BAB 10: Pengambilan Keputusan Dan Difusi Adopsi Inovasi
10.4 Peranan Penyuluh Dalam Difusi dan Adopsi Inovasi
di-fusi dan adopsi inovasi. Peranan penyuluh yang bisa diambil ada-lah dengan membangkitkan kebutuhan untuk berubah. Di sini penyuluh dapat menonjolkan persoalan petani yang bisa disele-saikan dengan menerapkan inovasi. Penyuluh diharapkan menun-jukkan bahwa inovasi yang ditawarkan akan mampu membantu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, penyuluh tidak boleh berbohong jika ada kekurangan pada inovasi yang ditawar-kan serta mengajarditawar-kan mereka mengatasi kekurangan tersebut sehingga kekurangan sebuah inovasi dapat diatasi. Kalau pun ada masalah, tanpa kehadiran penyuluh mereka bisa menyelesaikan.
Perlu diketahui, keberhasilan sebuah penyuluhan, salah satu in-dikatornya, Meskipun tanpa penyuluh, masyarakat sasaran bisa mandiri menerapkan inovasi penyuluhan. Allah berfirman dalam Surat Al-Qashash ayat 56,
ُم َ ل ْع َ
ا َو ه َوۚ ُءۤا َش ُ َّ
ي ْن َم ْي ِد ْهَي َ ّٰ
للا َّ ن ِك ٰ
ل َو َتْبَب ْح َ
ا ْن َم ْي ِد ْه َت اَل َكَّنِا ٥٦ َنْي ِدَت ْه ُم ْ
لاِب
Artinya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
Difusi dan adopsi inovasi sulit sekali berjalan tanpa ada yang memfasilitasi masyarakat. Menjadi kewajiban penyuluh mengambil peran sebagai fasilitator sekaligus motivator perubah-an. Sebelum dilaksanakan difusi dan adopsi, tahapan yang perlu dilalui adalah merencanakan dan melaksanakan perubahan, mulai dengan yang kecil dan sederhana. Kemudian terus dikembang-kan. Harapan akhirnya, menghilangkan ketergantungan petani pada pihak luar.
ْم ُه َّ
ن َ ا َ
ك ا ًّ
ف َص ٖهِلْيِب َس ْيِف َ ن ْو ُ
لِتا َ
قُي َنْي ِذ َّ
لا ُّب ِح ُ ي َ ّٰ
للا َّ
ن ِا ٤ ٌ ص ْو ُص ْر َّم ٌ
نا َي ْ نُب
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka
seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
(Q.S As-Saff: 4)
11.1 Organisasi
Organisasi merupakan perkumpulan dua orang atau lebih atas dasar adanya kesamaan, berinteraksi dengan pola tertentu, guna mencapai tujuan bersama dalam kurun waktu relatif panjang. Organisasi dapat dipahami juga sebagai upaya pengorganisasian orang untuk melaksanakan kewajiban sesuai kapasitasnya. Meskipun demikian, setiap orang yang mengikuti organisasi memiliki kepentingannya dalam berorganisasi.
Kepentingan tersebut berupa keinginan memiliki jaringan luas, belajar berorganisasi, memperoleh keuntungan materi.
Agar sebuah organisasi terwujud, diperlukan sosialisasi ide pendirian organisasi yang akan dibangun. Misalnya ingin mendirikan organisasi lingkungan dengan tujuan melestarikan tumbuh-tumbuhan langka. Seseorang akan masuk ke organisasi ini demi memperoleh ilmu pengetahuan. Dalam tahapan pembentukannya, ide-ide ini perlu disosialisasikan agar orang yang diajak mengetahui arah organisasi. Mereka calon pengurus atau anggota akan memikirkan keuntungan diperoleh jika bergabung.
Pada tahap ini akan ada tarik menarik kepentingan. Setipa individu menyampaikan keinginannya supaya dapat tercapai melalui organisasi terbentuk. Setelah berdiskusi, tujuan-tujuan organisasi disamakan. Demikian, organisasi terarah. Tahapan selanjutnya adalah konsensus bersama. Disepakati keputusan bersama usai
BAB 11
DINAMIKA ORGANISASI
DAN KEPEMIMPINAN
diskusi-diskusi panjang. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Thabrani, “Allah sangat menyukai jika seseorang melakukan perbuatan terutama dilakukan dengan itqam (kesungguhan dan keseriusan).”
Sebuah organisasi harus memiliki tujuan yang kemudian menjadi kompas arah jalannya roda organisasi dapat ditetapkan dengan tujuannya. Kemudian disusun struktur organisasi berdasarkan kebutuhan organisasi yang memiliki peranan, kedudukan, fungsi, dan tugas masing-masing. Organisasi juga harus mengatur norma atau perilaku yang diterima oleh semua anggota organisasi. Agar semuanya berjalan dengan baik patut diiringi sanksi dan penghargaan. Sanksi diberikan kepada anggota yang melanggar aturan berorganisasi. Sementara penghargaan diberikan kepada mereka yang menjalankan tugasnya dan berprestasi. Penghargaan dapat berupa materi seperti tambahan tunjang, maupun nonmateri, seperti pujian. Allah berfirman dalam
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Oleh karenanya, penyuluhan pertanian berbasis syariah perlu dijalankan seperti halnya sebuah organsisasi agar tujuannya tercapai. Penyuluhan melibatkan orang-orang dari berbagai kalangan yang mampu berperan sesuai kapasitas maupun secara kelembagaan tempatnya bernaung. Misalnya koperasi, terlibat menyukseskan penyuluhan dengan memberikan kredit maupun modal kepada petani guna menerapkan inovasi pertanian yang disuluhkan karena kesuksesan program penyuluhan sangat bergantung kepada partisipasi lembaga dan orang-orang bersangkutan dengan program penyuluhan. Organisasi terbagi ke dalam beberapa jenis, yaitu: (a) organisasi lokal berbasis
negara (kelompok tani, KUD, P3A), (b) organisasi lokal berbasis masyarakat (kejruen blang, pawang laot, pawang uteun), (c) organisasi lokal berbasis swasta (muge, lembaga pegadaian).
11.2 Karakteristik Organisasi Lokal
Di Indonesia, organisasi lokal di Indonesia pada umumnya sangat sentralistik, terutama lembaga lokal berbasis masyarakat.
Mereka dipengaruhi oleh sistem pemerintahan kolonial, dengan kata lain kuatnya intervensi atas. Sulit bagi masyarakat berpartisipasi dalam organisasi lokal keputusan organisasi sangat ditentukan atasan. Sebab, pemimpin dalam organisasi lokal bersikap paternalistik. Pemimpin seperti ini menganggap dirinya sebagai orang yang mampu memberikan solusi berbagai persoalan di kalangan masyarakat. Nuansanya, orang yang dapat berpartisipasi dalam organisasi lokal adalah mereka dari orang-orang terpandang dan memiliki kedudukan. Sementara itu, gender dan minoritas menjadi sering menjadi kelas dua dalam masyarakat. Inilah penyebab lain partisipasi masyarakat dalam menentukan kebijakan dalam lembaga lokal terbatas.
Jaringan di antara lembaga lokal masih lemah, kecuali lembaga lokal privat. Keberadaan lembaga lokal berbasis masyarakat lebih banyak dari pada lembaga lokal berbasis negara Kemudian, Kuatnya proses korporatisme negara terhadap lembaga lokal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korporatisme adalah pemahaman yang mengutamakan kebersamaan sebagai satu kesatuan sehingga semua unsur atau bagiannya harus tunduk pada peraturan yang telah ditetapkan.
11.3 Dinamika Organisasi
Dinamika organisasi ini sangat penting untuk mengetahui di mana kelemahan suatu organisasi. Dengan mengetahui faktor-faktor tadi, kita dapat memperbaiki dan mengembangkan suatu organisasi. Ada sembilan faktor yang mempengaruhi dinamika organisasi. Pertama, tujuan organisasi, yaitu sesuatu yang ingin dicapai oleh organisasi. Dalam penetapan tujuannya, diperhatikan
juga kapan tujuan tersebut harus tercapai dan indikator untuk mengukur apakah tujuan tercapai atau tidak. Tujuan kelompok sebaiknya memperhatikan tujuan anggota.
Kedua, kelancaran roda organisasi sangat bergantung kepada strukturnya. Harus ada pola pengaturan kelompok agar secara efektif dan efisien mencapai tujuan. Beberapa pertimbangan dalam membentuk organisasi yakni (a) siapa pemegang kewenangan paling tinggi dalam pengambilan keputusan, (b) bagaimana orang bisa menyampaikan sesuatu dalam organisasi;
sistem komunikasi dalam kelompok, (c) struktur dibentuk sesuai kebutuhan atau aktivitas organisasi, (d) organisasi mengatur hak dan kewajiban, ketua dan anggota. Menurut Mahmud Hawary,
“Menjalankan sesuatu sesuai dengan fungsinya, demikian juga setiap anggotanya dan merupakan ikatan dari perorangan terhadap yang lain, guna melakukan kesatuan tindakan yang tepat, menuju suksesnya fungsi masing-masing.”
Ketiga, fungsi dan tugas. Struktur-struktur dalam organisasi memiliki fungsi dan tugas berbeda. Setiapnya berfungsi tugas memfasilitasi dan mengoordinasi usaha-usaha organisasi, menyangkut masalah-masalah bersama dan memecahkannya secara bersama. Suatu organisasi hancur jika fungsi tugas ketua dan anggota tidak berjalan baik. Kriteria fungsi tugas yang baik yaitu (a) kepuasan anggota karena bisa mencapai tujuan organisasi, (b) ada hal-hal yang diperoleh dari organisasi, (c) ada koordinasi dalam mencapai kesepakatan bersama, (d) menemukan inisiatif suatu kegiatan nyata, (e) ada penyebaran informasi, inovasi, manfaat kepada seluruh anggota, dan (f) fungsi tugas setiap struktur tidak membingungkan.
Keempat, pembinaan organisasi. Organisasi tidak akan bertahan apabila orang yang tergabung dalam organisasi tidak menjaga norma-norma berorganisasi. Karenanya, diperlukan pembinaan organisasi, yaitu usaha-usaha untuk menjaga kekompakan organisasi. Salah satu bukti kekompakan organisasi dilihat dari partisipasi anggotanya, baik atau tidak. Hal lain yang harus diperhatikan, yakni (a) fasilitasi anggota berkaitan dengan kebutuhan, (b) adanya upaya untuk terus menciptakan aktivitas
organisasi, (c) adanya koordinasi agar terhindar dari konflik, (d) komunikasi horizontal dan vertikal berjalan baik, (e) adanya penentuan standar perilaku organisasi, (f) sosialisasi apapun informasi berkaitan dengan adanya sesuatu hal baru dalam organisasi. Dalam Surat An-Nahl ayat 125 Allah berfirman,
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang leb-ih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebleb-ih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Kelima, kesatuan organisasi. Dalam berorganisasi, ada yang dinamakan komitmen kesatuan organisasi, yaitu komitmen kuat seluruh anggota menjalankan roda organisasi. Komitmen tersebut sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan. Seorang pemimpin organisasi harus mampu membina persatuan, terbuka, menetralisir konflik bila terjadi. Dia seyogianya menjadi panutan anggotanya. Selain pemimpin, rasa memiliki setiap organisasi tempatnya bernaung menentukan komitmennya melaksanakan tugas dan kewajiban sepenuh hati. Dia akan berusaha semaksimal mungkin mengembangkan, memajukan organisasi. Selanjutnya, komitmen dipengaruhi bagaimana nilai kelompok, nilai sosialnya, nilai ekonomi, dan nilai kelembagaan. Ada tidak dalam suatu kelompok ketiga nilai tersebut. Kalau ada, roda organisasi bersangkutan berkelanjutan. Terakhir adalah kesamaan rasa dan sepertanggungan, keterpaduan dan kerja sama.
Keenam, suasana organisasi. Dalam dunia perkantoran, interaksi antarpegawai membawa pengaruh terhadap semangat mereka bekerja. Begitu juga di organisasi yang membutuhkan suasana nyaman. Suasana organisasi ialah perasaan secara umum yang ada dalam suatu organisasi. Perasaan itu meliputi
ketegangan dan keramahtamahan, suasana demokrasi atau otoritas, lingkungan fisik atau ketersediaan sarana dan prasarana organisasi. Ketujuh , ketegangan organisasi. Ketegangan organisasi adalah tekanan yang terasa dalam kelompok, bisa bersifat negatif atau positif, yang berasal dari internal; adanya konflik dan persaingan dan eksternal; adanya sanksi dan penghargaan.
Kedelapan, efektifitas organisasi. Roda organisasi dikatakan berjalan efektif apabila berhasil mencapai tujuan.
Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari hasil atau produktifitas organisasi, moral organisasi, tingkat kepuasan dari anggotanya.
Produktifitas organisasi dapat ditinjau dari program-program yang telah disusun beserta pelaksanaannya. Sementara moral organisasi dilihat dari kepedulian sesama anggota. Sedangkan kepuasan anggota bergantung bagaimana organisasi berjalan sesuai dengan harapan mereka. Kepuasan bisa bertambah jika mereka memperoleh penghargaan, baik itu berupa materi atau nonmateri karena mereka berhasil melaksanakan kewajibannya dengan baik.
Kesembilan, maksud tersembunyi. Setiap orang yang bergabung ke dalam suatu organisasi memiliki keinginan tertentu dengan masuk ke organisasi. Maksud tersembunyi itu akan membuat mereka bergairah berorganisasi. Gairah berorganisasi bisa bersumber dari anggota organisasi, pimpinan organisasi, dan organisasi itu sendiri.
11.4 Kepemimpinan Dalam Organisasi
Ketertiban roda organisasi bergantung pada kemampuan manajemen seorang pemimpin. Pemimpin berkewajiban mengarahkan jalannya organisasi. Misalnya, mengontrol kinerja suatu bidang tertentu agar melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai ketentuan yang berlaku. Kepemimpinan sendiri dimaknai sebagai suatu proses mempengaruhi orang agar melaksanakan apa yang diinginkannya. Di dalam organisasi, pemimpin diharapkan mampu memotivasi, memberi arah, dan mempengaruhi orang untuk mencapai tujuan bersama.
Seorang pimpinan organisasi bertugas mengidentifikasi dan menganalisis organisasi beserta menetapkan tujuannya. Tentunya, dalam hal ini pemimpin memerlukan sumber daya lain agar bisa melakukannya. Pemimpin organisasi sepatutnya membangun struktur organisasi yang baik. Dia menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan bersama. Dia juga seharusnya memiliki inisiatif memajukan kelompoknya. Meskipun demikian, inisiatif itu bisa berasal dari anggotanya juga. Salah satu bukti organisasi berjalan baik adalah kelancaran komunikasi di dalamnya. Seorang pemimpin berperan menciptakan kekompakan dengan mempermudah komunikasi dalam organisasi. Salah satu tujuannya menciptakan suasana menyenangkan. Tidak suasana akan menyenangkan bila komunikasi antaranggota organisasi kaku, bahkan buruk. Ada filosofi yang diletakkan dalam berorganisasi dan mengimplementasikannya.
Semangat organisasi sangat bergantung kepada semangat pimpinannya menjalankan organisasi. Dengan semangatnya, pemimpin akan berusaha keras untuk mencapai tujuan organisasi.
Adapun sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah (a) empati; bisa merasakan perasaan dan pikiran orang lain, (b) dapat diterima oleh anggota kelompoknya,(c) bijaksana, peduli dan memperhatikan kepentingan anggota, (d) lincah ditandai dengan sifat gembira, bersemangat, dinamis, dan suka membantu, (e) emosinya stabil; sabar dan berpemikiran matang, tidak cepat terpengaruh serta tidak terburu-buru dalam mengambil Keputusan, (f) cerdas, (g) konsisten, ucapan dan perbuatannya sama, (h) percaya diri bahwa dia mampu berbuat sesuatu, dan (i) mampu memimpin dan percaya kepada orang lain 11.5 Kepemimpinan Dalam Pandangan Islam
Pemimpin dan kepemimpinan merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Kepemimpinan merupakan cerminan dari karakter/perilaku pemimpinnya. Kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk memengaruhi orang orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela. Pemimpin adalah orang yang menentukan tujuan, motivasi, dan tindakan
kepada orang lain. Pada prinsipnya menurut Islam setiap orang adalah pemimpin. Ini sejalan dengan fungsi dan peran manusia di muka bumi sebagai khalifatullah yang diberi tugas untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada Allah seperti yang tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 30.
ُ ل َع ْج َ
Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hen-dak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan men-sucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Kepemimpinan dalam pandangan Alquran bukan sekadar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah Swt. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya, semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang memperkaya diri, bertindak zalim, dan sewenang-wenang. Dalam pandangan Islam, kepemimpinan merupakan amanah dan tanggung jawab yang tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada anggota-anggota yang dipimpinnya, tetapi juga akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Seorang pemimpin harus bersifat amanah, sebab ia akan diserahi tanggung jawab. Jika pemimpin tidak mempunyai sifat amanah, tentu yang terjadi adalah penyalahgunaan jabatan dan wewenang untuk hal-hal yang tidak baik. Itulah mengapa Nabi Muhammad Saw juga mengingatkan agar menjaga amanah kepemimpinan, sebab hal itu akan dipertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat.
Dengan mengetahui hakikat kepemimpinan di dalam
Islam serta kriteria dan sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, maka kita wajib untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan petunjuk Alquran dan hadis. Muslim yang benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasulullah saw dilarang keras untuk memilih pemimpin yang tidak memiliki kepedulian dengan urusan-urusan agama. Karakteristik pemimpin yang ideal adalah Rasulullah saw. Beliau adalah pemimpin agama sekaligus pemimpin negara. Rasulullah adalah sosok suri teladan bagi setiap orang. Banyak sekali hal yang perlu kita contoh dari kepemimpinan Rasulullah saw. Rasulullah memang diutus Allah untuk memperbaiki budi pekerti dan akhlak manusia. Sosok kepribadian beliau yang agung merupakan aplikasi dari ajaran Alquran.
Perjuangan Nabi Muhammad di dalam membangun peradaban masyarakat Madinah diakui berhasil secara gemilang dalam sejarah kemanusiaan. Catatan sejarah memberikan visualisasi tentang kepemimpinan beliau yang mempunyai perbedaan dengan para pemimpin lainnya. Betapa dalam jangka waktu yang relatif singkat beliau telah mampu mendirikan dasar-dasar tatanan sosial masyarakat modern. Kepemimpinan beliau mampu memberikan inspirasi, kearifan, dan komitmen yang memunculkan kepemimpinan andal, dipercaya, dan dapat mengaktualisasikan perubahan-perubahan yang konstruktif.
ْن ِم َ نا َس ْ
ن ِا ْ لا َق َ
ل َ
خ ١ ۚ َق َ ل َ
خ ْي ِذ َّ
لا َكِ ّب َر ِم ْساِب ْ أ َر ْ
ق ِا ۙ ِم َ
ل َ ق ْ
لاِب َم َّ
ل َع ْي ِذ َّ
لا ٣ ُۙم َر ْ ك َ
ا ْ
لا َكُّب َر َو ْ أ َر ْ
ق ِا ٢ ۚ ٍق َ ل َع ٥ ْۗم َ
ل ْعَي ْم َ ل ا َم َ
نا َس ْ ن ِا ْ
لا َم َّ
ل َع ٤
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(Q.S Al-Alaq: 1-5)
12.1 Definisi Perencanaan
Perencanaan adalah suatu proses apa yang ingin tercapai pada masa yang akan datang serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya. Perencanaan juga diartikan sebagai usaha terorganisasi dan terus menerus guna memilih alternatif terbaik dari sejumlah alternatif untuk mencapai tujuan tertentu. Perencanaan merupakan suatu jawaban yang terus menerus menyangkut pengambilan keputusan bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan masa depan.
Tanpa sebuah perencanaan yang baik dalam kehidupan, seseorang ataupun lembaga tidak akan mampu menghadapi tantangan zaman.
Dengan mempersiapkan perubahan-perubahan yang akan terjadi, maka sudah harus disusun langkah-langkahnya, sehingga hasil dari perubahan itu dapat diprediksi keberhasilannya. Anjuran membuat perencanaan yang baik dalamn kehidupan manusia sesuai dengan Firman Allah dalam surah Al-Hasyr ayat 18:
او ُ
قَّتا َو ۚ ٍد َغِل ْتَم َّدَق اَّم ٌسْفَن ْر ُظْنَت ْ ل َو َ ّٰ
للا او ُ
قَّتا اوُن َم ٰ ا َنْي ِذ َّ
لا اَهُّي َ آٰي ١٨ َ
ن ْو ُ
ل َم ْعَت اَمِبۢ ٌرْيِب َ خ َ ّٰ
للا َّ
ن ِاۗ َ ّٰ
للا
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dibuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
BAB 12
PERENCANAAN PROGRAM
PENYULUHAN BERBASIS SYARIAH
Fungsi perencanaan adalah sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan yang ditujukan untuk tujuan tertentu, perencanaan (forecasting), memilih berbagai macam alternatif, penyusunan skala prioritas, alat ukur/acuan untuk untuk melakukan evaluasi.
Hal ini sesuai dengan firman Allah yang telah disebutkan tadi.
Pentingnya perencanaan juga berfungi untuk mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sehingga sehingga dari hasil evaluasi terhadap perencanaan yang sudah disusun nantinya kita cepat dapat diperbaiki. Pentingnya perencanaan adalah untuk perubahan yang lebih baik di masa mendatang.
Allah ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ra’d, ayat 11:
Artinya: “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Mardikanto (1992) menyebutkan, perubahan yang akan dilakukan seharusnya terencana dengan baik. Perencanaan tersebut bertujuan untuk menghadapi berbagai kemungkinan perubahan di masa mendatang. Sehingga seseorang ataupun lembaga tetap bisa eksis menjawab maupun menghadapi tantangan. Selain perencanaan, perubahan terencana dibarengi dengan pelaksanaannya serta evaluasi. Agar berjalan dengan baik, dibutuhkan individu yang memiliki komitmen, terampil serta berpengetahuan cukup untuk melaksanakan rencana.
12.2 Masalah dalam perencanaan:
Perencanaan yang telah disusun baik, masih sebatas dokumen, tapi tidak diacu dalam implementasi program
pembangunan. Hal ini tidak sejalan dengan tujuan penyusunan perencanaan, yakni mencapai suatu tujuan tertentu dengan cara yang sudah ditentukan. Misalnya, seorang pengusaha yang sudah menyusun strategi untuk mengembangkan usahanya di masa depan. Tanpa perencanaan yang strategis, tujuan pengembangan usaha tidak akan tercapai maksimal, bahkan tidak tercapai sama sekali.
Anggapan yang salah di kalangan masyarakat, perencanaan dianggap sebagai proses sekali dalam setahun atau lima tahun, padahal, merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus hingga tujuan perencanaan tercapai. Perencanaan memiliki implikasi penting berkaitan dengan konsep dan peran si perencana. Kita tidak perlu berharap menjadi orang berhasil tanpa merencanakannya dengan baik. Perencanaan yang baik apabila diatur menjadi tiga tahapan, yakni rencana jangka pendek, rencana jangka menengah, dan rencana jangka panjang.
Perencanaan penyuluhan memiliki beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti:
a. Melayani kepentingan umum
b. Mendukung partisipasi dalam perencanaan c. Memfasilitasi koordinasi melalui perencanaan d. Hindari konflik kepentingan
e. Tidak mencari atau menawarkan bantuan f. Menjaga kepercayaan masyarakat g. Kode etik dan perilaku profesional
Perencanaan merupakan kerangka kerja dalam penyuluhan yang disusun berdasarkan fakta yang ada untuk mencapai tujuan penyuluhan. Untuk melaksanakannya, dibutuhkan partisipasi masyarakat sasaran, penyuluh, lembaga terkait, para ahli, dan sebagainya. Tiga hal erat kaitannya dengan perencanaan yakni apa, kapan, di mana.
Lawrence (Dahama dan Bhatgana, 1980) menyebutkan sejumlah hal yang harus menjadi bahan pertanian dalam menyusun rencana seperti:
a. Proses perancangan program b. Penulisan perencanaan program c. Rencana kegiatan
d. Rencana pelaksanaan program
e. Rencana hasil evaluasi pelaksanaan program tersebut
12.3 Penyebab Pentingnya Perencanaan
Semua pihak terkait mesti terlibat menyusun sebuah perencanaan demi mencapai kepentingan bersama. Perencanaan yang baik tentunya dapat menjadi pedoman efektif mencapai tujuan. Oleh karenanya, perencanaan harus ditulis secara secara jelas, sehingga bisa dimengerti orang yang membutuhkannya.
Jangan sampai, sebuah perencanaan ditulis dengan bahasa membingungkan. Akibatnya, akan timbul beragam pemahaman terhadap perecenaan tersebut.
Totok Mardikanto (1993) menjelaskan alasan mengapa perencaan menjadi penting. Perencanaan merupakan proses pencarian alternatif terbaik demi mencapai tujuan. Di dalam perencanaan tertera apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dan bagaimana caranya.
Perencanaan harus ditulis jelas dan tidak mengandung banyak arti. Karenanya, perencanaan yang telah disusun bisa dijadikan pedoman bagi semua pihak. Perencanaan tertulis akan memudahkan melakukan evaluasi sebelum, sedang, dan sesudah program dilaksanakan. Tujuan penulisan perencanaan agar memudahkan membandingkan gagasan baru muncul dengan rencana yang sudah disusun. Dengan kata lain, perencanaan tertulis dapat dijadikan landasan awal apakah gagasan baru diterima atau tidak.
Di samping itu, perencanaan memiliki indikator apakah sebuah program sudah sesuai rencana, atau malah melenceng jauh. Agar dapat diukur dengan baik, maka dibutuhkan perencanaan sebagai pedoman untuk menyesuaikan pelaksanaan program dengan perencanaannya. Kemudian, dengan adanya perencanaan, pelaksananya akan memiliki tanggung jawab untuk
melaksanakan program sesuai perencanaan hingga selesai.
Dengan perencanaan, program-program dalam penyuluhan dapat diefektifkan, baik dari sumber daya, biaya, dan waktu.
Beberapa hal yang tertera dalam perencanaan adalah tujuan dan waktu pelaksanaan, metode yang digunakan, fungsi dan tugas masing-masing pihak yang terlibat, dan indikator untuk melihat program yang dijalankan sesuai dengan perencanaan.
Tidak kalah pentingnya adalah melibatkan masyarakat dalam
Tidak kalah pentingnya adalah melibatkan masyarakat dalam