• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 4

PENGUMPULAN, PENGOLAHAN

DAN ANALISA DATA

4.1 Pengumpulan Data

Perhitungan-perhitungan yang dilakukan berdasarkan data-data sekunder, data-data observasi serta wawancara subjek yang berhubungan langsung dengan penelitian ini, adapun data-data tersebut adalah informasi yang berhubungan dengan item UTP-2057019570 atau TOOTH yang dijadikan subjek atau sampel penelitian, item tersebut diambil karena memiliki permintaan yang banyak setiap bulannya serta pola permintaan yang memiliki tingkat keacakan yang cukup tinggi. Data-nya adalah sebagai berikut:

1. Safety Stock

Berdasarkan kebijakan perusahaan, safety stock level ditetapkan sebesar 1 kali Average Final Forecast Demand (FFD) 1 tahun ke depan. Dan safety stock level di tahun 2008 adalah sebesar 3.947 pcs.

(2)

2. Data Actual Sales tahun 2008

Data ini meliputi jumlah penjualan item TOOTH dalam kurun waktu 1 tahun di tahun 2008 :

Grafik 4.1 Demand UTP-2057019570/TOOTH tahun 2008

Dari data historik permintaan item TOOTH di atas, dapat diketahui tingkat keacakan (deviasi) dari permintaan atas item tersebut adalah rata-rata sebesar 1543 pcs (1542,6 pcs) selama tahun 2008.

3. Data Waktu Tenggang (Lead Time)

Berdasarkan informasi dari narasumber, lead time standar dari item TOOTH memerlukan waktu 3 bulan, mulai dari analisa berapa yang harus di pesan sampai item tersebut diterima di gudang, Berikut adalah gambarannya:

(3)

Gambar 4.1 Time Fence of Lead Time Order 4. Data Biaya Pembelian (Order cost)

Berdasarkan informasi dari narasumber, Order cost ditentukan sebesar Rp 800.000 ribu per sekali order untuk item TOOTH, angka tersebut dihitung mulai dari biaya email, fax, telepon, proses shipment,

custom clearance, tax, hingga forwarder dari sea port ke gudang

perusahaan.

5. Data Biaya Penyimpanan (Holding cost/Carrying cost)

Berdasarkan informasi dari narasumber, Holding cost atau

carrying cost ditentukan berdasarkan bank rate, dimana dalam satu tahun holding cost atau carrying cost tersebut saat ini ditargetkan sebesar 10%

dari total sales amount dari item TOOTH, harga dari item TOOTH adalah sebesar RP 70.000 per pcs, sedangkan total penjualannya di tahun 2008 adalah sebesar 45299 pcs sehingga Holding Cost (HC) atau

Carrying Cost (CC) yang ditanggung oleh perusahaan adalah sebesar Rp

317.093.000 (70.000 x 45299 x 10%) atau bila dijadikan per pcs adalah sebesar Rp 7.000. per pcs

(4)

6. Frekuensi Pemesanan dalam satu tahun (2008)

Berdasarkan informasi dari narasumber, standar frekuensi pemesanan sebanyak 12 kali, artinya satu bulan 1 kali pesan untuk mengcover kebutuhan untuk 3 bulan mendatang. Misalkan, pesanan yang dilakukan di bulan Januari, maka akan diterima di bulan April. Gambarannya adalah sebagai berikut:

Gambar 4.2 Order and Delivery Frequency

7. Jumlah Stock awal di tahun 2008

Berdasarkan informasi dari sistem, stock awal di tahun 2008 adalah sebesar 4.787 pcs, stock di awal tahun 2008 adalah sisa stock di akhir tahun 2007 ditambah dengan pesanan yang datang di awal tahun 2008.

(5)

8. Sales Plan 2009

Berdasarkan informasi yang didapat dari perusahaan, perusahaan merencanakan untuk menjual part UTP-2057019570/TOOTH sebanyak 47,770 pcs di tahun 2009, dengan rencana permintaan perbulannya sebagai berikut (kuantitas dalam pcs):

Tabel 4.1 Sales Plan 2009

4.2 Pengolahan Data

4.2.1 Perhitungan Kebijakan Persediaan Perusahaan

Sebelum melakukan perhitungan persediaan untuk operational

plan 2009, terlebih dahulu melihat gambaran transaksi di tahun 2008,

dan berikut adalah transaksi yang terjadi sepanjang tahun 2008 yang meliputi jumlah pesanan, persediaan awal. permintaan actual, dan persediaan akhir di tahun 2008

(6)

Tabel 4.2 Tabel Transaksi Persediaan tahun 2008 (Kuantitas dalam pcs)

Dengan melihat tabel transaksi di atas, biaya yang dikeluarkan selama 1 tahun (2008) adalah sebesar Rp.304.015.333,33 Biaya tersebut adalah hasil dari transaksi pada tahun 2008, dimana frekuensi pemesanan adalah sebanyak 1 kali dalam sebulan, Sedangkan besar biaya simpan/gudang yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 294.415.333,33. Begitu juga dengan biaya pesan selama tahun 2008 adalah sebesar Rp 9.600.000,00. Untuk mengetahui nilai dari TIC maka perlu dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

(7)

Dimana :

TIC = Total Inventory Cost

OC = Order Cost , (OC = Rp 800.000/pesanan)

Order Freq. = Frekuensi Pesanan, (Ord.Freq = 1 kali)

CC = Carrying Cost/Biaya Simpan, (CC = Rp

7000/pcs)

Ave.End.Stock = Rata-rata stock akhir, (AES = 3.505 pcs/bulan)

Hasilnya perhitungannya adalah sebagai berikut :

TIC = (800.000 x 1) + (7.000 x 3505) TIC = Rp 25.334.611,11

Dengan melihat hasil dari perhitungan di atas, nilai TIC adalah sebesar Rp 25,334,611,11, nilai ini menunjukan biaya yang dikeluarkan pada saat terjadinya order dan proses stocking dalam perusahaan setiap bulannya.

Dari gambaran perhitungan di atas, dapat diketahui nilai dari

Days of Inventory (DOI), dimana end stock pada tahun 2008 adalah

sebesar 6.913 pcs, bila dikonversikan ke dalam nilai DOI, maka dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

(8)

Dimana :

DOI = Days Of Inventory

Stock End Year = Balance Stock di akhir tahun 2008

Average Sales YTD = Rata-rata penjualan tahun berjalan (Jan 2008-Des 2008)

Sehingga nilai DOI = 54 hari (1,8 bulan), dimana sisa stock di tahun 2009 tersebut digunakan untuk menutupi penjualan selama 1,8 bulan.

Proses selanjutnya adalah berdasarkan nilai DOI yang sudah dihitung, perusahaan menargetkan DOI pada akhir tahun 2009 adalah sebesar 45 hari (1,5 bulan). Dalam merealisasikan target tersebut, perusahaan akan mengatur keluar masuknya barang untuk menentukan sisa stock akhir setiap bulannya (Stock end Month) dengan menjadikan target DOI sebagai acuannya.

Sudah diketahui sebelumnya, bahwa perusahaan menetapkan

sales plan di tahun 2009 adalah sebesar 47.770 pcs. Pada saat

(9)

menggunakan pendekatan dimana dilakukan penurunan bertahap terhadap nilai DOI per bulannya yang ditentukan secara kasaran, artinya tidak ada perhitungan untuk menentukan target nilai DOI per bulannya Setelah nilai DOI per bulannya ditentukan, maka akan didapatkan nilai Stock End Month yang diinginkan dengan cara membalikkan rumus yang ada sebagai berikut :

Setelah didapatkan nilai dari stock end month yang diinginkan, selanjutnya dapat ditentukan jumlah barang yang harus didatangkan setiap bulannya (incoming parts) dengan rumus sebagai berikut :

Dan berikut adalah hasil perhitungan incoming parts dan stock

(10)

Tabel 4.3 Operational Plan 2009 (Kuantitas dalam pcs)

Pada akhirnya, akan didapatkan nilai DOI sebesar 1,5 bulan (45 hari) pada akhir tahun 2009, dengan rencana safety stock sebesar 4188 pcs dan stock end year di akhir tahun sebesar 6.315 pcs. Dengan kebijakan yang sudah diambil oleh perusahaan, dapat dihitung nilai TIC- nya sebagai berikut :

TIC = (800.000 x 1) + (7.000 x 6.687) TIC = Rp 47.609.000,-

(11)

4.2.2 Proses Simulasi

Metode Simulasi dapat digunakan untuk membantu perusahaan dalam mengevaluasi kebijakan operational plan-nya, metode simulasi dapat memberikan gambaran tentang kemungkinan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, sehingga keputusan yang akan dibuat menjadi lebih sesuai dengan kondisi sedang yang berjalan (realistis).

Proses yang dilakukan adalah dengan membuat suatu model yang menyerupai proses yang berjalan di dalam perusahaan, adapun proses yang dimodelkan adalah proses transaksi persediaan barang untuk satu tahun ke depan (operational sales plan 2009).

Sebelum mengarah pada pembuatan model dan proses simulasi, terlebih dahulu dibentuk sebuah konsep pemikiran utama dari sistem yang akan dimodelkan, hal ini dapat dituangkan ke dalam

Causal Loop Diagram, dan berikut adalah Causal Loop Diagram dari

(12)

Gambar 4.3 Causal Loop Diagram

Dari Causal Loop Diagram, menjelaskan bahwa pola atau transaksi yang berjalan berdasarkan data penjualan tahun sebelumnya

(actual sales), data tersebut dipergunakan perusahaan sebagai data

yang dihitung kembali untuk mendapatkan gambaran mengenai permintaan yang akan terjadi di periode yang akan datang (sales plan). Setelah melakukan peramalan, maka proses pemesanan (ordering) akan dilakukan, proses pemesanan dilakukan untuk memenuhi permintaan 3 bulan yang akan datang, karena dalam hal ini part UTP-2057019570/TOOTH mempunyai waktu tenggat selama 3 bulan.

Berikut ini adalah gambaran diagram aliran (flow diagram) yang dapat dihubungkan dengan causal loop diagram diatas :

(13)

Gambar 4.4 Flow Diagram

Dari gambar diatas dapat terlihat bahwa naik turunnya level (stock) dipengaruhi karena adanya pesanan yang datang (order_received) dan permintaan yang akan datang (operational_plan), model ini akan menggambarkan berapa nilai

stock end year di tahun 2009 dan berapa tingkat Days of Inventory

(DOI) yang akan dicapai. Sedangkan variabel auxiliary (jan, feb, mar,…,des) adalah jumlah pesanan yang rencananya akan diterima pada tahun 2009 yang ditentukan dengan metode perhitungan yang dilakukan perusahaan yaitu metode ABC.

(14)

Berikut adalah persamaan atau fungsi perhitungan yang digunakan pada diagram alir di atas :

init stock = stock_end_year flow stock = -dt*operational_plan +dt*order_received aux order_received = summ

aux DOI_plan = stock/(operational_plan/12)

aux summ =

Apr+Aug+Dec+Feb+Jan+Jul+Jun+Mar+May+Nov+Oct+Sept const operational_plan = 47770

Sedangkan untuk menghitung jumlah pesanan yang akan dilakukan di tahun 2009 menggunakan rumus ABC perusahaan yang diterjemahkan pada MS Excel, adapun rumusnya sebagai berikut : =IF(AND(A>=B,B>C,C>0),A/4,IF(AND(C>=B,B>A,A>0),(A+B)/8, (A+B+C)/12))

(15)

Dan Berikut adalah hasil perhitungan rencana jumlah pesanan yang akan datang di tahun 2009 :

Tabel 4.4 Plan Order Received tahun 2009 (kuantitas dalam pcs)

Setelah menghitung jumlah pesanan yang akan datang, hasilnya dimasukan ke dalam model yang sudah dibuat sebelumnya, dan berikut adalah hasil simulasi dari model di atas :

(16)

Gambar 4.5 Hasil Simulasi Tahun 2009

Dari hasil simulasi di atas, (periode awal = 0 dan periode kedua =1), bila nilai dari pesanan yang akan datang per bulannnya dimasukkan ke dalam tabel operational plan hasilnya akan terlihat seperti berikut:

(17)

Tabel 4.5 Operational Plan Versi Simulasi

Hasil simulasi menggambarkan bahwa dengan rencana pesanan yang akan datang sebesar 45.864 pcs dan stock awal di tahun 2008 sebesar 6.913 pcs (include SS) akan menutupi kebutuhan operational

plan sebanyak 47.770 pcs di tahun 2009, dan diperkirakan akan

menimbulkan stock akhir sebesar 5.007 pcs. Bila stock akhir tersebut dikonversikan menjadi nilai DOI, maka nilai DOI adalah sebesar 1,26 bulan (+ 38 hari). Jika dihitung nilai TIC yang diperkirakan timbul di tahun 2009 adalah sebagai berikut :

TIC = (800.000 x 1) + (7000 x 6.325) TIC = Rp 45.075.000,-

(18)

4.2.3 Validasi Model

Proses validasi yang dilakukan adalah mengukur deviasi yang terjadi pada tahun 2008 dengan cara membandingkan data aktual 2008 dengan hasil simulasi tahun 2008 (berdasarkan data tahun 2007). Pengukuran deviasi error dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran Absolute Mean Error (AME) sebagai berikut :

AME = ∑(Si – Ai) / N , dimana :

Si = Simulasi period ke-i

Ai = Nilai actual period ke-i

N = Interval waktu pengamatan

Dan berikut gambaran yang terjadi di tahun 2008 bila menggunakan metode simulasi dibandingkan dengan data aktual tahun 2008

(19)

Tabel 4.6 Perhitungan Absolute Mean Error (AME)

Dengan melihat tabel perhtungan di atas, batas penyimpangan antara simulasi dengan kenyataan yang dapat diterima secara statistic adalah 5 – 10 %, dengan melihat rata-rata (Jan’08-Dec’08) dari error yang terhitung adalah sebesar 9,4%, artinya error yang terjadi pada simulasi yang dilakukan masih dapat diterima batas penyimpangannya.

(20)

4.3 Analisis Hasil Perhitungan

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, hasilnya dapat dianalisa sebagai berikut :

4.3.1 Hasil Perhitungan Perusahaan

Pada saat menggunakan perhitungan perusahaan, nilai TIC menjadi lebih besar dari tahun sebelumnya (2008), hal ini dianggap wajar, karena adanya peningkatan rencana penjualan dan jumlah safety

stock periode tahun 2009. Hal ini dapat timbul khususnya pada tingkat

persediaan pada saat perusahaan menentukan nilai DOI yang ingin dicapai terlebih dahulu, baru dilakukan perhitungan dalam menentukan jumlah stock end year yang diharapkan untuk mencapai target DOI yang telah ditetapkan (45 hari). Untuk itu perlu adanya suatu proses yang dapat menggambarkan tingkat persediaan di tahun 2009 untuk mengevaluasi kebijakan perhitungan perusahaan, dan salah satunya adalah metode simulasi.

(21)

4.3.2 Hasil Perhitungan Simulasi

Pada saat menggunakan metode simulasi, hasil simulasi diharapkan dapat menggambarkan kondisi tingkat persediaan yang akan datang sesuai dengan metode perhitungan operasional di perusahaan.

Dari hasil simulasi tersebut, dapat terlihat dari segi incoming

parts tidak jauh berbeda hasilnya dengan perhitungan perusahaan,

namun bila dilihat dari segi DOI (1,26 bulan), perusahan seharusnya dapat lebih menekan target DOI yang diharapkan. Bila dilihat dari segi

stock end year, hasil simulasi menggambarkan bahwa stock yang

dihasilkan di, akhir tahun depan adalah sebesar 5.007 pcs, dimana hasilnya lebih rendah daripada perhitungan perusahaan (6.315 pcs), dengan lebih rendahnya nilai stock end year, maka nilai TIC juga otomatis menjadi lebih rendah daripada hasil perhitungan perusahaan. Dalam jumlah pemesanan, perusahaan juga tidak perlu memesan sebanyak 47.172 pcs karena dengan pesanan sebanyak 45.864 pcs perusahaan sudah dapat memenuhi target operational plan sebanyak 47.770 pcs di tahun 2009.

(22)

Berikut adalah tabel perbandingan antara perhitungan perusahaan dengan hasil simulasi yang sudah dilakukan :

Tabel 4.7 Perbandingan Hasil Perhitungan dan Simulasi

No Faktor Perbandingan Perhitungan Perusahaan

Hasil Simulasi

1 Total Incoming Parts 47.172 pcs 45.864 pcs 2 Stock End Year 6.315 pcs 5.007 pcs 3 Total Inventory Cost Rp 47.609.000 Rp. 45.075.000 4 Days Of Inventory 45 days 38 days

(23)

4.4 Usulan perhitungan Safety Stock dengan Metode MAD

Metode ini merupakan metode yang lebih sederhana dalam proses perhitungannya dibandingkan metode yang umum digunakan. Dengan data

plan sales di tahun 2009 maka bisa didapatkan nilai MAD (Mean Absolute Deviation) sebagai berikut :

4.4.1 Menghitung Demand Plan Rata-Rata (Xbar) tahun 2009

Xbar = (4.187 + 3.408 +…+ 4.397 + 4.024)/ 12

= 3.980,83 pcs /month 4.4.2 Menghitung nilai MAD

MAD = |(4.187 – 3.980)+(3.408 – 3.980)+ ….+(4.024 – 3.980)| /12 = 257,78 pcs/month

4.4.3 Menghitung Safety Stock

Tingkat pelayanan ditentukan sebesar 99,9 %, sehingga nilai dari faktor pengaman adalah sebesar 5 (Tabel 2.3 B ab 2).

(24)

SS = 257,78 x 5 = 1288,9 = 1289 pcs

Berikut adalah hasil operational plan bila menggunakan tingkat SS sebesar 1289 pcs

Tabel 4.8 Operational Sales Plan 2009 dengan SS metode MAD

Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel, terlihat bahwa dengan perhitungan SS metode MAD, jumlah SS yang harus disediakan adalah sebesar 1289 pcs untuk tahun 2009 dengan asumsi harapannya tidak terjadi overstock sebanyak 2.899 pcs (5.007 – 2.108 = 2.899 pcs) yang disebabkan oleh nilai opening stock di tahun 2009. Hal ini dapat secara langsung menekan biaya TIC dari segi biaya penyimpanan barang dan juga dapat menurunkan tingkat DOI hingga menjadi + 16 hari (0,53 bulan)

Gambar

Grafik 4.1 Demand UTP-2057019570/TOOTH tahun 2008
Gambar 4.1 Time Fence of Lead Time Order  4.  Data Biaya Pembelian (Order cost)
Tabel 4.2 Tabel Transaksi Persediaan tahun 2008 (Kuantitas dalam pcs)
Tabel 4.3 Operational Plan 2009 (Kuantitas dalam pcs)
+4

Referensi

Dokumen terkait

7) Kepada Masyarakat Kelurahan Tegal Sari Mandala II Medan yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi kuesioner sehingga skripsi ini bisa selesai. 8) Kepada

Dengan menggunakan media interaktif dalam penelitian ini diharapkan memberikan pengalaman yang menyenangkan, mengingat pembelajaran dengan media interaktif cukup

Hasil belajar akan memberikan pengaruh dalam dua bentuk: (1) Peserta didik akan mempunyai perspektif terhadap kekuatan dan kelemahannya atas perilaku yang

Pengertian mutu pelayanan kesehatan secara umum adalah derajat kesempurnaan  pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan dengan

(PD. Berdasarkan Tugas dan fungsi PD. Pasar Jaya tersebut maka sangat jelas bahwa pasar tradisional merupakan fasilitas kota yang harus disediakan dan dikelola secara baik dan

*$lusi dari permasalahan yang terakhir yaitu dengan )ara mengadakan kegiatan umat bersih. "al ini bertujuan agar mush$la disini kembali terawat dan dapat dimanfaatkan

Sementara komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat antara lain

- Nilai kualitas transformator dianalisis dengan metode Markov berdasarkan data hasil tes DGA, pengujian tegangan tembus, dan tahanan isolasi..c. Pembangkit Tenaga