BAB II TINJAUAN PUSTAKA

23 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PERILAKU 1. Teori perilaku

Perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme, baik yang dapat diamati secara langsung maupun secara tidak. Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang atau stimulus dan tanggapan atau respon. Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang atau organisme terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku. Beberapa faktor yang merupakan penyebab perilaku menurut Green dan Kreuter dibedakan dalam tiga jenis, yaitu:8

a. Faktor Pendorong (predisposing faktors)

Faktor pendorong adalah merupakan faktor anteseden terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motivasi bagi perilaku. Dalam arti umum, kita dapat mengatakan faktor pendorong sebagai preferensi pribadi yang dibawa seseorang atau kelompok ke dalam suatu pengalaman belajar. Preferensi ini mungkin mendukung atau menghambat perilaku sehat, dan dalam setiap kasus faktor ini mempunyai pengaruh.

Faktor-faktor ini mencakup, pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya. Faktor-faktor ini terutama yang positif akan mempermudah terwujudnya perilaku baru maka sering disebut faktor yang memudahkan.

(2)

Pengukuran pengetahuan biasanya menggunakan pengaktegorian dengan presentase. Skor yang sering digunakan untuk mempermudah dalam mengkategorikan jenjang/peringkat dalam penelitian biasanya ditulis dalam prosentase. Misalnya, pengetahuan : baik = 76-100 %; cukup = 56-75 %; dan kurang ≤ 56%.11

b. Faktor pemungkin (enabling faktors)

Faktor pemungkin adalah faktor enteseden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu atau motivasi atau aspirasi terlaksana. Termasuk di dalamnya keterampilan dan sumber daya pribadi di samping sumber daya masyarakat. Faktor pemungkin mencakup berbagai ketrampilan dan sumber daya yang perlu untuk melakukan perilaku kesehatan. Sumber daya itu meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah, klinik, atau sumber daya yang serupa itu. Faktor pemungkin ini juga menyangkut keterjangkauan sumber daya, biaya, jarak, ketersediaan transportasi, jam buka atau jam pelayanan, dan sebagainya, termasuk pula di dalamnya petugas kesehatan seperti perawat, bidan, dokter, dan pendidikan kesehatan sekolah. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung untuk atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan, maka faktor-faktor ini disebut faktor pendukung, atau faktor pemungkin.

c. Faktor penguat (reinforcing faktors)

Faktor penguat merupakan faktor penyerta (yang datang sesudah) perilaku yang memberikan ganjaran, insentif, atau hukuman atas perilaku dan berperan bagi menetap atau melenyapnya perilaku itu. Yang termasuk dalam faktor ini adalah manfaat sosial dan jasmani serta ganjaran nyata ataupun tidak nyata yang pernah diterima pihak lain. Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan, memperoleh dukungan atau tidak. Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma), tokoh agama (toga), sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Termasuk

(3)

juga di sini undang-undang, peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintahan daerah yang terkait dengan kesehatan.

Lingkungan juga menjadi faktor nonbehavioral yang dapat mempengaruhi terbentuknya perilaku spesifik. Hal ini meliputi faktor-faktor individu yang sangat sulit dikontrol baik oleh tindakan individu maupun kolektif namun mempunyai pengaruh dalam masalah-masalah kesehatan. Faktor-faktor ini di antaranya adalah genetik, umur,jenis kelamin, penyakit bawaan, kelainan fisik dan mental, dan tempat bekerja atau tempat tinggal. Beberapa faktor risiko nonbehavioral dapat dikontrol oleh individu sendiri, misalnya risiko terpapar sinar matahari yang berlebihan, individu dapat menghindari atau membatasi paparan ini.10

2. Perilaku Merokok

Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya, baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Merokok merupakan suatu aktivitas yang sudah tidak lagi terlihat dan terdengar asing lagi bagi kita. Sekarang banyak sekali bisa kita temui orang-orang yang melakukan akitivitas merokok yang disebut sebagai perokok. Rokok itu sendiri adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm, dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah.12

Merokok telah banyak dilakukan pada zaman Tiongkok kuno dan romawi, pada saat itu orang sudah menggunakan suatu ramuan yang mengeluarkan asap dan menimbulkan kenikmatan dengan jalan dihisap melalui hidung dan mulut. Saat ini, perilaku merokok sudah menjadi perilaku yang umum dijumpai dimana saja dan kapan saja. Perokok berasal dari berbagai kelas sosial, serta kelompok umur yang berbeda.13

(4)

a. Tipe Perilaku Merokok

Tipe perokok dapat diklasifikasikan menurut banyaknya jumlah rokok yang dihisap, tipe perokok tersebut adalah14

1. Perokok berat yang menghisap > 15 batang per hari 2. Perokok sedang yang menghisap 5-14 batang per hari 3. Perokok ringan yang menghisap 1-4 batang per hari

Tempat merokok juga mencerminkan pola perilaku merokok. Berdasarkan tempat merokok, perokok dapat digolongkan :14

a) Merokok di tempat umum

1) Kelompok Homogen terdiri dari orang-orang yang memang sama-sama perokok. Mereka secara bersama-sama berkumpul dalam suatu tempat untuk merokok seperti diwilayah khusus merokok (smoking area). Perokok tipe ini memiliki sikap menghormati orang lain.

2) Kelompok Heterogen terdiri dari berbagai macam orang, baik yang merokok maupun tidak. Mereka tidak secara khusus merokok ditempat khusus, jadi cenderung mengabaikan orang lain.

b) Merokok di tempat yang bersifat pribadi

1) Kantor, kamar tidur, perokok yang gemar merokok di kantor atau kamar memiliki kecenderungan sikap kurang menjaga kebersihan diri dan mudah gelisah.

2) Toilet, perokok yang gemar merokok di toilet memiliki kecenderungan sikap suka berfantasi.

Selain itu ada 4 tipe perilaku merokok berdasarkan management of affect theory, keempat tipe tersebut adalah ;14

a) Tipe perokok yang dipengaruhi perasaan positif

1) Pleasure relaxtion adalah tipe perokok yang merokok hanya untuk menambah kenikmatan saja, biasanya merokok dilakukan sambil minum kopi.

(5)

2) Simulation of pick them upadalah tipe perokok yang merokok untuk menyenangkan perasaan.

3) Pleasure of handling the cigarette adalah tipe perokok yang merokok hanya karena memiliki rasa kesenangan dengan memegang rokok

b) Tipe perokok dipengaruhi perasaan negative

Perokok tipe ini mengganggap rokok adalah penyelamat saat kondisi emosi sedang tidak baik. Mereka merokok lebih banyak pada saat marah, cemas, dan gelisah.

c) Tipe perokok adiksi

Tipe perokok ini selalu menambah dosis rokok yang dikonsumsi.Mereka memiliki rasa puas bila jumlah rokok yang dikonsumsi terus meningkat.

d) Perilaku merokok yang menjadi kebiasaan

Tipe perokok ini sudah menjadikan rokok sebagai kebiasaan sehari-hari yang tidak bisa di tinggalkan.

b. Faktor –faktor yang mempengaruhi perilaku merokok

Permulaan untuk merokok terjadi akibat pengaruh lingkungan sosial. Modeling (meniru perilaku orang lain) menjadi salah satu determinan dalam memulai perilaku merokok. Sejalan dengan pernyataan di atas, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan sosial dan individu, artinya perilaku merokok selain dari faktor dirii sendiri juga dipengaruhi faktor lingkungan.8

Ada beberapa faktor resiko bagi remaja sehingga mereka menjadi perokok. Faktor-faktor tersebut antara lain :8

1. Faktor Psikologik a) Faktor Psikososial

Aspek perkembangan sosial remaja antara lain: menetapkan kebebasan dan otonomi, membentuk identitas diri

(6)

dan penyesuaian perubahan psikososial berhubungan dengan maturasi fisik. Merokok menjadi sebuah cara agar mereka tampak bebas dan dewasa saat mereka menyesuaikan diri dengan teman sebayanya. Istirahat, santai dan kesenangan, penampilan diri rasa ingin tahu rasa bosan, sikap menentang dan stress mengkontribusi remaja untuk mulai merokok. 2 Selain itu rasa rendah diri, hubungan interpersonal yang kurang baik, putus sekolah sosial ekonomi yang rendah dan tingkat pendidikan orangtua yang rendah serta tahun-tahun pertama transisi antara sekolah dasar dan sekolah menengah juga menjadi faktor resiko lain yang mendorong remaja mulai merokok.2

b) Faktor psikiatrik

Studi epidemiologi pada dewasa mendapatkan asosiasi antara merokok dengan gangguan psikiatrik seperti skizofrenia, depresi, cemas dan penyalahgunaan zat-zat tertentu.7 Pada remaja, didapatkan asosiasi antara merokok dengan depresi dan cemas. Gejala depresi lebih sering pada remaja perokok daripada bukan perokok. Merokok berhubungan dengan meningkatnya kejadian depresi mayor dan penyalahgunaan zat-zat tertentu. Remaja yang menperlihatkan gejala depresi dan cemas mempunyai resiko lebih besar untuk merokok dari pada remaja yang asimtomatik. Remaja dengan gangguan cemas menggunakan rokok untuk menghilangkan kecemasan yang mereka alami.15 2. Faktor Biologik

a) Faktor Kognitif

Kesulitan untuk menghentikan kebiasaan merokok akibat dari kecanduan nikotin disebabkan karena perokok merasakan efek bermanfaat dari nikotin. Beberapa perokok dewasa mengungkapkan bahwa merokok memperbaiki

(7)

konsentrasi. Telah dibuktikan bahwa deprivasi nikotin menganggu perhatian dan kemampuan kognitif, tetapi hal ini akan berkurang bila mereka diberi nikotin atau rokok. Studi yang dilakukan pada dewasa perokok dan bukan perokok, memperlihatkan bahwa nikotin dapat meningkatkan finger-tapping rate, respon motorik dalam tes fokus perhatian, dan pengenalan memori.

b) Jenis kelamin

Pada saat ini, peningkatan kejadian merokok tidak hanya terjadi pada remaja laki-laki. Begitupun dengan wanita, wanita yang merokok dilaporkan menjadi percaya diri, suka menentang dan secara sosial lebih cakap.7

c) Faktor Etnik

Kejadian merokok di Amerika Serikat cenderung lebih tinggi terjadi pada orang-orang kulit putih dan penduduk asli Amerika, serta terendah pada orang Amerika keturunan Afrika dan Asia. Laporan tersebut memberi kesan bahwa perbedaan asupan nikotin dan tembakau serta waktu paruh kotinin antara perokok dewasa Amerika keturunan Afrika dengan orang kulit putih adalah substansial. Hal ini dapat menjelaskan mengapa ada perbedaan resiko pada beberapa etnik dalam hal penyakit yang berhubungan dengan merokok.5

d) Faktor genetik

Variasi genetik mempengaruhi fungsi reseptor dopamin dan enzim hati yang memetabolisme nikotin. Kensekuensinya adalah meningkatnya resiko kecanduan nikotin pada beberapa individu. Variasi efek nikotin dapat diperantarai oleh polimorfisme gen dopamin yang mengakibatkan lebih besar atau lebih kecilnya reward dan mudah kecanduan obat. Pada studi genetik molekular beberapa tahun terakhir, individu dengan alela TaqIA (A1 dan A2) dan TaqIB (B1 dan B2) dari

(8)

reseptor dopamin D2 lebih mungkin merokok 100 kali atau lebih dalam hidupnya dan mereka lebih awal memulai merokok dan lebih sedikit meninggalkannya.16

3. Faktor Lingkungan

Faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan penggunaan rokok antara lain orangtua, saudara kandung maupun teman sebaya yang merokok. Selain itu juga karena paparan iklan rokok dimedia. Orangtua sepertinya memegang peranan penting, dalam pembentukan perilaku merokok remaja. Sebuah studi kohort terhadap siswa SMU didapatkan bahwa prediktor bermakna dalam peralihan dari kadang-kadang merokok menjadi merokok secara teratur adalah orangtua perokok dan konflik keluarga.7

4. Faktor Regulatori

Peningkatan harga jual atau diberlakukannya cukai yang tinggi, diharapkan dapat menurunkan daya beli masyarakat terhadap rokok. Selain itu pembatasan fasilitas merokok dengan menetapkan ruang atau daerah bebas rokok diharapkan dapat mengurangi konsumsi. Akan tetapi kenyataannya masih terdapat peningkatan kejadian mulainya merokok pada remaja, walaupun telah banyak dibuat usaha-usaha untuk mencegahnya.7

5. Pengaruh iklan

Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut.7

(9)

c. Motif Perilaku Merokok

Motif seseorang merokok secara umum terbagi menjadi dua, yaitu :17 1. Faktor psikologis

a) Kebiasaan

Perilaku merokok menjadi sebuah kebiasaan perilaku yang harus tetap dilakukan tanpa ada motif yang bersifat positif maupun negatif. Merokok dilakukan tanpa ada tujuan tertentu, seperti sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

b) Reaksi emosi yang positif

Merokok dilakukan untuk menghasilkan reaksi yang positif seperti perasaan senang dan kenikmatan tersendiri. Merokok juga menjadi simbol rasa kenjatantan dan kedewasaan bagi sebagian laki-laki. c) Reaksi untuk penurunan emosi

Merokok digunakan sebagai cara untuk menghilangkan perasaan tegang dan cemas ketika akan menghadapi sesuatu. Merokok diyakini mampu menurunkan perasaan negatife tersebut.

d) Alasan sosial

Merokok ditujukan untuk mengikuti kebiasaan kelompok (umumnya remaja dan anak), identifikasi dengan perokok lain dan untuk menentukan image diri seseorang. Merokok pada anak biasanya terjadi akibat paksaan dari teman sebayanya.

e) Kecanduan dan Ketagihan

Seseorang merokok karena mengaku telah mengalami kecanduan. Motivasi merokok pertama kali karena alasan coba-coba namun Nikotin yang terdapat di dalam rokok mempengaruhi tubuh seseorang untuk terus mengonsumsi rokok.16

2. Faktor Biologis

Faktor ini menekankan pada kandungan nikotin yang terdapat dalam rokok. Nikotin sudah terbukti mempengaruhi ketergantungan secara biologis.7

(10)

d. Tahap – Tahap Dalam Perilaku Merokok

Ada beberapa tahapan dalam dalam perkembangan perilaku merokok yaitu :7

1. Tahap persiapan (preparatory)

Tahap ini berlangsung saat individu belum mengenal rokok. Pada tahap ini terjadi pembentukan opini terhadap perilaku merokok. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh perkembangan sikap dan intense tentang rokok serta citra yang diperoleh dari perilaku merokok. Informasi dan perilaku merokok diperoleh dari observasi terhadap orang tua atau orang lain seperti kerabat ataupun juga lewat media. Pengaruh media salah satunya melalui iklan rokok dengan menggunakan artis atau model terkenal, sehingga menimbulkann kesan bahwa merokok adalah sesuatu yang glamour. Ada juga anggapan bahwa rokok adalah simbol kedewasaan dan kemandirian. Merokok dianggap sesuatu yang prestise, simbol pemberontakan dan salah satu upaya untuk menenangkan diri dalam situasi yang menegangkan. Pembentukan sikap dan opini terhadap rokok ini merupakan awal dari kebiasaan merokok.

2. Tahap inisiasi (initiation)

Pada tahap ini adalah tahapan yang kritis pada seorang individu karena tahap ini adalah tahap coba-coba dimana ia beranggapan bahwa dengan merokok ia akan terlihat dewasa. Tahap coba-coba ini dimulai dengan beberapa batang, apabila seseorang mulai mencoba 1-2 batang maka kemudian nantinya ia tidak akan menjadi seorang perokok. Akan tetapi seseorang yang awalnya mulai mencoba-coba dengan jumlah rokok > 10 batang, dikemudian hari ia memiliki kemungkinan sebesar 80% untuk menjadi seorang perokok.

3. Tahap menjadi seorang perokok (becoming a smoker)

Pada tahap ini individu mulai memberikan label bahwa dirinya adalah seorang perokok dan mulai ketergantungan pada rokok. Pada tahap ini terjadi pembentukan konsep belajar tentang kapan dan

(11)

bagaimana berprilaku merokok serta menyatakan peran perokok pada konsep dirinya. Pada umumnya mereka percaya bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan orang lain tapi tidak bagi dirinya.

4. Tahapan tetap menjadi perokok (maintenance of smoking)

Pada tahap ini faktor psikologis dan mekanisme biologis di gabungkan menjadi suatu pola perilaku merokok. Faktor –faktor psikologis seperti kebiasaan, kecanduan, penurunan kecemasan, dan ketegangan relaksasi yang menimbulkan rasa senang, cara berteman, memperoleh penghargaan sosial dan stimulasi. Ada 2 faktor mekanisme biologis yang berperan utama dalam tahapan menjadi seorang perokok tetap yaitu efek penguat nikotin dan level nikotin yang dibutuhkan dalam aliran darah.7

e. Klasifikasi perokok

Pengukuran perilaku merokok pada seseorang dapat ditentukan pada suatu kriteria yang dibuat berdasarkan anamnesis atau menggunakan kriteria yang telah ada, biasanya batasan yang digunakan berdasarkan jumlah rokok yang dihisap setiap hari atau lamanya kebiasaan merokok.2Perokok terdiri atas tiga kategori, yaitu 1). Bukan perokok adalah seseorang yang belum pernah mencoba merokok sama sekali; 2) Perokok eksperimen adalah seseorang yang pernah mencoba merokok tapi tidak menjadikannya suatu kebiasaan, dan 3) perokok tetap adalah perokok yang teratur merokok baik dalam hitungan mingguan atau dengan intensitas yang lebih tinggi lagi.7

f. Dampak Perilaku Merokok

Dampak perilaku merokok dibagi menjadi dua yaitu :16 a. Dampak positif

Merokok menimbulkan dampak positif kesehatan yang sangat sedikit. Perokok menyatakan bahwa dengan merokok dapat menimbulkan mood positif dan menghilangkan segala emosi negatif pada diri

(12)

seorang perokok. Keuntungan merokok bagi perokok adalah mengurangi ketegangan, membantu berkonsentrasi, dukungan sosial dan menyenangkan.

b. Dampak negatif

Merokok dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan. Merokok tidak penyebab suatu penyakit tetapi merokok dapat memicu suatu jenis penyakit, sehingga bisa dikatakan merokok tidak menyebabkan kematian, tetapi dapat mendorong jenis penyakit tertentu yang dapat menyebabkan kematian. Beberapa penyakit yang dapat dipicu karena rokok antara lain kardiovaskular atau penyakit jantung, kanker, gangguan saluran nafas, peningkatan tekanan darah, penurunan kesuburan, maag, gondok, gangguan pembuluh darah, pengahambat pengeluaran air seni, penglihatan kabur, kulit menjadi kering, pucat, keriput, serta polusi udara dalam ruangan sehingga terjadi iritasi mata, hidung, telinga.

B. ROKOK 1. Pengertian

Silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya.4

Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong. Sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya disertai pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau serangan jantung (walaupun pada kenyataannya itu hanya tinggal hiasan, jarang sekali dipatuhi).4

(13)

2. Kandungan pada rokok

Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan yang dapat menimbulkan kanker (karsinogen). Kandungan racun pada rokok antara lain :4

a. Tar

Tar terbentuk selama pemanasan tembakau. Tar merupakan kumpulan berbagai zat kimia yang berasal dari daun tembakau sendiri, maupun yang ditambahkan dalam proses pertanian dan industri sigaret. Tar adalah hidrokarbon aromatik polisiklikyang ada dalam asap rokok, tergolong dalam zat karsinogen, yaitu zat yang dapat menumbuhkan kanker. Kadar zat yang terkandung dalam asap rokok inilah yang berhubungan dengan resiko timbulnya kanker. b. Nikotin

Nikotin adalah alkolid toksis yang terdapat dalam tembakau. Sebatang rokok umumnya berisi 1-3 mg nikotin. Nikotin diserap melalui paru-paru dan kecepatan absorbsinya hampir sama dengan masuknya nikotin secara intravena. Nikotin masuk ke dalam otak dengan cepat dalam waktu kurang lebih 10 detik. Dapat melewati barrier otak dan diedarkan ke seluruh bagian otak, kemudian menurun secara cepat, setelah beredar ke seluruh bagian tubuh dalam waktu 15-20 menit pada waktu penghisapan terakhir. Efek bifasik dari nikotin pada dosis rendah menyebabkan rangsangan ganglionik yang eksitasi. Tetapi pada dosis tinggi yang menyebabkan blokade gangbioniksetelah eksitasi sepintas.

c. Karbon Monoksida

Karbon monoksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna. Kandungannya didalam asap rokok 2-6%. Karbon monoksida pada paru-paru mempunyai daya pengikat (afinitas) dengan hemoglobin (Hb) sekitar 200 kali lebih kuat dari pada daya ikat oksigen (O2) dengan Hb. Dalam waktu paruh 4-7 jam sebanyak 10% dari Hb dapat terisi oleh karbon monoksida (CO) dalam bentuk COHb

(14)

(Carboly Haemoglobin), dan akibatnya sel darah merah akan kekurangan oksigen, yang akhirnya sel tubuh akan kekurangan oksigen. Pengurangan oksigen dalam jangka panjang dapat mengakibatkan pembuluh darah akan terganggu karena menyempit dan mengeras. Bila menyerang pembuluh darah jantung, maka akan terjadi serangan jantung.

3. Penyakit yang diakibatkan oleh rokok

Melihat dari kandungan bahan-bahan kimia yang terdapat dalam rokok tersebut, sangat jelas bahwa rokok merupakan bahan yang sangat berbahaya bagi tubuh dan dapat menimbulkan berbagai macam gangguan pada sistem yang ada dalam tubuh manusia.Berbagai penyakit mulai dari rusaknya selaput lendir sampai penyakit keganasan seperti kanker dapat ditimbulkan bari perilaku merokok. Beberapa penyakit tersebut antara lain :4

a. Penyakit paru

Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mukus bertambah banyak (hiperplasia). Pada saluran napas kecil, terjadi radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir.

Pada jaringan paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli. Akibat perubahan anatomi saluran napas, pada perokok akan timbul perubahan pada fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama terjadinya penyakit paru obstruksi menahun (PPOM) bahkan kanker paru merupakan jenis penyakit paling banyak yang diderita perokok. Sekitar 90% kematian karena kanker paru terjadi pada perokok .4

b. Penyakit jantung koroner

Seperti yang telah diuraikan diatas mengenai zat-zat yang terkandung dalam rorok. Pengaruh utama pada penyakit jantung terutama

(15)

disebakan oleh dua bahan kimia penting yang ada dalam rokok, yakni nikotin dan karbonmonoksida. Nikotin dapat mengganggu irama jantung dan menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah jantung, sedangkan CO menyebabkan supply oksigen untuk jantung berkurang karena berikatan dengan Hb darah. Hal inilah yang menyebabkan gangguan pada jantung, termasuk timbulnya penyakit jantung koroner.4

c. Impotensi

Tjokronegoro, seorang dokter spesialis andrologi universitas Indonesia mengungkapkan bahwa, nikotin yang beredar melalui darah akan dibawa ke seluruh tubuh termasuk organ reproduksi. Zat ini akan menggangu proses spermatogenesis sehingga kualitas sperma menjadi buruk. Sedangkan Taher menambahkan, selain merusak kualitas sperma, rokok juga menjadi faktor resiko gangguan fungsi seksual terutama gangguan disfungsi ereksi (DE). Dalam penelitiannya, sekitar seperlima dari penderita DE disebabkan oleh karena kebiasaan merokok.4

d. Kanker

Tar yang terkandung dalam rokok dapat mengikis selaput lendir dapat diberbagai organ tubuh seperti ginjal, pankreas, leher rahim, kantung kemih, dan juga selaput lendir yang terdapat dimulut, bibir dan kerongkongan. Ampas tar yang tertimbun merubah sifat sel-sel normal menjadi sel ganas yang menyebakan kanker.4 Selain itu, kanker mulut dan bibir ini juga dapat disebabkan karena panas dari asap. Sedangkan untuk kanker kerongkongan, didapatkan data bahwa pada perokok kemungkinan terjadinya kanker kerongkongan dan usus adalah 5-10 kali lebih banyak daripada bukan perokok .14

Perokok beresiko 10 kali lebih tinggi menderita periodontitis (gusi terbakar yang mengarah ke infeksi) yang akan merusak jaringan halus dan tulang. Jadi kandungan Tar dalam rokok dapat menyebabkan kanker ginjal, kanker pankreas, kanker leher rahim, kanker kantung kemih, kanker mulut, kanker kerongkongan, dan kanker darah.14

(16)

e. Merusak otak dan indera

Sama halnya dengan jantung, dampak rokok terhadap otak juga disebabkan karena penyempitan pembuluh darah otak yang diakibatkan karena efek nikotin terhadap pembuluh darah dan supply oksigen yang menurun terhadap organ termasuk otak dan organ tubuh lainnya, sehingga sebetulnya nikotin ini dapat mengganggu seluruh system tubuh.4 Sistem tubuh yang dapat terganggu karena penggunaan nikotin antara lain; Mata: perokok beresiko 3 kali lebih tinggi menderita katarak yang menyebabkan kebutaan14

f. Mengancam kehamilan.

Hal ini terutama ditujukan pada wanita perokok. Banyak hasil penelitian yang menggungkapkan bahwa wanita hamil yang merokok meiliki resiko melahirkan bayi dengan berat badan yang rendah, kecacatan, keguguran bahkan bayi meninggal saat dilahirkan.4

C. ANAK

Anak adalah periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah, kemudian berkembang setara dengan tahun tahun sekolah dasar.1 Pada usia sekolah dasar sering disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Pada masa keserasian bersekolah ini secara relative, anak-anak lebih mudah dididik daripada masa sebelumnya dan sesudahnya. Usia sekolah dasar (6-12 tahun) anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelaktual atau kemampuan kognitif (seperti : membaca, menulis dan menghitung).17

Pada permulaan usia 6 tahun anak mulai masuk sekolah, sehingga anak-anak mulai masuk kedalam dunia baru, dimana mulai banyak berhubungan dengan orang-orang diluar keluarganya dan berkenalan dengan suasana dan lingkungan baru dalam hidupnya.9

(17)

Beberapa gambaran karakteristik anak sekolah dasar antara lain sebagai berikut: karakteristik anak sekolah dasar yang pertama adalah senang bermain, karakteristik yang kedua senang bergerak, karakteristik yang ketiga senang bekerja dalam kelompok dan karakteristik keempat senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Anak sekolah dasar senang bergerak dan dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Dalam pergaulan dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi. Seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada orang lain dan diterima di lingkungannya, belajar menerima tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat dan sportif.9

Anak usia sekolah biasanya banyak memiliki aktivitas bermain yang menguras banyak tenaga, dengan demikian terjadi ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar. Akibatnya tubuh anak menjadi kurus, untuk mengatasinya dengan mengontrol waktu bermain anak sehingga anak memiliki waktu istirahat yang cukup. Kurangnya nafsu makan dapat disebabkan banyak jajan, untuk meningkatkannya dapat diberikan obat nafsu makan sesuai dosis yang dianjurkan. Makanan jajanan yang kurang mengandung nilai gizi dan kebersihannya kurang terjaga, maka akan menimbulkan dampak yang merugikan kesehatan.9

Masa usia sekolah dasar sering disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Pada masa keserasian bersekolah ini secara relatif, anak-anak lebih mudah untuk dididik dari pada masa sebelum dan sesudahnya. Masa ini diperinci lagi menjadi 2 fase, yaitu:18

1) Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira 6 atau 7 tahun sampai umur 9 atau 10 tahun. Beberapa sifat anak-anak pada masa ini antara lain sebagai berikut:

a) Adanya hubungan positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi (apabila jasmaninya sehat banyak prestasi yang diperoleh). b) Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan yang

(18)

c) Adanya kecenderungan memuji diri sendiri (menebut nama sendiri). d) Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain.

e) Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.

f) Pada masa ini (terutama usia 6-8 tahun) anak menghendaki nilai (angka rapor) yang baik tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas di beri nilai baik atau tidak.

2) Masa kelas tinggi sekolah dasar kira-kira kira umur 9 atau 10 tahun sampai 12 atau 13 tahun. Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini ialah:

a) Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkret. Hal ini menimbulkan adnya kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis.

b) Amat realistik, ingin mengetahui, ingin belajar.

c) Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus, yang oleh para ahli yang mengikuti teori faktor ditafsirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor (bakat-bakat khusus).

d) Sampai umur kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang-orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginnanya. Selepas umur ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya.

e) Pada masa ini, anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat (sebaik-baiknya) mengenai prestasi sekolah.

f) Anak-anak pada usia ini gemar membentuk kelompok sebaya biasanya untuk dpat bermain bersama-sama. Dalam permainan itu biasanya anak tidak lagi terikat kepada peraturan permainan yang trdisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.17

(19)

D. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Merokok

Salah satu faktor pembentuk perilaku seseorang adalah faktor pendorong. Salah satu unsur dari faktor pendorong adalah pengetahuan.8 Dalam proses pembentukan perilaku pengatahuan ini sering diimbangi oleh faktor pembentuk perilaku lainnya. Faktor lainnya inilah yang terkadang membentuk perilaku menerima terhadap rokok sehingga siswa setuju untuk mengadopsi perilaku merokok menjadi kebiasaan sehari-harinya. Hal ini sesuai dengan penelitian Alamsyah yang menunjukan meskipun seseorang memiliki pengetahuan yang baik tentang bahaya dan kandungan rokok tetap memiliki kebiasaan merokok. Pada penilitian Alamsyah justru menunjukan bahwa remaja yang mengetahui bahaya merokok lebih banyak yang merokok daripada yang tidak tahu.19 Sukaenah juga menyatakan bahwa pengetahuan yang baik tidak diiringi dengan perilaku yang baik pula terhadap rokok.

E. Hubungan Lingkungan Sosial dengan Perilaku Merokok

Lingkungan sosial merupakan salah satu faktor penguat untuk mendorong perilaku merokok.8 Lingkungan sosial yang mungkin sangat berpengaruh dalam perilaku merokok siswa adalah orang tua dan teman sebaya. Menurut beberapa penelitian teman sebaya mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam tahapan seseorang menjadi perokok, dalam penelitian itu juga disebutkan bahwa sebagian besar siswa sekolah dasar mulai merokok karena ajakan teman sebayanya. Selain teman sebaya, orang tua juga memmiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku merokok anak.19 Seorang anak memiliki kecenderungan untuk meniru perilaku orang tuanya, anak yang merokok biasanya juga memiliki orang tua yang merokok juga. Anak menjadi tidak asing dengan rokok, bau rokok, dan perilaku merokok keluarganya.2

Pada penelitian Amelia bahwa penyebab perilaku merokok pada remaja adalah pengaruh orang tua, teman sebaya,dan faktor kepribadian.20 Keluarga yang orang tuanya merokok berperan dalam perilaku merokok anak.2

(20)

Penelitian Safrudin juga menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara dukungan orang tua dan teman sebaya dengan perilaku merokok.21

F. Hubungan Ketersediaan Sarana Prasarana dengan Perilaku Merokok

Ketersediaan sarana dan prasarana adalah salah satu faktor pemungkin yang memungkinkan terhadap perilaku yang memungkinkan suatu atau motivasi atau aspirasi terlaksana.8 Berdasarkan penelitian Alamsyah mengatakan bahwa remaja memperoleh uang untuk membeli rokok dari uang saku yang diberikan orangtuanya. Pada usia tersebut seorang anak masih mendapatkan uang dari kedua orangtuanya. Remaja memiliki tempat-tempat khusus yang digemarinya untuk merokok yaitu rumah,sekolah dan tempat bermain. Sebagian melakukan aktivitas merokok pada sore atau malam hari.19 Penelitian tersebut menunjukan bahwa tersedianya sarana mendukung seorang remaja untuk berperilaku merokok.

G. Kerangka Teori

Berdasarkan teori perilaku, perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme, baik yang dapat diamati secara langsung maupun secara tidak.8 Perilaku siswa merokok pada siswa sekolah dasar adalah siswa sekolah dasar yang melakukan kegiatan merokok, baik sebagai perokok tetap, coba-coba ataupun bukan perokok.7 Perilaku siswa sekolah dasar untuk merokok juga dipengaruhi oleh faktor pembentuk perilaku, yaitu faktor pendorong, faktor pemungkin dan faktor penguat.8

Faktor pendorong yang mencakup pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai, dan persepsi berkenaan dengan motivasi seseorang atau kelompok untuk bertindak. Faktor pemungkin adalah faktor enteseden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu atau motivasi atau aspirasi terlaksana Faktor pemungkin ini juga menyangkut keterjangkauan sumber daya, biaya, jarak, ketersediaan transportasi, ketersediaan sarana prasarana dan sebagainya, termasuk pula di dalamnya petugas kesehatan seperti perawat, bidan, dokter, dan pendidikan kesehatan sekolah.8

(21)

Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan, memperoleh dukungan atau tidak. Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma), tokoh agama (toga), sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan,orang tua,teman atau orang-orang yang berada di sekitar lingkungan seseorang, serta undang-undang dan peraturan-peraturan. Kerangka teori faktor perilaku seseorang dapat terlihat pada bagan berikut.

Gambar 2.1 Kerangka Teori Faktor Pendorong 1. Pengetahuan 2. Motivasi 3. S ikap 4. Kepercayaan 5. Persepsi Faktor Pemungkin 1. Ketersediaan sarana dan prasarana 2. Pendidikan Kesehatan di sekolah 3. Petugas Kesehatan Faktor Penguat 1. Orang tua 2. Teman sebaya 3. Tokoh agama 4. Tokoh masyarakat 5. Peraturan (undang-undang)

Perilaku merokok siswa Sekolah Dasar

(22)

H. Kerangka Konsep

Pada penelitian ini tidak semua faktor resiko yang berpengaruh terhadap perilaku siswa sekolah dasar untuk berperilaku merokok diteliti karena adanya beberapa hal keterbatasan. Variabel yang akan diteliti adalah variabel bebas (pengetahuan, lingkungan sosial, dan ketersediaan sarana prasarana) dan variabel terikatnya adalah perilaku merokok yang selanjutnya terlihat pada bagan kerangka konsep berikut;

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

Pengetahuan Siswa SD tentang rokok

Ketersediaan sarana dan prasarana bagi siswa untuk berprilaku merokok di rumah dan sekolah meliputi tempat yang menjual rokok, tempat yang biasa digunakan untuk aktivitas merokok, jarak rumah responden dengan tempat yang menjual rokok, keberadaan iklan-iklan rokok disekitar rumah responden.

Lingkungan Sosial : orang tua, teman sebaya, sahabat dan guru terhadap perilaku merokok

Perilaku merokok siswa Sekolah Dasar

(23)

I. Hipotesis Penelitian

Adapun hipotesa dalam penelitian ini adalah

a. Ada hubungan pengetahuan dengan perilaku merokok pada siswa sekolah dasar SDN Ungaran 02.04

b. Ada hubungan lingkungan sosial dengan perilaku merokok pada siswa sekolah dasar SDN Ungaran 02.04

c. Ada hubungan ketersediaan sarana prasarana dengan perilaku merokok pada siswa sekolah dasar SDN Ungaran 02.04

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :