• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Dasar Negara dengan Konstitusi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hubungan Dasar Negara dengan Konstitusi"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan Kelas/ Semester : X/ 2

Standar Kompetensi : 4. Menganalisis Hubungan Dasar Negara dengan Konstitusi Durasi Pemelajaran : 16 Jam (8x pertemuan)

Kompetensi Dasar : 4.1. Mendeskripsikan hubungan Dasar Negara dengan Konstituisi Durasi Pemelajaran : 4 jam (2x pertemuan)

HUBUNGAN DASAR NEGARA DENGAN KONSTITUSI

A. Pengertian Dasar Negara

Kata “dasar” memiliki persamaan arti dengan asas, pokok, pangkal, pondasi, landasan, pedoman. Dalam Ensiklopedia Indonesia, kata “dasar” (filsafat), berarti asal yang pertama. Yang dimaksud dasar negara adalah nilai-nilai dasar dan norma-norma dasar yang menjadi pondasi dalam menata dan menjalankan kehidupan negara dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan kata lain, dasar negara merupakan nilai-nilai atau norma-norma dasar yang dijadikan sebagai pedoman dalam menata penyelenggaraan kehidupan bernegara.

Dasar Negara sering disebut pula falsafah negara (philosophische groundslagh) Kata falsafah berasal dari bahasa Yunani Kuno, philos dan sopia. Philos berarti bijaksana, dan sopia berarti cinta.. Sedangkan Falsafah negara adalah pandangan-pandangan dasar yang menjadi dasar dalam kehidupan penyelenggaraan ketatanegaraan. negara.

Sedangkan ilmu Filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengupas segala sesuatu secara luas dan mendalam untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, tentang segala sesuatu.

Dasar Negara juga merupakan Ideologi Negara. Ideologi merupakan suatu ajaran atau faham. yang berisi nilai-nilai atau norma-norma dasar tentang politik, ekonomi, dan kebudayaan yang dianut oleh seseorang atau suatu masyarakat. Di dunia ini terdapat berbagai macam ideologi, seperti ideologi liberal, ideologi komunis dan ideologi yang bersumber pada agama.

Setiap negara memiliki dasar negara yang berbeda. Perbedaan dasar negara itu disebabkan oleh perbedaan nilai-nilai sosial budaya, patriotisme, dan nasionalisme yang telah terkristalisasi dalam perjuangan masing-masing bangsa dan negara tersebut, dalam mewujudkan cita-cita atau tujuan negara-negara itu.

B. Dasar Negara Indonesaia

Dasar Negara Indonesia adalah Pancasila,. Pancasila pada dasarnya merupakan hasil kesepakatan politik tingkat tinggi para pendiri negara (founding fathers) yang bersidang di dalam BPUPKI, Sidang BPUPKI yang pertama berlangsung dari tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945. Para pendiri negara tersebut terdiri dari para tokoh pemimpin bangsa yang memiliki latar belakang ideologi yang berbeda-beda. Mereka bersidang membahas mengenai hal-hal yang diperlukan bagi suatu negara Indonesia yang merdeka. Salah satu persoalan yang dibahas di dalam sidang BPUPKI itu adalah mengenai dasar negara.

Dengan memiliki ideologi yang berbeda-beda, para pemimpin bangsa itu mengalami kesulitan dalam membuat dasar negara, karena mereka berpendapat berdasarkan ideologinya masing-masing. Setelah melalui persidangan yang menegangkan, pada akhirnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil yang beranggotakan 9 orang. Panitia Kecil yang dibentuk oleh BPUPKI ini, kemudian berhasil merumuskan suatu piagam yang disebut Piagam Jakarta (Jakarta Charter) pada tanggal 22 Juni 1945. Di dalam Piagam Jakarta alinea ke-4, tercantum rumusan dasar negara yang berbunyi sebagai berikut :

(2)

Pada umumnya, dasar negara dinyatakan baik secara tegas (eksplisit) maupun samar (implisit) di dalam konstitusi negara. Sebagai misal, dasar negara Indonesia (Pancasila), dinyatakan secara tegas di dalam konstitusi negara Indonesia yakni UUD 1945, bagian Pembukaan alinea IV. Selanjutnya, nilai-nilai atau norma-norma dasar yang terkandung di dalam dasar negara diderivasikan atau dijabarkan di dalam pasal-pasal konstitusi (UUD). Dengan demikian, dasar negara menjiwai seluruh isi (pasal-pasal) konstitusi.

Kompetensi Dasar : 4.2. Menganalisis Substansi Konstitusi/UUD A. Pengertian Konstitusi

Kata konstitusi berasal dari bahasa Latin, constitutio atau constituerre, yang artinya menetapkan sesuatu secara bersama. Konstitusi dalam bahasa Prancis : Constituer; bahasa Inggris: Constitution, bahasa Belanda : Constitutie; bahasa Jerman : Verfassung; bahasa Indonesia : Konstitusi / Hukum Dasar.

Dalam arti yang sebenarnya, konstitusi adalah aturan-aturan dasar, baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat cara-cara bagaimana suatu pemerintahan diselenggarakan dalam suatu masyarakat.

Jadi unsur-unsur pengertian konstitusi adalah : - Merupakan aturan-aturan dasar/hukum dasar - Berbentuk tertulis atau tidak tertulis

- Bersifat mengikat

- Mengatur cara-cara penyelenggaraan pemerintahan B. Bentuk Konstitusi

Dari definisi di atas, dapat diketahui bahwa bentuk konstitusi terdiri dua macam, yaitu: a. Konstitusi berbentuk Tertulis

Konstitusi tertulis adalah konstitusi yang berbentuk naskah atau dokumen (documentary constitution). Pada umumnya negara-negara di dunia ini menggunakan konstitusi tertulis. Contoh konstitusi tertulis adalah UUD 1945.

b. Konstitusi berbentuk tidak Tertulis

Konstitusi tidak tertulis adalah konstitusi yang tidak berbentuk naskah (non-documentary constitution). Konstitusi tidak tertulis ini biasanya berupa kebiasaan-kebisaan atau konvensi. Yang disebut konvensi adalah kebiasaan-kebiasaan dalam praktek penyelenggaraan Negara, yang timbul dan terpelihara dalam waktu yang lama, sehingga menjadi aturan dasar dalam menata Negara.

Contoh konvensi :

-Pidato kenegaraan Presiden RI setiap menjelang peringatan hari proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus.

-Pada negara yang menganut sistem pemerintahan parlementer, apabila parlemen/DPR mengajukan mossi tidak percaya kepada menteri, maka secara otomatis menteri tersebut mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri.

Negara yang dikenal menggunakan konvensi sebagai kontitusinya adalah Inggris, karena praktek penyelenggaraan negara di Inggris, berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang telah berlangsung lama sekali. Di Inggris, kebiasaan/konvensi dalam praktek penyelenggaraan Negara sudah ada sejak lahirnya Piagam Magna Charta, 1215 m.

C. Isi Konstitusi

Pada umumnya, isi pokok konstitusi adalah sebagai berikut : 1. Mengatur tentang organisasi negara

Contoh : UUD 1945 mengatur organisasi negara Indonesia seperti di dalam Pasal 1 ayat : 1. Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik.

Jadi bentuk negara Indonesia adalah kesatuan, sedangkan bentuk pemerintahannya adalah republik.

2. Kedaulatan ada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh rakyat menurut

UUD.

(3)

Di dalam UUD 1945 juga diatur tentang pembagian kekuasaan diantara lembaga-lembaga negara, seperti kekuasan/kewenangan Presiden, DPR, MA, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, BPK.

2. Mengatur Hak Asasi Manusia dan hak-hak dasar warga negara.

Contoh : Di dalam UUD 1945 diatur hak asasi manusia seperti terdapat di dalam pasal 28, 28A- 28J.

3. Mengatur tentang cara-cara atau prosedur mengubah konstitusi.

Contoh : Di dalam UUD 1945, diatur cara-cara mengubah UUD 1945 seperti terdapat di pasal 37,

1. Usul perubahan UUD dapat diagendakan dalam sidang MPR apabila diajukan sekurang-kurangnya 1/3 dari anggota MPR

2. Setiap usul perubahan pasal-pasal UUD dapat diajukan secara tertulis dan ditunjukan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya.

3. Untuk mengubah pasal-pasal UUD, sidang MPR dihadiri sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR.

4. Putusan untuk mengubah pasal-pasal UUD dilakukan sengan persetujuan sekurang-kurangnya 50% + 1 anggota dari seluruh anggota MPR.

4. Kadang-kadang Kontitusi memuat larangan untuk mengubah sifat tertentu dari konstitusi tersebut.

Contoh : UUD 1945 pasal 37 ayat 5, memuat larangan untuk mengubah bentuk negara kesatuan republik Indonesia.

D. Sifat Konstitusi

Ditinjau dari segi sifatnya, terdapat dua macam konstitusi yaitu: 1. Konstitusi yang bersifat fleksibel (luwes)

Konstitusi dikatakan bersifat fleksibel adalah apabila konstitusi tersebut dapat diubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan zaman. Biasanya konstitusi yamg bersifat fleksibel memberi syarat dan tata cara merubahnya yang ringan atau mudah untuk mengubahnya. Negara-negara yang konstitusinya bersifat fleksibel misalnya Ingrgis, Selandia Baru, Thailand, Philipina.

2. Konstitusi yang bersifat Rigid (kaku)

Konstitusi disebut bersifat rigid (kaku) adalah apabila konstitusi tersebut sulit untuk diubah kapanpun. Biasanya Konstitusi yang bersifat rigid (kaku) memberi syarat yang berat atau sulit untuk mengubahnya. Dengan kata lain, aturan-aturan tentang cara-cara mengubah konstitusi tersebut berat atau sulit untuk dilaksanakan. Negara yang konstitusinya bersifat rigid (kaku) misalnya Indonesia (lihat UUD 1945 pasal 37 ayat 1-4), Amerika Serikat.

E. Fungsi Konstitusi

Menurut faham konstitusionalisme, Fungsi pokok konstitusi adalah untuk membatasi kekuasaan pemerintah, sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang. Dengan demikian hak-hak warga negara akan terlindungi. Gagasan tentang fungsi pokok konstitusi tersebut di atas berdasarkan faham konstitusionalisme. Konstitusionalisme adalah suatu faham atau gagasan yang memandang bahwa pemerintah merupakan suatu kumpulan kegiatan yang diselenggarakan oleh dan atas nama rakyat, namun dikenakan pembatasan-pembatasan, dengan harapan akan menjamin bahwa kekuasaan itu tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah.

(4)

F. Pentingnya Konstitusi

Meskipun bukan merupakan syarat berdirinya negara, konstitusi sangat diperlukan oleh negara-negara di zaman moderen dewasa ini. Menurut James Bryce, pentingnya konstitusi adalah sebagai berikut :

1. Bagi warga negara, agar terjamin hak-haknya.

2. Bertujuan membatasi kekuasaan pemerintah agar tidak bertindak sewenang-wenang. 3. Agar terdapat pola atau sistem tertentu atas pemerintah negaranya

4. Agar terdapat kepastian tentang cara penyelenggaraan ketatanegaraannya

G. Kedudukan Konstitusi

Ditinjau dari segi hukum, konstitusi menempati kedudukan tertinggi di dalam negara. Dengan kata lain, konstitusi merupakan hukum tertinggi dalam suatu negara. Sebagai misal, konstitusi negara Indonesia yaitu UUD 1945, menempati urutan tertinggi dalam tata urutan perundang-undangan negara RI seperti berikut:

UUD 1945 ↓

Undang-Undang ↓

Peraturan Pemerintah ↓

Peraturan Presiden ↓

Peraturan Menteri ↓

Peraturan Daerah H. Cara-cara Terbentuknya Konstitusi

Konstitusi di setiap negara terbentuk dengan cara yang berbeda-beda. Cara-cara terbentuknya konstitusi adalah sebagai berikut :

1. Pemberian Raja

Pada mulanya negara tersebut belum memiliki konstitusi/UUD. Kemudian atas desakan rakyat atau sekelompok orang, raja memberikan konstitusi/UUD kepada rakyat dan berjanji akan menjalankan kekuasaannya berdasarkan konstitusi/UUD itu. Hal ini dilakukan oleh raja untuk menghindari revolusi. Dengan adanya konstitusi tersebut, kekuasaan raja dibatasi.

Contoh : Raja Inggris memberikan Piagam Maghna Charta pada tahun 1215, Raja Tahiland memberikan konstitusi pada tahun 1936.

2. Secara Sengaja

Konstitusi/UUD dibuat secara sengaja setelah negara itu didirikan 3. Konstitusi dibentuk dengan cara Revolusi

Negara atau pemerintahan yang baru dibentuk sebagai hasil revolusi, kemudian membuat konstitusi/UUD.

Contoh : Konstitusi Prancis dibentuk oleh pemerintahan hasil revolusi Prancis yang menumbangkan Raja Louis XVI, pada tahun 1789.

Konstitusi negara Indonesia (UUD 1945) dibuat oleh pemerintahan Indonesia sebagai hasil revolusi kemerdekaan tahun 1945.

4. Dengan cara Evolusi

Konstitusi terbentuk secara bertahap atau berangsur-angsur dalam jangka waktu yang lama.

Contoh : Konstitusi negara Inggris saat ini, merupakan hasil dari perubahan-perubahan yang telah berlangsung lama sekali dalam sejarah ketatanegaraan Inggris, yang dimulai sejak lahirnya Maghna Charta pada tahun 1215

I. Cara Mengubah Konstitusi

(5)

1. Perubahan Konstitusi dilakukan oleh lembaga legislatif .

Perubahan konstitusi dilakukan oleh Lembaga Legislatif, namun dengan syarat yang lebih berat daripada kalau lembaga legislatif itu merubah undang-undang biasa. Perubahan dengan cara ini dilakukan di negara-negara yang menggunakan sistem perwakilan bikameral atau dua kamar. Sistem perwakilan bikameral adalah sistem perwakilan dimana lembaga perwakilannya terdiri dari dua kamar

Contoh : Negara Indonesia yang memiliki lembaga legislatif dua kamar (bikameral) yaitu DPR dan DPD, sedangkan yang berwenang mengubah UUD 1945 adalah MPR, yang anggotanya terdiri dari anggota DPR dan DPD.

2. Perubahan Konstitusi dilakukan dengan Referendum .

Artinya, perubahan konstitusi dilakukan dengan cara pemungutan suara rakyat yang memiliki hak suara.

Contoh : Perubahan konstitusi di negara Thailand, Venezuela, tahun 2007.

3. Perubahan dilakukan oleh suatu Badan Khusus

Artinya, perubahan konstitusi dilakukan oleh suatu Badan Khusus yang sengaja dibentuk hanya untuk tugas dan wewenang mengubah konstitusi.

Contoh : Pada tahun 1955, negara Indonesia berhasil mengadakan Pemilihan Umum untuk yang pertamakalinya. Tujuan Pemilu itu, disamping untuk memilih anggota Parlemen, juga untuk memilih anggota Majelis Konstituante Majelis Konstituante inilah yang merupakan Badan Khusus yang dibentuk untuk mengubah UUDS 1950. 4. Perubahan Konstitusi di Negara Federasi (Serikat)

Perubahan Konstitusi dapat dilakukan jika sebagaian besar atau mayoritas negara-negara bagian menyetujuinya.

J. Kesimpulan

1. Dasar negara dan konstitusi, meskipun bukan merupakan syarat mutlak berdirinya suatu negara, namun di masa sekarang ini memiliki kedudukan yang sangat penting bagi suatu negara, karena dengan dasar negara yang kuat dan konstitusi yang baik, akan membuat negara kuat dan tertata dangan baik, sehingga dapat mengantarkan bangsa dan negara berkembang dan maju.

2. Dasar negara dan konstitusi memiliki hubungan yang sangat erat, karena nilai-nilai dan norma-norma dasar yang terkandung di dalam dasar negara, menjiwai dan mendasari konstitusi. Dengan demikian, konstitusi merupakan derivasi atau penjabaran secara terinci nilai-nilai dan norma-norma dasar yang terkandung di dalam dasar negara.

Evaluasi

Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan Kelas/Semester : X / 2

I. Soal-soal Pilihan Ganda

2. Dasar negara sering disebut pula philosopisce grroundslagh, yang artinya …. a. uraian terperinci dasar negara

b. penjabaran nilai-nilai dasar negara

c). falsafah dasar yang menjadi pondasi negara d. mencintai pada hal-hal yang benar dan bijaksana

e. pandangan yang luas dan mendalam tentang segala sesuatu 1. Yang disebut dasar negara adalah pedoman dalam mengatur …..

a. pemerintah negara b hubungan antar negara

c. hubungan antar lembaga tinggi negara d). penyelenggaraan kehidupan kenegaraan e. hubungan antara warga negara dan negara

(6)

sa yang memiliki latar belakang ideologi politik yang berbeda-beda, sehingga Pancasila

(4). Kedudukan dasar negara dalam hubungannya dengan konstitusi adalah sebagai …. a. isi konstitusi

b. penjabaran konstitusi c uraian pokok konstitusi d. bagian dari konstitusi e). nilai-nilai dasar konstitusi

(5). Kata konstitusi berasal dari bahasa Latin, constitutio, yang artinya … a. mengatur kehidupan bersama

b). menetapkan sesuatu secara bersama c. menata penyelenggaraan kehidupan negara d. aturan-aturan dasar dalam kehidupan bernegara

e. norma-norma dasar dalam penyelenggaraan kenegaraan (6). Konstitusi adalah keseluruhan aturan yang mengatur …. a. hubungan antara warga negara dan negara

b. hubungan antara lembaga-lembaga tinggi negara

c. cara-cara bagaimana penyelenggaraan tata usaha negara

d. penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara e) cara-cara bagimana pemerintahan diselenggarakan dalam suatu masyarakat 7. Ditinjau dari segi bentuknya, konstitusi dapat dibedakan menjadi konstitusi ….

a. fleksibel dan rigid

b. hukum adat dan konvensi c). tertulis dan tidak tertulis

d. hukum privat dan hukum publik e. konvensi dan konstitusi tidak tertulis

(8). Berikut ini yang merupakan wujud konstitusi tertulis adalah …. a. konvensi

b). UUD 1945 c. hukum adat d. hukum publik d. Undang-undang

9. Konstitusi terdiri dari konstitusi fleksibel dan rigid, adalah apabila konstitusi dilihat dari segi ….

a. isinya d. bentuknya b). sifatnya e. kedudukannya c. fungsinya

(10). Konstitusi disebut fleksibel adalah apabila konstitusi tersebut …. a. sukar diubah d. berat perseyaratan mengubahnya

b. banyak isinya e. dapat diubah secara berangsur-angsur c). mudah diubah

(11). Berikut ini yang bukan merupakan isi pokok konstitusi adalah ketentuan tentang…. a. organisasi negara

b. hak asasi manusia

c. prosedur mengubah konstitusi

d). hubungan antara individu dan negara

e. larangan mengubah sifat tertentu dari konstitusi

(12). Menurut gagasan konstitusionalisme, fungsi pokok konstitusi adalah …. a). membatasi kekuasaan pemerintah

b. mengatur kekuasaan pemerintah c. melindungi kekuasaan pemerintah

(7)

e. mengatur hubungan antara lembaga-lembaga tinggi negara

13. Pokok-pokok pikiran faham konstitusionalisme tentang pemerintah adalah sebagai berikut kecuali bahwa pemerintah ….

a. merupakan kumpulan kegiatan

b. diselenggarakan oleh dan atas nama rakyat c. harus dikenakan pembatasan-pembatasan d. supaya tidak bertindak sewenang-wenang

e). merupakan lembaga negara yang paling berdaulat

14. Berdasarkan gagasan konstitusionalisme, tujuan diadakannya konstitusi adalah untuk …. a. menghapus kekuasaan pemerintah

b). melindungi hak-hak warga negara b. mewujudkan ketertiban masyarakat

d. mengatur cara-cara menjalankan pemerintahan

e. mewujudkan keserasian hubungan antara lembaga-lembaga tinggi negara

(15). Kedudukan konstitusi sebagai “supremasi law” berarti bahwa konstitusi bagi paraturan-peraturan

lain adalah sebagai…. a. penjelasan

b. penjabaran c. pembanding d. uraian singkat e). hukum tertinggi

(16). Pentingnya Konstitusi adalah sebagai berikut, kecuali…. a. hak-hak warga negara terlindungi

b. pemerintah tidak bertindak diluar kewenangannya

c. terdapat pola atau sistem tertentu atas pemerintahan negara d. terdapat kepastian tentang cara penyelenggaraan ketatanegaraan e). pemerintah menjadi kurang efektif dalam menjalankan kekuasaannya

17. Konstitusi yang dibentuk dengan cara pemberian adalah konstitusi yang dibentuk oleh…. a). raja atas desakan rakyat

b. negara yang baru berdiri c. pemerintahan hasil revolusi b. negara secara berangsur-angsur

c. rakyat setelah menumbangkan pemerintah lama

18. Contoh konstitusi hasil revolusi adalah konstitusi negara …. a. Inggris

b). Prancis d. Australia c. Thailand e. Malaysia

19. Konstitusi diubah dengan cara referendum, berarti perubahan konstitusi dilakukan oleh….

a. badan khusus b. lembaga legislatif c. negara-negara bagian

d). rakyat melalui pemungutan suara

e. kepala negara dan lembaga perwakilan rakyat (20). Yang berwenang mengubah UUD 1945 adalah ….

a). MPR

b. DPR d.Presiden

c. DPD e. Mahkamah Konstitusi

Kompetensi Dasar : Menganalisis Kedudukan Pembukaan UUD 1945 A. Hakekat Kedudukan Pembukaan UUD 1945

(8)

b. Pembukaan UUD 1945 merupakan pokok kaidah fundamental negara , yang mempunyai kedudukan tetap, kuat dan tidak berubah, terlekat pada kelangsungan hidup negara yang dibentuk melalui proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945

c. Pembukaan UUD 1945 dalam tingkatan tertib hukum, adalah hukum tertinggi, merupakan dasar hukum diadaknnya UUD negara, sehingga terjalin hubungan kausal-organis antar keduanya, dengan kedudukan Pembukaan UUD 1945 di atas UUD negara.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pembukaan UUD 1945 mengandung esensi cita moral dan cita hukum yang ingin ditegakan dan diwujudkan oleh bangsa Indonesia.

B. Pokok-pokok Pikiran Yang Terkandung di dalam Pembukaan UUD 1945

Pokok-pokok Pikiran yang terkandung di dalam Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut :

1. Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia 2. Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

3. Negara berkedaulatan rakyat, berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan

4. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Pokok-pokok pikiran tersebut meliputi suasana kebatinan UUD 1945. Pokok-pokok pikiran tersebut juga merupakan perwujudan recht ide (cita-cita hukum) yang menguasai hukum dasar baik yang tertulis maupun tidak tertulis.

Tugas : Carilah Makna yang terkandung di dalam setiap alinea Pembukaan UUD 1945 dengan mengisi kolom-kolom seperti berikut :

Alinea Isi/Bunyi Makna yang terkandung

Pertama (I) Bahwa sesungguhnya kemerde

kaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Kedua (II) Ketiga (III) Keempat (IV)

Kompetensi Dasar : 4.4. Menunjukan Sikap Positif Terhadap Konstitusi Negara A. Sejarah Terbentuknya UUD 1945.

-UUD 1945 disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. UUD 1945, terdiri dari Pembukaan dan Batang Tubuh. Pembukaan UUD 1945, berasal dari Piagam Jakarta. Piagam Jakarta merupakan hasil rumusan Panitia Kecil pada tanggal 22 Juni 1945. Paniti Kecil adalah panitia yang dibentuk oleh BPUPKI dengan tugas pokok merumuskan dasar negara. Paniti Kecil beranggotakan 9 orang :

1 Ir. Sukarno 6. H. Agus Salim

(9)

-Di dalam Piagam Jakarta alinea ke-empat, terdapat rumusan dasar negara, yang terdiri dari lima sila. Akan tetapi rumusan kalimat sila pertama pada Piagam Jakarta berbeda dengan rumusan kalimat sila pertama pada Pembukaan UUD 1945 yang sekarang.. Rumusan kalimat sila pertama pada Piagam Jakarta adalah “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Sedangkan rumusan kalimat sila pertama pada Pembukaan UUD 1945 adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Perubahan rumusan kalimat sila pertama itu terjadi pada tanggal 18 Agustus 1945, sebelum UUD 1945 disahkan oleh PPKI. Perubahan itu dilakukan diluar sidang BPUPKI, yaitu dalam suatu pertemuan mendadak antara para pemimpin wakil golongan Islam dan para pemimpin lainnya. Para pemimpin Islam akhirnya mau merubah rumusan kalimat sila pertama itu, setelah didesak oleh para pemimpin lain demi menjaga persatuan, dan demi kemerdekaan Indonesia.

-Batang Tubuh UUD 1945, merupakan hasil sidang Panitia Perancang Hukum Dasar/UUD yang diketuai oleh Supomo, pada tanggal 10 – 16 Juli 1945. Batang Tubuh UUD 1945, berisi pasal-pasal yang mengatur ketatanegaraan Indonesia.

B. Konstitusi-Konstitusi Yang Pernah Berlaku di Indonesia

Sejak negara Indonesia didirikan melalui proklamasi kemerdekaan 17-8-1945 hingga sekarang, telah ada empat konstitusi yang digunakan untuk menata negara ini. Keempat konstitusi itu adalah sebagai berikut.

UUD 1945 1.18 Agust. 1945- 7 Des. 1949

2. 5 Juli 1959- 19 Okt. 1999 Kesatuan Republik Presidensiil Konstitusi RIS

1949 7 Des. 1949 – 17 Agust. 1950 Serikat Republik Parlementer UUDS 1950 17 Agust. 1950 – 5 Juli 1959 Kesatuan Republik Parlementer UUD 1945

Amandemen

19 Okt. 1999 - sekarang Kesatuan Republik Presidensiil

C. Perubahan UUD 1945

Sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Negara Indonesia belum memilki sistem yang stabil dalam segala segi kehidupan, khususnya dalam segi ketatanegaraan. Oleh karenanya perubahan-perubahan terus terjadi dalam sejarah perjalanan bangsa dan negara Indonesia, dengan skala yang luas dan mendasar. Reformasi merupakan salah satu bagian dari sejarah perubahan Indonesia itu. Lahirnya masa reformasi merupakan kritikan sekalgus antitesa terhadap masa sebelumnya yakni masa orde baru yang dianggap kacau dalam menata segala segi kehidupan berbangsa dan bernegara, baik segi politik, ekonomi, hukum maupun ketatanegaraan. Kekacauan itu disebabkan oleh karena UUD !945 belum sesuai dengan fungsinya sebagai konstitusi yaitu membatasi kekuasaan pemerintah sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang. Dengan kata lain, UUD 1945 memberi peluang kepada pemerintah/presiden untuk memiliki kekuasaan yang sangat besar sehingga menimbulkan kesewenang-wenangan. Dengan demikian, kekacauan sistem dalam segala segi kehidupan berbangsa dan bernegara juga bersumber dari UUD 1945. Oleh karena itu, reformasi Indonesia juga harus sampai merubah UUD 1945.

Secara terperinci, alasan-alasan perlunya perubahan UUD 1945 adalah sebagai berikut: 1. UUD 1945, memberi kekuasaan yang sangat besar kepada presiden, sehingga

kekuasaan ter-pusat pada presiden, dan oleh karenanya tidak terjadi checks and balance (kontrol dan pengawasan) dari lembaga-lembaga tinggi negara yang lain. 2. UUD 1945 memberi kekuasaan legislatif (kekuasaan membuat UU) kepada

(10)

3. UUD 1945 mengandung pasal-pasal yang luwes, (bisa ditarik kesana-kemari seperti karet), sehingga menimbulkan banyak penafsiran dan dapat ditafsirkan sesuai kehendak pemerintah/penguasa.

4. UUD 1945, belum memuat aturan dasar tentang kehidupan yang demokratis, supremasi hukum, hak asasi manusia, pemberdayaan rakyat dan otonomi daerah. Pengalaman sejarah juga membuktikan, pada masa Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959 – 1966) di bawah kekuasaan Presiden Sukarno dan pada masa Pemerintahan Orde Baru (1966-1998) di bawah kekuasaan Presiden Suharto dimana pada kedua masa itu berlaku UUD 1945, banyak terjadi penyimpangan dan kesewenang-wenangan, yang disebabkan oleh besarnya kekuasaan presiden.

Atas dasar alasan-alasan tersebut, UUD 1945 diamandemen atau diubah. Sejak lahirnya pemerintahan reformasi hingga sekarang, UUD 1945 telah mengalami empat kali perubahan yaitu :

 Perubahan I : ditetapkan oleh MPR pada tanggal 19 Oktober 1999  Perubahan II : ditetapkan oleh MPR pada tanggal 18 Agustus 2000  Perubahan III : ditetapkan oleh MPR pada tanggal 9 November 2001  Perubahan IV : ditetapkan oleh MPR pada tanggal 10 Agustus 2002

(11)

Kompetensi Dasar : 5.1. Mendeskripsikan Kedudukan Warga Negara dan

Pewarganegaraan Indonesia

A. Pengertian Warga Negara

Warga negara merupakan unsur pokok dan syarat berdirinya negara. Tanpa warga negara, negara tak akan dapat berdiri. Dengan demikian, warga negara memiliki kedudukan yang sangat penting bagi eksistensi (keberadaan) suatu negara. Sedemikian pentingnya warga negara bagi suatu negara, sehingga sudah sepantasnya setiap warga negara mendapatkan kepastian dan jaminan perlindungan hukum yang layak dari negara. Negara berkewajiban untuk melindungi dan mensejahterakan warga negaranya. Apabila negara tidak mampu memenuhi kewajibannya itu, sangat mungkin warga negaranya akan berpindah ke negara lain atau melakukan revolusi guna mendirikan negara baru.

Secara sederhana, warga negara adalah anggota dari suatu negara. Warga negara merupakan sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah terntu, dalam waktu tertentu, dan terikat (memiliki hak, keawjiban dan tanggung jawab), secara yuridis (hukum) dan politik dalam suatu negara. Sedangkan menurut Undang-Undang Negara RI No. 12 tahun 2006, warga negara adalah warga suatu negara, yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Istilah warga negara dalam bahasa Inggris adalah citizen; dalam bahasa Prancis adalah citoyen; dan dalam bahasa Belanda adalah staatsburger. Istilah dalam bahasa Inggris : citizen dan Prancis : citoyen tersebut, yang artinya adalah warga kota. Hal itu karena istilah dalam bahasa Inggris dan Prancis tersebut dipengaruhi oleh konsep polis yang berasal dari bahasa Yunan Kuni yang artinya negara kota.

B. Asas-asas Kewarganegaraan

Setiap negara memiliki kedaulatan atau kewenangan penuh untuk menentukan siapa saja yang menjadi warganegaranya. Hal ini sesuai dengan Konvensi Den Haag 1930, Pasal 1, yang menyatakan bahwa, hak setiap negara untuk menentukan siapa saja yang menjadi warga negaranya. Meskipun demikian terdapat general principles, atau prinsip-prinsip umum dalam hukum internasional tentang kewarganegaraan yang telah diterima oleh masyarakat internasional. Prinsip-prinsip umum itu antara lain menyatakan bahwa, “suatu negara dalam menentukan siapa-siapa yang menjadi warganya, tidak dapat menarik kedalamnya, orang-orang yang sama sekali tidak ada hubungan sedikitpun dengan negara yang bersangkutan.”

Secara umum, terdapat dua asas pokok dalam penetapan kewarganegaraan yaitu : a. Asas Ius Soli (Kelahiran/BerdasarkanTempat Lahir)

Asas Ius Soli adalah asas yang menetukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan tempat lahirnya.

Contoh : A dilahirkan di negara Kanada, orang tuanya warga negara Inggris. Apabila Negara Kanada menggunakan asas ius soli, maka A adalah warga negara Kanada,

b. Asas Ius Sanguinis (Keturunan/Berdasarkan Kewaraganegaraan Orang Tuanya) Asas Ius Sanguinis adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan (hubungan darah) atau berdasarkan kewarganegaraan orang tuanya.. Jadi, menurut asas ini, kewarganegaraan orang tuanyalah yang menentukan kewarganegaraan seseorang.

(12)

Selain kedua asas kewarganegaraan yang pokok tersebut, terdapat pula asas kewarganegaraan yang lain, seperti berikut ini.

a. Asas Kewarganegaraan Tunggal adalah asas yang menentukan satu kewarganegaraan bagi setiap orang.

b. Asas Bipatride adalah asas yang menentukan lebih dari satu kewarganegaraan bagi setiap orang

c. Asas Apatride adalah asas yang menentukan tanpa kewargenegaraan atau tidak memiliki kewarganegaraan bagi orang-orang terntu.

Selain menggunakan asas-asas kewarganegaraan di atas, dalam menentukan kewarganegaraan juga menggunakan dua stelsel, yakni :

a. Stelsel Aktif maksudnya adalah, orang harus aktif melakukan tindakan-tindakan atau upaya hukum tertentu untuk menjadi warga negara.

b. Stelsel Pasif maksudnya adalah, orang dengan sendirinya dianggap menjadi warga negara, tanpa melakukan suatu upaya atau tindakan hukum tertentu.

Berkaitan dengan dua stelsel di atas, terdapat dua hak dalam kewarganegaraan yakni :

a. Hak Opsi adalah hak untuk memilih suatu kewarganegaraan. Hak ini muncul dari adanya stelsel aktif.

b. Hak Repudiasi adalah hak untuk menolak suatu kewarganegaraan. Hak ini muncul dari adanya stelsel pasif.

B. Pengertian Warga Negara Indonesia

Lantas, siapa yang disebut warga negara Indonesia? Untuk memahami tentang siapa warga negara Indonesia, pertama-tama perlu dilihat definisi yang diberikan oleh Konstitusi Negara RI, yakni UUD 1945 (amandemen), Pasal 26 yang menyatakan bahwa :

1. Yang menjadi Warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.

2. Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang-orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia.

Batasan tentang siapa warga negara Indonesia diperjelas lagi dengan UU No. 12 Tahun 2006 Pasal 2 yang berbunyi, “Yang menjadi Warga Negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.” Penjelasan yang lebih rinci tentang siapa WNI, dimuat di dalam UU No. 12 Tahun 2006 Pasal 4, bahwa yang disebut Warga Negara Indonesia adalah :

a. Setiap orang yang berdasarkan peraturan perundangan dan/atau berdasarkan perjanjian Pemerintah Republik Indonesia dengan negara lain sebelum Undang-Undang ini berlaku, sudah menjadi Warga Negara Indonesia.

b. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari sorang ayah dan ibu, Warga Negara Indonesia.

c. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah Warga Negara Indonesia dan ibu warga negara asing.

d. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga negara asing dan ibu warga negara Indonesia.

e. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu WNI tetapi ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hukum negara asal ayahnya tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut.

f. Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 hari setelah ayahnya meninggal dunia dari perkawinan yang sah dan ayahnya WNI.

g. Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu WNI

h. Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu WNA, yang diakui oleh seorang ayah WNI sebagai anaknya, dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 th atau belum kawin.

i. Anak yang lahir di wilayah negara RI, yang pada waktu lahir tidak jelas status kewarganrgaraan ayah dan ibunya

j. Anak yang baru lahir, yang ditemukan di wilayah negara RI, selama ayah dan ibunya tidak diketahui

(13)

l. Anak yang dilahirkan di luar wilayah negara RI, dari seorang ayah dan ibu WNI, yang karena ketentuan dari negara tempat anak tersebut dilahirkan, tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan.

m. Anak dari seorang ayah dan ibu, yang telah dikabulkan permohonan kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia, sebelum mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia.

Dalam menyusun Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 di atas, di samping berdasarkan asas-asas kewarganegaraan yang bersifat universal (berlaku di seluruh dunia), juga berdasarkan asas-asas khusus seperti berikut ini :

a. Asas Kepentingan Nasional adalah asas yang menentukan bahwa peraturan kewarganegaraa mengutamakan kepentingan nasional Indonesia.

b. Asas Perlindungan Maksimum adalah asas yang menentukan bahwa pemerintah wajib memberikan perlindungan penuh kepada setiap WNI, dalam keadaan apapun, baik di dalam maupun di luar negeri.

c. Asas Persaman di hadapan Hukum dan Pemerintahan (Equality before the law anda government) adalah asas yang menentukan bahwa setiap WNI, harus mendapatkan perlakuan yang sama di muka hukum dan pemerintahan.

d. Asas Nondiskriminatif adalah asas yang tidak membedakan perlakuan, dalam segala hal ihwal yang berhubungan dengan warga negara, atas dasar suku, ras, agama, golongan dan jenis kelamin (jender).

e. Asas Substantif adalah asas yang menentukan bahwa, prosedur pewarganegaraan seseorang tidak hanya bersifat administratif, melainkan juga disertai substansi dan syarat-syarat permohonan yang dapat dipertanggungjawabkan.

f. Asas Pengakuan dan Penghormatan atas HAM

(14)

Standar Kompetensi : Menganalisa Sistem Politik Indonesia

Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan Suprastruktur dan Infrastruktur Politik Indonesia

A. Pengertian Politik dan Sistem Politik

Istilah politik berasal dari bahasa Yunani Kuno, polis, yang artinya negara kota. Pada masa moderen, politik diartikan sebagai seni mengatur pemerintahan atau ilmu tentang

pemerintahan. Menurut Robert Dahl, pembicaraan tentang politik berkisar tentang pemerintahan, kekuasaan dan wewenang.

Menurut Sumantri dan W.J.S. Poerwodarminto, yang disebut dengan sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang bekerja bersama-sama untuk melakukan suatu maksud. Bila diuraikan, unsur-unsur sistem adalah sebagai berikut :

- terdiri atas bagian-bagian atau elemen-elemen - antar bagian saling berkaitan dan bergantung

- antar bagian membentuk satu kesatuan yang terintegrasi

- masing-masing bagian memiliki fungsi dan peranan serta tujuan tertentu Sedangkan yang disebut sistem politik adalah sebagai berikut :

a. Menurut Gabriel Almond

Sistem politik adalah sistem interaksi yang ditemui dalam masyarakat merdeka yang menjalankan fungsi interaksi dan adaptasi.

b. Menurut Sumantri

Sistem politik adalah pelembagaan dari hubungan antar manusia yang berupa hubungan antara suprastruktur politik dan infrastruktur politik.

Bagan Sistem Politik

Rakyat → Fungsi Input→ Fungsi Output→ Output

-agregasi membuat aturan -berbagai peraturan

- artikulasi membuat kebijakan -berbagai kebijakan

-

komunikasi

-

sosialisasi

Rakayat

Infrastruktur Politik

Suprastruktur politik

Output Rakyat

-Partai Politik

Lembaga-Lembaga

Output

- Kelompok Kepentingan Tinggi Negara - Kelompok Penekan

- LSM

- Tokoh/Figur

- Media Massa Pengertian Fungsi Input

Fungsi input merupakan bagian dari sistem politik yang menjalankan fungsi memberi masukan bagi sistem politik. Masukan tersebut dapat berupa tuntutan, dukungan ataupun penolakan yang datang dari rakyat. Berbagai masukan itu oleh fungsi input kemudian disalurkan kepada fungsi output untuk diproses atau dikonversi, sehingga menjadi suatu keputusan atau kebijakan politik. Secara terperinci fungsi-fungsi input adalah :

(15)

Fungsi agregasi adalah fungsi menampung atau menghimpun berbagai aspirasi atau kepentingan rakyat.

b. Artikulasi

Fungsi artikulasi adalah fungsi mengartikulasikan atau menyampaikan aspirasi dan kepentingan politik rakyat

c. Komunikasi

Fungsi komunikasi adalah fungsi menyampaikan informasi-informasi politik, seperti kebijakan, ide, gagasan atau berita-berita tentang perkembangan politik.

d. Sosialisasi

Fungsi sosialisasi adalah fungsi menyebarkan nilai-nilai politik atau melakukan pendidikan politik kepada rakyat.

e. Rekrutmen

Fungsi rekrutmen adalah fungsi melaksanakan perekrutan atau pencarian anggota untuk dididik menjadi kader-kader pemimpin, yang dipersiapkan untuk menduduki jabatan-jabatan politik dan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa,

Fungsi input tersebut dijalankan oleh infrastruktur politik. Infrasstruktur politik adalah lembaga-lembaga atau struktur politik lapisan bawah, yang merupakan sarana politik bagi rakyat dalam berpartisipasi politik. Terdapat 6 macam infrastruktur politik, yaitu :

a. Partai Politik

Partai politik adalah organisasi yang dibentuk dengan tujuan untuk memperoleh kekuasaan. Partai politik merupakan alat atau sarana perjuangan untuk memperoleh kekuasaan. Berbagai macam partai politik misalnya ; PDIP, PKS, PAN, PKB, P. Demokrat, PPP, P. Golkar dll.

b. Kelompok Kepentingan

Kelompok kepentingan adalah organisasi nonpolitik yang dibentuk atas dasar kepentingan yang sama dan untuk mencapai tujuan yang sama. Kelompok kepentingan sering disebut pula organisasi kemasyarakatan. Berbagai macam kelompok kepentingan atau orgainsasi kemasyarakatan dibentuk atas dasar kepentingan yang berbeda-beda. Beberapa organisasi kemasyarakatan itu antara lain sebagai berikut.

a. Organisasi Keagamaan , contoh : NU, Muhammadiyah, MUI, Al-Irsyad, PGI, WALUBI dll

b. Organisasi Profesi, contoh : PGRI, IDI, HIPMI, ISEI c. Organisasi Pekerja, misalnya : SPSI., SBSI, PPMI, d. Organisasi Mata Pencaharian, misalnya, HKTI, HKNSI c. Kelompok Penekan

Kelompok penenkan adalah, adalah kelompok-kelompok yang terorganisir yang aktivitasnya sering melakukan tekanan-tekanan kepada penguasa untuk mempengaruhi dalam mengambil keputusan-keputusan politik. Kelompok penekan bukanlah organisasi politik dan tujuan utamanya bukan mendapatkan kekuasaan secara langsung. Akan tetapi tekanan-tekanan yang mereka lakukan, mempengaruhi penguasa dalam mengambil keputusan-keputusan politik. Beberapa kelompok penekan, misalnya asosiasi pengusaha besar, HMI.

d. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/ Non-Government Organiztion (NGO)

Lembaga Swadaya Masyarakat, adalah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat dengan swadaya murni yang tujuannya membantu masyarakat dalam mengatasi persoalan-persoalan mereka secara mandiri. LSM merupakan lembaga nonprofit yang tujuan kegiatannya tidak mencari keuntungan ekonomi, melainkan untuk mendidik dan menjadi contoh bagi masyarakat agar mereka bisa mandiri dalam mengatasi persoalan-persoalan mereka. Beberapa LSM misalnya : KONTRAS, ICW (Indonesian Corruptin Watch) TI (Trancparancy Indonesia), WALHI (Wahana Lingkungan Hidup), YLPKI (Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Indonesia), LBH (Lembaga Bantuan Hukum).

e. Figur/Tokoh

(16)

f. Media Massa

Media massa memiliki fungsi dan peranan dan penting dalam kehidupan masyarakat, yaitu memberi informasi yang benar dan mencerdaskan masyarakat. Selain itu, media massa juga berfungsi sebagai sarana untuk menuangkan dan menyebarkan gagasan atau ide, sehingga ide atau gagasan itu bisa sampai kepada masyarakat.

Pengertian Fungsi Output

Fungsi output adalah bagian dari sistem politik yang menjalankan fungsi memproses dan mengkonversi berbagai masukan yang datang dari fungsi output menjadi berbagai peraturan dan kebijakan. Dengan kata lain fungsi output adalah membuat atau menghasilkan berbagai keputusan politik. Brerbagai peraturan dan kebijakan atau keputusan politik tersebut, akhirnya penerapan dan dampaknya akan dikenakan kembali kepada rakyat. Fungsi outpuput dijalankan oleh suprastruktur politik. Suprastruktur politik adalah lembaga-lembaga atau struktur politik lapisan atas, yang merupakan sarana politik bagi para elit politik dalam berpolitik. Suprastruktur politik terdiri dari lembaga-lembaga tinggi negara. Suprastruktur politik Indonesia terdiri dari MPR, DPR, DPD, Presiden, Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan BPK.

Pengertian Output

Output adalah keputusan-keputusan politik, sebagai hasil dari proses politik yang berlangsung di tingkat elit politik atau suprastruktur politik. Output dapat berupa kebijakan atau peraturan. Berbagai peraturan dan kebijakan itu, penerapan dan dampaknya akan menimpa rakyat, sehingga rakyat dapat menolak, mendukung atau mengajukan tuntutan. B. Pengertian Perilaku Politik dan Partisipasi Politik

1. Pengertian Perilaku Politik

Menurut Ramlan Surbakti, perilaku politik adalah kegiatan yang berkenaan dengan proses pembuatan keputusan politik dan pelaksanannya. Perilaku politik dibedakan menjadi dua: a. perilaku politik lembaga-lembaga dan para pejabat

b. perilaku politik warga negara biasa.

Perilaku politik warga negara biasa disebut partisipasi politik 2. Pengertian Partisipasi Politik

a. Menurut Samuel Huntington

Partisipasi politik adalah kegiatan warga negara biasa secara pribadi yang bertujuan mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pemerintah

b. Menurut Ramlan Surbakti

Partisipasi politik merupakan kegiatan warga negara biasa dalam mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan umum dan ikut dalam menentukan pemimpin pemerintahan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa partisipasi politik merupakan aktivitas warga negara biasa/rakyat yang dimaksudkan untuk mempengaruhi :

- pemilihan pejabat pemerintahan

- tindakan-tindakan para pejabat pemerintahan dalam mengambil keputusan.

Menurut Gabriel Almond, bentuk-bentuk partisipasi politik dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

a. Partisipasi politik Konvensional

adalah partisipasi politik yang lazim, biasa atau pada umumnya dilakukan oleh warga negara.

b. Partisipasi Politik Nonkonvensional

adalah partisipasi politik yang tidak lazim atau tidak biasa dilakukan oleh warga negara. Bentuk-bentuk partisipasi politik menurut Gabriel Almond adalah sebagai berikut.

KONVENSIONAL NONKONVENSIONAL

- Pemberian suara (voting)

- Diskusi kelompok, seperti : seminar - Kegiatan kampanye

- mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, atau eksekutif/ kepala pemerintah.

-Demonstrasi -Mogok -Konfrontasi

(17)

- Membentuk atau bergabung dalam kelompok kepentingan (organisasi kemasyarakatan)

- Komunikasi dengan pejabat politik seperti dialog, audiensi.

- Mengajukan petisi - Demonstrasi

pemboman

-Tindakan kekerasan politik terhadap manusia, seperti : teror, penculikan, pembunuhan

-Perang, seperti : makar, pemberontakan, gerilya, kudeta, revolusi

Berbagai bentuk partisipasi politik tersebut, dapat dilihat dari berbagai kegiatan warga negara yang mencakup hal-hal sebagai berikut :

1. Terbentuknya partai-partai politik dan organisasi kemasyarakatan sebagai penyalur aspirasi rakyat.

2. Lahirnya LSM, sebagai kontrol sosial dan pemberi input terhadap kebijakan pemerintah

3. Pelaksanaan pemilu, yang memberi kesempatan kepada rakyat untuk memilih, atau dipilih, sehingga melahirkan kegiatan : kampanye, mencalonkan diri sebagai anggota legislatif atau eksekutif, menjadi pemilih aktif.

Referensi

Dokumen terkait

organisasi negara, hak-hak asasi manusia dan kewajibannya, prosedur mengubah konstitusi, konstitusi yang juga dapat dipahami sebagai bagian dari social contract (kontrak sosial)

pengertian konstitusi dalam arti luas menurut Wheare adalah suatu sistem pemerintahan negara dan himpunan norma yang mendasari dan mengatur suatu pemerintahan;

Saran terhadap pemberlakuan putusan Mahkamah Konstitusi yang menimbulkan norma hukum baru atas pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik

Tugas terstruktur Membuat laporan hasil diskusi dalam bentuk esei tentang hubungan dasar negara dengan konstitusi Tugas mandiri.. Membuat laporan hasil kajian tentang hubungan

Dari berbagai pengertian konstitusi di atas dapt dikatakan bahwa yang dimaksud dengan konstitusi adalah sejumlah aturan-aturan dasar dan ketentuan-ketentuan hukum yang dibentuk

Mucul ktika suatu bangsa hendak mendirikan negara b. Dasar kegiatan penyelenggaraan negaraa. u/ mewjdkan cita2 dn tjuann nasional bangsa, dbwh pimpinan penyelenggara negara c.

Bahwa pokok-pokok pikiran Pembukaan UUD 1945, merupakan ”— suasanan kebatinan dari Undang-Undang Dasar Negara Indonesia serta mewujudkan cita hukum yang menguasai hukum

Rumusan Pancasila di Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sesuai dengan pendapat KC Wheare dan Podsnap dalam teori hukum konstitusi bahwa materi muatan suatu