• Tidak ada hasil yang ditemukan

Parameter dan Metode Pengukuruan Kualita

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Parameter dan Metode Pengukuruan Kualita"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertent. Dengan demikian, kualitas air akan berbeda dari suatu kegiatan ke kegiatan lain. Sebagai contoh: kualitas air untuk keperluan irigasi berbeda dengan kualitas air untuk keperluan air minum. Lahan pertanian membutuhkan air yang baik secara kualitas untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Karena kualitas air yang mengairi lahan pertanian akan berpengaruh terhadap hasil produksi nantinya. Beberapa factor diantaranya adalah kandungan oksigen, limbah, bahan organik/anorganik, racun dan lain-lain.

(2)

ISI

Ada beberapa parameter yang menetukan kualitas air dikatakan baik dan layak digunakan khususnya dalam bidang pertanian. Parameter-parameter tersebut memiliki metode masing-masing untuk dapat menentukan kualitas air tersebut dikatakan baik atau buruk sehingga nantinya dapat disimpulkan bahwa air tersebut cocok atau tidak jika digunakan sebagai irigasi lahan pertanian. Berdasarkan parameternya, metode yang digunakan dalam penentuan kualitas air yang baik antara lain :

1. Aspek Fisika

Dalam aspek fisika ada beberapa parameter yang dapat diamati untuk penentuan kualitas air di bidang pertanian, diantaranya :

a) Suhu

Pertama sekali siapakan alat pengukur suhu terlebih dahulu, yakni thermometer. Kemudian tentukan lokasi air yang akan diukur suhunya. Setelah lokasi pengukuran didapatkan, ikat bagian pangkal thermometer (bukan ujung air raksa) lalu masukkan thermometer ke air dengan cara mencelupkan thermometer kedalam perairan kemudian gantung thermometer tersebut pada permukaan perairan beberapa menit. Setelah thermometer menunjukkan angka yang konstan, baca angka yang ditunjukkan thermometer lalu catat hasilnya.

b) Kecerahan

(3)

didapatkan, turunkan secchi disk secara perlahan hingga batas tidak tampak, yakni warna hitam pada secchi disk tidak lagi terlihat. Kemudian ukur panjangnya dengan meteran atau penggaris panjang. Setelah itu, secara perlahan tarik secchi disk keatas hingga warna hitam pada secchi disk tersebut kembali terlihat lalu ukur juga berapa panjangnya, ini adalah batas tampak. Setelah nilai batas tidak tampak dan batas tampak telah didapat, maka jumlahkan kedua nilai tersebut lalu dibagi dua. Ini merupakan nilai kecerahan. Untuk lebih jelasnya rumus menghitung kecerahan adalah sebagai berikut :

Kecerahan air (cm) = Jarak tidak tampak (cm) + Jarak tampak (cm) 2

c) Kekeruhan

(4)

kedalam turbidimeter dan atur sehingga turbidimeter menunjukkan angka konstan. Catat hasil yang ditunjukkan oleh jarum turbidimeter.

d) Kedalaman

Siapakan alat yang akan digunakan, yakni meteran. Tentukan lokasi perairan yang akan diukur kedalamannya. Setelah lokasi didapatkan, masukkan meteran (dalam praktik saat ini menggunakan penggaris panjang) kedalam perairan hingga mengenai dasar perairan. Catat kedalaman yang diperoleh.

e) Bau

Bau dapat menjadi indicator dan metoda dalam menentukan kualitas air yang akan digunakan untuk lahan pertanian. Walaupun tidak semua air yang sudah tercemar memiliki bau yang khas, tetapi dalam beberapa kondisi bau dapat dipertimbangkan sebagai parameter pengukuran kualitas air.

2. Aspek Kimia a) Pengukuran pH

(5)

keras pH tersebut lalu tunggu beberapa saat. Lihat perubahan warna yang terjadi pada kertas pH dan bandingkan warna tersebut dengan papan standar nilai pH lalu catat hasilnya.

b) Oksigen Terlarut ( Disolved Oxygen-DO )

Siapkan bahan dan alat yang akan digunakan, seperti , tiosulfat, amilum, MnSO4, NaOHKI, H2SO4, tabung erlenmeyer, jarum suntik,

botol BOD ( botol Winkler) dan pipet tetes. Kemudian tentukan lokasi pengambilan air sampel. Setelah itu ambil air sampal menggunakan botol BOD namun jangan samapai terjadi gelembung udara. Caranya yaitu dengan menenggelamkan tabung erlenmeyer secara perlahan kedalam perairan, setelah tabung terisi penuh tutup mulut tabung dengan rapat. Lalu periksa apakah didalam tabung yang berisi air terdapat gelembung udara atau tidak, jika ada maka ulangi kembali hingga gelembung udara benar-benar tidak ada didalam tabung. Tapi, jika gelembung udara tidak ada maka dengan menggunakan jarum suntik ataupun pipet tetes tamabahkan 2 ml larutan MnSO4 , 2 ml

NaOHK. Tutup botol dengan rapat lalu kocok dengan cara membalik-balikkan botol hingga beberapa kali. Beberapa saat kemudian akan terjadi gumpalan dan tunggu beberapa saat hingga proses pengendapan sempurna. Setelah itu, ambil bagian larutan yang masih jernih dengan menggunakan jarum suntik ataupun pipet tetes sebanyak 100 ml dan pindahkan kedalam tabung erlenmeyer. Pada larutan yang tadinya terdapat endapan, tambahkan 2 ml H2SO4 lalu kocok dengan perlahan

(6)

tabung erlenmeyer dan titrasi dengan tiosulfat hingga larutan berwarna coklat muda. Pada larutan ini, tambahkan amilum beberapa tetes hingga larutan berubah menjadi warna biru, kemudian titrasi kembali dengan larutan tiosulfat hingga warna biru pada larutan tersebut hilang. Lalu catat hasilnya dengan menggunaka rumus :

OT = a x N x 8 x 1000

Siapakan bahan dan alat yang akan digunakan seperti PP, NA2CO3,

tabung erlenmeyer, dan pipet tetes atau jarum suntik. Ambil sampel air yang akan diuji namun usahakan agar air sampel terhindar kontak dengan udara. Dengan menggunakan pipet tetes masukkan air sampel kedalam tabung erlenmeyer secara perlahan agar pengaruh aerasi tidak begitu besar. Kemudian tambahkan PP sebanyak 3-4 tetes. Jika larutan berwarna pink berarti tidak ada CO2 dan segera titrasi dengan Na2CO3

0,0454 N sampai warna pink stabil. Lalu catat hasilnya dengan

(7)

keanekaragamannya kurang, maka air tersebut dapat dikatakan tercemar.

b) Ganggang

(8)

PENUTUP

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Barus, T. A, 2003. Pengantar Limnologi. Jurusan Biologi FMIPA USU. Medan

Fajri, Nur El dan Agustina. 2013. Penuntun Praktikum dan Lembar Kerja Praktikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UR. Pekanbaru.

Sihotang,C. dan Efawani. 2006. Penuntun Praktikum Limnologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UR. Pekanbaru.

Syukur, A., 2002. Kualitas Air dan Struktur Komunitas Phytoplankton di Waduk Uwai. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 51 hal. (tidak diterbitkan).

(10)

PAPER

IRIGASI DAN DRAINASE

“Parameter dan Metode Penentuan Kualitas Air yang Baik untuk

Lahan Pertanian”

Disusun Oleh :

Nama : Agil Adi Darma NIM : 135040200111119

Kelas : P

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

(11)

Referensi

Dokumen terkait

Alat-alat yang digunakan adalah Neraca Analitis, Alat-alat Gelas, Labu alas, Oven, Oil Bath, Kondensor, Spatula, Pipet Tetes, Stirer, Corong dan Pompa Vakum,

Winkler, untuk penentuan kadar BOD dari air sungai Silau Kabupaten Asahan. Spektrofotometri, untuk penentuan kadar COD dari air sungai

Pada metode titrasi ini, sampel air yang terdapat pada botol ditambahkan 2 ml larutan mangan sulfat di bawah permukaan cairan dengan menggunakan pipet.. Kemudian

 Cara kerja penghitungan nilai DO awal dan DO akhir sama dengan penghitungan nilai DO metode Winkler.  Nilai BOD = Nilai DO awal – Nilai

Dalam penulisan tugas akhir ini analisis DO pada air limbah industri kelapa sawit menggunakan DO Meter dan analisis BOD menggunakan metode Winkler/Iodometri yang

Persiapan Inkubasi Masukkan masing-masing 5 mL sampel uji ke dalam botol winkler 300 mL 2 3 Tambahkan air pengencer sampai airnya luber, kemudian kocok Tutup botol Siapkan 2

Pewarnaan • Ambil larutan kristal violet menggunakan pipet tetes, lalu teteskan pada kaca objek dan bisrkan selama 1 menit, setelah 1 menit bersihkan menggunakan aquades • Kemudian

Menggunakan botol sampel ± 350 ml di sumur gali / reservoar tandon air / sungai, pastikan botol sampel yang digunakan dalam keadaan baik dan bersih.. Turunkan perlahan botol sampel ke