PEMEROLEHAN SINTAKSIS PADA ANAK USIA 2-5
TAHUN DAN IMPLIKASI PADA PENGAJARAN
BAHASA INDONESIA DI PAUD
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh:
ARIF GUNAWAN NIM : 11140130000015
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA 2020 M
i ABSTRAK
ARIF GUNAWAN. NIM: 11140130000015. Skripsi “Pemerolehan
Sintaksis pada Anak Usia 2-5 Tahun dan Implikasi pada Pengajaran Bahasa Indonesia di PAUD.” Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dosen Pembimbing: Dr. Nuryani, M.A 2020.
Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana jenis dan struktur kalimat berdasarkan modusnya yang dituturkan oleh anak usia 2 sampai 5 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis dan struktur kalimat berdasarkan fungsi yang dituturkan oleh anak. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif dengan desain penelitian longitudinal, yakni dengan mengikuti perkembangan subjek penelitian selama rentang waktu tertentu. Adapun subjek penelitian adalah seorang anak perempuan bernama Hanifa Nur A. (HNA) ketika berusia 2 sampai 5 tahun. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi audiovisual yang berisi ujaran dalam setiap peristiwa tuturnya. Kumpulan video itu kemudian ditranskripsi, dianalisis dengan mengelompokkannya berdasarkan jenis dan struktur kalimat yang telah dikuasai anak. Data dalam penelitian ini berupa kalimat yang dituturkan oleh subjek penelitian.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, dari total 519 kalimat yang dituturkan anak terdapat beberapa jenis kalimat berdasarkan modusnya yaitu kalimat deklaratif, kalimat interogatif, dan kalimat imperatif. Dari ketiga jenis kalimat tersebut yang paling banyak muncul adalah jenis kalimat deklaratif sebanyak 341 kalimat, lalu jenis kalimat interogatif sebanyak 103 kalimat, dan yang paling jarang muncul adalah jenis kalimat imperatif sebanyak 75 kalimat. Adapun struktur kalimat yang diteliti terbagi menjadi tiga struktur, yaitu ujaran satu kata (USK), ujaran telegrafis (UT), dan ujaran banyak kata (UBK). Hasil penelitian yang dapat disimpulkan, struktur kalimat pada anak rentang usia 2-5 tahun yang paling mendominasi adalah ujaran telegrafis sebanyak 192 kalimat, lalu ujaran banyak kata sebanyak 171 kalimat, dan yang terakhir ujaran satu kata sebanyak 156 kalimat.
Kemampuan berbahasa pada anak dapat diimplikasikan dalam pengajaran bahasa di PAUD sesuai dengan kompetensi dasar 4.11 yaitu Menunjukkan kemampuan berbahasa ekspresif (mengungkapkan bahasa secara verbal dan nonverbal). Guru dapat memulai dengan membawa beberapa gambar buah dan bertanya kepada anak-anak. Apabila respon yang diberikan anak cukup baik, guru meminta salah seorang anak untuk menjelaskan buah tersebut sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kemampuan performansi anak. Akan tetapi, apabila responnya kurang baik, guru dapat memberi informasi tambahan terkait buah tersebut sehingga dapat meningkatkan kemampuan kompetensi anak.
Kata Kunci : Pemerolehan Sintaksis, Jenis Kalimat berdasarkan Modus, Struktur Kalimat berdasarkan Modus, Pembelajaran Bahasa di PAUD.
ii ABSTRACT
ARIF GUNAWAN. NIM: 11140130000015. Thesis “Acquisition of
Syntax in 2-5 Years Old Children and Implications for Teaching Indonesian in Early Childhood Education Programs.” Indonesian language and literature
education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training. Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta. Dr. Nuryani, M.A 2020.
The Problem in this study is how the types and structure of sentences based on the mode spoken by children aged 2 to 5 years. This study aims to describe the types and structures of sentences based on the functions spoken by children. The method used in this research is a qualitative descriptive method with a longitudinal research design, namely by following the development of the research subject over a certain period of time. The research subject was a girl named Hanifa Nur A. (HNA) when she was 2 to 5 years old. The data collection technique is done by using audiovisual documentation which contains utterances in each speech event. The video collection was then transcribed, analyzed by grouping it based on the type and structure of the sentences the children has mastered. The data in this stuy are in the form of sentences spoken by the research subjects.
Based on the results of the research that has been done, it can be conclude that from a total of 519 sentences spoken by the children, there are several types of sentences based on their mode, namely declarative sentences, interrogative sentences, and imperative sentences. Of the three types of sentences, the most common were declarative sentences totaling 341 sentences, then interrogative sentence types totaling 103 sentences, and the most rare ones that appeared were imperative sentence types totaling 75 sentences. The sentence structure studied is divided into three structures, namely one-word speech (USK), telegraphic speech (UT), and multi-word speech (UBK). The conclusion of this research is that the most dominant sentence structure in children aged 2-5 years is telegraphic utterances totaling 192 sentences, then multi-word utterances totaling 171 sentences, and the last one-word utterance is 156 sentences.
Language skills in children can be implicated in language teaching in early childhood education in accordance with the basic competency of 4.11, namely showing expressive language skills (expressing language verbally and nonverbally). The teacher could start by bringing some fruit pictures and asking the children. If the response given by the child is good enough, the teacher asks one of the children to explain the fruit so that it can indirectly improve the child’s performance ability. However, if the response is not good, the teacher can provide additional information related to the fruit so that it can improve the child’s competence.
Keywords: Syntax Acquisition, Sentences Types by Mode, Sentence
Structure based on Mode, Language Learning in Early Childhood Education Programs.
iii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya bagi Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah pada junjungan Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang senantiasa mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.
Skripsi berjudul “Pemerolehan Sintaksis pada Anak Usia 2-5 Tahun dan Implikasi pada Pengajaran Bahasa Indonesia di PAUD”, disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam menyusun skripsi ini, tentunya penulis tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang telah memberikan doa, bimbingan, dukungan baik moril dan materil. Dengan segala kerendahan hati dan sebagai ungkapan rasa hormat, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Sururin, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta; 2. Dr. Makyun Subuki, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan; 3. Dr. Nuryani, M.A., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang dengan
penuh keikhlasan memberikan bimbingan, saran, dan motivasi dalam menyelesaikan sksipsi ini;
4. Novi Diah Haryanti, M.Hum., selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan; 5. Seluruh dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
yang segenap hati mendidik mahasiswanya agar lebih berwawasan dan berbudi pekerti;
6. Orang tua tercinta, yaitu bapak Salim dan ibu Tukini yang selalu memberikan segalanya kepada penulis;
7. Kakak-kakak tersayang, mbak Fitri Lestari dan mas Imam Dwi Saputra yang selalu memberikan tekanan untuk segera menyelesaikan skripsi ini;
iv
8. Kakak-kakak ipar terbaik, yaitu mas Cahyono dan mbak Dwi Astuti yang selalu memberikan tempat teduh di setiap penulis menginap; 9. Keponakan-keponakan terlucu, Hanifa Nur Aulia, Shopie Shidqia
Nur Aini, dan Alzaidan Hafidz Saputra yang selalu menjadi obat penenang bagi penulis ketika dilanda masalah;
10. My moodbooster, E. R. yang selalu memberikan doa, semangat, dan meluangkan waktu untuk membantu mencarikan referensi skripsi ini;
11. Sahabat-sahabat terkece, Lutfi Prasetyo beserta keluarga, Ginna Rizki Bhakti, Dzikran Fahruzzaman, dan Abdul Malik Al-Hasan yang selalu menyempatkan waktu untuk senantiasa menjajakan kaki ke kampus;
12. Keluarga besar mahasiswa PBSI angkatan 2014 yang senantiasa menyuguhkan drama dalam proses pembelajaran di kelas dan di luar kelas;
13. Keluarga besar SMP Negeri 1 Setu khususnya Ibu Ratih, Pak Rosmana Hadi, Bu Hj. Titi, Bu Supranti, Elekyo Band, dan seperikatan Toekang Keboen yang selalu memberikan masukan untuk segera lulus;
14. Seluruh pihak yang telah berjasa dalam pembuatan skripsi ini yang tidak bisa penyusun sebutkan satu persatu, terima kasih.
Penulis berharap semoga semua pihak yang telah membantu mendapat balasan yang lebih baik dari Allah SWT. Penulis menerima kritik dan saran untuk membangun skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi yang sekiranya jauh dari kata sempurna ini dapat bermanfaat khususnya bagi pembaca dan umumnya bagi dunia pendidikan.
Jakarta, Januari 2020
v DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
ABSTRAK... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Identifikasi Masalah ... 5
C. Pembatasan Masalah ... 6
D. Rumusan Masalah ... 6
E. Tujuan Penelitian ... 6
F. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II KAJIAN TEORETIS ... 8
A. Pengertian Psikolinguistik... 8
B. Pengertian Pemerolehan Bahasa ... 9
1. Teori-teori Pemerolehan Bahasa ... 12
2. Jenis-jenis Perkembangan Pemerolehan Bahasa ... 15
3. Pemerolehan Bahasa Tataran Sintaksis ... 19
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa ... 21
C. Pengertian Sintaksis ... 24
1. Frasa ... 24
2. Klausa ... 25
3. Kalimat ... 25
D. Perkembangan Psikologi pada Anak Usia Dini ... 30
1. Trusts vs Mistrust ... 31
2. Autonomy vs Shame and Doubt ... 32
3. Initiative vs Guilt ... 32
E. Pembelajaran/Pengajaran Bahasa Tingkat PAUD ... 34
F. Penelitian Relevan ... 40
vi
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 44
B. Subjek Penelitian ... 44
C. Metode dan Desain Penelitian... 45
D. Teknik Pengumpulan Data ... 46
E. Teknik Pengolahan Data ... 48
F. Instrumen Penelitian ... 50
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 52
A. Simpulan ... 522
B. Saran ... 53
DAFTAR PUSTAKA ... 54
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 56
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 : Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar PAUD Kurikulum 2013 Tabel 3.1 : Tabel Analisis Jenis Kalimat berdasarkan Modusnya
Tabel 4.1 : Rekapitulasi Data Jenis Kalimat berdasarkan Modusnya Tabel 4.2 : Rekapitulasi Data Perkembangan Struktur Kalimat
Tabel 4.3 : Analisis Perkembangan Struktur Kalimat Anak Usia 2-3 Tahun Tabel 4.4 : Analisis Perkembangan Struktur Kalimat Anak Usia 3-4 Tahun Tabel 4.5 : Analisis Perkembangan Struktur Kalimat Anak Usia 4-5 Tahun Tabel 4.6 : Rekapitulasi Data Jenis Kalimat dan Struktur Kalimat
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) Lampiran 2 : Klasifikasi Data Rentang Usia 2-5 Tahun
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan piranti penting dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya bahasa, tentu saja manusia akan kesulitan untuk saling berkomunikasi. Komunikasi yang dimaksud dapat dilakukan secara verbal dan juga non verbal, misal dengan tulisan, simbol, maupun gestur. Secara umum bahasa adalah simbol-simbol yang dipakai oleh sekelompok orang dalam suatu masyarakat dengan tujuan untuk berkomunikasi antara satu dengan yang lain.
Manusia memang sudah ditakdirkan untuk berbahasa, tanpa perlu menghafal satu per satu kata ataupun aturan-aturan kebahasaan yang berlaku di lingkungan masyarakat, manusia dipercaya akan memahami bahasa tanpa melakukan pembelajaran. Proses pembelajaran bahasa memang diajarkan di sekolah PAUD sejak dini. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa sebelum anak belajar di sekolah, mereka pun sudah mengetahui beberapa kata yang ada di sekitarnya dan bahkan mulai menguasai berbagai jenis kalimat. Lalu, dari mana kemampuan itu berasal ... apakah berasal dari lingkungan, atau memang semua sudah diatur oleh Allah SWT yang dikhususkan untuk kehidupan manusia? Sebenarnya bahasa itu menandai eksistensi manusia, dan di dalam pengertian yang demikian kita dapat mengenal istilah “Aku berbahasa, karena aku hidup.”1
Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa bahasa merupakan anugerah yang secara lahiriah patut disyukuri oleh manusia.
Pada kenyataannya hanya manusialah yang diberi kemampuan khusus untuk berbahasa, sedangkan makhluk lainnya tidak berbahasa. Makhluk lain terlihat seperti berbahasa namun sebenarnya mereka hanya berkomunikasi secara terstruktur. Hal ini terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh Hayes, Kellogs, Gardner, dan Premack untuk mendidik
2
simpanse berbahasa namun pada akhirnya semua penelitian itu pun gagal. Kegagalan tersebut bukan pada metodologi atau bahan ajarnya yang kurang baik, akan tetapi memang sistem biologis dan neurologis binatang berbeda dengan manusia.2 Hal inilah yang membuat manusia perlu memberi perhatian kepada bahasa, sebab seperti halnya bernafas dan juga berjalan, bahasa mempunyai pengaruh-pengaruh yang luar biasa dan termasuk yang membedakan manusia dengan binatang.3
Secara natural, proses kreatif manusia untuk berbahasa akan lahir sesuai dengan situasi dan kondisi di sekelilingnya. Adapun bentuk komunikasi pertama pada manusia adalah tangisan yang menandai keberadaannya di dunia ketika ia dilahirkan. Alasan bayi menangis pun amat beragam, entah karena lapar, lelah, meminta orang di sekitar untuk menggantikan popok, atau lain sebagainya. Menangis inilah satu-satunya cara bagi bayi untuk dapat berinteraksi atau mencari perhatian orang lain. Memasuki bulan ketiga, setiap bayi mulai mendengarkan dan mengamati orang-orang di sekitarnya ketika berbicara. Bunyi-bunyi yang dikeluarkan ketika menangis ini pun kemudian bertransformasi menjadi beragam bentuk setelah ia mendengarkan bunyi-bunyian yang lain. Hal ini mempengaruhi anak untuk mencoba mengeluarkan bunyi-bunyi yang dikenal sebagai cooing. Fenomena ini dalam bahasa Indonesia disebut dengan mendekut, atau usaha bayi dalam memproduksi bunyi vokal dan konsonan seperti bunyi burung merpati atau perkutut, “Kur” atau “Kut”. Mereka pun secara tidak langsung akan mengenal intonasi dan nada, atau pun emosi yang ditunjukkan dalam percakapan.
Percakapan sederhana yang diucapkan secara berulang oleh orang di sekitar, akan membantu anak dalam mengingat dan memahami kata per kata atau kalimat dalam percakapan tersebut. Maka amatlah dianjurkan ketika anak masih dalam usia dini, orang tua sebagai rekan berbicara anak
2Soenjono Dardjowidjojo, Psikolingusitik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia, (Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 2003), hlm. 189
3Leonard Bloomfield, Language Bahasa, Terj: I. Sutikno (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,
3
untuk mengenalkan beberapa kata yang berhubungan dengan keseharian si anak, seperti makan (maem), minum (mimi), atau tidur (bobo). Bahkan jika perlu orang tua dapat mengenalkan orang atau benda di sekitar seperti ibu, ayah, om, apel, pisang, dan lainnya untuk membantu anak mengenal berbagai macam hal melalui bunyi. Sehingga pada akhirnya, bayi akan mencoba untuk menggabungkan beberapa bunyi tersebut secara bersamaan untuk menciptakan suatu kata. Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan tahun pembelajaran, bahkan ada yang menyebutkan bahwa sejak anak di dalam kandungan sampai dengan anak berusia 6 tahun adalah masa keemasan anak dalam hidupnya. Lima tahun pertama menetapkan bagaimana anak mendapatkan pengetahuan sepanjang hidup, maka tidaklah salah jika segala hal yang dilihat, didengar, dirasakan oleh anak pada usia tersebut merupakan pengalaman belajar. Pengalaman belajar itu pada akhirnya memberikan gambaran yang jelas mengenai tingkat pemahaman dan perkembangan kalimat pada anak. Pemahaman kata per kata adalah tahapan yang harus dilalui anak sebelum akhirnya mampu memproduksi kata atau menggabungkan bermacam kata sehingga dapat mengembangkannya menjadi berbagai jenis kalimat lainnya.
Seorang anak dapat belajar di manapun dan kapanpun, tidak ada sebuah batasan, larangan, atau aturan untuk belajar mengenal suatu hal. Seiring bertambahnya usia, berkembangnya alat-alat ucap, kematangan pola pikir pada anak, dan dukungan dari lingkungan sekitar, niscaya kemampuan berbahasa anak akan berkembang pesat dengan sendirinya. Anak yang telah melewati masa cooing dan celoteh, umumnya ketika berusia 1 tahun mereka akan mencoba untuk mengucapkan bunyi bahkan menirukan kata yang terdengar di sekitar mereka. Kira-kira saat itulah mereka mengucapkan “kata” pertama mereka atau lebih dikenal sebagai USK (Ujaran Satu Kata), yang maksud dan tujuannya tidak dapat diartikan secara langsung dari satu kata tersebut tetapi harus dihubungkan dengan konteks atau keadaan di sekelilingnya. Dimulai dengan pembentukan USK yang secara pelafalan belum tepat seluruhnya, contohnya dalam penelitian
4
Dardjowidjojo kepada cucunya yang bernama Echa yang menamakan ikan sebagai /tan/, persis sama dengan kata untuk bukan. Begitu pula ketika diminta untuk melafalkan atau memanggil Eyang putri, namun yang diucapkan justru sebagai Eyang /ti/.4 Memasuki usia 2 tahun, kata-kata yang didengar anak akan semakin berlipat sehingga ujaran yang di keluarkan pun lebih jelas dan bertambah menjadi ujaran dua atau tiga kata yang lebih dikenal dengan Ujaran Telegrafis (UT).
Batita mampu memahami banyak kata yang diucapkan kepada mereka dan mampu menirukan banyak kata tersebut, walaupun dalam pengucapannya belum benar secara keseluruhan. Hal ini perlu dimaklumi karena kemampuannya dalam memproduksi kata lebih dominan daripada perkembangan alat ucapnya. Tepatnya ketika anak berusia 3 tahun, pembendaharaan kata yang dikuasainya telah berkembang secara kualitas maupun kuantitas yang dilatarbelakangi oleh keinginan untuk berbagi pengalaman tentang dunia luar dengan cara memberi tahu, bertanya, memerintah, memberikan kritik, dan lain sebagainya.
Fenomena di atas bukannya anak melompati satu tahap ke tahap berikutnya secara langsung, ia tumbuh dengan teratur sesuai dengan kemampuan berdasarkan pada setiap butir yang telah dibangun sebelumnya melalui pengalaman.5 Anak usia dini yang secara fisik, psikis, kognitif atau neurologi pun masih terus berkembang diyakini akan terus mengeksplorasi dan merakit kembali kemampuan bahasa yang sebelumnya telah ia kuasai. Kemampuan ini dibuktikan anak dengan semakin aktifnya anak dalam menggunakan jenis kalimat lain seperti fungsi kalimat tanya. Hal tersebut menjadikan sebuah berkah sekaligus cobaan bagi orang tua dengan ocehan-ocehan anak yang tak ada ujungnya.6
Masa pengalaman belajar yang dilalui anak dari pengalamannya
4Soenjono Dardjowidjojo, Op.Cit., hlm. 247-248
5Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Pemerolehan Bahasa, (Bandung: Angkasa, 2011), hlm. 25 6H. Douglas Brown, Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, Terj: Noer Kholis dan Yusi
5
menghasilkan sebuah pemahaman dan perkembangan. Dalam ilmu psikolinguistik, hal tersebut dipelajari dalam materi pemerolehan bahasa. Terdapat dua proses terkait dengan pemerolehan bahasa pada anak, yaitu pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa. Pemerolehan bahasa merupakan suatu proses penguasaan bahasa tanpa disadari dan secara alamiah terjadi begitu saja, dalam artian tidak melalui proses pembelajaran secara formal. Sedangkan pengertian dari pembelajaran bahasa sebaliknya, yakni penguasaan suatu bahasa dengan disadari dan melalui proses pembelajaran secara formal maupun non formal di sekolah, biasanya dimulai ketika anak sudah belajar di PAUD, TK, Day Care, Playgroup dan sebagainya. Proses pembelajaran bahasa anak ini perlu diperhatikan oleh guru yang nantinya akan mengajarkan beragam jenis kata bahkan kalimat untuk meningkatkan kemampuan berbahasa pada anak.
Kemampuan berbahasa pada anak usia dini amat menarik untuk diteliti, sebab di masa keemasannya anak usia dini merupakan konsumen sekaligus produsen kalimat yang paling aktif di masanya. Banyak hal yang bisa menjadi perhatian, misal seberapa sering ia mengeluarkan jenis kalimat tanya, kapan anak mulai memberanikan diri untuk memerintah secara langsung, atau adakah perbedaan jenis kalimat yang anak tuturkan di setiap tumbuh kembangnya. Hal inilah yang menjadi latar belakang penulis untuk menelusuri dan menelisik lebih dalam terkait dengan pemerolehan bahasa pada anak usia dini dengan memfokuskan perhatian pada perkembangan jenis dan struktur kalimat ketika anak berada di masa keemasannya pada rentang usia 2 sampai 5 tahun, baik itu jenis kalimat yang dominan ketika anak berusia 2 sampai 5 tahun, sampai pada implikasinya dalam pembelajaran bahasa Indonesia di PAUD.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:
6
2. Jenis kalimat berdasarkan modusnya pada tuturan anak usia 2-5 tahun. 3. Struktur kalimat berdasarkan modusnya pada tuturan anak usia 2-5
tahun.
4. Pola intonasi pada kalimat deklaratif, kalimat interogatif, dan kalimat imperatif.
5. Implikasi pada pembelajaran bahasa di PAUD.
C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini tidak menyimpang dari materi, maka batasan penelitian yang berjudul Pemerolehan Sintaksis pada Anak dan Implikasi
pada Pengajaran Bahasa di PAUD, fokus pada pembahasan mengenai
penguasaan jenis kalimat tataran sintaksis yaitu modus kalimat deklaratif, modus kalimat interogatif, modus kalimat imperatif pada anak rentang usia 2-5 tahun dan struktur kalimat tataran sintaksis yaitu ujaran satu kata (USK), ujaran telegrafis (UT), dan ujaran banyak kata (UBK) pada rentang usia 2-5 tahun, beserta implikasinya pada pengajaran bahasa Indonesia di PAUD.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana jenis kalimat berdasarkan modusnya yang dituturkan anak dalam rentang usia 2-5 tahun?
2. Bagaimana struktur kalimat berdasarkan modusnya yang dituturkan anak dalam rentang usia 2-5 tahun?
3. Bagaimana implikasi pada pengajaran bahasa di PAUD?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
7
1. Mendeskripsikan jenis kalimat berdasarkan modusnya yang dituturkan anak dalam rentang usia 2-5 tahun.
2. Mendeskripsikan struktur kalimat berdasarkan modusnya yang dituturkan anak dalam rentang usia 2-5 tahun.
3. Mendeskripsikan implikasi pada pengajaran bahasa di PAUD.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mempunyai beberapa manfaat, yaitu:
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini dilakukan agar hasil yang diperoleh dapat berkontribusi dalam menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu sintaksis dan ilmu psikolinguistik. 2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dan referensi dalam pemerolehan bahasa khususnya penguasaan dan perkembangan jenis kalimat dan struktur kalimat berdasarkan modusnya pada anak rentang usia 2-5 tahun, sebagai rujukan awal dalam melakukan penelitian pada anak usia selanjutnya atau menjadi tambahan referensi bagi penulis lain. Selain itu, memberikan referensi mengenai cara yang dapat dilakukan oleh orang tua atau guru PAUD dalam mengasah kemampuan berbahasa anak.
8 BAB II
KAJIAN TEORETIS
A. Pengertian Psikolinguistik
Psikolinguistik termasuk ke dalam suatu disiplin ilmu yang relatif baru, yang merupakan gabungan dari bidang ilmu psikologi dan ilmu linguistik. Psikologi merupakan ilmu yang mengkaji proses berpikir yang mengatur perilaku manusia pada hakikat stimulus, respon, dan proses-proses sebelum stimulus dan respon terjadi. Sedangkan linguistik merupakan ilmu yang membahas hakikat bahasa, struktur bahasa, pemerolehan bahasa, dan bagaimana bahasa itu bekerja dan berkembang.7 Harley mengungkapkan bahwa psikolinguistik adalah studi tentang proses mental-mental dalam pemakaian bahasa. Aitchison pun berpendapat bahwa psikolinguistik adalah studi tentang bahasa dan pikiran. Sebelum menggunakan bahasa, pengguna harus menguasai bahasanya terlebih dahulu.8 Levelt membagi psikolinguistik menjadi tiga bagian utama yaitu psikolinguistik umum, psikolinguistik perkembangan, dan psikolinguistik terapan. Berikut penjelasannya:
1. Psikolinguistik umum adalah studi mengenai bagaimana pengamatan atau persepsi orang dewasa tentang bahasa dan bagaimana memproduksi bahasa. Ada dua cara persepsi dan produksi bahasa, yaitu secara auditif dan visual. Persepsi auditif yakni dengan cara mendengarkan sedangkan persepsi visual yakni dengan cara membaca. Kemudian produksi auditif dengan berbicara sedangkan produksi visual dengan cara menulis.
2. Psikolinguistik perkembangan adalah studi psikologi mengenai perolehan bahasa pada anak-anak dan orang dewasa, baik perolehan bahasa pertama (bahasa ibu) maupun bahasa kedua. 3. Psikolinguistik terapan adalah aplikasi dari teori-teori
psikolinguistik dalam kehidupan sehari-hari pada orang dewasa atau anak-anak.9
Terdapat tiga aspek utama yang dapat dibahas dalam psikolinguistik, yaitu persepsi atau pemahaman ujaran, produksi ujaran, dan pemerolehan
7 Achmad HP dan Alek A., Linguistik Umum, (Jakarta: Erlangga, 2012), hlm. 103 8Soenjono Dardjowidjojo, Op.Cit., hlm. 7
9
bahasa. Pemahaman ujaran membahas bagaimana ujaran dapat sampai kepada pendengar, dan bagaimana pendengar bisa memahaminya. Produksi ujaran membahas bagaimana ujaran dihasilkan sehingga dapat diterima dengan baik oleh pendengar. Sedangkan, pemerolehan bahasa membahas bagaimana seseorang memperoleh bahasa dalam hidupnya.10
B. Pengertian Pemerolehan Bahasa
Bahasa didefinisikan sebagai suatu simbol sistem lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berdasarkan budaya yang mereka miliki bersama.11 Kepemilikan sebuah bahasa tentunya tidak semata-mata dimiliki oleh perorangan saja, akan tetapi berdasarkan keputusan dan kesepakatan. Maka, tidak mungkin tidak bahwa adanya bahasa dipengaruhi oleh orang-orang dan lingkungan yang ada di sekitar kita. Hal ini dimulai ketika kita membuka mata di dunia dan mulai memperoleh bunyi-bunyi dari orang atau lingkungan sekitar, sehingga sedari kecil kita sudah mulai memperoleh dan mempelajari sebuah bahasa. Oleh karena itu, kajian psikolinguistik akan memberikan deskripsi yang bermanfaat untuk perencanaan bahasa jika penelitian tentang pemerolehan bahasa pertama ditingkatkan.12
Pemerolehan bahasa atau Language Acquisition adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk tujuan pemahaman dan komunikasi. Slobin pernah mengemukakan bahwa “pendekatan pemerolehan bahasa dibangun sejak semula oleh anak dengan memanfaatkan kapasitas bawaannya sejak lahir dalam interaksinya dengan pengalaman-pengalaman dunia fisik dan sosial.”13 Permulaan itu sangat banyak ditentukan oleh interaksi rumit
antara aspek-aspek kematangan biologis, neurologis, kognitif, dan sosial
10 Achmad HP dan Alek A., Op.Cit, hlm. 109 11Soenjono Dardjowidjojo, Op.Cit., hlm. 16
12Kushartanti, Pesona Bahasa, (Jakarta: Pt. Gramedia Pustaka Utama, 2009), hlm. 237 13Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Pemerolehan Bahasa, Op.Cit., hlm. 5
10
yang secara keseluruhan terjadi dalam struktur mental secara bertahap.14 Selama proses pemerolehan si pemeroleh (anak) lazimnya tidak sadar bahwa ia sedang memperoleh bahasa, ia hanya sadar bahwa ia sedang menggunakan bahasa untuk keperluan komunikasi. Oleh karena itu, hasil yang dicapai melalui proses ini juga bawah sadar.15 Lebih dari dua dekade, pertanyaan terkait kapan persisnya bahasa itu bermula masih sulit untuk dibuktikan, namun yang menjadi titik cerah bagi para peneliti pemerolehan bahasa adalah munculnya ciri-ciri kebahasaan pada setiap tahap tumbuh kembang anak dan bersifat universal. Werner Leopold (1949) membuat karakteristik-karakteristik fonologis dan gramatikal tertentu yang bersifat umum dalam bahasa. Leopold kemudian mengilhami Marastos (1988), menyebutkan beberapa kategori linguistik universal yang diteliti, seperti:
1. Susunan Kata
2. Nada penanda morfologis
3. Persesuaian gramatikal (misalnya menyangkut subjek dan kata kerja)
4. Referensi tereduksi (misalnya pronomina, elipsis) nomina dan kelas-kelas nomina
5. Verba dan kelas-kelas verba 6. Predikatif
7. Negatif
8. Pembentukan pertanyaan16
Masyarakat Indonesia pada umumnya termasuk dalam masyarakat bilingual. Artinya, bahasa daerah yang digunakan seperti bahasa Sunda, bahasa Batak, bahasa Jawa, dan beragam bahasa daerah lainnya menjadi bahasa pertama atau bahasa ibu, sedangkan bahasa keduanya adalah bahasa Indonesia.17 Akan tetapi bahasa tidak menyoal pada keturunan saja, seorang keturunan Jawa jika dididik dan dibesarkan di dalam keluarga dan lingkungan yang tidak berbahasa bahasa Jawa maka penguasaan bahasa Jawanya pun tidak akan berkembang, melainkan ia akan pandai berbahasa
14Iskandarwassid dan Dadang Suhendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: PT. Remaja
Rosidakarya, 2016), hlm. 84
15Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, (Yogyakarta: PenerbitKanisius,
1990), hlm. 85
16H. Douglas Brown, Op.Cit., hlm. 44
11
bahasa yang dipakai di dalam keluarga dan lingkungan itu.18 Dalam penerapan dan penguasaannya, pemerolehan bahasa meliputi dua subproses, yakni proses kompetensi dan proses performansi. Kompetensi adalah proses penguasaan bahasa secara tidak disadari dan memerlukan pembinaan sehingga anak memiliki performansi bahasa. Proses performansi dapat diartikan sebagai kemampuan anak menggunakan bahasa komunikatif, baik itu pemahaman kata hingga penerbitan kata-kata.19 Dalam bahasa, kompetensi merupakan pengetahuan mendasar tentang sistem bahasa-kaidah tata bahasanya, kosakatanya, seluruh pernak-pernik bahasa, dan bagaimana menggunakannya secara padu. Performa adalah produksi aktual (berbicara, menulis) atau pemahaman (menyimak, membaca) terhadap peristiwa-peristiwa linguistik.20 Bagi anak, lima tahun pertama dalam hidupnya menetapkan bagaimana mereka mendapatkan pengetahuan sepanjang hidup, maka tidaklah salah jika segala hal yang dilihat atau dialami anak pada usia tersebut merupakan pengalaman belajar. Mereka tidak perlu duduk untuk mempelajari kosakata baru atau berusaha keras untuk mengetahui bagaimana cara menyusun kalimat dengan benar.21 Walaupun kedua proses antara kompetensi dan
performansi bertolak belakang, namun jika kedua proses ini telah dikuasai secara menyeluruh niscaya kemampuan linguistik anak akan berkembang sesuai dengan tumbuh kembang dalam hidupnya. Adapun ragam pemerolehan bahasa dapat dibedakan berdasarkan bentuk, urutan, jumlah, media, dan keasliannya. Berikut pemaparannya:
1. Berdasarkan bentuk, pemerolehan bahasa terbagi menjadi: Pemerolehan bahasa pertama atau first language acquisition; Pemerolehan bahasa kedua atau second language acquisition; Pemerolehan ulang atau re-acquisition.
2. Berdasarkan urutannya, pemerolehan bahasa terbagi menjadi: Pemerolehan bahasa pertama atau first language acquisition;
18Samsuri, Op.Cit., hlm. 3
19Sanggar, nasiroh-ilmu.blogspot.com/2011/01/tahap-tahap-pemerolehan-bahasa.html,
(Jogjakarta), dibaca pada tanggal 26 Juni 2018
20H. Douglas Brown, Op.Cit., hlm. 39
21Suzanne R. Gellens, Membangun Daya Pikir Otak: 600 Ide Aktivitas untuk Anak Kecil, Terj:
12
Pemerolehan bahasa kedua atau second language acquisition, 3. Berdasarkan jumlah, pemerolehan bahasa terbagi menjadi:
Pemerolehan satu bahasa atau monolingual acquisition; Pemerolehan dua bahasa atau bilingual acquisition. 4. Berdasarkan media, pemerolehan bahasa terbagi menjadi:
Pemerolehan bahasa lisan atau oral language (speech) acquisition; Pemerolehan bahasa tulis atau written language acquisition. 5. Berdasarkan keaslian, pemerolehan bahasa terbagi menjadi: Pemerolehan bahasa asli atau native language acquisition; Pemerolehan bahasa asing atau foreign language acquisition.22 Istilah pemerolehan bahasa dari segi bentuk, urutan, jumlah, media, dan keaslian sebenarnya memiliki pengertian yang hampir sama. Istilah tersebut pun sering dipakai berganti-ganti untuk tujuan dan maksud yang sama, terkecuali kalau ada keterangan khusus untuk membedakannya.23
Perbedaannya pemerolehan bahasa pertama terjadi apabila seorang anak sejak semula tanpa bahasa dan kini dia memperoleh satu bahasa.24
Sedangkan pemerolehan bahasa kedua mengacu kepada kegiatan mengajar dan belajar bahasa, yang terjadi di lingkungan sekolah yang disediakan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan terkait perkembangan bahasa anak.25
1. Teori-teori Pemerolehan Bahasa
Dalam perkembangan psikolinguistik bahasa anak, terdapat tiga aliran atau teori yang saling bertolak belakang yakni teori pemerolehan bahasa behaviorisme, teori pemerolehan bahasa nativisme, dan teori pemerolehan bahasa kognitivisme. Ketiga aliran di atas mencerminkan pertentangan tanpa ujung, dengan banyaknya kemungkinan pendirian dari masing-masing aliran, maka dari itu di bawah ini akan sedikit diperjelas aliran-aliran dalam pemerolehan bahasa anak:
22Dindin Ridwanudin, Bahasa Indonesia, (Ciputat: UIN Press, 2015), hlm. 4 23Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Pemerolehan Bahasa, Op.Cit., hlm. 8 24Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Pemerolehan Bahasa, Op.Cit., hlm. 97 25Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Pemerolehan Bahasa, Op.Cit., hlm. 142
13
a. Teori Behaviorisme (empiris)
Teori pemerolehan bahasa behaviorisme dipelopori oleh BF. Skinner. Salah satu penganut teori ini adalah Leonard Bloomfield yang menganggap bahwa anak sedari lahir tidak mempunyai bekal apa-apa, tanpa potensi dan lahir sebagai “papan kosong” (tabula rasa). Kaum behavioris menekankan bahwa proses pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu rangsangan yang diberikan melalui lingkungan.26
Kosongnya kemampuan berbahasa dalam diri anak diibaratkan sebagai kertas putih yang nantinya akan diisi oleh lingkungan sekitar sehingga membentuk tingkah laku anak. Dijelaskan pula bahwa pengetahuan dan keterampilan anak dalam berbahasa diperoleh melalui pengalaman.27 Akan tetapi teori ini sulit untuk menjelaskan kenyataan bahwa kalimat yang dikatakan adalah hal baru, karena ujaran-ujaran baru itu pun diciptakan anak sewaktu mereka “bermain” langsung dengan bahasa, dan kreativitas tersebut berlanjut hingga masa dewasa dan sepanjang hidup manusia.28
b. Teori Nativisme (mentalistik)
Teori pemerolehan bahasa nativisme dipelopori Noam Chomsky yang meyakini bahwa manusia bukanlah botol kosong yang dapat diisi semaunya oleh “lingkungan”. Teori ini berpendapat bahwa sedari lahir, anak telah dikaruniai sebuah piranti khusus yang dapat membantu anak dalam pemerolehan bahasa.
Perangkat ini disebut LAD (Language Acquisition Device) yang memungkinkan anak untuk memproses dan belajar
26Suhartono dan Syamsul sodiq, Psikolinguistik, (Tangerang: Univ. Terbuka, 2016), hlm. 4.5 27Ladycia Sundayra, Jurnal Kibas Cenderawasih volume 14 , Nomor 2, Oktober 2017 “Proses
Akuisisi Bahasa pada Anak: Kajian Teoritis Mutakhir” hlm. 171
14
bahasa melalui pengetahuan bawaan dari kelas-kelas tata bahasa, landasan struktur dalam, dan cara-cara bahasa digunakan.29 McNeill menyatakan bahwa teori stimulus dan respon dalam penganut behaviorisme amatlah terbatas, maka persoalan pemerolehan bahasa tentunya melebihi kedua hal itu. LAD menyentuh berbagai aspek akuisisi bahasa, seperti aspek makna, abstraksi dan kreativitas, yang tidak hanya stimulus dan respon. Teori ini menganggap anak yang lahir telah membawa sejumlah kapasitas atau potensi bahasa, sehingga anak dianggap telah ada bakat sejak lahir.30
c. Teori Kognitivisme
Teori pemerolehan bahasa kognitivisme, dipelopori oleh Jean Piaget yang menekankan bahwa kemampuan berbahasa anak diperoleh setelah kedewasaan terjadi dan sejalan dengan berkembangnya kemampuan kognitif. Teori ini menganggap bahwa perkembangan kognitif merupakan “prasyarat dan fondasi pembelajaran bahasa.” Menurut Piaget, pemahaman anak terhadap lingkungan hanya berasal dari pengalaman langsung yang terjadi didekatnya (sensorik) dan gerakan mereka (motorik).31
Piaget dan Lev Vygotsky berpendapat bahwa manusia mengonstruksi sendiri pengetahuan yang diperolehnya berdasarkan dengan skemata atau prior knowledge
(pengetahuan awal) yang dimilikinya.32 Skema adalah suatu struktur mental seseorang di mana ia secara intelektual beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Apabila seseorang banyak berkontak atau mempunyai pengalaman dengan lingkungan sekitarnya, maka semakin kuatlah skema orang
29Beverly Otto, Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia Dini, Terj: Tim Penerjemah
Prenadamedia Grup, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), hlm. 34
30Ladycia Sundayra, Op.Cit., hlm. 172 31Beverly Otto,Op.Cit., hlm. 35
15
tersebut karena skema akan terus berkembang sesuai pengalaman.33 Oleh karena itu, para penganut teori ini menganggap bahwa setiap anak dapat mengatur dan mengerti peristiwa-peristiwa nyata dalam lingkungannya hanya dengan bantuan proses kognitif yang terjadi di otak.34 Begitu pula dengan komprehensif bahasa, pemahaman dan produksi bahasa pada anak dipandang sebagai hasil proses kognitif yang secara terus menerus berkembang dan berubah.
2. Jenis-jenis Perkembangan Pemerolehan Bahasa
Perkembangan pemerolehan bahasa anak merupakan suatu hal yang bersifat berkelanjutan dan setiap kelanjutan itu merujuk pada kematangan struktur dan fungsinya. Jenis-jenis perkembangan pemerolehan bahasa anak umumnya terbagi menjadi perkembangan fonologis, morfologi, dan sintaksis.
a. Perkembangan Fonologis
Pemerolehan bahasa dalam perkembangan fonologis meliputi kemampuan mengartikulasikan bunyi-bunyi ujaran dalam bahasa anak-anak. Ujaran atau bentuk awal komunikasi manusia adalah tangisan, setelah itu anak mendengarkan bunyi-bunyi di sekitarnya. Pada umur sekitar 6 minggu, anak mulai mengeluarkan bunyi-bunyi yang mirip dengan bunyi konsonan atau vokal. Bunyi-bunyi ini belum dapat dipastikan bentuknya karena memang belum terdengar jelas. Proses mengeluarkan bunyi-bunyi seperti ini dinamakan cooing, yang telah diterjemahkan menjadi dekutan.35 Kemudian ketika anak berusia 6 bulan, proses babbling (celoteh) mulai terjadi pada anak. Celotehan ini sudah mulai dapat diidentifikasikan sebagai bunyi karena mengandung bunyi vokal dan konsonan,
33Esti Ismawati, dan Faraz Umaya, Balajar Bahasa di Kelas Awal, (Yogyakarta: Ombak, 2017),
hlm. 25
34Ladycia Sundayra, Ibid.
16
sebab bunyi yang dikeluarkan berupa suku kata.36 Akan tetapi banyak bunyi dalam tahap celoteh ini yang tak bermakna, dikarenakan adanya kesulitan pelafalan dan belum berkembangnya alat ucap anak.37
Kurang berkembangnya alat ucap anak mengakibatkan kesalahan-kesalahan dalam berbahasa. Hal yang lumrah terjadi adalah penyalah-artikulasian bunyi-bunyi dan kelompok-kelompok bunyi tertentu. Umumnya ujaran anak yang paling dini dapat menghasilkan semua vokal bahasa, tetapi sulit menghasilkan konsonan-konsonan seperti bunyi [c] dan [j]. Konsonan yang mula-mula dapat digunakan adalah bunyi labial [p], dan [b], bunyi [t] dan [d], dan yang paling umum terdengar adalah serangkaian konsonan dan vokal seperti ‘ba-ba-ba’ atau ‘ma-ma-ma’.38
Kesadaran dan pemahaman fonetik semakin berkembang selama masa pertumbuhan. Anak sekitar usia tiga tahun secara tidak sadar mengetahui kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi yang menurutnya sukar untuk diucapkan, dan mereka mungkin sengaja menghindar atau menolak mengucapkan kata yang memiliki bunyi tersebut.39 Anak-anak cenderung memiliki kemampuan lebih tinggi dalam memahami kontras fonemik dibanding kemampuan mereka dalam menghasilkannya.40 Kita pun tidak salah jika mengatakan bahwa kemampuan reseptif pada anak mendahului kemampuannya dalam memproduksi kalimat.
b. Perkembangan Morfologi
Anak-anak yang sudah terbiasa mendengarkan bunyi, akan
36Soenjono Dardjowijoyo, Op. Cit., hlm. 197
37Arifuddin, Neuropsikolinguistik, (Jakarta: Rajawali press, 2010), hlm. 154
38Lilis Madyawati, Strategi Pengembangan Bahasa pada Anak, (Jakarta: Prenadamedia Group,
2016), hlm. 56
39Beverly Otto,Op.Cit., hlm. 121 40Arifuddin, Op.Cit.,hlm.155
17
mencoba mengucapkan kata pertama dalam hidupnya. Kemampuan itu diawali dengan mengucapkan kalimat satu kata, seperti yang sudah dibahas pada perkembangan fonetik anak, bahwa anak akan menghindari atau sengaja tidak menyebutkan kata yang mempunyai bunyi sulit. Francescato berpendapat bahwa seorang anak belajar mengucapkan kata sebagai satu kesatuan tanpa memperhatikan fonem satu per satu. Misal anak itu belum mampu mengucapkan fonem [k], tetapi sudah dapat mengucapkan fonem [t] maka ia akan menyederhanakan kata [ikan] menjadi [itan].41 Kesalahan gramatika ini sering terjadi karena anak masih berusaha mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Anak pun diyakini akan terus memperbaiki kesalahan berbahasanya ini sampai usia sepuluh tahun.42
Kata-kata pertama yang lazim diucapkan biasanya berhubungan dengan benda yang sering dilihat atau tindakan yang dikerjakan oleh orang di sekitarnya. Selain itu, bunyi dengan artikulasi yang mudah diucapkan misalnya konsonan bilabial [b], [p], [m] dan fonem [a] dalam kata “baba”, “mama”, atau “mimi”, relatif lebih sering dikeluarkan oleh anak.43 Namun untuk mengetahui makna sesungguhnya dari satu kata yang diucapkan oleh anak, kita harus menghubungkan aktivitas anak dengan gerak isyarat, ekspresi, atau benda yang dimaksud anak tersebut. Lima puluh kata pertama yang dapat dihasilkan anak, biasanya berkenaan dengan nama-nama orang, makanan, kegiatan sehari-hari, seperti mandi, kemampuan untuk mengubah lingkungan sekitar, seperti penggunaan kata-kata memberi, mengambil,
41Lilis Madyawati, Op.Cit., hlm. 56-57
42Sanggar, nasiroh-ilmu.blogspot.com/2011/01/tahap-tahap-pemerolehan-bahasa.html,
(Jogjakarta), Op.Cit.,
18
pergi, ke atas, ke bawah, membuka.44 c. Perkembangan Sintaksis
Setiap sistem bahasa memiliki aturan atau tata bahasa yang menentukan bagaimana kata-kata digabungkan untuk membentuk kalimat atau frasa atau ujaran yang bermakna. Aspek pengetahuan bahasa ini disebut pengetahuan sintaksis.45 Dalam sintaksis, anak memulai berbahasa dengan mengucapkan satu kata atau sebagian kata. Tahapnya pun berkembang menjadi tahap dua kata, tahap banyak kata sampai pada perkembangan berbagai jenis kalimat, misalnya kalimat pertanyaan dan kalimat penyangkalan dengan perkembangannya dari /tan/, /utan/, /butan/ kemudian /bukan/. Bentuk penyangkalan yang pertama bagi anak-anak adalah gelengan kepala.46
Segi sintaksis tahap ujaran satu kata sangat sederhana, namun pemilihan satu kata tersebut tidaklah sembarangan. Contoh pada kata “Fajri mau makan.” Dari ketiga kata tersebut, dia akan memilih kata “kan” (untuk makan) karena memberikan informasi paling penting dibanding dua kata lainnya. Lalu gugus konsonan pun diubah menjadi satu konsonan saja, misal Eyang Putri diucapkan sebagai Eyang /ti/.47 Selanjutnya pada tahap ujaran dua kata diselingi jeda yang seolah-olah kedua kata itu terpisah. Misal untuk menyatakan lampu menyala. Echa bukan mengatakan /lampunala/ untuk “Lampu nyala” tetapi /lampu /nala /. Perkembangan selalu berkelanjutan, sehingga struktur sintaksis dan semantik dari USK ke UDK menjadi lebih jelas karena adanya dua kata tersebut.
44Arifuddin, Ibid.,
45Beverly Otto, Op.Cit., hlm. 10
46Henry Guntur Tarigan, Psikolinguistik, (Bandung: PT. Angkasa , 1986), hlm. 281 47Soenjono Dardjowidjojo, Op.Cit., hlm. 247-248
19
3. Pemerolehan Bahasa Tataran Sintaksis
Setiap sistem bahasa memiliki aturan atau tata bahasa yang menentukan bagaimana kata-kata digabungkan untuk membentuk kalimat atau frasa atau ujaran yang bermakna. Aspek pengetahuan bahasa ini disebut pengetahuan sintaksis.48 Fokus dalam bidang sintaksis, istilah sintaksis secara langsung terambil dari bahasa Belanda syntaxis. Dalam bahasa Inggris digunakan istilah syntax.49 Dalam pemerolehan bahasa tataran sintaksis, seorang anak mulai berbahasa dengan mengucapkan satu kata (atau bagian kata) yang menurut mereka adalah kata penuh. Dalam pola pikir yang masih relatif sederhana, seorang anak memiliki pengetahuan tentang informasi lama dan informasi baru. Hal ini dipengaruhi oleh percakapan sederhana yang diucapkan secara berulang-ulang oleh orang di sekitarnya dan akan membantu anak dalam memahami sesuatu. Hal ini dikarenakan setiap anak umumnya ketika bayi mengembangkan kosakata reseptif (reseptive vocabulary), yang artinya adalah mereka memahami makna dari kata atau kalimat mengenai sesuatu yang terjadi di sekitar mereka.50
Tahap ujaran satu kata, pada masa ini anak sudah mulai belajar menggunakan satu kata atau sebagian kata yang sebenarnya memiliki arti yang luas atau mewakili keseluruhan idenya. Mereka menganggap bahwa satu kata (atau bagian kata) yang mereka keluarkan itu adalah sebuah kata penuh. Contoh kata “Ju!” (sambil memegang baju). Walaupun kata yang dikeluarkan anak sangat sederhana, namun ujaran “Ju!” termasuk dalam ujaran yang kompleks sebab dari satu kata ini dapat menghasilkan bermacam makna, yang bisa berarti anak meminta diambilkan baju, dipakaikan baju yang lain, atau memberi tahu pada lawan bicaranya bahwa yang ia pegang adalah baju. Karena itulah ujaran satu kata (USK) dilihat dari bidang sintaksisnya amat
48Beverly Otto,Op.Cit., hlm. 10
49Ramlan, Sintaksis, (Yogyakarta: CV. Karyono, 1983) hlm. 17 50Suzanne R. Gellens, Op.Cit., hlm. 80
20
sederhana, namun dilihat dari bidang semantiknya begitu kompleks. Tahap dua kata dilakukan anak dengan mengombinasikan kata dalam tahap satu kata dengan ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan, atau lainnya. Misal kata “Ma, maem”, maksudnya “Mama, saya mau makan”.51 Perkembangan tahap dua
kata sampai tahap banyak kata bagi beberapa peneliti dinamai sebagai “bahasa telegrafik”, atau penggunaan kalimat-kalimat pendek dan frasa yang terdiri dari dua sampai tiga kata.52 Isi di dalam kalimat telegrafik ini berdasarkan kata-kata yang ada di dalamnya dianggap berat dan seolah dipilih yang penting-penting saja. Dalam kasus ujaran dua kata, biasanya kata depan dan artikel tidak dipakai. Contoh: Mama Bandung [Mama ke Bandung] pada kalimat tersebut terdapat kata /ke/ yang dihilangkan, Dia pergi [dia sudah pergi].53 Memang dalam bidang sintaksis ujaran ini lebih kompleks dibandingkan USK, namun perkembangan semantiknya sudah semakin jelas. Dengan kata lain tidak hanya satu kata yang dikeluarkan tetapi ditambah dengan kata atau sebagian kata lain yang menurutnya dianggap memiliki unsur penting saja. Meskipun makna pada bidang semantiknya makin jelas, namun maksud sebenarnya dari ujaran anak harus disesuaikan dengan konteks dan lingkungan di sekitarnya juga.
Kemudian tahap banyak kata, umumnya terjadi ketika anak masuk usia 3-5 tahun. Hal ini dikarenakan pembendaharaan kata anak semakin kaya. Brown memulai dengan mengatakan bahwa anak mencoba untuk menggabungkan secara bersamaan konstruksi-konstruksi yang terlebih dahulu sudah ada. Contohnya saja “Saya menarik hidung boneka”, dari contoh /hidung boneka/ kita mengetahui adanya perluasan objek, yakni penggabungan dalam suatu istilah utama.54 Jadi antara ujaran satu kata, ujaran kata kedua atau ujaran
51Lilis Madyawati, Op.Cit., hlm. 60 52Beverly Otto, Op.Cit., hlm. 217
53Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Pemerolehan Bahasa, Op.Cit., hlm. 21 54Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Pemerolehan Bahasa, Op.Cit., hlm. 25
21
telegrafis, dan seterusnya bukan merupakan tahapan yang terputus.55 Semua tingkat gramatikal yang dihasilkan oleh anak dilalui dengan cara peniruan, penggolongan morfem, hingga penyusunan kata-kata secara bersamaan untuk membentuk kalimat.56 Ketika berusia 2-5 tahun, anak berbicara dengan banyak kata walaupun tata bahasanya masih banyak yang tidak sempurna. Menjelang 6 tahun, tata bahasa yang digunakan berkembang dan mulai mendekati tata bahasa yang biasa digunakan oleh orang dewasa.57 Anak pun semakin mampu mengembangkan tingkat gramatikal kalimat yang dihasilkan, misalnya mampu membuat kalimat pertanyaan, kalimat negatif, kalimat majemuk, dan berbagai bentuk kalimat lainnya.58
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa
Seorang anak mulai berkomunikasi dengan orang yang paling dekat, yakni ibu dan ayah. Komunikasi yang dibangun oleh orang tua dan lingkungan sangat mendukung pemerolehan dan perkembangan kemampuan berbicara anak.59 Namun, terdapat faktor lain yang dapat
mempengaruhi pemerolehan dan perkembangan bahasa pada anak, yaitu faktor biologis, faktor lingkungan sosial, faktor intelegensi, dan faktor motivasi.60
A. Faktor Biologis
Bentuk awal komunikasi pada anak yakni tangisan, kemudian berceloteh, hingga mengeluarkan kata dan akhirnya membentuk kalimat. Seperangkat prosedur dan aturan bahasa yang dinamakan Chomsky Language Acquisition Device (LAD) membuat kemampuan berbahasa pada anak umumnya bersifat universal karena dipengaruhi oleh keterbatasan unsur
55Soenjono Dardjowidjojo, Op.Cit., hlm. 249-250
56Sanggar, nasiroh-ilmu.blogspot.com/2011/01/tahap-tahap-pemerolehan-bahasa.html,
(Jogjakarta), Op.Cit.,
57Arifuddin, Op.Cit.,hlm. 156 58Lilis Madyawati, Op.Cit., hlm. 60 59Lilis Madyawati, Op.Cit., hlm. 51
22
biologis pada anak. Namun seiring pertambahan usia dan perkembangan unsur biologis anak seperti bibir, lidah, gigi, bahkan rongga mulut, membuat kemampuan berbahasanya akan semakin baik.
B. Faktor Intelegensi
Piaget berpendapat bahwa intelegensi mencakup adaptasi biologis, ekuilibrum antara individu dan lingkungan, perkembangan yang gradual, kegiatan mental dan kompetensi sehingga memungkinkan individu untuk beradaptasi dengan lingkungannya.61 Intelegensi adalah proses bertambahnya pengetahuan setelah seseorang menemukan hal baru melalui pengalaman. Secara beriringan, pemerolehan bahasa dipengaruhi oleh kemampuan intelegensi anak. Namun, intelegensi anak pun dapat berkembang lebih pesat dengan adanya bantuan bahasa. Dengan proses yang saling menguntungkan itu, maka anak akan semakin mahir berbahasa setelah tumbuh menjadi anak yang berpikir melalui pengalamannya dari lingkungan sekitar.
C. Faktor Motivasi
Seorang anak berbahasa setelah mendengarkan ujaran atau respon yang dilontarkan orang tua atau orang di sekitarnya. Pada periode awal mungkin anak hanya mendengarkan semua ujaran dan mencoba mengulangnya kembali tanpa memperhatikan reaksi orang di sekitarnya. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia dan kematangan integensinya, anak akan menunggu respon atau komentar dari orang tua atau orang yang diajak berbicara. Apabila respon yang diberikan bersifat positif atau pujian, niscaya anak akan mengulangi kata atau ujaran-ujaran tersebut. Akan tetapi jika sebaliknya atau respon negatif, anak pun akan mengurangi atau bahkan
23
menghentikan penggunaan kalimat tersebut. D. Faktor Lingkungan Sosial
Skinner mengatakan setiap anak yang lahir akan distimulus oleh lingkungan. Maka tanpa diajarkan sekalipun, dipercaya anak akan dapat berbahasa dengan cara menyesuaikan sekelilingnya. Bahasa bukanlah aturan yang dipahami perindividu melainkan perkelompok, maka semakin tinggi tingkat interaksi sosial sebuah keluarga, semakin besar peluang anggota keluarga (anak) memperoleh bahasa. Adapun yang dapat dilakukan oleh orang tua atau orang-orang di sekitarnya adalah:
1). Biasakan membaca cerita bergambar kepada anak sejak usia bayi. Pengetahuan bahasa atau kosa kata anak akan berkembang ketika mendengarkan cerita atau dengan melihat gambar-gambar secara langsung yang bersangkutan dengan cerita.
2). Bernyanyilah untuk anak, agar mereka dapat mengenali berbagai macam bunyi dan nada. Tunggulah respon anak dan tunjukkanlah wajah yang gembira sesuai dengan lagu yang dinyanyikan. Ketika anak terlihat mulai bosan dengan nyanyian tersebut, ada kalanya orang tua dapat bermain “Cilukba” untuk membuatnya kembali semangat atau bisa dengan mengajak anak untuk bernyanyi. Hal tersebut bisa meningkatkan jumlah kosa kata anak yang ia dapat dari pengalamannya bernyanyi.
3). Ajak anak berkeliling di kebun binatang. Keanekaragaman hewan yang ada di kebun binatang akan menambah rasa penasaran dalam otak anak. Hal itu merupakan kesempatan bagi orang tua untuk mengenalkan nama hewan atau bahkan mendeskripsikan hewan yang saat itu sedang mereka lihat.
4). Gunakan pengucapan dan tata bahasa yang benar, tetapi jangan sesekali membenarkan kata-kata yang diucapkan anak. Biarkan mereka berusaha untuk membenarkan sendiri kesalahannya. Hal ini dikarenakan pikiran mereka bekerja jauh lebih cepat
24
dibandingkan kemampuan mereka mengkoordinasi mulut, bibir, dan lidah untuk berbicara.62
C. Pengertian Sintaksis
Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar-kata dalam tuturan.63 Verhaar mengatakan bahwa dari segi etimologi, kata
sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata sun yang berarti
“dengan” dan kata tattein yang berarti “menempatkan”. Maka kata
suntattein berarti menempatkan kata atau ilmu penempatan kata atau ilmu
tata kalimat.64 Misalnya dalam bahaasa Indonesia kalimat Kami tidak
dapat melihat pohon itu. Urutan katanya sudah tentu—tidak mungkin
dituturkan “kalimat” seperti Pohon itu dapat kami tidak melihat.65 Sintaksis juga merupakan cabang ilmu linguistik yang secara langsung membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa.66
Satuan-satuan itu disebut Satuan-satuan gramatikal, dan satu dengan lainnya memiliki perbedaan masing-masing. Diurutkan dari yang terkecil satuan gramatikal dalam sintaksis diawali dari frasa, klausa, kalimat, dan wacana.
1. Frasa
Ramlan (1987: 153) dalam bukunya berjudul, Ilmu Bahasa
Indonesia: Sintaksis mendefinisikan frasa sebagai satuan gramatik
yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi unsur klausa.67 Maksudnya adalah dua kata atau lebih itu selalu terdapat dalam satu fungsi yang sama, misalnya fungsi subjek, objek, pelengkap, atau keterangan. Fungsi predikat dalam frasa tidak ada, karena frasa memiliki sifat nonpredikatif. Jadi di dalam kelompok kata itu tidak mungkin dapat ditemukan fungsi predikat seperti dalam
62Suzanne R. Gellens, Op.Cit., hlm. 82-83
63Verhaar, Asas-asas Linguistik Umum, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2016) hlm.
161
64Suhardi, Dasar-dasar Ilmu Sintaksis Bahasa Indonesia, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016)
hlm. 13-14
65Verhaar,Op.Cit., hlm. 11 66Ramlan, Op.Cit.,hlm. 17 67Suhardi, Op.Cit., hlm. 19
25
kalimat.68 Ciri-ciri frasa adalah terdiri dari dua kata atau lebih, belum melampaui batas fungsi, dan belum memenuhi syarat sebagai klausa.69 2. Klausa
Ramlan (1981: 62) mengatakan bahwa klausa adalah satuan gramatik yang terdiri dari predikat (P), baik diikuti oleh unsur subjek (S), objek (O), pelengkap (Pel.) keterangan (K), maupun tidak.70 Berdasarkan fungsinya dalam kalimat, klausa dapat menempati posisi subjek, objek, pelengkap atau keterangan.71 Ciri-ciri klausa adalah merupakan kelompok kata, memiliki unsur predikat di dalamnya, dan satu klusa hanya terdiri dari satu predikat.72 Oleh karena itu, klausa pasti bersifat predikatif dan berpotensi untuk menjadi sebuah kalimat.73
3. Kalimat
Kalimat dapat diartikan sebagai satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik.74 Kalimat pun dapat diartikan sebagai satuan terkecil yang dapat digunakan untuk menyampaikan ide atau gagasan apabila disandingkan dengan paragraf dan juga wacana.75 Dalam karangan, kalimat merupakan satuan yang terkecil, namun dianggap sebagai satuan terbesar dalam analisis gramatikal di samping frasa dan klausa.76 Kalimat adalah satuan pikiran atau perasaan yang dinyatakan dengan subjek dan predikat yang dirakit secara logis.77 Kalimat
menjelaskan berbagai jenis pikiran dan perasaan dari seseorang. Tidak mengherankan apabila jenis kalimat yang dipakai pun berbeda-beda.78
68Kunjana Rahardi, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta: Erlangga, 2009) hlm. 67 69Suhardi, Op.Cit., hlm. 21
70Suhardi, Op.Cit., hlm. 47 71Kunjana Rahardi, Op.Cit, hlm.72 72Suhardi, Op.Cit., hlm. 48 73Kunjana Rahardi, Op.Cit, hlm.71 74Ramlan, Op.Cit., hlm. 20
75Kunjana Rahardi, Op.Cit, hlm. 76
76Alek dan Achmad, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm.
244
77Alek dan Achmad, Ibid., 78Alek dan Achmad, Ibid.,
26
Kalimat adalah sekumpulan kata atau sebagian kata yang secara keseluruhan memiliki intonasi tertentu sebagai pemarkah keseluruhan itu. (Dalam ortografi kita melambangkan akhir kalimat dengan tanda titik, atau dengan tanda lain yang sesuai, misalnya tanda seru, atau tanda tanya).79 Intonasi kalimat ditandai dengan tanda baca titik (.) untuk kalimat pernyataan atau berita, tanda baca tanya (?) untuk kalimat pertanyaan, dan tanda seru (!) untuk kalimat perintah, larangan, atau seruan.80 Kalimat bila dilihat dari fungsi dalam hubungannya dengan situasi, dapat dibagi atas beberapa kelompok, yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah.81
A. Kalimat Berita (Deklaratif)
Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat berita pada umumnya berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain hingga tanggapan yang diharapkan hanyalah berupa perhatian seperti tercermin pada pandangan mata yang menunjukkan adanya perhatian.82 Kalimat ini dipakai apabila penutur ingin menyampaikan suatu informasi secara lengkap kepada lawan bicara.83 Kalimat berita tidak
mengharapkan jawaban ataupun tindakan dari pendengar/pembacanya, tetapi yang diharapkan adalah perhatian agar pendengar/pembaca memperoleh pengetahuan.84 Oleh karena itu, sebuah kalimat disebut berita ditentukan oleh isinya yang merupakan pemberitaan. Dalam bentuk tulis diakhiri tanda titik, sedangkan dalam bentuk lisan diakhiri dengan nada turun.85
79Verhaar,Op.Cit., hlm. 161
80Abdul Chaer, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), hlm. 328 81Suhardi, Op.Cit., hlm. 90
82Ramlan, Op.Cit., hlm. 26
83Zaenal Arifin dan Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, (Jakarta: Akademika Pressindo,
2009), hlm. 95
84Miftahul Khairah dan Sakura Ridwan, SINTAKSIS Memahami Satuan Kalimat Perspektif
Fungsi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), hlm. 227
27
Kalimat berita memiliki pola intonasi yang disebut pola intonasi berita, ialah [2] 3 // [2] 3 1 diakhiri tanda # yang di bawah tanda pagar itu diberi tanda ˇ ; [2] 3 // [2] 3 apabila predikatnya terdiri dari kata-kata yang suku kedua dari belakangnya bervokal /ǝ/, seperti kata keras, cepat, kering,
tepung, bekerja; dan [2] 3 2 // [2] 1 diakhiri tanda # yang di
bawah tanda pagar itu diberi tanda ˇ bagi kalimat berita yang bersusunan inversi, ialah predikatnya di depan, diikuti subjek.86 Akan tetapi, dikarenakan penulis tidak menemukan tanda yang sesuai, maka penulis menggunakan tanda ▼ untuk mengganti tanda pagar (#) yang di bawahnya ada panah ke arah bawah (ˇ). Jadi penulisan pola intonasi berita dalam penelitian ini ialah [2] 3 // [2] 3 1 ▼. Keterangan : nomor ( 1, 2, 3, ... ) adalah tinggi rendahnya intonasi. Tanda siku buka dan siku tutup ( [ ... ] ) menandakan intonasi yang sama, misal [2] 3 1 sama dengan intonasi 2 2 2 2 3 1. Tanda garis miring satu ( / ) berarti terdapat jeda sebentar, tandan garis miring dua ( // ) berarti ada jeda yang cukup lama. Dan tanda panah ke bawah (▼) menandakan pola intonasi turun.
B. Kalimat Pertanyaan (Interogatif)
Kalimat tanya adalah kalimat yang meminta orang lain untuk menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Biasanya di akhir kalimat menggunakan tanda baca tanya (?).87 Kalimat pertanyaan mempunyai pola akhir naik, polanya ialah [2] 3 // [2] 3 2 # yang di atas tanda pagar (#) itu diberi tanda ˆ.88 Seperti halnya pada pola intonasi kalimat deklaratif,
penulis pun mengganti tanda pagar (#) yang diatasnya ada tanda panah ke atas (ˆ) menjadi ▲. Jadi, penulis menuliskan pola intonasi kalimat interogatif menjadi [2] 3 // [2] 3 2 ▲.
86Ramlan, Op.Cit., hlm. 26 87Suhardi, Op.Cit., hlm. 78 88Ramlan, Op.Cit., hlm. 28
28
Keterangan : nomor ( 1, 2, 3, ... ) adalah tinggi rendahnya intonasi. Tanda siku buka dan siku tutup ( [ ... ] ) menandakan intonasi yang sama, misal [2] 3 2 sama dengan intonasi 2 2 2 2 3 2. Tanda garis miring satu ( / ) berarti terdapat jeda sebentar, tandan garis miring dua ( // ) berarti ada jeda yang cukup lama. Dan tanda panah ke atas (▲) menandakan pola intonasi naik. Kalimat tanya dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi (jawaban) yang diharapkan.89 Reaksi jawaban yang diharapkan dapat terbagi menjadi lima, yaitu:
1). Kalimat tanya yang meminta pengakuan atau jawaban
ya atau tidak. Contoh: Suaminya guru SMP?;
2). Kalimat tanya yang meminta keterangan mengenai salah satu unsur kalimat. Contoh: Siapa nama anak
itu?;
3). Kalimat tanya yang meminta jawaban berupa alasan. Contoh: Mengapa kamu sering terlambat?;
4). Kalimat tanya yang meminta pendapat orang lain. Contoh: Bagaimana cara mengangkut batu sebesar
ini?;
5). Kalimat tanya yang jawabannya digunakan untuk menguatkan yang ditanyakan, biasanya diikuti dengan adanya kata “bukan”. Contoh: Anda berasal dari
Bogor, bukan?90
Secara formal, kalimat ini ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti apa, siapa, berapa, kapan, mana,
mengapa, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel – kah sebagai penegas. Apa digunakan untuk menanyakan benda atau sesuatu selain manusia, siapa digunakan untuk menanyakan orang, berapa digunakan untuk menanyakan jumlah, mana digunakan untuk menanyakan keberadaan, kapan digunakan untuk menanyakan waktu, mengapa digunakan untuk menanyakan cara atau perihal.91
C. Kalimat Perintah (Imperatif)
Berbeda dengan kalimat tanya, kalimat perintah
89Zaenal Arifin dan Amran Tasai, Ibid 90Abdul Chaer, Op.Cit., hlm. 355
29
mengharapkan reaksi yang berupa tindakan atau perbuatan dari orang yang diajak bicara (pendengar atau pembaca).92 Kalimat ini dipakai jika penutur ingin “menyuruh” atau “melarang” orang berbuat sesuatu.93 Dalam bentuk
tulisannya, kalimat perintah atau kalimat imperatif biasanya diakhiri dengan tanda seru, sedangkan dalam bentuk lisan intonasi ditandai dengan nada rendah di akhir tuturan.94 Pola intonasinya ialah [2] 3 ditambah tanda pagar(#) yang di bawah tanda pagar itu diberi tanda panah ke bawah (ˇ) atau [2] 3 2 ditambah tanda pagar (#) yang di bawah tandanya itu diberi tanda panah ke bawah (ˇ) jika diikuti partikel lah pada predikatnya. Sama halnya dengan kalimat deklaratif dan kalimat interogatif, penulis menggunakan tanda ▼ untuk mengganti tanda pagar (#) yang di bawahnya ada panah ke arah bawah (ˇ). Jadi, penulisan pola intonasi kalimat imperatif menjadi [2] 3 ▼. Keterangan : nomor ( 1, 2, ... ) adalah tinggi rendahnya intonasi. Tanda siku buka dan siku tutup ( [ ... ] ) menandakan intonasi yang sama, misal [2] 3 sama dengan intonasi 2 2 2 3. Tanda garis miring satu ( / ) berarti terdapat jeda sebentar, tandan garis miring dua ( // ) berarti ada jeda yang cukup lama. Dan tanda panah ke bawah (▼) menandakan pola intonasi turun.
Struktur kalimat suruh dapat dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu: kalimat sebenarnya, kalimat
persilahan, kalimat ajakan, dan kalimat larangan. Berikut
penjelasannya:
1). Kalimat suruh yang sebenarnya ditandai oleh pola intonasi suruh. Apabila predikatnya tediri dari kata verbal intransitif, bentuk kata verbal itu tetap, hanya partikel lah dapat ditambahkan pada kata verbal untuk
92Abdul Chaer, Op.Cit., hlm. 356
93Zaenal Arifin dan Amran Tasai, Op.Cit., hlm. 96 94Miftahul Khairah dan Sakura Ridwan, Op.Cit., hlm. 222