بولقلا ةرهط :
ُمُهَل َّنَأِب ْمُهَلا َوْمَأ َو ْمُهَسُفْنَأ َنٌِنِمْؤُمْلا َنِم ىَرَتْشا َ َّاللَّ َّنِإ
ِهٌَْلَع اًدْع َو َنوُلَتْقٌُ َو َنوُلُتْقٌََف ِ َّاللَّ ِلٌِبَس ًِف َنوُلِتاَقٌُ َةَّنَجْلا
ِ َّاللَّ َنِم ِهِدْهَعِب ىَف ْوَأ ْنَم َو ِنآ ْرُقْلا َو ِلٌ ِجْنلإا َو ِةاَر ْوَّتلا ًِف اًّقَح
ُمٌِظَعْلا ُز ْوَفْلا َوُه َكِلَذ َو ِهِب ْمُتْعٌَاَب يِذَّلا ُمُكِعٌَْبِب اوُرِشْبَتْساَف
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Sahabat Rasul Muhammad SAW bernama : Abdullah bin Rawahah berkata kepada Rasulullah , pada malam Perjanjian Aqobah (Bai’at Aqobah), “Tentukanlah syarat sesukamu yang harus kami penuhi untuk Robbmu dan untuk dirimu yaa Rasulullah”. Maka Beliau Saw bersabda: “Aku menentukan syarat untuk Robbku agar kalian menyembahnya dan agar kalian tidak menyekutukan sesuatu apapun dengannya dan aku menentukan syarat untuk diriku agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi jiwa dan harta kalian”. Para sahabat bertanya: “apa imbalannya jika kami menepatinya ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab “SYURGA”. Merekapun berseru: “Betapa menguntungkan jual beli ini, kami tidak mau mengganti dan tidak ingin diganti”. Maka turunlah ayat ini (QS. 9 :111) artinya mereka sudah puas dengan harga syurga yang Allah tawarkan untuk membeli diri dan harta mereka sehingga tidak akan pernah menerima tawaran lain sebagai penggantinya bahkan mereka tidak pernah mau mendengar tawaran lain berupa apapun yang ditawarkan kepada mereka untuk memalingkan mereka dari Jihad Fiesabilillah. Yang dapat membatalkan syurga yang dijanjikan Allah itu, meskipun dengan seluruh isi dunia. Selama hayat dikandung badan, mereka bersungguh sungguh menjaga perjanjian mereka itu, bersiap siaga kapan saja untuk menepatinya, untuk mendapatkan keuntungan yang tiada tara, yang mereka yakin sekali akan kebenarannya, bahwa Allah pasti menepati janjinya.
“Jual beli secara Syar’ie tidak sah jika
tidak memenuhi rukun dan syaratnya “
Ayat di atas memenuhi rukun jual-beli :
Pertama, penjual yakni orang-orang mukmin. Kedua, pembeli yakni Allah SWT.
Ketiga, barang yang diperjual-belikan. Ayat di atas
menjelaskan dua barang yang sedang diperjual-belikan, yaitu diri (anfusahum) dan harta (amwaalahum).
Keempat, harganya yaitu surga (jannah). Dan,
kelima, harus ada ijab-qabul-nya. Melalui ayat 111 surat
At-Taubah, sesungguhnya merupakan tawaran dari Allah SWT kepada orang-orang mukmin untuk menjual diri dan harta mereka.
ْمَل َّمُث ِهِلوُس َر َو ِ َّللَّاِب اوُنَمآ َنيِذَّلا َنوُنِم ْؤُمْلا اَمَّنِإ
ِ َّاللَّ ِليِبَس يِف ْمِهِسُفْنَأ َو ْمِهِلا َوْمَأِب اوُدَهاَج َو اوُباَت ْرَي
َنوُقِداَّصلا ُمُه َكِئَلوُأ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman
hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. 49 al-Hujarat : 15).
JIHAD FI SABILILLAAH
Dalam transaksi jual beli yang
menentukan harga biasanya penjual, dan pembelilah yang menawar. Dalam jual beli dengan Allah, tidak... !
Harga tinggi
Sebaliknya,
Pembelilah yang menentukan harga barang dan penjual tidak boleh lari dari harga yang
ditawar. Mengapa ?
Karena pembelinya, adalah ALLAH SWT. Allah telah menawar harga yang sangat tinggi
(dunia akhirat) kepada penjual, yaitu orang-orang mukmin, DENGAN HARGA SURGA...!!!
Allah telah mencatat janji itu didalam kitab-kitabnya yang agung, yaitu Taurat yang diturunkan kepada Musa, Injil yang diturunkan kepada Isa dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad Rasulullah Saw.. maka bergembiralah orang-orang yang sudah menyatakan dan menepati bai’at (jual beli) dengan Allah itu dengan kemenangan yang besar dan kenikmatan yang abadi.
Ayat 111 surat at-Taubah ini juga menerangkan betapa tinggi nilai seorang hamba ketika dia mengikat perjanjian jual beli kepada Allah, meskipun dia tadinya adalah orang yang penuh dosa dan noda.
Kita umpamakan seseorang yang memiliki sebuah guci tua yang terbiarkan dihalaman rumahnya, yang setiap hari terkena hujan dan panas, yang berlumur debu dan lumpur, tidak ada seorangpun yang menghiraukannya. Tiba tiba datang seorang ahli arkiologi, ketika melihat guci tua itu dia menawar dengan harga seratus juta, dia benar benar akan membayarnya seratus juta, transaksi untuk itu akan dilaksanakan beberapa hari lagi, dan sekarang diadakan perjanjian yang disaksikan oleh beberapa orang tokoh pemerintah dan pemuka adat, dicatat diatas kertas segel dengan cap dan tanda tangan notaris yang sah…..
Pertanyaannya, apakah setelah perjanjian itu, guci tua tadi akan tetap terbiarkan dan tergeletak dihalaman rumah? Tetap berlumur debu dan lumpur? Tetap terkena panas dan hujan? Jawabannya tentu tidak, sekali-kali tidak!!.
Pemilik guci yang pandai, tentu serta merta membawa masuk guci tua itu ketempat yang aman, membersihkannya dengan teliti dan hati hati, membungkusnya dengan kain yang lembut berlapis lapis, hingga terjaga kebersihannya. Sementara menunggu saat transaksi itu tentu, dia akan merawat dan menjaganyaa dengan extra ketat dan extra hati hati hingga tidak mengecewakan paembelinya.
Maka bagaimana dengan jiwa raga yang kotor
dan berlumur noda dan dosa ini, ketika Allah
menawar dengan harga yang sangat tinggi,
bukan sekedar seratus atau dua ratus juta,
melainkan dengan syurga seluas langit
dan bumi yang mengalir
sungai-sungai dibawahnya, kekal abadi
selamanya. Masih adakah yang diragukan,
padahal Allah telah mencatat perjanjian itu
dalam tiga kitab suci yang mulia,
dipersaksikan oleh rasul yang mulia dan oleh
hamba-hamba Allah yang sholih?.
Orang yang beriman pastilah serta merta
menerina
tawaran
itu,
memenuhi
perjanjiannya, dan menjaga diri, jiwa dan
raganya.
Membersihkannya,
mensucikannya, dan melindunginya dari
noda dan dosa dengan cara-cara yang
diperintahkan Allah sebagaimana Allah
firmankan dalam ayat ke 112 QS
َنوُحِئاَّسلا َنوُدِماَحْلا َنوُدِباَعْلا َنوُبِئاَّتلا
َنو ُرِملآا َنوُد ِجاَّسلا َنوُعِكا َّرلا
ِرَكْنُمْلا ِنَع َنوُهاَّنلا َو ِفو ُرْعَمْلاِب
ِرِّشَب َو ِ َّاللَّ ِدوُدُحِل َنوُظِفاَحْلا َو
َنيِنِم ْؤُمْلا
Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf
dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan
gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS. 9 at-taubah : 112).
At-Taaibuun
artinya senantiasa bertaubat atas semua dosa yang telah lalu, dan kedepannya menghindarkandiri dari kenistaan.
Al-Aabiduun
artinyatekun beribadah serta senantiasa menjaga diri, menjaga lisan dan perbuatan serta menjaga hati untuk tetap khusyu’ dan tawaddhu’.
Al-Haamiduun
artinyamemuji Allah dengan senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan terpuji dan menghindarkan diri dari perbuatan tercela .
As-Saa’ihuun
artinyasenantiasa menahandiri dari kenikmatan bahkan mempuasakan diri dari berbagaikelezatan dengan bersusah payah untuk melaksanakan jihad di jalan Allah.
Ar-Raaki’uun as-Saajiduun
adalahpenekanan akan pentingnya menjaga sholat, untuk menperbanyak dan pemberpanjang ruku’ dan sujud. Juga merupakan perlambang dari keadaan tunduk, patuh dan taat pada Allah SWT.
Amar ma’ruf nahi munkar
artinya mereka itusenantiasa berada dalam kebaikan dan memerintahkan kepadanya dan menjauhkan diri dari kemungkaran dan melarang darinya.
Wal-Haafidzuuna li huduudillah
adalah
perlambang dari keteguhan mereka
dalam menjaga dan melaksanakan
hukum-hukum dan syariat Allah.
Wa Basysyiris Shoobirin
, maka
sampaikanlah berita gembira kepada orang
arang yang sabar.
Demikianlah sifat arang beriman yang yakin
akan perjanjiannya dengan Allah, semoga kita
termasuk didalamnya.
GOLONGAN
YANG
BER
TRA
NSAKS
I
DENGAN
ALLAH SWT
YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH DENGAN JIWA DAN HARTA
YANG BERTAUBAT
YANG BERIBADAH
YANG MEMUJI PADA ALLAH
YANG MELAWAT MENCARI ILMU UNTK PERSIAPAN BERJIHAD, YANG BERPUASA
YANG RUKU’ DAN SUJUD
YANG BER AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR
YANG MENJAGA DAN MELAKSANAKAN HUKUM-HUKUM ALLAH
Allah SWT menyeru:
ُتا َواَمَّسلا اَهُض ْزَع ٍةَّنَج َو ْمُكِّب َر ْنِم ٍة َزِفْغَم ىَلِإ اىُع ِراَس َو ُض ْرلأا َو
Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.(QS. 3. Ali Imran: 133).
اًحىُصَن ًةَب ْىَت ِ َّاللَّ ىَلِإ اىُبىُت اىُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي Dan, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenarnya. (QS.66. At-Tahrim: 8).
Rasulullah SAW bersabda : Setiap anak Adam (manusia) bersalah, sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertobat kepada Allah SWT. (HR Ahmad).
Tidak semua diri dan harta manusia akan dibeli oleh Allah. Diri dan harta yang akan laris dibeli dengan harga surga adalah, diri dan harta yang suci. Oleh sebab itu, Allah SWT mengingatkan:
ْدَق َو
ْنَم َباَخ
اَهاَّسَد
اَهاَّك َز
ْنَم َحَلْفَأ
ْدَق
Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (QS. 91. Asy Syams: 9-10).
Ayat ini mengindikasikan, bahwa manusia tidak lepas dari noda kesalahan dan dosa. Untuk itu Allah mengapresiasi hambanya yang berusaha menjaga dan mensucikannya dengan jalan yang telah ia sediakan, yakni istighfar dan tobat.
Sedangkan menyangkut harta, Rasulullah SAW mengingatkan: Barangsiapa yang mengumpulkan harta haram lalu menyedekahkannya, ia tidak akan mendapatkan pahala darinya dan dosanya dibebankan kepadanya. (HR Ibnu Hibban).
Artinya, harta yang dikumpulkan melalui pekerjaan haram meskipun disedekahkan tidak akan dibeli atau diterima oleh Allah SWT. Sebab, tidak ada konsep kemaksiatan dicampur dengan amal kebajikan dalam Islam. Harta yang dibeli oleh Allah adalah harta yang bersih dan suci, alias halal. Halal cara mendapatkannya dan halal dalam pemanfaatannya.