• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam Surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 tentang Publikasi Karya Ilmiah dinyatakan bahwa seluruh pimpinan perguruan tinggi di Indonesia agar meningkatkan jumlah tulisan ilmiah. Salah satu cara yang digunakan yakni dengan mewajibkan setiap mahasiswa untuk menghasilkan tulisan ilmiah. Tulisan itu kemudian dipublikasikan. Hal ini tentu saja menuntut mahasiswa untuk mampu menulis ilmiah.

Menulis ilmiah merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan ide atau gagasan. Kegiatan ini memerlukan aktivitas berpikir dan menalar. Menurut Suyanto dan Sutinah (2011: 3), “menalar merupakan proses kejiwaan seseorang dengan mempergunakan asas dan pola tertentu untuk memperoleh simpulan yang tepat dan benar. Oleh karena itu, tulisan dapat dijadikan indikator dalam mengetahui pola pikir seseorang”. Dalam menulis diperlukan kemampuan memilih kosakata, menyusun kalimat, dan memadukan paragraf.

Kemampuan menulis ilmiah merupakan bagian dari kemampuan berpikir kritis (Bair dan Mader, 2013). Ciri-ciri orang berpikir kritis, antara lain berusaha menemukan informasi dan sumber yang benar dan dapat dipercaya (Zuchdi, 2009:

50; Munandar, 2012: 35). Ciri ini dapat dikembangkan melalui pelatihan yang dilakukan secara terus-menerus dengan memperhatikan berbagai aspek yang menantang untuk terjadinya kegiatan berpikir kritis (Sutrisno, 2012: 69). Dalam

(2)

pembelajaran, pengajar harus dapat memfasilitasi, menuntun, dan memediasi pembelajar (Amir, 2013: 44).

Kemampuan berpikir kritis dapat menjadi indikator intelegensi. Woolfolk (2009a: 168) memaknai intelegensi sebagai “kemampuan atau berbagai kemampuan dalam mendapatkan dan menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah dan beradaptasi dengan dunia.” Intelegensi juga berpengaruh terhadap kreativitas seseorang (Munandar, 2012: 8). Berpikir kritis, intelegensi, dan kreativitas memiliki keterkaitan dengan kerja otak. Given (2007:

54) menyatakan bahwa terdapat lima hal yang berhubungan dengan kerja otak secara alami, yakni emosional, sosial, kognitif, fisik, dan reflektif.

Sebagai sivitas akademika, salah satu ciri utama yang dimiliki mahasiswa adalah mampu menghasilkan tulisan ilmiah. Karya ilmiah itu dapat berupa makalah, esai, resensi, laporan kegiatan, maupun proposal (Kalidjernih, 2011: 2- 3). Tulisan ilmiah tidak sama dengan tulisan populer. Terry Mart menyatakan bahwa tulisan ilmiah “kebenaran di dalamnya harus dapat disanggah secara universal, menembus kungkungan negara, bahasa, bahkan budaya” (Kompas, 2012). Selain itu, tulisan ilmiah mengikuti kaidah yang berlaku, baik secara umum maupun institusi tertentu. Hal ini dipertegas dengan adanya gaya selingkung yang berlaku pada tiap lembaga.

Namun demikian, penelitian Muqowim dkk. (2011: 17) menyimpulkan bahwa mahasiswa acap kali hanya memperhatikan isi dan mengabaikan aspek penulisan karya ilmiahnya. Maslakhah (2005: 20) menyampaikan bahwa mahasiswa masih kesulitan dalam penguasaan ragam bahasa tulis. Mayoritas

(3)

mahasiswa menuliskan apa yang didengar. Artinya, tulisan itu sebenarnya merupakan ragam lisan yang ditulis. Oleh karena itu, kalimat yang digunakan cenderung panjang dan minimnya penggunaan tanda baca. Hal ini tentu saja menyulitkan pembaca dalam memahami tulisan tersebut.

Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata kuliah wajib di semua program studi berdasarkan Permendikbud No. 43 Tahun 2006. Hal ini sebagai pengejawantahan Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi Pasal 35 Ayat 3 yang mewajibkan perguruan tinggi memuat mata kuliah: (1) agama, (2) Pancasila, (3) kewarganegaraan, dan (4) bahasa Indonesia. Mata Kuliah Bahasa Indonesia disebutkan dalam Permendikbud sebagai Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK). Sementara Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Djoko Santoso, pada Kata Pengantar “Modul Mata Kuliah Bahasa Indonesia” tertanggal 10 Januari 2013 menyatakan “Untuk mewujudkan tujuan tersebut, seluruh mahasiswa harus mengikuti pembelajaran mata kuliah dasar umum yang dikenal dengan MKDU (general education)”. Selanjutnya pada penelitian ini akan digunakan istilah MKDU Bahasa Indonesia. Adapun tujuan mata kuliah ini adalah mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam mengatur ide atau konsep untuk dikomunikasikan dengan pihak lain.

Selama ini, pembelajaran bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) belum mencapai hasil yang maksimal. Semua itu terbukti dengan masih minimnya tulisan-tulisan ilmiah yang dihasilkan oleh sivitas akademika.

Hal ini dapat diketahui dari sedikitnya jurnal ilmiah terakreditasi yang berasal dari PTAI. Di antara 47 jurnal PTAI yang terakreditasi, belum ada satu jurnal pun

(4)

yang berasal dari Cirebon, baik kota maupun kabupaten. Berdasarkan fakta tersebut, pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan dapat membantu mahasiswa PTAI di Cirebon mampu menulis jurnal.

Berdasarkan SCImago Journal & Country Rank, Indonesia berada diurutan ke-11 dari 33 negara di Asia. Indonesia berada di bawah Malaysia, Thailand, dan Pakistan. Banyaknya tulisan yang dimiliki Indonesia tercatat hanya 20.166 sedangkan Cina memiliki tulisan sebanyak 2.680.395. Terhitung sejak 1 Maret 2013, terdapat 9 jurnal dari Indonesia yang terindeks SCOPUS, tetapi jumlah ini belum sebanding dengan jumlah perguruan tinggi yang ada di Indonesia.

Jumlah produksi jurnal ilmiah Indonesia hanya sepertujuh dari jurnal ilmiah yang diterbitkan Malaysia. Muhammad Nuh (Kompas, 2012) menyatakan bahwa jurnal ilmiah yang dihasilkan mahasiswa saat ini masih sangat rendah dan tidak sebanding dengan jumlah seluruh mahasiswa di Indonesia. Furqan (TT) menambahkan bahwa budaya meneliti atau menulis ilmiah di kampus masih sangat rendah. Hal ini dibuktikan dengan masih rendahnya kemampuan dalam menulis proposal dan laporan penelitian.

Berdasarkan uraian di atas, perlu upaya untuk memperbaiki pembelajaran MKDU Bahasa Indonesia di PTAI, khususnya di Cirebon. Perbaikan itu dapat berupa: (1) media pembelajaran, (2) materi pembelajaran, dan (3) metode pembelajarannya. Hasil pengamatan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa media pembelajaran yang digunakan masih konvensional, yakni whiteboard, infocus/LCD dan modul. Belum ada dosen yang menggunakan artikel, baik dari

(5)

jurnal nasional maupun internasional sebagai media pembelajaran. Hal ini penting dilakukan mengingat banyak kebaruan yang dapat diperoleh dari jurnal-jurnal tersebut.

Materi yang disampaikan pada tiap semester tidak mengalami perubahan.

Hal ini dapat diketahui dari SAP dua tahun ke belakang. Materi tersebut justru lebih menekankan pada teori dan kurang pada praktik. Bahkan terdapat materi tentang tulisan narasi. Tentu saja hal ini bertentangan dengan tujuan pembelajaran MKDU Bahasa Indonesia. Hendaknya mahasiswa diperkenalkan dengan tulisan- tulisan ilmiah supaya dapat mendukung dalam menulis ilmiah, terutama skripsi.

Metode belajar yang digunakan masih teacher centered learning dan belum student centered learning. Dosen memiliki porsi waktu lebih banyak daripada mahasiswa. Mahasiswa hanya duduk dan menyimak penjelasan dosen.

Jika pun ada pertanyaan, hanya dilakukan oleh satu atau dua mahasiswa. Dosen memberi pengetahuan, tetapi mahasiswa tidak langsung mempraktikkan teori tersebut. Akhirnya, mahasiswa baru memahami secara teori.

Pembelajaran adalah proses belajar yang memerlukan kerja sama antara mahasiswa dan dosen. Dosen sebagai pengajar harus dapat memberikan stimulus yang tepat ihwal menulis ilmiah. Oleh karena itu, stimulus yang tepat itu diharapkan akan mendapat reaksi yang tepat juga (Seifert, 2012: 24). Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dosen belum memberikan stimulus yang tepat sehingga mahasiswa belum memberi respons seperti yang diharapkan. Hal ini dapat diketahui dari model pembelajaran yang selama ini dilakukan. Stimulus itu berupa penugasan untuk menulis makalah. Akan tetapi, tidak ada petunjuk dalam

(6)

penyusunannya, baik format, ragam bahasa, ide, maupun kaidah bahasanya. Oleh karena itu, mahasiswa cenderung mengkopi atau meniru pekerjaan kakak tingkat.

Sementara dosen hanya memperhatikan faktor isi atau materi.

Keberhasilan pembelajaran menulis ilmiah sangat ditentukan oleh beberapa faktor, seperti pembelajar, pengajar, model, dan evaluasi pembelajaran.

Model pembelajaran yang tidak sesuai dengan karakter pembelajar akan menjadikan pembelajaran tidak efektif. Oleh karena itu, perlu ada model pembelajaran yang dapat membangun, meningkatkan, dan mengembangkan kemampuan menulis ilmiah mahasiswa. Teori belajar yang menjadi dasar pada pengembangan model pembelajaran ini adalah Social Learning Theory. Dalam perkembangannya, teori ini juga kemudian dikenal dengan nama Social Cognitive Theory.

Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura. Adapun prinsip teori ini adalah “this theory combines behaviouristic reinforcement theory and cognitive psychology to describe the learning process in individuals” (Bandura, 1999: 154-

196). Pada dasarnya anak-anak belajar dari mengamati orang lain serta dari model perilaku dengan melibatkan perhatian, retensi, reproduksi, dan motivasi (Department of Education and Training Australia, 2010). Hal ini didukung Schunk (2012: 161) yang menyatakan bahwa sebagian besar pembelajaran manusia terjadi dalam sebuah lingkungan sosial. Dengan mengamati orang lain, seseorang memperoleh pengetahuan, aturan, keterampilan, strategi, keyakinan, dan sikap. Selain itu, seorang pembelajar juga melihat model sebagai contoh untuk dipelajari kegunaan, kesesuaian, dan akibat dari model tersebut.

(7)

Menghadirkan contoh atau model merupakan hal penting yang harus dilakukan dalam pembelajaran, khususnya menulis ilmiah. Hal ini dikarenakan masih sedikitnya pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa terkait tulisan ilmiah.

Selain itu, mahasiswa diharapkan lebih mudah belajar melalui berbagai contoh atau model yang disampaikan oleh dosen. Ditambah pula bahwasannya motivasi memiliki peran yang sangat besar pada keberhasilan pembelajaran. Oleh karena itu, penggunaan Social Learning Theory diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menulis ilmiah.

Jika Social Learning Theory menyebutkan empat komponen, yakni atensi, retensi, produksi, dan motivasi maka penelitian ini menambahkan satu komponen, yakni inovasi. Inovasi merupakan salah satu wujud dari kreativitas. Semakin seseorang kreatif, maka semakin besar pula sikap inovatifnya. Demi memudahkan penyebutan kelima komponen tersebut maka diakronimkan menjadi PARMI (produksi, atensi, retensi, motivasi, dan inovasi).

Berdasarkan uraian di atas, penting kiranya untuk dilakukan pengembangan model pembelajaran berbasis PARMI demi meningkatkan kemampuan menulis ilmiah mahasiswa. PARMI merupakan komponen dalam pembelajaran yang menjiwai selama proses pembelajaran. Adapun penerapan PARMI itu sendiri sangat bergantung pada tujuan pembelajaran setiap pertemuan.

(8)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.

1. Bagaimanakah kondisi pembelajaran menulis ilmiah pada MKDU Bahasa Indonesia yang selama ini dilaksanakan PTAI di Cirebon?

2. Bagaimanakah model pembelajaran menulis ilmiah yang sesuai dengan kebutuhan dosen dan mahasiswa PTAI di Cirebon?

3. Bagaimanakah pengembangan prototipe model pembelajaran menulis ilmiah berbasis PARMI menurut Focus Group Discussion (FGD), penilaian pakar (expert’s judgment), uji coba terbatas, dan uji coba luas?

4. Bagaimanakah keefektifan model pembelajaran menulis ilmiah berbasis PARMI bagi mahasiswa PTAI di Cirebon?

5. Bagaimanakah hasil diseminasi model pembelajaran menulis ilmiah berbasis PARMI bagi mahasiswa PTAI di Cirebon?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki dua tujuan, yakni tujuan umum dan tujuan khusus.

1. Tujuan Umum

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran menulis ilmiah berbasis PARMI (Produksi, Atensi, Retensi, Motivasi, dan Inovasi) bagi mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) di Cirebon.

(9)

2. Tujuan Khusus

Secara khusus, penelitian ini bertujuan sebagai berikut.

a. Mendeskripsikan dan mengeksplanasikan kondisi pembelajaran menulis ilmiah pada MKDU Bahasa Indonesia yang telah dilakukan PTAI di Cirebon.

b. Mendeskripsikan model pembelajaran menulis ilmiah yang sesuai dengan kebutuhan dosen dan mahasiswa PTAI di Cirebon.

c. Menyusun model pembelajaran menulis ilmiah berbasis PARMI berdasarkan masukan dan saran melalui Focus Group Discussion (FGD), penilaian pakar (expert’s judgement), uji coba terbatas, dan uji coba luas.

d. Menemukan keefektifan penggunaan model pembelajaran menulis ilmiah berbasis PARMI bagi mahasiswa PTAI di Cirebon.

e. Mendeskripsikan diseminasi model pembelajaran menulis ilmiah berbasis PARMI bagi mahasiswa PTAI di Cirebon.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoretis maupun praktis.

1. Manfaat Teoretis

Secara teori, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah keilmuan, khususnya pengembangan model pembelajaran menulis ilmiah pada MKDU Bahasa Indonesia.

(10)

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut.

a. Bagi dosen, dapat memperoleh pengalaman dan wawasan baru tentang konsep dan model pembelajaran berbasis PARMI, khususnya pada MKDU Bahasa Indonesia untuk penulisan karya ilmiah. Selain itu, dosen diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan karya ilmiah dan mempublikasikan, baik secara regional, nasional, maupun internasional.

b. Bagi mahasiswa, dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang lebih beragam terkait teori dan praktik dasar-dasar menulis ilmiah sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh mahasiswa. Selain itu, mahasiswa juga memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam menulis dan mempublikasikan karya ilmiah yang dihasilkan, baik secara regional, nasional, maupun internasional.

c. Bagi penulis buku, dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan refleksi dan pertimbangan dalam penyusunan buku, baik yang terkait dengan kemampuan menulis ilmiah maupun publikasi karya ilmiah.

d. Bagi pengambil kebijakan bidang pendidikan, dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan pendidikan, khususnya yang terkait dengan penyempurnaan kurikulum, silabus, dan materi ajar MKDU Bahasa Indonesia di PTAI.

(11)

E. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan 1. Asumsi

Penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal. Hal-hal tersebut diharapkan dapat membuat model PARMI berhasil. Adapun beberapa asumsi yang dapat menjadikan model ini berhasil sebagai berikut.

a) Mahasiswa memiliki kemampuan dasar dalam menulis. Artinya, meskipun setiap mahasiswa berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda, tetapi mahasiswa dapat menulis dengan lancar. Hal ini karena beberapa mahasiswa berasal dari pendidikan umum dan sebagian besar dari pondok pesantren. Meskipun berbeda, tetapi keduanya memiliki kemampuan dasar terkait menulis. Misalnya kemampuan menyusun kalimat serta paragraf yang baik. Oleh karena itu, model pembelajaran ini akan berhasil jika mahasiswa sudah tidak lagi mengalami kesulitan dalam hal menulis secara umum.

b) Mahasiswa memiliki pengetahuan dasar terkait tulisan ilmiah. Hal ini dikarenakan pada mata kuliah lain, mahasiswa juga diberi tugas oleh dosen pengampu untuk menyusun sebuah tulisan ilmiah, baik esai, resensi buku, maupun makalah studi pustaka. Mahasiswa setidaknya telah memiliki pengetahuan dasar terkait ciri-ciri sebuah tulisan ilmiah. Oleh karena itu, model pembelajaran ini akan berhasil jika mahasiswa memiliki pengetahuan dasar tentang ciri-ciri tulisan ilmiah.

c) Mahasiswa memiliki motivasi untuk dapat menghasilkan sebuah tulisan ilmiah yang dipublikasikan, baik internal maupun eksternal. Motivasi

(12)

merupakan hal yang paling penting pada keberhasilan tujuan pembelajaran. Tingginya motivasi mahasiswa agar dapat menghasilkan sebuah tulisan ilmiah sangat mempengaruhi keberhasilan target pembelajaran. Selain itu, tingginya motivasi untuk dapat mempublikasikan tulisan yang dihasilkan turut mempengaruhi ketercapaian pembelajaran.

Sepandai apa pun jika tidak memiliki motivasi untuk menulis, maka mahasiswa tersebut tidak akan pernah menghasilkan tulisan yang baik.

Oleh karena itu, model pembelajaran ini akan berhasil jika mahasiswa memiliki motivasi yang besar dan kuat untuk dapat menghasilkan tulisan terpublikasi.

d) Dosen mampu mengklasifikasi dan menentukan materi yang diperlukan oleh mahasiswa. MKDU Bahasa Indonesia hanya memiliki bobot 2 SKS.

Mata kuliah ini juga hanya diberikan satu kali selama menjadi mahasiswa.

Waktu yang singkat ini tentu saja tidak mencukupi. Oleh karena itu, supaya pembelajaran berjalan efektif, dosen perlu mengetahui materi yang belum dimiliki atau belum dikuasai oleh mahasiswa. Materi tersebut kemudian akan menjadi bahan yang akan disampaikan atau dibahas pada pembelajaran. Oleh karena itu, model pembelajaran ini akan berhasil jika materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

e) Dosen memiliki kreativitas dan inovasi dalam memanfaatkan media pembelajaran. Ketepatan dosen dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran akan mempengaruhi ketercapaian tujuan belajar. Media merupakan hal penting yang tidak dapat diabaikan. Pada dasarnya, media

(13)

belajar tidak harus berupa sesuatu yang mahal atau rumit. Sesuatu yang sederhana pun dapat dijadikan media dalam belajar. Misalnya menggunakan tulisan mahasiswa sendiri sebagai media belajar. Oleh karena itu, keberhasilan model pembelajaran ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan dosen dalam memilih dan menentukan media belajar.

f) Koleksi buku di perpustakaan yang cukup memadai. Telah diketahui bersama bahwa pada umumnya mahasiswa memiliki keterbatasan pada koleksi atau kepemilikan buku referensi untuk belajar. Mayoritas mahasiswa hanya memiliki dua dari empat buku yang disarankan oleh dosen. Salah satu solusi terkait hal tersebut adalah perpustakaan.

Perpustakaan hendaknya memiliki koleksi yang lumayan lengkap.

Kelengkapan koleksi ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam belajar. Oleh karena itu, keberhasilan model pembelajaran ini sangat bergantung pada kelengkapan buku yang ada di perpustakaan.

g) Koneksi internet yang kuat. Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran internet sudah menjadi sebuah keharusan. Jika pada masa lalu, buku merupakan satu-satunya sumber belajar, maka tidak pada saat ini. Bahkan saat ini internet mampu menjawab semua permasalahan. Namun demikian, tidak semua mahasiswa dapat memanfaatkan internet, terutama yang berbayar. Hal ini dapat dimaklumi mengingat tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan ekonomi yang tinggi. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan memberi mahasiswa jaringan internet yang baik

(14)

di lingkungan kampus sehingga model pembelajaran ini diharapkan dapat berhasil.

2. Keterbatasan

Penelitian ini memiliki keterbatasan sebagai berikut.

a) Model yang dikembangkan hanya berlaku untuk pembelajaran di perguruan tinggi. Tujuan pembelajaran ini adalah meningkatkan kemampuan menulis ilmiah. Menulis ilmiah merupakan hal yang harus dikuasai oleh seseorang pada tataran atau jenjang tertentu. Artinya, tidak semua pembelajaran bertujuan tersebut. Misalnya pada siswa Sekolah Dasar (SD). Siswa SD belum diberikan materi tentang menulis ilmiah.

Salah satu target siswa SD adalah kemampuan menulis narasi. Meskipun sama-sama bertujuan untuk mampu menyampaikan ide atau gagasan melalui sebuah tulisan, tetapi narasi sangat berbeda dengan ilmiah.

Demikian pun pada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Kedua jenjang pendidikan ini memiliki target belajar yang berbeda. Jika SMA sudah mulai diperkenalkan dengan persuasi dan eksposisi, maka di SMP baru diperkenalkan dengan deskripsi dan argumentasi. Walaupun dalam tulisan ilmiah juga mengandung deskripsi, argumentasi, eksposisi, serta persuasi, tetapi terdapat kaidah tertentu yang belum menjadi fokus pembelajaran, baik di SMP maupun SMA. Oleh karena itu, model pembelajaran ini hanya dapat digunakan untuk mahasiswa.

(15)

b) Pengembangan model ini juga hanya dapat digunakan pada pembelajaran makalah, khususnya term paper atau makalah terkait tugas pembelajaran.

Hal ini dikarenakan terdapat syarat-syarat atau ciri-ciri tertentu yang memang harus dipenuhi agar sebuah tulisan dapat dikatakan sebagai makalah. Adapun indikatornya: (1) menggunakan format atau sistematika tertentu; (2) menggunakan ragam bahasa ilmiah; (3) mengandung kebaruan dan kreativitas ide; (4) kesesuaian permasalahan yang diangkat dengan kompetensi yang dimiliki; (5) mengandung data dan sumber informasi yang tepat; serta (6) mengandung analisis, sintesis, dan simpulan. Tulisan ilmiah yang dimaksud bukan makalah secara umum, melainkan makalah yang merupakan tugas mata kuliah. Oleh karena itu, model ini hanya dapat digunakan untuk menulis ilmiah yang berupa tugas dari dosen atau mata kuliah.

c) Pengembangan model ini masih terbatas pada MKDU Bahasa Indonesia.

Seperti telah diketahui bersama bahwa bahasa merupakan sarana komunikasi utama. Setiap negara memiliki bahasa yang berbeda, misalnya Inggris, Perancis, Arab, Jerman, Spanyol, dan Indonesia. Setiap bahasa memiliki kaidah yang berbeda. Kaidah ilmiah bahasa Spanyol tentu saja tidak sama dengan bahasa Arab. Demikian juga kaidah ilmiah bahasa Perancis tidak sama dengan bahasa Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

(2013) merchandise, promosi dan atmosfer toko yang tergabung dalam bauran pemasaran ritel berpengaruh signifikan secara simultan terhadap keputusan pembelian tidak

Perusahaan penyedia jasa memiliki NPWP dan PKP dan telah memenuhi kewajiban perpajakan tahun pajak terakhir (SPT Tahunan) serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 23

Kombinasi perlakuan kompos TKKS dan pupuk NPK berbeda nyata untuk parameter laju pertumbuhan tanaman, rasio tajuk akar, berat kering tanaman, diameter

Guru harus memberikan Pendekatan proses bertolak dari suatu pandangan bahwa setiap siswa

[r]

Gereja merupakan sebuah organisasi non profit, yang mana gereja berada ditengah-tengah masyarakat sekaligus menjadi bagian dari masyarakat yang mengalami pertumbuhan dan perubahan

Oleh sebab itu mahasiswa pondok pesantren sunan drajat lamongan yang sedang menyelesaikan skripsi serta sesorang penghafal al-qur’an regulasi diri nya lebih tinggi

Gula semut dari gula aren cetak diproses melalui pelelehan gula aren cetak yang diiris tipis dan ditambahkan larutan gula pasir yang kemudian dimasak hingga mengental