal yang bermuatan senjata oleh Iran ke Yaman untuk mendukung pemberontak Houthi dalam melawan pihak pemerintah yang dibantu oleh Arab Saudi dan sekutunya.9 Secara tidak langsung eskalasi konflik ini

menunjukkan kepada dunia internasional bahwa konflik yang sedang terjadi saat ini di Yaman adalah pertarungan ideologi antara Sunni dan Syiah.

4 Khalid Alkarimi, ”CBY economic researcher to the Yemen Times,”http://www.yementimes.com/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 19:43.

5 Heritage Reporter, “Yemen”, http://www.heritage.org/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 19:50. 6 Eal Harazi, “Yemen Overview”,http://www.worldbank.org/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 20:15. 7 Jeff Colgan, “How sectarianism shapes Yemen’s war”,http://www.washingtonpost.com/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 20:52.

8 Nussaibah Younis, “The Saudi-Iran powerplay behind the Yemen conflict”, http://www.theguardian.com/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 21:01.

(4)

Pemberitaan yang dilakukan oleh media lokal maupun internasional mengenai konflik Yaman secara tidak langsung telah memunculkan kembali sentimen antara Sunni dan Syiah yang telah berlangsung sejak dulu. Hal ini tentunya akan memiliki implikasi yang sangat besar bagi sistem internasional jika pemberitaan ini terus menerus dilakukan. Bukan tidak mungkin akan terjadi eskalasi konflik antara Sunni dan Syiah di negara-negara muslim lainnya.

Di Arab Saudi sendiri terdapat kelompok Syiah yang berjumlah kurang lebih lima belas persen dari total penduduk Arab Saudi.10 Tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan sendiri.

Ketika pemberitaan di media-media menyebutkan bahwa Arab Saudi sedang melakukan perang ideologi antara Sunni dan Syiah dengan Iran di Yaman. Akan tetapi, di Arab Saudi sendiri terdapat penganut Syiah yang dibiarkan saja oleh pemerintah Arab Saudi.

Seharusnya pemerintah Arab Saudi berfokus terlebih dahulu terhadap pemberantasan Syiah di dalam negeri. Karena berpotensi memberikan ancaman langsung terhadap pemerintahan tersebut daripada Syiah yang ada di luar wilayah negaranya. Tentunya sikap pemerintah Arab Saudi terkait kebijakan mereka menyisakan pertanyaan yang sangat besar bagi dunia internasional apakah perang Yaman ini ditujukan sebagai perang sektarian atau perebutan tahta hegemoni kawasan Timur Tengah.

Intervensi militer yang dilakukan oleh Arab Saudi juga mendapat dukungan dari sekutu utamanya yaitu, Amerika Serikat.11 Obama menyatakan bahwa AS siap memberikan bantuan

kepada Arab Saudi berupa dukungan logistik dan operasi intelejen terhadap kelompok Houthi. Selain itu AS juga akan membantu memetakan target serangan serta memfasilitasi pengisian bahan bakar bagi pesawat tempur Arab Saudi.

Motif Arab Saudi melakukan intervensi militer ke Yaman perlu dikaji lebih mendalam lagi. Karena jika kita hanya melihat identitas ideologis serta pengembalian kekuasaan pemerintahan Yaman yang sah, jelas-jelas kebijakan ini hanya merugikan pihak Arab Saudi. Karena cost yang dikeluarkan lebih besar daripada benefit yang didapatkan. Bantuan AS yang diberikan kepada Arab Saudi selama operasi militer di Yaman juga meninggalkan pertanyaan. Kenapa AS mendukung, padahal jelas-jelas telah terjadi pelanggaran perang yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai HAM yang dikumandangkan oleh AS sendiri.

10 Frederich Wehrey, “Saudi Arabia has a Shiite problem”, http://foreignpolicy.com/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 21:44.

(5)

II. Pertanyaan Penelitian.

Dalam penelitian ini, penulis bertujuan untuk mengetahui apa yang melatar belakangi Arab Saudi melakukan intervensi ke Yaman. Tujuan serta motif menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari kebijakan luar negeri Arab Saudi. Maka dari itu, penulis menganggap bahwa ada motif utama dari Arab Saudi untuk melakukan intervensi tersebut. Maka dari itu, penulis mengajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1) Apa motif utama Arab Saudi melakukan intervensi militer ke Yaman? III. Kerangka Teori.

Dalam makalah ini, penulis akan menjelaskan fenomena dalam kerangka teori Realis. Realis mengasumsikan bahwa hubungan internasional merupakan hubungan yang didasarkan pada sifat anarki. Hal ini menuntut negara untuk mempertahankan eksistensinya dalam sistem internasional serta mengedepankan aspek keamanan sebagai aspek yang harus diprioritaskan di atas aspek lainnya. Realis juga menekankan bahwa negara harus mampu untuk tetap

survive dalam sistem internasional yang anarkis. Negara harus mencurahkan seluruh sumber dayanya untuk mendapatkan power yang berguna untuk mengantisipasi ancaman yang datang.12

Sebagai tambahan penulis akan menggunakan salah satu konsep yang terdapat dalam teori Neo-Realis yang dicetuskan oleh Kenneth Waltz, yaitu kepentingan nasional. Kepentingan nasional itu sendiri merupakan landasan utama bagi pembuatan kebijakan luar negeri suatu negara. Waltz mengasumsikan bahwa kepentingan nasional dalam level minimal adalah keberlangsungan hidup (state survival). Sedangkan dalam level maksimal diartikan sebagai power. Survival sendiri dapat dipahami sebagai tujuan awal yang harus dikejar oleh sebuah negara sebelum mengejar tujuan lainnya.13

Sifat negara yang dipengaruhi oleh sistem internasional menjadi pendorong bagi pembentukan kepentingan nasional itu sendiri. Di lain sisi, kepentingan nasional dijadikan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan dalam sistem internasional yang bersifat anarki. Maka dari itu, survival dan power yang menjadi perilaku negara menjadikannya unit analisis yang tepat dalam teori politik internasional.14

Di samping itu, untuk menguatkan asumsi penelitian, penulis juga menggunakan teori keamanan. Menurut Bary Buzan keamanan merupakan aspek yang paling utama daripada kekuatan maupun perdamaian. Buzan juga menekankan bahwa aspek keamanan harus menjadi perhatian utama dari sebuah negara. Hal ini ditujukan agar negara mampu untuk

12 J. Steans & L. Pettiford, “Hubungan Internasional Perspektif & Tema”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, hlm. 52.

(6)

menanggulangi bahaya yang datang dari dalam maupun luar negeri.15 Dari kerangka teori di

atas penulis akan menjelaskan tentang kepentingan apa saja yang dimiliki oleh Arab Saudi terhadap konflik Yaman.

IV. Metode Penelitian.

Metode penelitian berfungsi sebagai data dalam penyusunan penelitian ini. untuk penelitian ini, penulis menggunakan Metode Deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang menggambarkan fenomena-fenomena yang sedang berlangsung, yang kemudian hasil penelitian dianalisis berdasarkan teori-teori yang ada dan selanjutnya dapat disimpulkan secara jelas oleh penulis dalam tulisan ini. Dengan metode penelitian ini, penulis akan memberikan penjelasan mengenai motif Arab Saudi dibalik intervensi militer yang dilakukan oleh Arab Saudi dalam konflik Yaman.

V. Asumsi Penelitian.

Konflik Yaman yang terjadi saat ini sebenarnya bukan di latar belakangi oleh pertarungan ideologis antara Sunni dan Syiah. Konflik ini muncul diakibatkan oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan ekonomi yang carut-marut, tingkat pengangguran yang tinggi, serta korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara. Intervensi Arab Saudi dalam konflik Yaman bertujuan untuk melindungi negara tersebut agar tidak terjadi gelombang revolusi seperti yang terjadi di Yaman.

Selain itu, ideologi Sunni dan Syiah bukanlah unit analisis yang harus diutamakan, karena identitas hanya dijadikan sebagai alat mobilisasi massa untuk mengumpulkan dukungan sebanyak-banyaknya. Amerika Serikat sebagai sekutu Arab Saudi di kawasan Timur Tengah pastinya memiliki kepentingan yang sangat besar terhadap konflik tersebut. Hal ini dapat dilihat dari bantuan yang diberikan AS terhadap Arab Saudi selama konflik Yaman berlangsung sampai saat ini.

PEMBAHASAN

A. Stabilitas Keamanan: Faktor utama pendorong Arab Saudi melakukan intervensi.

15 Bary Buzan, “People State & Fear; An Agenda for International Security in the Post Cold War Era”,

(7)

Keamanan merupakan faktor utama yang paling penting bagi sebuah negara. Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor keamanan menjadi penentu bagi kelancaran kebijakan pemerintahan dalam berbagai aspek. Kelancaran politik dalam dan luar negeri, perkembangan ekonomi, dan aspek-aspek sosial lainnya sangat bergantung pada stabilitas keamanan, baik stabilitas keamanan dalam maupun luar negeri. Jika stabilitas keamanan dapat dijaga dengan baik, akan memberikan jaminan bagi perkembangan aspek-aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Konflik yang terjadi dalam sebuah negara, pastinya, secara tidak langsung akan memberikan dampak yang sangat besar bagi negara-negara yang berbatasan langsung dengan negara tersebut. Dampak tersebut dapat berupa ledakan pengungsi maupun pemahaman revolusi politik dari negara yang sedang berkonflik. Pemahaman revolusi politik merupakan hal yang sangat ditakuti oleh sebuah negara. Karena pemahaman ini dapat dengan mudah memobilisasi massa untuk melakukan revolusi terhadap pemerintah yang sah.

Merupakan hal yang wajar bagi Arab Saudi untuk takut terhadap pemahaman revolusi politik ini. Sebagai negara yang menganut sistem pemerintahan monarki absolut di tengah arus demokratisasi yang sangat deras, Arab Saudi harus mengambil langkah yang tepat untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut sedini mungkin. Karena jika tidak ditangani dengan segera, akan memberikan dampak yang sangat besar bagi kejatuhan rezim monarki absolut mereka. Banyaknya rezim otoriter yang jatuh pada saat terjadinya Arab Spring patut dijadikan contoh oleh Arab Saudi untuk menguatkan stabilitas keamanan mereka agar hal tersebut tidak terjadi di kemudian hari.

Didasarkan pada kondisi negara tetangga yang berkonflik serta kondisi regional pasca

Arab Spring, mau tidak mau Arab Saudi harus mengambil langkah tegas untuk menjaga stabilitas keamanan di wilayahnya. Upaya ini dapat dilihat dari kebijakan luar negeri Arab Saudi untuk melakukan intervensi militer ke Yaman. Permintaan presiden Hadi kepada pemerintah Arab Saudi untuk memadamkan pemberontakan di wilayahnya secara tidak langsung memberikan legitimasi kepada Arab Saudi untuk melakukan intervensi militer.

(8)

tidak dimanfaatkan oleh orang lain. Konflik Yaman ibarat halaman yang telah dikuasai oleh orang lain, mau tidak mau kita harus menjaga semaksimal mungkin rumah kita agar tidak dikuasai juga. Mungkin kurang lebih seperti inilah logika Arab Saudi melakukan intervensi militer ke Yaman.

B. Posisi Strategis Yaman: Intervensi dilakukan demi keamanan ekonomi Arab Saudi.

Jika kita perhatikan letak geografis Yaman di Timur Tengah, Yaman memiliki posisi yang sangat strategis karena wilayah perairannya merupakan pintu masuk kapal-kapal yang dari dan menuju Terusan Suez. Selain itu pelabuhan Aden merupakan pelabuhan tersibuk ketiga di dunia, karena banyaknya kapal-kapal yang datang dari dan ke Eropa berlayar melewati perairan tersebut.16

Arab Saudi sebagai negara terbesar penghasil serta pengekspor minyak di dunia tentunya memiliki kepentingan yang sangat besar terhadap wilayah perairan Yaman di teluk Aden.17 Stabilitas keamanan Yaman akan berpengaruh besar terhadap seluruh wilayah Yaman,

termasuk perairannya. Jika stabilitas keamanan terguncang, maka hal ini akan berimplikasi pada hilangnya kontrol pemerintah terhadap wilayahnya. Hilangnya kontrol pemerintah terhadap sebuah wilayah akan mengganggu seluruh aktivitas di wilayah tersebut, baik itu aktivitas politik, perekonomian, dan lain-lain.

Dilihat dari fakta-fakta di atas, tentunya Arab Saudi memiliki kepentingan yang sangat besar untuk menjaga keamanan ekonominya dari ancaman-ancaman yang tidak diinginkan. Langkah Arab Saudi untuk melakukan intervensi ke Yaman selain ditujukan untuk menjaga stabilitas keamanan politik dalam negeri, juga ditujukan untuk menjaga stablitias keamanan ekonomi Arab Saudi agar tidak terganggu akibat terjadinya konflik tersebut.

Sebagai negara terbesar penghasil dan pengekspor minyak, Arab Saudi harus menjamin agar jalur supply ekspor minyak mereka aman dari ancaman. Ekspor minyak Arab Saudi mayoritas dilakukan melalui jalur laut. Stabilitas wilayah perairan harus dipastikan aman agar ekspor minyak yang mereka lakukan tidak terganggu. Jika supply ekspor minyak terganggu, hal ini akan berimplikasi pada menurunnya pendapatan Arab Saudi yang sebagian besar berasal dari ekspor minyak. Jika hal ini terjadi, dapat diartikan bahwa stabilitas keamanan ekonomi Arab Saudi sedang terganggu.

16 ASC Staff, “Top 10 Middle East Ports”,http://www.arabiansupplychain.com/. Diakses pada tanggal 29 April 2015, pukul 21:45.

(9)

C. Persaingan Iran-Arab Saudi: Faktor penentu stabilitas keamanan.

Persaingan antara Iran-Arab Saudi untuk menjadi hegemoni kawasan telah menjadi rahasia umum. Konflik Yaman dapat dikatakan sebagai ajang unjuk kekuatan Iran dan Arab Saudi untuk menunjukkan siapa yang lebih pantas menjadi hegemon di kawasan Timur Tengah. Bantuan Arab Saudi terhadap pemerintah Yaman serta bantuan Iran terhadap kelompok pemberontak menunjukkan betapa besarnya kepentingan dua negara itu dalam konflik tersebut.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa intervensi militer Arab Saudi ke Yaman ditujukan demi menjaga stabilitas keamanan politik dan ekonominya. Akan tetapi, Iran sebagai rival Arab Saudi di kawasan mungkin salah mengartikan niat intervensi tersebut. Persamaan ideologi yang dianut oleh Iran dan kelompok pemberontak dijadikan alasan oleh Iran untuk memberikan bantuan kepada kelompok pemberontak untuk melawan serangan Arab Saudi yang membabi buta.

Eskalasi konflik akibat adanya salah pengertian dari pihak Iran akan memberikan efek yang sangat besar jika Iran dapat mencapai kepentingannya dan Arab Saudi tidak. Jika pihak pemberontak menang melawan pemerintah akan berimplikasi pada goyahnya stabilitas keamanan politik dan ekonomi Arab Saudi. Tentu dapat ditebak jika peristiwa ini benar-benar terjadi kemungkinan terjadinya revolusi pemerintahan Arab Saudi sangat tinggi. Jika Iran berhasil mencapai kepentingannya, maka dapat dikatakan bahwa terdapat peningkatan kapabilitas politik Iran terhadap kawasan. Jika hal ini terjadi, mungkin Iran akan bertindak lebih agresif lagi untuk meningkatkan influnce dan power-nya di kawasan.

D. Konflik Sunni-Syiah: Kamuflase pihak yang memiliki kepentingan.

Pemberitaan di media banyak yang mengatakan bahwa konflik ini dikatakan sebagai konflik Sunni yang dipimpin oleh Arab Saudi melawan Syiah yang dipimpin oleh Iran.18

Berdasarkan asumsi Realis terjadinya konflik Yaman yang bereskalasi menjadi konflik antara Sunni-Shia tidak masuk akal. Elemen ideologi bukanlah merupakan hal yang harus diutamakan dalam analisis konflik ini. Hal ini didasarkan pada rasionalisasi Realis bahwa kepentingan nasional sebuah negaralah yang berperan besar bagi terciptanya konflik tersebut.

Isu perang Sunni-Syiah dalam konflik Yaman ini hanya merupakan kamuflase dari media untuk memobilisasi massa agar Sunni dan Syiah berperang satu sama lain. Selain itu,

(10)

isu ini juga memberikan keuntungan bagi Arab Saudi dan Iran untuk menggalang dukungan dan bantuan untuk menaklukan satu sama lain. Padahal motif utama dari Arab Saudi dan Iran dalam konflik ini bukanlah ideologi, akan tetapi kepentingan nasional. Kepentingan nasional Arab Saudi untuk menjaga stabilitas keamanan politik dan ekonomi mereka sekaligus ambisi hegemoninya terhadap kawasan. Dan kepentingan Iran untuk bersaing menjadi hegemoni di kawasan melawan Arab Saudi.

Pemberitaan media massa yang masif dan mengatakan bahwa konflik ini merupakan konflik antara Sunni dan Syiah harus dikonfirmasi ulang kebenarannya. Harus kita pahami bahwa setiap peristiwa tidak terlepas dari kepentingan, dan setiap kepentingan akan dibungkus sedemikian rupa untuk menyamarkan motif utama dari kepentingan tersebut. Jika kita perhatikan lebih lanjut, pemberitaan media ini juga pasti memiliki kepentingan terhadap konflik ini. Mungkin media (terutama media Barat, terutama AS) memiliki kepentingan untuk menjaga agar konflik ini tetap lestari di wilayah Timur Tengah.

Hal ini ditujukan untuk memecah belah umat Islam agar tidak bersatu seperti dulu. Jika umat Islam bersatu seperti dulu kala, bukan tidak mungkin seluruh kepentingan Barat di kawasan Timur Tengah akan terancam. Selain itu kepentingan negara-negara Barat di kawasan ini sangat banyak sekali, terutama minyak. Jika supply minyak terganggu hal ini bisa menyebabkan kerugian bagi industri-industri di Barat karena tidak bisa melakukan aktivitas produksi sebagaimana mestinya.

Identitas ideologi Sunni-Syiah disini harus diposisikan sebagai instrumen untuk mencapai kepentingan. Pihak-pihak yang berkepentingan dalam konflik ini dapat dikatakan menjadikan ideologi sebagai instrumen demi ambisi mereka untuk mencapai kepentingan masing-masing. Sangat ironis sekali melihat bagaimana sebuah ideologi yang memiliki nilai-nilai suci dipermainkan demi ambisi untuk mencapai kepentingan pihak-pihak tertentu.

KESIMPULAN

(11)

yang serius. Maka dari itu, Arab Saudi langsung melakukan intervensi militer ke Yaman untuk mencegah sedini mungkin ancaman-ancaman tersebut masuk ke negaranya.

Iran sebagai rival Arab Saudi tentunya akan langsung merespon tindakan Arab Saudi. Hal ini diakibatkan oleh ambisi masing-masing negara untuk menjadi hegemon di kawasan Timur Tengah. Seharusnya sebagai sesama negara yang memiliki power dan influence yang kuat di kawasan, memberikan solusi terbaik bagi konflik tersebut. Akan tetapi, yang dilakukan malah sebaliknya, meningkatkan eskalasi konflik di Yaman.

Keberadaan Liga Arab dan OKI seharusnya dijadikan sebagai alat untuk memfasilitasi penyelesaian konflik di kawasan Timur Tengah, salah satunya konflik Yaman. Akan tetapi, Arab Saudi atas nama Liga Arab dan beberapa negara malah melancarkan aksi militer untuk memadamkan konflik tersebut. Tentunya tindakan ini tidak akan menyelesaikan konflik tersebut, dan hanya mengakibatkan eskalasi konflik yang susah untuk dihentikan.

Banyaknya isu yang menyatakan bahwa konflik ini adalah konflik antara Sunni dan Syiah. Seharusnya umat Islam cerdas dalam menyikapi sebuah permasalahan. Harus dilihat dulu, apakah benar ideologi yang melatarbelakangi konflik tersebut. Akan tetapi, realitas di lapangan menunjukkan bahwa umat Islam banyak yang mempercayai konflik tersebut adalah konflik Sunni-Syiah. Padahal jika dipahami lebih lanjut kenyataannya jauh berbeda dengan realita yang ada.

Kita harus lebih bijak dalam menyikapi sebuah permasalahan. Apalagi permasalahan internal di antara umat Islam, yang membuat umat ini terpecah belah. Media (Barat) menggunakan isu Sunni-Syiah bertujuan untuk memecah belah umat Islam. Isu ini digunakan karena isu ideologi merupakan isu yang sangat sensitif dan mudah digunakan untuk memobilisasi massa. Maka dari itu, umat Islam seharusnya bersikap lebih bijak lagi agar tidak terjebak dalam permainan para pihak yang memiliki kepentingan.

DAFTAR PUSTAKA

(12)

Buzan Bary, “People State & Fear; An Agenda for International Security in the Post Cold

War Era”, London: Harvester Wheaf Sheaf, 1991, hlm. 2-3.

L. Pettiford & J. Steans, “Hubungan Internasional Perspektif & Tema”, Yogyakarta: Pustaka

Pelajar, 2009, hlm. 52.

Waltz Kenneth, ”Theory of International Politics”, United States: Addison-Wesley, 1979,

hlm. 131.

Weber Cynthia, “International Relations Theory”, New York: Routledge, 2005, hlm. 20.

Internet:

Al-Mujahed Ali, ”Saudi Arabia launches air attacks in Yemen,”

http://www.washingtonpost.com/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 19:26.

Alkarimi Khalid, ”CBY economic researcher to the Yemen Times,”

http://www.yementimes.com/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 19:43.

ASC Staff, “Top 10 Middle East Ports”, http://www.arabiansupplychain.com/. Diakses pada

tanggal 29 April 2015, pukul 21:45.

Colgan Jeff, “How sectarianism shapes Yemen’s war”, http://www.washingtonpost.com/.

Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 20:52.

Harazi Eal, “Yemen Overview”, http://www.worldbank.org/. Diakses pada tanggal 28 April

2015, pukul 20:15.

Heritage Reporter, “Yemen”, http://www.heritage.org/. Diakses pada tanggal 28 April 2015,

pukul 19:50.

Manfreda Primoz, ”Definition of the Arab Spring,” http://middleeast.about.com/. Diakses

pada tanggal 28 April 2015, pukul 18:44.

Ro Julia, “The Sunni-Shia Divide”, http://www.cfr.org/. Diakses pada tanggal 29 April 2015,

(13)

Saudi Embassy Staff, “About Saudi Arabia”, http://www.saudiembassy.net/. Diakses pada

tanggal 29 April 2015, pukul 21:50.

Shaheen Kareem, ”Yemen edges towards all out civil war as rebels advance on city of Aden,”

http://www.theguardian.com/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 19:10.

Wehrey Frederich, “Saudi Arabia has a Shiite problem”, http://foreignpolicy.com/. Diakses

pada tanggal 28 April 2015, pukul 21:44.

Wong Kristina, “Iranian ship convoy moves toward Yemen, alarming US officials”,

http://thehill.com/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 21:12.

Younis Nussaibah, “The Saudi-Iran powerplay behind the Yemen conflict”,

http://www.theguardian.com/. Diakses pada tanggal 28 April 2015, pukul 21:01.

Zenko Micah, “The United States is at war in Yemen”, http://foreignpolicy.com/. Diakses

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...