• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyuluh dalam Konteks Pemberdayaan Masyarakat

Dalam dokumen PENYULUHAN PERTANIAN BERBASIS SYARIAH (Halaman 40-0)

BAB 3: Penyuluh Sebagai Pendakwah

3.4 Penyuluh dalam Konteks Pemberdayaan Masyarakat

masyarakat untuk berubah. Misalnya, seorang petani memperoleh hasil pertanian biasa saja, maka penyuluh bisa meningkatkan keinginan petani dengan menyadarkan mereka tentang keuntungan lebih yang sebenarnya bisa mereka peroleh untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Motivasi perubahan para petani dapat ditingkatkan melalui suntikan modal awal, pelatihan, dan penghargaan, baik itu dalam bentuk benda maupun bentuk moral.

Meskipun demikian, penyuluh harus memiliki strategi agar mampu menggerakkan masyarakat untuk terus maju karena tidak semua masyarakat mudah diajak berubah meskipun sudah mengikuti penyuluhan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,”Barang siapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

Peran seorang penyuluh harus disesuaikan dengan tingkat pengetahuan dari petani sasaran. Penyuluh dalam melaksanakan perannya adakalanya memiliki keterbatasan pengetahuan terhadap

objek penyuluhan, sehingga pada saat itu dia harus tahu peran apa yang harus dia mainkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi petani. Kemampuan untuk memainkan peran yang sesuai dengan kondisi masyarakat sasaran sering mengacu pada peran berdasarkan tabel jendela jauhari yang menjelaskan kapan peran penyuluh sebagai fasilitator, inisiator, motivator, dan mediator (Tabel 1).

Tabel 1. Jendela Jauhari Peran Penyuluh

Peran (Jendela Jauhari) Petani Tahu Petani Tidak Tahu

Penyuluh Tahu Fasilitator: (Menfasilitasi

Capaian Output) Inisiator: (Nara Sumber Perubahan)

Penyuluh Tidak Tahu Motivator: (Mendorong Kemandirian Petani Mencapai

Tujuannya)

Mediator: (Meminta Pihak Lain Untuk Melakukannya)

Tabel 1 menjelaskan kapan penyuluh harus bertindak sebagai fasilitator, inisiator, motivator, dan mediator. Apabila penyuluh dan petani sama-sama memahami suatu permasalahan di bidang pertanian, penyuluh bisa menjadi fasilitator. Contohnya, Persemaian benih padi. Petani sudah tahu dan penyuluh juga sudah tahu. Terkait dengan hal tersebut yang perlu dilakukan penyuluh sebagai fasilitator adalah memfasilitasi ketersediaan benih padi unggul yang dapat diakses oleh petani dengan harga terjangkau.

Apabila penyuluh tahu dan petani tidak tahu terhadap suatu masalah di bidang pertanian, maka penyuluh sebaiknya berperan sebagai inisiator. Contohnya, bagaimana penanganan hama penggerek batang pada tanaman mangga. Peran penyuluh terkait dengan permasalahan ini adalah menginisiasi beberapa metode yang adaptif melalui metode inpus dengan bahan organik dari sumber daya lokal tanpa menggunakan bahan kimia. Inisiasi ini kemudian disimulasikan kepada petani sehingga petani dapat

mengatasi masalah hama penggerek batang tanaman manga yang mereka hadapi.

Ketika penyuluh tidak tahu, sedangkan petani tahu, peran penyuluh ialah sebagai motivator. Contohnya, pengolahan buah pala menjadi berbagai produk manisan pala atau sirup buah pala.

Peran penyuluh dalam masalah ini adalah bagaimana memotivasi petani untuk mengemas produk manisan pala dengan bungkusan yang menarik sehingga dapat meningkatkan nilai jual yang berdampak pada nilai tambah yang akan diterima petani.

Jika penyuluh dan petani sama-sama tidak tahu, maka penyuluh menjadi mediator. Artinya, penyuluh harus meminta bantuan pihak lain yang lebih paham terhadap permasalahan terkait. Contohnya, mengatasi penyakit busuk buah kakao. Ketika penyuluh tidak tahu dan petani tidak tahu bagaimana mengatasi penyakit busuk buah kakao tersebut maka di sini penyuluh dapat berperan sebagai mediator dengan memanggil ahli dari perguruan tinggi atau konsultan ahli untuk mengatasi masalah penyakit busuk buah yang dihadapi oleh petani kakao.

Keempat peran ini sangat penting diketahui oleh penyuluh sehingga mereka ketika menghadapi suatu masalah dalam pemberdayaan petani dapat memainkan perannya sesuai kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh petani. Kemampuan memainkan peran ini akan menentukan tingkat keberhasilan seorang penyuluh dalam menjalankan tugasnya untuk mendorong terjadi perubahan perilaku petani dalam memecahkan berbagai permasalahan yang mereka hadapi yang pada akhirnya akan berdampak pada kemandirian petani dalam upaya peningkatan produktivitas usaha dan kesejahteraan keluarganya.

3.5 Kualifikasi Penyuluh pada Penyuluhan Pertanian Berbasis Syariah

Kualifikasi penyuluh pertanian berbasis syariah yang ideal adalah selain menguasai materi penyuluhan secara teknis, juga harus mampu menghubungkan pengetahuan tersebut dengan nilai-nilai syariah dan adat istiadat petani yang berada dalam wilayah

kerjanya. Misalnya dengan menyadarkan penyuluh bahwa tujuan penyuluhan bukan hanya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup di dunia semata, melainkan juga mengharapkan kebahagiaan hidup di akhirat. Kesadaran ini diharapkan dapat mengubah orientasi kerja penyuluh dari berbasis insentif ekonomi ke berbasis insentif sosial dan keagamaan.

Sebagian besar sumber daya manusia (SDM) penyuluh tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti pelatihan dalam upaya meningkatkan kapasitas mereka untuk menjadi penyuluh yang memiliki kualifikasi yang cukup baik. Oleh karenanya, sistem pelatihan kepada penyuluh harus dilaksanakan secara sistematis dan berjenjang, mulai dari pelatihan tingkat dasar hingga pelatihan tingkat pengembangan (advance), baik yang bersifat umum maupun yang bersifat keahlian (skill). Tujuan pelatihan adalah supaya tenaga penyuluh mampu menguasai materi penyuluhan dan teknik penyampaiannya, mampu bersosialisasi dan mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, serta mengetahui tujuan-tujuan penyuluhan itu sendiri yang akan memudahkannya membentuk pola-pola penyuluhan efektif berbasis sumber daya potensi lokal.

Sementara itu, penyuluh perlu memperhatikan teknik berkomunikasi yang baik serta menghindari beberapa sebab yang menghambat komunikasi, misalnya heterofili atau hemofili.

Kegagalan komunikasi dikarenakan terlalu heterofili antara penyuluh dengan masyarakat sasaran (perilaku, sikap, dan pengetahuan terlalu berbeda). Kemudian penyuluh sering pada saat komunikasi terfokus pada masyarakat dengan status sosial, partisipasi, pendidikan dan kosmopolit lebih tinggi, sehingga terjadinya masalah etik yang berdampak pada gagalnya berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi sasaran utama.

Firman Allah dalam Alquran surat An-Nisa ayat 63:

ْ ل ُ

Artinya: ”Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan ka-takanlah kepada mereka Qaulan Baligha –perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”.

Kemampuan berkomunikasi penyuluh menentukan keakraban dengan petani yang bertujuan menggerakkan masyarakat untuk melakukan perubahan demi perkembangan hasil pertanian mereka yang lebih baik. Penyuluh harus mampu menunjukkan betapa pentingnya perubahan di sektor pertanian.

Misalnya, mereka akan memperoleh keuntungan yang lebih banyak bila mau berinovasi pada usaha taninya. Melalui komunikasi yang efektif pula penyuluh bisa mengajak masyarakat membagikan hasil produksi pertanian apabila terjadi peningkatan produksi pertanian setelah mereka mengikuti penyuluhan. Dalam surat An-Nisa ayat 9 Allah berfirman:

Artinya: ”Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraannya)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar (qaulan sadida)”.

Selain membina hubungan dengan para petani, seyogianya penyuluh membangun hubungan komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat untuk mendapatkan pandangan strategis dari sudut pandang masyarakat terhadap pelaksanaan penyuluhan. Seorang penyuluh patut memiliki sejumlah sikap, seperti bangga terhadap tugasnya. Ketika penyuluh memiliki rasa kebanggaan, hal ini sekaligus meningkatkan kepercayaan dirinya.

Penyuluh harus mampu memanfaatkan inovasi terbaru pertanian yang tepat sasaran ketika mengadakan penyuluhan.

Selain itu, mereka seyogianya menyukai kondisi lokasi penyuluhan, baik masyarakatnya maupun lingkungannya. Ketika dihadapkan dengan kondisi pertanian masyarakat sasaran penyuluhan, seorang penyuluh sepatutnya mendiagnosa permasalahan

pertanian mereka. Permasalahan-permasalahan yang muncul tentunya beragam, sehingga diperlukan pembatasan masalah sehingga penyelesaiannya menjadi lebih fokus dengan tujuan hasil sebaik mungkin. Pemetaan masalah perlu diiringi dengan pemetaan sumber daya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Di pihak penyuluh sendiri tidak menutup kemungkinan ada godaan-godaan materi dalam mengembankan tugasnya.

Misalnya, “penyelenggara penyuluhan mengajak penyuluh membagikan dana penyuluhan bersama”. Tentu ini tidak boleh dilakukan karena melanggar ketentuan yang berlaku. Penyuluh wajib konsisten terhadap tugas yang diembankan kepadanya.

Alangkah baiknya apabila penyuluh membuat ikrar bersama untuk melakukan perubahan demi menjaga motivasi masyarakat sekaligus penyuluh.

Sejumlah hal persiapan diri yang perlu disiapkan seorang penyuluh meliputi persiapan kepribadian, seperti jujur, dinamis, berkompetensi, dan berwatak sosial. Kemudian, penyuluh perlu mempersiapkan kajian lapangan, bahan untuk belajar, dan perlengkapan penyuluhan. Keterampilan penyuluhan merupakan aspek penting suksesnya program penyuluhan pertanian. Ada beberapa keterampilan lain yang perlu dimiliki penyuluh sebagai berikut:

 Fasilitasi team building (memfasilitasi tidak ada yang dominan, tidak menggurui, dan orang yang tidak berdaya menjadi berdaya)

 Research skill (rasa ingin tahu, pemetaan masalah, membangun pertanyaan dan menjawab mengapa)

 Problem solving skill (kemampuan identifikasi isu, alternatif pemecahan masalah)

 Management skill (proses strategis, masalah keuangan, human resources, mengimplementasikan perencanaan yang telah dibuat)

 Organisasional skill (lebih kepada keberlanjutan, siapa melakukan apa? kemampuan melakukan apa yang dibutuhkan)

Penyuluh harus mampu mengidentifikasi faktor penentu keberhasilan dan kegagalan serta “mapping” permasalahan dalam pengembangan sistem penyuluhan berbasis potensi dan karakteristik lokal (PP berbasis syariat Islam). Faktor penentu keberhasilan dan kegagalan dalam pengembangan sistem penyuluhan pertanian berbasis syariat yaitu: (a) evaluasi dan standarisasi materi penyuluhan pertanian, (b) pembinaan SDM penyuluhan pertanian, (c) metode penyuluhan pertanian yang diterapkan, (d) ketersediaan fasilitas pendukung kegiatan penyuluhan pertanian, (e) tingkat kedinamisan kelompok tani, dan (f) kebijakan politik (political will) pada masing-masing daerah.

ٌن ِم ْؤ ُم َو ه َو ى ُ ٰ ثْن ُ

ا ْو َ ا ٍر َ

ك َ

ذ ْن ِّم ا ًح ِلا َص َل ِم َع ْنَم ِن َس ْحَاِب ْم ُه َر ْج َ

ا ْم ُهَّنَي ِز ْجَنَل َو ًۚةَبِّي َط ًةوٰي َح ٗهَّنَيِي ْحُن َ ل َ

ف

٩٧ َ

ن ْو ُ

ل َم ْعَي اْوُنا َ ك ا َم

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan

yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka

kerjakan.”

(Q.S An-Nahl: 97)

4.1 Penyuluh Sukses

Tidak ada orang yang tidak menginginkan sukses.

Kesuksesan tersebut sangat ditentukan oleh kemampuan seseorang beserta sikap pergaulannya. Pada pembahasan ini, kita akan mempersempit kepada kesuksesan seorang penyuluh.

Penyuluh yang sukses tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungannya, dirinya pun ikut merasakan dampak keberhasilan dari penyuluhan yang ia berikan. Biasanya kita mengukur kesuksesan seseorang dari materi, seperti kehidupan yang sejahtera dan berkecukupan. Lantas, bagaimana caranya menjadi penyuluh sukses?

Pertanyaan ini tentunya sering dipertanyakan di kalangan penyuluh itu sendiri. Sebagai seorang penyuluh, dia perlu memahami kapasitas diri. Penyuluh yang sukses mampu menggerakkan masyarakat, misalnya. Bukan sebaliknya, malah dia yang menjadi subjek atau objek yang digerakkan. Dia patut menyadari kelemahan dirinya. Sebagai makhluk ciptaan Allah, setiap manusia memiliki kekurangan. Kekurangan tidak mencerminkan kelemahan, melainkan sesuatu yang patut dibenahi atau ditutupi dengan kelebihan lain yang dimiliki. Seorang penyuluh akan menjadi sukses apabila dia mampu melakukan hal tersebut. Senantiasa dia mampu melewati hambatan dalam kariernya. Ketika mendapatkan jabatan penting

BAB 4

MENGUBAH DIRI MENJADI

PENYULUH SUKSES

di suatu lembaga, dia wajib mengesampingkan ego. Jangan sampai ego mudah digelembungkan karena kekuasaan atau kedudukan.

Hampir rata-rata seseorang jatuh dari kekuasaan karena tidak mampu mengendalikan dirinya. Penyuluh yang berhasil biasanya mau belajar dari keberhasilan petani, tidak egois, kemudian mampu memodifikasinya untuk menghasilkan suatu inovasi baru yang akan diuji coba dan setelah berhasil akan didifusi bagi keberhasilan petani lainnya.

Seorang penyuluh mesti pandai membawa diri dalam pergaulan masyarakat. Seperti dikatakan sebelumnya, keberhasilan tidak cuma ditentukan berdasarkan kemampuan, tetapi juga kepribadian. Kesadaran seperti inilah diperlukan penyuluh. Di saat menjadi seorang penyuluh, perlu memperhatikan gaya kepemimpinan yang dimainkan. Kapan menerapkan gaya kepemimpinan otoriter maupun demokrasi, kesesuaian ini akan menentukan keberhasilannya sebagai penyuluh. Dilihat dari berbagai sumber pengetahuan sejarah, gaya kepemimpinan demokrasi lebih dicintai oleh orang-orang yang dipimpin. Pastinya, penyuluh akan sering berkomunikasi dengan masyarakat, terutama masyarakat sasaran.

Dalam berkehidupan bermasyarakat, seseorang akan dipandang baik jika gaya komunikasinya sopan. Kesopanan berkomunikasi tidak bisa dibuat-buat, karena akan menjadi aneh.

Kebiasaan sopan berkomunikasi lahir kebiasaannya dan merupakan wujud dari karakter yang dimiliki penyuluh. Di samping itu, tidak semua orang menyukai diri kita. Untuk itu, seorang penyuluh harus mampu membedakan orang-orang yang mendukungnya, ataupun menjatuhkannya. Sun Tzu pernah berkata “Kenali diri anda sendiri, kenali musuh-musuh anda, maka anda telah memenangi setengah dari pertempuran”. Karena dengan mengenali diri kita sendiri kita tahu kelemahan diri dan akan segera memperbaikinya, dan tahu kekuatan kita yang akan kita manfaatkan untuk mencapai tujuan diri. Sebaliknya, kita penting mengenali petani sebagai sasaran pembinaan. Kalau kita sudah tahu kelemahannya, maka akan mudah mempengaruhi dan menguasainya untuk tujuan perubahan yang ingin dilakukan. Kalau kita tahu kelebihannya,

maka kita bisa belajar dan mengajaknya bersama untuk membantu petani lain yang belum berhasil. Sesuai dengan sabda Rasulullah bahwa: “Sebaik-baik Manusia adalah manusia yang memberikan manfaatnya pada orang lain” (HR Bukhari). Allah juga mengindikasikan orang-orang beruntung dan sukses dalam kehidupan didunia dan akhirat adalah orang-orang yang dalam hidupnya banyak melakukan kebaikan untuk dirinya dan untuk kepentingan orang lain. Sesuai dengan Firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 97:

ۚ ً

ة َبِ ّي َط ًةوٰي َح ٗهَّنَي ِي ْحُنَلَف ٌن ِم ْؤُم َو ُهَو ىٰثْن ُ ا ْو َ

ا ٍر َ ك َ

ذ ْن ِّم ا ًح ِلا َص َل ِم َع ْنَم ٩٧ َ

ن ْو ُ

ل َم ْعَي اْوُنا َ

ك ا َم ِن َس ْحَاِب ْم ُه َر ْج َ

ا ْم ُهَّنَي ِز ْجَنَل َو

Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Kesadaran untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kekurangannya yang akan mendorong keberhasilan penyuluh.

Selain itu, keberhasilan penyuluh juga ditentukan oleh seberapa mampu dia membuat orang lain berhasil mencapai tujuannya.

Jadi, keberhasilan itu adalah kemampuan mencapai tujuan diri tanpa menganggu orang lain untuk mencapai tujuannya. Apabila kita ingin kaya tapi dengan jalan korupsi, maka kita mencapai tujuan kita dalam jangka pendek tetapi menganggu orang lain dalam mencapai tujuannya. Oleh sebab itu, keberhasil orang dapat kaya melalui korupsi biasanya tidak bertahan lama, karena ketika terbongkar maka dia akan dimasukkan ke penjara dan semua hartanya akan disita. Maka keberhasilan yang hakiki adalah bagaimana kita memperbaiki diri untuk mencapai tujuan dan sekaligus membantu orang lain untuk mencapai tujuannya.

4.2 Manajemen Diri

Manajemen diri sama dengan kemampuan seseorang untuk mengontrol dirinya sendiri terhadap sesuatu. Orang yang memiliki

manajemen diri baik tidak mudah stres berlebihan. Dia akan berusaha menemukan cara supaya stresnya berkurang dengan berbagai cara. Misalnya, dia beristirahat sejenak, menghabiskan sesuatu yang disukainya, contohnya berolahraga. Manajemen diri juga membuatnya tidak gampang bereaksi berlebihan. Dia sanggup mengelola isu-isu tersebut dengan baik. Orang seperti ini akan membuatnya fokus terhadap komitmennya mencapai tujuan suatu pekerjaan. Mengelola maksud dan motif kita akan membuat kita tetap jujur.

Allah mengaruniakan kita dengan kelebihan dan kekurangan. Kelemahan yang kita miliki semestinya dikelola dengan baik untuk membuat kita tetap rendah hati. Karier kita terhenti karena kita tidak mau belajar memperbaiki kelemahan kita. Kita perlu mempersiapkan masa depan kita dengan meninggalkan warisan kebesaran, seperti generasi penerus yang matang kualitasnya. Ketika kita belum mendapat amanah maka kita harus terus membangun kapasitas diri, namun ketika sudah mendapat amanah maka kita harus membangun kapasitas orang lain. Allah berfirman dalam Surat Al-Imran ayat 104:

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu golongan yang menyeru kepada kebaikan dan menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar, mereka itulah orang-orang yang menang. Tidak beriman seseorang kamu sebelum mencintai saudaramu seperti mencintai diri sendiri.”

Keberhasilan seorang penyuluh akan terwujud jika dia mampu mengajak petani untuk berubah dan sukses mencapai tujuannya.

4.3 Tantangan Sebagai Makhluk Sosial

Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena ketergantungan terhadap orang lain. Artinya, manusia tidak bisa

hidup sendiri tanpa pernah sekali pun mengharapkan bantuan orang lain. Sesungguhnya orang sekitar kita mencerminkan diri kita, tak peduli jika kita merasa menjadi orang yang paling beriman sekalipun. Hadis yang diriwayatkan Ath Thabrani dan Anas,”Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.”

Allah telah mengatur perjalanan alam begitu seimbang. Planet-planet berotasi dengan pada porosnya. Matahari terbit di siang hari.

Sementara bulan bersinar pada malam hari. Begitu juga kehidupan manusia dalam konteks lebih spesifik. Allah menata antara pola hidup orang kaya dengan orang miskin. Si kaya sangat dianjurkan bersedekah, dan wajib berzakat apabila mampu dan sudah sampai nisabnya. Akhirnya adalah si miskin tidak akan merasa dengki, iri hati, ketika melihat orang lain lebih hartanya. Konsepnya adalah, ketika barang siapa yang diberikan banyak, maka harus memberi banyak. Dakwah Islam seperti bila berkembang sangat dahsyat efeknya. Di mana manusia saling tolong menolong kehidupan.

Walaupun berbeda tetap bersatu. Ibarat air dengan air, bukan minyak dengan air yang saling bertolak zatnya.

Namun, ketika kita menyerukan orang lain untuk berbuat kebaikan, sepatutnya orang tersebut harus mengerjakannya pula. Jangan sampai diri sendiri tidak bisa berenang, namun ingin mengajarkan orang lain. Dalam surat Al-Baqarah ayat 44 Allah berfirman,

Artinya: “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupa-kan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”

Dalam struktur sosial kemasyarakatan seorang penyuluh dianggap sebagai orang yang berasal dari luar sistem. Penyuluh membutuhkan strategi yang efektif untuk bisa melakukan pendekatan dengan masyarakat seperti kemampuan bergaul sehingga masyarakat bersedia ikut serta menyukseskan

penyuluhan. Hal penting dalam pergaulan adalah bagaimana seorang penyuluh membangun hubungan emosional dengan masyarakat. Salah satu caranya yakni melakukan pendekatan dengan dengan terlebih dahulu memahami adat dan istiadat, serta aktivitas yang sering dilakukan masyarakat.

Teknik komunikasi penyuluh patutnya tidak mengesankan ada jarak yang memisahkannya dengan masyarakat. Sebisa mungkin penyuluh tidak perlu menunjukkan status sosialnya atau merasa diri lebih hebat demi mencegah timbulnya rasa segan petani kepada penyuluh. Tingkat kedekatan penyuluh dengan masyarakat bisa diukur dengan keleluasaan petani menceritakan segala persoalannya. Kesan pertama akan sangat menentukan penilaian masyarakat terhadap penyuluh. Karena itu, sebelum terjun ke lapangan, penyuluh mempelajari adat dan kebudayaan masyarakat sasaran penyuluhan. Untuk memberikan kesan yang baik dalam pandangan masyarakat, seorang penyuluh perlu memerhatikan penampilannya, bersikap sopan, sederhana, dan tidak mengundang perhatian besar, apalagi bersikap seperti penyelamat.

4.4 Memaknai Sukses

Anda ingin sukses? Kerja di kantor hebat yang fasilitas keren. Gajinya tinggi dan bisa traveling keluar negeri. Mungkin hal-hal seperti itu yang terbayang dalam pikiran sebagian orang.

Definisi sukses adalah mencapai tujuan pribadi atau organisasi tanpa mengurangi potensi pribadi, orang lain, dan juga bumi kita, untuk mencapai kesuksesannya di masa depan. Orang-orang sukses memiliki ciri-cirinya tersendiri. Pemikiran orang sukses terbuka. Mereka mau mendengarkan pendapat atau menerima hal-hal baru selama itu positif. Pemikiran orang sukses layaknya parasut, berfungsi apabila terbuka. Dia memiliki perencanaan yang baik untuk masa depannya. Allah telah menjelaskan dalam Alquran bahwa umat manusia harus berpikiran maju. Dalam Surat Al-Hasyr ayat 18 Allah berfirman,

او ُ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Sebagai manusia sudah senantiasanya mengharapkan sesuatu lebih baik. Petani mengharapkan hasil produksi pertaniannya meningkat. Salah satu caranya bisa ditempuh dengan mengikuti penyuluhan. Manusia diserukan terus berusaha menggapai yang terbaik. Namun, tidak boleh lupa kepada Sang Pencipta. Dalam sebuah hadis disebutkan,”Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang harinya sama dengan kemarin, maka dia adalah orang yang merugi. Barang siapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada kemarin, maka dia terlaknat.”

Para tokoh terkenal dunia memperkenalkan konsep sukses yakni, kesuksesan seseorang sangat ditentukan dari pemikirannya. Edward de Bono, pelopor bidang berpikir kreatif dan inovasi mengatakan tanpa konsep, kita akan terjebak di dalam hal hal yang kecil. Selama perjalanan kehidupannya, seseorang harus benar-benar memahami konsep sukses agar bisa melalui segala hambatan. Kehidupan di dunia tidak berjalan semulus alur cerita drama drama Korea. Cara kita melihat dunia menentukan perilaku kita di dunia. Henry David Thoreau, seorang penulis dan filsuf asal Amerika Serikat menyebutkan, manusia dilahirkan untuk berhasil, bukan untuk gagal. Allah telah memberikan kemampuan berpikir kepada manusia.

Kemampuan tersebut mulai berkembang saat kita berusia 12 minggu dalam kandungan ibu. Pada saat itu, janin memproduksi 2000 neuron per detik. Ketika lahir ke dunia, otak manusia memiliki 100.000.000.000 neuron. Bahkan, Allah mampu menciptakan otak seekor lebah dengan 4000 neuron.

Inilah kekuasaan Allah. Maka sungguh, setiap manusia memiliki

kemampuan berpikir. Buktinya, manusia berhasil menemukan berbagai macam penemuan, seperti kincir angin, pesawat terbang, mobil, bahkan mampu menginjakkan kakinya di bulan.

Namun demikian, jauh sebelum para tokoh itu lahir Allah

Namun demikian, jauh sebelum para tokoh itu lahir Allah

Dalam dokumen PENYULUHAN PERTANIAN BERBASIS SYARIAH (Halaman 40-0)