12
MENDIDIK ANAK DALAM KELUARGA (Studi Analisis Menurut Konsep Islam )
Oleh : Mustafiyanti [email protected]
Sekolah Tinggi ilmu Tarbiyah Al-Qur’an Al-Ittifaqiah indralaya palembang
ABSTRACK
Metode MENDIDIK anak dalam keluarga biasanya sering digunakan: Yang pertama Metode Dialog Qurani dan Nabawi, Metode ini mempunyai manfaat yang baik baik bagi pelaku dan pendengarnya karena menghubungkan seseorang dengan orang lain. Metode ini bersifat dinamis sehingga tidak mudah membosankan dan metode inilah yang biasa dilakukan oleh NabI Muhammad SAW. Yang kedua yaitu Metode kisah Qurani dan Nabawi, Metode ini dapat menjadikan anak berfikir, merasa dan merenung terhadap suatu kisah, sehingga seolah-olah ia juga berperan dalam kisah tersebut. Dan menjadikan anak untuk meniru tokoh-tokoh yang berakhlak baik dan meninggalkan prilaku tokoh-tokoh-tokoh-tokoh yang berakhlak buruk. yang ketiga adalah Metode Mauiza , Metode ini ialah metode dengan cara memberikan nasehat yang baik kepada anak didik. Metode Pembiasaan dengan Akhlak Terpuji, Metode ini erat kaitannya dengan siapa yang mendidiknya, kalau orang yang mendidiknya sudah membiasakan anaknya untuk berbuat baik maka dia akan baik dan begitu pula sebaliknya. Yang ke-empat yaitu Metode Keteladanan Metode ini dapat menciptakan hubungan harmonis antara pendidik dengan peserta didik dan memudahkan pendidik melakukan evaluasi terhadap hasil dari pendidikan yang dijalankannya serta juga memudahkan peserta didik untuk mempraktikkan dan mengimplementasikan ilmu yang dipelajarinya selama proses berlangsung. Yang ke-lima ialah Metode Targhib dan Tarhib, Metode ini bertumpu pada pemberian kepuasan dan argumentasi, disertai gambaran keindahan surga yang menakjubkan atau pembebasan azab neraka. Tetapi, kedua metode tersebut bersifat abstrak.
Key word :
13 ABSTRACK
EDUCATION METHODS in families are often used: The first Quranic and Nabawi Dia-logue Method, this method has good benefits for both the perpetrator and the listener because it connects someone to others. This method is dynamic so it is not easy to get boring and this method is usually done by NabI Muhammad SAW. The second is the Quranic and Nabawi story method, this method can make the child think, feel and reflect on a story, so that it seems as if he also plays a role in the story. And make children to imitate characters who have good character and leave the behavior of characters with bad character. the third is the Mauiza Method, this method is a method by giving good advice to students. Habitual Method with Praised Morals, This method is closely related to who educates him, if the person who educates him has familiarized his child to do good then he will be good and vice versa. The fourth is the Exemplary Method This method can create a harmonious relationship between educators and students and make it easier for educators to evaluate the results of their educa-tion and also make it easier for students to practice and implement the knowledge they learned during the process. The fifth is the Targhib and Tarhib Method, this method relies on giving satisfaction and argumentation, accompanied by a picture of the wondrous beauty of heaven or the liberation of the punishment of hell. However, both methods are abstract.
Key word:
14
A. PEDAHULUAN
Pendidikan Islam sesungguhnya merupakan sub sistem dalam konsep kehidupan Islam. Islam mengatur umatnya dengan memberikan pedoman atau aturannya dalam al-Qur‟an dan Hadits dalam berbagai lini kehidupan bahkan sampai pada hal-hal yang kecil sehingga hal inilah yang menjadikan Islam sebagai agama yang Universal dan kompleks.
Pendidikan merupakan kegiatan pembelajaran yang di dalamnya memiliki tujuan tertentu yang akan dicapainya, baik tujuan pendek, menengah maupun tujuan akhir. Tujuan akhir pendidikan Islam pada umumnya yaitu membentuk kemampuan dan bakat Allah di seluruh penjuru alam ini.1 Sehingga manusia mampu menjadi rahmat (menyayangi dan mengasihi) bagi alam semesta dari proses pendidikan yang dijalaninya. Hal ini artinya ketika manusia hasil pendidikan belum bisa menjadi rahmat alam semesta, berarti pendidikan Islam tersebut belum menyentuh aspek aflikatif atau efektif dan psikomotor anak.
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai Islam yang bersumber dari kitab suci Al-Qur‟an dan Hadits serta mengembangkan anak didik agar mampu melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasi idealitas wahyu Tuhan.2 Sehingga pendidikan Islam itu tidak hanya bermain dalam tataran konseptual belaka tapi juga bersifat aplikatif atau harus selalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pendidikan yang baik, manusia diharapkan mampu menjadi makhluk Allah yang mulia di muka bumi, karena manusia mampu menjadi makhluk yang lebih mulia dari malaikat karena ketaatannya dan menjadi hina lebih hina dari binatang karena kedurhakaanya. Pada setiap fase anak mampu tumbuh dan berkembang dengan optimal baik dengan sengaja maupun tidak, tidak sengaja dalam arti ketika manusia masih dalam kandungan orang tuanya, dan dengan sengaja yaitu ketika manusia telah mampu belajar dengan potensi yang ia miliki setelah lahir dan terkhusus setelah adanya Gezag (mengetahui adanya wibawa) dalam psikis anak.
Usia anak adalah usia yang paling kritis atau paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Termasuk juga pengembangan intelegensi hampir seluruhnya terjadi pada usia anak-anak. Kalau anak sudah terlanjur menjadi pencuri atau penjahat, maka setinggi apapun pendidikan bagi anak tersebut boleh dikatakan tidak berarti apa-apa.
1 Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam Edisi Revisi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), h.114 2 Ibid., h.111
15
Anak-anak memiliki potential intelligence yang luar biasa. Potensi ini mesti dikembangkan, untuk itu para orang tua selayaknya memperhatikan masalah-masalah penting seputar pendidikan anak. Dalam pendidikan Islam, anak memiliki nilai yang sangat penting. Anak bukan sekedar buah hati hasil pernikahan, bahkan lebih dari itu anak merupakan amanah dari Allah SWT. kepada orang tuanya, para pendidiknya, dan kepada ummat secara keseluruhan.
Anak adalah aset yang sangat berharga di masa depan. Kondisi umat di masa mendatang sangat dipengaruhi oleh kualitas pendidikannya sejak dini. Karena itulah berbagai upaya untuk membantu orang tua untuk mencetak anak Islam yang cerdas, kreatif, bertaqwa, dan berakhlak mulia sangat diperlukan.
Islam mengajarkan bahwa orang tua bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan keislamannya secara detail bagi anak-anak mereka, dalam rangka pembentukan pribadi yang saleh dan saleha yang tegak di atas akhlak yang mulia.
Akhlak dalam kehidupan menempati tempat yang penting, sebagai individu ataupun masyarakat. Apabila akhlaknya baik, dapat mengangkat status derajat yang tingggi lagi mulia bagi dirinya, bila akhlaknya rusak, maka rendahlah derajatnya melebihi hewan. Kemuliaan seseorang terletak pada akhlaknya, bila akhlaknya baik dapat membuat seseorang menjadi tenang, aman, tentram, dan tidak tercela.
Islam dapat dijadikan sarana untuk memperbaiki akhlak, antara lain mengajarkan secara benar dan mengajak untuk selalu bersabar, bersyukur, bertawakal, mencintai orang lain, mengasihani dan menolongnya. Ajaran dan ajakan itu terdapat dalam al-Qur‟an sebagai nasihat bagi orang-orang yang selalu melakukan perbuatan buruk.3
Banyak hal yang sering terjadi dan ditanyakan oleh anak-anak, yang terkadang pertanyaan-pertanyaan tersebut malah menjadi masalah dan sering tidak terpecahkan, baik oleh si anak maupun orangtua itu sendiri. Hal ini terjadi karena minimnya pemahaman orang tua terhadap pengetahuan agama yang mereka miliki serta kurangnya si anak mendapatkan pengajaran agama yang memadai sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar, baik itu di sekolah maupun di lingkungan keluarga.4
Kewajiban ibu dan bapak terhadap anaknya dapat dilihat dari sudut ajaran Islam bahwa anak adalah titipan Tuhan kepada seseorang atau sering disebut amanah dari Allah SWT. Secara umum kewajiban menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, jika dihubungkan dengan kewajiban orang tua kepada anaknya ialah memelihara anak agar
3 M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), h.1 4 Abu Abdillah, Mendidik Anak Menjadi Pintar dan Shalih, (Yokyakarta : Darul Hikmah, 2008), h.18
16
selamat di dunia dari kesesatan dan keselamatan di akhirat. Keselamatan di dunia berorientasi kepada terpenuhinya kebutuhan fisik anak, sedangkan keselamatan di akhirat mengacu kepada pemenuhan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak, agar kesucian jiwa mereka tidak terkotori oleh warna kesesatan yang berdampak pada perilaku yang menyesatkan dirinya dan orang lain, supaya mereka menjadi anak yang shaleh dan memiliki akhlak yang mulia.
Dengan melihat akan pentingnya kedudukan keluarga dalam Islam, maka keluarga mempunyai tanggung jawab dan kewajiban kepada anaknya, yaitu dengan cara:
1. Mengisi aqidah Ilahiyah ke dalam jiwa si anak
2. Memberi nama yang baik
3. Mengkhitan anak
4. Mendidiknya menjadi anak yang berakhlak.5
Oleh karena itu peranan orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dalam menanamkan nilai-nilai akhlak alkarimah terhadap anak-anaknya yang bersumber dari ajaran dan konsep Islam agar anak-anak mereka dapat menghiasi hidupnya dengan akhlak yang baik dan mulia serta dapat berguna bagi nusa, bangsa dan agama.
B. Rumusan Masalah
Dari pendahuluan yang penulis jelaskan, dalam hal ini terdapat beberapa rumusan masalah yang akan dikembangkan, yaitu :
1. Bagaimana pendidikan akhlak anak dalam keluarga menurut Islam?
2. Bagaimana peran orang tua dalam pendidikan akhlak anak dalam keluarga menurut Islam?
3. Faktor apa saja yang mempengaruhi pendidikan akhlak anak dalam keluarga menurut Islam?
C. Tujuan Penelitian
Peneltian ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui pendidikan akhlak anak dalam keluarga menurut konsep Islam. 2. Untuk mengetahui metode pendidikan akhlak anak dalam keluarga.
3. Untuk mengetahui karakteristik konsep Islam tentang pendidikan akhlak anak dalam keluarga.
17
B. Pengertian Akhlak
a. Akhlak
Sebelum sampai pada pengertian akhlak lebih dahulu perlu diketahui bahwa kata akhlak itu bentuk jamak dari kata khuluqun dan kata yang terakhir ini mengandung segi-segi yang sesuai dengan kata al-khalqu yang bermakna kejadian. Kedua kata tersebut berasal dari kata kerja khalaqa yang mempunyai arti menjadikan, dari kata khalaqa inilah timbul bermacam-macam kata seperti:
Al-khuluqu yang mempunyai makna budi pekerti Al-khalqu mempunyai makna kejadian
Al-khaliq bermakna Tuhan Pencipta Alam
Makhluq mempunyai arti segala sesuatu yang diciptakan Tuhan.6
Sedangkan kata al-khuluku atau jamak akhlak mengandung arti budi pekerti atau pribadi yang bersifat rohaniah, seperti sifat-sifat terpuji atau sifat-sifat yang tercela.7 Secara etimologis akhlak adalah jamak dari khuluk yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.
Secara terminologis ada beberapa definisi tentang akhlaq. Tiga diantaranya: 1. Imam Al-Ghazali
Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
2. Ibrahim Anis
Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
3. Abdul Karim Zaidan
Akhlaq adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meniggalkannya.8
6
Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: PT. Mahmud Yunus wa Dzurriyah, 2010), h. 12
7 Rizky Maulana, Kamus Modern Bahasa Indonesia, (Surabaya : Lima Bintang, 2008), h.14
18
Ketiga, definisi diatas sepakat menyatakan bahwa akhlaq atau khuluq itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.
b. Pembentukan Akhlak
Pembentukan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali di jumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak. Pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Pembentukan akhlak ini dilakukan berdasarkan asumsi bahwa akhlak adalah hasil usaha pembinaan, bukan terjadi dengan sendirinya.9
Akhlak atau sistem perilaku ini terjadi melalui satu konsep atau seperangkat pengertian tentang apa dan bagaimana sebaiknya akhlak itu harus terwujud. Konsep atau seperangkat pengertian tentang apa dan bagaimana sebaiknya akhlak itu disusun oleh manusia didalam sistem idenya. Sistem ide ini adalah hasil proses (penjabaran) daripada kaidah-kaidah yang dihayati dan dirumuskan, (norma yang bersifat normatif dan norma yang bersifat deskriptif). Kaidah atau norma yang merupakan ketentuan ini timbul dari satu sistem nilai yang terdapat pada Al-Qur‟an atau Sunnah yang telah dirumuskan melalui wahyu Ilahi maupun yang disusun oleh manusia sebagai kesimpulan dari hukum-hukum yang terdapat dalam alam semesta yang diciptakan Allah SWT. Akhlak atau sistem perilaku diteruskan melalui sekurang-kurangnya dua pendekatan, yaitu:
i. Rangsangan jawaban (stimulus response) atau yang disebut proses mengkondisi sehingga terjadi automatisasi dan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Melalui latihan
b. Melalui tanya jawab c. Melalui mencontoh
ii. Kognitif yaitu menyampaikan informasi secara teoritis yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:
a. Melalui dakwah b. Melalui ceramah
19 c. Melalui diskusi dan lain-lain.10
Di dalam ajaran Islam, akhlak tidak dapat dipisahkan dengan Iman. Iman merupakan pengakuan hati dan akhlak adalah pantulan Iman itu pada perilaku dan sikap. Iman adalah maknawi, sedangkam akhlak adalah bukti keimanan dalam perbuatan, yang dilakukan dengan kesadaran dan karena Allah semata.
Di dalam Al-Qur‟an banyak ayat yang mendorong manusia untuk beriman dan beramal saleh dengan berbagai janji diantaranya terdapat di dalam surat Al-Baqarah ayat 25: Artinya:
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya.11
c. Pembinaan Akhlak
Pembinaan di dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah proses, perbuatan, cara membina.12 Pembinaan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam Islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad saw. Yang utama adalah untuk meyempurnakan akhlak yang mulia. Dalam salah satu hadisnya beliau menegaskan:
َّيَص ِِّٜبَّْىا َِِع َُْْٔع ُالله َِٜظَر َةَرَْٝرُٕ ِٚبَا َِْع َحِىاَص ِٚبَا َِْع عاَقْعَقْىا َِِع ُ َلَْجَا ِْبا ذَََّحٍُ َِْع ُجْتِعُب اَََِّّا ٌََّيَلَٗ َِْٔٞيَع ُالله ٚ
ٛراخبىا ٓاٗر( ِق َلَْخَلِا ًَِراَنٍَ ٌَََِّحُ ِلِ)
Dari Muhammad bin Ajlan dari Al-Qa‟qaa‟ dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi SAW: “Sesungguhnya aku (Nabi SAW) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(H.R. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad hlm. 42)13
Perhatian Islam yang demikian terhadap pembinaan akhlak ini dapat pula dilihat dari perhatian Islam terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada pembinaan fisik,
10
Abu Ahmadi, Noer Salami, Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: 1991), h.199
11 Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI, (Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2006), h.
5
12
Perum Penerbitan dan Percetakan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), h. 117
13 http//m.salamdakwah.com/baca-artikel/urgensi-akhlak-dalam-membangun-masyarakat.html diakses
20
karena dari jiwa yang baik inilah akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik yang pada tahap selanjutnya akan mempermudah menghasilkan dan kebahagian pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin. Perhatian Islam dalam pembinaan akhlak dapat dianalisis pada muatan akhlak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran Islam.
Pembinaan akhlak dalam Islam juga terintegrasi dengan pelaksanaan rukun iman. Hasil analisis Muhammad al-ghazali terhadap rukun Islam yang lima telah menunjukkan dengan jelas, bahwa dalam rukun Islam yang lima itu terkandung konsep pembinaan akhlak.14
Menurut Ibnu Miskawih di dalam kitab Tahdzibul Al-Akhlak wa Tathhir Al-Araq, pembinaan akhlak dititik beratkan kepada pembersihan pribadi dari sifat-sifat yang berlawanaan dengan tuntunan agama, seperti: takabur, pemarah dan penipu. Dengan pembinaan akhlak ingin dicapai terwujudnya manusia yang ideal; anak yang bertakwa kepada Allah swt dan cerdas. Di dunia pendidikan, pembinaan akhlak tersebut dititik beratkan kepada pembentukan mental anak atau remaja agar tidak mengalami penyimpangan.15
Akhlak adalah implementasi dari Iman dalam segala bentuk perilaku. Di antara contoh akhlak yang diajarkan oleh Luqman kepada anaknya adalah:
i. Akhlak anak terhadap ibu-bapak ii. Akhlak terhadap orang lain iii. Akhlak dalam penampilan diri.16
Sebagaimana tergambar di dalam surat Luqman ayat 14, 15, 18 dan 19. Pembinaan pribadi anak menuju akhlakul karimah adalah dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan yang dipadukan sehingga terwujudlah sikap mental anak dan kepribadian yang sesuai dengan ajaran agama.17
Artinya :
Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti
14 http//al-poenya.blogspot.com/2011/11/resume-buku-akhlak-tasawuf-12.html. diakses pada 10 April
2012
15 http//zairifblog.blogspot.com/2010/11/akhlak-tasawuf.html?m=1
16
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak IslamRalia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum,2004) h. 25
21
keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalandan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.18
1. Akhlak kepada orang tua
Seorang anak dikandung oleh ibunya selama sembilan bulan. Selama itu, ibu merasakan kepayahan dan kesusahan membawa kandungannya yang semakin lama semakin berat, disamping harus memberikan perhatian penuh dengan kasih dan sayang.
Menurut Hafizh Hasan Al-Mas‟uriy dalam kitab “Taisir Khollak”, bahwa kewajiban seorang anak kepada kedua orang tuanya diantaranya, ialah:
- Mengerjakan perintah keduanya kecuali perintah menyuruh kepada maksiat - Duduk bersama keduanya dalam keadaan tenang
- Tidak menyakiti keduanya sekalipun dengan perkataan “ah” - Tidak berjalan di depan keduanya kecuali pada waktu melayaninya - Mendo‟akan keduanya dengan rahmat dan ampunan
Allah berfirman:19 Artinya:
Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuan-Nya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihkan
18 Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen..., h. 329 19 A. Rahman Ritonga, Akhlak..., h. 45
22
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-ku dan kepada kedua orang tu, hanya kepadakulah kembalimu. (QS.Luqman : 14)20
Bahkan anak harus tetap hormat dan mempelakukan kedua orang tuanya dengan baik, kendatipun mereka mempersekutukan Tuhan, hanya yang dilarang adalah mengikuti ajakan mereka untuk meninggalkan Iman tauhid.
Artinya :
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmua tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-ku, kemudian hanya kepada-kulah kembalimu, maka ku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS.Luqman: 15)21
2. Akhlak terhadap orang lain
Akhlak terhadap orang lain, adalah adab, sopan santun dalam bergaul, tidak sombong dan tidak angkuh, serta berjalan sederhana, bersuara lembut dan akhlak dalam penampilan diri.22
Artinya :
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah keledai. (QS. Luqman : 18-19).23
Pendidikan akhlak di dalam keluarga dilaksanakan dengan contoh dan teladan dari orang tua. Perilaku dan sopan santun orang dalam hubungan dan pergaulan antara ibu dan bapak, perlakukan orang tua terhadap anak-anak mereka dan perlakukan orang tua terhadap orang lain di dalam lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat, akan menjadi teladan bagi anak-anak.
Anak juga memperlihatkan sikap orang tua dalam menghadapi masalah. Contohnya sederhana dapat kita perhatikan pada anak-anak umur 3-5 tahun. Ada yang berjalan dengan
20 Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen..., h. 329 21 Ibid., h. 329
22
Risnayanti, Implementasi..., h. 26
23
gaya bapaknya yang dikaguminya atau gaya ibu yang disayanginya. Adakalanya kita melihat seorang anak yang tampak bangga diri, angkuh atau sombong. Dan ada pula yang merasa dirinya kecil, penakut, suka minta dikasihani, ada yang suka senyum dan tertawa bila ditegur. Sebaliknya ada yang langsung menangis, menjerit ketakutan bila disapa oleh orang lain. Dan adapula yang tampak percaya diri, ramah dan menyengkan teman-temannya dan orang lain.
Perkataan dan cara berbicara, bahkan gaya menanggapi teman-temannya atau orang lain, sedih dan sebagainya, dipelajari pula dari orang tuanya. Adapun akhlak, sopan santun dan cara menghadapi orang tuanya, banyak tergantung pada sikap orang tua terhadap anak. Apabila anak merasa terpenuhi semua kebutuhan pokoknya (jasmani, kejiwaan dan sosial) maka si anak merasa terhalang pemenuhan kebutuhannya oleh orang tua, misalnya Ia merasa tidak disayangi atau dibenci, suasana dalam keluarga yang tidak tentram, seringkali menyebabkan takut adil dan tertekan oleh perlakuan orang tuanya, atau orang tuanya tidak adil dalam mendidik dan memperlakukan anak-anaknya, maka perilaku anak tersebut boleh jadi bertentangan dengan yang diharapkan oleh orang tuanya, karena ia tidak mau menerima keadaan yang tidak menyenangkan itu.
3. Akhlak dalam Penampilan diri
Akhlak dalam Penampilan diri adalah memelihara kesucian diri baik lahir maupun batin. Orang yang dapat memelihara dirinya dengan baik akan selalu berupaya untuk berpenampilan sebaik-baiknya di hadapan Allah, khususnya, dan di hadapan manusia pada umumnya dengan memperhatikan bagaimana tingkah lakunya, bagaimana penampilan fisiknya, dan bagaimana pakaian yang dipakainya.
Pemeliharaan kesucian diri seseorang tidak hanya terbatas pada hal yang bersifat fisik (lahir) tetapi juga pemeliharaan yang bersifat nonfisik (batin). Yang pertama harus diperhatikan dalam hal pemeliharaan nonfisik adalah membekali akal dengan berbagai ilmu yang mendukungnya untuk dapat melakukan berbagai aktivitas dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. Berbagai upaya yang mendukung ke arah pembekalan akal harus ditempuh, misalnya melalui pendidikan yang dimulai dari lingkungan rumah tangganya kemudian melalui pendidikan formal hingga mendapatkan pengetahuan yang memadai untuk bekal hidupnya.
d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembinaan Akhlak
Para siswa merupakan generasi muda yang merupakan sumber insani bagi pembangunan nasional, untuk itu pula pembinaan bagi mereka dengan mengadakan upaya-upaya pencegahan pelanggaran norma-norma agama dan masyarakat. Dalam pembinaan akhlak siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya.
24
i. Lingkungan keluarga
Pada dasarnya, masjid itu menerima anak-anak setelah mereka dibesarkan dalam lingkungan keluarga, dalam asuhan orang tuanya. Dengan demikian, rumah keluarga muslim adalah benteng utama tempat anak-anak dibesarkan melalui pendidikan Islam. Keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syariat Islam.
Berdasarkan Al-Qur‟an dan sunnah, dapat dipahami bahwa tujuan terpenting dari pembentukan keluarga adalah hal-hal berikut:
1. Mendirikan syariat Allah dalam segala permasalahan rumah tangga. 2. Mewujudkan ketentraman dan ketenangan psikologis.
3. Mewujudkan sunnah Rasulallah saw.
4. Memenuhi kebutuhan cinta-kasih anak-anak.
Naluri menyayangi anak merupakan potensi yang diciptakan bersamaan dengan penciptaaan manusia dan binatang. Allah menjadikan naluri itu sebagai salah satu landasan kehidupan alamiah, psikologis, dan sosial mayoritas makhluk hidup. Keluarga, terutama orang tua, bertanggung jawab untuk memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Kelima, menjaga fitrah anak agar anak tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan.24
Keluarga merupakan masyarakat alamiyah, disitulah pendidikan berlangsung dengan sendirinya sesuai dengan tatanan pergaulan yang berlaku didalamnya. Keluarga merupakan persekutuan terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak dimana keduanya (ayah dan ibu) mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada disampingnya, oleh karema itu ia meniru perangai ibunya, karena ibunyalah yang pertama dikenal oleh anaknya dan sekaligus menjadi temannya yang pertama yang dipercayai.
Di samping ibunya, ayah juga mempunyai pengaruh yang mana besar terhadap perkembangan akhlak anak, dimata anak, ayah merupakan seseorang yang tertinggi dan terpandai diantara orang- orang yang di kenal dalam lingkungan keluarga, oleh karena ayah melakukan pekerjaan sehari-hari berpengaruh gara pekerjaan anaknya. Dengan demikian, maka sikap dan perilaku ayah dan ibu mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan akhlak anak-anaknya.25
ii. Lingkungan sekolah
24
Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam Di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Terj. Shihabuddin, (Jakarta: Gema Insani, 1995), h. 144
25
25
Perkembangan akhlak anak yang dipengaruhi oleh lingkungan sekolah. Di sekolah ia berhadapan dengan guru-guru yang berganti-ganti. Kasih guru kepada murid tidak mendalam seperti kasih orang tua kepada anaknya, sebab guru dan murid tidak terkait oleh tali kekeluargaan. Guru bertanggung jawab terhadap pendidikan muridmuridnya, ia harus memberi contoh dan teladan bagi bagi mereka, dalam segala mata pelajaran ia berupaya menanamkan akhlak sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan diluar sekolah pun ia harus bertindak sebagai seorang pendidik.
Kalau di rumah anak bebas dalam gerak-geriknya, ia boleh makan apabila lapar, tidur apabila mengantuk dan boleh bermain, sebaliknya di sekolah suasana bebas seperti itu tidak terdapat. Di sana ada aturan-aturan tertentu. Sekolah dimulai pada waktu yang ditentukan, dan ia harus duduk selama waktu itu pada waktu yang ditentukan pula. Ia tidak boleh meninggalkan atau menukar tempat, kecuali seizin gurunya. Pendeknya ia harus menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan yang ada ditetapkan. Berganti-gantinya guru dengan kasih sayang yang kurang mendalam, contoh dari suri tauladannya, suasana yang tidak sebebas dirumah anak-anak, memberikan pengaruh terhadap perkembangan akhlak mereka.
iii. Lingkungan masyarakat
Tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan anak-anak menjelma dalam beberapa perkara dan cara yang dipandang merupakan metode pendidikan masyarakat utama. Cara yang terpenting adalah:
Pertama, Allah menjadikan masyarakat sebagai penyuruh kebaikan dan pelarang kemunkaran. Kedua, dalam masyarakat Islam, seluruh anak-anak dianggap anak sendiri atau anak saudaranya sehingga ketika memanggil anak siapa pun dia, mereka akan memanggil dengan .Hai anak saudaraku! dan sebaliknya, setiap anak-anak atau remaja akan memanggil setiap orang tua dengan panggilan, Hai Paman!.. Ketiga, untuk menghadapi orang-orang yang membiasakan dirinya berbuat buruk, Islam membina mereka melalui salah satu cara membina dan mendidik manusia. Keempat, masyarakat pun dapat melakukan pembinaan melalui pengisolasian, pemboikotan, atau pemutusan hubungan kemasyarakatan. Kelima, pendidikan kemasyarakatan dapat juga dilakukan melalui kerjasama yang utuh karena bagaimanapun, masyarakat muslim adalah masyarakat yang padu. Keenam, pendidikan kemasyarakatan bertumpu pada landasan afeksi masyarakat, khususnya rasa saling mencintai.26
26
26
Masyarakat turut serta memikul tanggung jawab pendidikan dan madyarakat juga mempengaruhi akhlak siswa atau anak.masyarat yang berbudaya, memelihara dan menjaga norma-norma dalam kehidupan dan menjalankan agama secara baik akan membantu perkembangan akhlak siswa kepada arah yang baik, sebaliknya masyarakat yang melanggar norma-norma yang berlaku dalam kehidupan dan tidak tidak menjalankan ajaran agama secara baik, juga akan memberikan pengaruh kepada perkembangan akhlak siswa, yang membawa mereka kepada akhlak yang baik.
Dengan demikian, ia pundak masyarakat terpikul keikutsertaan dalam membimbing dan perkembangan akhak siswa. Tinggi dan rendahnya kualitas moral dan keagamaan dalam hubungan sosial dengan siswa amatlah mendukung kepada perkembangan sikap dan perilaku mereka.27
C. Pendidikan Akhlak Anak
Pendidikan merupakan kebutuhan manusia, kebutuhan pribadi seseorang. Kebutuhan yang tidak dapat diganti dengan yang lain. Karena pendidikan merupakan kebutuhan setiap individu untuk mengembangkan kualitas, pontensi dan bakat diri. Pendidikan membentuk manusia dari tidak mengetahui menjadi mengetahui, dari kebodohan menjadi kepintaran dari kurang paham menjadi paham, intinya adalah pendidikan membentuk jasmani dan rohani menjadi paripurna. Sebagaimana tujuan pendidikan, menurut Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) UU RI NO. 20 TH. 2003 BAB II Pasal 3 dinyatakan:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 28
Keluarga merupakan pilar pertama bagi pendidikan anak. Pembentukan kepribadian seorang anak bersumber dari keluarga. Oleh karena itu, hak-hak seorang anak dalam keluarga dibagi menjadi dua bagian: Hak-hak sebelum kelahiran dan hak-hak setelah kelahiran.29
Berdasarkan hal ini, dalam pandangan Islam, kewajiban ayah dan ibu dimulai sejak anak belum lahir. Jika kewajiban-kewajiban tersebut tidak ditunaikan oleh kedua orang tua, hal ini akan berdampak negatif bagi pendidikan dan perkembangan kejiawaan anak.30
278 Risnayanti, Implementasi..., h. 31-32 28
Redaksi Sinar Grafika, Undang-Undang Sisdiknas dan Undang-Undang Guru dan Dosen, (Jakarta: Penerbit Asa Mandiri, 2011), h. 5
27
Lembaga keluarga merupakan tempat pertama untuk anak menerima pendidikan dan pembinaan, meskipun diakui bahwa sekolah mengkhususkan diri untuk kegaiatan pendidikan, namun sekolah tidak mulai dari “ruang hampa”.31
Sekolah menerima anak setelah melalui berbagai pengalaman dan sikap serta memperoleh banyak tingkah laku dan ketrampilan yang diperolehnya dari lembaga keluarga.
Dari lembaga keluarga seperti ini berarti keluarga memegang peranan yang sangat penting, terutama dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan rohani anak agar terarah dan menjadi anak yang bermoral dan berakhlak mulia. Untuk mencapai suatu keberhasilan dalam mendidik anak-anak orangtua harus berusaha secara maksimal dengan penuh kesadaran sehingga dalam berbuat dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari tidak bertentangan dengan apa yang menjadi tujuan pendidikan anak-anaknya. Secara naluriah anak yang hidup dalam keluarga akan senantiasa meniru perbuatan yang pernah dilihatnya, karena merupakan pengalaman pertama yang pernah diperoleh anak dalam kehidupannya. Sehingga anak yang sedang tumbuh dan berkembang akan sangat peka terhadap pengalaman pertama yang pernah diterimanya.
Di dalam Al-Qur‟an telah ada dasar-dasar pendidikan akhlak anak yang jelas mengenai pendidikan akhlak pada anak-anak yang terdapat di dalam surat Luqman :
1. Akhlak kepada Allah SWT terdapat Q.S. 31/Luqman : 13 :
ْشُحَلا ََُّْٜبٝ ُٔظِعَبََُٕ٘ٗ ِْْٔبِلا ََِْقُى َهاَقْرِاَٗ ِللهاِب ْكِر
غ .ٌٌِْٞظَع ٌٌْيُظَى َكْرِّشىا َُِّإ
Artinya :
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar. (Q.S. Luqman : 13).32
Berdasarkan ayat tersebut di atas mengisyaratkan bagaimana seharusnya para orang tua mendidik anaknya untuk mengesakan penciptanya dan memegang prinsip tauhid dengan tidak menyekutukan Tuhannya, kemudian anak-anak hendaklah diajarkan untuk mengerjakan shalat, sehingga terbentuk manusia yang senantiasa mengingat dan kontak dengan penciptanya, seperti disebutkan dalam Q.S. 31/ Luqman : 17
30 Ibid., h. 67 31
Hery Nur Arly dan H Munzier S, Watak Pendidikan Islam, (Jakarta : Friska Agung Insan, 2000), h. 65
28
ٌِِقَا ََُّْٜبٝ َلَباَصَا اٍَ ٚيَع ْرِبْصاَٗ ِرَنَُْْْىا َِِع َّْٔاَٗ ِفُْٗرْعََْىاِب ْرٍُْأَٗ َة٘يَّصىا غ
.ِرٍُُْ٘لاْا ًِْزَع ٍِِْ َلِىر َُِّا
Artinya : Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Q.S. Luqman : 17)33
2. Akhlak Kepada Orang Tua Dalam Q.S. 31/Luqman : 14
.َِْٔٝذِىِ٘ب َِسِّْلاْا اََّْْٞصََٗٗ َلَْٝذِىِ٘ىَٗ ِٚى ْرُنْشا َُِا ٍَِِْٞ اَع ِٚف ُُٔيصِفَّٗ ٍَِْٕٗ ٚيَع إًَْْٗ ٍُُّٔا ُْٔخَيَََح
غ .ُرِْٞصََْىا ََّٚىِا
Artinya : Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman : 14)34
Berdasarkan ayat di atas menjelaskan bahwasannya Islam mendidik anak-anak selalu berbuat baik terhadap orang tua sebagai rasa berterima kasih atas perhatian, kasih sayang dan semua yang telah mereka lakukan untuk anaknya. Bahkan perintah untuk bersyukur kepada Allah.
3. Akhlak Kepada Diri Sendiri Dalam Q.S. 31/Luqman : 19 :
َلِح َْ٘ص ٍِِْ ْطُعْغاَٗ َلِْٞشٍَ ِْٚف ْذِصْقاَٗ غ
.ِرََِْٞحْىا ُثَْ٘صَى ِثْ٘صَلاْا َرَنَّْا َُِّا
Artinya: Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai. (Q.S. Luqman : 14)35
Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwasannya dilarang berjalan dengan congkak dan Allah SWT memerintahkan untuk sederhana dalam berjalan, dengan tidak menghempaskan tenaga dalam bergaya, tidak melenggak lenggok, tidak memanjangkan leher karena angkuh, akan tetapi berjalan dengan sederhana, langkah sopan dan tegap, memelankan suara adalah budi yang luhur. Percaya diri dan tenang karena berbicara jujur. Suara lantang dalam berbicara adalah termasuk perangai yang buruk.
4. Akhlak Kepada Orang Lain Dalam Q.S. 31/Luqman : 18 : 33 Ibid., h. 329 34 Ibid., h. 329 35 Ibid., h. 329
29
اًحَرٍَ ِضْرَلاْا ِٚف ِشََْح َلاَٗ سِاَّْيِى َكَّذَخ ْرِّعَصُح َلاَٗ غ
ٍرُْ٘حَف ٍهاَخْخٍُ َّوُم ُّبِحُٝ َلا َالله َُِّا .
Artinya: Dan jangnalah kamu memalingkan mukamu dan manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Luqman : 18).36
Kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat, anak-anak haruslah dididik untuk tidak bersikap acuh terhadap sesama, sombong atas mereka dan berjalan di muka dan menghargai orang lain, karena bersikap acuh tak acuh tidak disukai oleh Allah dan dibenci manusia.
Adapun pemikiran Al-Ghazali tentang konsep pendidikan akhlak pada anak-anak adalah sebagai berikut: 37
1) Akhlak Terhadap Allah
Al-Ghazali menjelaskan bahwa seorang anak yang telah mencapai usia tamyiz, maka hendaklah tidak dibiarkan meninggalkan thaharah dan shalat. Juga mulai diperintahkan berpuasa beberapa hari di bulan Ramadhan.
Al-Ghazali sangat menganjurkan sejak dini orang tua membiasakan anak-anaknya untuk beribadah, seperti shalat, berdoa, berpuasa di bulan Ramadhan dan lain-lain, sehingga secara berangsur-angsur tumbuh rasa senang melakukan ibadah tersebut, kemudian dengan sendirinya anak akan terdorong untuk melakukannya tanpa perintah dari luar (motivasi eksternal) tetapi dorongan itu timbul dari dalam dirinya (motivasi internal) dengan penuh kesadaran. Anak harus berangsur-angsur dapat mengabstraksikan, memahami bahwa beribadah itu harus sesuai dengan keyakinannya sendiri, keyakinan dengan sadar bukan ikut-ikutan atau paksaan. Dengan kata lain, anak yang banyak mendapatkan kebiasaan dan latihan keagamaan pada waktu dewasanya akan semakin merasakan kebutuhan terhadap pentingnya agama dalam kehidupan.
Selain itu, Al-Ghazali juga menekankan perlunya anak-anak pada usia tamyiz diajarkan tentang hukum syari‟at yang diperlukan.
2) Akhlak Terhadap Orang Tua
Al-Ghazali menegaskan bahwa seorang anak haruslah dididik untuk selalu taat kepada kedua orang tuanya, gurunya serta yang bertanggung jawab atas pendidikannya. Dan hendaklah ia menghormati mereka serta siapa saja yang lebih tua daripadanya. Dan agar ia senantiasa bersikap sopan dan tidak bercanda atau bersenda gurau dihadapan mereka. Setelah menekankan pentingnya menanamkan rasa hormat anak terhadap orang tua, Al-Ghazali juga
36 Ibid., h. 329
37
30
menjelaskan perlunya menerapkan hukuman dan hadiah, mengenai hal ini Al-Ghazali berkata:
Apabila seorang anak berkelakuan baik dan melakukan perbuatan terpuji, hendaklah ia diberi hadiah dan dipuji di depan orang banyak kemudian jika suatu saat ia melakukan hal-hal yang berlawanan dengan itu, sebaiknya kita berpura-pura tidak mengetahui, agar tidak membuka rahasianya. Apabila anak berupaya merahasiakannya, membicarakan hal itu justru akan menimbulkan kenekatannya sehingga ia tidak peduli lagi dengan kecaman siapapun. Setelah itu, apabila ia mengulangi lagi perbuatannya itu, maka sebaiknya ia ditegur secara rahasia dan memberitahuannya tentang akibat buruk dari perbuatannya itu. Sehingga dapat memalukannya sendiri dengan orang-orang sekitarnya. Akan tetapi, janganlah berlebihan dalam mengecamnya setiap saat. Sebab, terlalu sering menerima kecaman, akan membuatnya menerima hal itu sebagai sesuatu yang biasa dan dapat mendorongnya ke arah perbuatan yang lebih buruk lagi. Dan ketika itu mungkin telinganya menjadi kebal dalam mendengar kecaman-kecaman yang ditujukan padanya.38
Di samping itu Al-Ghazali juga menjelaskan hendaklah orang tua selalu menjaga kewibawaannya dalam berbicara kepada anak-anaknya. Untuk itu, janganlah ia memarahinya kecuali pada waktu-waktu yang sangat diperlukan saja. Sementara itu, ibu mempertakutinya dengan amarah ayahnya dan mencegahnya dari segala perbuatan buruk.
3) Akhlak Kepada Diri Sendiri
a. Macam-Macam Akhlak Terhadap Diri Sendiri39 1) Berakhlak terhadap jasmani
a) Menjaga kebersihan dirinya
Islam menjadikan kebersihan sebagian dari Iman. Ia menekankan kebersihan secara menyeluruh meliputi pakaian dan juga badan. Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabatnya supaya memakai pakaian yang bersih, baik, dan rapi terutamanya pada hari Jumat, memakai wewangian.
b) Menjaga makan minumnya
Bersederhanalah dalam makan minum, berlebihan atau melampaui dilarang dalam Islam. Sebaiknya sepertiga dari perut dikhaskan untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas.
c) Tidak mengabaikan latihan jasmaninya
38 Al-Ghazali, Ihya..., h. 195
39
http://lindapebriani.blogspot.com/2012/11/makalah-akhlak-terhadap-diri-sendiri.html diakses pada 31 Januari 2013
31
Riyadhah atau latihan jasmani amat penting dalam penjagaan kesehatan, walau bagaimanapun ia dilakukan menurut etika yang ditetapkan oleh Islam tanpa mengabaikan hak-hak Allah, diri, keluarga, masyarakat dan sebagainya. Dalam arti ia tidak mengabaikan kewajiban sembahyang sesuai kemampuan diri, adat bermasyarakat dan lainnya.
d) Kepribadian penampilan
Seorang muslim mestilah mempunyai rupa diri yang baik. Islam tidak pernah mengizinkan budaya tidak senonoh, compang-camping, kusut, dan lainnya. Islam adalah agama yang mempunyai rupa diri dan tidak mengharamkan yang baik. Seseorang yang menjadikan rupa diri sebagai alasan tindakannya sebagai zuhud dan tawaduk, ini tidak dapat diterima karena Rasulullah yang bersifat zuhud dan tawaduk tidak melakukan begitu. Islam tidak melarang umatnya menggunakan nikmat Allah kepadanya asalkan tidak melampaui batas dan takabur.
2) Berakhlak terhadap akalnya
a) Memenuhi akalnya dengan ilmu
Akhlak Muslim ialah menjaganya agar tidak rusak dengan mengambil sesuatu yang memabukkan dan menghayalkan. Islam menyuruh supaya membangun potensi akal hingga ke tahap maksimum, salah satu cara memanfaatkan akal ialah mengisinya dengan ilmu. Ilmu fardh„ain yang menjadi asas bagi diri seseorang muslim hendaklah diutamakan karena ilmu ini mampu dipelajari oleh siapa saja, asalkan dia berakal dan cukup umur. Nabi Muhammad menempati kedudukan sebagai manusia sempurna. Allah menciptakan
microcosmos, manusia sempurna, dan insan kamil dengan perantaraan kesadaran
keilahian-Nya diungkap pada diri sendiri. Untuk itulah manusia harus berusaha untuk bisa menjadi insan kamil.
b) Penguasaan ilmu
Sepatutnya umat Islamlah yang selayaknya menjadi pemandu ilmu supaya manusia dapat bertemu dengan kebenaran. Kekufuran (kufur akan nikmat) dan kealfaan umat terhadap pengabaian penguasaan ilmu ini. Perkara utama yang patut diketahui ialah pengetahuan terhadap kitab Allah, bacaannya, tajwidnya, dan tafsirnya. Kemudian hadits-hadits Rasul, sirah, sejarah sahabat, ulama, dan juga sejarah Islam, hukum-hukum ibadah serta muamalah. Sementara itu umat islam
32
hendaklah membuka tingkat pikirannya kepada segala bentuk ilmu, termasuk juga bahasa asing supaya pemindahan ilmu berlaku dengan cepat. Rasulullah pernah menyuruh Zaid bin Tsabit supaya belajar bahasa Yahudi dan Syiria. Diantara sahabat Rasululllah, Abdullah bin Zubair merupakan sahabat yang memahami dan menguasai bahasa asing. Beliau mempunyai seratus orang khadam yang masing-masing bertutur kata berlainan dan apabila berhubungan dengan mereka, dia menggunakan bahasa yang dituturkan oleh mereka.
3) Berakhlak terhadap jiwa
Manusia pada umumnya tahu benar bahwa jasad perlu disucikan selalu, begitu juga dengan jiwa. Pembinaan akhlak secara efektif dengan memperhatikan faktor kejiwaan, menurut ahli penelitian para psikolog bahwa kejiwaan manusia berbeda-beda menurut perberbeda-bedaan tingkat usia. Untuk itu perlu adanya suatu cara dalam membersihkan jiwa manusia. Pembersihan jiwa beda dengan pembersihan jasad. Ada beberapa cara membersihkan jiwa dari kotorannya, diantaranya:
- Bertaubat - Bermuraqabah - Bermuhasabah - Bermujahadah
- Memperbanyak ibadah
- Menghadiri lembaga-lembaga ilmu
4) Akhlak Kepada Orang Lain
Al-Ghazali memberikan beberapa nasihat agar para orang tua membiasakan anaknya untuk berbuat hal-hal yang patut dan sesuai dengan norma-norma masyarakat yang berlaku, sebaliknya menghindarkan perbuatan yang tidak pantas dipandang umum. Nasihat-nasihat Al-Ghazali itu antara lain:
a. Adab Duduk
Al-Ghazali berkata hendaklah anak-anak diajarkan cara duduk yang baik, tidak meletakkan kaki yang sebelah di atas kaki yang sebelahnya lagi. Demikian pula tidak meletakkan telapak tangannya di bawah dagu (topang dagu) dan tidak menegakkan kepala dengan tangannya. Sebab yang demikian itu menandakan kemalasan. Maksud dari nasihat Al-Ghazali tersebut, di samping mengajarkan sopan santun pada waktu duduk, juga menghindarkan sikap malas pada anak-anak.
33
al-Ghazali menegaskan hendaklah anak-anak dibiasakan untuk tidak meludah pada tempat yang bukan semestinya, tidak menguap dan membuang ingus di hadapan orang lain. Dan tidak membelakangi orang lain.
Dengan demikian jelaslah bahwa di samping mendidik sopan santun di hadapan orang lain, Al-Ghazali juga mengajarkan untuk menjaga kebersihan. Selain itu, Al-Ghazali juga mengajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua, seperti dijelaskannya:
Dan hendaklah anak-anak dibiasakan untuk tidak memulai pembicaraan, tetapi hanya menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, dan sekedar memberikan jawaban secukupnya. Dan diajarkan kepada mereka agar pandai-pandai mendengarkan orang lain apabila ia berbicara, terutama jika usianya lebih tua dari mereka. Dan agar berdiri untuk menghormati kedatangan orang lain yang lebih tua, memberinya tempat duduk, setelah itu duduk dengan sopan dihadapannya.40
Islam sebagai agama yang mengatur tentang segala sesuatu menyangkut kehidupan di dunia, dalam hal ini juga memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mendidik dirinya dan keluarga agar tidak terkena siksa api neraka. Perintah ini ditegaskan Allah SWT dalam Al Qur‟an yang berbunyi:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.41
Dari ayat tersebut dapat diambil pengertian, bahwa kedua orangtua itu diberi kewajiban untuk mendidik dirinya sendiri dan anggota keluarganya termasuk anak-anaknya supaya tidak terjerumus ke dalam siksaan api neraka. Abu Tauhid MS. dengan mengambil pendapat Sayyid Sobiq mengatakan bahwa pengertian menjaga diri dan keluarga dari siksaan api neraka adalah dengan pendidikan dan pengajaran yang berfungsi sebagai sarana atau alat untuk menyelamatkan manusia dari siksa api neraka.42
Dalam upaya melaksanakan pendidikan anak-anaknya dalam keluarga, seharusnya orangtua mengetahui cara mendidik anak di mana mayoritas pemahaman mereka relatif sedikit. Selain itu orangtua juga harus mengetahui tentang keadaan anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik fisik maupun psikisnya, sehingga akan memudahkan bagi dirinya untuk
40
Al-Ghazali, Ihya..., h. 156
41 Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen..., h. 448
34
melaksanakan tugas mendidik anak-anaknya pada masa kini. Karena kesalahan orangtua dalam memahami keadaan anak akan berakibat kurang baik bagi pendidikan anaknya, yang biasanya kesalahan tersebut baru akan terasa setelah anak menginjak usia remaja.
Apabila pribadi anak yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, seperti minum-minuman keras, mencuri dan berkelahi, bahkan sampai membunuh sesama teman dan lain-lainnya, kebanyakan disebabkan oleh adanya kesalahan orangtua dalam mendidik dan membina anaknya di dalam keluarga. Biasanya anak-anak yang berbuat semacam itu berawal dari kurang adanya kasih sayang, pengertian dan perhatian dari keluarganya. Oleh karena itu ketenangan dan ketentraman situasi dalam keluarga harus senantiasa diciptakan guna membantu perkembangan anak. Apabila situasi tersebut sudah tercipta, maka pembinaan dan pengarahan orangtua akan mudah diterima anak-anaknya. Sebalinya, bila anak tidak memperoleh ketenangan dan ketentraman akan mengakibatkan kejiawaan anak sulit untuk diarahkan pada hal-hal yang positif, baik pengarahan yang diterima dari orangtuanya sendiri maupun orang lain.
Anak yang hidup dalam suasana keluarga seperti itu tidak akan mendapatkan suatu keharmonisan hubungan antara orangtua dan anak. Hal ini terjadi karena adanya anggapan orangtua yang salah, bahwa tugas mendidik anak itu cukup dialihkan kepada orang lain seperti pembantu rumah tangga atau lembaga yang lain. Dengan alasan banyaknya kesibukan di luar rumah yang menjadikan dirinya jarang bertemu dengan anak-anaknya, mengakibatkan anak merasa kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya walaupun segala kebutuhan materialnya terpenuhi. Anak yang mendapat perlakuan semacam itu akan terganngu perkembangan kesehatan mentalnya yaitu emosinya mudah terguncang oleh adanya berbagai pengaruh negatif yang datang dari luar, baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri.43
Keadaan seperti itu banyak terjadi di kalangan keluarga-keluarga muslim di jaman sekarang ini. Ini disebabkan banyaknya orangtua yang lupa akan tugas utamanya yaitu sebagai pendidik kodrati bagi anak-anaknya. Oleh karena itu sebagai orangtua janganlah beranggapan bahwa untuk mendapatkan perilaku anak yang baik dengan memenuhi semua kebutuhan materinya saja, tetapi yang terpenting kebutuhan rohaninya harus diperhatikan, karena sebenanarya yang menjadi kebutuhan primer bagi keluarga adalah cinta dan kasih
43 Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama Dalam Keluarga Bagi Anak Usia 6-12 Tahun, ED. Ahmad
35
sayang. Sedangkan kebutuhan yang lain seperti makanan, pakaian, minuman dan kebutuhan hidup lainnya adalah kebutuhan sekunder.44
Supaya keadaan dalam keluarga mencapai ketenangan dan ketentraman yang dapat membantu perkembangan anak, maka kewajiban yang harus dilakukan oleh orangtua terhadap anak-anaknya adalah sebagai berikut:
1. Adanya cinta kasih, disiplin dan beratuan 2. Mengajarkan dan pengalaman agama 3. Membiasakan dan menjaga kesehatan
4. Berbuat baik sesama manusia dan saling menolong 5. Memberikan keteladanan yang baik45
Pendidikan yang sudah tertanam dalam diri anak sejak dini dengan baik akan membantu orangtua dalam rangka menciptakan suatu keluarga yang sakinah dan diridhoi Allah SWT. Apabila dalam mendidik anak dalam keluarga tidak benar, maka dapat menurunkan martabat atau nama baik kedua orangtuanya. Kenyataan seperti ini sudah banyak terjadi, apalagi dengan adanya kemajuan sains dan teknologi yang pesat menjadikan dunia ini seolah-olah sempit karena adanya informasi yang canggih, sehingga apa yang terjadi di dunia lain dapat dengan cepat diterima oleh anak-anak baik melalui media masa ataupun media elektronika.
Dengan demikian anak yang sedang tumbuh dan berkembang harus selalu diperhatikan agar pertumbuhan dan perkembangannya berjalan dengan baik dan dapt terhindar dari kerusakan moral dan akhlak yang akhir-akhir ini selalu merongrong anak-anak. Dilihat dari kacamata Islam anak merupakan sebuah amanat Tuhan bagi kedua orangtuanya. Orangtua sebagai pengemban amanat Tuhan harus dapat menunaikan tugasnya dengan baik supaya kelak tatkala dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT (Tentang Pendidikan Anak-anaknya) tidak terkena hukuman. Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam Al Qur‟an yang Artinya : Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (QS. Al Hijr: 92-93)46
Selain ayat tersebut, juga ada potongan hadits Nabi SAW yang berbunyi:
44 Abdul Ghani, Abud, Keluarga Muslim dan Berbagai Masalahnya, Terj. (Bandung Pustaka, 1987), h.
30
45
Aisyah Dahlan, Membina Rumah Tangga Bahagia dan Peranan Agama dalam Rumah Tangga, (Jakarta: Jaamun, 1969), h.21-22
36
...laki-laki adalah pimpinan dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannaya. Dan wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya...(HR. Bukhori)47
Dari ayat dan hadist di atas dapat dipahami bahwa melaksanakan pendidikan terhadap anak-anaknya dalam keluarga merupakan tugas suci yang harus dilaksanakan oleh kedua orangtua dengan baik, karena pada hakikatnya anak yang lahir jiwanya dalam keadaan fitrah atau suci sehingga masih membutuhkan bimbingan dan nasehat agar fitrah tersebut dapat berkembang dengan baik sesuai dengan harapan nusa, bangsa dan agama. Sebagaimana hadist nabi saw:
َِِْحَّرىاِذْبَع ِِْب َتََْيَل ِٚبَا َِْع ِِّٛرَّْٕزىا َِِع ٍبْئِر ِٚبَا ُِْبااََْثَّذَح ًَُدا اََْثَّذَح ,َهاَق َُْْٔع ُالله َِٜظَر َةَرَْٝرُٕ ِٚبَا َِْع :ٌََّيَلَٗ َِْٔٞيَع ُالله َّٚيَص ِالله ُهُْ٘لَر َهاَق َبْىا ِوَتَََم ِِّٔاَسِّجََُٝ َْٗا ِِّٔاَرِّصَُْٝ َْٗا ِِّٔاَدَُِّٖ٘ٝ ُٓاََ٘بَاَف ِةَرْطِفىْا َٚيَع ُذَىُْ٘ٝ ٍدُْ٘ىٍَْ٘ ُّوُم ْوَٕ ِتََِْٖٞ اَِْٖٞف َٙرَح ٛراخبىا ٓاٗر( َءاَعْذَج )
Artinya : Telah menceritakan kepada Adam telah menceritakan kepada kami Ibn Abu Dza‟bin dan Az-Zuhriyyi, dari Abu Salamah bin Abd Rahman dari Abu Huroiroh ra. berkata: Telah bersabdah Rasulullah SAW: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna, apakah kalian melihat ada cacat padanya. (HR. Bukhari)48
Dengan demikian untuk mendapatkan anak yang mempunyai akhlak yang mulia, sebagai orangtua yang hidup dengan segenap anggota keluarganya tidaklah pantas apabila faktor pendidikan itu diabaikan saja, sebab yang menentukan keperibadian seseorang baik atau buruk sangat tergantung pada pendidikan dan pengalaman yang pernah diterimanya.
D. KESIMPULAN
Dari uraian yang telah dikemukakan pada bab terdahulu maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:
Metode pendidikan akhlak anak dalam keluarga biasanya sering digunakan:
1. Metode Dialog Qurani dan Nabawi
47
Bukhari, Shahih Bukhari, Juz 4, (Beirut: Dar Al Fikr, 1981), h. 146
48 Imam Bukhari, Shahih Bukhari kitab al-janaiz bab Ma Qila fi Aulad al-Musyrikin, ( juz 5 no.1296),
37
Metode ini mempunyai manfaat yang baik baik bagi pelaku dan pendengarnya karena menghubungkan seseorang dengan orang lain. Metode ini bersifat dinamis sehingga tidak mudah membosankan dan metode inilah yang biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
2. Metode kisah Qurani dan Nabawi
Metode ini dapat menjadikan anak berfikir, merasa dan merenung terhadap suatu kisah, sehingga seolah-olah ia juga berperan dalam kisah tersebut. Dan menjadikan anak untuk meniru tokoh-tokoh yang berakhlak baik dan meninggalkan prilaku tokoh-tokoh yang berakhlak buruk.
3. Metode Mauizah
Metode ini ialah metode dengan cara memberikan nasehat yang baik kepada anak didik. Dan dengan metode ini seorang guru dapat menguasai kelas walaupun jumlah muridnya banyak, dapat menyampaikan bahan yang banyak walaupun dengan waktu yang singkat karena hanya menyampaikan yang penting-penting saja. Namun kelemahannya seorang guru sulit untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap bahan materi yang diberikan dan karena metode ini secara lisan terkadang guru merasa lesu karena bicara terus.
4. Metode Pembiasaan dengan Akhlak Terpuji
Metode ini erat kaitannya dengan siapa yang mendidiknya, kalau orang yang mendidiknya sudah membiasakan anaknya untuk berbuat baik maka dia akan baik dan begitu pula sebaliknya.
5. Metode Keteladanan
Metode ini dapat menciptakan hubungan harmonis antara pendidik dengan peserta didik dan memudahkan pendidik melakukan evaluasi terhadap hasil dari pendidikan yang dijalankannya serta juga memudahkan peserta didik untuk mempraktikkan dan mengimplementasikan ilmu yang dipelajarinya selama proses berlangsung. Tetapi, jika dalam mendidik yang diteladani dalam hal ini pendidik tidak baik, maka peserta didik cenderung mengikuti hal-hal yang tidak baik tersebut pula
38
Metode ini bertumpu pada pemberian kepuasan dan argumentasi, disertai gambaran keindahan surga yang menakjubkan atau pembebasan azab neraka. Tetapi, kedua metode tersebut bersifat abstrak.
39
DAFTAR PUSTAKA
Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam Edisi Revisi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003 M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007) Abu Abdillah, Mendidik Anak Menjadi Pintar dan Shalih, (Yokyakarta : Darul Hikmah, 2008)
A. Rahman Ritonga, Akhlak Merakit Hubungan Sesama Manusia, (Surabaya: Amelia, 2005) Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: PT. Mahmud Yunus wa Dzurriyah, 2010 Rizky Maulana, Kamus Modern Bahasa Indonesia, (Surabaya : Lima Bintang, 2008)
...http//senyumkudakwahku.blogspot.com./2012/06/makalah-akhlak.html (diakses pada10 April 2012)
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996)
Abu Ahmadi, Noer Salami, Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: 1991
Redaksi Sinar Grafika, Undang-Undang Sisdiknas dan Undang-Undang Guru dan Dosen, (Jakarta: Penerbit Asa Mandiri, 2011)
Muhammad M. Resyahri, Anak di Mata Nabi, (Jakarta Al-Huda, 2009)
Hery Nur Arly dan H Munzier S, Watak Pendidikan Islam, (Jakarta : Friska Agung Insan, 2000)
Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen...,
Bukhari, Shahih Bukhari, Juz 4, (Beirut: Dar Al Fikr, 1981)
Imam Bukhari, Shahih Bukhari kitab al-janaiz bab Ma Qila fi Aulad al-Musyrikin, ( juz 5 no.1296)
Aisyah Dahlan, Membina Rumah Tangga Bahagia dan Peranan Agama dalam Rumah
Tangga, (Jakarta: Jaamun, 1969)
Abdul Ghani, Abud, Keluarga Muslim dan Berbagai Masalahnya, Terj. (Bandung Pustaka, 1987)
Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Terj. Ismail Ya‟kub, (Jakarta: Cv. Faisan, 1986), Jilid IV, ...Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam Di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Terj. Shihabuddin, (Jakarta: Gema Insani, 1995)
...http//al-poenya.blogspot.com/2011/11/resume-buku-akhlak-tasawuf-12.html. diakses pada 10 April 2012
...http//zairifblog.blogspot.com/2010/11/akhlak-tasawuf.html?m=1
Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak IslamRalia Jaya
Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum,2004)