• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diterima: 22 April 2013 Disetujui: 21 Juni Abstrak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Diterima: 22 April 2013 Disetujui: 21 Juni Abstrak"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP

EFEKTIFITAS IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG

WILAYAH KABUPATEN BEKASI

(The Influence of Social Participation toward the Effectiveness of Implementation

in Spatial Planning at Bekasi Regency)

Nandang Najmulmunir

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian

Universitas Islam "45"Bekasi

Jl. Cut Mutiah No.83 Bekasi 17113.

Email: nanduz2000 @yahoo.com

Diterima: 22 April 2013 Disetujui: 21 Juni 2013

Abstrak

Penataan ruang meliputi perencanaan, pemanfaatan ruang dan pengendaliannya, diproses oleh pemerintah kabupaten mulai dari draft rencana tata ruang sampai menjadi dokumen kebijakan tata ruang. Kebijakan tersebut mengarahkan aktivitas masyarakat agar menempati ruang yang terencana dengan tujuan terencana pula. Partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan memberikan pengaruh yang besar terhadap efektivitas kebijakan ini.

Kata Kunci:, Rencana tata ruang kabupaten Bekasi, Partisipasi masyarakat dan Efektivitas Kebijakan.

Abstract

Spatial planning includes the planning, space utilization, and control, it processed by the regency government begin from the draft spatial plan until a spatial policy documents. The policy directs the activity in order to occupies the space are planned with the goal are planned too. The research shows that social participation in the process of planning give a major influence on the effectiveness of this policy.

Keywords: regency spatial plan, social participation, effectiveness of policy

PENDAHULUAN

Ruang adalah wadah yang meliputi

ruang daratan, ruang lautan, dan ruang

udara, sebagai satu kesatuan wilayah, tempat

manusia dan makhluk hidup lainnya

melakukan kegiatan serta memelihara

kelangsungan hidupnya (Pasal 1 UU No.26

tahun 2007). Ruang perlu ditata agar

memberikan manfaat yang berkelanjutan.

Menurut Argo (2004) perencanaan tata

ruang pada dasarnya meliputi perencanaan

struktur dan pola tata ruang, tata guna tanah,

tata guna air, tata guna udara dan tata guna

sumber daya alam lainnya.

Produk perencanaan tersebut diproses

baik secara teknis maupun legislasi sehingga

menjadi kebijakan daerah sebagai basis

pembangun, terutama kebijakan dalam

pemanfaatan dan pengendaliannya, agar

aktivitas pembangunan tetap dalam koridor

ruang yang telah direncanakan. Supaya

kebijakan penataan ruang mendapat respon

dan merasa dimiliki oleh masyarakat, maka

Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007

Pasal

65,

menyebutkan

bahwa:

Penyelenggaraan penataan ruang dilakukan

oleh pemerintah dengan melibatkan peran

masyarakat.

Peran

masyarakat

dalam

penataan ruang sebagaimana dimaksud pada

(2)

ayat (1) dilakukan, antara lain, melalui

partisipasi dalam penyusunan rencana tata

ruang, partisipasi dalam pemanfaatan ruang,

partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan

ruang.

Menurut FAO

dalam

Mikkelsen (2003)

berbagai penafsiran tentang partisipasi

dikemukakan, yaitu Partisipasi adalah suatu

proses yang aktif, mengandung arti bahwa

orang

atau

kelompok

yang

terkait

mengambil inisiatif dan menggunakan

kebebasannya untuk melakukan hal itu serta

partisipasi

pemantapan

dialog

antara

masyarakat setempat dengan staf yang

melakukan

persiapan,

pelaksanaan,

monitoring proyek agar supaya memperoleh

informasi mengenai konteks lokal dan

dampak sosial.

Menurut Cohen dan Uphoff (1980)

partisipasi adalah istilah deskriptif yang

mencakup berbagai kegiatan dan situasi

yang beraneka ragam. Selanjutnya Cohen

dan Uphoff melihat partisipasi dari aspek

komponen. Berdasarkan komponen tersebut

dibedakan antara dimensi dan konteks

partisipasi. Dimensi partisipasi mencakup

jenis

partisipasi

yang

sedang

diselenggarakan,

kelompok-kelompok

perorangan yang terlibat dalam partisipasi

itu dan berbagai cara bagaimana terjadinya

proses partisipasi.

Kondisi penggunaan ruang di kabupaten

Bekasi sering terjadi alih fungsi lahan, yang

berimplikasi

pada

perubahan

pola

penggunaan ruang, hal ini terjadi karena

kurang

efektifnya

kebijakan

(Badan

Perencanaan dan Pembangunan Daerah

Kabupaten Bekasi, 2001). Dengan demikian

efektivitas kebijakan adalah menyangkut

tingkat pencapaian sasaran yang telah

ditetapkan dalam kebijakan. Effektivitas

(efectiveness)

menyangkut dengan

apakah

hasil yang diinginkan telah tercapai ?. Jadi

efektivitas berhubungan dengan rasionalitas

teknis, diukur dari produk atau layanan atau

nilai moneternya. (Dunn,

1981)

Ruang lingkup penelitian adalah tentang

Implementasi PP No. 69

tahun 1996

tentang

Partipasi

masyarakat

dalam

perumusan

kebijakan tata ruang dan

pengaruhnya dalam efektifitas kebijakan.

Rumusan masalah penelitian ini adalah

Seberapa besarkah partisipasi masyarakat

berpengaruh

terhadap

efektivitas

implementasi kebijakan penataan ruang

kabupaten Bekasi?

Penelitian ini bertujuan untuk

men-gidentifikasi factor partisipasi masyarakat

dalam penyusunan kebijakan RTRWK dan

menganalisis besarnya pengaruh terhadap

efektivitas implementasi kebijakan tata ruang

METODE PENELITIAN

Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian

ini adalah survei. Data yang digunakan

adalah data primer yang diperkuat dengan

data

sekunder.

Populasinya

adalah

masyarakat Bekasi, diwakili oleh unsur

lembaga masyarakat, baik lembaga formal

maupun informal di lingkungan desa,

termasuk ketua BPD dan tokoh atau

pemimpin informal. Begitu juga orang yang

mewakili organisasi profesi seperti HKTI,

HNSI,

Himpunan

Kawasan,

Asosiasi

Pengembang, Kamar Dagang dan Industri di

Wilayah

kabupaten

Bekasi.

Sampel

responden

masyarakat

diambil

secara

purposive

menurut kelompok atau tipologi

wilayah yang mewakili aspek kewilayahan.

Jumlah masyarakat yang menjadi responden

sebanyak 138 orang, sedangkan desa yang

dipilih ditentukan secara

purposive

, yaitu

desa-desa yang memiliki ciri-ciri yang

sesuai dengan karakteristik kecamatan yang

diwakilinya.

Model Analisis

Model yang digunakan adalah analisis

jalur (

path analysis

). Melalui analisis jalur

dapat dilakukan evaluasi terhadap pengaruh

langsung dan tak langsung pada variabel

terikat. Model analisis jalur (

path analysis

)

dengan variabel bebas (X

i

) adalah sebagai

berikut:

Yo = b

o

+ b

1

X

1

+ b

2

X

2

+ b

3

X

3

+ e (1)

di mana Y

o

= efektivitas implementasi

keb ija kan;X

1

=

partisipasi

da la m

perencanaan; X

2

= partisipasi dalam

(3)

pemanfaatan dan X

3

= partisipasi dalam

pengendalian dan e adalah sisa. Setelah

dibakukan menjadi

Zo = Jo

1

Z

1

+ Jo

2

Z

2

+ Jo

3

Z

3

(2)

di mana Zo adalah variabel

tak bebas

yang dibakukan. Sedangkan Z

1

,Z

2

,Z

3

adalah variabel bebas yang dibakukan, J

o1

,

J

o2

, J

o3

= koefisien jalur dari Z

1

,Z

2

,Z

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Responden masyarakat sebanyak 138

orang yang terbagi atas berbagai lapisan

masyarakat, yang terdistribusi atas BPD,

LSM, Organisasi Masyarakat, Asosiasi

pengusaha

dan

masyarakat

umum.

Responden

diambil

secara

purposive

,

terutama

yang

mewakili

organisasi

masyarakat.

Hak masyarakat dalam kegiatan penataan

ruang sesuai dengan Peraturan Pemerintah

No. 69 tahun 1996 sebagai berikut: berperan

serta dalam proses perencanaan tata ruang,

pemanfaatan

ruang

dan

pengendalian

pemanfaatan ruang; mengetahui secara

terbuka rencana tata ruang wilayah, rencana

tata ruang kawasan dan rencana rinci tata

ruang kawasan dan menikmati manfaat

ruang dan pertambahan nilai ruang sebagai

akibat penataan ruang

Pengujian

partisipasi

masyarakat

diuraikan dalam model analisis jalur.

Analisis jalur ditujukan untuk melihat

pengaruh variabel bebas (X) dan variabel

terikat (Y). Pengaruh variabel bebas terdiri

dari pengaruh langsung dan pengaruh tidak

langsung, secara keseluruhan pengaruh

selanjutnya disebut dengan pengaruh total.

Model

analisis

jalur

dari

pengaruh

partisipasi masyarakat terhadap efektivitas

kebijakan RTRWK adalah sebagai

berikut:

Z

0

= 0,4517 Z

1

+ 0,3202 Z

2

+ 0,2901 Z

3

(3)

di mana Z

0

= efektivitas implementasi

kebijakan RTRWK ; Z

1

= partisipasi dalam

perencanaan; Z

2

= partisipasi dalam

pemanfaatan; Z

3

= partisipasi dalam

pengawasan

Pengaruh variabel bebas baik langsung

maupun tak langsung dari masing-masing

sub variabel partisipasi masyarakat terhadap

efektivitas kebijakan RTRWK, dapat dilihat

lebih mendalam dari analisis jalur. Pengaruh

masing-masing dapat dilihat pada Tabel 1.

dan Gambar 1 yang menunjukkan bahwa

variabel bebas X

1

, X

2

, dan X

3

masing-masing

dibakukan atau distandarisasi menjadi

variabel Z

1

, Z

2

, dan Z

3

. Penjelasan pengaruh

masing-masing variabel adalah pada bagian

berikut.

Tabel 1. Pengaruh langsung dan tidak langsung partisipasi masyarakat dalam efektivitas

implementasi kebijakan RTRWK

Variabel bebas yang dibakukan

Pengaruh langsung

Pengaruh tak langsung melalui Pengaruh

total

Z1 Z2 Z3

Z1 0.3777 - 0.0235 0.0505 0.4517

Z2 0.0383 0.2321 - 0.0499 0.3202

(4)

Efektifitas Kebijakan (Y) Perencanaan Tata Ruang (X1) Pemanfaatan Ruang (X2) Pengendalian Ruang (X3) 0.3777 0.0383 0.15 27 0.0 12 2 0.0 5 16 0.2 49 5 0 .0 5 1 0 0.0 06 5 0 .13 4 4 Error (Cs)

Gambar 1. Model jalur partisipasi masyarakat dan efektifitas implementasi kebijakan

Pengaruh Partisipasi dalam Perencanaan

Proses perencanaan dalam penyusunan

kebijakan tata ruang dilakukan beberapa

langkah, yakni pengumuman kepada

masyarakat, konsultasi public dan

penyampaian rencana itu sendiri.

Pengumuman dilakukan melalui media

massa dalam waktu 7 hari. Hasil surveI

menunjukkan bahwa 78,3 % responden

mengetahui akan dilangsungkan penyusunan

kebijakan public tentang RTRWK

kabupaten Bekasi. Hal ini menunjukkan

bahwa dalam proses penyusunan kebijakan

RTRWK telah dilakukan melalui prosedur

yang benar dalam pelibatan masyarakat.

Proses selanjutnya adalah konsultasi

publik yang dilakukan melalui berbagai cara

antara lain melalui forum seminar atau

diskusi dalam rangka pembahasan kebijakan

RTRWK. Konsultasi publik yang paling

banyak dipilih oleh masyarakat adalah

ceramah, hal ini erat kaitannya dengan

kegiatan penyampaian penjelasan dalam

bentuk paparan dengan menggunakan alat

peraga media elektronik. Dalam forum diskusi

dan ceramah masyarakat mengusulkan

usulannya kepada forum diskusi. Indikasi

ini sesuai dengan hasil survei bahwa

masyarakat sebesar 68,9 % pernah

mengusulkan pengembangan wilayah dalam

RTRWK, 60,1% melakukan usulan

pembangunan dan penyelesaian masalah dan

usulan keberatan dalam tata ruang dilakukan

sebanyak 39,1 %.

Hasil

survei

menunjukkan

bahwa

masyarakat dalam penyampaian usulan dalam

perbaikan atau keberatannya disampaikan

melalui media tulisan, lisan, serta tulisan dan

lisan. Penyampaian usulan perbaikan dan

keberatan dilakukan oleh hampir 73,2 %

kepada instansi pemerintah daerah kabupaten

terutama kepada instansi yang berwenang

yang umumnya disampaikan sewaktu

mengadakan diskusi dan pemaparan kebijakan

RTRWK. Namun demikian dilakukan juga

penyampaian usulan masyarakat melalui

saluran badan legislatif, yakni DPRD

Kabupaten Bekasi, yakni sebesar 66,7 %

dari keseluruhan responden.

Sub variable partisipasi dalam

perencanaan memiliki pengaruh langsung

sebesar 0,3777 atau 84 % dari pengaruh

totalnya terhadap variabel Y. Pengaruh tak

langsung dari sub variabel partisipasi dalam

perencanaan adalah sebagai berikut: pengaruh

pada sub variabel partisipasi dalam

pemanfaatan (Z

2

) sebesar 0,0235 atau 5 %

terhadap pengaruh totalnya, dan pengaruh

pada sub variabel partisipasi dalam

pengawasan dan pengendalian (Z

3

) sebesar

0,0505 atau 11 % dari pengaruh totalnya.

Fenomena

ini

menjelaskan

bahwa

partisipasi

dalam

perencanaan

dalam

penyusunan kebijakan tata ruang berpengaruh

(5)

langsung pada efektifitas kebijakan. Partisipasi

dalam

perencanaan

menggambarkan

berjalannya komunikasi masyarakat dengan

penyusun kebijakan publik. Dengan adanya

komunikasi ini maka secara langsung dapat

memberikan kontribusi pada proses dan

mekanisme pemanfaatan dan pengendalian

ruang, sehingga kebijakan RTRWK akan

mencapai sasaran secara efektif.

Pengaruh Partisipasi dalam Pemanfaatan

Masyarakat

sebelum

melakukan

tindakan pemanfaatan ruang, maka langkah

pertama

mengetahui

informasi

tentang

kebijakan ruang yang akan digunakan.

Sumber informasi berasal dari paparan dalam

rapat, baik dalam tingkat kabupaten maupun

tingkat kecamatan. Kemudian informasi dari

seminar, membaca koran dan mendengar dari

radio dan proporsi paling kecil adalah

diperoleh dengan membaca dokumen.

Informasi tentang kebijakan tata ruang

yang diperoleh oleh masyarakat dari berbagai

sumber ternyata memberikan pemahaman

hanya kepada 51,5 %. Hal ini menunjukkan

bahwa hanya setengahnya masyarakat saja

yang memahami kebijakan tata ruang.

Padahal aspek pemahaman merupakan salah

satu tahap penting bagi seseorang dalam

mengimplementasikan kebijakan tata ruang,

khususnya kegiatan pemanfaatan ruang.

Tingkat pemahaman masyarakat terhadap

kebijakan tata ruang yang hanya sebagian

penduduk, memiliki konsekuensi logis,

bahwa masyarakat juga hanya sebagian saja

yang memahami bahwa pemanfaatan ruang,

khususnya lahan yang digunaan sesuai

dengan kebijakan tata ruang atau tidak.

Hanya 58,7 % (n=138) dari masyarakat

yang

mengetahui

bahwa

lahan

yang

digunakan telah sesuai dengan kebijakan tata

ruang, sedang sisanya (41,3 %) tak ada

pendapat dan tidak setuju dengan pernyataan

bahwa lahan yang digunakan telah sesuai

dengan tata ruang. Ketidaktahuan ini ada dua

kemungkinan, masyarakat tidak tahu tentang

kebijakan tata ruang sehingga lahan yang

digunakan apakah sesuai dengan tata ruang

atau tidak, dan mengetahui kebijakan tata

ruang, namun tidak mengetahui posisi yang

sesungguhnya di lapangan.

Kompensasi

adalah

bagian

dari

partisipasi masyarakat dalam memperoleh

uang pengganti atau kompensasi dari

pemanfaatan ruang atau lahan. Keberadaan

kompensasi merupakan wujud partisipasi

pemanfaatan lahan oleh pihak lain atau

pemerintah. Masyarakat yang pernah

mengalami

pembebasan

lahan

yang

diwujudkan dalam kompensasi hanya 44, 8

%. Hasil survei tersebut menunjukkan

bahwa sebagian kecil masyarakat pernah

menerima kompensasi pembebasan lahan

karena adanya kegiatan akibat perubahan

fungsi lahan. Hal ini berarti terdapat wujud

partisipasi masyarakat dalam pengorbanan

lahannya untuk kepentingan umum dan

kepentingan bukan dirinya sendiri.

Sub

variabel

partisipasi

dalam

pengawasan dan pengendalian memiliki

pengaruh langsung sebesar 0,0383 atau 12 %

dari pengaruh totalnya terhadap variabel Y.

Pengaruh tak langsung dari sub variabel

partisipasi

dalam

perencanaan

adalah

pengaruh pada sub variabel partisipasi dalam

perencanaan (Z

1

) sebesar 0,2321 atau 72%

terhadap pengaruh totalnya.

Dan Pengaruh pada sub variabel partisipasi

dalam pengawasan dan pengendalian (Z

3

)

sebesar 0,0505 atau 16% dari pengaruh

totalnya.

Fenomena

ini

menjelaskan

bahwa

partisipasi

dalam

perencanaan

dalam

pengawasan dan pengendalian kebijakan tata

ruang berpengaruh baik langsung maupun

tak langsung pada efektivitas kebijakan.

Partisipasi

dalam

pengawasan

dan

pengendalian menggambarkan berjalannya

komunikasi masyarakat dengan penyusun

kebijakan publik.

Partisipasi dalam pemanfaatan ternyata

didominasi oleh pengaruh tidak langsung

terutama pengaruh pada perencanaan (Z

1

)

yakni sebesar 72 %. Partisipasi dalam

pemanfaatan mengindikasikan adanya

komunikasi kebijakan RTRWK kepada

masyarakat sebagai dasar pemahaman dalam

pemanfaatan ruang.

Pengaruh Partisipasi dalam Pengawasan

dan Pengendalian

(6)

dalam pengawasan penggunaan ruang, maka

efektivitas kebijakan akan semakin tinggi

pula. Selanjutnya variabel partisipasi dalam

pengawasan menyumbangkan informasi

yang dapat dijelaskan sebesar 8,4 %, terhadap

efektivitas kebijakan, sedangkan sisanya

disumbangkan oleh faktor lainnya. Proses

pengawasan yang utama adalah pemanfaatan

melalui mekanisme perijinan.

Jenis partisipasi masyarakat lainnya

adalah

pengendalian

dan

pengawasan

(wasdal), terutama mekanisme perijinan

dalam penggunaan ruang/lahan. Mekanisme

perijinan penggunaan lahan ditempuh

melalui

mekanisme

tahap

I

yakni

permohonan

surat

pertimbangan

pemanfaatan lahan, tahap II yakni ijin lokasi

dan tahap III memperoleh ijin peruntukkan

penggunaan tanah.

Mekanisme perijinan di atas dikeluarkan

oleh Satuan Kerja Pemerintah Daerah

(SKPD) sesuai dengan tugas pokok dan

fungsinya (tupoksi) tentang kebijakan tata

ruang,

sehingga

mekanisme

tersebut

sepenuhnya mengacu pada kebijakan tata

ruang yang telah disusunnya.

Hasil survei dan wawancara dengan

masyarakat menunjukkan bahwa beberapa

aktivitas usaha selalu minta ijin, antara lain

perijinan kegiatan usaha, ijin tempat usaha,

ijin mendirikan bangunan (IMB) kantor dan

ijin mendirikan bangunan rumah tinggal.

Hasil survei menunjukkan bahwa partisipasi

masyarakat

dalam

pengawasan

dan

pengendalian

dalam

bentuk

memohon

perijinan cukup tinggi, yaitu ijin untuk

kegiatan usaha sebesar 73,2 % responden

selalu minta ijin, kemudian disusul oleh

IMB untuk kantor sebesar 71 %, ijin lokasi

usaha 69,6 % dan terakhir IMB untuk

rumah tinggal sebesar 58 %.

Sub

variabel

partisipasi

dalam

pengawasan dan pengendalian memiliki

pengaruh

secara

keseluruhan

terhadap

efektivitas

kebijakan

sebesar

0,2901.

Pengaruh tersebut bersifat langsung sebesar

0,1527 atau 53% dari pengaruh totalnya

terhadap Variabel Y. untuk pengaruh tak

langsung dari sub variabel partisipasi dalam

pengawasan

dan

pengendalian

adalah

sebagai berikut: pengaruh pada sub variabel

partisipasi dalam perencanaan (Z

1

) sebesar

0,1250 atau 43% terhadap pengaruh totalnya.

Pengaruh pada sub variabel partisipasi

dalam pengawasan dan pengendalian (Z

2

)

sebesar 0,0125 atau 4 % dari pengaruh

totalnya.

Ketiga jenis partisipasi ini merupakan

bentuk

komunikasi

pemerintah

dengan

publik, untuk melahirkan kerjasama dalam

pemenfaatan ruang agar sesuai dengan

kebijakan yang telah ditetapkan.

Kondisi ini sejalan dengan pendapat Keth

Davis (Syafii, dkk. 1999) menyatakan bahwa

komunikasi adalah

The process of passing

information and understanding from one

person to another.

Komunikasi yang

dilakukan pemerintah dengan masyarakat

adalah komunikasi publik yakni penyampaian

keluhan dari masyarakat kepada administrator

publik

yang

harus

melayani,

mengartikulasikan

dan

mengagregasikan

kepentingan publik tersebut. Komunikasi

yang dilakukan setepat-tepatnya mempunyai

arti penting bagi terlaksananya kerja sama

dan koordinasi yang mapan, efektif tidak

rancu (terjaga reliabilitas dan validitasnya)

melalui

dialog-dialog

yang

produktif.

Komunikasi dalam kelompok kerja organisasi

disebut dengan komunikasi organisasional,

merupakan salah satu yang mempengaruhi

kebutuhan komunikasi dalam organisasi,

terutama dalam pemerintahan di era otonomi

daerah. Dalam konteks implementasi

kebijakan, menurut Edwars III bahwa dalam

komunikasi terdapat 3 (tiga) aspek yang

penting, yaitu transmisi, kejelasan, dan

konsistensi (Edward ,1980)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa

partisipasi masyarakat dalam penyusunan

rencana tata ruang merupakan salah satu

komunikasi dan transmisi pesan sehingga

memiliki makna dalam pemanfaatan dan

pengendalian ruang, sehingga memiliki

pengaruh terhadap tujuan dan sasaran

kebijakan RTRW itu sendiri.

KESIMPULAN

Partisipasi

masyarakat

dalam

perencanaan (X

1

), pemanfaatan (X

2

) dan

pengawasan

serta

pengendalian

(X

3

)

(7)

terhadap efektivitas implementasi kebijakan

rencana tata ruang wilayah kabupaten

memiliki pengaruh langsung dan tidak

langsung.

Partisipasi

masyarakat

dalam

perencanaan memberikan pengaruh paling

besar terhadap meningkatnya efektivitas

kebijakan RTRW kabupaten. Penelitaian ini

menjelaskan

bahwa

semakin

tinggi

partisipasi dalam perencanaan penyusunan

kebijakan tata ruang, maka secara langsung

dapat meningkatkan efektivitas kebijakan. Di

samping pengaruh langsung terdapat pula

pengaruh tidak langsung, yaitu berpengaruh

pada

peningkatan

partisipasi

dalam

perencanaan

dan

partisipasi

dalam

pengawasan dan pengendalian.

Partisipasi

dalam

perencanaan

menggambarkan

berjalannya

komunikasi

masyarakat dengan penyusun kebijakan

publik. Dengan adanya komunikasi ini maka

secara langsung dapat memberikan kontribusi

pada proses, mekanisme pemanfaatan dan

pengendalian ruang, sehingga kebijakan

RTRWK akan mencapai sasaran secara

efektif.

Partisipasi dalam pemanfaatan ruang

memiliki pengaruh cukup besar terhadap

efektivitas kebijakan RTRWK. Namun

pengaruh

langsungnya

relatif

kecil,

sedangkan pengaruh tak langsung paling

besar, hususnya pada peningkatan partisipasi

dalam perencanaan.

Partisipasi

masyarakat

dalam

pengawasan

berpengaruh

paling

kecil

terhadap efektivitas kebijakan RTRWK.

Pengaruh langsungnya hampir sebanding

dengan pengaruh tak langsung, yaitu pada

partisipasi dalam perencanaan. Sedangkan

pengaruh tak langsung pada partisipasi

masyarakat dalam pemanfaatan sangat kecil.

Partisipasi

masyarakat

dalam

perencanaan kebijakan tata ruang wilayah

kabupaten sangat penting karena menjadi

dasar efektivitas dalam implementasinya,

serta menjadi hulu dari partisipasi masyarakat

dalam pemanfaatan dan pengawasan.

Masyarakat hendaknya diajak untuk

berpartisipasi dalam perancangan kebijakan

publik dimulai sejak awal proses, terutama

dari sejak konsultasi publik agar aspirasinya

terakomodasikan oleh administrator publik.

Setelah kebijakan selesai disusun, maka

disarankan untuk memperhatikan proses

komunikasi publik terutama penyampaian

hasil kebijakannya seintensif

mungkin dalam

berbagai bentuk media komunikasi dan

disosialisasikan pada setiap kegiatan yang

berdampak luas kepada masyarakat serta

disosialisasikan

dalam

bentuk-bentuk

komunikasi publik lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Argo, T.A. 2004.

Memperkuat Posisi

Penataan Ruang di Daerah Melalui

Penciptaan Good Governance

.

Jurnal

Perencanaan Wilayah dan Kota.

Vol.

15

No.1

April

2004.

Bandung:

Departemen

Planologi,

Institut

Teknologi Bandung.

Badan Perencanaan dan Pembangunan

Daerah. 2001.

Evaluasi Komprehensif

Pembangunan Kabupaten Bekasi.

Cohen

et al

. 1992.

Efective Behavior in

Organization, Case, Concept, and

Student Experiences

. Irwin. Boston

Cohen, J.M. and Uphoff, N.T. 1980.

Participation’s Place in Rural

Development Clarity Through

Specifity.

World Development,

213-235. Pergamon Press.

Dunn, W. N., 1981,

Public Policy Analysis :

An Introduction,

Prentice Hall. New

Jersey.

Edward III, George C. 1980.

Implementing

Public Policy

. Prentice-Hall Inc. New

Jersey.

Keputusan

Menteri

Permukiman

dan

Prasarana Wilayah No. 327/KPTS/

M/2002 tanggal 12 Agustus 2002.

Melalui http://www.bktrn.org

Mikkelsen, B. 2003.

Metode Penelitian

Partisipatoris

dan

Upaya-Upaya

Pemberdayaan Sebuah Buku Pegangan

bagi

Para

Praktisi

Lapangan

.

.Terjemahan. Yayasan Obor Indonesia.

Jakarta.

Republik Indonesia,

Undang-undang No.26

Tahun 2007 tentang Tata Ruang

________________, Peraturan Pemerintah

(8)

pelaksanaan hak dan kewajiban serta

bentuk dan tata cara peran serta

masyarakat dalam penataan ruang

________________,

Peraturan Daerah No.

4 tahun 2003 tentang Rencana

Tata Ruang Wilayah Kabupaten

Bekasi

.

Syafiie, K. I., Tandjung, D dan Modeong,S.

1999.

Ilmu

Administrasi

Publik

.

Rineka Cipta. Bandung

Gambar

Tabel 1. Pengaruh langsung dan  tidak   langsung partisipasi masyarakat dalam efektivitas  implementasi kebijakan RTRWK
Gambar 1.  Model jalur partisipasi masyarakat dan efektifitas implementasi kebijakan  Pengaruh Partisipasi dalam Perencanaan

Referensi

Dokumen terkait

: POLITEKNIK PENERBANGAN (POLTEKBANG) SURABAYA : KANREG II BKN

dihadirkan sebagai sosok perempuan yang memiliki peranan dalam perspektif politik, terutama yang berkaitan dengan pendidikan.. Kenanga dihadirkan sebagai sosok perempuan

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : (1) Siswa kelas XII SMAN 42 lebih dominan menggunakan effective coping

bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan

Derivasi inilah yang akan menjadi topik dalam penelitian ini, karena yang menjadi pembahasan adalah perubahan kelas kata pada adjektiva-I (keiyoushi) setelah terjadi proses morfologi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat penyebarluasan informasi SPP PNPM dengan tingkat pemahaman masyarakat, pengaruh tingkat

Hotel Transit ini berada dilingkungan rest area dan didukung dengan adanya fasilitas SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum), Restoran, Parkir Pengunjung, Toilet, Mini

Yang bertanda tangan di bawah ini saya, Ima Alifian, menyatakan bahwa skripsi dengan judul : Analisis Pengaruh Job Insecurity, Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasi Terhadap