PENGARUH PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP
EFEKTIFITAS IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG
WILAYAH KABUPATEN BEKASI
(The Influence of Social Participation toward the Effectiveness of Implementation
in Spatial Planning at Bekasi Regency)
Nandang Najmulmunir
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian
Universitas Islam "45"Bekasi
Jl. Cut Mutiah No.83 Bekasi 17113.
Email: nanduz2000 @yahoo.com
Diterima: 22 April 2013 Disetujui: 21 Juni 2013
Abstrak
Penataan ruang meliputi perencanaan, pemanfaatan ruang dan pengendaliannya, diproses oleh pemerintah kabupaten mulai dari draft rencana tata ruang sampai menjadi dokumen kebijakan tata ruang. Kebijakan tersebut mengarahkan aktivitas masyarakat agar menempati ruang yang terencana dengan tujuan terencana pula. Partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan memberikan pengaruh yang besar terhadap efektivitas kebijakan ini.
Kata Kunci:, Rencana tata ruang kabupaten Bekasi, Partisipasi masyarakat dan Efektivitas Kebijakan.
Abstract
Spatial planning includes the planning, space utilization, and control, it processed by the regency government begin from the draft spatial plan until a spatial policy documents. The policy directs the activity in order to occupies the space are planned with the goal are planned too. The research shows that social participation in the process of planning give a major influence on the effectiveness of this policy.
Keywords: regency spatial plan, social participation, effectiveness of policy
PENDAHULUAN
Ruang adalah wadah yang meliputi
ruang daratan, ruang lautan, dan ruang
udara, sebagai satu kesatuan wilayah, tempat
manusia dan makhluk hidup lainnya
melakukan kegiatan serta memelihara
kelangsungan hidupnya (Pasal 1 UU No.26
tahun 2007). Ruang perlu ditata agar
memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Menurut Argo (2004) perencanaan tata
ruang pada dasarnya meliputi perencanaan
struktur dan pola tata ruang, tata guna tanah,
tata guna air, tata guna udara dan tata guna
sumber daya alam lainnya.
Produk perencanaan tersebut diproses
baik secara teknis maupun legislasi sehingga
menjadi kebijakan daerah sebagai basis
pembangun, terutama kebijakan dalam
pemanfaatan dan pengendaliannya, agar
aktivitas pembangunan tetap dalam koridor
ruang yang telah direncanakan. Supaya
kebijakan penataan ruang mendapat respon
dan merasa dimiliki oleh masyarakat, maka
Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007
Pasal
65,
menyebutkan
bahwa:
Penyelenggaraan penataan ruang dilakukan
oleh pemerintah dengan melibatkan peran
masyarakat.
Peran
masyarakat
dalam
penataan ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan, antara lain, melalui
partisipasi dalam penyusunan rencana tata
ruang, partisipasi dalam pemanfaatan ruang,
partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan
ruang.
Menurut FAO
dalam
Mikkelsen (2003)
berbagai penafsiran tentang partisipasi
dikemukakan, yaitu Partisipasi adalah suatu
proses yang aktif, mengandung arti bahwa
orang
atau
kelompok
yang
terkait
mengambil inisiatif dan menggunakan
kebebasannya untuk melakukan hal itu serta
partisipasi
pemantapan
dialog
antara
masyarakat setempat dengan staf yang
melakukan
persiapan,
pelaksanaan,
monitoring proyek agar supaya memperoleh
informasi mengenai konteks lokal dan
dampak sosial.
Menurut Cohen dan Uphoff (1980)
partisipasi adalah istilah deskriptif yang
mencakup berbagai kegiatan dan situasi
yang beraneka ragam. Selanjutnya Cohen
dan Uphoff melihat partisipasi dari aspek
komponen. Berdasarkan komponen tersebut
dibedakan antara dimensi dan konteks
partisipasi. Dimensi partisipasi mencakup
jenis
partisipasi
yang
sedang
diselenggarakan,
kelompok-kelompok
perorangan yang terlibat dalam partisipasi
itu dan berbagai cara bagaimana terjadinya
proses partisipasi.
Kondisi penggunaan ruang di kabupaten
Bekasi sering terjadi alih fungsi lahan, yang
berimplikasi
pada
perubahan
pola
penggunaan ruang, hal ini terjadi karena
kurang
efektifnya
kebijakan
(Badan
Perencanaan dan Pembangunan Daerah
Kabupaten Bekasi, 2001). Dengan demikian
efektivitas kebijakan adalah menyangkut
tingkat pencapaian sasaran yang telah
ditetapkan dalam kebijakan. Effektivitas
(efectiveness)
menyangkut dengan
apakah
hasil yang diinginkan telah tercapai ?. Jadi
efektivitas berhubungan dengan rasionalitas
teknis, diukur dari produk atau layanan atau
nilai moneternya. (Dunn,
1981)
Ruang lingkup penelitian adalah tentang
Implementasi PP No. 69
tahun 1996
tentang
Partipasi
masyarakat
dalam
perumusan
kebijakan tata ruang dan
pengaruhnya dalam efektifitas kebijakan.
Rumusan masalah penelitian ini adalah
Seberapa besarkah partisipasi masyarakat
berpengaruh
terhadap
efektivitas
implementasi kebijakan penataan ruang
kabupaten Bekasi?
Penelitian ini bertujuan untuk
men-gidentifikasi factor partisipasi masyarakat
dalam penyusunan kebijakan RTRWK dan
menganalisis besarnya pengaruh terhadap
efektivitas implementasi kebijakan tata ruang
METODE PENELITIAN
Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah survei. Data yang digunakan
adalah data primer yang diperkuat dengan
data
sekunder.
Populasinya
adalah
masyarakat Bekasi, diwakili oleh unsur
lembaga masyarakat, baik lembaga formal
maupun informal di lingkungan desa,
termasuk ketua BPD dan tokoh atau
pemimpin informal. Begitu juga orang yang
mewakili organisasi profesi seperti HKTI,
HNSI,
Himpunan
Kawasan,
Asosiasi
Pengembang, Kamar Dagang dan Industri di
Wilayah
kabupaten
Bekasi.
Sampel
responden
masyarakat
diambil
secara
purposive
menurut kelompok atau tipologi
wilayah yang mewakili aspek kewilayahan.
Jumlah masyarakat yang menjadi responden
sebanyak 138 orang, sedangkan desa yang
dipilih ditentukan secara
purposive
, yaitu
desa-desa yang memiliki ciri-ciri yang
sesuai dengan karakteristik kecamatan yang
diwakilinya.
Model Analisis
Model yang digunakan adalah analisis
jalur (
path analysis
). Melalui analisis jalur
dapat dilakukan evaluasi terhadap pengaruh
langsung dan tak langsung pada variabel
terikat. Model analisis jalur (
path analysis
)
dengan variabel bebas (X
i) adalah sebagai
berikut:
Yo = b
o+ b
1X
1+ b
2X
2+ b
3X
3+ e (1)
di mana Y
o= efektivitas implementasi
keb ija kan;X
1=
partisipasi
da la m
perencanaan; X
2= partisipasi dalam
pemanfaatan dan X
3= partisipasi dalam
pengendalian dan e adalah sisa. Setelah
dibakukan menjadi
Zo = Jo
1Z
1+ Jo
2Z
2+ Jo
3Z
3(2)
di mana Zo adalah variabel
tak bebas
yang dibakukan. Sedangkan Z
1,Z
2,Z
3adalah variabel bebas yang dibakukan, J
o1,
J
o2, J
o3= koefisien jalur dari Z
1,Z
2,Z
3.HASIL DAN PEMBAHASAN
Responden masyarakat sebanyak 138
orang yang terbagi atas berbagai lapisan
masyarakat, yang terdistribusi atas BPD,
LSM, Organisasi Masyarakat, Asosiasi
pengusaha
dan
masyarakat
umum.
Responden
diambil
secara
purposive
,
terutama
yang
mewakili
organisasi
masyarakat.
Hak masyarakat dalam kegiatan penataan
ruang sesuai dengan Peraturan Pemerintah
No. 69 tahun 1996 sebagai berikut: berperan
serta dalam proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan
ruang
dan
pengendalian
pemanfaatan ruang; mengetahui secara
terbuka rencana tata ruang wilayah, rencana
tata ruang kawasan dan rencana rinci tata
ruang kawasan dan menikmati manfaat
ruang dan pertambahan nilai ruang sebagai
akibat penataan ruang
Pengujian
partisipasi
masyarakat
diuraikan dalam model analisis jalur.
Analisis jalur ditujukan untuk melihat
pengaruh variabel bebas (X) dan variabel
terikat (Y). Pengaruh variabel bebas terdiri
dari pengaruh langsung dan pengaruh tidak
langsung, secara keseluruhan pengaruh
selanjutnya disebut dengan pengaruh total.
Model
analisis
jalur
dari
pengaruh
partisipasi masyarakat terhadap efektivitas
kebijakan RTRWK adalah sebagai
berikut:
Z
0= 0,4517 Z
1+ 0,3202 Z
2+ 0,2901 Z
3(3)
di mana Z
0= efektivitas implementasi
kebijakan RTRWK ; Z
1= partisipasi dalam
perencanaan; Z
2= partisipasi dalam
pemanfaatan; Z
3= partisipasi dalam
pengawasan
Pengaruh variabel bebas baik langsung
maupun tak langsung dari masing-masing
sub variabel partisipasi masyarakat terhadap
efektivitas kebijakan RTRWK, dapat dilihat
lebih mendalam dari analisis jalur. Pengaruh
masing-masing dapat dilihat pada Tabel 1.
dan Gambar 1 yang menunjukkan bahwa
variabel bebas X
1, X
2, dan X
3masing-masing
dibakukan atau distandarisasi menjadi
variabel Z
1, Z
2, dan Z
3. Penjelasan pengaruh
masing-masing variabel adalah pada bagian
berikut.
Tabel 1. Pengaruh langsung dan tidak langsung partisipasi masyarakat dalam efektivitas
implementasi kebijakan RTRWK
Variabel bebas yang dibakukan
Pengaruh langsung
Pengaruh tak langsung melalui Pengaruh
total
Z1 Z2 Z3
Z1 0.3777 - 0.0235 0.0505 0.4517
Z2 0.0383 0.2321 - 0.0499 0.3202
Efektifitas Kebijakan (Y) Perencanaan Tata Ruang (X1) Pemanfaatan Ruang (X2) Pengendalian Ruang (X3) 0.3777 0.0383 0.15 27 0.0 12 2 0.0 5 16 0.2 49 5 0 .0 5 1 0 0.0 06 5 0 .13 4 4 Error (Cs)