• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN LAMA FASE KALA II TERHADAP KEJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN LAMA FASE KALA II TERHADAP KEJA"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN LAMAFASE KALA II TERHADAP KEJADIAN ASFIKSIA

BAYI BARU LAHIR DI RSUD PALEMBANGBARI

TAHUN 2016

Proposal Penelitian

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan Pendidikan ProgramDIII Akademi Kebidanan Pondok Pesantren Assanadiyah Palembang

Di Ajukan Oleh:

FUJI ASTUTI 135.13.047

AKADEMI KEBIDANAN PONDOK PESANTREN ASSANADIYAH

PALEMBANG

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persalinan merupakan proses membuka dan menipisnya serviks dan janin

turun kedalam jalan lahir kemudian berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup

bulan atau hampir cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan disusul dengan

pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu melalui jalan lahir atau jalan

lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Persalinan dianggap

normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu)

tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi

dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipisI dan berakhir

dengan lahirnya plasenta secara lengkap (Marmi, 2012).

Tahap-tahapan persalinan meliputi Kala I disebut dengan kala pembukaan

yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap (10 cm). Kala

II adalah kala pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir.

Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak

lebih dari 30 menit. Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena

perdarah postpartum paling sering terjadi 2 jam pertama (Marmi, 2012).

Kala II adalah kala pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan lengkap

sampai bayi lahir. Uterus dengan kekuatan hisnya ditambah kekuatan meneran

akan mendorong bayi hingga keluar. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada

ibu primigravida dan 1 jam pada multigravida.diagnosa ditegakkan dengan

melakukan pemeriksaaan dalam untuk memastikan pembukaan sudah lengkap dan

(3)

Partus Lama dalam Kala II Begitu cervix mencapai dilatasi penuh, jangka

waktu sampai terjadinya kelahiran tidak boleh melampaui 2 jam pada primigravida

dan 1 jam pada multipara. Pengalaman menunjukan bahwa setelah batas waktu ini,

morbiditas maternal dan fetal akan naik. Sekiranya terjadi gawat janin atau ibu,

tindakan segera merupakan indikasi (Harry dan William, 2010).

Menurut Oxom dan Forte (2010). Bahaya kala II lama pada ibu dan janin

meliputi :Bahaya bagi ibu ; Meningkatkatnya insiden atonia uteri, laserasi,

perdarahan, infeksi, kelelahan ibu dan shock. Bahaya bagi janin ; Asfiksia akibat

partus lama itu sendiri, trauma cerebri yang disebabkan oleh penekanan pada

kepala janin, cedera akibat tindakan ektraksi dan rotasi dengan forceps yang sulit

pecahnya ketuban lama sebelum kelahiran.

Asfiksia adalah bayi baru lahir yang tidak bernapas spontan segera setelah

Penilaian asfiksia dengan menggunakan penilaian / skor Apgar (SA) yang meliputi:

warna kulit, denyut jantung, refleks, tonus otot dan pernapasan yang dinilai pada

menit ke1, ke 5 dan ke 10. AS pada menit 1: > 7 normal, 4 - 6 asfiksia sedang dan 0

- 3 asfiksia berat. Asfiksia ditandai dengan keadaan hipoksemia, hiperkarbia dan

asidosis yang menyebabkan hipoksik iskemik ensefalopati (HIE), merupakan etiologi

terjadinya kerusakan otak permanen /cacat neurologik. Resusitasi ialah prosedur

yang diaplikasikan pada bayi asfiksia dengan tujuan ntuk memperbaiki fungsi

pernapasan dan jantung bayi yang tidak bernapas.

Pada tahun 2012 setiap tahunnya 120 juta bayi lahir didunia, secara global 4

juta (33 per 1000) bayi lahir mati dan 4 juta (33 per 1000) lainnya meninggal dalam

(4)

asfiksia neonatorum, hampir 1 juta (27,78%) bayi ini meninggal. Laporan WHO juga

menyebutkan bahwa AKB kawasan Asia Tenggara merupakan kedua yang paling

tinggi yaitu sebesar 142 per 1.000 setelah kawasan Afrika. Di tahun 2011, Indonesia

merupakan negara dengan AKB tertinggi kelima untuk negara ASEAN yaitu 35 per

1.000, dimana Myanmar 48 per 1.000, Laos dan Timor Leste 46 per 1.000, Kamboja

36 per 1.000 ( WHO, 2012 ).

Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator penting dalam

menentukan tingkat kesehatan masyarakat. Bahwa AKB pada tahun 2010 sebesar

34/1000 kelahiran hidup, tahun 2011 sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Tahun 2012,

32/1000 kelahiran hidup, mengalami penurunan dari 2010 dan sebanyak 47%

meninggal pada masa neonatus. Penyebab kematian Bayi Baru Lahir (BBL)

diantaranya adalah asfiksia (27%) yang merupakan penyebab ke 2 setelah Bayi

Berat Lahir Rendah (BBLR) (SDKI, 2012).

Berdasarkan data pada tahun 2008 jumlah kelahiran yaitu 156.348 orang

dengan jumlah kematian bayi yaitu 3,4% (537 kematian bayi), sedangkan pada

tahun 2009 jumlah kelahiran 102.205 orang dengan jumlah kematian bayi yaitu

0,8% (79 kematian bayi). Persentase kematian tertinggi terjadi di Kabupaten Ogan

Komering Ilir (OKI) (1,31%) dan Lahat (0,82%), persentase terendah di Kabupaten

Muara Enim (0,14%) dan Empat Lawang (0,13%) (Dinkes Provinsi Sumatra Selatan,

2010).

Berdasarkan data Angka Kematian Bayi (AKB) pada tahun 2011 sebanyak

1,5% per 1.000 kelahiran hidup, meningkat pada tahun 2012 sebesar 1,6%per 1.000

(5)

kelahiran hidup dan semua itu disebabkan berbagai masalah mulai dari pernapasan

(asfiksia), infeksi pada bayi, berat bayi lahir rendah, dan hipotermi (Dinkes Kota

Palembang, 2013).

Berdasarkan hasil penelitian lain oleh Mardani dan Putri (2012), didapatkan

kejadian partus lama paling banyak terjadi pada primigravida yaitu 69 kasus

(61,6%). Kejadian asfiksia neonatorum paling banyak terjadi pada bayi yang

dilahirkan oleh ibu primigravida yaitu 16 kasus (80%).

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti di atas maka peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian penelitian yang berjudul“ Hubungan Lama Fase Kala II Terhadap Kejadian Asfiksia Bayi Baru Lahir Di RSUD Palembang BARI Tahun 2016”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka didapat rumusan masalah peneliti

sebagai berikut: “Adakah Perbedaan Lama Fase Kala II Terhadap Kejadian Asfiksia

Bayi Baru Lahir di RSUD Palembang BARI Tahun 2016 ?”

1.3 Pertanyaan Penelitian

Apakah ada perbedaan lama fase kala II terhadap kejadian asfiksia bayi baru

lahir di RSUD Palembang BARI Tahun 2016?

1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui Perbedaan Lama Fase Kala II Terhadap Kejadian

(6)

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui perbedaan rata-rata lama fase kala II pada ibu bersalin

primigravida dan multigravida di RSUDPalembang BARI Tahun 2016.

2. Untuk mengetahui perbedaan rata-rata lama fase kala II ibu bersalin

primigravida pada bayi baru lahir dengan asfiksia dan tidak asfiksia di

RSUD Palembang BARI Tahun 2016.

3. Untuk mengetahui perbedaan rata-rata lama fase kala II ibu bersalin

multigravida pada bayi baru lahir dengan asfiksia dan tidak asfiksia di

RSUD Palembang BARI Tahun 2016.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan

Untuk menambah referensi dalam proses belajar mengajar mengenai

fase lama kala II dan kejadian asfiksia dapat dijadikan sebagai sumber bacaan

bagi dosen maupun mahasiswa serta dapat menjadi bahan atau data dasar

bagi penelitian lebih lanjut di Akademi Kebidanan Pondok Pesantren

Assanadiyah Palembang.

1.5.2 Bagi Tempat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai masukan bagi petugas

kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan di RSUD Palembang BARI

tentang kemungkinan terjadinya resiko bayi asfiksia pada ibu bersalin

primigravida dan multigravida yang mengalami kala II lama dan dapat

(7)

1.5.3 Bagi Peneliti

Dengan penelitian ini dapat menambah pengetahuan, penerapan serta

pengalaman peneliti secara langsung didalam mengaplikasikan ilmu, sebagai

penerapan dalam mata kulia metodologi penelitian yang telah dipelajari dalam

bentuk karya tulis ilmiah. Penelitian ini berharap dapat menambah wawasan

dan pengalaman bagi peneliti lain, khususnya dalam menerapkan ilmu

pengetahuan tentang Lama Fase Kala II dan Asfiksia Bayi Baru Lahir. Dan

untuk penelitian selanjutnya bisa menggunakan metode yang berbeda dan uji

(8)

1.6 Kerangka Fikir

Sumber : Modifikasi Firman (2016).

Bagan 1.1 Krangka Fikir Persalinan

Fase Kala I Fase Kala II Fase Kala III Fase Kala IV

Kala II Lama

(9)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kala II

2.1.1 Pengertian Kala II

Kala II adalah kala pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan lengkap

sampai bayi lahir. Uterus dengan kekuatan hisnya ditambah kekuatan meneran

akan mendorong bayi hingga keluar. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam

pada ibu primigravida dan 1 jam pada multigravida.diagnosa ditegakkan

dengan melakukan pemeriksaaan dalam untuk memastikan pembukaan sudah

lengkap dan kepala janin sudah tampak di vulva dengan diameter 5-6 cm

(Sulistyawati, 2010).

G.b 2.1 Persalinan Normal

(Sumber : medicalstore.com)

Kala II disebut juga kala pengeluaran, kala ini dimulai dari pembukaan

lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini berlangsung 2 jam pada

primigravida dan 1 jam pada multigravida (Marmi, 2012).

(10)

cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II pada primipara berlangsung

selama 2 jam dan pada multi 1 jam (Rohani, 2011).

Persalinan kala dua berlangsung dari akhir kala satu, yaitu setelah

pembukaan lengkap, sampai lahirnya bayi. Pada akhir kala satu sebelum

pasien memasuki kala dua, kontraksi uterus menjadi lebih sering dan diikuti

dengan rasa nyeri yang paling hebat selama persalinan. Begitu sampai pada

kala dua maka rasa nyerinya berkurang (Harry dan William, 2010).

Persalinan kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10

cm) dan berakhir dengan lahirnya. Kala II juga disebut sebagai kala

pengeluaran bayi. Proses kala II berlangsung 2 jam pada primipara dan 1 jam

pada multipara (Nurasiah, 2012).

Kala II adalah kala pengeluaran janin, his terkoordinir, kuat, cepat, dan

lebih lama, kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang

panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot dasar panggul yang secara

reflektoris menimbulkan reflek mengejan. Karena tekanan pada rectum ibu

seakan ingin buang air besar, dengan tanda anus membuka. Pada waktu his,

kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan perineum meregang. Dengan

his mengejan yang terpimpin akan lahirlah kepala dan diikuti oleh seluruh janin.

Kala II pada primi : 1,5-2 jam, pada multi 0,5-1 jam (Marmi, 2012).

2.1.2 Tanda dan Gejala Kala II

Menurut Marmi (2012). Tanda dan gejala utama dari kala II adalah sebagai berikut :

1. His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit dengan durasi 50

(11)

2. Menjelang akhir Kala I ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran

cairan secara mendadak

3. Ketuban pecah pada pembukaan mendeteksi lengkap diikuti keinginan

mengejan, karena tertekannya flaktus frankenhauser

4. Kedua kekuatan, his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga

terjadi : kepala membuka pintu, subocciput bertindak sebagai hipomoglion

berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, hidung dan muka serta kepala

seluruhnya.

5. Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar, yaitu

penyesuaian kepala pada punggung.

6. Setalah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong

dengan jalan :

a. Kepala dipegang pada osocciput dan dibawah dagu, ditarik cunam

kebawah untuk melahirkan bahu belakang.

b. Setelah kedua bahu lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisa badan

bayi.

c. Bayi lahir diikuti oleh air ketuban.

7. Pada primigravida kala II berlangsung rata-rata 1,5 jam dan pada

multipara rata-rata 0,5 jam.

2.1.3 Penatalaksaan Fisiologis Kala II

Penatalaksanaan didasarkan pada prinsip bahwa kala II merupakan

peristiwa normal yang diakhiri dengan kelahiran normal tanpa adanyan

(12)

sesuai dengan dorongan alamiahnya dan beristirahat di antara dua kontraksi.

Jika menginginkan, ibu dapat mengubah posisinya, biarkan ibu mengeluarkan

suara salama persalinan dan proses kelahiran berlangsung (Rohani, 2011).

Biasanya ibu akan dibimbing untuk meneran tanpa berhenti selama 10

detik atau lebih, tiga sampai empat kali perkontraksi. Meneran dengan cara ini

dikenal sebagai meneran dengan tanggorokan terkatup atauvalsava manuver.

Pada banyak penelitian, meneran dengan cara ini berhubungan dengan

kejadian menurunnya DJJ dan rendahnya nilai APGAR. Oleh karena cara

berkaitan dengan buruknya keluaran janin, maka cara ini tidak dianjurkan

(Rohani, 2011).

Jika ibu mulai mendorong sebelum serviks membuka seluruhnya, bayi

mungkin tidak keluar karena bagian serviks yang masih tertutup akan

menghalangi jalan keluarnya. Selain itu juga akan membuat persalinan lebih

lama. Bahkan jika sudah tahu serviks belum membuka seluruhnya, jangan

dorong ibu untuk mendorong janinnya, atau bidan melakukan dorongan fundus.

Mendorong terlalu dini dapat mengakibatkan ibu merasa lela (Ai Nurasiah,

2012).

2.1.4 Perubahan Fisiologis Kala II 2.1.4.1 Kontraksi

1. Kontaksi Uterus

a. kontraksi bertambah kuat, datang setiap 2-3 menit dan

(13)

b. setiap kali kontraksi, rongga uterus menjadi lebih kecil dan bagian

persentasi/kantong amnion didorong ke bawah, kedalam serviks.

Serviks pertema-tama menipis, medatar, kemudian terbuka dan

otot polos fundus menjadi tebal.

G.b.2.2

Kontraksi uterus yang normal

(Sumber : Rohani, 2011).

2. Kontraksi Abdomen

a. setelah uterus terbuka, isinya dapat didorong keluar

b. otot abdomen, dibawah kontrol sadar dapat mengencangkan

dan mengompres rongga abdomen, menambahkan tekanan

pada kantung yang terbuka dan mendorong bayi

c. sampai serviks berdilatasi sempurna, tekanan abdomen hanya

cukup untuk merobek membran amnion. Setelah berkontraksi,

upaya mengedan akan sangat membantu akhir ekspulsi bayi.

d. Ketika bagian presentasi terdapat pada rektum dan perineum,

(14)

Walaupun his adalah kontraksi otot rahim yang fisiologis, akan

tetapi bertentangan dengan sifat kontraksi lainnya yang bersifat nyeri.

Penyebab nyeri belum diketahui secara pasti, kemungkinan

disebabkan oleh :

a. Hypoksia pada janin

b. Penekanan ganglia saraf di serviks dan uterus bagian bawah

oleh bekas-bekas otot yang sangat bertautan

c. Peregangan serviks waktu dilaktasi

d. Peregangan peritonium yang terletak diatas fundus

e. Perasaan nyeri tergantung dari ambang nyeri penderita yang

dipengaruhi oleh kondisi jiwanya.

2.1.4.2 Perubahan-Perubahan Uterus

Keadaan Segmen Atas Rahim (SAR) dan Segmen Bawah

Rahim (SBR). Dalam persalinan perbedaan SAR dan SBR akan

tampak lebih jelas, dimana SAR dibentuk oleh korpus uteri dan bersifat

memegang peranan aktif (berkontraksi) dan dindingnya bertambah

tebal dengan majunya persalinan, dengan kata lain SAR mengadakan

suatu kontraksi menjadi tebal dan mendorong anak keluar. Sedangkan

SBR dibentuk oleh isthimulus uteri yang sifatnya memegang peranan

pasif dan makinmtipis dengan majunya persalinan (disebabkan karena

regangan), dengan kata lain SBR dan serviks mengadakan relaksasi

(15)

G.b.2.3

Pembukaan segmen bawah rahim dan isthmus uteri

(Sumber : Rohani, 2011). 1.1.4.3 Perubahan Pasa Serviks

Perubahan pada serviks pada kala II ditandai dengan

pembukaan lengkap, pada pemeriksaan dalam tidak teraba lagi bibir

portio, Seggemn Bawah Rahim (SBR), dan serviks (Marmi, 2012).

G.b 2.4 Dilaktasi Serviks

(Sumber :Medical Ilustration,2012).

G.b.2.5

Lebar Jari sebagai Skala Dilaktasi Serviks

(16)

2.1.4.2 Perubahan Pada Vagina Dan Dasar Panggul

Setelah pembukaan lengkap dan ketuban telah pecah terjadi

perubahan, terutama pada dasar panggul yang diregangkan oleh

bagian depan janin sehingga menjadi saluran yang dinding-dindingnya

tipis karena suatu regangan dan kepala sampai di vulva, lubang vulva.

2.1.5 Partus Lama Dalam Kala II 2.1.5.1 Pengertian Kala II Lama

Kala II Lama adalah persalinan dengan tidak ada penurunan

kepala > 1 jam untuk nulipara dan multipara (Sarwono, 2012).

Partus Lama dalam Kala II Begitu cervix mencapai dilatasi

penuh, jangka waktu sampai terjadinya kelahiran tidak boleh

melampaui 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multipara.

Pengalaman menunjukan bahwa setelah batas waktu ini, morbiditas

maternal dan fetal akan naik. Sekiranya terjadi gawat janin atau ibu,

tindakan segera merupakan indikasi (Harry dan William, 2010).

2.1.5.2 Penyebab Kala II Lama

Menurut Harry dan William (2010). Penyebab partus lama dalam

kala II adalah sebagai berikut :

1. Disproporsi fetopelvik

a.Panggul kecil

b.Anak besar

2. Malpresentasi dan malposisi

(17)

a.Primary inefficien uterine contraction

b.Kelelahan myometrium : inestia sekunder

c.Cincin konstriksi

d.Ketidakmampuan atau penolakan pasien untuk mengejan

e.Anastesi berlebihan

4. Dystocia jaringan lunak

a.Canalis vaginalis yang sempit

b.Perineum kaku

2.1.5.3 Tanda dan Gejala Kala II Lama

Menurut Amalia (2014). Tanda dan gejala kala II lama adalah : 1. Dehidrasi

2. Tanda infeksi

a. Temperature tinggi

b. Nadi dan pernafasan

c. Abdomen meteorismus

3. Pemeriksaan abdomen

a.Meteorismus

b.Lingkaran bandle tinggi

c.Nyeri segmen bawah rahim

4. Pemeriksaan local vulva-vagina

a.Edema vulva

b.Cairan ketuban berbau

c.Cairan ketuban bercampur mekonium

(18)

a.Edema serviks

b.Bagian terendah sulit didorong ke atas

c.Terdapat kaput pada bagian terendah

6. Keadaan janin dalam rahim

a.Asfiksia sampai terjadi kematian

7. Akhir dari persalinan lama

a.Rupture uteri imminen sampai rupture uteri

b.Kematian karena perdarahan dan atau infeksi

8. Pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada

partograf.

9. Pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam.

10. Frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya

kurang dari 40 detik.

2.1.5.4 Diagnosis Kala II Lama

Menurut Amalia (2014) , diagnosis kala II lama adalah :

a. Janin tidak lahir setelah 1 jam pada multigravida dan 2 jam pada

primigravida dipimpin mengedan sejak pembukaan lengkap.

b. Ibu tampak kelelahan dan lemah.

c. Kontraksi tidak teratur tetapi kuat.

d. Dilatasi serviks lambat atau tidak terjadi.

e. Tidak terjadi penurunan bagian terbawah janin, walaupun kontraksi

(19)

f. Molding-sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki (partograf

++)

g. Lingkaran retraksi patologis (lingkaran Bandl) timbul nyeri di bawah

lingkaran Bandl merupakan tanda akan terjadi ruptura uteri.Tidak

adanya his dan syok yang tiba-tiba merupakan tanda ruptura uteri.

h. Kandung kencing ibu penuh. Kandung kencing yang penuh dapat

menahan turunnya janin dan menyebabkan persalinan lama. Pasien

dalam persalinan seharusnya sering kencing.

2.1.5.5 Bahaya Kala II Lama

Menurut Oxom dan Forte (2010). Bahaya kala II lama pada ibu

dan janin adalah sebagai berikut :

a. Bahaya bagi ibu

1. Meningkatkatnya insiden atonia uteri

2. Laserasi

3. Perdarahan

4. Infeksi

5. Kelelahan ibu dan shock

b. Bahaya bagi janin

1. Asfiksia akibat partus lama itu sendiri

2. Trauma cerebri yang disebabkan oleh penekanan pada kepala

janin

3. Cedera akibat tindakan ektraksi dan rotasi dengan forceps yang

(20)

4. Pecahnya ketuban lama sebelum kelahiran

Sekalipun tidak terdapat kerusakan yang nyata, bayi-bayi pada

pertus lama memerlukan perawatan khusus. Sementara partus lama

tipe apa pun membawa akibat yang buruk bagi anak, bahaya tersebut

lebih besar lagi kalau kemajuan persalinan pernterhenti. Kenyataannya

ini khususnya terjadi kalau kepala bayi macet pada lantai perineum

untuk waktu yang lama sementara tangkorak kepala harus terus

terbentur pada panggul ibu (Harry dan William, 2010).

Sebagian dokter beranggapan sekalipun partus lama

meningkatkan resiko pada anak selama persalinan, namun

pengaruhnya terhadap perkembangan bayi selanjutnya hanya sedikit.

Sebagian lagi menyatakan bahwa bayi yang dilahirkan melalui proses

persalinan yang panjang ternyata mengalami defisiensi intelektual

sehingga berbeda jelas dengan bayi-bayi yang lahir setelah persalinan

normal (Harry dan William, 2010).

2.1.5.6 Penatalaksanaan Kala II Lama

Menurut Amalia (2014). Penatalaksanaan Kala II adalah sebagai

berikut :

1. Tetap memantau/ mengobservasi tanda-tanda vital ibu

2. Tetap memantau his dan mengontrol DJJ setiap setelah his.

3. Beri infus ibu bila kondisi ibu semakin melemah. Infus cairan:

a. Larutan garam fisiologis

(21)

4. Tetap memperhatikan asupan gizi ibu terutama asupan cairan.

5. member perlindumgan antibiotika-antipiretika

6. Beri Oksigen (sesuai kebutuhan) bila terjadi tanda – tanda gawat

janin.

7. Posisikan ibu untuk miring ke kiri selama merujuk

2.1.6 Mekanisme Persalinan

Beberapa jam terakhir pada kehamilan manusia ditandai dengan

kontraksi uterus yang menyebabkan dilatasi serviks dan mendorong janin

melalui jalan lahir. Banyak energi dikeluarkan pada waktu ini ; oleh karena itu,

penggunaan istilah labor(kerja keras) dimaksudkan untuk menggambarkan

proses ini. Kontraksi miometrium pada persalinan terasa nyeri, sehingga istilah

nyeri persalinan digunakan untuk mendeskripsikan proses ini

(Cunningham, 2006).

G.b.2.6 Tahapan Persalinan

(Sumber : Medicastore.com).

Namun, sebelum kontraksi yang kuat dan terasa nyeri ini dimulai, uterus

harus dipersiapkan untuk persalinan. Pada 36 sampai 38 minggu pertama

(22)

diperlukan fase transisi agar ketidakresponsifan miometrium menghilang dan

serviks melunak dan mendatar. Memang, ada banyak status fungsional uterus

yang harus dilaksanakan selama kehamilan dan masa nifas; status-status

fungsional ini diuraikan belakangan dan digolong-golongkan sebagai fase-fase

uterus pada persalinan (Cunningham, 2006).

Kontraksi miometrium yang tidak menyebabkan dilaktasi serviks dapat

dirasakan kapan pun selama kehamilan. Kontraksi-kontraksi ini ditandai

dengan kejadian yang tidak dapat diramalkan, intensitas rendah, dan durasinya

singkat. Rasa tidak nyaman yang timbulkan biasanya terbatas diabdomen

bawah dan lipat paha. Menjelang akhir masa kehamilan, ketika uterus terus

mengalami persiapan untuk bersalin, kontraksi jenis ini lebih sering, khususnya

pada multipara, dan kadangkala disebut sebagai persalinan palsu. Namun,

pada beberapa ibu, kontraksi kuat uterus yang menimbulkan dilatasi serviks,

penurunan janin, dan pelahiran konseptus dimulai secara mendadak, dan

tampaknya tanpa peringatan (Cunningham, 2006).

Miometrium, yang merupakan jaringan pembentuk sebagian besar

uterus, terdiri dari kumpulan otot polos yang disatukan jaringan ikat dengan

banyak serabut elastin didalamnya. Banyaknya serabut otot pada uterus

berkurang secara progresif ke arah kaudal, sehingga pada serviks, otot hanya

meliputi 10 persen dari massa jaringan. Pada lapisan dalam dinding korpus

uteri, relatif terdapat lebih banyak otot dibandingkan lapisan luarnya,

sedangkan pada dinding anterior dan posterior terdapat lebih banyak otot

(23)

membesar akibat hipertrofi ; namun tidak terjadi perubahan yang berarti pada

kandungan otot di serviks (Cunningham, 2006).

Ada ciri-ciri unik otot miometrium (otot polos lainnya) dibandingkan

dengan otot rangka. Bahwa perbedaan-perbedaan ini menciptakan keuntungan

yang istimewa bagi miometrium dari sisi efisiensi kontraksi uterus dan pelahiran

janin. Pertama, derajat pemendekan sel otot polos saat kontraksi mungkin satu

tingkat lebih besar dari pada yang dicapai oleh sel otot lurik. Kedua, pada sel

otot polos gaya-gaya kontraksi dapat diberikan ke berbagai arah, sedangkan

gaya kontraksi yang ditimbulkan oleh otot rangka selalu sejajar dengan sumbuh

serat otot. Ketiga, otot polos tidak diorganisasi dengan cara yang sama seperti

otot rangka. Pada miometrium ditemkan filamen tebal dan tipis pada

berkas-berkas yang panjang dan menimbulkan gaya yang lebih besar. Keempat,

terdapat keuntungan bahwa pembangkitan gaya yang multidireksional pada

otot polos miometrium memungkinkan kesanggupan pengarahan gaya dorong

ke segala arah sehingga pelahiran dapat dilakukan tanpa memandang letak

atau presentasi janin (Cunningham, 2006).

Interaksi miosin dan aktin penting untuk kontraksi otot Miosin (Mrsekitar

500.000) tediri dari rantai ganda ringan dan berat dan terletak pada

miofilamen-miofilalem tebal. Interaksi miosin dan aktin, yang menyebabkan aktivitas

ATPase, hidrolisis ATP, dan pembentukan kekuatan, dipengaruhi oleh

fosforilasi enzimetik rantai ringan miosin 20-kd. Reaksi fosforilasi ini dikatalisis

oleh enzim kinase miosin rantai ringan, yang diaktifkan oleh Ca2+

(24)

Ca2+mengikat kalmodulin, suatu protein pengatur pengikat kalsium, yang

selanjutnya akan mengikat dn mengaktifkan kinase miosin rantai ringan.

Dengan cara ini, agen-agen yang bekerja pada sel otot polos miometrium untuk

meningkatkan konsentrasi kalsium sitosol intraselular ([Ca2+]i) dapat memacu

kontraksi. Kondisi yang menyebabkan penurunan [Ca2+] i menimbulakan

relaksasi. Biasanya, agen-agen yang menyeababkan peningkatan kontraksi

adenosin monofosfat siklik intraselular (cAMP) atau guanosin monofosfat siklik

(cGMP) menyebabkan relaksasi uterus. Kerja cAMP dan cGMP dianggap

menyebabkan penurunan [Ca2+]i(Cunningham, 2006).

Persalinan dibagi menjadi tiga tahapan : (1) dilaktasi serviks, (2)

pelahiran bayi, dan (3) pelahiran plasenta. Pada permulaan persalinan atau

waktu pada tahap pertama, membran yag membungkus kantong amnion, atau

“kantong air” pecah. Cairan amnion (air ketuban) yang keluar dari vagina

membantu jalan lahir (Sherwood, 2012).

Tahap pertama, selama tahap pertama, serviks dipaksa melebar untuk

mengakomodasi garis tengah kepala bayi, biasanya hingga maksimal 10 cm.

Tahap ini adalah yang paling lama, berlangsung dari beberapa jam sampai 24

jam pada kehamilan pertama. Jika bagian tubuh lain janin selain kepala

menghadap keserviks maka bagian tersebut biasanya kurang efektif dari pada

kepada untuk “membelah” serviks. Kepala memiliki garis tengah terbesar pada

tubuh bayi. Jika bayi mendekati jalan lahir dengan kaki terlebih dahulu maka

kaki mungkin tidak dapat melebarkan serviks cukup lebar untuk dilalui kapala.

(25)

lubang serviks yang sempit (Sherwood, 2012).

Tahap Kedua. Tahap kedua persalinan, pengeluaran bayi yang

sebenarnya, dimulai setelah dilatasi (pembukaan) serviks lengkap. Ketika bayi

mulai bergerak melewati serviks dan vagina, reseptor-reseptor regang di

vagina mengaktifkan suatu refleks saraf yang memicu kontraksi dinding

abdomen secara singkron dengan kontraksi uterus. Kontaksi abdomen ini

sangat meningkatkan gaya yang didorong bayi melewati jalan lahir. Ibu dapat

membantu mengeluarkan bayinya dengan secara sengaja mengontraksi

otot-otot abdomennya bersama dengan kontraksi uterus (yaitu, “mengejan” saat

timbul nyeri persalinan). Tahap 2 biasanya jaauh lebih singkat daripada tahap

pertama dan berlangsung 30 sampai 90 menit. Bayi masih melekat ke

plasentaa oleh tali pusat saat lahir. Tali pusat ini diikat dan dipotong, dengan

puntung akan menciut dalam beberapa hari untuk membentuk umbilikus

(pusat) (Sherwood, 2012).

Tahap ketiga, segera setelah bayi lahir, terjadi rangkaian kontraksi

uterus kedua yang memisahkan plasenta dari miometrium dan

mengeluarkannya melalui vagina. Pelahiran plasenta, atau afterbirth,

merupakan tahap ketiga persalinan, biasanya merupakan tahap paling singkat

yaitu selesai dalam 15 sampai 30 menit setelah bayi lahir. Setelah plasenta

dikeluarkan, kontraksi miometrium yang berjelanjutan menyebabkan pembuluh

darah uterus yang mengalir ketempat perlekatan plasenta terjepit untuk

(26)

Kontraksi otot polos uterus pada persalinan terasa sangat nyeri, dan hal

ini merupakan sesuatu yang unik dibandingkan kontraksi otot fisiologis lainnya.

Penyebab nyeri tidak diketahui secara pasti, tetapi sudah diusulkan beberapa

kemungkinan :

1. Hipoksia pada miometrium yang berkontraksi (seperti pada anginan

pektoris).

2. Penekanan ganglia saraf di serviks dan uterus bagian bawah oleh

berkas-berkas otot yang saling bertautan.

3. Peregangan serviks sewaktu dilaktasi.

4. Peregangan peritoneum yang terletak di atas fundus.

Penekanan ganglia saraf di serviks dan segmen bawah uterus oleh

miometrium yang sedang berkontraksi adalah hipotesis yang sangat menarik.

Infitrasi paraservikal dengan anestetik lokal biasanya menghasilkan peredaan

nyeri yang signifikan pada kontraksi-kontraksi uterus berikutnya (Cunningham,

2006).

Kontraksi uterus bersifat involuntar dan, sebagian besar, tidak

bergantung pada kendali ekstrauteri. Blokade saraf dari analgesi epidural tidak

mengurangi frekuensi dan intensitas kontraksi uterus. Selain itu, kontraksi

miometrium pada perempuan paraplegik adalah normal, meskipun tidak terasa

nyeri seperti pada perempuan yang mengalami simpatektomi lumbal bilateral

(Cunningham, 2006).

Peregangan mekanis serviks meningkatkan aktivitas uterus. Mekanisme

(27)

kontraktilitas miometrium tidak jelas. Pembebasan oksitosin diduga sebagai

penyebabnya, tetapi hal ini tidak terbukti. Manipulasi serviks dan “pelucutan”

selaput ketuban diikuti dengan peningkatan kadar metabolit prostaglandin F2α

(PGEM) di dalam darah (Cunningham, 2006).

Interval antar kontraksi berkurang secara bertahap dari sekitar 10 menit

pada awitan kala satu persalinan menjadi 1 menit atau kurang pada kala dua.

Namun, masa-masa relaksasi antar kontraksi penting untuk menyebabkan

hipoksemia janin. Pada fase aktif persalinan, lama masing-masing kontraksi

berkisar dari 30 sampao 90 detik, dengan rata-rata sekitar 1 menit. Intensitas

kontraksi uterus bervariasi lumayan besar pada persalinan yang jelas nomar,

tekanan-tekanan cairan amnion yang ditimbulkan oleh kontraksi uterus pada

persalinan spontan: rata-rata sekitar 40mmHg, tetapi berkisar dari 20 sampai

60 mmHg (Cunningham, 2006).

Selama persalinan aktif, uterus berubah menjadi dua bagian yang

berbeda. Segmen atas yang berkontraski secara aktif menjadi lebih tebal ketika

persalinan maju. Bagian bawah, yang terdiri dari segmen bawah uterus dan

serviks, relatif pasif dibanding dengan segmen atas, dan bagian ini

berkembang menjadi jalan yang berdinding jauh lebih tipis untuk janin.

Segmen bawah uterus analog dengan ismus uterus yang melebar dan menipis

keluar pada perempuan yang tidak hamil; pembentukannya tidak hanya

merupaka fenomena persalinan. Segmen bawah secara bertahap terbentuk

ketika kehamilan bertambah dan kemudian menipis sekali pada saat

(28)

terjadi kontraksi, sekalipun selaput ketuban belum pecah. Segmen atas uterus

cukup kencang atau keras, sedangkan konsistensi segmen bawah uterus jauh

kurang kencang. Segmen atas uterus merupakan bagian uterus yang

berkontraksi secara aktif; segmen bawah adalah bagian yang diregangkan,

normalnya jauh lebih pasif (Cunningham, 2006).

Miometrium dapat segmen atas uterus tidak berelaksasi sampai kembali

ke panjang aslinya kontraksi; namun, menjadi relatif menetap pada panjang

yang lebih pendek. Namun, tegangnya tetap sama seperti sebelum kontraksi.

Bagian uterus, atau segmen aktif, berkontraksi ke bawah ketika isinya

berkurang, tetapi tegangan miometrium tetap konstan. Efek akhirnya adalah

mengencangkan yang kendur, dengan mempertahankan kondisi

menguntungkan yang diperoleh dari ekspulsi janin, dan mempertahankan otot

uterus yang berikutnya mulai di tempat yang ditinggalkan oleh kontraksi

sebelumnya, sehingga bagian atas rongga uterus menerus pada setiap

kontraksi berikutnya. Karena pemendekan serat oto yang terus menerus pada

setiap kontraksi, segmen atau uterus yang aktif menjadi semakin lebih kecil

dan setiap kontraksi berikutnya. Karena pemendekan serat otot yng terus

menerus pada setiap kontraksi, segmen atas uterus yang aktif menjadi

semakin menebal di sepanjang kala pertama dan kedua persalinan dan

menjadi tebal sekali tebal setelah pelahiran janin (Cunningham, 2006).

Pada sebagian besar masa kehamilan, uterus mengalami episode

periodik kontaksi lemah dan lambatnya yang disebut kontaksi Broxton Hick.

(29)

kemudian kontraksi ini berubah secara tiba-tiba, dalam beberapa jam, menjadi

kontraksi yang sangat kuat sehingga mulai meregangkan serviks dan

selanjutnya mendorong bayi melalui jalan lahir, dengan demikian menyebabkan

pengeluaran bayi. Proses ini disebut persalinan, dengan demikian

menyebabkan pengeluaran bayi. Proses ini disebut persalinan dan kontraksi

kuat yang akhirnya menyebabkan persalian disebut kontraksi persalinan

(Guyton dan Hall, 2011).

Kita tidak mengetahui apa yang secara tiba-tiba mengubah irama lambat

dan lemah dari uterus menjadi kontraksi persalinan yang kuat. Akan tetapi,

berdasarkan pengalaman dengan jenis-jenis sistem pengaturan fisiologi yang

lain, sebuah teori diajukan untuk menjelaskan mulainya persalinan teori umpan

balik positif tersebut mengatakan bahwa regangan serviks oleh kepala fetus

akhirnya menjadi cukup kuat untuk menimbulkan suatu peningkatan refleks

kontraksi karpus uteri yang kuat. Kontraksi ini akan mendorong bayi maju,

sehingga lebih meregang serviks dan terus menimbulkan umpan balik positif

pada uteri. Jadi, proses ini berulang terus sampai bayi dilahirkan. Pengamatan

yang menyokongnya adalah sebagai berikut :

Pertama, kontraksi persalinan mengikuti semua prinsip umpan balik

positif yaitu, sekali kekuatan kontraksi menjadi lebih besar dari nilai kritisnya,

setiap kontraksi akan menyebabkan kontraksi berikutnya menjadi semakin kuat

sampai efek maksimum tercapai. Mengaju pada umpan balik positif dalam

(30)

sesungguhnya dari semua mekanisme umpan balik positif ketika diperoleh

umpan balik menjadi lebih besar dari nilai kritisnya (Guyton dan Hall, 2011 ).

Kedua, ada dua jenis umpaan balik positif yang diketahui meningkatkan

kontraksi uterus selama persalianan : (1) regangan serviks menyebabkan

seluruh karpus uteri berkontraksi, dan kontraksi ini lebih meregangkan serviks

karena dorongan kepala bayi kearah bawah. (2) regangan serviks juga

menyebabkan kelenjar hipofisis menyekresi pksitosin yang merupakan cara

lain untuk meningkatkan kontraksi uterus (Guyton dan Hall, 2011 ).

Untuk menyimpulkaannya, kita dapat menganggap bahwa berbagai

faktor dapat meningkatkan kontraktilitas uterus menjelang akhir kehamilan.

Akhirnya, salah satu kontraksi menjadi cukup kuat untuk merangsang uterus

khususnya pada serviks, dan kontraksi ini lebih meningkatkan kontraktilitas

uterus karean umpan balik positif, menghasilkan kontraksi uterus kedua yang

lebih kuat dari pertama, yang ketiga lebih kuat dari yang kedua, dan

seterusnya, sekali kontraksi ini menjadi cukup kuat untuk menyebabkan janin

umpan balik, disertai dengan kontraksi berikut yang lebih besar dari yang

sebelumnya, proses ini akan berlangsung hingga lengkap semuanya, karena

umpan balik positif memulai timbulnya lingkaran yang tidak terputus ketika hasil

dari umpan balik lebih besar dari tingkat kritisnya (Guyton dan Hall, 2011 ).

Seseorang mungkin bertanya tentang banyak keadaan persalinan palsu,

ketika kontraksi semakin kuat dan kemudian menghilang. Ingat bahwa agar

lingkaran setan ini tetap terus berlangsung setiap siklus umpan balik baru

(31)

kontraksi gagal untuk merangsang uterus kembali dengan cukup, umpan balik

posiif dapat masuk kedalam rangkaian retrograd dan kontraksi persalinan

menghilang (Guyton dan Hall, 2011 ).

Kontraksi uterus selama persalinan dimulai terutama dari puncak fundus

uteri dan menyebar kebawah keseluruh karpus uteri. Selain itu, intensitas

kontraksi sangat besar pada pucak dan korpus uteri, tetapi lemah oada

segmen bahwa uterus yang berdekatan dengan serviks, oleh karena itu, setiap

kontraksi uterus cenderung mendorong bayi kebawah kearah serviks (Guyton

dan Hall, 2011 ).

Pada bagian awal persalinan, kontraksi mungkin hanya terjadi sekali

setiap 30 menit. Dengan majunya persalinan, kontraksi akhirnya timbul lebih

sering, sekali setiap 1 sampai 3 menit, dn intensitas kontraksinya bertambah

sangat kuat, dengan periode relaksasi yang singkat diantara kontraksi.

Gabungan kontraksi uterus dan otot-otot abdomen selama kelahiran bayi

menyebabkan bayi terdorong kebawah kira-kira dengan kekuatan 25 pon

setiap kontraksi yang kuat (Guyton dan Hall, 2011 ).

Untungnya, kontraksi persalinaan terjadi secara intermiten karena

kontraksi yang kuat menghalangi atu kadang-kadang bahkan menghentikan

aliran darah melalui plasenta dan akan menyebabkan kematian fetus bila

kontraksi terus berlangsung. Memang pada pemakaian berlebihan dari

berbagai zat perangsang uterus seperti oksitosin, dapat menyebabkan spasme

uterus, dan bukan kontraksi ritmis, yang dapat menyebabkan kematian fetus

(32)

Pada 95 persen kelahiran kepala merupakan bagian pertama yang

dikeluarkan dari bayi, dan pada sebagian besar sisanya bokong dikeluarkan

pertama kali. Kepala bertindak sebagai baji untuk membuka struktur-struktur

jalan lahir ketika fetus didorong kebawah (Guyton dan Hall, 2011 ).

Hambatan utama yang pertama dari pengeluaran fetus adalah serviks

uteri. Menjelang akhir kehamilan, serviks menjadi lunak yang memungkinkan

serviks meregang saat kontraksi persalinan adalah suatu periode dilatasi,

serviks yang progresif, berlangsung sampai pembukaan serviks sebesar kepala

fetus. Stadium ini biasanya berlangsung selama 8 sampai 24 jam pada

kehamilan pertama, tetapi sering hanya berlangsung beberapa menit pada

kehamilan ynag sudah berkali-kali (Guyton dan Hall, 2011 ).

Sekali serviks telah berdilatasi sempurna, ketuban biasanya pecah dan

cairan ketuban tiba-tiba mengalir keluar ke vagina. Kemudian kepala fetus

bergerak dengan cepat masuk jalan lahir, dan dengan kekuatan tambahan dari

atas, kepala turun melalui jalan lahir sampai akhirnya terjadi kelahiran.

Keadaan ini disebut kala dua persalinan, dan kala dua ini dapat berlangsung

paling cepat 1 menit pada multipara dan 30 menit atau lebih pada primigravida

(Guyton dan Hall, 2011 ).

2.2 Asfiksia Bayi Baru Lahir 2.2.1 Pengertian Asfiksia

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernafas

secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir,

umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat

(33)

atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah

persalinan (Marmi, 2012).

Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera

bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh

hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan

faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi

lahir. Akibat-akibat akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak

dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi

bertujuan mempertahankankan kelangsungan hidupnya dan membatasi

gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul (Marmi, 2012).

G.b. 2.7 Asfiksia bayi baru lahir

(Sumber : Latifa, 2015).

Asfiksia neonatorum merupakan suatu keadaan pada bayi baru lahir

yang mengalami gagal bernapas secara spontan dan teratur segera setelah

lahir, sehingga bayi tidak dapat memasukkan ogsigen dan tidak dapat

(34)

Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir (BBL) tidak secara spontan dan

tidak teratur .Sering kali bayi yang sebulumnya mengalami gawat janin akan

mengalami asfiksia sesudah persalinan. Masalah ini mungkin berkaitan

dengan keadaan ibu , tali pusat, atau masalah pada bayi selama atau sesudah

persalinan (Rohani, 2011).

2.2.2 Faktor Penyebab Terjadinya Asfiksia Bayi Baru Lahir

Menurut Marmi (2012). Faktor penyebab terjadinya asfiksia bayi baru Lahir

adalah sebagai berikut :

1. Faktor Ibu

a. Preeklampsia dan eklampsia

b. Perdarahan abnormal (plsenta previa atau solusio plasenta)

c. Partus lama atau partus macet

d. Demam selama persalinan infeksi berat (malaria, sifilis, tbc, hiv)

e. Kehamilan lewat waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)

2. Faktor Tali Pusat

a. Lilitan tali pusat

b. Tali pusat pendek

c. Simpul tali pusat

d. Prolapsus tali pusat

3. Faktor Bayi

a. Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)

b. Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu,

(35)

c. Kelainan bawaan (kongenital)

d. Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)

Untuk menentukan tingkatan asfiksia, apakah bayi mengalami

asfiksia berat, sedang atau ringan/ normal dapat dipakai penelitian

apgar skor.

APGAR Score

A : Apprearance =Rupa (warna kulit)

P :Pulse =Nadi

G :Grimace =Menyeringai (akibat repleks kateter

dalam hidung)

A :Activity = Keaktifan

R :Respiration = Pernafasan

Dibawah ini tabel untuk menentukan tingkat/derajatasfiksiayang

dialami bayi pada saat dia dilahirkan penilaian dilakukan pada menit

(36)

Tabel 2.1

Tidak ada Kurang dari 100/ menit

Tonus otot Lumpuh Ekstremitas dalam fleksi sedikit Sumber: Ahmad (2015)Kehamilan Persalinan dan Perawatan Bayi.

Berdasarkan nilai APGAR, asfiksia dapat di bagi menjadi tiga jenis

menurut (Saputra, 2014) yaitu :

1. 7 - 10: Bayi dalam keadaan normal.

2. 4 – 6: Bayi mengalamiasfiksiasedang.

3. 0 – 3: Bayi mengalamiasfiksiaberat.

2.2.2 Klasifikasi Klinis Asfiksia

Menurut Maryunani (2009) Klasifikasi Asfiksia adalah sebagai berikut :

1. Vigorous Baby

Skor apgar 7-10. Dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak

(37)

2. Mild moderate asphyxia(asfiksia sedang)

Skor apgar 4-6. Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi

jantung lebih dari 100/menit, tonus oto buruk, sianosis berat, dan

kadang-kadang pucat, reflek iritabilita tidak ada.

3. Asfiksia berat

Skor apgar 0-3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi

jantung kurang dari 100/menit, tonus oto buruk, sianosis berat, dan

kadang-kadang pucat, reflek iritabilita tidak ada.

2.3 Mekanisme Lama Kala II Mempengaruhi Asfiksia

Lamanya persalinan dapat digunakan sebagai pegangan tentang kemungkinan

terjadinya persalinan lama akibat adanya gangguan pada kekuatan his yang lemah,

frekuensi his berkurang, lamanya kekuatan his berlangsung, koordinasi tidak teratur

sehingga resultan selama proses persalinan kurang menunjukan arah kekuatan

menuju jalan lahir, dampak dari kegagalan his tersebut menyebabkan persalinan

berjalan lambat dan lama serta menyebabkan terjadi gangguan metabolisme ke arah

asidosis dah dehidrasi yang memerlukan penanganan sesuai penyebabnya (Latifa,

2015).

Partus lama dikaitkan dengan his yang masih kurang dari normal sehingga

tahanan jalan lahir yang normal dapat diatasi karena durasi hisnya tidak terlalu lama,

tidak terjadi koordinasi kekuatan. Gangguan kontraksi uterus misalnya hipertoni atau

hipotoni dapat mengurangi aliran darah pada uterus yang akan menyebabkan

berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan ke janin (maryunani,2009).

(38)

kehamilan/persalinan, akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan

mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian.

Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat reversibleatau tidak bergantung kepada

berat dan lamanyaasfiksia. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periodeapnu

(primary apnoea) disertai dengan penurunan frekuensi jantung. Selanjutnya bayi akan

mempelihatkan usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan

teratur. Para penderitaasfiksiaberat,apnu kedua (secondary apnoea) (Septiana,

2012).

Di samping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula gangguan metabolisme

dan perubahan keseimbangan asam-basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama

gangguan pertukaran gasmungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik. Bila

gangguan berlanjut, dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme anaerobik

yang berupaglikolisis glikogentubuh, sehingga sumberglikogentubuh terutama pada

jantung dan hati akan berkurang. Asam organik yang terjadi akibat metabolismeini

akan menyebabkan timbulnya asidosismetabolik. Pada tingkat selanjutnya akan

terjadi perubahan kardiovaskular yang disebabkan oleh beberapa keadaan di

antaranya: (a) hilangnya sumberglikogendalam jantung akan mempengaruhi fungsi

jantung, (b) terjadinya asidosismetabolik akan mengakibatkan menurunnya sel

jaringan, termasuk otot jantung sehingga menimbulkan kelemahan jantung, (c)

pengisian udaraalveolusyang kurang adekuat akan menyebabkan tetap tingginya

resistensi pembuluh darah paru, sehingga sirkulasi darah ke paru dan demikian pula

ke sistem sirkulasi tubuh lain akan mengalami gangguan. Acidosisdan gangguan

(39)

sel otak yang terjadi menimbulkan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi

se-lanjutnya (Septiana, 2012).

keadaan- keadaan pada asfiksiayang perlu mendapat perhatian sebaiknya,

yaitu : (1) menurunnya tekanan O2darah (PaO2), (2) meningginya tekanan CO2darah

(PaCO2), (3) menurunnya pH (akibat asidosis respiratorik dan metabolik), (4)

di-pakainya sumber glikogen tubuh untuk metabolisme anaerobik, (5) terjadinya

perubahan sistemkardiovaskular. Mengenal dengan tepat perubahan tersebut di atas

sangat penting, karena hal itu merupakan manifestasi daripada tingkatasfiksiayang

terjadi. Tindakan yang dilakukan pada bayiasfiksiahanya akan berhasil dengan baik

bila perubahan yang terjadi dapat dikoreksi secara adekuat (Septiana, 2012).

Di samping itu dapat pula memberikan gambaran beratnya perubahan

kardio-vaskular yang ditemukan. Penilaian semacam Apgar ini juga mempunyai hubungan

yang bermakna dengan mortalitas danmordibilitasbayi baru lahir. Cara ini dianggap

yang paling ideal dan telah banyak digunakan di mana-mana. Patokan klinis yang

dinilai ialah : (1) menghitung frekuensi jantung, (2) melihat usaha bernafas. (3) menilai

tonus otot, (4) menilai refleks rangsangan, (5) memperhatikan warna kulit. Setiap

kriteria diberi angka tertentu dan penilaian itu sekarang lazim disebut Skor Apgar.

Skor Apgar ini biasanya dinilai I menit setelah bayi lahir lengkap, yaitu pada saat bayi

telah diberi lingkungan yang baik serta telah dilakukan pengisapan lendir dengan

sempurna Skor Apgar 1 menit ini menunjukkan beratnyaasfiksiayang diderita dan

baik sekali sebagai pedoman untuk menentukan cararesusitasi. Skor Apgar perlu

pula dinilai setelah 5 menit bayi lahir, karena hal ini mempunyai korelasi yang erat

(40)

2.4 Kerangka Konsep

Variabel Moderator ( - )

Variabel Independen Variabel Intervening Variabel Dependen

Variabel Moderator ( + )

Variabel Kontrol = Yang diteliti

= Yang tidak diteliti

Bagan 2.1 Krangka Konsep

Kontraksi Lemah

1. Seluruh ibu bersalin di Klinik ABI UMMI DW Sarmadi Palembang.

2. Seluruh bayi lahir dari ibu bersalin di Klinik ABI UMMI DW Sarmadi Palembang.

3. Ibu yang bersedia menjadi responden

Lama Fase

Kala II

1. Lilitan tali pusat

2. Bayi besar

Kejadian Asfiksia

Bayi Baru Lahir Ketidakmampuan ibu

(41)

2.5 Hipotesis Penelitian

1. a. H0 : Tidak Ada Perbedaan Lama Fase Kala II Pada Ibu Bersalin

Primigravida dan Multigravida Di RSUD Palembang BARI Tahun

2016.

b. H0 : Tidak Ada Perbedaan Lama Fase Kala II Ibu Bersalin Primigravida

pada Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia dan Tidak Asfiksia Di RSUD

Palembang BARI Tahun 2016.

c. H0 : Tidak Ada Perbedaan Lama Fase Kala II Ibu Bersalin Multigravida

pada Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia dan Tidak Asfiksia Di RSUD

Palembang BARI Tahun 2016.

2. a. Ha : Ada Perbedaan Lama Fase Kala II Pada Ibu Bersalin Primigravida

dan Multigravida di RSUD Palembang BARI Tahun 2016.

b. Ha : Ada Perbedaan Lama Fase Kala II Ibu Bersalin Primigravida pada

Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia dan Tidak Asfiksia di RSUD

Palembang BARI Tahun 2016.

c. Ha : Ada Perbedaan Lama Fase Kala II Ibu Bersalin Multigravida pada

Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia dan Tidak Asfiksian di RSUD

(42)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian akademik yang diajukan untuk memenuhi

salah satu syarat guna menyelesaikan pendidikan program DIII Kebidanan. Tujuan

terapan dilakukan dengan tujuan menerapkan, menguji, dan mengevaluasi

masalah-masalah praktis sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Penelitian ini

menggunakan metode Survey Analitik yaitu survey atau penelitian yang mencoba

menggali bagaimana lama fase kala II pada ibu bersalin menyebabkan asfiksia bayi

baru lahir di klinik RSUD Palembang BARI dengan pendekatan Cose control.

Penelitian ini dengan tingkat eksplanasi deskriptif untuk menjelaskan kedudukan lama

fase kala II pada ibu bersalin primigravida dan multigravida serta hubungan lama

fase kala II pada ibu bersalin dengan kejadian asfiksia bayi baru lahir di RSUD

Palembang BARI (Sugiyono, 2015).

3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Variabel adalah konsep yang mempunyai variasi nilai dimana minimal dapat

dibedakan dalam dua atribut (Notoadmojo,2010)

3.2.1 Variabel

Dalam hal ini yang menjadi variabel independen adalah lama fase kala II.

sedangkan yang menjadi variabel dependen adalah kejadian asfiksia bayi baru

(43)

3.3 Populasi Dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi dalampenelitian ini adalah semua bayi baru lahir dari ibu bersalin

di RSUD Palembang BARI Tahun 2016.

3.3.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah semua bayi baru lahir dari ibu

bersalin di RSUD Palembang BARI Tahun 2016.

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan cara

accidental sampling, adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan,

yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat

digunakan sebagai sampel, bila dibandingkan orang yang kebetulan ditemui

itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2015).

3.3.3 Kriteria Inklusi dan Kriteria Ekslusi 1. Kriteria Inklusi

a. Seluruh ibu bersalin di RSUD Palembang BARI Tahun 2016.

b. Seluruh bayi baru lahir dari ibu bersalin di RSUD Palembang BARI

Tahun 2016.

c. Ibu yang bersedia menjadi responden.

(44)

Adapun instrumen yang digunakan oleh peneliti pada saat melakukan

penelitian agar mendapat data yang relevan dengan menggunakan instrumen

pengumpulan data yaitu :

- Lembar check list

- Lembar apgar skor

- Partograf

- Jam

- Alat tulis.

3.4.2 Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi bayi baru lahir dari

ibu bersalin di RSUD Palembang BARI menggunakan lembar check list dan

jamsebagai instrumen penelitian.

(45)

Bagan 3.1 Alur Penelitian

3.6 Tempat Dan Waktu Penelitian

Datang ke RSUDPalembang BARI

Ke TU / DIKLAT

Izin Untuk Pengambilan Data Awal

Bidan KARU Kebidanan

Tidak di Izinkan Diizinkan

Tempat Penelitian Lain Melakukan Observasi

Memasukkan data kedalam lembar cheklist

Memasukkan Data yang Sudah ada ke Program SPSS

Hasil Penelitian Melakukan Pengolahan Data

Editing, Coding, Processing Cleaning

Melakukan Analisa Data Analisa Univariat, Analisa

Bivariat Memasukkan data kedalam

(46)

3.6.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Palembang BARI. Jln. Panca Usaha,

kota Palembang.

3.6.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian akan dilakukan pada bulan Agustus 2016.

3.7 Pengolahan Data 1. Collecting

Upaya pengumpulan data yang dilakukaan peneliti melalui observasi ibu

bersalin yang mempengaruhi kriteria inklusi dan memindahkan hasil dari

observasi waktu lama kala II ibu bersalin pada bayi baru lahir dengan asfiksia

dan tidak asfiksia ke dalam lembar check list untuk diteliti.

2. Editing

Upaya memeriksa kembali kelengkapan data dalam pengisian semua

lembar check list dari hasil observasi antara bayi baru lahir dengan asfiksia dan

tidak asfiksia.

Maka peneliti bisa menyimpulkan bahwa :

a. Data waktu lama fase kala II ibu bersalin pada bayi baru lahir dengan

asfiksia sudah lengkap dan jelas.

b. Data waktu lama fase kala II ibu bersalin pada bayi baru lahir yang

tidak asfiksia sudah lengkap dan jelas.

3. Coding

Coding merupakan kegiatan pemberian kode pada data yang terdiri atas

beberapa kategori untuk memudahkan dalam proses pembacaan.

(47)

1. Variabel Independen ( Lama Fase Kala II ).

Pada variabel independen tidak dilakukan pengkodean karena

menggunakan skala rasio.

2. Variabel Dependen (Kejadian Asfiksia Bayi Baru Lahir)

a. Kode 1 = Asfiksia, jika bayi tidak menangis secara spontan

b. Kode 2 = Tidak asfiksia, jika bayi menangis secara spontan

4. Entry

Penelitian memasukan data waktu lama kala II ibu bersalin pada bayi baru

lahir dengan asfiksia dan tidak asfiksia dari hasil observasi yang telah

dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam master tabel atau data base

komputer menggunakan bantuan program SPPS for windows. 5. Cleaning(Pembersihan Data)

penelitian melakukan pengecekan kembali data waktu lama kala II ibu

bersalin pada bayi baru lahir dengan asfiksia dan tidak asfiksia yang sudah di

entry kemudian di periksa kelengkapan dan kebenarannya untuk memastikan

tidak ada kesalahan-kesalahan dalam pengkodean dan pengentryan data.

3.8 Analisis Data

3.8.1 Analisa Univariat

Analisa univariat merupakan analisa yang dilakukan untuk mengetahui

data yang disajikan dalam bentuk tabel mean, modus, median, sebagai berikut:

1. Rata-rata lama fase kala II ibu bersalin primigravida di RSUD Palembang

(48)

2. Rata-rata lama fase kala II ibu bersalin multigravida di RSUD Palembang

Tahun 2016.

3. Rata-rata lama fase kala II ibu bersalin primigravida pada bayi baru lahir

dengan asfiksia di RSUD Palembang BARI Tahun 2016.

4. Rata-rata lama fase kala II ibu bersalin primigravida pada bayi baru lahir

tidak asfiksia di RSUD Palembang BARI di Tahun 2016.

5. Rata-rata lama fase kala II ibu bersalin multigravida pada bayi baru lahir

dengan asfiksia di RSUD Palembang BARI Tahun 2016.

6. Rata-rata lama fase kala II ibu bersalin multigravida pada bayi baru lahir

tidak asfiksia di RSUD Palembang BARI Tahun 2016.

3.8.2 Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel

independen (lama kala II) dengan variabel dependen (kejadian asfiksia bayi

baru lahir) dimana dilakukan uji statistik hubungan pada kedua variabel

menggunakan ujiT-Independendengan bantuan Program SPSS for windows,

dengan tingkat kemaknaan pada alpha = 5%(α = 0,05)

Keputusan hasil statistik diperoleh dengan cara melihat nilai p_value

dengan nialai (α = 0,05) yang kriterianya sebagai berikut:

1. Apabila p_value ≤ α (0,05) maka H0ditolak dan Haditerima, maka :

a. Ada Perbedaan Lama Lama Kala II Pada Ibu Bersalin Primigravida

(49)

b. Ada Perbedaan Lama Fase Kala II Ibu Bersalin Primigravida pada

Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia dan Tidak Asfiksia di RSUD

Palembang BARI Tahun 2016.

c. Ada Perbedaan Lama Fase Kala II Ibu Bersalin Multigravida pada

Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia dan Tidak Asfiksian di RSUD

Palembang BARI Tahun 2016.

2. Apabila p_value > α (0,05) maka H0diterima dan Haditolak, maka :

a. Tidak Ada Perbedaan Lama Fase Kala II Pada Ibu Bersalin

Primigravida dan Multigravida Di RSUD Palembang BARI Tahun 2016.

b. Tidak Ada Perbedaan Lama Fase Kala II Ibu Bersalin Primigravida

pada Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia dan Tidak Asfiksia Di RSUD

Palembang BARI Tahun 2016.

c. Tidak Ada Perbedaan Lama Fase Kala II Ibu Bersalin Multigravida

pada Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia dan Tidak Asfiksia Di RSUD

(50)

Gambar

Tabel 2.1Nilai APGAR

Referensi

Dokumen terkait

Toˇcnije, u prvom poglavlju opisat ´cemo sedam metoda dokazivanja konkurentnosti pravaca te ih pri- mijeniti na najpoznatije primjere konkurentnosti pravaca, odnosno na

Diagnosis dari KVVR menjadi terbatas apabila tidak disertai dengan tes laboratorium untuk deteksi dari Candida. Untuk episode KVVR yang dianggap perdana, maka dengan dasar

Penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan gambaran tentang budaya organisasi yang ada pada divisi marketing communication di PT Global Informasi Bermutu

Amplop ini digunakan pada saat pembayaran gaji kepada karyawan untuk keamanan uang yang ada didalam amplop atas gaji yang diterima.. Dihalaman muka amplop

STS : bila pernyataan tersebut sangat tidak sesuai dengan keadaan diri anda.. Cara menjawab dengan memberi tanda centang (  ) pada kolom yang tersedia sesuai

1) Hasil pemetaan menunjukkan sebaran kepadatan tanah kurang baik pada wilayah Kabupaten Sukoharjo bagian tengah, sementara untuk daerah pinggiran menunnjukkan trend

Proses marinasi dengan asam cuka konsentrasi 5% selama 5 menit pada ikan Kakap merah yang paling disarankan digunakan di Masyarakat karena pita-pita protein pada

Sistem informasi akuntansi peranannya tidak hanya sebagai pengumpulan data, mengolahnya menjadi laporan keuangan saja, tetapi mempunyai peranan yang jauh lebih penting