• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BANTEN TRIWULAN I-2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BANTEN TRIWULAN I-2014"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

 PDRB Banten triwulan I tahun 2014, secara quarter to quarter (q to q) tumbuh positif 0.87 persen, setelah triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan minus 0,06 persen. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan merupakan sektor dengan pertumbuhan tertinggi yang mencapai 5,23 persen.  Pertumbuhan year on year (y on y) pada triwulan I tahun 2014 mencapai 5,20 persen, lebih rendah dari

pertumbuhan pada triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 6 persen. Sektor konstruksi merupakan sektor dengan pertumbuhan tertinggi yang mencapai 18,36 persen.

 Nilai nominal PDRB Banten triwulan I tahun 2014 atas dasar harga berlaku mencapai Rp. 65,62 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp. 27,11 triliun. Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, nilai nominal tersebut mengalami peningkatan baik atas dasar harga berlaku maupun konstan.

 Secara y on y, sumber pertumbuhan berasal dari sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 1,50 persen, industri pengolahan 1,17 persen serta sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 0,82 persen.  Menurut penggunaannya, PDRB Banten atas dasar harga berlaku pada triwulan I tahun 2014 sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumahtangga termasuk konsumsi lembaga non profit yaitu sebesar Rp. 29,75 triliun dan konsumsi pemerintah Rp. 2,79 triliun. Kemudian sebanyak Rp. 24,24 triliun digunakan untuk PMTB dan perubahan stok sebesar Rp. 307,39 miliar. Nilai transaksi ekspor Banten pada triwulan ini sebesar Rp. 61,44 triliun, sedangkan nilai impor sebesar Rp. 52,91 triliun.Sehingga net ekspor Banten masih mengalami surplus senilai Rp. 8,53 triliun.

 Pada triwulan I tahun 2014 secara q to q, komponen PDRB menurut penggunaan yang mengalami pertumbuhan positif adalah komponen konsumsi rumahtangga dan LNP sebesar 1,04 persen, komponen perubahan inventori sebesar 1,06 persen, dan komponen ekspor sebesar 0,87 persen. Sedangkan konsumsi pemerintah dan PMTB terkontraksi hingga 36,42 persen dan 1,16 persen. Secara y on y, semua komponen PDRB menurut pengeluaran pada triwulan ini tumbuh positif dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen impor sebesar 18,63 persen.

 Sumber pertumbuhan komponen PDRB menurut penggunaan secara q to q disumbangkan oleh andil komponen net ekspor sebesar 2,31 persen, sedangkan menurut y on y berasal dari konsumsi rumahtangga dan lembaga non profit sebesar 2,29 persen.

No.22/05/36/Th.VIII, 5 Mei 2014

(2)

I. PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN I TAHUN 2014

Memasuki awal tahun 2014 yang merupakan tahun politik dengan berlangsungnya pemilu sepertinya memberikan pengaruh di beberapa sektor seperti industri makanan dan minuman, industri kertas, pengangkutan, perdagangan dan restoran yang berdampak kenaikan pertumbuhan sebesar 0.87 persen di triwulan I-2014.

Pertumbuhan pada triwulan I tahun 2014 ditopang oleh sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan yang tumbuh 5,23 persen, sehingga berkontribusi 0,14 persen terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan tersebut. Sektor jasa-jasa, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan tumbuh masing-masing 1,89 persen, 1,36 persen dan 1,26 persen. Ketiga sektor tersebut berkontribusi 2,25 persen terhadap pertumbuhan yang terjadi di triwulan I tahun 2014. Sementara itu, pertumbuhan terendah pada triwulan yang sama yaitu sektor konstruksi tumbuh minus 1,29 persen, sektor pertambangan dan penggalian tumbuh minus 1,15 persen serta sektor industri pengolahan tumbuh minus 0,05 persen.

Tabel 1

Laju Pertumbuhan PDRB Banten Menurut Lapangan Usaha Triwulan III-2013, Triwulan IV-2013 dan Triwulan I-2014 (Persen)

Sektor Ekonomi / Lapangan Usaha

Triw IV-2013 Triw I-2014 Triw I-2014 Sumber Terhadap Terhadap Terhadap Pertumbuhan Triw III-2013 Triw IV-2013 Triw I-2013 (y on y)

(1) (2) (3) (4) (5)

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan -4.23 5.23 1.88 0.14

2. Pertambangan dan Penggalian 1.83 (1.15) 2.54 0.00

3. Industri Pengolahan -1.53 (0.05) 2.45 1.17

4. Listrik, Gas dan Air Bersih 1.98 0.95 8.48 0.30

5. Konstruksi 10.95 (1.29) 18.36 0.51

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 0.98 1.36 7.37 1.50

7. Pengangkutan dan Komunikasi 2.19 1.17 8.70 0.82

8. Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan 1.34 1.26 6.76 0.26

9. Jasa-jasa 3.03 1.89 10.71 0.48

PDRB -0.06 0.87 5.20 5.20

Kinerja perekonomian Banten pada triwulan I tahun 2014 secara y on y tumbuh 5,20 persen, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 6 persen, perlambatan pertumbuhan terjadi pada sektor Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, sektor pertambangan dan penggalian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Sementara itu, pada triwulan I tahun 2014 sektor konstruksi tumbuh paling tinggi dengan pertumbuhan mencapai 18,36 persen, kemudian sektor jasa-jasa tumbuh 10,71 persen serta sektor pengangkutan dan komunikasi yang tumbuh 8,70 persen. Pertumbuhan yang tinggi di sektor jasa-jasa seiring dengan tingginya pertumbuhan di subsektor pemerintahan umum yang mencapai 13,12 persen. Sementara itu di sektor pengangkutan dan komunikasi dipicu oleh tingginya pertumbuhan di subsektor komunikasi hingga hampir mencapai 14 persen, lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I tahun 2013 sebesar 12,20 persen.

(3)

Grafik 1

Perkembangan Pertumbuhan Secara Kumulatif Sektor Unggulan & LPE Banten Triwulan I Tahun 2012 s/d I Tahun 2014 (%)

0 3 6 9 12 15

I/'12 II/'12 III/'12 IV/'12 I/'13 II/'13 III/'13 IV/'13 I/'14

Pertanian Industri Pengolahan

Perdagangan, hotel & restoran Pengangkutan & komunikasi LPE

Pertumbuhan ekonomi secara y on y paling besar disumbang oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sektor ini mampu menyumbang 1,50 persen dari total 5,20 persen pertumbuhan Banten pada triwulan I tahun 2014. Sektor lain yang berperan besar terhadap pertumbuhan pada triwulan I tahun 2014 adalah sektor industri pengolahan dengan andil 1,17 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi (0,82 persen) serta sektor konstruksi (0,51 persen).

II. NILAI PDRB TRIWULAN IV – 2013 dan I – 2014

Pada triwulan I tahun 2014, nilai nominal PDRB Banten atas dasar harga berlaku mencapai 65,62 triliun rupiah, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang besarnya Rp. 63,92 triliun. Demikian juga PDRB Banten atas dasar harga konstan, nilai nominal di triwulan I tahun 2014 mencapai Rp. 27,11 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Secara garis besar nilai nominal PDRB Banten atas dasar harga berlaku bertambah Rp. 1,70 triliun dan atas harga konstan juga bertambah 234,97 miliar rupiah dibandingkan dengan triwulan IV-2013. Penambahan pada triwulan ini terjadi karena sektor perdagangan, hotel dan restoran mengalami peningkatan nilai tertinggi yaitu sebesar Rp. 509,99 miliar. Jika dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya, nilai PDRB atas dasar harga berlaku justru meningkat Rp. 7,82 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan meningkat Rp. 1,34 triliun.

Pada PDRB atas dasar harga berlaku selain sektor perdagangan, hotel dan restoran, peningkatan terbesar kedua berasal dari sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan sebesar Rp. 458,80 miliar dan sektor industri pengolahan sebesar Rp. 300,64 miliar. Demikian halnya yang terjadi pada PDRB atas dasar harga konstan, sektor perdagangan, hotel dan restoran menyumbang Rp. 75,81 miliar dan sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan menyumbang Rp. 99,79 miliar.

(4)

Tabel 2

PDRB Banten Menurut Sektor Ekonomi / Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Dan Harga Konstan 2000

Triwulan IV – 2013 dan I – 2014 (Miliar Rupiah)

Sektor Ekonomi/Lapangan Usaha Harga Berlaku Harga Konstan 2000 Tri IV-2013 Tri I-2014 Tri IV-2013 Tri I-2014

(1) (2) (3) (4) (5)

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 4,916.61 5,375.41 1,907.98 2,007.77

2. Pertambangan dan Penggalian 67.02 67.23 28.31 27.99

3. Industri Pengolahan 28,749.23 29,049.87 12,621.75 12,615.76 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 2,459.23 2,614.81 985.58 994.94

5. Konstruksi 2,630.67 2,603.81 864.92 853.76

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 12,457.23 12,967.22 5,563.49 5,639.31 7. Pengangkutan dan Komunikasi 6,104.94 6,294.75 2,594.67 2,625.11 8. Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan 2,504.39 2,556.87 1,044.58 1,057.70

9. Jasa-jasa 4,028.47 4,093.54 1,265.62 1,289.55

PDRB 63,917.78 65,623.51 26,876.92 27,111.89

Jika dibandingkan dengan capaian PDRB pada tahun 2013, nilai PDRB Banten atas dasar harga berlaku mencapai 26,83 persennya. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan mencapai 25,61 persen. Total PDRB Banten tahun 2013 atas dasar harga berlaku sebesar Rp. 244,55 triliun dan atas dasar harga konstan sebesar Rp. 105,86 triliun.

III. STRUKTUR PDRB TAHUN 2012, 2013 DAN 2014

Sejak tahun 2012 hingga triwulan 1 tahun 2014, kontribusi kelompok sektor primer dalam PDRB cenderung mengalami peningkatan. Pada triwulan I tahun 2014 kontribusi kelompok sektor ini mencapai 8,29 persen, sedangkan pada tahun 2012 peranan kelompok sektor ini sebesar 7,95 persen. Peningkatan peranan ini terutama didorong oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan sehingga mengakibatkan kontribusinya menjadi semakin meningkat. Selama periode 2012 – 2014, kontribusi sektor ini berturut-turut sebesar 7,85 persen, 7,98 persen dan 8,19 persen.

Sebaliknya terjadi pada kelompok sektor sekunder, kontribusi kelompok sektor ini semakin berkurang dalam PDRB Banten. Bergerak dari nilai kontribusi sebesar 53,40 persen pada tahun 2012, menjadi 53,07 persen pada tahun 2013 dan 52,22 persen pada tahun triwulan I tahun 2014. Faktor utama yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya pertumbuhan sektor industri pengolahan dalam beberapa tahun terakhir. Pada triwulan I tahun 2014 sektor ini hanya tumbuh sebesar 2,45 persen (c to c).

(5)

Tabel 3

Struktur PDRB Banten Menurut Sektor Ekonomi / Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2012 – 2014

( Persen )

Sektor Ekonomi / Lapangan Usaha 2012 2013 2014

Triwulan I Kumulatif

(1) (2) (3) (4) (5)

a. Kelompok Sektor Primer 7.95 8.08 8.29 8.29

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 7.85 7.98 8.19 8.19

2. Pertambangan dan Penggalian 0.11 0.10 0.10 0.10

b. Kelompok Sektor Sekunder 53.40 53.07 52.22 52.22

3. Industri Pengolahan 45.87 45.58 44.27 44.27

4. Listrik, Gas dan Air Bersih 3.82 3.77 3.98 3.98

5. Konstruksi 3.71 3.73 3.97 3.97

c. Kelompok Sektor Tersier 38.64 38.84 39.49 39.49

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 19.21 19.42 19.76 19.76

7. Pengangkutan dan Komunikasi 9.45 9.40 9.59 9.59

8. Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan 3.89 3.91 3.90 3.90

9. Jasa-jasa 6.09 6.11 6.24 6.24

PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00

Sebaliknya, kontribusi kelompok sektor tersier dalam PDRB mulai merangkak naik, pada triwulan I tahun 2014 mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi tahun 2012. Kontribusi kelompok sektor ini naik dari 38,64 persen pada 2012 menjadi 39,49 persen pada triwulan I tahun 2014. Peningkatan terutama terjadi pada sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa. Kedua sektor ini masing-masing bertambah 0,55 persen dan 0,15 persen selama periode 2012-2014.

PDRB Banten Menurut Penggunaan

Nilai nominal PDRB menurut penggunaan selama triwulan I tahun 2014 mencapai Rp. 65,62 triliun atau meningkat sebesar 1,71 triliun rupiah dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2013 yang sebesar Rp. 63,92 triliun. Penggunaan PDRB Banten ADHB pada triwulan I tahun 2014 sebagian besar untuk konsumsi rumahtangga termasuk konsumsi lembaga non profit yaitu sebesar Rp. 29,75 triliun dan PMTB sebesar Rp. 24,24 triliun. Selanjutnya konsumsi pemerintah pada triwulan I tahun 2014 ini mencapai nilai sebesar Rp. 2,79 triliun dan perubahan inventori sebesar Rp. 307,39 miliar. Nilai transaksi ekspor Banten pada triwulan I tahun 2014 ini sebesar Rp. 61,44 triliun, sedangkan nilai impor sebesar Rp. 52,91 triliun sehingga terjadi ekspor netto sebesar Rp. 8,53 triliun (Tabel 4).

Sebagai wilayah industri, perekonomian Banten sangat dipengaruhi oleh kegiatan ekspor impor, terutama kinerja ekspor dari komoditas hasil industri pengolahan. Pertumbuhan ekonomi Banten pada triwulan I tahun 2014 juga dipengaruhi oleh kinerja ekspor yang terkontraksi terutama dari ekspor komoditas industri alas kaki. Pada triwulan ini perekonomian Banten masih mengalami surplus perdagangan dimana komponen net ekspor sebanyak 8,53 triliun rupiah atau sebesar 13,00 persen dari

(6)

Tabel 4

PDRB Banten Menurut Penggunaan Triwulan IV-2013 dan Triwulan I-2014

(Miliar Rp)

Komponen Penggunaan Harga Berlaku Harga Konstan 2000 Tri IV-2013 Tri I-2014 Tri IV-2013 Tri I-2014 (1) (2) (3) (4) (5)

1. Konsumsi Rumahtangga & LNP 28.879,70 29.753,50 10.057,10 10.161,39

2. Konsumsi Pemerintah 4.304,90 2.791,14 1.166,01 741,35

3. Pembentukan Modal Tetap Bruto 24.050,47 24.241,33 5.639,75 5.574,39

4. Perubahan Inventori 301,91 307,39 107,53 108,67

5. Ekspor 59.826,14 61.437,29 33.033,40 33.320,92

6. Dikurangi Impor 53.445,34 52.907,13 23.126,87 22.794,83

PDRB 63.917,78 65.623,51 26.876,92 27.111,89

Grafik 2

Struktur PDRB Banten Menurut Penggunaan Triwulan I Tahun 2014 (persen)

Dilihat dari struktur penggunaannya, komposisi penggunaan PDRB Banten terbesar diserap oleh konsumsi rumahtangga dan lembaga nonprofit sebesar 45,34 persen dari total nilai PDRB Banten triwulan I-2014. Komponen terbesar berikutnya digunakan untuk pembentukan modal tetap bruto sebesar 36,94 persen, disusul kemudian oleh komponen net ekspor hingga sebesar 13,00 persen. Sedangkan komponen penggunaan terkecil masih pada komponen perubahan inventori yaitu sebesar 0,47 persen dari total nilai PDRB Banten triwulan I-2014.

Jika dibandingkan kondisi tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Banten pada triwulan I-2014 ini tumbuh sebesar 5,20 persen (y on y) atau melambat dibanding triwulan yang sama tahun 2013 yang tumbuh sebesar 6,00 persen. Pertumbuhan yang melambat tersebut disebabkan oleh melambatnya

(7)

Investasi besar yang multi years juga banyak berakhir di triwulan ini. Di sisi lain, pertumbuhan total ekspor Banten meningkat menjadi 12,55 persen dari 10,11 persen pada periode yang sama tahun lalu, namun kebutuhan terhadap produk impor juga meningkat dan mendorong total impor Banten kembali naik hingga 18,63 persen dari 15,50 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Komponen penggunaan lain pada triwulan I tahun 2014 yang mengalami pertumbuhan positif adalah konsumsi rumahtangga dan lembaga nonprofit sebesar 6,16 persen, konsumsi pemerintah 8,59 persen dan perubahan inventori yang tumbuh sebesar 2,15 persen. Peningkatan pendapatan rumahtangga atas realisasi kenaikan upah minimum kabupaten/kota menjadi pendorong utama pertumbuhan konsumsi rumahtangga terutama biaya rekreasi, pembelian kendaraan baru, dan perabotan rumahtangga. Selain itu penyelenggaraan kampanye calon legislatif menjelang Pemilu 2014 ikut meningkatkan biaya konsumsi baik yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan para calon legislatif, maupun oleh organisasi sosial politik.

Tabel 5

Laju Pertumbuhan PDRB Banten Menurut Penggunaan Triwulan IV-2013 dan Triwulan I-2014 (Persen)

Komponen

Triw I-2014 Triw I-2014 Sumber Sumber Terhadap Terhadap Pertumbuhan Pertumbuhan Triw IV-2013 (q to q) Triw IV-2013 (y on y) (q to q) (y on y) (1) (2) (3) (4) (5) 1. Konsumsi Rumahtangga 1,04 6,16 0,39 2,29 2. Konsumsi Pemerintah (36,42) 8,59 (1,58) 0,23

3. Pembentukan Modal Tetap Bruto (1,16) 11,01 (0,24) 2,15

4. Perubahan Inventori 1,06 2,15 0,004 0,01

5. Ekspor 0,87 12,55 1,07 14,42

6. Dikurangi Impor (1,44) 18,63 (1,24) 13,89

- Ekspor Netto 6,25 1,31 2,31 0,53

PDRB 0,87 5,20 0,87 5,20

Sumber pertumbuhan ekonomi Banten pada triwulan ini berasal dari andil konsumsi rumahtangga sebesar 0,39 persen, serta andil komponen ekspor sebesar 1,07 persen yang diperkuat oleh pelemahan impor sebesar minus 1,24 persen. Sehingga export netto menyumbang andil sebesar 2,31 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Banten pada triwulan 1 tahun 2014 (q to q).

Adapun pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten sebesar 5,20 persen (y on y), ditopang oleh andil peningkatan konsumsi rumahtangga dan andil PMTB yang masing-masing memberikan andil sebesar 2,29 persen dan 2,15 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi Banten, sedangkan komponen pemerintah hanya menyumbang andil sebesar 0,23 persen disusul kemudian komponen perubahan inventori sebesar 0,01 persen. Komponen ekspor sendiri memberikan andil sebesar 14,42 persen namun diimbangi dengan andil negatif komponen impor sebesar 13,89 persen. Sehingga secara export netto, komponen ini hanya menyumbang andil sebesar 0,53 persen, jauh dibawah andil konsumsi rumahtangga dan LNP terhadap total pertumbuhan yang tercipta selama triwulan I tahun 2014.

(8)

Informasi lebih lanjut hubungi:

Dr. Syech Suhaimi, SE.,M.Si Kepala BPS Provinsi Banten

Telepon: 0254-267027 E-mail : [email protected]

Website : banten.bps.go.id

Referensi

Dokumen terkait

WT Strategi: UKM Kerupuk Kulit dapat meningkatkan kualitas produk seperti merek, perijinan, BPOM pegemasan.Berdasarkan hasil obsevasi dan pengamatan produk kerupuk

Puji syukur selalu penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rakhmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Kualitas tapak atau tempat tumbuh adalah totalitas faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tegakan dan menunjukkan kapasitas produksi tanah dalam

Dimintai pendapat oleh Khalifah dan menyampaikan pendapat kepada Khalifah dalam aktivitas dan perkara- perkara praktis yang berkaitan dengan pemeliharaan urusan dalam masalah

1) Proses APO08 - (Mengelola Hubungan) berada pada level 3, sedangkan target yang ingin dicapai yaitu level 5 yang artinya implementasi layanan m-banking untuk

Diakses pada 30 April 2020 dari Babble:

menghasilkan produk multimedia (musik, video, film, game, entertaiment, dan lain-lain) Atau penggunaan sejumlah teknologi yang berbeda yang memungkinkan untuk

Untuk pengembangan di daerah lain yang mempunyai lingkungan ber- beda (iklim dan tanah berbeda) perlu dilakukan uji multilokasi di beberapa lokasi selama bebe- rapa tahun,