HASIL PENELITIAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Asrama Putra dan Putri Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terletak di daerah Dramaga, Bogor. Asrama Putra terdiri dari 4 gedung, C1, C2, C3, dan C4, sementara Asrama putri terdiri dari 5 gedung, A1, A2, A3, A4, dan A5. Satu gedung yang dipantau oleh lurah asrama, terdiri dari 10 lorong yang setiap lorongnya terdiri dari 13-14 kamar dengan diawasi oleh ketua RW di tiap lorongnya. Setiap kamar dihuni oleh maksimal 4 orang dari berbagai daerah yang berstatus sebagai mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB setelah menandatangani Surat Perjanjian Penghunian dan bersedia mematuhi Tata Tertib Asrama yang telah ditetapkan (berdasarkan Pasal 1 ayat 1 mengenai Tata Tertib Asrama TPB IPB-Penghuni Asrama).
Program tingkat persiapan bersama yang dibentuk sejak tahun 1873 ini merupakan bentuk kepedulian Institut Pertanian Bogor (IPB) terhadap pembangunan bangsa yang dilakukan melalui penerimaan mahasiswa baru dengan berbagai jalur penerimaan mahasiswa dari seluruh pelosok tanah air. Selain itu juga untuk memberikan landasan yang relatif sama dan cukup dengan keragaman latar belakang pengetahuan mahasiswa yang berbeda-beda, sebelum melanjutkan pendidikan selanjutnya di fakultas masing-masing.
Direktorat TPB IPB bekerjasama dengan Badan Pengelola Asrama TPB IPB menyelenggarakan program wajib asrama. Mahasiswa diwajibkan untuk tinggal di asrama selama satu tahun. Hal ini sebagai salah satu upaya IPB dalam membantu mahasiswa baru dalam beradaptasi dengan dunia kampus dan perkuliahan selama tingkat pertama. Dengan adanya program wajib asrama ini, mahasiswa mendapatkan pembinaan akademik dan multibudaya, serta mempunyai kesempatan untuk mengikuti program-program pengembangan diri. Mahasiswa juga mempunyai peluang berinteraksi dengan berbagai latar belakang kondisi sosio-demografi yang berbeda.
Karakteristik Individu
Umur dan Jenis Kelamin. Mahasiswa jika dilihat dari umur terbagi
kedalam dua kategori, yaitu kategori remaja akhir (18-21 tahun) dan kategori dewasa awal (22-28 tahun) (Monks, et al., 2001). Umur mahasiswa TPB dalam penelitian ini bekisar antara 17 hingga 21 tahun dengan rataan umur 18,5 tahun. Lebih dari setengah (50,6%) mahasiswa berumur 19 tahun dan setengah (50,0%) mahasiswi berumur 18 tahun. Rata-rata umur mahasiswa adalah 18,6 tahun dan mahasiswi 18,4 tahun. Hasil uji rata-rata menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik umur antara mahasiswa dan mahasiswi dengan nilai signifikansi 0,281 (Tabel 3).
Tabel 3 Sebaran berdasarkan umur dan jenis kelamin
Umur (tahun) Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
17 3,5 4,2 3,9 18 38,8 50,0 45,4 19 50,6 44,2 46.8 20 5,9 1,7 3,4 21 1,2 0,0 5,0 Total 100,0 100,0 100,0
Urutan Kelahiran. Urutan kelahiran merupakan salah satu faktor yang
memengaruhi kepribadian dan pola perilaku seseorang (Hurlock, 1980). Hampir setengah mahasiswa (41,2%) dan mahasiswi (45,0%) merupakan anak sulung atau anak pertama didalam keluarganya. Hanya sebagian kecil mahasiswa (3,5%) dan mahasiswi (2,5%) yang merupakan anak tunggal (Tabel 4).
Tabel 4 Sebaran berdasarkan urutan kelahiran dan jenis kelamin Urutan kelahiran Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
Sulung 41,2 45,0 43,4
Tengah 28,2 30,0 29,3 Bungsu 27,1 22,5 24,4 Tunggal 3,5 2,5 2,9
Total 100,0 100,0 100,0
Uang saku per bulan. Lebih dari setengah (51,7%) mahasiswa TPB
secara keseluruhan memiliki uang saku per bulan antara Rp500.001-Rp1000.000 dan hampir setengahnya lagi (43,9%) mahasiswa TPB secara keseluruhan memiliki uang saku ≤ Rp500.000. Lebih dari separuh mahasiswa (50,6%) memiliki uang saku ≤ Rp500.000 dan lebih dari separuh mahasiswi(57,5%)
memiliki uang saku per bulan antara Rp500.001-1.000.000. Rataan uang saku per bulan mahasiswa adalah Rp662.000 dan mahasiswi adalah Rp673.000. Kisaran uang saku mahasiswa antara Rp300.000-Rp1.500.000 dan uang saku mahasiswi antara Rp300.000-Rp2.000.000. Hasil uji rata-rata menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik uang antara saku mahasiswa dan mahasiswi dengan nilai signifikansi 0,492 (Tabel 5).
Tabel 5 Sebaran berdasarkan uang saku per bulan dan jenis kelamin Uang saku (rupiah/ bulan) Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
≤ 500.000 50,6 39,2 43,9
500.001-1.000,000 43,5 57,5 51,7
1.000.001-1.500.000 5,9 2,5 3,9
> 1.500.000 0,0 0,8 0,5
Total 100,0 100,0 100,0
Jalur Masuk. Mulai tahun akademik 2011/2012, terdapat dua macam pola
penerimaan mahasiswa baru IPB, yaitu penerimaan mahasiswa baru secara nasional (SNMPTN jalur undangan dan SNMPTN jalur ujian tertulis), serta penerimaan mahasiswa baru yang dikelola secara mandiri oleh IPB yang terdiri dari tiga jalur seleksi, yaitu Prestasi Internasional dan Nasional (PIN), Beasiswa Utusan Daerah (BUD), dan ujian Talenta Masuk IPB (UTMI) (PMB 2012). Berdasarkan jalur penerimaaan, lebih dari separuh mahasiswa (65,9%) dan hampir seluruh mahasiswi (81,7%) diterima menjadi mahasiswa baru di IPB melalui SNMPTN Undangan (Tabel 6).
Tabel 6 Sebaran berdasarkan jalur masuk dan jenis kelamin Jalur masuk Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%) SNMPTN Undangan 65,9 81,7 73,1 SNMPTN Tertulis 22,4 8,3 14,1 UTMI 4,7 6,7 5,9 BUD 7,1 3,3 4,9 PIN 0,0 0,0 0,0 Total 100,0 100,0 100,0
Indeks Prestasi. Lebih dari sepertiga mahasiswa (36,5%) dan mahasiswi
(35,8%) memiliki indeks prestasi antara 3,0-3,5. Rentang indeks prestasi mahasiswa TPB secara keseluruhan antara 1,2-4,0 dengan rata-rata 3,3. Hasil uji rata-rata menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik indeks prestasi antara mahasiswa dan mahasiswi dengan nilai signifikansi 0,243 (Tabel 7).
Tabel 7 Sebaran berdasarkan indeks prestasi dan jenis kelamin Indeks prestasi Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
≤ 2,00 3,5 3,3 3,4 2,01-2,50 9,4 7,5 8,3 2,51-3,00 23,5 27,5 25,9 3,01- 3,50 36,5 35,8 36,1 > 3,50 27,1 25,8 26,3 Total 100,0 100,0 100,0
Organisasi/ Kegiatan Ekstrakurikuler. Lebih dari setengah mahasiswa
(69,4%) dan mahasiswi (68,3%) mengikuti organisasi atau kegiatan ekstrakurikuler. Sisanya lebih dari seperempat mahasiswa (30,6%) dan mahasiswi (31,7%) tidak mengikuti organisasi atau kegiatan ekstrakurikuler (Tabel 8).
Tabel 8 Sebaran berdasarkan organisasi/ kegiatan ekstrakurikuler dan jenis kelamin
Organisasi/ Kegiatan Ekstrakurikuler Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
Ikut 69,4 68,3 68,8
Tidak ikut 30,6 31,7 31,2
Total 100,0 100,0 100,0
Fakultas. Berdasarkan fakultas, paling banyak (23,9%) mahasiswa TPB
secara keseluruhan berasal dari Fakultas Matematika dan IPA dan paling sedikit berasal dari Fakultas Peternakan (3,4%). Paling banyak (20,0%) mahasiswa berasal dari Fakultas Matematika dan IPA dan paling sedikit (3,5%) berasal dari Fakultas Ekologi Manusia. Paling banyak (26,7%) mahasiswi berasal dari Fakultas Matematika dan IPA dan paling sedikit (0,8%) berasal dari Fakultas Peternakan (Tabel 9).
Tabel 9 Sebaran berdasarkan fakultas dan jenis kelamin
Fakultas Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
FAPERTA 11,8 9,2 10,2 FKH 4,7 3,3 3,9 FPIK 11,8 10,0 10,7 FAPET 7,0 0,8 3,4 FAHUTAN 11,8 15,8 14,2 FATETA 18,8 7,5 12,2 FMIPA 20,0 26,7 23,9 FEM 10,6 14,2 12,7 FEMA 3,5 12,5 8,8 Total 100,0 100,0 100,0
Karakteristik Keluarga Mahasiswa TPB
Umur Ayah-Ibu. Pengkategorian umur ayah-ibu pada penelitian ini
mengacu pada Hurlock (1980) yang mengkategorikan umur menjadi tiga kelompok, dewasa muda (18-40 tahun), dewasa madya (41-65 tahun), dan Tua (>65 tahun). Umur ayah mahasiswa berada pada rentang umur 40-70 tahun, dengan rata-rata umur 50,7 tahun. Pada mahasiswi, umur ayah berada pada rentang 39-70 tahun dengan rata-rata umur 49,8 tahun. Hampir seluruh mahasiswa (85,9%) dan mahasiswi (90,0%) memiliki ayah yang tergolong dewasa madya. Hanya sebagian kecil ayah mahasiswa (2,4%) dan mahasiswi (0,8%) yang masih tergolong dewasa muda. Selain itu, terdapat sebagian kecil mahasiswa TPB secara keseluruhan (9,3%) yang tidak memiliki ayah karena sudah meninggal. Hasil uji rata-rata menunjukkan adanya perbedaan karakteristik umur ayah antara mahasiswa dan mahasiswi dengan nilai signifikansi di bawah 0,05 yaitu sebesar 0,006 (Tabel 10).
Tabel 10 Sebaran berdasarkan kategori umur ayah dan jenis kelamin Umur ayah (tahun) Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%) Dewasa Muda (18-40) 2,4 0,8 1,4 Dewasa Madya (41-65) 85,9 90,0 88,3
Tua (>65) 1,2 0,8 1,0
Meninggal 10,6 8,3 9,3
Total 100,0 100,0 100,0
Umur ibu mahasiswa berada pada rentang umur 35-64 tahun, dengan rata-rata umur 46,9 tahun. Pada mahasiswi, umur ibu berada pada rentang 37-69 tahun dengan rata-rata umur 46,5 tahun. Hampir seluruh mahasiswa (85,9%) dan mahasiswi (83,3%) memiliki ibu yang tergolong dewasa madya. Hanya sebagian kecil mahasiswa (10,6%) dan mahasiswi (13,3%) yang memiliki ibu berumur dewasa muda. Selain itu, terdapat sebagian kecil mahasiswa TPB secara keseluruhan (2,9%) yang tidak memiliki ibu karena sudah meninggal. Hasil uji rata-rata menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik umur ibu antara mahasiswa dan mahasiswi dengan nilai signifikansi 0,533 (Tabel 11).
Tabel 11 Sebaran berdasarkan kategori umur ibu dan jenis kelamin Umur ibu (tahun) Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%) Dewasa Muda (18-40) 11,8 14,2 13,2 Dewasa Madya (41-65) 84,7 82,5 83,4
Tua (>65) 0,0 0,8 0,5
Meninggal 3,5 2,5 2,9
Kelengkapan Ayah-Ibu. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh
mahasiswa (83,5%) dan mahasiswi (88,4%) mempunyai kelengkapan ayah-ibu yang masih utuh. Sebagian kecil mahasiswa TPB secara keseluruhan lainnya memiliki kelengkapan ayah-ibu yang sudah tidak utuh karena telah ditinggal cerai mati (10,2%) maupun cerai hidup (3,4%) oleh pasangannya (Tabel 12).
Tabel 12 Sebaran berdasarkan kelengkapan ayah-ibu dan jenis kelamin Kelengkapan ayah-ibu Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
Tidak utuh 16,5 11,6 13,6
Utuh 83,5 88,4 86,4
Total 100,0 100,0 100,0
Pendidikan Terakhir Ayah-Ibu. Berdasarkan jenjang pendidikan
terakhir ayah, lebih dari seperempat mahasiswa (38,8%) dan mahasiswi (43,3%) memiliki ayah yang berpendidikan terakhir SMA/ sederajat. Terdapat sebagian kecil mahasiswa (7,1%) dan mahasiswi (2,5%) yang memiliki ayah yang tidak tamat SD. Untuk pendidikan terakhir ayah dengan jenjang yang tertinggi yaitu S3 hanya dimiliki oleh sebagian kecil (0,5%) mahasiswi (Tabel 13).
Tabel 13 Sebaran berdasarkan kategori pendidikan terakhir ayah dan jenis kelamin
Pendidikan terakhir ayah Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
Tidak tamat SD 7,1 2,5 4,4 SD/ sederajat 14,1 5,8 9,3 SMP/ sederajat 3,5 5,0 4,4 SMA/ sederajat 38,8 43,3 41,5 Diploma 7,1 7,5 7,3 Sarjana (S1) 22,4 28,3 25,9 Pascasarjana (S2) 7,1 6,7 6,8 Pascasarjana (S3) 0,0 0,5 0,5 Total 100,0 100,0 100,0
Lebih dari seperempat mahasiswa (34,1%) dan mahasiswi (42,5%) memiliki ibu yang berpendidikan terakhir SMA/ sederajat. Terdapat sebagian kecil mahasiswa (9,4%) dan mahasiswi (2,5%) yang memiliki ibu yang tidak tamat SD. Untuk pendidikan terakhir ibu dengan jenjang yang tertinggi yaitu S2 dimiliki oleh sebagian kecil (2,4%) mahasiswa dan sebagian kecil (2,5%) mahasiswi (Tabel 14).
Tabel 14 Sebaran berdasarkan kategori pendidikan terakhir ibu dan jenis kelamin
Pendidikan terakhir ibu Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
Tidak tamat SD 9,4 2,5 5,4 SD/ sederajat 15,3 13,3 14,1 SMP/ sederajat 10,6 7,5 8,8 SMA/ sederajat 34,1 42,5 39,0 Diploma 4,7 8,3 6,8 Sarjana (S1) 23,5 23,3 23,4 Pascasarjana (S2) 2,4 2,5 2,4 Pascasarjana (S3) 0,0 0,0 0,0 Total 100,0 100,0 100,0
Pekerjaan Ayah-Ibu. Berdasarkan pekerjaan yang dimiliki ayah, lebih
dari empat per lima mahasiswa (82,4%) dan mahasiswi (88,3%) memiliki ayah yang bekerja. Hampir seperempat mahasiswa (24,7%) dan seperempat mahasiswi (25,0%) memiliki ayah yang bekerja sebagai pegawai, guru, dan dosen yang tergolong sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Selain itu, hampir seperempat mahasiswa (22,4%) memiliki ayah yang bekerja sebagai buruh tani maupun non-tani dan lebih dari seperempat mahasiswi (27,5%) memiliki ayah yang bekerja sebagai pegawai atau karyawan BUMN maupun honorer. Kurang dari seperempat mahasiswa (17,6) dan mahasiswi (11,7) memiliki ayah yang tidak bekerja karena memang tidak bekerja (pengangguran), sudah pensiun, maupun sudah meninggal (Tabel 15).
Tabel 15 Sebaran berdasarkan kategori pekerjaan ayah dan jenis kelamin Pekerjaan ayah Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%) Bekerja:
PNS/ Guru/ Dosen 24,7 25,0 24,9 Polisi/ Polri/TNI (AD,AL, AU) 4,7 1,7 2,9 Pegawai/ Karyawan swasta/
BUMN/ Honorer
10,6 27,5 20,5
Wiraswasta/ Wirausaha/ Pedagang
16,5 21,7 19,5
Buruh tani/ Buruh non-tani 22,4 10,8 15,6 Lainnya (ojek, supir, pendeta) 3,5 1,7 2,4 Tidak bekerja 17,6 11,7 14,1
Total 100,0 100,0 100,0
Berdasarkan pekerjaan yang dimiliki ibu, lebih dari dua per lima mahasiswa (42,4%) dan hampir dua per lima mahasiswi (39,2%) memiliki ibu yang bekerja. Hampir seperempat mahasiswa (18,8%) dan mahasiswi (23,3%) memiliki ibu yang bekerja sebagai pegawai, guru, dan dosen yang tergolong
sebagai PNS Lebih dari setengah mahasiswa (57,6%) dan mahasiswi (60,8%) memiliki ibu yang tidak bekerja karena memang tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga (IRT) maupun sudah meninggal dunia (Tabel 16).
Tabel 16 Sebaran berdasarkan kategori pekerjaan ibu dan jenis kelamin Pekerjaan ibu Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%) Bekerja:
PNS/ Guru/ Dosen 18,8 23,3 21,5 Polisi/ Polri/TNI (AD,AL, AU) 0,0 0,8 0,5 Pegawai/ Karyawan swasta/
BUMN/ Honorer
8,2 4,2 5,9 Wiraswasta/ Wirausaha/
Pedagang
7,1 6,7 6,8 Buruh tani/ Buruh non-tani 7,1 4,2 5,4
Lainnya (Dokter) 1,2 0,0 0,5 Tidak bekerja 57,6 60,8 59,5
Total 100,0 100,0 100,0
Pendapatan Ayah-Ibu. Berdasarkan pendapatan ayah, hampir setengah
mahasiswa (35,3%) dan lebih dari seperempat mahasiswi memiliki ayah yang berpendapatan dibawah Rp1.000.000. Selain itu, Lebih dari seperempat (31,8%) mahasiswa memiliki ayah yang berpendapatan Rp1.000.001-Rp2.000.000 dan lebih dari seperempat mahasiswi (25,8%) memiliki ayah yang berpendapatan Rp2.000.001-Rp3.000.000. Rata-rata pendapatan ayah mahasiswa sebesar Rp1.980.000 dengan pendapatan maksimal Rp8.000.000. Pada mahasiswi, rata-rata pendapatan ayah sebesar Rp2.480.000 dengan pendapatan maksimal sebesar Rp10.000.000. Hasil uji rata-rata menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik pendapatan ayah antara mahasiswa dan mahasiswi dengan nilai signifikansi 0,316 (Tabel 17).
Tabel 17 Sebaran berdasarkan kategori pendapatan ayah dan jenis kelamin Pendapatan ayah (rupiah) Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
≤ 1.000.000 35,3 27,5 30,7 1.000.001-2.000.000 31,8 19,2 24,4 2.000.001-3.000.000 11,8 25,8 20,0 3.000.001-4.000.000 10,6 13,3 12,2 4.000.001-5.000.000 9,4 7,5 8,3 > 5.000.000 1,2 6,7 4,4 Total 100,0 100,0 100,0
Berdasarkan pendapatan ibu, lebih dari setengah mahasiswa (74,1%) dan mahasiswi (70,0%) memiliki ibu yang berpendapatan dibawah Rp1.000.000. Selain itu, hampir seperempat mahasiswa (10,6%) memiliki ibu yang
berpendapatan Rp2.000.001-Rp3.000.000 dan hampir seperempat mahasiswi (15,0%) memiliki ibu yang berpendapatan Rp1.000.001-Rp2.000.000. Rata-rata pendapatan ibu mahasiswa sebesar Rp919.000 dengan pendapatan maksimal Rp8.000.000. Pada mahasiswi, rata-rata pendapatan ibu sebesar Rp824.000 dengan pendapatan maksimal sebesar Rp5.000.000. Hasil uji rata-rata menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik pendapatan ibu antara mahasiswa dan mahasiswi dengan nilai signifikansi 0,198 (Tabel 18).
Tabel 18 Sebaran berdasarkan kategori pendapatan ibu dan jenis kelamin Pendapatan ibu (rupiah) Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%) ≤ 1.000.000 74,1 70,0 71,7 1.000.001-2.000.000 9,4 15,0 12,7 2.000.001-3.000.000 10,6 10,0 10,2 3.000.001-4.000.000 2,4 3,3 2,9 4.000.001-5.000.000 1,2 1,7 1,5 > 5.000.000 2,4 0,0 1,0 Total 100,0 100,0 100,0
Besar Keluarga. Besar keluarga dalam penelitian ini merupakan jumlah
anggota keluarga inti mahasiswa. Besar keluarga terbagi menjadi 3 kategori menurut BKKBN (1996), yaitu keluarga kecil (≤4 orang), keluarga sedang (5-7 orang), dan keluarga besar (≥8 orang). Besar keluarga mahasiswa TPB secara keseluruhan berkisar antara 3-12 orang, dengan rata-rata 5 orang. Rata-rata mahasiswa maupun mahasiswi memiliki besar keluarga yang beranggotakan 5 orang. Lebih dari setengah mahasiswa (63,5%) dan mahasiswi (61,7%) memiliki besar keluarga sedang. Keluarga mahasiswa TPB yang tergolong keluarga kecil atau Keluarga Berencana (KB) secara keseluruhan hanya 32,7%. Hasil uji rata-rata menunjukkan adanya perbedaan karakteristik besar keluarga antara mahasiswa dan mahasiswi dengan nilai signifikansi di bawah 0,05 yaitu sebesar 0,023 (Tabel 19).
Tabel 19 Sebaran berdasarkan besar keluarga dan jenis kelamin Besar Keluarga Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%) Keluarga kecil (≤4 orang) 29,4 35,0 32,7 Keluarga sedang (5-7 orang) 63,5 61,7 62,4 Keluarga besar (≥8 orang) 7,1 3,3 4,9
Kemandirian
Kemandirian merupakan salah satu karakteristik yang dimiliki oleh seseorang dengan tidak selalu bergantung pada orang tua maupun lingkungan luar dan lebih banyak mengandalkan potensi serta kemampuan yang dimiliki. Kemandirian yang diukur dalam penelitian ini adalah kemandirian mahasiswa TPB saat lulus SMA. Menurut Steinberg (1993), kemandirian terdiri atas tiga aspek, yaitu kemandirian emosional (emotional autonomy), kemandirian tingkah laku (behavioral autonomy), dan kemandirian nilai (value autonomy).
Kemandirian Emosi. Kemandirian emosi merupakan aspek kemandirian
yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan emosional antar individu, seperti hubungan emosional remaja dengan orang tua (Steinberg 1999). Salah satu indikator kemandirian emosi adalah remaja tidak lagi memandang dan berinteraksi dengan orang tua. Kemandirian emosi terbentuk ketika remaja tidak lagi memandang orang tua sebagai orang yang mengetahui segalanya, serta mampu memandang dan berinteraksi dengan orang tua seperti dengan orang dewasa lain pada umumnya.
Tabel 20 Sebaran yang menyetujui pernyataan kemandirian emosi
No. Pernyataan L (%) P (%) Total (%) 1. Menganggap semua pendapat orang tua benar, karena orang
tua tentunya lebih berpengalaman dibandingkan saya
44,7 45,8 45,4 2. Merasa bahwa tidak selamanya pendapat orang tua benar 85,9 80,8 82,9 3. Tidak sanggup mempertahankan pendapat di depan orang
tua
41,2 39,2 40,0 4. Dapat menolak pendapat orang tua karena hal itu merupakan
hal yang wajar
71,8 65,8 68,3 5. Bisa mengoreksi pandangan orang tua yang saya rasa tidak
benar
88,2 90,8 89,7 6. Berinteraksi secara terbuka dengan orang tua seperti
layaknya dengan orang lain
76,5 78,3 77,5 7. Tidak segan mengkritik sikap orang tua, namun tetap
menaruh hormat kepadanya
84,7 80,0 84,9 8. Tidak mempunyai keberanian mengajukan protes kepada
orang tua, karena orang tua patut dihormati
31,8 25,8 28,3 9. Menganggap orang tua sebagai mediator dan teman diskusi
dalam menyelesaikan masalah
87,0 90,8 89,2 10. Terbiasa mengajak orang tua sebagai teman diskusi 77,6 82,5 80,5 11. Merasa ragu untuk saling bertukar fikiran dengan orang tua 29,5 19,2 23,4 12. Memiliki kebebasan untuk mengajukan saran dan pendapat
kepada orang tua
88,2 90,8 89,7 Keterangan: L= Laki-laki, P= Perempuan
Masih terdapat lebih dari sepersepuluh mahasiswa TPB merasa bahwa pendapat orang tua selalu benar (17,1%) serta merasa segan mengkritik sikap orang tua (15,1%). Hampir sepertiga (31,7%) mahasiswa TPB tidak dapat menolak pendapat orang tua. Mahasiswa memiliki presentase lebih tinggi (10,3%) dibandingkan mahasiswi dalam hal masih merasa ragu untuk saling bertukar fikiran dengan orang tua (Tabel 20).
Lebih dari setengah mahasiswa (69,4%) maupun mahasiswi (60,0%) memiliki kemandirian emosi yang berada pada kategori sedang. Skor rata-rata kemandirian emosi mahasiswa 23,1 dengan rentang skor 17-33 dan mahasiswi 23,4 dengan rentang skor 12-35 (Tabel 21).
Tabel 21 Sebaran berdasarkan kemandirian emosi dan jenis kelamin Kategori Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%) Rendah (12-19) 17,6 19,2 18,5 Sedang (20-27) 69,4 60,0 63,9 Tinggi (28-35) 12,9 20,8 17,6
Total 100,0 100,0 100,0
Kemandirian Perilaku. Kemandirian perilaku, yaitu suatu kemampuan
untuk membuat keputusan-keputusan tanpa tergantung pada orang lain dan melakukannya secara bertanggung jawab terhadap konsekuensi yang ada (Steinberg 1999). Kemandirian perilaku ditandai dengan adanya rasa tanggung jawab, rasa percaya diri, disiplin, inisiatif, dan motivasi dalam diri remaja. Masih terdapat lebih dari sepertiga (35,1%) mahasiswa TPB merasa belum mampu merencanakan sendiri hal-hal penting yang menyangkut masa depannya. Lebih dari seperempat (29,3%) mahasiswa TPB belum dapat mengambil keputusan sendiri dalam menentukan pilihan perguruan tinggi (Tabel 22).
Lebih dari sepertiga (34,7%) mahasiswa TPB belum mampu menentukan pilihan sendiri tanpa bantuan orang tua atau teman. Persentase mahasiswa lebih rendah (17,9%) dibandingkan mahasiswi dalam hal meminta bantuan orang tua dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi (Tabel 22). Lebih dari setengah mahasiswa (71,8%) maupun mahasiswi (68,3%) memiliki kemandirian perilaku yang berada pada kategori sedang. Skor rata-rata kemandirian perilaku mahasiswa 44,3 dengan rentang skor 29-62 dan mahasiswi 41,7 dengan rentang skor 23-60 (Tabel 23).
Tabel 22 Sebaran yang menyetujui pernyataan kemandirian perilaku No. Pernyataan L (%) P (%) Total (%) 1. Meminta bantuan orang tua dalam menyelesaikan masalah
yang sedang dihadapi 52,9 70,8 63,4 2. Meminta bantuan kepada orang tua hanya untuk masalah
tertentu saja yang bukan menyangkut masalah pribadi
70,6 55,8 62,0 3. Mampu merencanakan sendiri hal-hal penting yang
menyangkut masa depan
69,4 63,3 65,9 4. Senantiasa berusaha sendiri mengatasi kesulitan yang
sedang dihadapi
68,2 69,2 68,8 5. Merasa sudah sanggup melaksanakan keputusan secara
bertanggung jawab
71,7 55,0 62,0 6. Mengetahui kapan harus meminta saran/ pendapat dari
orang tua tentang keputusan yang akan diambil
91,8 95,8 94,1 7. Mampu mengambil sikap tegas terhadap
pengaruh-pengaruh yang merugikan diri sendiri
80,0 83,3 82,0 8. Mampu mengambil jalan alternatif dari tindakan-tindakan
yang saya lakukan
87,1 85,8 86,3 9. Melakukan aktivitas/ kegiatan yang sesuai dengan
pandangan orang tua
69,4 65,8 67,4 10. Dapat menolak dengan tegas untuk melakukan sesuatu
yang dipandang dapat menyesatkan diri sendiri
83,6 94,2 89,8 11. Mengambil keputusan sendiri dalam menentukan pilihan
perguruan tinggi
77,7 65,8 70,7 12. Mampu menentukan pilihan sendiri tanpa bantuan orang
tua atau teman
44,7 27,5 34,7 13. Dapat menggunakan uang dan mengatur keuangan pribadi
dengan baik
72,9 54,2 61,9 14. Dapat menerima kritikan dan masukan dari orang lain yang
membangun bagi diri sendiri
100,0 95,8 92,1 15. Tidak langsung menelan mentah-mentah informasi yang
didapat
97,6 95,0 97,5 16. Mampu mengevaluasi kembali keyakinan dan nilai-nilai
yang diberikan oleh orang lain
97,6 95,0 96,1 17. Merasa mampu untuk bertahan tinggal jauh dari orang tua 87,1 75,8 80,4 18. Merasa mampu menjaga kesehatan dan merawat diri sendiri 88,3 76,6 81,5 19. Dapat mengerjakan segala sesuatu yang menyangkut
kepentingan pribadi dengan mandiri
91,8 88,3 89,8 20. Mampu menganalisa suatu masalah dengan baik 80,0 70,0 74,1 21. Mampu mencari solusi atas permasalahan yang saya hadapi 85,9 81,6 84,3 Keterangan: L= Laki-laki, Pi= Perempuan
Tabel 23 Sebaran berdasarkan kemandirian perilaku dan jenis kelamin Kategori Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%) Rendah (23-36) 9,4 23,3 17,6 Sedang (37-50) 71,8 68,3 69,8 Tinggi (51-64) 18,8 8,3 12,7
Kemandirian Nilai. Kemandirian nilai adalah kemampuan memaknai
seperangkat prinsip tentang hal yang benar dan salah, serta tentang hal apa saja yang penting dan apa yang tidak penting (Steinberg 1999). Keyakinan mengenai nilai-nilai yang dianggap prinsip oleh mahasiswa ditunjukkan dengan kemampuan mahasiswa dalam membedakan mana yang dianggap benar atau salah atau penting tidak penting. Seluruh mahasiswa (100,0%) dan sebagian besar mahasiswi (97,5%) menyatakan dapat menghargai perbedaan pendapat karena masing-masing orang mempunyai pendapatnya sendiri. Mahasiswa TPB menyetujui dalam menghargai hak orang lain karena hal itu merupakan kunci sukses dalam pergaulan. Selain itu, sebagian besar mahasiswa (96,4%) dan mahasiswi (98,4%) mempunyai keyakinan bahwa Tuhan itu ada dan menyatakan dapat membedakan perbuatan yang buruk dan baik (Tabel 24).
Tabel 24 Sebaran yang menyetujui pernyataan kemandirian nilai
No. Pernyataan L (%) P (%) Total (%) 1. Mampu mengingatkan orang tua terhadap suatu hal tanpa
menimbulkan kesalahpahaman
87,0 83,3 84,8 2. Menghargai perbedaan pendapat karena masing-masing
orang mempunyai pendapatnya sendiri
100,0 97,5 98,6 3. Sulit menerima orang sebagai teman dengan agama, ras,
dan tingkat sosial ekonomi yang berbeda
20,0 8,3 13,2 4. Mempunyai keyakinan bahwa yang saya lakukan adalah hal
yang terbaik
78,8 77,5 78,1 5. Menghargai hak orang lain karena hal itu merupakan kunci
sukses dalam pergaulan
98,8 98,4 98,5 6. Agama yang saya anut bukan karena warisan dari orang tua 69,4 60,8 64,3 7. Menyakini bahwa nilai-nilai yang saya miliki lebih sesuai
dari pada yang diwariskan oleh orang tua kepada saya
67,1 43,4 53,2 8. Mempunyai keyakinan bahwa Tuhan itu ada 96,4 98,4 97,6 9. Dapat membedakan perbuatan yang buruk dan baik 97,6 97,5 97,5 10. Mempunyai prinsip sendiri atas suatu hal dan dapat
bertanggung jawab serta memiliki argumentasi terhadap prinsip tersebut
95,2 95,0 95,1
11. Merasa telah sesuai antara pikiran dan tingkah laku berdasarkan prinsip yang saya miliki
74,1 74,2 74,1 Keterangan: L= Laki-laki, P= Perempuan
Hampir tiga per empat mahasiswa (74,1%) dan lebih dari tiga per empat mahasiswi (76,7%) memiliki kemandirian nilai yang berada pada kategori sedang. Skor rata-rata kemandirian nilai mahasiswa adalah 24,4 dengan rentang skor 17-33 dan mahasiswi 23,5 dengan rentang skor 12-32 (Tabel 25).
Tabel 25 Sebaran berdasarkan kemandirian nilai dan jenis kelamin Kategori Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%) Rendah (12-19) 4,7 10,8 8,3 Sedang (20-27) 74,1 76,7 75,6 Tinggi (28-35) 21,2 12,5 16,1
Total 100,0 100,0 100,0
Berdasarkan sebaran tingkat kemandirian, lebih dari empat per lima mahasiswa (82,4%) dan lebih dari tiga per empat mahasiswi (78,3%) memiliki tingkat kemandirian yang berada pada kategori sedang dengan rentang skor 77-102. Skor rata-rata tingkat kemandirian mahasiswa 91,8 dengan rentang skor 65-127 dan mahasiswi 88,9 dengan rentang skor 51-119. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa lebih mandiri dibandingkan mahasiswi (Tabel 26).
Tabel 26 Sebaran berdasarkan kategori kemandirian total dan jenis kelamin
Kategori Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%) Rendah (51-76) 4,7 10,8 8,3 Sedang (77-102) 82,4 78,3 80,0 Tinggi (103-128) 12,9 10,8 11,7
Total 100,0 100,0 100,0
Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri adalah reaksi seseorang karena adanya tuntutan yang dibebankan pada dirinya (Lazarus 1961). Sebagian besar mahasiswa (88,2%) dan mahasiswi (91,7%) merasa mampu mendapatkan nilai yang bagus karena merasa mampu membagi antara waktu belajar dan waktu bermain atau berkumpul bersama teman. Lebih dari setengah mahasiswa (56,5%) dan mahasiswi (53,5%) merasa membutuhkan banyak privasi karena tidak dapat belajar selama yang diinginkan (Tabel 27).
Hampir tiga per empat mahasiswa (74,1%) dan hampir empat per lima mahasiswi (79,2%) mengkhawatirkan adanya pergaulan bebas karena takut terseret ke dalam arus pergaulan tersebut. Presentase mahasiswa lebih besar dalam hal mengalami kesulitan berteman dan bersosialisasi dalam suatu komunitas, serta kesulitan dalam mengakses informasi. Masih terdapat sepertiga (33,2%) mahasiswa TPB yang mengalami kesulitan untuk konsultasi/ curhat. Lebih dari dua per lima (42,4%) mahasiswa TPB mengalami kesulitan mendapatkan bantuan dari dosen pembimbing akademik/ konselor (Tabel 27).
Tabel 27 Sebaran yang menyetujui pernyataan penyesuaian diri No. Pernyataan L (%) P (%) Total (%) 1. Merasa mampu mendapatkan nilai yang bagus 88,2 91,7 90,2 2. Merasa mampu membagi antara waktu belajar dan waktu
bermain/ berkumpul bersama teman
61,2 70,8 66,8 3. Merasa bingung tentang prioritas, nilai, dan keyakinan 41,2 35,8 38,0 4. Merasa kesulitan saat membuat pilihan prioritas antara
kegiatan akademik dan non-akademik
34,1 37,5 36,1 5. Merasa tidak tenang berangkat ke kampus jika cuaca buruk 27,1 27,5 27,3 6. Mengalami kesulitan berteman 20,0 14,2 16,6 7. Mengalami kesulitan untuk berpartisipasi dalam aktifitas
sosial di kampus
29,4 30,8 30,2 8. Merasa terasingkan dari komunitas di kampus 10,6 9,2 9,8 9. Mengalami kesulitan berteman dengan komunitas tertentu
(di kelas)
30,6 26,7 28,3 10. Mengalami kesulitan berteman dengan teman sekamar di
asrama
7,1 11,7 9,8 11. Merasa sendirian karena rindu dengan keluarga 9,4 28,3 20,5 12. Merasa tegang karena kehilangan kontak dengan teman
SMA
25,9 20,8 22,9 13. Mengalami konflik atau pertengkaran dengan teman
sekamar di asrama
11,8 19,2 16,1 14. Mengalami kesulitan menemukan seseorang yang
dibutuhkan untuk konsultasi (bidang akademik maupun cuhat (curahan hati))
32,9 33,3 33,2
15. Mengalami kesulitan mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan dapat membantu dari pihak asrama maupun perguruan tinggi
36,5 29,2 32,3
16. Mengalami kesulitan mendapatkan bantuan yang dibutuhkan dari dosen pembimbing akademik/ konselor
41,2 43,3 42,4 17. Tidak dapat menggunakan perpustakaan saat dibutuhkan 25,9 7,5 15,1 18. Tidak dapat menemukan tempat yang cukup nyaman untuk
belajar
34,1 29,2 31,2 19. Merasa membutuhkan banyak privasi 56,5 53,3 54,1 20. Tidak dapat belajar selama yang diinginkan 54,1 50,0 51,7 21. Merasa bingung harus bagaimana dalam berteman dan
bersosialisasi di asrama dan di kampus
21,2 22,5 22,0 22. Khawatir tentang adanya pergaulan bebas 74,1 79,2 77,1 23. Takut terseret pergaulan bebas 69,4 72,5 71,2 Keterangan: L= Laki-laki, P= Perempuan
Hampir setengah mahasiswa (49,4%) memiliki penyesuaian diri yang berada pada kategori cukup baik dan lebih dari dua per lima (40,0%) berada pada kategori baik. Pada mahasiswi hampir setengahnya (48,3%) memiliki penyesuaian diri yang berada pada kategori baik dan hampir setengahnya lagi (42,5%) berada pada kategori cukup baik. Skor rata-rata penyesuaian diri mahasiswa adalah 16,9 dengan rentang skor 8-25 dan mahasiswi 17,4 dengan rentang skor 3-25 (Tabel 28).
Tabel 28 Sebaran berdasarkan kategori penyesuaian diri dan jenis kelamin
Kategori Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
Kurang (3-10) 10,6 9,2 9,8
Cukup baik (11-18) 49,4 42,5 45,4 Baik (19-25) 40,0 48,3 44,9
Total 100,0 100,0 100,0
Stres
Stres merupakan hal yang secara alami menjadi bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan suatu keluarga maupun individu sebagai anggota keluarga (Hernawati 2006). Dalam penelitian ini, stres mahasiswa dilihat berdasarkan sumber stres yang didapat dari pengelompokan jawaban pertanyaan terbuka, gejala stres berdasarkan segi fisik dan emosional, serta tingkat stres yang dimiliki mahasiswa TPB.
Sumber Stres. Sumber stres bagi mahasiswa baru antara lain belum
pernah mengalami kost sebelumnya, terlalu banyak teman sekamar dimana satu kamar asrama dihuni oleh 4 orang. Selain itu, kesulitan beradaptasi dengan teman sekamar, masalah pribadi, kesulitan berteman dan memahami materi kuliah, masalah kesehatan, homesick (rindu keluarga), serta masalah keuangan dapat menjadi sumber stres tersendiri bagi mahasiswa baru (Hernawati 2006).
Tabel 29 Sebaran berdasarkan pertanyaan terbuka mengenai sumber stres utama dan jenis kelamin
Sumber Stres Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%)
Tidak menjawab 8,2 5,8 11,7
Tidak merasa stres 2,4 2,5 4,2 Masalah akademik (ujian, nilai, tugas) 54,1 38,3 76,7 Masalah keluarga 2,4 0,8 2,5 Masalah dengan teman 7,1 9,2 14,2 Masalah kesehatan 2,4 3,3 5,0 Masalah keuangan 0,0 1,7 1,7 Masalah pribadi 17,6 17,5 17,6
Homesick (rindu keluarga) 2,4 2,5 2,4
Masalah terkait Asrama 0,0 7,5 4,4 Manajemen waktu 3,5 10,8 7,8
Total 100,0 100,0 100,0
Lebih dari setengah mahasiswa (54,1%) dan lebih dari seperempat mahasiswi (38,3%) merasa bahwa masalah yang menjadi sumber stres utama bagi dirinya adalah masalah akademik, seperti ujian, nilai yang kurang memuaskan dan banyaknya tugas kuliah. Persentase sumber stres utama terbesar lainnya setelah
masalah akademik adalah masalah pribadi (17,6%) dan masalah dengan teman (14, 2%) (Tabel 29).
Gejala Stres. Gejala-gejala yang dialami oleh seseorang dalam keadaan
stres dapat ditunjukkan secara fisik maupun emosional (Wilkinson 1989 dalam Hernawati 2006). Rata-rata skor jawaban untuk gejala stres dari 20 pernyataan dengan skala 0-4 yang diajukan adalah mahasiswa 1,4 dan mahasiswi 1,5. Hal ini berarti, mahasiswa jarang sedangkan mahasiswi hampir kadang-kadang mengalami gejala stres (Tabel 30).
Tabel 30 Sebaran rata-rata skor pernyataan gejala stres berdasarkan jenis kelamin
No. Pernyataan Rata-rata skor
Laki-laki Perempuan Gejala stres fisik
1. Saya merasa pusing atau sakit kepala tanpa alasan yang jelas
1,52 2,04 2. Badan saya terasa pegal-pegal, terutama pada bagian
leher, punggung, dan bahu
1,94 2,46 3. Saya sering menjatuhkan barang atau tersandung 1,26 1,47
4. Saya mengalami kejang pada otot serta tangan yang gemetaran
0,95 1,11 5. Saya merasakan kering pada bagian mulut dan
tenggorokan
1,42 1,56 6. Detak jantung saya berdebar dengan keras dan cepat 1,20 1,12
7. Saya merasakan nyeri yang teramat sangat di dada, lengan atau tungkai secara tiba-tiba
0,84 0,79 8. Saya merasa kedinginan dan berkeringat lebih banyak
dari biasanya
0,99 0,91 9. Saya lebih sering buang air kecil dari biasanya 1,06 1,14
10. Saya mengalami perubahan berat badan 1,68 1,98
Rata-rata Subskor 1,28 1,45
Gejala stres emosional
11. Saya merasa lemas dan kurang energi 1,68 1,69 12. Saya merasa tidak punya waktu yang cukup untuk
beristirahat
1,91 1,99 13. Saya membayangkan hal-hal yang buruk terjadi 1,53 1,76
14. Perasaan saya sensitif dan mudah tersinggung 1,69 1,91 15. Saya mengalami insomnia atau susah tidur 1,36 1,28 16. Saya merasa sangat sedih dan inginnya menangis 1,05 1,71 17. Saya merasa tegang dan tidak bisa tenang 1,19 1,23 18. Saya merasa tertekan karena peraturan asrama dan
kuliah
1,06 1,13 19. Saya sulit untuk berkonsentrasi 1,91 1,92
20. Saya cepat sekali marah 1,47 1,42 Rata-rata subskor 1,48 1,60
Rata-rata total 1,38 1,53
Gejala stres yang dirasakan oleh mahasiswa TPB dengan skor tertinggi, menunjukkan bahwa gejala stres fisik yang kadang-kadang dialami oleh mahasiswa dan mahasiswi adalah badan terasa pegal-pegal, terutama pada bagian leher, punggung, dan bahu serta merasa pusing atau sakit kepala tanpa alasan yang jelas. Gejala stres emosional yang hampir kadang-kadang dirasakan oleh mahasiswa dan mahasiswi adalah merasa tidak punya waktu yang cukup untuk beristirahat serta sulit berkonsentrasi (Tabel 30).
Tingkat stres. Tingkat stres dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga
kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi yang diukur berdasarkan gejala stres yang dimiliki. Lebih dari setengah mahasiswa TPB (57,6%) mengalami stres dengan kategori sedang. Skor rata-rata tingkat stres mahasiswa adalah 27,7 dengan rentang skor 3-61 dan mahasiswi 30,6 dengan rentang skor 9-59 (Tabel 31).
Tabel 31 Sebaran berdasarkan tingkat stres dan jenis kelamin Kategori Laki-laki (%) Perempuan (%) Total (%) Rendah (3-22) 32,9 23,3 27,3 Sedang (23-42) 54,1 60,0 57,6 Tinggi (43-61) 12,9 16,7 15,1
Total 100,0 100,0 100,0
Perbedaan Kemandirian, Penyesuaian Diri, dan Stres Mahasiswa TPB
Berdasarkan uji beda variabel kemandirian, penyesuaian diri, dan stres mahasiswa TPB berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaaan yang signifikan pada kemandirian mahasiswa mahasiswa dan mahasiswi. Hasil statistik menunjukkan mahasiswa lebih mandiri dibandingkan mahasiswi (Tabel 32).
Tabel 32 Hasil uji beda kemandirian, penyesuaian diri, dan tingkat stres Variabel Rata-rata p-value Laki-laki Perempuan Kemandirian emosi 23,09 23,41 0,592 Kemandirian perilaku 44,29 41,66 0,004* Kemandirian nilai 24,42 23,54 0,071 Kemandirian total 91,80 88,61 0,039* Penyesuaian diri 16,96 17,37 0,519 Stres 27,71 30,60 0,145 Keterangan: *= p-value < 0,05
Pengaruh Karakteristik Individu dan Karakteristik Keluarga terhadap Kemandirian
Hasil uji regresi untuk karakteristik individu dan karakteristik keluarga yang memengaruhi kemandirian mahasiswa TPB diperoleh adjusted R square sebesar 0,064. Artinya, sebesar 6,4% faktor yang berpengaruh terhadap kemandirian dapat dijelaskan oleh model, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti. Jenis kelamin dan lama pendidikan ibu berpengaruh terhadap kemandirian mahasiswa TPB. Mahasiswa lebih mandiri dibandingkan mahasiswi (B= -3,956; p= 0,017). Lama pendidikan ibu berpengaruh positif nyata (B= 0,675; p= 0,004) terhadap kemandirian (Tabel 33).
Tabel 33 Hasil uji regresi karakteristik individu dan karakteristik keluarga terhadap kemandirian
Variabel Koefisien tidak terstandarisasi (B) Koefisien terstandarisasi (β) Sig. Konstanta 81,696 0,000
Jenis kelamin (0= laki-laki, 1= perempuan)
-3,956 -0,174 0,017* Urutan kelahiran (0= lainnya,
1= sulung)
1,180 0,093 0,201 Lama pendidikan ibu (tahun) 0,675 0,212 0,004**
Adjusted R2 0,064
Signifikansi model 0,002 Ket: **= nyata pada p ≤ 0,01, *= nyata pada p ≤ 0,05
Pengaruh Karakteristik Individu, Karakteristik Keluarga, dan Kemandirian terhadap Penyesuaian Diri
Hasil uji regresi untuk faktor-faktor yang memengaruhi penyesuaian diri mahasiswa TPB diperoleh adjusted R square sebesar 0,119. Artinya, sebesar 11,9% faktor yang berpengaruh terhadap penyesuaian diri dapat dijelaskan oleh model, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti. Pendapatan ayah (B= 54,252E-7, p= 0,039) dan kemandirian (B= 0,090; p= 0,059) berpengaruh positif nyata terhadap penyesuaian diri mahasiswa TPB (Tabel 34).
Tabel 34 Hasil uji regresi karakteristik individu, karakteristik keluarga, dan Kemandirian terhadap penyesuaian diri
Variabel Koefisien tidak terstandarisasi (B)
Koefisien terstandarisasi (β)
Sig.
Konstanta 18,937 0,000
Uang saku (rupiah/ bulan) 2,089E-6 0,117 0,143 Usia ayah (tahun) -0,119 -0,139 0,066 Kelengkapan ayah-ibu (0=tidak
lengkap, 1= lengkap)
-1,038 -0,091 0,201 Lama pendidikan ibu (tahun) 0,113 0,090 0,266 Pendapatan ayah (rupiah/ bulan) 4,252E-7 0,172 0,039* Besar keluarga (orang) -0,272 -0,078 0,315 Kemandirian perilaku (skor) 0,090 0,135 0,050*
Adjusted R2 0,119
Signifikansi model (p) 0,000 Ket: **= nyata pada p ≤ 0,01, *= nyata pada p ≤ 0,05
Pengaruh Karakteristik Individu, Karakteristik Keluarga, Kemandirian, dan Penyesuaian Diri terhadap Stres
Hasil uji regresi untuk faktor-faktor yang memengaruhi stres mahasiswa TPB diperoleh adjusted R square sebesar 0,267. Artinya, sebesar 26,7% faktor yang berpengaruh terhadap stres dapat dijelaskan oleh model, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti. Umur ibu (B= -0,025, p= 0,031), kemandirian (B= -0,006; p= 0,039), dan penyesuaian diri (B= -0,71; p= 0,000) berpengaruh negatif nyata terhadap stres mahasiswa TPB (Tabel 35).
Tabel 35 Hasil uji regresi karakteristik individu, karakteristik keluarga, kemandirian, dan penyesuaian diri terhadap stres
Variabel Koefisien tidak terstandarisasi (B) Koefisien terstandarisasi (β) Sig. Konstanta 4,261 0,001 Umur (tahun) -0,079 -0,082 0,210 Jenis kelamin (0= mahasiswa,
1=mahasiswi)
0,129 0,101 0,128 Uang saku (rupiah/bulan) 2,784E-7 0,110 0,101 Umur ayah (tahun) 0,16 0,127 0,194 Umur ibu (tahun) -0,025 -0,209 0,031* Kemandirian total (skor) -0,006 -0,112 0,039* Penyesuaian diri (skor) -0,71 -0,500 0,000*
Adjusted R2 0,267
Signifikansi model (p) 0,000 Ket: **= nyata pada p ≤ 0,01, *= nyata pada p ≤ 0,05
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa TPB secara keseluruhan termasuk ke dalam kategori remaja akhir (18-21 tahun). Hal ini sesuai dengan pernyataan Monks, et al., 2001 yang menyatakan bahwa mahasiswa jika dilihat dari umur terbagi kedalam dua kategori, yaitu kategori remaja akhir (18-21 tahun) dan kategori dewasa awal (22-28 tahun). Menurut Hurlock (1980), urutan kelahiran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kepribadian dan pola perilaku individu. Bedasarkan urutan kelahiran, hampir keseluruhan mahasiswa TPB merupakan anak sulung. Hanya sebagian kecil saja yang merupakan anak tunggal. Berdasarkan uang saku per bulan, sebaran mahasiswa mendapatkan uang saku kurang dari Rp500.000, sedangkan mahasiswi mendapatkan uang saku di kisaran Rp500.001-Rp1.000.000.
Hasil penelitian menunjukkan umur ayah-ibu mahasiswa TPB secara keseluruhan berada pada kategori dewasa madya (41-65 tahun), mengacu pada Hurlock (1980) yang mengkategorikan umur menjadi tiga kelompok, dewasa muda (18-40 tahun), dewasa madya (41-65 tahun), dan Tua (>65 tahun). Berdasarkan kelengkapan ayah-ibu mahasiswa TPB memiliki ayah-ibu yang masih utuh. Berdasarkan pendidikan terakhir ayah-ibu, sebaran mahasiswa TPB memiliki ayah-ibu yang menamatkan pendidikan hingga SMA/sederajat.
Mahasiswa TPB sebagian besar memiliki ayah yang bekerja sebagai pegawai, guru, dan dosen yang tergolong sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Ibu mahasiswa TPB sebagian besar tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga (IRT). Pendapatan ayah mahasiswa TPB berada di kisaran Rp1.000.001-Rp2.000.000, sedangkan pendapatan kurang dari Rp1.000.000. Besar keluarga mahasiswa TPB berdasarkan BKKBN (1996) berada pada kategori keluarga sedang (5-7 orang).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa lebih mandiri dibandingkan mahasiswi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Hawadi (2001) dalam Ruhidawati (2005) yang menunjukkan bahwa remaja laki-laki lebih mandiri dibandingkan perempuan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan perlakuan dari orang tua dan lingkungan sosial terhadap remaja laki-laki dan perempuan sejak kecil.
Anak laki-laki lebih dituntut untuk tidak cengeng atau gampang menangis jika terjadi sesuatu padanya, sementara anak perempuan lebih bebas mengungkapkan dan menunjukkan ekspresi emosi yang dirasakan olehnya. Pada akhirnya, anak laki-laki telah terlatih dalam proses pemecahan masalah dan bersikap independent. Sifat kepatuhan yang dinilai lebih pada remaja perempuan menjadikannya kurang mandiri, sementara konflik yang terjadi antara remaja laki-laki dan orang tua menjadikannya lebih mandiri (Steinberg 1993).
Tugas perkembangan masa remaja salah satunya mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya (Hurlock 1980). Hasil penelitian mengenai kemandirian mahasiswa TPB menunjukkan bahwa masih terdapat kurang dari sepertiga (31%) mahasiswa TPB merasa belum mampu merencanakan sendiri hal-hal penting yang menyangkut masa depannya. Lebih dari seperlima (22%) mahasiswa TPB belum dapat mengambil keputusan sendiri dalam menentukan pilihan perguruan tinggi. Lebih dari setengah mahasiswa TPB belum mampu menentukan pilihan sendiri tanpa bantuan orang tua atau teman (55%). Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian emosi, perilaku, dan nilai, serta kemandirian mahasiswa dan mahasiswi tergolong sedang cenderung tinggi. Hal ini berarti mahasiswa dan mahasiswi sudah dapat dianggap telah memenuhi indikator kemandirian, meliputi kemandirian emosi, perilaku, dan nilai.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian diri mahasiswa TPB tergolong baik. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa TPB telah mampu menyesuaikan diri dengan baik setelah melewati satu semester di tingkat persiapan bersama. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Hurlock (1980) yang menyatakan bahwa penyesuaian diri kepada situasi baru selalu sulit dan selalu disertai dengan bermacam-macam ketegangan emosi, tetapi sebagian besar kesulitan dapat dihilangkan kalau individu sudah sadar akan apa yang terjadi kemudian dan secara bertahap mempersiapkan diri.
Masalah yang paling banyak dianggap menjadi sumber stres mahasiswa adalah masalah akademik yang berkaitan dengan saat menghadapi ujian, nilai yang memuaskan, dan banyaknya tugas kuliah. Selain itu masalah pribadi, masalah dengan teman, kesulitan beradaptasi dengan lingkungan, dan manajemen
waktu juga menjadi sumber stres tersendiri bagi mahasiswa TPB. Hal ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hernawati (2006) mengenai tingkat stres mahasiswa TPB tahun akademik 2005/2006.
Gejala-gejala yang dialami oleh seseorang dalam keadaan stres dapat ditunjukkan secara fisik maupun emosional (Wilkinson 1989 dalam Hernawati 2006). Berdasarkan skor rata-rata gejala stres fisik jarang dialami oleh mahasiswa dan mahasiswi, sedangkan gejala stres emosional jarang dialami oleh mahasiswa namun hampir kadang-kadang dialami oleh mahasiswi. Hasil penelitian menunjukkan stres mahasiswa dan mahasiswi tergolong sedang.
Pengaruh karakteristik individu yang meliputi jenis kelamin serta karakteristik keluarga yang meliputi pendidikan ibu terhadap kemandirian mahasiswa TPB hanya dapat menjelaskan variabel yang berpengaruh sebesar 7,1%, sedangkan sisanya 92,9% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti. Gunarsa dan Gunarsa (1989) menyebutkan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal perasaan, bertindak, dan berfikir sudah ada sebelum remaja mampu untuk menerima perbedaan perlakuan dari lingkungannya untuk berperan secara berbeda berdasarkan jenis kelamin.
Jenis kelamin berpengaruh negatif nyata terhadap kemandirian mahasiswa TPB. Artinya, mahasiswa memiliki kemandirian yang lebih baik dibandingkan mahasiswi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Oliva (2000) dalam Aprilia (2011) yang menemukan bahwa terdapat peningkatan kemandirian emosional yang signifikan pada remaja laki-laki, di sepanjang masa awal dan akhir remaja, sedangkan nilai kemandirian emosional pada remaja perempuan hampir sama pada semua kelompok umur remaja.
Lama pendidikan ibu berpengaruh positif nyata terhadap kemandirian mahasiswa TPB. Artinya, semakin tinggi pendidikan ibu maka akan semakin tinggi pula tingkat kemandirian mahasiswa TPB. Hasil ini sesuai dengan pernyataan Watson (1967) dalam Aprilia (2011) yang menyebutkan bahwa tingkat pendidikan ibu akan memengaruhi sikap dan tingkah lakunya dalam menghadapi anak-anaknya, artinya ibu berpendidikan akan bersikap lebih baik. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Widjaja (1986) yang menemukan bahwa faktor pendidikan ibu berperan dalam pembentukan kemandirian pada anak, artinya
semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, maka ia akan lebih mendorong kemandirian anak sehingga anak menjadi lebih mandiri.
Pengaruh karakteristik pendapatan ayah serta kemandirian terhadap penyesuaian diri mahasiswa TPB hanya dapat menjelaskan 11,9% variabel yang berpengaruh, sedangkan sisanya 89,1% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti. Ayah bertanggung jawab secara primer terhadap kebutuhan finansial keluarga (Hidayati et.al. 2011). Pendapatan ayah berpengaruh positif nyata terhadap penyesuaian diri mahasiswa TPB. Artinya, semakin tinggi pendapatan ayah maka penyesuaian diri mahasiswa TPB juga akan semakin baik.
Kemandirian berpengaruh positif nyata terhadap penyesuaian diri mahasiswa TPB. Artinya, semakin tinggi kemandirian mahasiswa TPB maka penyesuaian dirinya juga akan semakin tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2005) mengenai hubungan kemandirian dengan penyesuaian diri pada Siswi Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta yang menunjukkan bahwa faktor kemandirian memiliki peranan yang cukup besar dalam penyesuaian diri dengan memberikan sumbangan efektif sebesar 67,1% sisanya 32,9% adalah faktor lain di luar kemandirian.
Faktor yang memengaruhi stres mahasiswa TPB adalah umur ibu, kemandirian, penyesuaian diri. Model uji regresi yang digunakan dapat menjelaskan sebesar 26,7% variabel yang berpengaruh, sedangkan sisanya 73,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti. Umur ibu berpengaruh negatif nyata terhadap stres mahasiswa TPB. Artinya, semakin tua umur ibu maka stres yang dimiliki mahasiswa TPB akan semakin rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2007) mengenai tingkat stres dan coping stress strategy pada prajurit Zeni di pusat pendidkan Zeni Kodiklat TNI AD, Kota Bogor yang juga menunjukkan umur ibu berpengaruh negatif terhadap tingkat stres, berhubungan dengan kelekatan anak-anak dan ibu serta dukungan yang diberikan ibu terhadap anak. Ibu yang berumur lebih tua relatif memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam mengatasi masalah, sehingga dapat lebih bijak dalam memberikan nasehat kepada anaknya.
Kemandirian berpengaruh negatif nyata terhadap stres, artinya semakin mandiri mahasiswa TPB maka stresnya akan semakin rendah. Menurut Papalia
et.al. (2008) bagi anak muda pada masa transisi dari remaja ke dewasa, keterbukaannya terhadap pendidikan atau lingkungan baru yang terkadang jauh dari rumahnya, menawarkan peluang untuk mengasah kemampuannya.
Penyesuaian diri berpengaruh negatif nyata terhadap stres mahasiswa TPB. Artinya, semakin baik penyesuaian diri maka semakin rendah stres yang dimiliki oleh mahasiswa TPB. Hal ini sejalan dengan penelitian Herawati (2007) yang menyatakan bahwa seseorang yang mampu untuk menyesuaikan diri dengan baik maka stresnya rendah, sebaliknya jika orang tersebut tidak mampu melakukan penyesuaian diri dengan baik maka stresnya tinggi. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Hurlock (1980) bahwa orang-orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, jarang dan tidak terlampau mengungkapkan perasaan negatif seperti takut, marah, dan iri hati daripada mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu pada teknik sampling dan pegumpulan data. Pada teknik sampling, penarikan mahasiswa TPB hanya diacak berdasarkan nama menurut data asrama putra dan asrama putri, sehingga mahasiswa TPB yang terpilih tidak seimbang di tiap gedung. Teknik sampling yang baik adalah dengan cara penarikan mahasiswa TPB yang diacak pada keseluruhan populasi yang ada, sehingga tiap unit penelitian dari populasi tersebut mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih. Hasil pernyataan mengenai sumber stres dalam penelitian ini hanya dibahas secara deskriptif dan tidak diuji pengaruh, hal ini dikarenakan data diperoleh secara terbuka sehingga tidak memiliki konstrak validitas.