• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Monopoli Industri Rokok Kretek

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Implikasi Monopoli Industri Rokok Kretek"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

Implikasi Monopoli Industri Rokok Kretek Oleh Perusahaan Asing

di Indonesia

Andri Prasetyo

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, University Sebelas Maret, Indonesia E-mail: [email protected]

Abstract

Tembakau adalah tanaman yang bukan asli atau endemik dari Indonesia tetapi masyarakat Indonesia memiliki kreatifitas tersendiri dalam mengolah tembakau menjadi rokok. Rokok kretek adalah rokok yang memang asli dibuat oleh orang-orang terdahulu masyarakat Indonesia. Industri Kretek merupakan satu dari industri manufaktur yang muncul di Nusantara sebelum Indonesia modern merdeka. Indutri kretek boleh dikatan indutri yang sangat mandiri dari segi produksi maupun konsumenya. Dimana dengan bahan baku yang berasal dari Indonesia, diolah oleh orang Indonesia, dibuat di pabrik Indonesia, dan dijual kepada konsumen yang mayoritas orang Indonesia, serta hasilnya dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia (cukai, pajak, CSR, gaji buruh, petani, pedagang, dll). Pola Circular and Cumulative Causation dan Core Periphery terjadi ketika segelintir orang atau perusahaan farmasi dengan lembaga penentu kebijakan kesehatan dunia yaitu WHO saling berkaitan dan kemudian mempengaruhi aturan-aturan pertembakauan dunia tidak terkecuali di Indonesia.

Keywords: Tembakau, Kretek, Monopoli Tembakau, Lembaga Internasional, FCTC (Framework Convention of Tobacco Control)

JEL Classification:

1. PENDAHULUAN

Dewasa ini fenomena

pelarangan merokok di berbagai tempat, di berbagai kantor, di berbagai instansi, di berbagai pusat-pusat keramaian masyarakat, beredar banyak sepanduk atau tulisan-tulisan tentang peringatan dan pelarangan kegiatan merokok. Di bungkus rokok sendiri juga terdapat tulisan dan gambar tentang akibat dari merokok. Yang bertujuan untuk memberikan efek psikologis bagi para perokok untuk takut dan menghentikan kebiasaan merokok.

Dalam penekanan konsumsi rokok pemerintah dalam berkala setiap tahun menaikan harga rokok dengan memperbesar tarif cukai rokok hingga harga keekonomian tertinggi, pada tahun 2016 sempat ada wacana bahwa

harga rokok akan naik hingga Rp

50.000. Kebjakan tersebut

dimaksudkan, dengan harga rokok yang tinggi diharapkan masyarakat merasa keberatan dengan mahalnya harga rokok dan mengurungkan keinginan untuk membeli rokok.

Seoalah kegiatan merokok menjadi sebuah kegiatan yang hampir sama dengan kegiatan kriminalitas, bahkan hampir sama seperti kegiatan asusila yang harus dilokalkan di tempat khusus merokok, dan penyediaan tempat khusus merokok tersebut bahkan hingga diatur dalam undang-undang.

Lebih dari empat abad tembakau masuk ke Jawa dan tradisi merokok kretek, sudah menjadi bagian

(2)

2 (akulturasi) sedemikian lama, yang tidak hanya tinggal di Jawa. Kini, rokok dan kebiasaan merokok mulai mendapat “hujatan” keras dari berbagai pihak. Utamanya karena, konon, merokok dianggap sangat berbahaya bagi kesehatan si pelaku (perokok aktif), dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). Padahal, di sisi lain rokok di Indonesia telah membuat para pemilik industri rokok besar menjadi orang-orang terkaya di Indonesia. Karena menyumbang cukai puluhan triliun rupiah setiap tahun, membuat banyak pihak terlena dan menganggap industri rokok lebih banyak manfaat ketimbang mudaratnya.

Diakui atau tidak diaukai,

diterima atau tidak diterima,

sebenarnya rokok dan kebiasaan merokok kretek telah mewarnai

kehidupan berbagai lapisan

masyarakat. Rokok kretek dan bagaimana cara menikmatinya, bisa

menggambarkan perkembangan

peradaban masyarakat kita. Rokok kretek merupakan produk asli Indonesia yang unik dan diakui dunia.

Konsumen tembakau Indonesia terbilang unik, mengingat mayoritas

perokok (sekitar 90 persen)

mengonsumsi rokok kretek yang merupakan rokok tradisional yang dibuat dari tembakau, kuncup cengkeh, dan bumbu (saus). Jenis rokok semacam ini merupakan satu-satunya yang diproduksi dunia, baik yang dibuat tradisional oleh tangan, maupun oleh mesin.

Berbagai kebiasaan individu maupun sosial yang mewarnai nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat terbentuk melalui suatu proses yang panjang dan berliku-liku. Termasuk kretek dan kebiasaan merokok kretek di masyarakat Indonesia.

Gelombang gempuran dan

suara gaduh yang berupaya

mengguncang kemajuan produksi pengolahan tembakau di Indonesia tidak hanya digulirkan oleh kekuatan raksasa dunia – diwakili regim kesehatan dan perdagangan bebas – namun juga membawa pengaruhnya terhadap berbagai organisasi dan barisan anti penggunaan tembakau di

dalam negeri untuk menekan

pemerintah dan parlemen supaya dapat mengatur perdagangan dan konsumsi tembakau. Mereka seperti menabuh genderang perang terhadap produk tembakau, khususnya buah perpaduan yang khas antara tembakau dan cengkeh, yang sangat lagendaris dengan sebutan kretek (Hamilton, 2000).

Inilah industri yang hampir seluruhnya dirintis oleh tiga generasi sebelumnya – lebih dari satu abad beroperasi dan terus bertahan – dengan susah-payah dibangun dan dikerahkan daya cipta, dari kerja keras dan keringat banting tulang, serta pemanfaatan sumber daya lokal sampai memetik posisi terdepan yang tidak tergoyahkan oleh gelombang krisis ekonomi dunia (Topatimasang, 2010).

Mengguncang produksi

pengolahan tembakau dengan hanya mengatasnamakan doktrin kesehatan belaka dapat diasumsikan sebagai persoalan serius. Karena guncangan ini bakal menghadapi jutaan orang yang menggantungkan hidup dalam mata rantai perladangan dan perkebunan

tembakau sampai industri

pengolahannya dan perdagangan rokok.

(3)

3 dengan penerimaan pajak dan cukai yang tinggi. Dalam kretek, terdapat racikan aroma cengkeh (Euginia

aromatica) – rempah-rempah

lagendaris – yang tidak ditemukan rokok lainnya seperti rokok Amerika Serikat (AS) atau Eropa. (Hunusz, 2000)

Namun studi tandingan yang disajikan ini sangatlah penting. Tembakau (Nicotiana tabaccum atau Nicotiana spp., L.) – dengan kadar nikotin sekitar 0,6 persen – adalah tanaman yang telah menjadi bagian penting dalam ekonomi dan budaya di Indonesia. Sehingga studi ini lebih dari sekadar memaparkan dampaknya atas kesehatan, apalagi secara berlebihan

dinyatakan sebagai penyebab

kematian, menimbang betapa

pentingnya bagi ekonomi dan budaya yang telah terbentuk ratusan tahun dan bersifat padat karya di Indonesia, khususnya hak-hak ekonomi, sosial dan budaya lainnya terkait upaya mengendalikan secara ketat terhadap tembakau dan produk pengolahan tembakau. Terlebih lagi, kampanye anti tembakau ini tidak diiringi dengan solusi ekonomi dan budaya yang dapat

dipertanggungjawabkan, kecuali

dengan menunjukkan satu kasus keberhasilan dalam peralihan pola tanam tembakau ke sayuran. (Radjab, 2013).

Adanya riset dan kajian Wanda Hamilton yang terbit dalam buku berjudul “niconite war” menyajikan fakta-fakta bahwa dibalik agenda global tentang pengontrolan atas tembakau terdapat kepentingan besar bisnis perdagangan obat-obat yang dikenal dengan Nicotine Replacemen Theraphy (NRT). Pada tahun 2000 di Amerika serikat ada konfrensi pertembakauan ke 11 yang di gelar di Chicago, masih dalam penuturan Wanda bahwa dana untuk membiayai

konferensi tersebut berasl dari empat perusahaan farmasi multinasional terkemuka: Glaxo Wellcome, Novartis, Pharmacia dan SmithKline Beecham, yang semuanya memproduksi dan/atau

memasarkan produk-produk

“pengganti nikotin” atau penghenti merokok lainnya. McNeil Consumer Products, anak perusahaan Johnson & Johnson yang memasarkan Nicotrol, diwakili oleh Robert Wood Johnson Foundation, sebuah yayasan yang menerima seluruh jumlah total kira-kira $8 miliar dari sahamnya di J&J. (Hamilton, 2000).

World Health Organization (WHO) memang telah mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dalam Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly) ke-56 pada 2003. FCTC ini memberikan rujukan tentang betapa pentingnya pengendalian tembakau di seluruh dunia. Dengan rujukan ini diharapkan negara-negara anggota Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) berkomitmen untuk mengesahkan FCTC menjadi hukum atau kebijakan nasionalnya masing-masing, sehingga menjadi bagian dari negara-negara peserta (states parties) atas FCTC. Setiap negara diharapkan dapat menunjukkan komitmen yang kuat

dalam mengurangi dampak

penggunaan tembakau terhadap

kesehatan, dengan langkah-langkah meratifikasi FCTC, menjabarkan lebih lanjut komitmennya ke dalam UU, serta kebijakan lainnya yang relevan.

Adapun pengadopsian

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) ke dalam hukum nasional lebih kuat daripada upaya perlindungan pertanian tembakau. Adopsi ini dilakukan misalnya dengan kebijakan pengalihan tanaman,

pengurangan subsidi pertanian

(4)

4 rendahnya pasokan bahan baku industri rokok, kebijakan kenaikan cukai yang

menyebabkan banyak industri

tembakau nasional skala kecil bangkrut, larangan merokok di tempat umum yang diatur melalui berbagai peraturan daerah di tingkat provinsi dan kabupaten kota yang semakin hari semakin mempersempit pasar produk rokok nasional.

Sementara negara maju hingga saat ini terus berupaya meningkatkan dominasinya dalam industri ini. Perusahaan multinasional dari negara maju seperti Philip Morris, British American Tobacco, Japan Tobacco Corporation, perusahaan tembakau China, dan perusahaan-perusahaan raksasa Eropa lainnya semakin agresif membangun dan memperluas industri ini. Pendapatan Philip Morris International, misalnya, dilaporkan lebih besar dari PDB sebuah negara berkembang.

Memang Indonesia adalah surga bagi produsen rokok kretek, dimana 92% perokok mengkonsumsi rokok kretek. Namun, dengan adanya perangkat hokum penamanaman modal dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor: 200/PMK.04/2008 dan turunannya berupa regulasi Bea dan Cukai yang mengharuskan semua

perusahaan rokok memiliki

gudang/brak berukuran minimal 200 meter persegi telah berhasil membuka peluang pencaplokkan perusahaan besar rokok kretek serta merontokkan industri kecil rokok kretek (produksi kurang dari 300 juta batang rokok per tahun) di negeri ini. Menurut Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi), jumlah produsen rokok kecil menurun drastis dari 3.000 buah menjadi 1.330 atau 55.6%. Di sisi lain dominasi modal asing semakin berkuasa sehingga sebagian besar keuntungan yang didapat dari tiap

batang kretek yang dibakar warga Negara Indonesia harus dikirim kepada pemilik modal besar asing. Pangsa rokok di Indonesia saat ini benar-benar dikuasai oleh perusahaan asing tidak hanya produk rokok putih namun juga rokok kretek. Selain produk rokok putih mereka yang sudah menguasai 50 persen pasar rokok putih di Indonesia, PT Philip Morris Indonesia perusahaan afiliasi dari Phillip Morris Inc. juga telah mengakuisisi kepemilikan saham PT. HM. Sampoerna Tbk perusahaan

rokok kretek milik keluarga

Sampoerna atau Lim Seeng Tee dari Surabaya sebesar 98,18% pada bulan Mei 2005.(Sunaryo, 2013, 45).

Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui jika produk rokok kretek merupakan salah satu komoditas yang memang asli diciptakan oleh orang Indonesia, dan industri rokok kretek adalah industriyang sangat mandiri dalam hal keterkaitanya dengan luar negeri. Industri kretek menyerap tembakau dan cengkeh dari dalam negeri, menggunakan tenaga kerja masyarakat Indonesia sendiri, serta konsumen terbesarnya orang Indonesia sendiri. Pajak serta hasil cukainya masuk ke dalam kas negara Indonesia yang sangat bermanfaat untuk pembangunan Negara.

2. Kerangka Teoritis

Tembakau dan Industri Kretek Indonesia

(5)

5 sehingga kebiasaaan ini menyebar keseluruh penjuru dunia (Budiman & Onghokham,1987).

Budiman & Onghokham

(1987) dalam bukunya “Rokok Kretek, Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara”, juga menmbahkan bahwa, kebiasaan merokok mulai menyebar di pulau Jawa karena adanya kabar bahwa

kebiasaan merokok dapat

menyembuhkan sakit bengek atau sesak napas. Mula-mula Haji Djamari penduduk Kudus yang menderita sakit di bagian dadanya mempelopori penggunaan minyak cengkeh dalam mengobati penyakitnya dan ternyata penyakitnya mulai sembuh. Dengan naluri bisnisnya maka Haji Djamari mulai membuat “rokok obat” yang diproduksi dalam skala industri rumah tangga dan laku di pasaran. Pada saat itu “rokok obat” lebih dikenal dengan nama “rokok cengkeh”, kemudian sebutan tersebut berganti menjadi “rokok kretek” karena bila rokok ini

dibakar maka berbunyi

berkemeretekan.

Industri kretek merupakan salah satu industri yang pertama kali lahir di negeri ini. Dan selama lebih satu abad lamanya, industri ini tetap bertahan melewati berbagai gejolak krisis perekonomian dunia. Secara teoritik, industri dengan muatan impor yang tinggi akan mudah goyah saat terjadi krisis ekonomi. Ini terbukti ketika krisis ekonomi kawasan (Asia Timur dan Tenggara) pada paruh kedua 1990-an, mengakibatkan kemerosotan nilai tukar rupiah yang anjlok sampai 800 persen. Sehingga banyak industri besar yang bermuatan impor tinggi benarbenar goyah, bahkan sebagian ambruk. Hal sebaliknya terjadi pada industri kretek yang memang bermuatan impor sangat rendah yakni hanya sekitar 4 persen. Karakter

industri kretek kebal terhadap gejolak pasar internasional menjadikannya lebih mampu meredam guncangan pada keseluruhan mata rantai produksi dan pemasarannya, termasuk berbagai industri yang terkait mulai dari hilir sampai ke hulu (Wibisono dan Yoandinas, 2014: 66)

CCC (Circular and Cumulative Causation)

O’Hara (2008) dalam jurnalnya menerangkan tentang prinsip CCC (Circular and Cumulative Causation) yang dikembangkan oleh Gunnar Myrdal dan Nicholas Kaldor dari Knut Wicksell. Latar belakang ide dari prinsip ini adalah perubahan pada sebuah lembaga akan mempengaruhi lembaga lainnya. Perubahan ini bersifat melingkar (circular) dan akan berlangsung secara terus menerus sehingga membentuk suatu siklus, di lain waktu dapat berpengaruh positif dan bisa juga berpengaruh negatif, serta secara kumulatif berlangsung pada setiap periode.

O’Hara (2008) juga

menjelaskan, meskipun Myrdal dan Kaldor sama-sama menggunakan dan mengembangkan prinsip ini, akan tetapi keduanya mempunyai bidang masing-masing. Myrdal konsentrasi pada aspek sosial dari pembangunan, sedangkan Kaldor lebih berkonsentrasi pada hubungan permintaan dan penawaran pada sektor manufaktur. Akan tetapi keduanya juga mempunyai

persamaan ketika menggunakan

(6)

6

variabel lain dijabarkan atau

digambarkan.

Persamaan yang kedua adalah keduanya sama-sama menggunakan prinsip Cumulative Causation dalam menerapkan prinsip ekonomi politik CCC pada bidang masing-masing. Interaksi kumulatif sangat penting untuk studi empiris Myrdal dan Kaldor yang membahas mengenai uang, pertumbuhan, permintaan, penawaran, pembangunan dan etnis. Cumulative causation menguji dinamika kumulatif, dimana dalam umpan balik dan antara variabel biasanya cenderung memiliki pengganda atau dampak yang diperkuat pada hasil keseluruhan.

Persamaan ketiga yang

digunakan keduanya dalam melakukan penelitian pada bidang masing-masing adalah keduanya percaya bahwa proses

kumulatif sering menimbulkan

kontradiksi. Gordon (1991),

mengkritik teori Kaldor karena terlalu banyak kumulasi dan hanya sedikit kontradiksi. Akan tetapi Kaldor sendiri tahu masalahnya (Kaldor, 1966). Sedangkan disisi lain, Myrdal menunjukkan kontradiksi yang lebih jelas, karena kumulasi yang terjadi

lebih spesifik seiring dengan

pembangunan yang tidak merata (O’Hara, 2008).

Persamaan yang keempat, Myrdal dan Kaldor sama-sama menyadari pentingnya analisis sejarah, ruang, dan geografi, karena perubahan sosial ekonomi dan politik akan menentukan kondisi ataupun jalannya suatu evolusi dan transformasi. Kemudian perbedaan regional atau wilayah, hal ini berkaitan dengan

geografi, dapat menimbulkan

perbedaan pertumbuhan dan

perkembangan suatu daerah. Maka dari itu, keduanya menggunakan analisis sejarah, ruang, dan geografi, karena

ketiganya menurut Myrdal dan Kaldor dapat mempengaruhi aspek-aspek ekonomi.

Core-Periphery

(Suryandari, Wahyudi, dan

Nababan, 2014), Dalam Pengelolaan

Resiko Bencana Melalui Kerjasama Lintas Batas Negara, menjelaskan salah satu contoh sukses dari penerapan Core-Periphery Model di kawasan perbatasan adalah yang terjadi pada kawasan perbatasan Amerika Serikat dengan kawasan perbatasan Meksiko. Dalam kasus tersebut ditunjukkan bahwa pengurangan biaya transportasi antara Amerika dan Meksiko

menyebabkan sebagian besar

perusahaan di Meksiko menuju wilayah yang berdekatan dengan

perbatasan Amerika. Sejak

diberlakukannya perdagangan bebas dengan pasar Amerika, perekonomian Meksiko yang awalnya merupakan perekonomian dengan skala kecil dan berorientasi pada pasar domestik, mulai memfokuskan perekonomian pada pasar ekspor Amerika. Secara

keseluruhan diketahui bahwa

kemajuan perekonomian di Kawasan Perbatasan Meksiko merupakan hasil dari diberlakukannya pasar bebas dari pasar Meksiko menuju Pasar Amerika

(Krugman & Hanson, 1993).

Berdasarkan contoh kasus tersebut, Kawasan Perbatasan amerika berperan sebagai daerah inti (Core) dari kegiatan perekonomian sedangkan Kawasan Perbatasan Meksiko menjadi daerah pinggiran (Periphery) dimana kegiatan perekonomiannya menginduk pada kegiatan perekonomian di wilayah inti (Core).

Dalam konteks mitigasi

(7)

7 wilayah memiliki keterkaitan dalam hal ekonomi. Apabila ekonomi salah satu wilayah terganggu, maka wilayah

lainnya juga akan merasakan

dampaknya. Konsep ini dapat kita gunakan dalam konteks mitigasi bencana. Apabila salah satu wilayah

terkena bencana, maka akan

mengganggu aktivitas

perekonomiannya, yang tentunya akan memberikan dampak pada wilayah sekitarnya. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama lintas batas negara dalam mitigasi bencana.

Budaya dan Perilaku Ekonomi

Pratama dan Manzliati (2014), menyatakan bahwa perilaku ekonomi

memiliki hubungan dengan

kebudayaan setempat. Muatan

psikologis kebudayaan akan

menjadikan stimulus untuk

melaksanakan suatu interaksi.

Keberadaan panutan di kebudayaan jawa sangatlah penting. Segala sikap dan tindakan haruslah sesuai dengan apa yang diperintahkan orang yang “ditahbiskan” sebagai panutan. Posisi tawar untuk menentukan suatu

keputusan ekonomi seringkali

berkurang bahkan tidak ada dan semua akan disesuaikan dengan panutan yang dipercayai.Tetapi pada kenyataannya

kepatuhan pada panutan ini

menghindarkan pada ketidakefisienan.

Samudro (2003), dalam

penelitiannya menyimpulkan bahwa rerata jumlah kasus kesehatan sebagai dampak polusi dari kendaraan bermotor di kabupaten Sleman adalah 11.368 kasus/tahun, dan Kontribusi emisi polutan dari kendaraan bermotor di kabupaten Sleman yang paling dominan terhadap udara ambien adalah gas CO dan NO2. Serta Nilai ekonomi/biaya sosial (pengeluaran masyarakat) dampak kesehatan akibat polusi udara dari kendaraan bermotor di kabupaten Sleman adalah Rp

12.114.148.530/tahun (metode

Willingness to Pay). Nilai biaya sosial tersebut dapat dikompensasi dengan 0,25% manfaat aktivitas ekonomi yang dinilai dengan PDRB kabupaten Sleman.

Penelitian terdahulu

Penelitian yang dilakukan Enstrom dan Kabat (2003), yang

dipublikasikan dalam jurnal British

Medical Journal, dengan judul “Environmental tobacco smoke and tobacco related mortality in a prospective study of Californians, 1960-98”. Menunjukan bahwa lingkungan yang terpapar asap tembakau tidak berpengaruh terhadap kematian, serta juga memiliki dampak kecil terhadap perokok pasif untuk tekena penyakit jantung koroner dan kanker peru-paru.

Indriastuti (2014), dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa liberalisasi pertanian berdampak terhadap produktivitas ekonomi petani tembakau di Kabupaten Jember berupa

kenaikan biaya produksi dan

persaingan yang semakin ketat. Namun kondisi tersebut tidak mempengaruhi keputusan petani untuk menanam karena mereka berusaha mengadu peruntungan.

Selain itu persaingan global serta pembukaan market access bagi produk tembakau menyebabkan produk lokal harus bersaing dengan produk asing. Pada akhirnya perusahaan yang memiliki modal besar dapat bertahan dan bahkan berekspansi sampai ke manca negara. Namun pabrik-pabrik rokok kelas menengah ke bawah yang justru menampung tembakau dari petani akan gulung tikar karena kalah

bersaing dan tidak mampu

(8)

8

3. METODE PENELITIAN

Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif. Menurut Hidayat syah (2010) penelitian deskriptif adalah metode penelitian yang

digunakan untuk menemukan

pengetahuan yang seluas-luasnya terhadap objek penelitian pada suatu masa tertentu. Sedangkan menurut Punaji Setyosari (2010) ia menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan suatu keadaan, peristiwa, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang terkait dengan variabel-variebel yang bisa dijelaskan baik dengan angka-angka maupun kata-kata.

Sukmadinata (2006:72)

menjelaskan Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya.

Penelitian deskriptif menurut Etna Widodo dan Mukhtar (2000) kebanyakan tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, melainkan lebih pada menggambarkan apa adanya suatu gejala, variabel, atau keadaan. Namun demikian, tidak berarti semua

penelitian deskriptif tidak

menggunakan hipotesis. Penggunaan hipotesis dalam penelitian deskriptif bukan dimaksudkan untuk diuji

melainkan bagaimana berusaha

menemukan sesuatu yang berarti sebagai alternatif dalam mengatasi masalah penelitian melalui prosedur ilmiah.

Penelitian deskriptif tidak

hanya terbatas pada masalah

pengumpulan dan penyusunan data,

tapi juga meliputi analisis dan interpretasi tentang arti data tersebut. Oleh karena itu, penelitian deskriptif mungkin saja mengambil bentuk penelitian komparatif, yaitu suatu penelitian yang membandingkan satu fenomena atau gejala dengan fenomena atau gejala lain, atau dalam bentuk studi kuantitatif dengan mengadakan klasifikasi, penilaian, menetapkan standar, dan hubungan kedudukan satu unsur dengan unsur yang lain.

Metode deskriptif dalam

penelitian ini dilakukan untuk

mengetahui implikasi tentang

pemonopolian industri rokok kretek di Indonesia oleh perusaan-perusaan asing yang berinvestasi dengan membeli saham secara mayoritas pada perusahaan-perusahaan rokok di berbagai daerah. Dan tidak pula terbatas pada perusahaan asing itu saja,

melainkan juga lembaga-lebaga

internasional yang memberikan hibah atau bantuan tetapi dengan maksud tertentu yang diindikasikan juga akan mempermudah proses pemonopolian tersebut

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ialah, menggunakan data primer dan sekunder.

1)Data Primer

Data Primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan informan, ialah orang yang dianggap menguasai atau memahami tentang objek

penelitian Selanjutnya peneliti

mengobservasi langsung dari berbagai kegiatan-kegiatan di lokasi penelitian dengan mengamati objek penelitian. Peneliti juga dapat terlibat secara aktif partisipan atau non-partisipan.

2)Data Sekunder

Data Sekunder diperoleh

(9)

9

Teknik Analisis

Dalam penelitian ini peneliti

mengkaji dengan menggunakan

metode konten analisis, yaitu analisis secara mendalam tentang suatu isu-isu atau informasi yang dipublikasi oleh media.

Budd (1967), dalam bukunya Content Analysis In Communication Research, mengemukakan, analisis adalah teknik sistematik untuk menganalisis isi pesan dan mengolah pesan, atau suatu alat untuk mengopservasi dan menganalisis perilaku komunikasi yang terbuka dari komunikator yang dipilih.

Menurut Krippendorff (dalam Suprayogo,2001) Analisis Isi bukan sekedar menjadikan isi pesan sebagai obyeknya, melainkan lebih dari itu terkait dengan konsepsi konsepsi yang lebih baru tentang gejala-gejala simbolik dalam dunia komunikasi.

4. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Indonesia memiliki pangsa pasar yang cukup besar dalam hal industri hasil olahan tembakau, konsumen yang paling banyak ialah pangsa rokok kretek dimana hampir 90% perokok Indonesia adalah pengkonsumsi kretek. Hanya sebagian kecil dalam segmentasi masyarakat pengkonsumsi produk hasil tembakau yang membeli atau mengkonsumsi rokok putih, cerutu, dan rokok elektrik, namun ketiga jenis rokok terakhir ini kian tahun semakin besar jumlah konsumennya.

World Health Organisation (WHO) adalah lembaga Perserikatan Bangsa-Banga dalam bidang kesehatan, pada tahun 2003 mengadopsi FCTC (Framework Convention of Tobaco Control) dan mulai berlaku pada tahun 2005. Sejak itu FCTC menjadi

perjanjian yang paling besar

berpengaruh dalam sejarah PBB, dengan melibatkan 172 negara di dunia. (Daeng, 2011)

Banyak penelitian yang

mengungkapkan tentang manfaat nikotin untuk obat obatan, tetapi publikasi dari peelitian tersebut sangat terbatas. Wanda Hamilton (2010) dalam bukunya menyatakan

“para peneliti menemukan bahwa nikotin memiliki kemungkinan dimanfaatkan bagi pengobatan, untuk merawat penyakit-penyakit tertentu. Mereka sudah mengetahui bahwa nikotin meningkatkan konsentrasi dan kontrol syaraf motorik, bahwa nikotin meningkatkan ambang batas rasa sakit pada orang-orang tertentu, bahwa nikotin membantu menangkal rasa lapar. Karena semua alasan itulah, dengan mudah dan dalam jumlah besar rokok dipasok untuk para serdadu Perang Dunia I dan II. Sejak itu, lebih banyak lagi manfaat nikotin dan tembakau untuk kepentingan terapi ditemukan. Namun masalahnya bagi perusahaan-perusahaan farmasi adalah bahwa nikotin itu sendiri tidak dapat dipatenkan karena ia terkandung secara alami pada tembakau, tomat, kentang dan sayur-sayuran lain. Yang bisa dipatenkan adalah senyawa “mirip nikotin” dan sarana pengantar nikotin. Karena itulah perusahaanperusahaan farmasi menjadi kian tertarik untuk

mengembangkan

senyawa-senyawa nikotin baru serta sarana pengantar nikotin yang bisa mereka patenkan, bukan hanya untuk membantu berhenti merokok namun akhirnya juga untuk keperluan terapi lainnya.”

(10)

10 memiliki ketertarikan khusus dalam isu pengendalian tembakau dan bekerja sama dengan WHO. Konsorsium

farmasi tersebut adalah World

Self-Medication Industry (WSMI) dan International Federation of Pharmaceutical Manufacturers Association (IFPMA). Perwakilan

WSMI bergabung dalam Policy and

Strategy Advisory Comittee (PSAC), komite penasihat yang melapor

langsung kepada Director-General

WHO Gro Harlem Brundtland mengenai isu pengendalian tembakau periode 1999 – Mei 2001.

Keterlibatan perusahaan farmasi dalam isu pengendalian tembakau adalah melalui kontribusinya dalam menemukan dan memasarkan produk pengganti nikotin yang berfungsi sebagai terapi untuk membantu perokok menghentikan kebiasaannya. Studi Bank Dunia menyatakan bahwa Nicotine Replacement Therapy (NRT) merupakan strategi ketiga yang efektif dalam mengontrol konsumsi tembakau (dua lainnya adalah tingginya pajak dan kebijakan non harga lainnya) (Jha dan Chaloupka, 1999).

Dalam buku Kriminalisasi

Berujung Monopoli yang ditulis Salamudin Daeng, dkk (2011) mengungkapkan bahwa di acara World Economic Forum di Davos, tanggal 30

Januari 1999, Brundtland1

mengumumkan kemitraan proyek (partnership project) antara WHO dengan tiga perusahaan farmasi multinasional, yakni Pharmacia & Upjohn, Novartis, dan GlaxoWellcome, yang memang telah aktif sejak peluncuran Proyek Prakarsa Bebas Tembakau WHO di bulan Juli 1998.

1 Dr. Gro Harlem Brundtland, adalah Direktur

Jederal WHO periode 1998-2003, dan mantan perdana menteri Norwegia.

Kebijakan Brundtland yang

menggandeng kemitraan dengan

perusahaan swasta ini dilihat oleh beberapa kalangan sebagai hal yang

menyebabkan WHO kehilangan

independensinya. Kemitraan WHO dengan korporasi farmasi multinasional ini didasarkan pada sebuah kepentingan yang diungkapkan sendiri oleh

Brundtland, “they all manufacture

treatment products against tobacco dependence” – ketiga korporasi tersebut memanufaktur obat-obatan Nicotine Replacement Treatment (NRT).

Sangat jelas hal-hal tersebut menunjukkan bahwa FCTC tidak lain dari suatu senjata hukum ampuh yang

digunakan korporasi farmasi

internasional untuk memenangkan kepentingan penjualan produk-produk NRT. Dari sisi sosial ekonomi FCTC seakan menjadi “senjata pembunuh” bagi petani tembakau, petani cengkeh, dan jutaan rakyat yang hidupnya bergantung pada industri tembakau dan industri terkait lainnya, yang terancam

kehilangan sumber nafkah

kehidupannya, akibat pelaksanaan agenda anti tembakau dengan segala regulasinya.

Akibat kampanye internasional untuk menekan produksi dan konsumsi tembakau, negara juga terancam kehilangan sumber penerimaan dari

industri tembakau ini, yang

(11)

11 menyerap tenaga kerja dan tidak

memberikan keuntungan bagi

penerimaan negara, sibuk menghitung peluang keuntungan dari perdagangan obat-obat NRT, dengan bersembunyi di balik topeng “kesehatan publik”.

Fakta-fakta tersebut semakin menguatkan bahwa kampanye anti tembakau hanyalah “alat” oleh beberapa perusahaan NRT dalam penjualan produknya, alasan kesehatan serta kandungan zat-zat dalam rokok yang “berbahaya” hanyalah sebagai “bumbu-bumbu” dalam usaha tersebut.

Pola circular terjadi antara

perusahaan farmasi dengan WHO dan juga dengan para filantropi – seperti Bloombergh, Bill Gates, Rockefeller Foundation, dan beberapa filantropi Amerika – mereka terkait satu sama lainya. Blombergh sendiri dengan Johns Hopkins University pada tahun 1998 mendirikan sebuah lembaga yang

bernama Institute for Global Tobacco

Control yang berpusat di JHU Bloomberg School of Public Health, yang merupakan salah satu departemen atau fakultas dari Johns Hopkins University (JHU). Lulusan-lulusan dari dari JHU banyak yang menjadi ahli di WHO termasuk Harlem Brundtland adalah lulusan JHU.

Kurniawan (2012) dalam buku Tipuan Bloombergh, mengungkapakan

lembaga donor Blombergh Initiative

rajin memeberikan hibah bantuan dana pada instansi atau LSM di berbagai negara di dunia. Beberapa lebaga

instansi pemerintah atau

non-pemerintah, LSM dan berbagai lembaga-lembaga.

Berikut adalah beberapa

lembaga atau instansi di Indonesia yang

menerima dana dari Bloombergh

Initiative :

1. Pengurus Pusat Muhammadiyah

pada 2010 menerima Rp 3,6 miliar demi mengeluarkan fatwa haram merokok.

2. Indonesian Corruption Watch (

ICW) juga menerima 45.470 dolar (sekitar Rp427,418 juta) pada Juli 2010 demi mengonsolidasikan kampanye anti-tembakau untuk memulai perubahan fundamental pada aturan soal tembakau di Indonesia.

3. Indonesian Institute for Social

Development menerima 322.643 dolar (Rp 3,032 miliar) pada September 2010. Lembaga ini mengeluarkan penelitian yang mengkritik sistem tata niaga perdagangan tembakau yang

diklaim merugikan serta

memiskinkan petani.

4. Lembaga Pusat Pengendalian

Tembakau dan Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (Tobacco Control Support Centre-Indonesian Public Health Association atau TCSC-IPHA) menerima hingga 1,2 juta dolar (Rp 11,72 miliar) pada

2007-2009 untuk membuat

pertemuan LSM anti-tembakau.

5. Forum Warga Kota Jakarta (Fakta)

mereka menerima 225.178 dolar (Rp 2,116 miliar) atas jasanya itu dari Bloomberg pada Juli 2010.

6. Lembaga Pembinaan dan

Perlindungan Konsumen Semarang dibayar oleh Bloomberg sebesar 106.368 dolar (Rp 999,85 juta) pada November 2010 untuk mendorong Pemerintah Kota Semarang mengeluarkan Peraturan Daerah Anti- Rokok.

FCTC telah diratifikasi di berbagai negara menjadi

undang-undang tentang pengaturan

(12)

12 yang kecil dapat mendominasi hingga mempengaruhi kebijakan

negara-negara di dunia dalam hal

pertembakauan melalui WHO dengan aturan FCTC tersebut serta berbagai lembaga-lembaga donor atau para Filantropi.

5. KESIMPULAN, IMPLIKASI, SARAN, DAN BATASAN

Rokok kretek bisa dibilang sebgai rokok yang unik, sebab memiliki ciri khas tersendiri dan tidak ada di negara lain dalam artian dari sudut pandang kebudayaan, secara historis rokok kretek berasal dari budaya leluhur Indonesia atau nusantara sendiri. Para leluhur meramu tembakau dengan cengkeh dan saus dan dimungkinkan dengan bahan-bahan lain yang berasal dari Indonesia sendiri. Seperti hal-hal lain tempe misalanya, meskipun kedelai bukan tanaman endemik dari Indonesia, para leluhur mencampur kedelai dengan ragi maka jadilah tempe. Sangat

disayangkan tempe terlanjur

dipatenkan oleh jepang, maka untuk urusan rokok kretek jangan sampai bangsa ini lewat pemerintah atau lembaga yang berwenang lengah dan akhirnya dipatenkan oleh negara lain.

Rokok kretek termasuk warisan budaya yang harus perlu dilestarikan sebab berkaitan dengan identitas sebuah bangasa. Kearifan budaya adalah wujud kekayaan yang tidak ternilai materi berapapun besarnya. Secara ekonomi hasil dari cukai maupun pajak dari hasil tembakau yang notabene mayoritas di Indonesia adalah rokok kretek, menyumbang tidak sedikit nilainya terhadap jalanya pembangunan negara Indonesia.

Implikasi monopoli tembakau sebagai bahan utama rokok kretek

sangat jelas terlihat dengan berbagai isu-isu negatif yang beredar dimana isu-isu negatif tersebut digencarkan oleh pihak-pihak yang memiliki motif terselubung dalam kampanye anti tembakau atau anti rokok. Dengan cara berkampanye menggunakan melalui isu-isu kesehatan yang sangat sensitif, doktrin tersebut sangat mudah diterima oleh siapapun.

Faktanya, kebijakan larangan rokok di Amerika Serikat hanya permainan dari beberapa segelintir orang atau lembaga yang memiliki motif untuk memonopoli nikotin dengan cara mengganti kandungan alami nikotin dalam tembakau dengat

zat buatan yang disebut Nicotine

Replacement Theraphy (NRT), yang memiliki fungsi sama dengan nikotin alami.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman & Onghokham (1987), Rokok

Kretek: Lintasan Sejarah dan Artinya Bagi Pembangunan Bangsa dan Negara. Kudus: PT. Djarum Kudus. Budd, Richard W, Thorp, Robert K,

and Donohew, Lewis. (1967). Content

Analysis of Communication. New York. The Macmillan Company. Collin, J., Lee, K., dan Bissell, K.

(2002) The Framework Convention on

(13)

13

Suryandari ,Wahyudi, Nababan.

(2014). Pengelolaan Resiko Bencana

Melalui Kerjasama Lintas Batas Negara. Resilience Development Initiative. Working Paper Series No. 13. Oktober.

Gordon, David M. (1991) “Kaldor’s Macro System: Too Much Cumulation,

Too Few Contradictions.” In Nicholas

Kaldor and Mainstream Economics, edited by Edward J. Nell and Wally Semmler, pp. 355-383). New York: St. Martin’s Press, 1991.

Hamilton, Wanda. (2010). Nicotine

War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat, Yogyakarta: INSISTPress.

Hanusz, Mark (2000), Kretek: The

Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarette. Jakarta:Equinox.

Indriastuti, Suryani (2014), Dampak

Liberalisasi Pertanian Terhadap Produktivitas Ekonomi Petani Tembakau Di Kabupaten Jember. Laporan Hasil Penelitian Hibah Khusus Bagi Peneliti Muda atau

Pemula. from

http://repository.unej.ac.id/handle/123 456789/63424?show=full

Enstrom and Kabat. (2003),

“Environmental tobacco smoke and tobacco related mortality in a prospective study of Californians, 1960-98”. British Medical Journal, Vol 326, 17 MAY 2003.

Jha, P. and Chaloupka, F. (1999) Curbing the epidemic: government and the economics of tobacco control. Washington, DC: World Bank

Kaldor, Nicholas. Causes of the Slow

Rate of Economic Growth in the United Kingdom. Cambridge, UK: Cambridge University Press, (1966). Reprinted in

Nicholas Kaldor, Further Essays on

Economic Theory. New York: Holmes and Meier Publishers, 1978, pp. 100-139.

Krugman, P., & Hanson, G. (1993). Mexico-US Free Trade and The

Location of Production. The

Mexico-US Free Trade Agreement, PM Mark (ed.), 163–168.

Kurniawan, A. Zulfan, (2011), Tipuan

Blombergh, Jakarta: Indonesia Berdikari.

O’Hara, P. A. (2008). Principle of Circular and Cumulative Causation: Fusing Myrdalian and Kaldorian Growth and Development Dynamics. JOURNAL OF ECONOMIC ISSUES, 378-387.

Radjab, Suryadi (2013). Dampak

Pengendalian Tembakau Terhadap Hak - Hak Ekonomi, Sosial Dan Budaya. Jakarta: Serikat Kerakyatan Indonesia (Sakti) dan Center for Law and Order Studies (CLOS).

Samudro, Bhimo Rizky (2004). “Analisis Ekonomi; Dampak Gas Buang Kendaraan Bermotor Terhadap Kesehatan Masyarakat : Studi Kasus

Kabupaten Sleman”, Tesis, S2 Ilmu

Ekonomi dan Studi Pembangunan, Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Setyosari, Punaji (2010), Metode

Penelitian Pendidikan dan Pengembangnnya, Jakarta: Kencana.

Sukmadinata (2006). Metode

Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.

Sunaryo, Thomas (2013), Kretek:

(14)

14

Syah, Hidayat (2010). Penelitian

Deskriptif. Jakarta: Rajawali.

Topatimasang, Roem, et.al. (2010).

eds, Kretek: Kajian Ekonomi &

Budaya 4 Kota. Yogyakarta: Indonesia Berdikari.

Widodo, Etna & Mukhtar, Konstruksi

ke Arah Penelitian,

Deskriptif,Ayyrrouz, Yogyakarta, 2000.

Yoandinas, Marlutfi dan Nuran

Wibisono (2014). Kretek:

Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia. Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

Pratama dan Manzilati. (2014), “Suara

Akar Rumput: Kebudayaan yang Mendasari Perilaku Ekonomi”, Jurnal Ilmu Ekonomi dan Pembangunan. Vol 14, No 1 (2014).

Referensi

Dokumen terkait

Karena salah satu penyebab sepsis bisa diakibatkan oleh bakteri, maka terapi pada penyakit ini menggunakan antibiotik, antibiotik bekerja dengan bakterisid maupun

Pada awalnya toko Le Galleria juga sudah mulai menjual produk-produk Apple lewat internet dengan melalui beberapa forum internet yang bisa dibilang cukup besar penggunanya..

Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan pak dosen hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya menambahkan pertanyaan kepada Ahmad, "Saudara Ahmad, dari mana Saudara tahu

Kegiatan Belanja Langsung yang dilaksanakan selama Tahun 2005 sebanyak 332 kegiatan dengan dana sebesar Rp 76.059.000.000,- (Tujuh Puluh Enam Milyar Lima Puluh Sembilan Juta

R/ menentukan luas/beratnya masalah yang terjadi pada kira-kira 60% klien normal meskipun kapasitas vital meningkat, fungsi pernapasan diubah saat kemampuan difragma untuk turun

Halaman ini berfungsi masuk ke website dengan akun pembeli yang pernah mendaftar, dengan melakukan login pembeli bisa melakukan checkout produk yang akan

Monitoring dan evaluasi khusus dilakukan dengan tujuan untuk memonitor dan mengevaluasi Monitoring dan evaluasi khusus dilakukan dengan tujuan untuk memonitor dan mengevaluasi

[r]