• Tidak ada hasil yang ditemukan

perbedaan antara jual beli salam dengan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "perbedaan antara jual beli salam dengan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH FIQH MUAMALAH

“PERBEDAAN JUAL BELI SALAM DENGAN JUAL BELI ISTISNA”

Tugas Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fiqh Muamalah

Dosen Pengampu Bpk. Imam Mustofa,M,S.I.

Di Susun Oleh :

Kelompok 17

1. LELA OKTAVIANA 1502100070

PROGRAM S1 PERBANKAN SYARI’AH

JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

METRO

(2)

2 BAB I PEMBAHASAN A. Perbedaan Jual Beli Salam Dan Istishna

Bai’ as salam adalah pembelian barang yang diserahkan kemudian hari

sedangkan pembayarannya dilakukan dimuka. Bai’ as salam biasanya

dialakukan untuk produk-produk pertanian jangka pendek.

Contoh Ba’i as salam:seorang petani cengkeh bernama anton hendak

menanam cengkeh dan membutuhkan dana sebesar Rp200.000.000,- untuk satu

hektar dan ia mengajukan pembiayaan ke LKS .bank syariah blinyu menyetujui

dan melakukan akad dimana bank syariah blinyu akan membeli hasil cengkeh

tersebut sebanyak 10 ton.dengan harga Rp200.000.000,- selama satu

tahun.pada saat jatuh tempo petani harus menyerahkan cengkeh sebanyak 10

ton.kemudian bank syariah blinyu dapat menjual cengkeh tersebut dengan harga

yang relatif tinggi misal Rp25.000 perkilo .dengan demikian penghasilan bank

adalah 10XRp25.000=Rp250.000.000,-.dari hasil tersebut bank syariah blinyu

akan memperoleh keuntungan sebesar Rp50.000.000,- stelah di kurangi modal

yang diberikan bank syariah blinyu kepada pak anton yaitu Rp200.000.000,-.1

Jual beli Istishna’ menurut para ulama merupakan suatu jenis khusus

dari akad bay’ as-salam (jual beli salam). Jenis jual beli ini dipergunakan dalam

bidang manufaktur. Pengertian bay’ Istishna’ adalah akad jual barang pesanan di

antara dua belah pihak dengan spesifikasi dan pembayaran tertentu. Barang

yang dipesan belum diproduksi atau tidak tersedia di pasaran. Pembayarannya

dapat secara kontan atau dengan cicilan tergantung kesepakatan kedua belah

pihak. Jual beli al-istishna’ dapat dilakukan dengan cara membuat kontrak baru

dengan pihak lain. Kontrak baru tersebut dengan konsep istishna’ paralel.

Pelaksanaannya ada dua bentuk. Pertama, produsen dipilih oleh pihak Bank

Syariah. Kedua, Produsen dipilih sendiri oleh nasabah.2

1Kasmir,Bankdan Lembaga Keuangan Lainnya,Pt Raja Grafindo Persada,Jakrta,2014,Hlm.172.

(3)

3

B.Dasar Hukum Jual Beli as salam dan istihna’

Jual beli disyariatkan oleh Allah berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut :

a. Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 275 :

Artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan

seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit

gila.Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka

berkata(berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal

Allah telahmenghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang

telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari

mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum

datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang

mengulangi (mengambil riba),maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;

mereka kekal di dalamnya.

b. Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 282:

Artinya: Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan

saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka

sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah

kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

c. Firman Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 29 :

Artinya:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta

sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang

berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu

membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. d. Hadis Rasul yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang artinya “ dari Rafi’ Ibn Khudaij ia berkata; Rasulullah Saw ditanya oleh seseorang; apakah usaha yang

paling baik wahai Rasulullah. Beliau menjawab seseorang yang bekerja dengan

usahanya sendiri dan jual beli yang baik (dibenarkan oleh syariat Islam). Hadis

riwayat Ahmad. 3

e. Hadis riwayat Ibn Majah yang artinya “ dari Sa’id al-Khudhari ia berkata;

Rasulullah Saw bersabda; sesungguhnya jual beli itu harus didasarkan atas suka

sama suka.Hadis riwayat Ibn Hibban.

(4)

4

C.Perbedaan anatara jual beli salam dengan jual beli istisna

NO Subjek Salam Istisna Ketentuan

1 Akad

atau

kontrak

jual beli barang

dengan cara

pemesanan dan

pembayaran

harga

lebih dahulu

jual beli dalam

bentuk pemesanan

harus lunas pada

saat

pada saat akad

terjadi

(barang atau objek)

Barang di

tangguhkan

dengan

(5)

5

ar dan sifatnya)

3 Sifat

n istishna menjadi

pengikat untuk

Objek yang akan

di transaksikan

Objek yang akan di

(6)

6

pakaian oleh raga

(7)

7 6 posisi

nasabah

nasabah salam nasabah istisna posisi nasabah

salam: Sebagai

akad, akan tetapi

boleh berubah

sesuai

dengan

kesepakatan

para pihak yang

ada,sedangkan

(8)

8

pada awal

terjadinya

akad, akan tetapi

boleh berubah

sesuai

dengan

kesepakatan

para pihak yang

ada5

8 waktu Penyerahan

barang

Penyerahan

barang

Salam

Bolehnya

menentukan

tenggang waktu

di masa yang

akan datang

untuk penyerahan

barang.

Para ulama

sepakat bahwa

waktu

penyerahan di

masa yang akan

datang juga boleh

ditentukan saat

transaksi.sedang

kan istishna,tidak

di perbolehkan

menetapkan dan

memastikan

(9)

9

waktu tertentu

untuk

menyerahkan

barang pesanan6

9 Kontrak

paralel

Salam paralel Istishna paralel Baik salam

paralel maupun

istishna paralel

sah,yaitu asalkan

kedua kontrak

secara hukum

terpisah7

D.Perbedaan jual beli salam paralel dengan jual beli istisna paralel Pertama: Konsekuensi Jual beli Salam Paralel

Ketentuan tentang salam paralel:

1.Dibolehkan melakukan salam paralel dengan syarat:

a. Akad kedua terpisah dari akad pertama.

b. Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sarih atau jelas

2.Penyerahan barang sebelum atau pada waktunya :

a. Penjual harus menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan kualitas dan

jumlah yang telah disepakati Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas

yang lebih tinggi penjual tidak boleh meminta tambahan harga.

c. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih rendah dan

pembeli rela menerimanya, maka ia tidak boleh menuntut pengurangan

harga(diskon)

(10)

10

d. Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati

dengan syarat: kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan, dan ia

tidak boleh menuntut tambahan harga

e. Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau

kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak menerimanya, maka ia memiliki dua

pilihan. Pertama, Membatalkan kontrak dan meninta kembali uangnya. Kedua,

Menunggu sampai barang tersedia.8

3.Pembatalan kontrak

Pada dasarnya pembatalan salam boleh dilakukan, selama tidak merugikan

kedua belah pihak. Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)

tentang Akuntansi Salam memberikan karakteristik salam sebagai berikut:

a. Entitas dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi

salam. Jika entitas bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak

lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut

salam paralel.

b. Salam paralel dapat dilakukan dengan dua syarat. Pertama, akad antara

entitas9

(sebagai pembeli) dan Produsen (penjual) terpisah dari akad antara entitas

(sebagai penjual) dan pembeli akhir. Kedua, kedua akad tidak saling bergantung

(ta'alluq).

c. Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di

awal akad. Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka

waktu akad. Dalam hal bertindak sebagai pembeli, entitas dapat

Kedua:Konsekuensi Jual Beli Istishna’ Paralel.

Secara umum tahapan parktik istishna dan istishna‟ parallel) di perbankan

syari‟ah adalah sama dengan tahapan praktik salam. Perbedaannya terletak

pada cara pembayaran yang tidak dilakukan secara sekaligus, tetapi dilakukan

secara bertahap (angsuran). Berdasarkan kompilasi SOP yang disampaikan oleh

Bank syari‟ah tahapan pelaksanaan istishana‟ dan istishna‟ parallel adalah

sebagai berikut:

8Muha ad Safi’i A to io,Bank Syariah,Gema Insani,Jakarta,2001,Hlm.117. 9 Faruhdin Ahmad,Akad dan Produk Bank Syariah,Pt Raja Grafindo

(11)

11

1. Adanya permintaan barang tertentu dengan spesifikasi yang jelas, oleh nasabah pembeli kepada bank syari‟ah sebagai mustahil

2. Wa‟ad nasabah untuk membeli barang dengan harga dan waktu tangguh

pengiriman barang yang disepakati

3. Mencari produsen yang sanggup untuk menyediakan barang dimaksud

(sesuai batas waktu yang disepakati denga harga yang lebih rendah).

4. Pengikatan I antara bank nasabah untuk membeli barang dengan spesifikasi

tertentu yang akan diserahkan pada waktu yang telah ditentukan.

5. Pembayaran oleh nasabah dilakukan sebagaian di awal akad dan sisanya

sebelum barang diterima (atau sisanya disepakati untuk diangsur).

6. Pengikatan II antara bank dan produsen untuk membeli barang dengan

spesifikasi tertentu yang akan diserahkan pada waktu yang telah ditentukan.

7. Pembayaran dilakukan secara bertahap bank kepada produsen setelah

pengikatan dilakukan.

8. Pengiriman barang dilakukan langsung oleh produsen kepada nasabah

Pihak Bank Syari’ah boleh menggunakan jual beli istishna’ paralel, namun

demikian mempunyai konsekuensi sebagai berikut :

a. Bank Syari’ah sebagai kontrak pertama, tetap bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kewajibannya. Artinya, pihak Bank Syariah tetap bertanggung10

jawab atas kesalahan, kelalaian atau pelanggaran yang berasal dari sub kontrak

yang disetujui.

b. Pihak yang menjadi sub kontrak hanya bertanggung jawab kepada pihak Bank

Syariah sebagai pemesan barang. Dia tidak mempunyai hubungan hukum

dengan nasabah atau pengusaha yang memesan barang kepada pihak Bank

Syariah.

c. Pihak Bank Syariah dan sub kontraktor bertanggung jawab terhadap nasabah

atau pengusaha atas kesalahan atau kelalaian yang terjadi.

d) Akad istishna pertama antara pemesan dengan bank harus terpisah dengan

akad kedua yaitu antara bank dengan penjual, sehingga antara pemesan dengan

penjual harus merupakan pihak yang berbeda.

e) Akad dalam istishna pararel terdiri dari:

(12)

12

1. Akad bank dengan nasabah (akad pembiayaan).

2. Akad bank dengan produsen/ suplier (berupa bukti

pemesanan/PKS/call name) dapat pula deberi wakalah kepada

nasabah untuk berakad istishna dengan produsen.

f) Pada dasarnya akad istishna tidak dapat dibatalkan kecuali kedua belah pihak

setuju untuk menghentikannya, dan akad dibatalkan demi hukum karena timbul

kondisi hukum yang dapat menghalang pelaksanaan atau penyelesaian akad.11

(13)

13 BAB II Kesimpulan

Bai’ as salam adalah akad jual-beli di mana pembeli membayar uang (sebesar

harga) atas barang yang telah disebutkan spesifikasinya sedangkan barang yang

diperjualbelikan itu akan diserahkan kemudian, yaitu pada tanggal yang

disepakati. Bai’ as salam biasanya dialakukan untuk produk-produk pertanian

jangka pendek. Jual beli Istishna’ menurut para ulama merupakan suatu jenis

khusus dari akad bay’ as-salam (jual beli salam). Jenis jual beli ini dipergunakan

dalam bidang manufaktur. Pengertian bay’ Istishna’ adalah akad jual barang

pesanan di antara dua belah pihak dengan spesifikasi dan pembayaran tertentu.

Barang yang dipesan belum diproduksi atau tidak tersedia di pasaran.

Pembayarannya dapat secara kontan atau dengan cicilan tergantung

kesepakatan kedua belah pihak. Jual beli al-istishna’ dapat dilakukan dengan

cara membuat kontrak baru dengan pihak lain. Kontrak baru tersebut dengan

(14)

14 DAFTAR PUSTAKA

Antonio ,

Muha

ad Safi’i

.2001.Bank Syariah. Jakarta

:

Gema Insani.

Ahmad ,Faruhdin. 2007.Akad dan Produk Bank Syariah

.

Jakarta :Pt Raja Grafindo

Prasada.

Kasmir.2014.Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta :Pt Raja Grafindo

Persada.

Mardani. 2012.Fiqh Ekonomi Syariah

.

Jakarta :Prenada Media Group.

Mardani. 2012.Fikih Ekonomi Syariah Fiqh Muamalah

.

Jakarta :Kencana Pranada

.

Mustofa,Imam. 2014.Fikih Muamalah Kontemporer, Metro Lampung :Stain Jurai

Siwo Metro.

Mustofa,Imam.2016.Fiqh Muamalah Kontemporer

,

Jakarta:PT Raja Grafindo

Prasada.

Nizarudin.2013.Fikih Muamalah

,

Yogyakarta

:

Idea Press

.

Rasjid ,Sulaiman. 2007.Fikih Islam

.

Bandung:Pt Sinar Baru Algensindo.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variabel Lokasi, Keragaman Produk, dan Promosi Penjualan memberikan kontribusi terhadap peningkatan keputusan pembelian

lebih besar memiliki tingkat stabilitas inti yang lebih rendah.Oleh karena itu, kita perlu menyatakan besaran energy yang terkait langsung dengan stabilitas inti, yaitu energI ikat

Cara kerja dari mesin ini adalah dengan memasukkan produk yang telah dicetak ke dalam  feeder , kemudian produk akan ditarik oleh  gripper   dan diurutkan

Dalam Peraturan Walikota Tasikmalaya Nomor 63 Tahun 2016 tentang Tugas Pokok dan Rincian Tugas Unit Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota

Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita.. Biasanya, pembengkakan disertai dengan

Gambar 2.2 merupakan alat kompresing untuk uji kualitas beton. Gambar 2.2 Alat kompresing untuk menguji kekuatan beton. Beton harus dirancang proporsi campurannya agar

Berdasarkan visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi dan kebijakan pada bagian sebelumnya, maka disusun langkah-langkah rencana strategis yang lebih

Tablet effervescent probiotik pada konsentrasi 20% dan 30% menit ke-0 sampai menit ke-30, bakteri masih mampu beradaptasi karena masih adanya nutrisi dilingkungan