PENGARUH PENDAPATAN TERHADAP
PENYIMPANGAN SOSIAL
Karya Ilmiah
Disusun dalam rangka memenuhi tugas
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas XII Semester I
Oleh
nama
: Yulius Harmawan Setya Pratama
kelas
: XII IPA 8
HALAMAN PENGESAHAN
Karya ilmiah yang berjudul “PENGARUH PENDAPATAN TERHADAP
PENYIMPANGAN SOSIAL”ini telah disetujui untuk dijadikan tugas Mata Pelajaran Bahasa
Indonesia Kelas XII pada hari :
tanggal :
Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
MOTO DAN PERSEMBAHAN
MOTO
1. Kekuatan sesungguhnya tidaklah menghantam dengan keras tetapi tepat di titiknya, 2. Hargailah kegagalan, keberhasilan tidak akan berarti tanpa kegagalan.
3. Tidak ada rasa manis tanpa rasa pahit.
4. Jangan rendah diri, tetap rendah hati. Saling melayani dan mengasihi.
PERSEMBAHAN
1. Kepada orang tua yang penulis cintai.
2. Kepada guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang penulis hormati. 3. Kepada teman serta sahabat yang penulis sayangi.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul “PENGARUH
PENDAPATAN TERHADAP PENYIMPANGAN SOSIAL”.
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan penulis. Namun sebagai manusia biasa, penulis tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi teknik penulisan maupun tata bahasa. Tetapi walaupun demikian penulis berusaha menyelesaikan karya ilmiah meskipun tersusun sangat sederhana.
Penulis menyadari tanpa kerja sama antara berbagai pihak yang membantu dengan penulis serta beberapa kerabat yang memberi berbagai masukan yang bermanfaat bagi penulis demi tersusunnya karya tulis ilmiah ini. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada
1. Bapak Drs. H. Bambang Nianto Mulyo, M.Ed, selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Semarang.
2. Ibu Dra. Siti Rahayu, M.Pd, selaku wali kelas XII IPA 8.
3. Bapak Soleh Amin, S.Pd, M.Pd, selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas XII. 4. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya ilmiah ini.
yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan saran demi kelancaran penyusunan karya ilmiah ini.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ...ii
MOTO DAN PERSEMBAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI... v
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Rumusan Masalah ...2
1.3 Tujuan Penelitian ...2
1.4 Metode Penulisan ...2
1.5 Sistematika Penulisan...3
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Penyimpangan Sosial ...4
2.2 Tingkat Pendapatan di Indonesia ...7
2.3 Pengaruh Pendapatan Terhadap Penyimpangan Sosial...8
2.4 Penyimpangan Sosial Akibat Tingkat Pendapatan yang Rendah ...9
2.5 Penanggulangan Masalah Penyimpangan Sosial ...13
BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan ...17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendapatan merupakan sesuatu yang didapatkan sebagai balas jasa seseorang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pendapatan seseorang dengan orang yang lain pasti berbeda – beda, tergantung seberapa besar jasa yang diberikan. Selain hal
tersebut, tingkat pendidikan juga mempengaruhi tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan mempengaruhi profesi seseorang, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mapan profesi seseorang.
Di Indonesia tingkat pendidikan belum merata. Banyak masyarakat yang belum menikmati pendidikan dan memanfaatkan pendidikan yang difasilitasi oleh pemerintah. Sehingga tingkat pendidikan di Indonesia relatif masih rendah. Karena rendahnya tingkat pendidikan maka terdapat banyak pengangguran dan orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan. Orang – orang tersebut harus mencari jalan lain agar
kebutuhannya terpenuhi. Banyak cara agar kebutuhan dapat terpenuhi, namun terkadang orang lebih memilih jalan yang instan dan dapat dikatakan menyimpang dari tatanan sosial.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang di atas, dapat ditarik beberapa masalah, di antaranya : 1.2.1 Apa yang dimaksud dengan penyimpangan sosial?
1.2.2 Bagaimana tingkat pendapatan di Indonesia?
1.2.3 Bagaimana pengaruh pendapatan terhadap penyimpangan sosial?
1.2.4 Apa saja contoh penyimpangan sosial akibat dari rendahnya tingkat pendapatan? 1.2.5 Bagaimana cara menanggulangi masalah penyimpangan sosial akibat dari
rendahnya tingkat pendapatan?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut : 1.3.1 Mengetahui tingkat pendapatan di Indonesia.
1.3.2 Memahami pengaruh pendapatan terhadap penyimpangan sosial.
1.3.3 Mengerti contoh penyimpangan sosial akibat dari rendahnya tingkat pendapatan. 1.3.4 Mengetahui cara menanggulangi masalah penyimpangan sosial akibat dari
rendahnya tingkat pendapatan
1.4 Metode Penulisan
Pengumpulan data pada karya ilmiah ini menggunakan dua, yaitu : 1.4.1 Metode Studi Pustaka
Dilakukan dengan mengambil beberapa data dan informasi yang berkaitan dengan “PENGARUH PENDAPATAN TERHADAP PENYIMPANGAN
SOSIAL”dari berbagai sumber.
1.4.2 Metode Observasi
Dilakukan dengan cara mengamati lingkungan sekitar Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat yang berkaitan dengan “PENGARUH
1.5 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN yang terdiri dari lima subbab yaitu latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. BAB II PEMBAHASAN yang terdiri dari empat subbab yaitu pengertian penyimpangan
sosial, tingkat pendapatan di Indonesia, pengaruh pendapatan terhadap penyimpangan sosial, penyimpangan sosial akibat tingkat pendapatan yang rendah, penanggulangan masalah penyimpangan sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Penyimpangan Sosial
Penyimpangan sosial adalah semua bentuk perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku. Menurut Robert M. Z . Lawang, penyimpangan sosial adalah tindakan yang menyimpang dari norma norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari pihak berwenang untuk memperbaikinya. Sedangkan menurut Kartini Kartono, penyimpangan sosial adalah tingkah laku menyimpang dari tendensi sentral atau ciri ciri karakteristik rata rata dari rakyat kebanyakan.
2.1.1 Bentuk bentuk penyimpangan sosial
Penyimpangan sosial memiliki berbagai jenis bentuk, yaitu: 2.1.1.1 Penyimpangan primer
Penyimpangan primer adalah penyimpangan yang hanya bersifat temporer atau sementara dan masyarakat masih dapat memberikan toleransinya terhadap perbuatan tersebut. Contohnya siswa yang membolos, melanggar aturan lalu lintas, dan sejenisnya.
2.1.1.2 Penyimpangan sekunder
Penyimpangan sekunder adalah penyimpangan yang dilakukan secara khas dengan memperlihatkan perilaku menyimpang dan masyarakat tidak dapat memberikan toleransinya lagi. Contohnya pembunuhan, perjudian, perampokan, pemerkosaan, dan sejenisnya.
2.1.1.3 Penyimpangan individu
Penyimpangan individu adalah penyimpangan yang dilakukan oleh seorang individu. Contohnya pencopetan yang dilakukan sendiri dan sejenisnya.
2.1.1.4 Penyimpangan kelompok
Penyimpangan kelompok adalah penyimpangan yang dilakukan secara berkelompok atau pelakunya lebih dari satu orang. Contohnya kejahatan yang dilakukan geng motor, kejahatan mafia, dan lain sejenisnya. 2.1.1.5 Penyimpangan sistematik
2.1.1.6 Penyimpangan situasional
Penyimpangan situasional adalah penyimpangan yang disebabkan oleh berbagai macam kekuatan situasional atau kekuatan sosial di luar individu dan memaksa individu tersebut berbuat menyimpang. Contohnya seseorang mencuri karena terdesak kebutuhan.
2.1.1.7 Penyimpangan negatif
Penyimpangan negatif adalah penyimpangan yang cenderung bertindak ke arah nilai sosial yang dianggap rendah dan buruk. Contohnya pembunuhan, pemerkosaan dan lain sejenisnya
2.1.1.8 Penyimpangan positif
Penyimpangan positif adalah penyimpangan yang memiliki dampak positif karena mengandung unsur inovatif, kreatif dan memperkaya alternatif. Contohnya ibu rumah tangga yang menjadi tukang becak karena desakan ekonomi.
2.1.2 Faktor penyebab penyimpangan sosial
Penyimpangan sosial dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: 2.1.2.1 Mental yang tidak sehat
Karena mental yang tidak sehat, seorang dapat melakukan perilaku yang menyimpang. Orang yang mentalnya tidak sehat perlu dimasukkan ke tempat rehabilitasi mental. Untuk memasukkan seseorang ke tempat rehabilitasi mental tentu membutuhkan biaya. Sementara banyak orang yang mentalnya terganggu, berada pada golongan orang yang tidak mampu. 2.1.2.2 Ketidakharmonisan dalam keluarga
Ketidakharmonisan dalam keluarga dapat menyebabkan penyimpangan sosial. Contohnya kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tuanya yang sedang memiliki masalah.
2.1.2.3 Pelampiasan rasa kecewa
2.1.2.5 Keinginan untuk dipuji
Keinginan untuk dipuji terkadang timbul dalam hati seseorang. Orang tersebut beranggapan jika melakukan penyimpangan sosial, ia akan mendapatkan pengakuan khusus. Misalnya orang yang menyalahgunakan narkotika, menganggap dirinya menjadi hebat dan berkuasa.
2.1.2.6 Dorongan kebutuhan ekonomi
2.2 Tingkat Pendapatan di Indonesia
Tingkat pendapatan berkaitan erat dengan pekerjaan. Masalah pekerjaan dan tenaga kerja di Indonesia masih menjadi persoalan yang perlu disikapi secara serius. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai kondisi tenaga kerja di Indonesia, angkatan kerja Indonesia per Februari 2014 mencapai 125,32 juta orang. Angka ini meningkat jika dibandingkan angkatan kerja Februari 2013 yang hanya 123,64 juta orang.
Kelompok angkatan kerja adalah penduduk yang masuk dalam usia kerja yaitu 15 tahun ke atas. Dari jumlah angkatan kerja tersebut, sebanyak 118,17 juta orang bekerja dan sisanya 7,15 juta orang menganggur. Tingkat pengangguran menurun sebesar satu persen dari dua tahun lalu.
2.3 Pengaruh Pendapatan Terhadap Penyimpangan Sosial
Tingkat pendapatan di Indonesia tergolong masih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga Indonesia. Pendapatan yang tidak merata, banyaknya pengangguran, rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dan faktor faktor lainnya merupakan penyebab mengapa tingkat pendapatan per kapita di Indonesia tergolong rendah.
Rendahnya tingkat pendapatan per kapita di Indonesia menimbulkan berbagai dampak pada masyarakat. Mulai dari kemiskinan, kesenjangan sosial, hingga penyimpangan sosial. Kebutuhan yang terus meningkat seiring dengan berjalannya waktu harus segera dipenuhi. Sementara itu pendapatan tidak mengalami peningkatan yang sesignifikan kenaikan jumlah kebutuhan. Sehingga menyebabkan terjadinya defisit atau kekurangan dalam usaha mencukupi kebutuhan.
Kebutuhan yang tidak terpenuhi dapat mengancam kelangsungan hidup. Oleh karena itu defisit anggaran tersebut harus segera ditutup dengan berbagai usaha sehingga kebutuhan dapat terpenuhi. Banyak usaha yang dapat dilakukan, misalnya mencari tambahan dengan pekerjaan sambilan seperti berdagang atau menjual jasa dan lain lain. Namun dalam kenyataannya, banyak orang yang memilih jalan pintas untuk mencukupi kebutuhannya. Banyak kasus pencurian yang disebabkan desakan kebutuhan ekonomi.
Banyaknya orang yang memilih jalan pintas ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan. Pada umumnya orang yang melakukan hal hal semacam itu berasal dari golongan menengah ke bawah. Hanya kemungkinannya seorang yang sudah mapan secara ekonomi melakukan pencurian, kecuali memang ada gangguan kejiwaan (kleptomania). Orang yang sudah mapan tidak melakukan pencurian namun melakukan kasus yang hampir mirip dengan pencurian yang disebut dengan korupsi. Para koruptor melakukan tersebut karena ada rasa tidak puas yang berlebihan pada kondisi ekonominya. Rasa tidak puas yang berlebihan dapat dikategorikan dalam gangguan mental.
Pengaruh lingkungan tempat tinggal sangat berpengaruh pada penyimpangan sosial. Orang yang memiliki kemampuan ekonomi yang mapan tentu tinggal di lingkungan yang baik. Di tempat tersebut tentunya diajarkan nilai, norma, dan pendidikan yang dapat dikatakan baik. Sehingga kemungkinan orang yang tinggal di lingkungan ini melakukan penyimpangan sosial sangatlah kecil. Lain halnya dengan orang yang kemampuan ekonominya menengah ke bawah, karena tidak mampu untuk memiliki tempat tinggal di daerah yang memiliki lingkungan baik, maka orang tersebut tinggal di lingkungan yang tidak baik bahkan dapat dikatakan “keras”. Orang yang tinggal di daerah semacam itu,
tentu mendapatkan pengaruh buruk dari lingkungannya. Misalnya orang yang tinggal di jalanan, tentunya mendapatkan pengaruh dari kehidupan jalanan yang “keras” seperti
menyalahgunakan narkotika, mencopet, kekerasan fisik, tawuran dan tindakan kriminal lainnya.
2.4 Penyimpangan Sosial Akibat Tingkat Pendapatan yang Rendah
Banyak contoh kasus penyimpangan sosial akibat dari rendahnya tingkat pendapatan yang terjadi di masyarakat. Berikut ini beberapa contoh kasus
2.4.1 “Ibu Rumah Tangga Tipu Remaja, Ngakunya karena Desakan Ekonomi”
SL, 43, warga Kelurahan Sei Lekop, Kecamatan Bintan Timur (Bintim) diamankan jajaran Polsek Bintim lantaran melakukan penipuan. la menipu empat remaja dengan janji bisa bekerja di kapal asing.“Pelaku yang merupakan Ibu Rumah
Tangga (IRT) ini telah terbukti menipu dengan kedok bisa mengeluarkan sertifikasi pelayaran dan harus membayar uang yang dimintanya," ujar Kapolsek Bintim melalui Kanit Reskrimnya, Ipda Fadli di Mapolsek Bintim, Senin (11/8). Empat korbannya IN, TI, RO dan SC.
Syarat utama untuk bekerja kapal harus memiliki sertifikasi perkapalan dengan biaya Rp 5 Juta untuk tahap pertama. Kemudian untuk penyelesaiannya calon pekerja kapal harus memberikan uang sebesar Rp 5 Juta hingga dipastikan bisa bekerja di sebuah agensi kapal. Para pemuda itu pun tergiur dengan janji diberikan SL. Beberapa bulan setelah dijanjikan dengan mengucurkan uang masing-masing korban Rp 10 juta, mereka tak juga berlayar.
Akhirnya keempat pemuda ini melaporkan penipuan ini ke Polsek terdekat. Atas perbuatannya menipu korbannya Rp 40 Juta, pelaku dikenakan pasal 378 tentang penipuan dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun penjara. Pengakuan, SL ketika diwawancarai, "Tidak terlintas dalam benak saya untuk berbuat hal ini. Tapi desakan ekonomi yang buat saya harus seperti ini," ujarnya.
2.4.2 “Desakan Ekonomi, Samsul Nekat Mencuri”
Karena desakan ekonomi terkadang membuat orang nekat, termasuk Samsul (35) salah seorang warga pasar desa Purwoharjo Kecamatan Rimbo Bujang yang ditangkap lantaran mencongkel rumah milik tetangganya.
Pencurian ini terungkap saat Samsul melakukan aksinya di rumah kontrakan yang dalam keadaan kosong karena ditinggal pemiliknya, Aten (48) warga Jalan 2 desa Purwoharjo yang juga pemilik salah satu warung yang ada di Rimbo Bujang.
Aksi itu diketahui istri korban dan berteriak maling, dan pelaku pun tunggang langgang lari ke perkebunan karet, Puluhan warga keluar rumah mencari dan akhirnya berhasil menangkap pelaku, sempat menjadi bulan-bulanan warga yang geram dan akhirnya Babinsa yang sedang bertugas membawanya ke Mapolsek Rimbo Bujang.
Kades Purwoharjo Kecamatan Rimbo Bujang, Suranto, saat dikonfirmasi Teboonline.com mengatakan,Saat diintrogasi warga, pelaku mengaku karena desakan ekonomi akhirnya nekat mencuri untuk membeli Susu Bayi untuk anaknya yang baru berusia 2 bulan.
"Pelaku mengaku perbuatannya karena desakan ekonomi, nekat mencuri karena untuk membeli susu buat anaknya yang baru berusia 2 bulan," tutur kades. Ditambahkannya, Samsul yang juga beristri 2 dan tinggal 1 atap dengan kedua istrinya, namun yang lebih miris lagi ternyata kedua istrinya ternyata tidak lain adalah antara ibu dan anak atau Ibu dan anaknya menjadi Istri pelaku.
Sementara itu, Kapolsek Rimbo Bujang AKP Feby Haryanto saat dikonfirmasi Teboonline.com membenarkan hal tersebut. "Benar, Polisi mengamankan pelaku percobaan pencurian yang terjadi di Pasar Desa Purwoharjo," ujar Kapolsek.
Ditambahkannya, namun pelaku siang tadi sudah kami bebaskan dikarenakan sudah ada perdamaian antara korban dan pelaku disaksikan pihak Kepolisian serta seluruh perangkat desa Purwoharjo. Dikatakannya lagi, perdamaian semata-mata karena rasa kasihan dan kemanusiaan, juga belum ada barang milik korban yang diambil oleh pelaku, namun pelaku tidak boleh lagi tinggal di komplek Pasar Desa Purwoharjo dan yang bersangkutan pun menyetujuinya.
2.4.3“Desakan Ekonomi, Alasan Jual Narkoba”
Terlihat penyesalan di wajah Da Can (42 tahun) warga Siak Hulu Kampar ketika diwawancarai oleh wartawan di ruang tahanan Polresta Pekanbaru. Tersangka kasus kepemilikan ganja yang diringkus Satresnarkoba Polresta Pekanbaru pada hari Rabu (19/03) pekan lalu mengaku terpaksa menjadi penjual barang haram tersebut karena desakan ekonomi setelah tidak lagi bekerja sebagai kontraktor.
"Saya bingung karena sudah tidak ada penghasilan lagi," katanya. Sebelumnya tersangka diamankan Satresnarkoba Polresta Pekanbaru di sekitar gang Bakti Pekanbaru. Dari tangannya petugas menyita 8 paket besar dan 6 paket kecil narkotika jenis ganja kering. Dari keterangan tersangka ganja tersebut diperoleh dari temannya yang bernama HAM.
Saat dikonfirmasi Kasat Narkoba Polresta Pekanbaru Hicca Alexfonso Siregar Jumat (21/03) kepada wartawan mengatakan, "Kronologi penangkapan tersangka berawal dari hasil pengembangan tertangkapnya tersangka lain bernama EM alias Mil atas kepemilikan tanaman daun ganja. Selanjutnya dilakukan pemancingan terhadap tersangka pelaku dengan cara memesan daun ganja."
"Transaksi disetujui dilakukan di jalan Kelapa sawit, gang Bakti sekitar puku117.00 WIB, Rabu (19/3). Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya tersangka pelaku terlihat melintas di TKP dengan mengendarai sepeda motor. Saat itulah dilakukan penangkapan dan ditemukan barang bukti yang disimpan di bawah jok sepeda motor yang sudah dipaket paket serta satu paket dalam jaket tersangka pelaku. Hingga kini kasusnya masih dalam pengembangan". terang Hicca.
2.4.4 “Wanita Pencopet Diamuk Massa”
Sri Lestari (42), diamuk massa di Pasar Kranggan, Kota Yogyakarta, saat tertangkap mencopet dompet miliki Hadiyati Suwaldi (60), warga Sinduadi, Sleman, Selasa (27/3/2012). Wanita bertato itu dihakimi massa sekitar pukul 6.30 WIB.
Menurut pihak kepolisian, tersangka adalah pencopet kambuhan yang memang sering mangkal di Pasar Kranggan. "Pelaku sedang diamuk massa di Pasar Kranggan. Kemudian, personil yang bertugas mengatur lalu lintas langsung mengamankan pelaku dan dibawa ke markas," kata Kasi Humas Polsek Jetis, Kota Yogyakarta, Aiptu Sugianto.
Di kantor polisi, Sri mengaku mencopet karena desakan ekonomi keluarga. Sri mengatakan, keluarganya membutuhkan uang banyak. "Saya butuh uang untuk menikahkan putri kedua yang saat ini sudah hamil empat bulan. Saya juga butuh uang untuk pengajian tiga harinya adik saya," ujar Sri. Perempuan bertato itu juga mengatakan, saat diamuk massa dirinya dipukul, dijambak dan ditendang. "Saya terima. Saya mencopet sendirian," ungkap dia.
Korban Hadiyati mengaku mengetahui dompetnya dicopet setelah ada salah seorang pedagang memberitahu. "Saya sedang belanja sayur, tahu-tahu diberi tahu oleh salah seorang pedagang pasar bahwa dompet saya di copet orang. Kemudian saya berusaha untuk mengejar," ungkap dia.
bisniskeuangan.kompas.com, Maret 2012
2.4.5 “Terbelit Hutang, PNS Nekat Nyopet”
Lantaran terbelit hutang, seorang Pegawai Negeri Sipil Dinas Kebersihan Kota Padang beralih profesi menjadi pencopet. AN,PNS golongan ll/b itu mengaku sudah beraksi 20 kali. Dia biasanya mencopet di dalam angkutan kota.
"Dari tangan tersangka, polisi menyita 12 unithandphone hasil curian," kata Kanit Jatanras Polres Padang Iptu Gusdi, Selasa (27/8/2013). Kata Gusdi, dalam setiap aksinya, pelaku selalu naik angkot dan menutupi tangannya saat beraksi dengan menggunakan tas.
Aksinya kepergok warga di kawasan Andalas Kota Padang. Sementara itu, AN mengaku nekat mencopet karena desakan ekonomi. "Saya terbelit hutang untuk kebutuhan rumah tangga," kata AN.
okezone.com, Agustus 2013
2.5 Penanggulangan Masalah Penyimpangan Sosial
Segala masalah pasti memiliki penanganan tersendiri. Begitu juga dengan masalah penyimpangan sosial akibat rendahnya tingkat pendapatan di Indonesia tentu memiliki cara cara untuk menanggulanginya.
2.5.1 Lembaga pelaksana penanggulangan masalah penyimpangan sosial
Untuk melakukan penanggulangan masalah penyimpangan sosial dibutuhkan lembaga yang berwenang untuk melakukan penanggulangan. Berikut ini adalah lembaga formal yang berwenang :
2.5.1.1 Lembaga Kepolisian
Merupakan salah satu lembaga formal yang sejak awal dibentuk dalam rangka mengawasi semua bentuk penyimpangan terhadap hukum yang berlaku. Polisi bertugas menjadi pelindung terhadap ketertiban masyarakat,menangkap pelaku pelanggar hukum, serta melakukan tindak lanjut terhadap penyelesaian suatu kasus pelanggaran hukum untuk disampaikan ke pihak kejaksaan.
2.5.1.2 Lembaga Kejaksaan
Merupakan lembaga formal yang bertugas sebagai penuntut hukum, yaitu pihak yang mengajukan tuntutan terhadap mereka yang melakukan pelanggaran hukum berdasarkan tata tertib hukum yang berlaku.
2.5.1.3 Lembaga Pengadilan
Bertugas untuk memeriksa kembali hasil penyidikan dari kepolisian serta menindaklanjuti tuntutan dari kejaksaan terhadap suatu kasus pelanggaran. Lembaga pengadilan akan mempersidangkan setiap kasus pelanggaran terhadap norma norma hukum, baik perdata maupun pidana sesuai dengan hukum acara masing masing.
2.5.2 Jenis penanggulangan masalah penyimpangan sosial
Untuk menanggulangi masalah ini ada dua jenis penanggulangan yaitu penanggulangan yang bersifat represif dan yang bersifat preventif.
2.5.2.1 Penanggulangan yang bersifat represif
Penanggulangan yang bersifat dilakukan apabila telah terjadi pelanggaran atau penyimpangan agar keadaan pulih seperti semula. Penanggulangan represif ini dapat dilakukan secara persuasif dan koersif. 2.5.2.1.1 Secara persuasif
Penanggulangan secara persuasif dilakukan melalui pendekatan dan sosialisasi agar masyarakat mematuhi norma norma yang berlaku di masyarakat. Penanggulangan secara persuasif dilakukan tanpa kekerasan dan dengan prinsip kekeluargaan serta tidak perlu dilanjutkan ke pengadilan.
2.5.2.1.2 Secara koersif
Penanggulangan secara koersif bersifat memaksa agar anggota masyarakat berperilaku sesuai dengan norma norma yang ada dalam masyarakat. Penanggulangan secara koersif ini diselesaikan melalui jalur hukum atau melalui pengadilan, karena keputusan pengadilan bersifat final dan mengikat.
2.5.2.2 Penanggulangan yang bersifat preventif
Pada penanggulangan sosial yang bersifat preventif, usaha dilakukan sebelum terjadi pelanggaran . Tujuan dari penanggulangan yang bersifat preventif ini adalah untuk mencegah terjadinya perilaku menyimpang. Berikut ini penanggulangan masalah penyimpangan sosial akibat rendahnya tingkat pendapatan yang bersifat preventif :
2.5.2.2.1 Membuka lapangan pekerjaan baru
Dengan membuka lapangan pekerjaan baru, dapat menyerap pengangguran sehingga dapat meningkatkan pendapatan per kapita. Dengan begitu dapat memperkecil terjadinya penyimpangan sosial akibat rendahnya tingkat pendapatan.
2.5.2.2.2 Menumbuhkan jiwa wiraswasta
2.5.2.2.3 Meningkatkan mutu pendidikan
Dengan meningkatnya mutu pendidikan, kualitas tenaga kerja dapat semakin meningkat. Sehingga kualitas tenaga kerja dapat bersaing baik di tingkat nasional maupun global.
Semakin tinggi mutu pendidikan seseorang maka sewajarnya jika orang tersebut mendapatkan posisi yang semakin tinggi dan semakin tinggi pula pendapatannya. Dengan meningkatnya pendapatan dapat memperkecil peluang terjadi penyimpangan sosial akibat rendahnya tingkat pendapatan.
2.5.2.2.4 Memberikan fasilitas pendidikan dan kesehatan murah
Dengan adanya fasilitas pendidikan yang murah, maka dapat menarik minat masyarakat untuk belajar. Dengan demikian dapat pula meningkatkan mutu pendidikan. Sumber Daya Manusia (SDM) akan menjadi lebih baik dan dapat bersaing. Dalam dunia pendidikan juga diajarkan tentang nilai dan norma sosial. Jadi jika masyarakat merasakan fasilitas pendidikan, maka masyarakat akan lebih paham tentang nilai dan norma sosial serta pasti menghindari perbuatan yang menyimpang terhadap norma.
Dengan adanya fasilitas kesehatan murah, maka dapat membantu masyarakat mengurangi biaya kesehatan, juga dapat meningkatkan usia harapan hidup.
Jika seseorang memiliki mutu pendidikan dan kesehatan yang tinggi, maka orang tersebut lebih mudah memiliki pekerjaan. Sebab itu peluang terjadinya penyimpangan sosial akibat rendahnya tingkat pendapatan dapat menurun.
2.5.2.2.5 Memberikan kredit perumahan rakyat
2.5.2.2.6 Menciptakan situasi yang damai dan bersyukur kepada Tuhan Menciptakan situasi damai harus berawal dari diri sendiri, kita juga harus mensyukuri apa yang menjadi milik kita. Setelah dituasi damai tercapai dalam diri sendiri, maka perlahan kita ciptakan situasi damai di lingkung sekitar. Jika diri sendiri damai dan mensyukuri apa yang menjadi milik kita, begitu juga dengan lingkungan sekitar kita, maka penyimpangan sosial akibat rendahnya tingkat pendapatan tidak akan terjadi di sekitar kita. 2.5.2.2.7 Meningkatkan kualitas lembaga penegak hukum
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Simpulan yang penulis dapat dari karya ilmiah ini yaitu:
3.1.1 Penyimpangan sosial adalah semua bentuk perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku. Penyimpangan sosial memiliki berbagai bentuk yaitu: penyimpangan primer, penyimpangan sekunder, penyimpangan individu, penyimpangan kelompok, penyimpangan sistematik, penyimpangan situasional, penyimpangan negatif, dan penyimpangan positif. Penyimpangan sosial disebabkan oleh berbagai faktor antara lain: mental yang tidak sehat, ketiak harmonisasi dalam keluarga, pelampiasan rasa kecewa, pengaruh lingkungan dan media massa, keinginan untuk dipuji, dan dorongan kebutuhan ekonomi.
3.1.2 Pendapatan rata rata penduduk Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, yaitu + US $ 4700. Tidak meratanya tingkat pendapatan dan banyaknya jumlah pengangguran merupakan faktor penyebab rendahnya tingkat pendapatan Indonesia
3.1.3 Orang yang memiliki kemampuan ekonomi menengah ke bawah lebih rentan untuk melakukan tindakan penyimpangan sosial dibandingkan dengan orang yang memiliki kemampuan ekonomi yang relatif mapan. Orang yang memiliki kemampuan ekonomi menengah ke bawah cenderung berusaha menutupi kebutuhan yang tidak tercukupi oleh pendapatannya dengan berbagai macam cara. Orang yang ekonominya mapan umumnya telah dibekali oleh nilai dan norma sosial yang baik yang diperoleh dari pendidikan dan lingkungan yang baik pula, sehingga cenderung menghindari perbuatan yang menyimpang dari norma sosial.
3.2 Saran
3.2.1 Kepada pemerintah
3.2.1.1 Sebaiknya pemerintah membuka lapangan pekerjaan baru agar dapat mengurangi pengangguran.
3.2.1.2 Hendaknya pemerintah lebih memperhatikan usaha kecil menengah dengan memberikan pinjaman bunga lunak agar dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan usaha mikro.
3.2.1.3 Sebaiknya pemerintah memberikan alokasi APBN untuk perguruan tinggi, sehingga biaya perkuliahan menjadi lebih ringan dan mutu pendidikan dapat meningkat.
3.2.1.4 Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan tentang tempat tinggal rakyat, dengan memberikan kredit perumahan rakyat yang lunak, sehingga tidak ada lagi rakyat yang tinggal di pemukiman kumuh dan liar.
3.2.2 Kepada masyarakat
3.2.2.1 Seharusnya masyarakat lebih mengelola besarnya pendapatan dan pengeluaran secara berimbang, agar tidak terjadi defisit.
3.2.2.2 Sebaiknya masyarakat lebih bersyukur pada apa yang dimilikinya, karena masih banyak orang yang berada di bawah.
DAFTAR PUSTAKA
http://poskotanews.com/2014/03/11/rata-rata-pendidikan-orang-indonesia-setara-kelas-2-smp/
http://tugasakhiramik.blogspot.com/2013/04/pengertian-pendapatan-pribadi.html http://www.mangdeska.com/2009/08/pendapatan-juga-dapat-di-definisikan.html http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=11¬ab=76
http://www.gajimu.com/main/tips-karir/pendidikan-mempengaruhi-kualifikasi-tenaga-kerja
http://www.merdeka.com/uang/4-fakta-seputar-tenaga-kerja-dan-pengangguran-di-indonesia.html
http://m.detik.com/finance/read/2014/05/11/145922/2579415/4/
http://www.okezone.com/read/2013/08/27/341/856164/terbelit-hutang-pns-nekat-nyopet/ http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/03/27/10314952/Wanita.Pencopet.Diamuk.Mas sa
http://www.delikriau.com/hukum/hukum/1622-desakan-ekonomi-alasan-jual-narkoba http://www.teboonline.com/2014/04/desakan-ekonomi-samsul-nekat-mencuri.html?m= http://batampos.co.id/11-08-2014/ibu-rumah-tangga-tipu-remaja-ngakunya-karena-desakan-ekonomi/