PENERAPAN COVID (Cordial Virtual Discussion)
DALAM PEMBELAJARAN MENULIS KREATIF
Diah Anita Pusparini
Fakultas Pedagogi dan Psikologi
Universitas PGRI Wiranegara (UNIWARA) Pasuruan
[email protected]
Abstract: Pembelajaran bahasa tidak dapat dipisahkan dari kegiatan menulis. Meskipun banyak pebelajar yang merasa bahwa menulis itu tidak mudah, namun menjadi cukup signifikan bagi mereka untuk mampu menunjukkan kemampuan menulis ini. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Fakultas Pedagogi dan Psikologi UNIWARA, memfasilitasi mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan menulis mereka dengan memunculkan mata kuliah “Menulis Kreatif”. Dalam kelas ini, mahasiswa diberikan keleluasaan untuk membaca berbagai jenis aliran bacaan berupa puisi, cerita pendek, dan novel. Setelahnya, mahasiswa secara individu akan diberi waktu untuk menuliskan review terhadap bacaan serta sebuah cerita pendek sesuai dengan imajinasi dan kreasi masing-masing. Mengingat asumsi kebanyakan mahasiswa bahwa menulis bukan hal yang mudah, maka penulis berupaya untuk menciptakan suasana kelas yang mendukung daya kreasi mahasiswa dalam proses menulis. Penulis menyusun sebuah formula dengan nama COVID (Cordial Virtual Discussion). Formula ini merupakan sebuah metode pembelajaran yang digunakan dalam kelas “Menulis Kreatif”. Sebuah metode yang berbasis pada kegiatan berdiskusi dalam ruang virtual dengan suasana yang ramah. Bagaimana penulis menerapkan metode ini? Apakah dapat diterapkan dengan baik dalam kelas menulis? Bagaimana mahasiswa merespon terhadap pelaksanaan covid ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dapat terjawab dalam artikel ini. Sebuah pemaparan dan pembahasan perihal metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam kelas menulis, khususnya kelas “Menulis Kreatif” yang telah diampu oleh penulis sendiri.
Keywords:cordial virtual discussion, covid, pembelajaran menulis
94
Covid-19. Istilah karantina wilayah atau social dis-tancing atau physical disdis-tancing diperkenalkan oleh Menko Polhukam Mahfud MD, yaitu suatu keadaan dimana masyarakat Indonesia masih boleh berin-teraksi dengan saling menjaga jarak aman. Bentuk nyata dari penggunaan istilah tersebut di atas adalah dengan diberlakukannya peraturan PSBB (Pemba-tasan Sosial Berskala Besar), sebuah pemba(Pemba-tasan kegiatan tertentu penduduk di suatu wilayah yang terduga terinfeksi COVID-19 untuk mencegah penu-laran (Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, 2020).
Bukan suatu hal yang mudah bagi masyarakat Indonesia untuk sepenuhnya mampu mematuhi peraturan PSBB. Satu hal yang pasti bahwa PSBB memberikan dampak yang cukup signifikan bagi keberlangsungan beberapa sektor, yang dalam artikel ini, penulis akan memaparkan dampak yang terjadi pada bidang pendidikan. Dengan diberlakukannya Tahun 2020 menjadi tahun dengan nuansa yang
berbeda bagi hampir seluruh masyarakat di dunia. Sebuah pandemi (wabah) telah menyebar secara serempak di sebagian besar belahan dunia, tak terkecuali Asia, khususnya Indonesia. Covid-19, sebuah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus, yaitu suatu penyakit yang diketahui dapat menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius (WHO Indonesia, 2020). Berkenaan dengan banyaknya orang yang menjadi korban dikarenakan terjangkit oleh virus ini, banyak pemimpin dunia yang bersepakat untuk melakukan kebijakan lockdown atau penutupan akses keluar masuk dari/ke suatu daerah yang terdampak (Putri, 2020). Namun, tidak demikin yang terjadi di Indonesia.
Pemerintah Indonesia memiliki istilah lain dalam membatasi pergerakan warganya, khususnya untuk mengurangi dan/atau memperlambat penyebaran
peraturan PSBB, pihak sekolah dasar sampai dengan sekolah tinggi telah membatasi akses siswa/maha-siswa dan guru/dosen untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara tatap muka. Adapun pilihan pelaksanaan pembelajaran adalah dilakukan dalam jaringan (daring) dengan memanfaatkan media sosial maupun aplikasi gawai yang memadai.
Melalui artikel ini, penulis bertujuan untuk memaparkan Penerapan COVID (Cordial Virtual Discussion) dalam Pembelajaran Menulis Kreatif, khususnya pada kelas Menulis Kreatif (Creative Writing) bagi mahasiswa semester 6 (enam) di Uni-versitas PGRI Wiranegara (UNIWARA).
STUDI PUSTAKA
Menulis merupakan salah satu keterampilan bahasa yang tergolong pada kategori mahir. Sese-orang akan mampu untuk menulis dengan baik apabila telah melampaui keterampilan lainnya, seperti: mendengar, berbicara, dan membaca, seti-daknya pada tahap dasar. Oleh karenanya, diperlukan metode tertentu dalam proses pembelajaran menulis, khususnya menulis kreatif. Kutipan dari Licciardi (2015) dalam artikelnya di study.com, menyebutkan bahwa menulis kreatif merupakan sebuah karya seni dalam membuat sesuatu, sebuah tulisan yang dihasilkan tidak secara akademis maupun mengikuti teknis tertentu, namun masih menarik untuk dinik-mati oleh pembaca. Licciardi (2015) juga menambah-kan bahwa dalam menulis kreatif, penulis dapat mengekspresikan diri melalui puisi dan cerita dengan menunjukkan sisi humanis melalui pola pikir kema-nusiaan. Perlu dicatat bahwa langkah pertama dalam menulis kreatif adalah dengan memulai berimajinasi. Adapun jenis-jenis tulisan kreatif yang cukup dikenal yaitu: puisi, naskah drama, karya fiksi (novel, novela, dan cerita pendek), dan esai. Pada artikel ini, penulis memberikan paparan khusus mengenai metode yang digunakan pada proses menulis kreatif cerita pendek yang berupa prequel/sequel untuk mahasiswa semester 6 (enam) dalam kelas menulis kreatif. Menulis prequel/sequel dalam bentuk cerita pendek, dipilih oleh penulis karena dianggap mampu untuk merangsang imajinasi dalam mengembangkan isi dan jalan cerita, terutama pada saat mahasiswa telah memahami versi asli dari sebuah cerita. Card (2019) membedakan prequel dan sequel dengan menggunakan kata kunci before dan after. Dia juga menuliskan, jika keduanya dibuat setelah versi asli dengan harapan para penonton/pembaca akan telah memiliki pengetahuan/pemahaman yang cukup terhadap jalan cerita prequel (cerita sebelum versi
asli terjadi) maupun sequel (cerita setelah versi asli terjadi).
Beberapa metode pembelajaran yang sering digunakan dalam kelas, seperti yang dikutip dari Makokha dan Ongwae (1997), adalah:
1. The Lecture Method (Metode Ceramah) 2. The Discussion Method (Metode Diskusi) 3. The Programmed Instruction Method (Metode
Tugas Terjadwal)
4. The Study Assignment Method (Metode Tugas Mandiri)
5. The Tutorial Method (Metode Pendampingan)
6. The Semina r Method (Metode Belajar
Kelompok)
7. The Demonstr ation Method (Metode
Demonstrasi Contoh)
8. The Performance Method (Metode Praktek Langsung)
9. The Buzz Group (Kelompok Kecil) 10. Brainstorming (Berbagi Ide) 11. Role Plays (Bermain Peran)
Selama proses pembelajaran kelas menulis kreatif, penulis telah memanfaatkan hampir semua metode yang tersebut di atas. Sehubungan dengan karya menulis kreatif mahasiswa berupa cerita pendek prequel/sequel, penulis menggunakan metode diskusi. Dalam hal ini, secara khusus penulis meru-muskan sebuah metode pembelajaran yang bernama COVID (Cordial Virtual Discussion). Tiga kata yang tergabung menjadi satu akronim ini tercetus dikare-nakan keadaan yang sedang terjadi di tengah proses pembelajaran. Adapun makna ketiganya diharapkan dapat menggambarkan suasana dalam kelas menulis selama pandemi Covid19 terjadi, khususnya pada saat mahasiswa menyusun cerita pendek berupa prequel/sequel.
COVID (Cordial Virtual Discussion), secara singkat dapat dimaknai sebagai proses diskusi yang dilakukan secara virtual (melalui media WhatsApp) dengan tetap mampu mewujudkan rasa nyaman bagi mahasiswa untuk menyampaikan ide dan pendapat/ opini. Penting bagi penulis untuk membangun rasa nyaman para mahasiswa agar mereka leluasa dalam menyampaikan ide selama proses menulis kreatif. Apabila ide telah tersampaikan, maka diharapkan akan mudah bagi mahasiswa untuk melanjutkan menyusun kerangka tulisan kreatif dalam cerita pendek mereka. Seperti yang dipaparkan oleh Makokha dan Ongwae (1997), bahwa diskusi dapat meningkatkan daya pikir serta memberikan alternatif solusi terhadap sebuah permasalahan.
METODE
Dalam pelaksanaan pembelajaran kelas menulis kreatif, penulis tergabung dalam sebuah WhatsApp Group bernama Miss Diah’s Classes, dengan link bergabung: https://chat.whatsapp.com/GoBhS2 EckYoCOUbVPigOBI. Grup WA ini berisikan sejumlah 36 (tiga puluh enam) mahasiswa semester 6 (enam) yang sedang menempuh kelas menulis keatif dan 1 (satu) orang dosen pengampu mata kuliah (penulis sendiri). Proses pembelajaran secara virtual ini, telah terjadwal seperti layaknya yang berlaku dalam jadwal normal, yaitu pada setiap hari Senin, pukul 13.00 – 14.30 WIB. Tepat pada 30 menit sebe-lum pukul 13.00, penulis selalu mengingatkan bahwa kelas akan dimulai dalam waktu 30 menit. Sehingga mahasiswa yang menjadi peserta/anggota dalam Grup WA tersebut (sebagai pengganti kelas nyata), dapat mempersiapkan diri dan tidak tertinggal pada saat penulis membagikan materi pembelajaran.
Data dalam pembahasan artikel ini, diambil dari isi chat group Miss Diah’s Classes. Dimulai saat penulis menyapa dan membuka kelas, serta meminta mahasiswa untuk memberikan respon atas kehadiran mereka dalam kelas virtual. Selain itu, metode yang digunakan penulis dalam proses kelas virtual, khu-susnya mengundang mahasiswa untuk berdiskusi, juga menjadi bagian dari data yang dipaparkan dalam pembahasan di artikel ini.
PEMBAHASAN
Kegiatan pembelajaran secara virtual telah dilaksanakan di hampir seluruh sekolah tinggi di Indonesia. Dengan sebutan daring (dalam jaringan/ online), semua mahasiswa dan dosen pengajar ter-gabung dalam sebuah grup berupa aplikasi komu-nikasi berbasis pesan/tulisan (WhatsApp dan lain-nya) maupun aplikasi komunikasi berbasis video (Zoom dan lainnya). Bersamaan dengan ini, segala bentuk interaksi pembelajaran, yang sedianya berupa kegiatan tatap muka di dalam kelas, telah berubah bentuk menjadi kelas daring / online class / kelas virtual.
Sebagai bentuk cerminan dari metode COVID, penulis selalu membangun suasana kelas virtual yang hangat dan ramah sehingga mahasiswa merasa nyaman walau bentuk dan proses perkuliahan harus dilakukan secara daring. Salah satu contoh perwu-judan Cordial (warm and friendly) yang dilakukan oleh penulis adalah dengan sapaan hangat dan pada saat memulai kelas. Selain itu, penulis juga tidak menyebutkan nama-nama mahasiswa untuk mencatat kehadiran layaknya dalam kelas tatap muka, namun selalu meminta mahasiswa untuk memberikan tanda
Penulis meminta mahasiswa mencantumkan tanda senyum (smiley) sebagai bentuk kehadiran mereka dalam kelas virtual.
sapaan khusus. Misalnya seperti yang tertangkap pada bukti tampilan berikut:
Semua siswa memberikan respon berupa men-jawab salam dan sebuah emoticon smiley. Pada saat itu, respon yang diberikan mahasiswa nampak hanya menyalin dan menempel dari respon teman yang sebelumnya, sehingga kurang menunjukkan sikap nyaman dan terbuka yang diharapkan oleh penulis. Oleh karenanya, pada pertemuan berikutnya, penulis meminta mahasiswa secara bebas dan jujur untuk mengirimkan emoticon yang menunjukkan perasaan serta kegiatan yang sedang mereka lakukan sembari menghadiri kelas virtual menulis kreatif.
Guna memperoleh respon yang diharapkan, penulis memberikan contoh dengan mencantumkan emoticon smiley berwarna merah (menggambarkan perasaan kepanasan) dan seorang koki (menunjukkan kegiatan sedang memasak).
Kali ini, respon yang diberikan oleh mahasiswa sangatlah menarik dan beragam. Mereka juga tidak merasa canggung walaupun harus merespon dengan menggunakan lambang sedang mengantuk di depan komputer jinjing/telepon pintar, sedang mengikuti kelas virtual sambil menjaga anak, sedang sakit na-mun tetap terjaga dengan telepon pintarnya, bahkan menunjukkan bahwa mereka sedang mengikuti kelas virtual sambil menyantap makan siang.
Dengan demikian, penulis dapat mengetahui perasaan dan emosi mahasiswa pada saat mengikuti proses pembelajaran virtual. Sehingga, penulis mam-pu mengatur strategi agar proses pembelajaran dapat tetap berjalan dengan baik dan lancar tanpa berkesan memaksakan kehadiran mereka. Perlu ditambahkan bahwa ungkapan “Terima Kasih” sebagai bentuk apresiasi atas kehadiran mahasiswa dalam kelas vir-tual juga sangat membantu dalam menumbuhkan kesan ramah dari seorang pengajar. Bagaimanapun juga, sebuah proses pembelajaran (baik tatap muka maupun virtual) tidak dapat disebut “ada” apabila salah satu aspek penting, dalam hal ini mahasiswa, tidak menghadiri kelas.
Berbasis pada azas COVID, yaitu diskusi vir-tual yang menyenangkan, maka penulis kerap memberikan apresiasi berupa ucapan terima kasih atas kehadiran mahasiswa dalam kelas virtual. Dengan demikian, diharapkan mahasiswa akan mera-sakan keramahan dan kenyamanan, sehingga mereka akan dengan senang hati meluangkan waktu dan hadir dalam kelas virtual yang telah dijadwalkan.
Selain menyajikan suasana kelas virtual yang ramah dan hangat, penulis juga memberikan waktu pada mahasiswa untuk mempelajari materi pembel-ajaran pada saat yang berbeda sebelum kelas virtual dilaksanakan. Hal ini dilakukan agar waktu yang
Berkenaan dengan materi menulis kreatif cerita pendek prequel/sequel, penulis telah membagikan beberapa kompilasi materi tentang tata cara menulis cerita pendek. Materi tersebut telah dibagikan sebe-lum waktu pembelajaran virtual dilaksanakan. Sehingga, pada saat pembelajaran virtual dilakukan, para mahasiswa telah siap dengan inti perkuliahan yaitu dengan pembahasan materi melalui diskusi.
Setelah memberikan apresiasi terhadap respon mahasiswa, penulis memberikan kesempatan apabila ada pertanyaan yang ingin disampaikan guna menambah pemahaman mereka perihal materi menulis cerita pendek. Kemudian, disambut dengan beberapa respon dari mahasiswa berupa pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang belum dipahami. tersaji selama kelas virtual berlangsung, tidak
berkurang sia-sia hanya untuk mahasiswa membaca mateei pembelajaran. Terlebih lagi, apabila mahasis-wa telah membaca materi pembelajaran sebelum kelas virtual dilaksanakan, maka waktu yang tersedia selama kelas virtual akan dapat dimanfaatkan untuk berdiskusi mengenai materi pembelajaran secara lebih optimal dan mendalam. Waktu yang tersedia juga dapat digunakan untuk berdiskusi perihal tugas terkait materi yang telah dipelajari.
Kegiatan diskusi diawali dengan penulis yang menanyakan perihal pemahaman mahasiswa terhadap materi yang telah dibaca. Respon maha-siswa menunjukkan bahwa mereka belum
sepenuh-nya memahami walau sudah mengerti isi dari materi. Penulis memberikan apresiasi terhadap respon maha-siswa yang telah menyatakan simpulan dan penger-tian mereka sebagai bentuk wujud sikap cordial.
Mahasiswa dengan mudah dan tanpa canggung menyatakan pertanyaan mengenai bagian-bagian yang mereka tidak mengerti. Diantaranya juga telah menyiapkan pertanyaan sebelum kelas virtual dimu-lai, sehingga tidak butuh waktu lama untuk saling bertukar pendapat tentang permasalahan yang dite-mui dalam proses diskusi. Seiring berjalannya waktu, mahasiswa akan dan semakin terbiasa dengan suasa-na pembelajaran yang tergolong santai hingga kerap berperan aktif walau hanya sekadar dalam diskusi ringan.
KESIMPULAN
Setelah membaca pemaparan di atas tentang penerapan COVID (cordial virtual discussion) da-lam pembelajaran menulis kreatif, dapat disimpulkan bahwa metode COVID ini mampu membuat maha-siswa merasa nyaman untuk berinteraksi satu sama lain (sesama mahasiswa maupun kepada pengajar) sesuai dengan apa yang mereka rasakan dan juga mudah bagi untuk menyatakan pendapat maupun mengungkapkan pertanyaan. Bahkan mahasiswa yang cenderung diam dan pasif dalam kelas tatap muka, dapat menjadi lebih terbuka dan tergolong aktif sepanjang proses berjalannya kelas virtual ini. Disarankan bagi para pengajar yang pada saat ini memanfaatkan media virtual, khususnya media virtual berbasis pesan, untuk menggunakan metode COVID dalam proses pembelajaran agar tercipta suasana yang hangat dan nyaman walaupun tanpa bertatap muka secara langsung. Bagi para pengajar yang menggunakan media virtual berbasis video, metode ini juga dapat dipergunakan dengan menam-bahkan alat bantu maupun instruksi tambahan lain-nya yang dapat menunjukkan wujud bentuk sikap cordial.
Kata COVID mungkin hanya bermakna Corona Virus bagi orang awam, namun bagi penulis dan semoga juga bagi para pengajar lainnya, COVID dapat bermakna lebih utamanya untuk proses pem-belajaran berupa diskusi virtual yang menyenangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Card, Orson Scott. 29 Mei 2019. What is the difference
between a sequel and a prequel?, (Online), https:/
/www.quora.com/What-is-the-difference-between-a-sequel-and-a-prequel, diakses tanggal 29 Juni 2020.
Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. 03 Juni 2020. Menuju #PSBB, (Online), https:// covid19.go.id/p/masyarakat-umum/menuju-psbb, diakses tanggal 28 Juni 2020.
Licciardi, Bryanna. 09 Juni 2015. What is Creative
Writing? - Definition, Types & Examples, (Online),
https://study.com/academy/lesson/what-is-creative-writing-definition-types-examples.html, diakses tanggal 29 Juni 2020.
Makokha, Asman & Ongwae, Michaela. Agustus 1997.
A 14 Days Teaching Methodology Course Train-ers’ Handbook - Version 1, (Online), http://
col lecti on s. in focollection s.org /uked u/en /d/ Jgtz017e/6.9.1.html, diakses tanggal 30 Juni 2020. Putri, Nina Hertiwi. 20 Maret 2020. Lockdown vs.
Karantina Wilayah: Apa Bedanya dan Mana yang Efektif?, (Online), https://www.sehatq.com/artikel/
lockdown-karena-virus-corona-sebenarnya-seperti-apa-ini-gambarannya, diakses tanggal 28 Juni 2020.
WHO Indonesia. 2020. Pertanyaan dan Jawaban Terkait
Coronavirus, (Online), https://www.wh o.int/
indonesia/news/novel-coronavirus/qa-for-public, diakses tanggal 28 Juni 2020.