• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYULUHAN PERTANIAN BERBASIS SYARIAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENYULUHAN PERTANIAN BERBASIS SYARIAH"

Copied!
227
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENYULUHAN PERTANIAN BERBASIS SYARIAH

Edisi 1

Dr. Ir. AGUSSABTI, M.Si

Copyright © 2018 All Rights Reserved Cetakan Pertama, Desember 2018

(3)

Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah 153x216mm, 228 hal

ISBN: 978-602-5679-97-1

Penulis

Dr. Ir. Agussabti, M.Si

Editor Zulfurqan

Layout & Cover Design Dimas Aldrian Diliasmara

Cetakan Pertama Desember 2018

Penerbit

Syiah Kuala University Press https://unsyiahpress.unsyiah.ac.id/

Email: [email protected]

©Hak Cipta dilindungi Undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penerbit.

(4)

Kata Pengantar

Segala puji atas kehadirat Allah Swt yang telah memberikan saya kesempatan untuk menuang buah pikiran ke dalam sebuah buku berjudul Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah. Selawat dan salam kita alamatkan kepada Nabi Muhammad saw, sosok yang harus kita teladani sepanjang masa.

Alhamdulillah, berkat kerja sama Unsyiah dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, buku ini sekarang bisa berada di tangan Bapak/Ibu. Terima kasih kepada Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng dan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan AcehIr. M. Hanan, MM, serta Tim Fasilitator Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah.

Buku ini saya tulis sebagai bentuk respon saya terhadap penerapan syariat Islam di Aceh. Saya memahami bahwa syariat Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah, melainkan juga tentang segala aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah aktivitas manusia di bidang pertanian.

Kita sama-sama mengetahui bahwa sumber perekonomian utama masyarakat Aceh berasal dari sektor pertanian. Ketika sektor pertanian Aceh berkembang sangat erat kaitannya dengan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat. Agar peningkatan itu terjadi maka salah satunya dilaksanakan dengan mengadakan program penyuluhan pertanian. Penyuluhan pertanian sangat bermanfaat untuk memberikan pengetahuan kepada para petani tentang penerapan inovasi pertanian untuk meningkatkan hasil pertanan.

Dengan penyuluhan tersebut para petani diharapkan dapat mandiri, berwawasan, serta mampu melakukan modernisasi usahatani

(5)

masing-masing. Harapan yang ingin dicapai melalui penyuluhan yakni meningkatnya kesejahteraan petani melalui usahataninya.

Oleh karena itu, saya menulis buku ini agar menjadi panduan kepada para penyuluh ketika melaksanakan program penyuluhan.

Sesuai judulnya, materi dalam buku ini disandarkan dan dikaitkan dengan sejumlah dalil yang bersumberkan dari hadis dan Alquran.

Tujuannya untuk memberikan panduan kepada penyuluh sehingga mendapatkan keberkahan dari Allah selama menjalankan tugas dan kewajibannya.

Mudah-mudahan dengan adanya buku ini, Bapak/Ibu bisa memanfaatkannya sebaik mungkin, terutama demi menyukseskan program penyuluhan pertanian. Selamat membaca!

Penulis, Dr. Ir. Agussabti, M.Si

(6)

Daftar Isi

Kata Pengantar ... 5

Daftar Isi ... 7

BAB 1: Sejarah dan Konsep Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah 1.1 Perkembangan Penyuluhan Pertanian Dunia ... 13

1.2 Sejarah Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah ... 15

1.3 Konsep Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah ... 16

BAB 2: Konsep, Falsafah, Prinsip, dan Etika Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah 2.1 Konsep Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah ... 21

2.2 Falsafah Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah ... 24

2.3 Prinsip-Prinsip Dalam Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah .... 26

2.4 Etika Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah ... 28

BAB 3: Penyuluh Sebagai Pendakwah 3.1 Siapa itu Penyuluh? ... 31

3.2 Penyuluh dalam Konteks Pengembangan Diri ... 33

3.3 Penyuluh dalam Konteks Ajaran Islam ... 37

3.4 Penyuluh dalam Konteks Pemberdayaan Masyarakat ... 41

3.5 Kualifikasi Penyuluh pada Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah ... 43

BAB 4: Mengubah Diri Menjadi Penyuluh Sukses 4.1 Penyuluh Sukses ... 49

4.2 Manajemen Diri ... 51

4.3 Tantangan Sebagai Makhluk Sosial ... 52

4.4 Memaknai Sukses ... 54

4.5 Sikap Penyuluh Yang Sukses ... 57

(7)

4.6 Memahami Perilaku dan Perbedaan Individu Dalam

Kegiatan Penyuluhan ... 62

4.6.1 Konsep Perilaku ... 62

4.6.2 Memahami Perilaku Individu ... 63

4.6.3 Perbedaan Perilaku Individu ... 66

4.6.4 Mempertahankan Prestasi ... 67

BAB 5: Sasaran Penyuluhan Sebagai Basis Kekuatan Umat 5.1 Petani dan Keluarganya ... 69

5.2 Pembagian Sasaran Penyuluhan Pertanian ... 71

BAB 6: Materi Penyuluhan 6.1 Pesan Materi Penyuluhan ... 79

6.2 Ragam Materi Penyuluhan Pertanian ... 82

BAB 7: Membangun Skill Komunikasi 7.1 Komunikasi ... 89

7.2 Pantangan Dalam Berkomunikasi ... 93

7.3 Faktor Mudah Tidaknya Menembus Rintangan Komunikasi ... 94

7.4 Persiapan Perencanaan Komunikasi ... 94

7.5 Perencanaan Komunikasi ... 95

7.6 Indikator Kesuksesan Penyuluh Dalam Komunikasi ... 96

BAB 8: Metoda Dan Pendekatan Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah 8.1 Metoda Penyuluhan Dan Metoda Dakwah ... 99

8.2 Pendekatan Dan Ragam Pendekatan Penyuluhan Pertanian ... 103

8.3 Dasar Penentuan Metoda Dan Pendekatan Penyuluhan ... 108

BAB 9: Indentifikasi Kebutuhan Masyarakat Melalui Teknik PRA 9.1 Participatory Rural Appraisal (PRA) ... 113

9.2 Prinsip-prinsip PRA ... 117

9.3 Permasalahan Dan Tantangan Penerapan PRA ... 118

9.4 Menghindari Bahaya Dalam Implementasi PRA ... 120

9.5 Teknik Pemetaan Wilayah Kerja ... 121

9.6 Teknik Pengumpulan Data Untuk Wilayah Kerja ... 125

(8)

9.7 Latihan Penggunaan Tools PRA ... 125

9.7.1 Tugas Kelompok 1: Teknik Pembuatan Peta Desa ... 126

9.7.2 Tugas Kelompok 2: Teknik Bagan Perumahan Dan Kecenderungan ... 126

9.7.3 Tugas Kelompok 3: Teknik Transek Potensi Desa ... 127

9.7.4 Tugas Kelompok 4: Teknik Diagram Venn ... 128

BAB 10: Pengambilan Keputusan Dan Difusi Adopsi Inovasi 10.1 Inovasi Dan Karakteristik Inovasi ... 131

10.2 Pengambilan Keputusan Inovasi ... 133

10.3 Pengertian Difusi Dan Adopsi Inovasi ... 134

10.4 Peranan Penyuluh Dalam Difusi dan Adopsi Inovasi ... 136

BAB 11: Dinamika Organisasi Dan Kepemimpinan 11.1 Organisasi ... 139

11.2 Karakteristik Organisasi Lokal ... 141

11.3 Dinamika Organisasi ... 141

11.4 Kepemimpinan Dalam Organisasi ... 144

11.5 Kepemimpinan Dalam Agama Islam ... 145

BAB 12: Perencanaan Program Penyuluhan Berbasis Syariah 12.1 Definisi Perencanaan ... 149

12.2 Masalah Dalam Perencanaan ... 150

12.3 Penyebab Pentingnya Perencanaan ... 152

12.4 Indikator Perencanaan Efektif ... 153

12.5 Tahapan Perencanaan ... 145

12.6 Penyusun Prencanaan Pofesional ... 157

BAB 13: Simpan Pinjam Berbasis Syariah 13.1 Latar Belakang ... 139

13.2 Pengalaman Membenahi Koperasi ... 164

13.3 Aplikasi Microsoft Excel ... 182

13.4 Aplikasi Microsoft Access ... 192

13.5 Internet Banking ... 202

13.6 Kesimpulan ... 205

(9)

BAB 14: Evaluasi Program Penyuluhan Pertanian

14.1 Evaluasi dan Tujuan Evaluasi ... 207

14.2 Kegunaan Evaluasi ... 210

14.3 Prinsip-prinsip Evaluasi ... 211

14.4 Tahapan Evaluasi ... 211

14.5 Kepemimpinan Dalam Agama Islam ... 145

BAB 15: Penyuluhan Dan Keberlanjutan Pangan ... 217

BAB 16: Penutup ... 223

Daftar Pustaka ... 225

Tentang Penulis ... 227

(10)
(11)

ِ ۡيَ ۡ

لٱ َ

لِإ َنوُعۡدَي ٞةَّم ُ

أ ۡمُكنِّم نُكَ ۡ لَو ِۚر َكنُمۡلٱ ِنَع َنۡوَهۡنَيَو ِفوُرۡعَمۡلٱِب َنوُرُم ۡ

أَيَو ١٠٤ َنوُحِلۡفُم ۡ

لٱ ُمُه َكِئٰٓ َلْوُأَو

" Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh

kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, Merekalah orang-orang yang beruntung."

(Q.S Ali-Imran: 104)

(12)

1.1 Perkembangan Penyuluhan Pertanian Dunia

Indonesia merupakan wilayah agraris yang sebagian Besar hidup masyarakatnya bergantung pada sektor pertanian. Oleh karenanya kemajuan pada sektor pertanian akan memengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu faktor penentu keberhasilan dalam pembangunan pertanian adalah kemajuan dalam penerapan penyuluhan pertanian. Terkait dengan hal tersebut, berbagai negara di belahan dunia sudah menerapkan program penyuluhan yang inovatif sebagai langkah strategis memajukan sektor pertanian.

Sejak abad ke-20 istilah penyuluhan pertanian mulai digunakan di Amerika Serikat yang bermula dari ceramah James Stuart dari Trinity College (1867-1868) kepada para pekerja wanita dan pria di Inggris Utara. Kemudian pada tahun 1871 atas usulan James Stuart kepada Universitas Cambridge maka penyuluhan resmi menjadi mata kuliah di universitas tersebut (Wikipedia)

Sementara itu di beberapa negara Asia mengindikasikan adanya hubungan antara keberhasilan program penyuluhan pertanian dengan kemajuan pembangunan pertanian. Sebut saja Thailand dan Vietnam yang sekarang memproduksi padi besar- besaran. Kedua negara ini mampu mengoptimalkan kemajuan

BAB 1

SEJARAH DAN KONSEP

PENYULUHAN PERTANIAN

BERBASIS SYARIAH

(13)

inovasi dan teknologi penyuluhan pertanian untuk mendongkrak kemajuan sumber daya sektor pertanian. Di samping itu, kemajuan teknologi dan inovasi yang diadopsi masih tetap mengedepankan kearifan dan sumber daya lokal. Sama halnya dengan penerapan penyuluhan pertanian di Jepang yang didukung oleh 20 stasiun penelitian di tingkat nasional dan 222 stasiun percobaan di tingkat provinsi. Mereka membangun dua organisasi pendukung penyuluhan pertanian, yaitu Comprehensive Research Center for Rural Home Improvement dan Agricultural Extension Information Center. Fokus penyuluhan pertanian di Jepang pada pengembangan materi yang meliputi empat aspek, yaitu; (1) technical support dengan adaptabilitas tinggi, (2) management support mencakup pembukuan, diagnosis bisnis, dan analisis model pertanian; (3) training and support for youth faring; dan (4) supporting of women and aged farmer.

Penyuluhan pertanian di Indonesia mulai berkembang sejak sebelum kemerdekaan, hingga puncaknya pada 1964 dengan lahirnya program Bimbingan Massal (Bimas) dalam mendukung program swasembada pangan pada era pemerintahan Orde Baru (Presiden Soeharto). Program Bimas bertujuan untuk meningkatkan hasil pertanian yang telah terbukti membawa perubahan sistem pertanian di Indonesia ke arah yang lebih maju. Praktek-praktek pertanian yang sebelumnya bersifat tradisional mulai bergeser ke arah modernisasi dengan tingkat produktivitas yang lebih tinggi dari sebelumnya, sehingga bangsa Indonesia mencapai swasembada pangan pada tahun 1984.

Akibat keberhasilan tersebut Food and Agriculture Organization (FAO) memberikan penghargaan kepada bangsa Indonesia dan mengundang Presiden Soeharto berbicara pada Konferensi ke-23 FAO pada 14 November 1985 di Roma, Italia. Namun demikian perkembangan penyuluhan pertanian Indonesia mengalami titik surut seiring dengan berbagai perubahan kebijakan pemerintah terhadap penguatan kelembagaan penyuluhan pertanian, terutama pasca-era reformasi.

Perkembangan terakhir program penyuluhan pertanian di Indonesia mengacu pada Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006

(14)

tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (UU SP3K). Pengertian penyuluhan pertanian menurut undang- undang tersebut adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Namun upaya penerapan program penyuluhan pertanian di Indonesia masih belum optimal. Salah satu indikasinya adalah masih rendahnya alokasi anggaran pemerintah baik pada tingkat pusat maupun daerah dalam penguatan SDM dan kelembagaan penyuluhan pertanian.

Karenanya, posisi penyuluhan pertanian sering ditempatkan sebagai pelengkap/subordinat dari kepentingan proyek departemen atau dinas dalam pembangunan sektor pertanian. Hal inilah yang menyebabkan perkembangan penyuluhan pertanian terus mengalami kemunduran dan kurang mampu menjawab tantangan pembangunan pertanian seperti yang diharapkan di era industri 4.0 pada saat ini.

1.2 Sejarah Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah Penyuluhan pertanian berbasis syariah pertama sekali di inisiasi oleh Dr. Ir. Agussabti, M.Si berdasarkan tawaran kerja sama antara Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Dr. Ir.

Agussabti, M.Si) dengan Dinas Perkebunan Aceh (Ir. Nasrullah) dalam kerangka Training of Trainer (TOT) untuk penyuluh pertanian sektor perkebunan di Aceh. Perkembangan selanjutnya konsep penyuluhan pertanian berbasis syariah ini disempurnakan dan diusulkan kembali dalam bentuk kerja sama antara Fakultas Pertanian dengan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPLUH) Aceh pada masa Drs. Hasanuddin Darjo, MM. Kemudian, konsep penyuluhan pertanian berbasis syariah dijadikan sebagai salah satu agenda tetap pelatihan bagi peningkatan kapasitas penyuluh pertanian di Provinsi Aceh. Pelatihan penyuluhan

(15)

pertanian berbasis syariah masih terus berlangsung sampai saat ini dan telah melatih lebih dari 600 tenaga penyuluh pertanian.

Meskipun keberadaan lembaga penyuluhan pertanian dikembalikan di bawah Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Aceh.

1.3 Konsep Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah Konsep dasar penyuluhan pertanian berbasis syariah berawal dari pemaknaan terhadap pendapat Imam Al-Ghazali tentang kesempurnaan amal. Beliau menyatakan bahwa suatu amal (pekerjaan) yang sempurna merupakan kombinasi dari “niat yang benar dan cara yang benar”. Apabila niat dalam melakukan sebuah amal (pekerjaan) benar tetapi tidak disertai dengan cara benar maka hasilnya tidak akan sempurna. Begitu juga sebaliknya, meskipun cara melakukan sebuah amal benar, namun tidak disertai niat yang benar maka hasilnya juga tidak sempurna (tidak optimal).

Berlandaskan pada pemaknaan pendapat Imam Al-Ghazali tadi, salah satu kelemahan penyuluhan pertanian selama ini adalah hanya mentransfer cara yang benar melalui berbagai pelatihan, tetapi tidak menyentuh tentang bagaimana memperbaiki niat yang benar sehingga penyuluh dalam melakukan tugasnya memperoleh keuntungan dunia dan keuntungan akhirat. Karena itu konsep dasar penyuluhan pertanian berbasis syariah lebih menitikberatkan pada bagaimana memperbaiki niat yang benar yang kemudian dikombinasikan bagaimana memperbaiki cara yang benar sehingga pelaksanaan kegiatan pelatihan/penyuluhan pertanian mencapai hasil yang sempurna (optimal). Sesuai dengan sabda Rasulullah bahwa setiap pekerjaan tergantung kepada niatnya. Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khaththab radiallahu

’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu

’Alaihi Wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya.

Niat dalam konsep syariah memiliki kemiripan makna dengan motif dalam konsep psikologis. Niat miliki dua fungsi,

(16)

yaitu: (1) jika niat berkaitan dengan sasaran suatu amal (ma’bud), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah dengan amal kebiasaan, (2) jika niat berkaitan dengan amal itu sendiri (ibadah), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara satu amal ibadah dengan amal ibadah yang lainnya. Karena itu niat sangat berpengaruh pada si pelaku suatu perbuatan. Ketika niatnya ikhlas, tumbuh dan bangkit untuk membantu sesama, maka beban tugas sebagai penyuluh dirasakan ringan dan energy kreatif akan muncul tanpa harus tergantung pada insentif pemerintah. Pada level kesadaran seperti ini maka penyuluh akan mampu menunjukkan kinerja optimal.

Di samping itu, konsep dasar penyuluhan pertanian berbasis syariah juga berlandaskan pada kenyataan bahwa selama ini peningkatan produksi dan pendapatan petani akibat intervensi inovasi penyuluh, hasil tersebut hanya dinikmati sepihak oleh petani tanpa “bagi hasil” dengan penyuluh. Fenomena ini dirasakan kurang adil dan kurang mampu memberikan insentif dan motivasi penyuluh untuk bekerja secara optimal. Oleh sebab itu, konsep dasar penyuluhan pertanian berbasis syariah menawarkan solusi yang lebih adil melalui konsep syariah “bagi hasil” antara petani dan penyuluh. Dalam konsep “bagi hasil” ini dilakukan apabila terjadi peningkatan produksi di atas rata-rata produksi yang telah dicapai selama ini. Besaran persentase “bagi hasil” didasarkan pada kesepakatan antara petani dan penyuluh sebelum dimulainya kegiatan produksi. Sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi:

ُالله ىَّلَص ِالله ِل ْوُسَر ُمِداَخ ،ُهْنَع ُالله َي ِضَر ٍكِلاَم ِنْب ْسَنَأ َةَزْمَح يِبَأ ْنَع ىَّتَح ْمُكُدَحَأ ُنِمْؤُي َلا : َلاَق َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص ِّيِبَّنلا ِنَع َمَّلَس َو ِهْيَلَع هِسْفَنِل ُّب ِحُي اَم ِهْي ِخَلأ َّب ِحُي ]ملسمو يراخبلا هاور[

Artinya: “Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik r.a, pembantu Rasulullah saw dari Rasulullah saw, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

(17)

Dengan demikian, kerangka konsep penyuluhan pertanian berbasiskan syariat bertujuan memperbaiki motif penyuluh dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan yang tidak hanya berorientasi imbalan dunia melalui pendekatan sistem “bagi hasil”, tetapi juga berorientasi pada imbalan akhirat melalui perbaikan niat yang benar. Di pihak lain, penerapan penyuluhan pertanian berbasis syariah diuntungkan dengan berlakunya syariat Islam di Aceh dan juga didukung oleh kondisi sosial budaya masyarakat Aceh yang sebagian besar sudah terikat dengan nilai-nilai dan syariat Islam.

Hal inilah yang melatarbelakangi munculnya kerangka konsep penyuluhan pertanian berbasis syariah di Aceh.

Perbedaan konsep penyuluhan pertanian berbasis syariah dengan penyuluhan pertanian konvensional terletak pada konsep

“transfer nilai” dan pendekatan “bagi hasil”. Pada penyuluhan pertanian berbasis syariah, konsep transfer nilai yang dilakukan lebih mengedepankan transfer nilai berdasarkan syariat Islam yang mencirikan karakter dan budaya masyarakat Aceh. Kemudian, pada penyuluhan pertanian berbasis syariah, ada pendekatan

“bagi hasil” antara petani dan penyuluh sebagai akibat intervensi inovasi dalam upata peningkatan hasil usahatani.

Contohnya, kerja sama implementasi inovasi benih 3S IPB yang diterapkan di Desa Meunasah Pulo, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Pada saat sebelum penerapan inovasi benih 3S IPB, masyarakat menerapkan benih ciherang, dan mendapatkan hasil 5,9 ton per hektare per musim panen.

Pada area yang lain yang berdekatan, diterapkan benih 3S IPB, mendapatkan hasil 8,6 ton per hektare per musim panen. Jadi, konsep bagi hasilnya dihitung berdasarkan tambahan produksi yang diperoleh petani, yaitu 2,5 ton (dari 5,9 ton menjadi 8,6 ton) yang kemudian sebanyak 10 persen dari tambahan perolehan petani diberikan kepada penyuluh (250 kilogram per hektare per musim tanam). Jadi apabila penyuluh membina sejumlah petani dalam luasan 100 hektar maka penyuluh akan mendapatkan bagi hasil sebanyak 25.000 kilogram (25 ton ) per hektar per musim tanam. Apabila harga gabah Rp 4.000 per kilogram, maka penyuluh akan mendapatkan bagi hasil sebesar Rp 100.000.000

(18)

per musim tanam. Insentif ini akan mendorong kemandirian dan kreatifitas penyuluh dalam melakukan kegiatan penyuluhan pertanian berbasis syariah.

Implikasi dari penyuluhan pertanian berbasis syariah adalah menawarkan konsep sukses bersama petani dan penyuluh. Ketika petani mendapatkan produksi lebih tinggi akibat adanya inovasi yang diperkenalkan penyuluh, maka penyuluh mendapatkan bagi hasil dari nilai tambah yang diperoleh petani. Ada prinsip saling menguntungkan dalam penerapan penyuluhan pertanian berbasis syariah. Kemudian muncul nilai-nilai saling menolong antara penyuluh dan petani maupun petani dengan petani. Penyuluh hanya akan merasa berhasil jika petani binaannya sudah berhasil.

Petani maju akan merasa bahagia ketika menebar ilmunya untuk membantu petani yang belum maju. Petani maju tidak lagi berpikir

“win-loose”, tapi sudah merasakan indahnya prinsip nilai “ win- win”, sehingga setiap inovasi yang dia miliki cenderung berbagi dengan petani lainnya. Nilai berbagi ini Allah pesankan dalam Al- Quran surah Al-Imran ayat 104:

ِفوُرۡعَم ۡ

لٱِب َنوُرُم ۡ أَيَو ِ ۡيَ ۡ

لٱ َ

لِإ َنوُعۡدَي ٞةَّم ُ

أ ۡمُكنِّم نُكَ لَو ۡ ١٠٤ َنوُحِلۡفُم ۡ

لٱ ُمُه َكِئٰٓ َلْوُأَو ِۚرَكنُمۡلٱ ِنَع َنۡوَهۡنَيَو

Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, Merekalah orang-orang yang beruntung.

Keberuntungan bukan berarti kita berhasil sendiri, tapi keberuntungan terjadi ketika kita berhasil dan mengajak orang lain untuk berhasil. Berhasil bersama inilah merupakan implikasi dari penyuluhan pertanian berbasis syariah. Implikasi lainnya dari penyuluhan pertanian berbasis syariah adalah dapat mengurangi ketergantungan penyuluh dan petani pada bantuan pihak luar, baik pemerintah maupun non pemerintah. Oleh sebab itu, Konsep penyuluhan pertanian ini akan berhasil jika ada dukungan penyuluh dan pemerintah untuk memulai mengimplementasikannya pada suatu kluster model. Sekarang penyuluhan pertanian berbasis

(19)

syariah ibarat bayi yang berumur 4 bulan dalam kandungan, baru ada tanda-tanda kehidupan. Tetapi apakah dia akan lahir cacat dan sempurna, sangat tergantung pada keseriusan penyuluh dan pemerintah dalam menerapkannya dalam pembangunan pertanian.

(20)

2.1 Konsep Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah Penyuluhan pertanian merupakan pendidikan nonformal untuk mengubah perilaku petani agar tahu, mau, dan mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya maupun keluarganya.

Mardikanto (1993) menyebutkan penyuluhan sebagai beberapa proses untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Pertama, penyuluhan pertanian sebagai proses penyebarluasan informasi yang berkaitan dengan inovasi pertanian seperti pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat untuk mengembangkan produksi pertanian baik secara kualitas maupun kuantitas. Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi tersebut akan berdampak pada meningkatnya daya saing produk dan peningkatan pangsa pasar yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan para petani.

Kedua, penyuluhan pertanian sebagai proses penerangan oleh penyuluh kepada petani mengenai perihal bermanfaat bagi aktivitas pertanian, sehingga para petani benar-benar memahami, melaksanakan apa saja yang telah disampaikan penyuluh secara berkelanjutan. Para petani diharapkan turut aktif menyampaikan persoalan yang mereka alami agar penyuluh bersama para petani mencari solusi terbaik.

Ketiga, penyuluhan pertanian sebagai proses perubahan

BAB 2

KONSEP, FALSAFAH, PRINSIP, DAN ETIKA PENYULUHAN

PERTANIAN BERBASIS SYARIAH

(21)

perilaku yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan para petani dalam kerangka membantu petani meningkatkan kesejahteraan hidup melalui usahatani, peningkatan hasil pertanian, dan keuntungan dari pemasaran produknya. Namun demikian, dalam proses itu petani harus memiliki motivasi diri serta bersedia terus mengasah keterampilan dan kemampuan dalam menerapkan teknologi pertanian terkait pengembangan usahatani. Nantinya, setelah program penyuluhan selesai, petani mampu mengembangkan usahatani secara mandiri.

Keempat, penyuluhan pertanian sebagai proses pendidikan yang berkaitan erat dengan perubahan perilaku masyarakat. Melalui pendidikan petani bisa menilai baik buruknya melakukan suatu perubahan dalam usahatani demi mengubah kualitas kesejahteraan hidupnya. Contohnya, petani tidak mampu menggunakan teknologi pertanian jika belum memiliki kemampuan dan keterampilan. Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 43:

          

     

Artinya: ” Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Kata kunci yang Allah pesankan pada kita semuanya adalah “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. Inilah konsep belajar yang harus ditekankan dalam penyuluhan pertanian berbasis syariah. Penyuluh menanyakan kepada penemu atau peneliti jika ada inovasi baru yang dia belum pahami dalam membantu petani. Petani juga menanyakan kepada penyuluh jika ada inovasi yang dia juga belum faham atau bisa jadi antara petani dan penyuluh terjadi proses saling belajar. Proses saling belajar yang terjadi penyuluh dan petani dapat dikatagori dan pendidikan nonformal.

(22)

Pendidikan terbagi atas pendidikan formal, informal, dan nonformal. Pendidikan formal seperti halnya pendidikan sekolah yang mempunyai kewajiban mengikuti kurikulum yang telah ditetapkan. Sedangkan pendidikan informal tidak memiliki kurikulum, misalnya berkaitan etika seseorang yang bisa dipelajari dari kehidupan lingkungan bermasyarakat. Sedangkan pendidikan nonformal memiliki kurikulum, tetapi tidak disesuaikan dengan kebutuhan petani.

Mardikanto (1999) mengungkapkan ciri penyuluhan sebagai proses pendidikan, yakni terencana/terprogram, tidak terikat tempat, waktu dan masa waktu pelaksanaan, disesuaikan dengan kebutuhan petani, dan peserta didik bisa berperan pula sebagai pendidik. Selain itu, penerapan metode penyuluhan disesuaikan dengan dominan peserta yang berasal dari kalangan dewasa. Artinya, selama pelaksanaan penyuluhan lebih banyak tercipta diskusi dibandingkan mendengar ceramah penyuluh.

Keberhasilan penyuluhan sangat bergantung, salah satunya sejauh intensifnya dialog antara penyuluh dan petani terjalin.

Sementara itu, Ki Hadjar Dewantoro merumuskan tiga falsafah pendidikan. Pertama, ing ngarso sung tulodo, artinya kemampuan diri menjadi teladan masyarakat. Kedua, ing madyo magun karso, kapasitas diri dalam berinisiatif, kreatif, serta keinginan untuk terus belajar dan mencoba. Ketiga, tut wuri handayani, kemauan menghargai serta menuruti kemauan-kemauan petani demi kesejahteraan hidup tanpa melakukan penyimpangan- penyimpangan.

Kelima, penyuluhan pertanian sebagai proses rekayasa sosial (social engineering) yang berlandaskan kepada kebutuhan sasaran (petani). Namun terkadang proses rekayasa sosial tidak mengacu kepada kebutuhan sasaran penyuluhan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan hidup. Karenanya, proses rekayasa sosial harus dilakukan secara baik dengan semata-mata bertujuan meningkatkan kualitas hidup petani.

Berdasarkan beberapa definisi yang telah dipaparkan tadi, maka penyuluhan pertanian berbasis syariah dapat didefinisikan sebagai suatu proses pendidikan nonformal yang bertujuan

(23)

mengubah perilaku petani dan keluarganya supaya tahu, mau dan mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya melalui perubahan pendekatan yang mengedepankan nilai-nilai syariah dalam berusahatani.

2.2 Falsafah Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah Penyuluhan pertanian dilaksanakan demi mengembangkan kemampuan dan pengetahuan sehingga mampu meningkatkan usaha tani. Falsafah penyuluhan pertanian sendiri adalah untuk membantu para petani agar mereka mampu meningkatkan harkatnya sebagai manusia. Dalam surat Al-Maidah ayat 2 Allah berfirman:

         

        

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.”

Para penyuluh pertanian dalam membantu petani jangan sampai mengabaikan kreativitas petani dan membuat petani selalu tergantung kepada penyuluh. Penyuluh yang berhasil diindikasi oleh kemampuannya dalam mentransfer kreativitas petani. Penyuluh tidak boleh menformat program atas nama kebutuhan petani. Oleh sebab itu, penyuluh dalam membantu petani kebutuhan petani (realneed) bukan keinginan (feltneed) petani.

Dalam melakukan kegiatan penyuluhan petanian, penyuluh juga dituntut untuk mampu berperan secara optimal dan memperhatikan keragaman budaya dan seluk beluk kebudayaan yang berlaku dalam masyarakat setempat. Pada surat Al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman:

(24)

َ لِٕىۤا َب َ

ق َّو اًب ْو ُع ُش ْم ُ كٰن ْ

ل َع َج َو ى ٰ ثْن ُ

ا َّو ٍر َ ك َ

ذ ْن ِّم ْم ُ كٰن ْ

ق َ ل َ

خ اَّنِا ُساَّنلا اَهُّي َ آٰي ١٣ ٌرْيِب َ

خ ٌم ْي ِل َع َ ّٰللا َّنِاۗ ْم ُ كى ٰ

قْت َ ا ِ ّٰ

للا َدْن ِع ْم ُ ك َم َر ْ

ك َ ا َّ

ن ِا ۚ ا ْو ُ ف َرا َعَتِل

Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Penyuluh pertanian tidak boleh arogan dalam melakukan penyuluhan. Falsafah penyuluhan harus menjadi landasan dalam menjalankan tugas sebagai penyuluh. Oleh karenanya, penyuluh harus terus meningkatkan kapasitas diri dengan tujuan untuk mampu membantu petani secara optimal. Sebaliknya, masyarakat juga sepatutnya mengikuti segala arahan penyuluh jika inovasi yang diperkenalkan penyuluhan dapat meningkatkan produktivitas usahataninya. Penyuluh harus mengajak masyarakat untuk berkembang, tetap sabar meskipun petani tidak selalu mengikuti instruksi penyuluh. Penyuluh harus memiliki keyakinan bahwa Allah akan membalas segala kebaikan yang dilakukan untuk berbuat baik kepada sesama, begitu juga kalau ternyata dia menzalimi petani. Sesuai dengan Firman Allah dalam Surah Fussilat ayat 46:

ٍما َّ

ل َظِب َكُّب َر اَمَوۗ اَهْيَل َعَف َءۤا َسَا ْنَمَوۙ ٖه ِسْفَنِلَف اًح ِلا َص َ ل ِم َ

ع ْن َم ٤٦ ۔ ِد ْيِب َعْلِّل

Artinya: “Barang siapa yang mengejakan kebaikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri.

Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba(Nya).”

Balasan pahala kebaikan dari membantu sesama juga Allah sebutkan Dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7-8:

(25)

َ لا َ ق ْ

ث ِم ْ

ل َم ْعَّي ْن َم َو ٧ ۚٗه َرَّي ا ًرْي َ

خ ٍة َّر ذ َ َ لا َ

ق ْ ث ِم ْ

ل َم ْعَّي ْن َم َ ف ٨ ࣖ ٗه َرَّي ا ًّر َش ٍة َّر ذ َ

Artinya: “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (membalasan)nya. Dan barang siapa yang mengejakan kejahatan sebesar zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya juga.”

Karena itu, falsafah penyuluhan pertanian berbasis syariah adalah bagaimana membantu petani dalam rangka membantu diri mereka dan keluarganya sehingga nilai harapan yang muncul dalam diri penyuluh tidak hanya mendapatkan ganjaran balasan kebaikan di dunia (berupa gaji dan insentif lain), tetapi juga mendapatkan ganjaran pahala dari sisi Allah yang dapat menolong di Akhirat yang didasari dengan niat yang benar dan ikhlas.

Dengan demikian, diharapkan penyuluhan pertanian berbasis syariah diharapkan mampu membawa perubahan positif terhadap perubahan perilaku petani dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya dan keluarganya berdasarkan nilai-nilai keluhuran yang dimilikinya.

2.3 Prinsip-Prinsip Dalam Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah

Prinsip-prinsip penyuluhan merupakan landasan dasar pelaksanaan penyuluhan pertanian. Leagans (1963)1 seperti dikutip Alim (2010:24) memaparkan tiga prinsip penyuluhan.

Pertama, penyuluhan melibatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan penyuluhan, seperti menerapkan sesuatu. Melibatkan masyarakat akan membuat mereka mengalami proses belajar baik sekaligus mengasah kemampuan, perasaan, dan pikiran mereka. Kedua, penyuluhan memberikan manfaat yang dapat memuaskan masyarakat sehingga tetap memiliki kemauan mengikuti penyuluhan selanjutnya di masa mendatang. Karena manusia cenderung mengaitkan suatu kejadian dengan kejadian

1 Alim, S., 2010, Penyuluhan Pertanian (Peternakan), Bahan Ajar,Unversitas Padjadjaran.

(26)

sebelumnya. Ketiga, adalah prinsip asosiasi. Setiap kegiatan penyuluhan dihubungkan dengan kegiatan lainnya. Misalnya, dengan melihat cangkul orang diingatkan kepada penyuluhan tentang persiapan lahan yang baik; melihat tanaman yang kerdil/subur, akan mengingatkannya kepada usaha-usaha pemupukan.

Dahama dan Bhatnagar (1980) memperkenalkan beberapa prinsip yang akan menentukan keefektifan kegiatan penyuluhan, yakni: (1) penyuluhan harus mengacu pada minat dan kebutuhan petani, (2) penyuluhan harus mampu melibatkan organisasi masyarakat bawah; (3) penyuluhan harus mampu memperhatikan perubahan dan keragaman budaya; (4) penyuluhan harus mampu mengungkit kerjasama dan partisipasi; (5) demokrasi dalam penerapan ilmu; (6) penyuluhan harus demokrasi dalam penerapan inovasi, tidak boleh dipaksakan; (7) penyuluhan harus menganut prinsip belajar sambil bekerja; (8) penyuluhan harus mampu menggunakan metode yang sesuai; (9) penyuluhan harus mampu mengembangkan kepemimpinan dalam masyarakat binaannya, (10) penyuluhan harus mampu mengembangkan spesialisasi dan kepuasan sasaran penyuluhan.

Prinsip-prinsip penyuluhan pertanian berbasis syariah adalah (1) penyuluhan harus konsisten antara apa yang diucapkan penyuluh dengan apa yang dikerjakan, (2) penyuluhan harus mampu menempatkan kepentingan petani di atas kepentingan kelompok lainnya, (3) penyuluhan harus menempatkan keberhasilan bersama untuk meraih keberhasilan yang lebih besar, dan (4) penyuluhan harus berorientasi pada keuntungan dunia dan keuntungan akhirat.

Prinsip-prinsip penyuluhan pertanian berbasis syariah harus menjadi landasan pijak dalam melakukan kegiatan penyuluhan.

Apabila pelaksanaan penyuluhan telah mengacu pada prinsip- prinsip penyuluhan pertanian berbasis syariah, maka penyuluh telah mampu membina petani secara lebih efektif dan efisien.

Indikator ini dapat dilihat dari tingkat kepuasan dan partisipasi petani dalam kegiatan penyuluhan pertanian.

(27)

2.4 Etika Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah

Etika penyuluhan merujuk kepada etika kerja profesional seperti halnya dokter, dosen, akuntan, notaris. Etika tata pergaulan khas dan ciri perilaku untuk mengidentifikasikan, mengasosiasikan diri sebagai sumber motivasi dalam berkarya dan berprestasi bagi kelompoknya. Pada dasarnya etika bukanlah aturan, melainkan lebih kepada nilai moral. Adapun etika lainnya yang harus dipunyai penyuluh, yakni beriman, jujur dan disiplin. Sebagai penyuluh, maka berkewajiban menghormati kebiasaan masyarakat, petani dan, keluarganya, serta sesama penyuluh. Semangat pantang menyerahnya tercermin dari pribadinya yang dinamis, dan ulet. Tidak sekalipun dia merasa puas terhadap kapasitasnya.

Artinya, dia selalu berusaha meningkatkan kemampuan serta bertanggungjawab terhadap profesinya, sebagaimana Allah menjelaskan dalam Alquran dalam surat An-Nisa ayat 114:

ْو َ

ا ٍف ْو ُر ْع َم ْو َ ا ٍة َ

ق َد َصِب َر َم َ

ا ْن َم ا َّ

ل ِا ْم ُهىٰو ْج َّن ْنِّم ٍرْيِث َ

ك ْيِف َرْي خ ا َ َ ل ۞

َ ف ْو َس َ ف ِ ّٰ

للا ِتا َض ْر َم َءۤا َغِتْبا َكِلٰذ ْ ل َع ْ

فَّي ْن َم َو ۗ ِسا َّنلا َنْيَب ۢ ٍحا َ ل ْص ِا ١١٤ اًم ْي ِظ ع ا ًر ْج َ َ

ا ِه ْيِت ْؤُن

Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan- bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”

Etika penyuluhan pertanian berbasis syariah mengharuskan penyuluh untuk selalu menempatkan kepentingan petani atas kepentingan kelompok lainnya, baik pemerintah maupun nonpemerintah ataupun swasta. Penyuluh tidak boleh berpihak pada kepentingan kelompok lain untuk mencari keuntungan dari profesi penyuluhan. Seperti menggeser fungsi penyuluh menjadi agen pupuk atau benih yang akan dijual kepada petani sehingga konsekwensi dari kegagalan usahatani akan berdampak negative pada kinerja penyuluh dan petani nantinya tidak lagi mengikuti

(28)

anjuran penyuluh. Oleh karena itu, penyuluh harus selalu membela kepentingan petani. Inilah pesan kebaikan dari Firman Allah tadi, supaya penyuluh selalu menjaga etika profesi sebagai penyuluh dengan berbuat makruf untuk kepentingan petani binaannya.

(29)

ْم ِهِب ْو ُ ل ُ

ق ْيِف ا َم ُ ّٰ

للا ُم َ

ل ْعَي َنْي ِذ َّ

لا َكِٕىٰۤلو ُ ا ٓ ْيِف ْم ُه َّ

ل ْ ل ُ

ق َو ْم ُه ْظ ِع َو ْم ُه ْن َع ْض ِر ع ْ َ ا َ

ف ٦٣ ا ًغ ْي ِلَب ۢ ا ً

ل ْو َ

ق ْم ِه ِس ُ فْن َ

ا

”Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena

itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka

Qaulan Baligha –perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”.

(Q.S An-Nisa: 63)

(30)

3.1 Siapa itu Penyuluh?

Penyuluh merupakan orang di luar sistem sosial masyarakat sasaran penyuluhan yang membantu mengarahkan sistem, yang berfungsi sebagai jembatan/penghubung lembaga dan masyarakat. Perannya adalah membangkitkan kebutuhan untuk berubah, mengadakan hubungan untuk perubahan, mendiagnosis masalah, menciptakan motivasi untuk berubah, merencanakan tindakan pembaharuan, memelihara program supaya terus berjalan, dan mencapai hubungan terminal. Kehadiran penyuluh di tengah masyarakat diharapkan mampu memfasilitasi perubahan dalam rangka memenuhi kebutuhan petani.

Selama ini penyuluh dalam melakukan tugasnya sangat terikat dengan besaran insentif yang diterima. Apabila nominal insentifnya besar maka mereka aktif di lapangan. Sebaliknya, ketika nominal insentifnya kecil maka mereka cenderung kurang aktif di lapangan. Penyuluh umumnya jarang berpikir untuk bagaimana menebarkan kebaikan dan manfaat bagi sesama sehingga orientasi mereka bukan hanya mendapatkan imbalan langsung di dunia tetapi juga untuk mendapatkan imbalan pahala di akhirat dari kebaikan yang sudah mereka perbuat melalui kerja penyuluhan. Kesadaran inilah yang sebenarnya perlu didorong ke depan untuk memotivasi penyuluh supaya mereka bekerja

BAB 3

PENYULUH SEBAGAI

PENDAKWAH

(31)

secara lebih ikhlas dalam melaksanakan tugas mulianya sebagai penyuluh.

Penyuluh ke depan diharapkan harus terpanggil jiwanya untuk membantu masyarakat secara ikhlas sehingga dia menjadi bagian dari masyarakat sasaran. Hal ini akan bisa terwujud apabila penyuluh dalam melakukan tugasnya tidak berharap imbalan dari manusia, tetapi jauh lebih penting ketika dia berharap untuk mendapatkan imbalan dari Sang Pencipta.

Oleh sebab itu, penyuluh harus mampu mengembangkan diri secara seimbang antara penguasaan ilmu teknis dan penguasaan ilmu agama dalam mengoptimalkan tugasnya sebagai penyuluh pertanian.

Penyuluh berbasis syariah harus memiliki karakter khas yang dapat menjadi tauladan bagi petani dalam melaksanakan tugasnya.

Minimal ada beberapa 5 karakter yang harus dimiliki penyuluh pertanian berbasis syariah, yaitu: (1) memiliki kompetensi standar yang memadai dalam melaksanakan tugasnya sebagai penyuluh, yaitu: kemampuan komunikasi dan kreativitas berpikir, kemampuan menguasai materi dan inovasi, dan kemampuan mengembangkan diri; (2) Memiliki komitmen moral yakni konsisten antara bicara dan perbuatan dan sikap toleransi dalam melaksanakan tugas yang berlandaskan pada upaya memperbaiki niat yang benar dan cara yang benar serta selalu berpihakan pada kepentingan petani; (3) Memiliki panggilan jiwa (calling) dalam melaksanakan tugasnya dan memiliki rasa bangga sebagai penyuluh; (4) memiliki kemampuan membaca Al-Quran secara benar sesuai dengan kaidah tajwid dan mendakwahkan isi kandungan Al-Quran dalam kegiatan penyuluhan; dan (5) memiliki pribadi yang konsisten mampu menahan diri terhadap godaan materi yakni tidak mengambil insentif yang bukan haknya.

Penyuluh sebagai pendakwah yang menyeru kepada kebaikan dan perbaikan kondisi masyarakat harus terlebih dahulu memperbaiki dirinya sendiri. Ibarat pepatah “janganlah engkau menyuruh orang lain berenang sementara dirimu sendiri tidak bisa berenang”. Allah juga tidak menyukai orang-orang yang menyuruh orang lain berbuat baik, sedangkan dirinya

(32)

tidak melakukannya. Hal ini termaktub dalam Surah Al-baqarah ayat 44 Allah berfirman:

ۗ َب ٰ ت ِك ْ

لا َ ن ْو ُ

لْتَت ْمُتْن َ ا َو ْم ُ

ك َس ُ فْن َ

ا َ ن ْو َس ْ

نَت َو ِّرِب ْ

لاِب َسا َّنلا َن ْو ُر ُم ْ أَت َ

ا ۞ ٤٤ َ

ن ْو ُ

ل ِق ْع َت ا َلَفَا

Artinya: “Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?”

Penyuluh yang berhasil adalah penyuluh yang mampu mentransfer ilmu pengetahuan, inovasi dan nilai-nilai ketauladanan serta kreativitas kepada petani. Kelemahan sebagian penyuluh sekarang adalah mereka berhasil dalam mentransfer ilmu pengetahuan dan inovasi kepada petani tetapi gagal dalam mentransfer nilai-nilai ketauladanan serta kreativitas kepada petani. Inilah peran kunci yang harus dimainkan oleh seorang penyuluh ke depan dalam penyuluhan pertanian berbasis syariah.

3.2 Penyuluh dalam Konteks Pengembangan Diri

Makna pengembangan diri di sini bukan hanya mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap, tetapi meliputi bagaimana memperkuat hubungan kita dengan Allah Swt. Diri yang kuat memiliki daya tahan kuat menghadapi segala tantangan dalam kehidupan. Langkah awal pengembangan diri adalah penentuan tujuan kehidupan kita sendiri. Tujuan seseorang mengarahkan seluruh segala upaya untuk menggapainya. Di dalam diri harus tertanam keyakinan bahwa kita mampu melakukan perubahan pada nasib kita. Islam mengajarkan supaya umatnya terus berusaha dan berdoa. Keduanya memiliki ikatan sangat kuat, sehingga tidak dapat dan tidak boleh dipisahkan.

Tidak ada buku-buku motivasi, pengembangan diri yang menganjurkan seseorang untuk berhenti mengembangkan dirinya.

Dalam Islam pun kita diminta untuk selalu belajar, mulai dari

(33)

kandungan hingga ke liang lahat. Islam melihat bahwa penting sesekali bagi seseorang untuk mengembangkan dirinya yang sangat berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat. Pada akhirnya, tujuan kita mengembangkan diri seharusnya karena bagian dari perintah Allah untuk terus belajar. Untuk mengembangkan dirinya, seseorang perlu mengetahui kemampuan dan kekurangan dirinya sendiri.

Mengoptimalkan kemampuan dan terus belajar memperbaiki kekurangan, begitulah konsep dasar pengembangan diri. Lebih rincinya, ada 10 aspek dalam mengembangkan diri.

1. Mampu memanfaatkan informasi dasar

Informasi dasar mencakup segala hal mendasar dalam pekerjaan yang sedang dijalankan. Pengetahuan dasar, -dalam organisasi misalnya- seperti Kebijakan yang dikeluarkan, rencana organisasi ke depan, dan bagaimana ia selalu tahu perkembangannya. Tidak mungkin seorang anggota dalam organisasi, dinaikan tingkatnya menjadi kepala bidang bila ia tidak memahami hal mendasar dengan baik.

2. Mengetahui dengan jelas pekerjaannya

Kita mencontohkan seorang guru. Guru profesional mengetahui dengan baik hal mendasar dalam pekerjaannya, seperti kurikulum yang diajarkan, metode mengajar yang efektif, mampu mengontrol kelas, dan sebagainya. Informasi tersebut dapat digunakan supaya aktifitas belajar dan mengajar di kelas berjalan dengan lancar. Sementara sebagai penyuluh, perlu memahami kondisi lingkungan dan kondisi sosial masyarakat.

Di dalam organisasi, seorang pemimpin harus memahami peran dan tugas masing-masing bidang, kemampuan anggotanya, dan sebagainya. Membaca jurnal-jurnal relevan dengan pekerjaan merupakan salah satu langkah memperluas wawasan. Wawasan dalam penyuluhan misalnya, yakni mengenai perkembangan penyuluhan di tingkat dunia hingga daerah, kebijakan pemerintah terkait penyuluhan maupun pertanian dan paham akibatnya bagi penyuluhan.

(34)

3. Memiliki wawasan luas sesuai profesinya

Untuk kategori penyuluhan, penyuluh mengetahui teknis penyuluhan, seperti mengetahui mitra kerja yang mampu mendukung lancarnya penyuluhan, memahami persoalan pertanian, mengetahui teknis penggunaan inovasi pertanian, adat budaya masyarakat sasaran, sistem pengkreditan rakyat.

Wawasan dapat diperoleh dengan membaca buku, jurnal, yang berkaitan dengan tanggung jawab pekerjaan.

4. Kepekaan menanggapi persoalan

Manajer yang baik mampu menyesuaikan sikap dengan keadaan sekelilingnya. Dia harus peka kondisi lingkungan kerjanya, baik itu dalam organisasi maupun di dalam suatu lembaga tertentu. Alangkah baiknya dia mampu menanggapi persoalan. Sifatnya harus kritis, objektif.

5. Memiliki kemampuan menganalisa, memecahkan masalah, dan mampu mengambil keputusan

Keputusan yang bijak lahir berdasarkan analisa persoalan, bukan langsung memberikan suatu keputusan tanpa berpikir terlebih dahulu. Seyogianya dia mengumpulkan berbagai informasi terkait yang mendukung dalam pengambilan keputusan.

Sebuah masalah ada penyebabnya dan itu perlu dianalisa dengan baik. Untuk melahirkan sebuah solusi, maka cara paling ampuh mengetahui penyebab masalah. Sehingga, solusi yang lahir relevan dengan persoalan yang terjadi. Yang paling penting, saat mengambil keputusan, dia harus yakin bahwa itu sudah benar- benar dipertimbangkan dengan baik.

6. Terampil dalam kehidupan sosial

Manusia adalah makhluk sosial. Artinya dia tidak mampu hidup sendiri, melainkan membutuhkan pertolongan orang lain. Sebagai pribadi sosial, kemampuan berinteraksi dengan masyarakat wajib dimiliki setiap individu.

(35)

7. Mampu mengontrol emosi

Mengontrol emosi maknanya bukan hanya mampu mengendalikan amarah. Seseorang dituntut memahami orang lain, dan orang lain dapat memahami dirinya ketika berkomunikasi.

Selain marah, emosi dalam jiwa lainnya perlu dikendalikan seperti, stres, tegang, gelisah, dan sebagainya. Hal terpenting perlu dihindari adalah jangan sampai emosi seseorang mempengaruhi kinerjanya.

8. Proaktivitas,

Artinya perilaku manusia yang konsisten terhadap perilakunya dan tidak dikendalikan oleh situasi sekitarnya. Orang seperti ini mampu membuat perubahan dalam perilaku sehari.

Dia memiliki impian yang terwujud ke dalam bentuk tindaka guna mencapai impian tersebut. Dia tergerak untuk berkembang serta siap menghadapi tantangan. Lawan dari proaktivitas adalah pasif.

Seseorang yang bersikap pasif, hidupnya cenderung biasa saja.

Dirinya tidak memiliki impian memperbaiki kualitas hidupnya.

9. Kecerdasan mental dan kreatif

Kecerdasan mental sering juga disebut sebagai kecerdasan akal. Orang yang memiliki kecerdasan ini mampu berpikir, menganalisa dan memecahkan suatu masalah dengan baik.

Kecerdasan mental berkaitan erat dengan kesuksesan seseorang.

Sedangkan kreatif bisa bermakna kemampuan seseorang mendapatkan ide-ide baru untuk menyelesaikan suatu persoalan.

Dia suka mencoba dan memiliki sudut pandang baru.

10. Suka mempelajari hal-hal baru.

Kebiasaan orang yang haus ilmu pengetahuan sangat menyukai hal-hal baru, baik itu diperoleh sendiri maupun mempelajarinya dari kegiatan-kegiatan pelatihan. Dewasa ini, ilmu pengetahuan baru bagi seseorang tidak hanya dapat diperoleh dengan membaca buku, melainkan dapat mengakses internet. Pengetahuan tersebut akan didalami dengan baik

(36)

sehingga memenuhi rasa penasaran dalam dirinya. Selain itu, dia suka melakukan eksperimen-ekesperimen untuk menemukan sesuatu yang baru dan dikaitkan dengan berbagai pengetahuan yang dia miliki. Apa yang dia pelajari, lakukan, suatu saat akan sangat berguna untuk menunjang kariernya, maupun kehidupan sosialnya.

3.3 Penyuluh dalam Konteks Ajaran Islam

Ketika kita belum mendapatkan amanah, maka kita harus terus membangun kapasitas diri, namun ketika sudah mendapatkan amanah, maka kita harus membantu membangun kapasitas orang lain. Penyuluh harus selalu belajar dan tidak berpuas diri. Allah berfirman dalam Alquran surat Al-Imran ayat 104:

َ ن ْو َهْنَي َو ِف ْو ُر ْع َم ْ لاِب َ

ن ْو ُر ُم ْ أَي َو ِرْي َ

خ ْ لا ى َ

ل ِا َ ن ْو ُ

ع ْدَّي ٌ ة َّم ُ

ا ْم ُ كْن ِّم ْن ُ

ك َت ْ ل َو ١٠٤ َ

ن ْو ُح ِل ْ ف ُم ْ

لا ُم ُ ه َكِٕىٰۤلو ُ

ا َو ۗ ِر َ كْن ُم ْ

لا ِن َ ع

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada ke- bajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang- orang yang beruntung.”

Proses pembelajaran yang terjadi pada penyuluhan merupakan proses transfer informasi dan transfer pendidikan antara para pemberi informasi (penyuluh) dengan masyarakat/

sasaran penyuluh. Sebagai penyuluh kita adalah pemimpin bagi masyarakat yang kita pimpin. Allah mengatakan dalam Alquran bahwa setiap dari kita adalah pemimpin dan kita akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kita pimpin. Semakin tinggi jabatan seseorang semakin tinggi tanggung jawabnya kepada Allah.

Kita tahu sebagai penyuluh kita adalah pemimpin bagi beberapa kelompok tani, kepala pemimpin dia adalah sebagai pemimpin bagi anggotanya di kantor. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim:

(37)

Ibn umar r.a berkata,”Saya telah mendengar rasulullah saw bersabda:

setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggung jawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungjawaban) dari hal-hal yang dipimpinnya.”

Tugas pemimpin bukan hanya sekadar memerintah (bersifat otoriter) saja. Pemimpin berkewajiban mengayomi bawahannya dengan membimbing bawahannya, menyemangati mereka, memotivasi, serta menegur saat mereka berbuat salah. Di samping itu pula, pemimpin seyogianya memberikan penghargaan seperti pujian jika mereka memiliki prestasi kerja. Setiap pemimpin kita harus berlaku adil, memiliki kedisiplinan tinggi, rajin beribadah, memiliki kepribadian yang baik, mampu menghormati orang lain, tidak sombong, mudah membantu para bawahannya yang mengalami musibah atau kekurangan. Itulah sifat-sifat yang perlu dimiliki pemimpin agar bisa menjadi teladan bagi orang yang ia pimpin. Pemimpin yang baik tidak hanya patut dengan aturan dunia akan tetapi juga patuh terhadap perintah Allah Swt.

Seorang pimpin hendaklah melaksanakan sesuatu itu berlandaskan dengan apa yang telah dia katakan. Dengan kata lain, dia berbuat sesuai dengan apa yang dia katakan. Dalam Surat Ash- Shaff ayat 2-3, Allah berfirman:

ِ ّٰ

للا َدْن ِع اًت ْ ق َم َرُب َ

ك ٢ َ

ن ْو ُ ل َع ْ

فَت ا َ ل ا َم َ

ن ْو ُ ل ْو ُ

قَت َمِل ا ْو ُن َم ٰ ا َنْي ِذ َّ

لا اَهُّي َ آٰي

٣ َ

ن ْو ُ ل َع ْ

فَت ا َ ل ا َم ا ْو ُ

ل ْو ُ قَت ْ

ن َ ا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Allah menciptakan manusia dari air yang terpancar (sperma), kemudian diberikan mata dan telinga. Tujuan Allah memberi kita

(38)

mata dan telinga adalah sebagai ujian, Allah ingin melihat untuk apa mata dan telinga yang diberikan Allah kita gunakan, sejauh mana kita bisa memanfaatkan titipan-Nya. Begitu juga dalam memimpin, posisi yang telah kita peroleh itu Allah berikan kepada kita sebagai ujian bagi kita. Allah ingin melihat jabatan yang kita peroleh itu apakah kita gunakan dengan baik, apakah kita sebagai pemimpin amanah, jujur, dan bertanggung jawab. Segala yang kita peroleh dalam diri kita ini adalah bentuk ujian yang Allah berikan, baik itu berupa kesenangan, kesehatan, posisi, jabatan, kesusahan, dan bahkan penderitaan yang kita peroleh.

Pemimpin yang baik juga harus bisa menjaga kesehatan dirinya. Kesehatan dan kebugaran memengaruhi semangat untuk berjuang dan memimpin. Akan tetapi, tapi jika seorang pemimpin tidak sehat jiwa dan raganya, maka akan menghambat dirinya dalam menjalankan aturan-aturan dan kewajibannya. Pemimpin juga harus memiliki jiwa sosial yang tinggi, pemaaf, dan pekerja keras. Seorang pemimpin sepatutnya mencontohi sifat-sifat Rasulullah, seperti dapat dipercaya, jujur dalam bertindak.

Akhlak mulia itu wajib dimiliki setiap orang muslim, bahkan Rasulullah diutus Allah ke muka bumi ini untuk memperbaiki akhlak manusia. Rasulullah sendiri diutus Allah ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia. Seseorang yang rajin beribadah, namun tidak berakhlak mulia (akhlakul karimah), maka tidak termasuk ke dalam orang yang beriman. Di dalam Alquran dan hadis, manusia diserukan untuk berakhlak mulia seperti pada Surat Al-Baqarah ayat 83:

ِن ْي َدِلاَو ْ لاِب َو َ ّٰ

للا ا َّ

ل ِا َ

ن ْو ُد ُب ْعَت ا َ ل َ

لْي ِءۤا َر ْس ِا ٓ ْي ِنَب َقاَثْي ِم اَن ْذ َخ َ ا ذ ِا َو ْ اًن ْس ُح ِسا َّنلِل اْو ُ

ل ْو ُ

ق َو ِن ْي ِك ٰسَم ْ

لا َو ى ٰمٰتَي ْ

لا َو ىٰب ْر ُ ق ْ

لا ى ِذ َّو اًنا َس ْح ِا ْمُتْن َ

ا َو ْم ُ كْن ِّم ا ً

ل ْي ِل َ ق ا َّ

ل ِا ْمُتْي َّ

ل َوَت َّم ُ ث َۗةو ٰ

كَّ زلا اوُت ٰ ا َو َةو ٰ

ل َّ صلا او ُم ْي ِق َ ا َّو ٨٣ َ

ن ْو ُض ِر ْع ُّم

(39)

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”

Akhlak terbagi atas tiga, yaitu akhlak kepada Allah, manusia, dan lingkungan. Islam mengajarkan kita untuk saling menghormati dan menghargai sesama, menyayangi hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Islam turut mengajarkan dengan baik tata cara menyembelih hewan. Kita dianjurkan menyembelihnya menggunakan pisau yang tajam dan bagus agar hewan yang disembelih tidak tersakiti. Dalam Surat Luqman ayat 18-19 Allah berfirman:

ُّب ِح ُ ي ا َ

ل َ ّٰ

للا َّ

ن ِا ۗا ًح َر َم ِ ض ْر َ ا ْ

لا ىِف ِش ْم َت اَلَو ِساَّنلِل َك َّدَخ ْر ِّع َصُت ا َ ل َو ن ِا ۗ َّ َكِتْو َص ْنِم ْض ُض ْغاَو َكِي ْشَم ْيِف ْد ِصْقاَو ١٨ ٍۚرْو ُخَف ٍلاَتْخ ُم َّ

ل ُ ك ١٩ ࣖ ِرْي ِم َح ْ

لا ُت ْو َص َ

ل ِتا َو ْص َ ا ْ

لا َر َ كْن َ

ا

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Saat kita mengerjakan suatu kebajikan tidaklah perlu orang lain mengetahui akan kebaikan yang kita kerjakan, cukup lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Demikian itu lebih baik dari pada kita menyombongkan diri. Menurut sebuah hadis yang diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim, “Mukminin yang paling sempurna ibadahnya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Kewajiban seorang pemimpin atau dalam hal konteks ini sebagai penyuluh adalah membekali dirinya dengan ilmu dan inovasi-inovasi baru melalui kegiatan-kegiatan seminar, workshop atau membekali diri dengan melakukan diskusi-diskusi yang bisa meningkatkan pemahaman terhadap ilmu yang sedang

(40)

didalaminya. “Barang siapa yang merintis jalannya untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga”.

Tentunya yang pertama adalah ilmu agama, karena menuntut ilmu agama hukumnya adalah fardu ain. Allah memudahkan jalan bagi penuntut ilmu. Menuntut ilmu adalah proses pendekatan kepada Allah ‘azza wajalla.

Kewajiban penyuluh yang lain yaitu menginformasikan inovasi baru yang diperolehnya kepada petani. Penyuluh hendaknya memberikan informasi menyeluruh kepada petani tanpa menyembunyikan atau menyampaikannya secara setengah- setengah. Dengan kata lain, inovasi yang diperoleh dari seorang penyuluh itu harus disampaikan dan direalisasikan secara total kepada masyarakat, dalam hal ini adalah petani.

3.4 Penyuluh dalam Konteks Pemberdayaan Masyarakat Penyuluh memiliki tugas untuk mendiagnosa kebutuhan masyarakat untuk berubah. Misalnya, seorang petani memperoleh hasil pertanian biasa saja, maka penyuluh bisa meningkatkan keinginan petani dengan menyadarkan mereka tentang keuntungan lebih yang sebenarnya bisa mereka peroleh untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Motivasi perubahan para petani dapat ditingkatkan melalui suntikan modal awal, pelatihan, dan penghargaan, baik itu dalam bentuk benda maupun bentuk moral.

Meskipun demikian, penyuluh harus memiliki strategi agar mampu menggerakkan masyarakat untuk terus maju karena tidak semua masyarakat mudah diajak berubah meskipun sudah mengikuti penyuluhan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,”Barang siapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

Peran seorang penyuluh harus disesuaikan dengan tingkat pengetahuan dari petani sasaran. Penyuluh dalam melaksanakan perannya adakalanya memiliki keterbatasan pengetahuan terhadap

(41)

objek penyuluhan, sehingga pada saat itu dia harus tahu peran apa yang harus dia mainkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi petani. Kemampuan untuk memainkan peran yang sesuai dengan kondisi masyarakat sasaran sering mengacu pada peran berdasarkan tabel jendela jauhari yang menjelaskan kapan peran penyuluh sebagai fasilitator, inisiator, motivator, dan mediator (Tabel 1).

Tabel 1. Jendela Jauhari Peran Penyuluh

Peran (Jendela Jauhari) Petani Tahu Petani Tidak Tahu

Penyuluh Tahu Fasilitator: (Menfasilitasi

Capaian Output) Inisiator: (Nara Sumber Perubahan)

Penyuluh Tidak Tahu Motivator: (Mendorong Kemandirian Petani Mencapai

Tujuannya)

Mediator: (Meminta Pihak Lain Untuk Melakukannya)

Tabel 1 menjelaskan kapan penyuluh harus bertindak sebagai fasilitator, inisiator, motivator, dan mediator. Apabila penyuluh dan petani sama-sama memahami suatu permasalahan di bidang pertanian, penyuluh bisa menjadi fasilitator. Contohnya, Persemaian benih padi. Petani sudah tahu dan penyuluh juga sudah tahu. Terkait dengan hal tersebut yang perlu dilakukan penyuluh sebagai fasilitator adalah memfasilitasi ketersediaan benih padi unggul yang dapat diakses oleh petani dengan harga terjangkau.

Apabila penyuluh tahu dan petani tidak tahu terhadap suatu masalah di bidang pertanian, maka penyuluh sebaiknya berperan sebagai inisiator. Contohnya, bagaimana penanganan hama penggerek batang pada tanaman mangga. Peran penyuluh terkait dengan permasalahan ini adalah menginisiasi beberapa metode yang adaptif melalui metode inpus dengan bahan organik dari sumber daya lokal tanpa menggunakan bahan kimia. Inisiasi ini kemudian disimulasikan kepada petani sehingga petani dapat

(42)

mengatasi masalah hama penggerek batang tanaman manga yang mereka hadapi.

Ketika penyuluh tidak tahu, sedangkan petani tahu, peran penyuluh ialah sebagai motivator. Contohnya, pengolahan buah pala menjadi berbagai produk manisan pala atau sirup buah pala.

Peran penyuluh dalam masalah ini adalah bagaimana memotivasi petani untuk mengemas produk manisan pala dengan bungkusan yang menarik sehingga dapat meningkatkan nilai jual yang berdampak pada nilai tambah yang akan diterima petani.

Jika penyuluh dan petani sama-sama tidak tahu, maka penyuluh menjadi mediator. Artinya, penyuluh harus meminta bantuan pihak lain yang lebih paham terhadap permasalahan terkait. Contohnya, mengatasi penyakit busuk buah kakao. Ketika penyuluh tidak tahu dan petani tidak tahu bagaimana mengatasi penyakit busuk buah kakao tersebut maka di sini penyuluh dapat berperan sebagai mediator dengan memanggil ahli dari perguruan tinggi atau konsultan ahli untuk mengatasi masalah penyakit busuk buah yang dihadapi oleh petani kakao.

Keempat peran ini sangat penting diketahui oleh penyuluh sehingga mereka ketika menghadapi suatu masalah dalam pemberdayaan petani dapat memainkan perannya sesuai kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh petani. Kemampuan memainkan peran ini akan menentukan tingkat keberhasilan seorang penyuluh dalam menjalankan tugasnya untuk mendorong terjadi perubahan perilaku petani dalam memecahkan berbagai permasalahan yang mereka hadapi yang pada akhirnya akan berdampak pada kemandirian petani dalam upaya peningkatan produktivitas usaha dan kesejahteraan keluarganya.

3.5 Kualifikasi Penyuluh pada Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah

Kualifikasi penyuluh pertanian berbasis syariah yang ideal adalah selain menguasai materi penyuluhan secara teknis, juga harus mampu menghubungkan pengetahuan tersebut dengan nilai- nilai syariah dan adat istiadat petani yang berada dalam wilayah

(43)

kerjanya. Misalnya dengan menyadarkan penyuluh bahwa tujuan penyuluhan bukan hanya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup di dunia semata, melainkan juga mengharapkan kebahagiaan hidup di akhirat. Kesadaran ini diharapkan dapat mengubah orientasi kerja penyuluh dari berbasis insentif ekonomi ke berbasis insentif sosial dan keagamaan.

Sebagian besar sumber daya manusia (SDM) penyuluh tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti pelatihan dalam upaya meningkatkan kapasitas mereka untuk menjadi penyuluh yang memiliki kualifikasi yang cukup baik. Oleh karenanya, sistem pelatihan kepada penyuluh harus dilaksanakan secara sistematis dan berjenjang, mulai dari pelatihan tingkat dasar hingga pelatihan tingkat pengembangan (advance), baik yang bersifat umum maupun yang bersifat keahlian (skill). Tujuan pelatihan adalah supaya tenaga penyuluh mampu menguasai materi penyuluhan dan teknik penyampaiannya, mampu bersosialisasi dan mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, serta mengetahui tujuan-tujuan penyuluhan itu sendiri yang akan memudahkannya membentuk pola-pola penyuluhan efektif berbasis sumber daya potensi lokal.

Sementara itu, penyuluh perlu memperhatikan teknik berkomunikasi yang baik serta menghindari beberapa sebab yang menghambat komunikasi, misalnya heterofili atau hemofili.

Kegagalan komunikasi dikarenakan terlalu heterofili antara penyuluh dengan masyarakat sasaran (perilaku, sikap, dan pengetahuan terlalu berbeda). Kemudian penyuluh sering pada saat komunikasi terfokus pada masyarakat dengan status sosial, partisipasi, pendidikan dan kosmopolit lebih tinggi, sehingga terjadinya masalah etik yang berdampak pada gagalnya berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi sasaran utama.

Firman Allah dalam Alquran surat An-Nisa ayat 63:

ْ ل ُ

ق َو ْم ُه ْظ ِع َو ْم ُه ْن َع ْض ِر ع ْ َ ا َ

ف ْم ِهِب ْو ُ ل ُ

ق ْيِف ا َم ُ ّٰ

للا ُم َ

ل ْعَي َنْي ِذ َّ

لا َكِٕىٰۤلو ُ ا ٦٣ ا ًغ ْي ِلَب ۢ ا ً

ل ْو َ ق ْم ِه ِس ُ

فْن َ

ا ٓ ْيِف ْم ُه َّ

ل

Gambar

Tabel 1. Jendela Jauhari Peran Penyuluh
Diagram Venn merupakan teknik yang bermanfaat  untuk melihat hubungan masyarakat dengan berbagai lembaga  yang terdapat di desa (dan lingkungannya)
Tabel 1. Buku simpanan anggota KPN KOPEFTA per 30/04/2014  (Nomor Anggota : A108)
Tabel 2. Rekapitulasi Simpanan anggota KPN KOPEFTA per 30 April 2014
+7

Referensi

Dokumen terkait

kegiatan penyuluhan pertanian tanaman hortikultura berbasis SMS Gateway yang. akan diterapkan pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT serta

Dalam pemilihan alat bantu komunikasi pada proses penyuluhan pertanian perlu memperhatikan petani sasaran, tujuan yang akan dicapai dan tahap-tahap proses komunikasi

Memberikan  penyuluhan kepada petani merupakan menu sehari‐hari yang tidak asing lagi  bagi  setiap  petugas  penyuluh  pertanian  lapangan  (PPL).   

kegiatan penyuluhan pertanian(Samsudin, 1987 dan Kartasapoetra, 1988). Jadi, ilmu sebagai materi penyuluhan yang disampaikan kepada petanidapat berupa pengetahuan,

Penyuluhan pertanian partisipatif adalah kegiatan penyuluhan dengan melibatkan petani di setiap tahapan kegiatan penyuluhan , sehingga kegiatan penyuluhan yang

3arena 3arena itu itu materi materi penyuluhan penyuluhan pertanian pertanian yang yang akan akan disampaikan kepada pelaku utama dan pelaku usaha pertanian

oleh kemiskinan merupakan ciri bahwa penyuluhan pertanian masih perlu untuk terus meningkatkan perannya dalam rangka membantu petani memecahkan masalah mereka

PERKULIAHAN KOMUNIKASI DAN PENYULUHAN PERTANIAN PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MEDAN AREA menumbuhkan perubahan yang lebih baik pada diri petani dalam