LANDASAN TEORI
2.1 Arti sebuah Brand
Brand5 atau merk adalah sebuah nama, tanda, symbol, design atau
kombinasi dari semuanya yang dimaksudkan untuk menandakan barang / pelayanan satu penjual atau sekelompok penjual yang digunakan untuk membedakan penjual tersebut dari competitor-competitor yang ada. Oleh karena itu, brand atau merek selalu berkaitan dengan cara konsumen merasa dan membeli suatu produk dan brand bukan hanya merupakan sekedar sebuah karakteristik produk-produk tertentu.
Kegunaan sebuah brand dapat dibagi menjadi dua, yaitu untuk pembeli dan penjual. Kegunaan brand bagi pembeli diantaranya adalah :
- Memperkecil biaya pencarian (search cost) dengan mengidentifikasi produk secara cepat dan tepat.
- Memperkecil resiko kesalahan membeli suatu produk dengan memberikan
jaminan dan konsistensi bilamana suatu konsumen akan membeli suatu produk baru.
- Memperkecil resiko sosial dan psikologis sehubungan dengan kepemilikan
dan menggunakan produk yang salah dengan menunjukan penghargaan
5
Kevin Lane Keller 2003, Strategic Brand Management, Building, Measuring and Managing Brand Equity, International Edition, p. 3
secara psikis untuk membeli suatu brand yang menunjukan suatu simbol dan prestige.
Sedangkan kegunaan sebuah brand bagi penjual adalah :
- Memudahkan penjualan suatu produk apabila produk tersebut berada di
bawah suatu brand yang sudah familiar di mata konsumen.
- Dapat menentukan harga premium dengan menunjukan perbedaan dengan
competitornya.
- Kegiatan promosi yang efektif.
- Meningkatkan tingkat kesetiaan (loyality) konsumen terhadap suatu brand.
- Meningkatkan tingkat beli kembali konsumen (repeat purchase) karena
brand mempermudah konsumen untuk mengidentifikasi suatu produk.
2.2 Strategic Brand Management
Me-manage sebuah brand terdiri dari beberapa langkah, yaitu :6
Gambar 2.1 Langkah-langkah Strategic Brand Management B r a n d I d e n t i t y B r a n d I d e n t i t y I d e n t i t y I d e n t i t y I m p l e m e n t a t i o n I m p l e m e n t a t i o n B r a n d S t r a t e g y B r a n d S t r a t e g y O v e r T i m e O v e r T i m e M a n a g i n g T h e M a n a g i n g T h e B r a n d P o r t f o l i o B r a n d P o r t f o l i o L e v e r a g i n g T h e L e v e r a g i n g T h e B r a n d B r a n d B r a n d E q u i t y B r a n d E q u i t y S t r a t e g i c B r a n d S t r a t e g i c B r a n d A n a l y s i s A n a l y s i s 6
2.2.1 Brand Identity
Objektivitas dari Brand Identity adalah membangun suatu brand association yang dapat membentuk identitas brand itu sendiri. Brand
Association itu sendiri dapat berupa produk, organisasi maupun logo atau
simbol.
2.2.2 Identity Implementation
Langkah ini menekankan bagaimana suatu brand berkomunikasi dengan pemirsa yang menjadi targetnya (target audience) serta bagaimana langkahnya untuk menyampaikan pesan (messages) dari brand itu sendiri sehingga dapat mempengaruhi keinginan konsumen untuk membeli produk yang menggunakan brand tersebut.
2.2.3 Managing The Brand Over Time
Suatu brand harus terus dibangun dan dipelihara secara konsisten guna membangun kekuatan dari brand (brand strength) di mata konsumen.
2.2.4 Managing The Brand Portfolio
Langkah ini memerlukan koordinasi dari portfolio suatu organisasi atau sistem dari brand yang memiliki objektivitas mencapai performa yang terbaik dari sistem suatu brand.
2.2.5 Leveraging The Brand
Langkah ini bertujuan untuk memperbesar pengaruh dari identitas suatu brand.
2.2.6 Brand Equity
Brand Equity adalah gabungan langkah-langkah dari strategic brand
management yang dapat mempengaruhi nilai dari suatu brand (brand value) baik positif maupun negatif. Objektivitas dari langkah-langkah ini adalah membangun brand equity secara berkesinambungan.
2.2.7 Strategic Brand Analysis
Analisa yang dilakukan dari strategic brand management dapat memberikan suatu informasi dalam mengambil keputusan dalam setiap langkah aktivitas brand management, termasuk analisa terhadap konsumen, pesaing (competitor) dan informasi dari brand (brand information).
2.3 Membangun Consumer Based Brand Equity
7Langkah-langkah dalam membangun brand equity dapat dilihat pada gambar 2.2. Consumer Based Brand Equity diklasifikasikan sebagai efek diferensiasi (differentiation effect) pengetahuan sebuah brand dari respon konsumen atas aktivitas marketing dari brand tersebut. Suatu brand dapat dikatakan memiliki Customer Based Brand Equity yang positif ketika konsumen bereaksi secara lebih aktif terhadap suatu produk serta proses pemasarannya pada saat mengidentifikasi suatu brand. Oleh karena itu, Consumer Based Brand Equity yang positif dapat mengakibatkan perilaku konsumen menjadi lebih
menerima terhadap sebuah brand baru (new brand extension), tidak bereaksi
7
Kevin Lane Keller 2003, Strategic Brand Management, Building, Measuring and Managing
terhadap kenaikan harga suatu produk serta meningkatkan keinginan untuk mencari brand tersebut di pasaran.
Sedangkan Customer Based Brand Equity yang negatif, terjadi sebaliknya, yaitu ketika konsumen tidak bereaksi terhadap suatu aktifitas marketing suatu brand.
CONSUMER KNOWLEDGE EFFECTS BRANDING BENEFITS
Brand Name Memorability Recall
Logo Meaningfulness Depth POSSIBLE OUTCOMES
Symbol Likability Recognizition Greater Loyalty Character Transferability
Packaging Adaptability Less Vulnerability to Competitive Slogan Protectability Purchase Marketing action and crises
Breadth
Consumptions Larger Margins
Product Tangible and Intangible Benefits More Elastic Response to Price Decreases Price Value Perception Relevance
Distribution Channels Integrate push and pull Strong Greater Trade Cooperation and Support Communication Mix and Match Option Consistency
Increased Marketing Communication Efficiency and Effectiveness Desirable
Company Favourable Possible Licensing and Opportunities Country of Origin Deliverable
Channels of Distribution Awareness More Favourable Brand Extension and
Other Brands Meaningfull Evluation
Endorser Transferability Points of Parity
Event Unique
Points of Difference
BRAND BUILDING TOOLS AND OBJECTIVES
CHOOSING BRAND ELEMENTS
DEVELOPING MARKETING PROGRAM
LEVERAGE OF SECONDARY ASSOCIATIONS
BRAND AWARENESS
BRAND ASSOCIATION
2.4 Membangun Brand Yang Kuat (Build Strong Brand)
Terdapat 4 langkah utama dalam membangun sebuah brand yang kuat, yaitu : 8
Gambar 2.3 Piramida Consumer Based Brand Equity
Secara lebih mendetail dari setiap tahap langkah dalam membangun brand yang kuat adalah sebagai berikut :
Gambar 2.4 Subdimensi Brand Building
BRAND SALIENCE BRAND SALIENCE PERFORM ANCE
PERFORM ANCE IMAGERYIM AGERY FEELINGS FEELINGS JUDGMENTS JUDGM ENTS RESONANCE RESONANCE 1. 1. IDENTITYIDENTITY
Who Are You?
Who Are You?
2. MEANING
2. MEANING
What Are You?
What Are You?
3. RESPONSE
3. RESPONSE
What About You?
What About You?
4. RELATIONSHIP
4. RELATIONSHIP
What About You and Me?
What About You and Me?
BRAND SALIENCE BRAND SALIENCE PERFORM ANCE
PERFORM ANCE IMAGERYIM AGERY FEELINGS FEELINGS JUDGMENTS JUDGM ENTS RESONANCE RESONANCE 1. 1. IDENTITYIDENTITY
Who Are You?
Who Are You?
2. MEANING
2. MEANING
What Are You?
What Are You?
3. RESPONSE
3. RESPONSE
What About You?
What About You?
4. RELATIONSHIP
4. RELATIONSHIP
What About You and Me?
What About You and Me?
Category Identification Category Identification Needs Satisfied Needs Satisfied User Profiles User Profiles
Purchase & Usage
Purchase & Usage
Situations
Situations
Personality & Values
Personality & Values
History, Heritage & Experiences
History, Heritage & Experiences
Primary Characteristic Primary Characteristic Product Reliability Product Reliability Service Effectiveness Service Effectiveness
Style & Design
Style & Design
Price Price Quality Quality Credibility Credibility Consideration Consideration Superiority Superiority Warm Warm Fun Fun Excitement Excitement Security Security Social Approval Social Approval Loyalty Loyalty Community Community Engagement Engagement Attachment Attachment Category Identification Category Identification Needs Satisfied Needs Satisfied User Profiles User Profiles
Purchase & Usage
Purchase & Usage
Situations
Situations
Personality & Values
Personality & Values
History, Heritage & Experiences
History, Heritage & Experiences
Primary Characteristic Primary Characteristic Product Reliability Product Reliability Service Effectiveness Service Effectiveness
Style & Design
Style & Design
Price Price Quality Quality Credibility Credibility Consideration Consideration Superiority Superiority Warm Warm Fun Fun Excitement Excitement Security Security Social Approval Social Approval Loyalty Loyalty Community Community Engagement Engagement Attachment Attachment 8
Kevin Lane Keller 2003, Strategic Brand Management, Building, Measuring and Managing Brand Equity, International Edition, p. 76-77
2.4.1 Brand Salience
Brand Salience adalah tahap pertama dalam membangun sebuah
brand sehingga tercipta sebuah awareness yang kuat terhadap sebuah brand.
Brand Awareness dapat dilihat dari kemampuan konsumen dalam
mengidentifikasi atau mengenali sebuah brand baik dilihat dari nama, symbol atau fungsinya.
2.4.2 Brand Performance
Brand performance memiliki hubungan dengan kemampuan suatu
produk atau service yang dapat memenuhi semua kebutuhan konsumen. Brand performance dapat dilihat dari bagaimana sebuah brand
mempengaruhi konsumen untuk memiliki pandangan terhadap karakteristik, features, reliability, durability, service atau harga dari sebuah produk.
2.4.3 Brand Imagery
Brand Imagery adalah bagaimana konsumen menggambarkan sebuah
brand secara abstrak. Imagery dapat dilihat dari pengalaman konsumen
terhadap brand tersebut secara langsung maupun tidak langsung seperti word of mouth (WOM).
2.4.4 Brand Judgment
Brand Judgment fokus terhadap opini pribadi dan evaluasi konsumen
terhadap sebuah brand. Konsumen mungkin memiliki banyak penilaian (judgment) terhadap sebuah brand, oleh karena itu dalam membangun sebuah brand yang kuat, kualitas, kredibel, pertimbangan (consideration) dan keuntungan dominant (superiority) sangat diperlukan dalam membentuk judgment konsumen yang baik terhadap sebuah brand.
2.4.5 Brand Feeling
Brand feeling adalah respons secara emosional dan reaksi dari
konsumen terhadap sebuah brand. Disamping itu, brand feeling menggambarkan bagaimana ingatan konsumen terhadap sebuah brand.
2.4.6 Brand Resonance
Tahap ini adalah tahap terakhir dimana pada tahap ini konsumen sudah memiliki tingkat kesetiaan (loyalty) terhadap sebuah brand.
Dalam membangun sebuah brand yang kuat, maka langkah-langkah di atas merupakan strategi yang tepat. Disamping itu, Brand Equity yang baik adalah memiliki nilai yang tinggi untuk setiap tahapan di atas.
2.5 Riset Pasar Kualitatif (Qualitative Market Research)
Dasar dari marketing adalah pengumpulan informasi-informasi untuk menyatukan cara pandang konsumen ke dalam sebuah organisasi. Brand, yang merupakan konsep marketing dalam bentuk yang terfokus, dimulai dan diakhiri dengan persepsi konsumen. Manajemen Brand yang baik memiliki arti bahwa manajemen tersebut memiliki informasi yang cukup banyak mengenai kebutuhan konsumen (consumer insight). Sehingga, setiap aktivitas marketing harus berorientasi ke pasar (market). Salah satu cara dalam riset pasar (market research) adalah secara kualitatif.
Riset kualitatif berkaitan dengan mengamati apa yang terjadi dan kemudian menilainya. Riset kualitatif9 digunakan untuk mengeksplorasi dan menjelaskan alasan perilaku konsumen yang diamati. Output dari riset kualitatif terdiri dari hipotesa serta rekomendasi. Dalam melakukan riset kualitatif ini, sebaiknya melakukan penggalian fakta yang terjadi di pasar, karena bila tidak dilakukan hal ini terlebih dahulu, ada kemungkinan hasil riset kualitatif tidak akan masuk akal. Namun bila dikelola dengan baik, output dari riset kualitatif kerap akan berbentuk penjabaran untuk riset kuantitatif. Hal ini terjadi karena sudah adanya informasi penting yang terjadi di pasar sehingga memiliki gambaran yang jelas.
Riset kualitatif dapat mengungkapkan kekuatan yang mendorong di balik persepsi konsumen yang ada di pasar. Riset kualitatif tergolong lebih dinamis dan tidak begitu tergantung pada prosedur yang sudah ditetapkan dalam pengumpulan data. Kreativitas tenaga riset sangat diperlukan untuk memperoleh motivasi konsumen terhadap sebuah brand.
Riset kualitatif ini digunakan untuk mencari consumer insight dalam mengkonsumsi sebuah brand. Bila dibandingkan dengan riset kuantitatif yang cenderung menggunakan analisa data statistik, riset kualitatif benar-benar tertuju hanya kepada apa yang melatarbelakangi konsumen dalam membuat suatu keputusan dan persepsi terhadap sebuah brand sehingga riset ini dapat menghasilkan suatu pola perilaku konsumen yang lebih mendalam dibandingkan dengan riset kuantitatif.
9
Kevin Lane Keller 2003, Strategic Brand Management, Building, Measuring and Managing Brand Equity, International Edition, p. 432
2.6 Consumer Insight
Amalia E. Maulana PhD10, salah seorang pakar riset pasar (market research) di Indonesia, mengatakan bahwa Insight adalah “a clear, deep and sometimes sudden understanding of a complicated problem or situation, or the ability to have
such an understanding”. Penjelasan ini juga dipublikasikan di website majalah
SWA.11 Definisi ini memiliki tiga unsur, yaitu :
- Unsur Deep : kedalaman pemahaman teori.
- Unsur Complex : mencakup kompleksitas dari masalah yang
dibahas.
- Unsur Sudden : sesuatu yang dimengerti secara tiba-tiba.
Pengertian Insight dalam konteks psikologi adalah mencari tahu secara lebih mendalam apa latar belakang dan faktor-faktor yang mendorong perbuatan, pemikiran dan perilaku seseorang.
Dari definisi-definisi di atas, maka dapat perpaduan antara Consumer dan Insight memiliki arti “Proses mencari tahu secara lebih mendalam tentang latar
belakang perbuatan, pemikiran dan perilaku seorang konsumen yang
berhubungan dengan produk dan komunikasi iklannya”.
Dalam kondisi pasar yang lebih kompleks, analisa pasar secara kuantitatif belum tentu dapat menemukan Consumer Insight, namun pengetahuan secara kualitatif mengenai pasar yang lebih mendalam dirasakan menjadi suatu kebutuhan. Intinya, Consumer Insight adalah berpikir secara kreatif dan lebih luas dari menterjemahkan data secara kuantitatif serta menggali sesuatu yang tidak tampak di permukaan. 10 http://www.amaliamaulana.com 11 http://www.swa.co.id
2.7 Consumer Generated Media (CGM)
Consumer Generated Media12 adalah sebuah media sebagai tempat ekspresi
pendapat dari konsumen ke konsumen melalui media online untuk mendiskusikan pengalaman dalam berinteraksi dengan produk pada khususnya, atau masalah-masalah sosial-politik pada umumnya. Blog, milis, e-forum dan situs kajian produk adalah beberapa contoh CGM.
Dalam blog, umumnya tanggapan pembaca adalah langsung tayang. Milis yang bersifat umum, anggotanya cenderung diperbolehkan menuliskan komentar apa saja. Di situs kajian produk, konsumen mendeskripsikan produk dari kacamatanya sendiri tanpa campur tangan produsen. Di e-forum yang disediakan berbagai situs, moderator tidak terlalu ketat menyeleksi pesan yang masuk. Beberapa situs media cetak bahkan membuka diri memuat semua tanggapan pembaca atas tulisan yang diangkatnya secara resmi. Ini adalah fenomena baru yang harus disikapi dengan bijak oleh perusahaan dan pengelola merek.
Pada awalnya, semua berita, baik dan buruk, dikendalikan jurnalis di media formal. Karenanya, fungsi manager humas di perusahaan dianggap sangat sentral dalam pembinaan hubungan baik dengan jurnalis di media. Kasus-kasus negatif yang mengaitkan nama perusahaan, terutama yang berhubungan dengan konsumen langsung, misalnya berupa keluhan pelanggan yang dengan cepat bisa diredam bila manager humas cukup luwes dalam menangani pemberitaan melalui hubungan baiknya dengan media.
12
Consumer Generated Media CGM 101, Word of Mouth in the age of the Web Fortified Consumer, A Nielsen BuzzMetrics White Paper by Pete Blackshaw and Mike Nazzaro,Second Edition, Spring 2006
Sulitnya, saat ini aliran berita yang lebih dahsyat justru bukan berada lagi di tangan para jurnalis media formal, melainkan di tangan konsumen. CGM merupakan salah satu bentuk komunikasi word of mouth (WOM). Dengan bantuan kemajuan teknologi, proses proliferasi atau pelipatgandaan berita melalui CGM adalah yang tercepat dibandingkan dengan tipe WOM lainnya. Kelebihan utama CGM adalah dari sisi kredibilitasnya yang tinggi di mata audiens, berbeda dari tulisan di media formal yang sering dipersepsikan berpihak pada kepentingan tertentu. Kondisi ini juga memiliki efek yang positif terhadap sebuah perusahaan jika pelipatgandaan informasinya mengenai aktivitas produk dan perusahaan. Sebaliknya, media ini bisa menjadi ancaman manakala terdapat berita buruk tentang produk atau perusahaan dimana upaya seorang manager Humas untuk mempublikasikan berita dari sisi pandang perusahaan, sering tidak bisa mengalahkan kekuatan penggandaan berita CGM di dunia maya pada saat beritanya berseberangan dengan berita perusahaan.
Sedangkan salah satu bentuk CGM adalah sebagai berikut :
Gambar 2.6 Contoh CGM dari Explor
Pada gambar 2.6, adalah salah satu bentuk CGM dari produk PT. Exelcomindo Pratama, Tbk dengan salah satu produknya Xplor dimana telah beredar secara luas bahwa produk Xplor memiliki layanan yang buruk. Berita ini dapat juga memiliki efek samping menurunkan tingkat penjualan (sales) produk Xplor secara signifikan bila tidak segera dijawab untuk menjawab semua bentuk
keluhan user. Untuk itu, Xplor membuat suatu website yang digunakan untuk menjawab opini masyarakat atau konsumen yaitu www.makinseru.com.
Contoh lainnya dari CGM adalah website milik PT. Toyota Astra Motor, yaitu www.unleash-yourself.com untuk produk Toyota Rush.
Gambar 2.7 Contoh CGM dari Toyota Rush
Intinya, CGM adalah suatu media yang digunakan untuk melibatkan konsumen secara lebih mendalam dengan terus melakukan komunikasi dengan konsumen sehingga perusahaan dapat terus memantau aktivitas keterlibatan konsumen terhadap produknya yang pada akhirnya perusahaan dapat mengetahui apa yang menjadi consumer insight dari konsumennya.
Blog13 adalah sebuah media atau bisa juga disebut sebagai situs online pribadi yang berisi komentar atau opini mengenai berbagai macam berita. Blog dapat dimiliki oleh setiap orang dimana setiap orang dapat menulis perasaan, pandangan dan sikap secara jujur. Jumlah pemilik blog terus bertambah, yaitu pada bulan Maret 2005 tercatat 7,8 juta blogger. Jumlah ini menjadi 14,7 juta pada bulan Agustus 2005. Blog juga merupakan salah satu dampak dari perkembangan dunia internet di Indonesia.
13
Salah satu contoh bentuk blog yang menampung berita atau opini masyarakat mengenai kartu telephone ESIA adalah sebagai berikut :