• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator Kesuksesan Penyuluh Dalam Komunikasi

Dalam dokumen PENYULUHAN PERTANIAN BERBASIS SYARIAH (Halaman 95-0)

BAB 7: Membangun Skill Komunikasi

7.6 Indikator Kesuksesan Penyuluh Dalam Komunikasi

upaya mencapai kesuksesannya. Sejumlah faktor yang menentukan kesuksesan penyuluh dalam berkomunikasi, seperti:

a. Adanya kesepakatan antara penyuluh dan petani sasaran.

Misalnya, kesepakatan bagi hasil jika ternyata produktifitas dan pendapatan petani setelah mengikuti penyuluhan meningkat dari yang diperoleh sebelumnya.

b. Penerimaan inovasi oleh petani. Meskipun suatu inovasi pertanian telah dikaji keberhasilannya, sebagian masyarakat ada kemungkinan tidak mau langsung menerima inovasi tersebut. Sebagai penyuluh, harus memikirkan langkah-langkah efektif supaya masyarakat mau menerima inovasi.

c. Bertambahnya jumlah kegiatan yang mendorong perkembangan penyuluhan. Keberhasilan komunikasi penyuluh ditandai dengan meningkatnya partisipasi petani dalam setiap kegiatan penyuluhan dan program yang dicanangkan bersma antara penyuluh dengan petani Tingginya partisipasi petani berarti menunjukkan penyuluh dianggap perlu. Partisipasi dapat ditingkatkan melalui kemampuan berkomunikasi untuk mengajak petani dan keluarganya.

d. Munculnya inisiatif bersama antara penyuluh dan petani dalam mendorong kemajuan usahatani.

e. Tingkat keterlibatan pihak yang lemah dalam kegiatan penyuluhan semakin tinggi, seperti sudah semakin banyaknya petani marginal, perempuan dan lapisan bawah masyarakat yang terlibat.

f. Intensitas kehadiran petani dalam pertemuan penyuluhan pertanian meningkat. Kehadiran mereka mencerminkan dampak positif dari bangunan komunikasi antara penyuluh dan petani.

Indikator ini dapat digunakan untuk menilai tingkat keberhasilan komunikasi penyuluh dalam mengubah perilaku

petani sehingga mereka mau melaksanakan program atau kegiatan dalam penyuluhan sesuai anjuran. Indikasi lain dari keberhasilan komunikasi juga dapat dilihat dari peningkatan partisipasi petani dalam kegiatan penyuluhan.

ْن َم ْي ِد ْهَي َ ّٰ

للا َّ ن ِك ٰ

ل َو َتْبَب ْح َ

ا ْن َم ْي ِد ْه َت اَل َكَّنِا ٥٦ َنْي ِدَت ْه ُم ْ

لاِب ُم َ ل ْع َ

ا َو ه َوۚ ُءۤا َش ُ َّ ي

Artinya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan

Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.

(Q.S Al-Qasas: 56)

8.1. Metoda Penyuluhan dan Metoda Dakwah

Metoda penyuluhan pertanian berbasis syariah metoda yang digunakan dalam penyuluhan pertanian dengan menggabungkan metoda penyuluhan pertanian konvensional dengan metoda dakwah. Namun tujuan akhir dari kedua metoda ini adalah sama, yaitu bagaimana strategi penyuluhan yang digunakan dapat mengubah perilaku petani dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Salah satu sumber yang menjadi acuan dalam metoda dakwah adalah Firman Allah dalam Surah An-Nahl, ayat 125:

ْم ُه ْ

ل ِدا َج َو ِة َن َسَح ْ

لا ِة َظ ِع ْو َم ْ لا َو ِة َم ْ

ك ِح ْ

لاِب َك ِّب َر ِلْيِب َس ى ٰ ل ِا ُعْدُا َو ُ

ه َو ٖهِلْيِب َس ْن َع َّ

ل َض ْن َمِب ُم َ ل ْع َ

ا َو ه َكَّبَر ُ َّ

ن ِا ُۗن َس ْح َ

ا َي ِه ْي ِت َّ

لاِب ١٢٥ َنْي ِدَت ْه ُم ْ

لاِب ُم َ ل ْع َ

ا

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang leb-ih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebleb-ih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

BAB 8

METODA DAN PENDEKATAN

PENYULUHAN PERTANIAN

BERBASIS SYARIAH

Berdasarkan Firman Allah tersebut, penyuluh dalam melaksanakan tugasnya harus mengedepankan pendekatan dakwah bil-hikmah. Dalam tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Jarir menyebutkan bahwa maksud dari kata hikmah adalah wahyu yang telah diturunkan oleh Allah berupa Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Maknanya, penyuluh harus metode dan tujuan perubahan perilaku sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Alhadist, yaitu capaiaan kesejahteraan hidup di dunia dan capaian kebahagian hidup di akhirat. Selain pengartian kata hikmah denga kedua wahyu tersebut, M. Abduh berpendapat bahwa hikmah adalah mengetahui rahasia dan faedah dalam tiap – tiap hal. Hikmah juga diartikan dengan ucapan yang sedikit lafadz akan tetapi memiliki banyak makna atau dapat diartikan meletakkan sesuatu sesuai tempat yang semestinya. Orang yang memiliki hikmah disebut al-hakim yaitu orang yang memiliki pengetahuan yang paling utama dari segala sesuatu. Selain itu Al-Zamaksyari mengartikan kata al-hikmah dalam al-Kasyaf dengan sesuatu yang pasti benar.

Al-Hikmah adalah dalil yang menghilangkan keraguan ataupun kesamaran. Selanjutnya beliau menyebutkan bahwa al-hikmah juga diartikan sebagai al-Qur’an yakni ajaklah manusia mengikuti kitab yang memuat al-hikmah.

Berdasarkan pengertian yang telah disebutkan tadi, dapat difahami bahwa al-hikmah adalah kemampuan penyuluh dalam memilih dan menyelaraskan metode penyuluhan pertanian dengan teknik berdakwah dengan tujuan merubah perilaku petani dan keluarganya tidak hanya berhasil meningkatkan produktivitas usahatani yang ditekuninya, tetapi meningkatkan kepedulian social untuk berbagi keberhasilannya kepada petani lainnya.

selain itu al-hikmah juga merupakan kemampuan penyuluh dalam menjelaskan implementasi nilai-nilai Islam serta realitas yang ada dengan argumentasi yang logis dan bahasa yang komunikatif dalam kegiatan penyuluhan pertanian. Oleh karena itu, metoda penyuluhan pertanian berbasis syariah merupakan suatu system penyuluhan yang menyatukan antara kemampuan teknis dalam penyampaian ilmu pertanian dengan kemampuan dakwah dalam menyampaikan pesan-pesan agama yang berhubungan dengan

pembangunan pertanian.

Selain itu berdasarkan Firman Allah tadi, penyuluh dalam melaksanakan tugasnya juga harus mampu berdakwah dengan al-Mau’idzah al-hasana (pelajaran yang baik ). Dalam tafsir Al-Baghawi dijelaskan bahwa berdakwah dengan mau’idzah al-hasanah adalah mengajak manusia dengan memberikan motivasi dan juga penakutan atas perbuatan buruk yang dilakuakan.

Selain itu diartikan pula bahwa maksud dari mau’idzah al-hasanah adalah ucapan yang lembut yang tidak mengandung kekerasan. Berdasarkan pengertian ini penyuluh dalam merubah perilaku petani harus mampu memberikan contoh dan taulada yang baik yang dapat dijadikan acuan oleh petani. Sesuai dengan maknanya, penyuluhan dengan metode al-mau’idzah al-hasanah mengandung beberapa hal berikut: (1) pesan penyuluhan yang diberikan harus bersifat nasihat ataupun petuah bagi petani; (2) metoda penyuluhan yang digunakan harus bersifat bimbingan dan pengajaran; (3) metoda yang digunakan harus dicontohkan dalam bentuk demontrasi sehingga keberhasilannya dapat dilihat dan diamati oleh petani; dan (4) inovasi yang diterapkan harus berdampak positif pada kehidupan petani di dunia dan di akhirat.

Gabungan metode penyuluhan dengan metoda dakwah diharapkan akan mampu merubah perilaku petani dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya dan keluarganya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Selain itu, metode ini juga mampu memberikan motivasi supaya petani menjadi orang yang mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Penyuluhan pertanian berbasis pertanian syariat harus melibatkan petani agar penyuluh dapat mempelajari dan mengidentifikasi masalah-masalah berkaitan dengan pembangunan pertanian dan kaitannya dengan nilai-nilai agama. Melalui penyuluhan pertanian berbasis syariah diharapkan kesadaran masyarakat akan bangkit serta memahami bahwa pembangunan pertanian tidak hanya demi meningkatkan kesejahteraan bersama tetapi juga untuk memperjuangkan agama. Hal ini selaras dengan anjuran Islam agar umatnya berusaha memperoleh yang lebih

baik dalam berkehidupan.

Pelaksanaan penyuluhan seyogianya melakukan pendekatan dengan tokoh atau organisasi masyarakat potensial (geuchik, asoe lhok, tuha peut, imum, mukim) sebagai penggerak pembangunan pertanian secara bersama berbasis agama.

Diperlukan pula rencana kegiatan pemeliharaan hasil pembangunan pertanian dan implementasinya berbasis nilai agama. Kemudian adanya penguatan dan pembinaan sehingga tokoh/organisasi bersama masyarakat mampu berkontribusi dalam memecahkan masalah pembangunan pertanian di lingkungan mereka secara mandiri dan berkelanjutan berbasis agama. Inilah tugas mulia penyuluh. Allah berfirman dalam Surah Fushilat, ayat 33:

Artinya: “Siapakah orang yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata: “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”.

Dilihat dari sisi kedekatan dengan sasaran, metoda penyuluhan dapat dibagi 2, yaitu (1) metoda langsung dan (2) metoda tidak langsung. Metoda penyuluhan langsung seperti:

ceramah dan bimbingan dalam pertemuan kelompok. Metoda penyuluhan tidak langsung seperti: penyuluhan dengan memakai media tulis: surat kabar dan brosur, media suara: radio, dan media gambar: televise dan film. Apabila dilihat dari sisi jumlah sasaran, maka metoda penyuluhan pertanian dapat dibagi tipe, yaitu: (1) metode penyuluhan melalui pendekatan individu, (2) metode penyuluhan melalui pendekatan kelompok, dan (3) metode penyuluhan melalui pendekatan massa. Semua pendekatan ini digunakan sesuai dengan tujuan penyuluhan yaitu aspek perilaku mana yang mau dirubah, apakah pengetahuannya saja, sikapnya atau keterampilanya atau ketiga-tiganya. Pilihan tujuan inilah yang akan menentukan metode yang sesuai dalam penyuluhan pertanian.

8.2. Pendekatan dan Ragam Pendekatan Penyuluhan Pertanian

Seiring dengan kebutuhan penyuluhan pertanian maka pendekatan dalam penyuluhan pun semakin beragam. Melalui pendekatan-pendekatan dalam penyuluhan yang ada, penyuluh bisa memilih salah satu pendekatan yang dinilai paling cocok diterapkan sesuai kondisi wilayah penyuluhan. Adapun pendekatan-pendekatan dalam penyuluhan adalah pendekatan umum, pendekatan komoditi, pendekatan latihan dan kunjungan, pendekatan partisipatif, pendekatan proyek, pendekatan pembangunan sistem usahatani, pendekatan kerja sama pembiayaan, dan pendekatan lembaga pendidikan, dan terakhir pendekatan berbasis syariah.

Pertama, pendekatan umum (konvensional), yaitu pendekatan yang bertujuan meningkatkan produktivitas usahatani. Perencanaan penyuluhan dalam pendekatan ini ditetapkan oleh pemerintah pusat dan berubah-ubah dari waktu ke waktu. Pendekatan ini dinilai mampu memperbaiki usahatani ke arah yang lebih baik. Meskipun demikian, kenyataannya adalah penerapan pendekatan ini menyulitkan tercapainya tujuan penyuluhan karena membutuhkan tenaga penyuluh yang banyak, sementara jumlah penyuluh profesional sedikit. Di samping itu, pola pendekatan umum membutuhkan biaya tinggi dan rasio jumlahnya terhadap sasaran bervariasi. Selain membutuhkan sumber daya besar, pendekatan umum membuat program penyuluhan sungguh sangat tergantung kepada pemerintah pusat. Penyuluh lebih berperan sebagai administrator dibandingkan sebagai pendidik yang lebih berfungsi sebagai aparat atau perwakilan menteri pertanian di wilayah kerjanya. Pada pendekatan ini, tugas penyuluh adalah mengimplementasikan tugas-tugas sesuai perintah atasannya. Pelaksanaan program penyuluhan dalam pendekatan umum adalah staf lapangan yang jumlahnya besar yang dikoordinir pemerintah pusat. Ukuran keberhasilan ditentukan berdasarkan tingkat adopsi dari rekomendasi yang ditetapkan dan besarnya kenaikan produksi nasional. Contohnya palagung.

Kedua, pendekatan komoditi. Asumsi dasar pendekatan komoditi adalah meningkatkan produksi komoditi tertentu melalui

penggabungan antara fungsi peneliti, sistem produksi, proses panen, dan pemasaran hasil produksi. Tujuan pendekatan komoditi adalah meningkatkan produktivitas dan produksi komoditi tertentu yang perencanaannya dirumuskan oleh lembaga/organisasi asosiasi komoditi yang bersangkutan. Dalam pendekatan komoditi, kebutuhan penyuluh disesuaikan dengan kompetensi yang dimiliki. Melalui pendekatan ini diharapkan mampu memadukan seluruh aspek yang berkaitan dengan teknologi, serta berkaitan erat antara peneliti dan petani.

Sumber daya dalam pendekatan ini diupayakan/disediakan asosiasi dan masuk ke dalam biaya investasi. Dalam pendekatan komoditi, pelaksananya adalah staf/aparat dari asosiasi yang bersangkutan.

Ukuran keberhasilan ditentukan berdasarkan kenaikan total produksi dari komoditi bersangkutan. Sasarannya lebih terbatas kepada petani yang kondisi ekologinya dan agroklimat sesuai terhadap pengembangan komoditi bersangkutan. Contohnya kakao.

Penyuluhan yang menggunakan pendekatan ini lebih fokus kepada mutu produk tertentu. Maka, seorang penyuluh harus menguasai bidang terkait, bukan hanya sebatas menyuluh. Selain berperan sebagai pemberi informasi (rekomendasi), penyuluh juga berperan sebagai pemberi input

Ketiga, pendekatan latihan kunjungan. Pendekatan ini sangat berbeda dengan pendekatan konvensional. Kegiatan penyuluhan ini melakukan pendekatan dengan mengunjungi lahan usahatani secara berkelompok. Lahirnya pendekatan latihan kunjungan karena lemahnya pelatihan dan supervisi terhadap penyuluh dan lemahnya kontak penyuluh dengan sasarannya. Para petani dikelompokkan menjadi beberapa kelompok tani, dipimpin seorang petani maju dari 10 persen jumlah petani di desanya.

Tujuan pendekatan latihan kunjungan adalah mendorong petani meningkatkan produktivitas komoditi tertentu. Perencanaannya ditetapkan oleh pusat serta ada kaitan antara peneliti, penyuluh, dan sasarannya yang berjumlah besar dengan rasio terbatas. Penyuluh hanya berperan sebagai pendidik dan kegiatan komunikasi yang hanya perlu membantu petani menyampaikan teknologi murah

yang bisa digunakan petani dengan risiko kecil. Penyuluh juga diharapkan membantu petani memecahkan masalahnya. Penyuluh diharapkan memahami bahwa petani membutuhkan rekomendasi teknis dalam mengembangkan usaha tani serta membutuhkan upaya penyuluh menyiapkan demonstrasi-demonstrasi usaha tani agar petani mudah memahaminya.

Kebutuhan sumber daya dalam pendekatan yang sangat besar. Dananya sangat tergantung pada ketersediaan dana dari pusat. Jadwal pelaksanaan kegiatan jadwal LAKU yang kaku, minimal 2 kali seminggu; di Aceh 4 kali seminggu. Keberhasilan pendekatan ini dilihat dari peningkatan produktivitas atau produksi komoditi tertentu. Contohnya padi.

Kekurangan pendekatan ini terdapat pada sifatnya yang top-down, partisipasi masyarakat merancang program penyuluhan minim, kekakuan jadwal, dan banyaknya kebutuhan jumlah penyuluh tidak seimbang dengan kuota yang ada.

Keempat, pendekatan partisipatif. Pendekatan partisipatif mengedepankan partisipasi petani untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan mereka sendiri. Partisipasi misalnya kemauan mereka untuk belajar terus menerus. Tujuan pendekatan ini adalah meningkatkan produksi, konsumsi, dan mutu kehidupan sasaran. Perencanaan kegiatan ditetapkan pada tingkat lokal dengan melibatkan kelompok-kelompok tani. Penyuluhnya terdiri dari tenaga lokal, biayanya murah, dan rasio tergantung kebutuhan. Sumber daya penyuluh yang dibutuhkan dalam pendekatan ini relatif kecil karena sebagian besar merupakan masyarakat setempat. Kegiatan dilaksanakan melalui diskusi kelompok, karya wisata, demonstrasi, dan berbagi pengalaman. Ukuran keberhasilan tergantung dari banyaknya petani yang berpartisipasi dan memperoleh manfaat dan keberlanjutan penyuluhan.

Kelima, pendekatan proyek. Asumsi dasar pendekatan proyek adalah perlunya pembangunan yang cepat, sementara birokrasi pemerintah tidak mampu melakukannya. Tujuan pendekatan yakni mendemonstrasikan tentang program penyuluhan yang dapat dilakukan dalam beberapa tahun saja. Wilayah penyuluhan

dalam pendekatan ini terbatas sehingga sasaran penyuluhan juga terbatas. Umumnya sasaran penyuluhan dalam pendekatan proyek adalah petani-petani kaya yang mampu berkembang dan mampu memanfatkan input, kredit, dan mampu mengikuti sistem pemasaran sesuai tawaran proyek. Perencanaan dalam pendekatan ini ditetapkan oleh pemerintah pusat dengan dukungan donor internasional.

Sumber daya penyuluh ditentukan berdasarkan kompetensi dan kebutuhan. Sedangkan jumlah sumber daya tergantung dana pusat dan dukungan donor internasional. Staf proyek dengan dukungan tenaga asing akan menjadi tenaga pelaksananya. Ukuran keberhasilan menurut perubahan dalam waktu singkat (seumur proyek).

Keenam, pendekatan sistem usahatani. Asumsi dasar pendekatan ini karena belum tersedia teknologi bagi usaha tani kecil dan memerlukan pengembangannya di tingkat lokal. Tujuan pendekatan ini adalah pengembangan tenaga penyuluhan yang melaksanakan penelitian untuk kebutuhan lokal. Rencana program pada pendekatan ini dirancang pada tingkat satuan agro-klimak dan ekosistem secara holistik dengan memperhatikan potensi setempat. Penyuluhnya adalah spesialis (luar dan dalam) dan biaya mahal. Sumber daya tergantung pada kebutuhan. Pelaksana adalah kerja sama antara peneliti, penyuluh, dan masyarakat serta pakar untuk uji coba dan analisis. Ukuran keberhasilan dilihat dari tingkat adopsi inovasi dan keberlanjutannya.

Ketujuh¸ pendekatan kerja sama dan pembiayaan. Tujuan pendekatan adalah untuk membantu petani belajar berswadaya demi meningkatkan produktivitasnya. Perencanaannya terbagi kepada beragam jenjang yang menanggung pembiayaannya.

Penyuluh terdiri atas tenaga lokal dan biaya murah serta bersedia tinggal di lokal dengan waktu agak lama. Sumber daya dari pemerintah pusat sangat kecil. Pelaksana kegiatan merupakan gabungan donatur luar-dalam. Ukuran keberhasilan berdasarkan kemampuan dan kemampuan masyarakat lokal untuk pola kerja sama pembiayaan.

Kesembilan, pendekatan lembaga pendidikan. Pendekatan ini melibatkan lembaga pendidikan berkompeten di bidang

pertanian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Melalui lembaga ini dapat membantu petani mempelajari ilmu pengetahuan pertanian lebih mendalam. Sementara itu, sasaran penyuluhan adalah masyarakat yang memiliki keinginan sendiri untuk mengikuti penyuluhan. Perencanaan program disusun oleh pembuat kurikulum penyuluhan atau lembaga pendidikan terkait.

Penyuluhnya merupakan para ahli atau peneliti di bidang pertanian yang mencapai 80 persen berasal dari lembaga pendidikan.

Sumber dayanya ditanggung bersama lembaga pendidikan dan penyuluhan. Peran penyuluh di sini memberikan rekomendasi-rekomendasi yang perlu diikuti petani dalam mengembangkan pertaniannya. Pelaksana juga gabungan penyuluhan dan lembaga pendidikan. Ukuran keberhasilannya berlandaskan pada tingkat partisipasi masyarakat program yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan. Contohnya di Saree, Aceh Besar.

Kesepuluh, pendekatan berbasis syariat. Pendekatan ini dapat dilaksanakan terhadap sasaran penyuluhan yang memiliki pengetahuan agama yang kemudian disinergikan dengan program penyuluhan untuk menggapai tujuan. Pendekatan ini diharapkan mampu membantu petani mengadopsi inovasi sekaligus menerapkan nilai-nilai keagamaan dalam berusahatani. Karakteristik penyuluh yang dibutuhkan dalam pendekatan ini adalah penyuluh yang ahli/

pekerja sosial yang memiliki karakteristik kesalehan. Sumber daya yang digunakan dalam pendekatan ini berasal dari pemerintah, pengusaha, dan masyarakat lokal. Sementara itu, pelaksana program adalah ialah gabungan penyuluhan dan tokoh keagamaan karena menggunakan pendekatan berbasis syariah. Keberhasilan program melalui pendekatan ini ditinjau dari perubahan perilaku, kedisiplinan, keteladanan, dan partisipasi masyarakat.

Berdasarkan beberapa pendekatan yang telah dipaparkan tadi, penyuluh perlu menyadari bahwa tugas mulia yang diembannya adalah bagaimana petani sebagai umat dapat melakukan kebajikan dari bidang pekerjaan yang digulutinya dan dapat membantu orang lain mencegah kemungkaran akibat kemiskinan yang mendera kehidupan petani. Oleh sebab itu, tugas mulia penyuluh adalah bagaimana mengajak petani melakukan kebaikan, kerja keras untuk

meningkatkan kesejahteraan hidupnya dan menyadarkan petani un-tuk tidak bermalas-malasan yang menyebabkan mereka lemah, bodoh dan tidakberdaya yang akhirnya mengiring mereka pada pekerjaan mungkar. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah, ayat 104:

Artinya: “hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dalam penyuluhan pertanian berbasis syariah, berbagai metode dan pendekatan yang digunakan penyuluh untuk mengubah perilaku petani harus selalu bersandarkan pada gabungan antara pengetahuan teknis bidang pertanian dan anjuran agama, khususnya yang terdapat dalam Al-Quran dan Al-hadist. Karenanya, petani tidak hanya berubah dalam cara bertani tapi juga berubah dalam cara berpikir dalam menata tujuan hidup di dunia dan di akhirat.

8.3. Dasar Penentuan Metoda dan Pendekatan Penyuluhan

Penyuluh harus memiliki dasar ketika akan menentukan metoda dan pendekatan yang akan digunakan kegiatan penyuluhan. Ada beberapa dasar dalam menentukan metoda dan pendekatan dalam kegiatan penyuluhan, antara lain:

1. Spesifikasi tujuan penyuluhan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tujuan utama penyuluhan adalah mengubah perilaku petani. Oleh sebab itu, sebelum penentukan metoda atau pendekatan yang akan digunakan, penyuluh harus menentukan dahulu aspek perilaku mana yang ingin dirubah.

Apabila yang ingin dirubah hanya pengetahuannya saja, maka pendekatannya cukup dengan menggunakan media masa. Tetapi apabila ingin dirubah ketiga-tiga dari aspek perilaku, maka harus digunakan pendekatan kelompok, bahkan jika perlu juga

pendekatan personal pada petani dan keluarganya.

2. Karakteristik petani sebagai sasaran penyuluhan.

Apabila petani sebagai sasaran penyuluhan kondisinya beragam, baik dari sisi usahatani yang diusahakan, kemampuannya dan kondisi ekologisnya, maka metode dan pendekatan yang digunakan juga tidak boleh seragam tetapi berbeda-beda sesuai dengan keberagaman petani. Jadi karakteristik sasaran akan menentukan metode dan pendekatan yang digunakan.

3. Karakteristik inovasi yang akan diperkenalkan.

Metode dan pendekatan penyuluhan juga harus memperhatikan karakteristik inovasi yang cirikan dengan: tingkat keuntungan relatif, tingkat keselarasan dengan adat istiadat lokal, tingkat kerumitan dalam penerapannya, dapat dicoba dalam skala terbatas, dan dapat diamati tingkat keberhasilan suatu inovasi.

Setelah mencoba memadukan metoda dan pendekatan yang terbaik dalam melakukan kegiatan penyuluhan, maka pada tahap akhir penyuluh tidak boleh berputus asa atas usaha yang telah dilakukannya. Apakah petani mengikuti anjuran yang disampaikan atau tidak karena penyuluh tidak bisa memaksa petani untuk selalu mengikuti anjurannya. Prinsip yang harus ditanamkan dalam diri penyuluh adalah seperti prinsip dakwah yang dilakukan oleh Para Rasul dan Dai, “kita sudah berusaha yang terbaik, tapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakinya. Pesan moral ini sesuai dengan Firman Allah dalam Surah Al-Qasas, ayat 56:

ُم َ ل ْع َ

ا َو ه َوۚ ُءۤا َش ُ َّ

ي ْن َم ْي ِد ْهَي َ ّٰ

للا َّ ن ِك ٰ

ل َو َتْبَب ْح َ

ا ْن َم ْي ِد ْه َت اَل َكَّنِا ٥٦ َنْي ِدَت ْه ُم ْ

لاِب

Artinya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.

Renungan ini akan dapat membesarkan hati penyuluh untuk selalu sabar dan tegar dalam melaksanakan tugasnya

membantu petani untuk mengubah perilakunya dan meningkatkan kesejahteraannya. Dengan niat benar dan cara yang benar ini, semoga penyuluh akan mendapatkan balasan penghargaan yang baik dari para petani dan akan mendapatkan balasan pahala dari Allah Swt.

اًح ِلا َص َ

ل ِم ع َو ِ َ ّٰ

للا ى َ

ل ِا ٓاَع د ْنَّ َ ّ

ِم ا ً ل ْو َ

ق ُن َس ْح َ ا ْن َم َو ٣٣ َنْي ِمِل ْس ُم ْ

لا َن ِم ْي ِن َّنِا َ لا َ

ق َّو

“Siapakah orang yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata: “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang

menyerah diri”.

(Q.S Fushilat: 33)

9.1 Participatory Rural Appraisal (PRA)

PRA adalah metode pendekatan untuk mempelajari kondisi dan kehidupan pedesaan dari, dengan, dan oleh masyarakat desa. Dengan kata lain, PRA merupakan sebuah pendekatan yang memungkinkan masyarakat desa untuk saling berbagi, meningkatkan, dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan desa, membuat rencana dan bertindak berdasarkan pengalaman lokal (social learning).

Lahirnya PRA dilatarbelakangi oleh kegagalan menjawab hasil analisis lapangan dalam menjawab kebutuhan (real need) petani. Jauh sebelum PRA lahir, ada dua metode yang sering digunakan untuk menilai kebutuhan petani yaitu metode survei dan metode Rapid Rural Appraisal (RRA). Metode survei merupakan suatu metode yang sudah umum digunakan untuk menilai suatu kondisi lapangan. Namun, kelemahan metode survei ini adalah waktu yang dibutuhkan terlalu lama untuk menganalisis sebuah kondisi lapangan atau kebutuhan petani, kemudian hal yang bisa ditulis pun amat terbatas dari realita yang ditemukan di lapangan.

Lahirnya PRA dilatarbelakangi oleh kegagalan menjawab hasil analisis lapangan dalam menjawab kebutuhan (real need) petani. Jauh sebelum PRA lahir, ada dua metode yang sering digunakan untuk menilai kebutuhan petani yaitu metode survei dan metode Rapid Rural Appraisal (RRA). Metode survei merupakan suatu metode yang sudah umum digunakan untuk menilai suatu kondisi lapangan. Namun, kelemahan metode survei ini adalah waktu yang dibutuhkan terlalu lama untuk menganalisis sebuah kondisi lapangan atau kebutuhan petani, kemudian hal yang bisa ditulis pun amat terbatas dari realita yang ditemukan di lapangan.

Dalam dokumen PENYULUHAN PERTANIAN BERBASIS SYARIAH (Halaman 95-0)