• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Kunci: Problem Solving, Pesantren. Pendahuluan - View of PROBLEM SOLVING BERBASIS PESANTREN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kata Kunci: Problem Solving, Pesantren. Pendahuluan - View of PROBLEM SOLVING BERBASIS PESANTREN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Ali Wafa

Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo, E-mail: [email protected]

Abstrak

Riset ini membahas teknik problem solving di Lembaga Pendidikan Islam (Madrasah Tsanawiyah), yaitu bagaimana problema diselesaikan dan memiliki dampak positif terhadap secara kelembagaan dalam mencapai tujuannya. Teknik pemecahan masalah menggunakan teori SWOT dan Supervisi.1 Penelitian dilakukan di MTs Walisongo 1 Maron Probolinggo dan MTs Nurul Jadid Paiton Probolinggo dengan menggunakan wawancara. Organisasi identik dengan masalah. Masalah menjadi bagian integral organisasi. Meskipun paling dihindari, organisasi tidak bisa lepas dari masalah. Masalah harus dihadapi dan diselesaikan, sehingga mencapai tujuan yang ditetapkan. Upaya menyelesaikan masalah organisatoris disebut problem solving. Dalam kerangka ini, teknik problem solving menjadi penting. Adanya permasalahan menunjukkan organisasi masih hidup. Masalah memiliki dampak positif dan negatif, tergantung sejauh mana kemampuan organisasi mengelolanya. Organisasi yang dapat mengelolanya dengan baik, menjadi maju. Sebaliknya, organisasi yang gagal menghadapi masalah, jurang kehancuran menjadi kuburannya.

Kata Kunci: Problem Solving, Pesantren. Pendahuluan

Secara genealogis, eksistensi madrasah berakar kuat pada masyarakat. Madrasah dibangun, tumbuh dan berkembang dari, oleh dan untuk masyarakat itu

sendiri. Artinya keberadaan madrasah tidak bisa lepas dari sejarah perkembangan

serta sosial budaya pada suatu masyarakat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa

madrasah telah menerapkan konsep pendidikan berbasis masyarakat (community based education)2. Berdasarkan teori Muhaimin tersebut madrasah masyarakat membidani eksistensi madrasah.

1 Teori supervisi mengacu kepada konsep Titiek dimana menjadi salah satu model dalam menyelesaikan permasalahan lembaga dalam proses pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dilakukan supervisi klinik untuk membantu guru atau menejemen sekolah mencapai tujuannya. Lihat Titiek Rohanah Hidayati, Supervisi Pendidikan; Sebuah Upaya Pembinaan Kompetensi Guru (Jember: Stain Press, 2013), 99-100.

(2)

2 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam

Madrasah Tsanawiyah merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang

berafiliasi ke Kementerian Agama. Kehadiran madrasah merupakan solusi atas

dikotomi pendidikan pesantren dan pendidikan umum. Madrasah menjadi jalan

tengah, dimana generasi muslim diharapkan dapat menguasai ilmu pengetahuan dan

teknologi dengan basis keimanan dan ketaqwaan yang mantap. Madrasah

Tsanawiyah menghadapi masalah yang beragam. Mulai dari kelembagaan,

ketenagaan, dana, hingga sosial budaya. Secara manajemen, masalah di madrasah

tsanawiyah adalah masalah manajemen, baik kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana,

humas, konflik hingga masalah khusus.

Perkembangan madrasah berlangsung secara dialektis, bukan taken for granted. Masyarakat, pemikiran dan gerakan muncul, berkembang atau berhenti bukan didasarkan pada satu dimensi waktu, tetapi biasanya mengandung proses awal

atau akhir yang menyebar dalam jarak waktu yang relatif panjang.3 Perkembangan

madrasah bisa diruntut dari kegelisahan masyarakat muslim untuk menserasikan

antara IMTAK dan IPTEK kepada generasi muslim masa depan.

Kehadiran PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP)

patut disyukuri, karena dapat berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan,

pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan

nasional yang berkualitas melalui Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah.

Standar Nasional Pendidikan dalam hal ini berfungsi sebagai dasar dalam

perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan

pendidikan nasional yang bermutu.4 Jadi standar nasional pendidikan berfungsi

sebagai acuan penyelenggara pendidikan untuk mewujudkan pendidikan nasional

yang bermutu.

Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan

berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan

global. Untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai dengan standar

nasional pendidikan dilakukan evaluasi, akreditasi dan sertifikasi. Kualitas pendidikan

(3)

Volume 8, Nomor 2, Agustus 2015 | 3 dapat dilihat dari isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan,

sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan.5

Pembaharuan pendidikan madarasah tidak lepas dari manajemen.

Manajemen dipandang sebagai solusi modernisasi pendidikan madrasah. Alasan

tentang mengenai premis ini bisa berderet-deret. Dalam hemat penulis terdapat dua

hal utama terkait peran dan fungsi manajemen dalam pembaharuan pendidikan

madarasah yaitu, menyangkut pengelolaan internal dan keberadaan madarasah yang

belum diperhitungkan dunia luar (masyarakat). Dua hal ini menjadi titik pijak terhadap

upaya memajukan madrasah.

Masalah adalah kesenjangan antara yang diinginkan dengan yang terjadi.

Masalah merupakan gap antara yang ideal dengan realitas, antara das sein dengan

das sollen. Masyarakat umum memiliki salah persepsi terhadap masalah. Mereka

memandangnya secara disfungsi, bahkan destruktif. Padahal, ia juga fungsional

apabila dikelola dengan baik. Tanpa masalah, akan muncul pemikiran tentang tidak

perlunya perubahan dan perhatian dilakukan karena mengira semua program

berjalan dengan baik.6

Pemecahan masalah merupakan proses mental dan intelektual dalam

memahami dan memecahkan persoalan berdasarkan data dan informasi yang akurat

untuk kemudian dilakukan solusi-solusi yang tepat dan cermat.7 Data dapat diperoleh

melalui investigasi atau cara lainnya yang dianjurkan secara ilmiah maupun

organisatoris. Data dan informasi yang masuk harus divalidasi agar tidak simpang siur

dan menyesatkan. Kedua proses tersebut menjadi penting dan mendasar agar

penyelesaian masalah tidak menimbulkan masalah baru.

Pemecahan masalah merupakan proses rasional, bukan emosional.

Pertimbangan-pertimbangan dalam pemecahan masalah organisasi melibatkan logika

organisasi yang tertuang dalam anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga

(ART) dan berorientasi pencapaian visi-misi kelembagaan. Unsur-unsur yang terlibat

5 H.A.R Tilaar, Standarisasi Pendidikan Nasional: Suatu Tinjauan Kritis (Jakarta : Rineka Cipta, 2006), 169-170.

6 Gibson, Ivancevic, Donnelly, Organization (Richard D Irwin Inc, 1995), 436.

(4)

4 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam

di dalamnya dilibatkan sehingga dapat memperkuat kelembagaan. Upaya tersebut

dilakukan melalui koordinasi dan konsolidasi secara terus menerus.

Masalah harus dimanaje dengan baik agar memiliki dampak posistif terhadap

organisasi. Keberadaan manajemen dalam penyelesaian masalah menjadi penting.

Kebenaran yang tidak dikelola dengan baik akan kalah dengan kezaliman yang

dimanaje secara terorganisir. Dengan demikian, manajemen menjadi misteri dalam

penyelesaian masalah, mulai dari proses planning, organizing, actuating hingga controlling. Efektifitas, efisiensi dan produktifitas menjadi tujuan penyeleasian masalah organisasional.

Gibson berpendapat bahwa masalah organisasi dapat dihilangkan atau

dihindarkan dengan cara merekrut orang yang tepat, menetapkan uraian kerja secara

hati-hati, menyusun organisasi dengan cara membuat mata rantai komando yang

jelas, dan menciptakan aturan dan prosedur yang jelas untuk menghadapi berbagai

macam hal yang terjadi.8 Prinsip The right man on the right job, the right man on the right place adalah tepat sebagai langkah antisipatif. Masalah sering muncul akibat the right man on the wrong place atau the wrong man on the right place juga akan mendatangkan persoalan yang tidak kecil di kemuadian hari.

Problem solving dapat dilakukan melalui beberapa langkah, seperti identifikasi masalah, menemukan sumber dan akar masalah dan kesimpulan. Pemecahan masalah

dimulai dengan memahaminya, merencanakan pemecahan masalah, melaksanakan

pemecahan masalah dan evaluasi. Dengan demikian, pemecahan masalah merupakan

bagian dari proses manajemen. Pemecahan masalah dilakukan dengan manajemen

dan berorientasi pada perencanaan hingga hasil yang diinginkan.

Teknik pemecahan masalah dalam penelitian ini menggunakan teori SWOT

dan supervisi. Berikut deskripsi konsep kunci keduanya:

Teori Manajemen

Everything is by manajemen (segala sesuatu menjadi baik melalui manajemen), demikian pula pemecahan masalah dalam mengelola tantangan lembaga pendidikan

Islam. Pemecahan masalah di Madrasah Tsanawiyah mengharuskan adanya

(5)

Volume 8, Nomor 2, Agustus 2015 | 5 manajemen, baik kelembagaan, kultur, tradisi dan nilai-nilai yang berada di dalamnya.

Manajemen merupakan jalan keluar pemecahan masalah organisasional madrasah.

Dalam hemat penulis terdapat dua hal utama terkait peran dan fungsi manajemen

yaitu, menyangkut pengelolaan internal dan keberadaan MTs sebagai the second choice. Dua hal ini menjadi titik pijak terhadap upaya memajukan lembaga pendidikan Islam.9

Manajemen pemecahan masalah merupakan proses mengelola perubahan

dalam lembaga pendidikan Islam dimana terdapat pola hubungan antara keduanya

dengan fungsi-fungsi tertentu untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.10

Manajemen diperlukan peran dan fungsi pesantren berlangsung produktif,11 mengacu

pada tata laksana yang jelas sehingga tidak terjadi kesimpang-siuran, apalagi

tumpang tindih tugas atau saling lempar tanggung jawab menyangkut hal-hal yang

urgen.

Manajemen pemecahan masalah mengacu pada manajemen budaya

Madarasah Tsanawiyah. Prinsip-prinsip manajemen berbasis pada kekhasan budaya

lembaga pendidikan islam. Perencanaan, pembagian tugas, pengelolaan, dan

pengendalian partisipatif menjadi hal utama. Manajemen budaya lebih berorientasi

pada decision making, yaitu proses pengambilan keputusan melalui proses yang melibatkan stake holders (masyarakat, praktisi pendidikan, wali santri dan pemerintah). Manajemen budaya menjembatani partisipasi lingkungan sosial dapat

tersalurkan dengan baik. Manajemen budaya pesantren harus berangkat dari good will (keinginan baik) pihak pesantren.

Teori SWOT

Teori SWOT12 meliputi Strengths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang) dan Threats (ancaman) yang terdapat pada Lembaga

9 Wayne K. Hoy-Cecil G. Miskel, Educational Administration; Theory reserach and Practice Third Edition, (New York: Rondom House, 1987), 336, 337.

(6)

6 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam

Pendidikan Islam (MTs). Dengan analisis SWOT ini dapat diketahui peta masalahnya.

Identifikasi unsur strengths dengan mendaftar semua kekuatan yang dimiliki, weakness meliputi unsur kelemahan lembaga, opportunities meliputi semua peluang, dan identifikasi threats (ancaman) yang dihadapi. Langkah selanjutnya adalah menyatukan unsur SO (strengths-opportunities), yaitu memanfaatkan semua kekuatan yang ada untuk memanfaatkan peluang. Strategi WO (weaknesses -opportunities) dipakai untuk mengatasi kelemahan dengan memanfaatkan semua peluang yang dimiliki. Strategi ST (strengths-threats) dipakai untuk menghindari semua tantangan yang dihadapi berdasar kekuatan yang ada dan strategi WT

(weaknesses-threats) untuk menekan kelemahan dan menghadapi kelembagaan baik internal maupun eksternal.

Teori Supervisi

Titiek menempatkan supervisi sebagai upaya setting for learning, dengan menjadikan guru dan warga sekolah sebagai mitra pengawas yang sama-sama

memiliki tujuan mengambangkan dan memajukan lembaga pendidikan. Supervisi

diarahkan kepada urusan teknis edukatif dan administratif. Supervisi dimaksudkan

sebagai upaya meningkatkan wawasan dan kemampuan profesional dalam

bidangnya. Supervisi diarahkan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas

pembelajaran.13 Supervisi klinik yang diterapkan untuk mencapai tujuan di atas. Teknik

supervisi bisa dilakukan secara individual maupun kelompok.14 Supervisi individual

meliputi supervisi perkembangan, direncanakan bersama, sebaya, memanfaatkan

siswa dengan alat-alat elektronik dan pertemuan informal. Supervisi kelompok

dilaksanakan melalui supervisi rapat guru, sebaya, diskusi, demonstrasi, pertemuan

ilmiah dan kunjungan ke sekolah.

Hasil Penelitian

MTs Walisongo 1 Maron merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua

se-eks Kawedanan Gending yang berdiri pada tahun 1960 dengan bentuk Muallimin 6

13 Titiek, Supervisi, 9.

(7)

Volume 8, Nomor 2, Agustus 2015 | 7 tahun atas inisiatif para tokoh NU Kecamatan Maron, Banyuanyar dan Gending.15

Ribuan alumni tersebar di berbagai daerah dan profesi ikut mewarnai kehidupan

beragama berbangsa dan bernegara. Lembaga di bawah naungan NU ini, menjadi

salah satu lembaga berprestasi di Kabupaten Probolinggo, baik akademik maupun

vocational skill.

MTs Nurul Jadid merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berada di

bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Dengan demikian

keberadaan MTs. Nurul Jadid tidak bisa dilepaskan dari sejarah, tradisi dan

normatifitas Pondok Pesantren Nurul Jadid. Argumentasi yang dapat dikemukakan di

sini adalah nama Nurul Jadid yang melekat di belakang kata MTs dan lokasinya di

areal pesantren.

Karena terletak di kawasan pesantren16, kedua MTs tersebut merupakan

lembaga pengkaderan para pemikir agama, lembaga pemasok sumber daya manusia

dan lembaga yang mendorong kemandirian dan pemberdayaan masyarakat maupun

sebagai lembaga yang mendorong serta ikut aktif dalam perubahan sosial

kemasyarakatan. Karena sejak berdiri MTs. Nurul Jadid memang bukan sekedar untuk

pemenuhan kebutuhan keilmuan melainkan juga penjagaan budaya, penyebaran

etika dan moralitas keagamaan. Pembelajaran di kedua MTs. tersebut dilaksanakan

secara integratif di sekolah dan di asrama.

1. Potret MTs Nurul Jadid dan Walisongo 1 Maron

Pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan kurikulum yang telah

ditetapkan lembaga. Pembelajaran berlangsung sejak pukul 07.30 hingga 13.00.

Pembelajaran dilaksanakan dengan metode berpusat pada siswa dan fasilitas yang

telah tersedia. Pembelajaran disampaikan oleh guru sesuai dengan jadwal yang

telah ditetapkan. Jadwal pelajaran mengacu pada kalender pendidikan yang

15 Data MTs Walisongo 1 Maron.

16 Pesantren merupakan lembaga yang memiliki fungsi dan mengambil peran sebagai lembaga pendidikan yang melakukan pendalaman dan pengkajian ilmu-ilmu agama dan nilai-nilai Islam (Islamic Values); lembaga pendidikan yang melakukan kontrol sosial dan lembaga pendidikan yang melakukan rekayasa sosial (social engineering), baca M. Sulthon dan Moh. Khusnurido,

(8)

8 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam

menyesuaikan antara tradisi pesantren dan ketentuan dari Departemen Agama.

Hari efektif yang tersedia dalam satu semester adalah 126 hari.17

Pembelajaran lebih menekankan pada pendekatan-pendekatan psikologis

untuk penguatan cita-cita. Pembelajaran multisensori yang mengaktifkan semua

indera diterapkan untuk memudahkan siswa belajar.18 Lebih lanjut Hasanah

menjelaskan bahwa pembelajaran juga ditunjang dengan adanya sarana prasarana

yang cukup, baik referensi di perpustakaan, audio visual, internet19 dan juga

melalui lingkungan. Fasilitas tersebut diberikan agar siswa mendapat kemudahan

dan termotivasi untuk mengakses informasi khususnya yang berhubungan dengan

materi pelajaran.

Asrama merupakan tempat bagi santri selama mondok di PP Nurul Jadid.

Lokasinya terletak sekitar 50 – 100 m dari MTs Nurul Jadid. Selama berada di

asrama peserta didik melakukan pendalaman dan pengembangan materi yang

diajarkan di madrasah. Asrama menjadi ruang bagi peserta didik untuk melakukan

pembelajaran secara mandiri dan sosial. Di asrama ini pula peserta didik dapat

melakukan serangkaian kegiatan seperti pengajian kitab kuning, ta’addy (tarbiyyah ad-diniyyah), bahtsul masa’il, bahthul kutub,20 istighatsah bersama, jam belajar,

serta student day.Student day merupakan kegiatan yang berorientasi pada bakat

dan minat yang dilaksanakan setiap Senin malam dan Kamis malam serta Jum’at

siang secara terorganisir.

17 Data di Bank Data MTs Nurul Jadid 19 Nopember 2015.

18 Hasanah Sunaryo (guru mata pelajaran Fiqh) wawancara, Paiton, 30 Nopember 2015. Istilah multisensori yang dipakai Hasanah mengacu kepada Colin Rose dan Malcolm yang menyatakan bahwa pengalaman multi-sensori akan memperluas dan memperdalam potensi siswa dalam mengingat melalui pengalaman visual, auditori dan kinestetik. Baca Colin Rose dan Malcolm, Accelerated Learning for 21th Century. Terj. Dedy Ahimsa (Bandung: Nuansa,2002),194-195.

19 Sarana internet juga tersedia di kedua MTs tersebut dan siswa tingkat menengah juga dapat mengaksesnya pada hari Selasa dan Jumat. Program ini dimaksudkan untuk memperluas cakrawala berpikir peserta didik di pesantren. Untuk menjaga siswa dari pegaruh negatif yang dimbulkan oleh tekhnologi infeormasi diterapkan sistem restriksi bagi situs-situs negatif (pornografi).

(9)

Volume 8, Nomor 2, Agustus 2015 | 9 2. Masalah yang dominan

Masalah yang ditemui dikedua lembaga ini mencakup konflik, masalah

pendanaan dan kesiswaan. ”awal saya menjabat kepala madarasah, merupakan

ujian yang cukup berat, yaitu terjadinya konflik yayasan dan lembaga. Namun, hal

ini memacu saya untuk menyelesaikannya.21

Masalah tersebut merembet kepada kegiatan belajar mengajar, terutama

keaktifan dan kedisiplinan guru. ”Kegiatan pesantren dan sekolah merupakan dua

hal yang harus dicapai secara bersama-sama. Tuntutan tersebut menjadi beban

sekaligus tantangan dalam mengelola lembaga. Tapi kepala madrasah dapat

mengelolanya dengan baik.22 Pesantren menyelenggarakan sejumlah program

dengan titik tekan pada penguasaan kitab kuning. Sementara itu, madrasah

sebagai kepanjangan tangan kementerian agama diwajibkan menuntaskan

kurikulum. Dengan demikian, madrasah di pesantren memiliki dua atasan

sekaligus, pesantren dan kementerian agama, dimana keduanya sama-sama

memiliki prioritas.

Persoalan pendanaan adalah persoalan klasik di semua lembaga swasta.

Lembaga swasta menyelenggarakan pendidikan secara mandiri, demikian pula

dalam hal pendanaan. Di kedua MTs tersebut, pendanaan diperoleh dari dana BOS

(biaya operasional sekolah), BSM (beasiswa siswa miskin), dan infaq dari siswa.

Dana tersebut digunakan untuk operasional lembaga, baik rutin maupun

pengembangan. Sementara BSM diberikan langsung kepada siswa dalam bentuk

bantuan langsung.

3. Supervisi klinis

Bapak Holil Hasyim, S.Pd. Guru Bahasa Inggris MTs Nurul Jadid

mengatakan:

“kepala sekolah juga melakukan supervisi klinis dalam upaya meningkatkan

kompetensi guru. Supervisi klinis ini adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sisitematik, dalam perencanan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional dan

(10)

10 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam

merupakan bimbingan dalam pendidikan yang bertujuan membantu mengembangkan kompetensi professionalisme guru dalam pengenalan mengajar melalui observasi dan analisis data secara obyektif, teliti sebagai dasar untuk usaha

mengubah perilaku mengajar guru”.23

Bapak Toha, S.Pd., menambahkan:

“Dalam melakukan supervisi klinis kepala MTs Walisongo 1 sering mengadakan

kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, hal ini dilakukan untuk mengetahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam proses pembelajaran, serta tingkat pengetahuan dan kompetensi yang dimilki oleh guru yang bersangkutan yang mana nantinya akan dicarikan sebuah solusi, pembinaan, dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada dan terus

mempertahankan keunggulan yang dimilikinya”.24

Dari kedua penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa supervisi

klinis yang dilakukan oleh kepala MTs Nurul Jadid dan MTs Walisongo 1 adalah

untuk mengetahui kelemahan yang ada dan berusaha untuk memperbaikinya

dengan mencarikan solusi yang tepat dan sesuai dengan kekurangan yang ada. Hal

ini juga sependapat dengan apa yang disampaikan oleh kepala MTs Walisongo 1

yakni Bapak Kholilullah, M.Pd.:

“untuk dapat meningkatkan kompetensi guru, kami juga harus mengetahui kekurangan dan kelebihan dari masing-masing guru agar kami dapat mencari dan memikirkan program apa yang sekiranya sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh para guru dalam meningkatkan kompetensi mereka, maka dari itu saya sering melakukan kunjungan kelas untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan apa kekurangan dan kelebihan yang dimilki oleh

guru yang bersangkutan”.25

Kekurangan dan kelebihan guru memang harus diperhatikan agar dapat

memilih dan memilah program apa yang sesuai dengan kebutuhan guru dalam

meningkatkan kompetensi yang dimiliki dan mempertahankan kelebihan yang

telah dimiliki, dan salah satu cara untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan itu

adalah dengan memperhatikan saat guru mengajar di kelas.

(11)

Volume 8, Nomor 2, Agustus 2015 | 11 Bapak Thohiruddin, M.Pd.I Kepala Madrasah Tsanawiyah Nurul Jadid

Paiton mengatakan :

“Guru-guru juga saya ikutkan dalam forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) guna untuk meningkatkan prestasi dan wawasan guru tentang mata

pelajaran yang bersangkutan”.26

Ibu Hasanah, S.Ag, juga mengatakan:

“kami diberi kesempatan untuk mengikuti forum MGMP oleh kepala MTs Nurul Jadid sesuai mata pelajaran yang masing-masing kami ampu, dan saya sendiri sudah merasakan manfaatnya dengan mengikuti forum MGMP ini pengetahuan

dan wawasan saya bertambah”.27

Ibu Sri Hidayati, S. Pd. Mengatakan:

“peran kepala sekolah adalah sebagai pengatur kinerja guru, mengawasi kinerja

guru, memimpin dan melengkapi fasilitas pembelajaran, adapun dalam hal meningkatkan kualitas guru adalah seperti mengikutkan guru dalam forum MGMP,

seperti yang telah dilaksanakan bulan kemarin di sumberasih”28

Progaram MGMP memang merupakan salah satu program yang berguna

untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan guru mengenai mata pelajaran

yang berkaitan dengan guru itu sendiri. Guru akan mendapatkan pemahaman lebih

dalam mengenai mata pelajaran terkait dengan mengikuti program MGMP.

4. Pemecahan Masalah Berbasis Pesantren

Pemecahan masalah di dua MTs tersebut menarik diteliti setidaknya

karena sejumlah alasan berikut. Pertama merebaknya fenomena santrinisasi,29 yakni muncul dan berkembangnya madrasah memiliki dampak yang berjangkauan

luas terhadap masa depan masyarakat Muslim Indonesia. Fakta merupakan respon

positif para insan pendidikan muslim Indonesia dalam berpartisipasi

mencerdaskan kehidupan yang memiliki karakter yang kuat dan life skill yang memadai untuk membangun bangsa.

26Wawancara dengan Thohiruddin, M.Pd pada tanggal 30 Nopember 2015

.

27Wawancara dengan Ibu Hasanah, S.Ag.

28Wawancara dengan Sri Hidayati., pada tanggal 29 nopember 2015 pukul 09:15 wib

29 Kata santrinisasi merupakan bentuk Inggris dari dari istilah Jawa “santri” yang berarti

“mereka yang berasal dari pesantren” atau arti yang lebih umum “mereka yang taat menjalankan ajaran Islam” sebagaimana dilawankan dengan “abangan” kaum muslim hanya

(12)

12 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam

Pendidikan berkualitas tidak hanya memberikan kontribusi pada perbaikan

kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, melainkan juga pada proses

santrinisasi masyarakat Muslim. Proses santrinisasi itu dapat digambarkan terjadi

melalui dua cara, yaitu, (a), para siswa umumnya telah mengalami “re-islamisasi”.

Sebagaimana telah diperlihatkan sebelumnya, disamping mempelajari ilmu-ilmu

keislaman secara intensif mereka juga dibekali ilmu-ilmu umum, (b), para siswa

membawa Islam ke rumah, dalam banyak kasus, mereka bahkan mengajarkan

kepada orang tua yang acapkali hanya mengetahui sedikit tentang Islam.

Umumnya orang tua merasa malu akibat ketidaktahuan mereka tentang Islam.

Akibatnya agar tidak mengecewakan sang anak, mereka mulai mempelajari Islam,

baik secara sendiri maupun dengan mengundang guru privat untuk mengajarkan

kepada mereka tentang Islam.30

Dari sini menjadi jelas, bahwa pola baru re-islamisasi atau santrinisasi yang

muncul di kalangan kelas menengah Muslim, tidak hanya di kalangan anak-anak,

tetapi juga di kalangan orang tua dengan beberapa karakter yang khas. Secara

tradisional, santrinisasi dianggap dilakukan terutama oleh para dai melalui

kegiatan-kegiatan dakwah. Dakwah biasanya dilakukan melalui pengajian di

masjid-masjid, atau ditempat-tempat lainnya di mana kaum muslim melakukan

kegiatan keagamaan. Fenomena santrinisasi ini tampaknya berbeda dari kedua

jenis dakwah yang baru disebut tadi. Proses santrinisasi melalui madrasah dapat

dikatakan merupakan semacam dakwah diam-diam atau lebih merupakan dakwah

organik. Tidak ada dakwah formal dari ruang pengajian.31

Kedua MTs tersebut memiliki sederet prestasi yang dicapai dan juga

letaknya di pedalaman (30 km dari pusat kota) tidak bisa lepas dari manajemen

mutu yang telah diterapkan dalam pengelolaan kelembagaan. Pendapat penulis,

sebagaimana di atas, perlu ditelaah lebih mendalam dengan melakukan penelitian

tentang manajemen mutu dalam peningkatan pelayanan menuju madrasah

unggul. Penelitian ini bermaksud menganalisis MTs Walisongo 1 Maron dengan

30Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi menuju Milleneum Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999),80.

(13)

Volume 8, Nomor 2, Agustus 2015 | 13 variable-variabel manajemen mutu. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan

sejak Januari hingga Juni 2015. Teori manajemen mutu digunakan sebagai

pendekatan untuk memahami peningkatan MTs Walisongo dalam memenuhi

standar kualitas.

Permasalah yang dihadapi kedua lembaga cukup beragam, yaitu

personalia, kesiswaan dan pendanaan. Masalaha-masalah tersebut diselesaikan

melalui rapat-rapat, baik rapat bulanan maupun mingguan. Selain itu dilakukan

supervisi oleh internal maupun eksternal. Pemecahan masalah melalui rapat-rapat

di kedua lembaga seringkali kurang fokus, karena melibatkan banyak unsur. Hal ini

mengakibatkan adanya pengembangan masalah, yang bisa jadi melebar. Namun

demikian, pelibatan semua unsur dalam pemecahan masalah menunjukkan adanya

keterbukaan pihak manajemen lembaga.

Pemecahan masalah yang dilakukan di kedua lembaga tersebut cenderung

bersifat formal, yaitu hanya menyentuh hal-hal yang sifatnya normatif-prosedural.

Dengan model ini, pemecahan masalah hanya menyentuh kulit luar, belum bisa

menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Perhatian terhadap yang

normatif-prosedural dapat mengakibatkan terulangnya masalah yang sama dalam bentuk

yang berbeda. Pemecahan masalah dengan pendekatan normatif-prosedural

dapat dipahami sebagai keinginan kuat dari pihak pengelola untuk mentaati

peraturan atau prosedur. Pilihan ini bisa berdampak positif, yaitu munculnya

mutual trust dari semua unsure lembaga.

Bila dilihat secara SWOT, teknik pemecahan masalah mengharuskan

adanya akurasi dan validitas data. Dalam pantauan penulis, teknik pemecahan

masalah di kedua lembaga dimaksud didasarkan kepada ingatan masing-masing

pengelola terhadap kasus tertentu. Padahal, ingatan seseorang bisa berkurang

atau bahkan bisa terjadi penambahan yang tidak perlu. Validitas dan akurasi data

menentukan pemecahan yang tepat sesuai dengan jenis masalah yang dihadapi.

Kepala sekolah belum melakukan supervisi secara intensif. Supervisi hanya

dilakukan ketika ada persoalan yang sudah mencapai tingkat yang cukup kronis.

Selain itu supervisi dilakukan oleh pihak eksternal, yaitu pengawas madrasah.

(14)

14 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam

masalah dan budaya yang berkembang di madrasah. Namun demikian, kepala

madrasah memiliki semangat yang tinggi dalam mengembangkan memajukan

madrasahnya.

Data dan informasi yang akurat sangat organik dalam pemecahan masalah.

Sebagaimana disebutkan bahwa pemecahan masalah merupakan proses yang

melibatkan mental dan intelektual berdasarkan data dan informasi yang akurat.

Untuk itu, Madrasah Tsanawiyah hendaknya memiliki bank data yang merekam

setiap kejadian dan peristiwa penting disekolah, baik kurikulum, kesiswaan,

humas, sarana pra sarana. Data dan informasi yang valid sangat menentukan

dalam pemecahan masalah yang berkualitas, bukan sekedar tambal sulam. Selain

itu, pemecahan masalah tidak menimbulkan masalah lain yang lebih rumit. Selain

bersifat formal, penyelesaian masalah di kedua madrasah hendaknya

menggunakan pendekatan budaya dari pada model perusahaan. Dalam batas

tertentu, pendekatan kekeluargaan dapat digunakan dan mengurangi problem

solving yang bersifat formal prosedural.

Desicion making di Madrasah Tsanawiyah hendaknya dikonstruk sebagai pembuatan keputusan dari pada pengambilan keputusan dimana kepala madrasah

(decision maker) terlibat penuh di dalam proses manajerial. Demikian pula dalam peristilahan controling yang biasanya dimaknai dengan pengawasan adalah kurang tepat. Dalam konteks lembaga pendidikan, controling lebih berarti pengendalian. Penggunaan kedua contoh tersebut lebih manusiawi. Karena dalam kearifan lokal

pesantren, aspek spiritual gathering lebih bermakna dari pada robotik-mekanistik. Spiritual gathering lebih menekankan kepada bagaimana kepala madrasah mampu menginisiasi, menginspirasi dan kreatif. Dalam kerangka ini terbangun iklim

dimana semua warga madrasah memiliki orientasi pengabdian daripada bekerja.

Suasana kerja berkembang ke arah budaya yang membangkitkan rasa

kebersamaan yang menciptakan antusiasme, bersatu mencapai tujuan.

Madrasah Tsanawiyah merupakan tindak lanjut dari pendidikan muallimin,

yang mengajarkan 30% mata pelajaran agama, selebihnya mata pelajaran-mata

pelajaran umum. Madrasah dapat dipahami sebagai jalan keluar antara model

(15)

Volume 8, Nomor 2, Agustus 2015 | 15 sistem pendidikan nasional. Dengan memberikan penekanan pada mata

pelajaran-mata pelajaran agama, pesantren seringkali dianggap tidak mampu merespons

kemajuan dan tuntutan zaman. Sementara sekolah dipandang sebagai lembaga

pendidikan yang lebih menitik beratkan pada dimensiilmupengetahuan dan

tekhnologi.

Eksistensi madarasah dalam sistem pendidikan Indonesia tergolong

fenomena terkini, karena lahir pada kurun 80 an, sebagai bentuk kompromi antara

pendidikan pesantren dan sekolah umum. Pesantren disebut mewakili kalangan

religious, sementara sekolah umum masih dipandang sebagai lemabaga yang

menganut paham sekuler. Dengan demikian, madarasah Tsnawiyah merupakan

cerminan modernisasi lembaga pendidikan Islam. Fenomena ini berujung pada

gagasan memajukan pendidikan Islam agar setara dengan lembaga pendidikan

umum yang dianggap telah melesat jauh dengan tetap berpegang teguh pada

aspek keagamaan. Upaya tersebut dapat dipetakan mencakup dua hal pokok.

Yaitu, hal pertama adalah adopsi sistem dan lembaga pendidikan modern secara

total. Adapun eksperimen yang bertitik tolak dari sistem dan kelembagaan

pendidikan Islam (tradisional) di Indonesia menjadi pokok kedua.

Problem generik yang dihadapi lembaga pendidikan islam adalah

ketimpangan antara national competitifness dengan angka partisipasi pasar akibat

rendahnya human development index. Dari sini muncul pemahaman tentang adanya miss match antara proses di lembaga pendidikan dengan tuntutan masyarakat. Dengan demikian diperlukan perluasan akses, dan peningkatan mutu.

Selain itu rasio guru munculnya persepsi madrasah sebagai bengkel karakrakter

siswa yang sudah akut. Selain itu terdapat problem regenerasi dalam

mengaktualisasikan nilai-nilai keislaman dalam menghadapi tantangan kehidupan

dunia global. Upaya modernisasi madrasah memerlukan daya dukung tenaga

pendidik yang kompeten agar pembelajaran bermutu.

Selain itu rasio jumlah guru dengan jumlah siswa adalah 1 berbanding 15

orang siswa. Hal ini tentu saja memicu persoalan dalam hal pengaturan jumlah jam

ideal dan jumlah ruang kelas yang dibutuhkan. Banyaknya jumlah guru, tentu saja,

(16)

16 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam

menyedot anggaran madrasah yang seharusnya bisa dibayarkan untuk kegiatan

kesiswaan. Banyaknya jumlah guru tidak ddikuti oleh kualitas yang diinginkan.

Dengan demikian, problem madrasah Tsanawiyah adalah masalah peningkatan

mutu tenaga pendidik dan tenaga kependidikan agar relevan dan kompetitif.

Teknik problem solving di MTs Walisongo 1 dan MTs Nurul Jadid dilakukan

secara formal dan informal. Secara formal problem solving dilakukan melalui

rapat-rapat. Rapat dilaksanakan secara kedinasan meliputi struktural sekolah dan

asrama. Pembuatan keputusan dalam pemecahan masalah dilakukan secara

partisipatif dengan mendengarkan laporan dari masing-masing peserta rapat,

dianalisis kemudian dipilih salah satu solusi yang paling tepat sesuai data yang

disampaikan.

Teknik pemecahan masalah dilaksanakan dengan mempertimbangkan

potensi kelembagaan seperti sumberdaya manusia dan sarana prasarana yang

dimiliki. Kedua potensi tersebut dikomparasikan dengan tantangan yang dihadapi,

baik internal maupun eksternal. Tantangan internal menyangkut pelaksanaan

KBM, sumber daya manusia, kebijakan kurikulum yang acapkali berubah,

ketersediaan dana serta sarana pra sarana yang dimiliki. Tantangan eksternal

adalah perkembangan situasi dan kondisi kawasan yang ikut memengaruhi pola

pikir pengelola lembaga.

MTs Nurul Jadid dan MTs Walisongo melaksanakan perencanaan tahunan

madrasah sebagai kerangka dasar manajemen kelembagaan. Kegiatan tersebut

dilaksanakan oleh lembaga penjamin mutu. Jakfar Afnani, ketua Pusat Kendali

Mutu MTs Walisongo 1 Maron menyatakan bahwa lembaganya telah

melaksanakan perencanaan tahunan yang dilaksanakan pada tahun 2012 di Ranu

Segaran Krucil. Dalam kesempatan tersebut semua komponen sekolah terlibat

secara partisipatif.32 konsultasi dan secara informal melalui silaturrahim dan

pendekatan personal.

Dalam perencanaan tersebut dilakukan analisa terhadap faktor internal

dan eksternal yang berpengaruh terhadap kemajuan madrasah. Selain itu, analisa

(17)

Volume 8, Nomor 2, Agustus 2015 | 17 juga dilakukan terhadap faktor yang menjadi hambatan dan tantangan.

Faktor-faktor tersebut dibahas secara detail dengan berbasis data pelaporan di tahun

sebelumnya, yaitu data kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana dan humas.

Di MTs Nurul Jadid perencanaan tahunan mengacu kepada perencanaan

strategis bersama yang dikoordinir oleh Biro Kependidikan pesantren Nurul Jadid

dan kebijakan kementerian agama. Perencanaan bersama dilaksanakan bersama

satuan kerja pengelola di MTs. Nurul Jadid mengacu visi misi pondok pesantren.

Dari visi-misi pesantren disusun program tahunan dengan mengacu terhadap

integrasi pendidikan antara asrama dan sekolah dimana keduanya harus saling

menopang dan melengkapi. Masalah yang dihadapi kedua MTs tersebut cukup

beragam, yaitu kurikuler, kedisiplinan siswa, integrasi pengelolaan, dan

manajemen sarana. Masalah kedisiplinan siswa dan sarana pra sarana merupakan

masalah yang cukup dominan dan menjadi konsentrasi lembaga pada tahun 2015.

Penyelesaian masalah berdasarkan program yang sudah ada.33 MTs Nurul

Jadid memiliki kerangka penyelesaian yang jelas berorientasi kepada tujuan

kelembagaan, khususnya kemampuan keagamaan dan akhlak al-karimah. Untuk

itu, Madrasah dilaksanakan pembiasaan dan keteladanan dari para guru dan

manajemen lembaga. Problem solving diarahkan kepada situasi pendidikan yang

menggabungkan antara tradisional (pesantren) dan modernitas. Hal ini harus

menjadi perhatian utama mengingat tuntutan masyarakat terhadap lembaga

pendidikan islam agar bisa berkontribusi secara fundamental dalam membangun

manusia cerdas dan religius.

Kepala madrasah di kedua lembaga pendidikan Islam tersebut

melaksanakan supervisi secara periodik dengan melibatkan unsur internal dan

eksternal. Supervisi dilaksanakan secara bertingkat, mulai dari Waka Kurikulum,

Kepala Madraasah hingga Tim dari Biro Kependidikan. Supervisi juga dilaksanakan

oleh pengawas madrasah, yaitu petugas Kemenag Kabupaten Probolinggo

dengan maksud memberikan pembinaan dan pendampingan agar pendidikan

berlangsung sesuai tujuan.

(18)

18 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam

Supervisi menduduki posisi yang ideal dalam membina guru agar

pembelajaran bermutu. Kepala sekolah menyadari bahwa guru merupakan

komponen utama dalam mengembangkan pembelajaran berkualitas di kelas.

Kualitas guru berbanding lurus dengan kualitas pembelajaran, dan kualitas

pembelajaran berarti kualitas pengetahuan, sikap dan ketrampilan siswa. Karena

guru yang baik adalah pembelajar yang baik sehingga guru dituntut untuk terus

belajar dan meningkatkan kompetensinya. Artinya tugas guru bukan hanya

mengajar tapi mendidik. Keberadaan guru terkait erat dengan values, kompetensi

kepribadian dan sosial.

Dengan beragam langkah yang diambil manajemen madraah, eksistensi

kedua Madrasah Tsanawiyah tersebut mendapat pengakuan dari khalayak. Hal ini

terlihat dari terus melinjakkanya jumlah siswa yang berarti merupakan apreasi

masyarakat terhadap madrasah. Pelatihan peningkatan kualifikasi guru terus

dilakukan dengan berporos pada tiga hal, yaitu penguasaan bahasa asing,

teknologi informasi dan hubungan interpersonal. Kedua lembaga juga menggaet

lembaga kursus untuk meningkatkan achievement siswa.

Dulu, siswa MTs hanya belajar ilmu agama, seperti tafsir, hadis, fiqh dan

aqidah akhlak, tapi kini, mulai diterapkan penguasaan keilmuan terpadu yaitu ilmu

agama dan sains seperti social, eksakta hingga kejuruan. Lulusan Madrasah

Tsnanawiyah juga memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan di sekolah

favorit. Dengan demikian, anggapan bahwa MTs sebagai the second choice mulai dapat ditepis.

Keberadaan kedua lembaga yang menyelenggarakan model boarding

school menjadi distingsi tersendiri dimana para siswa dapat memiliki konsentrasi

belajar yang lebih baik dari pada sekolah tidak berasrama. Sekolah berasrama

tidak hanya menyelenggarakan peningkatan kemampuan kognitif, tetapi spiritual

dan life skill secara lebih intens. Pendidikan karakter yang didengungkan pemerintah telah lama diaplikasikan. Character before knowledge adalah prinsip pendidikan yang terus dikembangkan dan menjadi kekhasan di masing-masing

(19)

Volume 8, Nomor 2, Agustus 2015 | 19 Bila sekarang sekolah modern ramai-ramai menjual konsep back to nature dengan konsep sekolah alam, sekolah berbasis pesantren telah lama menyatu

dengan alam. Madrasah bukan tempat yang terisolir dari masyarakat sekitar,

karena madrasah, mushalla, asrama, sawah dan kebun selalu menjadi kesatuan

yang terpisahkan membentuk lingkungan madrasah. Kegiatan belajar-mengajar

tidak terbatas di ruang kelas tapi juga aplikasi dengan berorientasi pada praktik di

lapangan.

Kesimpulan

MTs. Nurul Jadid Paiton dan MTs. Wali Songo 1 merupakan lembaga

pendidikan berprestasi di Probolinggo. Namun demikian, kedua MTs. tersebut

menghadapi berbagai masalah dalam proses manajemen. Masalah dipandang sebagai

wahana meningkatkan performa lembaga. MTs. Nurul Jadid Paiton dan MTs. Wali

Songo 1 Maron telah menerapkan pemecahan masalah dengan manajemen budaya

melalui teknik SWOT dalam mengatasi berbagai persoalan yang ada. Analisa SWOT

dipakai dalam perencanaan strategis lembaga untuk mencapai visi yang diidealkan.

Dua lembaga pendidikan Islam tersebut memiliki prestasi, baik di level Kabupaten

hingga Provinsi. Untuk lebih mengefektifkan perencanaan, MTs. Nurul Jadid dan Wali

Songo 1 Maron melakukan supervisi, baik internal maupun eksternal.

Referensi

Amin, M. Masyhur- Ridwan, M. Nasikh. 1996. KH. Zaini Mun’im (Pengabdian dan Karya Tulisnya), LKPSM:Yogyakarta.

Azra, Azyumardi. 1999. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi menuju Milleneum Baru. Logos Wacana Ilmu: Jakarta.

Fattah, Nanang. 2011. Landasan Manajemen Pendidikan, Remaja Rosdakarya: Bandung.

Gibson, Ivancevic, Donnelly. 1995. Organization, Richard D. Irwin Inc. Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan, Alumni: Bandung.

Hidayati, Titiek Rohanah. 2013. Supervisi Pendidikan; Sebuah Upaya Pembinaan Kompetensi Guru, Stain Press: Jember.

Hoy, Wayne K.- Miskel, Cecil G. 1987. Educational Administration; Theory reserach and Practice Third Edition, Rondom House: New York.

Khusnurido, Moh.-Sulthon, M. 2006. Manajemen Pondok Pesantren dalam Perspektif Global, Laksbang Pressindo: Yogyakarta.

(20)

20 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam

Noer, Deliar. 1982. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. LP3ES, Jakarta. Pidarta, Made. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual, Rineka Cipta: Jakarta.

Rangkuti, Freddy. 1999. Analisis Swot Tehnik Membedah Kasus Bisnis, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Rose, Colin dan Malcolm. 2002. Accelerated Learning for 21th Century. Terj. Dedy Ahimsa. Nuansa: Bandung.

Slameto. 1990. Belajar dan Faktor-faktor yang Memengaruhi, Rineka Cipta: Jakarta. Standar Nasional Pendidikan (SNP). 2008. Fokus Media: Bandung.

Tim Penyusun. 1998. Mengenal Pondok Pesantren Nurul Jadid, cet. V. Biro Umum: Probolinggo.

Referensi

Dokumen terkait

Angket atau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan unutk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang

Informasi teknologi yang disampaikan adalah teknologi pengendalian busuk buah kakao, pengendalian hama tikus, teknologi penggemukan sapi, dan pengolahan kentang pada anggota

layanan interaksi dapat meningkatkan performa usaha tersebut. Namun, dalam hal ini kualitas website dari Ouval Research belum sesuai dengan persepsi dari konsumen online

Pada percobaan pengaruh berat molekul terhadap kecepatan difusi, KMnO4 lebih cepat berdifusi karena memiliki berat molekul yang lebih ringan jika

Asuhan Keperawatan pada Ny.P dengan Prioritas Masalah Gangguan Rasa Nyaman: Nyeri Gastritis di Lingkungan.. VI Kelurahan Sari Rejo Kecamatan

To investigate how many features should be used for our CRF- classification we applied a standard maximum likelihood (ML) classification in subsets with features derived at

Marhaposan Situmorang selaku ketua Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas sumatera Utara, Medan.. Kerista Sebayang, M.S dan Bapak

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan1. Fakultas Farmasi Universitas