• Tidak ada hasil yang ditemukan

pdf-analisis-kandungan-kencur compress (1)

N/A
N/A
NURUL FADHILLAH

Academic year: 2022

Membagikan "pdf-analisis-kandungan-kencur compress (1)"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Matematika & Sains, Desember 2011, Vol. 16 Nomor 3 Jurnal Matematika & Sains, Desember 2011, Vol. 16 Nomor 3

Analisis Kandungan Minyak Atsiri dan Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Rimpang Analisis Kandungan Minyak Atsiri dan Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Rimpang

Kencur (

Kencur (  Kaempferia g  Kaempferia galanga alanga L.)  L.)

 Aliya Nur Hasanah

 Aliya Nur Hasanah , Fikri Nazaruddin, Ellin Febrina, dan Ade Zuhrotun , Fikri Nazaruddin, Ellin Febrina, dan Ade Zuhrotun Fakultas Farmasi

Fakultas Farmasi

Universitas Padjadjaran, Bandung Universitas Padjadjaran, Bandung

e-mail : [email protected] e-mail : [email protected]

Diterima 11 April 2011, disetujui untuk dipublikasikan 28 April 2011 Diterima 11 April 2011, disetujui untuk dipublikasikan 28 April 2011  Abstrak

 Abstrak Kencur (

Kencur (Kaempferia galangaKaempferia galanga L.) merupakan salah satu tanaman Suku Zingiberaceae yang diketahui mengandung L.) merupakan salah satu tanaman Suku Zingiberaceae yang diketahui mengandung minyak atsiri. Secara empirik rimpang kencur sering digunakan sebagai obat tradisional, salah satunya untuk minyak atsiri. Secara empirik rimpang kencur sering digunakan sebagai obat tradisional, salah satunya untuk mengobati radang (inflamasi). Sampai saat ini, belum pernah dilaporkan aktivitas antiinflamasi dari ekstrak mengobati radang (inflamasi). Sampai saat ini, belum pernah dilaporkan aktivitas antiinflamasi dari ekstrak rimpang kencur. Penelitian ini bertujuan mempelajari aktivitas antiinflamasi, kandungan minyak atsiri, dan rimpang kencur. Penelitian ini bertujuan mempelajari aktivitas antiinflamasi, kandungan minyak atsiri, dan  pengaruh

 pengaruh kandungan kandungan minyak minyak atsiri atsiri tersebut tersebut terhadap terhadap aktivitas aktivitas antiinflamasi antiinflamasi rimpang rimpang kencur. kencur. Bahan Bahan yangyang digunakan dalam penelitian ini adalah rimpang kencur yang berasal dari dua daerah yaitu Kabupaten Subang dan digunakan dalam penelitian ini adalah rimpang kencur yang berasal dari dua daerah yaitu Kabupaten Subang dan Kabupaten Sukabumi. Aktivitas antiinflamasi ditentukan melalui uji terhadap inflamasi akut yang diinduksi dengan Kabupaten Sukabumi. Aktivitas antiinflamasi ditentukan melalui uji terhadap inflamasi akut yang diinduksi dengan karagenan dan analisis kandungan minyak atsirinya dilakukan menggunakan GC/MS. Hasil pengujian aktivitas karagenan dan analisis kandungan minyak atsirinya dilakukan menggunakan GC/MS. Hasil pengujian aktivitas antiinflamasi menunjukkan bahwa ekstrak rimpang kencur dari Kab. Subang dapat menginhibisi inflamasi sebesar antiinflamasi menunjukkan bahwa ekstrak rimpang kencur dari Kab. Subang dapat menginhibisi inflamasi sebesar 36,47±2,46; 40,07±2,09; dan 51,27±2,63 % sedangkan dari Kab. Sukabumi menghambat sebesar 40,19±4,12;

36,47±2,46; 40,07±2,09; dan 51,27±2,63 % sedangkan dari Kab. Sukabumi menghambat sebesar 40,19±4,12;

39,44±

39,44±6,66; dan 48,90±6,66; dan 48,90±5,09 % berturut-turut pada dosis 18, 36, dan 45 mg/kg bobot badan 5,09 % berturut-turut pada dosis 18, 36, dan 45 mg/kg bobot badan tikus. Kadar minyaktikus. Kadar minyak atsiri ekstrak rimpang kencur

atsiri ekstrak rimpang kencur dari Kab. Subang lebih kecil yaitu dari Kab. Subang lebih kecil yaitu sebesar 5,825% dibandingkan kadar minysebesar 5,825% dibandingkan kadar minyak atsiriak atsiri ekstrak ke

ekstrak kencur dari Kab. ncur dari Kab. Sukabumi(14,41%), Sukabumi(14,41%), namun rimpang kencunamun rimpang kencur dari Kr dari Kabupaten Subang abupaten Subang maupun darimaupun dari Sukabumi mengandung minyak atsiri yang s

Sukabumi mengandung minyak atsiri yang sama yaitu ama yaitu 2,4,6-trimetil oktan, etilsinamat, limonen dioksida, asam etil2,4,6-trimetil oktan, etilsinamat, limonen dioksida, asam etil ester 3-(4-metoksifenil)-2-propenoat, dan etil p-metoksisinamat.

ester 3-(4-metoksifenil)-2-propenoat, dan etil p-metoksisinamat.

Kata kunci : Kaempferia galanga L., Aktivitas antiinflamasi, Minyak atsiri, etil-p-metoksisinamat.

Kata kunci : Kaempferia galanga L., Aktivitas antiinflamasi, Minyak atsiri, etil-p-metoksisinamat.

Analysis of Essential Oil Contents and Anti-Imflammatory Activity Test of Kencur Analysis of Essential Oil Contents and Anti-Imflammatory Activity Test of Kencur

(( Kaempferia g  Kaempferia galanga alanga L.)  L.)

 Abstract  Abstract Kencur (

Kencur (KaempferKaempferia ia galangagalanga L.) is a plant of Zingiberaceae family which is well known as essential oil containing L.) is a plant of Zingiberaceae family which is well known as essential oil containing  plant. Traditionally, kaempferia

 plant. Traditionally, kaempferia rhizome was used to rhizome was used to treat inflammation. Untill treat inflammation. Untill now, there is now, there is no report of no report of the the anti-anti- inflammatory activity of this plant

inflammatory activity of this plant rhizome extract. This reserhizome extract. This research aim is to study the anti-inflammatory activity ofarch aim is to study the anti-inflammatory activity of the extract, its essential oil contents, and the influence of its essential oil contents on its anti-inflammatory activity.

the extract, its essential oil contents, and the influence of its essential oil contents on its anti-inflammatory activity.

The kaempferia rhizome used in this research was collected from two diffrent parts that is from Kabupaten Subang The kaempferia rhizome used in this research was collected from two diffrent parts that is from Kabupaten Subang and Kabupaten Sukabumi. The anti-inflammmatory activity of the extract was detemine through acute inflammatory and Kabupaten Sukabumi. The anti-inflammmatory activity of the extract was detemine through acute inflammatory test

test which is induced by carrageenan and analysis of the essential oil contents was which is induced by carrageenan and analysis of the essential oil contents was done using GC/MS. The anti-done using GC/MS. The anti- inflammatory activity test showed that at the same tested doses i.e. 18, 36, and 45 mg/kg rat body weight, inflammatory activity test showed that at the same tested doses i.e. 18, 36, and 45 mg/kg rat body weight, kaempferia

kaempferia rhizome rhizome extract extract from from Kabupaten Kabupaten Subang Subang inhibited inhibited the the inflammatory inflammatory response: response: 36.47±36.47±2.46;2.46;

40.07±2.09; and 51.27±2.63

40.07±2.09; and 51.27±2.63 %%  while kaempferia rhizome extract from Sukabumi inhibited: 40.19±4.12;  while kaempferia rhizome extract from Sukabumi inhibited: 40.19±4.12;

39.44±

39.44±6.66; and 48.90±6.66; and 48.90±5.09%, 5.09%, respectively. The essrespectively. The essential oil contents of Kaempferia rhizome from Kential oil contents of Kaempferia rhizome from Kabupatenabupaten Subang lower that is 5.825% compared to the amount of essential oil from Kabupaten Sukabumi (14.41%).

Subang lower that is 5.825% compared to the amount of essential oil from Kabupaten Sukabumi (14.41%).

 However,

 However, the the rhizomes rhizomes either either collected collected from from Sukabumi Sukabumi or or Subang Subang contained contained the the same same essential essential oil oil i.e. i.e. 2,4,6-2,4,6- trimethyl octane, ethyl cinnamate, limonene dioxide, ethyl ester 3-(4-methoxyphenyl)-2-propenoic acid, and ethyl p- trimethyl octane, ethyl cinnamate, limonene dioxide, ethyl ester 3-(4-methoxyphenyl)-2-propenoic acid, and ethyl p- methoxycinnamate.

methoxycinnamate.

Keywords : Kaempferia galanga, L., Anti-inflammatory activity,

Keywords : Kaempferia galanga, L., Anti-inflammatory activity, Essential oils, etil-p-metoksisinamat.Essential oils, etil-p-metoksisinamat.

1. Pendahuluan 1. Pendahuluan

Radang atau inflamasi merupakan respon Radang atau inflamasi merupakan respon  protektif

 protektif setempat yang setempat yang ditimbulkan ditimbulkan oleh oleh cedera cedera atauatau kerusakan pada jaringan yang berfungsi untuk kerusakan pada jaringan yang berfungsi untuk menghancurkan, mengurangi, atau melokalisasi menghancurkan, mengurangi, atau melokalisasi

cedera itu. Tanda-tanda pokok peradangan akut cedera itu. Tanda-tanda pokok peradangan akut mencakup pembengkakan/edema, kemerahan, panas, mencakup pembengkakan/edema, kemerahan, panas, nyeri, dan perubahan fungsi. Hal-hal yang terjadi pada nyeri, dan perubahan fungsi. Hal-hal yang terjadi pada  proses radang akut

 proses radang akut sebagian besar sebagian besar dimungkinkan olehdimungkinkan oleh  pelepasan berbagai macam mediator kimia, antara lain  pelepasan berbagai macam mediator kimia, antara lain amina vasoaktif, protease plasma, metabolit asam amina vasoaktif, protease plasma, metabolit asam

(2)

Hasanah dkk., Analisis Kandungan Minyak Atsiri dan Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak ... 148

Beberapa tahun terakhir ini penelitian antiinflamasi dipusatkan pada metabolit asam arakhidonat sebagai mediator peradangan yang  penting. Asam arakhidonat banyak berasal dari fosfolipid membran sel yang diaktifkan oleh cedera.

Asam arakhidonat dapat dimetabolisme melalui dua  jalur yang berbeda, yaitu jalur siklooksigenase (COX) menghasilkan sejumlah prostaglandin dan tromboksan serta jalur lipooksigenase (LOX) yang menghasilkan leukotrien (Price dan Wilson, 1995).

Dalam pengobatan inflamasi, kelompok obat yang banyak diberikan adalah obat antiinflamasi non steroid (AINS). Obat ini merupakan obat sintetik dengan struktur kimia heterogen. Prototipe obat golongan ini adalah aspirin, karena itu sering disebut  juga obat mirip aspirin (aspirin like drugs) (Wilmana dan Gan, 2007). Efek terapi AINS berhubungan dengan mekanisme kerja penghambatan pada enzim siklooksigenase-1 (COX-1) yang dapat menyebabkan efek samping pada saluran cerna dan penghambatan  pada enzim siklooksigenase-2 (COX-2) yang dapat menyebabkan efek samping pada sistem kardiovaskular. Kedua enzim tersebut dibutuhkan dalam biosintesis prostaglandin (Lelo dan Hidayat, 2004).

Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan salah satu dari lima jenis tumbuhan yang dikembangkan sebagai tanaman obat asli Indonesia.

Kencur merupakan tanaman obat yang bernilai ekonomis cukup tinggi sehingga banyak dibudidayakan. Bagian rimpangnya digunakan sebagai  bahan baku industri obat tradisional, bumbu dapur,  bahan makanan, maupun minuman penyegar lainnya

(Rostiana dkk., 2003).

Secara empirik, kencur berkhasiat sebagai obat untuk batuk, gatal-gatal pada tenggorokan, perut kembung, mual, masuk angin, pegal-pegal,  pengompres bengkak/radang, tetanus dan penambah nafsu makan (Miranti, 2009). Sulaiman dkk. (2007), menyatakan bahwa rimpang kencur dapat digunakan sebagai untuk hipertensi, rematik, dan asma.

Penelitian yang dilakukan Sulaiman dkk. (2007) ini  juga melaporkan bahwa ekstrak air daun kencur mempunyai aktivitas antiinflamasi yang diuji pada radang akut yang diinduksi dengan karagenan.

Kandungan minyak atsiri dari rimpang kencur diantaranya terdiri atas miscellaneous compounds (misalnya etil p-metoksisinamat 58,47%, isobutil β-2- furilakrilat 30,90%, dan heksil format 4,78%); derivat monoterpen teroksigenasi (misalnya borneol 0,03%

dan kamfer hidrat 0,83%); serta monoterpen hidrokarbon (misalnya kamfen 0,04% dan terpinolen 0,02%) (Sukari dkk., 2008).

Berdasarkan data empirik penggunaan rimpang kencur sebagai obat untuk radang maka dilakukan uji aktivitas antiinflamasi dari ekstrak rimpang kencur.

Penelitian dilakukan terhadap ekstrak rimpang kencur yang berasal dari Kab. Sukabumi dan Kab. Subang Propinsi Jawa Barat. Penelitian diawali dengan analisis kandungan minyak atsiri ekstrak

menggunakan GC/MS kemudian diuji khasiat antiinflamasinya dengan metode radang akut yang diinduksi dengan karagenan.

2. Metode 2.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat untuk maserasi,rotavapor, pletismometer, waterbath, oven (Memmert), seperangkat alat distilasi (Schott Duran), timbangan analitis (AND EK-300i), GC/MS (QP5000 Shimadzu), dan alat gelas lain yang  biasa digunakan di Laboratorium Kimia Bahan Alam

dan Laboratorium Farmakologi.

2.2 Bahan

Bahan kimia yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu amil alkohol, aquadest   (Agung Menara Abadi), asam asetat glasial (Merck), etanol 95%, eter, etil asetat (Bratachem), larutan besi(III)klorida, natrium diklofenak (Voltaren®), λ -karagenan (Harum Sari), kloroform (Bratachem), metanol teknis (Baratchem), n-heksan (Bratachem), NaCl fisiologis 0,9% (Otsuka Pharmaceutical), Pulvis Gummi  Arabicum  (Brataco), pereakasi Mayer, pereaksi Dragendorff, pereaksi Lieberman-Bourchard, serbuk logam magnesium, toluen (Quadrant Lab), larutan amonia 10%, larutan asam klorida 2N (Agung Menara Abadi), larutan gelatin 1%, larutan kalium hidroksida 5%, larutan asam-sulfat 5% dan larutan vanilin-asam sulfat.

Hewan percobaan yang digunakan adalah tikus  putih jantan galur Wistar berumur 3 bulan dengan  berat 180-250 g dan sehat. Tikus diperoleh dari

Jurusan Biologi Institut Teknologi Bandung.

2.3 Metode

Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental di laboratorium dengan tahapan sebagai berikut :

1. Ekstraksi menggunakan pelarut etanol 95%

dengan metode maserasi.

2. Skrining fitokimia, meliputi penapisan fitokimia alkaloid, flavonoid, saponin, tanin/polifenol, monoterpenoid/seskuiterpenoid, teroid/triterpe- noid, dan kuinon.

3. Pemeriksaan parameter ekstrak, meliputi  pemeriksaan rendemen, bobot jenis, kadar air, kadar minyak atsiri, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol dan profil kromatografi lapis tipis (KLT).

4. Analisis kandungan minyak atsiri ekstrak dengan menggunakan Gas Chromatography/Mass Spectrometry (GC/MS).

7. Uji aktivitas antiinflamasi dengan metode radang akut yang di induksi dengan karagenan.

8. Analisis data secara statistik menggunakan ANAVA desain acak sempurna, dilanjutkan dengan uji rentang Newman-Keuls.

(3)

149 Jurnal Matematika & Sains, Desember 2011, Vol. 16 Nomor 3

3. Hasil dan Diskusi

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rimpang kencur yang diperoleh dari  perkebunan Manoko, Lembang, dalam kondisi telah

dirajang dan dikeringkan menjadi simplisia yang  berasal dari daerah Kab. Subang dan Kab. Sukabumi Propinsi Jawa Barat. Hasil determinasi menunjukkan  bahwa bahan tumbuhan yang digunakan adalah kencur

(Kaempferia galanga L.).

Pada tahap ekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 95%, diperoleh hasil sebagai berikut:

a. Ekstrak rimpang kencur 1 (Kab. Subang) sebanyak 20,88 g ekstrak kental dari 1014,92 g  berat total simplisia (rendemen 2,057%).

 b. Ekstrak rimpang kencur 2 (Kab. Sukabumi) sebanyak 34,22 g ekstrak kental dari 978,0 g berat total simplisia yang diekstraksi (rendemen 3,499%).

Tahapan skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan golongan metabolit sekunder dalam ekstrak rimpang kencur (Kaempferia galanga L.). Hasil penapisan fitokimia ekstrak rimpang kencur dari kedua lokasi dapat dilihat pada Tabel 1.

Pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa ekstrak rimpang kencur 1 dan ekstrak rimpang kencur 2 terdeteksi mengandung senyawa kimia golongan flavonoid, polifenol, tanin, kuinon, dan monoterpen/

seskuiterpen. Kandungan senyawa kimia golongan triterpenoid hanya terdeteksi pada ekstrak rimpang kencur 2. Hal ini diduga karena perbedaan umur dan daerah tempat tumbuh dari rimpang kencur yang didapat sehingga mempengaruhi jumlah senyawa kimia golongan triterpenoid yang dikandung kedua rimpang kencur tersebut.

Tabel 1.  Hasil skrining fitokimia ekstrak rimpang kencur.

Golongan Senyawa Rimpang kencur 1

Rimpang kencur 2 Alkaloid

Flavonoid Polifenol Tanin

Monoterpen &

Seskuiterpen Triterpenoid Steroid Kuinon Saponin

- + + + + - - + -

- + + + + + - +

- Keterangan: (+) = terdeteksi; (-) = tidak terdeteksi

Pemeriksaan parameter ekstrak yang telah dilakukan meliputi penetapan kadar air, penetapan kadar minyak atsiri, penetapan kadar sari larut etanol dan kadar sari larut air, penetapan berat jenis, dan  profil kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil  pemeriksaan parameter ekstrak dapat dilihat pada

Tabel 2.

Tabel 2.  Hasil pemeriksaan parameter ekstrak rimpang kencur.

Parameter ekstrak Rimpang kencur 1

Rimpang kencur 2 Kadar air (%) v/b

Kadar minyak atsiri (%) v/b Kadar sari larut air (%) b/b Kadar sari larut etanol (%) b/b Berat jenis

22,39 5,82 13,40 14,47 1,530

19,85 14,41 13,92 13,54 1,24 Pada Tabel 2, dapat terlihat bahwa ekstrak rimpang kencur yang berasal dari kedua tempat yang  berbeda mempunyai parameter ekstrak yang tidak  jauh berbeda. Hanya pada kandungan minyak atsiri, terdapat perbedaan yang cukup besar di mana ekstrak rimpang kencur 2 (Kab Sukabumi) lebih besar daripada ekstrak rimpang kencur 1 (Kab. Subang). Hal ini diduga karena umur rimpang kencur yang didapat  berbeda (umur rimpang kencur 1 lebih muda dari rimpang kencur 2) sehingga kandungan minyak atsirinya berbeda.

Berdasarkan hasil KLT diketahui bahwa komponen kimia dalam ekstrak rimpang kencur dari kedua daerah hampir sama, yaitu terdapat minimal 13 senyawa kimia. Dari hasil KLT dengan pereaksi  penampak bercak FeCl3 dan vanilin-sulfat, dipastikan salah satu diantaranya merupakan senyawa kimia golongan polifenol dan tiga diantaranya merupakan senyawa kimia golongan monoterpen/seskuiterpen.

Hal ini menguatkan hasil skrining fitokimia pada tahapan sebelumnya yang menunjukkan bahwa dalam ekstrak rimpang kencur terdeteksi mengandung senyawa kimia golongan polifenol dan monoterpen/

seskuiterpen.

Analisis minyak atsiri dilakukan untuk mengetahui komposisi senyawa yang terdapat dalam minyak atsiri hasil distilasi uap dari masing-masing ekstrak rimpang kencur. Analisis dilakukan dengan menggunakan GC/MS karena sifat dari komponen minyak atsiri yang mudah menguap sehingga dapat dielusikan dengan fase gerak GC/MS yang berupa gas.

Analisis dilakukan dengan membandingkan data spektrum masa Wiley dan indeks retensi Kovat.

Hasil analisis minyak atsiri ekstrak rimpang kencur 1 dan ekstrak rimpang kencur 2 dapat dilihat lebih lengkap pada Tabel 3.

Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa kandungan etil-p-metoksisinamat yang merupakan komponen utama minyak atsiri ekstrak rimpang kencur, pada ekstrak rimpang kencur 2 ternyata lebih sedikit dari dari ekstrak rimpang kencur 1 walaupun kadar minyak atsiri pada rimpang kencur 2  berdasarkan pemeriksaan parameter ekstrak menghasilkan nilai yang lebih besar daripada ekstrak rimpang kencur 1. Hal ini diduga karena perbedaan tempat tumbuh tanaman kencur, termasuk lokasi,  jenis tanah, iklim, tingkat kesuburan, dan intensitas cahaya matahari, mempengaruhi jumlah minyak atsiri dan kandungan etil-p-metoksisinamatnya.

(4)

Hasanah dkk., Analisis Kandungan Minyak Atsiri dan Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak ... 152

ogi-aznan4.pdf . [Diakses tanggal 12  November 2009].

Linnet, A., P. G. Latha, M. M. Gincy, G. I. Anuja, S.

R. Suja, S. Shymal, V. J. Shine, S. Sini, P.

Shikha, M. Dan, and S. Rajasekharan, 2010, Anti-inflammatory, Analgesic and Anti-lipid Peroxidative Effects of  Rhaphidophora  pertusa  (Roxb.) and Epipremnum pinnatum (Linn.) Engl. aerial parts, Indian J. Nat. Prod.

and Res.,1:1, 5-10.

Miranti, L., 2009, Pengaruh Konsentrasi Minyak  Atsiri Kencur (Kaempferia galanga L.) dengan Basis Salep Larut Air terhadap Sifat Fisik Salep dan Daya Hambat Bakteri Staphylococcus aureus secara In vitro.

Skripsi. Universitas Muhamadiyah Surakarta.

Price, S. A. dan L. M. Wilson, 1995, Respon Tubuh terhadap Cedera Peradangan dan Perbaikan.

Pathophysiology: Clinical Concepts of  Disease Processes. 4th ed., Penerjemah: B.U.

Pendit, Huriawati H., P. Wulansari, dan D. A.

Mahanani, Jakata, EGC, 56-80.

Ravi, V., T. S. M. Saleem, S. S. Patel, J.

Raamamurthy, and K. Gauthaman, 2009, Anti-inflammatory Effect of Methanolic Extract of Solanum nigrum  Linn. Berries,  Inter. J. App. Res. Nat. Prod.,2:2, 33-36.

Robert, J. N., Els van Nood, Danny EC van Hoorn, P.

G. Boelens, Klaske van Nood, and Paul A.M.

van Leeuwe, 2001, Flavonoids: A Review of Probable Mechanisms of Action and Potential Application, Am. J. Clin. Nutr.,74, 418–425.

Rostiana, O., S. M. Rosita, H. Wawan, Supriadi, dan A. Siti, 2003, Status Pemuliaan Tanaman Kencur. Perkembangan Teknologi TRO, 15, 2, 25-38.

Serafini, M., I. Peluso, and A. Raguzzini, 2010.

Flavonoids as Anti-inflammatory Agents, Proc. Nutr. Soc.,69, 273-278.

Sukari, M. A., N. W. M. Sharif, A. L. C. Yap, S. W.

Tang, B. K. Neoh, M. Rahmani, G. C. L. Ee, Y. H. Taufiq-Yap, and U. K. Yusof, 2008, Chemical Constituens Variations of Essential Oils from Rhizomes of Four Zingiberaceae Species, The Malaysian J. Anal. Sci., 12:3, 638-644.

Sulaiman, M. R., Z. A. Akaria, I. A. Daud, F. N. Ng, Y.C. Ng, and M. T. Hidayat, 2007, Antinociceptive and Anti-inflammatory Activities of the Aqueous Extract of Kaempferia galanga  Leaves in Animal Models. J. Nat. Med.,62, 221-227.

Wilmana, P. F. dan S. Gan, 2007, Farmakologi dan Terapi. Edisi ke lima, Gaya Baru, Jakarta, 230-246.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penyelesaian persoalan program linear adalah Dalam penyelesaian persoalan program linear adalah pemahaman dalam pembuatan grafik pertidaksamaan pemahaman dalam pembuatan

Trend (Gambar 4.6) direkam pada keadaan statis untuk mendapatkan base log (log dasar). Sejumlah lumpur dingin kemudian dipompakan le dalalm lubang dan dilakukan

Data pada Tabel 3 juga menunjukkan bahwa beras hitam Cianjur, Cempo Ireng, dan Galur memiliki nilai final viscosity yang tidak berbeda secara signifikan, namun ketiganya

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DENGAN MENGGUNAKAN MODEL MIND MAPPING (PETA PIKIRAN) DAN BANTUAN MEDIA AUDIO VISUAL PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS III SDN

Pada tahapan ini bahan awal yang harus dipersiapkan adalah turbin dan prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Piko Hidro (PLTPH), maka tahap selanjutnya adalah pembuatan generator

2 Apersepsi 5 menit Guru Mengingatkan kembali tentang perbedaan SPLDV dan PLDV 3 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 4 Guru menyiapkan sarana suatu model pembelajaran Kegiatan Inti:

Pengrajin gula kelapa umumnya selalu tergantung dengan para pedagang pengumpul (bos) dalam penyediaan modal produksi dan juga “terpaksa” menyerahkan hasil produksi gula kelapa

produk dan prosesnya. 3) Mempermudah analisis kekurangan dalam standar yang diterapkan. 4) Memberikan prosedur yang tepat dan sesuai dengan standar yang digunakan. 5)