8
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Konsep Dasar Sistem2.1.1 Pengertian Sistem
Menurut Murdick R.G dalam Rusdiana dan Moch Irfan (2014:29), Sistem adalah seperangkat elemen yang membentuk kumpulan atau bagan bagan pengolahan yang mencari suatu tujuan dengan mengoprasikan data dan/atau barang pada waktu tertentu untuk menghasilkan informasi.
Sedangkan menurut Mc Leod dalam Deni Dermawan (2013:4), sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan tujuan yang sama untuk mencapai tujuan tertentu.
2.1.2 Pengertian Informasi
Menurut Davis dalam Kadir (2014:45), “Informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau saat mendatang”
Sedangkan Menurut Deni Dermawan (2013:2) , Informasi merupakan hasil dari pengolahan data, akan tetapi tidak semua hasil dari pengolahan tersebut bisa menjadi informasi, hasil pengolahan data tidak memberikan makna atau arti serta tidak bermanfaat bagi seseorang bukanlah merupkan informasi bagi orang tersebut.
2.1.3 Pengertian Sistem Informasi
Menurut Hall dalam Kadir (2014:9), “Sistem informasi adalah sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dikelompokkan, diproses menjadi informasi, dan di distribusikan kepada pemakai”. Maka dapat disimpulkan bahwa
sistem informasi mencakup sejumlah komponen (manusia,komputer,tenologi informasi , dan prosedur kerja), ada sesuatu yang diproses (data menjadi informasi), dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran dan tujuan.
2.1.4 Pengertian Pelayanan
Menurut Sedarmayanti,P.S dalam Nissa dan Suharyanto (2018:67), Pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materil melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya. 2.1.5 Konsep Dasar Program
Menurut Kusrini dalam Fajar Agustini (2017:115) menjelaskan bahwa, “Program adalah kata, pernyataan kombinasi yang disusun dan dirangkai menjadi satu kesatuan prosedur berupa urutan langkah untuk menyelesaikan masalah yang diimplementasikan dengan menggunakan bahasa pemrograman sehingga dapat dieksekusi oleh komputer.”
2.1.6 Pengertian Bahasa Pemograman Java
Menurut Sun Microsystem dalam Sukamto dan Shalahudin (2016:103), “Java adalah nama untuk kumpulan teknologi untuk membuat dan menjalankan perangkat lunak pada komputer standalone ataupun pada lingkungan jaringan”. Java merupakan bahasa pemograman objek murni karena semua kode pemogramnya dibungkus dalam kelas.
Sedangkan Menurut Adi Nugroho dalam Fajar Agustini (2017:115) menjelaskan bahwa, “Java adalah suatu jenis teknologi pemrograman yang dikembangkan oleh Sun Microsystem. Teknologi java dapat digunakan untuk pembuatan aplikasi database, web, jaringan, ataupun grafis”.
2.1.7 Pengertian Pemograman Berorientasi Objek
Menurut Sukamto dan Shalahuddin (2016:103), pendekatan
berorientasi objek merupakan suatu teknik atau cara pendektan dalam melihat permasalahan dan sistem (sistem perangkat lunak,sistem informasi,atau sistem lainnya). Pendekatan berorientasi objek akan memandang sistem yang akan dikembangkan sebagai suatu kumpulan objek yang berkorespondensi dengan objek objek dunia nyata.
2.1.8 Pengertian Pemograman Berbasis Desktop
Menurut Hilman (2016), pemograman berbasis desktop merupakan program atau aplikasi yang dioprasikan dengan cara diinstal terlebih dahulu menggunakan sistem operasi. Aplikasi ini mengacu pada program yang diinstal pada perangkat desktop (PC dan Laptop) yang mampu beroprasi secara offline. 2.1.9 Pengertian Basis Data
Menurut Sukamto dan Shalahuddin (2016:43), Basis data adalah sistem terkomputerisasi yang tujuan utamanya adalah memelihara data yang sudah diolah atau informasi dan membuat informasi tersedia saat dibutuhkan. Pada intinya basis data adalah media untuk menyimpan data agar dapat diakses dengan mudah dan cepat.
Menurut Yudi Priyadi dalam Mayangky dan Suharyanto (2018:68), menjelaskan bahwa Basis data adalah sekumpulan notasi atau simbol untuk menggambarkan data dan relasinya, berdasarkan suatu konsep dan aturan tertentu suatu pemodelan atau sekumpulan fakta berupa representasi tabel yang saling berhubungan dan disimpan dalam media penyimpanan secara digital.
2.1.10 Model Pengembangan Perangkat Lunak
Dalam perancangan sistem pada tugas akhir ini penulis menggunakan
metode waterfall. Menurut Sukamto dan Shalahuddin (2016:28) menjelaskan bahwa “Model SDLC air terjun (waterfall) sering juga disebut model sekuensial linier (sequential linier) atau alur hidup klasik (classic life cycle)”. Model air terjun menyediakan pendekatan alur hidup perangkat lunak secara sekuensial atau terurut dimulai dari analisis,desain,pengokodean,pengujian dan tahap pendukung (support). Berikut ini penjelasannya:
1. Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak
Proses pengumpulan kebutuhan dilakukan secara intensif untuk mespesifikasikan kebutuhan perangkat lunak agar dapat dipahami perangkat lunak seperti yang dibutuhkan user. Spesifikasi kebutuhan perangkat lunak pada tahap ini perlu didokumentasikan.
2. Desain
Desain perangkat lunak adalah proses mutli langkah yang fokus pada desain pembuatan program perangkat lunak termasuk struktur data, arsitekstur perangkat lunak, representasi antarmuka, dan prosedur pengkodean. Tahap ini mentranslasi kebutuhan perangkat lunak dari tahap analisis kebutuhan ke representasi desain agar dapat diimplementasikan menjadi program pada tahap selanjutnya. Desain perangkat lunak yang dihasilkan pada tahap ini juga perlu didokumentasikan.
3. Pembuatan Kode Program
Desain harus ditranslasikan ke dalam program perangkat lunak. Hasil dari tahap ini adalah program komputer sesuai dengan desain yang telah dibuat pada tahap desain.
4. Pengujian
Pengujian fokus pada perangkat lunak secara dari segi lojik dan fungsional dan memastikan bahwa semua bagian sudah diuji. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kesalahan (error) dan memastikan keluran yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan.
5. Pendukung (support) dan Pemeliharan (maintanance)
Tidak menutup kemungkinan sebuah perangkat lunak mengalami perubahan ketika sudah dikirimkan ke user. Perubahan bisa terjadi karena adanya kesalahan yang muncul dan tidak terdeteksi saat pengujian atau perangkat lunak harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Tahap pendukung atau pemeliharaan dapat mengulangi proses pengembangan mulai dari analisis spesifikasi untuk perubahan perangkat lunak yang sudah ada, tapi tidak untuk membuat perangkat lunak baru.
Sumber : Sukamto dan Shalahudin (2016:29)
2.1.11 Karakteristik Sistem
Menurut Edhi Sutanta dalam Rusdiana dan Irfan (2014:35), Karakteristik sistem, yaitu sebagai berikut.
1. Komponen
Komponen sistem adalah segala sesuatu yang menjadi bagian penyusun sistem. Komponen sistem dapat berupa benda nyata ataupun abstrak. Komponen sistem disebut sebagai subsistem.
2. Batas (Boundary)
Batas sistem diperlukan untuk membedakan suatu sistem dengan sistem yang lainnya. Tanpa adanya sistem, sangat sulit untuk memberikan batasan scope tinjuan terhadap sistem.
3. Lingkungan (environment)
Lingkungan sistem adalah segala sesuatu yang berada diluar sistem lingkungan sistem yang dapat menguntungkan ataupun merugikan. Umumnya lingkungan yang menguntungkan akan selalu dipertahankan untuk menjaga kelangsungan sistem, sedangkan lingkungan sistem yang merugikan akan diupayakan agar mempunyai pengaruh seminimal mungkin, bahkan ditiadakan.
4. Penghubung/antarmuka (interface)
Penghubung/antarmuka merupakan sarana memungkinkan setiap komponen sistem, yaitu segala sesuatu yang bertugas menjembatani hubungan antarkomponen dalam sistem. Penghubung/antarmuka merupakan sarana setiap kompnen saling berinteraksi dan komunikasi.
5. Masukan (input)
Masukan merupakan komponen sistem, yaitu segala sesuatu yang perlu dimasukan ke dalam sistem sebagai bahan yang akan diolah lebih lanjut untuk menghasilkan keluaran (output) yang berguna.
6. Pengolahan (processing)
Pengolahann merupakan komponen sistem ysng mempunyai peran utama mengolah masukan agar menghasilkan output yang berguna bagi para pemakainya.
7. Keluaran (output)
Keluaran merupakan komponen sistem yang berupa berbagai macam bentuk keluaran yang menghasilkan oleh komponen pengolahan.
8. Sasaran (objectives) dan tujuan (goal)
Setiap komponen dalam sistem perlu dijaga agar saling bekerja sama agar mampu mencapai sasaran dan tujuan sistem.
9. Kendali (control)
Setiap komponen sistem perlu dijaga agar tetap bekerja sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.
10. Umpan balik (feedback)
Umpan balik diperlukan untuk kendali (control) sistem untuk mengecek terjadinya penyimpanan proses dalam sistem dan mengembalikan pada posisi normal.
2.1.12 MySQL
Menurut Sibero dalam Supriyanta dan Khoirun Nisa (2013:37), “MySQL atau dibaca “My Sekuel” dengan suatu RDBMS (Relational Database
Management System) merupakan aplikasi sistem yang menjalankan fungsi pengolahan data. MySQL sendiri pertama dikembangkan oleh MySQL AB yang kemudian diakuisisi oleh Sun Microsystem dan terakhir dikelola oleh Oracle Coorporation.
2.1.13 Xampp
Menurut Yudhanto dan Agus Purbaya dalam Supriyanta dan Khoirun Nisa (2014:36), “XAMPP merupakan program paket PHP dan MySQL berbasis
opensource yang saat ini merupakan andalan para programmer PHP dalam
melakukan programming dan melakukan testing hasil programnya”.
2.1.14 Jurnal Terkait
1. Nissa Almira Mayangky dan Suharyanto, (2018 : Jurnal SISFOKOM ,Vol 07, No 01), dengan judul Perancangan Sistem Informasi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu pada Polsek Citeureup Cimahi. Kesimpulan Pada Unit SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu) Polsek Citeureup Cimahi setelah dilakukan penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa unit SPKT mempunyai masalah-masalah dengan sistem berjalan. Masalah-masalah tersebut diantaranya, kepolisian masih menggunakan sistem konvensional belum terkomputerisasi sehingga memungkinkan pada saat proses berlangsung terjadi kesalahan dalam pencatatan, kurang akuratnya laporan yang dibuat, keterlambatan dalam pencarian data yang diperlukan untuk pengolahan data permohonan STTLP (Surat Tanda Terima Laporan Polisi) menjadi kurang efektif, sementara kesulitan yang dihadapi masyarakat adalah kurangnya informasi persyaratan yang harus dilengkapi untuk membuat
permohonan STTLP sehingga banyak pemohon berulang kali datang ke kantor polisi.
2. Shinta Esabella dan A.rahman (2017 : Vol 2, No.1 ISSN : 2527 970X ), dalam judul Perancangan Aplikasi Surat Keterangan Tanda Kehilangan pada Kantor Kepolisian Resor Sumbawa Berbasis Android. Kesimpulan dengan menggunakan metode waterfall dari penelitian ini yang terdiri dari tahap
analysis,design,coding dan testing telah menghasilkan aplikasi STLK yang
sesuai dengan perancangan. Meskipun aplikasi ini hanya menyajikan laporan kehilangan kartu tanda penduduk dan berjalan pada locallhost dalam penelitian laboratorium, namun telah menunjukan hasil yang dapat dijadikan sebagai konsep dasar untuk pengembangan aplikasi SKTLK sehingga hasil penelitian ini menjadi salah satu masukan untuk membantu pemegang Kebijakan Tertinggi pada Kepolisian Resor Sumbawa dalam mengambil keputusan terhadap proses pengembangan aplikasi yang lebih kompleks dan terintegrasi sebagai proses pelayanan kepada masyarakat.
3. Ahmad Chusyairi, dkk ( 2018 : Jurnal Telematika Vol. 11 No. 1 ISSN : 1979 – 925X e-ISSN : 2442 – 4528), dalam judul Layanan Laporan Kehilangan (E-REPORT) dengan Metode Rapid Application Development. Kesimpulan dari penelitian Layanan Lapor Kehilangan (E-Report) dengan Metode Rapid
Application (RAD) adalah sebagai berikut:
a. Pelayanan publik pada Polres Banyuwangi tentang laporan kehilangan
(e-report) dengan metode RAD dapat diakses pada web dengan URL
http://banyuwangi.jatim.polri.go.id/kehilangan.html, sehingga pemohon dapat dengan mudah mendapatkan Surat Keterangan Tanda Lapor
Kehilangan (SKTLK) di Polres atau Polsek yang terdekat dengan lokasi kehilangan.
b. Metode Rapid Application Development (RAD) mempermudah dalam pembangunan layanan e-report berbasis web karena aktivitas dan fasenya melibatkan pengguna khususnya pada user design.
c. Hasil pengujian terhadap fitur pada layanan e-report pada fase
construction dan cutover dapat menampilkan sesuai dengan requirements planning yang ditetapkan pengguna. Kelemahan dari sistem adalah belum
adanya penambahan lebih dari 1 data kehilangan pada formulir kehilangan dan statistik e-report yang ditampilkan per hari, per minggu dan per bulan di mana berdasarkan input data pada formulir kehilangan seharusnya berdasarkan SKTLK yang sudah dicetak.
4. Ahmad Roihan, dkk (2018 : Vol 4 No 1 ISSN : 2461-1417), dalam judul Prorotipe Alarm Panic Button System Pada Wilayah Hukum Polres Kota Tangerang. Kesimpulan berdasarkan hasil analisa yang telah diuraikan dari pembahasan sebelumnya terdapat beberapa pokok penting yang dapat disimpulkan. Berikut ini hasil kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan, yaitu:
a. Proses pelayanan pengaduan informasi publik dengan sistem yang sudah berjalan saat ini di Polres Kota Tangerang masih kurang efektif dan efisien. Dimana ketika ada seorang yang ingin membutuhkan bantuan polisi dalam situasi mendesak atau sedang terjadinya tindak kejahatan seperti perampokan, pemohon hanya bisa menghubungi dengan telepon
ke Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Kota Tangerang.
b. Perlu adanya inovasi dalam sistem pelayanan laporan masyarakat kepada Polres Kota Tangerang agar lebih efektif atau efesien. Proses penerima informasi yang akan memakan waktu, sehingga dapat terjadinya tindak kejahatan dan mempengaruhi dalam sistem pelayanan kepolisian yang kurang efektif.
c. Perancangan alat dimulai dengan membuat prototipe alat dengan rangkaian yang terdiri dari beberapa komponen. Kemudian alat dirakit menggunakan Arduino Uno yang dihubungkan dengan Modul SIM 800L GPRS GSM Micro Sim sebagai pusat rangkaian untuk mengirimkan pesan. Pesan tersebut akan dikirim langsung kepada Polres Kota Tangerang.
5. Citra Andari, dkk (2015 : Vol.1 No.1 ISSN : 2442-5826), dalam judul Aplikasi Pendataan Kendaraan Hilang Berbasis Web. Kesimpulan Adapun kesimpulan dari proyek akhir ini adalah : Aplikasi ini dapat menyimpan data pelapor dengan mudah dan dapat mencari data para pelapor dengan mudah dan Aplikasi ini menyediakan sarana bagi polisi khususnya petugas reserse dalam pengolahan data para pelapor yang kendaraannya hilang.
2.2. Teori pendukung
2.2.1 Unified modeling language
Menurut Sukamto dan Shalahuddin (2016:133), UML (unifed modeling
industry untuk mendefiniskan requitment, membuat analisis & desain, serta menggambarkan arsitektur dalam pemograman berorientasin objek.
Sumber : Sukamto dan Shalahuddin (2016:140)
Gambar I1.2 Diagram UML 1. Use Case
Menurut Sukamto dan Shalahuddin (2016:155), Use Case atau use case merupakan pemodelan untuk kelakuan (behavior) sistem informasi yang dibuat.
Use Case mendeskripsikan sebuah interaksi antara satu atau lebih aktor dengan
sistem informasi yang akan dibuat. Secara kasar, use case digunakan untuk mengetahui fungsi apa saja yang ada di dalam sebuah sistem informasi dan siapa saja yang berhak menggunakan fungsi-fungsi itu.
Syarat penamaan pada use case adalah nama didefinisikan sesimpel mungkin dan dapat dipahami. Ada dua hal utama pada use case yaitu pendefinisian apa yang disebut aktor dan use case.
a. Aktor merupakan orang,proses, atau sistem lain yang berinteraksi dengan sistem informasi yang akan dibuat di luar sistem informasi yang akan dibuat
itu sendiri, jadi walaupun simbol dari aktor adalah gambar orang, tapi aktor belum tentu merupakan orang.
b. Use case merupakan fungsionalitas yang disediakan sistem sebagai unit-unit yang saling bertukar pesan antar unit atau aktor.
Sumber : Sukamto dan Shalahuddin(2016:205)
2. Activity Diagram
Menurut Sukamto dan Shalahuddin (2016:161) menjelaskan “Diagram aktivitas atau activity diagram menggambarkan workflow (aliran kerja) atau aktivitas dari sebuah sistem atau proses bisnis atau menu yang ada pada perangkatn lunak”. Perlu diperhatikan bahwa diagram aktivitas menggambarkan aktivitas sistem bukan apa yang dilakukan aktor, jadi aktivitas yang dapat di lakukan oleh sistem.
Sumber : Sukamto dan Shalahuddin (2016:235)
3. Class diagram
Menurut Sukamto dan Shalahuddin (2016:141), menjelaskan bahwa “ Diagram kelas menggambarkan struktur sistem dari segi pendefinisian kelas kelas yang akan dibuat untuk membangun sistem”.
Kelas memiliki apa yang disebut atribut dan metode atau operasi.
a. Atribut merupakan simbol variable-variabel yang dimiliki oleh suatu kelas b. Operasi atau metode adalah fungsi-fungsi yang dimiliki oleh suatu kelas .
Sumber : Sukamto dan Shalahuddin (2016: 205)
4. Sequence Diagram
Menurut Sukamto dan Shalahuddin (2016:165), “Sequence diagram atau diagram sekuen menggambarkan kelakuan objek pada use case dengan mengdeskripsikan waktu hidup objek dan message yang dikirim dan diterima antar objek”.
Sumber : Sukamto dan Shalahuddin(2016:209)
Gambar II.6 Sequence diagram
2.2.2 Entity Relasionship Diagram
Menurut Sukamto dan Shalahuddin (2016:50), “Pemodelan awal basis data
yang paling banyak digunkan adalah menggunakan Entity Relationship Diagram (ERD). ERD dikembangkan berdasarkan teoiri himpunan dalam bidang matematika. ERD digunakan untuk pemodelan basis data relasional”.
Sumber : Mayangky dan Suharyanto (2018)
2.2.3 Logical Record Structured
Menurut Kristanto, A. dalam Nissa dan Suharyanto (2018:69), Logical Record Structured (LRS) adalah representasi dari struktur record-record pada tabel-tabel yang terbentuk dari hasil relasi antar himpunan entitas. Menentukan Kardinalitas, Jumlah Tabel, dan Foreign Key.
Sumber : Mayangky dan Suharyanto (2018)