DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PARIPURNA KE-4 MASA SIDANG I TAHUN SIDANG

38  Download (0)

Full text

(1)

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH

SIDANG PARIPURNA KE-4

MASA SIDANG I TAHUN SIDANG 2015 – 2016

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

I. KETERANGAN

1. Hari : Kamis

2. Tanggal : 29 Oktober 2015 3. Waktu : 15.20WIB – Selesai 4. Tempat : R. Rapat Nusantara V

5. Pimpinan Sidang : 1. H. Irman Gusman, SE., MBA (Ketua DPD RI) 2. GKR Hemas (Wakil Ketua DPD RI)

3. Farouk Muhammad (Wakil Ketua DPD RI)

6. Sekretaris Sidang : 1. Prof. Dr. Sudarsono Hardjosoekarto (Sekretaris Jenderal DPD RI)

2. Zul Evi Astar, S.H. (Wakil Sekretaris Jenderal DPD RI) 7. Panitera : Adam Bachtiar, S.H., M.H. (Kepala Biro Persidangan II) 8. Acara : 1. Laporan Pelaksanaan Tugas Alat Kelengkapan;

2. Pengesahan Keputusan DPD RI;

3. Pidato Penutupan Pada Akhir Masa Sidang I Tahun Sidang 2015-2016.

9. Hadir : Orang

(2)

II. JALANNYA SIDANG :

PIMPINAN SIDANG : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Om swastiastu.

Sebelum memulai Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah, marilah kita menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kepada para Anggota DPD serta seluruh hadirin dimohon untuk berdiri dan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya.

PEMBICARA: PADUAN SUARA Hiduplah Indonesia raya… Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri. Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku. Bangsa dan Tanah Airku. Marilah kita berseru. Indonesia bersatu. Hiduplah tanahku. Hiduplah negriku.

Bangsaku Rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya.

Bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya. Indonesia Raya. Merdeka Merdeka.

Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka.

Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya. Dipersilakan duduk kembali.

Berdasarkan catatan daftar hadir yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal sampai saat ini telah hadir 62 secara fisik, 1 tugas, dan 5 izin. Semua berjumlah 67 orang Anggota DPD, dan telah menandatangani daftar hadir. Dengan demikian sidang telah memenuhi syarat untuk dibuka dengan mengucapkan, sebelumnya kita sepakati dulu karena waktunya

(3)

ini agak sedikit ini Pukul 15.30 WIB pasti akan terbentur pada sholat Ashar. Kami menghimbau sholat Ashar kita lakukan secara bergantian saja, sementara kita harapkan sebelum shalat Maghrib Pukul 18.00 WIB kita akhiri sidang ini. Dapat disetujui ini? Baik, dengan mengucapkan,

Bismillahirrahmanirrahim.

Sidang Paripurna ke-4 DPD RI kami buka, dan dinyatakan terbuka untuk umum. KETOK 1X

Sesuai sidang dewan yang mulia, sesuai dengan jadwal acara yang tadi telah diputuskan dalam sidang, Rapat Pleno Panmus, Sidang Paripurna hari ini mempunyai tiga agenda pokok, yaitu:

1. Laporan pelaksanaan tugas alat kelengkapan. 2. Pengesahan keputusan DPD RI.

3. Pidato penutupan akhir Masa Sidang I Tahun Sidang 2015- 2016.

Mohon kita menghargai apa yang telah diputuskan. Mengawali Sidang Paripurna kami informasikan bahwasanya pada tanggal 22 Oktober 2015 pimpinan DPD telah melantik saudara Muhammad Rahman, S.E., S.T., sebagai Anggota PAP DPD RI dari Kalimantan Tengah untuk menggantikan Habib Said Ismail yang mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Kalimantan Tengah. Kami mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung semoga dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik, dan dapat selalu memberikan sumbangsi terhadap tugas kelembagaan DPD.

Selanjutnya, marilah kita memasuki agenda laporan pelaksanaan tugas alat kelengkapan DPD dan pengesahan keputusan DPD. Untuk urutan penyampaian laporan dimulai dari alat kelengkapan yang materi pokok yang akan mengambil keputusan. Untuk urutan pertama kami persilakan kepada PPUU untuk untuk menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan tugasnya. PPUU? Baik, selanjutnya kami persilakan kepada Komite III untuk menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan tugasnya.

Silakan.

PEMBICARA : Drs. H. HARDI SELAMAT HOOD (KETUA KOMITE III)

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat sore.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Om swastiastu.

Yang terhormat saudara Pimpinan DPD RI.

Yang terhormat saudara Pimpinan Alat Kelengkapan DPD RI.

Yang terhormat saudara-saudara Anggota DPD RI Senator Indonesia yang berbahagia.

Pada Sidang Paripurna yang mulia ini, perkenankanlah kami menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan tugas Komite III DPD RI. Pada Sidang Paripurna kali ini Komite III menyampaikan bahwa berkaitan kegiatan yang dimulai di tanggal 26 September sampai hari ini, di mana Komite III telah melaksanakan serangkaian kegiatan berupa Sidang Pleno, uji sahih, dan kunjungan kerja, baik di dalam negeri, maupun di luar negeri. Yang dimaksud kunjungan keluar negeri adalah pada pengawasan terhadap penyelenggaraan ibadah haji. Selama itu juga kami melakukan berbagai kegiatan yang kami namakan expert meeting yang

(4)

juga mengundang beberapa pakar terutama tentang kerukunan umat beragama, serta juga tentang persoalan obat-obatan, dan persoalan kekerasan dalam rumah tangga.

Pimpinan para sidang yang kami muliakan ini, izinkanlah kami menyampaikan yang terutama adalah pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Pengawasan ini dilakukan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang seperti kami kemukakan, dan serangkaian kegiatan yang dimulai dengan rapat-rapat kerja dengan Menteri Agama, audiensi dengan Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Haji, kunjungan kerja berbagai provinsi yang tempat debarkasi dan embarkasi haji, juga kunjungan Komite III pra-haji pada tanggal 22 – 29 Agustus 2015, dan kunjungan kerja pelanggaran pada saat haji pada tanggal 17 – 30 September 2015, dilanjutkan dengan finalisasi pada tanggal 20 – 22 Oktober 2015.

Izinkanlah kami menyampaikan beberapa peristiwa yang anggap kami penting, dan mungkin para Senator yang berbahagia telah memahaminya. Bahwa pada ibadah haji tahun 2015 ini memang serangkaian tragedi dan musibah mengusik kita semua. Pertama adalah musibah robohnya crane yang digunakan untuk merenovasi Masjidil Haram, kemudian juga tragedi Mina yang mengakibatkan banyaknya jatuhnya korban, di samping secara internal juga bagi Indonesia adanya hotel yang mengalami kebakaran. Oleh karena itu, tentu saja kami mengajak semua para Senator untuk kita sama-sama prihatin dan berduka cita atas musibah tersebut.

Berdasarkan hasil pengawasan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji berkaitan dengan perjalanan Ibadah Haji di tahun 2015, Komite III kemudian merekomendasikan:

1. Mendorong pemerintah agar dalam menetapkan kuota haji, melakukan diplomasi dengan pemerintah Arab Saudi agar menambah kuota haji dan melakukan perubahan kebijakan untuk penetapan kuota haji provinsi, maupun kabupaten, dan kota.

2. Mendorong pemerintah bersama DPR agar melakukan perubahan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang penyelenggara ibadah haji untuk menambahkan ketentuan batas minimal 12 bulan dalam .... (tidak jelas, red.) BPIH. 3. Mendesak pemerintah melakukan penyempurnaan prosedur atau membenahi aparatur

yang berkaitan dengan .... (tidak jelas, red.) visa haji sehingga tidak terjadi keterlambatan.

4. Mendorong pemerintah untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyempurnakan kebijakan pembangunan asrama haji, serta kelengkapan sarana dan prasarananya.

5. Mendorong pemerintah untuk menyempurnakan kebijakan manasik haji yang meliputi kualitas manasik haji, penambahan alokasi waktu untuk manasik ibadah, pembekalan teknis non-ibadah, pelibatan pembimbing KBIH dalam manasik haji, dan penambahan anggaran honorium bagi pembimbing manasik haji.

6. Mendesak untuk melakukan perubahan Pasal 11 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji, khususnya menghapus tim pemandu haji daerah.

7. Mendorong untuk menyempurnakan pelayanan keperluan di Arab Saudi yang meliputi pembunuhan standarisasi, pemondokan haji, diplomasi Pemerintah Arab Saudi.

8. Melakukan diplomasi dengan Pemerintah Arab Saudi berkenaan dengan fasilitas secara permanen di Armina.

9. Mendorong pemerintah untuk meningkatkan pelayanan, dan pemberian konsumsi di Mekah, serta mendorong pemerintah untuk melakukan distribusi petugas haji secara merata dan meningkatkan kopetensi petugas haji.

(5)

10. Mendorong Kementerian Agama dan Kementerian Keuangan membuat peraturan bersama mengenai standar biaya khusus bagi petugas badah haji.

Sehubungan dengan hal tersebut, ketika DPD RI melalui Sidang Paripurna yang mulia ini memohon kepada pimpinan Anggota DPD RI yang terhormat untuk dapat bersama-sama kita menyetujui dan mengesahkan hasil pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji Tahun 2015 Masehi 1436 Hijriah, untuk selanjutnya disampaikan kepada DPR RI.

Lain daripada itu, kami juga telah melakukan penyelesaian penyusunan dua rancangan undang-undang usul inisiatif. Yang pertama adalah Rancangan Undang-Undang tentang Bahasa Daerah dan Rancangan Undang-Undang tentang Ekonomi Kreatif. Kedua rancangan tersebut telah difinalisasikan dan oleh karena itu kami juga telah menyampaikan kepada Panitia Perancang Undang-Undang untuk dilakukan harmonisasi pembulatan dan pemantapan konsepsi RUU tersebut.

Pimpinan, Bapak/Ibu yang kami muliakan, demikianlah yang dapat kami sampaikan. Sekali lagi dengan hormat kami memohon kepada para Senator yang berbahagia untuk dapat mengesahkan bersama hasil pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji Tahun 2015/1436 Hijriah, demikian kami sampaikan.

Pantunnya pantun biasa, daun sirih di atas kayu, terima kasih thank you.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

PEMBICARA : Drs. MUHAMMAD AFNAN HADIKUSUMO (PROV. DIY) Pimpinan, interupsi. PPUU siap laporan.

PIMPINAN SIDANG : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI) Setelah kita bersama mendengarkan laporan Pimpinan Komite III, apakah kita dapat menyetujui hasil pengawasan DPD atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji berkenaan dengan penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1436 Hijriah 2015 Masehi, setuju?

KETOK 2X Tepuk tangan dulu.

Saya menyampaikan meminta Sesjen tolong hasil yang sangat berharga ini tidak hanya menjadi dokumen, tetapi tolong tuangkan dalam bentuk rilis ke media massa untuk masing-masing provinsi. Jadi begitu pulang nanti masing-masing provinsi keluar dengan rilisnya sendiri-sendiri di sertai dengan 4 nama anggota di provinsi itu. Bagaimana Pak Sesjen? Baik, terima kasih.

Selanjutnya kami persilakan kepada Komite IV untuk menyampaikan laporan pelaksanaan tugasnya.

PEMBICARA : Drs. H. A. BUDIONO, M. Ed (WAKIL KETUA KOMITE IV)

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat sore.

(6)

Om swastiastu.

Yang terhormat Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah, yang terhormat para Anggota Dewan Perwakilan Daerah, yang saya hormati saudara Sesjen, beserta seluruh jajarannya.

Terlebih dahulu mari kita memanjatkan puji syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita sekalian sehingga kita dapat menghadiri Sidang Paripurna ke IV Dewan Perwakilan Daerah pada hari ini. Atas nama Pimpinan dan segenap Anggota Komite IV Dewan Perwakilan Daerah, kami sampaikan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Selanjutnya sesuai dengan jadwal sidang pada hari ini, perkenankan kami menyampaikan laporan hasil pembahasan Komite IV pada Masa Sidang I Tahun Sidang II ini.

Pandangan dan pendapat terhadap RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan atau JBSK. Dalam pembahasan terhadap RUU JPSK ini, Komite IV melaksanakan serangkaian rapat dengan Menteri Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, dan Himpunan Bank Negara. Menyikapi urgency RUU JPSK dalam stabilitas sistem keuangan, DPD RI mendukung RUU JPSK disahkan menjadi Undang-Undang dengan pandangan dan pendapat sebagai berikut, satu dalam rapat pembahasan RUU JPSK di DPD RI berkembang usulan agar Menteri Keuangan menjadi Ketua KSSK, tapi dalam pembahasan selanjutnya DPD RI bersepakat dengan usulan pemerintah bahwa Menteri Keuangan sebagai koordinator dengan posisi tersebut semua Anggota KSSK adalah sederajat sehingga pengambilan keputusan harus dilakukan dengan musyawarah dan mufakat agar keputusannya diambil dapat dipertanggungjawabkan secara bersama.

Pimpinan dan Anggota DPD RI yang saya hormati, pada Sidang Paripurna terhormat ini kami sampaikan hasil pembahasan Komite IV untuk diputuskan sebagai berikut.

Keputusan DPD RI tentang pandangan dan pendapat DPD RI terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan. Hasil pengawasan atas pelaksanaan undang-undang bidang lembaga keuangan, pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang bidang lembaga keuangan dilaksanakan dengan didasarkan pada ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 22D Ayat (3) serta Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD. Sebagian diubah dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2014 Pasal 249 Ayat (1) huruf E, dan Pasal 256 huruf E. Pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang bidang lembaga keuangan dilakukan oleh Komite IV melalui Rapat Internal Komite IV, RDP dengan OJK, dan Himbara. Kunjungan kerja ke dua daerah, yakni Provinsi Bengkulu dan Provinsi Bali pada tanggal 5 – 7 Oktober 2015 dalam kunjungan kerja tersebut dilakukan Rapat Dengar Pendapat dengan pendapat umum. Selanjutnya finalisasi materi dilaksanakan pada tanggal 19-21 Oktober 2015.

Temuan dalam hasil pengawasan DPD RI atas pelaksanaan Undang-Undang bidang Lembaga Keuangan, antara lain:

1. Pengelola bank konglomerasi sangat berhati-hati dalam penyaluran kredit dan pembiayaannya. Implikasinya sebagian bank yang memiliki Loan to Deposit Ratio atau LDR yang tinggi berupaya menjaga Non Performing Loan atau NPL dalam batas aman. Hal itu dilakukan guna mengantisipasi dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi pada sektor-sektor yang memperoleh kredit dan pembiayaan tersebut. 2. Bank Pembangunan Daerah mengalami kesulitan dalam pemenuhan modal dasar, dan

modal inti untuk melakukan ekspansius usaha. Keterbatasan modal Bank Pembangunan Daerah terjadi karena ketiadaan dukungan dari DPRD dalam memberikan persetujuan penambahan penyertaan modal daerah atau PMD pada Bank Pembangunan Daerah tersebut.

3. Pengelolaan Bank Perkreditan Rakyat atau BPR sebagian mengalami kredit bermasalah yang ditunjukkan oleh net performing loan sebesar 6,05 persen pada

(7)

Agustus 2015. Tingginya NPL dari BPR tersebut selain disebabkan oleh kurangnya sumber daya manusia dalam melakukan pengawasan atas kredit yang telah disalurkan juga disebabkan oleh kualitas kredit yang diberikan mengalami penurunan karena kondisi perlambatan ekonomi di beberapa sektor seperti industri, perdagangan, dan jasa.

Terhadap hasil pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang bidang lembaga keuangan Komite IV DPD RI menyimpulkan dan merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut:

1. Lembaga Keuangan di daerah baik Bank Pembangunan Daerah, maupun Bank Perkreditan Rakyat menghadapi masalah dalam pemenuhan kecukupan modal, maupun tingginya kredit bermasalah. Nah sementara di sisi lain bank konglomerasi tengah berhati-hati untuk menjaga kredit bermasalah agar tetap aman.

2. Aset permodalan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia merupakan persoalan utama yang dihadapi Lembaga Keuangan Mikro, bahkan sebagian Lembaga Keuangan Mikro yang berbasis adat belum dimasukkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro.

3. Kondisi perbankan di daerah menghadapi beragam persoalan, baik persaingan tidak sehat antar bank maupun persyaratan agunan KUR yang memberatkan masyarakat. Secara khusus Jamkrida dan PT Askrindo juga menghadapi masalah dalam permodalan, dan akses masyarakat terhadap lembaga tersebut.

Terhadap pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang bidang Lembaga Keuangan direkomendasikan:

1. Aspek yuridis peraturan OJK Nomor 12 POJK 15/2014 tentang Perizinan Usaha Dan Kelembagaan Lembaga Keuangan perlu sosialisasi. Pendampingan dan pengawasan intensif agar target OJK tercapai, yaitu per 8 Januari 2016 setiap Lembaga Keuangan Mikro telah berbadan hukum.

2. Bank Indonesia dalam perubahan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan perlu mengatur iklim persaingan yang sehat antar bank, baik antar Bank Pembangunan Daerah dan bank BUMN maupun antara bank swasta, dan bank swasta asing dalam hal segmentasi nasabah dana pihak ketiga. .... (tidak jelas red.) produktif dan penyaluran kreditkonsumsi.

3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro perlu memasukkan LKM berbasis hukum adat sehingga memberikan status formal bagi LKM tersebut.

Aspek empiris :

1. Dukungan politik DPRD di daerah harus konkret terhadap upaya Pemerintah Daerah dalam alokasikan APBD untuk penyertaan modal DPD, penguatan aset, dan modal LKM, penguatan BPR, penguatan kapasitas, dan modal Jamkrida, dan PT Askrindo, serta dalam pengadaan pelatihan keterampilan sumber daya manusia, pengelola Lembaga Keuangan.

2. Pemerintah perlu mengubah atau bahkan menghilangkan persyaratan agunan KUR dengan mekanisme lain yang mempermudah masyarakat mengakses KUR. Selain itu, bank penyalur KUR perlu diperluas termasuk memberikan kesempatan kepada LKM yang telah memenuhi persyaratan.

3. Otoritas jasa keuangan perlu merumuskan peraturan OJK tentang LPD berbasis adat, atau hukum agama dalam rangka pembinaan dan pendampingan LKM di pedesaan. 4. RUU penjaminan diperlukan untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat

yang ingin membuka, atau mengembangkan unit usaha baru sehingga dapat mengakses pinjaman kredit yang mendapat jaminan perlindungan berdasarkan aset kurang dari atau lebih dari 2 miliar.

(8)

Pimpinan dan Anggota DPD RI yang berbahagia, pada Sidang Paripurna yang terhormat ini kami sampaikan hasil pembahasan Komite IV untuk diambil putusan sebagai keputusan DPD RI tentang hasil pengawasan DPD RI atas pelaksanaan Undang-Undang bidang lembaga keuangan. C pertimbangan terhadap tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2015.

Hadirin yang berbahagia, tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2015 didasarkan pada ketentuan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 23E Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang ketentuan, dan Nomor 7 tentang perlakuan akuntansi atas .... (kurang jelas red.) bantuan di daerah. Menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2015 DPD RI berpendapat dan merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

1. Pemerintah Pusat meningkatkan transparansi penghitungan dana transfer dan percepatan alokasi Pagu sementara sebagai dasar penyusun RAPBD.

2. BPK RI melaksanakan PDTT atau Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu terhadap Dana Bagi Hasil. Fokus pemeriksaan PDTT pada penghitungan DBH yang menjadi hak daerah agar dilakukan secara transparan dalam penghitungan DPA sesuai dengan kriteria dan indikator penghitungan yang telah ditetapkan.

3. Bersama dengan Pemerintah Daerah, BPK secara periodik melakukan pemutakhiran data rekomendasi yang tidak dapat tindaklanjuti dan menghapus rekomendasi yang benar-benar tidak dapat ditindaklanjuti.

4. Pemerintah merevisi regulasi mengenai ketentuan sanksi administratif dan juga sanksi pidana pengadaan barang dan jasa agar Pemerintah Daerah mendapatkan kepastian hukum dalam pelaksanaan pengadaan barang dan jasa.

5. BPK melakukan pemantauan tindak lanjut atas rekomendasi yang belum dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah.

6. Pemerintah Daerah mengusulkan tambahan formasi pegawai dengan kualifikasi pendidikan akuntansi dan tidak melakukan mutasi bagi PNS yang telah terlatih pada bidang tugasnya ke bidang lain yang tidak sesuai dengan kompetensinya.

7. Pemerintah Daerah menyiapkan tenaga pendamping dalam penggunaan Sistem Informasi Manajemen Daerah atau Simda yang telah terbukti keandalannya.

8. Pemerintah terus melakukan pembinaan dan memfasilitasi Pemerintah Daerah menerapkan standar akutansi berbasis Akrual. Selain itu pemerintah tidak memberikan pinalti kepada daerah yang Capen opininya turun karena masa transisi penerapanSAP berbasis Akrual.

Pimpinan dan Anggota DPD RI yang berbahagia, akhirnya pada Sidang Paripurna ini kami sampaikan hasil pembahasan Komite IV untuk diambil putusan sebagai keputusan DPD RI tentang pertimbangan DPD RI terhadap tindak lanjut hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan Semester I Tahun 2015.

Demikian laporan pelaksana tugas Komite IV yang dapat kami sampaikan, atas nama Pimpinan dan Anggota Komite IV kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi, dan dukungan yang terhormat Pimpinan, Anggota, Sekertariat Jenderal DPD RI, tim ahli RUU, dan staf ahli, serta rekan-rekan media dalam pelaksana tugas Komite IV DPD RI. Demikian mohon maaf kalau ada salah, dan khilaf saya akhiri.

Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Om shanti shanti shanti om.

PIMPINAN SIDANG : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI) Baik setelah kita bersama-sama mendengarkan laporan Pimpinan Komite IV apakah kita dapat menyetujui, namun Pak Ajiep dan Pimpinan Komite IV mungkin ada susunan

(9)

perlu penyesuaian dengan peraturan DPD Nomor 6 tentang pembuatan, pandangan, pertimbangan, dan pendapat DPD. Peraturan Nomor 4 Tahun 2014 pedoman, pelaksanaan pemberian pertimbangan, RUU juga itu ada, redaksi saja ini Pak. Apakah kita dapat menyetujui, pertama pandangan dan pendapat DPD terhadap RUU jaring pengaman sistem keuangan, setuju?

KETOK 2X

Dua, hasil pengawasan DPD atas pelaksanaa Undang-Undang bidang lembaga keuangan, setuju?

KETOK 2X

Tiga, pertimbangan DPD terhadap tindaklanjut pemeriksaan BPK RI Semester I Tahun 2015, setuju?

KETOK 2X

Terima kasih.

Selanjutnya kami persilakan kepada Komite I, Pimpinan Komite I untuk menyampaikan laporan perkembangan pelaksaan tugasnya. Mohon Pimpinan Pak Azis, Pimpinan Komite I? Mewakili, karena sudah pernah ada konvensi, ada keberatan jadi saya sebelum ini meminta persetujuan dulu para anggota. Apa kita bisa menyetujui, setuju? Dengan catatan dan imbauan, mohon lain kali kalau Rapat Paripurna itu Pimpinan harus ada, karena tiga pimpinan jangan semua berhalangan.

Silakan Pak Azis.

KETOK 2X

PEMBICARA : ABDUL AZIS KHAFIA, S.Si., M.Si (ANGGOTA KOMITE I)

Terima kasih Pimpinan.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pimpinan dan Anggota DPD yang kami hormati.

Pertama-tama kami mohon maaf ketiga pimpinan kami sedang melaksanakan tugas negara sehingga tidak bisa hadir di ruangan ini. Maka saya diminta dalam waktu dan tempo sesingkat-singkatnya untuk mewakili beliau-beliau. Namun, tidak mengurangi substansi yang akan kami sampaikan mewakili Komite I pada sore hari ini. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia dan nikmat-Nya sehingga kita bisa hadir dalam Sidang Paripurna yang mulia pada sore hari ini.

Pada Masa Sidang I Tahun 2015 – 2016, Komite I DPD RI melaksanakan berbagai agenda kegiatan sebagaimana ditugaskan oleh peraturan tata tertib DPD RI. Dalam sidang paripurna ini kami akan laporkan sebagai berikut:

1. Penyusunan Rancangan Undang tentang Pertanahan dan Rancangan Undang-Undang tentang perubahan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara.

2. Pengawasan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

3. Pengawasan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagai telah diubah kedua kali dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015.

(10)

4. Pengawasan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa.

5. Pandangan DPD RI atas Rancangan Undang-Undang KUHP dan lain-lain.

Pertama, penyusunan Rancangan Undang-Undang usul inisiatif tentang pertanahan. Secara substansi perlu kami sampaikan bahwa Rancangan Undang-Undang Pertanahan merupakan upaya memperkuat pengaturan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1980 tentang Undang-Undang Pokok Agraria yang telah berusia 60 tahun. Beberapa ketentuan dalam Rancangan Undang-Undang Pertanahan, antara lain:

1. Pengakuan terhadap hak-hak atas tanah yang selama ini belum secara konkret diatur dalam Undang-Undang Pokok Agraria. ‘

2. Pengakuan terhadap hak atas tanah bagi masyarakat hukum adat yang selama ini belum hadir dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia kendati konstitusi telah mengatur secara tegas.

3. Semangat redistribusi tanah untuk mempercepat proses reforma agraria yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia dan seterusnya.

Dengan Rancangan Undang-Undang tentang Pertanahan diharapkan cita-cita reforma agraria dapat terwujud secara nyata dan konflik-konflik agraria dapat terselesaikan. Pada Masa Sidang I Tahun Sidang 2015 – 2016 ini telah dilakukan harmonisasi, pembulatan, dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang tentang Pertanahan oleh PPUU pada tanggal 1 – 3 Oktober 2015.Setelah Komite I melakukan serangkaianpenyusunan rancangan tentang pertahanan ini, maka Komite I meminta Sidang Paripurna hari ini untuk mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Pertanahan menjadi keputusan DPD RI.

Yang kedua, Rancangan Undang-Undang tentang perubahan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Batas Negara. Sebagaimana diketahui bahwa Komite I berpandangan DPD perlu secara serius, sungguh-sungguh untuk mendorong pemberdayaan masyarakat dan potensi masyarakat di daerah perbatasan. Mengingat sampai dengan detik ini kondisi-kondisi di daerah, perbatasan negara secara umum masih dapat dikatakan tertinggal. Oleh karena itu, Komite I berpandangan memandang perlu dilakukannya perubahan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara. Perkembangan penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Wilayah Negara masih dalam tahap RDPU dengan para pakar. Kunjungan kerja dalam rangka inventarisasi materi wilayah ketiga daerah, yaitu ke Riau, Kalimantan Barat, Maluku Utara pada tanggal 4 dan 7 Oktober yang lalu, dan baru saja kita melakukan studi referensi kedua negara, yaitu negara Inggris dan negara Prancis tanggal 19 – 26 Oktober yang lalu.

Selanjutnya, pengawasan atas pelaksanaan Undang yang pertama, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dari pengawasan ini, kami memberikan beberapa catatan atau rekomendasi:

1. DPD RI mendesak pemerintah untuk segera memastikan luasan kawasan hutan dan nonhutan dengan memperhatikan data hutan Indonesia dan kawasan lainnya.

2. Pemerintah harus segera melakukan harmonisasi, regulasi, penataan ruang dengan regulasi sektoral lainnya.

3. Mendorong pemerintah untuk melaksanakan pemberian insentif kepada provinsi atau kabupaten/kota yang telah melakukan pengendalian dan pemanfaatan ruang melalui Perda RT/RW dan memberikan disinsentif serta sanksi bagi daerah yang belum melaksanakan pengendalian, dan pemanfaatan ruang sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang penataan ruang.

4. Mendorong kepada pemerintah untuk memberikan informasi tentang implementasi kebijakan penataan ruang agar masyarakat memahami perencanaan, kebijakan, penataan ruang.

(11)

5. Komite I melakukan serangkaian kegiatan penyusunan hasil pengawasan Komite I melalui Sidang Paripurna ini kami mohon untuk mengesahkan hasil pengawasan DPD RI atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007.

Selanjutnya pengawasan terhadap Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah, atas pengawasan ini Komite I memberikan catatan sebagai berikut.

Mendesak pemerintah untuk:

1. Melakukan terobosan hukum untuk menyelesaikan beberapa persoalan yang berkaitan dengan peralihan, urusan pemerintahan, dan perubahan yang berpotensi menimbulkan permasalahan di daerah terutama urusan kehutanan, kelautan, dan pertambangan. 2. Memberikan kewenangan bidang perkebunan kepada kabupaten/kota,

mempertimbangkan kembali pembagian urusan yang berimplikasi pada pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan provinsi, dan kabupaten/kota khususnya di bidang layanan dasar yang berimplikasi pada tata kelola, aset, dan manajemen. 3. Mempercepat penyelesaian sejumlah peraturan pelaksana Undang-Undang Nomor 23

Tahun 2015. Menerbitkan petunjuk teknis pelaksanaan belanja, hibah, dan bantuan sosial dengan mengedepankan prinsip, transparansi, akuntabilitas, dan tepat sasaran. 4. Selanjutnya mendesak pemerintah pusat untuk segera melakukan perubahan terhadap

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah sebagai konsekuensi dari perubahan kewenangan dan urusan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, dan memberikan porsi yang berkeadilan bagi daerah dan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. Selanjutnya tentang Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Komite I pada masa sidang ini juga melaksanakan kegiatan pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 dengan difokuskan kepada 2 hal:

1. Mengenai realisasi pencairan Dana Desa. 2. Pendampingan Dana Desa.

Atas pengawasan ini, Komite I masih memandang perlu melakukan pembahasan lebih lanjut dan konfirmasi kepada pemerintah khususnya Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Selanjutnya, Undang-Undang tentang Pemilihan Gubernur, Walikota, dan Bupati. Dalam hal ini kami melakukan pengawasan pada dua tahapan yang pertama, yaitu prapelaksanaan, dan kedua yang akan kami laksanakan pada pelaksanaan yang akan dilaksanakan 9 Desember 2015 mendatang. Melalui forum Sidang Paripurna ini Komite I mengajak agar seluruh Anggota DPD RI dapat berperan aktif serta melakukan pengawasan pemilihan Kepala Daerah pada tanggal 9 Desember 2015, dan pada saat ini masih dalam proses Komite I juga sedang menyusun sebuah panduan atau pedoman pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pilkada ini. Selain itu, kami mengharapkan kepada Sidang Paripurna ini untuk mendukung dibentuknya Desk Pilkada yang berkedudukan di kantor DPD RI di setiap provinsi. Jika ini dapat disepakati, maka kami meminta kepada jajaran Setjen untuk dapat mempersiapkan dan melaksanakan pembentukan Desk Pilkada ini sehingga pada hari menjelang pelaksanaan dan hari pelaksanaan Pilkada serta pascapelaksanaan Pilkada, DPD RI dapat secara eksis mengawal penyelenggaraan Pilkada.

Pandangan terhadap Rancangan Undang-Undang KUHP dalam Sidang Pleno Komite I pada tanggal 11 Oktober 2015 dihasilkan kesimpulan bahwa Komite I tidak meneruskan pembahasan pandangan terhadap RUU KUHP karena sesuai dengan konstitusi pada Pasal 22 huruf D Undang-Undang Dasar 1945 bahwa yustisi bukan bagian dari kewenangan DPD RI. Namun dikarenakan adanya amanat dari Pansus DPD RI untuk meneruskan pembahasan, Komite I akan melanjutkan pembahasan penyusunan pandangan terhadap Rancangan Undang-Undang tentang KUHP tersebut. Komite I masih membutuhkan waktu untuk

(12)

melakukan pendalaman atas materi Rancangan Undang-Undang KUHP tersebut. Lain-lain sebagaimana diketahui pada periode keanggotaan DPR dan DPD RI 2009 – 2014 telah diusulkan 65 Rancangan Undang-Undang dan 22 Rancangan Undang-Undang pembentukan Daerah Otonomi Baru atau DOB. Mengingat saat ini telah berlaku Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menggantikan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka beberapa ketentuan pelaksana juga mengalami perubahan, di antaranya Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penggabungan, Penghapusan Daerah Otonom. Namun demikian, sebagaimana kesepakatan antara Komite I dengan Menteri Dalam Negeri, Komite I diminta untuk melakukan review terhadap usulan 65 dan 25 DOB berdasarkan Ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penggabungan, Dan Penghapusan Daerah Otonom. Sejalan dengan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 hal ini dikarenakan seluruh persyaratan terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 masih tetap berlaku khusus terhadap 65 dan 22 DOB, kendati pembentukannya tetap melalui daerah persiapan.

Berdasarkan hal tersebut, Komite I telah membuka ruang audiensi dan ruang untuk melakukan review terhadap 65 dan 22 DOB dengan mengutamakan daerah-daerah yang sebelumnya direkomendasikan oleh DPD RI. Berdasarkan hal tersebut, dalam rangka merespons aspirasi, maka Komite I telah melakukan rangkaian kunjungan fisik kewilayahan ke beberapa calon DOB, antara lain:

Pada tanggal 13 dan 16, Komite I melakukan kunjungan ke Kabupaten Balanipa sebagai pemekaran Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat.

Pada tanggal 4 – 7 Oktober, Komite I melakukan kunjungan ke calon Kabupaten Galela Loloda sebagai pemekaran Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara.

Pada tanggal 8 – 10 Oktober, Komite I melakukan kunjungan fisik ke calon Kabupaten Muara Digul dan Kabupaten Admi Korbay sebagai pemekaran Kabupaten Mapi Provinsi Papua. Dalam kunjungan kewilayahan fisik tersebut, saat Komite I melakukan kajian lebih lanjut terhadap seluruh persyaratan DOB berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Adapun terkait DOB-DOB yang berasal dari Provinsi Papua hasil RDP dengan Gubernur Provinsi Papua disepakati bahwa Komite I akan mengusulkan kepada pemerintah, seluruh DOB yang telah mendapat rekomendasi dari Gubernur Papua sepanjang telah memenuhi persyaratan perundang-undangan dengan melihat kondisi sosial budaya dan faktor, serta keamanan kepentingan stategis nasional di tanah Papua.

Demikian laporan pelaksanaan tugas Komite I pada Masa Sidang I Tahun 2015 – 2016. Atas perhatian seluruh Anggota DPD dan Pimpinan kami ucapkan terima kasih.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pimpinan Komite I: Ketua H. Akhmad Muqowam, Wakil Ketua Fachrul Rozi, Wakil Ketua Benny Rhamdani, saya Azis Khafia.

PIMPINAN SIDANG : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI) Sebelum saya sampaikan minta persetujuan, saya ingin memberikan catatan pada redaksional, mungkin ini pekerjaan staf Pak Azis. Jadi, ketika dokumen ini menjadi utusan Paripurna, maka yang mendesak ini bukan lagi Komite I, tetapi DPD RI. Jadi, kalimat-kalimat seperti “Komite I DPD RI mendesak pemerintah untuk begini-begini” itu mohon disesuaikan untuk semua. Terima kasih.

Selanjutnya, kita telah mendengarkan laporan Pimpinan Komite I. Apakah kita dapat setujui satu RUU Inisiatif DPD RI tentang Pertanahan?

(13)

KETOK 2X

Dua, hasil pengawasan DPD RI atas pelaksana Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang?

KETOK 2X

Tiga, hasil pengawasan DPD RI atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah beserta perubahannya?

KETOK 2X Terima kasih.

Kita tepuk tangan untuk Komite I. Selanjutnya, kami hanya memberi catatan Komite I pada waktu kunjungan daerah ke daerah-daerah otonomi baru yang sudah pernah dikunjungi oleh periode sebelumnya untuk tidak menimbulkan kesan seolah terus berulang-ulang. Mohon mungkin itu disesuaikanlah dilaksanakan, tetapi ini sifatnya verifikasi atau apalah supaya tidak ada kesan seolah-olah rakyat ini datang bolak balik hanya kunjungan terus saja begitu. Mohon itu menjadikan, karena bagaimanapun nama lembaga yang kita pertaruhkan. Terima kasih Pimpinan Komite I.

Selanjutnya kami persilakan kepada BAP untuk menyampaikan laporan pelaksanaan tugas.

PEMBICARA : Drs. H. ABDUL GAFAR USMAN, MM (KETUA BAP)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat sore.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Om swastiastu.

Pimpinan Bapak dan Ibu Anggota Senator yang saya muliakan. Para pejabat Sekjen eselon I sampai eselon IV.

Para hadirin-hadirat yang berbahagia.

Laporan perkembangan pelaksanaan tugas Badan Akuntabilitas Publik Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia pada Sidang Paripurna ke IV Masa Sidang I Tahun Sidang 2015 Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.

Satu, bahwa BAP telah melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan peraturan perundangan dan tata tertib yang ada. Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi, pertama, menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK RI yang terindikasi merugikan negara, jadi berbeda dengan Komite IV. Berdasarkan hasil kajian, hasil kunjungan kerja, hasil pertemuan dengan pemerintah daerah, provinsi, kabupaten/kota seluruh Indonesia bahwa kehadiran BAP sangat diperlukan. Pertama, untuk meminta komitmen dari kepala daerah tentang dapat menindaklanjuti hasil temuan BPK yang terindikasi merugikan negara. Kedua, BAP juga memfasilitasi jika hal-hal yang diusulkan, dan disarankan, dan diharapkan oleh gubernur serta bupati walikota yang terkait dengan duplikasi aturan-aturan, serta aturan-aturan yang tidak dapat dicerna secara cepat dan tepat oleh kepala daerah yang terkait dengan kebijakan pusat. Kita melakukan rapat konsultasi dan rapat koordinasi dengan instansi terkait, baik BPK RI, Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, dan Kepolisian Republik Indonesia sehingga dengan demikian kehadiran BAP sangat dirasakan oleh kepala daerah terhadap bagaimana ruginya dan bagaimana manfaatnya menindaklanjuti hasil temuan BPK yang terindikasi merugikan negara. Fungsi kedua, BAP menindaklanjuti hasil pengaduan masyarakat terhadap

(14)

persoalan-persoalan, baik yang menyangkut tindak korupsi, maupun administrasi, pelayanan terhadap masyarakat, sertakasus-kasus pertanahan yang cukup berkembang dengan hak-hak yang dirasakan oleh masyarakat terhadap menindaklanjuti hasil pengaduan tersebut BAP telah menerima pengaduan baik secara lisan langsung yang diterima oleh Anggota BAP atau Anggota DPD pada daerah yang diwakilinya baik secara tertulis maupun secara langsung datang ke DPD semuanya kita tindaklanjuti, tetapi karena kita merupakan lembaga resmi yang dapat kita tindaklanjuti adalah yang memang mendapat data-data dan informasi secara tertulis, sedangkan yang tidak tertulis secara langsung akan kita lakukan analisis sesuai dengan situasi dan kondisi. Alhamdulillah secara tertulis yang telah dapat kita lakukan 8 yang kita anggap cukup dan telah kita lakukan 6 sebagai tindak lanjut, sehingga fungsi representasi dari DewanPerwakilan Daerah Republik Indonesia sangat dirasakan oleh masyarakat.

Bapak dan Ibu yang kami hormati. BAP merupakan wajah paling nyata dari makna kehadiran wakil rakyat dan lembaga perwakilan itu sendiri. BAP menyadari bahwa kinerja DPD secara kelembagaan akan sangat ditentukan dari derajat resentasi yang konstituen membina hubungan dengan konstituen yang dijalankan dengan peran-peran konstituenal yang memungkinkan untuk itu. Meski konstitusi secara formal dipandang membatasi kedudukan DPD, akan tetapi Dewan Perwakilan Daerah masih dapat mengoptimalkan kiprahnya, khususnya dalam melaksanakan fungsi pengawasan dan representasi. Hal inilah yang dipedomani setelah dilaksanakan secara progresif oleh Badan Akuntabilitas Publik dalam menindaklanjuti pengaduan masyarakat dalam penanganan kasus-kasus korupsi mal-administrasi, serta pelayanan publik, dan kasus-kasus hukum, dan sengketa lainnya.

Alhamdulillah respons yang sangat positif yang telah dilakukan, pertama kita secara

langsung melakukan ke Provinsi Riau. Alhamdulillah ada yang telah selesai dengan memfasilitasi di BAP, memfasilitasi bukan menyelesaikan, memfasilitasi sehingga dapat selesai. Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sulawesi Utara, bahkan di Jawa Barat sangat direspons oleh pemerintah daerah dan rakyat, dan serta LSM terhadap peran DPD yang secara langsung dapat memfasilitasi sehingga membantu kepala daerah dengan instansi terkait sehingga persoalan-persoalan itu dapat selesai.

Demikian Bapak dan Ibu, bahwa peranan BAP ternyata sangat dirindukan kehadirannya oleh masyarakat. Oleh karena itu, frekuensi yang dilakukan oleh agenda-agenda BAP terpaksa menyesuaikan dengan harapan masyarakat. Nah, penyesuaian ini agenda-agenda yang dapat kita lakukan ternyata sampai hari ini ada beberapa kegiatan tim analisis yang belum dapat dilakukan karena memerlukan dukungan administrasi dan keuangan. Dengan demikian money follow function kita perjuangkan dan tadi telah kita sampaikan kepada Bapak BAP dalam Rapat Pimpinan serta rapat-rapat yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi yang memerlukan dukungan administrasi, serta dukungan-dukungan keuangan yang diperlukan. Alhamdulillah lembaga politik memerlukan komunikasi yang intensif baik secara personal maupun secara kelembagaan semua aspirasi BAP.

Alhamdulillah Pimpinan akan menindaklanjuti sesuai dengan komitmen kita bersama.

Demikian laporan yang kami sampaikan baik kepada saudara-saudara Senator yang terkait dengan komite lainnya. Kami mohon maaf BAP bukan mengerjakan kegiatan alat kelengkapan lain, tetapi masalah kasusnya yang kami fasilitasi jika terkait dengan rekan-rekan sekalian. Kami akan melakukan koordinasi dan kritikan dan saran akan kami terima. Demikian Bapak tentang laporan kegiatan selanjutnya dalam rangka mengefektivitaskan pengawasan terhadap pengelola keuangan negara daerah berdasarkan temuan dari hasil tindak lanjut LHP BPK dan hasil diskusi dalam FGD bersama BPK, Kementerian Keuangan, dan Pemerintah Daerah, serta Mendagri. BAP mengusulkan dibentuknya RUU tentang pengawasan RUU tentang pengawasan keuangan negara yang mekanisme pembentukannya sesuai ketentuan yang berlaku. RUU ini diharapkan dapat mewujudkan sinergisitas antara Lembaga Pengawas Keuangan Negara Daerah sehingga kinergi keuangan negara daerah

(15)

semakin akuntabel. Oleh karena itu, kami serahkan sepenuhnya kepada Pimpinan, apakah BAP akan diberikan kewenangan atau diberikan kepada komite-komite terkait yang penting adalah sinergisitas antara daerah dengan lembaga-lembaga lain, dengan diterbitkannya RUU pengawasan ini. Oleh karena itu, kami mohon kepada Pimpinan dan Paripurna:

1. Mengesahkan hasil pengawasan BAP.

2. Menyetujui usul BAP terhadap adanya RUU serta pelaksanaannya diserahkan sesuai dengan tata tertib dan Undang-Undang yang berlaku sepenuhnya diserahkan kepada Paripurna dan Pimpinan.

Demikian, terima kasih.

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

PIMPINAN SIDANG : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI) Sebelum kami minta persetujuan, seperti biasa Pak Abdul Gafar tolong di dalam dokumen ini saya lihat ada beberapa masalah redaksional, tolong diperbaiki termasuk tadi saya kalimat BAP akan itu, karena ini ditandatangani Pimpinan menjadi lembaga DPD. Terima kasih.

Setelah mendengarkan laporan Pimpinan BAP, apa kita dapat menyetujui hasil pengawasan DPD RI atas penindaklanjutan laporan hasil pemeriksaan BPK Masa Sidang I Tahun 2015 – 2016, setuju?

KETOK 1X Terima kasih.

Berikut kami persilakan, belum PPUU karena tadi, kami persilakan kepada tim kajian Panmus untuk melaporkan hasil kerja.

Silakan.

PEMBICARA : A.M. IQBAL PAREWANGI (TIM KAJIAN PANMUS)

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat saudara Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Yang terhormat saudara-saudara Anggota Dewan Perwakilan Daerah.

Sekretariat Jenderal, beserta jajaran Sekjen DPD RI. Hadirin yang berbahagia.

Atas memo konstitusional dari Ketua Tim Kajian DPD RI Panmus DPD RI Al Ustadz Gafar Usman, saya membacakan laporan Panitia Musyawarah DPD RI pada Sidang Paripurna ke-4 DPD RI Masa Sidang I Tahun Sidang 2015 – 2016. Terlebih dahulu marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas berkah dan rahmat-Nya kita dapat hadir bersama-sama dalam Sidang Paripurna ke-4 DPD RI yang mulia ini.

Selanjutnya, perkenankanlah kami atas nama Panitia Musyawarah menyampaikan laporan dalam rangka memperkuat eksistensi lembaga DPD sebagai lembaga legislatif dan memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan meningkatkan akuntabilitas lembaga DPD Republik Indonesia. Panitia Musyawarah menyusun pedoman kerja yang menjadi standar kelembagaan DPD RI yang menjadi panduan bagi Anggota DPD RI untuk melaksanakan fungsinya sebagai Anggota Parlemen. Dalam praktik ketatanegaraan, aturan pelaksanaan mengenai fungsi, wewenang, dan tugas DPD RI sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan

(16)

perubahan di level Undang-Undang yang mengatur DPD. Undang-Undang yang mengatur DPD adalah Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang yang kita sebut Undang-Undang MD3 sebagai pengganti Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009. Perubahan Undang-Undang MD3 tersebut tentu harus ditindaklanjuti dengan penyesuaian dan penyempurnaan berbagai aturan internal DPD Republik Indonesia. Aturan internal dimaksudnya adalah peraturan tentang tata tertib DPD RI yang telah disahkan dengan keputusan DPD RI Nomor 1 Tahun 2014 perubahan ketentuan dalam Undang-Undang MD3 dan peraturan tentang Tata tertib DPD Republik Indonesia dimaksud pada gilirannya menuntut perubahan pedoman kegiatan DPD RI di daerah yang sebelumnya ditetapkan dengan Peraturan DPD RI Nomor 5 DPD 2012.

Pada Masa Sidang I Tahun Sidang 2015 – 2016 ini, Panitia Musyawarah DPD RI telah selesai menyusun pedoman pelaksanaan kegiatan DPD RI di daerah dan penindaklanjutannya. Pedoman ini merupakan revisi dari Peraturan DPD RI Nomor 5 Tahun 2015 tentang pedoman kegiatan DPD RI di daerah. Maksud dan tujuan pedoman ini disusun sebagai panduan untuk mengarahkan dan menyatukan langkah bagi setiap Anggota DPD RI dalam melaksanakan kegiatan di daerah, baik dalam kapasitas kelembagaan maupun perseorangan anggota dan atau kelompok anggota provinsi sebagai upaya untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya memperjuangkan aspirasi rakyat dan daerah serta mempertanggungjawabkannya, baik secara moral maupun politis kepada rakyat dan daerah yang diwakilinya. Semoga pedoman ini dapat memudahkan para Anggota DPD dalam menjaring informasi dan penindaklanjutannya, baik berupa informasi realisasi, kondisi, maupun aspirasi masyarakat dan daerah secara sistematis terencana, efektif, dan efisien.

Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesiaserta hadirin yang kami muliakan, sebelum mengakhiri laporan ini, kami atas nama Panitia Musyawarah DPD Republik Indonesia meminta kepada Sidang Paripurna untuk mengesahkan pedoman pelaksanaan kegiatan DPD RI di daerah dan penindaklanjutannya menjadi Peraturan DPD RI pada Sidang Paripurna ke-4 ini. Akhirnya, perkenankan kami mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Pimpinan DPD beserta seluruh Anggota DPD RI dan juga kepada Sekretariat Jendral yang telah banyak membantu. Demikian laporan Panitia Musyawarah. Atas perhatian Sidang Paripurna DPD Yang Mulia ini, kami ucapkan terima kasih.

Wabillahi taufiq walhidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ketua tim kajian Al Ustad Gafar Usman (Ketua) dan Wakil Ketua A.M Iqbal Parewangi.

PIMPINAN SIDANG : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI) Terima kasih Pak Iqbal, tetapi mohon maaf Pak Iqbal saya kadang-kadang mata saya itu paling jeli. Jadi, bukan revisi peraturan DPD Nomor 5 Tahun 2015, mestinya revisi atau pembaharuan peraturan DPD Nomor 5 Tahun 2012 tentang pedoman kegiatan DPD di daerah. Sebelum saya minta persetujuan forum yang saya hormati, saya ingin menyampaikan ada selipan di dalam naskah yang tadi dilaporkan oleh Tim Kajian pada Rapat Panmus, yaitu pada halaman 14 ada tambahan kalimat sesudah kata narasumber sambungan dari halaman 13 ada tambahan kalimat sebagai berikut, “dalam hal diundang sebagai narasumber, selain berperan sebagai pembicara dalam pertemuan dengan masyarakat, anggota dapat membangun kerja sama dengan panitia penyelenggara sehingga pertemuan dengan masyarakat tersebut juga memberi manfaat bagi kegiatan sosialisasi lembaga”. Ini diperlukan sebagai payung hukum karena kemarin kita sudah sepakati bahwa kegiatan 12 kali ke daerah tidak hanya dengan dukungan biaya-biaya perjalanan dinas kalau kegiatan itu menghadiri undangan perayaan ulang tahun apa semua that’s ok, tapi kalau undangan untuk pertemuan

(17)

dengan masyarakat kita diundang sebagai narasumber bukan peserta, maka itu perlu diberi, dapat diberikan tambahan biaya kegiatan di daerah. Tepuk tangan dong, sekali lagi tepuk tangannya.

Baik, apakah kita dapat menyetujui peraturan DPD RI tentang pedoman pelaksanaan kegiatan DPD RI di daerah dan penindaklanjutannya, setuju?

KETOK 2X Baik terima kasih.

Kita kembali kepada Panmus. Saya ulangi, kepada PPUU, kami persilakan.

PEMBICARA : BAIQ DIYAH RATU GANEFI, SH (WAKIL KETUA PPUU)

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Om swastiastu.

Laporan pelaksanaan tugas Panitia Perancang Undang-Undang disampaikan pada Sidang Paripurna ke-4 DPD RI Kamis 29 Oktober 2015.

Yang terhormat Pimpinan DPD RI. Yang terhormat Anggota DPD RI. Hadirin yang berbahagia .

Sesuai dengan agenda Sidang Paripurna hari ini, izinkan kami atas nama Pimpinan Panitia Perancang Undang-Undang dan anggota menyampaikan hasil pelaksanaan tugas Panitia Perancang Undang-Undang selama Masa Sidang I Tahun Sidang 2015 – 2016 sebagai berikut.

1. Harmonisasi pembulatan dan pemantapan konsepsi terhadap RUU dari komite.

2. Penyusunan RUU tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (RUU P3).

3. Pembahasan Prolegnas RUU Prioritas Tahun 2015.

Sidang Paripurna yang mulia, harmonisasi pembulatan dan pemantapan konsepsi terhadap RUU dari komite. Selama Masa Sidang I ini, PPUU telah menerima 3 RUU untuk dilakukan harmonisasi, pembulatan, dan pemantapan konsepsi. Adapun ketiga RUU tersebut adalah RUU tentang Perkoperasian, dan RUU tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang diajukan oleh Komite IV, dan RUU tentang Pertanahan yang diajukan oleh Komite I.

Adapun RUU tentang perkoperasian telah disahkan pada Sidang Paripurna yang lalu sehingga pada kesempatan ini kami atas nama PPUU menyampaikan hasil harmonisasi RUU tentang Pertanahan dan RUU tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Harmonisasi RUU tentang Pertanahan dilakukan oleh PPUU pada tanggal 30 September sampai dengan 2 Oktober 2015 berdasarkan surat dari Komite I pada tanggal 25 Agustus 2015. Dalam pembahasan di harmonisasi tersebut, telah mencapai suatu permufakatan terkait dengan aspek-aspek yang perlu disinkronkan dengan peraturan perundang-undangan lain. Sedangkan, untuk secara lebih rinci substansi RUU tentang Pertanahan akan disampaikan oleh komite pengusul, yaitu Komite I.

Yang berikutnya adalah RUU tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2015 berdasarkan surat permintaan dari Komite IV pada tanggal 30 September 2015. Dalam pembahasan di harmonisasi tersebut dinamis, dan konstruksi, dan

(18)

telah dicapai suatu pemufakatan bahwa RUU tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan ini tidak lagi bersifat perubahan, akan tetapi penggantian karena substansi yang diubah lebih dari 50 persen, dan sesuai lampiran dua Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan, maka RUU tersebut harus bersifat penggantian, dan untuk menindaklanjuti pemufakatan tersebut akan disusun kembali oleh Komite IV dalam bentuk RUU yang bersifat penggantian. PPUU dalam melakukan kegiatan harmonisasi, pembulatan, dan pemantapan konsepsi terhadap RUU dari Komite sebut senantiasa berpedoman bahwa kegiatan tersebut adalah kegiatan dalam rangka menyelaraskan, menyesuaikan, memantapkan, dan membulatkan konsepsi suatu Rancangan Undang-Undang dengan peraturan perundang-undangan baik yang lebih tinggi, sederajat maupun yang lebih rendah, dan hal-hal lain selain peraturan perundang-undangan. Sehingga tersusun suatu sistematis tidak saling bertentangan atau tumpang tindih.

Sidang Paripurna yang berbahagia, sehubungan dengan penyusunan dan pembahasan review RUU tentang P3 telah kami sesuaikan dengan hasil putusan Mahkamah Konstitusi perkara Nomor 92/PPUU X/2012 dan perkara Nomor 79/PPUU-12-2014 yang mengakomodir masukan pimpinan dan anggota serta masyarakat dan daerah dalam kegiatan inventarisasi materi dan uji sahih. Selain itu, agar eksistensi DPD dalam melaksanakan fungsi legislasi lebih diketahui oleh masyarakat luas, maka dalam lampiran dua revisi Undang-Undang P3 kami masukkan penyebutan nama DPD, yaitu:

a. Dalam hal RUU yang diajukan oleh di DPD, template akan ditayangkan.

b. Dalam hal RUU yang berkaitan dengan kewenangan DPD diajukan oleh DPR, atau Presiden dan;

c. Dalam hal RUU tertentu yang harus memperhatikan pertimbangan DPD.

Berdasarkan hal tersebut, dalam sidang yang mulia ini kami mohon agar review RUU P3 dapat disahkan menjadi RUU dari DPD untuk disampaikan dan dibahas bersama dengan DPR dan pemerintah. Dapat kami sampaikan bahwa sehubungan dengan adanya surat dari DPR nomor LJ/15766 /DPR RI/10 2015 tanggal 20 Oktober 2015 perihal penundaan rapat koordinasi dalam rangka evaluasi Prolegnas RUU prioritas Tahun 2015, dan penyusunan Prolegnas RUU prioritas Tahun 2016. Rapat koordinasi dengan DPR dan pemerintah tersebut sampai saat ini belum dilaksanakan tanpa ada alasan yang jelas dari DPR. Oleh karena itu, kami harapkan kepada Pimpinan DPD untuk dapat melakukan komunikasi dengan DPR dan pemerintah terkait pembahasan Prolegnas dimaksud mengingat Prolegnas merupakan pintu masuk utama dalam pembahasan legislasi merupakan bersama dengan DPR dan Pemerintah. Demikian laporan yang dapat kami sampaikan pada Sidang Paripurna hari ini. Atas perhatian Pimpinan dan Anggota DPD RI, kami ucapkan terima kasih.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Shalom.

Om shanti shanti shanti.

Pimpinan Panitia Perancang Undang-Undang Ketua Drs. Muhammad Afnan Hadikusumo, Wakil Ketua Djasarmen Purba, Wakil Ketua Baiq Diyah Ratu Ganefi.

PIMPINAN SIDANG : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI) Baik, terima kasih kepada Pimpinan PPUU.

Selanjutnya kami minta persetujuan tujuan atas rancangan Undang-Undang tentang perubahan atas Undang Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan, apakah dapat kita setujui?

(19)

KETOK 3X

Baik, terima kasih.

Selain pengambilan keputusan yang disampaikan beberapa alat kelengkapan, Rapat Panmus tadi pagi menyetujui sampai sore itu, tadi pagi sampai sore sampai jam 2 lewat, menyetujui mengagendakan pengambilan keputusan terkait penerimaan surat dari Pimpinan Pansus Tatib perihal perpanjangan masa tugas Pansus sehubungan dengan masa kerja Pansus yang akan berakhir di bulan Oktober, dan sampai dengan saat ini pembahasan materi perubahan Tatib masih belum tuntas. Maka, sesuai dengan Pasal 111 Ayat (4) peraturan DPD nomor 1 tahun 2014 tentang tata tertib yang menyatakan bahwa masa kerja Pansus paling lambat, paling lama 6 bulan dan sesudahnya dapat diperpanjang satu kali tiga bulan. Maka dengan ini, dimohon persetujuan perpanjangan masa kerja Panmus selama 3 bulan dengan penekanan merujuk pada putusan Sidang Paripurna ke-11 tanggal 17 April Tahun 2015 yang tertuang dalam keputusan DPD RI Nomor 25 DPD RI/III/2014-2015 tanggal 17 April 2015 tentang Panitia Khusus Perubahan Tata Tertib Dewan Perwakilan Republik Indonesia. Untuk itu apakah kita dapat menyetujui perpanjangan masa kerja Pansus Tatib sampai dengan bulan Januari 2016?

KETOK 2 X

Tepuk tangan.

Selanjutnya kita memasuki laporan yang tidak memerlukan pengambil keputusan berhubung ada permintaan yang sangat mendesak sekali dan bersifat kemanusiaan khususnya kepada saudara Ibu kita Ibu Eni yang karena jadwal kita mendahului nanti saya mohon persetujuan kita dahulukan mendengar laporan dari task force bencana. Saya persilakan Ibu Eni.

PEMBICARA : Dra. Hj. ENI KHAIRANI, M.Si (TIM KERJA BANTUAN KEMANUSIAAN KORBAN BENCANA NASIONAL)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Atas izin Ketua Task Force tim kerja tetap DPD RI untuk bantuan kemanusiaan korban bencana nasional, saya diminta untuk membacakan laporan ini.

Pimpinan DPD RI yang terhormat. Anggota DPD RI yang terhormat.

Sekretaris Jenderal DPD RI, beserta jajarannya yang kami hormati, serta hadirin yang berbahagia.

A. Berdasarkan keputusan pimpinan DPD RI Nomor 18 Pimpinan/3/2014-2015 tentang pembentukan Tim Kerja tetap DPD RI untuk bantuan kemanusiaan korban bencana nasional dengan tugas :

1. Memberikan desakan kepada pemerintah untuk mempercepat dan memaksimalkan proses penanggulangan bencana pada tahap tanggap, darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi yang dapat memberikan jaminan dipenuhinya hak-hak korban, dan daerah yang terkena bencana sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana.

2. Melakukan komunikasi yang intensif kepada Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk pendataan, dan prioritas tindakan penanggulangan bencana.

3. Memberikan dorongan kepada masyarakat untuk peduli dan memberikan dukungan moral, material kepada korban bencana.

(20)

4. Memberikan bantuan berupa moril maupun materil kepada masyarakat yang jadi korban bencana sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh DPD RI.

B. Tim Kerja ini, yang masa tugasnya selama 5 tahun bertanggungjawab dan melaporkan pelaksanaan tugas kepada Pimpinan DPD RI. Susunan keanggotaan tim kerja penasehat adalah Pimpinan DPD RI Ketua Ibu Gusti Kanjeng Ratu Hemas, wakil ketua Eni Khairani, dan Pak Pdt. Carles Simaremare, sekretaris, Ir. Anang Prihantoro, wakil Sekretaris Ibu Hj. Daryati Uteng SE. MM., bendahara H. Ahmad Kenedi. SH. MH., wakil bendahara, Hj. Denty Eka Widi Pratiwi SE., MH. Anggota tetap adalah Ketua Komite I, Ketua Komite II, Ketua Komite III, dan Ketua Komite IV. Anggota tidak tetap adalah seluruh Anggota DPD RI, dan yang bertindak sebagai koordinator daerah adalah Anggota DPD RI dari daerah yang terkena bencana.

C. Bahwa jenis bencana yang sering menjadi kerentanan suatu wilayah adalah :

1. Bencana alam berupa gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, kebakaran. Yang bukan karena faktor manusia kekeringan, dan angin topan. 2. Bencana non alam berupa epidemik dan wabah penyakit, kegagalan teknologi dan

kebakaran.

3. Bencana sosial dan kemanusiaan yang diakibatkan konflik, kerusuhan sosial, aksi terror, sabotase dan pengungsi.

4. Tim kerja DPD RI diharapkan dapat memberikan respon yang cepat dan tepat terhadap bencana sebagai bentuk kepedulian, atau empati Anggota DPD RI baik secara kelembagaan maupun perorangan atau kelompok Anggota.

D. Tim Kerja mengkoordinasikan peran-peran solidaritas, dan tanggungjawab kemanusiaan Anggota DPD RI atas bencana dengan menghimpun berbagai dana bantuan untuk meringankan beban. Diharapkan tanggung jawab kemanusiaan Anggota DPD RI lebih ditekankan pada kepedulian anggota pada tahap tanggap darurat yang memerlukan antisipasi cepat dan tepat.

E. Perlu kami sampaikan pula bahwa Tim Kerja sudah mengadakan Rapat pada tanggal 28 Oktober 2015 dengan keputusan, mohon maaf ini memang baru terlaksana karena secara teknis SK pedoman, maupun petunjuk teknis lainnya baru ditetapkan di Sidang Paripurna beberapa waktu yang lalu. Tim Kerja sudah mengadakan rapat pada tanggal 28 Oktober kemaren dengan keputusan :

a. Melakukan penggalangan dana, dan kerjasama dari luar DPD baik dari sumbangan perseorangan, lembaga donor nasional, dan internasional, maupun perusahaan yang peduli dengan bencana.

b. Dalam hal terjadi bencana Tim Kerja mengeluarkan dan memberikan bantuan dana berdasarkan surat permohonan anggota, dan diketahui oleh 4 orang Anggota provinsi yang bersangkutan. Jika dalam kondisi belum memungkinkan untuk membuat surat permohonan maka pemberian bantuan dapat diberikan setelah Tim Kerja menerima SMS, atau WA dari keempat Anggota DPD provinsi yang bersangkutan kepada ketua atau anggota Tim Kerja ini dalam kondisi emergency. Surat permohonan sebagai syarat formal disampaikan kemudian, prinsipnya Tim Kerja dalam memberikan bantuan sebisa mungkin cepat tanggap, momen, atau waktu memberikan bantuan juga tepat, tempat tepat, transparan, dan akuntabel.

c. Atas dasar permohonan tersebut Tim Kerja menentukan nilai bantuan berkisar antara, paling kecil 25 juta-100 juta. Untuk penentuan besaran ini Tim Kerja mengacu pada kriteria paling tidak ada 5 kriteria :

1. Cakupan lokasi bencananya. 2. Jumlah korbannya.

3. Kerusakan sarana dan prasarana.

(21)

5. Kemampuan SDA.

Bapak Ibu sekalian yang kami hormati. Selain itu, 4 Anggota DPD RI Provinsi Jambi, ini informasi perkembangan dengan adanya bencana asap di beberapa daerah, Provinsi Jambi telah mengirim surat kepada Presiden tertanggal 9 September Tahun 2015, perihal penanggulangan bencana asap akibat kebakaran hutan yang meminta tindakan konkret Bapak Presiden untuk membantu menuntaskan bencana asap tersebut. Surat tersebut sudah dijawab oleh Presiden melalui Mensekneg RI tertanggal 30 September 2015 menyampaikan tindakan konkrit pemerintah dalam penangganan bencana kebakaran tersebut.

Tiga, penghimpunan dana bantuan kemanusiaan untuk korban bencana melalui penarikan iuran rutin Anggota DPD RI setiap bulan sebesar Rp. 500.000,- yang dilakukan melalui pemotongan tunjangan Anggota DPD RI setiap tanggal 8 yang disetorkan kepada Tim Kerja. Saat ini posisi anggaran yang sudah terhimpun sebesar Rp. 60.500.000,- sebagai informasi SK untuk penghimpunan dana ini baru ditetapkan di Sidang Paripurna tanggal 1 September yang lalu, sehingga dana yang baru bisa dihimpun masuk di bulan Oktober ini untuk bisa dimaklumi. Demikian laporan dari kami.

Wabillahi taufiq walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

PIMPINAN SIDANG : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI) Terima kasih kepada Task Force yang disampaikan oleh Ibu Eni.

Sebelum kita lanjutkan mendengarkan laporan dari alat pelaksanaan tugas alat kelengkapan yang tidak diambil keputusan, perlu kami sampaikan bahwa Pimpinan telah menerima surat dari Bapak Ayi Hambali dan Bapak A. M. Fatwa yang ditandatangani anggota lainnya tertanggal 7 Oktober 2015 perihal pengajuan penggunaan hak bertanya Anggota DPD untuk selanjutnya diberikan kepada pemerintah. Surat tersebut dibahas dalam Rapat Panmus tadi pagi sampai dengan siang dan menyetujui mengagendakan penyampaian informasi oleh penggagas tentang penyampaian hak bertanya kepada, hak bertanya Anggota DPD RI.

Kami persilakan kepada anggota yang bersangkutan untuk menyampaikannya. PEMBICARA : Ir. H. AYI HAMBALI (JAWA BARAT)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Om swastiastu .

PIMPINAN SIDANG : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI) Terima kasih kepada task force yang disampaikan oleh Ibu Eni.

Sebelum kita lanjutkan mendengarkan laporan dari alat pelaksanaan tugas alat kelengkapan yang tidak diambil keputusan, perlu kami sampaikan bahwa Pimpinan telah menerima surat dari Bapak Ayi Hambali dan Bapak A.M. Fatwa yang ditandatangani anggota lainnya tertanggal 7 Oktober 2015 perihal pengajuan penggunaan hak bertanya Anggota DPD untuk selanjutnya diberikan kepada pemerintah. Surat tersebut dibahas dalam Rapat Panmus tadi pagi sampai dengan siang dan menyetujui mengagendakan penyampaian informasi oleh penggagas tentang penyampaian hak bertanya kepada, hak bertanya Anggota DPD RI.

(22)

PEMBICARA : Ir. H. AYI HAMBALI (JAWA BARAT)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua semua .

Om swastiastu.

Bapak Pimpinan DPD RI serta Ibu Pimpinan DPD RI yang saya hormati, yang terhormat rekan-rekan Anggota DPD RI seluruh Indonesia, yang terhormat Bapak Sekjen dan seluruh jajarannya, hadirin sekalian yang berbahagia,

Pertama-tama puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa pada hari ini kita bisa berkumpul di sini dalam acara Sidang Paripurna yang diantaranya pada kesempatan kali ini saya berterimakasih kepada Bapak Pimpinan DPD RI yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyampaikan beberapa poin tentang penggunaan hak bertanya Anggota DPD RI kepada Presiden Republik Indonesia.

Bapak dan Ibu-ibu yang saya hormati, menunjuk ketentuan dalam Pasal 22c Ayat 4 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa susunan dan kedudukan Dewan Perwakilan Daerah diatur dengan Undang-Undang kemudian dihubungkan dengan Pasal 257 Undang-Undang No. 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang menegaskan bahwa salah satu hak Anggota DPD RI adalah hak bertanya. Jadi hak bertanya ini adalah merupakan hak yang konstitusional dan dan melekat pada setiap diri anggota dan juga pada kita semua sebagai kelembagaan. Kemudian juga di atur dalam Peraturan Tata Tertib DPD RI No. 1 Tahun 2014 Pasal 13 sampai dengan Pasal 16.

Hadirin para anggota yang saya hormati, untuk itu kami berdua, saya Ayi Hambali Anggota DPD RI dari Provinsi Jawa Barat dan kemudian dengan Bapak Dr. A. M. Fatwa Anggota DPD RI dari Provinsi DKI Jakarta mengambil inisiatif mengajukan penggunaan hak bertanya ini kepada Presiden Republik Indonesia tentang pembangunan proyek kereta api super cepat atau high speed train antara Jakarta dan Bandung.

Ibu Bapak dan hadirin sekalian perlu dipahami bahwa proyek ini akan menelan biaya tidak kurang dari 80 trilyun dan membangun hanya sebuah alat transportasi yang menghubungkan Jakarta dan Bandung dimana Jakarta dan Bandung telah memiliki berbagai sarana transportasi yang cukup mewah. Ada lapangan terbang, ada jalan tol kemudian ada jalan raya yang bisa menghubungkan antara Bandung dan Jakarta. Jadi dengan demikian perlu dipertanyakan kenapa Bapak Presiden begitu cepat mengeluarkannya Peraturan Presiden untuk membangun proyek ini. Padahal setahu kami ini dalam Nawacita itu disebutkan bahwa kita akan membangun poros maritim yaitu dengan membangun alat-alat atau sarana transportasi di Indonesia bagian timur di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi tetapi itu belum ada Perpresnya. Sedangkan ini proyek yang menghubungkan cuma jaraknya 150 kilometer itu sudah dikeluarkan perpresnya sehingga kita patut mempertanyakan untuk siapa proyek ini? Mudah-mudahan proyek ini memang ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Mudah-mudahan rakyatnya juga rakyat yang mana dan bukan rakyat China Bu ya, bukan. Jadi mudah-mudahan bukan. Jadi mudah-mudahan memang untuk rakyat Indonesia. Jadi dengan demikian, dukungan dari para Anggota DPD yang saat ini sudah menandatangani sebanyak 76 orang sebetulnya mungkin lebih banyak lagi yang akan ingin mendatangkan tapi karena waktunya dan kemudian juga Bapak-bapak dan Ibu-ibu sangat padat kegiatan di luar gedung parlemen ini, sehingga kami hanya dapat mengumpulkan 76 tanda tangan tetapi itu sudah memenuhi syarat untuk kami ajukan.

Kemudian kami juga mengajukan kepada Bapak-bapak sekalian dalam Sidang Paripurna ini bahwa kami juga sudah mengajukan kepada Bapak Pimpinan dan Ibu Pimpinan DPR, DPD bahwa untuk menyampaikan hak bertanya ini pada Sidang Paripurna Luar Biasa

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in