GURU DAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

38  11  Download (0)

Teks penuh

(1)

GURU DAN PROSES BELAJAR MENGAJAR 2.1 Guru

Guru pada saat ini sering menjadi sorotan dari berbagai media massa,berkaitan dengan rendahnya mutu pendidikan, dan keberhasilan suatu sekolah. Ada sebagian masyarakat kita beranggapan keberhasilan suatu pendidikan sangat di tentukan oleh mutu guru itu sendiri. Sementara kita ketahui bersama keberhasilan atau kegagalan pendidikan banyak di pengaruhi oleh beberapa faktor. Kurangnya kesejahteraan guru, juga sangat mempengaruhi keberhasilan suatu pendidikan.

Guru sangat terlibat dengan proses mengajar-belajar. Istilah proses mengajar “ belajar ( PMB) lebih tepat daripada proses belajar mengajar ( PBM), alasanya karena dalam proses yang harus aktip duluan adalah guru lalu di ikuti aktivitas siswa (belajar ) bukan sebaliknya. Barlow seorang pakar psikologi pendidikan (1985) dan Good & Brophy (1990) hubungan timbul balik antar guru dan siswa di sebut teaching “ learning process dan bukan learning-teaching process.

1. Arti Guru Dahulu Dan Sekarang

Saat ini banyak berita-berita yang melecehkan posisi guru dan guru nyaris tidak mampu membela diri. Seorang politis Amerika Serikat Hugget ( 1985 ) mengutuk guru kurang professional sedang orang tua menuding guru tidak kompeten dan malas. Kalangan bisnis dan industripun memprotes guru karena hasil didikan mereka dianggap tidak bermanpaat. Tuduhan dan protes ini telah memerosotkan harkat dan martabat para guru.

Dahulu seorang guru di hormati seperti seorang priyayi. Waktu itu penghasilan guru memadai bahkan lebih. Secara psikologis, harga diri ( self “ esteem ) dan wibawa mereka juga tinggi, sehingga para orang tua pun berterima kasih bila anak-anaknya di hajar guru kalau berbuat kurang ajar . Posisi guru pada waktu itu sangat tinggi dan terhormat.

Namun sekarang para guru telah berubah drastis. Profesi guru adalah profesi yang kering, dalam arti kerja keras para guru membangun sumber daya manusia hanya sekedar untuk mempertahankan kepulan asap dapur mereka saja. Bahkan harkat dan derajat mereka di mata masyarakat merosot, seolah-olah menjadi warga negara second class ( kelas ke dua) . Kemerosotan ini terkesan hanya karena mereka berpenghasilan jauh di bawah rata-rata dari kalangan profesional lainya.

Wibawa gurupun kian jatuh di mata murid, khususnya murid-murid sekolah menengah, di kota-kota pada umumnya cenderung menghormati guru karena ada sesuatu. Mereka ingin mendapatkan nilai tinggi dan naik kelas dengan peringkat tinggi tanpa kerja keras. Sikap dan perilaku masyarakat demikian memang tidak sepenuhnya tanpa alasan yang bersumber dari guru. Ada sebagian guru yang berpenampilan tidak mendidik. Ada yang memberi hukuman badan (corporal punishment) di luar batas norma kependidikan, dan ada juga guru pria yang melakukan pelecehan seksual terhadap murid-murid perempuanya.

Saat ini yang sedang terjadi adalah kerendahan tingkat kompetensi professionalisme guru. Penguasaan guru terhadap materi dan metode pengajaran masih berada di bawah standar (Syah 1988). Ada dua hasil penelitian resmi yang menunjukan kekurang mampuan guru, khususnya guru sekolah dasar, hasil penelitian Badan Litbang Depdikbud RI menyimpulkan bahwa kemampuan membaca siswa kelas VI SD di Indonesia masih rendah. Bahwa 76,95% siswa kelas VI SD tidak dapat menggunakan kamus.Yang mampu menggunakan kamus hanya 5 % secara sistematis dan benar.

Bukti lainnya adalah sebagian guru kita juga ditunjukan oleh hasil penelitian psikologi yang melibatkan responden sebanyak 1975 siswa SD negri dan swasta di Jakarta. Kesimpulanya bahwa guru di sekolah “ sekolah dasar tersebut tidak bisa

(2)

diantara guru yang mengalami kelainan psikis keguruan yang di kenal sebagai teacher burnout berupa stress dan frustasi yang di tandai dengan banyak murung dan gampang marah (Barlow,1985),Tardif,1989). Boleh jadi, karena guru bornout (pemadaman guru) inilah maka sebagian oknum guru kita yang tak kuat iman, berbuat di luar batas norma edukatif dan norma susila seperti diatas.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Tata Cara Pembelajaran di zaman dulu dan sekarang jelas berbeda bisa dilihat dari cara guru mengajar di zaman dulu yang keras hingga sekarang yang ramah. Selain itu juga bisa dilihat jika dulu gurulah yang menjadi pusat informasi dan siswa yang menerimanya, jauh dari zaman sekarang dimana guru hanya menjadi fasilitator untuk membantu siswanya dalam proses belajar dan siswa mulai di ajarkan untuk mencari informasi secara individual. Diantara berbagai faktor-faktor dalam mendukung pembelajaran, media dalam proses belajar sudah pasti telah menjadi faktor yang sangat penting. Hal ini terjadi jelas karena kemajuan zaman yang serba teknologi ini menyebabkan segala informasi menjadi lebih mudah tuk didapatkan. Ada 5 perbedaan guru dahulu dan sekarang yaitu :

1. Cara Mengajar

Cara mengajar yang diterapkan oleh guru zaman dulu umumnya adalah dengan menggunakan penjelasan yang bertele-tele, yang sepertinya setiap kata yang ada di buku itu dibaca. Dengan metode ini, pengetahuan yang diterima siswa hanya bersumber dari sang guru saja. Sedangkan guru zaman sekarang lebih sering hanya menjelaskan secara singkat materinya, lalu mempersilahkan para siswa untuk bertanya apabila ada kesulitan. Dengan cara ini, siswa jadi terpacu untuk mengembangkan pengetahuannya di luar sekolah. Misalnya dengan browsing di Internet, mengikuti kursus, dan lain sebagainya. Pengetahuan yang didapat pun akan semakin banyak

2. Cara Menasihati Siswa

Cara menasihati siswa yang dilakukan oleh guru-guru zaman dulu adalah dengan kalimat- kalimat yang biasanya kasar. Seperti menyinggung kondisi ekonomi keluarganya, penampilannya, dan lain sebagainya. Hal ini akan membuat para siswa saat itu menjadi berfikir keras agar tidak akan diledek oleh guru-guru mereka. Perlakuan berbeda dilakukan guru zaman sekarang. Mereka biasanya menasihati para murid hanya dengan nasihat-nasihat yang halus dan tidak sampai menyinggung perasaan murid tersebut. Cara ini kurang efektif karena murid kadang-kadang hanya mendengarkan di telinga kanan dan keluar di telinga kiri.

3. Cara Berinteraksi Diluar Kelas

Guru-guru zaman dulu dengan gaya mengajarnya kaku, diluar kelas apabila disapa oleh murid nya, mereka hanya tersenyum lalu berlalu begitu saja. Karena dalam diri mereka, ada suatu doktrin yang menjelaskan bahwa ada garis pemisah antara guru dan murid. Jadi, sang murid harus sangat menghormati gurunya. Sedangkan guru zaman sekarang lebih luwes dalam berinteraksi diluar kelas. Misalkan saja ada murid-muridnya yang menyapa, mereka akan tersenyum lepas dan kadang-kadang justru bercanda dengan murid-muridnya itu. Seakan akan tidak ada garis batas antara murid dan guru. Guru pun bisa dijadikan tempat untuk mencurahkan segala isi hati kita (curhat) tentang sekolah maupun kehidupan sehari-hari kita.

4. Penggunaan Teknologi

Ketika zaman dulu, yang mana saat itu teknologi belum secanggih sekarang ini, seorang guru apabila ingin menjelaskan materinya, hanya dengan menggunakan kapur dan papan tulis kayu saja. Atau bila dengan alat bantu, paling jauh hanya menggunakan peta untuk pelajaran geografi. Hal yang sangat berbeda dilakukan oleh guru zaman sekarang. Guru sekarang lebih senang menuliskan materi ajarnya di sebuah file presentasi yang nanti hasilnya bisa ditampilkan di layar menggunakan LCD proyektor. Disamping lebih praktis, cara ini bisa membantu para siswa untuk mengetahui lebih detail suatu gambar/objek/benda.

5. Pemberian Nilai

(3)

diajarkan guru tersebut. Sehingga dengan cara itu, nilai siswa benar-benar asli sesuai dengan kenyataan yang ada pada siswa tersebut. Berbeda dengan guru zaman sekarang. Kebanyakan guru zaman sekarang hanya mengisi kolom nilai seorang murid hanya dari hasil rata-rata ulangan ditambah tugas, dan keaktifannya dalam bertanya ataupun menjawab. Sehingga tidak jarang nilai yang muncul di rapor tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya dari murid tersebut.

2.2 Arti Guru Di Masa Mendatang

Guru diartikan sebagai orang yang pekerjaanya mengajar. McLeod, (1989) berasumsi guru adalah seseorang yang pekerjaanya mengajar orang lain. Kata mengajar dapat kita tafsirkan misalnya :

1. Menularkan pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain (bersifat kognitif).

2. Melatih ketrampilan jasmani kepada orang lain (psikomotorik)

3. Menanamkan nilai dan keyakinan kepada orang lain (afektip)

Jadi pengertian guru adalah tenaga pendidik yang pekerjaanya utamanya mengajar (UUSPN tahun 1989 Bab VII pasal 27 ayat 3). Dalam perspektif psikologi pendidikan, mengajar pada prinsipnya berarti proses perbuatan seseorang (guru) yang membuat orang lain (siswa) belajar, dalam arti mengubah seluruh dimensi perilakunya.

Jadi pada hakekatnya mengajar itu sama dengan mendidik. Karena itu tidaklah heran bila sehari-harinya sebagai pengajar lazim juga disebut pendidik.

Guru menurut pasal 35 PP 38/1992 diperkenankan bekerja di luar tugasnya untuk memperoleh penghasilan tambahan sepanjang tidak mengganggu tugas utamanya. Kebolehan mengerjakan tugas lainya memberi kesan berkurangnya derajat profesional keguruan, para guru walaupun tidak mengganggu tugas utama mereka sebagai pengajar, apalagi jika mengingat tidak tegasnya batasan tidak mengganggu tugas utama.

Hal lain adalah sarjana non keguruan boleh menjadi guru asal mempunyai Akta mengajar. Akta ini dikeluarkan oleh LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) dan program akta pada fakultas tarbiyah untuk menjadi guru agama. Jadi seorang sarjana tehnik bisa menjadi guru. Konotasinya, semua sarjana non kependidikan boleh mengajar.

Tidak ada keharusan memiliki pengalaman pendidikan dan ijazah sarjana keguruan misalnya dari IKIP dan fakultas tarbiyah. Kita memang tak perlu berburuk sangka. Namun yang perlu diwaspadai adalah kekurang mampuan mereka mengelola PBM, mengingat di perlukan waktu 5 tahun untk memperoleh SI untuk belajar dan berlatih mengelola PBM.

Selain itu kenyataan di lapangan menunjukan bahwa out put LPTK seperti yang diakui oleh Mendikbud RI, belum

memuaskan, terbukti dengan tidak sesuainya guru bidang studi dan rendahnya kualitas PBM, juga masih rendahnya kualitas dosen pengelola LPTK itu sendiri.

Idealnya seorang yang memiliki bakat untuk menjadi guru terlebih dahulu menempuh pendidikan formal keguruan selama kurun waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan institusi kependidikan yang akan menjadi tempat kerjanya. Selain itu ragam mata kuliah yang dipelajari juga harus lebih spesifik dan berorientasi pada kompetensi dan profesionalisme keguruan yang memadai.

(4)

Guru Indonesia masa depan harus mampu menguasai internet serta siap mengaplikasikannya baik dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari. Nantinya pasti akan terasa lucu kalau ada guru yang tidak mengenal komputer dan internet. Kalau guru kita tidak mengenal internet, nanti akan makin tertinggal oleh guru-guru di negara maju. Bahkan, dengan guru-guru Malaysia yang dulu pernah berguru di Indonesia pun, guru-guru kita akan makin tertinggal.

Penguasaan internet para guru secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan nasional. Dengan menguasai internet, maka pengetahuan, ilmu, dan teknologi yang ditransfer kepada siswa akan lebih menarik, lebih cepat, dan lebih aktual.

Memang harus disadari bahwa internet bukanlah segala-galanya. Guru Indonesia masa depan memang harus menguasai internet, tetapi di sisi yang lain harus tetap memahami kultur, sikap, dan nilai keindonesiaan. Hal ini pun merupakan hal yang tidak bisa ditawar pula. Jadi, guru Indonesia masa depan adalah guru yang tetap memahami kultur, sikap, dan nilai keindonesiaan di satu sisi dan menguasai teknologi informasi di sisi lain.

Sekarang, Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Menurut Kementerian Pendidikan Republik Indonesia bahwa seseorang yang ingin menjadi guru tidaklah cukup hanya dengan ijazah S1 Pendidikan saja. Tapi harus dilengkapi dengan ijazah Pendidikan Profesi Guru.

3.2 Karakteristik Kepribadian Guru

Menurut tinjauan psikologi, kepribadian berarti sifat hakiki individu yang tercermin pada sikap dan perbuatanya yang

membedakan dirinya dari yang lain. McLeod (1989) mengartikan kepribadian (personality) sebagai sipat yang khas yang dimiliki oleh seseorang. Dalam hal ini kepribadian adalah karakter atau identitas.

Kepribadian adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seorang guru sebagai pengembang sumber daya manusia. Karena disamping sebagai pembimbing dan pembantu, guru juga berperan sebagai panutan. Mengenai pentingnya kepribadian guru,seorang psikolog terkemuka Prof. Dr Zakiah Dardjat ( 1982) menegaskan : Kepribadian itulah yang akan

menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat SD) dan mereka yang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menngah) . Secara konstitusional, guru hendaknya berkepribadian Pancasila dan UUD 45 yang beriman dan bertagwa kepada Tuhan YME, disamping itu dia harus punya keahlian yang di perlukan sebagai tenaga pengajar.

Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan guru adalah :

1. Fleksibitas Kognitif Guru

(5)

2. Keterbukaan Psikologis Pribadi

Hal lain yang menjadi faktor menentukan keberhasilan tugas guru adalah keterbukaan psikologis guru itu sendiri. Guru yang terbuka secara psikologi akan di tandai dengan kesediaanya yang relatip tinggi untuk mengkomunikasikan dirinya dengan faktor-faktor ekstern antar lain siswa, teman sejawat, dan lingkungan pendidikan tempatnya bekerja. Ia mau menerima kritik dengan ikhlas. Disamping itu ia juga memiliki emphati, yakni respon afektip terhadap pengalaman emosionalnya dan perasaan tertentu orang lain (Reber,1988). Contohnya jika seorang muridnya di ketahui sedang mengalami kemalangan, maka ia turut bersedih dan menunjukan simpati serta berusaha memberi jalan keluar.

Keterbukaan psikologis sangat penting bagi guru mengingat posisinya sebagai anutan siswa. Keterbukaan psikologis

merupakan prakondisi atau prasyarat penting yang perlu dimiliki guru untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain. Keterbukaan psikologis juga di perlukan untuk menciptakan suasana hubungan antar pribadi guru dan siswa yang harmonis, sehingga mendorong siswa untuk mengembangkan dirinya secara bebas dan tanpa ganjalan.

2.3 Hubungan Guru Dengan Proses Belajar Mengajar

Guru menurut UU no. 14 tahun 2005 “adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Para pakar pendidikan di Barat telah melakukan penelitian tentang peran guru yang harus dilakoni. Peran guru yang beragam telah diidentifikasi dan dikaji oleh Pullias dan Young (1988), Manan (1990) serta Yelon dan Weinstein (1997). Adapun peran-peran tersebut adalah sebagai berikut :

1. Guru Sebagai Pendidik

Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.

2. Guru Sebagai Pengajar

Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika factor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan terampil dalam memecahkan masalah. Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran, yaitu : Membuat ilustrasi, Mendefinisikan, Menganalisis, Mensintesis, Bertanya, Merespon, Mendengarkan, Menciptakan kepercayaan, Memberikan pandangan yang bervariasi, Menyediakan media untuk mengkaji materi standar,

Menyesuaikan metode pembelajaran, Memberikan nada perasaan. Agar pembelajaran memiliki kekuatan yang maksimal, guru-guru harus senantiasa berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat yang telah dimilikinya ketika mempelajari materi standar.

3. Guru Sebagai Pembimbing

Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental,

emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.

(6)

 Pertama, guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai.

 Kedua, guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis.

 Ketiga, guru harus memaknai kegiatan belajar.

 Keempat, guru harus melaksanakan penilaian.

4. Guru Sebagai Pelatih

Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Hal ini lebih ditekankan lagi dalam kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, karena tanpa latihan tidak akan mampu menunjukkan penguasaan kompetensi dasar dan tidak akan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan materi standar.

5. Guru Sebagai Penasehat

Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan

kebutuhan untuk membuat keputusan dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasihat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental.

6. Guru Sebagai Pembaharu (Inovator)

Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian halnya pengalaman orang tua memiliki arti lebih banyak daripada nenek kita. Seorang peserta didik yang belajar sekarang, secara psikologis berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna dan diwujudkan dalam pendidikan. Tugas guru adalah menerjemahkan kebijakan dan pengalaman yang berharga ini kedalam istilah atau bahasa moderen yang akan diterima oleh peserta didik. Sebagai jembatan antara generasi tua dan genearasi muda, yang juga penerjemah pengalaman, guru harus menjadi pribadi yang terdidik.

7. Guru Sebagai Model dan Teladan

Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk ditentang, apalagi ditolak. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru : Sikap dasar, Bicara dan gaya bicara, Kebiasaan bekerja, Sikap melalui pengalaman dan kesalahan, Pakaian, Hubungan kemanusiaan, Proses berfikir, Perilaku neurotis, Selera, Keputusan, Kesehatan, Gaya hidup secara umum perilaku guru sangat mempengaruhi peserta didik, tetapi peserta didik harus berani mengembangkan gaya hidup pribadinya sendiri. Guru yang baik adalah yang menyadari kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan apa yang ada pada dirinya, kemudian menyadari kesalahan ketika memang bersalah. Kesalahan harus diikuti dengan sikap merasa dan berusaha untuk tidak mengulanginya.

(7)

Guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Ungkapan yang sering dikemukakan adalah bahwa “guru bisa digugu dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani. Jika ada nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianutnya, maka dengan cara yang tepat disikapi sehingga tidak terjadi benturan nilai antara guru dan masyarakat yang berakibat terganggunya proses pendidikan bagi peserta didik. Guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melalui kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olah raga, keagamaan dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima oleh masyarakat.

9. Guru Sebagai Peneliti

Pembelajaran merupakan seni, yang dalam pelaksanaannya memerlukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi lingkungan. Untuk itu diperlukan berbagai penelitian, yang didalamnya melibatkan guru. Oleh karena itu guru adalah seorang pencari atau peneliti. Menyadari akan kekurangannya guru berusaha mencari apa yang belum diketahui untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas. Sebagai orang yang telah mengenal metodologi tentunya ia tahu pula apa yang harus dikerjakan, yakni penelitian.

10. Guru Sebagai Pendorong Kreatifitas

Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreatifitas tersebut. Kreatifitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan cirri aspek dunia kehidupan di sekitar kita. Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu. Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan menilaianya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu secara rutin saja. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya.

11. Guru Sebagai Pembangkit Pandangan

Dunia ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan kepada pesarta didiknya. Mengembangkan fungsi ini guru harus terampil dalam berkomunikasi dengan peserta didik di segala umur, sehingga setiap langkah dari proses pendidikan yang dikelolanya dilaksanakan untuk menunjang fungsi ini.

12. Guru Sebagai Pekerja Rutin

Guru bekerja dengan keterampilan dan kebiasaan tertentu, serta kegiatan rutin yang amat diperlukan dan seringkali

memberatkan. Jika kegiatan tersebut tidak dikerjakan dengan baik, maka bisa mengurangi atau merusak keefektifan guru pada semua peranannya.

13. Guru Sebagai Pemindah Kemah

(8)

14. Guru Sebagai Pembawa Cerita

Sudah menjadi sifat manusia untuk mengenal diri dan menanyakan keberadaannya serta bagaimana berhubungan dengan keberadaannya itu. Tidak mungkin bagi manusia hanya muncul dalam lingkungannya dan berhubungan dengan lingkungan, tanpa mengetahui asal usulnya. Semua itu diperoleh melalui cerita. Guru tidak takut menjadi alat untuk menyampaikan cerita-cerita tentang kehidupan, karena ia tahu sepenuhnya bahwa cerita itu sangat bermanfaat bagi manusia. Cerita adalah cermin yang bagus dan merupakan tongkat pengukur. Dengan cerita manusia bisa mengamati bagaimana memecahkan masalah yang sama dengan yang dihadapinya, menemukan gagasan dan kehidupan yang nampak diperlukan oleh manusia lain, yang bisa disesuaikan dengan kehidupan mereka. Guru berusaha mencari cerita untuk membangkitkan gagasan kehidupan di masa mendatang.

15. Guru Sebagai Aktor

Sebagai seorang aktor, guru melakukan penelitian tidak terbatas pada materi yang harus ditransferkan, melainkan juga tentang kepribadian manusia sehingga mampu memahami respon-respon pendengarnya, dan merencanakan kembali pekerjaannya sehingga dapat dikontrol. Sebagai aktor, guru berangkat dengan jiwa pengabdian dan inspirasi yang dalam yang akan mengarahkan

kegiatannya. Tahun demi tahun sang actor berusaha mengurangi respon bosan dan berusaha meningkatkan minat para pendengar.

16. Guru Sebagai Emansipator

Dengan kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insane dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan “budak” stagnasi kebudayaan. Guru mengetahui bahwa pengalaman, pengakuan dan dorongan seringkali membebaskan peserta didik dari “self image” yang tidak menyenangkan, kebodohan dan dari perasaan tertolak dan rendah diri. Guru telah melaksanakan peran sebagai emansipator ketika peserta didik yang dicampakkan secara moril dan mengalami berbagai kesulitan dibangkitkan kembali menjadi pribadi yang percaya diri.

17. Guru Sebagai Evaluator

Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variable lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Teknik apapun yang dipilih, dalam penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Penilaian harus adil dan objektif.

18. Guru Sebagai Pengawet

Salah satu tugas guru adalah mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi berikutnya, karena hasil karya manusia terdahulu masih banyak yang bermakna bagi kehidupan manusia sekarang maupun di masa depan. Sarana pengawet terhadap apa yang telah dicapai manusia terdahulu adalah kurikulum. Guru juga harus mempunyai sikap positif terhadap apa yang akan diawetkan.

19. Guru Sebagai Kulminator

Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bisa mengetahui kemajuan belajarnya. Di sini peran kulminator terpadu dengan peran sebagai evaluator. Guru sejatinya adalah seorang pribadi yang harus serba bisa dan serba tahu. Serta mampu mentransferkan kebisaan dan pengetahuan pada muridnya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan dan potensi anak didik.

(9)

Dia harus menyadari bahwa di masyarakat harus ada yang menjalani peran guru. Bila tidak, maka suatu masyarakat tidak akan terbangun dengan utuh. Penuh ketimpangan dan akhirnya masyarakat tersebut bergerak menuju kehancuran.

Suardiman (1988:6) mengemukakan bahwa ada tiga elemen yang menjadi pusat perhatian dalam pendidikan yang juga menjadi pusat perhatian oleh para ahli psikologi pendidikan dan para guru, yaitu anak didik, proses belajar, dan sekilas" belajar. Ketiga elemen ini saling berkaitan selalu sama lain.

Peserta didik merupakan elemen yang terpenting diantara elemen yang lain (termasuk elemen situasi belajar dan elemen proses belajar). Ini bukan berarti bahwa faktor manusia (peserta didik) lebih penting dari faktor proses belajar dan situasi belajar, tetapi yang jelas tanpa hadirny faktor peserta didik tidak mungkin akan terjadi peristiwa belajar atau interaksi belajar mengajar dalam lembaga pendidikan formal, non formal, dan informal. Tanpa kehadiran peserta didik di kelas di suatu lembaga pendidikan tidak mungkin akan ada proses pembelajaran karena peserta didik merupakan objek dari proses pendidikan dan pembelajaran di kelas. Peserta didik diibaratkan seperti pembeli dalam suatu proses penjualan pasar yang akan membeli (menerima) ilmu pengetahua dari guru sebagai transformator pengetahuan (penjual kepada peserta didik yang berperan sebagai manusia yan belum dewasa untuk didewasakan.

Proses pembelajaran sebagai elemen yang menjadi pusat perhatian dari psikologi pendidikan, merupakan elemen penentu keberhasilan proses pendidikan. Tanpa ada interaksi yang timbal balik antara guru sebagai pendidik, dan pengajar dengan peserta didik sebagai objek yang dididik dan diajar tidak mungkin akan terjadi proses ; pembelajaran di kelas atau di tempat belajar tertentu. . Melalui proses pembelajaran yang interaktif antara guru dan peserta didik akan terjadi perubahan perilaku kepada peserta didik yang ditandai dengan gejala peserta didik menjadi tahu terhadap materi pelajaran yang dipelajarinya dari tidak tahu pada waktu sebelum mempelajari materi pelajaran tertentu. Gejala lain dari terjadinya perubahan perilaku pada peserta didik, yaitu peserta didik memperoleh keterampilan tertentu seperti keterampilan dalam berbicara, berdiskusi, bergaul dan berteman, dan keterampilan lain yang membutuhkan aktivitas sensorik dan motorik dan perubahan dari aspek sikap (afektif), yaitu dari bersikap kurang baik atau kurang positif terhadap guru, orangtua, masyarakat, dan pihak terkait lainnya menjadi bersikap positif terhadap pihak-pihak tersebut sebagai buah atau hasil dari proses pendidikan yang berkualitas. Perubahan dari segi perilaku yang lain berupa perilaku peserta didik dari tidak disiplin dalam hidup menjadi disiplin (termasuk disiplin dalam melakukan aktivitas belajar), dari penampilan dalam berpakaian tidak rapi menjadi rapi dan bersih, dari beperilaku kurang santun menjadi sopan dan santun, dan berbagai aspek

pengetahuan (kognitif), afektif (sikap), dan keterampilan (psikomotorik) sebagai buah dari hasil proses pendidikan dan pembelajaran di setting (tempat) belajar.

Slameto (1988:68) menyatakan bahwa agar proses pembelajaran di kelas dapat maksimal dan optimal, maka hubungan antara guru dengan peserta didik dan hubungan peserta didik dengan sesama peserta didik yang lain harus timbal balik dan komunikatif satu sama lainnya. Proses pembelajaran hanya dapat terjadi jika antara guru dengan siswa terjadi komunikasi dan interaksi timbal balik yang edukatif.

Jadi proses pembelajaran di kelas dipengaruhi oleh hubungan yang ada dalam proses pembelajaran itu sendiri. Jadi cara belajar siswa juga dipengaruhi oleh relasi siswa dengan gurunya. Hubungan guru dengan siswa sebagai peserta didik yang tercipta dengan baik, maka siswa akan senang kepada gurunya dan juga akan menyukai materi pelajaran yang diajarkan oleh gurunya sehingga siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan baik. Sebaliknya, jika hubungan guru dengan siswa kurang komunikatif dan harmonis, siswa akan membenci atau tidak senang kepada gurun dan menyebabkan siswa tidak senang menerima pelajar dari guru tersebut, akibatnya siswa tidak sukses bela dalam mata pelajaran tersebut. Guru yang kurang komunikatif dan edukatif dalam berinteraksi dengan siswanya, akan menyebabkan proses pembelajaran di kelas berjalan tidak optimal dan maksim. Selain itu, siswa akan menjauhkan diri dari guru sehing siswa tersebut tidak dapat aktif dalam mengikuti probelajar mengajar di kelas.

(10)

Guru merupakan satu faktor dalam situasi belajar di samping situasi udara, penerangan, komposi tempat duduk, dan sebagainya (Suardiman, 1988:7). Sikap guru, semangat kelas, sikap masyarakat, dan suasana perasaan di sekolah juga merupakan faktor yang mempengaruhi situasi belajar di tempat belajar yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas proses dan hasil pembelajaran.

Untuk dapat menjadi guru yang profesional dalam mendidik dan mengajar peserta didik melalui proses ruang pembelajaran di kelas, maka selain harus memperhatikan ketiga elemen pokok yang menjadi pusat perhatian dari psikologi pendidikan tersebut di atas, juga harus memperhatikan dan menguasai pengetahuan tentang didaktik metodik pengajaran dan hall lain yang terkait dengan masalah peserta didik. Pengetahuan didaktik metodik pengajaran dan hal lain yang terkait dengan masalah peserta didik, misalnya pengetahuan tentang gejala aktivitas umum jiwa peserta didik, kepribadian, inteligensi, dan bakat peserta didik, perkembangan anak dan perkembangan remaja sebagai subjek didik, belajar dan permasalahannya, teori-teori belajar, interaksi belajar mengajar di kelas dan permasalahannya, keterkaitan perilaku guru terhadap dinamika kelas, pembinaan disiplin di dalam kelas, motivasi belajar dan permasalahannya, strategi belajar mengajar manajemen kelas untuk interaksi belajar mengajar, dan masalah-masalah khusus dalam pendidikan dan pengajaran.

PEMBIASAAN PERILAKU RESPON, TEORI PENDEKATAN KOGNITIF, PROSES DAN FASE BELAJAR A. Pembiasan Perilaku Respon

Teori Pembiasaan Perilaku Respons (Operant Conditioning) merupakan teori berusia paling muda dan masih sangat berpengaruh di kalangan para ahli Psikologi belajar masa kini, teori ini adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat. Respon dalam Operant Conditioing terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respon tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya (reinforcer).

Dalam pandangan Psikologi perilaku yang dimotori teoriwan Paplov, Thorndike, dan Skinner, stimulus merupakan penyebab pokok terbentuknyarespons-respons dalam belajar. Stimulus yang dimaksud yaitu pembiasan perilaku respon yang dibentuk melalui pengubahan materi bahasan sedemikian rupa sehingga dapat merangsang pembelajar mengembangkan perilaku seperti yang dikehendaki dalam tujuan belajar. Sebagai pengembangan dan konsepsi pembiasan klasik (classical conditioning) yang mengabaikan jarak antara stimulus (S) dengan respons (R), pembiasan perilaku respons sesungguhnya merupakan sinyal-sinyal penggerak pikiran dan dipandang sebagai mediator dari apa yang diingikan pemberi stimulus dengan harapan penerima mengembangkan reaksi pikiran dan tindaka tertentu (Travers, 1982:18)

Dari sejumlah teori belajar perilaku yang menonjol tampak adanya kesamaan pandangan bahwa stimulus, baik yang terkondisi maupun yang terbuka, dipandang sebagai penggerak awal tindakan belajar yang mendekati salah satu di antara titik-ti belajartik dalam garis kontinum antara kesukarelaan menuju ke arah pemaksaan dalam belajar. Itulah sebabnya, maka sejalan dengan perkembangan teori-teori motivasi dan evaluasi yang kemudian dimanfaatkan para ahli dan praktisi pendidikanuntuk menjalankan profesinya.

Pemberian stimulus-respons-penguatan sebagai satuan-satuan bahasan yang berdiri sendiri, tetapi berkaitan satu sama lain dengan menggunakan pola jenjang bersyarat Biehler dan Snowan (1982). Sebagai bentuk pengajaran yang sengaja

dirancang untuk memberikan kemudahan belajar menurut percepatan lama kerja individu, Skinner mempreskripsikan agar bahan-bahan belajar hendaknya berisikan seperangkat langkah-langkh pendek yang setiap langkahnya memerlukan aktifitas respons dari pembelajar dan setiap respons harus disiapkan balikan segerannya untuk mengetahui keakuratan respons yang ada.

Untuk mengefektifkan aktivitas pembelajar, Skinner selanjutnya mempreskripsikan empat teorema pembelajar sebagai berikut.

Pertama, peran pendidikan hakikatnya adalah menciptakan kondisi agar hanya tingkah laku yang diinginkan sajayang diberi penguatan.

(11)

Ketiga, yang mempreskripsikan agar para pembelajar membuat catatan kemajuan anak didiknya sehingga dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian program yang mereka perlukan dikemudian hari.

Keempat, memperskripsikan agar pembelajar membuat rekomendasi tentang tugas-tugas belajar mana yang seharusnya dicoba dahulu, sebagaimana cara belajarnya, serta hasil-hasil apa saja yang diharapkan dengan keseluruhan aktivitas yang

diprogramkan itu.

B. Teori Pendekatan Kognitif a. Aliran Kognitif

Teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses beljar daripada hasil belajar itu sendiri. Bagi penganut aliran ini, belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Namun lebih dari itu, belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.

Pada masa-masa awal diperkenalkannya teori ini, para ahli mencoba menjelaskan bagaimana siswa mengolah stimulus, dan bagaimana siswa tersebut dapat sampai ke respons tertentu (pengaruh aliran tingkah laku masih terlihat di sini). Namun, lambat laun perhatian ini mulai bergeser. Saat ini perhatiaan mereka terpusat pada proses bagaimana suatu ilmu yang baru berasimilasi dengan ilmu yang sebelumnya telah dikuasai oleh siswa.

Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah, tetapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung, menyeluruh. Dalam praktik, teori ini antara lain terwujud dalam “tahap-tahap perkembangan” yang diusulkan oleh Jean Piaget, “belajar bermakna” nya Ausubel, dan “belajar penemuan secara bebas” oleh Jerome Bruner. 1. Piaget

Menurut Jean Piaget (1975) salah seorang penganut aliran kognitif yang kuat, bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni (1) asimilasi, (2) akomodasi, dan (3) equilibrasi (penyeimbangan). Proses asimilasi adalah proses penyatuaan (pengintegrasiaan) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Equilibrasi adalah penyesuaian berkeseinambungan antara asimilasi dan akomodasi.

Bagi seseorang yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dibenak siswa) dengan prinsip perkalian (sebagai informasi baru), inilah yang disebut proses asimilasi. Jika seseorang diberi sebuah soal perkalian, maka situasi ini disebut akomodasi, yang berarti dalam pemakaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik. Agar seseorang tersebut dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan menjaga stabilitas mental dalam dirinya, diperlukan proses penyeimbangan. Proses inilah yang disebut equilibrasi proses penyeimbangan antara “dunia luar” dan “dunia dalam”. Tanpa proses ini, perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tak teratur (disorganized).

Dalam hal ini, dua orang yang mempunyai jumlah informasi yang sama di otaknya mungkin mempunyai kemampuan equilibrasi yang berbeda. Seseorang dengan kemampuan equilibrasi yang baik akan mampu “ menata” berbagai informasi ini dalam urutan yang baik, jernih, dan logis. Sedangkan rekannya yang tidak memiliki kemampuan equilibrasi sebaik itu akan cenderung menyimpan semua informasi yang ada secara kurang teratur, karena itu orang cenderung mempunyai alur berpikir ruwet, tidak logis, dan berbelit-belit.

(12)

Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensori motor tentu lain dengan yang dialami seorang anak yang sudah mencapai tahap kedua (praoperasional) dan lain lagi yang dialami siswa lain yang telah sampai ke tahap yang lebih tinggi (operasional konkret dan operasional formal). Secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif seseorang semakin teratur (dan juga semakin abstrak) cara berpikirnya. Dalam kaitan ini seorang guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangananak didiknya ini, serta memberikan materi belajar dalam jumlah dan jenis yang sesuai dengan tahap-tahap tersebut.

Guru yang mengajar, tetapi tidak menghiraukan tahapan-tahapan ini akan cenderung menyulitkan para siswanya. Misalnya saja, mengajarkan konsep abstraktentang matematika kepada sekelompok siswa kelas dua SD, tanpa adanya usaha untuk “mengkonkretkan” konsep tersebut. Tidak hanya akan percuma, tetapi justru akan lebih membingungkan para siswa itu. 2. Ausubel

Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut “pengatur kemajuan (belajar)” (Advance organizers) didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa. Pengatur kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi/mencakup semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa.

Ausubel percaya bahwa “advance organizers) dapat memberikan tiga macam manfaat, yakni 1. Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari oleh siswa.

2. Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari siswa “saat ini” dengan apa yang “akan” dipelajari siswa

3. Mampu membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah. 3. Bruner

Bruner mengusulkan teorinya yang disebut free discovery learning. Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru member kesempatan kepaada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarkan aturan yang menjadi sumbernya. Dengan kata lain, siswa dibimbing untuk memahami suatu kebenaran umum. Untuk memahami konsep kejujuran, misalnya, siswa pertama-tama tidak menghafal definisi kata kejujuran, tetapi mempelajari contoh-contoh konkret tentang kejujuran. Dari contoh-contoh itulah siswa dibimbing untuk mendefinisikan kata “kejujuran”.

Lawan dari pendekatan ini disebut “belajar ekspositori” (belajar dengan cara menjelaskan). Dalam hal ini, siswa disodori sebuah informasi umum dan diminta untuk menjelaskan informasi ini melalui contoh-contoh umum dan konkret. Dalam contoh diatas, maka siswa pertama-tama diberi definisi tentang kejujuran, dan dari definisi itulah siswa diminta untuk mencari contoh-contoh konkret yang dapat menggambarkan makna kata tersebut.

Brunner juga mengemukakan perlunya ada teori pembelajaran yang akan menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif dikelas. Menurut pandangan Brunner bahwa teori belajar itu bersifat deskriftif, sedangkan teori pembelajaran itu bersifat preskriftif. Misalnya, teori belajar memprediksikan berapa usia maksimum seorang anak untuk belajar penjumlahan, sedngakan teori pembelajaran menguraikan bagaimana cara-cara mengajarkan penjumlahan.

b. Pendekatan Kognitif (Kognitif Approach)

(13)

Brunner (1975) mendeskripsikan pembelajaran hendaknya dapat menciptakan situasi agar mahasiswa dapat belajar dari diri sendiri melalui pengalaman dan eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan baru yang khas baginya. Sedangkan Ausubel (1978) mempreskripsikan agar pembelajar dapat mengembangkan situasi belajar, memilih dan

menstrukturkan isi, serta menginformasikannya dalam bentuk sajian pembelajar yang terorganisasi dari umum menuju ke rinci dalam satu satuan bahasan yang bermakna.

Dalam pandangan psikologi kognitif, peran guru atau dosen menjadi semakin menentukan apabila perbedaan variabel karakter individu dihargai dalam bentuk penyajian pola struktur kegiatan belajar mengajar. Penyajian pola struktur kegiatan yang bervariasi pada saat yang bersamaan juga pernah dicobakan di lapangan dengan berpijak pada teorema Bruner tentang pembelajaran yang berorientasi pada kerja kognitif tingkat tinggi. Hasil uji model pembelajaran pemecahan masalah yang dikembangkan berdasarkan teorema Brunner (Suharsono, 1991) menunjukkan adanya kesetaraan tingkat keefektifan berbagai macam variasi pola pembelajaran, sepanjang kapasitas dan tingkat kemampuan awal siswa atau mahasiswa tidak berbeda secara signifikan.

Masalah yang sering muncul pada tahapan aplikasi teori-teori kognitif dibidang pembelajaran adalah dalam kaitannya dengan pengorganisasian isi pesan atau bahan belajar dan penstrukkturan kegiatan belajar mengajar. Hali ini bisa dimengerti mengingat bahwa penelitian dan pengembangan paket-paket program pembelajaran pada berbagai jenis cabang ilmu disiplin keilmuan dan keahlian ternyata tidak menunjukkan hasil yang konsisten. Salah satu faktor yang dominan pengaruhnya terhadap variasi keefektifan pembelajaran adalah struktur bangunan disiplin ilmu yang dipelajari (Scandura, 1984).

Sehubungan dengan adanya kenyataan empiris tersebut, maka teori dan teorema kognitif yang ada bisa saja digunakan sebagai acuan umum bagi setiap jenis cabang disiplin keilmuan. Namun, kemungkinan dapat terjadi bahwa keefektifan penerapannya pada level kesulitan dan jenis kemampuan pada suatu bidang studi berbeda dengan bidang studi lainnya. Oleh karena itu, cara yang dipandang efektif untuk meningkatkan kualitas output pendidikan dari sudut pandang psikologi kognitif adalah pengembangan program-program pembelajaran yang dapat mengoptimalkan keterlibatan mental intelektual pembelajar pada setiap jenjang belajar. Sebagaimana direkomendasikan Merrril (1983: 286), jenjang tersebut bergerak dari tahapan mengingat, dilanjutkan ke menerapkan, sampai pada tahap penemuan konsep, prosedur atau prinsip baru dibidang disiplin keilmuan atau keahlian yang sedang dipelajari.

C. Proses dan Fase Belajar 1. Definisi Proses Belajar

Proses adalah kata yang berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”. Kata ini mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Menurut Chaplin (1972), proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan.

Belajar menurut Harold Spears (1955.p 94) belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sendiri tentang sesuatu, mendengarkan, mengikuti petunjuk, aktifitas yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada dirinya.

Jadi, proses belajar adalah tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju dari keadaan sebelumnya.

 Proses belajar dibedakan berdasarkan proses terjadinya, terbagi menjadi :

» Pendapat I yakin proses belajar terjadi karena ada reinforcement sebagai motivasi siswa agar terjadi perubahan tingkah laku (behaviorisme), proses belajar terjadi sesuai tingkat perkembangan biologis seseorang (maturasionisme).

» Pendapat ke II yakin proses belajar terjadi karena bentukan kita sendiri (selfcontructions).

(14)

a. Proses Belajar Menurut Para Ahli

Menurut Jerome S. Bruner, salah seorang penentang teori S.R Bond dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga episode atau fase, antara lain :

1. Fase informasi (tahap penerimaan materi)

2. Fase transformasi (tahap pengubahan materi)

3. Fase evaluasi (tahap penilaian materi)

Menurut Wittig (1981) dalam bukunya psychology of learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam 3 tahapan, antara lain :

1. Actuation (tahap perolehan/penerimaan informasi)

2. Storage (tahap penyimpanan informasi)

3. Retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi)

b. Secara Spikologis

Pada umumnya ada 8 fase dalam belajar, dan pada masing-masing fase itu terjadi proses-proses. 1. Fase Motivasi

Timbulnya motivasi (dorongan belajar) dalam diri mahasiswa. Ada dua jenis motivasi, yaitu: (1). Motivasi Intrinsik

Dorongan yang timbul dalam diri mahasiswa, karena stimulus (rangsangan) dari dalam dirinya sendiri. Stimulus itu antara lain minat, bakat, cita-cita, kepuasan melakukan sesuatu dengan berhasil.

(2). Motivasi Ekstrinsik

Dorongan yang timbul dalam diri seseorang, karena stimulus dari luar, seperti penghargaan atas kinerja, pujian, atau upah yang diberikan pihak lain.

Kedua motivasi itu sangat penting dalam belajar, tetapi motivasi intrinsik yang paling penting. Apabila motivasi sudah timbul dalam diri seseorang, proses keinginan untuk belajar sudah terjadi.

2. Fase Pemerhatian

Pemerhatian atau perhatian pada materi pengajaran yang sedang (akan segera) disajikan. Ini timbul dengan baik setelah ada motivasi.

Ada tiga proses yang terjadi : (1). Proses memperhatikan

(2). Proses menanggapi (memasukkan kedalam persepsi) (3). Proses memahami.

Kuat-lemahnya proses-proses itu banyak bergantung pada cara penyajian materi, situasi belajar pengajar, dan motivasi dimaksud diatas.

3. Fase Pemerolehan

Pemerolehan : Proses memahami (memeroleh) arti materi, dan memasukkannya kedalam ingatan jangka pendek (short-term memory), dan dari sana akan disimpan dalam ingatan jangka panjang(long-(short-term memory). Proses ini disebut juga

(15)

Apa yang sudah dipahami dan dimasukkan kedalam ingatan jangka pendek dimasukkan dalam ingatan jangka panjang kemudian, dan disimpan disana dalam jangka waktu yang lama.

5. Fase Pengingatan

Pengingatan : Proses mengingat kembali apa yang telah dipelajari (disimpan dalam ingatan jangka panjang) Pengingatan terjadi apabila ada tuntutan dari luar, misalnya, pertanyaan atau masalah yang dihadapi. pendidik berperan penting dalam meningkatkan kemampuan (Kecepatan dan ketepatan) peserta didik dalam pengingatan. Proses yang terjadi dalam pengingatan disebut juga pelepasan lambang (decoding).

6. Fase Generalisasi

Generalisasi : Proses mengingat dan mempergunakan apa yang telah dipelajari. Dari segi bahasa, pada fase ini mahasiswa dapat menyatakan apa yang telah dipelajarinya dengan kata-kata (bahasa) sendiri secara baik . Fase inilah

sesungguhnya tujuan akhir belajar. Kemampuan Generalisasi adalah indikator mutu pemahaman peserta didik tentang materi. Pada fase ini juga berkembang daya kritis dan berpikir mandiri. Fase ini disebut juga transfer (pengetahuan sudah menjadi milik mahasiswa).

7. Fase Kinerja

Ini adalah proses dimana peserta didik membuktikan pemahamannya tentang materi melalui perbuatan (kinerja), seperti jawabannya atas pertanyaan dalam ujian, atau sikapnya dalam menghadapi masalah.

8. Fase Umpan Balik

Fase ini sesungguhnya sejalan dengan fase kinerja, karena dari kinerja diperoleh juga umpan balik. Dalam fase ini peserta didik mengetahui tingkat pemahamanya tentang materi dari kinerjanya sendiri, dalam arti hasil yang diperoleh dari kinerja kerja itu, seperti nilai ujian, respon yang diberikan dosen, dll.

Umpan balik berguna untuk peningkatan (perbaikan) mutu. Dari umpan balik dapat diketahui apa yang harus diperbaiki.

Urutan fase – fase diatas adalah yang umum (standar). Tetapi dapat juga terjadi bahwa urutan itu tidak diikuti, misalnya langsung ke fase pemerhatian atau pemerolehan. Perubahan ini dapat terjadi terutama karena situasi belajar mengajar yang dihadapi, termasuk cara – cara penyajian materi oleh peserta didik. Tetapi bagaimanapun, fase – fase tersebut perlu diperhatikan.

(16)

1.1 Pengertian Evaluasi dan Prestasi Belajar

Menurut Bloomet, al (1971) evaluasi dan prestasi belajar yaitu Evaluasi sebagaimana kita lihat, adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa. Sedangkan padanan kata evaluasi adalah assessment yang menurut Tardif (1989) berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dengan demikian selain kata evaluasi dan assement tersebut ada pula kata lain yang searti dan relatif dalam dunia pendidikan yakni tes, ujian, dan ulangan. Dan istilah THB (Tes hasil belajar) dan TPB (Tes prestasi belajar) yaitu alat-alat ukur yang banyak digunakan untuk menentukan taraf keberhasilan sebuah proses belajar mengajar atau untuk menentukan taraf keberhasilan sebuah program pengajaran.

Sementara itu, istilah evaluasi biasanya digunakan untuk menilai pembelajaran dan rajin serta aktifnya atas segala aktifitas yang di program di sekolah atau di lembaga-lembaga yang menjadi kegiatan para siswa sebelum atau sesudah akhir jenjang pendidikan, seperti evaluasi belajar tahap akhir dan evaluasi belajar tahap akhir nasional (EBTA dan EBTANAS). Dan juga penentuan segi-segi yang dijadikan dasar dalam penilaian yang optimal, terutama sebagian dari segi tersebut tidak dapat di evaluasi dengan cara objektif langsung dari satu sisi. Akan tetapi untuk sampai pada penentuan sempurna bagi kecenderungan penilaian ini yaitu harus melakukan proses evaluasi secara global atau menilai beberapa segi dalam bentuk eksistensi

komprehensif, yang sesungguhnya dapat menyusun deskripsi siswa, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, walaupun begitu, guru yang profesional akan tetap berusaha mencari kiat evaluasi yang lugas, tuntas, dan meliputi seluruh kemampuan ranah cipta, rasa, dan kerja siswa. Yang memungkinkan untuk menentukan tingkat kemajuan pengajaran dan bagaimana berbuat baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang. Oleh karena itu kata Dr. Suharsimi Arikunto dalam bukunya Drs. H. Daryanto ia menyatakan “Kita dapat mengadakan penilaian sebelum mengadakan pengukuran, karena pengukuran adalah measurement, sedangkan penilaian adalah evaluation”. Dari data evaluation inilah diperoleh kata Indonesia yang berarti menilai, karena :

1. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran, yaitu pengukuran yang bersifat kuantitatif.

2. menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk, yaitu penilaian yang bersifat kualitatif.

3. mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai.

1.2 Tujuan dan Fungsi Evaluasi dan Prestasi Belajar

Evaluasi dan Prestasi Belajar mempunyai tujuan antara lain sebagai berikut:

1. Untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajar para siswa angka-angka yang diperoleh dicantumkan sebagai laporan kepada orang tua, untuk kenaikan kelas, dan penentuan kelulusan para siswa.

2. Untuk menempatkan para siswa ke dalam situasi belajar mengajar yang tepat dan serasi dengan tingkat kemampuan, minat, dan berbagai karakteristik yang dimiliki oleh setiap siswa.

3. Untuk mengenal latar belakang siswa (psikologis, fisik, dan lingkungan), yang berguna baik dalam hubungan dengan tujuan kedua maupun untuk menentukan sebab-sebab kesulitan belajar para siswa, yang sehingganya dapat memberikan bimbingan dan penyuluhan pendidikan guna mengatasi kesulitan yang mereka hadapi.

(17)

Disamping memiliki tujuan, evaluasi belajar juga memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :

1. Fungsi administratif untuk menyusun draft nilai dan pengisaan buku raport.

2. Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan atau kelulusan.

3. Fungsi diagnostic untuk mengidentifikasi kesulitan siswa dan merencanakan program remedial teaching (Pengajaran kebaikan).

4. Sumber data BP untuk memasukkan data siswa tertentu yang memerlukan bimbingan dan penyuluhan (BP).

5. Bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang yang meliputi pengembangan kurikulum, metode dan alat-alat PBM.

1.3 Macam – macam Evaluasi dan Prestasi Belajar

Ragam evaluasi ini, sangat penting pada prinsipnya untuk dijadikan evaluasi hasil belajar yang merupakan kegiatan berencana dan berkesinambungan, yakni mulai yang paling sederhana sampai yang paling kompleks.

Pre-test dan Post-test

Pre-test, kegiatan atau aktifitas yang dilakukan guru secara rutin pada setiap akan memulai penyajian materi baru, tujuannya adalah untuk mengindentifikasi taraf pengetahuan siswa mengenai bahan yang akan disajikan. Sedangkan Post-test, adalah kebalikan dari pre-test yakni kegiatan evaluasi yang dilakukan guru pada setiap akhir penyajian materi. Tujuannya adalah untuk mengetahui taraf penguasaan siswa atas materi yang telah diajarkan.

Evaluasi Prasyarat

Evaluasi jenis ini sangat mirip dengan pre-test. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi penguasaan siswa atas materi lama yang mendasari materi baru yang akan diajarkan.

Evaluasi Diagnostik

Evaluasi ini dilakukan setelah selesai penyajian sebuah satuan pelajaran dengan tujuan mengidentifikasi bagian-bagian tertentu yang belum dikuasai siswa, dan instrumen evaluasi jenis ini dititik beratkan pada bahasan tertentu yang dipandang sebagai jalan ketika siswa mendapatkan kesulitan.

Evaluasi Formatif

Evaluasi jenis ini dapat dipandang sebagai “Ulangan umum” yang dilakukan pada setiap akhir penyajian satuan pelajaran atau modul, tujuannya ialah untuk memperoleh umpan balik yang mirip dengan evaluasi diagnostic, yakni untuk

mendiagnosis (mengetahui penyakit/kesulitan) kesulitan belajar siswa.

Evaluasi Sumatif

(18)

Ujian Akhir Nasional (UAN)

Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dulu disebut EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) pada prinsipnya sama dengan evaluasi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kenaikan status siswa, namun UAN yang diberlakukan mulai tahun 2002 itu dirancang untuk siswa yang telah menduduki kelas tertinggi pada suatu jenjang SD/MI, SLTP/MTs, dan sekolah-sekolah menengah, yakni SMA dan sebagainya.

1.4 Faktor – faktor Prestasi Belajar

Pada prinsipnya indikator prestasi belajar merupakan faktor pengungkapan hasil belajar ideal logis yang harus di data sesuai dengan ukuran yang diperoleh siswa, yaitu dalam menggunakan alat dan kiat evaluasi yang dipandang tepat dan valid. Dalam hal ini perubahan sangat penting dan diharapkan dan mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa.

Adapun komponitas yang mempengaruhi prestasi belajar sebagai berikut :

a. Faktor intern

Faktor intern yaitu berkaitan dengan perkembangan dan keadaan jasmani, baik kesehatan, kekuatan belajar, konsentrasi belajar, kemampuan panca indera, sebagaimana yang dinyatakan oleh Sujanto “Semakin banyak alat indera yang berfungsi, semakin banyak pesan yang dapat ditangkap.

b. Faktor Ekstern

Faktor Ekstern yaitu faktor dari luar individu yang terdiri dari faktor sosial dan faktor non sosial. Faktor sosial meliputi kepribadian guru, status sosial anak, situasi sosial ekonomi dan kontak dengan orang tua.

1.5 Lupa dan Kejenuhan Belajar 1. Peristiwa lupa dalam belajar

Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa - apa yang

sebelumnya kita pelajari. Witting (1981) menyimpulkan berdasarkan penelitian, peristiwa lupa yang di alami seseorang tak mungkin di ukur secara langsung. (Long term memory) akan terus dimiliki sesorang dan bukan berarti ketika lupa ingatan-ingatan itu hilang begitu saja.

a. Faktor-faktor penyebab lupa

Pertama, lupa dapat terjadi karena ganguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. Dalam teori mengenai ganguan, ganguan konflik ini terbagi menjadi dua macam, yaitu;

1. Proactive interference

2. Retroactive interference (Reber 1988; best, 1989; Anderson, 1990).

Kedua, Lupa dapat terjadi pada seorang siswa karena adanya tekanan terhadap item yang telah ada baik sengaja atau tidak. Penekanan ini terjadi karena beberapa kemungkinan, yaitu:

1. Karena item informasi (berupa pengetahuan, tanggapan, kesan, dsb) yang diterima siswa kurang menyenangkan.

(19)

Ketiga, Lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali.

Keempat, Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu.

Kelima, menurut law of disuce (Hilgard & Bower 1975), lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah di kuasai tidak pernah digunakan atau di hafalkan siswa.

Keenam, lupa tentu saja dapat terjadi karena perubahan urat syaraf otak.

1.6 Macam – macam Kiat mengurangi lupa dalam belajar

Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siwa. Banyak ragam kiat yang dapat di coba siswa dalam meningkatkan daya ingatnya, antara lain menurut Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990) adalah sebagai berikut:

 Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu.  Extra study time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi

(kekerapan) aktifitas belajar. Penambahan frekuensi belajar berarti siswa meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu, misalnya dari sekali sehari menjadi dua kali sehari .

 Mnemonic device (muslihat memori) yaitu upaya yang dijadikan alat pengait mental untuk mamasukkan item-item informasi kedalam sistem akal siswa. Macam-macam Mnemonic device :

a. Rima (Rhyme) yakni sajak yang dibuat sedemikian rupa yang isinya terdiri dari atas kata dan istilah. Sajak ini akan lebih baik pengaruhnya jika diberi not-not sehingga dapat dinyanyikan.

b. Singkatan yakni terdiri atas huruf-huruf awal nama atau istilah. Misalnya untuk menghafal bacaan idgham bighunnah dalam ilmu tajwid dengan menggunakan singkatan ”yanmu”.

c. Sistem kata pasak (peg word system) yakni sejenis teknik mnemonik yang menggunakan komponen-komponen yang sebelumnya telah dikuasai sebagai pasak (paku) pengait memori baru yang dibentuk berpasangan seperti panas- api.

d. Metode losai (method of loci) yaitu kiat mnemonik yang menggunakan tempat-tempat khusus dan terkenal sebagai sarana penempatan kota dan istilah tertentu.

Misalnya nama ibu kota Amerika Serikat untuk mengingat nama presiden pertama negara itu (Gerorge washington). e. Clustering (pengelompokkan), ialah menata ulang item – item materi menjadi kelompok – kelompok kecil yang

dianggap lebih logis dalam arti bahwa item – item tersebut memiliki signifikansi dan lafal yang sama atau sangat mirip.

1.7 Peristiwa Jenuh Dalam Belajar

a. Definisi Jenuh

Secara harfiah, arti jenuh ialah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun. Selain itu, disamping siswa sering mengalami kelupaan, ia juga terkadang mengami peristiwa negatif lainya yang disebut jenuh belajar yang dalam bahasa psikologi lazim disebut learning plateau .

Kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber 1988). Seorang siswa yang sedang alam keadan jenuh sistem akalnya tak dapat bekerja sebagaimana yang

diharapkan dalam memproses item-item informasi atau pengalaman baru, sehingga kemajuan bejarnya seakan-akan “jalan ditempat”

b. Faktor Penyebab dan Cara Mengatasi Kejenuhan Belajar

(20)

Menurut Cross (1274) dalam bukunya The Psychology Of Learning, keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam yaitu :

1. Keletihan indera siswa 2. Keletihan fisik siswa 3. Keletihan mental sisiwa

Ada beberapa faktor yang menyebabkan keletihan mental yaitu :

a. Kecemasan seseorang terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh keletihan itu sendiri.

b. Kekhawatiran seseorang akan ketidakmampuannya mencapai standar keberhasilan bidang-bidang studi yang dianggapnya terlalu tinggi terutama ketika seseorang tersebut sedang merasa bosan mempelajari bidang - bidang studi tersebut.

c. Persaingan yang ketat yang menuntut belajar keras.

d. Keyakinan yang tidak sama antara standar akademik minimum dengan standar yang ia buat sendiri.

Diantara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom pisikologis berupa learning disability (ketidak mampuan belajar) yang menimbulkan kesulitan belajar itu terdiri atas :

1. Disleksia, ketidak mampuan belajar membaca 2. Disgrafia, ketidak mampuan belajar menulis 3. Diskalkulia, ketidak mampuan belajar matematika

Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu gangguan ringan pada otak.

 Cara – cara Mengatasi kejenuhan dalam Belajar

Ada beberapa cara untuk menanggulangi jenuh belajar yaitu:

a. Istirahat dan mengkonsumsi makanan yang bergizi dengan takaran yang cukup banyak. b. Menjadwal dengan baik proses belajarnya.

c. Menata kembali lingkungan belajarnya meliputi pengubahan posisi meja tulis, lemari, rak buku, alat-alat

perlengkapan belajar dan sebagainya sampai memungkinkan siswa merasa berada di sebuah kamar baru yang lebih menyenangkan untuk belajar.

(21)

TEORI KEPRIBADIAN ALFRED ADLER

A. Pokok-pokok Teori Alfred Adler 1. Individualitas sebagai Pokok Persoalan

Adler memberi tekanan kepada pentingnya sifat khas (unik) kepribadian, yaitu individualitas, kebulatan serta sifat-sifat pribadi manusia. Menurut Adler tiap orang adalah suatu konfigurasi motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas, tiap tindak yang dilakukan oleh seseorang membawakan corak khas gaya kehidupannya yang bersifat individual.

2. Pandangan Teleologis : Finalisme Semu

Adler menemukan gagasan bahwa manusia lebih didorong oleh harapan-harapannya terhadap masa depan daripada pengalaman-pengalaman masa lampaunya. Tiap orang mempunyai Leitlenie, yaitu rancangan hidup rahasia yang tak disadari, yang diperjuangkannya terhadap segala rintangan. Tujuan yang ingin dikejar manusia itu mungkin hanya suatu fiksi, yaitu suatu cita-cita yang tak mungkin direalisasikan, namun kendatipun demikian merupakan pelucut yang nyata bagi usaha manusia, dan karenanya juga merupakan sumber keterangan bagi tingkah lakunya. Menurut Adler orang yang normal dapat membebaskan diri akhirnya dari fiksi ini, sedangkan orang yang neurotis tidak mampu membebaskan diri.

3. Dua Dorongan Pokok

Di dalam diri manusia terdapat dua dorongan pokok, yang mendorong serta melatarbelakangi segala tingkah lakunya, yaitu : a. Dorongan kemasyarakatan yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada masyarakat,

b. Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada aku sendiri. 4. Rasa Rendah Diri dan Kompensasi

(22)

5.Dorongan Kemasyarakatan

Dorongan untuk membantu masyarakat guna mencapai tujuan masyarakat yang sempurna. Dalam hubungan ini Adler menyatakan “sosial interest is true and inevitable compensation for all the natural weaksesses of individual human being” (Adler, 1929, p.31).

Dorongan kemasyarakatan itu adalah dasar yang dibawa sejak lahir, pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Namun sebagaimana lain-lain kemungkinan bawaan, kemungkinan mengabdi kepada masyarakat itu tidak nampak secara spontan, melainkan harus dibimbing dan dilatih.

Jadi apabila diikuti teori Adler dapat digambarkan demikian :

( 1 ) mula-mula manusia dianggap didorong oleh dorongan untuk mengejar kekuatan dan kekuasaan sebagai lantaran untuk mencapai kompensasi bagi rasa rendah dirinya.

( 2 ) Selanjutnya manusia dianggapnya didorong oleh dorongan kemasyarakatan yang dibawa sejak lahir yang menyebabkan dia menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Menurut Adler “dorongan untuk berkuasa, memainkan peran terpenting dalam perkembangan kepribadian” (Adler, 1946, p. 145.) 6. Gaya Hidup, Leitlinie

Menurut Adler gaya hidup adalah prinsip yang dapat dipakai landasan untuk memahami tingkah laku seseorang. Inilah yang melatarbelakangi sifat khas seseorang. Tiap orang mempunyai gaya hidup masing-masing. Tiap orang mempunyai tujuan yang sama yaitu mencapai superioritas, namun caranya untuk mengejar tujuan itu boleh dikata tak terhingga banyaknya, ada yang dengan mengembangkan akalnya, ada yang melatih otot-ototnya,dll.

Menurut Adler gaya hidup ini ditentukan oleh inferioritas yang khusus, jadi gaya hidup itu adalah suatu bentuk kompensasi terhadap kekurangsempurnaan tertentu.

7. Diri yang Kreatif

Diri yang kreatif adalah penggerak utama, pegangan filsafat, sebab pertama bagi semua tingkah laku. Sukarnya menjelaskan persoalan ini ialah karena orang tak dapat menyaksikan secara langsung akan tetapi hanya dapat menyaksikan lewat manifestasinya. Inilah yang mengantarai antara perangsang yang dihadapi individu dengan response yang dilakukannya. Diri yang kreatif inilah yang memberi arti kepada hidup, yang menetapkan tujuan serta membuat alat untuk mencapainya.

B. ARTI PSIKOLOGI INDIVIDUAL

Arti psikologi Adler mempunyai arti yang penting sebagai cara untuk memahami tingkah laku manusia. Pengertian seperti gambran semu, rasa rendah diri, kompensasi, gaya hidup, diri yang kreatif, memberi pedoman yang penting untuk memahami sesama manusia. Teori Adler ini punya arti yang sangat penting, karena hal-hal berikut ini.

( 1 ) Penentuan tujuan-tujuan yang susila, seperti : a) Keharusan memikul tanggung jawab,

b) Keberanian menghadapi kesukaran-kesukaran hidup,

c) Mengikis dorongan keakuan dan mengembangkan dorongan kemasyarakatan,

(23)

( 2 ) Optimismenya dalam bidang pendidikan.

C. PENGARUH ADLER

Di Amerika teori Adler meluas berkat adanya “The American Society of Individual Psychology”. Di Eropa sendiri murid-murid dan pengikutnya cukup banyak,salah satu diantara mereka adalah Fritz Kunkel dengan karya utamanya : Einfuhrung in die

Charakterkunde. Kankel berpegang teguh kepada dasar pemikiran Adler. Secara ringkas pendapat Kunkel itu adalah : 1. Dua Dorongan Pokok

Seperti Adler, Kunkel berpendapat bahwa kehidupan jiwa adalah dinamis, dan dinamika ini dikarenakan oleh adanya dua dorongan yang saling bertentangan yaitu :

( 1 ) Dorongan keakuan (Inchhaftigkeit atau Unsachlichkeit) dorongan untuk mengabdi kepada aku (diri sendiri).

( 2 ) Dorongan kekitaan (Wirhaftigkeit atau Sachlichkeit) dorongan untuk mengabdi kepada kita (Umum, dunia luar dirinya).

2. Termometer Penilaian Diri

Saling berhubungan antara kedua dorongan pokok dalam diri manusia itu digambarkan dalam”termometer penilaian diri”. Pengantar Teori Adlerian

Teori Adler memiliki pengaruh besar terhadap pakar psikologi selanjutnya, seperti Harry Stuck Sullivan, Karen Horney, Jullian Rotter, Abraham Maslow, Carl Rogers, Albert Ellis, Rollo May, dan lain-lain. Namun, nama Adler kurang dikenal luas, dibandingkan Freud atau Jung. Hal ini disebabkan karena : (1) Adler tidak mendirikan organisasi yang dijalankan dengan kuat untuk

mengabadikan teorinya ; (2) Adler bukan penulis yang berbakat dan sebagian besar bukunya dikumpulkan oleh beberapa editor menggunakan bahan pengajaran Adler yang tersebar dimana-mana ; (3) Banyak dari pandangan Adler yang tergabung dalam karya teoretikus selanjutnya, seperti Maslow, Rogers, dan Ellis, sehingga pandangan tersebut tidak lagi diasosiasikan dengan nama Adler. Tulisan-tulisan Adler mengungkapkan pandangan mendalam terhadap kedalaman dan kompleksitas kepribadian manusia, namun, Adler menyusun teori yang sederhana. Adler menyatakan bahwa manusia lahir dengan kondisi tubuh yang lemah dan inferior.Kondisi ini menyebabkan perasaan inferior, dan ketergantungan kepada orang lain. Oleh karena itu, perasaan menyatu dengan orang lain sudah menjadi sifat manusia dan standar akhir untuk sehat secara psikologis.

Dalam teori Psikologi Individual Adler, ada beberapa prinsip yang melatarbelakangi teori ini, yaitu :

1. Striving for success or superiority. Prinsip ini menyatakan bahwa kekuatan dinamis di balik perilaku manusia adalah berjuang untuk meraih keberhasilan atau superioritas. Adler mereduksi semua motivasi menjadi satu dorongan tunggal, yaitu berjuang meraih keberhasilan atau superioritas. Tentu kita masih ingat dengan kisah Adler di atas mengenai kondisi fisik yang lemah dan persaingan dengan kakak laki-lakinya. Oleh sebab itu, Psikologi Individual mengajarkan bahwa seseorang memulai hidupnya dengan kelemahan fisik yang mengakibatkan perasaan inferior. Perasaan inferior ini lah yang akhirnya mendorong seseorang untuk berjuang meraih superioritas atau keberhasilan. Individu yang tidak sehat secara psikologis akan berjuang meraih superioritas pribadi, sedangkan individu yang sehat secara psikologis akan berjuang meraih keberhasilan untuk semua manusia. Pada awalnya, Adler meyakini bahwa AGRESI adalah kekuatan dinamis dari motivasi. Namun, ia tidak puas dengan istilah itu. Kemudian ia menggunakan istilah MASCULINE PROTEST, yang berarti keinginan menguasai atau mendominasi orang lain. Dan pada akhirnya, ia menggunakan istilah berjuang untuk meraih keberhasilan dan superioritas. Tanpa memperhatikan motivasi, Adler yakin bahwa setiap orang dikendalikan oleh tujuan akhir.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...