• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. di dunia. Pada tahun 2014, penduduk di Indonesia tercatat sebanyak 255,1 juta jiwa,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. di dunia. Pada tahun 2014, penduduk di Indonesia tercatat sebanyak 255,1 juta jiwa,"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia. Pada tahun 2014, penduduk di Indonesia tercatat sebanyak 255,1 juta jiwa, lalu meningkat 1,29% menjadi 258,4 juta jiwa pada tahun 2015. Peningkatan jumlah penduduk ini terus terjadi berturut-turut hingga tahun-tahun berikutnya, dimana tahun 2016 tercatat meningkat sebesar 1,24% atau sebesar 261,6 juta jiwa.

Tahun 2017 meningkat sebesar 1,15% menjadi 264,6 juta jiwa, pada tahun 2018 jumlahnya meningkat sebesar 1,17% menjadi 267,7 juta jiwa, dan pada tahun 2019 terus meningkat menjadi 270,6 juta jiwa atau meningkat sebesar 1,08%

(data.worldbank.org).

Grafik 1. 1

Realisasi Jumlah Penduduk Indonesia (dalam juta jiwa)

Sumber: data.worldbank.org

255.1

258.4

261.6

264.6

267.7

270.6

2014 2015 2016 2017 2018 2019

Realisasi Jumlah Penduduk Indonesia

Realisasi Jumlah Penduduk Indonesia

(2)

2 Grafik 1. 2

Proyeksi Jumlah Penduduk Indonesia (dalam juta jiwa)

Sumber: bps.go.id

Berdasarkan grafik 1.2, Badan Pusat Statistik (BPS) juga memproyeksikan bahwa jumlah penduduk Indonesia akan meningkat pada tahun 2020 menjadi 271,06 juta jiwa, lalu meningkat sebesar 284,83 juta jiwa pada tahun 2025, terus meningkat menjadi 296,41 juta jiwa hingga pada tahun 2035 BPS memproyeksikan bahwa jumlah penduduk Indonesia akan mencapai sebesar 305,65 juta jiwa (bps.go.id).

Seiring dengan bertumbuhnya jumlah penduduknya Indonesia, pendapatan perkapita penduduknya pun juga ikut mengalami peningkatan berturut-turut dari tahun 2015-2019. Pada tahun 2015, pendapatan perkapita penduduk Indonesia tercatat sebesar Rp 45,12 juta dan meningkat sebesar 6,29% pada tahun 2016 menjadi Rp 47,96 juta. Di tahun 2019, pendapatan perkapita Indonesia mencapai Rp 59,1 juta atau setara dengan US$ 4.174,9. Angka ini meningkat 5,5%

dibandingkan dengan 2018 yang sebesar Rp 56 juta dan 2017 yang sebesar Rp

271.06

284.83

296.41

305.65

2020 2025 2030 2035

Proyeksi Jumlah Penduduk Indoensia

Proyeksi Jumlah Penduduk Indoensia

(3)

3 51,89 juta (databoks.katadata.co.id), seperti yang terlihat pada grafik 1.3 sebagai berikut.

Grafik 1. 3

Pendapatan Perkapita Penduduk Indonesia (dalam juta rupiah)

Sumber: databoks.katadata.co.id

Semakin meningkatnya pendapatan perkapita serta jumlah penduduk Indonesia, hal itu memungkinkan terjadinya peningkatan terhadap permintaan barang kebutuhan sehari-hari seperti makanan, minuman, pakaian, ataupun barang kebutuhan rumah tangga lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa barang- barang tersebut adalah kebutuhan utama setiap manusia. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan pengeluaran perkapita sebulan penduduk Indonesia dalam kelompok makanan maupun non-makanan. Tahun 2015 rata-rata pengeluaran tercatat sebesar Rp 564.385, dan meningkat sebesar 9,5% menjadi Rp 618.008 pada tahun 2016. Tahun 2017 terjadi peningkatan sebesar 12,32% menjadi Rp 694.169, dan terus meningkat sebanyak 7,19% menjadi Rp 744.119 pada tahun 2018 (bps.go.id). Adapun pengeluaran perkapita sebulan penduduk Indonesia

45.12 47.96 51.89 56 59.1

2015 2016 2017 2018 2019

Pendapatan Perkapita Penduduk Indonesia

Pendapatan Perkapita Penduduk Indonesia

(4)

4 berdasarkan kelompok makanan dan non-makanan dapat terlihat pada grafik 1.4 sebagai berikut.

Grafik 1. 4

Perbandingan Pengeluaran Perkapita Sebulan Penduduk Indonesia dan Pengeluaran Perkapita Sebulan Berdasarkan Kelompok Makanan dan Non-

Makanan (dalam rupiah)

Sumber: bps.go.id

Berdasarkan grafik 1.4, apabila dibandingkan dengan rata-rata pengeluaran perkapita sebulan, rata-rata pengeluaran masyarakat pada kelompok makanan dan non-makanan jumlahnya sangat besar. Pada tahun 2015 proporsi pengeluaran terhadap kelompok makanan dan non-makanan sebesar 64,96%, meningkat menjadi 65,31% pada tahun 2016, dan terus meningkat menjadi sebesar 66,97%

pada tahun 2017. Pada tahun 2018, proporsinya sedikit menurun dibanding tahun 2017, yaitu sebesar 66,16%, namun proporsi ini masih sangat besar terhadap pengeluaran perkapita sebulannya. Besarnya proporsi pengeluaran perkapita terhadap kelompok makanan dan non-makanan menjadikan suatu peluang bagi

868,823 946,258 1,036,497 1,124,717

564,385 618,008 694,169 744,119

2015 2016 2017 2018

Pengeluaran Perkapita Sebulan Penduduk Indonesia

Pengeluaran Perkapita Sebulan Penduduk Indonesia

Pengeluaran Perkapita Sebulan Berdasarkan Kelompok Makanan dan Non- makanan

(5)

5 perusahaan retail, karena kebutuhan manusia akan barang-barang kebutuhan sehari-hari juga akan selalu meningkat.

Dengan munculnya peluang tersebut, hal ini akan memicu banyak pihak yang ingin terlibat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga akan memunculkan persaingan usaha. Pada tahun 2014-2015, terdapat 21 perusahaan retail yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), lalu meningkat menjadi 23 perusahaan pada tahun 2016. Pada tahun 2017, tercatat sebanyak 25 perusahaan retail yang terdaftar di bursa, lalu meningkat menjadi 26 perusahaan pada tahun 2018 (idx.co.id). Agar dapat bersaing dan mempertahankan kelangsungan usahanya, maka perusahaan retail dapat melakukan pengembangan usaha yaitu dengan mendirikan gerai baru. Beberapa perusahaan retail pun telah melakukan pengembangan usaha seperti penambahan beberapa gerai baru di sejumlah wilayah Indonesia agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara luas.

Agar dapat terus mengembangkan usahanya, perusahaan retail pastilah memerlukan tambahan modal. Untuk mendapatkan modal tambahan, perusahaan bisa menjual sahamnya ke investor di pasar modal. Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan seperti saham (idx.co.id). Pasar modal menjadi tempat yang mempertemukan dua kepentingan, yaitu investor sebagai pihak yang memiliki dana berlebih, serta pihak-pihak yang memerlukan dana tambahan. Dengan adanya pasar modal, investor dapat menginvestasikan dananya dengan harapan mendapatkan keuntungan, sedangkan pihak yang kekurangan dana akan mendapat modal tambahan yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usahanya. Agar investor tertarik untuk membeli saham perusahaan, maka perusahaan harus bisa

(6)

6 menjaga kinerjanya dengan baik. Semakin baik kinerja perusahaan, akan semakin membuat investor tertarik untuk membeli saham perusahaan tersebut karena menganggap bahwa perusahaan tersebut memiliki prospek yang baik di masa mendatang.

Menurut BEI, saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.

Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas aset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) (idx.co.id). Salah satu keunggulan perusahaan menerbitkan saham dibanding dengan utang adalah perusahaan tidak harus selalu melakukan pembayaran keuntungan berupa dividen kepada investor, sedangkan apabila pendanaan dengan utang perusahaan wajib membayarkan beban bunga setiap periodiknya, dimana jumlahnya sudah ditentukan di awal.

Dalam melakukan penanaman modal pada suatu perusahaan, investor tentu mengharapkan keuntungan. Salah satunya adalah dividen. Menurut Weygandt (2018), dividen adalah pendistribusian kas ataupun saham kepada pemegang sahamnya yang besarnya sesuai dengan hak kepemilikan. Untuk membagikan suatu dividen, perusahaan harus memiliki kecukupan kas yang tersedia, kecukupan retained earnings, serta adanya deklarasi pembagian dividen yang dilakukan oleh board of directors. Selain dividen, keuntungan lain yang bisa diperoleh oleh investor adalah berupa capital gain, yaitu selisih antara harga beli dan harga jual (idx.co.id).

Salah satu pertimbangan investor untuk menanamkan modalnya di suatu perusahaan adalah dengan melihat harga saham yang berlaku di pasar modal.

(7)

7 Menurut Tumandung (2017), harga saham diartikan sebagai harga pasar (market value) yaitu harga saham yang ditemukan dan dibentuk oleh mekanisme pasar modal. Harga saham pada hakikatnya merupakan penerimaan besarnya pengorbanan yang harus dilakukan oleh setiap investor untuk penyertaan dalam perusahaan. Harga saham memegang peranan penting bagi perusahaan, karena harga saham mencerminkan kinerja perusahaan. Apabila harga saham mengalami peningkatan, maka perusahaan dianggap berhasil dalam meningkatkan kinerjanya, sehingga publik akan percaya dan menganggap bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik di masa mendatang. Dengan adanya peningkatan harga saham, perusahaan berpotensi untuk memperoleh pendanaan dengan lebih mudah, dimana dana yang diperoleh dapat digunakan untuk pengembangan usaha. Dari sisi investor, harga saham juga menjadi suatu hal yang penting karena akan berpengaruh terhadap return yang akan diterima. Apabila harga saham mengalami kenaikan, investor akan mendapatkan keuntungan berupa capital gain. Sebaliknya, apabila harga saham mengalami penurunan maka investor akan menderita capital loss.

Kinerja saham PT Erajaya Swasembada (ERAA) menunjukkan kenaikan.

Pada awal tahun 2018, saham ERAA berada di level Rp720 per lembar saham dan pada penutupan perdagangan Jumat (9 Maret 2018), saham ERAA sudah berada di level Rp1.255 per lembar saham. Harga penutupan terakhir tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 75%. Adanya peningkatan harga saham ini akan meningkatkan minat investor, sehingga per 30 April 2018, saham ERAA terpantau menguat 24,8%

ke Rp1.710 (bareksa.com). Dengan demikian, apabila harga saham memiliki tren yang meningkat, maka kepercayaan serta minat investor terhadap saham

(8)

8 perusahaan akan meningkat. Hal tersebut akan memudahkan perusahaan dalam memperoleh pendanaan yang bisa digunakan untuk pengembangan usaha.

Pada bulan Mei 2018, ERAA menerbitkan saham baru sebanyak-banyaknya 290 juta lembar saham baru dengan nilai nominal Rp500. Adapun perusahaan menetapkan harga pelaksanaan sebesar Rp1.054. Dari aksi tersebut, ERAA berhasil mengantongi dana segar senilai Rp305,66 miliar. Dana yang diperoleh ini akan digunakan oleh perusahaan untuk melakukan ekspansi sepanjang tahun 2018.

ERAA akan membuka 250 outlet sepanjang 2018 di berbagai kota di Indonesia untuk lebih mendekatkan diri dengan pelanggan (market.bisnis.com).

Harga saham yang digunakan adalah rata-rata harga penutupan (closing price) saham harian selama satu tahun. Harga saham yang diharapkan oleh investor adalah harga saham yang stabil dan mempunyai pola pergerakan yang cenderung naik dari waktu ke waktu, akan tetapi kenyataanya harga saham cenderung berfluktuasi. Berfluktuasinya harga haham menjadi risiko tersendiri bagi investor.

Oleh karena itu investor harus memahami hal apa saja yang dapat mempengaruhi fluktuasi harga saham (Fitrianingsih, 2018).

Di dalam praktiknya, harga saham akan ditentukan oleh permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar modal. Apabila tingkat penawaran lebih tinggi dari tingkat permintaan, maka harga saham akan turun. Sebaliknya, apabila tingkat penawaran lebih rendah dari tingkat permintaan, maka harga saham akan meningkat. Selain itu, apabila harga saham memiliki tren harga yang meningkat, maka ketertarikan investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan akan besar.

Sebelum memantapkan untuk membeli suatu saham, investor dapat melakukan dua macam analisis, yaitu analisis teknikal dan analisis fundamental.

(9)

9 Analisis teknikal adalah analisis yang berfokus pada pergerakan saham di masa lalu sedangkan analisis fundamental adalah analisis yang berfokus pada data keekonomian perusahaan seperti laporan keuangan (Zulfikar, 2016). Untuk melihat analisis teknikal dapat memperhatikan tren harga saham selama periode tertentu, sedangkan untuk analisis fundamental dapat dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan yaitu dengan menggunakan rasio-rasio keuangan, contohnya seperti Current Ratio, Debt to Equity Ratio, serta Return on Assets.

Current Ratio (CR) adalah rasio yang digunakan untuk mengevaluasi tingkat likuiditas perusahaan serta kemampuannya dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya (Weygandt, 2018). Semakin tinggi nilai current ratio, hal tersebut mengindikasikan bahwa perusahaan dapat dikatakan sebagai perusahaan yang likuid karena mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki. Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut memiliki kecukupan kas, sehingga perusahaan bisa membagikan dividen kepada investor, karena memiliki kas yang cukup adalah salah satu syarat untuk membagikan dividen kas. Semakin besar dividen yang diterima, hal itu akan membuat investor lain tertarik dengan perusahaan tersebut. Semakin banyaknya investor yang membeli saham perusahaan, maka permintaan akan saham tersebut akan meningkat. Dengan demikian harga saham juga akan naik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan current ratio yang tinggi akan meningkatkan harga saham. Penelitian yang dilakukan oleh Ali (2016), Saputri (2016), Sondakh (2016), dan Fitrianingsih (2018) menyatakan bahwa current ratio memiliki pengaruh positif terhadap harga saham. Sebaliknya, penelitian yang

(10)

10 dilakukan oleh Arifin (2016) menyatakan bahwa current ratio memiliki pengaruh yang negatif terhadap harga saham.

Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara total utang dengan total modal perusahaan yang digunakan sebagai modal usaha (Arifin, 2016). Artinya, semakin tinggi DER, hal tersebut menandakan bahwa sumber pendanaan perusahaan lebih banyak dilakukan dengan menggunakan utang. Dengan begitu, beban bunga yang harus ditanggung juga akan semakin besar. Semakin besarnya beban bunga tentu akan mengurangi laba yang akan diperoleh perusahaan. Sebaliknya, semakin rendah DER, menandakan bahwa perusahaan mampu membiayai operasionalnya dengan menggunakan modal sendiri. Dengan menggunakan modal sendiri, maka beban bunga yang harus dibayarkan menjadi menurun. Dengan menurunnya beban bunga, maka laba yang didapat perusahaan akan meningkat. Peningkatan laba yang diterima akan meningkatkan retained earnings perusahaan, sehingga perusahaan telah memenuhi syarat untuk membagikan dividen. Semakin meningkatnya retained earnings, maka pembagian dividen kepada investor pun semakin besar. Hal ini akan menarik investor lain untuk menanamkan modalnya di perusahaan. Dengan semakin banyaknya permintaan, maka harga saham perusahaan juga akan meningkat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa DER yang rendah dapat meningkatkan harga saham. Penelitian yang dilakukan oleh Tumandung (2017) dan Fitrianingsih (2018) menyatakan bahwa DER berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

Penelitian yang dilakukan oleh Sondakh (2015), Arifin (2016), dan Tumandung (2017) menyatakan bahwa DER berpengaruh negatif signifikan terhadap harga

(11)

11 saham. Sebaliknya, penelitian Octaviani (2017) menyatakan bahwa solvabilitas yang diproksikan dengan DER tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

Selain Current Ratio dan Debt to Equity Ratio, investor bisa melakukan analisis dengan menggunakan rasio Return on Assets (ROA). ROA merupakan salah satu rasio untuk mengukur profitabilitas. ROA adalah rasio yang mengukur seberapa efektif manajemen mengelola aset yang tersedia untuk menghasilkan laba bersih (Gitman, 2015). Nilai ROA yang tinggi menandakan bahwa perusahaan telah berhasil mengelola aset yang tersedia dengan efisien untuk meningkatkan laba yang diperoleh. Dengan meningkatnya laba yang diperoleh perusahaan, maka akan semakin menambah nilai retained earnings. Hal itu menandakan bahwa perusahaan telah memenuhi syarat untuk membagikan dividen. Perusahaan yang mampu membagikan dividen dengan jumlah yang besar akan menimbulkan ketertarikan investor lain untuk membeli saham perusahaan menjadi meningkat. Dengan semakin banyaknya permintaan, maka harga saham perusahaan juga akan meningkat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ROA yang tinggi dapat meningkatkan harga saham. Penelitian yang dilakukan oleh Wardani (2016), Octaviani (2017), Suryawan (2017), dan Mustika (2020) menyatakan bahwa ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Sebaliknya, penelitian yang dilakukan oleh Alipudin (2016) menyatakan bahwa ROA secara parsial tidak berpengaruh terhadap harga saham.

Selain menganalisis dengan menggunakan rasio, investor juga harus mempertimbangkan faktor lain yaitu tingkat inflasi. Inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus (bps.go.id). Inflasi yang tinggi akan menyebabkan peningkatan biaya

(12)

12 produksi perusahaan karena harga barang dan jasa di pasaran akan naik. Di sisi lain, terjadinya kenaikan biaya ini tidak bisa dibebankan kepada konsumen dengan menaikkan harga jual. Sebaliknya, apabila tingkat inflasi tidak terlalu tinggi, maka biaya produksi yang akan ditanggung oleh perusahaan tidak akan besar. Dengan demikian maka perusahaan tidak akan meningkatkan harga jual produknya. Apabila diiringi dengan adanya efisiensi biaya, maka laba yang akan diterima perusahaan akan besar. Besarnya laba yang diterima akan meningkatkan nilai retained earnings, sehingga perusahaan telah memenuhi syarat untuk membagikan dividen.

Perusahaan yang mampu membagikan dividen dengan nilai yang besar akan membuat investor lain tertarik untuk membeli saham perusahaan. Dengan semakin banyaknya permintaan, maka akan membuat harga saham juga meningkat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inflasi yang rendah dapat meningkatkan harga saham. Penelitian yang dilakukan oleh Hanafiah (2015), Andriyani (2016), Hanryono (2017), dan Kennedy (2018) menyatakan bahwa inflasi memiliki pengaruh negatif terhadap harga saham. Sebaliknya, Mustika (2020) menyatakan bahwa inflasi tidak berpengaruh terhadap harga saham.

Adapun penelitian ini merupakan penelitian yang mengadopsi penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fitrianingsih (2018), namun pada penelitian ini terdapat beberapa perbedaan. Perbedaan tersebut yaitu:

1. Menambah variabel independen Return on Assets (ROA) yang diadopsi dari Octaviani (2017), serta menambah variabel independen Inflasi yang diadopsi dari Hanryono (2017).

(13)

13 2. Objek penelitian sebelumnya adalah perusahaan manufaktur subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI, sedangkan penelitian ini menggunakan objek penelitian perusahaan retail yang terdaftar di BEI.

3. Periode penelitian sebelumnya adalah periode 2013-2017, sedangkan periode penelitian ini adalah periode 2014-2018.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan, maka penelitian ini akan ditetapkan dengan judul “Pengaruh Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Assets, dan Inflasi Terhadap Harga Saham (Studi Empiris pada

Perusahaan Retail yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014- 2018)”.

1.2 Batasan Masalah

Batasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel dependen yang digunakan adalah harga saham.

2. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Assets, dan Inflasi.

3. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan retail yang terdaftar di BEI pada periode 2014-2018.

1.3 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:

1. Apakah current ratio berpengaruh positif terhadap harga saham?

2. Apakah debt to equity ratio berpengaruh negatif terhadap harga saham?

(14)

14 3. Apakah return on assets berpengaruh positif terhadap harga saham?

4. Apakah inflasi berpengaruh negatif terhadap harga saham?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh bukti empiris mengenai:

1. Pengaruh positif current ratio terhadap harga saham.

2. Pengaruh negatif debt to equity ratio terhadap harga saham.

3. Pengaruh positif return on assets terhadap harga saham.

4. Pengaruh negatif inflasi terhadap harga saham.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan kontribusi sebagai berikut:

1. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan maupun pertimbangan kepada perusahaan sehingga bisa meningkatkan kinerjanya yang nantinya akan meningkatkan profitabilitas serta harga saham perusahaan.

2. Bagi Investor

Penelitian ini diharapkan dapat membantu calon investor agar bisa membuat keputusan investasi dengan lebih baik.

3. Bagi Para Peneliti Selanjutnya

(15)

15 Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi dalam penelitian yang akan dilakukan di masa yang akan datang sehingga dapat lebih mengembangkan penelitiannya.

4. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat menambah pengalaman dan pengetahuan mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi harga saham, yaitu Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Assets, dan Inflasi.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika dalam penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II: TELAAH LITERATUR

Bab ini berisi tinjauan pustaka yang membahas mengenai laporan keuangan, profitabilitas, perputaran kas, perputaran persediaan, perputaran piutang, dan ukuran perusahaan, dan model penelitian.

BAB III: METODE PENELITIAN

(16)

16 Bab ini membahas tentang gambaran umum objek penelitian, metode penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, teknik pengambilan sampel, teknik analisis data, dan uji hipotesis.

BAB IV: ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Bab ini terdiri dari pengujian atas rumusan masalah yang telah dikemukakan, analisis data serta pembahasan mengenai hasil penelitian.

BAB V: SIMPULAN DAN SARAN

Bab ini terdiri dari simpulan yang didapat dari hasil penelitian, keterbatasan penelitian, serta saran yang dapat diterapkan oleh peneliti selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Kepedulian sosial merupakan satu sikap yang muncul atas dasar keperihatian terhadap lingkungan sekitar. Sikap ini akan menjadikan manusia tanggap terhadap realita

[r]

18 Emisi 2005 B Peningkatan Emisi 2030 C Penurunan emisi dalam BAU D Emisi sesuai Skenario BAU 2030 E A Peluang Pen- gurangan dari kurva biaya F Potensi emisi yang berkurang 1

Hasil penelitian menunjukan lebih dari setengah kejadian penyakit kulit pada pekerja PTPN VIII Unit Perkebunan Teh Ciater adalah dermatitis, kurang dari setengah kejadian

Aspek penting lainnya yang mampu mengukur kualitas pelayanan akademik di UNISNU Jepara adalah aspek kemampuan dosen, tenaga kependidikan, dan pengelola untuk

Dalam penelitian ini akan dibedakan nilai kepedulian lingkungan, keterampilan pro- ses dan pemahaman konsep untuk peserta didik yang diajar menggunakan perangkat

Manajerial Menyusun perencanaan sekolah Kepala sekolah menyusun perencanaan untuk berbagai tingkatan Wawancara dan dokumentasi Mengembangkan organisasi sekolah

Akun monitoring sudah distribusikan sejak awal melalui bantuan PHEOC yang akan mendistribusikan ke dinkes provinsi untuk selanjutnya didistribusikan ke setiap dinkes