• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMITMEN DAN TANGGUNGJAWAB PIMPINAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KOMITMEN DAN TANGGUNGJAWAB PIMPINAN"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

KOMITMEN DAN TANGGUNGJAWAB PIMPINAN Oleh Haedar Nashir

Jadi pimpinan di Muhammadiyah itu ganpang-gampang sulit. Gampangnya, kadang tiba-tiba orang baru bisa langsung jadi anggota dan bahkan terpilih sebagai pimpinan Muhammadiyah baik di Muktamar, Musawarah Wilayah, dan musyawarah-musyawarah di bawahnya. Sulitnya, kadang ada orang-orang yang tidak diragukan lagi ke-Muhammadiyahan-nya, seringkali sulit terpilih dalam musyawarah, meskipun hal itu tak mengurangi baktinya untuk menggerakkan Persyarikatan. Bagi yang terkena kemudahan tadi, kadang menjadi sesuatu yang mudah pula untuk tidak menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya, mungkin karena tumbuh perasaan betapa mudahnya jadi pemimpin di Muhammadiyah, kenapa harus bersusah-payah sebab nanti dengan mudah pula akan terpilih lagi. Apalagi umat atau warga Muhammadiyah tentu tidak akan tahu persis pemimpin yang aktif dan tidak aktif yang mereka pilih, karena pada momentum-momentum tertentu sering muncul di forum. Nama besar, kepopuleran, gelar yang lengkap, dan pesona luar seringkali memukau umat atau warga, yang pada akhirnya ketika terpilih kadang atau malah sering tidak sepadan dengan bakti atau pengkhidmatan bagi Muhammadiyah.

Namun bagi siapapun yang memiliki komitmen dan tanggungjawab tinggi dalam memimpin Muhammadiyah, sesungguhnya ada atau tidaknya hisab warga atau organisasi maka amanat organisasi tentu akan ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Pemimpin yang baik, secara individu maupun kolektif, adalah yang dari lubuk hatinya tumbuh komitmen atau kesetiaan dan rasa tanggungjawab untuk menunaikan tugas-tugas organisasi sebagai amanah. Baik berat maupun ringan, mudah maupun sulit, amanat itu akan diusahakan semaksimal mungkin. Dengan semangat keagamaan, bahkan amanat organisasi itu ditariknya sebagai aktualisasi ibadah yang harus bernapaskan ruh keikhlasan dan jihad di jalan Allah yang harus berorientasi pada capaian ridha Allah Subhanahu wata’ala. Memimpin Muhammadiyah menjadi amanat menunaikan Risalah Islam, yang pertanggungjawabannya bukan semata kepada diri sendiri dan umat, tetapi juga kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Tapi sebaliknya, bagi yang motifnya semata duniawi tentu memimpin Muhammadiyah hanya berjangka pendek belaka. Sebatas jadi batu loncatan mobilitas dan kepentingan-kepentingan pribadi yang bersifat duniawi belaka. Karena itu jika tidak tertunaikan pun seolah tak jadi beban batin, karena sekadar numpang lewat semata. Jika menyenangkan ditunaikan, tak menyenangkan ditinggalkan. Adapaun terhadap warga atau umat pun bersikap pragmatis belaka, ketika memerlukan umat atau warga maka beramah-tamah dan mendekat, ketika tak memerlukan menjauh dan bahkan menghindar dari umat. Umat atau warga tidak akan tahu persis apa yang dilakukan, kecuali ketika dekat. Ketika dekat maka berbaik-baiklah pada umat atau warga, agar tumbuh kesan positif tentang sosok pemimpinnya. Apalagi kalau ada pesona yang bisa dijual, maka tak ada masalah dengan tanggungjawab, umat atau warga dengan mudah dapat ditukar dengan pesona yang serba baik. Mudah-mudahan pemimpin yang seperti ini tak ada di Muhammadiyah.

Tak mudah memang untuk memimpin dan menunaikan kepemimpinan dengan komitmen dan tanggungjawab. Komitmen sebagai kesetiaan batin untuk secara tulus ikhlas menunaikan amanat dalam memimpin sungguh memerlukan pupuk ruhani yang terus menerus agar dalam bermuhammadiyah memang tak ada pamrih lain selain keikhlasan untuk

(2)

beribadah demi kejayaan Islam dan umat Islam. Sedangkan tanggungjawab menyangkut pelaksanaan tugas yang diberikan atau melekat dalam diri para pimpinan Muhammadiyah, yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Keduanya, yaitu komitmen dan tanggungjawab, memerlukan proses panjang melalui pergumulan dan pengalaman, yang tumbuh secara terus menerus seperti tanaman yang tak henti-hentinya disiram oleh air keikhlasan. Ujian paling menentukan terhadap komitmen dan tanggungjawab pemimpin ialah ketika banyak saat-saat kritis di mana para pimpinan Muhammadiyah dituntut pengkhidmatannya. Bukan di kala mudah dan banyak dukungan fasilitas, kendati Muhammadiyah sebagai organisasi tentu saja tidak membiarkan anggota, kader, dan pimpinannya terlantar.

Bagi mereka yang tidak bergumul sejak awal dengan Muhammadiyah, menjadi pimpinan Persyarikatan tentu banyak godaannya. Manakala tetbatas fasilitas bisa dengan mudah mengeluh, malah menuntut fasilitas yang berlebih, tak segan menuntut imbalan yang besar, lebih-lebih jika dirinya merasa sebagai professional, tak peduli apakah Muhammadiyah sebagai organisasi diuntungkan atau tidak. Muhammadiyah pun jadi proyek-proyek percobaan yang di luar kemampuan, sehingga ketika merugi seolah tanpa beban, karena yang penting diri sendiri yang tidak boleh rugi, sedang Muhammadiyah tak apalah merugi. Muhammadiyah akhirnya menjadi tawanan para pimpinan atau orang yang tak bersentuhan dengan nilai-nilai, keyakinan, cita-cita, dan hal-hal yang mendasar dalam gerakan selain terlibat dalam urusan-urusan yang menjauhkan diri dari keberadaan dan fungsinya sebagai Gerakan Islam.

Sungguh menunaikan amanat sebagai pimpinan Muhammadiyah itu sebenarnya berat, meskipun tidak sedikit yang mudah menyanggupinya atau bahkan mengejarnya. Di sinilah penghayatan atas makna hadis Nabi itu sangatlah utama, bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, yang berarti memerlukan uji komitmen dan tanggungjiawab. Memang pada akhirnya Muhammadiyah itu memerlukan para anggota dan pucuk pimpinan yang benar-benar memiliki serta teruji komitmen dan tanggungjawabnya untuk membawa gerakan Islam ini pada tujuan membentuk masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Pemimpin yang memiliki rasa dan nurani untuk membesarkan Muhammadiyah, bukan membesarkan dirinya sendiri. Pemimpin yang pengkhidmatannya tinggi untuk Persyarikatan, bukan pula para pimpinan yang ditemukan di tengah jalan, numpang lewat, dan sekadar menjadikan Muhammadiyah sebagai batu loncatan dan tempat mobilitas diri sendiri yang tak bersentuhan dengan idealisme gerakan.

Sumber:

Suara Muhammadiyah Edisi 17 2004

Referensi

Dokumen terkait

Variabel moderat (CSRDI*ROA) memiliki koefisien regresi sebesar 243,141 dengan p-value (sig) sebesar 0,044 < α (0,05), berarti profitabilitas berpengaruh positif

Tugas Akhir Program S-1 Seni Musik ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dinyatakan lulus

Pada tahap pengumpulan data dengan teknik ini, editor memerlukan panduan atau acuan untuk mendapatkan berbagai teknik yang dibutuhkan untuk membuat sebuah editing yang

Pemodelan GAB paling tepat untuk menggambarkan isoterm sorpsi kerupuk kedelai diperkuat dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Banoet (2006) tentang isoterm sorpsi

Sistem ini dapat digunakan untuk menyeleksi calon pembimbing haji berdasarkan hasil score yang diperoleh dari penghitungan dengan menggunakan model AHP yang hasilnya calon pembimbing

Dasar yang sangat penting dari semua program sistem adalah operating system yang mengontrol semua sumber daya komputer dan menyediakan landasan sehingga sebuah program

Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah pada penelitian ini adalah: “Berapa persentase kerasionalan penggunaan antibiotik yang meliputi tepat indikasi,

Perbandingan pada Gambar 1.1 menjadikan dasar untuk melihat kesuksesan sistem dari perspektif mahasiswa, karena pengunjung perpustakaan paling banyak adalah