• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rizki Ramadhan BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Rizki Ramadhan BAB II"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

A.Tinjauan Teori

1. Pengetahuan

a. Definisi

Pengetahuan (knowledge) adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni: indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007).

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behaviour). Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2007).

b. Adopsi Pengetahuan

(2)

apabila manusia mengadopsi perbuatan dalam diri seseorang tersebut akan terjadi proses sebagai berikut:

1) Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tertentu disini sikap subjek sudah mulai timbul.

3) Evaluation (menimbang-nimbang) baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. 4) Trial, dimana subjek mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang

dikehendaki oleh stimulus.

5) Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

c. Tingkat Pengetahuan

Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa pengetahuan yang dicakup dalam bidang atau ranah kognitif mempunyai enam tingkatan bergerak dari yang sederhana sampai pada yang kompleks yaitu:

1) Tahu (Know)

(3)

2) Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar.

3) Aplikasi (Aplication)

Penerapan adalah kemampuan menggunakan suatu ilmu yang sudah dipelajari ke dalam situasi baru seperti menerapkan suatu metode, konsep, prinsip atau teori.

4) Analisa (Analysis)

Analisa adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan suatu sama lainnya. 5) Sintesis (Synthesis)

Sintesis adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, misalnya dapat menyusun, merencanakan, meringkas.

6) Evaluasi (Evaluation)

(4)

d. Cara pengukuran tingkat pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau kuisoner yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2007). Menurut Arikunto (2006) dalam Wawan (2010) tingkat pengetahuan ada tiga yaitu:

1) Tingkat pengetahuan baik bila jumlah jawaban benar 76%-100% 2) Tingkat pengetahuan cukup bila jumlah jawaban benar 56%-75% 3) Tingkat pengetahuan kurang bila jumlah jawaban benar <56% e. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007), faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan meliputi:

1) Umur

(5)

Pembagian umur menurut Hurlock (2005) yaitu ;

a) Dewasa awal : dimulai pada umur 18 tahun sampai umur 40 tahun. b) Dewasa madya : dimulai pada umur 41 tahun sampai umur 60

tahun

c) Dewasa lanjut : dimulai pada umur 60 tahun sampai kematian 2) Tingkat Pendidikan

Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang di rencanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Notoatmodjo, 2007). Pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat. Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk SD / sederajat, SLTP / sederajat, SMA / sederajat, dan Perguruan Tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang banyak pula menjadi tahu, dan ini juga didukung oleh umur dan pengalaman yang didapat (Notoatmodjo, 2007).

(6)

3) Pekerjaan

Pekerjaan adalah seluruh aktivitas yang dilakukan sehari-hari, dimana semua bidang pekerjaan umumnya diperlukan adanya hubungan sosial dengan orang lain. Setiap orang harus bergaul dengan teman sejawat maupun berhubungan dengan atasan (Notoatmodjo, 2007).

Pekerjaan digunakan dalam suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim dengan profesi. Pekerjaan seseorang sering dikaitkan pula dengan tingkat penghasilannya. Jenis pekerjaan misalnya : tidak bekerja/IRT, swasta, wiraswasta, pegawai negeri sipil (PNS), buruh dan tani (Notoatmodjo, 2007).

Seseorang yang bekerja akan berinteraksi dengan orang lain sehingga akan mendapatkan berbagai macam informasi yang dapat menambah pengetahuannya, hal ini juga akan menambah pengalaman seseorang (Notoatmodjo, 2007).

4) Sumber Informasi

Sumber informasi diartikan sebagai sumber belajar sekalipun banyak orang yang berpendapat bahwa pengalaman itu lebih luas dari pada sumber belajar, sumber informasi yang disusun secara sistematis oleh otak, maka hasilnya adalah ilmu pengetahuan (Soekanto, 2007).

(7)

Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas (Soekanto, 2002). Pengetahuan diperoleh melalui kenyataan dengan melihat dan medengar sendiri melalui alat komunikasi, misalnya surat kabar radio, televisi, serta dari keluarga dan kerabat dekat. Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas (Nursalam, 2005).

Seseorang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Informasi ini dapat diperoleh dari beberapa sumber antara lain:

a) Media cetak

(1) Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah yang membahas suatu masalah kesehatan atau hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.

(2) Leaflet ialah bentuk penyampaian informasi atau pesan-pesan kesehatan melalui lembaran lipat.

(3) Poster ialah bentuk penyampaian informasi atau pesan-pesan kesehatan yang biasanya ditempel di temboktembok, tempat -tempat umum, atau kendaraan umum.

(8)

(5) Majalah bisa menjadi media yang efektif bila isi majalah disesuaikan dengan kepentingan kepentingan pembaca dan harus berdasarkan materi yang banyak diketahui oleh pembaca. (6) Buku-buku, diperpustakaan sekolah buku telah didefinisikan dan di atur secara sistematis sehingga memudahkan orang untuk mencari dan membacanya.

b) Media elektronik

Sebagai sarana untuk menyapaikan pesan-pesan atau informasi kesehatan melalui media kesehatan, seperti:

(1) Televisi, penyampaian pesan atau informasi-informasi kesehatan melalui media televisi dapat dalam bentuk forum kesehatan.

(2) Radio, penyampaian informasi atau pesan-pesan kesehatan melalui radio juga dapat bermacam-macam bentuknya, antara lain: obrolan atau tanya jawab, ceramah.

(3) Vidio, penyampaian informasi atau pesan-pesan kesehatan dapat melalui vidio.

5) Pengalaman

(9)

2. ASI Eksklusif

a. Definisi ASI Eksklusif

ASI eksklusif menurut WHO (World Health Organization) adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain baik susu formula, air putih, air jeruk ataupun makanan tambahan lain. Sebelum mencapai usia 6 bulan sistem pencernaan bayi belum mampu berfungsi dengan sempurna sehingga ia belum mampu mencerna makanan selain ASI (Marimbi, 2010).

ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi (Indiarti, 2009). ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktose dan garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi (Weni, 2011)

b. Manfaat ASI dan Menyusui

Menurut Weni (2011), manfaat ASI ada 4 yaitu: 1) Manfaat ASI bagi bayi

a) Dapat membantu memulai kehidupannya dengan baik b) Mengandung antibodi

c) ASI mengandung komposisi yang tepa d) Mengurangi kejadian karies gigi.

(10)

f) Terhindar dari alergi

g) ASI meningkatkan kecerdasan bagi bayi

h) Membantu perkembangan rahang dan merangsang pertumbuhan gigi karena gerakan menghisap mulut bayi pada payudara

2) Manfaat ASI bagi ibu a) Aspek kontrasepsi

Hisapan mulut bayi pada puting susu merangsang ujung syaraf sensorik sehingga post anterior hipofise mengeluarkan prolaktin. Prolaktin masuk ke indung telur, menekan produksi estrogen akibatnya tidak ada ovulasi.

b) Aspek kesehatan ibu.

Isapan bayi pada payudara akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar hipofisis. Oksitosin membantu involusi uterus dan mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan. Penundaan haid dan berkurangnya perdarahan pasca persalinan mengurangi prevalensi anemia defisiensi besi. Kejadian karsinoma mamae pada ibu menyusui lebih rendah dibanding ibu yang tidak menyusui.

c) Aspek penurunan berat badan.

(11)

sebetulnya memang disiapkan sebagai sumber tenaga dalam proses produksi ASI. Dengan menyusui tubuh akan menghasilkan ASI lebih banyak lagi sehingga timbunan lemak yang berfungsi sebagai cadangan tenaga akan terpakai.

d) Aspek psikologis.

Ibu akan merasa bangga dan diperlukan, rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia.

3) Manfaat ASI bagi keluarga a) Aspek ekonomi.

ASI tidak perlu dibeli, sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk membeli susu formula dapat digunakan untuk keperluan lain.

b) Aspek psikologi.

Kebahagiaan keluarga bertambah karena kelahiran lebih jarang sehingga suasana kejiwaan ibu baik dan dapat mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.

c) Aspek kemudahan.

(12)

4) Manfaat ASI bagi Negara

a) Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.

Adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi. Bayi yang tetap diberikan ASI ternyata juga terlindungi dari diare karena kontaminasi makanan yang tercemar bakteri menjadi lebih kecil.

b) Menghemat devisa Negara.

ASI dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp. 8,6 milyar yang seharusnya digunakan untuk membeli susu formula. c) Mengurangi subsidi untuk rumah sakit.

Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gabung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit.

d) Peningkatan kualitas generasi penerus.

Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin. c. Komponen ASI

(13)

yang memainkan peran utama dalam perlawanan penyakit pada bayi. Berikut komponen penting dari ASI menurut Proverawati (2010) :

1) Kolostrum

Cairan susu kental berwarna kekuning-kuningan yang dihasilkan pada sel alveoli payudara ibu. Sesuai untuk kapasitas pencernaan bayi dan kemampuan ginjal baru lahir yang belum mampu menerima makanan dalam volume besar. Jumlahnya tidak terlalu banyak tetapi kaya gizi dan sangat baik bagi bayi. Kolostrum mengandung karoten dan vitamin A yang sangat tinggi.

2) Protein

Protein dalam ASI terdiri dari casein (protein yang sulit dicerna) dan whey (protein yang mudah dicerna). ASI lebih banyak mengandung whey daripada casein sehingga protein ASI mudah dicerna.

3) Lemak

Lemak ASI adalah penghasil kalori (energi) utama dan merupakan komponen zat gizi yang sangat bervariasi. Lebih mudah dicerna karena sudah dalam bentuk emulsi.

4) Laktosa

(14)

5) Vitamin A

Konsentrasi vitamin A berkisar pada 200 UI/dl. 6) Zat Besi

Meskipun ASI mengandung sedikit zat besi (0,5-1,0 mg/ltr), bayi yang menyusui jarang kekurangan zat besi (anemia). Hal ini dikarenakan zat besi pada ASI mudah dicerna.

7) Taurin

Berupa asam amino dan berfungsi sebagai neurotransmitter, berperan penting dalam maturasi otak bayi. DHA dan ARA merupakan bagian dari kelompok molekul yang dikenal sebagai omega fatty acids. DHA (docosahexaenoic acid) adalah sebuah blok

bangunan utama di otak sebagai pusat kecerdasan dan di jala mata. Akumulasi DHA di otak lebih besar dari dua tahun pertama kehidupan. ARA (arachidonic acid) yang ditemukan di seluruh tubuh dan bekerja bersama-sama dengan DHA untuk mendukung visual dan perkembangan mental bayi.

8) Lactobasilus

Berfungsi menghambat pertumbuhan mikoorganisme seperti bakteri E.Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi.

9) Lactoferin

(15)

berpontensi berbahaya seperti bakteri Staphylococci dan E.Coli. Hal ini ditemukan dalam konsentrasi tinggi dalam kolostrum, tetapi berlangsung sepanjang seluruh tahun pertama bermanfaat menghambat bakteri staphylococcus dan jamur candida.

10) Lisozim

Dapat mencegah dinding bakteri sekaligus mengurangi insiden caries dentis dan maloklusi. Enzim pencernaan yang kuat akan

ditemukan dalam ASI pada tingkat 50 kali lebih tinggi daripada dalam rumus. Lysozyme menghancurkan bakteri berbahaya dan akhirnya menghambat keseimbangan rumit bakteri yang menghuni usus.

d. Produksi ASI

ASI dihasilkan oleh kelenjar payudara wanita melalui proses laktasi. Keberhasilan laktasi ini dipengaruhi oleh kondisi sebelum dan saat kehamilan berlangsung. Kondisi sebelum kehamilan ditentukan oleh perkembangan payudara saat lahir dan pubertas. Sedangkan kondisi pada saat kehamilan yaitu pada trimester II dimana payudara mengalami pembesaran oleh karena pertumbuhan dan diferensiasi dari lobulo alveolar dan sel epitel payudara. Pada saat pembesaran payudara, hormon prolaktin dan laktogen placenta aktif bekerja dalam memproduksi ASI (Proverawati, 2010).

(16)

prolaktin, yaitu hormone utama yang mengendalikan pengeluaran ASI. Proses pengeluaran ASI juga tergantung pada let down reflek, dimana isapan puting dapat merangsang serabut otot halus di dalam dinding saluran susu agar membiarkan susu dapat mengalir secara lancar. Keluarnya ASI terjadi sekitar hari ketiga setelah bayi lahir, dan kemudian terjadi peningkatan aliran susu yang cepat pada minggu pertama, meskipun kadang-kadang agak tertunda sampai beberapa hari. Larangan bagi bayi untuk menghisap puting ibu akan banyak menghambat keluarnya ASI, sementara menyusui bayi menurut permintaan bayi secara naluriah akan memberikan hasil yang baik. Kegagalan dalam perkembangan payudara secara fisiologis untuk menampung ASI serta adanya faktor kelainan anatomis yang mengakibatkan kegagalan dalam menghasilkan ASI sangat jarang terjadi (Proverawati, 2010).

Menurut Prasetyono (2009) berdasarkan waktu produksinya, ASI dibedakan menjadi tiga yaitu, kolostrum, foremilk dan hindmilk.

1) Kolostrum

(17)

berangsur-angsur produksi kolostrum berkurang saat ASI keluar pada hari ketiga sampai kelima.

Kolostrum adalah cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan redual material, yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae sebelum dan sesudah melahirkan anak. Kolostrum disekresi oleh kelenjar mamae pada hari pertama hingga ketiga atau keempat sejak masa laktasi (Baskoro, 2008).

2) Foremilk

Air susu yang keluar pertama kali disebut susu awal (foremilk). Air susu ini hanya mengandung sekitar1-2% lemak dan terlihat encer, serta tersimpan dalam saluran penyimpanan. Air susu tersebut sangat banyak dan membantu menghilangkan rasa haus pada bayi.

3) Hindmilk

Hindmilk keluar setelah foremilk habis, yakni saat menyusui

hampir selesai. Hindmilk sangak kaya, kental dan penuh lemak bervitamin, sebagaimana hidangan utama setelah sup pembuka. Air susu ini sebagian besar energy. yang dibutuhkan oleh bayi.

e. Pola Pemberian ASI

(18)

6 bulan. Oleh karena itu ibu mesti memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Meskipun setelah berumur 4 bulan atau 6 bulan bayi memperoleh makanan tambahan pemberian ASI harus dilanjutkan minimal sampai 12 bulan atau sebaiknya 24 bulan. Sebab ASI memberikan sejumlah zat-zat yang berguna untuk bayi, seperti lemak, protein bermutu tinggi, vitamin dan mineral (Prasetyono, 2009).

Ketika bayi menangis, ibu harus segera menyusuinya, meskipun hal itu terjadi pada malam hari, baik bayi tidur bersama ibu ataupun tidur terpisah. Pemberian ASI pada beberapa hari pertama setelah kelahiran bayi tidak harus dari satu payudara tetapi bayi mesti diberi ASI dari kedua payudara secara bergantian. Tindakan tersebut mencegah terjadinya pengerasan payudara (Prasetyono, 2009).

Biarkan bayi menyusui sesuai permintaannya. Bayi yang menyusu sesuai permintaannya bisa menyusu sebanyak 12-15 kali dalam 24 jam. Biasanya bayi langsung mengosongkan payudara pertama dalam beberapa menit. Frekuensi menyusui dapat diatur sedemikian rupa dengan membuat jadwal rutin (Prasetyono, 2009).

f. Masalah dalam Pemberian ASI 1) Puting susu nyeri

(19)

Rasa nyeri pada puting dapat mempengaruhi proses menyusui, memiliki puting yang luka dan cedera dapat membuat intensitas menyusui berkurang. Bahkan adanya rasa nyeri tersebut akan membuat ibu berhenti menyusui dan memilih untuk berpindah ke susu formula (Proverawati, 2010)

2) Puting susu lecet

Puting susu terasa nyeri bila tidak ditangani dengan benar akan menjadi lecet. Umumnya menyusui akan menyakitkan dan kadang-kadang mengeluarkan darah. Puting susu lecet dapat disebabkan oleh posisi menyusui yang salah, tapi dapat pula disebabkan oleh thrush (candidates) atau dermatitis (Weni, 2011).

3) Payudara bengkak

Pada hari-hari pertama payudara sering terasa penuh dan nyeri disebabkan oleh bertambahnya aliran darah ke payudara bersamaan dengan ASI mulai diproduksi dalam jumlah banyak (Weni, 2011).

Payudara yang membengkak dapat membuat areola dapat melembung, yang bisa membuat sulit untuk bayi menyusu dengan benar. Bayi hanya mampu menghisap pada puting susu bukan areola. Hal ini akan menyebabkan bayi untuk menghisap keras pada puting susu sebagai tindakan untuk mencoba mendapatkan susu dan menyebabkan puting crack dan sakit (Proverawati, 2010).

Untuk mencegah terjadinya bengkak maka diperlukan, menyusui dini, perlekatan yang baik, menyusui “on demand”. Bayi

(20)

menyusu sebaiknya ASI dikeluarkan dahulu agar ketegangan menurun (Weni, 2011).

4) Mastitis atau abses payudara

Mastitis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah, bengkak kadangkala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat. Di dalam terasa ada masa padat (lump), dan diluarnya kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini disebabkan kurangnya ASI di isap dikeluarkan atau penghisapan yang tidak efektif. Dapat juga karena kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju/BH (Weni, 2011).

5) Kurang atau salah informasi

Banyak ibu yang merasa bahwa susu formula itu sama baiknya atau malah lebih baik dari ASI sehingga cepat menambah susu formula bila merasa bahwa ASI kurang. Petugas kesehatanpun masih banyak yang tidak memberikan informasi pada saat pemeriksaan kehamilan atau saat memulangkan bayi (Weni, 2011).

6) Sindrom ASI kurang

(21)

misalnya pada relaktasi maka bila perlu dilakukan pemberian ASI dengan suplementer yaitu dengan pipa nasogastrik atau pipa halus lainnya yang ditempelkan pada puting untuk diisap bayi dan ujung lainnya dihubungkan dengan ASI (Weni, 2011).

Sering kali ibu mengeluh bahwa ASI-nya tidak keluar atau tidak mencukupi kebutuhan bayi. Hal ini dapat dipengaruhi kondisi psikis ibu, karena merasa tidak mampu menyusui bayi. Peningkatan produksi ASI seiring jumlah ASI yang dikeluarkan. Semakin tinggi kebutuhan bayi, ASI yang diproduksi semakin meningkat (Prastyono, 2009)

7) After pains

Hormon oksitosin yang menyebabkan refleks aliran air susu menyebabkan kontraksi pada rahim saat melahirkan. Oksitosin yang dihasilkan saat menyusui dapat menyebabkan kontraksi rahim. After pains bisa berupa nyeri ringan dan kontraksi yang benar-benar

menyakitkan. Rasa sakit tersebut dapat muncul dan menghilang selama 5-10 menit. Sebenarnya tidak semua wanita mengalami after pains, tetapi hal ini dianggap normal dan akan berhenti setelah 4 hari.

Biasanya after pains lebih sering muncul dan menjadi semakin parah setelah melahirkan anak kedua dan seterusnya (Prasetyono, 2009). 8) Puting payudara yang datar

(22)

mandi pada periode kehamilan di atas 7 bulan. Penarikan puting payudara dilakukan sampai bayi lahir (Prasetyono, 2009).

9) Masalah pada bayi

Beberapa kondisi bayi bisa mempersulit tindakan menyusui pada bayi diantaranya adalah terdapat kelainan sumbing bibir, kelainan bentuk mulut, bayi bingung puting bayi dengan lidah pendek (Weni, 2011).

g. Perilaku Pemberian ASI Eksklusif

Perilaku pemberian ASI adalah suatu tindakan aktif dari seorang ibu dalam pemberian ASI eksklusif yaitu tanpa tambahan makanan dari bayi lahir sampai berusia 6 bulan (Dinkes, 2008). Rendahnya pemberian ASI banyak ditemukan diantara perempuan yang bekerja karena alasan seperti singkat cuti hamil, tempat bekerja dimana tidak diperbolehkan membawa bayi atau tidak ada privasi untuk menyusui bayi (Singh, 2010).

Penelitian Singh (2010) menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan ibu, pengetahuan ibu semakin baik. Hal ini akan memberikan kecenderungan ibu dalam bersikap dengan memberikan ASI eksklusif pada bayi. Penelitian serupa oleh Amosu, et. all (2011) telah menunjukkan bahwa perilaku menyusui sangat rendah diantara perempuan berpendidikan tinggi dan bekerja.

(23)

ibu – ibu bekerja menghentikan pemberian ASI setelah kembali bekerja. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi penghentian ASI adalah kurangnya fasilitas di tempatkerja terhadap proses pemberian ASI yaitu tempat memerah dan penyimpanan ASI.

h. Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif menurut Zakiyah (2012) antara lain:

1) Pengetahuan Ibu

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang (Notoadmodjo, 2007). Pengetahuan merupakan penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya.

2) Pendidikan Ibu

Tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan ibu berhubungan dengan pola pemberian ASI eksklusif (Yuliandarin, 2009). Hal yang sama disampaikan Wardah (2013) bahwa terdapat hubungan bermakna antara pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif.

3) Pekerjaan Ibu

(24)

2009). Dunia kerja akan mengubah peran ibu dalam mengasuh anak. Sedikitnya lama cuti pasca melahirkan dan jam kerja yang panjang menjadi faktor beralihnya ibu ke susu formula dan ibu menyapih anak (Andini, 2006).

4) Usia Ibu

Ibu yang berumur 35 tahun atau lebih tidak dapat menyusui bayinya dengan ASI yang cukup sehingga terdapat hubungan yang bermakna antara usia ibu dengan pemberian ASI eksklusif (Lestarie, 2004). Proporsi pemberian ASI eksklusif paling banyak pada ibu berusia muda lebih besar dari proporsi pemberian ASI eksklusif pada ibu berusia tua (Yuliandarin, 2009).

5) Kondisi kesehatan Ibu dan bayi

(25)

6) Manajeman Laktasi

Manajemen laktasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui (Siregar, 2009). Kegiatan ini dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya. Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui, mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Sementara itu, yang dimaksud dengan manajemen laktasi ialah suatu upaya yang dilakukan oleh ayah, ibu dan keluarga untuk menunjang keberhasilan menyusui. Ruang lingkup pelaksanaan manajemen laktasi dimulai pada masa kehamilan, setelah persalinan, dan masa menyusui (Prasetyono, 2009).

a) Masa Kehamilan (antenatal)

(1) Ibu mencari informasi tentang keunggulan ASI, manfaat menyusui bagi ibu dan bayi, serta dampak negatif pemberian susu formula.

(2) Ibu memeriksakan kesehatan tubuh, kehamilan dan kondisi puting payudara. Selain itu, ibu perlu memantau kenaikan berat badan selama hamil.

(3) Ibu melakukan perawatan payudara sejak kehamilan berumur 6 bulan hingga siap menyusui. Tindakan ini dimaksudkan agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang mencukupi kebutuhan bayi.

(26)

yang dibutuhkan saat hamil sebanyak 11/3 kali dari makanan

yang dikonsumsi sebelum hamil.

(5) Ibu menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, termasuk mendapatkan dukungan suami yang dapat memberikan rasa nyaman kepada ibu.

b) Masa setelah persalinan (prenatal)

(1) Masa persalinan merupakan masa yang paling penting dalam kehidupan bayi selanjutnya. Dalam hal ini, bayi harus mendapatkan cukup ASI, yang dilanjutkan dengan cara menyusui yang baik dan benar, baik posisi maupun cara melekatkan bayi pada payudara ibu.

(2) Membantu terjadinya kontak langsung antara bayi dan ibu selama 24 jam agar menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal. (3) Ibu nifas diberi kapsul vitamin A dosis tinggi dalam waktu 2

minggu setelah melahirkan. c) Masa menyusui (postnatal)

(1) Setelah bayi mendapat ASI pada minggu pertama kelahiran, ibu harus menyusui bayi secara eksklusif selama 4 bulan pertama setelah lahir. Saat itu, bayi hanya diberi ASI tanpa makanan atau minuman lainnya.

(27)

(3) Ibu harus cukup istirahat untuk menjaga kesehatannya. Ibu perlu ketenangan pikiran, serta menghindarkan diri dari kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat. (4) Ibu selalu mengikuti petunjuk petugas kesehatan (merujuk

Posyandu atau Puskesmas) bila ada permasalahan yang terkait penyusuan.

(5) Ibu memperhatikan gizi/makanan anak, terutama pada bayi berusia 4 bulan. Sebaiknya, bayi diberi ASI yang kualitas dan kuantitasnya baik

7) Promosi Susu Formula

(28)

8) Status Ekonomi dan Demografi

Berdasarkan RISKESDAS 2010, terdapat hubungan antara tingkat pengeluaran per kapita rumah tangga dengan pemberian ASI eksklusif di kelompok bayi 0-1 bulan, 2-3 bulan maupun 4-5 bulan. Semakin tinggi tingkat pengeluaran seseorang maka semakin sedikit presentase pemberian ASI. Menurut RIKESDAS 2010, Cakupan ASI juga lebih tinggi di daerah pedesaan dibandingkan daerah perkotaan. Presentase pemberian ASI di daerah perkotaan pada usia 0-1 bulan sebanyak 41,7% dan semakin menurun pada bayi berusia 2-3 bulan (34,8%) dan umur 4-5 bulan (26,9%).

9) Kebijakan Nasional dan Internasional

(29)

10) Dukungan Keluarga

Undang-Undang No. 52 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga menyatakan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Dukungan keluarga merupakan salah satu unsur penting menyukseskan ASI eksklusif. Dukungan keluarga akan menambah rasa percaya diri dan meningkatkan motivasi. Interaksi positif dengan keluarga akan menghasilkan kasih sayang dan dukungan moril.

Hasil penelitian Abdul (2010) membuktikan bahwa dukungan keluarga berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif oleh ibu. Senada dengan hal tersebut, penelitian Simbolon (2011) juga menguatkan bukti bahwa dukungan keluarga berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif. Dukungan keluarga, terbukti berpengaruh secara emosional. Dukungan merupakan bagian dari membangun kepercayaan. Selain meningkatkan kepercayaan diri, dukungan jugameningkatkan kepercayaan atas hubungan diantara pasangan. 11) Dukungan suami

(30)

mengenai ASI dapat menghilangkan kendala yang ada dan merubah keadaan psikologis ibu. Keadaan psikologis ibu berpengaruh besar terhadap keberhasilan ibu menyusui secara eksklusif (NMAA, 2011).

Penelitian yang dilakukan oleh Yuliandarin (2009) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif. Ibu yang mendapat dukungan suami yang baik berpeluang 12,98 kali lebih besar memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu yang memiliki dukungan suami yang rendah.

12) Dukungan Keluarga Ibu

Penelitian yang dilakukan Dykes (2008) di North West of England menyatakan bahwa terdapat dukungan keluarga ibu berpengaruh positif terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif. Ibu membutuhkan dukungan emosional, informasi dan bantuan dari keluarganya. Senada dengan hal tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Ingram (2004) di South Bristol United Kingdom menyatakan bahwa dukungan keluarga ibu penting untuk mendukung pemberian ASI eksklusif. Keluarga ibu berperan dalam pemberian informasi dan bantuan praktis dalam menyusui.

13) Dukungan Mertua

(31)

bermakna antara dukungan keluarga ibu dan mertua dengan pemberian ASI eksklusif. Penelitian yang dilakukan oleh Ingram (2004) dengan metode kualitatif berupa focus group discussion dan wawancara dengan 10 orang mertua di South Bristol United Kingdom menyatakan bahwa dukungan mertua berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif.

14) Pelayanan Kesehatan

Dukungan dari pelayanan kesehatan diperlukan untuk mendukung ibu memberikan ASI eksklusif. Dukungan dari pelayanan kesehatan berupa informasi mengenai menyusui selama kehamilan dan setelah bayi lahir. Pemerintah telah mengeluarkan “Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui” dalam Kepmenkes RI No. 450 tahun 2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu secara sksklusif pada Bayi di Indonesia.

3. Manajemen Laktasi

a. Defenisi Manajemen Laktasi

(32)

Manajemen Laktasi adalah tata laksana yang dipelukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaanya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya (Direktorat Gizi Masyarakat, 2005). Manajemen Laktasi adalah upaya – upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui (Siregar, 2009).

Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk manusia (Direktorat Gizi Masyarakat, 2005). Laktasi adalah produksi dan pengeluaran ASI, dimana calon ibu ibu harus sudah siap baik secara psikologis dan fisik. Jika laktasi baik maka bayi cukup sehat menyusu. Produksi ASI disesuaikan dengan kebutuhan bayi, volume ASI 500 – 800 ml/hari (3000 ml/hari) (Rukiyah, 2011).

(33)

b. Fisiologi Laktasi

Amosuat et.al (2011) mengungkapkan bahwa menyusui merupakan cara terbaik dalam menyediakan makananideal untuk perkembangan dan pertumbuhan bayi sehat. Dengan menyusukan lebih dini terjadi perangsangan puting susu, terbentuklah prolaktin dan hipofisis. Sehingga sekresi ASI semakin lancar. Pada ibu ada 2 macam refleks yang menentukan keberhasilan dalam menyusui. Refleks tersebut adalah reflek prolaktin dan reflek aliran (let down reflek) (Perinasia, 2009). Kemampuan laktasi setiap ibu berbeda-beda. Sebagian mempunyai kemampuan yang lebih besar dibandingkan dengan yang lain. Dari segi fisiologi, kemampuan laktasi berhubungan dengan makanan, faktor endokrin dan faktor fisiologi (Marmi, 2012).

(34)

sebab meskipun kadar prolaktin cukup tinggi, pengeluaran air susu juga dihambat oleh hormon estrogen. Setelah persalinan kadar estrogen dan progesteron menurun dengan lepasnya plasenta, sedangkan prolaktin tetap tinggi sehingga tidak ada lagi hambatan terhadap prolaktin dan estrogen. Oleh karena itu, airsusu ibu segera keluar. Biasanya, pengeluaran air susu dimulai pada hari kedua dan ketiga setelah kelahiran. Setelah persalinan, segera susukan bayi karena akan memacu lepasnya prolaktin dari hipofise sehingga pengeluaran air susu bertambah lancar (Marmi, 2012).

Reflek-reflek yang sangat penting dalam proses laktasi sebagai berikut:

1) Reflek Prolaktin

Sewaktu bayi menyusu, ujung saraf peraba yang terdapat pada puting susu terangsang, rangsangan tersebut dibawa ke hipotalamus oleh serabut afferent, kemudian dilanjutkan ke bagian depan kelenjar

hipofise yang memacu pengeluaran hormon prolaktin ke dalam darah.

Melalui sirkulasi prolaktin memacu sel kelenjar memproduksi air susu.

2) Reflek Aliran (let down reflek)

(35)

memeras air susu dari alveoli, duktus dan sinus menuju puting susu. 3) Reflek Menangkap (Rooting Reflek)

Jika disentuh pipinya, bayi akan menoleh ke arah sentuhan. 4) Reflek Menghisap

Reflek menghisap pada bayi akan timbul jika puting merangsang langit-langit.

5) Reflek Menelan

Air susu yang penuh dalam mulut bayi akan ditelan sebagai pernyataan reflek menelan dari bayi. Pada saat bayi menyusu, akan terjadi peregangan puting susu dan areola untuk mengisi rongga mulut (Marmi, 2012).

c. Upaya Memperbanyak AS

Menurut Marmi (2012), upaya tindakan yang dapat memperbanyak ASI yaitu, sebagai berikut:

1) Bimbingan prenatal.

2) Perawatan payudara dan puting susu sedini mungkin dimulai sejak kehamilan trimester III.

3) Menyusui sedini mungkin segera setelah melahirkan.

4) Menyusui secara on demand yaitu menyusui sesering mungkin sesuai dengan kehendak bayi tanpa dijadwal.

5) Menyusui dengan posisi yang benar. 6) Memberikan ASI eksklusif.

(36)

nutrisi lengkap dengan cukup kalori dan cukup air

8) Dukungan pada ibu secara psikologis dari suami, keluarga dan bidan. 9) Sikap pelayanan, pengetahuan dan kesiapan petugas.

10) Saat menyusui, sebaiknya ibu berada di lingkungan yang tenang. 11) Pelayanan pascanatal.

12) Setiap menyusui, gunakanlah kedua payudara secara bergantian tetapi diusahakan satu payudara sampai habis, lalu pindah ke payudara yang lainnya.

d. Cara Menyusui yang Benar

Menurut Marmi (2012), cara menyusui yang benar adalah sebagai berikut:

1) Posisi madona atau menggendong

Bayi berbaring menghadap ibu, leher dan punggung atas bayi diletakkan pada lengan bawah lateral payudara. Ibu menggunakan tangan lainnya untuk memegang payudara jika diperlukan.

2) Posisi football atau mengepit

Bayi berbaring atau punggung melingkar antara lengan dan samping dada ibu. Lengan bawah dan tangan ibu menyangga bayi dan mungkin menggunakan tangan sebelahnya untuk memegang payudara jika diperlukan.

3) Posisi berbaring miring

(37)

penyembuhan dari proses persalinan melalui pembedahan e. Tata Laksana Menyusui yang Benar

Menurut Marmi (2012), tahap dan tata laksana menyusui yang benar adalah sebagai berikut:

1) Posisi badan ibu dan badan bayi

a) Ibu harus duduk atau berbaring dengan santai.

b) Pegang bayi pada belakang bahunya, tidak pada dasar kepala. c) Putar seluruh badan bayi sehingga menghadap ke ibu.

d) Rapatkan dada bayi dengan dada ibu atau bagian bawah payudara ibu.

e) Tempelkan dagu bayi pada payudara ibu.

f) Dengan posisi ini maka telinga bayi akan berada dalam satu garis dengan leher dan lengan bayi.

g) Jauhkan hidung bayi dari payudara ibu dengan cara menekan pantat bayi dengan lengan ibu bagian dalam.

2) Posisi mulut bayi dan puting susu ibu

a) Keluarkan ASI sedikit oleskan pada puting dan areola.

b) Pegang payudara dengan pegangan seperti membentuk huruf C yaitu payudara dipegang dengan ibu jari dibagian atas dan jari yang lain menopang dibawah atau dengan pegangan seperti gunting (puting susu dan areola dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah seperti gunting) dibelakang areola

(38)

menghisap).

d) Tunggu sampai mulut bayi terbuka lebar dan lidah menjulur kebawah.

e) Dengan cepat dekatkan bayi ke payudara ibu dengan menekan bahu belakang bayi bukan belakang kepala.

f) Posisikan puting susu di atas bibir atas bayi dan berhadap-hadapan dengan hidung bayi.

g) Kemudian arahkan puting susu keatas menyusuri langit-langit mulut bayi.

h) Usahakan sebagian besar areola masuk ke mulut bayi, sehingga puting susu berada diantara pertemuan langit-langit yang keras (palatum durum) dan langit-langit yang lunak (palatum molle). i) Lidah bayi akan menekan dinding bawah payudara dengan gerakan

memerah sehingga ASI akan keluar.

j) Setelah bayi menyusu atau menghisap payudara dengan baik, payudara tidak perlu dipegang atau disangga lagi.

k) Beberapa ibu sering meletakan jarinya pada payudara dengan hidung bayi dengan maksud untuk memudahkan bayi bernafas. Hal ini tidak perlu karena hidung bayi telah dijauhkan dari payudara dengan cara menekan pantat bayi dengan lengan ibu.

(39)

f. Cara Memerah ASI

Mensah (2011) dalam risetnya mengungkapkan banyak ibu yang kembali bekerja setelah melahirkan dan mereka harus meninggalkan bayi mereka di rumah. Mereka tidak dapat menyusui bayinya dengan baik seperti yang dipersyaratkan oleh WHO karena kurangnya fasilitas tempat kerja. Dalam hal ini bekerja bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI secara eksklusifselama paling sedikit 4 bulan. Dan ibu bakerja di anjurkan memberikan ASI perah kepada bayinya selama ditinggal ibu bekerja. Manfaat dari pemberian ASI menurut Roesli (2010) selain bayi tetap memperolah ASI saat ibunya bekerja juga dapat menghilangkan bendungan ASI, menghilangkan rembesan ASI, juga menjaga kelangsungan persediaan ASI saat ibu sakit atau bayi sakit.

Menurut Bobak (2009) cara memerah ASI dengan tangan adalah sebagai berikut:

1) Cuci tangan sampai bersih, pegang cangkir bersih untuk menampung ASI.

2) Condongkan badan ke depan dan sanggah payudara dengan tangan. 3) Mulai dari letakkan jari di atas areola dan jari – jari lain di bawahnya. 4) Peras ASI dengan menekan payudara sambil ibu jari dan jari-jari lain

mengurut ke arah depan.

5) Ulangi gerakan tekan, pijat dan lepas beberapa kali dengan gerakan berirama sampai ASI mulai mengalir keluar.

(40)

mengeluarkan ASI dan akan menyebabkan sakit.

4. Hubungan Pengetahuan Tentang Manajemen Laktasi dengan

Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif

Menurut Notoadmodjo (2007), pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan ibu yang memadai mengenai ASI eksklusif akan mempengaruhi dan memotivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Ibu yang berpengetahuan baik mengetahui lama pemberian ASI tanpa makanan apapun, manfaat pemberian ASI, hal yang mempengaruhi volume ASI, zat gizi yang terkandung dalam ASI, pengetahuan mengenai kolostrum, frekuensi menyusui dan tanda bayi cukup ASI.

(41)

Berbeda dengan hal tersebut, penelitian yang dilakukan Utaminingrum (2010) di Kelurahan Muktiharjo dengan jumlah responden 62 ibu yang memiliki bayi berusia 6-12 bulan menunjukkan bahwa tidak terbukti adanya hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Penelitian yang dilakukan Setiawati (2013) di daerah Semarang dengan 117 responden menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian ASI eksklusif (p-value= 0,43).

(42)

B.Kerangka Teori

Kerangka teori adalah kesimpulan dari tinjauan pustaka yang berisi tentang yang dipergunakan atau berhubungan dengan penelitian yang akan dilaksanakan (Suparyanto, 2009). Kerangka teori dalam penelitian ini adalah:

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Sumber : Notoatmodjo (2007), Proverawati (2010), Weni (2011), Prasetyomo (2009) 7. Puting payudara datar 8. Masalah pada bayi.

1. Promosi Susu Formula 2. Manajemen Laktasi Faktor Pendorong :

(43)

C.Kerangka Konsep

Kerangka konsep/kerangka berfikir merupakan dasar pemikiran pada penelitian yang dirumuskan dari fakta-fakta, observasi dan tinjauan pustaka atau uraian dalam kerangka konsep menjelaskan hubungan dan keterkaitan antar variabel peneliti (Saryono, 2010).

Variabel bebas (Independent) Variabel Terikat (Dependent)

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

D.Hipotesis

Hipotesis dalam suatu penelitian berarti jawaban sementara penelitian, patokan duga, atau dalil sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut. Setelah melalui pembuktian, maka hipotesis dapat benar atau salah, bisa diterima bisa ditolak (Notoatmodjo, 2010). Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga.

Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Teori
Gambar 2.2 Kerangka Konsep

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Jadi proses terjadinya persepsi itu berawal dari objek yang menimbulkan stimulus kemudian stimulus itu mengenai alat indera, kemudian dilanjutkan oleh syaraf sensorik ke

1) Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke dalam mulut bayi, sehingga putting susu berada dibawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar

Analgesik adalah obat untuk menghilangkan rasa nyeri dengan cara meningkatkan nilai ambang nyeri di sistem syaraf pusat tanpa menekan kesadaran, sedangkan antipiretik merupakan

Usahakan perut bayi menempel pada badan ibu dengan kepala bayi menghadap payudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi).. Jangan menekan puting susu atau aerolanya saja. d) Beri

Jadi dapat disimpulkan tumor lidah adalah suatu tumor yang terjadi pada permukaan dasar mulut yang timbul dari epitel yang menutupi lidah... Apek linguae

Sistem syaraf ini merangsang sistem pencernaan melalui dua cara, yaitu: (1) secara langsung pada otot polos saluran pencernaan dan (2) secara tidak langsung, yaitu melalui

Pada jangka pendek perusahaan memang dapat menekan biaya produksi karena tidak perlu mengeluarkan biaya maintenance yang cukup besar untuk memenuhi permintaan

3) Untuk memasukkan payudara ke dalam mulut bayi, payudara di pegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menompang dibawah. Jangan menekan putting susu atau areolanya saja. 4)