• Tidak ada hasil yang ditemukan

225160127 ASUHAN KEPERAWATAN EPILEPSI PA (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "225160127 ASUHAN KEPERAWATAN EPILEPSI PA (1)"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain

sebagai penerus keturunan, anak pada akhirnya juga sebagai generasi penerus

bangsa. Oleh karena itu tidak satupun orang tua yang menginginkan anaknya

jatuh sakit, lebih-lebih bila anaknya mengalami kejang demam.

Epilepsi merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai

pada anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh

(suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.

Penyebab demam terbanyak adalah infeksi saluran pernapasan bagian atas

disusul infeksi saluran pencernaan. (Ngastiyah, 2002; 229).

Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 5 bulan

sampai 4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah

menderita kejang demam. Kejang demam lebih sering didapatkan pada

laki-laki daripada perempuan. Hal tersebut disebabkan karena pada wanita

didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan laki-laki. (ME.

Sumijati, 2000;72-73)

Bangkitan kejang berulang atau kejang yang lama akan mengakibatkan

(2)

Epilepsi merupakan kedaruratan medis yang memerlukan pertolongan segera.

Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat diperlukan untuk

menghindari cacat yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang

sering. Untuk itu tenaga perawat/paramedis dituntut untuk berperan aktif

dalam mengatasi keadaan tersebut serta mampu memberikan asuhan

keperawatan kepada keluarga dan penderita, yang meliputi aspek promotif,

preventif, kuratif dan rehabilitatif secara terpadu dan berkesinambungan serta

memandang klien sebagai satu kesatuan yang utuh secara

bio-psiko-sosial-spiritual. Prioritas asuhan keperawatan pada Epilepsi adalah :

Mencegah/mengendalikan aktivitas kejang, melindungi pasien dari trauma,

mempertahankan jalan napas, meningkatkan harga diri yang positif,

memberikan informasi kepada keluarga tentang proses penyakit, prognosis

dan kebutuhan penanganannya. (I Made Kariasa, 2000; 262).

1.2. Tujuan Penulisan 1.2.1. Tujuan Umum

Untuk menegetahui Asuhan Keperawatan pada kasus Epilepsi di Ruang Anak RSUD Jend. A.Yani Metro.

1.2.2. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengkajian yaitu mengumpulkan data subyektif dan data obyektif pada pasien dengan Epilepsi.

b. Mampu menganalisa data yang diperoleh

c. Mampu merumuskan diagnosa Keperawatan pada pasien dengan Epilepsi

(3)

e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan

1.3. Manfaat Penulisan

a. Hasil analisis ini diharapkan bermanfaat sebagai informasi dan

pengetahuan khususnya untuk pasien Epilepsi dan keluarganya

sehingga diharapkan agar keluarga dapat lebih meningkatkan

kewaspadaan terhadap tanda dan gejala yang terjadi.

b. Hasil analisis ini diharapkan sebagai bahan masukan, acuan dan

pertimbangan bagi profesi keperawatan untuk lebih meningkatkan

edukasi dalam menangani pasien Epilepsi pada saat memberikan

pengobatan.

1.4. Sumber Data 1.4.1. Data primer

Didapatkan melalui wawancara dan observasi terhadap pasien dan

keluarga

1.4.2.Data sekunder

Data sekunder didapatkan melalui : Catatan medik dan catatan

perawatan, Hasil-hasil perawatan yang menunjang, Catatan tenaga

(4)

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1. Pengertian

Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang

akibatlepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel.

Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang

datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas

muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan

berbagai etiologi .

Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan

ciri-ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik

neron-neron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan

laboratorik.

Epilepsi dapat menyerang anak-anak, orang dewasa, para orang tua bahkan

bayi yang baru lahir (Utopias,2008).

2.2. Etiologi

Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (Idiopatik)

Sering terjadi pada:

1.Trauma lahir, Asphyxia neonatorum

2.Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf

3.Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol

(5)

5.Tumor Otak

6. Kelainan pembuluh darah

Faktor etiologi berpengaruh terhadap penentuan prognosis. Penyebab utama,

ialah epilepsi idopatik, remote symptomatic epilepsy (RSE), epilepsi

simtomatik akut, dan epilepsi pada anak-anak yang didasari oleh kerusakan

otak pada saat peri- atau antenatal. Dalam klasifikasi tersebut ada dua jenis

epilepsi menonjol, ialah epilepsi idiopatik dan RSE. Dari kedua tersebut

terdapat banyak etiologi dan sindrom yang berbeda, masing-masing dengan

prognosis yang baik dan yang buruk..

Epilepsi simtomatik yang didasari oleh kerusakan jaringan otak yang tampak

jelas pada CT scan atau magnetic resonance imaging (MRI) maupun kerusakan

otak yang tak jelas tetapi dilatarbelakangi oleh masalah antenatal atau perinatal

dengan defisit neurologik yang jelas. Sementara itu, dipandang dari

kemungkinan terjadinya bangkitan ulang pasca-awitan, definisi neurologik

dalam kaitannya dengan umur saat awitan mempunyai nilai prediksi sebagai

berikut:

Apabila pada saat lahir telah terjadi defisit neurologik maka dalam waktu 12

bulan pertama seluruh kasus akan mengalami bangkitan ulang, Apabila defisit

(6)

terjadinya bangkitan ulang. Secara keseluruhan resiko untuk terjadinya

bangkitan ulang tidak konstan. Sebagian besar kasus menunjukan bangkitan

ulang dalam waktu 6 bulan pertama.

(Tarwoto,2007)

2.3. Klasifikasi Epilepsi

1. Epilepsi Grand Mal

Epilepsi grand mal ditandai dengan timbulnya lepas muatan listrik yang

berlebihan dari neuron diseluruh area otak-di korteks, di bagian dalam

serebrum, dan bahkan di batang otak dan talamus. Kejang grand mal

berlangsung selama 3 atau 4 menit.

2. Epilepsi Petit Mal

Epilepsi ini biasanya ditandai dengan timbulnya keadaan tidak sadar atau

penurunan kesadaran selama 3 sampai 30 detik, di mana selama waktu

serangan ini penderita merasakan beberapa kontraksi otot seperti sentakan

(twitch- like),biasanya di daerah kepala, terutama pengedipan mata.

3. Epilepsi Fokal

Epilepsi fokal dapat melibatkan hampir setiap bagian otak, baik regoi

setempat pada korteks serebri atau struktur-struktur yang lebih dalam pada

serebrum dan batang otak. Epilepsi fokal disebabkan oleh resi organik

setempat atau adanya kelainan fungsional.

(7)

2.4. Patofisiologi

Takikardi Gangguan saraf otonom

Dx : jalan nafas tidak efektif

Dispnea O2 Menurun

Kebutuhan O2 Meningkat

Kesadaran menurun

Dx : gangguan perfusi jaringan Gangguan keseimbangan membran sel neuron

Disfusi Na+& K+ Berlebilahan

Pelepasan muatan listrik semakin meluas ke seluruh sel maupun membran sel disekitarnya dengan bantuan neorotransiter

(8)

Otak merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus

merupakan pusat pengirim pesan (impuls motorik). Otak ialah rangkaian

berjuta-juta neuron. Pada hakekatnya tugas neron ialah menyalurkan dan mengolah

aktivitas listrik saraf yang berhubungan satu dengan yang lain melalui sinaps.

Dalam sinaps terdapat zat yang dinamakan nerotransmiter. Acetylcholine dan

norepinerprine ialah neurotranmiter eksitatif, sedangkan zat lain yakni GABA

(gama-amino-butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap penyaluran aktivitas listrik

sarafi dalam sinaps. Bangkitan epilepsi dicetuskan oleh suatu sumber gaya listrik

saraf di otak yang dinamakan fokus epileptogen. Dari fokus ini aktivitas listrik

akan menyebar melalui sinaps dan dendrit ke neron-neron di sekitarnya dan

demikian seterusnya sehingga seluruh belahan hemisfer otak dapat mengalami

muatan listrik berlebih (depolarisasi). Pada keadaan demikian akan terlihat

kejang yang mula-mula setempat selanjutnya akan menyebar kebagian

tubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa disertai hilangnya kesadaran.

Dari belahan hemisfer yang mengalami depolarisasi, aktivitas listrik dapat

merangsang substansia retikularis dan inti pada talamus yang selanjutnya akan

menyebarkan impuls-impuls ke belahan otak yang lain dan dengan demikian

akan terlihat manifestasi kejang umum yang disertai penurunan kesadaran.

(9)

2. 5 Manifestasi klinik

1. Klinik dapat berupa kejang-kejang, gangguan kesadaran atau gangguan

penginderaan.

2. Kelainan gambaran EEG

3. Tergantung lokasi dan sifat Fokus Epileptogen

4. Dapat mengalami Aura yaitu suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik

(Aura dapat berupa perasaan tidak enak, melihat sesuatu, men cium

bau-bauan tak enak, mendengar suara gemuruh, mengecap sesuatu, sakit kepala

dan sebagainya)

(Hidayat,2009)

2. 6 Penatalaksanaan

Tujuan pengobatan adalah mencegah timbulnya sawan tanpa mengganggu

kapasitas dan intelek pasien. Pengobatan epilepsi meliputi pengobatan

medikamentosa dan pengobatan psikososial.

1) Pengobatan medikamentosa

Pada epilepsi yang simtomatis di mana sawan yang timbul adalah

manifestasi penyebabnya seperti tumor otak, radang otak, gangguan

metabolic, mka di samping pemberian obat anti-epilepsi diperlukan pula

terapi kausal. Beberapa prinsip dasar yang perlu dipertimbangkan:

a. Pada sawan yang sangat jarang dan dapat dihilangkan factor

(10)

c. Obat yang diberikan sisesuaikan dengan jenis sawan.

d. Sebaiknya menggunakan monoterapi karena dengan cara ini

toksisitas akan berkurang, mempermudah pemantauan, dan

menghindari interaksi obat.

e. Dosis obat disesuaikan secara individual.

f. Evaluasi hasilnya, bila gagal dalam pengobatan, cari penyebabnya:

- Salah etiologi: kelaianan metabolisme, neoplasma yang tidak

terdeteksi, adanya penyakit degenerates susunan saraf pusat.

- Pemberian obat antiepilepsi yang tepat.

- Kurang penerangan: menelan obat tidak teratur.

- Faktor emosional sebagai pencetus.

- Termasuk intractable epilepsi.

g. Pengobatan dihentikan setelah sawan hilang selama minimal 2 – 3

tahun. Pengobatan dihentikan secara berangsur dengan menurunkan

dosisnya.

h. Jenis obat yang sering digunakan, yaitu:

- Phenobarbital (luminal).

Paling seringdipergunakan, murahharganya, toksisitasrendah.

- Primidone (mysolin)

Di hepar primidone di ubah menjadi phenobarbital dan

(11)

-Difenilhidantoin (DPH, dilantin, phenytoin).

Dari kelompok senyawa hidantoin yang paling banyak dipakai

ialah PH. Berhasiat terhadap epilepsi grand mal, fokal dan lobus

temporalis, takberhasiatterhadap petit mal, efek samping yang

dijumpai ialah nistagmus,ataxia, hiperlasi gingiva dan gangguan

darah.

-Carbamazine (tegretol).

Mempunyaikhasiatpsikotropikyangmungkindisebabkanpengontrol

anbangkitanepilepsiitusendiriataumungkinjugacarbamazinemema

ngmempunyaiefekpsikotropik.Sifat ini menguntungkan penderita

epilepsi lobus temporalis yang sering disertai gangguan

tingkahlaku.Efek samping yang mungkin terlihat ialah nistagmus,

vertigo, disartri, ataxia, depresi sumsum tulang dan

gangguanfungsi hati.

- Diazepam.

Biasanya dipergunakan pada kejang yang sedang berlangsung

(status konvulsi.).Pemberian i.m. hasilnya kurang memuaskan

karena penyerapannya lambat. Sebaiknyadiberikani.v.atau intra

rektal.

-Nitrazepam (inogadon).

Terutamadipakaiuntukspasmeinfantildanbangkitanmioklonus.

(12)

obat pilihan kedua pada petit mal

Pada epilepsi grand mal pun dapat dipakai.

obat ini dapat meninggikan kadar GABA di dalam otak.

- Acetazolamide (diamox).

Kadang-kadangdipakaisebagaiobattambahandalampengobatanepilepsi.Zat

ini menghambat enzim carbonic-anhidrase sehingga pH otak

menurun, influks Na berkurang akibatnya membran sel dalam

keadaan hiperpolarisasi.

-ACTH

Sering kali memberikan perbaikan yang dramatis pada spasme

infantil.

(Hidayat,2009)

2)Pengobatan Psikososial.

Pasien diberikan penerangan bahwa dengan pengobatan yang optimal

sebagian besar akan terbebas dari sawan. Pasien harus patuh dalam menjalani

pengobatannya sehingga dapat bebas dari sawan dan dapat belajar, bekerja dan

bermasyarkat secara normal.

3)Penatalaksanaan status epileptikus

a) Lima menit pertama

- Pastikan diagnosis dengan observasi aktivitas serangan atau satu serangan

(13)

- Beri oksigen lewat kanul nasal atau masker, atur posisi kepala dan jalan

nafas, intubasi bila perlu bantuan bentilasi.

- Tanda-tanda vital dan EKG, koreksi bila ada kelaianan.

- Pasang jalur intravena dengan NaC10,9%, periksa gula darah, kimia darah,

hematology dan kadar OAE (bila ada fasilitas dan biaya).

b) Menit ke-6 hingga ke-9

Jika hipoglikemia/gula darah tidak diperiksa, berikan 50 ml glukosa 50%

bolas intravena (pada anak: 2 ml/kgBB/glukosa 25%) disertai 100 mg tiamin

intravena.

c)Menit ke-10 hingga ke-20

Pada dewasa: berikan 0,2 mg/kgBB diazepam dengan kecepatan 5 mg/menit

sampai maksimum 20 mg. Jika serangan masih ada setelah 5 menit, dapat

diulangi lagi. Diazepam harus diikuti dengan dosis rumat fenitoin.

d)Menit ke 20 hingga ke-60

Berikan fenitoin 20 mg/kgBB dengan kecepatan <50 mg/menit pada dewasa

dan 1 mg/kbBB/menit pada anak; monitor EKG dan tekanan darah selama

pemberian.

e)Menit setelah 60 menit

(14)

berikan bantuan ventilasi (intubasi). Jika status menetap, anestasia umum

dengan pentobarbiatal, midazolam atau propofal.

4)Perawatan pasien yang mengalami kejang :

a. Berikan privasi dan perlindungan pada pasien dari penonton yang ingin

tahu (pasien yang mempunyai aura/penanda ancaman kejang memerlukan

waktu untuk mengamankan, mencari tempat yang aman dan pribadi

b.Pasien dilantai jika memungkinkan lindungi kepala dengan bantalan untuk

mencegah cidera dari membentur permukaan yang keras.

c. Lepaskan pakaian yang ketat

d.Singkirkan semua perabot yang dapat menciderai pasien selama kejang.

e. Jika pasien ditempat tidur singkirkan bantal dan tinggikan pagar tempat

tidur.

f. Jika aura mendahului kejang, masukkan spatel lidah yang diberi bantalan

diantara gigi, untuk mengurangi lidah atau pipi tergigit.

g.Jangan berusaha membuka rahang yang terkatup pada keadaan spasme

untuk memasukkan sesuatu, gigi yang patah cidera pada bibir dan lidah

dapat terjadi karena tindakan ini.

h.Tidak ada upaya dibuat untuk merestrein pasien selama kejang karena

kontraksi otot kuat dan restrenin dapat menimbulkan cidera

i. Jika mungkin tempatkan pasien miring pada salah satu sisi dengan kepala

(15)

pengeluaran salifa dan mucus. Jika disediakan pengisap gunakan jika perlu

untuk membersihkan secret

j. Setelah kejang: pertahankan pasien pada salah satu sisi untuk mencegah

aspirasi, yakinkan bahwa jalan nafas paten. Biasanya terdapat periode

ekonfusi setelah kejang grand mal. Periode apnoe pendek dapat terjadi

selama atau secara tiba-tiba setelah kejang. Pasien pada saat bangun harus

diorientasikan terhadap lingkungan

2. 7 Pemeriksaan Diagnostik

1.Elektrolit : Tidak seimbang dapat berpengaruh atau menjadi predisposisi pada

aktivitas kejang.

2.Glukosa : Hipoglikemia dapat menjadi presipitasi(pencetus kejang.

3.Ureum/Kreatinin : Meningkat dapat meningkatkan resiko timbulnya aktivitas

kejang.

4. Sel Darah Merah : Anemia Aplastik mungkin sebagai akibat terapi obat.

5. Kadar obat pada serum: Untuk membuktikan batas obat anti epilepsi.

6. Punksi lumbal : untuk mendeteksi tekanan abnormal dari css, tanda-tanda

infeksi,perdarahan(hemoragik,subarakhnoid,subdural)sebagai penebab kejang

tersebut.

7. Foto ronsen kepala :Untuk mengidentiikasi adanya SOL,fraktur.

8. Elektroensefalogram: Melokalisasi daerah serebral yang tidak berfungsi

(16)

9. Pemantauan video EEG 24 jam : dapat mengidentifikasikan fokus kejang

secara tepat.

10. Scan CT : mengidentifikasi letak lesi serebral, hematoma, edema

serebral,trauma, abses,tumor,dan dapat dilakukan dengan/tanpa kontras.

11.Positron emission tomography : Mendemontrasikan perubahan

metabolik.Misalnya penurunan metabolisme pada sisi lesi.

12. MRI : Melokalisasi lesi-lesi lokal.

13.Magnetoensefalogram :Memetakan impuls/potensial listrik otak pada pola

pembebasan yang abnormal.

14. Wada : Menentukan hemisfer dominan (dilakukan sebagai evaluasi awal

dari praoperasi lobektomi temporal).

(17)

2.8.ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN EPILEPSI

1. Pengkajian

Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, tangal pengkajian, No

register, tanggal rawat dan penanggung jawab dan perawat mengumbpulkan

informasi informasi tentang riwayat kejang pasien. Pasien ditanyakan tentang

faktor atau kejadian yang dapat menimbulkan kejang. Asupan alkohol dicatat.

Efek epilepsi pada gaya hidup dikaji:

a. ada keterbatasan yang ditimbulkan oleh gangguan kejang

b. pasien mempunyai program rekreasi atau Kontak sosial

c. pengalaman kerja

d. Mekanisme koping yang digunakan

e. Obsevasi dan pengkajian selama dan setelah kejang akan membantu dalam

mengindentifikasi tipe kejang dan penatalaksanaannya.

1. Selama serangan :

a. ada kehilangan kesadaran atau pingsan.

b. ada kehilangan kesadaran sesaat atau lena.

c. pasien menangis, hilang kesadaran, jatuh ke lantai.

d.disertai komponen motorik seperti kejang tonik, kejang klonik, kejang

tonik-klonik, kejang miotonik-klonik, kejang atonik.

(18)

i.mata atau kepala menyimpang pada satu posisi.

j.Berapa lama gerakan tersebut, apakah lokasi atau sifatnya berubah pada satu

sisi atau keduanya.

k.ada keadaan yang mempresipitasi serangan, seperti demam, kurang tidur,

keadaan emosional.

l.penderita pernah menderita sakit berat, khususnya yang disertai dengan

gangguan kesadaran, kejang-kejang.

m. Apakah pernah menderita cedera otak, operasi otak.

n. Apakah makan obat-obat tertentu.

o.ada riwayat penyakit yang sama dalam keluarga.

2. Sesudah serangan

a. pasien : letargi , bingung, sakit kepala, otot-otot sakit, gangguan bicara

b. ada perubahan dalam gerakan.

c.Sesudah serangan pasien masih ingat yang terjadi sebelum, selama dan

sesudah serangan.

d.terjadi perubahan tingkat kesadaran, pernapasan atau frekuensi denyut jantung.

e.Evaluasi kemungkinan terjadi cedera selama kejang.

3. Riwayat sebelum serangan

a. ada gangguan tingkah laku, emosi.

b. disertai aktivitas otonomik yaitu berkeringat, jantung berdebar.

c. ada aura yang mendahului serangan, baik sensori, auditorik, olfaktorik

(19)

4. Riwayat Penyakit

a.Sejak kapan serangan terjadi.

b.Padausiaberapaseranganpertama.

c.Frekuensi serangan.

5. Riwayat kesehatan

a.Riwayat keluarga dengan kejang.

b.Riwayat kejang demam.

c.Tumor intrakranial.

d.Trauma kepala terbuka, stroke.

6. Riwayat kejang

a. Berapa sering terjadi kejang

b. Gambaran kejang seperti apa

c. sebelum kejang ada tanda-tanda awal

d. yang dilakuakn pasien setelah kejang

7. Riwayat penggunaan obat

a. Nama obat yang dipakai

b. Dosis obat

(20)

8.Pemeriksaan fisik

a.Tingkat kesadaran

b.Abnormal posisi mata

c.Perubahan pupil

d.Garakan motorik

e.Tingkah laku setelah kejang

f.Apnea

g.Cyanosis

h.Saliva banyak

9. Psikososial

a. Usia

b.Jenis kelamin

c.Pekerjaan

d.Peran dalam keluarga

e.Strategi koping yang digunakan

f.Gaya hidup dan dukungan yang ada

10. Pengetahuan pasien dan keluarga

a.Kondisi penyakit dan pengobatan

b. Kondisi kronik

c.Kemampuan membaca dan belajar.

(21)

2. Diagnosa Keperawatan secara teoritis

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di endotrakea, peningkatan sekresi saliva, keruskan neromuskuler.

2. Termogulasi tidak efektif : Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolik, proses infeksi

3. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan perubahan kesadaran, keruskan kognitif selama kejang, atau kerusakan mekanisme perlindungan diri dan aktivitas kejang yang terkontrol ( gangguan keseimbangan )

4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang pemanjaan, kesalahan interprestasi, kurang mengingat.

(22)

3. Rencana asuhan Keperawatan Teoritis

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di endotrakea, peningkatan sekresi saliva, keruskan neromuskuler.

Tujuan : Setelah dilakukan askep 3x24 Jam masalah bersihan jalan nafas tidak efektif tidak terjadi dan teratasi.

Kriteria hasil : nafas normal ( 25 – 30 x/menit ), tidak tejadi aspirasi, tidak ada dispnea, tidak ada penumpukan sekret.

INTERVENSI RASIONAL

1. Anjurkan klien untuk mengosongkan mulut dari benda/zat tertentu

2. Letakkan klien dalam posisi miring dan pada permukaan datar

3. Tanggalkan pakaian klien pada daerah leher atau dada dan abdomen

4. Melakukan penghisapan sesuai indikasi

5. Berikan oksigen sesuai program terai

1. Menurunkan resiko aspirasi atau masuknya sesuatu benda asing kedalam tirah baring

2. Meningkatkan aliran (drainase), sekret, mencegah lidah jatuh dan menyumbat jalan nafas

3. Untuk memudahkan usaha klien dalam bernafas dan ekspansi dada

4. Mengeluarkan mukus yang berlebihan menurunkan resiko aspirasi atau afeksia

(23)

2. Termogulasi tidak efektif : Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolik, proses infeksi

Tujuan : Setelah dilakukan askep 3x24 Jam, masalah termogulasi tidak efektif teratasi.

Kriterua hasil : Demam berkurang, suhu normal 36,5 – 37,5 ̊ C , Nadi dan RR normal, tidak ada perubahan warna kulit

INTERVENSI RASIONAL

1. Kaji faktor-faktor terjadinya peningkatan suhu

2. Observasi tanda – tanda vital

3. Ajarkan keluarga cara

memberikan kompres dibagian kepala / ketiak

4. Anjurkan untuk menggunakan pakaian tipis yang terbuat dari kain katun

5. Berikan ekstra cairan dengan menganjurkan klien banyak minum

1. Mengetahui penyebab terjadinya peningkatan suhu tubuh karena penambahan pakaian / selimut dapat menghambat penurunan suhu.

2. Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan keperawatan selanjutnya.

3. Proses konduksi / perpindahan panas dengan suatu bahan perantara.

4. Proses hilangnya panas akan terhalangi oleh pakaian tebal dan tidak dapat menyerap keringat.

(24)

1. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan perubahan kesadaran, keruskan kognitif selama kejang, atau kerusakan mekanisme perlindungan diri dan aktivitas kejang yang terkontrol ( gangguan keseimbangan )

Tujuan : Setelah dilakukan askep selama 3x24 Jam masalah resiko terhadap cidera teratasi dan tidak terjadi.

Kriteria Hasil : tidak terjadi cidera fisik pada klien, klien dalam kondisi aman, tidak ada memar dan tidak ada resiko terjatuh.

INERVENSI RASIONAL

1. Identifikasi faktor lingkungan yang memungkinkan resiko terjadinya cidera

2. Pasang penghalang ditempat tidur

3. Letakkan klien ditempat tidur yang rendah & datar

4. Siapkan kain lunak untuk mencegah terjadinya tergigitnya lidah saat kejang

5. Berikan obat anti kejang

1. Dengan menjauhkan barang-barang disekitarnya dapat membahayakan saat terjadinya kejang

2. Penjagaan untuk keamanan, untuk mencegah terjadinya cidera pada klien

3. Area yang rendah dan datar dapat mencegah terjadinya cidera pada klien

4. Lidah berpotensi tergigit saat kejang karena saat kejang biasanya lidah menjulur kedepan

(25)

4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang pemanjaan, kesalahan interprestasi, kurang mengingat.

Tujuan : Setelah dilakukan askep 1x24 Jam masalah kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan teratasi.

Kriteria hasil : Mampu mengungkapkan pemahaman tentang gangguan dan berbagai rangsangan yang telah diberikan, mulai merubah perilaku, mentaati peraturan obat yang diresepkan.

INTERVENSI RASIONAL

1. Jelaskan mengenai prognosis penyakit dan perlunya pengobatan

2. Berikan informasi yang adekuat tentang prognosis penyakit dan tentang interaksi obat yang potensial

3. Tekankan perlunya untuk melakukan evaluasi yang teratur/melakukan

pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi

4. Diskusikan manfaat kesalahan umum yang baik, seperti diet

1. Memberikan kesempatan untuk mengklarifikasi kesalahan

persepsi & keadaan penyakit yang ada

2. Pengetahuan yang diberikan mampu menurunkan resiko dari efek bahay satu penyakit & cara menanganinya

3. Kebutuhan terpeutik dapat berubah sehingga mempersiapkan kemungkinan yang akan terjadi

4. Aktivitas yang sedang & teratur dapat membantu

(26)

2.3.4 Pelaksanaan

Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien ( Santosa. NI, 1989;162 )

2.3.5 Evaluasi

(27)

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.B Dengan Diagnosa MedisEpilepsi

Ruang Praktek : Ruang Anak / II.1

Tanggal Pengkajian : 21 April 2014

3.1. PENGKAJIAN 1. IDENTITAS PASIEN

No. MR : 235615

Nama : An.B

Alamat : Seputih Raman

Tempat / tanggal Lahir : Metro, 24 November 2014

Usia : 5 bulan

Nama Ayah / Ibu : Tn.B/Ny.S

Pekerjaan Ayah : Buruh

Pekerjaan Ibu : Ibu rumah tangga

Pendidikan Ayah : SMP

Pendidikan Ibu : SMP

Agama : Islam

Suku Bangsa : Jawa

2. RIWAYAT KESEHATAN

a. Keluhan Utama

Keluhan utama masalah kesehatan yang dialami oleh An.B adalah Kejang

(28)

Masalah yang dialami oleh An.B saat ini adalah Kejang Demam. Ibu klien

mengatakan saat terjadi kejang tubuh An.B seluruhnya bergetar, kaki

menendang-nendangdan mulut terkatup dengan keras. Ibu klien mengatakan

ketika dirumah saat terjadi kejang pada An.B berlangsung selama kira-kira

± 3-5 menit dan biasanya terjadi di pagi hari dan di sore hari. Ibu klien juga

mengatakan sebelumnya An.B tidak ada riwayat kejang, namun sebelum

dibawa kerumah sakit klien sudah 2 kali mengalami kejang di rumahnya di

pagi hari dan di sore hari. Kejang yang dialami An.B selalu disertai dengan

demam tinggi dan terdengar ada suara batuk yang di sertai dengan adanya

penumpukan sekret.

c. Riwayat Kesehatan Masa Lalu

1. Riwayat kehamilan dan kelahiran

a) Prenatal

Ibu klien mengatakan ketika mengandung An.B rajin memeriksakan

kondisi kehamilannya satu bulan sekali di bidan praktek dan

puskesmas yang berada disekitar rumahnya. Dan ibu klien juga

mengatakan selama masa kehamilan klien pernah mengalami

hipertensi namun klien tidak memiliki riwayat jatuh ataupun riwayat

kecelakaan.

b) Intranatal

Ibu klien mengatakan proses persalinan saat melahirkan An.B

(29)

berlangsung tidak di temukan masalah apa-apa, tidak ada

perdarahan, dan tidak ada komlikasi yang lainnya.

c) Postnatal

Ibu klien mengatakan setelah melahirkan An.B tidak terjadi masalah

yang menghawatirkan. Ibu klien hanya dirawat selama 3 hari

perawatan di rumah sakit dan setelah itu diperbolehkan pulang

karena tidak ada masalah apapun.

2. Riwayat Masa Lalu

Ibu klien mengatakan An.B sebelumnya tidak memiliki riwayat

penyakit apapun. Ibu klien juga mengatakan An.B tidak pernah

sebelumnya dirawat di rumah sakit, sehingga An.B tidak mengonsumsi

obat-obatan. Ibu An.B juga mengatakan An.B tidak memiliki riwayat

melakukan tindakan operasi apapun, tidak ada riwayat alergi, tidak ada

riwayat kecelakaan dan tidak ada riwayat jatuh ataupun kecelakaan.

Dan ibu klien juga mengatakan sampai dengan usia An.B 5 bulan saat

ini imunisasi sudah dilakukan, hanya tinggal beberapa imunisasi saja

yang belum dilakukan karena klien belum mencapai usia tersebut.

(30)

Keterangan :

:

:

:

:

:

:

Laki-laki

Perempuan

Tinggal 1 rumah

Keturunan

Pernikahan

Klien

An. B adalah anak kedua dari dua orang bersaudara, An.B tinggal bersama

kedua orang tuannya yaitu ayah dan ibunya beserta kakak laki-lakinya. Ibu

An.B mengatakan bahwa didalam keluarganya tidak ada riwayat kejang yang

seperti dialami An.B saat ini. Namun Ibu klien mengatakan bahwa sebelumnya

kakak An.B ketika berusia 2 tahun juga pernah mengalami kejang, namun tidak

sampai dibawa kerumah sakit dan dirawat berhari-hari seperti An.B saat ini.

4. RIWAYAT SOSIAL

Ibu An.B mengatakan bahwa sejak kecil kedua orang tuanyalah yang merawat,

(31)

Hubungan An.B didalam keluarga nya sangat baik, kehadiran An.B di

tengah-tengah keluarga nya sangat diterima dengan baik. Banyak diantara

keluarga-keluarganya yang lain senang bermain dan secara bergantian ingin

menggendong An.B. An.B anak yang cukup kooperatif, tidak rewel dan jarang

menangis sehingga banyak yang senang bermain dengannya. Dan lingkungan

disekitar An.B cukup aman karena An.B selalu diawasi oleh

keluarganyakarena saat ini An.B berada ditahapan Tumbuh kembang belajar

untuk telengkup dan merangkak.

5. KEBUTUHAN DASAR

a. Pola Makan

Ibu An.B mengatakan karena saat ini usia An.B masih 5 bulan,jadi ibu

klien belum memberikan makanan pendamping apapun.saat ini An.B

secara eklusif hanya mengonsumsi ASI. Ibu An.B mengatakan selama

mengonsumsi ASI tidak ditemukan masalah apa-apa. Frekuensi An.B

mengonsumsi ASI setiap 2-3 jam sekali.

b. Pola Tidur

An.B tidak memiliki kebiasaan apapun sebelum tidur. ibu klien mengatakan

jika sebelum tidur siang ataupun malam hari An.B minum ASI. Tidur An.B

(32)

c. Mandi

An.B mandi 2x dalam sehari dengan menggunakan washlap dan air hangat.

Setiap ibu klien memandikan, klien selalu diberikan sabun, shampo.

d. Aktivitas Bermain

Ibu An.B mengatakan dalam kesehariannya An.B adalah anak yang cukup

aktif dan kooperatif. An.B saat ini belum bisa menggunakan alat-alat

bermainnya hanya saja An.B suka memasukkan benda mainannya kedalam

mulutnya dan kini An.B sedang pada masa tahapan Tumbuh kembang

belajar telengkup.

e. Eliminasi

Ibu An.B mengatakan kebiasaan BAK dalam keseharian An.B 4-6x dalam

sehari. Konsistensi urine berwarna kuning, dengan bau yang khas, kira-kira

± 100cc/hari.

Untuk BAB ibu klien dalam sehari 1-2x/sehari dengan konsistensi cair

warna kuning kecoklatan dengan bau yang khas. dan ibu An.B juga

mengatakan tidak ada masalah dan gangguan saat BAB.

6. KEADAAN KESEHATANSAATINI

a. Diagnosamedisawaltanggal21april214“KejangDemam”

b. Diagnosa medis akhir tanggal 23 april 214 “Epilepsi”

c. Status nutrisi

Ibu An.B mengatakan karena saat ini usia An.B masih 5 bulan,jadi ibu

(33)

secaraeklusif hanya mengonsumsi ASI. Ibu An.B mengatakan selama

mengonsumsi ASI tidak ditemukan masalah apa-apa. Frekuensi An.B

mengonsumsi ASI setiap 2-3 jam sekali.

d. Status cairan

Klien terpasang IVFD D5 ¼ NS 8tts/menit (dengan faktor tetes mikro)

e. Obat-obatan

1) Ampicilin 3x150 mg

(pada pukul 09.00 – 17.00 – 01.00)

2) Stesolid sup 0.5 mg

3) Diazepam injeksi 0.5 mg

4) PCT siruf 3x1 sendok

(pada pukul 09.00 – 17.00 – 01.00)

f. Hasil Laboratorium tanggal 20 april 2014

No Jenis

Pemeriksaan

Hasil Satuan Nilai Normal

1 2

WBC RBC

9.3 5.22

103/ul 106/ul

(34)

6 7 8

MCH MCHC

PLT

22.3 31.8 g/dl 664 103/mm3

fL pg 103/ul

27-31 32-36 150-450

g. Pemeriksaan EEG

Dari hasil pemeriksaan EEG yang telah dilakukan pada tanggal 23 April

2014 menunjukkan hasil bahwa An.B dinyatakan hasil EEG abnormal yang

menyatakan An.B menderita Epilepsi.

7. PEMERIKSAAN FISIK

No Pemeriksaan Hasil

a. Tanda-tanda vital

Nadi

RR

Suhu

120x/menit

42x/menit

(35)

Panjang Badan 58 cm

Bentuk kepala bulat, tidak ada edema, tidak ada

nyeri tekan, kaput (-)

Ubun-ubun lunak, ubun besar (+),

ubun-ubun kecil (-)

Konjungtiva ananemis, sklera anikterik, reaksi

pupil terhadap cahaya (+)

Tidak ada polip ataupun benda asing,

keadaannya cukup bersih, secret tidak ada

Mukosa tampak pucat, keadaan cukup bersih,

tonsil warna pink, gusi warna pink, gigi klien

belum tumbuh, reflek menghisap (+)

Reflek menelan (+), tidak ada infeksi, tidak ada

nyeri, dan tidak ada edema.

Tidak ada pembesaran vena jugularis

Tidak ada pembesaran kelenjar limfe

c. Thorax/paru-paru RR= 42x/menit, Retraksi dinding dada (-),

penggunaan otot-otot pernaasan (-), tidak ada

edema, tidak ada nyeri tekan, suara paru

vesikuler reguler, ronchi (+), whezing (-)

d. Jantung Perifer :

(36)

HR=120x/menit

e. Abdomen Tidak ada edema, tidak ada nyeri tekan, bentuk

abdomen normal, suara bising usus 5x/menit f. Genitalia & anus Penis menonjol (+), keadaan genitalia cukup

bersih, tidak ada edema, Anus (+), tidak ada

hemoroid

g. ekstermitas Kekuatan otot (+), pergerakan cukup aktif, tidak ada edema, kesadaaran composmentis PCS = 15 ,tonus otot 5 5

5 5

8. PEMERIKSAAN NEOROLOGIS

(37)
(38)

Klien saat ini masih dalam tahap tumbang bayi berusia 5 bulan dan saat ini

kemampuan kemandirian klien sudah mampu meraih benda yang ada

disekitarnya dan benda yang diberikan padanya.

b. Motorik halus

klien sudah mampu meraih benda yang ada disekitarnya dan benda yang

diberikan padanya.

c. Kognitif dan bahasa

Klien mampu mendengar suara orang-orang yang memanggil namanya,

dan langsung menolehkan kepalanya kearah sumber suara . Namun, untuk

kemampuan bahasa klien masih belum bisa berbicara, hanya mampu

mengeluarkan kata-kata yang belum jelas dan hanya mampu menangis.

d. Motorik kasar

Klien mampu menggerakkan tubuhnya, klien mampu telengkup dengan

sendirinya tampa bantuan orang lain, dan mampu menegakkan kepalanya

(39)

Pengkajian Hasil yang ditemukan

a. Amati bayi atau anak terhadap abnormalitas yang nyata yang mempengaruhi fungsi motorik. Khususnya amati bentuk kepala dan ukuran kepala dan periksa tulang belakang.

b. Uji kekuatan otot dan kesimetrisan dengan meletakkan jari tangan di atas telaak tangan anak agar dapat ia genggam dan dorong telapak kaki anak dengan tangan si pemeriksa.

c. Gerakan semua sendi dengan rentang gerakan. Perhatikan flaksiditas atau spasitisitas. bentuk kepala bulat, dan tidak ada hematoma ada area tulang belakang kepala.

Klien mampu menggenggam jari tangan si pemeriksa saat diletakkan diatas telapak tangan si anak, dan saat telapak kaki si anak didorong ada perlawanan yang cukup baik dari si anak.

(40)

Saraf Kranial Pengkajian Fungsi Hasil Yang Ditemukan

N. I Olfaktorius Mengidentifikasi dengan benar bau yang berbeda

Belum dapat dikaji

N. II Optikus Memeriksa ketajaman penglihatan anak, persepsi terhada cahaya.

Ketajaman penglihatan An.B cukup baik, klien mampu berespon terhadap cahaya. N. III Okumolotorius Memeriksa ukuran dan reaksi pupil,

dan periksa kelopak mata terhadap posisi

Respon pupil terhadap cahaya (+), ukuran pupil 2mm, posisi kelopak mata simetris dan sejajar dengan garis telinga

N. IV Troklearis Melihat pergerakan mata anak ke arah bawah, ke atas, ke samping

Pergerakan bola mata akttif (+)

N. V Trigeminus Tentukan apakah anak dapat merasakan sentuhan halus di atas pipi

Anak mudah menoleh bila area dekat pipi dekat mulut disentuh N. VI Abdusen Kaji kemampuan anak

menggerakan mata secara lateral Belum dapat di kaji

N. VII Fasialis Menguji indra pengecaan anak Belum dapat di kaji N. VIII Akustikus Uji pendengaran anak, dengan

memanggil anak dari arah samping telingan nya

Klien langsung menoleh ke arah sumber suara N. IX Glasofaringeus Kemempuan mengidentifikasi rasa

larutan pada lidah

Belum dapat di kaji

N. X Vagus Kemampuan terhadap reflek menelan

Reflek menelan (+) saat spatel dimasukkan kedalam mulut si anak N. XI Aksesorius Memeriksa kemampuan anak

memutarkan kepala dan gerakan mengangkat bahu

Belum dapat di kaji

(41)

lidah dan kemampuan mengucapkan huruf “R”

9. KEBUTUHAN CAIRAN

a. Intake

1) Minum

2) Infus

750cc

8 tts/menit = ....Y...x 60 (mikro) 24 jam x 60 menit 8 tts/menit = 60 Y

1440 60 Y = 1440 x 8 60 Y = 11520

Y = 11520 60 Y = 192 cc

Y adalah cairan infus dalam 24 jam

Jumlah volume cairan infus yang telah masuk ke tubuh pasien adalah

(42)

= BB 10 Kg I x 100 cc = 8.5 Kg x 100 cc = 850 cc/hari

Jadi, intake yang di dapat oleh An.B adalah

= Minum + Infus + Kebutuhan Cairan

= 750 cc + 130 cc + 850 cc

= 1730 cc/hari

b. Output

1) Muntah

2) Urine

Tidak ada (-)

= 2 cc / Kg BB / jam

= 2 cc x 8.5 Kg / jam

= 17 cc / jam

= 17 cc x 24 jam

= 408 cc / hari

c. IWL

= ( 30 – usia dalam tahun )

= ( 30 – 5 bulan ) x 8.5 Kg 12 bulan

(43)

= 251 cc

Jadi, Balance cairan An.B adalah

Balance cairan = 1792 cc – ( 408 cc + 251 cc )

= 1730 cc – 659 cc

= 1071 cc

d. Untuk kenaikan suhu

1) Tanggal 21 April 2014

pukul 09.00 WIB

= 251 + 200 ( 37.7 – 36.8 )

= 251 + 200 ( 0.9 )

= 251 + 180

= 431 cc

pukul 09.00 WIB

= 251 + 200 ( 38.5 – 36.8 ) x 10 %

= 251 + 200 ( 1.7 ) x 10 %

Balance cairan = intake – ( output + IWL )

IWL + 200 ( suhu saat ini – 36.8

0

C )

(44)

2) Tanggal 23 april 2014

Pukul 19.00 WIB

= 251 + 200 ( 39.4 – 36.8 ) x 10 %

= 251 + 200 ( 2.6 ) x 10 %

= 251 + 520 x 10 %

= 251 + 52

= 303 cc

3.2. ANALISA DATA N

O

DATA MASALAH ETIOLOGI

1 DS:

- Ibu An.B Mengatakan anaknya saat ini sedang batuk-batuk

- Ibu An.B mengatakan takut yang klien rasakan

Bersihan jalan nafas tidak efektif

Sumbatan lidah di endotrakea

(45)

2

setelah dirumah sakit & setelah mengalami kejang berulang

- Ibu An.B Mengatakan batuk yang dialami anaknya disertai dengan adanya penumpukan sekret.

DO:

- An.B terlihat sekali mengeluarkan suara batuk

- Retraksi dinding dada (-) - Sianosis (-)

- RR = 38x/menit

DS:

(46)

3

Kejang

- Ibu Klien mengakatan kondisi demam yang saat ini dialami oleh An.B membuat klien menjadi gelisah

DO :

- Klien tampak lemas & lemah

- Suhu An.B (21/04/2014) Pagi : 37,7 ̊C

Siang : 38,5 ̊C - Klien An.B tampak

Gelisah

- Klien tampak banyak mengeluarkan keringat - Mukosa bibir pucat

DS:

- Ibu An.B mengatakan An.B sebelumnya tidak pernah mengalami kejang - Ibu An.B kejang yang di

alami An.B sebelum dibawa Ke Rumah Sakit

(47)

4

& siang.

- Ibu An.B mengatakan saat kejang tubuh anaknya bergetar & kakinya menendang-nendang - Ibu An.B mengatakan

kejang yang terjadi berlangsung kira-kira ± 5 menit

DO:

- Klien tampak terlihat gelisah

- Klien terlihat saat demam tubuhnya bergetar

- Kejang berlangsung ± 5 menit

- Saat kejang terlihat ibunya memasukkan kain kedalam mulutnya

DS:

- Ibu klien mengatakan tidak tahu apa yg terjadi pada An.B

- Ibu klien mengatakan

(48)

An.B kejang tidak tahu apa yang harus dilakukan

DO:

- Ibu klien tampak terlihat bingung & sangat panik saat An.B kejang

- Ibu klien tampak terlihat cemas & takut jika An.B kembali kejang

3.3. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di endotrakea, peningkatan sekresi saliva, keruskan neromuskuler.

b. Termogulasi tidak efektif : peningkatan suhu berhubungan dengan peningkatan metabolik, proses infeksi

c. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan perubahan kesadaran, keruskan kognitif selama kejang, atau kerusakan mekanisme perlindungan diri dan aktivitas kejang yang terkontrol ( gangguan keseimbangan )

d. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang pemanjaan, kesalahan interprestasi, kurang mengingat.

3.4. RENCANA KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di endotrakea, peningkatan sekresi saliva, keruskan neromuskuler.

Tujuan : Setelah dilakukan askep 3x24 Jam masalah bersihan jalan nafas tidak efektif tidak terjadi dan teratasi.

(49)

INTERVENSI RASIONAL

1. Anjurkan klien untuk mengosongkan mulut dari benda/zat tertentu

2. Letakkan klien dalam posisi miring dan pada permukaan datar

3. Tanggalkan pakaian klien pada daerah leher atau dada dan abdomen

4. Melakukan penghisapan sesuai indikasi

5. Berikan oksigen sesuai program terai

1. Menurunkan resiko aspirasi atau masuknya sesuatu benda asing kedalam tirah baring

2. Meningkatkan aliran (drainase), sekret, mencegah lidah jatuh dan menyumbat jalan nafas

3. Untuk memudahkan usaha klien dalam bernafas dan ekspansi dada

4. Mengeluarkan mukus yang berlebihan menurunkan resiko aspirasi atau afeksia

5. Membantu pemenuhi kebutuhan oksigen adar tetap adekuat.

2. Termogulasi tidak efektif : peningkatan suhuberhubungan dengan peningkatan metabolik, proses infeksi

Tujuan : Setelah dilakukan askep 3x24 Jam, masalah termogulasi tidak efektif teratasi.

(50)

1. Kaji faktor-faktor terjadinya peningkatan suhu

2. Observasi tanda – tanda vital

3. Ajarkan keluarga cara

memberikan kompres dibagian kepala / ketiak

4. Anjurkan untuk menggunakan pakaian tipis yang terbuat dari kain katun

5. Berikan ekstra cairan dengan menganjurkan klien banyak minum

1. Mengetahui penyebab terjadinya peningkatan suhu tubuh karena penambahan pakaian / selimut dapat menghambat penurunan suhu.

2. Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan keperawatan selanjutnya.

3. Proses konduksi / perpindahan panas dengan suatu bahan perantara.

4. Proses hilangnya panas akan terhalangi oleh pakaian tebal dan tidak dapat menyerap keringat.

5. Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh yang meningkat.

3. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan perubahan kesadaran, keruskan kognitif selama kejang, atau kerusakan mekanisme perlindungan diri dan aktivitas kejang yang terkontrol ( gangguan keseimbangan )

Tujuan : Setelah dilakukan askep selama 3x24 Jam masalah resiko terhadap cidera teratasi dan tidak terjadi.

(51)

1. Identifikasi faktor lingkungan yang memungkinkan resiko terjadinya cidera

2. Pasang penghalang ditempat tidur

3. Letakkan klien ditempat tidur yang rendah & datar

4. Siapkan kain lunak untuk mencegah terjadinya tergigitnya lidah saat kejang

5. Berikan obat anti kejang

1. Dengan menjauhkan barang-barang disekitarnya dapat membahayakan saat terjadinya kejang

2. Penjagaan untuk keamanan, untuk mencegah terjadinya cidera pada klien

3. Area yang rendah dan datar dapat mencegah terjadinya cidera pada klien

4. Lidah berpotensi tergigit saat kejang karena saat kejang biasanya lidah menjulur kedepan

5. Mengurangi aktivitas kejang yang berkepanjangan yang dapat mengurangi suplai oksigen

4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang pemanjaan, kesalahan interprestasi, kurang mengingat.

Tujuan : Setelah dilakukan askep 1x24 Jam masalah kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan teratasi.

(52)

INTERVENSI RASIONAL

1. Jelaskan mengenai prognosis penyakit dan perlunya pengobatan

2. Berikan informasi yang adekuat tentang prognosis penyakit dan tentang interaksi obat yang potensial

3. Tekankan perlunya untuk melakukan evaluasi yang teratur/melakukan pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi

4. Diskusikan manfaat kesalahan umum yang baik, seperti diet yang adekuat, & istirahat yang cukup

1. Memberikan kesempatan untuk mengklarifikasi kesalahan persepsi & keadaan penyakit yang ada

2. Pengetahuan yang diberikan mampu menurunkan resiko dari efek bahay satu penyakit & cara menanganinya

3. Kebutuhan terpeutik dapat berubah sehingga mempersiapkan

kemungkinan yang akan terjadi

4. Aktivitas yang sedang & teratur dapat membantu

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di endotrakea, peningkatan sekresi saliva, keruskan neromuskuler.

Hari/Tanggal

(53)

Senin, miring dan pada permukaan datar 3. Menanggalkan

pakaian pada daerah leher dan dada, serta bahwa anaknya kini dalam keadaan batuk - Ibu An. B mengatakan

sudah 2 hari anaknya mengalami batuk - Ibu An. B mengatakan

batuk yang dialami anaknya disertai dengan secret/dahak

Objektif :

- Tampak tidak ada benda asing/zat tertentu di mulut An.B

- Klien terlihat dalam posisi miring kiri diatas permukaan datar tempat tidur

- Ibu klien tampak

melepaskan pakaian luar An. B dan hanya

memakaikan kaos dalam saja pada An. B

- Klien terpasang oksigen 1 liter/menit nasal kanul

Analisis :

(54)

- Lanjutkan Intervensi : 2,4 & 5

2. Termogulasi tidak efektif : peningkatan suhu berhubungan dengan peningkatan metabolik, proses infeksi

Hari/ Tanggal

& Jam

Implementasi Evaluasi Paraf

Senin, 21/04/2014

08. 45 WIB 1. Mengkaji factor terjadinya peningkatan suhu

Subjektif :

(55)

09.00 WIB bagian kepala / ketiak

demam yang dialami oleh An. Bsejak semalam saat setelah dibawa ke Rumah Sakit - Ibu klien mengatakan

demam yang di alami klien setelah terjadi kejang

Objektif :

- Faktor terjadi demam akibat kejang yang terjadi setelah berulang - Hasil observasi vital

sign :

Suhu : 38,5 C Nadi : ⁰ 120x/menit

Pernafasan : 42x/menit - Mengajarrkan cara

mengkompres dan keluarga telah mampu mempraktekannya

- Klien tampak telah di ganti pakaiannya oleh ibunya dengan pakaian yang tipis

(56)

3. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan perubahan kesadaran, keruskan kognitif selama kejang, atau kerusakan mekanisme perlindungan diri dan aktivitas kejang yang terkontrol ( gangguan keseimbangan )

Hari/ Tanggal

& Jam

Implementasi Evaluasi Paraf

Senin, 21/04/2014

08. 30 WIB 1. Menganjurkan klien untuk mengosongkan

Subjektif :

(57)

09.00 WIB dan dada, serta abdomen sudah 2 hari anaknya mengalami batuk - Ibu An. B mengatakan

batuk yang dialami anaknya disertai dengan secret/dahak

Objektif :

- Tampak tidak ada benda asing/zat tertentu di mulut An.B

- Klien terlihat dalam posisi miring kiri diatas permukaan datar tempat tidur

- Ibu klien tampak

melepaskan pakaian luar An. B dan hanya

memakaikan kaos dalam saja pada An. B

(58)

sebagian

Planing :

- Lanjutkan Intervensi : 2,4 & 5

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di endotrakea, peningkatan sekresi saliva, keruskan neromuskuler.

Hari/ Tanggal

& Jam

Implementasi Evaluasi Paraf

Selasa, 22/04/2014

10. 15 WIB 1. Meletakkan klien dalam posisi miring dan pada permukaan datar

Subjektif : - Ibu An. B

mengatakanbatuk yang dialami An. B sudah mulai berkurang

(59)

Masih program terapi O2 1 liter/menit

suara dahak/secret ketika An. B batuk

Objektif :

- Klien di posisikan miring kiri dan di permukaan datar diatas tempat tidur

- Klien telah dilakukan penghisapan dengan menggunakan suction untuk yang terakhir, karena secret/dahak sudah

berkurang & tidak terdengar lagi - Klien An. B masih

terpasang Oksigen 1 liter/menit nasal kanul

Analisis :

- Masalah bersihan jalan nafas tidak efektif teratasi.

Planing :

- Intervensi dihentikan.

(60)

09.00 WIB

perawatan di rumah sakit sudah berangsur turun sedikit demi sedikit

- Ibu klien mengatakn sudah rutin memberikan kompres di bagian kepala anak untuk menurunkan suhu tubuh - Ibu klien mengatakan sering

memberikan ASI kepada anaknya

Objektif :

- Observasi vital sign : Pagi, Suhu : 37,5OC

Nadi : 100x/m RR : 34x/m Siang ; S : 37,4OC N : 110x/ m

RR : 30x/menit

- Ibu klien tampak sedang memberikan kompres hangat di bagian kepala klien - Ibu klien tampak sedang

memberikan ASI saat klien menangis kehausan

- PCT sirup 3 x 1 sendok Analisis :

- Masalah ketidakefektifan termoregulasi teratasi sebagian

Planing :

(61)

3. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan perubahan kesadaran, keruskan kognitif selama kejang, atau kerusakan mekanisme perlindungan diri dan aktivitas kejang yang terkontrol ( gangguan keseimbangan )

Hari/ Tanggal

& Jam

(62)

Selasa, tempat tidur klien 2. Menyiapkan kain

lunak untuk

mencegah terjadinya tergigitnya udah saat kejang

3. Memberikan obat anti kejang : selalu menjaga &

mengawasi An. B di tempat tidur

- Ibu klien mengatakan selalu menyiapkan kain lunak disamping tempat tidur An. B

Objektif :

- Tampak terlihat keluarga An. B memberikan penjagaan disamping tempat tidur klien

- Ibu klien tampak dengan sigap selalu memasukkan kain lunak ke dalam mulut An. B saat terjadi kejang - Klien selalu mendapatkan

stesolid & Diazepam setiap kali kejangmya kembali berulang.

Analisis :

(63)

Planing :

- Lanjutkan Intervensi 2 & 3.

(64)

Rabu, - Ibu klien mengatakan

sangat panic melihat kondisi demam An. B yang

meningkat

- Ibu klien mengatakan sudah sering memberikan

kompres hangat setiap kali An. B demam

Objektif :

- Hasil observasi vital sign : Siang,

- Ibu klien dan keluarga klien tampak telah memberikan kompres hangat di bagian kepala dan ketiak An. B - PCT sirup 3 x 1 sendok

(65)

- Masalah ketidakefektifan termoregulasi belum teratasi

Planing :

- Lanjutkan Intervensi : 1 & 2

3. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan perubahan kesadaran, keruskan kognitif selama kejang, atau kerusakan mekanisme perlindungan diri dan aktivitas kejang yang terkontrol ( gangguan keseimbangan )

Hari/ Tanggal

& Jam Implementasi Evaluasi

Para f

Rabu, 23/04/2014

19.00 WIB

19.30 WIB

1. Menyiapkan kain lunak untuk mencegah

terjadinya tergigitnya udah saat kejang

Subjektif :

(66)

mg An. B tidak kembali mengalami kejang

Objektif :

- Ibu klien tampak terlihat sedang menyelipkan kain lunak saat An. B kembali kejang

- Klien telah diberikan obat anti kejang stesolid

Analisis :

- Masalah Resiko terhadap cidera teratasi.

Planing :

- Lanjutkan Intervensi ulang jika klien masih

(67)

4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang pemanjaan, kesalahan interprestasi, kurang mengingat.

Hari/ Tanggal

& Jam

(68)

Kamis,

1. Menjelaskan mengenai prognosis penyakit & perlunya pengobatan 2. Memberikan informasi

yang adekuat tentang prognosis penyakit & tentang interaksi obat yang potensial

3. Menekankan bahwa perlunya untuk

melakukan evaluasi yg teratur/melakukan pemeriksaaan laboratorium sesusai indikasi

4. Mendiskusikan manfaat kesehatan umum yang baik seperti diit yang adekuat & istirahat yang cukup.

Subjektif :

- Ibu An. B mengatakan dirinya sebelumnya tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya dan bagaimana cara menanganinya

- Ibu klien mengatakan kini setelah diberikan informasi dirinya menjadi tahu

Objektif :

- Ibu klien tampak memperhatikan terkait penjelasan yang diberikan mengenai prognosis penyakit & pentingnya pengobatan

- Ibu klien tampak antusias & cukup kooperatif mendengarkan informasi yang diberikan

- Ibu klien tampak sudah mengerti apa yang harus rutin ia lakukan untuk mengecek kesehatan anaknya

- Ibu lien tampak sudah memahami cara

(69)

untuk anaknya

Analisis :

- Masalah Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan teratasi.

Planing :

- Intervensi di hentikan. - Memberikan leaflet sebagai

informasi lanjutan.

(70)

4.1. Kesimpulan

Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada An.B didapatkan kesimpulan

sebagai berikut:

1. Pengkajian

Pengkajian terpenting dari Epilepsi adalah melakukan anamnese

selengkap mungkin serta pemeriksaan fisik untuk menetukan penyebab

kejang terjadi.

Apabila dari anamnese dan pemeriksaan fisik masih sulit menentukan

penyebab Epilepsi maka dilakukan pemeriksaan penunjang.

Dan setelah dilakukan pemeriksaan penunjang EEG maka didaatkan

hasil yang menunjukkan hasil EEG abnormal dan menyatakan An.B

mengalami Epelepsi

2. Analisa dan Sintesa Data

Pada tahap analisa data dan sintesa data dalam kasus nyata penulis

hanya menemukan 4 diagnosa keperawatan, yaitu :

a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan

sumbatan lidah di endotrakea, peningkatan sekresi saliva, keruskan

neromuskuler.

b. Termogulasi tidak efektif : peningkatan suhu berhubungan dengan

peningkatan metabolik, proses infeksi

c. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan perubahan kesadaran,

(71)

perlindungan diri dan aktivitas kejang yang terkontrol ( gangguan

keseimbangan )

d. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan

berhubungan dengan kurang pemanjaan, kesalahan interprestasi,

kurang mengingat.

3. Diagnosa / Masalah Keperawatan

Masalah/diagnosa keperawatan yang muncul akibat dari kejang demam

adalah potensial terjadinya kejang ulang berhubungan dengan

hiperthermi, Ketidakefektifan bersihan jalan nafas , Resiko terhadap

cidera, kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit berhubungan

dengan keterbatasan informasi.

4. Perencanaan

Pada tahap perencanaan dalam kasus nyata ada beberapa langkah

tindakan yang ditambahkan penulis selain yang terdapat dalam tinjauan

pustaka sesuai kebutuhan klien saat itu.

5. Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan dalam kasus nyata tidak menemui kesulitan

karena sikap keluarga yang kooperatif dan sarana dan prasarana yang

memadai.

(72)

Dengan evaluasi akan membantu perawat dalam memenuhi kebutuhan

pasien yang dapat berubah-ubah.

4.2. Saran

4.2.1. Bagi Pelayanan Keperawatan

Meningkatkan pengetahuan keluarga dengan cara membuat tool-tool

evaluasi perkembangan pasien di rumah, yang harus diisi oleh keluarga.

Membekali keluarga pasien yang terdekat untuk dapat memahami,

mengenali, dan bertindak secara efektif mengenai permasalahan-permasalah

yang dialami pasien.

4.2.2. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan

Institusi pendidikan dan pelayanan harus lebih aktif dalam meningkatkan

kualitas asuhan keperawatan pada pasien Epilepsi dengan selalu mengikuti

perkembangan evidence based.

4.2.3. Bagi Institusi Rumah Sakit

Sebagai bahan masukan untuk lebih meningkatkan pemberian informasi dan

konseling terkait penyakit Epilepsi dan pengobatannya pada keluarga pasien

agar keluarga dapat lebih memotivasi pasien dalam menjalani program

pengobatan secara baik.

4.2.4. Bagi Masyarakat

(73)

memotivasi anggota keluarganya yang sedang menjalani program

pengobatan.

4.2. Penutup

Demikianlah kami menyusun makalah ini dan kami sangat bersyukur

kepada ALLAH SWT atas Rahmat dan Hidayah-Nya jua kami dapat

menyelesaikan karya makalah ini, dan tidak lupa pula kepada pihak-pihak

yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini terutama kepada bapak/

ibu selaku dosen pembimbing. kami sangat menyadari dalam penulisan

makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Untuk itu kami sangat

mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun guna

menyempurnakan makalah ini, mudah-mudahan makalah ini dapat

bermanfaat bagi sapa saja yang membacanya terutama bagi kami sendiri.

Amin.

(74)

Arif, et. All.2000.Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke-3. Jilid 2. Jakarta : Media Aesculaius.

Doengoes, M.E , Moorhouse, M. F & Geissler, A. C. (2002). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.

Nurarif,A.H & Kusuma,H. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & Nanda Nic-Noc.Yogyakarta : Media Action.

Referensi

Dokumen terkait

Para filsuf sebelumnya (positivisme logis) telah mengandaikan begitu saja sebuah bahasa dianggap bermakna karena ia.. Ucapan-ucapan yang digunakan untuk mendeskripsikan

Hasil penelitian kualitatif ini menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter berbasis ilmu hikmah pada Institut Parahikma Indonesia (IPI) Gowa selalu dikaitkan

Itu berarti seseorang dengan nAch. yang besar adalah orang yang berusaha berbuat sesuatu. Misalnya dalam penyelesaian tugas yang dipercayakan kepadannya, lebih

(2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. Dalam memajukan kebudayaan nasional perlu disadari bahwa bangsa Indonesia terdiri dari

pumilus yang digunakan sebagai mikroorganisme penghasil enzim mananase adalah hasil isolasi dari pulau Pari di Teluk Jakarta dengan tujuan untuk mengetahui

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan pembelajaran ips materi lingkungan alam dan buatan melalui metode Problem Based Instruction (PBI) pada siswa kelas III

Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji manajemen penangkaran, ukuran keberhasilan penangkaran, aktivitas harian dan perilaku makan burung kakatua sumba (Cacatua

Kegiatan pertunjukan ini akan sering diadakan untuk mendukung proses pembelajaran musik itu sendiri karena pada dasarnya musik adalah seni pertunjukan dan banyak hal yang tidak